Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK
IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN
KETON

NAMA : ANDREAS BIMANDA CAHYADI


NIM : 145100100111015
KELOMPOK : A1
KELAS :A
ASISTEN :

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB II
IDENTIFIKASI ALDEHID DAN KETON

TUJUAN :
Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan
Fehling
Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling

A. Pre-lab
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara aldehid dan keton!
Aldehida dan keton adalah senyawa organik yang bergabung atau menbentuk
korporasi dengan gugus fungsi karbonil, C=O. Atom karob pada grup ini memiliki 2 sisa
tangan/ikatan yang dapat digantikan dengan H, alkil, atau gugus aril. Apabila digantikan
dengan H, maka senyawa tersebut adalah Aldehydes dan jika digantikan dengan yang lain
selain H, maka senyawa tersebut adalah keton (Hornback, 2006).
Sistem penamaan IUPAC pada aldehid adalah dengan mengganti huruf a terakhir
pada alkana dan menggantikannya dengan al dan pada keton adalah dengan on
(Hornback, 2006).
2. Jelaskan prinsip uji Tollens !
Tollen terdiri dari Ag2SO4 yang bila ada gula pereduksi Ag akan direduksi menjadi
Ag+ yang akan membentuk cinci perak. Kelemahan dari reaksi Tollen adalah dia bukan
cuma bereaksi dengan gula pereduksi tetapi juga bereaksi dengan senyawa keton yang
mempunyai gugus metil (Wardhana, 2007).
3. Apa fungsi pereaksi fehling pada uji fehling?
Fehling terdiri dari campuran CuSO4 + Asam tartat + Basa. Jika gula tersebut
merupakan gula pereduksi (glukosa, galaktosa, dll) Cu akan berubah menjadi Cu2O yang
berwarna merah bata. Berfungsi sebagai oksidator lemah yang merupakan pereaksi
khusus untuk mengenali aldehid (Wardhana, 2007).
B. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Aldehid
Aldehid mempunyai setidaknya satu atom Hidrogen (H) yang terikat
pada gugus karbonilnya. Rumus umus dari aldehid adalah R COH. Penamaan
secara IUPAC pada aldehid adalah dengan mengganti huruf a pada alkana
menjadi al sehinnga menjadi alkanal. Tata cara penamaan adalah rantai
terpanjang yang memiliki gugus fungsi karbonil (Hornback, 2006).
2. Pengertian Keton
Keton adalah keluarga hidrokarbon yang bersifat mudah terbakar dan
narkotik. Rumus dari keton adalah R C O R. Gugus karbonil pada keton
adalah C yang berikatan rangkap dua dengan O. Keton bersifat polar sehingga
apabila sampai terbakar harus dipadamkan dengan alkohol atau busa dari
senyawa yang bersifat polar karena air tidak akan efektif, namun derajat
kepolarannya kurang dari alkohol dan asam organik. Tata cara penamaan
IUPAC pada keton adalah dengan mengganti a pada alkana menjadi on
pada keton sehingga menjadi alkanon (Raton, 2013).
3. Tinjauan Bahan
a. Aseton
Dikenal juga dengan nama dimetil keton. Tidak berwarna dan memiliki
menyengat khas yang harum wangi. Aseton bersifat karbonil, polar, dan larut
didalam air, sehingga memerlukan busa dari larutan polar untuk memadamkan
apinya. Sangat mudah terbakar. Titik didih 56C dan secara otomatis terbakar
pada suhu 465C. Aseton juga bersifat narkotik pada konsentrasi tinggi dan
bersifat racun apabila terhirup ke dalam pernafasan (Raton, 2013).
b. Glukosa
Glukosa adalah monosakarida berkarbon enam (heksosa) yang
digunakan sebagai sumber dasar energi oleh kebanyakan sel heterotrofik
(Stansfield, 2006).
c. Fruktosa
Fruktosa (bahasa Inggris: fructose, levulose), atau gula buah, adalah
monosakarida yang ditemukan di banyak jenis tumbuhan dan merupakan salah
satu dari tiga gula darah penting bersama dengan glukosa dan galaktosa, yang
bisa langsung diserap ke aliran darah selama pencernaan. Fruktosa ditemukan
oleh kimiawan Perancis Augustin-Pierre Dubrunfaut pada tahun 1847.
Fruktosa murni rasanya sangat manis, warnanya putih, berbentuk kristal padat,
dan sangat mudah larut dalam air. Fruktosa ditemukan pada tanaman, terutama
pada madu, pohon buah, bunga, beri dan sayuran. Di tanaman, fruktosa dapat
berbentuk monosakarida dan/atau sebagai komponen dari sukrosa. Sukrosa
merupakan molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul
glukosa dan satu molekul fruktosa (Habibana, 2014).
Fruktosa adalah polihidroksiketon dengan 6 atom karbon. Fruktosa
merupakan isomer dari glukosa; keduanya memiliki rumus molekul yang sama
(C6H12O6) namun memiliki struktur yang berbeda (Habibana, 2014).
d. Formalin
Formalin adalah larutan yang terdiri atas 37-40% gas formaldehid.
Formalin dapat menyebabkan kanker, iritasi, kontak hipersensitif dan
kerusakan paru-paru. Formalin sangat efektif dalam membunuh parasit dan
melemahkan kerja mikrobakteria. Formalin harus disimpan ditempat yang
gelap pada suhu diatas 4C (Noga, 2011).
e. Tollens (AgNO3)
Reagen Tollens adalah senyawa perak nitrat yang apabila dipanaskan
bersama aldehid akan membentuk asam karboksil dan perak itu sendiri.
Dengan dilepaskannya perak dari reagen tollens oleh aldehid, maka reaksi ini
juga disebut tes cermin perak untuk aldehid (Mehta, 2005).
f. NH4OH
Ammonium Hidroksida bersifat korosif dan beracun. Dapat
menyebabkan kerusakan pada pengelihatan/mata, kulit, sistem pencernaan dan
pernafasan dan dapat menyebabkan rasa terbakar pada paru-paru. Memiliki
wujud cair, tidak berwarna, berbau kuat menyengat seperti ammonia, titik didih
27C, dengan massa molekul 35.04 gram (Meadow, 2008)
g. NaOH
Natrium Hidroksida, atau yang dikenal juga sebagai soda api atau soda
gosok berwarna putih, kuat dan padatannya mudah mencair di dalam air,
alkohol, etanol dan gliserol (Craig, 2005).
h. Fehling A
Memiliki nama lain tembaga (II) sulfat, pentahidrida. Berwujud cair,
memiliki warna biru dan tidak memiliki bau. Tidak dapat terbakar dan
termasuk kedalam senyawa yang stabil. Bersifat racun pada kehidupan air dan
tumbuhan (Jackson, 2012).
i. Fehling B
Dapat menyebabkan rasa terbakar pada mata, kulit, pencernaan dan
pernafasan karena adanya kandungan natrium hidroksida dan kalium natrium
tartrat tetrahidrad. Berwujud cair, tidak berwarna dan tidak berbau. Memiliki
pH diatas 12 (Jackson, 2012).
j. Aquades
Nama lainnya adalah Dihidrogen Oksida. Massa molekul 18.02 g/mol.
Berwujud cair, berwarna transparant, tidak berbau dan tidak berasa. Titik beku
0C dan Titik didih 100C. Memiliki pH 7 (Netral). Tidak menyebabkan
keracunan, kebakaran/ledakan. Sangat stabil (Bregovits, 2013).
C. Diagram Alir
1. Uji Tollens

1 ml larutan AgNO3 5%

Dimasukkan kedalam 5 tabung reaksi berbeda

Ditambahkan NH4OH 6M hingga endapan menghilang

Ditambahkan 1 ml sampel

Dipanaskan + 2 menit

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

2. Uji Fehling

5 tetes Fehling A

Dimasukkan kedalam 5 tabung reaksi berbeda

5 tetes NaOH

10 tetes Fehling B

1 ml sampel

Dipanaskan + 2 menit dalam water bath

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil
D. Data Hasil Pengamatan
1. Uji Tollens
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Tollens + Tollens (tanpa Tollens (setelah uji
NH4OH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)
1. Aseton Bening Bening Bening -
2. Fruktosa Hitam + cermin
Bening Keruh +
perak
3. Glukosa Bening Bening Cermin perak +
4. Sukrosa Bening Bening Keruh -
5. Formalin Hitam + Cermin
Bening Cermin Perak +
perak

2. Uji Fehling
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Fehling + Fehling (tanpa Fehling (setelah uji
NH4OH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)
1. Aseton Biru muda Biru lebih tua Tetap, Biru lebih tua -
2. Fruktosa Biru muda Coklat Endapan merah bata +
3. Glukosa Biru muda Biru lebih tua Endapan merah bata +
4. Sukrosa Biru muda Biru lebih tua Coklat kekuningan -
5. Formalin Biru muda Biru lebih tua Endapan merah bata +
E. Pembahasan
1. Membahas dan membandingkan data-data hasil uji Tollens dari beberapa sampel
a. Prinsip uji Tollens
Prinsip dari uji tollens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu
sempel dengan penambahan AgNO3 sebagai reagen Tollens sehingga akan terjadi
rekasi redoks. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding
tabung.
Ag2O + 4 NH3 + H2O 2 Ag(NH3)2+ -OH
Pereaksi Tollens
b. Analisa Prosedur
Percobaan pertama adalah mengidentifikasi gugus fungsi aldehid dan keton
dengan menggunakan uji Tollens. Mula-mula yang dilakukan adalah mempersiapkan
alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain pipet tetes untuk
meneteskan NH4OH, enam buah pipet ukur untuk mengambil larutan AgNO3 5% dan
lima buah sampel, lima buah tabung reaksi, penjepit tabung reaksi, bunsen burner dan
bulb. Bahan yang digunakan antara lain larutan AgNO3 5%, NH4OH 6M, Formaldehid
atau Formalin, Glukosa, Aseton, Fruktosa dan Sukrosa. Setelah semua alat dan bahan
siap, kemudian melakukan percobaan, pertama melabeli pipet ukur dan tabung reaksi
untuk mempermudah dalam mengenali sampel yang di uji coba dan supaya tidak
tertukar. Setelah selesai dengan melabeli, kemudian mengambil 1 ml larutan AgNO3
5% dengan menggunakan pipet ukur dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, masing-
masing tabung 1 ml. Pada saat mengambil larutan AgNO3 harus memakai sarung
tangan sebagai salah satu langkah keselamatan. Setelah mengambil larutan AgNO3 5%
dan memasukkannya kedalam semua tabung reaksi, langkah selanjutnya adalah
menetesi larutan AgNO3 5% pada tiap-tiap tabung reaksi dengan menggunakan
NH4OH, tujuan dari ditetesi larutan NH4OH adalah untuk mencegah pengendapan ion
perak pada saat dilakukan pemanasan pada suhu tinggi, selain itu juga untuk
membentuk suasana basa. Penambahan NH4OH dilakukan secara merata ke semua
tabung reaksi sampai tidak ada endapan atau endapannya hilang. Saat mengambil
NH4OH harus menggunakan masker karena berbau menyengat khas amonia.
Selanjutnya adalah penambahan 1 ml sampel kedalam tabung reaksi sesuai dengan
label. Sampel yang ditambahkan antara lain aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa, dan
formaldehid. Setelah ditambahkan, tabung reaksi kemudian dipanaskan sekitar kurang
lebih dua menit diatas bunsen burner, pemanasan dilakukan untuk mempercepat reaksi
yang terjadi antara AgNO3 dengan sampel uji, khusus untuk formaldehid tidak perlu
dipanaskan karena langsung bereaksi membentuk cermin perak pada saat ditambahkan
kedalam tabung reaksi. Setelah dipanaskan selama dua menit, kemudian diamati
perubahan yang terjadi dan dicatat di data hasil pengamatan.

c. Analisa Hasil
Setelah melakukan percobaan, didapatkan hasil percobaan sebagai berikut.
Pada sampel 1 ml aseton, tidak terjadi pembentukan cermin perak, larutan tetap bening
meskipun sudah dipanaskan yang menandakan bahwa tidak ada reaksi redoks yang
terjadi antara AgNO3 dengan Aseton karena pada dasarnya senyawa keton tidak akan
bereaksi dengan tollens dan fehling karena keton tidak memiliki gugus H yang terikat
langsung pada atom C utama sehingga sulit untuk dioksidasi, Aseton tidak reaktif
dengan pereaksi Tollens karena pada aseton tidak memiliki atom H yang terikat
langsung pada atom karbon karbonilnya (Sogandi, 2010).
Sampel yang kedua adalah fruktosa. Pada pengujian fruktosa dengan reagen
tollens dan pemanasan, terbentuk cermin perak di dinding tabung reaksi, meskipun
fruktosa termasuk kedalam golongan keton, namun pada fruktosa terdapat gugus
pereduksi yaitu gugus OH yang terikat pada atom C nomer satu-nya sehingga fruktosa
dapat berekasi dengan tollens untuk membentuk cermin perak ketika fruktosa
direaksikan dengan fehling bereaksi positif. Ketika fruktosa direaksikan dengan
tollens. Fruktosa mengalami tautomerisasi, sehingga katika direaksikan dengan tollens
bereaksi positif dengan menghasilkan cermin perak. Fruktosa dapat dioksidasi oleh
tollens karena fruktosa mudah teroksidasi dan dalam larutan basa berada dalam
kesetimbangan (Wahyuni,2012).
Sampel yang selanjutnya adalah glukosa. Pada pengujian glukosa dengan
reagen tollens dan pemanasan, terbentuk cermin perak di dinding tabung reaksi yang
menandakan adanya reaksi antara AgNO3 dengan Glukosa, karena glukosa termasuk
kedalam golongan Aldosa atau aldehid sehingga mempunya gugus H yang mudah
untuk dioksidasi dan juga mempunya gugus pereduksi OH di atom C nomer satu-nya.
Pada percobaan glukosa direaksikan dengan pereaksi tollens, awalnya berwarna
bening. Setelah dilakukan pemanasan 2 menit menghasilkan cermin perak. Hal ini
dikarenakan glukosa (aldehida) bereaksi positif dengan tollens. Penambahan tollens
sama fungsinya dengan dengan pada percobaan pertama, yaitu untuk membedakan
senyawa aldehida dan keton. Sedangkan fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat
reaksi (Wahyuni, 2012).
Sampel yang berikutnya adalah sukrosa. Pada pengujian sukrosa dengan
menggunakan reagen tollens tidak terbentuk cermin perak pada dinding tabung reaksi
meskipun sudah melalui proses pemanasan. Hal ini dikarenakan gugus pereduksi pada
sukrosa telah digunakan untuk berikatan oleh glukosa dan fruktosa sehingga sukrosa
tidak dapat dioksidasi dan mereduksikan AgNO3 karena gugus pereduksi digunakan
untuk berikatan antara glukosa dengan fruktosa (Marliana, 2012).
Sampel yang terakhir adalah formaldehida atau formalin. Pada pengujian
formaldehida dengan reagen tollens langsung terbentuk cermin perak pada dinding
tabung reaksi tanpa harus dipanaskan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan
formaldehida merupakan bentuk pertama aldehid atau yang disebut juga metanal
sehingga dapat dengan mudah dan cepat untuk dioksidasi oleh AgNO3 untuk
membentuk cermin perak, pada saat formaldehid direaksikan dengan pereaksi Tollens
menghasilkan larutan bening, dan setelah didiamkan pada dinding tabung terbentuk
cermin perak (endapan). Hal ini terjadi karena aldehid dapat mereduksi larutan perak
amoniak (larutan AgNO3 dalam larutan NH3 berlebih)., pereaksi perak amoniak ini
yang disebut pereaksi Tollens. Dan juga karena formaldehid tanpa gugus alkil adalah
paling reaktif diantara aldehid dan keton. Formaldehid mempunyai 2 atom H yang
terikat langsung pada atom C karbonil, sehingga mampu mereduksi pereaksi Tollens
(Sogandi, 2010).
Reaksi pembentukan cermin perak secara umum pada aldehid
O O
|| ||
R C H + 2 Ag(NH3)2 OH
+-
R C O +NH4 + 2 Ag + 3 NH3 + H2O

d. Reaksi Tiap Sampel


Reaksi yang terjadi antar aseton dengan AgNO3
O
+ 2Ag(NH3)2+ -OH
C
H3C CH3
aseton
Reaksi yang terjadi antar fruktosa dengan AgNO3

Reaksi yang terjadi antar glukosa dengan AgNO3

Reaksi yang terjadi antar sukrosa dengan AgNO3

Reaksi yang terjadi antar formaldehida dengan AgNO3


O O

H C H + 2Ag(NH3)2+ -OH H C O+ -NH4 + 2Ag + 3NH3 + H2O


formaldehid Tollen's
2. Membahas dan membandingkan data-data hasil uji Fehling dari beberapa sampel
a. Prinsip uji Fehling
Membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan
penambahan reagen fehling A dan fehling B dengan membentuk endapan merah bata
sebagai hasil dari adanya reaksi.

b. Analisa Prosedur
Percobaan kedua adalah mengidentifikasi gugus fungsi aldehid dan keton
dengan menggunakan uji Fehling. Mula-mula yang dilakukan adalah mempersiapkan
alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain pipet tetes untuk
meneteskan Fehling A, NaOH dan Fehling, kemudian lima buah pipet ukur untuk
mengambil lima buah sampel, lima buah tabung reaksi, penjepit tabung reaksi, bunsen
burner dan bulb. Bahan yang digunakan antara lain larutan Fehling A, Fehling B,
NaOH, Formaldehid atau Formalin, Glukosa, Aseton, Fruktosa dan Sukrosa. Setelah
semua alat dan bahan siap, kemudian melakukan percobaan, pertama melabeli pipet
ukur dan tabung reaksi untuk mempermudah dalam mengenali sampel yang di uji coba
dan supaya tidak tertukar. Setelah selesai dengan melabeli, kemudian mengambil
Fehling A dengan menggunakan pipet tetes dan dimasukkan kedalam tabung reaksi,
masing-masing tabung reaksi 5 tetes. Setelah mengambil Fehling A dan
memasukkannya kedalam semua tabung reaksi, langkah selanjutnya adalah menetesi
Fehling A pada tiap-tiap tabung reaksi dengan menggunakan NaOH sebanyak 5 tetes,
kemudian ditambahkan 10 tetes Fehling B. Selanjutnya adalah penambahan 1 ml
sampel kedalam tabung reaksi sesuai dengan label. Sampel yang ditambahkan antara
lain aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa, dan formaldehid. Setelah ditambahkan, tabung
reaksi kemudian dipanaskan sekitar kurang lebih dua menit diatas bunsen burner,
pemanasan dilakukan untuk mempercepat reaksi yang terjadi antara reagen fehling
dengan sampel uji, kemudian diamati perubahan yang terjadi dan dicatat di data hasil
pengamatan.

c. Analisa Hasil
Setelah melakukan percobaan, didapatkan hasil percobaan sebagai berikut.
Pada sampel 1 ml aseton, terjadi perubahan warna dari biru muda menjadi biru tua
namun tidak terbentuk endapan merah bata meskipun sudah dipanaskan yang
menandakan bahwa tidak ada reaksi redoks yang terjadi antara reagen Fehling dengan
Aseton, aseton direaksikan dengan pereaksi fehling tidak terbentuk endapan hanya
terdapat larutan yang terpisah menjadi dua lapisan. Hal ini karena aseton tidak
mempunyai atom H yang terikat langsung pada atom C karbonilnya sehingga tidak
mengalami oksidasi. Aseton dalam pereaksi fehling tidak dapat mereduksi ion
tembaga, sehingga tidak terbentuk endapan (Sogandi, 2010).
Sampel yang kedua adalah fruktosa. Pada pengujian fruktosa dengan reagen
Fehling, warna larutan yang sebelumnya biru muda berubah menjadi coklat saat diberi
fehling dan berubah terdapat endapan merah bata setelah dipanaskan, hal ini
menandakan bahwa terjadi reaksi redoks diantara fruktosa dengan reagen fehling
(Marliana, 2012).
Sampel yang selanjutnya adalah glukosa. Pada pengujian glukosa dengan
reagen Fehling, warna yang semula biru muda menjadi lebih gelap yaitu biru tua dan
setelah dipanaskan terbentuk endapan merah bata yang juga menandakan bahwa
terjadi reaksi antara fehling dengan glukosa. Pada praktikum dilakukan uji fehling
pada monosakarida seperti glukosa dan fruktosa menghasilkan endapan merah bata
yang menunjukan hasil yang positif. Hal ini dikarenakan monosakarida mengandung
gugus aldehid dan keton, monosakarida pun merupakan reduktor kuat yang akan
bereaksi positif dengan pereaksi organik fehling yang merupakan oksidator lemah
(Marliana, 2012).
Sampel yang berikutnya adalah sukrosa. Pada pengujian sukrosa dengan
menggunakan reagen fehling, warna yang semula biru muda berubah menjadi biru tua
dan setelah dipanaskan berubah menjadi coklat kekuningan, namun tidak terbentuk
endapan merah bata karena tidak terjadi reaksi antar fehling dengan sukrosa. Uji
fehling yang dilakukan pada sukrosa. Sukrosa merupakan dimer dari dua molekul
monosakarida yang berbeda yaitu D glukosa(bentuk piran), dan D fruktosa(bentuk
furan) melaui ikatan glikosida. Uji fehling pada Sukrosa sebelum dihidolisis
menghasilkan larutan berwarna hijau daun, yang menunjukan hasil yang negatif, hal
ini dikarenakan sukrosa tidak dapat mereduksi pereaksi fehling yang tidak memiliki
lagi gugus aldehid bebas (Marliana, 2012).
Sampel yang terakhir adalah formaldehida atau formalin. Pada pengujian
formaldehida dengan reagen fehling hampir sama dengan glukosa, warna yang semula
biru muda berubah menjadi biru tua dan setelah dipanaskan terbentuk endapan
berwarna merah bata, Pada pengujian pereaksi fehling terhadap formaldehid terbentuk
endapan berwarna merah bata. Ini berarti formaldehid dapat bereaksi dengan pereaksi
fehling. Dimana formaldehid dapat dioksidasi oleh ion Cu2+ dalam pereaksi fehling,
karena formaldehid mempunyai atom hidrogen yang terikat langsung pada karbon
karbonilnya. Formaldehid dalam pereaksi fehling akan mereduksi tembaga, sehingga
terbentuk endapan Cu2O yang berwarna merah bata (Sogandi, 2010).

d. Reaksi Tiap Sampel


Reaksi yang terjadi antar aseton dengan Fehling
O

C + 2Cu2+ + OH-
H3 C CH3
Reaksi yang terjadi antar fruktosa dengan Fehling

Reaksi yang terjadi antar glukosa dengan Fehling


Reaksi yang terjadi antar sukrosa dengan Fehling

Reaksi yang terjadi antar formaldehida dengan Fehling


O O

+ 2 C u 2+ + OH- + C u 2O + H 2O
C C
H H H O-

F o r m a l d eh i d

F. Pertanyaan
1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens?
Sebagai reagen dalam uji Tollens yang akan mengoksidasi sampel dan membentuk
cermin perak akibat ion Ag+ yang tereduksi menjadi perak sebagai tanda bahwa suatu
sampel memiliki gugus aldehid. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak
(Hart, 2012).
2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6M dalam percobaan uji Tollens?
Untuk mencegah endapan ion perak sebagai oksidasi AgNO3 pada suhu tinggi (untuk
mencegah terbentuknya endapan awal dan melepas Ag) dan untuk membuat sampel
menjadi basa agar tidak mudah cepat teroksidasi (Hart, 2012).
G. Kesimpulan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah praktikan diharapkan dapat
membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan Fehling serta
dapat memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling.
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung gugus karbonil yang setidaknya
memiliki satu atom H yang terikat pada atom C karbonilnya. Keton adalah suatu senyawa
organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil yang terikat pada dua gugus alkil atau dua
gugus aril.
Prinsip dari uji tollens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu
sampel dengan penambahan AgNO3 sebagai reagen tollens sehingga akan terjadi reaksi
redoks. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding tabung. Prinsip
dari uji fehling adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan
penambahan reagen fehling a dan fehling b.
Dari percobaan pertama yaitu uji tollens, yang terbentuk cermin perak pada dinding
tabung adalah fruktosa, glukosa dan formaldehid. Seperti yang telah diketahui, glukosa
termasuk ke dalam golongan gula aldosa atau aldehid sehingga dapat bereaksi dengan tollens
membentuk cermin perak, formaldehid merupakan bentuk pertama dari aldehid atau disebut
juga metanal, fruktosa termasuk pada golongan gula ketosa, namun masih adanya gugus
pereduksi atau gugus OH menyebabkan fruktosa dapat dioksidasi sehingga bereaksi
membentuk cermin perak saat di uji dengan reagen tollens. Pada aseton dan sukrosa, sampel
tidak bereaksi karena tidak terbentuknya cermin perak pada dinding tabung reaksi, karena
aseton termasuk pada gugus fungsi keton dan pada sukrosa, gugus pereduksi telah hilang
digunakan untuk berikatan antara -D-Glukosa dengan -D-Fruktosa sehingga tidak ada lagi
yang dioksidasi.
Percobaan kedua yaitu uji Fehling, hasil positif diberikan oleh fruktosa, glukosa dan
formaldehid, sementara hasil negatif diberikan oleh aseton dan sukrosa. Sama seperti pada
percobaan pertama. Hal ini dipengaruhi oleh Faktor gugus H sebagai gugus yang mudah
untuk dioksidasi dan gugus OH sebagai gugus pereduksi.
Senyawa aldehid dalam percobaan ini adalah glukosa dan formaldehid, sementara
senyawa keton dalam percobaan ini adalah fruktosa dan aseton, sukrosa termasuk kedalam
senyawa disakarida.
DAFTAR PUSTAKA

Bregovits, G. 2013. Material Safety Data Sheet Water.


(http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321). Diakses pada tanggal 4
Maret 2015 jam 21:14 (21 Maret 2013)
Craig, Bruce D, David S. Anderson. 2005. Handbook of Corrosion Data. New York: ASM
International
Habibana. 2014. Fruktosa. (http://habibana.staff.ub.ac.id/files/2014/08/3.-FRUKTOSA.pdf.)
Diakses pada tanggal 11 Maret 2015 jam 21:16
Hornback, Joseph. 2006. Organic Chemistry. New York: Thompson Brooks
Jackson. 2012. Fehlings Solution. (http://www.labchem.com/tools /msds /
msds/LC14200.pdf.) Diakses pada tanggal 11 Maret 2015 jam 22:01
Meadow, Bishop. 2008. (http://www.ch.ntu.edu.tw/~genchem99/msds/exp21/Ammonium%
20hydroxide%20water%20solution.pdf.) Diakses pada tanggal 11 Maret 2015 jam
21:50
Mehta, Bhupinder, Manju Mehta. 2005. Organic Chemistry. New Delhi: Asoke K. Ghosh
Noga, Edward J. 2011. Fish Disease: Diagnosis and Treatment. Philadelphia: Blackwell
Publishing
Raton, Boca. 2013. Hazardous Materials Chemistry. Florida: Taylor & Francis Group
Stansfield, William D. 2006. Biologi Molekuler dan Sel. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama
Wardhana, Danang Widya. 2007. Bagaimana prinsip kerja Reaksi Fehling, Tollens dan
Benedict. (http://www.chem-is-try.org/tanya_pakar/bagaimana_prinsip_kerja_reaksi_
fehling_tollens_dan_benedict/.) Diakses pada tanggal 11 Maret 2015 jam 21:28

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Hart, Harold. 2012. Organic Chemistry. Belmont: Cengage Learning


Marliana, Ari. 2012. Laporan praktikum uji reaksi karbohidrat. Bandung: Politeknik Negeri
Bandung
Sogandi, Gandi. 2010. Percobaan reaksi aldehid dan keton. Banjarmasin: UNLAM
Wahyuni, Ita Trie. 2012. Laporan Kimia Dasar II Aldehid dan Keton. Samarinda: Universitas
Mulawaran