Anda di halaman 1dari 22

BAB II

DASAR TEORI

Batubara adalah suatu endapan (batuan sedimen) yang tersusun atas


karbon yang berasal dari unsur organik yang terbentuk dari berbagai tumbuhan
yang mengalami perubahan atau pembusukan serta terendapkan atau
termampatkan dari suatu struktur perlapisan batuan. Batubara terbentuk dengan
cara yang sangat kompleks, terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang tertimbun
berjuta-juta tahun lamanya, yang tidak lepas dari pengaruh mikrobiologi, umur,
tekanan serta lingkungan sekitarnya kemudian terjadi proses biokimia dan tidak
mengalami penghancuran oleh bakteri-bakteri tertentu.

2.1. Sifat Umum Batubara


Batubara merupakan salah satu jenis bahan bakar untuk pembangkit energi,
disamping gas alam dan minyak bumi.
Berdasarkan atas cara penggunaanya sebagai penghasil energi maka dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Penghasil energi primer, dimana batubara yang langsung dipergunakan untuk
industri, misalnya pemakaian batubara sebagai bahan bakar burner (dalam
industri semen dan pembangkit listrik tenaga uap) di pergunakan sebagai
pembakaran bata, genteng, bahan bakar lokomotif, pereduksi proses metalurgi,
kokas konvesional dan bahan bakar tidak berasap (Smokeless fuels).
b. Penghasil energi sekunder, dimana batubara yang tidak langsung dipergunakan
untuk industri misalnya, pemakaian batubara sebagai bahan bakar padat
(briket), bahan bakar cair (konversi menjadi bahan bakar cair) dan gas
(konversi menjadi bahan bakar gas), bahan bakar dalam industri penuangan
logam (dalam bentuk kokas). Selain itu juga batubara digunakan sebagai
bahan bakar antara lain: sebagai reduktor pada peleburan timah, pabrik ferro
nikel, industri besi dan baja, pemurnian pada industri kimia (dalam bentuk
karbon aktif).
Jenis bahan bakar yang umum digunakan dalam industri adalah :

4
1. Bahan bakar Gas : Gas alam
2. Bahan bakar Cair : Minyak Bumi
3. Bahan bakar Padat : Batubara
Batubara merupakan suatu campuran padat yang heterogen dan terdapat di
alam dalam tingkat/grade yang berbeda mulai dari lignit, sub bituminus,
bituminus, dan antrasit.
Dalam perdagangan dikenal istilah Hard coal dan Brown coal. Hard coal
adalah jenis batubara yang menghasilkan gross kalori lebih dari 5.700 kcl/kg
dibagi:
Kandungan zat terbang (volatile matter) hingga 33%, termasuk kelas 1-5.
Kandungan zat terbang (volatile matter) lebih besar dari 33%, termasuk kelas
6-9.
Hard Coal merupakan jenis batubara dengan hasil kalori yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bituminus/sub bituminus dan lignit (brown coal).
Sesuai dengan sifatnya batubara umumnya dibagi atas beberapa jenis batubara
dan ciri-ciri dari jenis batubara tersebut antara lain :
a. Jenis Antrasit, ciri-cirinya :
Warna hitam sangat mengkilap, kompak.
Nilai kalori sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi.
Kandungan air sangat sedikit.
Kandungan abu sangat sedikit.
Kandungan sulfur sangat sedikit.
Tidak mudah terbakar.
b. Jenis Bitumius/Sub bituminus, ciri-cirinya :
Warna hitam mengkilap, kurang kompak.
Nilai kalori tinggi, kandungan karbon relatif tinggi.
Kandungan air sedikit.
Kandungan abu sedikit.
Kandungan sulfur sedikit.
c. Jenis Lignit, ciri-cirinya :

5
Warna hitam kecoklatan, sangat rapuh.
Nilai kalori rendah.
Kandungan air tinggi.
Kandungan abu banyak.
Kandungan sulfur banyak.
Mudah terbakar dengan nyala berasap
Deposit batubara di Indonesia sebagian besar termasuk jenis bitumious
sampai sub-bituminus, sedang untuk jenis lignit relatif sedikit.

6
Tabel 2.1. Klasifikasi Batubara Berdasarkan Tingkatnya (ASTM, 1981, op cit
Wood et al., 1983)

Volatile
Fixed
Matter Calorific Value Limits BTU
Carbon ,% ,
Limits, % , per pound (mmmf)
dmmf
dmmf
Class Group Equal
Equal Equal
or
Less Greater or or Less Agglomerating
Great
Than Than Less Greater Than Character
er
Than Than
Than
1.Meta-anthracite 98 2 nonagglomerating

I Anthracite* 2.Anthracite
92 98 2 8
3.SemianthraciteC
86 92 8 14
1.Low volatile
78 86 14 22
bituminous coal
2.Medium
volatilebituminous 69 78 22 31
coal
3.High volatile A
II Bituminous 69 31 14000D commonly
bituminous coal
4.High volatile B
13000D 14000 agglomerating**E
bituminous coal
5.High volatile C
11500 13000
bituminous coal
10500 11500 agglomerating
1.Subbituminous A
10500 11500
coal
2.Subbituminous B
III Subbituminous 9500 10500
coal
3.Subbituminous C
8300 9500 nonagglomerating
coal
1.Lignite A 6300 8300
IV. Lignite
1.Lignite B 6300

Sifat-sifat batubara dapat dilihat dengan analisa sebagai berikut :

7
a.Analisa Proximate terdiri dari :
1. Lengas (moisture) yang berupa :
Lengas bebas (free moisture)
Lengas bawaan (inherent moisture)
Lengas total (total moisture)
2. Kadar abu (ash)
3. Karbon (fixed carbon)
4. Zat terbang (volatile matter)
b. Analisa Ultimate
Terdiri dari analisa unsur : C, H, O, N, S, P dan Cl.
c.Nilai Kalori
d. Total Sulfur
e.Analisa Abu
Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-
oksida sebagai berikut : SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO,
Na2O dan K2O. Abu ini terutama akan secara padatan bercampur dengan
klinker (pada industri semen) dan akan mempengaruhi kualitas semen,
namun kadar abu dalam batubara di Indonesia umumnya hanya berkisar
antara 5 % - 20 %. Semakin banyak kadar abu, maka akan menurunkan
nilai kalori.
f. Indek Gerus (Hardgrove Gridability Index)
g. Sifat Batubara kaitannya dengan Volatile Matter
Sesuai dengan sifatnya, batubara umumnya dibagi atas 4 macam :
1. Antrasit, mengandung sedikit volatile matter.
2. Bituminous, mengandung medium volatile matter.
3. Subbituminous, mengandung medium volatile matter.
4. Lignit, mengandung banyak volatile matter.
5. Gambut (peat).
h. Kandungan Air Dalam Batubara
i. Impurities Dalam Batubara

8
Apabila proses pencucian batubara tidak baik, maka akan ditemui
impurities misalnya clay. Dengan adanya impurities ini, tentunya akan
menghambat jumlah umpan panas kedalam tanur putar.

2.2. Karakteristik Barubara Menurut Klasifikasinya


Di sini, batubara dibagi menjadi lignit, sub-bituminus, bituminus, dan
antrasit.

A. Brown Coal atau Lignite

Dalam klasifikasi batubara, secara umum kelompok ini merupakan batubara


dengan tingkat pembatubaraan yang paling rendah dan berwarna coklat atau
coklat kehitaman. Kandungan air dan zat terbangnya tergolong tinggi, dan
umumnya bersifat non-coking atau non-caking. Pada klasifikasi internasional,
batubara ini didefinisikan memiliki nilai kalori (ash free basis) kurang dari 5700
kcal/kg.
Penggunaan batubara ini, umumnya sebagai bahan bakar pada pembangkit
listrik. Namun karena kandungan airnya tinggi, maka adakalanya diperlukan
proses dewatering terlebih dahulu. Di sisi lain, batubara ini dalam keadaan kering
mudah sekali menimbulkan gejala terjadinya swabakar (spontaneous combustion),
sehingga handling-nya pun tergolong merepotkan. Saat ini, pengunaan batubara
jenis ini di Jepang sangat kecil. Terlepas dari masalah itu, penelitian dan
pengembangan teknologi bagi perbaikan kualitas batubara untuk menunjang
pemakaian yang lebih stabil terus dilakukan.
Di Jepang, batubara dengan tingkat pembatubaraan yang lebih rendah lagi
disebut dengan atan. Di dalam aturan industri pertambangan Jepang, atan
dibedakan dari batubara, dan dianggap sebagai mineral yang berbeda dengan
batubara. Namun secara ilmiah, atan masuk ke dalam golongan lignit atau
brown coal.

9
Catatan: Peat dan Grass Peat (=Gambut
Secara umum tidak termasuk golongan batubara. Komponen tetumbuhan
asalnya dapat jelas ditentukan dengan mata telanjang, yang menunjukkan tingkat
pembatubaraan sangat rendah. Selain itu, kandungan airnya banyak dan nilai
kalorinya kecil, sehingga bukan merupakan bahan bakar yang baik. Karena
banyak mengandung zat organik, gambut digunakan pula sebagai pupuk. Gambut
yang berasal dari rerumputan disebut dengan grass peat (gambut rumput). Namun
karena kebanyakan komponen peat adalah grass peat, maka istilah peat dan grass
peat sering dipakai untuk menunjukkan arti yang sama.

B. Batubara Sub-Bituminus

Dalam klasifikasi batubara, jenis ini mengalami tingkat pembatubaraan yang


lebih tinggi dari lignit, namun masih lebih rendah dibandingkan batubara
bituminus. Dari sisi caking property-nya, terbagi menjadi non-caking (tak bersifat
caking) dan slightly-caking (sedikit menunjukkan sifat caking). Dibandingkan
dengan batubara bituminus, kandungan zat terbang (volatile matter)-nya cukup
tinggi, dengan nilai kalori yang masih tergolong rendah. Jepang mengimpor
batubara jenis ini dari Indonesia, Amerika Serikat, dan lainlain, yang umumnya
dipakai sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik. Namun dari sisi pemakaian,
jumlahnya masih lebih sedikit bila dibandingkan dengan batubara bituminus.

C. Batubara Bituminus

Batubara jenis ini mengalami tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi dari
batubara sub-bituminus, namun masih lebih rendah bila dibandingkan dengan
antrasit. Kandungan zat terbang (volatile matter)-nya antara 20-40%, yang
merupakan suatu rentang yang cukup besar. Karena itu, sering dibagi lagi menjadi
high-volatile bituminous coal, medium-volatile bituminous coal, dan sebagainya.
Selain dipakai sebagai bahan baku pembuatan kokas, batubara bituminus dengan
caking/coking property yang rendah dipakai pula sebagai bahan bakar pembangkit
listrik. Batubara jenis inilah yang paling banyak digunakan di Jepang.

10
D. Antrasit

Batubara ini memiliki tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi dibandingkan


dengan batubara bituminus. Kandungan zat terbangnya juga yang paling kecil,
dan reaktifitas saat pembakaran tergolong relatif rendah. Batubara jenis ini hampir
tak memiliki sifat caking/coking. Penggunaan batubara jenis ini, dapat sebagai
bahan baku pembuatan material karbon, briket dan lain-lain,.untuk pulverized
coal injection (PCI) pada blast furnace, atau sebagai bahan bakar untuk fluidized
bed boiler, kiln semen, dan lain-lain.

2.3. Sifat Yang Diinginkan Pada Batubara Menurut Penggunaannya


2.3.1. Sifat Yang Diinginkan Pada Batubara Boiler
Karena batubara jenis ini sebagian besar dipakai pada boiler, maka diinginkan
yang memiliki sifat menyala dan sifat habis terbakar yang bagus. Selain itu,
diinginkan pula yang memiliki kandungan belerang, nitrogen, dan unsur mikro
beracun sesedikit mungkin. Untuk temperatur leleh abu, makin tinggi adalah
semakin baik. Kandungan abunya juga haruslah kecil, dan tak kalah pentingnya
adalah nilai kalori yang cukup.
Untuk mengetahui nilai dan performa dari sifat-sifat tersebut di atas,
dilakukan berbagai macam uji dan analisis terhadap batubara boiler:
Analisis kandungan air (moisture), berupa total moisture, surface moisture,
serta inherent atau residual moisture.
Uji ukuran butir
Uji ketergerusan (grindability), untuk menentukan nilai HGI (Hardgrove
Grindability Index)
Pengukuran nilai kalori, baik berupa gross heating value maupun net heating
value
Uji sifat leleh abu (ash fusibility test)
Analisis ultimat

11
Pengukuran tahanan listrik abu
Analisis proksimat
Pengukuran kandungan abu
Pengukuran kandungan zat terbang (volatile matter)
Penghitungan karbon tetap (fixed carbon)
Penghitungan fuel ratio
Penghitungan hidrogen efektif (available hydrogen)
Pengukuran kandungan belerang, berupa total sulfur, sulfate, pyretic sulfur,
dan organic sulfur
Analisis, uji, dan perhitungan terhadap kandungan klor, komposisi abu,
combustibility, slagging, fouling, erosion, dan sebagainya.

2.3.2. Sifat Yang Diinginkan Pada Batubara Kokas


Batubara jenis ini, umumnya dipakai pada blast furnace (tungku peleburan
pada pembuatan pig iron) sebagai bahan pereduksi besi oksida (=kokas). Kokas
yang dipakai pada blast furnace (tanur tinggi),biasanya dimasukkan ke dalam
tungku/tanur dari jarak yang cukup tinggi. Selain itu, kokas di dalam tanur akan
membentuk tumpukan yang cukup tinggi, sehingga diperlukan kekuatan dan
kekerasan yang cukup untuk dapat menahan benturan dan tekanan saat kokas
dijatuhkan maupun saat ditumpuk.
Di dalam tanur, diperlukan aliran udara yang cukup agar reaksi reduksi oleh
gas CO dapat berjalan dengan baik. Karena itu, diperlukan batubara dengan
tingkat kereaktifan yang tinggi, dan mampu untuk menjaga kondisi temperatur
yang tinggi. Dengan kata lain, pada batubara kokas dituntut adanya sifat
fluiditas/plastisitas, sifat caking/agglomerating (lekat menggumpal), dan sifat
coking (coking property) yang memadai.
Umumnya, volume tanur tinggi (blast furnace) di Jepang tergolong besar,
yaitu antara 4500-5245m3, dengan jumlah produksi pig iron (besi cor kasar)
mencapai berat 2 kali volume tanur tinggi per hari. Karena pada pembakaran abu
kokas dan bijih besi akan terbentuk slag yang harus dikeluarkan dari tanur, maka
slag ini harus memiliki viskositas yang cukup agar mudah dikeluarkan.

12
Berbagai macam uji dan analisis yang dilakukan terhadap batubara kokas
diantaranya:

Analisis petrografi
Analisis maseral, dilakukan berdasarkan D 2799 Microscopical
Determination of vol.% of Physical Components of Coal
Pengukuran tingkat refleksi, berdasarkan D 2798 Microscopical
Determination of the Reflectance of Vitrinite
Uji muai krusibel, berdasarkan D 720 Free Swelling Index
Uji muai, berdasarkan D 5515 Dilatometer
Uji fluiditas, berdasarkan D 2639 Gieseler Plastometer, dimana dilakukan
pengukuran terhadap softening temperature (1.0 DDPM), maximum fluidity
temperature, resolidification temperature, range, DDPM=dial division per
minute
Uji pengkokasan (metode retort, metode can-firing)
Uji sifat leleh abu, berdasarkan D 1857 Fusibility of Ash (for reducing
atmosphere, for oxidizing atmosphere), dengan mengamati initial deformation
temperature, softening temperature, hemispherical temperature, fluid
temperature
Uji Roga, untuk mendapatkan nilai index Roga
Uji kuat kokas (uji ketahanan terhadap jatuh), berdasarkan D 3038 Drop
Shatter Test
Uji drum, dengan D 3402 Drum Test or Tumbler Test, dan lain-lain
(catatan: D xxxx menunjukkan nomor standard ASTM)

2.4. Parameter Kualitas Batubara

13
Batubara merupakan endapan organik yang mutunya sangat ditentukan oleh
beberapa faktor antara lain tempat terdapatnya cekungan, umur, dan banyaknya
kontaminasi. Didalam penggunaannya batubara sebagai bahan bakar harus
menyesuaikan dengan kualitas batubara agar mesin yang dipergunakan tahan
lama.
Pada pemanfaatannya batubara perlu diketahui sifat-sifat yang akan
ditunjukkan oleh batubara tersebut, baik yang bersifat kimiawi, fisik dan mekanis.
Sifat-sifat ini akan dapat dilihat atau disimpulkan dari data kualitas batubara hasil
analisa dan pengujiannya. Dari sejumlah data kualitas yang ada dapat diambil
harga rata-ratanya, misalnya kandungan air, kandungan abu, tetapi ada pula yang
tidak dapat diambil harga rata-ratanya, melainkan harus dilihat harga minimum
dan maksimum.
Beberapa parameter kualitas batubara yang akan sangat mempengaruhi
pemanfaatannya, terutama sebagai bahan bakar adalah :
a. Kandungan Air ( Moisture Content)
Moisture adalah sejumlah air yang terkandung didalam batubara dimana
kandungan air tersebut terdapat secara alami didalam batubara. Kandungan
air dapat dibedakan atas kandungan air bebas (free moisture), kandungan air
bawaan (inherent moisture) dan kandungan air total (total moisture).
Kandungan air ini akan banyak pengaruhnya pada pengangkutan,
penanganan, penggerusan maupun pada pembakarannya. Kandungan air
bebas dapat naik dan turun tergantung dari pemeliharaan batubara setelah di
tambang baik pada saat diangkut dan pada saat penumpukan, sehingga
memerlukan penanganan yang khusus.
Tinggi rendahnya total moisture akan tergantung pada :
Peringkat batubara
Size distribusi
Kondisi pada saat Sampling
Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara
tersebut atau semakin padat batubara tersebut. Dengan demikian akan
semakin kecil juga moisture yang dapat diserap atau ditampung dalam pori

14
batubara tersebut. Hal ini menyebabkan semakin kecil kandungan
moisturenya khususnya inherent moisturenya.
b. Kandungan Abu
Batubara sebenarnya tidak mengandung abu, melainkan mengandung
mineral matter. Namun sebagian mineral matter dianalisa dan dinyatakan
sebagai kadar Abu atau Ash Content.
Selain kualitas yang akan mempengaruhi penanganannya, baik sebagai fly
ash (abu terbang) maupun bottom ash (abu dasar) tetapi komposisinya yang
akan mempengaruhi pemanfaatan dan juga titik leleh yang dapat
menimbulkan fouling (tingkat pengotoran) pada pipa-pipa. Dalam hal ini
kandungan Na2O dalam abu akan sangat mempengaruhi titik leleh abu. Abu
ini dapat dihasilkan dari pengotor bawaan (inherent ash) maupun pengotor
dari hasil penambangan. Komposisi abu sebaiknya diketahui dengan baik
untuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan bangunan atau keramik
dan penanggulangannya terhadap masalah lingkungan yang dapat
ditimbulkannya.
Sifat-sifat kadar abu antara lain :
Kadar abu dalam batubara tergantung pada banyaknya dan jenis mineral
matter yang dikandung oleh batubara baik yang berasal dari inherent
atau dari extraneous.
Kadar abu relatif lebih stabil pada batubara yang sama. Oleh karena itu
Ash sering dijadikan parameter penentu dalam beberpa kalibrasi alat
preparasi maupun alat sampling.
Semakin tinggi kadar abu pada jenis batubara yang sama, semakin
rendah nilai kalorinya.
Kadar abu juga sering mempengaruhi nilai HGI batubara.
Kegunaan kadar Abu antara lain :
Kadar abu didalam penambangan batubara dapat dijadikan penentu
apakah penambangan tersebut bersih atau tidak, yaitu dengan
membandingkan kadar abu dari data geologi atau planning, dengan
kadar abu dari batubara produksi.

15
Kadar abu dalam komersial sering dijadikan sebagai garansi spesifikasi
atau bahkan sebagai rejection limit.
c. Zat Terbang (Volatil Matter)
Volatile matter/ zat terbang, adalah bagian organik batubara yang menguap
ketika dipanaskan pada temperature tertentu. Volatile matter biasanya
berasal dari gugus hidrokarbon dengan rantai alifatik atau rantai lurus. Yang
mudah putus dengan pemanasan tanpa udara menjadi hidrokarbon yang
lebih sederhana seperti methana atau ethana.
Kandungan zat terbang sangat erat kaitannya dengan kelas batubara tersebut,
makin tinggi kandungan zat terbangnya makin rendah kelasnya. Pada
pembakaran batubara, maka kandungan zat terbang yang tinggi akan lebih
mempercepat pembakaran karbon padatnya dan sebaliknya zat terbang yang
rendah lebih mempersukar proses pembakaran.
Sifat-Sifat Volatile Matter antara lain :
Kadar Volatile Matter dalam batubara ditentukan oleh peringkat
batubara.
Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar
volatile matternya.
Volatile matter memiliki korelasi dengan vitrinite reflectance, semakin
rendah volatile matter, semakin tinggi vitrinite reflectancenya
Kegunaan Volatile Matter dalam batubara antara lain :
Volatile Matter digunakan sebagai parameter penentu dalam penentuan
peringkat batubara.
Volatile matter dalam batubara dapat dijadikan sebagai indikasi
reaktifitas batubara pada saat dibakar.
Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar
volatile matternya.
d. Karbon (Fixed Carbon)
Fixed Carbon merupakan sisa padat dari hasil pemanasan batubara setelah
seluruh zat terbangnya habis keluar. Kandungan karbon tertambat pada
kandungan zat terbang disebut Fuel Ratio.

16
Tabel 2.2. Fuel Ratio Berbagai Jenis Batubara (Sukandarrumidi,
1994)
Jenis Batubara Fuel Ratio
Coke 92
Antrasit 24
Semi Antrasit 8,6
Bituminus
(Low volatil) 2,8
(Medium volatil) 1,9
(High volatil) 1,3
Lignit 0,9

e. Nilai Kalori
Adalah nilai energi yang dapat dihasilkan dari pembakaran batubara,
biasanya dijadikan sebagai parameter utama dalam penentuan kualitas
batubara yang didapat dengan cara melakukan pembakaran sejumlah
batubara didalam alat bom kalorimeter.
Nilai Kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi
peringkat batubara, semakin tinggi nilai kalorinya. Pada batubara yang sama
Nilai kalori dapat dipengaruhi oleh moisture dan juga Abu. Semakin tinggi
moisture atau abu, semakin kecil nilai kalorinya.
Ada dua jenis nilai kalori yaitu :
1. Nilai Kalori Net (Net Calorific Value atau Low Healthing Value)
Yaitu yang dihasilkan apabila batubara tersebut dibakar yang panas
didalam kondisi alami atau nilai kalori yang dihitung dalam keadaan
semua air dalam wujud gas.
2. Nilai Kalori Gross (Grosses Calorific Value atau High Healthing
Value)
Yaitu panas total yang diperoleh dari suatu batubara melalui
pengukuran standar dan semua produk pembakaran dikembalikan
pada temperatur ruangan.
f. Sulfur Content

17
Kandungan sulfur atau belerang dapat berbeda dalam batubara sebagai
mineral Pirit, Markasit, Calsium Sulfat atau Belerang organik yang pada
pembakarannya akan berubah menjadi SO2.
Kandungan sulfur dalam batubara sangat bervariasi dan pada umumnya
bersifat heterogen sekalipun dalam satu seam batubara yang sama. Baik
heterogen secara vertikal maupun secara lateral.
Namun demikian ditemukan juga beberapa seam yang sama memiliki
kandungan sulfur yang relatif homogen.
Sulfur dalam batubara thermal maupun metalurgi tidak diinginkan,
karena Sulfur dapat mempengaruhi sifat-sifat pembakaran yang dapat
menyebabkan slagging maupun mempengaruhi kualitas produk dari besi
baja. Selain itu dapat berpengaruh terhadap lingkungan karena emisi
sulfur dapat menyebabkan hujan asam. Oleh karena itu dalam komersial,
Sulfur dijadikan batasan garansi kualitas, bahkan dijadikan sebagai
rejection limit.
Namun demikian dalam beberapa utilisasi batubara, Sulfur tidak
menyebabkan masalah bahkan sulfur membantu performance dari
utilisasi tersebut. Utilisasi tersebut misalnya pada proses pengolahan
Nikel dan juga pada proses Coal Liquefaction (Pencairan Batubara).
g. Coal Size
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar.
Butir paling halus untuk ukuran <3 mm, dan ukuran paling kasar 50 mm.
Ukuran butir paling halus dibatasi Dustness dan tingkat kemudahan
diterbangkan angin sehingga mengotori lingkungan. Tingkat Dustness
dan kemudahan beterbangan masih ditentukan pula oleh kandungan
moisture batubara. Sehingga dapat disimpulkan semakin kecil ukuran
partikel batubara, maka semakin besar luas permukaanya. Hal ini
menyebabkan akan semakin tinggi surface moisturenya. Pada nilai
inherent moisture tetap, maka TM-nya akan naik yang dikarenakan
naiknya surface moisture.
h. Hardgrove Grindability Index (HGI)/Indek Gerus

18
Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukkan mudah tidaknya
batubara untuk di gerus. Makin kecil bilangannya, maka semakin keras
keadaan batubaranya. Harga HGI untuk batubara di Indonesia berkisar
antara 35 60.
i. Sifat Caking dan Coking
Kedua sifat tersebut ditunjukkan oleh nilai muai bebas (free swelling
index) dan harga dilatasi, yang terutama memberikan gambaran sifat
fisik pelunakan batubara pada pemanasannya.

Harga-harga yang ditunjukkan oleh hasil analisa dan pengujian tersebut


diperoleh dari sejumlah sampel dengan menggunakan tata cara tertentu.
Sedang dalam kenyatannya perlu dilakukan pemantauan oleh pemakai
batubara terhadap hasil pembakaran sebenarnya. Dengan demikian akan
diperoleh angka-angka yang dapat dikorelasi terhadap hasil analisa dan
pengujian dari sampel batubara (Sukandarrumidi, 1994).
Berdasarkan penjelasan diatas maka kualitas batubara pada merupakan
jenis batubara sub bituminus. Batubara jenis sub bituminus/bituminus
mempunyai kalori antara 5700 kcal/kg sampai 7000 kcal/kg, sedangkan
batubara jenis lignit dengan warnanya yang hitam kecoklatan, mudah rapuh,
memiliki kalori kurang dari 5700 kcal/kg. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel kualitas batubara yang terdiri dari seam C dan seam D dibawah
ini :

Tabel 2.3. Contoh Analisa Kualitas Batubara dari Data Drill Eksplorasi

KUALITAS BATUBARA PIT V SEAM C


Nomor Sample Seam TM CV (Adb) Ash(%) TS(%)

19
(Ar)
VD-01-C C 5.7 6796 12.6 0.33
VD-02-C C 4.6 6647 14.8 0.51
VD-03-C C 5.4 7607 6.9 0.44
VB-KOKEN2-01-C C 7.1 6457 13.1 0.34
VC-KOKEN1-03-C C 5 6671 13.9 0.33
VC-KOKEN1-03-C1 C1 12.4 8100 6 1.85
VA-KOKEN1-01-C C 5.3 6793 13 0.36
VB-KOKEN1-02-C1 C1 4.9 6777 12.4 0.3
VA-KOKEN1-02-C1 C1 5.3 6633 14.4 0.3
VA-KOKEN1-03-C C 5 5826 22.4 0.41
VA-KOKEN1-03-C1 C1 6 6731 12.7 0.35
VB-KOKEN2-03-C C 6.3 6554 13.6 0.36
VB-KOKEN2-03-C1 C1 4 7626 4.8 1.48
VA-KOKEN2-01-C C 5.9 6653 13.1 0.33
VA-KOKEN1-04-C C - 8060 11.1 0.35
VB-YBM1-02-C C 4.1 6689 13.6 0.35
VB-YBM2-02-C C 5.2 6693 12.9 0.33
VB-YBM1-02-C C 4.1 6689 13.6 0.35
VB-YBM2-02-C C 5.2 6693 12.9 0.33
VC-KOKEN1-01A-
C1 5.3 7520 4.7 2.09
C1
VC-KOKEN1-01A-C C 5.4 6984 10 0.38
AVERAGE 5.61 6914 12.02381 0.5652381

KUALITAS BATUBARA PIT V SEAM D


Nomor Sample Seam TM(Ar) CV(Adb) Ash(%) TS(%)
VB-SUNDER-02-D D 10 7149 8.1 0.72
VB-KOKEN2-01-D D 6 7251 7.9 0.92
VC-KOKEN1-03-D D 4.9 7188 8.6 1.41
VC-KOKEN1-01A-D D 10.9 7143 7.1 0.69
VB-YBM1-02-D D 5.4 7141 7.5 0.52
VB-YBM2-02-D D 5 7275 6.7 0.57
VA-KOKEN1-01-D D 7.1 6838 10.6 0.71
VB-KOKEN2-02-D D 5.7 7280 8 1.05
VA-KOKEN1-02-D D 5.6 7111 8.2 0.8
VA-KOKEN1-03-D D 6.2 7173 7.3 0.64
VB-SUNDER-03-D D 6.3 7112 7.5 3.39
VB-SUNDER-03-D1 D 5.9 7279 7 0.46

20
VB-KOKEN2-03-D D 6.1 7053 8.7 0.6
VA-KOKEN2-01-D D 6.8 7119 7.7 0.67
VA-KOKEN1-04-D D 5.6 7039 8.6 0.68
VB-SUNDER-01-D D 8.2 7076 7.3 0.74
VB-YBM1-02-D D 5.4 7141 7.5 0.52
VB-YBM2-02-D D 5 7275 6.7 0.57
AVERAGE 6.5 7146.833 7.8 0.87
(Sumber : Quality Control Data Drill Eksplorasi PT. TAJ, 2008)

Dari tabel kualitas batubara seam C dan seam D diatas hanya 4


parameter saja yang digunakan untuk perhitungan blending karena 4
parameter tersebut yang biasanya lebih mempengaruhi kualitas batubara.
Dengan rata-rata yang di dapat untuk seam C, TM = 5,61 %, CV = 6914
kcal/kg, Ash = 12,02 %, dan TS = 0,57 %. Untuk seam D, TM = 6,5 %, CV
= 7146 kcal/kg, Ash = 7,8 %, dan TS = 0,87 %. Hasil tersebut digunakan
untuk perhitungan blending dengan standar deviasi 5 % untuk masing-
masing parameter, alasannya karena terjadi penurunan kualitas batubara
pada saat penambangan seperti : proses cleaning batubara kurang bersih,
pengaruh cuaca saat hujan batubara berlumpur, dan saat terendam di
tambang batubara kena lumpur.
Batubara yang ditambang umumnya masih berukuran relative besar,
pengotor batubara belum terliberasi sehingga perlu direduksi ukurannya
dengan menggunakan alal peremuk (crusher) dan alat penggiling (grinding
mill) supaya hasil peremukan dan penggilingan mempunyai ukuran yang
sama dan pengotornya dapat terpisah dari batubara, maka perlu
pengendalian ukuran (sizing) yaitu dengan cara pengayakan (screening)
maupun classifying.

2.4.1. Sampling
Dalam transaksi pembelian batubara, bukan hanya kuantitas yang
menjadi perhatian utama, tetapi juga kualitasnya karena menjadi salah satu
faktor yang menentukan harga batubara, selain itu menjadi penentu apakah

21
batubara tersebut diterima atau ditolak oleh buyer oleh karena itu
pengukuran kualitas harus dilakukan secermat mungkin.
Berdasarkan perhitungan statistik, para ahli menyatakan bahwa 80%
kecermatan pengukuran kualitas batubara ditentukan oleh sampling, 20%
lainnya ditentukan oleh sample preparation dan analisis, oleh karena itu
proses sampling memerlukan perhatian yang jauh lebih besar.
Sebagaimana kita ketahui bahwa kegiatan sampling adalah proses
pengambilan contoh batubara dari sebagian kecil produk batubara yang
akan diuji kualitasnya. Berdasarkan pengertian di atas, maka tujuan dari
sampling ialah untuk mengetahui kualitas batubara yang ada melalui proses
penelitian di laboratorium. Dalam pengambilan sample harus dilakukan
dengan sistem yang benar dan menggunakan metode yang tepat, guna
memenuhi syarat (mewakili dari seluruh produk batubara yang ada).
Didalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal
yang sangat penting, karena merupakan proses yang sangat vital dalam
menentukan karakteristik batubara tersebut. Dalam tahap eksplorasi,
karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam studi kelayakan
apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak.
Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara
tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.

Tabel 2.4. Jumlah Increment Berdasarkan Metoda Standar


LOKASI SAMPLING JUMLAH INCREMENT/1000 MT

Batubara Bersih Batubara Kotor


Kering/Tunggal Basah/Blending
ASTM ISO BS ASTM ISO BS
STOP BELT / FALLING STREAM/ 15 16 20 35 32 35
MOVING BELT
TRUCK / LORI/TONGKANG 35 24 25 35 48 50
STOCKPILE / LAMBUNG KAPAL 35 32 35 35 64 65
(Sumber : Training PT. KPP Modul 5, Materi Quality Control 2005)

22
Catatan :- Jumlah Increment diatas untuk batubara dengan tonase 1000
ton
tonase - Untuk diatas
n
1000 1000 ton, berlaku
rumus =
Dimana n = jumlah increment per 1000 ton

2.4.2. Blending
Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan
sifat dan kualitas batubara daerah atau dengan jenis yang berbeda, sehingga
memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen . biasanya blending
dilakukan antara batubara peringkat rendah dengan perigkat tinggi, kadar abu
tinggi dengan kadar abu rendah, kadar air tinggi dengan kadar air rendah,
kadar sulfur tinggi dengan kadar air rendah. Dalam pembangkit liistrik,
sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan diantaranya:
Meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran
batubara yang dapat digunakan.
Diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan.
Membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara
yang diluar spesifikasi yang diinginkan.
Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya di hitung
berdasarkan rata rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari
masing masing batubra individu (yang dicampur). Data kualitas tersebut
kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam

23
ketel uap. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat
diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata rata berat.
Parameter parameter air, kadar abu, zat terbang, karbon padat, karbon total,
hidrogen, sulfur, nitrogen, oksigen, klorin, kadar maseral dan nilai kalori
cenderung bersifat aditif, sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut.
Sedangkan nilai muai bebas, titik leleh abu dan HGI umumnya
cenderung bersifat nonaditif. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif
hanya untuk blending antara peringkat yang sama. Sedangkan Riley (1989)
menyatakan HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing
masing batubara yang diblending tidak lebih dari 10.
Sebagai salah satu jenis bahan bakar pembangkit energi, disamping gas
alam dan minyak bumi, batubara diperlukan dengan nilai-nilai kalori tertentu.
Apabila persediaan batubara di stockpile tidak memiliki kalori yang seperti
diminta konsumen maka akan dilakukan proses blending. Apabila permintaan
pasar sesuai dengan kualitas batubara yang ada di stockpile, maka tidak perlu
dilakukan blending.
Blending adalah pencampuran dua jenis batubara dengan kualitas
batubara yang berbeda sehingga menghasilkan kualitas batubara yang
diinginkan dengan rumus tertentu.
Bleding bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih
tipe batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara
akan terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah yang cukup besar
untuk mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses
pengambilan contoh dilakukan. Dalam proses blending batubara harus
tercampur secara merata.
Faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses blending adalah:
a. Kuantitas batubara yang ada di stockpile
b. Parameter apa yang menjadi tolok ukur blending, biasanya kalori
c. Variasi parameter batubara yang akan diblending
d. Peralatan blending yang memadai
e. Kapasita stockpile harus mencukupi

24
Adapun rumus Blending yang digunakan yaitu :

( X .A) + (Y. B )
= Z
X + Y

Keterangan :
X = Berat/tonase batubara A
Y = Berat/tonase batubara B
A = Kualitas batubara A
B = Kualitas batubara B
Z = Nilai kualitas batubara yang diinginkan

25