Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SWAMEDIKASI

SESAK NAFAS KARENA ALERGI

OLEH :

1. Mitha Maulidya (1420282877)


2. Muhammad Arsyad Wardana (1420282878)
3. Tri Hartuti (1420282915)

PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXVIII


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Dispnea
Suatu istilah yang menggambarkan suatu persepsi subjektif mengenai
ketidaknyamanan bernapas yang terdiri dari berbagai sensasi yang berbeda
intensitasnya. Merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor fisiologi, psikologi,
sosial dan lingkungan dan dapat menginduksi respons fisiologis dan perilaku
sekunder.
Dispnea adalah kesulitan bernapas yang disebabkan karena suplai oksigen
kedalam jaringan tubuh tidak sebanding dengan oksigen yang dibutuhkan oleh
tubuh. Merupakan perasaan subyektif dimana seseorang merasa kekurangan udara
yang dibutuhkan untuk bernapas. Dispnea atau sesak napas ditandai dengan napas
yang pendek dan penggunaan otot bantu pernapasan. Dispnea dapat ditemukan
pada penyakit kardiovaskular, emboli paru, penyakit paru interstisial atau
alveolar, gangguan dinding dada, penyakit obstruktif paru (emfisema, bronkitis,
asma), kecemasan (Price dan Wilson, 2006).

B. Etiologi

1. Sesak nafas karena faktor keturunan


Pada asalnya memang seseorang tersebut memiliki paru-paru dan organ
pernapasan lemah. Ditambah kelelahan bekerja dan gelisah, maka bagian-
bagian tubuh akan memulai fungsi tidak normal. Tetapi, ini tidak otomatis
membuat tubuh menderita, sebab secara alami akan melindungi diri sendiri.
Namun demikian, system pertahanan bekerja ekstra, bahkan kadang-kadang
alergi dan asma timbul sebagai reaksi dari system pertahanan tubuh yang
bekerja terlalu keras.
2. Sesak nafas karena faktor lingkungan
Udara dingin dan lembab dapat menyebabkan sesak nafas. Bekerja di
lingkungan berdebu atau asap dapat memicu sesak nafas berkepanjangan.
Polusi pada saluran hidung disebabkan pula oleh rokok yang dengan langsung
dapat mengurangi suplai oksigen.
3. Sesak nafas karena kurangnya asupan cairan
Sesak nafas karena kurangnya asupan cairan sehingga lender pada paru-paru
dan saluran nafas mengental. Kondisi ini juga menjadi situasi yang
menyenangkan bagi mikroba untuk berkembangbiak. Masalah pada susunan
tulang atau otot tegang pada punggung bagian atasakan menghambat sensor
syaraf dan bioenergi dari dan menuju paru-paru.
4. Sesak nafas karena ketidakstabilan emosi
Orang-orang yang gelisah, depresi, ketakutan, rendah diri cenderung untuk
sering menahan nafas atau justru menarik nafas terlalu sering dan dangkal
sehingga terengah-engah. Dalam waktu yang lama, kebiasaan ini berpengaruh
terhadap produksi kelenjar adrenal dan hormon yang berkaitan langsung
dengan sistem pertahanan tubuh. Pengetahuan akan cara bernafas yang baik
dan benar akan bermanfaat dalam jangka panjang baik terhadap fisik maupun
emosi seseorang.

C. Manifestasi klinis
1. Batuk dan produksi skutum
Batuk adalah pengeluaran udara secara paksa yang tiba-tiba dan biasanya
tidak disadari dengan suara yang mudah dikenali.
2. Dada berat
Dada berat umumnya disamakan dengan nyeri pada dada. Biasanya dada
berat diasosiasikan dengan serangan jantung. Akan tetapi, terdapat berbagai
alasan lain untuk dada berat. Dada berat diartikan sebagai perasaan yang
berada bagian dada. Rata-rata orang juga mendeskripsikannya seperti ada
seseorang yang memegang jantungnya.
3. Mengi
Mengi merupakan sunyi pich yang tinggi saat bernapas. Bunyi ini muncul
ketika udara mengalir melewati saluran yang sempit. Mengi adalah tanda
seseorang mengalami kesulitan bernapas. Bunyi mengi jelas terdengar sat
ekspirasi, namun bisa juga terdengar saat inspirasi. Mengi umumnya muncul
ketika saluran napas menyempit atau adanya hambatan pada saluran napas
yang besar atau pada seseorang yang mengalami gangguan pita suara.
4. Napas yang pendek dan penggunaan otot bantu pernapasan.

D. Patofisiologi
Dispnea atau sesak napas bias terjadi dari berbagai mekanisme seperti jika
ruang fisiologi meningkat maka akan dapat menyebabkan gangguan pada
pertukaran gas antara O2 dan CO2 sehingga menyebabkan kebutuhan ventilasi
makin meningkat sehingga terjadi sesak napas.
Mekanisme Dispnea
- Sensasi dispnea berawal dari aktivasi sistem sensorik yang terlibat dalam
sistem respirasi.
- Informasi sensorik sampai pada pusat pernapasan di otak dan memproses
respiratoryrelated signals dan menghasilkan pengaruh kognitif,
kontekstual, dan perilaku sehingga terjadi sensasi dispnea.

Gambar. Mekanisme Dispnea


E. Kategori Dispnea
Pengkategorian dispnea menurut American Thoracic Society (ATS) sebagai
berikut :
1. Tidak ada, tidak ada sesak napas kecuali exercise berat.
2. Ringan, rasa napas pendek bila berjalan cepat mendatar atau mendaki.
3. Sedang, berjalan lebih lambat dibandingkan orang lain sama umur karena
sesak atau harus berhenti untuk bernapas saat berjalan datar.
4. Berat, berhenti untuk bernapas setelah berjalan 100m atau beberapa menit,
berjalan mendatar
5. Sangat berat, terlalu sesak untuk keluar rumah sesak saat mengenakan atau
melepaskan pakaian.

F. Penatalaksnaan
1. Penanganan Umum Dispnea
a. Memposisikan pasien pada posisi setengah duduk atau berbaring dengan
bantal yang tinggi
b. Diberikan oksigen sebanyak 2-4 liter per menit tergantung derajat
sesaknya
c. Pengobatan selanjutnya diberikan sesuai dengan penyakit yang diderita
2. Terapi Non Farmakologi
a. Olahraga teratur
b. Menghindari alergen
c. Terapi emosi
3. Farmakologi
a. Quick relief medicine
Pengobatan yang digunakan untuk merelaksasi otot-otot saluran
pernapasan, memudahkan pasien bernapas dan digunakan saat
serangan datang. Contoh : bronkodilator
b. Long relief medicine
Pengobatan yang digunakan untuk mengobati inflamasi pada sesak
nafas, mengurangi udem dan mukus berlebih, memberikan control
untuk jangka waktu yang lama. Contoh : Kortikosteroid bentuk
inhalasi
BAB II
PEMBAHASAN

Sesak Nafas Karena Alergi


Salah satu penyebab sesak nafas adalah karena reaksi alergi, yang berarti sesak
nafas akan muncul karena dipicu oleh alergen. Alergen adalah substansi-substansi
tidak berbahaya di lingkungan, namun akan menimbulkan reaksi tidak normal
pada tubuh orang yang memiliki alergi. Reaksi alergi akan menyebabkan saluran
pernapasan mengalami inflamasi dan menyempit, yang akhirnya menimbulkan
gejala asma, seperti:
Batuk
Mengi (berbunyi saat bernapas)
Dada sesak
Bernapas pendek-pendek, dan
Bernapas dengan cepat

Alergi Debu
Alergi paling umum disebabkan oleh adanya partikel debu dan sejenisnya
di udara. Hal ini dapat mempengaruhi setiap individu, terlepas dari riwayat
kesehatan mereka, karena ini bisa masuk ke saluran hidung setiap saat. Ada
kemungkinan yang sangat nyata dari partikel berbahaya lainnya juga memasuki
sistem bersama dengan debu, dan ini tentu dapat menyebabkan masalah ini dalam
diri seseorang.
Mekanisme penimbunan debu dalam paru dapat dijelaskan sebagai
berikut: debu diinhalasi dalam partikel debu solid, atau suatu campuran dan asap,
debu yang berukuran antara 5-10 akan ditahan oleh saluran nafas bagian atas,
debu yang berukuran 3-5 akan ditahan oleh saluran nafas bagian tengah, debu
yang berukuran 1-3 disebut respirabel, merupakan ukuran yang paling bahaya,
karena akan tertahan dan tertimbun mulai dari bronchiolus terminalis sampai
hinggap di permukaan alveoli/selaput lendir sehingga menyebabkan fibrosis paru.
Sedangkan debu yang berukuran 0,1 1 melayang di permukaan alveoli
(Pudjiastuti, 2002).
Mekanisme timbulnya debu dalam paru, menurut Putranto (2007) :
1. Kelembaban dari debu yang bergerak (inertia)
Pada waktu udara membelok ketika jalan pernafasan yang tidak lurus,
partikelpartikel debu yang bermasa cukup besar tidak dapat membelok
mengikuti aliran udara, tetapi terus lurus dan akhirnya menumpuk selaput
lendir dan hinggap di paru-paru.
2. Pengendapan (Sedimentasi)
Pada bronchioli kecepatan udara pernafasan sangat kurang, kira-kira 1 cm
per detik sehingga gaya tarik bumi dapat bekerja terhadap partikel debu
dan mengendapnya.
3. Gerak Brown terutama partikel berukuran sekitar 0,1 , partikel-partikel
tersebut membentuk permukaan alveoli dan tertimbun di paru-paru.

Jalan masuk debu kedalam tubuh, menurut Putranto (2007) :


1. Inhalation adalah jalan masuk (rute) yang paling signifikan di mana
substansi yang berbahaya masuk dalam tubuh melalui pernafasan dan
dapat menyebabkan penyakit baik akut maupun kronis.
2. Absorbtion adalah paparan debu masuk ke dalam tubuh melalui absorbsi
kulit di mana ada yang tidak menyebabkan perubahan berat pada kulit,
tetapi menyebabkan kerusakan serius pada kulit.
3. Ingestion adalah jalan masuk yang melalui saluran pencernaan (jarang
terjadi).

Tidak semua partikel yang terinhalasi akan mengalami pengendapan di paru.


Faktor pengendapan debu di paru dipengaruhi oleh pertahanan tubuh dan
karakterisrik debu sendiri yang meliputi jenis debu, ukuran partikel debu,
konsentrasi partikel dan lama paparan, pertahanan tubuh.
Menurut Sumamur (1996) mengelompokkan partikel debu menjadi dua
yaitu debu organik dan anorganik.

Tabel 1. Jenis Debu yang Dapat Menimbulkan Penyakit Paru pada Manusia

Konsentrasi Pertikel Debu dan Lama Paparan


Semakin tinggi konsentrasi partikel debu dalam udara dan semakin lama
paparan berlangsung, jumlah partikel yang mengendap di paru juga semakin
banyak. Setiap inhalasi 500 partikel per millimeter kubik udara, setiap alveoli
paling sedikit menerima 1 partikel dan apabila konsentrasi mencapai 1000 partikel
per millimeter kubik, maka 10% dari jumlah tersebut akan tertimbun di paru.
Konsentrasi yang melebihi 5000 partikel per millimeter kubik sering dihubungkan
dengan terjadinya pneumokoniosis (Mangkunegoro, 2003).
Pneumokoniosis akibat debu akan timbul setelah penderita mengalami
kontak lama dengan debu. Jarang ditemui kelainan bila paparan kurang dari 10
tahun. Dengan demikian lama paparan mempunyai pengaruh besar terhadap
kejadian gangguan fungsi paru (Yunus, 2006).
Pertahanan Tubuh terhadap Paparan Partikel Debu yang Terinhalasi
Beberapa orang yang mengalami paparan debu yang sama baik jenis
maupun ukuran partikel. Konsentrasi maupun lamanya paparan berlangsung, tidak
selalu menunjukkan akibat yang sama. Sebagian ada yang mengalami gangguan
paru berat, namun ada yang ringan bahkan mungkin ada yang tidak mengalami
gangguan sama sekali. Hal ini diperkirakan berhubungan dengan perbedaan
kemampuan sistem pertahanan tubuh terhadap paparan partikel debu terinhalasi.
Menurut Murray & Lopez (2006), dilakukan dengan cara yaitu :
a. Secara mekanik yaitu: pertahanan yang dilakukan dengan menyaring partikel yang
ikut terinhalasi bersama udara dan masuk saluran pernafasan. Penyaringan
berlangsung di hidung, nasofaring dan saluran nafas bagian bawah yaitu bronkus
dan bronkiolus. Di hidung penyaringan dilakukan oleh bulu-bulu cilia yang
terdapat di lubang hidung, sedangkan di bronkus dilakukan reseptor yang terdapat
pada otot polos dapat berkonstraksi apabila ada iritasi. Apabila rangsangan yang
terjadi berlebihan, maka tubuh akan memberikan reaksi berupa bersin atau batuk
yang dapat mengeluarkan benda asing termasuk partikel debu dari saluran nafas
bagian atas maupun bronkus.
b. Secara kimia yaitu cairan dan cilia dalam saluran nafas secara fisik dapat
memindahkan partikel yang melekat di saluran nafas, dengan gerakan cilia yang
mucociliary escalator ke laring. Cairan tersebut bersifat detoksikasi dan
bakterisid. Pada paru bagian perifer terjadi ekskresi cairan secara terus menerus
dan perlahan-lahan dari bronkus ke alveoli melalui limfatik. Selanjutnya makrofag
alveolar menfagosit partikel yang ada di permukaan alveoli.
c. Secara imunitas, melalui proses biokimiawi yaitu humoral dan seluler. Ketiga
sistem tersebut saling berkait dan berkoordinasi dengan baik sehingga partikel
yang terinhalasi disaring berdasarkan pengendapan kemudian terjadi mekanisme
rekasi atau perpindahan partikel
Contoh kasus
Seorang wanita berumur 25 tahun yang berprofesi sebagai ART (asisten Rumah
tangga) datang ke apotek dengan keluhan sesak nafas dan nafas berbunyi setelah
bekerja membersihkan lemari kerja majikannya yang sudah lama tidak digunakan.
Swamedikasi pasien :
Obat yang diberikan kepada pasien adalah cetirizin tab 10mg 10 tablet dan salbron
( salbutamol tab 2 mg) 10 tablet.
1. Cetirizine
Cetirizine 10 mg tablet (1 box berisi 2 strip @ 10 tablet)
Farmakologi :
Cetirizine merupakan antihistamin potensial yang memiliki efek sedasi
(kantuk) ringan dengan sifat tambahan anti alergi.
Indikasi :
Pengobatan rhinitis alergi menahun ataupun musiman, dan urtikaria idiopatik
kronik.
Kontra indikasi :
Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap kandungan dalam obat.
Wanita menyusui, karena kandungan aktif cetirizine diekskresi pada ASI.
Dosis :
Dewasa dan anak usia diatas 12 tahun : 1 tablet 10 mg, 1 kali sehari
Penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal : dosis sebaiknya
dikurangi menjadi tablet sehari.
Peringatan :
Kejadian mengantuk telah dilaporkan pada beberapa pasien yang
mengkonsumsi Cetirizine; oleh karena itu hati-hati bila mengendarai
kendaraan atau mengoperasikan mesin. Penggunaan Cetirizine bersamaan
dengan alkohol atau depresan sistem saraf pusat lainnya sebaiknya dihindari
karena dapat terjadi peningkatan penurunan kewaspadaan dan kerusakan
sistem saraf pusat.
Interaksi obat :
Penelitian dengan diazepam dan cimetidine menunjukkan kejadian interaksi
obat. Sama seperti antihistamin lain, disarankan untuk menghindari konsumsi
alkohol yang berlebihan.
2. Salbron
Zat aktif : salbutamol sulfat
Kemasan : salbutamol 2 mg, 4mg/tab. 2mg/5ml sirup
Farmakologi :
Salbutamol merupakan suatu obat agonis beta-2 adrenergik yang selektif. pada
bronkus akan menimbulkan relaksasi otot polos bronkus secara langsung.
Salbron efektif untuk mengatasi gejala-gejala sesak napas pada penderita-
penderita yang mengalami bronkokonstriksi seperti : asma bronkial, bronkitis
asmatis dan emfisema pulmonum, baik untuk penggunaan akut maupun
kronik. Salbron menghambat pelepasan mediator dari pulmonary mast cell,
mencegah kebocoran kapiler dan udema bronkus serta merangsang
pembersihan mukosiliar. Sebagai agonis beta-2 salbron berpengaruh terhadap
adrenoseptor beta-1 pada sistem kardiovaskuler adalah minimal. Ratio
stimulasi beta-2/beta-1 salbutamol lebih besar dari obat-obat simpatomimetik
lainnya. Salbron dapat digunakan oleh anak-anak maupun dewasa. Salbron
diabsorpsi dengan baik melalui saluran pencernaan sehingga efeknya akan
tampak setelah 15 menit dan berlangsung selama 4 8 jam. Waktu paruh
eliminasinya berkisar dari 2,7 sampai 5 jam.
Indikasi :
Salbron merupakan obat bronkodilator untuk menghilangkan gejala sesak
napas pada penderita asma bronkial, bronkitis asmatis dan emfisema
pulmonum.
Kontraindikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap Salbutamol.
Dosis :
Untuk tablet :
Dewasa : sehari 3-4 kali 2-4 mg.
Anak diatas 6 tahun : sehari 3-4 kali 2 mg.
Anak 2-6 tahun : sehari 3-4 kali 1 mg-2 mg.
Untuk sirup :
Dewasa : sehari 3-4 kali 1-2 sendok teh.
Anak diatas 6 tahun : sehari 3-4 kali 1 sendok teh.
Anak 2-6 tahun : sehari 3-4 kali -1 sendok teh.
Dosis anak adalah 0,3 mg/kg.bb./hari, dibagi dalam 3 dosis.
Efek samping :
Berupa nausea, sakit kepala, palpitasi, tremor, vasodilatasi periferal, takikardi
dan hipokalemi yang kadang-kadang timbul sesudah pemberian dosis tinggi.
Peringatan :
Agar diberikan secara hati-hati pada pasien tirotoksikosis. Hindari
penggunaan pada penderita dengan hipertensi, penyakit jantung iskemik dan
pasien yang sudah tua.
Alergi dingin
Bapak X datang ke apotek ingin membeli obat sesak nafas. Sebelumnya bapak X
bercerita pada malam hari waktu tidur mengalami sesak karena tenggorokan
penuh dengan dahak sehingga sulit untuk bernapas, namun bila siang hari normal.
Pengobatan dari kasus tersebut adalah dengan pemberian carmeson
(metilprednisolon) 4mg 3 kali sehari 1 tablet.
Carmeson
Kemasan:
Metilprednisolon 4 mg
Indikasi :
Penyakit kolagen, berbagai penyakit alergi dan autoimun.
Dosis :
Dosis awal 4-48mg per hari (tergantung dari jenis dan berat penyakit, serta respon
penderita).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, http://www.hexpharmjaya.com/page/salbron.aspx, diakses pada


tanggal 14 oktober 2014
Anonim,2014,http://medicastore.com/obat/5329/SALBUTAMOL_TABLET_2_
MG.html, diakses pada tanggal 14 oktober 2014

Pudjiastuti, Wiwiek. 2002. Debu Sebagai Bahan Pencemar yang Membahayakan


Kesehatan Kerja. http://www. Depkes. Go. Id/downloads/debu. Pdf. Diakses
tanggal 14 oktober 2009
Sumamur, 1998. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, CV. Haji Masagung.
Jakarta.
Yunus, 2006. Pulmonologi Klinik. Balai Penerbit FK UI. Jakarta