Anda di halaman 1dari 36

https://oshigita.wordpress.

com/tag/tujuan-dan-sasaran-strategis-kemenkes/

Tujuan dan Sasaran Strategis


Kemenkes
Posted on 2 September 2013 Updated on 10 September 2013

Materi:

1. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis Kemenkes

2. Standar Pelayanan Minimal

__________________________________________________________

I. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis Kemenkes

Visi, misi dan tujuan pembangunan kesehatan terdapat dalam Rencana


Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) 2005-2025. Adapun
sasaran strategis Kemenkes yang berlaku saat ini merupakan penjabaran dari
Rencana Pembangunan Jangka Menengah bidang Kesehatan (RPJM-K) ke-dua
(2010-2014) yang disusun setiap 5 tahun sekali.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) adalah


rencana pembangunan nasional di bidang kesehatan, yang merupakan penjabaran
dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025,
dalam bentuk dasar, visi, misi, arah dan kebutuhan sumber daya pembangunan
nasional di bidang kesehatan untuk masa 20 tahun ke depan, yang mencakup kurun
waktu sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran


dari dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu untuk: 1) melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2) memajukan
kesejahteraan umum; 3) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan 4) ikut menciptakan
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

A. Visi

Keadaan masyarakat Indonesia di masa depan atau visi yang ingin dicapai melalui
pembangunan kesehatan dirumuskan sebagai: Indonesia Sehat 2025. Dalam
Indonesia Sehat 2025, lingkungan strategis pembangunan kesehatan yang
diharapkan adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat
jasmani, rohani maupun sosial, yaitu lingkungan yang bebas dari kerawanan sosial
budaya dan polusi, tersedianya air minum dan sarana sanitasi lingkungan yang
memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang
berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki
solidaritas sosial dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.
Perilaku masyarakat yang diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah perilaku
yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan; mencegah
risiko terjadinya penyakit; melindungi diri dari ancaman penyakit dan masalah
kesehatan lainnya; sadar hukum; serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan
masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman (safe
community).

Dalam Indonesia Sehat 2025 diharapkan masyarakat memiliki kemampuan


menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan juga memperoleh jaminan
kesehatan, yaitu masyarakat mendapatkan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatannya. Pelayanan kesehatan bermutu yang dimaksud
adalah pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan dalam keadaan darurat
dan bencana, pelayanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat serta
diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika profesi.

Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat, serta


meningkatnya kemampuan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu, maka akan dapat dicapai derajat kesehatan individu, keluarga dan
masyarakat yang setinggi-tingginya.

B. Misi

Dengan berlandaskan pada dasar Pembangunan Kesehatan, dan untuk


mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2025, ditetapkan 4 (empat) misi Pembangunan
Kesehatan, yaitu:

1. Menggerakkan Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan

Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil


kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi pula oleh hasil kerja serta
kontribusi positif berbagai sektor pembangunan lainnya. Untuk optimalisasi hasil
kerja serta kontribusi positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya wawasan
kesehatan sebagai asas pokok program pembangunan nasional. Kesehatan sebagai
salah satu unsur dari kesejahteraan rakyat juga mengandung arti terlindunginya dan
terlepasnya masyarakat dari segala macam gangguan yang mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat.

Untuk dapat terlaksananya pembangunan nasional yang berkontribusi positif


terhadap kesehatan seperti dimaksud di atas, maka seluruh unsur atau subsistem
dari Sistem Kesehatan Nasional berperan sebagai penggerak utama pembangunan
nasional berwawasan kesehatan.

2. Mendorong Kemandirian Masyarakat untuk Hidup Sehat

Kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap individu, keluarga dan masyarakat


untuk menjaga kesehatan, memilih, dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang
bermutu, sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.
Penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat meliputi: a) penggerakan masyarakat;
masyarakat paling bawah mempunyai peluang yang sebesar-besarnya untuk terlibat
aktif dalam proses pembangunan kesehatan, b) organisasi kemasyarakatan;
diupayakan agar peran organisasi masyarakat lokal makin berfungsi dalam
pembangunan kesehatan, c) advokasi; masyarakat memperjuangkan
kepentingannya di bidang kesehatan, d) kemitraan; dalam pemberdayaan
masyarakat penting untuk meningkatkan kemitraan dan partisipasi lintas sektor,
swasta, dunia usaha dan pemangku kepentingan, e) sumberdaya; diperlukan
sumberdaya memadai seperti SDM, sistem informasi dan dana.

3. Memelihara dan Meningkatkan Upaya Kesehatan yang Bermutu, Merata, dan


Terjangkau

Pembangunan kesehatan diselenggarakan guna menjamin tersedianya upaya


kesehatan, baik upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan
yang bermutu, merata, dan terjangkau oleh masyarakat. Upaya kesehatan
diselenggarakan dengan pengutamaan pada upaya pencegahan (preventif), dan
peningkatan kesehatan (promotif) bagi segenap warga negara Indonesia, tanpa
mengabaikan upaya penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif). Agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan, diperlukan pula
upaya peningkatan lingkungan yang sehat. Upaya kesehatan tersebut
diselenggarakan dengan kemitraan antara pemerintah, dan masyarakat termasuk
swasta.

Untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan sosial telah


berkembang, penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan primer akan
diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter
keluarga. Di daerah yang sangat terpencil, masih diperlukan upaya kesehatan
perorangan oleh Puskesmas.

4. Meningkatkan dan Mendayagunakan Sumber Daya Kesehatan

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, sumber daya kesehatan perlu


ditingkatkan dan didayagunakan, yang meliputi sumber daya manusia kesehatan,
pembiayaan kesehatan, serta sediaan farmasi dan alat kesehatan. Sumber daya
kesehatan meliputi pula penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
kesehatan/kedokteran, serta data dan informasi yang makin penting peranannya.
Tenaga kesehatan yang bermutu harus tersedia secara mencukupi, terdistribusi
secara adil, serta termanfaat-kan secara berhasil-guna dan berdaya-guna.

Pembiayaan kesehatan yang bersumber dari masyarakat, swasta, dan pemerintah


harus tersedia dalam jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan
termanfaatkan secara berhasil-guna serta berdaya-guna. Jaminan kesehatan yang
diselenggarakan secara nasional dengan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas,
bertujuan untuk menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Sediaan farmasi, alat kesehatan yang aman, bermutu, dan bermanfaat harus
tersedia secara merata serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, makanan
dan minuman yang aman, bermutu serta dengan pengawasan yang baik. Upaya
dalam meningkatkan ketersediaan tersebut, dilakukan dengan upaya peningkatan
manajemen, pengembangan serta penggunaan teknologi di bidang sediaan farmasi,
alat kesehatan dan makanan minuman. bebas dari kerawanan sosial budaya dan
polusi, tersedianya air minum dan sarana sanitasi lingkungan yang memadai,
perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan
kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki solidaritas sosial
dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.

C. Tujuan dan Sasaran

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah


meningkatnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat
terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang
ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, secara
adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh
wilayah Republik Indonesia.

Sasaran pembangunan kesehatan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah
meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, yang ditunjukkan oleh indikator
dampak yaitu:

1. Meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) dari 69 tahun pada tahun 2005
menjadi 73,7 tahun pada tahun 2025.
2. Menurunnya Angka Kematian Bayi dari 32,3 per 1.000 kelahiran hidup pada
tahun 2005 menjadi 15,5 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
3. Menurunnya Angka Kematian Ibu dari 262 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2005 menjadi 74 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
4. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita dari 26% pada tahun 2005
menjadi 9,5% pada tahun 2025.

D. Upaya Pokok Pembangunan Kesehatan

1. RPJM-K ke-1 (2005-2009)

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan


kesehatan.

2. RPJM-K ke-2 (2010-2014)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah lebih


berkembang dan meningkat.

3. RPJM-K ke-3 (2015-2019)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah mulai


mantap.

4. RPJM-K ke-4 (2020-2025)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah mantap.


E. Rencana Strategis Kesehatan 2010 2014

Rencana Strategis Kesehatan adalah Rencana Strategis Kementerian Kesehatan


2010-2014 (RENSTRA Kesehatan) yang merupakan acuan bagi kementerian
kesehatan dalam menyelenggarakan Program Pembangunan Kesehatan, yang
juga merupakan acuan bagi penyelenggara pembangunan kesehatan pada Dinas
Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota, termasuk seluruh
pejabatnya baik struktural maupun fungsional, bahkan lebih luas lagi semua
stakeholder dalam pembangunan kesehatan.

RENSTRA Kesehatan ini adalah Standar Nasional (berlaku Umum secara


Nasional), pada semua Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten harus
menjabarkan kembali Rencana Strategis Kementerian Kesehatan ini menjadi
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Propinsi dan kemudian dijabrakan kembali
menjadi Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten maupun kota, yang
disesuaikan atau diturunkan sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi
setempatnya.

RENSTRA ini merupakan penjabaran dari sistem Perencanaan Pembangunan


Nasional (UU no.25 th.2004). Renstra Kementerian Kesehatan merupakan dokumen
perencanaan yang bersifat indikatif dan memuat berbagai program pembangunan
kesehatan yang akan dilaksanakan langsung oleh Kementerian Kesehatan untuk
kurun waktu tahun 2010-2014, dengan penekanan pada pencapaian sasaran
Prioritas Nasional, Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan Millenium Development
Goals (MDGs). Masalah kesehatan begitu berat, kompleks dan tak terduga perlu
perhatian pada dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, ekologi dan
lingkungan, kemajuan iptek, kemitraan, globalisasi dan demokratisasi, kerja sama
lintas sektoral dan mendorong partisipasi masyarakat. Pembangunan kesehatan
diarahkan guna mewujudkan Visi Kementerian Kesehatan.

Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan selama tahun 2010-2014

Pertama ; menguraikan arah kebijakan dan strategi nasional, dan Kedua :


menguraikan arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan dengan program-
program, secara garis besarnya terdiri dari dua program yaitu program generik dan
program tehnis.

Program generik meliputi :

1. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya


2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur kementerian kesehatan
3. Program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur kementerian
kesehatan
4. Progran penelitian dan pengembangan kesehatan

Program teknis meliputi :

1. Program bina gizi dan kesehatan ibu dan anak


2. Program Pembinaan upaya kesehatan
3. Program Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
4. Program kefarmasian dan alat kesehatan
5. Program pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia
kesehatan.

Visi Kementerian Kesehatan sekaligus juga sebagai visi pembangunan kesehatan


selama 5 tahun kedepan (2010-2014) adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri
dan Berkeadilan. Visi ini merupakan operasionalisasi dari pengertian kesehatan,
sebagaimana yang terdapat dalam UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, yaitu
kesehatan adalah keadaan sehat fisik, jasmani (mental) dan spritual serta sosial,
yang memungkinkan setiap induvidu dapat hidup secara produktif secara sosial dan
ekonomis.

Misi: untuk mencapai visi Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan ditempuh
melalui misi sebagai berikut:

1. Pertama : Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui


pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
2. Kedua : Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.
3. Ketiga : Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.
4. Keempat : Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.

Sementara itu tujuannya (tujuan kementerian kesehatan) termasuk juga tujuan dari
pembangunan kesehatan yaitu: terselenggaranya pembangunan kesehatan
secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Guna mewujudkan visi dan misi rencana strategis pembangunan kesehatan,


Kementerian Kesehatan menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai yaitu:

1. Pertama : PRO RAKYAT. Dalam penyelenggaraan pembangunan


kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat
dan haruslah menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak
asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial
ekonomi.
2. Kedua : INKLUSIF. Semua program pembangunan kesehatan harus
melibatkan semua pihak, karena pembangunan kesehatan tidak mungkin
hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian,
seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang meliputi lintas
sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat
madani dan masyarakat akar rumput.
3. Ketiga : RESPONSIF. Program kesehatan haruslah sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi
permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, social budaya dan kondisi
geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan
kesehatan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penanganan yang
berbeda pula.
4. Keempat : EFEKTIF. Program kesehatan harus mencapai hasil yang
signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, dan bersifat efisien.
5. Kelima : BERSIH. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.

Sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan tahun 2010- 2014, dibuat


sebanyak 8 strategis yaitu:

Pertama : Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat, dengan :

1. Meningkatnya umur harapan hidup dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun;


2. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118 per
100.000 kelahiran hidup;
3. Menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24 per 1.000 kelahiran
hidup;
4. Menurunnya angka kematian neonatal dari 19 menjadi 15 per 1.000 kelahiran
hidup;
5. Menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) dari 36,8 persen
menjadi kurang dari 32 persen;
6. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
(cakupan PN) sebesar 90%;
7. Persentase Puskesmas rawat inap yang mampu PONED sebesar 100%;
8. Persentase RS Kab/Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%;
9. Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap) sebesar 90%.

Kedua : Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular, dengan:

1. Menurunnya prevalensi Tuberculosis dari 235 menjadi 224 per 100.000


penduduk;
2. Menurunnya kasus malaria (Annual Paracite Index-API) dari 2 menjadi 1 per
1.000 penduduk;
3. Terkendalinya prevalensi HIV pada populasi dewasa dari 0,2 menjadi
dibawah 0,5%;
4. Meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan dari
80% menjadi 90%;
5. Persentase Desa yang mencapai UCI dari 80% menjadi100%;
6. Angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 51 per 100.000 penduduk.

Perlu ingatkan target-target indikatif pada tingkat kabupaten /kota dengan konstanta
100.000 sebaiknya tidak langsung digunakan tetapi dikonversi dulu ke dalam nilai
absolutnya, misalnya saja sering terjadi perdebatan angka kematian ibu per 100.000
kelahiran hidup, harus dikonversikan dengan jumlah kelahiran hidup absolut yang
ada dalam kabupaten tertentu.

Ketiga : Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah
dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender, dengan menurunnya disparitas
separuh dari tahun 2009.

Keempat : Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam


rangka mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh
penduduk, terutama penduduk miskin.
Kelima : Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat
rumah tangga dari 50 persen menjadi 70 persen.

Keenam : Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di Daerah


Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).

Ketujuh : Seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit


tidak menular.

Kedelapan : Seluruh Kabupaten/Kota melaksanakan Standar Pelayanan


Minimal (SPM).

II. Standar Pelayanan Minimal

Secara ringkas PP No.65 Tahun 2005 memberikan rujukan bahwa Standar


Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan
dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga
Negara secara minimal, terutama yang berkaitan dengan pelayanan dasar, baik
Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/Kota.

Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan selanjutnya disebut SPM Kesehatan


adalah tolok ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Daerah
Kabupaten/Kota. Proses penyusunan SPM Bidang Kesehatan sampai
ditetapkannya Permenkes Nomor 741/MENKES/PER/VI/2008 tanggal 29 Juli 2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/ Kota telah
melalui suatu rangkaian kegiatan yang panjang dengan melibatkan berbagai pihak,
yaitu:

1. Unit Utama terkait di Depkes, UPT Pusat, dan UPT Daerah.


2. Lintas sektor terkait (Departemen Dalam Negeri, Badan Perencanaan
Nasional, Departemen Keuangan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara)
3. Dinas Kesehatan Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Rumah Sakit Daerah Provinsi/
Kabupaten/ Kota dan Puskesmas
4. ADINKES dan ARSADA
5. Lintas sektor terkait di daerah (Gubernur, Bupati, Walikota, DPRD Provinsi/
Kabupaten/ Kota, Pemda Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Bappeda Provinsi/
Kabupaten/ Kota dan Dinas terkait lainnya di Provinsi/ Kabupaten/ Kota)
6. Organisasi profesi kesehatan di tingkat Pusat/Provinsi/ Kabupaten/ Kota
7. Para pakar Perguruan Tinggi .
8. Para Expert/ Donor Agency.
9. Para konsultan Luar Negeri dan Konsultan Domestik.
10. WHO, World Bank, ADB, USAID, AusAID, GTZ, HSP dll

Dalam penerapannya SPM kesehatan harus menjamin akses masyarakat untuk


mendapatkan pelayanan dasar dari Pemerintah Daerah sesuai dengan ukuran-
ukuran yang ditetapkan oleh Pemerintah. Oleh karena itu, baik dalam perencanaan
maupun penganggaran, wajib diperhatikan prinsip-prinsip SPM kesehatan yaitu
sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka, terjangkau dan dapat
dipertanggungjawabkan serta mempunyai batas pencapaian yang dapat
diselenggarakan secara bertahap. Kementerian Kesehatan telah sepakat
menambahkan kriteria SPM kesehatan yaitu :

1. Merupakan pelayanan yang langsung dirasakan masyarakat, sehingga hal-


hal yang berkaitan dengan manajemen dianggap sebagai faktor
pendukung dalam melaksanakan urusan wajib (perencanaan,
pembiayaan, pengorganisasian, perizinan,sumberdaya, sistem dsb), tidak
dimasukkan dalam SPM (kecuali critical support function).
2. Merupakan prioritas tinggi bagi Pemerintah Daerah karena melindungi hak-
hak konstitusional perorangan dan masyarakat, untuk melindungi kepentingan
nasional dan memenuhi komitmen nasional dan global serta merupakan
penyebab utama kematian/kesakitan.
3. Berorientasi pada output yang langsung dirasakan masyarakat.
4. Dilaksanakan secara terus menerus (sustainable), terukur (measurable) dan
dapat dikerjakan (feasible).

Dalam pelaksanaan SPM kesehatan untuk jangka waktu tertentu ditetapkan target
pelayanan yang akan dicapai (minimum service target), yang merupakan
spesifikasi peningkatan kinerja pelayanan yang harus dicapai dengan tetap
berpedoman pada standar teknis yang ditetapkan guna mencapai status
kesehatan yang diharapkan. Dalam Urusan Wajib dan SPM, nilai indikator yang
dicantumkan merupakan nilai minimal nasional sebagaimana komitmen global
dan komitmen nasional. Indikator SPM kesehatan berdasar Permenkes Nomor
741/MENKES/PER/VII/2008 adalah:

1. Cakupan kunjungan ibu hamil K4


2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan.
4. Cakupan pelayanan nifas
5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
6. Cakupan kunjungan bayi
7. Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
8. Cakupan pelayanan anak balita
9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan
keluarga miskin
10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat
12. Cakupan peserta KB aktif
13. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit

a. Acute Flaccid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk <15 tahun
b. Penemuan penderita Pneumonia balita
c. Penemuan pasien baru TB BTA positif
d. Penderita DBD yang ditangani
e. Penemuan penderita Diare

14. Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin


15. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin

16. Cakupan Pelayanan Gawat Darurat level 1 yang harus diberikan Sarana
Kesehatan (Rumah Sakit) di Kabupaten/Kota

17. Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan


epidemiologi <24 jam

18. Cakupan Desa Siaga Aktif

SPM mempunyai peranan yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan


daerah, baik bagi pemerintah daerah sebagai perangkat yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat maupun bagi masyarakat yang mendapatkan
pelayanan. Bagi pemerintah daerah, SPM dapat dijadikan sebagai tolok ukur
dalam penentuan biaya yang diperlukan untuk menyediakan pelayanan
yang diperlukan oleh masyarakat, SPM akan menjadi acuan untuk menilai
kualitas suatu pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah daerah. SPM
kesehatan dapat digunakan untuk menentukan tolok ukur kinerja pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
Perangkat Daerah untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan
bidang kesehatan.

Referensi :

Depkes RI. 2009. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005
2025. Jakarta: Depkes RI. http://www.depkes.go.id.

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun


2010 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id.

Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depkes RI. 2008. Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan di Kabupaten atau Kota, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
741/Menkes/Per/VII/2008.

Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depkes RI. 2008. Petunjuk Teknis Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten atau Kota, Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 828/Menkes/SK/IX/2008.

https://oshigita.wordpress.com/tag/tujuan-dan-sasaran-strategis-kemenkes/

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA


BERENCANA NASIONAL
https://www.bkkbn.go.id/
VISI
Menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan penduduk tumbuh
seimbang dan keluarga berkualitas

MISI

1. Mengarus-utamakan pembangunan berwawasan Kependudukan.


2. Menyelenggarakan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.
3. Memfasilitasi Pembangunan Keluarga.
4. Mengembangkan jejaring kemitraan dalam pengelolaan Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga.
5. Membangun dan menerapkan budaya kerja organisasi secara konsisten.

Tiga Nilai Revolusi Mental

1. Integritas (jujur, dipercaya, disiplin, bertanggung jawab, dan tidak


munafik)
Integritas berasal dari bahasa Perancis intgrit atau Latin integritas, yang
memiliki akar kata integer, yang berarti utuh, menyatu. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang
menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan
yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Pada intinya, integritas berarti
kata menjadi satu dengan perbuatan. Hal ini harus dimaknai sebagai apa
yang kita lakukan sesuai dengan apa yang kita ucapkan.
2. Etos kerja (kerja keras, kerja cerdas, berdaya saing, optimis, inovatif,
dan produktif)

Etos berasal dari bahasa Latin modern, Yunani ethos, yang berarti karakter
asli, karakter bawaan, yang membedakan seseorang atau kelompok dari
yang lain. Menurut KBBI, etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu
golongan social, sementara etos kerja berarti semangat kerja yang menjadi
ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.

3. Gotong royong (kerja sama, solidaritas, komunal, dan berorientasi pada


kemaslahatan umum)
Menurut KBBI, gotong royong, berarti bekerja bersama-sama (tolong-
menolong, bantu-membantu). Makna nilai gotong royong mirip dengan nilai
kerja sama, yang merupakan salah satu nilai yang dianut BKKBN. Dengan
menerapkan gotong royong, berarti kita dapat meninggalkan mentalitas silo,
kondidi di mana salah satu atau banyak bagian organisasi bekerja secara
terpisah dari yang lain. Dengan bergotong royong, kita akan dapat
bekerjasama untuk mencapai tujuan organisasi.

BKKBN mempunyai tugas:

Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan


penyelenggaraan keluarga berencana
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, BKKBN menyelenggarakan
fungsi:

1. Perumusan kebijakan nasional, pemaduan dan sinkronisasi kebijakan di


bidang KKB;
1. Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang KKB;
2. Pelaksanaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian penduduk dan
KB;
3. Penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang KKB;
4. Penetapan perkiraaan pengendalian penduduk secara nasional;
5. Penyusunan desain Program KKBPK;
6. Pengelolaan tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB (PKB/PLKB);
7. Pengelolaan dan penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk kebutuhan
Pasangan Usia Subur (PUS) nasional;
8. Pengelolaan dan pengendalian sistem informasi keluarga
9. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan
tingkatnasional dalam pengendalian pelayanan dan pembinaan kesertaan
ber-KB dan Kesehatan Reproduksi (KR);
10. Pengembangan desain program pembangunan keluarga melalui pembinaan
ketahanan dan kesejahteraan keluarga;
11. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan
tingkat nasional dalam pembangunan keluarga melalui ketahanan dan
kesejahteraan keluarga;
12. Standardisasi pelayanan KB dan sertifikasi tenaga penyuluh KB/petugas
lapangan KB (PKB/PLKB);
13. Penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi di bidang pengendalian
penduduk dankeluarga berencana; dan
14. Pembinaan, pembimbingan dan fasilitas di bidang KKB.

Selain menyelenggarakan fungsi tersebut, BKKBN juga menyelenggarakan fungsi:

1. Penyelenggaraan pelatihan, penelitian dan pengembangan di bidang KKB;


2. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi umum di
lingkunganBKKBN;
3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
BKKBN;
4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BKKBN; dan
5. Penyampaian laporan, saran dan pertimbangan di bidang KKB.

SEJARAH BKKBN
Periode Perintisan (1950-an 1966)

Organisasi keluarga berencana dimulai dari pembentukan Perkumpulan Keluarga


Berencana pada tanggal 23 Desember 1957 di gedung Ikatan Dokter Indonesia.
Nama perkumpulan itu sendiri berkembang menjadi Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) atau Indonesia Planned Parenthood Federation (IPPF).
PKBI memperjuangkan terwujudnya keluarga- keluarga yang sejahtera melalui 3
macam usaha pelayanan yaitu mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan,
mengobati kemandulan serta memberi nasihat perkawinan.

Pada tahun 1967, PKBI diakui sebagai badan hukum oleh Departemen Kehakiman.
Kelahiran Orde Baru pada waktu itu menyebabkan perkembangan pesat usaha
penerangan dan pelayanan KB di seluruh wilayah tanah air.

Dengan lahirnya Orde Baru pada bulan maret 1966 masalah kependudukan menjadi
fokus perhatian pemerintah yang meninjaunya dari berbagai perspektif. Perubahan
politik berupa kelahiran Orde Baru tersebut berpengaruh pada perkembangan
keluarga berencana di Indonesia. Setelah simposium Kontrasepsi di Bandung pada
bulan Januari 1967 dan Kongres Nasional I PKBI di Jakarta pada tanggal 25
Februari 1967.

Periode Keterlibatan Pemerintah dalam Program KB Nasional

Di dalam Kongres Nasional I PKBI di Jakarta dikeluarkan pernyataan sebagai


berikut:
PKBI menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pemerintah yang
telah mengambil kebijaksanaan mengenai keluarga berencana yang akan dijadikan
program pemerintah PKBI mengharapkan agar Keluarga Berencana sebagai
Program Pemerintah segera dilaksanakan.

PKBI sanggup untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan program KB


sampai di pelosok-pelosok supaya faedahnya dapat dirasakan seluruh lapisan
masyarakat.
Pada tahun 1967 Presiden Soeharto menandatangani Deklarasi Kependudukan
Dunia yang berisikan kesadaran betapa pentingnya menentukan atau
merencanakan jumlah anak, dan menjarangkan kelahiran dalam keluarga sebagai
hak asasi manusia.
Pada tanggal 16 Agustus 1967 di depan Sidang DPRGR, Presiden Soeharto pada
pidatonya Oleh karena itu kita harus menaruh perhatian secara serius mengenai
usaha-usaha pembatasan kelahiran, dengan konsepsi keluarga berencana yang
dapat dibenarkan oleh moral agama dan moral Pancasila. Sebagai tindak lanjut dari
Pidato Presiden tersebut, Menkesra membentuk Panitia Ad Hoc yang bertugas
mempelajari kemungkinan program KB dijadikan Program Nasional.
Selanjutnya pada tanggal 7 September 1968 Presiden mengeluarkan Instruksi
Presiden No. 26 tahun 1968 kepada Menteri Kesejahteraan Rakyat, yang isinya
antara lain:
Membimbing, mengkoordinir serta mengawasi segala aspirasi yang ada di dalam
masyarakat di bidang Keluarga Berencana.

Mengusahakan segala terbentuknya suatu Badan atau Lembaga yang dapat


menghimpun segala kegiatan di bidang Keluarga Berencana, serta terdiri atas unsur
Pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan Instruksi Presiden tersebut Menkesra pada tanggal 11 Oktober 1968
mengeluarkan Surat Keputusan No. 35/KPTS/Kesra/X/1968 tentang Pembentukan
Tim yang akan mengadakan persiapan bagi Pembentukan Lembaga Keluarga
Berencana. Setelah melalui pertemuan-pertemuan Menkesra dengan beberapa
menteri lainnya serta tokoh-tokoh masyarakat yang terlibat dalam usaha KB, Maka
pada tanggal 17 Oktober 1968 dibentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional
(LKBN) dengan Surat Keputusan No. 36/KPTS/Kesra/X/1968. Lembanga ini
statusnya adalah sebagai Lembaga Semi Pemerintah.

Periode Pelita I (1969-1974)

Periode ini mulai dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
berdasarkan Keppres No. 8 Tahun 1970 dan sebagai Kepala BKKBN adalah dr.
Suwardjo Suryaningrat. Dua tahun kemudian, pada tahun 1972 keluar Keppres No.
33 Tahun 1972 sebagai penyempurnaan Organisasi dan tata kerja BKKBN yang
ada. Status badan ini berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen yang
berkedudukan langsung dibawah Presiden.
Untuk melaksanakan program keluarga berencana di masyarakat dikembangkan
berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan program dan situasi serta
kondisi masyarakat. Pada Periode Pelita I dikembangkan Periode Klinik (Clinical
Approach) karena pada awal program, tantangan terhadap ide keluarga berencana
(KB) masih sangat kuat, untuk itu pendekatan melalui kesehatan yang paling tepat.

Periode Pelita II (1974-1979)

Kedudukan BKKBN dalam Keppres No. 38 Tahun 1978 adalah sebagai lembaga
pemerintah non-departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden. Tugas pokoknya adalah mempersiapkan kebijaksanaan umum dan
mengkoordinasikan pelaksanaan program KB nasional dan kependudukan yang
mendukungnya, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah serta
mengkoordinasikan penyelenggaraan pelaksanaan di lapangan.

Periode ini pembinaan dan pendekatan program yang semula berorientasi pada
kesehatan ini mulai dipadukan dengan sector-sektor pembangunan lainnya, yang
dikenal dengan Pendekatan Integratif (Beyond Family Planning). Dalam kaitan ini
pada tahun 1973-1975 sudah mulai dirintis Pendidikan Kependudukan sebagai pilot
project.

Periode Pelita III (1979-1984)

Periode ini dilakukan pendekatan Kemasyarakatan (partisipatif) yang didorong


peranan dan tanggung jawab masyarakat melalui organisasi/institusi masyarakat
dan pemuka masyarakat, yang bertujuan untuk membina dan mempertahankan
peserta KB yang sudah ada serta meningkatkan jumlah peserta KB baru. Pada
masa periode ini juga dikembangkan strategi operasional yang baru yang disebut
Panca Karya dan Catur Bhava Utama yang bertujuan mempertajam segmentasi
sehingga diharapkan dapat mempercepat penurunan fertilitas. Pada periode ini
muncul juga strategi baru yang memadukan KIE dan pelayanan kontrasepsi yang
merupakan bentuk Mass Campaign yang dinamakan Safari KB Senyum Terpadu.

Periode Pelita IV (1983-1988)

Pada masa Kabinet Pembangunan IV ini dilantik Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai
Kepala BKKBN menggantikan dr. Suwardjono Suryaningrat yang dilantik sebagai
Menteri Kesehatan. Pada masa ini juga muncul pendekatan baru antara lain melalui
Pendekatan koordinasi aktif, penyelenggaraan KB oleh pemerintah dan masyarakat
lebih disinkronkan pelaksanaannya melalui koordinasi aktif tersebut ditingkatkan
menjadi koordinasi aktif dengan peran ganda, yaitu selain sebagai dinamisator juga
sebagai fasilitator. Disamping itu, dikembangkan pula strategi pembagian wilayah
guna mengimbangi laju kecepatan program.

Pada periode ini juga secara resmi KB Mandiri mulai dicanangkan pada tanggal 28
Januari 1987 oleh Presiden Soeharto dalam acara penerimaan peserta KB Lestari di
Taman Mini Indonesia Indah. Program KB Mandiri dipopulerkan dengan kampanye
LIngkaran Biru (LIBI) yang bertujuan memperkenalkan tempat-tempat pelayanan
dengan logo Lingkaran Biru KB.

Periode Pelita V (1988-1993)

Pada masa Pelita V, Kepala BKKBN masih dijabat oleh Prof. Dr. Haryono Suyono.
Pada periode ini gerakan KB terus berupaya meningkatkan kualitas petugas dan
sumberdaya manusia dan pelayanan KB. Oleh karena itu, kemudian diluncurkan
strategi baru yaitu Kampanye Lingkaran Emas (LIMAS). Jenis kontrasepsi yang
ditawarkan pada LIBI masih sangat terbatas, maka untuk pelayanan KB LIMAS ini
ditawarkan lebih banyak lagi jenis kontrasepsi, yaitu ada 16 jenis kontrepsi.
Pada periode ini ditetapkan UU No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, dan Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) 1993 khususnya sub sector Keluarga Sejahtera dan
Kependudukan, maka kebijaksanaan dan strategi gerakan KB nasional diadakan
untuk mewujudkan keluarga Kecil yang sejahtera melalui penundaan usia
perkawinan, penjarangan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga dan
peningkatan kesejahteraan keluarga.

Periode Pelita VI (1993-1998)

Pada Pelita VI dikenalkan pendekatan baru yaitu Pendekatan Keluarga yang


bertujuan untuk menggalakan partisipasi masyarakat dalam gerakan KB nasional.
Dalam Kabinet Pembangunan VI sejak tanggal 19 Maret 1993 sampai dengan 19
Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono ditetapkan sebagai Menteri Negara
Kependudukan/Kepala BKKBN, sebagai awal dibentuknya BKKBN setingkat
Kementerian.
Pada tangal 16 Maret 1998, Prof. Dr. Haryono Suyono diangkat menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan merangkap
sebagai Kepala BKKBN. Dua bulan berselang dengan terjadinya gerakan reformasi,
maka Kabinet Pembangunan VI mengalami perubahan menjadi Kabinet Reformasi
Pembangunan Pada tanggal 21 Mei 1998, Prof. Haryono Suyono menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesra dan Pengentasan Kemiskinan, sedangkan Kepala BKKBN
dijabat oleh Prof. Dr. Ida Bagus Oka sekaligus menjadi Menteri Kependudukan.

Periode Pasca Reformasi

Dari butir-butir arahan GBHN Tahun 1999 dan perundang-undangan yang telah ada,
Program Keluarga Berencana Nasional merupakan salah satu program untuk
meningkatkan kualitas penduduk, mutu sumber daya manusia, kesehatan dan
kesejahteraan sosial yang selama ini dilaksanakan melalui pengaturan kelahiran,
pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan keluarga dan kesejahteraan
keluarga. Arahan GBHN ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Program
Pembangunan Nasional (PROPENAS) yang telah ditetapkan sebagai Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2000.

Sejalan dengan era desentralisasi, eksistensi program dan kelembagaan keluarga


berencana nasional di daerah mengalami masa-masa kritis. Sesuai dengan Keppres
Nomor 103 Tahun 2001, yang kemudian diubah menjadi Keppres Nomor 09 Tahun
2004 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen menyatakan bahwa sebagian
urusan di bidang keluarga berencana diserahkan kepada pemerintah kabupaten dan
kota selambat-lambatnya Desember 2003. Hal ini sejalan dengan esensi UU Nomor
22 Tahun 1999 (telah diubah menjadi Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004).
Dengan demikian tahun 2004 merupakan tahun pertama Keluarga Berencana
Nasional dalam era desentralisasi.

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan pada tanggal 29 Oktober 2009,
berimplikasi terhadap perubahan kelembagaan, visi, dan misi BKKBN. Undang-
Undang tersebut mengamanatkan perubahan kelembagaan BKKBN yang semula
adalah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Visi BKKBN adalah Penduduk
Tumbuh Seimbang 2015 dengan misi mewujudkan pembangunan yang
berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, BKKBN mempunyai tugas dan fungsi untuk
melaksanakan pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 56 Undang-Undang tersebut di atas. Dalam
rangka pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana di
daerah, pemerintah daerah membentuk Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Daerah yang selanjutnya disingkat BKKBD di tingkat provinsi dan
kabupaten dan kota yang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki
hubungan fungsional dengan BKKBN (pasal 54 ayat 1 dan 2).

Peran dan fungsi baru BKKBN diperkuat dengan adanya Peraturan Presiden Nomor
3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 103
Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Kementerian; Peraturan Kepala BKKBN
Nomor 82/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi dan Peraturan Kepala
BKKBN Nomor 92/PER/B5/2011 tentang Organisasi Tata Kerja Balai Pendidikan
dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana, sehingga perlu dilakukan
perubahan/penyesuaian terhadap Renstra BKKBN tentang Pembangunan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2010-2014 meliputi
penyesuaian untuk beberapa kegiatan prioritas dan indikator kinerjanya.

Pasca Reformasi Kepala BKKBN telah mengalami beberapa pergantian:


Pada Periode Kabinet Persatuan Indonesia, Kepala BKKBN dirangkap oleh Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan yang dijabat oleh Khofifah Indar Parawansa.
Setelah itu digantikan oleh Prof. Dr. Yaumil C. Agoes Achir pada tahun 2001 dan
meninggal dunia pada akhir 2003 akibat penyakit kanker dan yang kemudian terjadi
kekosongan.
Pada tanggal 10 November 2003, Kepala Litbangkes Departemen Kesehatan dr.
Sumarjati Arjoso, SKM dilantik menjadi Kepala BKKBN oleh Menteri Kesehatan
Ahmad Sujudi sampai beliau memasuki masa pensiun pada tahun 2006.
Setelah itu digantikan oleh Dr. Sugiri Syarief, MPA yang dilantik sebagai Kepala
BKKBN pada tanggal 24 Nopember 2006.

Sebagai tindak lanjut dari UU 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarha Sejahtera, di mana BKKBN kemudian direstrukturisasi
menjadi badan kependudukan, bukan lagi badan koordinasi, maka pada tanggal 27
September 2011 Kepala BKKBN, Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA akhirnya dilantik
sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN).
Pada tanggal 13 Juni 2013 akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menetapkan mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Fasli Jalal
sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

BONUS DEMOGRAFI MENINGKATKAN KUALITAS


KELUARGA
Ende - Indonesia akan memasuki fenomena bonus demografi. Yakni Indonesia
mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan. Hal ini
terjadi karena keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Melalui keberhasilan
program Keluarga Berencana merubah struktur umur penduduk yang ditandai
dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia
kerja (0-14 tahun dan diatas 65 tahun) terhadap penduduk usia kerja (15-64 tahun).

Bonus demografi merupakan kondisi di mana populasi usia produktif lebih banyak
dari usia nonproduktif. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami puncak bonus
demografi pada 2030 mendatang.

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty menjelaskan, "Menghadapi Bonus


Demografi, BKKBN mengambil peran meningkatkan kualitas penduduk melalui
pembangunan keluarga. Mendorong agar setiap anak yang dilahirkan berkualitas,
dengan memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak di 1000 hari pertama
kehidupan, dengan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif, diharapkan orangtua
cerdas dalam mengurus buah hati mulai dari kebutuhan gizi hingga stimulus
perkembangannya." jelas Surya. Hal ini disampaikan pada kuliah umum tentang
Revolusi mental melalui program Generasi Berencana (GenRe) oleh Kepala BKKBN
di Universitas Flores Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (03/10/2017).

BKKBN mengajak membangun keluarga yang berkualitas dengan keluarga


berketahanan disamping itu melalui program Keluarga Berencana (KB), setiap
keluarga Indonesia diharapkan memiliki rata-rata 2 orang anak demi mewujudkan
Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2025, yang ditandai dengan Angka
Fertilitas Total (TFR) sebesar 2,1. Dengan memiliki 2 anak dan jarak antar kelahiran
minimal 3-5 tahun atau tidak ada dua balita dalam satu keluarga, maka orangtua
memiliki kesempatan untuk memberikan asah, asih dan asuh secara penuh kepada
anak.

Menghadapi Bonus Demografi kepada generasi muda kota Ende, Kepala BKKBN
berpesan, "Katakan tidak pada seks pranikah, katakan tidak pada pernikahan usia
anak, katakan tidak pada narkoba. Generasi muda harus menjadi Generasi
Berencana (GenRe) merencanakan masa depanmu, merencanakan kapan selesai
kuliah, kapan bekerja, merencanakan kapan menikah. Menikahlah pada usia
minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki " tegas Surya.

Saat ini program Keluarga Berencana sejak reformasi redup sebagai upaya
merevitalisasi, BKKBN mengembangkan dan intensifkan program kampung KB.
Kampung KB harus sinergis dengan program lain sehingga diharapkan dapat
mewujudkan keluarga berkualitas dan tentu terus berupaya meningkatkan jumlah
dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, dan tentunya juga untuk
meningkatkan kesertaan ber-KB bagi penduduk miskin dan daerah terpencil,
perbatasan, dan kepulauan dan meningkatkan ketahanan keluarga.

BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN BP-POM


http://www.pom.go.id/

Kemajuan teknologi telah membawa perubahan-perubahan yang cepat dan


signifikan pada industri farmasi, obat asli Indonesia, makanan, kosmetika dan alat
kesehatan. Dengan menggunakan teknologi modern, industri-industri tersebut kini
mampu memproduksi dalam skala yang sangat besar mencakup berbagai produk
dengan "range" yang sangat luas.

Dengan dukungan kemajuan teknologi transportasi dan entry barrier yang makin
tipis dalam perdagangan internasional, maka produk-produk tersebut dalam waktu
yang amat singkat dapat menyebar ke berbagai negara dengan jaringan distribusi
yang sangat luas dan mampu menjangkau seluruh strata masyarakat.

Konsumsi masyarakat terhadap produk-produk termaksud cenderung terus


meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat termasuk pola
konsumsinya. Sementara itu pengetahuan masyarakat masih belum memadai untuk
dapat memilih dan menggunakan produk secara tepat, benar dan aman. Di lain
pihak iklan dan promosi secara gencar mendorong konsumen untuk mengkonsumsi
secara berlebihan dan seringkali tidak rasional.

Perubahan teknologi produksi, sistem perdagangan internasional dan gaya hidup


konsumen tersebut pada realitasnya meningkatkan resiko dengan implikasi yang
luas pada kesehatan dan keselamatan konsumen. Apabila terjadi produk sub
standar, rusak atau terkontaminasi oleh bahan berbahaya maka risiko yang terjadi
akan berskala besar dan luas serta berlangsung secara amat cepat.

Untuk itu Indonesia harus memiliki Sistem Pengawasan Obat dan Makanan
(SisPOM) yang efektif dan efisien yang mampu mendeteksi, mencegah dan
mengawasi produk-produk termaksud untuk melindungi keamanan, keselamatan
dan kesehatan konsumennya baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu telah
dibentuk BPOM yang memiliki jaringan nasional dan internasional serta kewenangan
penegakan hukum dan memiliki kredibilitas profesional yang tinggi.

Tugas Utama BPOM

Berdasarkan Pasal 67 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM


melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan Obat dan Makanan
sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku.

Tugas Balai Besar / Balai POM (Unit Pelaksana Teknis)

Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014, Unit


Pelaksana Teknis di lingkungan BPOM mempunyai tugas melaksanakan kebijakan
dibidang pengawasan obat dan makanan, yang meliputi pengawasan atas produk
terapetik, narkotika, psikotropika, zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk
komplemen serta pengawasan atas keamanan pangan dan bahan berbahaya.

Fungsi Utama BPOM

Berdasarakan Pasal 68 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM


mempunyai fungsi :

1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan Obat dan


Makanan.
2. Pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
3. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPOM.
4. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi
pemerintah di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
5. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bindang
perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian,
keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
Fungsi Balai Besar/Balai POM (Unit Pelaksana Teknis)

Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014, Unit


Pelaksana Teknis di lingkungan BPOM mempunyai fungsi :

1. Penyusunan rencana dan program pengawasan obat dan makanan.


2. Pelaksanaan pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian mutu
produk terapetik, narkotika, psikotropika zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk
komplemen, pangan dan bahan berbahaya.
3. Pelaksanaan pemeriksaanlaboratorium, pengujian dan penilaian mutu produk secara
mikrobiologi.
4. Pelaksanaan pemeriksaan setempat, pengambilan contoh dan pemeriksaan sarana
produksi dan distribusi
5. Investigasi dan penyidikan pada kasus pelanggaran hukum.
6. Pelaksanaan sertifikasi produk, sarana produksi dan distribusi tertentu yang
ditetapkan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
7. Pelaksanaan kegiatan layanan informasi konsumen.
8. Evaluasi dan penyusunan laporan pengujian obat dan makanan.
9. Pelaksanaan urusan tata usaha dan kerumahtanggaan.
10. Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan oleh Kepala BadanPengawas Obatdan
Makanan, sesuai dengan bidang tugasnya.

Kewenangan

Berdasarkan Pasal 69 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM memiliki
kewenangan :

1. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya.


2. Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro.
3. Penetapan sistem informasi di bidangnya.
4. Penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk
makanan dan penetapan pedoman peredaran Obat dan Makanan.
5. Pemberi izin dan pengawasan peredaran Obat serta pengawasan industri farmasi.
6. Penetapan pedoman penggunaan konservasi, pengembangan dan pengawasan
tanaman Obat.

http://farmasetika.com/2017/09/14/izin-edar-obat-pcc-sudah-dibekukan-badan-pom-
sejak-tahun-2009/

Izin Edar Obat PCC Sudah Dibekukan


Badan POM sejak Tahun 2009
Farmasetika.com Obat PCC (parasetamol, kafein, karisoprodol/carisoprodol) atau
Somadril produksi Actavis bersama produk lainnya yang mengandung karisoprodol
yakni New Skelan (Medifarma), Carsipain (Mecosin), Carminofein (Himajaya Raya),
Etacarphen (Errita Pharma), Cazerol (Ifars), dan Bimacarphen (Bima Mitra Farma)
telah dihentikan izin edarnya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan
POM) sejak tahun 2013.
Sedangkan Carnophen dari Zenith dicabut izin edarnya pada tahun 2009 dengan
komposisi Parasetamol 160 mg, Karisoprodol 200 mg, dan Cafein 32 mg.

Surat Badan POM nomor PW.02.03.353.3.07.13.3041 perihal Penarikan Produk


Karisoprodol dikeluarkan pada bulan Juni 2013. Dalam surat tersebut Badan POM
memerintahkan untuk menghentikan produksi obat yang mengandung Karisoprodol,
mencabut, izin edar, dan menarik produk dari peredaran ditingkat distributor, apotek,
rumah sakit, poliklinik, toko obat dan tingkat terkecil lainnya.

Hal ini dilakukan karena dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek
terapinya. Penyalahgunaan Karisoprodol sebagai penambah percaya diri, penambah
stamina, bahkan digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai obat kuat.

Obat PCC bekerja dengan menekan sel syaraf otak untuk mengurangi rasa depresi
atau kecemasan berlebih pada tubuh. Metabolit dari carisoprodol (Meprobamat)
berperan sebagai depresan sistem saraf pusat untuk menangani gangguan
kecemasan.

Obat ini tergolong muscle relaxants (pelemas otot). Obat ini bekerja pada jaringan
saraf dan otak yang mampu merilekskan otot. Obat ini biasanya digunakan saat
istirahat, saat melakukan terapi fisik, dan pengobatan lain.

Sedangkan pada otot, obat ini membuat otot menjadi lebih


rileks. Carisoprodol berperan sebagai relaksan otot untuk mengatasi nyeri otot yang
parah.

PEMANIS, PEWARNA DAN PENGAWET MAKANAN


https://ininisrina.wordpress.com/cerdas/ipa-2/bahan-bahan-kimia-dalam-kehidupan/bahan-
kimia-dalam-makanan/

B.Bahan kimia dalam makanan

Zat aditif adalah zat yang ditambahkan pada makanan atau minuman.Biasanya,
bahan aditif diberi kode huruf E (Eropa) dan diikuti dengan tiga angka. Misalnya, E
100 sebagai kode pewarna, E 200 kode konsevator, E 300 kode antioksida, dan E
400 kode pengemulsi atau stabilisator. Contoh bahan aditif itu adalah E 200 asam
sorbat, E 201 Na sorbat, E 300 asam askorbat, E 311 oktil gallat, E 320 butil
hidroksilanisol (BHA), dan E 321 butilhidroksil toluena (BHT).

Zat aditif makanan dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:

1. Zat aditif yang berasal dari sumber alami, seperti lesitin dan asam sitrat;

2. Zat aditif sintetik dari bahan kimia yang memiliki sifat serupa dengan bahan
alami yang sejenis, baik susunan kimia maupun sifat/fungsinya, seperti amil asetat
dan asam askorbat.

Berdasarkan fungsinya, baik alami maupun sintetik, zat aditif dapat dikelompokkan
sebagai zat pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap rasa.
A. Bahan Pewarna

Bahan pewarna merupakan bahan alami ataupun bahan kimia yang ditambahkan ke
dalam makanan. Penambahan bahan pewarna pada makanan bertujuan untuk
memberi penampilan tertentu atau warna yang menarik. Warna yang menarik dapat
menjadikan makanan lebih mengundang selera.

Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan


menjadi dye dan lake. Dye merupakan zat pewarna makanan yang umumnya
bersifat larut dalamair. Dye biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk, butiran,
pasta atau cairan. Lake merupakan gabungan antara zat warna dye dan basa yang
dilapisi oleh suatu zat tertentu. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air maka zat
warna kelompok ini cocok untuk mewarnai produk-produk yang tidak boleh terkena
air atau produk yang mengandung lemak dan minyak.

1. Pewarna Alami

Pewarna alami merupakan bahan pewarna yang bahan-bahannya banyak diambil


dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pewarna alami yang banyak digunakan antara lain
sebagai berikut.

Daun suji mengandung zat warna klorofil untuk memberi warna hijau menawan,
misalnya pada dadar gulung, kue bika, atau kue pisang.
Buah kakao merupakan penghasil cokelat dan memberikan warna cokelat pada
makanan, misalnya es krim, susu cokelat, atau kue kering.
Kunyit (Curcuma domestica) mengandung zat warna kurkumin untuk memberi warna
kuning pada makanan, misalnya tahu, bumbu Bali, atau nasi kuning. Selain itu,
kunyit dapat mengawetkan makanan.
Cabai merah, selain memberi rasa pedas, juga menghasilkan zat warna kapxantin
yang menjadikan warna merah pada makanan, misalnya rendang daging atau
sambal goreng.
Wortel, beta-karoten (provitamin-A) pada wortel menghasilkan warna kuning.
Karamel, warna cokelat karamel pada kembang gula karena proses karamelisasi,
yaitu pemanasan gula tebu sampai pada suhu sekitar 170C.
Gula merah, selain sebagai pemanis juga memberikan warna cokelat pada
makanan, misalnya pada bubur dan dodol.

Selain contoh di atas, beberapa buah-buahan juga dapat menjadi bahan pewarna
alami, misalnya anggur menghasilkan warna ungu, stroberi warna merah, dan tomat
warna oranye.

2. Pewarna Buatan

Makanan ada yang menggunakan pewarna alami ada pula yang menggunakan
pewarna buatan. Bahan pewarna buatan ada dua jenis. Jenis pertama adalah
pewarna buatan yang disintesa dengan struktur kimia persis seperti bahan alami,
misalnya beta-karoten (warna oranye sampai kuning), santoxantin (warna merah),
dan apokaroten (warna oranye). Jenis kedua adalah bahan pewarna yang disintesa
khusus untuk menggantikan pewarna alami. Tabel berikut menunjukkan contoh
bahan pewarna buatan pada makanan.
Bahan pewarna buatan Contoh produk makanan

Indigokarmin menghasilkan warna biru gula dan minuman ringan.

Eritrosin menghasilkan warna merah es krim dan jeli

Tartrasin menghasilkan warna kuning es krim, yoghurt, dan jeli

Meskipun bahan pewarna tersebut diizinkan, kamu harus selalu berhati-hati dalam
memilih makanan yang menggunakan bahan pewarna buatan karena penggunaan
yang berlebihan tidak baik bagi kesehatanmu. Penggunaan tartrazine yang
berlebihan dapat menyebabkan reaksi alergi, asma, dan hiperaktif pada anak.
Penggunaan erythrosine yang berlebihan dapat menyebabkan reaksi alergi pada
pernapasan, hiperaktif pada anak, tumor tiroid pada tikus, dan efek kurang baik pada
otak dan perilaku.

3. Perbedaan antara Pewarna Alami dan Pewarna Buatan

Bahan pewarna alami maupun buatan digunakan untuk memberi warna yang lebih
menarik pada makanan. Biasanya orang menggunakan bahan pewarna alami
karena lebih aman dikonsumsi daripada bahan pewarna buatan. Bahan alami tidak
memiliki efek samping atau akibat negatif dalam jangka panjang. Adapun pewarna
buatan dipilih karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan zat
pewarna alami. Tabel berikut ini menunjukkan perbedaan kedua jenis pewarna
tersebut.

Pewarna alami Pewarna buatan

Lebih aman dikonsumsi. Kadang-kadang memiliki efek negatif tertentu.

Dapat mengembalikan warna asli, kestabilan


warna lebih tinggi, tahan lama, dan dapat
Warna yang dihasilkan kurang stabil, melindungi vitamin atau zat-zat makanan lain
mudah berubah oleh pengaruh tingkat yang peka terhadap cahaya selama
keasaman tertentu. penyimpanan.

Untuk mendapatkan warna yang bagus


diperlukan bahan pewarna dalam jumlah
banyak. Praktis dan ekonomis.

Keanekaragaman warnanya terbatas. Warna yang dihasilkan lebih beraneka ragam.

Tingkat keseragaman warna kurang baik. Keseragaman warna lebih baik.

Kadang-kadang memberi rasa dan aroma Biasanya tidak menghasilkan rasa dan aroma
yang agak mengganggu. yang mengganggu.

Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik, sering terjadi


penyalahgunaan pewarna pada makanan. Sebagai contoh digunakannya pewarna
tekstil untuk makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna tekstil dan
pewarna cat biasanya mengandung logam berat, seperti: arsen, timbal, dan raksa
sehingga bersifat racun.

B. Pemanis

Bahan pemanis adalah bahan kimia yang ditambahkan pada makanan atau
minuman yang berfungsi untuk memberikan rasa manis. Bahan pemanis ini ada dua
macam, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan.

1. Pemanis Alami

Pemanis alami merupakan bahan pemberi rasa manis yang diperoleh dari bahan-
bahan nabati maupun hewani. Pemanis alami berfungsi juga sebagai sumber energi.
Jika kita mengonsumsi pemanis alami secara berlebihan, kita akan mengalami risiko
kegemukan. Contohnya :

Gula tebu mengandung zat pemanis fruktosa yang merupakan salah satu jenis
glukosa. Gula tebu atau gula pasir yang diperoleh dari tanaman tebu merupakan
pemanis yang paling banyak digunakan. Selain memberi rasa manis, gula tebu juga
bersifat mengawetkan.
Gula merah merupakan pemanis dengan warna coklat. Gula merah merupakan
pemanis kedua yang banyak digunakan setelah gula pasir. Kebanyakan gula jenis ini
digunakan untuk makanan tradisional, misalnya pada bubur, dodol, kue apem, dan
gulali.
Madu merupakan pemanis alami yang dihasilkan oleh lebah madu. Selain sebagai
pemanis, madu juga banyak digunakan sebagai obat.
Kulit kayu manis merupakan kulit kayu yang berfungsi sebagai pemanis. Selain itu
kayu manis juga berfungsi sebagai pengawet.

Zat pemanis alami yang biasa digunakan, dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut.

1) Pemanis nutritif

Pemanis nutritif adalah pemanis alami yang menghasilkan kalori. Pemanis nutritif
berasal dari tanaman (sukrosa/ gula tebu, gula bit, xylitol dan fruktosa), dari hewan
(laktosa, madu), dan dari hasil penguraian karbohidrat (sirop glukosa, dekstrosa,
sorbitol). Kelebihan pemanis ini dapat mengakibatkan obesitas, karena kandungan
kalorinya yang tinggi.

2) Pemanis nonnutritif

Pemanis nonnutritif adalah pemanis alami yang tidak menghasilkan kalori. Pemanis
nonnutritif berasal dari tanaman (steviosida), dan dari kelompok protein (miralin,
monellin, thaumatin).

2. Pemanis Buatan

Pemanis buatan adalah senyawa hasil sintetis laboratorium yang merupakan bahan
tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan. Pemanis
buatan tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi. Sebagaimana pemanis alami,
pemanis buatan juga mudah larut dalam air. Penggunaan bahan pemanis atau
batasan pemakaian bahan pemanis dalam makanan harus mengacu pada WHO
yang dikenal dengan ADI (aceeptable daily intake) dan Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 722 / Menkes / per / IX / 1988 tentang batasan maksimum penggunaan
bahan kimia dalam makanan. Beberapa pemanis buatan yang beredar di pasaran di
antaranya adalah sebagai berikut.

a. Aspartam

Aspartam mempunyai nama kimia aspartil fenilalanin metil ester, merupakan


pemanis yang digunakan dalam produk-produk minuman ringan. Aspartam
merupakan pemanis yang berkalori sedang. Tingkat kemanisan dari aspartam 200
kali lebih manis daripada gula pasir. Aspartam dapat terhidrolisis atau bereaksi
dengan air dan kehilangan rasa manis, sehingga lebih cocok digunakan untuk
pemanis yang berkadar air rendah.

b. Sakarin

Sakarin merupakan pemanis buatan yang paling tua. Tingkat kemanisan sakarin
kurang lebih 300 kali lebih manis dibandingkan gula pasir. Namun, jika penambahan
sakarin terlalu banyak justru menimbulkan

rasa pahit dan getir. Es krim, gula-gula, es puter, selai, kue kering, dan minuman
fermentasi biasanya diberi pemanis sakarin. Sakarin sangat populer digunakan
dalam industri makanan dan minuman karena harganya yang murah. Namun
penggunaan sakarin tidak boleh melampaui batas maksimal yang ditetapkan, karena
bersifat karsogenik (dapat memicu timbulnya kanker).

Dalam setiap kilogram bahan makanan, kadar sakarin yang diperbolehkan adalah
50300 mg. Sakarin hanya boleh digunakan untuk makanan rendah kalori, dan
dibatasi tingkat konsumsinya sebesar maksimal 0,5 mg tiap kilogram berat badan
per hari.

c. Siklamat

Siklamat terdapat dalam bentuk kalsium dan natrium siklamat dengan tingkat
kemanisan yang dihasilkan kurang lebih 30 kali lebih manis daripada gula pasir.
Makanan dan minuman yang sering dijumpai mengandung siklamat antara lain: es
krim, es puter, selai, saus, es lilin, dan berbagai minuman fermentasi. Beberapa
negara melarang penggunaan siklamat karena diperkirakan mempunyai efek
karsinogen. Batas maksimum penggunaan siklamat adalah 5003.000 mg per kg
bahan makanan.

d. Sorbitol

Sorbitol merupakan pemanis yang biasa digunakan untuk pemanis kismis, selai dan
roti, serta makanan lain.

e. Asesulfam K
Asesulfam K merupakan senyawa 6-metil-1,2,3-oksatiazin-4(3H)-on-2,3-dioksida
atau merupakan asam asetoasetat dan asam sulfamat. Tingkat kemanisan dari
asesulfam K adalah 200 kali lebih manis daripada gula pasir. Berdasarkan hasil
pengujian laboratorium, asesulfam K merupakan pemanis yang tidak berbahaya.

3. Perbedaan Pemanis Alami dengan Pemanis Buatan

Orang memilih jenis pemanis untuk makanan yang dikonsumsinya tentu dengan
alasan masing-masing. Pemanis alami tentu lebih aman, tetapi harganya lebih
mahal. Pemanis buatan lebih murah, tetapi aturan pemakaiannya sangat ketat
karena bisa menyebabkan efek negatif yang cukup berbahaya. Pada kadar yang
rendah atau tertentu, pemanis buatan masih diijinkan untuk digunakan sebagai
bahan tambahan makanan, tetapi pada kadar yang tinggi bahan ini akan
menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Tabel berikut memperlihatkan
perbedaan pemanis alami dan buatan.

Pemanis alami Pemanis buatan

Pada suhu tinggi bisa terurai. Cukup stabil bila dipanaskan.

Memiliki kalori tinggi. Memiliki kalori rendah.

Berasa manis sampai puluhan bahkan


Berasa manis normal. ratusan kali rasa manis gula.

Harganya cenderung lebih tinggi. Harganya sangat terjangkau.

Sebagian dapat berpotensi


Lebih aman dikonsumsi. karsinogen (penyebab kanker).

C. Pengawet

Bahan pengawet adalah bahan kimia yang dapat mencegah atau menghambat
proses fermentasi (pembusukan), pengasaman, atau peruraian lain terhadap
makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme sehingga makanan tidak mudah
rusak atau menjadi busuk. Bahan pengawet bersifat karsinogen, untuk itu batasan
penggunaan bahan pengawet sebaiknya sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesesehatan No. 722/ menkes/per/IX/ 88.

Menurut FDA (Food and Drug Administrasion), keamanan suatu pengawet makanan
harus mempertimbangkan jumlah yang mungkin dikonsumsi dalam produk makanan
atau jumlah zat yang akan terbentuk dalam makanan dari penggunaan pengawet,
efek akumulasi dari pengawet dalam makanan dan potensi toksisitas yang dapat
terjadi (termasuk menyebabkan kanker) dari pengawet jika dicerna oleh manusia
atau hewan. Secara garis besar zat pengawet dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

1. GRAS (Generally Recognized as Safe) yang umumnya bersifat alami, sehingga


aman dan tidak berefek racun sama sekali. Berikut ini adalah contoh-contoh
pengawet alami.
a. Gula tebu
Gula tebu memberi rasa manis dan bersifat mengawetkan. Buah-buahan yang
disimpan dalam larutan gula pekat akan menjadi awet karena mikroorganisme sukar
hidup di dalamnya.
b. Gula merah
Selain sebagai pemanis gula merah juga bersifat mengawetkan seperti halnya gula
tebu.
c. Garam
Garam merupakan pengawet alami yang banyak dihasilkan dari penguapan air laut.
Ikan asin dapat bertahan hingga berbulan-bulan karena pengaruh garam.
d. Kunyit
Kunyit, selain sebagai pewarna, juga berfungsi sebagai pengawet. Dengan
penggunaan kunyit, tahu atau nasi kuning menjadi tidak cepat basi.
e. Kulit kayu manis
Kulit kayu manis merupakan kulit kayu yang berfungsi sebagai pengawet karena
banyak mengandung asam benzoat. Selain itu, kayu manis juga berfungsi sebagai
pemanis dan pemberi aroma.
f. Cengkih
Cengkih merupakan pengawet alami yang dihasilkan dari bunga tanaman cengkih.
Selain sebagai pengawet, cengkih juga berfungsi sebagai penambah aroma.

2. ADI (Acceptable Daily Intake), yang selalu ditetapkan batas penggunaan


hariannya (daily intake) guna melindungi kesehatan konsumen. Bahan-bahan
pengawet tersebut, antara lain sebagai berikut.
a. Asam asetat
Asam asetat dikenal di kalangan masyarakat sebagai asam cuka. Bahan ini
menghasilkan rasa masam dan jika jumlahnya terlalu banyak akan mengganggu
selera karena bahan ini sama dengan sebagian isi dari air keringat kita. Asam asetat
sering dipakai sebagai pelengkap ketika makan acar, mi ayam, bakso, atau soto.
Asam asetat mempunyai sifat antimikroba. Makanan yang memakai pengawet asam
cuka antara lain acar, saos tomat, dan saus cabai.
b. Benzoat
Benzoat banyak ditemukan dalam bentuk asam benzoat maupun natrium benzoat
(garamnya). Berbagai jenis soft drink (minuman ringan), sari buah, nata de coco,
kecap, saus, selai, dan agar-agar diawetkan dengan menggunakan bahan jenis ini.
c. Sulfit
Bahan ini biasa dijumpai dalam bentuk garam kalium atau natrium bisulfit. Potongan
kentang, sari nanas, dan udang beku biasa diawetkan dengan menggunakan bahan
ini.
d. Propil galat
Digunakan dalam produk makanan yang mengandung minyak atau lemak dan
permen karet serta untuk memperlambat ketengikan pada sosis. Propil galat juga
dapat digunakan sebagai antioksidan.
e. Propianat
Jenis bahan pengawet propianat yang sering digunakan adalah asam propianat dan
garam kalium atau natrium propianat. Propianat selain menghambat kapang juga
dapat menghambat pertumbuhan bacillusmesentericus yang menyebabkan
kerusakan bahan makanan. Bahan pengawetan produk roti dan keju biasanya
menggunakan bahan ini. Penggunaan yang berlebihan bisa menyebabkan migren,
kelelahan, dan kesulitan tidur.
f. Garam nitrit
Garam nitrit biasanya dalam bentuk kalium atau natrium nitrit. Kalium nitrit berwarna
putih atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air. Bahan ini terutama sekali
digunakan sebagai bahan pengawet keju, ikan, daging, dan juga daging olahan
seperti sosis, atau kornet, serta makanan kering seperti kue kering. Perkembangan
mikroba dapat dihambat dengan adanya nitrit ini. Misalnya, pertumbuhan clostridia di
dalam daging yang dapat membusukkan daging.
Penggunaan yang berlebihan, bisa menyebabkan keracunan. Selain memengaruhi
kemampuan sel darah membawa oksigen ke berbagai organ tubuh, juga
menyebabkan kesulitan bernapas, sakit kepala, anemia, radang ginjal, dan muntah-
muntah.
g. Sorbat
Sorbat yang terdapat di pasar ada dalam bentuk asam atau garam sorbat. Sorbat
sering digunakan dalam pengawetan margarin, sari buah, keju, anggur, dan acar.
Asam sorbat sangat efektif dalam menekan pertumbuhan kapang dan tidak
memengaruhi cita rasa makanan pada tingkat yang diperbolehkan. Meskipun aman
dalam konsentrasi tinggi, asam ini bisa membuat perlukaan di kulit.

3. Zat pengawet yang memang tidak layak dikonsumsi


atauberbahaya, Pengawet tersebut di antaranya adalah:
Boraks
Boraks atau natrium tetraborat, dengan rumus kimia Na2B4O7 10 H2O adalah
senyawa yang biasa digunakan sebagai bahan baku disinfektan, detergen, cat,
plastik, ataupun pembersih permukaan logam sehingga mudah disolder. Karena
boraks bersifat antiseptik dan pembunuh kuman, bahan ini sering digunakan untuk
pengawet kosmetik dan kayu. Banyak ditemukan kasus boraks yang disalahgunakan
untuk pengawetan bakso, sosis, krupuk gendar, mi basah, pisang molen, lemper,
siomay, lontong, ketupat, dan pangsit. Jika boraks termakan dalam kadar tertentu,
dapat menimbulkan sejumlah efek samping bagi kesehatan, di antaranya:
gangguan pada sistem saraf, ginjal, hati, dan kulit;
gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulasi saraf pusat;
terjadinya komplikasi pada otak dan hati; dan
menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks sebanyak 36 gram.
o Formalin
Formalin adalah nama dagang untuk larutan yang mengandung 40% formaldehid
(HCOH) dalam 60% air atau campuran air dan metanol (jenis alkohol bahan baku
spiritus) sebagai pelarutnya. Formalin sering disalahgunakan untuk mengawetkan
mi, tahu basah, bakso, dan ikan asin. Formalin tidak boleh digunakan karena dapat
menyebabkan kanker paru-paru dan gangguan pada alat pencernaan dan jantung.
Natamysin
Bahan ini biasa digunakan pada produk daging dan keju. Bahan ini bisa
menyebabkan mual, muntah, tidak nafsu makan, diare, dan perlukaan kulit.
Kalium Asetat
Makanan yang asam umumnya ditambahkan bahan pengawet ini. Padahal bahan
pengawet ini diduga bisa menyebabkan rusaknya fungsi ginjal.
Butil Hidroksi Anisol (BHA)
Biasanya terdapat pada daging babi dan sosisnya, minyak sayur,shortening, keripik
kentang, pizza, dan teh instan. Bahan pengawet jenis ini diduga bisa menyebabkan
penyakit hati dan memicu kanker.

D. Penyedap
Bahan penyedap rasa merupakan bahan tambahan makanan yang berguna untuk
melezatkan bahan makanan. Penyedap berfungsi menambah rasa nikmat dan
menekan rasa yang tidak diinginkan dari suatu bahan makanan. Bahan penyedap ini
terdapat dalam bentuk alami dan buatan.

1. Penyedap Alami
Bahan penyedap dari bahan alami selalu terdapat di dalam setiap makanan.
Biasanya bahan-bahan ini dicampurkan bersama-sama sebagai bumbu makanan,
beberapa di antaranya :
Bawang merupakan pemberi rasa sedap alami yang paling banyak digunakan.
Merica memberi aroma segar dan rasa pedas yang khas.
Terasi merupakan zat cita rasa alami yang dihasilkan dari bubuk ikan dan udang
kecil yang dibumbui sedemikian rupa sehingga memberi rasa sedap yang khas.
Daun salam memberi rasa sedap pada makanan.
Jahe memberi aroma harum dan rasa pedas khas jahe.
Cabai memberi rasa sedap dan pedas pada setiap masakan.
Daun pandan memberi rasa dan aroma sedap dan wangi pada makanan.
Kayu manis, selain memberi rasa manis dan mengawetkan juga memberi aroma
harum khas kayu manis.

2. Penyedap Buatan
Penyedap buatan yang paling banyak digunakan dalam makanan adalah vetsin
atau monosodium glutamat (MSG) yang sering juga disebut sebagai micin. MSG
merupakan garam natrium dari asam glutamat yang secara alami terdapat dalam
protein nabati maupun hewani. Daging, susu, ikan, dan kacang-kacangan
mengandung sekitar 20% asam glutamat. MSG tidak berbau dan rasanya
merupakan campuran rasa manis dan asin yang gurih.

Mengonsumsi MSG secara berlebihan akan menyebabkan timbulnya gejala-gejala


yang dikenal sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Tanda-tandanya antara
lain berupa munculnya berbagai keluhan seperti pusing kepala, sesak napas, wajah
berkeringat, kesemutan pada bagian leher, rahang, dan punggung.

https://ininisrina.wordpress.com/cerdas/ipa-2/bahan-bahan-kimia-dalam-kehidupan/zat-
adiktif-dan-psikotropika/

Zat adiktif dan psikotropika


A. ZAT ADIKTIF
1. Pengertian Zat Adiktif
Zat adiktif adalah istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan
ketergantungan fisik yang kuat dan ketergantungan psikologis yang panjang (drug
dependence). Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang berasal dari
tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai
menghilangkan rasa sakit, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
2. Macam macam Zat Adiktif
a. Ganja
Ganja atau mariyuana merupakan zat adiktif narkoba dari golongan kanabionoid.
Ganja terbuat dari daun, bunga, biji, dan ranting muda tanaman mariyuana
(Cannabis sativa) yang sudah kering.
Tanda-tanda penyalahgunaan ganja, yaitu gembira dan tertawa tanpa sebab, santai
dan lemah, banyak bicara sendiri, pengendalian diri menurun, menguap atau
mengantuk, tetapi susah tidur, dan mata merah, serta tidak tahan terhadap cahaya
dan badan kurus karena susah makan. Tanda-tanda gejala putus obat (ganja), yaitu
sukar tidur, hiperaktif, dan hilangnya nafsu makan. Tanda-tanda gejala overdosis,
yaitu ketakutan, daya pikir menurun, denyut nadi tidak teratur, napas tidak teratur,
dan mendapat gangguan jiwa.
b. Opium

Opium merupakan narkotika dari golongan opioida, dikenal juga dengan sebutan
candu, morfin, heroin, dan putau. Opium diambil dari getah buah mentah Pavaper
sommiverum.
Opium digunakan untuk menghilangkan rasa sakit karena luka atau menghilangkan
rasa nyeri pada penderita kanker. Namun dalam dosis berlebih dapat
mengakibatkan kecanduan yang akhirnya menyebabkan kematian.
Penggunaannya yang menyalahi aturan dapat menimbulkan rasa sering mengantuk,
perasaan gembira berlebihan, banyak berbicara sendiri, kecenderungan untuk
melakukan kerusuhan, merasakan nafas berat dan lemah, ukuran pupil mata
mengecil, mual, susah buang air besar, dan sulit berpikir. Jika pemakaian obat ini
diputus, akan timbul hal-hal berikut: sering menguap, kepala terasa berat, mata
basah, hidung berair, hilang nafsu makan, lekas lelah, badan menggigil, dan kejang-
kejang. Jika pemakaiannya melebihi dosis atau overdosis, akan menimbulkan hal-
hal berikut: tertawa tidak wajar, kulit lembap, napas pendek tersenggal-senggal, dan
dapat mengakibatkan kematian.
c. Kokain
Kokain termasuk ke dalam salah satu jenis dari narkotika. Kokain diperoleh dari hasil
ekstraksi daun tanaman koka (Erythroxylum coca). Zat ini dapat dipakai sebagai
anaestetik (pembius) dan memiliki efek merangsang jaringan otak bagian sentral.
Pemakaian zat ini menjadikan pemakainya suka bicara, gembira yang meningkat
menjadi gaduh dan gelisah, detak jantung bertambah, demam, perut nyeri, mual,
dan muntah. Seperti halnya narkotika jenis lain, pemakaian kokain dengan dosis
tertentu dapat mengakibatkan kematian.
d. Sedativa dan Hipnotika (Penenang)
Beberapa macam obat dalam dunia kedokteran, seperti pil BK dan magadon
digunakan sebagai zat penenang(sedativa-hipnotika). Pemakaian sedativa-hipnotika
dalam dosis kecil dapat menenangkan, sedangkan dalam dosis besar dapat
membuat orang yang memakannya tertidur.
Gejala akibat pemakaiannya adalah mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk,
malas, daya pikir menurun, bicara dan tindakan lambat. Jika sudah kecanduan,
kemudian diputus pemakaiannya maka akan menimbulkan gejala gelisah, sukar
tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik, dan
kejang-kejang.
Jika pemakaiannya overdosis maka akan timbul gejala gelisah, kendali diri turun,
banyak bicara, tetapi tidak jelas, sempoyongan, suka bertengkar, napas lambat,
kesadaran turun, pingsan, dan jika pemakaiannya melebihi dosis tertentu dapat
menimbulkan kematian.
e. Nikotin
Nikotin dapat diisolasi atau dipisahkan dari tanaman tembakau. Namun, orang
biasanya mengonsumsi nikotin tidak dalam bentuk zat murninya, melainkan secara
tidak langsung ketika mereka merokok. Nikotin yang diisap pada saat merokok dapat
menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, bersifat
karsinogenik sehingga dapat meningkatkan risiko terserang kanker paru-paru, kaki
rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar (emphysema), risiko terkena penyakit
jantung koroner, kemandulan, dan gangguan kehamilan.
f. Alkohol
Alkohol diperoleh melalui proses peragian (fermentasi) sejumlah bahan, seperti
beras ketan, singkong, dan perasan anggur. Alkohol ini sudah dikenal manusia
cukup lama. Salah satu penggunaan alkohol adalah untuk mensterilkan berbagai
peralatan dalam bidang kedokteran.
Tanda-tanda gejala pemakaian alkohol, yaitu gembira, pengendalian diri turun, dan
muka kemerahan. Jika sudah kecanduan meminum minuman keras, kemudian
dihentikan
maka akan timbul gejala gemetar, muntah, kejang-kejang, sukar tidur, dan gangguan
jiwa. Jika overdosis akan timbul gejala perasaan gelisah, tingkah laku menjadi
kacau, kendali turun, dan banyak bicara sendiri.
3. Dampak / Efek yang Dapat Ditimbulkan Zat Adiktif
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Minuman Alkohol
Alkohol dalam minuman keras dapat menyebabkan gangguan jantung dan otot
syaraf,mengganggu metabolisme tubuh, membuat janis menjadi cacat, impoten
serta gangguanseks lainnya.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Ganja
Zat kandungan dalam ganja yang berbahaya dapat menyebabkan daya tahan
tubuh berkurang dan melemah sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi
sertamemperburuk aliran darah koroner.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Halusinogen
Halusinogen dalam tubuh manusia dapat mengakibatkan pendarahan otak.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Kokain
Zat adiktif kokain jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan
kekurangansel darah putih atau anemia sehingga dapat membuat badan kurus
kering. Selain itukokain menimbulkan perforesi sekat hidung (ulkus) dan aritma pada
jantung.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Opiat / Opioda
Zat opioda atau opiat yang masuk ke dalam badan manusia dapat
mengganggumenstruasi pada perempuan / wanita serta impotensi dan konstipasi
khronuk pada pria /laki-laki.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Inhalasia
Inhalasia memiliki dampak buruk bagi kesehatan kita seperti gangguan pada
fungsi jantung, otak, dan lever.
1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Non Obat
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui benda-benda yang disalahgunakan
oleh banyak orang untuk mendapatkan efek tertentu yang dapat mengakibatkan
gangguankesehatan. Contoh barang yang dijadikan candu antara lain seperti
bensin, thiner, racun serangga, lem uhu, lem aica aibon. Efek dari penggunaan yang
salah pada tubuh manusiaadalah dapat menimbulkan infeksi emboli.
B. PSIKOTROPIKA
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik, bukan narkotika
dan berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan fungsinya obat psikotropika dibedakan menjadi tiga yaitu obat stimulan,
obat depresan, dan obat halusinogen:
Obat stimulan ( obat perangsang ) adalah obat yang merangsang system saraf
sehingga orang yang merasakan lebih pwecaya diri dan selalu waspada contoh obat
ini adalah, kafein nikotin dan kokain
Obat depresan ( obat penenang ) adalah obat yang dapat menekan system saraf
sehingga pemakaiannya merasa ngantuk dan tingkat kesadarannyaturun. Contoh
obat jenis ini adalah alcohol dan barbiturate
Obat halusinogen adalah obat yang dapat membelokkan pikiran pemakaiannya
Macam Macam Psikotropika
Zat adiktif hampir semuanya termasuk ke dalam psikotropika, tetapi tidak semua
psikotropika menimbulkan ketergantungan. Berikut ini termasuk ke dalam golongan
psikotropika yang tidak membuat kecanduan, yaitu LSD (Lysergic Acid
Diethylamide) dan amfetamin. Penyalahgunaan kedua golongan psikotropika ini
sudah meluas di dunia.
a. LSD (Lysergic Acid Diethylamide)
LSD merupakan zat psikotropika yang dapat menimbulkan halusinasi (persepsi
semu mengenai sesuatu benda yang sebenarnya tidak ada). Zat ini dipakai untuk
membantu pengobatan bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau sakit
ingatan. Zat ini bekerja dengan cara membuat otot-otot yang semula tegang menjadi
rileks. Penyalahgunaan zat ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang menderita
frustasi dan ketegangan jiwa.
b. Amfetamin
Kita seringkali mendengar pemberitaan di media massa mengenai penjualan
barang-barang terlarang, seperti ekstasi dan shabu. Ekstasi dan shabu adalah hasil
sintesis dari zat kimia yang disebut amfetamin. Jadi, zat psikotropika, seperti ekstasi
dan shabu tidak diperoleh dari tanaman melainkan hasil sintesis. Pemakaian zat-zat
tersebut akan menimbulkan gejalagejala berikut: siaga, percaya diri, euphoria
(perasaan gembira berlebihan), banyak bicara, tidak mudah lelah, tidak nafsu
makan, berdebar-debar, tekanan darah menurun, dan napas cepat. Jika overdosis
akan menimbulkan gejala-gejala: jantung berdebar-debar, panik, mengamuk,
paranoid (curiga berlebihan), tekanan darah naik, pendarahan otak, suhu tubuh
tinggi, kejang, kerusakan pada ujung-ujung saraf, dan dapat mengakibatkan
kematian. Jika sudah kecanduan, kemudian dihentikan akan menimbulkan gejala
putus obat sebagai berikut: lesu, apatis, tidur berlebihan, depresi, dan mudah
tersinggung.
Dampak Negatif Zat Psikotropika
Orang yang menggunakan obat psikotropika akan mengalami gangguan system
saraf. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
Narkotika dapat menyebabkan rasa sakit dan membuat sensasi sehingga
pemakaianya merasa senang karena tidak terganggu masalah yang di
hadapinya. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan
kematian.
Kokain dapat diggunakan untuk pembiusan local. Kokain bersifat stimulan
terhadap sistem saraf sehingga dapat meningkatkan stamina dan mengurangi
kelelahan. Namun penggunan kokain hanya sementara biasanya diikuti
dengan perasan tertekan dan takut (depresi). Penggunaan yang berlebihan
dapat menyebabkan pingsan atau bahkan kematian jika penggunaanya tiba-
tiba dihentikan pecandu akan menderita penyakit dengan tanda-tanda kejang-
kejang, muntah, diare, berkeringat dan sukar tidur.
Morfin dapatmenghilangkan rasa sakit. Namun, morfin menyebabkan rasa
kantuk dan lesu, kebingunan, perasaan kebahagian yang berlebihan (
euforioa ), dan gangguan system pernapasan.
Ekstasi dapat menimbulkan rasa segar dan penuh energi sehingga
pemakaiannya merasa mengantuk. Namun, pemakaiobat ini mengurangi
keinginan untuk minum sehingga dapat mengalami dehidrasi. Penggunaan
dalam waktu lama menyebabkan kehilangan daya ingat dan kemampuan
menggerakan badan.

https://dosenbiologi.com/biokimia/zat-aditif

Zat Aditif Pada Makanan : Pewarna,


Pemanis dan Pengawet
zat aditif sejak dahulu kala sudah digunakan oleh manusia seperti halnya garam, cuka,
jeruk, lada, dan berbagai bahan-bahan lainnya yang selalu digunakan untuk zat penambah
rasa saat memasak. Hal tersebut sesungguhnya hanya mempunyai tujuan dalam membantu
memberikan cita rasa pada makanan dan juga memberikan daya tarik seperti warna pada
makanan sehingga akan memunculkan rasa nafsu makan yang tinggi.

Semua bahan yang dicampurkan pada saat anda memasak makanan selama
proses pengolahannya, proses penyimpanannya, dan proses pengepakannya bisa
disebut sebagai zat aditif makanan.

Jika dilihat dari penggunaan bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam makanan
sangat berbeda antara zaman dahulu dan zaman sekarang. Zaman dahulu manusia
menggunakan bahan alami, sedangkan zaman sekarang manusia banyak
menggunakan bahan sintesis yang dibuat oleh pabrik.

Berdasarkan dengan fungsi pada zat aditif makanan bisa dikategorikan beberapa
jenis, meliputi pewarna, pengawet, pemanis, antioksidan, penyedap, pemutih,
penambah gizi, perenyah dan pengisi, pengering, pemantap, pencegah buih,
pengkilap, dan pencegah lengket. .

Dalam penggunaan zat aditif seperti halnya sintesis wajib melalui tahap pengujian di
laboratorium dan mendapat pengawasan yang sangat ketat, sehingga dipakai sesuai
kadar yang dibutuhkan dan yang menjadi poin penting yakni tidak mempunyai
dampak yang buruk bagi tingkat kesehatan manusia sebagai pengguna sekaligus
pengonsumsinya. .

1. Bahan Pewarna

Jika dibandingkan dengan yang lain, zat aditif yang sering digunakan ialah bahan
pewarna. Penggunaan bahan pewarna yang dilakukan di rumah, biasanya hanya
digunakan untuk menambahkan dan memberi sedikit warna agar tampilan makanan
dan juga minuman menjadi terlihat lebih menarik. Hal tersebut berfungsi untuk
memunculkan dan merangsang nafsu makan.
Pewarna yang digunakan untuk memberikan warna pada makanan dan minuman
terbagi menjadi dua yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Pewarna alami
biasanya didapatkan dengan memanfaatkan tumbuhan dan juga hewan. Misalnya
seperti karamel dari cokelat, warna hijau dari daun suji, warna kuning dari kunyit,
dan lain sebagainya.

Pewarna alami cenderung mempunyai tingkat keamanan yang baik bagi tubuh
manusia, namun jenis dan juga ragamnya bisa dihitung karena sangat terbatas.
Sedangkan pewarna buatan atau pun sintesis, yang mempunyai jumlah ragam dan
jenis yang sangat banyak, namun pewarna buatan tidak baik bagi kesehatan tubuh
manusia sehingga bisa memicu perkembangan dari sel kanker.

Contoh dari pewarna buatan meliputi tartrazine untuk warna kuning, indigo untuk
warna biru. Pada industri makanan dan juga minuman, gizi yang terkandung dalam
pewarna sintesis tidak ada sama sekali dan menyebabkan gangguan pada
kesehatan. Seringkali digunakan untuk campuran dalam pembuatan sirup, permen
ataupun kue.

2. Bahan Pemanis

Hampir semua makanan yang kita jumpai di pasaran memiliki cita rasa yang manis.
Definisi dari pemanis merupakan suatu zat yang dicampurkan pada suatu makanan
dan juga minuman yang mempunyai fungsi sebagai pemberi rasa yakni manis.
Seperti halnya dengan pewarna, pemanis juga dikategorikan menjadi dua yakni
pemanis alami dan pemanis buatan. Pemanis alami seperti gula merah, gula pasir,
dan juga gula tebu.

Kelebihan yang ditawarkan oleh pemanis alami yaitu mempunyai nilai kalori yang
cukup baik dan sangat mudah dilakukan proses pencernaan dalam tubuh.
Sedangkan pemanis buatan mempunyai jenis dan macam yang cukup banyak
seperti halnya sakarin, aspartame, siklamat, sorbitol, asesulfam, dan gliserol.

Bahan-bahan pemanis ini seringkali dipakai untuk campuran pada proses


pembuatan permen, es krim, saus, minuman ringan dan lain sebagainya.
Kandungan kaloriyang ada juga sangat rendah dan ternyata sangat sulit dalam
proses pencernaannya di dalam tubuh.

Jika terjadi kelebihan jumlah kalori yang ada dalam tubuh akan mengakibatkan
obesitas (mempunyai berat badan yang berlebihan). Cara yang bisa anda terapkan
guna mencegah obesitas yakni dengan melakukan penggantian gula yang anda
pakai dengan kalori yang relatif tinggi dengan menggunakan pemanis buatan yang
mempunyai nilai kalori yang lebih rendah.

Pada umumnya pemanis buatan yang sangat mudah dijumpai dan digunakan ialah
asesulfam dan aspartame. Namun di pasaran beberapa pemanis buatan
peredarannya mulai dilarang karena terbukti mempunyai sifat
karsinogenik. Aspartam pertama kali ditemukan untuk digunakan sebagai bahan
pemanis buatan dengan tingkat keamanan yang lebih baik.
Namun asesulfam mempunyai tingkat ketahanan yang lebih baik pada suhu yang
tinggi dibandingkan dengan aspartam yang tidak tahan terhadap suhu yang tinggi.
Aspartam memiliki tingkat kemanisan sebanyak 180 kali lipat jika dibandingkan
dengan gula tebu. Sedangkan nilai kalori yang terkandung adalah 1 banding 160 jika
dibandingkan dengan gula tebu. Kekurangannya, aspartam akan mudah kehilangan
kandungan rasa yang ada apabila disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga
tidak digunakan dalam industri minuman ringan.

3. Bahan Pengawet

Makanan yang kita temui di pasaran kebanyakan tidak mempunyai tingkat keawetan
yang cukup baik, karena diakibatkan oleh bakteri dan juga jamur yang akan
merubahnya menjadi makanan basi. Oleh karena itu diperlukan solusi guna
membuat makanan menjadi lebih awet dan mempunyai daya tahan yang cukup
lama. Proses pengawetan dilakukan hanya berdasarkan pada suatu prinsip untuk
memerangi mikroorganisme-mikroorganisme yang menyebabkan pembusukan,
sehingga mikroorganisme bisa dicegah proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan adanya suatu perkembangan pada ilmu
pengetahuan, maka bisa ditemukan bermacam-macam cara untuk melakukan
pengawetan bahan makanan, yakni sebagai berikut :

Pengeringan

Proses pengeringan bisa dilakukan melalui suatu cara yakni pada proses
penjemuran atau pun pada proses pemanasan sehingga kadar air yang terkandung
dalam makanan akan hilang. Misalnya pada makanan seperti dendeng dan juga ikan
kering dilakukan proses pengeringan.

Pendinginan Atau Pembekuan

Proses pembekuan akan mengakibatkan kadar air yang ada menjadi membeku
sehingga macam-macam bakteri yang ada tidak bisa melakukan perkembangan dan
pertumbuhan. Selain itu bisa digunakan untuk menghambat suatu proses
metabolisme pada suatu bakteri. Misalnya seperti halnya pada bahan makanan
daging dan juga ikan beku.

Pengalengan

Proses ini melewati suatu tahap pemanasan dan selanjutnya akan dilakukan suatu
proses pengemasan dengan metode yang sangat tepat yakni menutupnya dengan
sangat rapat di dalam kaleng dalam keadaan sangat steril sehingga tidak ada bakteri
yang akan masuk. Misalnya seperti pada berbagai macam buah-buahan yang
dikalengkan dan juga susu.

Penyinaran

Sinar ultraviolet atau pun sinar gamma yang bisa digunakan untuk mematikan dan
juga melakukan penghambatan terhadap pertumbuhan dan juga perkembangan
suatu bakteri tanpa melalui proses perusakan pada bahan makanan itu sendiri.
Misalnya seperti perlakuan pada kentang dan juga udang.

Dapat diambil kesimpulan bahwa zat aditif dalam kehidupan sehari-hari manusia di dalam
suatu masyarakat pada umumnya mempunyai dua dampak yakni, dampak negatif jika
penggunaannya melampaui batas maksimal dan dampak positif jika digunakan
sebagaimana mestinya. Sampai disini dulu ya artikel kali ini yang membahas mengenai zat
aditif. Semoga bermanfaat dan terima kasih.