Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

SISTEM KOORDINAT DALAM ASTRONOMI

Sistem Koordinat Horizontal, Ekuatorial, Ekliptik

Untuk memenuhi tugas matakuliah Astronomi.


Dosen Pengampu : Yesiana Arimurti S.Si., M.Sc.

Disusun oleh:
Nama : Bayu Pradana
NIM : K2315014
Kelas : B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alam semesta ini diciptakan dalam keadaan yang teratur rapi. Keteraturan
gerakan bintang termasuk matahari, planet, satelit, komet dan benda langit
lainnya menyebabkan gerakan bendabenda tersebut dapat dipelajari dengan
seksama. Dengan memahami gerakan bendabenda langit tersebut, manusia dapat
memperkirakan peristiwa peristiwa yang terjadi di masa depan dengan akurat.
Kapan matahari terbenam, terjadi bulan purnama, gerhana matahari dan lain-lain
dapat dihitung dengan ketelitian tinggi. Untuk memudahkan pemahaman terhadap
posisi bendabenda langit, diperkenalkan beberapa sistem koordinat. Setiap
sistem koordinat memiliki koordinat masingmasing. Posisi benda langit seperti
matahari dapat dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu. Selanjutnya nilainya
dapat diubah ke dalam sistem koordinat yang lain melalui suatu transformasi
koordinat.
Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat
yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut. Tata
koordinat tersebut terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator,dan
tata koordinat ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara
penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan
dan kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut. Dengan demikian penggunaan
suatu sistem koordinat bergantung pada hasil yang kita inginkan, apakah hasil yang
didapat ingin digunakan untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan dapat
dipakai secara universal.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

1. Apa pengertian dan macam koordinat bola langit?


2. Apa yang dimaksud dengan koordinat horizon?
3. Apa yang dimaksud dengan koordinat ekuatorial?
4. Apa yang dimaksud dengan koordinat ekliptikal?
BAB II

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN SISTEM KOORDINAT LANGIT

Sistem Koordinat langit diterjemahkan sebagai nilai dalam suatu


tatanan referensi yang dipergunakan untuk menentukan kedudukan benda
langit dalam bola langit. Sedangkan bola langit adalah sebuah bola dengan
jari-jari tak terhingga dan berpusat di pusat bumi, dari bumi semua benda
langit diproyeksikan ke bola langit. Ia adalah lingkaran khayal yang
merupakan batas pandangan mata pengamat ke angkasa tempat benda-benda
langit yang seolah-olah menempel pada langi. Sedangkan dalam keterangan
lain disebutkan bahwa bola langit adalah ruangan yang maha luas yang
berbentuk bola yang dapat kita lihat sehari-hari tempat matahari, bulan, dan
bintang-bintang bergeser setiap saat. Bintang-bintang itu dilihat seolah-olah
berserak disebuah kulit bola sebelah dalam, walaupun letak sesungguhnya
sangat berjauhan.

Koordinat yang diperlukan untuk menggambarkan posisi suatu benda


langit disebut koordinat bola langit. Untuk menyatakan letak suatu benda
langit diperlukan suatu tata koordinat yang dapat menyatakan secara pasti
kedudukan benda langit tersebut. Tata koordinat tersebut terdiri dari tata
koordinat horison, tata koordinat ekuator, dan tata koordinat ekliptika.
Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara penggunaan sistem yang
berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam
penggunaan sistem tersebut. Dengan demikian penggunaan suatu sistem
koordinat bergantung pada hasil yang kita inginkan, apakah hasil yang didapat
ingin digunakan untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan dapat
dipakai secara universal.

Dalam menentukan posisi benda langit tentunya kita harus menentukan


terlebih dahulu tempat atau benda yang akan menjadi acuan dalam
pengamatan sehingga, kita dapat dengan mudah dalam menentukan posisi
benda yang akan diteliti. Tentunya dari ketiga jenis koordinat bola langit yang
akan dijelaskan untuk titik acuan di tentukan oleh pengamat itu sendiri, artinya
tergantung posisi sipengamat itu sendiri berada di daerah mana dan disebelah
mana.

Bola langit adalah bola khayal dengan radius tak hingga yang tampak
berotasi, konsentrik dan koaksial dengan bumi, dan semua obyek langit
dibayangkan berada pada kulit bola sebelah dalam. Bola langit digunakan untuk
menentukan posisi benda-benda langit sehingga memudahkan dalam
pengamatan. Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata
koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit. Pada
intinya tata koordinat langit hanya menaruh perhatian pada arah letak
sebuah benda langit saja, dan tidak memperhitungkan jarak benda langit
tersebut.

2. MACAM-MACAM TATA KOORDINAT LANGIT

A) SISTEM KOORDINAT HORIZON

Sistem koordinat horizon ini adalah sistem koordinat yang paling sederhana
dan paling mudah dipahami. Tetapi sistem koordinat ini sangat terbatas, yaitu hanya
dapat menyatakan posisi benda langit pada satu saat tertentu, untuk saat yang berbeda
sistem koordinat ini tidak dapat memberikan hubungan yang mudah dengan posisi
benda langit sebelumnya. Karena itu menyatakan saat benda langit pada posisi itu
sangat diperlukan dan sistem koordinat lain diperlukan agar dapat memberikan
hubungan dengan posisi sebelum dan sesudahnya.

Bola langit dapat dibagi menjadi dua bagian sama besar oleh satu bidang yang
melalui pusat bola itu, menjadi bagian atas dan bagian bawah. Bidang itu adalah
bidang horisontal yang membentuk lingkaran horizon pada permukaan bola, dan
bagian atas adalah letak benda-benda langit yang tampak, dan bagian bawahnya
adalah letak dari benda-benda langit yang tidak terlihat saat itu.
Keterangan :

Az. : Azimut, Alt. : Altitude (tinggi)

Z : Zenit, N : Nadir

U : Utara, S : Selatan

T : Timur, B : Barat

UTSB : Bidang Horizon

UZS : Meridian Langit

BZT : Ekuator Langit

Disetiap tempat di permukaan Bumi mempunyai lingkaran meridian yang


berbeda-beda tergantung bujur tempat itu (yang berbujur sama mempunyai lingkaran
meridian yang sama). Pada dasarnya garis Utara-Selatan adalah perpanjangan sumbu
Bumi yang melalui kutub Utara dan kutub Selatan. Titik Utara di Kutub Utara sering
disebut Titik Utara Sejati (True North), dan sebaliknya Titik Selatan Sejati (True
South), yang mana letaknya berbeda dengan Kutub Utara Magnetik dan Kutub
Selatan Magnetik. Apabila dilihat dari zenith maka dengan putaran searah jarum jam
akan mendapatkan arah Utara, Timur, Selatan dan Barat dengan besar perbedaan
sudutnya sebesar 90o.
Horizon adalah batas pemandangan atau kaki langit, merupakan pertemuan
antara kaki langit dan permukaan bumi, garis ini membentuk lingkaran dengan titik
pusat dimana kita berdiri, sebagian bola langit berada di atas dan sebagian lagi ada
dibawah horizon, sehingga dapat kita bayangkan bola langit yang besar dengan bumi
dengan sebagai pusatnya (seperti pada gambar di atas). Untuk memudahkan horizon
dibagi atas 3 jenis berdasarkan pandangan kita terhadap pandangan kita antara langit
dan bumi.

1. Horizon Kodrat (alam).


Apabila kita berdiri disebuah tanah yang luas dan datar atau ditengah
samudra/laut, kita melihat seolah-olah kubah langit bertemu dengan permukaan bumi.
Perpotongan lengkung langit dengan bidang datar ini disebut horizon kodrat. Horizon
Kodrat akan berubah sesuai dengan kedudukan dari si pengamat. Makin tinggi tempat
si pengamat maka makin rendah horizon kodrat.

2. Horizon Astronomi
Untuk menentukan letak benda-benda dilangit maka kita harus menggunakan
bidang datar yang tidak brubah-ubah dan tidak tergantung kepada sipengamat.
Horizon astronomi adalah tempat bidang yang datar yang dibuat dari mata si
pengamat sampai menyentuh lengkung langit.

3. Horizon Sejati
Horizon sejati adalah bidang datar yang ditarik memotong melalui titik pusat
bumi dan memotong garis vertikal tegak lurus (90').

Di samping ke-3 tersebut diatas kita mengenal titik Zenit yang ada tepat diatas
kita (tempat berdiri) dan titik yang berada dibawah kaki kita terus menembus bola
langit yang berada dibawah disebut nadir, titik nadir dan zenith dihubungkan dengan
garis lurus melalui tempat kita berdiri dan tentu saja melalui pusat bumi.
Zenith adalah titik yang berada di bola langit tepat diatas sipengamat, jika kita buat
garis vertikal maka garis ini akan membentuk sudut 90' (tegak lurus) dengan horizon
sejati.
Nadir adalah titik yang berada pada bola langit bawah, bila ditarik garis melalui
pengamat ketitik ini membentuk garis yang tegak lurus terhadap horizon sejati
Vertikal adalah garis atau bidang yang berdiri tegak lurus dengan garis atau bidang
sejati.

Pada sistem koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan


pandangan pengamat saja. Sistem koordinat horizon tidak dapat menggambarkan
lintasan peredaran semu bintang, dan letak bintang selalu berubah sejalan dengan
waktu. Namun, sistem koordinat horizon penting dalam hal pengukuran adsorbsi
cahaya bintang.

Sistem koordinat horizon memakai bidang horizon sebagai bidang dasar


terhadap mana posisi-posisi bintangbintang ditentukan. Untuk menyatakan
posisi-posisi bintang di bola langit itu, maka sistem koordinat horizon menggunakan
dua buah unsur, yaitu:
1. Tinggi bintang
2. Azimuth bintang

Kordinat - kordinat dalam sistem koordinat horizon adalah:


1) Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur dari
selatan ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti pada gambar
azimut bintang adalah 220. Namun ada pula azimut yang diukur dari Utara ke arah
timur, oleh karena itu sebaiknya Anda menuliskan keterangan tentang ketentuan
mana yang Anda gunakan.
2) Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari
proyeksi bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang
diukur 0 90 jika arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0 -90 jika arahnya ke
bawah.
Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang,
lukislah lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang yang
sejajar dengan horizon (lingkaran PQRS).

Untuk menentukan tinggi sebuah bintang P, maka terlebih dahulu kita adakan
sebuah lingkaran vertikal yang melalui bintang P, lingkaran vertikal bintang P
tersebut Memotong horizon pada titik R. Dengan demikian maka tinggi d/p bintang P
= busur R-P.

Tinggi sebuah bintang dihitung mengikuti lingkaran vertikal bintang yang


bersangkutan, mulai dari horizon sampai pada bintang tersebut. Azimuth sebuah
bintang mengikuti lingkaran horizon mulai dari titik selatan, dengan arah SBUT,
sampai pada proyeksi di horizon bintang tersebut.

Berdasarkan ketentuan mengenai azimuth bintang saperti tersebut di atas,


maka nilai azimuth bintang P = busur SBUTR. Dengan mengenal istilah tersebut akan
memudahkan kita dalam memahami sistem koordinat horison dengan ordinatnya
yaitu, Azimuth dan Tinggi (A,h).

Tinggi benda langit dapat digambarkan pada bola langit dengan membuat
lingkaran besar yang melalui zenith, benda langit itu dan tegak lurus pada horison
(lingkaran vertikal), diukur dari horison dengan nilainya 0o-90o.

Untuk menyatakan Azimuth terdapat 2 versi:


a. Versi pertama menggunakan titik Selatan sebagai acuan.
b. Versi kedua yang dianut secara internasional, diantaranya dipakai pada astronomi
dan navigasi menggunakan titik Utara sebagai acuan, berupa busur UTSB.

Kedua versi tersebut menggunakan arah yang sama, yaitu jika dilihat dari
zenith arahnya searah perputaran jarum jam yang nilainya 0o-360o.

Keuntungan dalam penggunaan sistem koordinat horison yaitu pada


penggunaannya yang praktis. Sistem koordinat yang sederhana dan secara langsung
dapat dibayangkan letak objek pada bola langit. Namun tedapat juga beberapa
kelemahan pada Sistem koordinat ini, yaitu pada tempat yang berbeda maka
horisonnya pun berbeda serta terpengaruh oleh waktu dan gerak harian benda langit.
koordinat alt-azimuth hanya berlaku lokal (di sekitar pengamat) saja. Ketinggian dan
azimuth sebuah bintang pada saat yang sama akan memiliki nilai yang berbeda jika
dilihat dari tempat yang jauh. Misalkan seorang pengamat di Semarang ingin
memberitahukan sebuah objek yang ditemukannya kepada pengamat lain di Bandung
dengan memberikan koordinat alt-azimuth objek tersebut, maka pengamat di
Bandung akan kesulitan menemukan objek yang dimaksud.
B) SISTEM KOORDINAT EKUATOR

Sistem koordinat ekuator adalah sistem koordinat langit yang paling sering
digunakan. Sistem koordinat ini merupakan sistem koordinat yang bersifat geosentrik.
Mirip dengan sistem koordinat geografi yang dinyatakan dalam bujur dan lintang, sistem
koordinat ekuator dinyatakan dalam asensio rekta dan deklinasi. Kedua sistem koordinat
tersebut menggunakan bidang fundamental yang sama, dan kutub-kutub yang sama.
Ekuator langit sebenarnya adalah perpotongan perpanjangan bidang ekuator Bumi pada
bola langit, dan kutub-kutub langit sebenarnya merupakan perpanjangan poros rotasi
Bumi (yang melewati kutub-kutub Bumi) pada bola langit.

Sistem koordinat ini dapat menyatakan letak benda langit dalam skala waktu
relatif panjang. Sekalipun perubahan unsur-unsur koordinatnya relatif kecil terhadap
waktu.

Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda langit selalu
dipandang terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang digambarkan sebagai bola
langit. Bola yang memuat bidang khayal tersebut disebut bola langit. Ukuran bola
Bumi diabaikan terhadap bola langit sehingga setiap pengamat di muka Bumi
dianggap berada di pusat bola langit.

Seperti halnya pada pembahasan mengenai bola pada umumnya, setiap lingkaran
pada bola langit yang berpusat di pusat bola dan membagi bola menjadi dua bagian
yang sama besar disebut lingkaran besar, sedangkan lingkaran lainnya disebut
lingkaran kecil.

Seperti halnya bujur, asensio rekta dihitung sepanjang lingkaran yang sejajar
ekuator. Asensio rekta dihitung ke arah timur mulai dari titik Aries atau titik Vernal
Ekuinok yang merupakan salah satu titik perpotongan antara bidang ekliptika dan
ekuator langit, tempat Matahari berada pada tanggal 21 Maret. Asensio rekta
dilambangkan dengan " ", kadang-kadang disebut juga RA (dari bahasa Inggris Right
Ascension) dan dinyatakan dalam satuan sudut (jam, menit, detik), dengan 1 jam = 360
derajad / 24 jam = 15 derajad. Dalam pengamatan praktis seringkali harga ini tidak
diketahui bahkan harus ditentukan sehingga digunakan besaran lain yang bersifat lokal,
yaitu sudut jam atau HA (dari bahasa Inggris Hour Angle).

Seperti halnya lintang, deklinasi diukur dari ekuator ke arah kutub. Deklinasi
bernilai positif bila benda langit yang diamati berada di belahan langit utara, dan negatif
bila benda langit yang diamati berada di belahan bumi selatan. Deklinasi dilambangkan
dengan " " dan dinyatakan dalam satuan sudut (derajat, menit, detik).

Sistem koordinat ekuator merupakan sistem koordinat yang paling penting


dalam astronomi. Letak bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya umumnya
dinyatakan dalam tata koordinat ekuator. Pada tata koordinat ekuator,
lintasan bintang di langit dapat ditentukan dengan tepat karena faktor lintang
geografis pengamat () diperhitungkan, sehingga lintasan edar bintang-bintang di
langit (ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap pengamat. Sebelum menentukan letak
bintang pada tata koordinat ekuator, sebaiknya kita mempelajari terlebih dahulu sikap
bola langit, yaitu posisi bola langit menurut pengamat pada lintang tertentu.

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub
() . Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai = , dengan diukur dari Selatan
ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan diukur dari Utara ke KLU jika
pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat pada = 90 LU lingkaran
ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub lintang utara berimpit
dengan zenit, sedangkan pada = 90 LS lingkaran ekliptika akan berimpit dengan
lingkaran horizon, dan kutub lintang selatan berimpit dengan zenit

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat ekuator adalah:


1) Bujur suatu bintang dinyatakan dengan sudut jam atau Hour Angle (HA). Sudut jam
menunjukkan letak suatu bintang dari titik kulminasinya, yang diukur dengan satuan
jam (ingat,1h = 15). Sudut jam diukur dari titik kulminasi atas bintang (A) ke arah
barat (positif, yang berarti bintang telah lewat kulminasi sekian jam) ataupun ke arah
timur (negatif, yang berarti tinggal sekian jam lagi bintang akan berkulminasi). Dapat
juga diukur dari 0 360 dari titik A ke arah barat.
2) Lintang suatu bintang dinyatakan dengan deklinasi (), yang diukur dari proyeksi
bintang di ekuator ke arah bintang itu menuju ke kutub Bumi. Tinggi bintang diukur
0 90 jika arahnya menuju KLU dan 0 -90 jika arahnya menuju KLS.

Dapat kita lihat bahwa deklinasi suatu bintang nyaris tidak berubah dalam
kurun waktu yang panjang, walaupun variasi dalam skala kecil tetap terjadi akibat
presesi orbit Bumi. Namun sudut jam suatu bintang tentunya berubah tiap jam akibat
rotasi Bumi dan tiap hari akibat revolusi Bumi. Oleh karena itu, ditentukanlah suatu
ordinat baku yang bersifat tetap yang menunjukkan bujur suatu bintang pada tanggal
23 September pukul 00.00, yaitu ketika titik Aries tepat berkulminasi atas pada
pukul 00.00 waktu lokal (vernal equinox). Ordinat inilah yang disebut asensiorekta
(ascencio recta) atau kenaikan lurus, yang umumnya dinyatakan dalam jam. Faktor
gerak semu harian bintang dikoreksi terhadap waktu lokal (t) dan faktor gerak semu
tahunan bintang dikoreksi terhadap Local Siderial Time (LST) atau waktu bintang,
yaitu letak titik Aries pada hari itu. Pada tanggal 23 September LST-nya adalah pukul
00h, dan kembali ke pukul 00h pada 23 September berikutnya sehingga pada tanggal
21 Maret, 21 Juni, dan 22 Desember LST-nya berturut-turut adalah 12h, 18h, dan 06h.
Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

Adapun hubungan LST, HA00 dan asensiorekta ()

LST = + HA00

Dengan t adalah waktu lokal. Misal jika HA00 = +3h, maka sudut jam bintang
pada pukul 03.00 adalah +6h (sedang terbenam). Ingat, saat kulminasi atas maka HA =
00h. Dengan demikian didapatkan hubungan komplit bujur pada tata koordinat
ekuator
LST + t = + HAt

Patut diingat bahwa HA00 ialah posisi bintang pada pukul 00.00 waktu lokal,
sehingga posisi bintang pada sembarang waktu ialah:

HAt = HA00 + t

Dengan ordinat tetap, HAt ordinat tampak, LST koreksi tahunan, dan t
koreksi waktu harian. Contoh pada gambar di bawah. Pada tanggal 21 Maret, LST-nya
adalah 12h. Jadi letak bintang R dengan koordinat (, ) sebesar (16h,-50)akan
nampak di titik R pada pukul 00.00 waktu lokal. Perhatikan bahwa LST diukur dari
titik A kearah barat sampai pada titik Aries . Tampak bintang R berada pada bujur
(HA00) -60 atau -4 jam. Jadi, bintang R akan berkulminasi atas di titik Ka pada pukul
04.00 dan terbenam di horizon pada pukul 10.00. Asensiorekta diukur dari titik Aries
berlawanan pengukuran LST sampai pada proyeksi bintang di ekuator. Jadi telah jelas
bahwa.

HA = LST

Dengan -xh = 24h - xh

Lingkaran kecil KaKb merupakan lintasan gerak bintang, yang sifatnya nyaris
tetap. Untuk bintang R, yang diamati dari = 40 LS akan lebih sering berada pada di
atas horizon daripada di bawah horizon. Pembahasan lebih lanjut pada bagian bintang
sirkumpolar.

Tinggi bintang atau altitude, yaitu sudut kedudukan suatu bintang dari horizon
dapat dicari dengan aturan cosinus segitiga bola. Tinggi bintang, a, yaitu

a = 90 -

Di mana jarak zenit () dirumuskan dengan :

cos = cos(90 ) cos(90 ) + sin(90 ) sin(90 ) cosHA

Di bawah ini diberikan deskripsi istilah-istilah yang dipakai pada bola langit:
Titik kardinal: empat titik utama arah kompas pada lingkaran horison, yaitu Utara,
Timur, Selatan dan Barat.
Lingkaran kutub, lingkaran jam atau bujur langit: lingkaran besar melalui kutub-kutub
langit.
Lingkaran ekliptika: lingkaran tempat kedudukan gerak semu tahunan Matahari.
Perpotongan bidang orbit Bumi (ekliptika) dengan bola langit.
Kutub-kutub langit: titik-titik pada bola langit tempat bola langit berotasi. Perpotongan
bola langit dengan sumbu Bumi. Kutub langit di belahan langit Selatan disebut Kutub
Langit Selatan (KLS) dan di belahan langit Utara disebut Kutub Langit Utara (KLU).
Pada sistem koordinat ekuator, koordinat yang digunakan adalah koordinat
Aksensiorekta (?) dan Deklinasi (d). Aksensiorekta adalah panjang busur yang
dihitung dari titik Aries atau disebut juga dengan titik gamma (g) pada lingkaran
ekuator langit sampai ke titik kaki dengan arah penelusuran ke arah timur, dengan
rentang antara 0 s.d. 24 jam atau 00 s.d. 3600.
Sedangkan deklinasi adalah panjang busur dari titik kaki pada lingkaran ekuator langit
ke arah kutub langit sampai ke letak benda pada bola langit. Deklinasi bernilai positif
jika ke arah KLU dan bernilai negatif jika ke arah KLS, dengan rentang antara 00 s.d.
900 atau 00 s.d. -900.

Dalam penggunaan sistem koordinat ekuator, terdapat hubungan antara waktu


matahari dengan waktu bintang (waktu sideris). Dimana Waktu Menengah Matahari
(WMM) = sudut jam Matahari + 12 jam. Hubungan ini tentunya berkaitan juga
dengan tanggal-tanggal istimewa titik Aries terhadap Matahari. Tanggal-tanggal
istimewa tersebut adalah :
Sekitar tanggal 21 Maret (TMS), Matahari berimpit dengan Titik Aries. Jam 0 WMM
= jam 12 waktu bintang.
Sekitar tanggal 22 Juni (TMP), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berhimpit
dengan titik Timur. Jam 0 WMM = jam 18 waktu bintang.
Sekitar tanggal 23 September (TMG), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries
berada di titik kulminasi atas. Jam 0 WMM = jam 0 waktu bintang.
Sekitar tanggal 22 Desember (TMD), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries
berhimpit dengan titik Barat. Jam 0 WMM = jam 06 waktu bintang.
Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub
() . Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai = , dengan diukur dari Selatan
ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan diukur dari Utara ke KLU jika
pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat pada = 90 LU lingkaran
ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub lintang utara berimpit
dengan zenit, sedangkan pada = 90 LS lingkaran ekliptika akan berimpit dengan
lingkaran horizon, dan kutub lintang selatan berimpit dengan zenit.

Gerak Harian Benda Langit

Bola langit melakukan gerak semu harian akibat gerak rotasi Bumi.
Pengamatan permukaan Bumi dapat mengamati benda langit bergerak berlawanan
arah dengan arah gerak rotasi Bumi. Rotasi Bumi arahnya dari barat ke timur, inilah
yang menyebabkan seolah-olah benda langit bergerak dari timur ke barat.

Oleh karena gerak harian bola langit terjadi akibat gerak rotasi Bumi, maka
periode gerak harian benda langit sama dengan periode rotasi Bumi yaitu satu hari,
yang umum dianggap satu hari adalah 24 jam, sehingga dalam selang waktu itu Bumi
telah berotasi sebesar 360o. Berikut ini diberikan hubungan waktu dan panjang busur
yang ditempuh benda langit dalam melakukan gerak harian:

24j = 3600

1j = 150

4m = 10

4d = 1

Lintasan gerak benda langit sejajar dengan ekuator langit dengan kemiringan
tergantung pada lintang pengamat (?) di permukaan Bumi. Besarnya sudut
kemiringan menunjukkan besarnya jarak kutub (90o- ?) tempat pengamat berada.
Lintasan gerak harian benda langit di ekuator langit berbentuk lingkaran besar
sedangkan di tempat lainnya lingkaran kecil.

Kedua kutub langit itu yaitu KLU dan KLS yang memiliki lintasan gerak
harian berbentuk titik, sehingga tampak diam diputari oleh seluruh benda-benda
langit. Benda di belahan langit Utara tampak mengedari KLU dan di belahan langit
selatan tampak mengedari KLS. Kedua kutub itu memiliki ketinggian yang berbeda di
permukaan Bumi, tergantung lintang pengamat dipermukaan Bumi. Tempat di
belahan Bumi Utara, letak KLU berada di atas horison dengan ketinggian sama
dengan besarnya lintang pengamat dan KLS berada di bawah horison. Sebaliknya
tempat di belahan Bumi Selatan, letak KLS berada di atas horison dengan ketinggian
sama dengan besarnya lintang pengamat dan KLU berada di bawah horison.

Penentuan Waktu Sideris


Waktu sideris atau waktu bintang didasarkan kepada kala rotasi bumi terhadap
acuan bintang. Seperti halnya pada hari matahari, satu hari sideris dibagi menjadi 24
jam, tetapi panjang harinya sendiri lebih pendek sekitar 4 menit dibandingkan hari
matahari. Adanya perbedaan panjang hari sideris dengan hari matahari menyebabkan
bintang-bintang termasuk titik gamma setiap hari mencapai meridian pengamat lebih
cepat sekitar 4 menit dari hari sebelumnya. Dengan lain perkataan, titik gamma
bergerak sepanjang lingkaran ekuator ke arah barat sekitar 1 derajat busur setiap
harinya.

Adapun cara menentukan waktu sideris adalah sebagai berikut :


1) Tentukan selisih hari terhadap salah satu dari 4 tanggal patokan terdekat yakni: 21
Maret, 22 Juni, 23 September atau 22 Desember.
2) Tentukan perbedaan waktu titik Aries dengan Matahari selama selisih waktu no.1 di
atas dengan mengalikan setiap beda 1 hari sebesar 4 menit.
3) Tentukan jam 0 WMM waktu setempat yang bersesuaian dengan waktu sideris pada
tanggal yang bersangkutan dengan menambahkan (jika melewati salah satu tanggal
patokan di atas) atau mengurangkan (jika mendahului) dengan selisih waktu no. 2 di
atas yang paling dekat dengan tanggal patokan terdekat yang dipakai.
4) Patokan tanggal hubungan Waktu Sideris (Siderial Time) dengan Waktu Matahari
Menengah (Mean Sun):

21 Maret Jam 0 WMM = Jam 12 Waktu Sideris

22 Juni Jam 0 WMM = Jam 18 Waktu Sideris

23 September Jam 0 WMM = Jam 0 Waktu Sideris


22 Desember Jam 0 WMM = Jam 6 Waktu Sideris
5) Tentukan waktu sideris jam yang diinginkan dengan menambahkan dengan WMM
pada jam yang ditentukan.

Contoh:

Tentukan Waktu Sideris yang bersesuaian dengan Jam 10 tanggal 26 Maret 2007.

Jawab:
1. Sesilih tanggal 26 Maret dengan 21 Maret adalah = 26 - 21 = 5 hari.
2. Perbedaan waktu Aries dengan Matahari selama 5 hari = 5 x 4 menit = 20 menit.
3. Jam 0 WIB tanggal 26 Maret = Jam 12 + 20 menit = Jam 12.20 Waktu Sideris.
4. Jam 10 WIB tanggal 26 Maret = Jam 10 + 12.20 Waktu Sideris = Jam 22.20 Waktu
Sideris.

Contoh soal aplikasi posisi benda langit:

Dimanakah posisi rasi Sagittarius( AR 19jam, Dekl. -250 ) pada bola langit jam 12
WIB tanggal 14 Maret 2007 ?

Jawab:

Selisih tgl 14 Maret dengan 21 Maret = 7 hari

Beda Aries dengan Matahari = 7 x 4 menit = 28 menit

Jam 0 WIB tgl 14 Maret = Jam 12 - 28 menit = Jam 11. 32 Waktu Sideris.

Jam 12 WIB tgl. 14 Maret = 11.32 + 12 WIB = Jam 23.32 Waktu Sideris.

Sudut Jam rasi Sagittarius saat itu = Waktu Sideris - AR Sagittarius = 23.32 - 19 = 4
jam 32 menit.

Posisi Sagittarius saat itu : (4 32/60x 150)= 680 di sebelah barat meridian dan 250 di
selatan equator langit.

C) SISTEM KOORDINAT EKLIPTIKA


Ekliptika adalah jalur yang dilalui oleh suatu benda dalam mengelilingi suatu
titik pusat sistem koordinat tertentu. Ekliptika pada benda langit merupakan suatu
bidang edar berupa garis khayal yang menjadi jalur lintasan benda-benda langit
dalam mengelilingi suatu titik pusat sistem tata surya.

Seandainya bumi dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka


ekliptika merupakan bidang edar yang dilalui oleh benda-benda langit seperti planet
dan matahari untuk mengelilingi bumi. Dan bila Matahari dijadikan sebagai titik
pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan bidang yang terbentuk sebagai
lintasan orbit bumi yang berbentuk elips dengan Matahari berada pada titik pusat
elips tersebut.
Sistem koordinat Ekliptika atau sistem koordinat gerhana merupakan sistem
koordinat alam semesta yang menggunakan Ekliptika (berekliptika) sebagai satah
asasi. Ekliptik ini adalah rute matahari yang muncul mengikuti seluruh Bola langit
sepanjang tahun. Ia juga merupakan persilangan antara satah orbit Bumi dengan
bola langit. Sudut lintang nya dipanggil lintang Ekliptika atau lintang cakrawala
(diwakili oleh ) yang diukur positif ke arah utara. Sudut panjang nya pula disebut
garis bujur Ekliptika atau panjang cakrawala (diwakili oleh ) yang diukur ke arah
timur dari 0 sampai 360. Seperti jarak hamal dalam Sistem koordinat ekuator,
garis bujur Ekliptika 0 mengarah ke arah matahari dari bumi di ekuinoks musim
semi belahan bumi utara. Pilihan ini membuat koordinat bintang tetap tunduk pada
liukan ekuinoks, agar kala referensi harus dinyatakan selalu.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Sistem koordinat langit terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator dan
tata koordinat ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat memiliki cara penggunaan sistem
yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam
penggunaan sistem tersebut. Koordinat horizon mudah untuk dilukis tetapi hanya
dapat digunakan pada waktu dan tempat tertentu saja (dalam kurun waktu yang
pendek). Koordinat ekuator dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama, tetapi
cara melukisnya cukup rumit. Koordinat ekliptika digunakan untuk menentukan
kedudukan benda benda langit anggota tata surya seperti satelit, planet dan matahari
karena anggota tata surya kedudukannya tetap berada di selatan ekliptika. Pada
intinya tata koordinat langit hanya menaruh perhatian pada arah letak sebuah benda
langit saja, dan tidak memperhitungkan jarak benda langit tersebut.
Daftar Pustaka

Website:

I. http://2007.multiply.com/journal/item/36/One Earth One Sky One Universe


Blog ArchiveSistem Koordinat Benda Langit
show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses pada 17 okober 2017
II. https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koordinat_ekuator diakses pada 17
okober 2017
III. http://zulaikhamufida.blogspot.co.id/2015/03/sistem-koordinat-langit.html
diakses pada 20 oktober 2017