Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus Jiwa Dokter Internsip

WANITA 21 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA PARANOID

Pendamping
dr. Kemalasari

Disusun Oleh
dr. Yohana Trissya A.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


DEPARTEMEN KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG
RSUD AMBARAWA
2017
LAPORAN KASUS JIWA

SKIZOFRENIA PARANOID

Topik : Ilmu Kesehatan Jiwa


Kasus : Skizofrenia Paranoid
Oleh : dr. Yohana Trissya A.
Pendamping : dr. Kemalasari
Objektif : Ilmu Kesehatan Jiwa
Deskripsi : Seorang wanita 35 tahun datang ke Poliklinik Jiwa RSUD
Ambarawa dengan keluhan sering mendengar suara-suara dan
merasa ada orang lain yang berniat menjahati dirinya
Tujuan : Mampu mengidentifikasi dan melakukan pengelolaan pada pasien
dengan skizofrenia paranoid
Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka dan Kasus
Cara Membahas : Diskusi

Ambarawa,
Pendamping dokter internship,

dr. Kemalasari
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Skizofrenia
Menurut sejarah ilmu psikiatri, gejala-gejala penyakit skizofrenia telah
dikenali sejak abad 19. Istilah skizofrenia pertama kali diajukan oleh Eugen
Bleuler untuk menggambarkan adanya perpecahan (schism) antara pikiran,
emosi, dan perilaku pada pasien yang terkena. Seiring perkembangan ilmu
psikiatri, istilah skizofrenia mengalami beberapa kali perubahan definisi untuk
membedakannya dari gangguan kejiwaan lain.1
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia, edisi III (PPDGJ-III), skizofrenia dimengerti sebagai suatu deskripsi
sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan
penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik,
dan sosial budaya. Pada umumnya skizofrenia ditandai oleh penyimpangan
yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek
yang tidak serasi atau tumpul, kesadaran yang jernih, dan kemampuan
intelektual yang biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif
tertentu dapat berkembang kemudian.2

B. Etiologi Skizofrenia
Hingga sekarang, penyebab skizofrenia belum diketahui secara pasti.3
Para ahli berpendapat skizofrenia disebabkan akibat kombinasi berbagai faktor.
Faktor genetik dan lingkungan merupakan diperkirakan mempengaruhi
perjalanan penyakit skizofrenia. Penyakit ini ditemukan pada 1% populasi
umum, tetapi dapat ditemukan pada 10% orang yang memiliki hubungan
keluarga tingkat pertama (orang tua, kakak, adik kandung) dengan penderita
skizofrenia. Pada kembar identik, risiko menderita skizofrenia mencapai 40-
65% apabila saudara kembarnya memiliki penyakit tersebut.4
Para peneliti meyakini bahwa beberapa gen dikaitkan dengan
meningkatnya risiko skizofrenia, tetapi tidak ada gen yang secara langsung
menyebabkan penyakit itu sendiri. Hasil penelitian baru-baru ini menyebutkan
bahwa penderita skizofrenia cenderung memiliki mutasi genetik langka.
Perubahan genetik ini melibatkan ratusan gen berbeda dan mungkin
mengganggu perkembangan otak. Penelitian lain menyebutkan bahwa
skizofrenia mungkin terjadi akibat malfungsi gen kunci yang mensintesis
bahan-bahan kimia otak. Masalah ini dapat mengganggu bagian otak yang
yang mengatur fungsi luhur.4
Selain faktor genetik, para peneliti meyakini bahwa interaksi antara gen
dan lingkungan berperan penting dalam perkembangan skizofrenia. Banyak
faktor lingkungan yang berpengaruh seperti paparan virus maupun malnutrisi
sebelum kelahiran, masalah saat kelahiran, dan faktor-faktor psikososial lain
yang belum diketahui.4 Sebagai contoh, beberapa peneliti berpendapat bahwa
skizofrenia dapat disebabkan akibat infeksi virus yang mempengaruhi otak
pada masa kehidupan awal atau akibat cedera otak ringan akibat komplikasi
saat proses persalinan.3
Para peneliti berpendapat bahwa perkembangan skizofrenia juga
dipengaruhi oleh ketidakseimbangan rekasi kimiawi otak yang melibatkan
neuro transmitter seperti dopamine, glutamate, dan mungkin lainnya. Struktur
otak penderita skizofrenia juga Nampak berbeda dengan otak normal. Sebagai
contoh, pada penderita skizofrenia ventrikel otak nampak lebih besar,
substansia grisea cenderung lebih sedikit, dan beberapa bagian otak mungkin
menunjukkan aktivitas lebih sedikit atau lebih banyak.4
Studi post-mortem jaringan otak penderita skizofrenia menunjukkan
adanya perubahan kecil dalam distribusi atau karakteristik sel otak yang
kemungkinan besar terjadi sebelum lahir. Beberapa ahli berpedndapat bahwa
masalah yang timbul pada perkembangan otak janin dapat menyebabkan
kesalahan koneksi. Masalah ini mungkin belum muncul sampai penderita
mencapai pubertas. Saat pubertas, otak mengalami perubahan besar yang dapat
memicu munculnya gejala-gejala psikotis.4

C. Gambaran Klinis Skizofrenia4


Gejala penyakit skizofrenia secara garis besar terbagi menjadi tiga
kategori, yaitu:
1. Gejala positif
Gejala positif merupakan tingkah laku psikotik yang tidak ditemukan pada
orang normal. Penderita dengan gejala positif sering bertentangan dengan
realita. Gejala-gejala ini meliputi:
Halusinasi, yaitu rangsangan baik visual, auditorik, olfaktorik, atau
taktil yang hanya dirasakan penderita dan tidak ada orang lain yang
dapat merasakan. Halusinasi auditorik merupakan jenis yang paling
banyak ditemui pada penderita skizofrenia.
Waham / delusi, yaitu kepercayaan palsu yang bukan merupakan
bagian kultur penderita dan tidak dapat dipatahkan. Waham yang
ditemukan dapat berupa waham bizar, waham siar, waham
kebesaran, waham curiga, dan lain-lain.
Gangguan proses berpikir, yang dapat berupa blocking, disorganized
thinking, neologisme (membuat kata-kata baru yang tidak
bermakna), dan lain sebagainya
Gangguan gerak, yang dapat berupa agitasi, gerakan berulang-ulang,
atau katatonik (mempertahankan postur / posisi tubuh tertentu dan
tidak merespon orang lain).

2. Gejala negatif
Gejala negatif dikaitkan dengan gangguan terhadap emosi dan tingkah
laku normal. Gejala-gejala ini slit dikenali sebagai bagian penyakit dan
sering disalahartikan sebagai depresi atau kondisi lainnya. Beberapa
contoh gejala negatif antara lain adalah:
Afek datar
Tidak memiliki keinginan terhadap kenikmatan hidup
Tidak mempunyai kemampuan untuk memulai dan melakukan
aktivitas yang telah direncanakan
Berbicara sedikit, walaupun sudah dipaksa untuk berinteraksi
Mengabaikan higienitas diri
3. Gejala kognitif
Gejala kognitif bersifat kompleks dan sulit dikenali. Gejala-gejala ini
seringkali terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan khusus. Beberapa
gejala kognitif meliputi antara lain:
Buruknya fungsi eksekutif (kemampuan untuk memahami informasi
dan mengambil keputusan)
Kesulitan memfokuskan dan memperhatikan
Gangguan memori jangka pendek

D. Kriteria Diagnosis Skizofrenia


Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menyatakan diagnosis
skizofrenia. Di Indonesia, kriteria yang umum digunakan adalah menurut
PPDGJ-III. Menurut panduan ini, skizofrenia diberi kode F20.xx. Pedoman
diagnostik untuk skizofrenia menurut PPDGJ-III adalah sebagai berikut:2
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atua bergema
dalam kepalanya (tidak keras), da nisi pikiran ulangan, walaupun
isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar
masuk ke dalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya; dan
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang
lain atau umum mengetahuinya
b) Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu keuatan dari luar;
Delusion perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat
c) Halusinasi auditorik
d) Waham-waham menetap jenis lainnya

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
a) Halusinasi yang menetap dari pancaindera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama brminggu0minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
c) Perilaku katatonik
d) Gejala-gejala negatif yang jelas tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptika

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal);

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutut
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan,
tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude),
dan penarikan diri secara sosial.

Perjalanan gangguan skizofrenik dapat diklasifikasi dengan


menggunakan kode sebagai berikut:
F20.x0 Berkelanjutan
F20.x1 Episodik dengan kemunduran progresif
F20.x2 Episodik dengan kemunduran stabil
F20.x3 Episodik berulang
F20.x4 Remisi tak sempurna
F20.x5 Remisi sempurna
F20.x8 Lainnya
F20.x9 Periode pengamatan kurang dari satu tahun

Lebih rinci lagi, diagnosis skizofrenia dalam PPDGJ-III dibagi ke dalam


beberapa tipe. Pedoman diagnostik untuk skizofrenia paranoid (F20.0) adalah
sebagai berikut:2
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Sebagai tambahan:
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi peluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;

Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala


katatonik seara relatif tidak nyata / tidak menonjol

E. Pengobatan Skizofrenia
Secara umum, tujuan terapi skizofrenia adalah: 1) mengurangi atau
menghilangkan ggejala, 2) memaksimalkan kualitas hidup dan fungsi adaptif,
3) meningkatkan dan menjaga kesembuhan dari disabilitas semaksimal
mungkin. Lebih lanjut lagi, terapi skizofrenia dibagi ke dalam 3 fase, yaitu:5
1. Fase Akut
Tujuan terapi pada fase akut (ditandai dengan adanya episode psikotik
akut) adalah mencegah kekerasan, mengendalikan perilaku yang
menganggu, mengurangi keparahan psikosis dan gejala terkai, menentukan
dan mengatasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan episode akut,
mengusahakan pengembalian fungsi normal, mengembangkan kerjasama
antara pasien dan keluarga, membuat rencana terapi jangka pendk dan
panjang, serta menghubungkan pasien dengan komunitas.
2. Fase Stabilisasi
Tujuaan terapi pada fase stabilisasi adalah mengurangi stress pasien
dan meminimalkan kemungkinan terjadinya relaps, membantu adaptasi
pasien di dalam komunitas, memfasilitasi pengurangan gejala dan
konsolidasi remisi, serta mempercepat proses penyembuhan.
3. Fase Stabil
Pada fase stabil, tujua terapi adalah memastikan remisi dan kontrol
gejala tetap terjaga, pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan
derajat fungsi dan kualitas hidupnya, memastikan gejala dan relaps telah
terobati dengan efektif, dan memantau apakah terdapat efek samping akibat
pengobatan yang diberikan.

Secara singkat, terapi yang dapat diberikan untuk skizofrenia meliputi


obat-obatan antipsikotik dan berbagai jenis terapi psikososial.
1. Obat Antipsikotik
Obat antipsikotik dibagi menjadi 2 macam. Jenis yang pertama
dikenal sebagai antipsikotik konvensional atau tipikal. Beberapa contoh obat
antipsikotik tipikal yang sering digunakan adalah chlorpromazine,
haloperidol, perphenazine, fluphenazine. Jenis antipsikotik yang lebih baru
dikenal sebagai antipsikotik generasi kedua atau atipikal. Salah satu contoh
obat antipsikotik atipikal yang banyak digunakan adalah clozapine. Obat ini
efektif digunakan sebagai terapi gejala psikotik, halusinasi, dan pikiran
derealistik. Akan tetapi, penggunaan obat ini kadang dapat menyebabkan
efek samping agrunlositosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan darah
berkala untuk monitoring efek samping obat. Beberapa contoh obat
antipsikotik tipikal lain yang sering digunakan antara lain adalah
risperidone, olanzapine, quetiapine, ziprasidone, aripiprazole, paliperidone.3
Penggunaan obat antipsikotik dapat menyebabkan efek samping
seperti mengantuk, hipotensi ortostatik, pandangan berkabur, takikardi,
fotosensitivitas, ruam kulit, dan gangguan menstruasi. Antipsikotik atipikal
dapat menyebabkan penambahan berat badan dan perubahan metabolism
tubuh sehingga dapat meningkatkan risiko diabetes dan hiperkolesterolemia.
Beberapa obat antipsikotik tipikal dapat menyebabkan efek samping
ekstrapiramidal seperti rigiditas, spasme otot, tremor, dan kekakuan.
Penggunaan jangka panjang obat antipsikotik dapat menyebabkan tardive
dyskinesia. Penyakit ini dapat mengakibatkan gerakan otot yang tidak dapat
dikontrol, yang umumnya sering terjadi pada otot-otot sekitar mulut. 3
Beberapa jenis obat antipsikotik yang umum digunakan adalah
sebagai berikut:5
2. Terapi Psikososial
Terapi psikososial dapat membantu penderita skizofrenia yang telah
distabilkan dengan terapi antipsikotik. Terapi psikososial dapat membantu
pasien mengatasi kesulitan akibat penyakitnya seperti kesulitan komunikasi,
perawatan diri, bekerja, membangun dan menjaga hubungan. Pasien yang
mendapatkan terapi psikosososial secara teratur juga lebih patuh minum
obat dan lebih jarang mengalami relaps atau dirawat inap. Beberapa jenis
terapi psikososial untuk skizofrenia antara lain adalah:3
Kemampuan manajemen penyakit
Terapi terintegrasi untuk penggunaan zat-zat terlarang
Rehabilitasi
Edukasi keluarga
Cognitive behavorial therapy (CBT)
Self-help groups
LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. T
No. CM : 170612-2017
Usia : 35 tahun
Alamat : Nggregas 8/5 asinan bawen
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Status Perkawinan : Duda
Pendidikan : SMA (tamat)
Pekerjaan : Tukang kayu

II. Anamnesis
Diambil pada tanggal 12 Juni 2017 di bangsal Melati RSUD Ambarawa
secara autoanamnesa:
1. Keluhan Utama
Tn. T datang sendiri ke Poliklinik Jiwa RSUD Ambarawa dengan
keluhan sering mendengar suara-suara dan merasa ada yang berniat
menjahati dirinya sejak sekitar 3 bulan terakhir

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien merasa sering
mendengar bisikan-bisikan tanpa wujud nyata. Pasien merasa cemas,
gelisah, dan merasa bisikan-bisikan yang didengar berniat buruk
terhadap dirinya, misalnya menyuruh bunuh diri.
Sekitar 1 bulan terakhir pasien merasa suara-suara yang didengar
semakin jelas. Pasien menjadi semakin gelisah dan sulit tidur. Pasien
juga merasa orang-orang di sekitarnya sering membicarakan hal-hal
yang buruk mengenai dirinya. Belakangan ini pasien juga merasakan ada
sesuatu yang mengendalikan dirinya sehingga kadang tangan dan kaki
pasien bergerak sendiri di luar kehendaknya.
Dalam kehidupan sehari-harinya, pasien tinggal sendiri dan bekerja
sebagai penjual mainan anak. Pasien tinggal di lingkungan gereja dan
diperbantukan sebagai penjaga gereja. Kedua orang tua pasien sudah
meninggal. Pasien pernah menikah satu kali dan memiliki seorang anak
perempuan yang sekarang berusia 6 tahun, tetapi kemudian pasien
bercerai dan anak perempuannya ikut bersama mantan istrinya. Pada
beberapa kesempatan keluarga pasien seperti paman dan bibinya kadang
datang berkunjung.
Pasien masih bisa berkomunikasi dengan baik. Hubungan dengan
keluarga dan lingkungan sekitar sedikit menurun sejak pasien merasakan
keluhan-keluhannya. Pasien masih bisa merawat diri sendiri. Makan dan
minum cukup. Mandi, buang hari, dan berpakaian dilakukan dengan baik
atas inisiatif sendiri. Pasien tidak pernah berusaha mencederai orang lain
maupun diri sendiri.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien baru pertama kali sakit seperti ini, belum pernah berobat
sebelumnya
Tidak ditemukan adanya riwayat penyakit maupun cedera fisik
sebelumnya

4. Hal-hal yang Mendahului Penyakit


a. Faktor Organik
1) Pasien tidak pernah mengalami trauma kepala
2) Pasien tidak menggunakan obat-obatan, jamu-jamuan

b. Faktor Psikososial
Pasien merupakan pribadi yang cenderung tertutup, sering
memendam perasaan dan menyendiri
Pasien bekerja sebagai penjual mainan anak dan diperbantukan
sebagai penjaga gereja, cenderung menyendiri, jarang
berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
maupun keluarga, terutama sejak merasakan keluhan-keluhan
yang dialaminya

5. Riwayat Keluarga
Dalam keluarga baik dari pihak ayah maupun ibu, tidak ada yang
mengalami keluhan yang sama dengan pasien maupun gangguan jiwa
lainnya.

6. Silsilah Keluarga

Keterangan :
Laki-laki= Pasien =

Perempuan
= atau Sudah meninggal
=

7. Kepribadian Sebelum Sakit


Pasien cenderung tertutup, pendiam dan jarang mau menceritakan
masalahnya kepada keluarga maupun lingkungan sekitar
8. Riwayat Persalinan
Pasien dilahirkan dengan pertolongan bidan secara normal saat
ibunya berusia 21 tahun. Kehamilannya dikehendaki dan ibu saat hamil
dan melahirkan dalam keadaan sehat dan bahagia. Pasien tidak
mengetahui berat badan dan panjang badan saat lahir. Pasien tidak
mengetahui setelah dilahirkan ditemukan masalah kesehatan atau tidak.

9. Riwayat Perkembangan Awal


Pasien dibesarkan dan diasuh oleh kedua orangtuanya sampai lulus
SMA. Pasien merasa tidak ada masalah dalam perkembangannya.

10. Riwayat Perkembangan Seksual


Pasien menikah pada usia 21 tahun dan memiliki 1 orang anak
perempuan setelah yang kini berusia 6 tahun.

11. Riwayat Pendidikan


Pasien telah menjalani pendidikan di SD, SMP hingga tamat SMA.

12. Riwayat Perkawinan


Pasien pernah menikah satu kali sekitar 6 tahun lalu saat berusia 21
tahun. Pasien memiliki seorang anak perempuan dari istrinya yang kini
berusia 6 tahun. Sekitar satu tahun lalu pasien bercerai dengan istrinya
dan anak perempuannya ikut bersama mantan istrinya. Semenjak
bercerai pasien belum pernah bertemu lagi dengan istri maupun anaknya.
Pasien bercerai karena merasa istrinya telah berselingkuh.

13. Riwayat Pekerjaan


Pasien bekerja sebagai tukang kayu sejak sekitar 7 tahun lalu.
Selain itu, pasien juga diperbantukan sebagai penjaga gereja dan
diperbolehkan tinggal di lingkungan gereja.
14. Aktivitas Moral Spiritual
Pasien beragama Islam sejak lahir. Sebelum sakit maupun setelah
sakit pasien masih beribadah. Walaupun beragama Islam, pasien tinggal
di lingkungan gereja Kristen. Selama ini pasien merasa tidak ada
masalah dengan aktivitas keagamaannya.

15. Aktivitas Sosial


Pasien jarang mengikuti aktivitas sosial, terlebih setelah
mengalami keluhan-keluhan yang dirasakannya belakangan ini.

Kesan : AutoAnamnesis dapat dipercaya

III. Ringkasan Anamnesis


1. Pasien seorang wanita berusia 45 tahun, anak kedua dari empat
bersaudara, status duda, pekerjaan penjual mainan anak-anak dan
penjaga gereja, pendidikan terakhir tamat SMA, agama Islam, suku Jawa,
dan beralamat di Kupang Pete.
2. Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa sendirian karena merasa sering
mendengar bisikan-bisikan tanpa wujud nyata. Pasien merasa cemas,
gelisah, dan merasa bisikan-bisikan yang didengar berniat buruk
terhadap dirinya, misalnya menyuruh bunuh diri. Sekitar 1 bulan terakhir
pasien merasa suara-suara yang didengar semakin jelas. Pasien menjadi
semakin gelisah dan sulit tidur. Pasien juga merasa orang-orang di
sekitarnya sering membicarakan hal-hal yang buruk mengenai dirinya.
Belakangan ini pasien juga merasakan ada sesuatu yang mengendalikan
dirinya sehingga kadang tangan dan kaki pasien bergerak sendiri di luar
kehendaknya.
3. Gejala-gejala tersebut ditunjukkan sejak tiga bulan yang lalu dan
menderita yang pertama kalinya.
4. Pasien tidak pernah berobat maupun mondok dengan penyakit seperti
yang dikeluhkan sekaranag
5. Perjalanan penyakit pada pasien ini yaitu akut.
6. Faktor predisposisi :
a. Masalah keluarga yaitu pasien bercerai dengan suaminya dan
berpisah dengan anak perempuan satu-satunya sejak sekitar satu
tahun lalu karena merasa istrinya selingkuh dan kemudian membawa
serta anak perempuannya saat berpisah.
b. Pasien tinggal seorang diri setelah berpisah dengan istri dan anaknya.
Kedua orangtua pasien telah meninggal dan saudara-saudara
kandung pasien masing-masing sudah berkeluarga.
c. Pasien jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan terlibat
dalam aktivitas sosial, terutama setelah merasakan keluhan-
keluhannya.
d. Kepribadian pasien sebelum sakit cenderung tertutup, sering
memendam perasaan, dan jarang mau menceritakan maslah-
masalahnya.
7. Kepribadian premorbid yaitu pasien cenderung tertutup, sering
memendam perasaan, dan jarang mau menceritakan masalah-masalahnya
baik kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

IV. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : tidak tampak sakit
Kesadaran : composmentis, GCS E4M6V5 = 15
TV : TD : 110/70 mmHg
N : 76 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
RR : 16 x / menit
t : 36,3C (aksiler)
Kepala : mesosefal
Kulit : sianosis (-), ikterik (-), turgor kulit cukup
Wajah : simetris
Mata : konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks
cahaya +N/+N, pupil isokor 3 mm / 3 mm
Telinga : discharge (-/-)
Hidung : discharge (-/-), nafas cuping hidung (-)
Mulut : bibir pucat (-)
Tenggorokan : T1-1, hiperemis (-), uvula di tengah, faring hiperemis (-)
Leher : JVP R+0 cm, deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar
getah bening leher dan kelenjar tiroid (-), kaku kuduk (-)
Toraks : bentuk normal, simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-
), sela iga melebar (-), iga mendatar (-)
Cor : I : ictus cordis tidak tampak
Pa : ictus cordis teraba di SIC V, 2 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Pe : konfigurasi jantung normal
Aus : BJ I & II murni, gallop (-), bising (-)
Pulmo : I : simetris saat statis maupun dinamis
Pa : stem fremitus kanan = kiri
Pe : sonor di semua lapangan paru
Aus : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Abdomen
Inspeksi : datar, venektasi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas : Superior Inferior
- Oedem -/- -/-
- Sianosis -/- -/-
- Cap.refill -/- -/-
- Akral dingin -/- -/-
- Refleks fisiologis +N/+N +N/+N
- Refleks patologis -/- -/-

V. Pemeriksaan Status Mental


1. Kesan umum : tak tampak sakit jiwa, berpakaian cukup bersih,
sesuai usia
2. Kesadaran : jernih
3. Persepsi : halusinasi auditorik (+)
4. Orientasi : tidak ada kelainan
5. Mood dan afek
Mood : disforik
Afek : terbatas
6. Memori : tidak mudah lupa terhadap kejadian-kejadian yang
baru terjadi atau yang di masa lalu.
7. Proses pikir :
Bentuk pikir : non realistik
Isi pikir : waham curiga (+), delusion of controlI (+)
Progresi pikir : koheren, baik
8. Sikap : Kooperatif
9. Tingkah laku : hipoaktif
10. Kontak psikis : mampu dipertahankan
11. Perhatian : normovigilitas
12. Intelegensia : tidak dilakukan pemeriksaan
13. Ekspresi : tidak dilakukan pemeriksaan
14. Konsentrasi : tidak dilakukan pemeriksaan
15. Tilikan : baik

VI. Diagnosis Banding


1. Skizofrenia paranoid
2. Gangguan skizoafektif tipe depresif
3. Episode depresif berat dengan gejala psikotik

VII. Diagnosis Multiaksial


Axis I : F20.0 Skizofrenia paranoid
Axis II : tidak ditemukan kelainan
Axis III : tidak ditemukan kelainan
Axis IV : Masalah berkaitan dengan primary support group (keluarga)
Axis V : GAF 50-41 : gejala berat, disabilitas berat
VIII. Rencana Terapi
1. Medikamentosa
a. Inf. D5 20 tpm
b. Clozapin 2 x 25 mg

2. Psikoterapi
Melibatkan edukasi untuk menemukan penyebab sakit serta bagaimana
menangani gejala
a. Terhadap pasien :
1) Memberi pemahaman bahwa penyakit yang diderita pasien
disebabkan karena pengaruh pikiran sendiri sehingga pasien
harus berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan pikiran dan
pelan-pelan bangkit dari masalah keluarga yang dihadapi.
2) Memberi dorongan dukungan dan semangat kepada pasien
untuk sembuh dari penyakitnya.
3) Mendorong pasien untuk lebih terbuka dengan keluarga dan
lingkungan sekitar dan menganggap masalah bukanlah beban
yang berat dan harus dipikul sendirian.
b. Terhadap penunggu pasien
1) Memberi pengarahan dan informasi tentang penyakit pasien
serta keharusan menjalankan pengobatan yang teratur demi
kesembuhan yang permanen.
2) Memberi pengarahan tentang pentingnya dukungan keluarga
dalam menciptakan suasana kondusif untuk mencegah
kambuhnya penyakit baik dari faktor predisposisi maupun
pencetus penyakit pasien.
3) Memberi informasi tentang tanda-tanda awal kekambuhan
sehingga perkembangan penyakit lebih lanjut dapat dicegah.

3. Sosioterapi
Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak penyakit, mencari
kesibukan, melakukan hobi tertentu dengan tujuan untuk membantu
pasien melupakan masalah yang dihadapi
4. Terapi kognitif perilaku (CBT)
Dengan harapan membantu mengidentifikasi, memahami dan
memodifikasi pemikiran dan pola perilaku yang salah. Pasien digali,
mengingat masalah yang pernah dilalui, yang menjadi beban pikiran, dan
perilaku orang yang menimbulkan rasa cemas / takut, kemudian
mengarahkan, meluruskan pola pikir dan menciptakan kondisi aman.
Kemudian mengajarkan bagaimana caranya menghadapi situasi
demikian.
PEMBAHASAN

1. Penegakan Diagnosis
Pasien datang ke Poli Jiwa RSUD Ambarawa dengan keluhan utama
sering mendengar suara-suara dan merasa ada yang berniat menjahati dirinya
sejak sekitar 3 bulan terakhir. Keluhan utama ini mengarah ke gangguan psikosis,
karena ditemukan gejala halusinasi auditorik dan waham curiga. Lebih lanjut lagi,
didapatkan gejala delusion of control karena pasien merasa anggota tubuhnya
bergerak sendiri seperti ada yang mengendalikan. Gejala ini dirasakan selama 3
bulan dan didapatkan pula perubahan aspek perilaku pribadi seperti penarikan diri
secara sosial. Semua gejala tersebut memenuhi kriteria diagnosis untuk
skizofrenia.
Apabila dirinci lebih lanjut, didapatkan pula bahwa gejala halusinasi
auditorik dan waham dikendalikan serta waham curiga yang menonjol, tanpa
disertai adanya gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, dan gejala
katatonik yang menonjol. Gejala ini sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia
paranoid menurut PPDGJ-III sehingga pada axis I dituliskan diagnosis F20.0
skizofrenia paranoid.
Dari anamnesis tidak didapatkan riwayat bermakna yang mengarah ke
gangguan kepribadian khas tertentu sehingga pada axis II dituliskan tidak
ditemukan kelainan. Demikian halnya pada axis III juga dituliskan tidak
ditemukan kelainan karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan
adanya masalah terkait kondisi fisik pasien. Pada axis IV didapatkan masalah
berkaitan dengan primary support group (keluarga). Masalah yang dimaksudkan
di sini adalah masalah terkait riwayat perceraian dengan istrinya dan ditinggal
pergi oleh anaknya. Pada axis V dituliskan GAF 50-41 yang sesuai untuk pasien
dengan gejala berat dan / atau disabilitas berat. Gejala berat yang dimaksudkan
pada kasus ini adalah gejala psikotik berupa halusinasi auditorik dan waham.
2. Rencana Terapi
Karena perjalanan penyakit pada pasien ini masih dalam fase akut, maka
tujuan terapi yang diberikan untuk mencegah kekerasan, mengendalikan perilaku
yang menganggu, mengurangi keparahan psikosis dan gejala terkai, menentukan
dan mengatasi faktor-faktor yang dapat mencetuskan episode akut, mengusahakan
pengembalian fungsi normal, mengembangkan kerjasama antara pasien dan
keluarga, membuat rencana terapi jangka pendk dan panjang, serta
menghubungkan pasien dengan komunitas.
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan merawat inap pasien. Infus
D5 20 tpm diberikan untuk menjaga kecukupan cairan tubuh pasien. Selain itu,
diberikan pula obat antipsikotik clozapine 2 x 25mg. Clozapine merupakan obat
antipsikotik atipikal yang efektif untuk gejala psikotik, halusinasi, dan waham.
Dosis yang diberikan masih relatif rendah karena pasien baru pertama kali
mendapat pengobatan. Dosis ini akan disesuaikan seuai dengan respon dan
perjalanan penyakit pasien, sambil terus dipantau akan kemungkinan munculnya
efek samping seperti agranulositosis.
Selain dengan obat antipsikotik, pasien juga diberikan terapi psikososial
yang meliputi edukasi terhadap pasien dan penunggu pasien, sosioterapi, dan
cognitive behavioral therapy (CBT). Tujuan terapi psikososial ini adalah
membantu pasien dalam memahami penyakitnya, melatih untuk mengatasi
kesulitan yang dapat muncul akibat penyakitnya seperti kesulitan komunikasi
ataupun bekerja, serta membangun dan menjaga hubungan antara pasien dengan
keluarga dan lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1. Binarupa Aksara
Publisher. Jakarta: 2010.

2. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Bagian


Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Jakarta: 2001.

3. National Alliance on Mental Illness. Understanding Schizophrenia and


Recovery. Diambil dari: www.nami.org

4. National Institute of Mental Health. Schizophrenia.

5. Lehman AF, et al. Practice Guideline For The Treatment of Patients With
Schizophrenia. American Psychiatric Association. 2010.

Anda mungkin juga menyukai