Anda di halaman 1dari 6

Entalpi pada Sistem Geothermal

A. Sistem Panas Bumi Berdasarkan Temperatur atau Entalpi

Sistem panas bumi dapat dikelompokkan berdasarkan temperatur atau entalpi.


Yang dimaksud dengan sistem panas bumi yakni sistem penghantaran panas di dalam
mantel atas dan kerak bumi dimana panas merambat dari dalam bumi menuju permukaan
bumi yang dihantarkan dari suatu sumber panas (heat source) menuju suatu tempat
penampungan panas (heat sink). Pada dasarnya, sistem panas bumi terbentuk dari hasil
perpindahan suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara
konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan
perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu
sumber panas. Sistem panas bumi secara garis besar dikontrol oleh adanya sumber panas
(heat source), batuan reservoir, lapisan penutup, keberadaan struktur geologi dan daerah
resapan air (Suharno, 2010).

Batuan reservoir adalah batuan yang dapat mengimpan dan meloloskan air dalam
jumlah yang signifikan karena memiliki porositas dan permeabilitas yang tinggi.
Porositas dan permeabilitas sangat berpengaruh terhadap kecepatan sirkulasi fluida.
Batuan reservoir juga sangat akan berpengaruh terhadap komposisi kimia dari fluida
hidrothermal. Hochstein (1990) mengklasifikasikan sistem panas bumi dibagi menjadi
tiga berdasarkan besarnya temperatur reservoir yakni sistem panas bumi bertemperatur
rendah, sedang dan tinggi.

1. Sistem panas bumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistem yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125oC.
2. Sistem panas bumi bertemperatur sedang, yaitu suatu sistem yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur antara 125oC dan 225oC.
3. Sistem panas bumi bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistem yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur diatas 225oC.

Sistem panas bumi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan entalpi fluida yakni
sistem entalpi rendah, sedang dan tinggi. Kriteria yang digunakan sebagai dasar
klasifikasi pada kenyataannya tidak berdasarkan pada harga entalphi, melainkan
berdasarkan pada temperatur mengingat entalpi adalah fungsi dari temperatur.
Muffer & Benderiter & Haenel, Rybach Hochstein
Cataldi (1978) Cormy (1990) & Stegna (1988) (1990)
Sistem panas bumi
<90oC <100oC <150oC <125oC
entalpi rendah
Sistem panas bumi
90 - 150oC 100 - 200oC - 125 - 225oC
entalpi sedang
Sistem panas bumi
>150oC >200oC >150oC >225oC
entalpi tinggi

Sistem panas bumi dengan entalpi tinggi merupakan sistem dengan sumber daya
panas bumi yang berada dalam jalur vulkanik atau daerah gunung api biasanya memiliki
kandungan panas yang tinggi pada fluida reservoirnya. Dalam sistem ini, panas dari
magma memanaskan fluida yang sebagian berupa air tanah di dalam wadah alami yang
disebut reservoir, sehingga menghasilkan hidrotermal. Sistem panas bumi dengan entalpi
tinggi biasanya berasosiasi dengan pusat vulkanisme pada elevasi tinggi dan dapat dibagi
lagi berdasarkan karakteristik batuan reservoir dan batuan sekitarnya serta infiltrasi
meteorik ke dalam sistem, menjadi tiga macam yaitu sistem dominasi uap (vapor
dominated), sistem dominasi air (liquid dominated), dan sistem dominasi dua fase (two
phase system).

Sistem dominasi uap merupakan sistem yang sangat jarang dijumpai dimana
reservoir panas buminya mempunyai kandungan fasa uap yang lebih dominan
dibandingkan dengan fasa airnya. Rekahan umumnya terisi oleh uap dan pori‐pori batuan
masih menyimpan air. Reservoir air panasnya umumnya terletak jauh di kedalaman di
bawah reservoir dominasi uapnya. Contoh sistem dominasi uap yakni Kamojang dan
Patuha. Sedangkan sistem dominasi air merupakan sistem panas bumi yang umum
terdapat di dunia dimana reservoirnya mempunyai kandungan air yang sangat dominan
walaupun “boiling” sering terjadi pada bagian atas reservoir membentuk lapisan
penudung uap yang mempunyai temperatur dan tekanan tinggi. Contoh sistem dominasi
air yakni Gunung Salak dan Wayang Windu. Sistem dominasi dua fase (two phase
system) merupakan sistem dominasi dua fasa yaitu uap dan air. Sistem ini terjadi bila
batuan pada reservoir dan recharge area mempunyai permeabilitas sedang. Contoh
sistem dominasi dua fase yakni Tongonan (Filipina), Ohaaki (NZ), Krafla (Islandia) dan
Olkaria (Kenya).

Sedangkan sistem panas bumi entalpi rendah yakni sistem panas bumi dengan
temperatur fluida yang lebih rendah. Sistem panas bumi dengan entalpi rendah hingga
sedang pada umumnya dibentuk pada lingkungan non vulkanik. Selain itu, sistem panas
bumi ini terbentuk pada akuifer sedimen dengan porositas danpermeabilitas tinggi,
bercirikan temperature rendah atau entalpi rendah danberada di daerah heatflow normal
atau agak tinggi. Sistem panas bumi non vulkanik tidak berhubungan secara langsung
dengan vulkanisme melainkan berhubungan dengan tektonik dan umumnya berada di luar
jalur vulkanik Kuarter. Sistem panas bumi dengan temperatur rendah hingga sedang
banyak tersebar di Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Umumnya sistem panas bumi di Indonesia merupakan sistem hidrotermal yang


memiliki temperatur tinggi (>225oC) dan hanya beberapa diantaranya yang memiliki
temperatur sedang (150 - 225oC). Berdasarkan lapangan‐lapangan panas bumi yang telah
dikembangkan di dunia maupun di Indonesia menunjukkan bahwa sistem panas bumi
bertemperatur sedang hingga tinggi, sangat potensial bila diusahakan untuk pembangkit
listrik tenaga panas bumi. Contoh daerah dengan sumber geothermal entalpi tinggi yakni
pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu, PLTP Lahendong, PLTP
Kamojang dan sebagainya.

Di Indonesia, sumber daya panas bumi entalpi rendah belum dikembangkan


secara ekstensif untuk pembangkit listrik. Saat ini sistem entalpi rendah ini hanya
digunakan untuk aplikasi pemanfaatan langsung seperti proses pengeringan, terapi, spa
dan lain sebagainya. Contoh daerah dengan sumber geothermal entalpi rendah yakni
daerah Parangtritis. Berdasarkan geotermometer SiO2 (ac), pendugaan temperatur bawah
permukaan di daerah Parangtritis yakni sekitar 115oC yang termasuk ke dalam entalpi
rendah dengan kemungkinan pemanfaatan sumber daya panas bumi di daerah ini adalah
untuk kegiatan wisata pantai berupa pemandian dan balai pengobatan air panas.

Selain itu, terdapat contoh daerah dengan sumber geothermal entalpi rendah
lainnya yakni Kabupaten Manokwari Selatan. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Geologi pada tahun 2009 diperoleh suhu reservoir
sebesar 84oC dan termasuk ke dalam sistem panas bumi entalpi rendah. Berdasarkan data
tersebut, potensi panasbumi di Kabupaten Manokwari Selatan dapat dikembangkan
menjadi pembangkit listrik siklus binari. Pembangkit listrik panasbumi entalpi rendah
adalah jenis pembangkit listrik panasbumi yang menggunakan binary cycle (siklus
binari) untuk membangkitkan listrik. Siklus binari adalah metode yang menggunakan
fluida kedua untuk menggerakkan turbin dibanding langsung menggunakan panas atau
uap dari panas bumi untuk menggerakkan turbin seperti pada pembangkit listrik
panasbumi jenis lainnya. Keuntungan dari binary cycles adalah potensi panasbumi yang
digolongkan suhu rendah atau entalpi rendah yang biasanya tidak digunakan sebagai
pembangkit listrik dapat digunakan untuk pembangkit listrik.

B. Entalpi secara Termodinamika

Entalpi merupakan istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi


internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk
melakukan kerja. Entalpi terdiri dari energi dalam sistem, termasuk satu dari lima
potensial termodinamika dan fungsi keadaan, juga volume dan tekanannya merupakan
besaran ekstensif. Entalpi secara termodinamika berkaitan dengan hukum pertama
termodinamika yang berbunyi "Jumlah kalor pada suatu sistem adalah sama dengan
perubahan energi di dalam sistem tersebut ditambah dengan usaha yang dilakukan oleh
sistem". Energi dalam sistem adalah jumlah total semua energi molekul yang ada di
dalam sistem. Apabila sistem melakukan usaha atau sistem memperoleh kalor dari
lingkungan, maka energi dalam sistem akan naik. Sebaliknya energi dalam sistem akan
berkurang jika sistem melakukan usaha terhadap lingkungan atau sistem memberi kalor
pada lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan energi dalam
pada sistem tertutup merupakan selisih kalor yang diterima dengan usaha yang dilakukan
sistem.

Entalpi merupakan proses perubahan kalor yang terjadi secara konstan dengan
energi yang dilepaskan selama berlangsungnnya reaksi. Entalpi dilambangkan dengan H,
sedangkan perubahan entalpi adalah selisih antara entalpi akhir dan entalpi awal di
simbolkan dengan dengan ∆H. Satuan SI dari entalpi adalah joule, namun digunakan juga
satuan British thermal unit dan kalori. Entalpi dari suatu sistem homogen didefinisikan
sebagai:

H = U + pV

H = entalpi sistem (joule)


U = energi dalam (joule)
p = tekanan dari sistem (Pa)
V = volume sistem (m3)

Perubahan entalpi yakni selisih antara entalpi akhir (produk) dengan entalpi awal
(reaktan). Perubahan ΔH bernilai positif untuk reaksi endoterm dan negatif untuk
eksoterm. Bila H produk lebih besar dari H reaktan, maka ΔH bertanda positif yang
menandakan adanya penyerapan kalor dari lingkungan ke sistem. Bila H reaktan lebih
besar dari H produk, maka ΔH bertanda negatif, yang menandakan adanya pelepasan
kalor dari sistem ke lingkungan

∆H = Hp − HR
∆H = perubahan entalpi
Hp = entalpi produk
HR = entalpi reaktan

Entalpi dari suatu sistem homogen dapat diturunkan fungsi karakteristik S dan
tekanan p yang dimulai dari hukum pertama termodinamika untuk sistem tertutup,
sebagai berikut:
dU = δQ − δW

Disini, δQ adalah sejumlah kecil panas yang ditambahkan dalam sistem dan
δW adalah sejumlah kerja yang dilakukan sistem. Untuk sistem homohen hanya proses
reversibel yang dapat berlangsung sehingga hukum kedua termodinamika menyatakan
δQ = TdS dengan T adalah temperatur absolut sistem. Jika hanya kerja PV yang ada,
δW = pdV sehingga:
dU = TdS − pdV

Menambakan d(pV) di kedua sisi sehingga menjadi

dU + d(pV) = TdS − pdV + d(pV)

atau
d(U + pV) = TdS + Vdp

maka
dH(S, p) = TdS + Vdp

C. Hubungan Entalpi dengan Sistem Geothermal

Entalpi dalam sistem geothermal berperan dalam penentuan jenis sistem panas
bumi yang terbagi ke dalam tiga jenis yakni sistem panas bumi entalpi rendah, sedang
dan tinggi. Besarnya entalpi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk pemanfaatan
manifestasi geothermal. Sistem panas bumi dengan entalpi sedang hingga tinggi, sangat
potensial bila dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Sedangkan
sistem panas bumi dengan entalpi rendah dapat digunakan untuk aplikasi pemanfaatan
langsung seperti proses pengeringan, terapi, spa dan lain sebagainya. Sistem panas bumi
dengan entalpi rendah juga dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan
menggunakan siklus binari. Akan tetapi hal tersebut masih menjadi pertimbangan dan
memerlukan kajian lebih jauh, baik dari aspek teknologi maupun sosial budaya untuk
meyakinkan stakeholder atas pentingnya potensi panas bumi.
Daftar Pustaka

Idral, Alanda dkk. 2003. Penyelidikan Terpadu Geologi, Geokimia Dan Geofisika
Daerah Panas Bumi Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta. SUBDIT PANAS BUMI.
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA.

Raharjo , Agustinus Denny. 2017. Potensi Panas Bumi di Kabupaten Manokwari Selatan
Provinsi Papua Barat berdasarkan Analisa Geokimia. Jurnal Konversi Universitas
Muhammadiyah Jakarta Volume 6 No. 2

Fadlilah, Muhammad dkk. 2014. “Makalah Entalpi, Hukum 2 Termodinamika, Entropi”.


https://www.academia.edu/8470144/Makalah_Entalpi_Hukum_2_Termodinamika_Entropi.
Diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul 12.16 WIB.

Rifai, Siti Rondiyah. 2014. “Hukum Kekekalan Energi, Entalpi dan Perubahan Entalpi,
serta Persamaan Termokimia”. http://www.chemistricks.com/2014/12/hukum-kekekalan-energi-
entalpi-dan.html. Diakses pada tanggal 24 November pukul 13.20 WIB.

Saptadji, Nenny. “Sekilas tentang Panas Bumi”.


http://geothermal.itb.ac.id/sites/default/files/public/Sekilas_tentang_Panas_Bumi.pdf. Diakses
pada tanggal 23 November pukul 19.27 WIB.

Anonim. “Panas Bumi non Vulkanik di Indonesia”.


http://geomagz.geologi.esdm.go.id/panas-bumi-non-vulkanik-di-indonesia/. Artikel Geologi
Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi. Diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul
10.42 WIB.