Anda di halaman 1dari 26

TUGAS PROSTODONSIA 1

GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

KELOMPOK 1

Hesti Margaretha G. (04101004001) Rininta Rizky (04101004014)


Dwi Mayang Ayu (04101004002) Rama Dia Dara (04101004015)
Ayu Dwi Putri (04101004003) Sri Melitasari (04101004016)
Maisy Aprionasista (04101004004) Devina JeannE . (04101004017)
Ameliza (04101004005) Rhian Surya P. (04101004018)
Chiance Ongtin (04101004006) Wahyu Dwi Putra (04101004019)
Endah (04101004007) Dini Tiara Rahayu (04101004020)
Syarifah Aisyah (04101004008) Mita Junita Putri (04101004021)
Suci Mandiyasari (04101004009) Isha Arfina Haris (04101004022)
Eko Setiawan (04101004010) Yelli Sidabutar (04101004023)
M. Dwi Nugraha (04101004011) Liza Triwidyastuti (04101004024)
Veralita Israjanah (04101004012) Dwi Astuti (04101004025)
Maulia Septiari (04101004013) Kana Riska Saputri (04101004026)

Dosen Pembimbing : drg. Rani Purba

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2012
GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

A. PRINSIP BIOMEKANIKA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


(GTSL)
Mekanika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gerak dan
keseimbangan. Sedangkan biologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai
kehidupan/ segala sesuatu yang hidup. Jadi, biomekanika atau dental
biomekanika adalah hubungan antara sifat-sifat biologik struktur rongga
mulut dan pengaruh fisik dari dental restorasi.
Prinsip biomekanika pada GTSL meliputi:
Tipe pengungkit
Gaya-gaya yang bekerja pada gigi tiruan
Pergerakan rotasi selama berfungsi

1. Tipe Pengungkit
GTSL di dalam mulut dapat diilustrasikan sebagai pengungkit dan
inclined plane. Pengungkit didukung oleh beberapa titik dan ketika ada
tekanan maka akan terjadi perputaran di sekitar pendukung. Gaya yang
berlawanan dengan inclined plane akan menghasilkan gerakan pada
inclined plane. Titik dukungan dari pengungkit terletak pada fulkrum dan
pengungkit bergerak di sekitar fulkrum. Berdasarkan letak titik fulkrum,
ada tiga tipe pengungkit, yaitu:
a. Pengungkit klas I (first-class lever)
Titik fulkrum di tengah, tahanan pada salah satu ujung dan tekanan
pada ujung yang berlawanan. Terjadi pada kasus Kennedy klas III.

Gambar 1. Pengungkit klas I


b. Pengungkit klas II (second-class lever)
Titik fulkrum berada di ujung, tekanan pada ujung yang berlawanan
dan tahanan berada di tengah. Terjadi pada kasus Kennedy klas I.

Gambar 2. Pengungkit klas II

c. Pengungkit klas III (third-class lever)


Titik fulkrum berada di ujung, tahanan pada ujung yang lain dan
tekanan berada di tengah. Tidak terjadi pada kasus gigi tiruan
sebagian.

Gambar 3. Pengungkit klas III

Posisi titik fulkrum berpengaruh terhadap ungkitan yang terjadi pada gigi
penyangga. Oleh sebab itu, sistem pengungkit ini perlu diperhatikan
dalam penentuan desain GTSL.

2. Gaya-gaya yang Bekerja pada Gigi Tiruan


a. Gaya Oklusal
Gaya oklusal yang sering pula disebut gaya vertikal, merupakan gaya
yang timbul pada waktu bolus makanan berada di permukaan oklusal
geligi tiruan sebelum dan pada saat berfungsi atau oklusi. Pada kasus
geligi tiruan berujung bebas (free end) sebagian gaya oklusal akan
diterima oleh gigi penyangga, sedangkan sisanya oleh jaringan
mukosa di bawah basis protesa. Gaya oklusal yang diterima elemen
pada waktu mastikasi akan diteruskan basis protesa ke jaringan
dibawahnya secara kompresif. Untuk mengurangi gaya oklusal yang
diterima jaringan penyangganya dapat diupayakan melalui :
Pengurangan gaya oklusal yang bisa dicapai dengan pengurangan
jumlah atau luas permukaan elemen.
Penyaluran gaya oklusal secara merata pada jaringan pendukung
yang dapat dilakukan dengan cetakan fungsional atau
mukokompresi.
Distribusi gaya seluas mungkin dengan memperbesar basis atau
konektor utama agar besar gaya persatuan luas menjadi lebih
kecil.

b. Gaya Lateral
Gaya lateral timbul pada saat rahang bawah bergerak dari posisi
kontak oklusi eksentrik ke posisi sentrik atau sebaliknya. Gaya ini
merupakan gaya yang paling merusak gigi asli maupun tulang alveolar
pada daerah tak bergigi, karena hanya sebagian serat periodontal atau
mukosa saja yang berfungsi menyangganya. Untuk mencegah
kerusakan gigi asli dan resorpsi tulang alveolar berlebih, gaya lateral
harus diimbangi dengan kombinasi dari beberapa cara berikut ini :
Penyaluran gaya lateral sebanyak mungkin kepada gigi asli
Pengurangan sudut tonjol gigi.
Pengurangan luas permukaan bidang oklusal elemen tiruan.
Pemakaian desain cengkeram bilateral
Penyusunan oklusi dan artikulasi yang harmonis.

c. Gaya Antero-posterior
Gaya ini terjadi padapergerakan rahang dimana gigi depan ada pada
posisi edge to edge atau oklusi protrusif ke oklusi sentrik dan
sebaliknya. Pada pergerakan ini ada kecenderungan gigi tiruan rahang
bawah bergerak ke arah posterior dan gigi tiruan rahang atas ke
anterior. Pergerakan antero-posterior ini pada protesa rahang bawah
dapat diatasi dengan :
Penempatan lengan cengkeram sampai ke permukaan mesial, jika
cengkeram berasal dari sandaran distal.
Penempatan sandaran dari konektor minor di sisi mesial gigi
penyangga.
Perluasan basis sampai retromolar pad
Pengurangan sudut tonjol gigi
Penyusunan oklusi dan artikulasi harmonis.
Pada rahang atas, pergerakan antero-posterior dapat diatasi dengan :
Perluasan basis sampai tuber maksilaris
Penempatan cengkeram pada gigi posterior atau sandaran dan
konektor minor pada permukaan distal
Perluasan konektor utama sampai gigi anterior
Pengurangan sudut tonjol gigi
Penyusunan oklusi dan artikulasi harmonis

d. Gaya Pemindah
Gaya pemindah atau pelepas (displacing or dislodging forces) timbul
karena pada saat mastikasi, makanan lengket melekat pada permukaan
oklusal geligi tiruan pada saat mulut terbuka protesa akan tertarik ke
arah oklusal. Selanjutnya pergerakan otot perifer, kekuatan tak
terkontrol seperti batuk, bersin dan gaya berat untuk protesa rahang
atas, termasuk ke dalam kelompok gaya-gaya ini.

3. Pergerakan Rotasi selama Berfungsi


a. Rotasi pada garis fulkrum (fulkrum pertama)
Fulkrum pertama : pada dataran horizontal yang meluas melalui kedua
gigi penyangga pada setiap sisi rahang. Mengatur pergerakan sagital
GT ke arah/ menjauhi linggir. Dapat ditanggulangi dengan:
Cetakan fungsisonal pengaruh perbedaan kompresibilitas
mukosa
Ketepatan basis dan kualitas pendukung yang baik
Penggunaan indirect retainer

Gambar 4. Rotasi pada garis fulkrum

b. Rotasi pada sumbu longitudinal (fulkrum kedua)


Pada dataran sagital meluas melalui tahanan oklusal pada gigi
penyangga dan sepanjang puncak linggir alveolus pada sisi lengkung
rahang. Fulkrum kedua dapat ditanggulangi dengan:
Kekuatan konektor utama harus cukup (kaku)
Lengan retentif cengkeram pada sisi rahang lainnya
Penempatan cengkeram bilateral
Pada desain unilateral lengan cengkram harus retentif

Gambar 5. Rotasi pada sumbu longitudinal


c. Rotasi pada sumbu imajiner (fulkrum ketiga)
Di sekitar garis tengah, sedikit ke lingual dari gigi anterior. Mengatur
pergerakan gigi tiruan dalam arah horizontal/ gerakan melingkar.
Fulkrum ketiga dapat ditanggulangi dengan:
Lengan pengimbang (respirokal)
Konektor minor kontak dengan permukaan vertikal gigi asli
Lengan retentif, pengimbang bilateral

Gambar 6. Rotasi pada sumbu imajiner

B. DESAIN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


Prinsip dasar desain GTSL yaitu memelihara/ mempertahankan kesehatan
jaringan pendukung gigi tiruan sebagian lepasan dengan memperhatikan:
Distribusi tekanan yang luas(melalui cengekram)
Menyamakan tekanan (keseimbangan kiri dan kanan)
Physiologic basing (tekanan fisiologis pada mukosa di bawah basis)

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan desain GTSL :


Anatomi dan fisiologi jaringan yang terlibat dalam penempatan GTSL
dalam rongga mulut (gigi, mukosa, tulang)
Letak gigi yang hilang dan yang akan diganti
Besarnya beban kunyah
Pertimbangan biomekanik : jaringan penyangga GTSL adalah jaringan
hidup. Karena itu keseimbangan tekanan oleh adanya beban kunyah
harus diperhatikan.
Garis fulkrum : garis imaginer yang ditarik melalui dua gigi
penjangkaran yang dapat merupakan sumbu berputarnya atau
terungkitnya gigi tiruan
Estetika : letak cengkeram harus lebih diperhatikan
Kenyamanan
Penyakit

Guna desain GTSL:


Sebagai penuntun dari gigi tiruan sebagaian lepasaan yang akan dibuat
Sebagai sarana komunikasi antara dokter gigi dan tekniker gigi dalam hal
pendelegasian pembuatan gigi di laboratorium

Dalam menentukan desain dari gigi tiruan sebagian lepasan, perlu


diperhatikan beberapa faktor, yaitu :
1. Retensi
Adalah kemampuan gigi tiruan untuk melawan gaya pemindah yang
cenderung memindah protesa ke arah oklusal. Yang dapat memberikan
retensi adalah : lengan retentif, klamer, oklusal rest, kontur dan landasan
gigi, oklusi, adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension.
2. Stabilisasi
Adalah perlawanan atau ketahanan terhadap perpindahan gigi tiruan
dalam arah horisontal. Dalam hal ini semua bagian cengkeram berfungsi
kecuali bagian terminal/ ujung lengan retentif. Stabilisasi terlihat bila
dalam keadaan berfungsi. Gigi yang mempunyai stabilisasi pasti
mempunyai retensi, sedangkan gigi yang mempunyai retensi belum tentu
mempunyai stabilisasi.
3. Estetika
Penempatan klamer harus sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dalam
posisi bagaimanapun juga. Gigi tiruan harus pantas dan tampak asli bagi
pasien, meliputi warna gigi dan inklinasi/ posisi tiap gigi. Kontur gingiva
harus sesuai dengan keadaan pasien. Perlekatan gigi di atas ridge.
Tahapan desain GTSL :
Tahap I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi
Daerah tak bergigi pada suatu lengkungan gigi dapat bervariasi, dalam
hal panjang, macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan
mempengaruhi rencana pembuatan desain gigi tiruan, baik dalam bentuk
sadel, konektor maupun dukungannya.
Tahap II : Menentukan macam dukungan dari setiap sadel
Bentuk daerah tak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup
(paradental) dan daerah berujung bebas (free end). Sesuai dengan sebutan
ini, bentuk sadel dari gigi tiruan dibagi dua macam juga dan dikenal
dengan sebutan serupa, yaitu sadel tertutup atau paradental (paradental
saddle) dan sadel berujung bebas (free end saddle).
Tahap III : Menentukan macam penahan
Ada 2 macam penahan (retainer) untuk gigi tiruan yaitu :
- Penahan langsung (Direct Retainer), yang diperlukan untuk setiap
gigi tiruan.
- Penahan tak langsung (Indirect Retainer), yang tidak selalu
dibutuhkan untuk setiap gigi tiruan
Tahap IV : Menentukan macam konektor
Untuk protesa resin, konektor yang dipakai biasanya berbentuk pelat.
Pada gigi tiruan kerangka logam, bentuk konektor bervariasi dan dipilih
sesuai indikasinya.

C. PENYELESAIAN KASUS
Gigi yang hilang adalah gigi 35,36,37 dan 46,47.

POIN
Perhitungan poin ditentukan dari daerah paling posterior dan dari gigi molar,
maka poin/ skor dikategorikan menjadi 3 tingkatan yaitu 1,2, dan 3, seperti
pada penentuan kelas. Dengan kata lain R (Resistance arm) pada gigi molar
lebih rendah jika dibandingkan dengan R (Resistance arm) pada premolar
dan juga pada gigi-gigi anterior.
Rm < Rp < Ra
atau
1<2<3

Sedangkan poin untuk besarnya kekuatan gigi berbanding terbalik terhadap R


(Resistance arm), dalam hal ini berkaitan dengan panjang lengan atau jarak
paling posterior. Jadi,

Poin untuk gigi Anterior = Ra (Resistance arm untuk molar) =1


Poin untuk gigi Premolar = Rp (Resistance arm untuk premolar) = 2
Poin untuk gigi Molar = Rm (Resistance arm untuk anterior) = 3

TAHAP I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi


Pada kasus ini, daerah tak bergigi termasuk dalam klasifikasi Kennedy
klas I.
Indikasi protesa : GTSL, bilateral perluasan basis ke distal.

TAHAP II : Menentukan macam dukungan dari setiap sadel


Gigi penyangga yang digunakan adalah gigi 34, 45 karena dukungan gigi
masih kuat.

TAHAP III : Menentukan penahan


Pada gigi 34, 45 digunakan cengkeram 3 jari, karena gaya ungkit kelas II
dimana lengan retentif dari mesial ke distal. Sandaran oklusal diletakkan
di bagian mesial.
Dalam pemilihan cengkeram ditentukan berdasarkan gigi penyangga
(bentuk gigi dan kekuatan gigi penyangga).
Retensi dari cengkeram diletakkan ke arah gigi yang hilang.
Pada gigi 35 dan 45 digunakan cengkeram 3 jari yang terdiri dari lengan
retentive, lengan pengimbang dan sandaran oklusal.
Posisi titik fulkrum akan mempengaruhi ungkitan yang terjadi pada gigi
penyangga. Pada kasus GTSL berujung bebas sebaiknya digunakan tipe
pengungkit klas II yang mana titik fulkrum berada di ujung, tekanan pada
ujung yang berlawanan dan tahanan berada di tengah.
Gigi tiruan di desain dengan menempatkan cangkolan di sebelah mesial
gigi penyangga dengan lengan cangkolan berjalan dari mesial ke distal
dan ujung cangkolan terletak di bawah garis survey. Lengan resiprokal
terletak pada sisi yang bersebelahan dna berada di atas garis survey, hal
ini menetralisirkan daya yang timbul oleh lengan retentif. Sedangkan
lengan retentif dan lengan resiprokal gigi penyangga pada salah satu sisi
harus terletak sama tinggi dengan gigi berseberangan.
Keuntungan dari penempatan cangkolan pada bagian mesial, yaitu:
a. Memberi retensi dan tahanan gigitiruan
b. Pengaruh sandaran tidak terletak pada pusat gigi penyangga
c. Menghilangkan pengaruh gaya ungkit kelas I
d. Arah pergerakan basis tegak lurus linggir sisa
e. Menahan gigi tiruan bergerak ke distal
Penahan tidak langsung berupa sandaran oklusal. Pada GTSL berujung
bebas, tidak seluruh gaya yang diterima didukung oleh gigi penyangga
karena tidak adanya gigi penyangga pada bagian posterior. Pada keadaan
ini sering terjadi geraka rotasi, salah satu cara untuk mencegah terjadinya
gerakan tersebut adalah dengan membuat penahan tidak langsung. Fungsi
dari penahan tidak langung, antara lain:
a. Mencegah pergerakan basis berujung bebas menjauhi linggir sisa
b. Membantu splinting gigi anterior yang turut mendukung penahan
tidak langsung terhadap kemungkinan bergesernya gigi ke arah
lingual
c. Mencegah konektor utama tertekan pada jaringan, karena penahan
tidak langsung dapat bertindak sebagai sandaran oklusal tambahan.
d. Mengurangi daya torsional dalam arah anteroposterior pada gigi
penyangga utama.

TAHAP IV : Menentukan konektor


Konektor pada GTSL sederhana berupa pelat.
TILTING
Pada kasus ini dilakukan tilting ke arah anterior.
Arah pasang berlawanan dengan arah tilting
Arah lepas searah dengan arah tilting
Jadi, pada kasus ini arah pasang dari posterior ke anterior. Sedangkan arah
lepas dari anterior ke posterior.

D. PEMILIHAN DAN PENYUSUNAN ANASIR GIGI TIRUAN


Anasir gigi tiruan merupakan bagian dari GTSL yang berfungsi
menggantikan gigi asli yang hilang. Pemilihan dan penyusunan anasir gigi
tiruan anterior maupun posterior tidaklah begitu sulit, khususnya pada kasus
dengan kehilangan satu atau dua gigi karena ukuran, bentuk, warna dan
susunannya dapat disesuaikan dengan gigi sejenis yang ada di sisi sebelahnya.
Mengenai ukuran gigi harus disesuaikan dengan ruangan yang ada, misalnya
telahterjadi migrasi gigi kea rah edentulus, hal ini menyebabkan ruangan yang
ada menjadi lebih kecil dari sebenarnya.Pemilihan dan penyusunan anasir
gigi tiruan harus dapat memperbaiki penampilan selain untuk memperbaiki
fungsi lainnya dari gigi tiruan. Dalam pemilihan dan penyusunan anasir gigi
tiruan anterior maupun posterior ada faktor-faktor yang harus diperhatikan
yaitu mengenai ukuran, bentuk, warna, bahan, jenis kelamin, umur serta
inklinasi dari anasir gigi tiruan dapat memenuhi fungsinya.

PEMILIHAN ANASIR GIGI TIRUAN

Pemilihan Anasir Gigi tiruan Anterior


Memilih gigi yang akan disusun pada kasus GTSL tidaklah begitu sulit,
khususnya pada kasus dengan kehilangan satu atau dua gigi. Bila gigi
yang hilang banyak, ada beberapa hal yang harusdiperhatikan dalam
memilih anasir gigi tiruan, antara lain:
1. Ukuran gigi
Panjang gigi
Dalam menentukan panjang gigi, ada dua hal yang dapat dipakai
sebagai pedoman, yaitu :
- Posisi istirahat
Dalam keadaan istirahat tepi insisal gigi depan atas kelihatan
2-3 mm, tetapi hal ini bervariasi secara individual tergantung
dari umur dan panjang bibir atas. Bagi pasien tua, umumnya
tepi insisal gigi depan telah aus sehingga mahkota klinis lebih
pendek. Bila bibir atas panjang maka seluruh gigi yang
terlihat pada saat seseorang tertawa. Pada saat tertawa,
panjang gigi akan terlihat sampai 2/3.
Lebar gigi
Para pakar menganjurkan untuk menggunakan pedoman dalam
menentukan lebar gigi, antara lain :
- Lee, Boucher menganjurkan untuk menggunakan indeks nasal
sebagai pedoman yaitu : lebar dasar hidungsama dengan jarak
antara puncak kaninus rahang atas yang diukur secara garis
lurus.

.
Gambar 7. Garis alanasi melalui poros kaninus

- Sudut mulut
Sudut mulut dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk
menentukan letak tepi distal dari kaninus atas pada saat
istirahat. Jarak antara kedua sudut mulut sama dnegan lebar
keenam gigi depan atas.
Gambar 8. Hubungan sudut mulut dengan tepi distal kaninus

2. Bentuk gigi
Untuk menentukan bentuk gigi beberapa hal di bawah ini dapat
digunakan sebagai pedoman.
Menurut Leon Williams
Bentuk wajah ada hubungannya dengan bentuk gigi insisivus
sentral atas. Bentuk insisivus sentral atas sesuai dengan bentuk
garis luar wajah tetapi dalam arah terbalik.
Wajah dilihat dari depan :
- Persegi/square

Gambar 9. Wajah bentuk persegi/square

- Lancip/tapering
Gambar 10. Wajah bentuk lancip/tapering
- Lonjong/ovoid

Gambar 11. Wajah bentuk lonjong/ovoid

Wajah dilihat dari samping.


- Cembung/convex

Gambar 12. Wajah bentuk cembung/convex dilihat dari samping


- Lurus/straight
Gambar 13. Wajah bentuk lurus/straight dilihar dari samping
- Cekung/concave

Gambar 14. Wajah bentuk cekung/concave dilihat dari samping

Bentuk profil ini perlu diketahui untuk menyesuaikan antara lain:


- Bentuk labial insisivus
- Inklinasi labio palatal insisivus sewaktu penyusunan gigi
depan

Jenis kelamin
Menurut Frush dan Fisher, garis luar insisivus atas pada pria
bersudut lebih tajam (giginya berbentuk kuboidal), sedangkan
pada wanita lebih tumpul (giginya berbentuk spheroidal).

Gambar 15. Perbedaan bentuk gigi pria (A) dan wanita (B)
Perbedaan kecembungan kontur labial ada kaitannya dengan jenis
kelamin. Pria mempunyai kontur labial yang datar dan wanita
cembung.

Gambar 16. Kontur labial gigi anterior dengan permukaan cembung


(A) dan datar (B)
Umur
Bentuk gigi biasanya berubah dengan bertambahnya usia. Bentuk
tepi insisal pada usia tua telah mengalami keausan karena
pemakaian.

Gambar 17. Keausan gigi sesuai umur, makin tua makin nyata
keausannya.

3. Warna gigi
Pada pembuatan GTSL, untuk menentukan warna gigi yang akan
diganti dapat disesuaikan dengan warna gigi yang ada. Cahaya dapat
mempengaruhi pemilihan warna gigi. Cahaya lampu pijar akan
menghasilkan gigi dengan warna lebih merah dari yang sebenarnya.
Sebaiknya untuk menentukan warna gigi, dipakai cahaya yang berasal
dari sinar matahari karena sinarnya merupakan sinar yang alamiah.
Usia dapat juga dipakai sebagai pedoman. Usia tua, warna giginya
lebih gelap disanding usia muda.
4. Bahan anasir gigi tiruan
Anasir gigi tiruan biasanya terbuat dari :
Akrilik
Porselen

Pemilihan Anasir Gigi Tiruan


1. Ukuran gigi
Mesio distal
Pada kasus GTSL basis tertutup, ukuran mesio distal sudah
ditentukan oleh kedua gigi yang membatasi daerah edentulous.

Gambar 18. Jarak mesio distal pada basis tertutup

Pada kasus dengan basis berujung bebas, ukuran mesio distalnya


diukur dari tepi distal gigi yang berdekatan dengan edentulus
sampai mesial dari retromolar pad.

Gambar 19. Jarak mesio distal basis berujung bebas

Okluso gingival
Ukuran okluso gingival ditentukan oleh besarnya ruangan inter
oklusal. Panjang anasir gigi tiruan disesuaikan dengan gigi
tetangganya terutama gigi premolar, letak garis servikalnya harus
sesuai dengan letak garis servikal gigi tetangganya karena akan
kelihatan pada waktu bicara atau tertawa.

Gambar 20. Ukuran okluso gingival

Buko lingual/ palatal


Ukuran buko lingual/ palatal yang telah disesuaikan dengan lebar
mesio-distalnya sehingga bentuknya sebanding, tetapi pada kasus
tertentu misalnya pada kasus linggir alveolus yang datar
diperlukan ukuran oklusal yang sempit untuk mengurangi
besarnya daya kunyah dan untuk memberi tempat pada lidah.

Gambar 21. Lebar buko lingual/ palatal gigi (A) normal dan (B) yang
telah dipersempit

Jadi, Anasir gigi tiruan posterior dipilih yang mempunyai ukuran


mesio distal yang kecil dan buko lingual yang sempit dibandingkan
dengan gigi asli agar daya yang diterima oleh jaringan pendukung
lebih kecil pula.

2. Bentuk anasir gigi tiruan posterior


Bentuk anasir gigi tiruan posterior dibagi dua:
Gigi anatomik
Bentuk permukaan oklusal mempunyai tonjol-tonjol dengan sudut
tonjol yang beragam.
Gambar 22. Bentuk oklusal gigi anatomik

Gigi non anatomik


Permukaan oklusalnya merupakan bidang datar, biasanya gigi ini
digunakan untuk kasus dengan linggir datar untuk menghindari
daya horizontal pada waktu berfungsi.

Gambar 23. Bentuk oklusal gigi non anatomik

Pertimbangan yang mendasar dalam pemilihan anasir gigi tiruan


posterior untuk kasus GTSL adalah ukuran permukaan
oklusalnya, makin besar permukaan oklusal makin besar pula
daya yang diterima jaringan pendukung. Untuk kasus GTSL
dengan basis berujung bebas, pengurangan permukaan oklusal
dapat dengan menghilangkan satu gigi premolar atau molar atau
molar diganti dengan premolar.

3. Warna
Anasir gigi tiruan posterior warnanya harus disesuaikan dengan gigi
yang masih ada.

4. Bahan anasir gigi tiruan


Bahan anasir gigi tiruan posterior terbuat dari:
Akrilik
Porselen
Logam

Tabel 1. Beberapa sifat anasir gigi tiruan menurut macam bahan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN ANASIR


GIGI TIRUAN
1. Lingkungan kamar praktek
Warna kamar praktek, pakaian dan tata rias pasien, sumber cahaya dan
sifat cahaya perlu diperhatikan.
Sifat sinar
Inklinasi sinar yang jatuh tegak lurus pada gigi member efek warna
lebih muda. Posisi permukaan yang lebih jauh dari operator membuat
warna terlihat lebih tua. Selanjutnya sifat permukaan yang dipoles
sampai halus dengan sendirinya memantulkan sinar lebih banyak,
sehingga kelihatan lebih muda. Permukaan yang kasar akan
memantulkan sinar tidak ke satu arah tetapi ke segala jurusan.
Akhirnya sumber sinar yang lebih kuat akan member efek warna
benda menjadi lebih muda.
Sumber cahaya
Sumber cahaya yang dipakai bisa berasal dari sinar matahari, lampu
pijar atau neon. Sinar yang paling baik dengan sendirinya yang berasal
dari matahari, karena inilah sinar yang alamiah dan praktis tidak
member efek pada pemilihan warna. Walaupun demikian, karena
adanya awan dan perputaran bumi, waktu yang dianggap cocok untuk
pemilihan warna ini berkisar sekitar jam 10.00 15.00. Menurut Ilg,
berkas cahaya dari lampu pijar mengandung warna merah dan kuning
lebih banyak dari pada biru. Karena itu pemilihan warna yang
dilakukan dengan bantuan sumber seperti ini sering menghasilkan gigi
yang lebih merah dari pada warna semestinya. Sebaliknya warna neon
menghasilkan warna biru lebih banyak daripada kuning atau merah.
Akibatnya, bila diinginkan warna merah, yang dihasilkan ternyata
merah keungu-unguan atau jika kuning jadi hijau kekuningan. Neon
dinilai lebih baik dari pada sinar lampu pijar.
Pakaian dan tata rias wajah
Pakaian dan tata rias wajah yang menyolok akan membuat pemilihan
warna tak tepat lagi. Itulah sebalinya, pada saat pemilihan warna,
sebaiknya pakaian pasien ditutupi dengan kain biru dan pemerah bibir
dihapus dahulu.
Warna kamar
Warna hijau atau biru muda untuk kamar praktek sangat baik untuk
pemilihan warna gigi.

2. Kondisi Penderita
Faktor yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah faktor usia dan ras.
Makin tua usia makin tua pula warna gigi seseorang. Perubahan
seperti ini antara lain disebabkan oleh adanya retakan pada permukaan
labial gigi, abrasi, atrisi atau erosi, karena sudah lamanya gigi ini
berfungsi. Disamping itu, sudah terjadi penyempitan ruang pulpa disertai
pembentukan dentin sekunder dan adanya staining pada bagian servikal
gigi.
Berbicara mengenai faktor ras, biasanya kulit wajah menjadi
patokan dasar, sedangkan warna rambut dan lain-lain hanya faktor
penyokong saja. Pada masa lalu, warna kulit, muka dan rambut
disesuaikan dengan warna gigi, karena pada saat itu warna porselen masih
opak. Dengan ditemukannya warna porselen yang lebih baik dan lebih
translusen dan flouresen, hal tersebut tadi menurut Gehl dan Dresen tidak
lagi diperlukan.
Dalam pemilihan warna biasanya dipakai pemandu warna (shade
guide), yang dikeluarkan oleh masing-masing produsen elemen gigi
tiruan.
Cara pemakaian pemandu warna
Sebelum dicoba, pemandu warna harus dicelupkan dahulu dalam air,
untuk meniru keadaan basahnya gigi dalam mulut.
Pemandu warna dicocokkan di luar mulut pada kulit di samping
hidung. Hal ini berguna untuk menentukan warna, saturasi,
kecermelangan, translusensi.
Pemandu warna dimasukkan mulut sehingga yang terlihat hanya tepi
insisal saja. Hal ini dilakukan untuk mengetahui efek warna gigi
dalam keadaan istirahat.
Pemandu warna berada dalam mulut yang sedikit terbuka, sehingga
hanya bagian servikal saja yang tampak. Cara ini untuk menentukan
warna gigi dalam keadaan mulut terbuka.

PENYUSUNAN ANASIR GIGI TIRUAN

Penyusunan Anasir Gigi Tiruan Anterior


Yang harus diperhatikan pada penyusunan anasir gigi tiruan anterior :
1. Inklinasi Labio Palatal
Anasir gigi tiruan anterior disusun dengan inklinasi labio palatal yang
mengarah ke labial.
Jika gigi depan yang hilang satu atau dua gigi, inklinasinya
disesuaikan dengan gigi yang ada.
Bila semua gigi depan hilang, inklinasi gigi yang disusun
mengarah ke labial dan harus dilihat juga dari arah samping/profil,
agar gigi dapat mendukung bibir dengan baik sehingga gigi tiruan
tersebut harmonis dengan pasien.
Gambar 24. Inklinasi labio palatal

2. Inklinasi Mesio Distal


Inklinasi masio distal harus diperhatikan karena penyusunan anasir
gigi tiruan anterior menyangkut segi estetis dan disamping itu
penyusunannya harus mengikuti lengkung rahang.

Gambar 25. Inklinasi meso distal

3. Hubungan dengan gigi antagonis


Untuk gigi anterior, hubungan dengan gigi antagonisnya harus
diperhatikan yaitu :

Gambar 26. Overbite dan overjet gigi anterior


Overbite dan overjet berkisar antara 1-2 mm. overbite dan overjet ada
hubungannya dengan pengucapan huruf konsonan misalnya huruf f
dimana tepi insisal gigi atas hampir kontak dengan bibir bawah.

Penyusunan Anasir Gigi Tiruan


Penyusunan anasir gigi tiruan posterior harus mengikuti aturan sebagai
berikut :
1. Tepat di atas linggir alveolus
2. Mengikuti lengkung rahang
3. Disesuaikan dengan permukaan oklusal gigi antagonis sehingga
diperoleh oklusi yang harmonis antara gigi asli dengan anasir gigi
tiruan atau antar anasir gigi tiruan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Carr, Alan B., dkk. McCrackens Removable Partial Prosthodontics 11th Ed.
UK: Elsevier Mosby.
2. Gunadi, Haryanto A, dkk. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan
Jilid I. 1991. Jakarta: Hipokrates.
3. Gunadi, Haryanto A, dkk. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan
Jilid II. 1995. Jakarta: Hipokrates.
4. Loney, Robert W. Removable Partial Denture Manual. 2011. Dalhousie
University.
5. Jones, John D. & Garcia, Lily T. Removable Partial Dentures A Clinician
Guide. 2009. USA: Blackwell Publishing.
6. Stratton, Russell J. & Wiebelt, Frank J. An Atlas of Removable Partial
Denture Design. USA: Quintessence Books.
7. Brudvik, James S. Advanced Removable Partial Dentures. 1999. USA:
Quintessence Books.
8. Nallaswamy, Deepak. Textbook of Prosthodontics. 2003. New Delhi: Jaypee.