Anda di halaman 1dari 24

TUMOR PAROTIS

3.1 Definisi

Menurut kamus kedokteran Dorland edisi 29, Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru
suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang tidak terkontrol dan progresif, disebut juga
neoplasma. Kelenjar Parotis adalah kelenjar air liur terbesar yang terletak di depan telinga.8

3.2 Epidemiologi

Tumor pada kelenjar liur relatif jarang terjadi, persentasenya kurang dari 3% dari seluruh
keganasan pada kepala dan leher. Keganasan pada tumor kelenajar liur berkaitan dengan
paparan radiasi, faktor genetik, dan karsinoma pada dada.Sebagian besar tumor pada kelenjar
liur terjadi pada kelenjar parotis, dimana 75% - 85% dari seluruh tumor berasal dari parotis
dan 80% dari tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak (benign pleomorphic
adenomas).8,9,10,11

Pemeriksaan sitologik (biopsi jarum kecil) sangat penting dalam diagnostic pembengkakan
yang dicurigai tumor kelenjar ludah. Dengan metode ini pada umumnya dapat dicapai
diagnosis kerja sementara. Dan pada mayoritas tumor klinis dan sitologik benigna, tidak
diperlukan lagi pemeriksaan tambahan dengan pencitraan. 16

Foto rontgen kepala dan leher dapat menunjukkan ada atau tidak ada gangguan tulang, tau
mungkin penting juga untuk diagnostic diferensial (batu kelenjar ludah; kelenjar limfe yang
mengalami kalsifikasi). Foto toraks diperlukan untuk menemukan kemungkinan metastasis
hematogen. Dengan ekografi atau CT, tetapi lebih baik lagi dengan MRI dapat diperoleh
gambaran mengenai sifat pembatasan dan hubungan ruang tumornya: ukuran, lokalisasi,
letaknya di dalam atau di luar kelenjar limfe. Adenoma pleomorf dapat dibedakan dari tumor
kelenjar ludah yang lain dengan MRI. Metode ini tidak dapat membedakan antara tumor
benigna dan maligna. Pemeriksaan dengan rontgen kontras glandula parotidea dan glandula
submandibularis (sialografi) diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut inflamasi (kronik)
atau kalsifikasi dan dapat mempunyai arti untuk diagnosis diferensial.1

.1 Latar Belakang
Tumor parotis adalah tumor yang menyerang kelenjar liur parotis. Dari tiap 5 tumor kelenjar
liur, 4 terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar liur kecil atau submandibularis dan 30 %
adalah maligna. Disebutkan bahwa adanya perbedaan geografik dan suku bangsa: pada orang Eskimo
tumor ini lebih sering ditemukan, penyebabnya tidak diketahui. Sinar yang mengionisasi diduga
sebagai faktor etiologi.
Dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis, kelenjar
submandibularis, dan kelenjar sub lingualis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur utama yang
terbesar dan menempati ruangan di depan prosesus mastoid dan liang telinga luar. Tumor ganas
parotis pada anak jarang didapat. Tumor paling sering pada anak adalah karsinoma
mukoepidermoid, biasanya jenis derajat rendah. Massa dalam kelenjar liur dapat menjadi ganas
seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi tumor ganas yang biasanya terjadi pada orang
dengan usia lebih dari 40 tahun adalah 25 % tumor parotis, 50 % tumor submandibula, dan satu
setengah sampai dua pertiga dari seluruh tumor kelenjar liur minor adalah ganas.
Keganasan pada kelenjar liur sebagian besar asimtomatik, tumbuhnya lambat, dan
berbentuk massa soliter. Rasa sakit didapatkan hanya 10-29% pasien dengan keganasan pada
kelenjar parotisnya. Rasa nyeri yang bersifat episodik mengindikasikan adanya peradangan atau
obstruksi daripada akibat dari keganasan itu sendiri. Massa pada kelenjar liur yang tidak nyeri
dievaluasi dengan aspirasi menggunakan jarum halus (Fine Needle Aspiration) atau biopsi.
Pencitraan menggunakan CT-Scan dan MRI dapat membantu. Untuk tumor ganas, pengobatan
dengan eksisi dan radiasi menghasilkan tingkat kesembuhan sekitar 50%, bahkan pada keganasan
dengan derajat tertinggi.
Tumor jinak rongga mulut yang timbul dari kelenjer saliva minor atau mayor biasanya timbul
pada kelenjer parotis submaksila dan sublingual. Sel-sel pada tumor inti masih memiliki fungsi yang
sama dengan asalnya. (Arif mansoer, 2001). Tumor-tumor jinak dari glandula parotis yang teretak di
bagian medial n.facialis dapat menonjol ke dalam oropharynx, dan mendorong tonsil ke medial.
(Zwaveling, 2006)
Mengingat banyaknya masalah yang dialami akibat yang ditimbulkan, maka perlu adanya
perawatan dan support sistem yang intensif, serta tindakan yang komprehensif melalui proses asuhan
keperawatan, sehingga diharapkan masalah yang ada dapat teratasi dan komplikasi yang mungkin
terjadi dapat dihindari secara dini.
Peran perawat pada kasus tumor parotis meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan
langsung kepada klien yang mengalami tumor parotis, sebagai pendidik memberikan pendidikan
kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti
asuhan keperawatan kepada klien tumor parotis melalui metode ilmiah.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar


2.1.1 Defenisi
Tumor jinak rongga mulut yang timbul dari kelenjer saliva minor atau mayor biasanya timbul
pada kelenjer parotis submaksila dan sublingual. Sel-sel pada tumor inti masih memiliki fungsi yang
sama dengan asalnya. (Arif mansoer, 2001)
Tumor-tumor jinak dari glandula parotis yang teretak di bagian medial n.facialis dapat
menonjol ke dalam oropharynx, dan mendorong tonsil ke medial. (Zwaveling, 2006)
Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel
yang tidak terkontrol dan progresif, disebut juga neoplasma. Kelenjar Parotis adalah kelenjar air liur
terbesar yang terletak di depan telinga. (kamus kedokteran Dorland edisi 29, 2005)

2.1.2 Anatomi Fisiologi


Berdasarkan ukurannya kelenjar saliva terdiri dari 2 jenis, yaitu kelenjar saliva mayor dan
kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari kelenjar parotis, kelenjar submandibularis, dan
kelenjar sublingualis (Dawes, 2008; Roth and Calmes, 1981)

Lokasi tumor
Kelenjar parotis yang merupakan kelenjar saliva terbesar, terletak secara bilateral di depan
telinga, antara ramus mandibularis dan prosesus mastoideus dengan bagian yang meluas ke muka di
bawah lengkung zigomatik (Leeson dkk, 1990; Rensburg, 1995). Kelenjar parotis terbungkus dalam
selubung parotis (parotis shealth). Saluran parotis melintas horizontal dari tepi anterior kelenjar. Pada
tepi anterior otot masseter, saluran parotis berbelok ke arah medial, menembus otot buccinator, dan
memasuki rongga mulut di seberang gigi molar ke-2 permanen rahang atas (Leeson dkk., 1990; Moore
dan Agur, 1995).
Kelenjar submandibularis yang merupakan kelenjar saliva terbesar kedua, terletak pada dasar
mulut di bawah korpus mandibula (Rensburg, 1995). Saluran submandibularis bermuara melalui satu
sampai tiga lubang yang terdapat pada satu papil kecil di samping frenulum lingualis. Muara ini dapat
dengan mudah terlihat, bahkan seringkali dapat terlihat saliva yang keluar (Moore dan Agur, 1995).
Kelenjar sublingualis adalah kelenjar saliva mayor terkecil dan terletak paling dalam. Masing-
masing kelenjar berbentuk badam (almond shape), terletak pada dasar mulut antara mandibula dan
otot genioglossus. Masing-masing kelenjar sublingualis sebelah kiri dan kanan bersatu untuk
membentuk massa kelenjar yang berbentuk ladam kuda di sekitar frenulum lingualis (Moore dan Agur,
1995).
Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar lingualis, kelenjar bukalis, kelenjar labialis, kelenjar
palatinal, dan kelenjar glossopalatinal (Rensburg, 1995). Kelenjar lingualis terdapat bilateral dan terbagi
menjadi beberapa kelompok. Kelenjar lingualis anterior berada di permukaan inferior dari lidah, dekat
dengan ujungnya, dan terbagi menjadi kelenjar mukus anterior dan kelenjar campuran posterior.
Kelenjar lingualis posterior berhubungan dengan tonsil lidah dan margin lateral dari lidah. Kelenjar ini
bersifat murni mukus (Rensburg, 1995).
Kelenjar bukalis dan kelenjar labialis terletak pada pipi dan bibir. Kelenjar ini bersifat mukus
dan serus. Kelenjar palatinal bersifat murni mukus, terletak pada palatum lunak dan uvula serta regio
posterolateral dari palatum keras. Kelenjar glossopalatinal memiliki sifat sekresi yang sama dengan
kelenjar palatinal, yaitu murni mukus dan terletak di lipatan glossopalatinal (Rensburg, 1995).
Fungsi kelenjer ludah ialah mengeluarkan saliva yang merupakan cairan pertama yang
mencerna makanan. Deras nya air liur dirangsang oleh adanya makanan di mulut, melihat, membaui,
dan memikirkan makanan.
Fungsi saliva atau ludah adalah cairan yang bersifat alkali. Ludah mengandung musin, enzim
pencerna, zat tepung yaitu ptialin dan sedikit zat padat. Fungsi ludah bekerja secara fisis dan secara
kimiawi.

2.1.3 Etiologi
1. Idiopatik
Idiopatik adalah jenis yang paling sering dijumpai. Siklus ulserasi yang sangat nyeri dan
penyembuhan spontan dapat terjadi beberapa kali disdalam setahun. Infeksi virus, defisiensi nutrisi,
dan stress emosional, adalah factor etiologik yang umum.

2. Genetik
Resiko kanker / tumor yang paling besar diketahui ketika ada kerabat utama dari pasien
dengan kanker / tumor diturunkan dominan autososom. Onkogen merupakan segmen dna yang
menyebabkan sel meningkatkan atau menurunkan produk produk penting yang berkaitan dengan
pertumbuhan dan difesiensi sel .akibatnya sel memperlihatkan pertumbuhan dan penyebaran yang
tidak terkendali semua sifat sieat kanker fragmen fragmen genetic ini dapat merupakan bagian dari
virus virus tumor.
3. Bahan-bahan kimia
obat-obatan hormonal Kaitan hormon hormon dengan perkembangan kanker tertentu telah
terbukti. Hormon bukanlah karsinogen, tetapi dapat mempengaruhi karsigogesis Hormon dapat
mengendalikan atau menambah pertumbuhan tumor.
4. Faktor imunologis
Kegagalan mekanisme imun dapat mampredisposisikan seseorang untuk mendapat kan
kanker tertentu.Sel sel yang mempengaruhi perubahan { bermutasi} berbeda secara antigenis dari sel
sel yang normal dan harus dikenal oleh system imun tubuh yang kemudian memusnahannya.Dua
puncak insiden yang tinggi untuk tumbuh nya tumor pada masa kanak kanak dan lanjut usia, yaitu dua
periode ketika system imun sedang lemah. (Sr. Mari Baradero.2008.hal10)

2.1.4 Patofisiologi
Kelainan peradangan Peradangan biasanya muncul sebagai pembesaran kelenjer difus atau
nyeri tekan. Infeksi bakterial adalah akibat obstruksi duktus dan infeksi retograd oleh bakteri mulut.
Parotitis bacterial akut dapat dijumpai pada penderita pascaoperasi yang sudah tua yang mengalami
dehidrasi dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus.
Tumor-tumor Dari semua tumor kelenjer saliva, 70% adalah tumor benigna, dan dari tumor
benigna 70% adalah adenoma plemorfik. Adenoma plemorfik adalah proliferasi baik sel epitel dan
mioepitel duktus sebagaimana juga disertai penigkatan komponen stroma. Tumor-tumor ini dapat
tumbuh membesar tanpa menyebabkan gejala nervus vasialis. Adenoma plemorfik biasanya muncul
sebagai masa tunggal yang tak nyeri pada permukaan lobus parotis. Degenerasi maligna adenoma
plemorfik terjadi pada 2% sampai 10%.
Tumor-tumor jinak dari glandula parotis yang terletak di bagian medial n.facialis, dapat
menonjol ke dalam oropharynx, dan mendorong tonsil ke medial. Tumor-tumor jinak bebatas tegas dan
tampak bersimpai baik dengan konsistensi padat atau kistik.
Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh infeksi telinga yang berulang dan juga dapat
menyebabkan ganguan pendengaran.
Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh peradangan tonsil yang berulang.

2.1.5 Web Of Coution


2.1.6 Tanda dan gejala
1. Adanya benjolan yang mudah digerakkan
2. Pertumbuhan amat lambat
3. Tidak memberikan keluhan
4. Paralisis fasial unilateral
(Shirley E. Otto, 2003)

2.1.7 Klasifikasi
Penggolongan histologik tumor-tumor kelenjer ludah, (Thackray, 1972). Tumor tumor
epithelial
1. Adenoma
1) Pleimorph adenoma (meng. tumor)
2) Monomorph adenomas
(1) Adenolimfoma (tumor dari warthin)
(2) Oxifil adenoma (onkositoma)
(3) Jenis-jenis lain (tipe lain)
2. Tumor muko epidermoid
3. Tumor sel asinus
4. Karsinoma
1) Karsinoma adenoid kistik (silindroma)
2) Adenokarsinoma
3) Karsinoma planoselulare
4) Undifferentiated carcinoma
5) Karsinoma dalam adenoma pleimorph (maligna meng. tumor)

2.1.8 Komplikasi
Komplikasi komplikasi pengobatan kanker kepala dan leher dapat di kelompokkan
sebagai anatomis, fisiologis, teknik atau fungsional. Pendekatan paling baik pada komplikasi adalah
pencegahan. Perbaikan dini keseimbangan mellitus, dan penghentian ketergantungan alcohol adalah
pengukuran non-spesifik yang penting. Penggunaan antibiotic praoperasi tampaknya menurunkan
kecendrengunan infeksi luka dan gejala sisa nya. Pengobatan radiasi pra operasi diberikan dalam
dosis terapeutik jelas meningkatkan resiko komplikasi. Pendidikan untuk penderita sangat penting
untuk mendapatkan kerjasama dimana mungkin terjadi penyulit rehabilitasi pascaoperasi.(Schwartz
,2000)

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan rontgen
Foto foto rontgen tengkorak dan leher kadang-kadang dapat menunjukan ikut sertanya
tulang-tulang. Sedangakan foto thorax diperlukan untuk penilaian kemungkinan metastasis hematogen.
Pemeriksaan rontgen glandula parotis dan submandibularis dengan bahan kontras (sialografi)
dapat menunjukan, apakah tumor yang ditetapkan klinis itu berasal dari atau berhubungan dengan
kelenjer-kelenjer ludah tersebut. Pemeriksaan ini penting untuk membedakan antara suatu tumor
dengan radang (khronik), dan kalau dapat ditambah dengan temografi. Metode ini kurang berguna
untuk membedakan antara tumor jinak dan ganas. (Zwaveling, 1985)
2. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap, urin.
2) Laboratorium patologi anatomi

3. Pemeriksaan CT-Scan
Diagnosa dari suatu tumor dapat tergantung pada batas-batas tumor dan hasil biobsi dari
lesi. Kanker dari organ-organ visceral lebih sulit di diagnosis dan di biobsi. Informasi dari pemeriksaan
CT-Scan dapat bermanfaat untuk membantu mendiagnosis.

2.1.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis untuk tumor parotis yaitu dengan tindakan ekstervasi (pengangkatan)
Glandula submandibularis dan glandula sublingualis
tumor jinak : Eksis local yang luas dari seluruh kelenjer ludah dengan sebagian daerah sekitarnya.
tumor ganas : Disseksi kelenjer leher en-bloc dan eksisi luas kedua kelenjer ludah, radioterapi.
Massa tersendiri pada kelenjer saliva harus dipertimbangkan sebagai suatu kemungkinan
keganasan. Riwayat dan pemeriksaan fisik memberikan tanda-tanda penting apakah suatu lesi kelenjer
saliva adalah keganasan. Resolusi lengkap dan trial terapeutik adekuat. Aspirasi jarum halus dapat
membantu untuk merencanakan bedah eksisi. MRI memberikan informasi anatomi paling baik tentang
ukuran tumor dan penetrasi. Sialografi, atau injeksi bahan kontras ke dalam duktus stenson atau
Wharton, berguna untuk memperlihatkan perbedaan perubahan stenotik kronis pada lesi-lesi
limfoepitelial dari penyumbatan karena batu. 80% batu kelenjer submandibular adalah radioopak.
(Schwartz, 2000)

Penatalaksanaan non medis


Tumor parotis juga dapat diobati dengan obat tradisional atau disembuhkan dengan meminum
rebusan daun sirsak. Kanker merupakan penyakit yang mematikan dan pengobatan nya melewati
kemoterapi. Pengobatan-pengobatan kimia walaupun berhasil membunuh kanker, tetapi tidak menutup
kemungkinan, sel-sel akan tumbuh kembali dan menyebar. Daun sirsak baru diketahui memiliki khasiat
sebagai pembunuh kanker, walaupun sebenarnya khasiat ini sudah ditemukan dari beberapa tahun
silam. Menurut hasil riset Dr. Jerry McLaughlin dari Universitas Purdue, Amerika Seikat, daun sirsak
mengandung senyawa acetoginis yang terdiri dari annomuricin F yang bersifat sitotoksik atau
membunuh kanker. Untuk pengobatan, daun sirsak selain di konsumsi tunggal, akan lebih baik bila di
konsumsi berbarengan dengan herbal jenis lainnya seperti sambiloto, temu putih atau temu mangga.
Perpaduan beberapa jenis herbal akan bersifat sinergis dan saling mendukung untuk mempercepat
proses penyembuhan penyakit.

2.2 Asuhan Keperawatan Teoritis


2.2.1 Pengkajian
Pengakjian merupakan langkah awal dasar dari proseskeperawatan. Tujuan utama dari
pengkajian ini adalah untuk mendapatkan data secara lengakap dan akurat karena dari data tersebut
akan ditentukan masalah keperawatan yang dihadapi klien.
1. Pengkajian umum :
1) Identitas klien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal pengkajian, diagnosa medis,
rencana terapi
2) Identitas penanggung jawab : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat
3) Alasan masuk rumah sakit
2. Data riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat klien pernah menderita penyakit akut / kronis, Riwayat klien pernah menderita tumor
lainnya, Riwayat klien pernah memakai kontrasepsi hormonal, pil ,suntik dalam waktu yang lama,
Riwayat klien sebelumnya sering mengalami peradangan kelenjer parotis.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Perlu diketahui:
(1) Lamanya sakit
Lamanya klien menderita sakit kronik / akut
(2) Factor pencetus
Apakah yang menyebabkan timbulnya nyeri, sters, posisi, aktifitas tertentu
(3) Ada tidak nyakeluhan sebagai berikut: demam, batuk, sesak nafas, nyeri dada, malaise
3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular atau kronis.Menderita
penyakit kanker atau tumor.
3. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
2) TTV
3) Tingkat kesadaran
4) Rambut dan hygiene kepala.
Keadaan rambut biasanya kotor, berbau, biasanya juga ada lesi, memar,dan bentuk kepala
5) Mata
Pemeriksaan mata meliputi konjungtiva, sclera mata, keadaan pupil
6) Gigi dan mulut
Meliputi kelengkapan gigi, keadaan gusi, mukosa bibir, warna lidah, peradangan pada tonsil.
7) Leher
(1) Inspeksi dalam keadaan istirahat
pembengkakan yang abnormal, Penderita juga diperiksa dari belakang. Kulitnya abnormal,
Dinilai saluran-saluran keluar kelenjer ludah dan melakukan pemeriksaan intraoral
(2) Inspeksi pada gerakan
Dinilai fungsi n.facialis, n.hipoglosus dan otot-otot, trismus fiksasi pada sekitarnya ada
pembnengkakkan atau tidak.
(3) Palpasi
Selalu bimanual, dengan satu jari di dalam mulut dan jari-jari tangan lainnya dari luar. Tentukan
lokalisasi yang tepat, besarnya (dalam ukuran cm), bentuk, konsistensi dan fiksasi kepada sekitarnya.
(4) Stasiun-stasiun kelenjer regional
Selalu dinilai dengan teliti dan dicatat besar, lokalisasi, konsistensi, dan perbandingan terhadap
sekitarnya. Selalu diperlukan pemeriksaan klinis daerah kepala dan leher seluruhnya.
8) Dada / thorak
Biasanya jenis pernapasan klien dada dan perut, terjadi perubahan pola nafas dan lain-lain

9) Cardiovaskuler
Biasanya akan terjadi perubahan tekanan darah klien dan gangguan irama jantung
10) Pencernaan/Abdomen
Ada luka, memar, keluhan (mual, muntah, diare) dan bising usus
11) Genitalia
Kebersihan dan keluhan lain nya
12) Ekstremitas
Pembengkakan, fraktur, kemerahan, dan lain-lain.
13) Aktifitas sehari-hari
Pada aktifitas ini biasanya yang perlu diketahui adalah masalah, makan, minum, bak, bab,
personal, hygine, istirahat dan tidur. Biasanya pada klien dengan tumor parotis tidak terjadi keluhan
pada saat beraktifitas karena kien tidak ada mengeluhkan nyeri sebelum dilakukan operasi.
14) Data social ekonomi
Menyangkut hubungan pasien dengan lingkungan social dan hubungan dengan keluarga
15) Data psikologis
Kesadaran emosional pasien
16) Data spiritual
Data diketahui, apakah pasien/keluarga punya kepercayaan yang bertentangan dengan
kesehatan.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan pada
lambung sekunder akibat dari terapi radiasi.
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang terapi radiasi, takut terhadap aspek-
aspek tindakan.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kulit yang rusak, trauma jaringan (insisi bedah)
4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
pemajanan/mengingat, kesalahan interprestasi informasi
(Doenges, 1999)

Engel, Joyce, 1999, Pengkajian Pediatrik, Edisi 2, EGC, Jakarta.


Ester, Monica, 2002, Keperawatan Medikal Bedah ; Pendekatan Sistem
Gastrointestinal, EGC, Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jilid I, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Prabu, B. D. R, 1996, Penyakit Penyakit Infeksi Umum, Jilid I, Widya Medika,
Jakarta.
Rosa, M. Sacharin, 1993, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 EGC, Jakarta.
Soedarto, 1996, Penyakit Penyakit Infeksi di Indonesia, Widya Medika,
Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Ilmu Kesehatan Anak,
Infomedika, Jakarta.
Suriadi, dkk, 2001, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I, CV. Sagung,
Jakarta.
Tambayong, Jan, 2000, Patofisiologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta.
Tambunan, Gani W, 1994, Patologi Gastroenterologi, EGC, Jakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN KANKER
ASKEP KANKER
pengertian
Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah
genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan
pertumbuhan sel-sel.
Kanker adalah istilah umum untuk petumbuhan sel tidak normal(yaitu, tumbuh
sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke
jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan
merupakan penyakit menular. (mengenal seluk beluk kaker.2008)
Kanker merupakan penyakit atau kelainanpada tubuh sebagai akibat dari sel
sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, di luar batas dan sangat
liar.(kanker,pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007)
Jenis jenis kanker
Beberapa jenis kanker yang telah dikenal sampai saat ini :
1) Karsinoma
Merupakan jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh
atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan epitel seperti sel kulit, testis,
ovarium, kelenjar mukus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rektum,
lambung, pankreas, dan esofagus.
2) Limfoma
Merupakan kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya
jaringan limfe, lakteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus dan sumsum tulang.
Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit hodgkin (kanker kelenjar limfe dan
limfa)
3) Leukimia
Leukimia tidak membentuk massa tumor, tetapi memnuhi pembuluh darah dan
mengganggu fungsi sel darah normal.
4) Sarkoma
Merupakan kanker jaringan penunjang yang berada di bawah permukaan tubuh
seperti jaringan ikat, termasuk sel sel yang ditemukan diotot dan tulang.
5) Glioma
Merupakan kanker susunan saraf, misalnya sel sel glia (jaringan penunjang)
disusunan saraf pusat
6) Karsinoma insitu
Ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang
masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi prainvasif
(kalian/luka yang belum menyebur). (kanker,pengenalan, pencegahan dan
pengobatannya, 2007)
Lokasi kanker
1) Kanker kolorektal
Tanda dan gejala kanker kolon pada lansia dapat meliputi perdarahan rektal,
darah merah atau hitam dalam feces, perubahan kebiasaan BAB (konstipasi atau
diare, feses yang mengecil). Tumor dalam kolon kanan dapat menjadi besar dan
dapat menyebabkan nyeri tumpul yang samar samar dan rasa tidak nyaman
pada abdomen. Tumor dalam kolon kiri cenderung lebih kecil dan lebih
berinfiltrasi, dengan perdarahan dan kemungkinan obstruksi usus.
2) Kanker paru
Resiko kanker paru 10 kali lebih tinggi pada perokok dari pada orang yang tidak
merokok. Tingginya mortalitas akibat kanker paru sebagian disebabkan karena
diagnosis yang terlambat, biologis tumor yang agresif, seringnya metastasis ke
otak dan organ organ vital yang lain, dan tidak efektifnya pengobatan
konvensional. Tidak seperti kanker payudara, deteksi dini kanker paru tidak
menjamin kesempatan yang baik untuk penyembuhan. Gejala batuk yang
menetap, batu dengan sputum berdarah, atau kesulitan bernapas dapat
mengindikasikan kanker paru. Keletihan dan kehilangan berat badan secara tiba
tiba sering merupakan gejala dari penyakit yang lebih lanjut.
3) Kanker payudara
Selain adanya massa, tanda tanda kanker yang lain adalah retraksi kulit atau
adanya lubang kecil pada kulit dan adanya perubahan kontur payudara dari yang
biasanya. Sekresi serosanguinosa dari puting susu (jarang) pada wanita yang
berusia lebih dari 50 tahun sering dikaitkan dengan kanker payudara.
Pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan jika ditemukan benjolan atau jika
mamogram mecurigakan atau kedua duanya dapat meliputi aspirasi cairan dari
kista, ultrasonografipada area tersebut, dan biopsi lesi.
4) Kanker ginekologik
Kanker ovarium sebagai kanker ginekologi yang paling sering meningkat dengan
bertambahnya usia. Faktor resiko yang berhubungan dengan kanker ini termasuk
riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan infertilitas. Pembesaran pinggul
dan rasa tidak nyaman pada abdomen adalah gejala yang mungkin terjadi pada
kanker ovarium.
5) Kanker prostat
Kanker prostat adalah penyebab kedua kanker pada pria lansia dan merupakan
penyebab ketiga kematian akibat kanker pada pria yang berusia 65 tahun atau
lebih. Gejala gejala tidak terjadi sampai kanker telah menyerang daerah
sekitarnya atau telah menyebar dan pada umumnya termasuk kesulitan dalam
berkemih, hematuria, dan nyeri punggung atau tulang,
6) Kanker kulit
Pemeriksaan kulit seseorang secara mandiri dapat berguna untuk deteksi dini
lesi kulit yang mencurigakan yang mungkin merupakan kanker atau premalignan.
Adanya perubahan pada kulit dan tahi lalat harus dikaji. Kaker kulit yang paling
serius melanoma maligna, lebih mematikan pada lansia dan telah meningkat
secara dramatis pada orang yang berusia 65 tahun dan lebih dalam waktu 20
tahun terakir ini.
7) Kanker gastrointerstinal
Berbagai macam tumor GI adalah penyebab morbiditas dan mortalitas yang
penting pada populasi lansia.
a) Kanker lambung
Gejala- gejalanya biasanya terjadi setelah penyakit berada pada tahap lanjut dan
termasuk nyeri epigastrik, penurunan berat badan , rasa penuh pada lambung
setelah makan sejumlah kecil makanan dan hematemesis. Intervensi
pembedahan pada umumnya merupakan satu satunya kemungkinan untuk
penyembuhan kanker lambung.
b) Kanker pancreas
Penggunaan tembakau dan pankreatitis kronis adalah faktor resiko yang penting.
Penapisan rutin tidak dianjurkan dan gejala gejala mungkin tidak spesifik.
Pembedahan mungkin dapat menyembuhkan, tetapi kemoterapi dan radiasi lebih
sering diguakan untuk upaya paliatif.
c) Kanker esophagus
Kesulitan menelan dan nyeri epigastrik adalah gejala potensial dari kanker
esophagus. Kanker yang berhubungan dengan tembakau ini lebih sering terjadi
pada mereka yang berusia 60-an dan 70-an. Intervensi pembedahan mungkin
dapat menyembuhkan tetapi sebagian besar pasien mendapatkan kemoterapi

atau terapi radiasi untuk upaya paliatif. Kanker kandung kemih


Hematuria, sering berkemih, dan kesulitan dalam berkemih yang merupakan
gejala umum infeksi kandung kemih, juga dapat menjadi gejala gejala kanker
kandung kemih. Pasien yang bergejala memerlukan suatu pemeriksaan
termasuk pemeriksaan sistoskopi kandung kemih, termasuk biopsy. Penggunaan
temabakau juga merupakan faktor resiko untuk kanker ini.
9) Kanker kepala dan leher
Kanker ini sering terjadi pada lansia terutama pada pria lansia. Konsumsi alkohol
dan penggunaan tembakau merupakan faktor resiko yang penting. Pengkajian
rongga mulut sangat penting. Kesulitan menelan, suara serak, massa pada leher,
atau terjadinya lesi baru dalam daerah mulut harus dikaji lebih lanjut.
Pembedahan dan terapi radiasi mungkin menyembuhkan tetapi dapat
mengakibatkan morbiditas dan distsres psikologis yang signifikan. (Buku Ajar
Keperawatan Gerontik,2006)
Gejal umum, komplikasi, diagnosis, dan stadium kanker
Gejala umum kanker biasanya tergantung pada jenis, tempat dan stadium
kanker. Dari sini kemudian, gejala umum kanker adalah sebgai berikut :
1) Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena ( misal ada benjolan di
payudara, diperut, dll)
2) Terjadi perubahan warna (misal perubahan warna tahi lalat)
3) Demam kronis
4) Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada
kanker leher).
5) Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih (misal
perubahan pola BAB, BAB berdarah,dsb)
6) Penurunan nafsu makan dan berat badan
7) Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan abnormal dari
puting payudara).
Sedangkan dilihat dari penyebabnya, komplikasi akibat kanker dibagi menjadi 3
yaitu :
1) Akibat langsung kanker (misalnya, sumbatan saluran cerna pada kanker usus,
patah tulah pada kanker tulang, dst)
2) Akibat tidak langsung (misalnya, demam, penuruna berat badan, anemia,
penurunan kekebalan tubuh, dsb)
3) Akibat pengobatan (misalnya, pembengkakan akiba sumbatan kelenjar getah
bening pada radiasi kanker payudara, gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel
darah, kebotakan pada kemoterapi)
Sedangkan diagnosa umum untuk kanker ini didasarkan pada hal hal sebagai
berikut :
1) Gejala yang dirasakan pasien
2) Temuan pada pemeriksaan fisik
3) Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap petanda tumor
4) Pemeriksaan radiology: roentgen, CT-Scan, MRI, USG
5) Diagnosis pasti adalah melalui pemeriksaan patologi anatomi.
Sedangkan penentuan stadium kanker biasanya diklasifikasikan dulu menurut
sistem TNM ( tumor, node, metastase) sebagai berikut :
1) Tumor : besar atau luas tumor asal (Tis = tumor belum menyebar ke jaringan
sekitar; T1-4 =ukuran tumor)
2) Node: penyebaran kanker ke kelenjar getah bening ( N0=tidak menyebar ke
kelenjar getah bening; N1-3= derajat penyebaran)
3) Metastase: ada atau tidaknya penyebaran ke organ jauh (M0=tidak
ada/M1=ada)
Tujuan klasifikasi TNM adalah untuk perencanaan pengobatan, menentukan
prognosis, evaluasi hasil pengobatan, dan juga untuk pertukaran informasi antar
pusat pengobatan kanker.
Sehingga terdapat stadium kanker I,II,III,IV, stadium I dan II di sebut juga stadium
dini, sedangkan stadium III,IV disebut juga lokal lanjut atau stadium IV disebut
juga stadium lanjut atau telah bermetastase.(mengenal seluk beluk kanker,2008)
faktor resiko
1) riwayat keluarga
orang orang dewasa dengan riwayat kanker keluarga yang kuat harus dipantau
secara hati hati melalui program penapisan. Penemuan baru baru ini
mengungkapkan gen gen yang terkait dengan kanker payudara dan kanker
lainnya memiliki implikasi yang penting untuk penapisan dan penanganan
kanker. Namun jenis jenis tumor dengan predis posisi genetic seperti kanker
payudara dan kanker kolon sering terjadi pada orang dewasa muda. Sebagian
besar kanker payudara dan kolon terjadi pada orang orang tanpa adanya
kaitan genetic yang diketahui.
2) merokok dan penggunaan tembakau
merokok dihubungkan dengan satu pertiga kematian akibat kanker terutama
kanker paru, kepala dan leher, kendung kemih, ginjal, esophagus, pancreas, dan
serviks. Pada saat ini, merokok dihubungkan dengan 45% dari senua kemtian
akibat kanker pada pria dan 21,5 % kematian akibat kanker pada wanita.
3) diet, berat badan dan latihan
diet dikaitkan dengan satu pertiga dai seluruh kematian akibat kanker. Diet
makanan seumur hidup yang tinggi lemak hewani dan rendah serat telah
dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kolon, payudara dan prostat.
Makanan yang tinggi nitrat telah dikaitkan dengan peningkatana resiko kanker
kolon dan lambung. Obesitas dan diet tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan
resiko kanker payudara dan kolon. Kurangnya olahraga juga dikaitkan dengan
peningkatan resiko kanker kolon. Penggunaan alkohol berat dihubungkan
dengan kanker pada daerah kepala dan leher dan kanker hepar.
4) pajanan sinar matahari
kanker kulit yang paling mematikan, melanoma maligna meningkat dengan
kecepatan terbesar dari semua kanker. Pencegahan primer meliputi
meminimalkan pajanan terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan tabir
surya, memakai pakaian yang dapat melindungi, dan membatasi aktivitas diluar
rumah sampai waktu waktu matahari tidak berada di puncak.
5) bahaya bahaya lingkungan
pajanan sebelumnya terhadap karsinogen karsinogen di tempat kerja seperti
asbestos sangat penting di kaji pada lansia. Bahan kimia dan zat zat lain di
tempat kerja yang telah dikaitkan denga peningkatan insidensi kanker termasuk
kromium dan asbestos. Untuk banyak karsinogen ini pajanan yang
dikombinasikan dengan merokok secara signifikan telah meningkatkan resiko
kanker.
6) pengeruh hormonal
resiko kanker payudara meningkat secara dramatis dengan penuaan.
Menapouse setelah usia 55 tahun dikaitkan dengan dua kali resiko kanker
payudara dibandingkan dengan menapouse sebelum usia 45 tahun. Penggunaan
kontrasepsi oral secara kurang meyakinkan telah dikaitkan dengan peningktan
resiko kanker payudara, tetapi penggunaannya telah menunjukkan dapat
mengurangi resiko kanker endometrium.
7) riwayat kanker
adanya riwayat kanker pada seseorang telah menempatkan orang tersebut pada
resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya jenis jenis kanker primer
lain.Perilaku pencegahan sangat penting bagi jutaan orang amerika yang saat ini

hidup dengan suatu riwayat kanker. masalah pengobatan dan penanganan


lain.
Kanker dapat dihubungkan dengan adanya atau kadang kadang penanganan
kondisi kondisi medis yang lain. Resiko kanker lambung contohnya meningkat
dengan adanya penyakit lambung yang lain seperti gastritis, aklorhidria, dan
ulkus lambung. Diabetes dan hipertensi telah dikaitkan dengan peningkatan
resiko kanker endometrium. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)
Penaganan kanker
1) Kemoterapi
Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker
Indikasi dan prinsip :
a) Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu
sel normal
b) Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif
c) Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya
d) Obat kemotherapi umumnya sangat toksik, teliti/cermat evaluasi kondisi
pasien
Kompilaksinya :
1) Efek samping :
nausea, vomiting
alopecia
rasa (pengecap) menurun
mucositis
2) Toksik :
hematologik : depresi sumsum tulang, anemia
ginjal, hepar.(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)
2) Radiotherapy
a) Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals
(radionuclides).(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)
b) Terapi radiaisi eksternal yaitu pengobatan noninvasive dan mungkin lebih
sering disarankan untuk lansia lemah yang tidak mampu menjalani pembedahan.
(Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)
3) Pembedahan
Pembedahan dapat digunakan sebagai upaya kuratif atau digunakan untuk
meingkatkan kualitas hidup. Pembedahan kurang menimbulkan debilitasi dari
pada kemoterapi atau terapi radiasi untuk pasien yang cukup sehat utnuk
menjalani anastesi dan hanya merupakan satu satunya terapi untuk banyak
lansia dengan kanker. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)
4) Immunoterapi
Immunoterapi yang disebut juga terapi biologis merupakan jenis pengobatan
kanker yang relative baru. Sekalipun demikian diperkirakan akan segera maju
pesat dan menjadi andalan para dokter dalam upaya penyembuhan kanker
secara total.
Tidak beda dengan imunisasi pada umumnya, immunoterapi bertujuan untuk
meningkatkan kekebalan tubuh guna melawan sel sel kanker. Ada tiga macam
immunoterapi, yaitu aktif (vaksin kanker), pasif, dan terapi adjuvant.
5) Terapi gen
Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara:1) mengganti gen yang rusak atau
hilang, 2) menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap
pembentukan sel kanker , 3) menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih
mudah dideteksi dan di hancurkan oleh system kekebalan tubuh, kemoterapi,
maupun radioterapi, 4) menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan
pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel sel kankernya mati.
peran perawat
Promotif sampai dengan rehabilitatif
1) Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostic
2) Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual
3) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien
4) Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap
keganasan
5) Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi
6) Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
7) Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker.
(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)
asuhan keperawatan
1) identitas
kanker sering didiagnosis pada orang orang yang berusia 65 tahun atau lebih.
Kejadian kanker sering di derita pada wanita di bandingkan pria.
2) keluhan utama
keluhan biasanya disesuaikan dengan jenis dan lokasi kanker yang dialami oleh
klien.
3) riwayat penyakit sekarang

gejala kanker yang dialami klien pada umumnya adalah sebagai berikut
emam kronis,Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan
suara (pada kanker leher).Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/
kandung kemih, Penurunan nafsu makan dan berat badan, Keluarnya cairan atau
darah tidak normal.
4) riwayat penyakit dahulu
untuk mengetahui apakah klien pernah menderita kanker sebelumnya atau
pernah melakukan program terapi / pengobatan kanker
5) riwayat penyakit keluarga
untuk mengetahui apakah dalam keluarganyaada yang menderita kanker seperti
yang dialami klien saat ini. Karena bila ada keluarga ada yang menderita kanker,
resiko tinggi untuk keturunannya.
6) pemeriksaan fisik
a) sistem integument
Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus
Inspeksi kemerahan & gatal, eritema
Perhatikan pigmentasi kulit
Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah
b) system gastrointerstinal
Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian
kemotherapi
Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
Kaji diare & konstipasi
Kaji anoreksia
Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan
c) system hematopoetik
1. Kaji Netropenia
Kaji tanda infeksi
Auskultasi paru
Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe
Kaji suhu
2. Kaji Trombositopenia : <>
3. Kaji Anemia
Warna kulit, capilarry refill
Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo
d) Sistem Respiratorik & Kardiovaskular
Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif
terutama bleomisin
Kaji tanda CHF
Lakukan pemeriksaan EKG
e) Sistem Neuromuskular
Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik
Perhatikan adanya parestesia
Evaluasi refleks
Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki
Kaji gangguan pendengaran
Diskusikan ADL
f) Sistem Genitourinari
Kaji frekwensi BAK
Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine
Kaji : hematuria, oliguria, anuria
Monitor BUN, kreatinin
7) Diagnosa keperawatan
a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan
jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi),
efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit
tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan
hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi,
radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap,
nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri
c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak
normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur
invasive
e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia
f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan
kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan

kematian, pemisahan dengan keluarga Rencana asuhan keperawatan


a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan
jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi),
efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit
tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 224 jam nyeri berkurang
Kriteria hasil :
Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas. Melaporkan nyeri yang
dialaminya. Mengikuti program pengobatan. Mendemontrasikan tehnik relaksasi
dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin.
Intervensi :
1) Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan
2) Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien
dan keluarga tentang cara menghadapinya
Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah
menyebabkan komplikasi.
3) Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti
mendengarkan musik atau nonton TV
Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa
nyeri.
4) Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi,
bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan
ansietas.
5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai
sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien
akan obat-obatan anti nyeri.
6) Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien
Agar terapi yang diberikan tepat sasaran
7) Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll
Untuk mengatasi nyeri.
b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan
hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi,
radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap,
nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 224 jam kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria hasil:
Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda
malnutrisi. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat.
Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan
penyakitnya.
Intervensi :
1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan
kebutuhannya.
Memberikan informasi tentang status gizi klien.
2) Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat
badan.
Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
3) Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.
4) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake
cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
Kalori merupakan sumber energi.
5) Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan
yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan
penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat
meningkatkan ansietas.
6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama
teman atau keluarga
Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.
7) Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.

Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan


Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
9) Amati studi laboratorium seperti total limposit, serum transferin dan albumin
Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat
perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.
10) Berikan pengobatan sesuai indikasiPhenotiazine,antidopaminergic,
corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacid
Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan
status kesehatan klien.
11) Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral,
imbangi dengan infus.
Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan
tepat sesuai kebutuhan.
c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak
normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 124 jam kebutuhan cairan
terpenuhi.
Kriteria hasil:
Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal,- membran
mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.
Intervensi :
1) Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti
emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.
2) Timbang berat badan jika diperlukan.
Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan
cairan.
3) Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi
dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengandehidrasi.
4) Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan
pada klien.
Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya
hipovolemia.
5) Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
6) Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran
mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie
Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.
7) Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.

Mencegah terjadinya perdarahan. Kolaboratif berikan cairan IV bila


diperlukan.
Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
9) Berikan therapy antiemetik.
Mencegah/menghilangkan mual muntah.
d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur
invasive
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 224 jam resiko
infeksi berkurang
Kriteria hasil :
Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan
infeksi. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka
berlangsung normal
Intervensi :
1) Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan
melakukan hal yang sama.
Mencegah terjadinya infeksi silang.
2) Jaga personal hygine klien dengan baik.
Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.
3) Monitor temperatur.
Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi
4) Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi
Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi
5) Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.
Mencegah terjadinya infeksi.
6) Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets
Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi
7) Berikan antibiotik bila diindikasikan
Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi
organisme penyebab infeksi.
e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia
Tujuan : sdetelah dilakukan tiindakan keperawatan selama 124 jam resiko
kerusakan integritas kulit berkurang
Kriteria hasil :
Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi
spesifik. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan
penyembuhan.
Intervensi :
1) Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati
penyembuhan luka.
Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan
identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.
2) Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
3) Ubah posisi klien secara teratur.
Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
4) Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak,
bedak tanpa rekomendasi dokter.
Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif
f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan
kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan
kematian, pemisahan dengan keluarga
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 124 jam cemas yang
dirasakan klien berkurang
Kriteria hasil :
Klien dapat mengurangi rasa cemasnya. Rileks dan dapat melihat dirinya secara
obyektif. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam
pengobatan.
Intervensi :
1) Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar
untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi
2) Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses
penyakitnya.
3) Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut,
konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
Dapat menurunkan kecemasan klien
4) Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan
diri dalam pengobatan.
Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek
sampingnya.
5) Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak
berdayaan dll.
Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan
solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
6) Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
7) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.


Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.
Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar
ditolong.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Junaidi, iskandar.2007. Kanker, Pengenalan,Pencegahan, dan
Pengobatannya.Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer
Diananda, rama.2008. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Jogjakarta : Katahati
Stanley, mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC
www.medicastore.com/kanker kandung kemih
http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/

Anda mungkin juga menyukai