Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan
presentasi bokong sebesar 4-5 kali dibanding presentasi kepala. Sebab kematian
perinatal pada persalinan presentasi bokong yang terpenting adalah prematuritas
dan penanganan persalinan yang kurang sempurna, dengan akibat hipoksia atau
perdarahan di dalam tengkorak. Trauma lahir pada presentasi bokong banyak
dihubungkan dengan usaha untuk mempercepat persalinan dengan tindakan-
tindakan untuk mengatasi macetnya persalinan. Letak sungsang merupakan
keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan
bokong berada di bagian bawah kavum uteri (2). Tipe letak sungsang yaitu: Frank
breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi; Complete breech (5-10%) yaitu
tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi; Footling (10-30%) yaitu satu
atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki Letak sungsang terjadi pada 3-
4% dari seluruh persalinan. Kejadian letak sungsang berkurang dengan
bertambahnya usia kehamilan. Letak sungsang pada usia kehamilan kurang dari
28 minggu sebesar 25%, pada kehamilan 32 minggu 7% dan, 1-3% pada
kehamilan aterm. (Devi Indryanita, 2017).
Letak sungsang terjadi dalam 3-4% dari seluruh persalinan. Penelitian lain
seperti Greenhill melaporkan kejadian persalinan presentasi bokong sebanyak 4-
4,5%. Di Parkland Hospital 3,5% dari 136.256 persalinan tunggal dan dari tahun
1990 sampai 1999 merupakan letak sungsang. Presentasi bokong merupakan
malpresentasi yang paling sering dijumpai. Sebelum umur kehamilan 28 minggu,
kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30%, dan sebagian besar akan
berubah menjadi presentasi kepala setelah umur kehamilan 34 minggu.
Penyebab terjadinya presentasi bokong tidak diketahui, tetapi terdapat beberapa
faktor risiko selain prematuritas, yaitu abnormalitas struktural uterus, polihidram-
nion, plasenta previa, multiparitas, mioma uteri, kehamilan multiple, anomali janin
(anensefali, hidrosefalus), dan riwayat presentasi bokong sebelumnya. Telah

1
2

terjadi perubahan dalam menajemen presentasi bokong yang mengarah kepada


semakin dipilihnya cara persalinan bedah sesar dibandingkan pervaginam. Pada
tahun 1990 sebanyak 90% kasus presentasi bokong dilahirkan secara bedah
sesar, sedangkan pada tahun 1970 hanya sebanyak 11,6%. Operasi sesar sudah
menjadi indikasi yang popular di Hongkong, dan persentase persalinan sungsang
secara vaginal telah menurun dari 12,08% pda tahun 1998 menjadi 5,28% pada
tahun 2008. Di Perancis dilaporkan 16,3% pada tahun 1999,17,6% pada tahun
2001, 18,7% pada tahun 2003, dan 19,2% pada tahun 2005. Di Swedia tahun
1999 persalinan sungsang dengan seksio sesarea sebanyak 75,3% meningkat
pada tahun 2001 sebanyak 86,0%. Tiga dari setiap 100 (3%) bayi sungsang pada
akhir kehamilan. Bayi sungsang dapat dilihat dalam beberapa posisi yaitu;
bokong sempurna (complete breech), bokong murni (frank breech), bokong kaki
(footling breech). (Matricia D.G. Silinaung, dkk. 2016).
Menurut WHO, sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan
terjadi di Negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu merupakan yang
tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup. Indonesia
sampai saat ini merupakan negara dengan AKI (angka kematian ibu) paling tinggi
di Asia. Pada penduduk Indonesia 2011 tercatat AKI masih sebesar 228/100.000
kelahiran hidup. Selanjutnya angka kematian bayi (AKB) usia 0-11 bulan adalah
34 per 1.000 kelahiran hidup. Target nasional pada tahun 2015 AKI akan turun
menjadi 23/100.000 kelahiran hidup. (Matricia D.G. Silinaung dkk, 2016).
Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan letak kepala. Angka kematian prenatal dengan persalinan
letak sungsang mempunyai persentase 16,8-38,5% di Indonesia. (Matricia D.G.
Silinaung dkk, 2016).
Khusus untuk AKI di Sulsel tahun 2015, angkanya 70 per 1000 kelahiran.
Angka ini menurun dari tahun 2015 yang mencapai 76 per 100 ribu kelahiran
hidup. (Yakin Achmad, 2015)

B. Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien Dengan Letak Sungsang di
RSUD Haji Makassar?
3

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian Asuhan Keperawatan dengan Letak Sungsang
adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk dapat melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Klien Dengan
Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
2. Tujuan Khusus
a. Untuk dapat melakukan Pengkajian Asuhan Keperawatan pada Klien
Dengan Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
b. Untuk dapat menetapkan Diagnose Asuhan Keperawatan pada Klien
Dengan Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
c. Untuk dapat menetapkan Intervensi Asuhan Keperawatan pada Klien
Dengan Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
d. Untuk dapat melakukan Implementasi Asuhan Keperawatan pada Klien
Dengan Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
e. Untuk dapat melakukan Evaluasi Asuhan Keperawatan pada Klien
Dengan Letak Sungsang di RSUD Haji Makassar
D. Manfaat Penulisan
1. Penulis
Lebih mengembangkan cakrawala dan wawasan berfikir penulis dalam
menerapkan teori yang didapat selama menempuh pendidikan di Kampus
Akper Anging Mammiri.
2. Institusi
Merupakan umpan balik pada institusi pendidikan khususnya bidang
kesehatan dalam mengaplikasikan teori terpadu antara teori Asuhan
Keperawatan pada pasien dengan diagnose Letak Sungsang dan
mengaplikasikan teori dilahan praktek sehingga akan berguna untuk
memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan kedepannya.
3. Rumah Sakit
Sebagai bahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam
penanganan klien dengan diagnose Letak Sungsang.
4

4. Masyarakat
Sebagai bahan sosialisasi terhadap dampak dan pencegahan terjadinya Letak
sungsang pada Ibu hamil di lingkungan Masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keperawatan
1. Definisi
Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai
bagian yang terendah (Presentasi Bokong). Angka kejadian: 3% dari
seluruh angka kelahiran. (Padila, 2015)
Janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala
berada difundus dan bokong dibawah. (Nita Norma D & Mustika Dwi S.,
2013).
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala di fudus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum uteri
(Prawirohardjo cit. Padila, 2015).

2. Klasifikasi
Adapun letak sungsang menurut Padila (2015) dapat dibagi menjadi sebagai
berikut:
a. Letak bokong murni: presentasi bokong murni (Frank Breech). Bokong
saja yang menjadi bagian terdepan sedangkan kedua tungkai lurus
keatas .
b. Letak bokong kaki (presentasi bokong kaki) disamping bokong teraba
kaki (Complete Breech). Disebut letak bokong kaki sempurna atau tidak
sempurna kalau disamping bokong teraba kedua kaki atau satu kaki
saja.
c. Letak lutut (presentasi lutut) dan
d. Letak kaki, yang keduanya disebut dengan istilah; Incomplete Breech.
Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga
kaki atau lutut, terdiri dari:
1) Kedua kaki : letak kaki sempurna
2) Satu kaki : letak kaki yang tidak sempurna

5
6

3) Kedua lutut : letak lutut sempurna


4) Satu lutut : letak lutut tidak sempurna
tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut atau hanya teraba
satu kaki atau lutut disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak
kaki atau lutut tidak sempurna.
Dari semua letak-letak ini yang paling sering dijumpai adalah letak
bokong murni. Punggung biasanya terdapat kiri depan. Frekuensi letak
sungsang lebih tinggi pada kehamilan muda dibandingkan dengan kehamilan
aterme dan lebih banyak pada multigravida dibandingkan dengan
primigravida.
Salah satu cara dalam mengatasi keadaan tersebut adalah dengan
tindakan operatif yaitu persalinan dengan cara tindakan seksio sesarea.
Dimana apabila cara-cara lain dianggap tidak berhasil atau syarat-syarat
untuk dilakukannya tindakan tidak terpenuhi atau kondisi ibu memerlukan
tindakan yang segera yang apabila tidak segera dilakukan akan berakibat
fatal.
Seksio sesarea adala persalinan dengan suatu tindakan operasi/
pembedahan untuk mengeluarkan janin dari rongga uterus dengan cara
mengiris dinding perut dan dinding uterus dengan syarat rahim dengan
keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.

3. Diagnosis
Diagnosis letak sungsang menurut Padila (2015) yaitu pada
pemeriksaan luar kepala tidak teraba di bagian bawah uterus melainkan
teraba di fundus uteri. Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat
memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan
semudah kepala. Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa
kehamilannya terasa lain dari pada terdahulu, karena terasa penuh dibagian
atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah. Denyut jantung janin
pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada
umbilicus. Apabila diagnosis letak sungsang dengan pemeriksaan luar tidak
7

dapat dibuat, karena misalnya dinding perut tebal, uterus mudah berkontraksi
atau banyaknya air ketuban, maka diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan dalam. Apabila masih ada keragu-raguan, harus
dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonograik. Setelah
ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya sacrum, kedua tuber ossis
iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan
ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan
panjang jari.
Kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan
lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk
membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat
membedakan antara bokong dan muka karena jari yang akan dimasukkan
kedalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan
kedalam mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan.
Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping
bokong, sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, hanya
teraba satu kaki disamping bokong (Prawirohardjo cit. Padila 2015).

4. Etiologi
Letak janin uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap
ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu,
jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin
bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri
dalam presentasi kepala, letak sungsang, ataupun letak lintang. Pada
kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air
ketuban relatif lebih berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang
terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa menempati ruang
yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada didalam ruangan
yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar
8

ditemukan dalam presentasi kepala. Factor-faktor lain yang memegang


peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas,
hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, dan panggul
sempit. Kadang-kadang letak sungsang disebabkan karena kelainan uterus
dan kelainan bentuk uterus. Plasenta yang terletak didaerah kornu fundus
uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang karena plasenta mengurangi
luar ruangan didaerah fundus (Prawirohardjo cit. Padila 2015).
Adapun Etiologi menurut Padila (2015) yaitu:
a. Bobot janin relatif rendah
Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34
minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas
lagi bergerak. Pada usia tersebut umumnya janin sudah menetap pada
suatu posisi. Kalau posisinya salah maka disebut sungsang.
b. Rahim yang sangat elastic
Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak
sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin
berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
c. Hamil kembar
Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya
perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman,
sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong
janin) berada dibagian bawah rahim.
d. Hidramnion (kembar air)
Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih
leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.
e. Hidrosefalus
Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat
janin mencari tempat yang lebih luas, yakni dibagian atas rahim.
f. Plasenta previa
9

Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan


dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas
yakni dibagian atas rahim.
g. Panggul sempit
Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi
sungsang.
h. Kelainan bawaan
Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka
janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.

5. Patofisiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32
minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan
janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan
diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang. (Mardiastuti,
2014)
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai
terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati
ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada diruangan
yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar janin
ditemukan dalam presentasi kepala.(Mardiastuti, 2014).

6. Penatalaksanaan
Lakukan versi luar pada kehamilan 34-38 minggu bila syarat versi luar
terpenuhi. Bila pada persalinan masih letak sungsang singkirkan indikasi
untuk seksio sesarea. Lahirkan janin dengan perasat Bracht, lakukan manual
aid atau dibantu cunam. (Icesmi Sukarni & sudarti, 2014)
10

7. Deteksi kehamilan sungsang


Berikut ini deteksi kehamilan sungsang menurut Padila (2015):
a. Melakukan perabaan perut bagian luar
Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang
bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutup atas perut. Perlu
diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari
janin.
b. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari
Cara ini hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila dibagian
panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
c. Ultrasonografi (USG)

8. Prognosis
Prognosis letak sungsang menurut Nita Norma D. & Mustika Dwi S (2013),
yaitu:
a. Bagi ibu
Kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga karena dilakukan
tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi
mudah terkena infeksi.
b. Bagi bayi
Prognosa tidak begitu baik, karena adanya gangguan darah plasenta
setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara
kepala dan panggul, anak bisa menderita asfiksia. Oleh karena itu
setelah tali pusat dan supaya janin hidup, janin harus dilahirkan dalam
waktu 8 menit.

9. Cara persalinan letak sungsang


a. Pervaginam
Mekanisme persalinan sungsang hampir sama dengan letak
kepala, hanya disini yang memasuki pintu atas panggul adalah bokong.
Persalinan berlangsung agak lama, karena bokong dibandingkan dengan
11

kepala lebih lembek, jadi kurang kuat menekan sehingga pembukaan


agak lama. (Norma D. & Mustika Dwi S 2013).
Persalinan letak sungsang dengan pervaginam mempunyai
syarat yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar lengkap, kulit
ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat badan janin <3600
gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat persalinan
pervaginam tidak dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan
pervaginam, direncanakan bedah sesar tetapi terjadi proses persalinan
yang sedemikian cepat, persalinan terjadi di fasilitas yang tidak
memungkinkan dilakukan bedah sesar, presentasi bokong yang tidak
terdiagnosis hingga kala II dan kelahiran janin kedua pada kehamilan
kembar, persalinan pervaginam tidak dilakukan apabila didapatkan
kontraindikasi persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki,
hiperekstensi kepala janin dan berat bayi >3600 gram, tidak adanya
informed consent, dan tidak adanya petugas yang berpengalaman dalam
melakukan pertolongan persalinan (Prawirohardjo cit. Padila 2015).
b. Ekstraksi sungsang
Menurut Padila (2015) Ekstraksi Sungsang yaitu janin dilahirkan
seleruhnya dengan memakai tenaga penolong. Ekstraksi sungsang
dilakukan jika ada indikasi dan memenuhi syarat untuk mengakhiri
persalinan serta tidak ada kontraindikasi. Indikasi ekstraksi sungsang
yaitu gawat janin, tali pusat menumbung, persalinan macet. Cara
ekstraksi kaki:
1) Bila kaki masih terdapat didalam vagina, tangan operator yang
berada pada posisi yang sama dengan os sacrum dimasukkan
dalam vagina untuk menelusuri bokong, paha sampai lutut guna
mengadakan abduksi paha janin sehingga kaki janin keluar.
Selama melakukan tindakan ini, fundus uteri ditahan oleh tangan
operator lain.
2) Bila satu atau dua kaki sudah ada diluar vulva, maka dipegang
dengan dua tangan operator pada betis dengan kedua ibu jari
12

berada punggung betis. Lakukan traksi kebawah. Setelah lutut dan


sebagian paha keluar, pegangan dialihkan pada paha dengan
kedua ibu jari pada punggung paha. Dilakukan traksi kebawah lagi
(operator jongkong) dengan tujuan menyesuaikan arah traksi
dengan sumbu panggul ibu.

Cara ekstraksi bokong:


1) Lakukan periksa dalam vagina untuk memastikan titik penunjuk (os
sacrum)
Jari telunjuk tangan operator yang berhadapan dengan os sacrum
dikaitkan pada lipat paha depan janin kemudian dilakukan ekstraksi
curam kebawah.
2) Bila trokanter depan sudah berada dibawah simfisis, jari telunjuk
operator yang lain dipasang pada lipat paha belakang untuk
membantu traksi sehingga bokong berada berada diluar vulva.
Arah traksi berubah keatas untuk mengeluarkan trokanter
belakang. Ekstraksi kemudian mengikuti putaran paksi dalam.
3) Bila pusat sudah berada diluar vulva, dikendorkan. Ekstraksi
diteruskan dengan cara menempatkan kedua tangan pada bokong
janin dengan kedua ibu jari berada diatas sacrum dan jari-jari
kedua tangan berada diatas lipat paha janin. Ekstaksi dilakukan
dengan punggung janin didepan, kemudian mengikuti putaran
paksi dalam bahu, salah satu bahu akan kedepan. Setelah ujung
tulang belikat terlihat dilakukan periksa dalam vagina untuk
menentukan letak lengan janin, apakah tetap berada didepan
dada, menjungkit atau dibelakang tengkuk. Pada ekstraksi bokong
sampai tulang belikat sering diperlukan bantuan dorongan
kristeller.

c. Perabdominam
Memperlihatkan komplikasi letak sungsang melalui pervaginam,
maka sebagian besar pertolongan persalinan letak sungsang dilakukan
13

dengans seksio sesarea. Pada saat ini seksio sesarea menduduki


tempat yang sangat penting dalam menghadapi persalinan letak
sungsang. Seksio sesarea direkomendasikan pada presentasi kaki
ganda dan panggul sempit (Prawirohardjo cit. Padila 2015).
Seksio sesarea bisa dipertimbangkan pada keadaan ibu yang
primitua, riwayat persalinan yang jelek, riwayat kematian perinatal, curiga
panggul sempit, ada indikasi janin untuk mengakhiri persalinan
(hipertensi, KPD >12 jam , fetal distress), kontraksi uterus tidak adekuat,
ingin steril, dan bekas SC. Sedangkan seksio sesarea bisa
dipertimbangkan pada bayi prematuritas >26 minggu dalam fase aktif
atau perlu dilahirkan, IUGR berat, nilai social janin tinggi, hiperekstensi
kepala, presentasi kaki, dan janin >3500 gram (janin besar). (Padila,
2015).

10. Komplikasi persalinan letak sungsang


Komplikasi persalinan letak sungsang menurut Padila (2015) yaitu:
a. Komplikasi pada ibu:
1) Perdarahan
2) Robekan jalan lahir
3) Infeksi
b. Komplikasi pada bayi:
1) Asfiksia bayi, dapat disebabkan oleh:
a) Kemacetan persalinan kepala (aspirasi air ketuban-lendir)
b) Perdarahan atau edema jaringan otak
c) Kerusakan medulla oblongata
d) Kerusakan persendian tulang leher
e) Kematian bayi karena asfiksia berat.
2) Trauma persalinan
a) Dislokasi-fraktur persendian, tulang ekstremitas
b) Kerusakan alat vital: limpa, hati, paru-paru atau jantung
14

c) Dislokasi fraktur persendian tulang leher: fraktur tulang dasar


kepala; fraktur tulang kepala; kerusakan pada mata, hidung atau
telinga; kerusakan pada jaringan otak.
3) Infeksi dapat terjadi karena:
a) Persalinan berlangsung lama
b) Ketuban pecah pada pembukaan kecil
c) Manipulasi dengan pemeriksaan dalam.

B. Konsep Proses Keperawatan


1. Pengkajian
Menurut Depkes RI (1991) Pengkajian adalah langkah awal dalam
melakukan asuhan keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian terdiri dari
tiga tahapan yaitu; pengumpulan data, pengelompokan data atau analisa
data dan perumusan diagnose keperawatan. (Padila,2015).
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi
(data-data) dari klien.
b. Keluhan utama
Adanya kelainan letak janin yang bisa diketahui dari pemeriksaan
c. Riwayat reproduksi
1) Haid
Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir
2) Hamil dan persalinan
3) Kehamilan pertama kali atau sering.
4) Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi
klien dan keluarga.
d. Data psikologi
Pengetahuan klien tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu
persiapan psikologi klien.
e. Status respiratori
15

Respirasi bisa meningkat atau menurun. Pernafasan yang rebut dapat


terdengar tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh
kebelakang atau akibat terdapat secret. Suara paru yang kasar
merupakan gejala terdapat secret pada saluran nafas. Usaha batuk
dan bernafas dalam dilaksanakan segera pada klien yang memakai
anaestesi general.
f. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang
harus dijawab oleh klien atau disuruh untuk melakukan perintah.
Variasi tingkat kesadaran mulai dari siuman sampai ngantuk, harus
diobservasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala syok.
g. Status urinary
Retensi urine paling sering terjadi setelah pembedahan ginekologi,
klien yang hidrasinya baik biasanya kencing setelah 6-8 jam setelah
pembedahan. Jumlah output urine yang sedikit akibat kehilangan
cairan tubuh saat operasi, muntah akibat anestesi.
h. Status gastrointestinal
Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah
pembedahan, tergantung pada kekuatan efek narkose pada
penekanan intestinal. Ambulatory dan kompres hangat perlu diberikan
untuk menghilangkan gas dalam usus.
2. Pengelompokan data
Menurut Depkes RI (1991;14) Analisa data adalah mengkaitkan,
menghubungkan data yang telah di peroleh dengan teori, prinsip yang
relevan guna mengetahui masalah keperawatan klien. (Padila, 2015).
3. Diagnose Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan
jaringan otot dan system saraf yang ditandai dengan keluhan nyeri,
ekspresi wajah menyeringai.
16

b. Gangguan eliminasi miksi (retensi urine) berhubungan dengan trauma


mekanik, manipulasi pembedahan adanya edema pada jaringan
sekitar dan hematom, kelemahan pada saraf sensorik dan motorik.
c. Kurang pengetahuan tentang efek pembedahan dan perawatan
selajutnya berhubungan dengan salah dalam menafsirkan informasi
dan sumber informasi yang kurang benar.
4. Perencanaan
Menurut Depkes RI 1991;20 Perencanaan adalah penyusunan
rencana tindakan keperawatan akan dilaksanakan untuk menaggulangi
masalah sesuai dengan diagnose keperawatan yang telah ditentukan
dengan tujuan, criteria hasil, rencana tindakan atau intervensi dan
rasional tindakan (Padila, 2015).
Intervensi keperawatan pada diagnose gangguan rasa nyaman
(nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system syaraf.
a. Kaji tingkat rasa tidak nyaman sesuai dengan tingkatan nyeri.
b. Beri posisi fowler atau posisi datar atau miring kesalahan satu sisi.
c. Ajarkan teknik relaksasi seperti menarik nafas dalam, bimbing untuk
membayangkan sesuatu. Kaji tanda vital: tachicardi, hipertensi,
pernafasan cepat.
d. Motivasi klien untuk mobilisasi dini setelah pembedahan bila sudah
diperbolehkan.
e. Laksanakan pengobatan sesuai indikasi seperti analgesic intravena.
f. Observasi efek analgetik (narkotik)
g. Observasi tanda vital: nadi, tensi, pernafasan.
Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan gangguan
eliminasi miksi (retensi urine) berhubungan dengan trauma mekanis,
manipulasi pembedahan, oedema jaringan setempat, hemaloma,
kelemahan sensori dan kelumpuhan saraf.
a. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine
b. Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya
ketidaknyamanan dan rasa nyeri.
17

c. Lakukan tindakan agar klien dapat miksi dengan pemberian air


hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.
d. Jika memakai kateter, perhatikan apakah posisi selang kateter dalam
keadaan baik, monitor input output, bersihkan daerah pemasangan
kateter satu kali dalam sehari, periksa keadaan selang kateter
(kekakuan, tertekuk).
e. Perhatikan kateter urine: warna, kejernihan dan bau.
f. Kolaborasi dalam pemberian cairan perperental dan obat-obat untuk
melancarkan urine.
g. Ukur dan catat urine yang keluar dan volume residual urine 750 cc
perlu pemasangan kateter tetap sampai tonus otot kandung kemih
kuat kembali.
Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan kurangnya
pengetahuan tentang perawatan luka operasi, tanda-tanda komplikasi,
batasan aktivitas, dan perawatan selanjutnya berhubungan dengan
terbatasnya informasi.
a. Jelaskan bahwa tindakan seksio sesarea mempunyai kontraindikasi
yang sedikit tapi membutuhkan waktu yang lama untuk pulih,
menggunakan anastesi yang banyak dan memberikan rasa nyeri yang
sangat setelah operasi.
b. Jelaskan dan ajarkan cara perawatan luka bekas operasi yang tepat
c. Motivasi klien melakukan aktivitas sesuai kemampuan,
d. Jelaskan aktivitas yang tidak boleh dilakukan.

5. Pelaksanaan
Menurut Depkes RI (1991) Pelaksanaan adalah perwujudan dari
rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan
klien terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan ini dapat
dilaksanakan oleh klien sendiri, oleh perawat secara mandiri maupun
bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya (Padila, 2015).
18

6. Evaluasi
Pengertian evaluasi Menurut Depkes RI (1991) adalah proses
penilaian pencapaian tujuan, sedang tujuan evaluasi itu sendiri adalah
menentukan kemampuan klien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dan menilai keberhasilan dari rencana keperawatan (Padila,
2015).
Adapun evaluasi yang diharapkan pada klien dengan post seksio sesarea
adalah sebagai berikut:
a. Rasa nyaman klien terpenuhi
b. Pola eleminasi miksi dan defekasi kembali normal
c. klien menunjukkan respon adaptif
d. pengetahuan klien mengenai keadaan dirinya bertambah
e. pola nafas klien kembali efektif
f. tidak terjadi komplikasi; perdarahan atau infeksi
19

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Yakin. (2015). AKI dan AKB Sulsel Diklaim Lebih Baik dari Nasional.
http://sulsel.pojoksatu.id/read/2015/11/28/aki-dan-akb-sulsel-diklaim-lebih-
baik-dari-nasional/. Tanggal Akses 12 Oktober 2017

D, Nita, Norma (2013). Asuhan Kebidanan Patologi Teori dan Tinjauan Kasus .
Yogyakarta. Nuha Medika

Indryanti, devi, (2017). Makalah Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.


http://deviindryanita.blogspot.co.id/2017/04/pertolongan-persalinan-
sungsang.html Tanggal Akses 12 Oktober 2017

Mardiastuti. (2014). Persalian Letak Sungsang. https://putrimardiastuti18.wordpress.


com/2014/12/13/persalinan-letak-sungsang/. Tanggal Akses 12 Oktober
2017

Padila. (2015). Asuhan Keperawatan Maternitas II. Yogyakarta. Nuha Medika

Silinaung, Matricia D.G dkk. (2016). Karakteristik persalinan letak sungsang di RSUP
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2014 31 Desember 2014,
Vol.4, No.1, Hlm. 364

Sukarmi, Icesmi dan Sudarti. (2014). Patologi:Kehamilan, persalinan, Nifas dan


Neonatus Resiko Tinggi. Yogyakarta. Nuha Medika