Anda di halaman 1dari 42

Rekayasa Sungai

KRIB

Tebing tikungan luar Tebing yang terkikis


Alur terdalam

tebing

dasar
sungai
Tebing tikungan dalam

Ir. Ahmad Junaidi MT, MEngSc.


Jurusan Teknik Sipil
Universitas Andalas
KRIB Rekayasa Sungai
KRIB Rekayasa Sungai
KRIB Rekayasa Sungai
KRIB Rekayasa Sungai
Pengendalian Aliran Sungai

Suatu pengendalian sungai ditentukan oleh tujuan yang kita kehendaki yaitu
menghindarkan berbagai objek pertanian, pemukiman, perindustrian dan lain-lain dari
bahaya banjir, menstabilkan alur aliran sungai, melindungi penggerusan tebing-tebing
sungai, dan lain sebagainya.

Pengendalian aliran sungai dapat dibagi menjadi tiga golongan:

1. Pengendalian aliran banjir.


Tujuan utama pengendalian ini adalah untuk mengatur penampang melintang
sungai dengan cukup baik dan efisien agar penampang melintang tersebut dapat
mengalirkan banjir secara aman dan cepat.
Pengendalian aliran banjir dapat disebut pengendalian debit (training for discharge),
karena tujuannya adalah untuk mengalirkan debit banjir secepat mungkin.

2. Pengendalian aliran kecil


Pada sungai-sungai yang digunakan untuk lalu lintas air, pengendalian aliran
kecil sangat penting sekali, karena tujuannya adalah untuk mengusahakan kedalaman
yang cukup, sehingga pada musim aliran yang kecil sungai masih dapat dipergunakan.
Pengendalian ini disebut pengendalian mengatur kedalaman sungai (training for depth).
KRIB Rekayasa Sungai

3. Pengendalian aliran rata-rata


Dari semua pengendalian aliran sungai, pengendalian aliran rata-
rata ini adalah yang terpenting, karena semua usaha pengendalian ini
digunakan untuk konfigurasi dasar sungai. Pada sungai-sungai yang aliran
rendahnya tidak berbeda terlalu banyak dengan aliran banjir, pengendapan
maksimumnya terjadi pada keadaan aliran rata-rata. Pengendalian ini disebut
pengendalian sedimen (training for sediment).
KRIB Rekayasa Sungai

Krib adalah bangunan menyilang atau sejajar


arah aliran yang ditujukan guna mengubah
pola dan sifat aliran untuk suatu tujuan
tertentu. Istilah kata Krib yang sudah umum
dipakai di Indonesia berasal dari Belanda.
KRIB Rekayasa Sungai

Pemilihan jenis Krib harus sesuai serta


mempertimbangkan data dan informasi tentang
tujuan pembuatan krib yang meliputi :

1.Fungsi krib sebagai pelindung tebing tidak


lansung, sebagai pengarah arus atau berfungsi
untuk memperbaiki alinemen sungai.

2. Jenis dan nilai kegunaan bangunan yang akan


dilindungi dengan krib.
KRIB Rekayasa Sungai

Jenis krib dapat dibedakan, yaitu:

1. Berdasarkan bahan pembuatannya krib


dapat dibedakan menjadi :

 Krib beton bertulang


 Krib kayu
 Krib pasangan batu
 Krib bronjong
KRIB Rekayasa Sungai

2.Berdasarkan sifat hidrauliknya krib


dapat dibedakan menjadi :

Krib lolos air


Krib kedap air
Krib semi lulus air
KRIB Rekayasa Sungai

3. Berdasarkan arah pemasangannya krib dapat dibedakan


menjadi :

Krib melintang, yaitu krib yang dipasang dengan arah


melintang aliran.

Krib memanjang, yaitu krib yang dipasang dengan arah


sejajar aliran.
KRIB Rekayasa Sungai

Krib Tegak Lurus Aliran

Krib Miring Searah Aliran Krib Miring Berlawanan Arah Aliran


KRIB Rekayasa Sungai

4. Berdasarkan letak pemasangannya terhadap muka


air krib dapat dibedakan menjadi :

Krib yang mercunya setinggi batas bantaran.

Krib yang diletakan di dasar sungai sebagai


pengarah arus yang disebut panil dasar.
KRIB Rekayasa Sungai

5. Berdasarkan usia dan tujuan pemasangannya krib


dapat dibedakan menjadi :

Krib permanen
Krib semi permanen
Krib darurat
KRIB Rekayasa Sungai

6.Berdasarkan susunan dan deretan krib maka krib


dapat dibedakan menjadi krib:

 Satu deretan tiang.

Lebih satu tiang.


KRIB Rekayasa Sungai

7. Berdasarkan bahan penyusunnya krib dapat


dibedakan menjadi :

Satu macam bahan penyusun.

Kombinasi dari berbagai macam bahan


penyusun, misalnya tiang pancang di
kombinasi dengan bronjong.
KRIB Rekayasa Sungai

8. Berdasarkan pembuatannya krib dapat


dibedakan menjadi :

Dibuat di lapangan .

Tiang pancang yang dibuat dipabrik.


KRIB Rekayasa Sungai
FUNGFSI KRIB

Secara umum tujuan penggunaan krib adalah mengarahkan


aliran sungai. Tujuan pengarahan aliran sungai adalah sebagai
berikut:

•Mengatur aliran sungai sedemikian rupa sehingga pada waktu


banjir, air dapat mengalir dengan cepat dan aman.

•Mengatur kecepatan aliran sungai yang memungkinkan


adanya pengendapan dan pengangkutan sedimen dengan baik.

•Pengarahan aliran ke tengah alur sungai agar tebing sungai


tidak terkikis.

•Pengarahan aliran sungai sehingga memungkinkan sungai


tersebut dapat dipergunakan untuk pelayaran.
Sifat Krib

Pemasangan krib-krib dalam seri akan dapat


mengarahkan aliran ke tengah sungai sehingga tidak
membahayakan tebing-tebing sungai.
Sasaran yang ideal dari pemasangan krib - krib
adalah untuk menciptakan suatu alur sungai yang
agak stabil, cukup dalam, dimana terdapat
keseimbangan antara pengendapan dan
penggerusan pada besarnya debit dalam setahun.
.
Sifat Krib

Sifat - sifat ini tergantung dari jenis krib yang digunakan yaitu
pada jenis krib tidak kedap air (permeable groyne) aliran yang
menembus sudah tentu banyak diperlambat oleh krib itu sendiri.
Jika krib tersebut masih dapat ditembus oleh aliran, maka tidak
seluruh aliran yang tertekan mengarah ketengah sungai, jadi
penggerusan yang terjadi di ujung krib kecil. Jika aliran banyak
mengandung sedimen, maka pengendapan antara krib akan
terjadi lebih cepat. Konstruksi bangunan krib tidak kedap air ini
adalah krib yang terdiri dari deretan tiang pancang yang
dipancangkan dari tepi tebing sampai ke tengah-tengah sungai

Dalam perencanaan tiang-tiang krib, harus diperhitungkan


terhadap kedalaman air dan pola gerusan lokal, besarnya
degradasi sungai yang diperkirakan akan terjadi dan
kestabilannya. Perencanaan krib untuk beberapa lokasi yang
berdekatan harus dimulai dari lokasi terudik.
Krib Tiang Pancang

Aliran sungai yang bebas dapat merusak daerah tebing-tebing dan struktur dasar
sungai, dengan demikian dibangunlah sebuah bangunan krib khususnya tiang
pancang yang terbuat dari campuran beton bertulang yang bersifat kaku.

Faktor-faktor kriteria pemilihan jenis krib tipe pancang tergantung pada


beberapa hal yaitu:

1. Tujuan pemasangan krib:


Melindungi tebing pada tikungan luar dan untuk
mempertahankan alur aliran sungai untuk keperluan navigasi.
Sebagai pelindung tebing tidak lansung, sebagai pengarah arus
sungai.

2.Bahan pembuatannya:
Krib tipe pancang ini seperti yang telah disebutkan di
atas, bahwa krib tiang pancang ini terbuat dari campuran beton
bertulang.
3. Sifat hidrauliknya:

Sifat hidraulik yang dimiliki krib tiang pancang yang di


pasang secara berselingan atau berjajar ini bersifat krib lolos
air (permeable).

4. Arah pemasangannya:

Krib melintang yaitu krib yang dipasang dengan


arah melintang aliran sungai dan dibedakan menjadi
berbagai jenis yaitu: krib tegak lurus sisi sungai, krib
miring ke hulu, dan krib miring ke hilir.
Krib memanjang yaitu krib yang dipasang ke arah
memanjang atau sejajar aliran sungai.
5. Letak pemasangannya terhadap muka air:

Krib yang mercunya setinggi batas bantaran


Krib yang diletakkan di dasar sungai sebagai pengaruh
arus yang disebut panil dasar.
Pemasangan krib harus dibuat secara seri, minimal terdiri
dari 3 buah.

6. Usia dan tujuan pemasangan:

Ditinjau dari tipe krib yang dipakai yaitu krib tipe pancang yang
terbuat dari beton bertulang dan dengan tujuan untuk mengarahkan
arus dan melindungi tebing sungai, maka jika ditinjau dari
pengelompokan usia dan tujuan pemasangan krib tipe ini adalah
termasuk krib permanen.

7. Berdasarkan pada susunan dan deretan krib terdiri dari:


Tersusun bisa dalam satu deretan tiang atau lebih deretan tiang
Pembuatannya:

Tiang pancang yang di lapangan (langsung di tempat


pembuatan krib)
Tiang pancang yang telah dibuat di pabrik.

Persyaratan Pemilihan

Didasarkan atas:

1. Kondisi tanah
Untuk pemasangan krib tipe pancang dianjurkan dipasang
pada tebing yang mudah longsor dan dasar sungai yang lunak.

2. Kondisi lapangan
Untuk kondisi lapangan yang tebing sungainya tinggi
digunakan krib tipe pancang dengan pertimbangan
mempermudah pelaksanaan.
Arah Pemasangan
Pada sungai yang dipasang krib, akan terjadi 2 hal, yaitu:
Pada kepala krib akan terjadi penggerusan yang mengarah ke hilir kira-kira searah
lurus krib dan pada kantung sebelah hilirnya akan terjadi pengendapan sedimen.
Aliran yang pada mulanya menyerang tebing sungai di suatu tempat maka oleh krib
arahnya akan teralihkan, jika hanya dipasang krib tunggal maka aliran tersebut
masih menyerang tebing sungai di sebelah hilirnya yang jaraknya akan tergantung
dari arah dan panjang krib tersebut.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, yang sesuai dengan kondisi sungai,
maka arah pemasangan dapat dipasang dalam tiga cara yaitu:

a. Pemasangan tegak lurus terhadap sisi sungai atau aliran yang


disebut krib normal (normal groyne). Arah aliran dialihkan kurang lebih
sejajar dengan arah aliran di udik sungai, sehingga arah penggerusan
pada ujung krib akan kira-kira sejajar dengan sisi-sisi sungai.
Penggerusan itu terjadi akibat oleh adanya pusaran-pusaran yang
terjadi pada ujung krib.
Arah Pemasangan

b. Pemasaran miring ke arah hulu sungai (inklinasi) yang disebut krib elak
(repelling groyne). Arah aliran akan tertekan kurang lebih ke arah tengah
sungai. Aliran banjir yang besar melimpas di atas krib dan akan melimpas ke
arah tengah sungai. Penggerusan yang terjadi pada ujung krib akan
mengarah ke tengah sungai. Krib elak ini sudah tentu mempunyai sifat
membendung aliran lebih besar dibandingkan krib jenis lain, terutama aliran-
aliran banjir. Disamping dapat berfungsi untuk mempersempit aliran sungai
yang telah menjadi lebar, jenis ini dapat digunakan pada sisi yang cekung dari
belokan-belokan sungai.

c.Pemasangan miring ke arah hilir sungai (deklinasi) yang disebut krib pikat
(actacting groyne). Arah aliran akan tertarik ke sisi atau ke tebing sungai,
meskipun pada ujung krib alirannya mula-mula terdorong ke tengah. Aliran
banjir yang melimpas di atas krib akan mengarah langsung ke tebing sungai.
Jarak antar krib ini dipasang dalam seri, jaraknya lebih dekat dari pada jenis
krib yang lain. Jadi penggunaannya arus lebih dekat dari pada jenis krib yang
lain. Jadi penggunaanya harus lebih berhati-hati, meskipun sudut deklinasi
yang diambil kecil.
Arah Pemasangan

Menurut penelitian Akikusa dkk, pada sekitar 250 buah krib di 44 situasi sungai di
Jepang menganalisa bahwa arah pemasangan krib ada tiga cara yaitu:

Pemasangan krib yang membentuk sudut tegak lurus arah aliran yang disebut krib
bersudut nol ( 0).

Pemasangan krib yang menghadap ke arah aliran hulu yang dinyatakan dengan
sudut positif (+), yaitu sudut yang berkisar antara 0 sampai + 30.

Pemasangan krib yang mengarah ke arah aliran hilir yang dinyatakan oleh sudut
negatif (-), yaitu sudut yang berkisar antara -10 sampai 0.
Arah Pemasangan

Krib yang paling umum dipakai adalah krib yang dipasang


dengan sudut nol derajat, mencapai lebih dari 50 % dari
jumlah yang diamati. Pemasangan krib negatif tidak
diperbolehkan untuk tujuan perlindungan tebing sungai,
karena tebing akan bertambah terkikis pada waktu banjir
yang mengakibatkan air akan melimpas ke atas krib dan
langsung menghantam tebing sungai.

Pemasangan krib yang bersudut +15o ke arah hulu efektif


untuk perlindungan tebing sungai, karena pengaruh sudut krib
berhubungan dengan gaya arah aliran yang menghantam
krib, maka perlu diperhatikan hubungan antara sudut krib
dengan kemiringan dasar sungai.
Arah Pemasangan

Krib yang bersudut 0o sering dipergunakan pada kemiringan antara 1/50


sampai 1/5000, sedangkan krib yang bersudut (+) cendrung dipergunakan
pada keadaan sungai yang berkemiringan dasarnya kecil yaitu antara 1/1000
sampai 1/5000. Arah aliran akan mengalami perubahan yang cukup besar
menurut tingkat muatan yang terkandung, sehingga tingkat muatan ini
sangat mempengaruhi pada besarnya sudut krib. Oleh karena itu
penyelidikan pada tempat pemasangan krib perlu didahulukan, sehingga
dapat diambil kesimpulan berapa besarnya sudut krib yang perlu dipasang
pada daerah tersebut.
Panjang Krib

Panjang krib tergantung pada posisi garis tebing sungai yang ada dan garis tebing
yang direncanakan atau diharapkan akan terjadi pada sungai yang dikendalikan
tersebut. Sampai saat ini, terdapat syarat umum yang menentukan panjang krib.
Dapat dikatakan bahwa hal ini tergantung dari dorongan kebutuhan yang timbul pada
tiap-tiap masalah pengendalian sungai setempat. Misalnya, seluruh aliran perlu
diubah dengan menekannya ketebing seberang sungai, maka sudah tentu krib
tersebut harus cukup panjang, sehingga arus dapat mengikis tebing sungai dan
akhirnya aliran akan berpindah.
Panjang Krib

Untuk menentukan panjang krib akan tergantung pada tujuannya .


Dimana tujuan dari pemasangan krib dari permasalahan ini adalah :

•Untuk merubah arah aliran pada tikungan luar sungai agar aliran
berpindah dari tikungan luar kebagian tikungan dalam.

Tebing tikungan luar Tebing yang terkikis


Alur terdalam

Tebing tikungan dalam

Pemasangan Krib di tikungan


Panjang Krib

•Mempertahankan atau melindungi tebing sungai yang longsor,


sehingga krib yang diperlukan tidak begitu panjang (pendek).

Tebing sungai Krib

Tebing sungai

Krib pada sungai yg lurus


Panjang Krib

Panjang krib selain ditentukan oleh tujuannya juga ditentukan oleh


kondisi geometri badan sungai di sekitar lokasi yang akan dipasang
krib.

Pada krib yang dimaksud untuk melindungi tebing-tebing sungai


maka alur aliran yang terdalam dapat dijadikan patokan ukuran
panjang krib. Untuk melindungi tebing-tebing dari kerusakan yang
berkelanjutan, maka seperti yang telah dikemukakan tadi, potongan
melintang sungai yang agak stabil dapat dijadikan patokan untuk
menentukan panjang krib. Panjang krib juga dapat ditentukan
berdasarkan elevasi mercu krib dan kedalaman pemancangan tiang
menurut persyaratan keamanan dan stabilitas.

Pada sungai yang lebar yang mempunyai suatu dataran banjir yang
jelas maka panjang krib ditentukan oleh suatu debit banjir teretentu.
Krib yang ditentukan oleh debit banjir
Panjang Krib

Sungai-sungai di Indonesia tidak mempunyai bentuk demikian, kebanyakan tergolong


pada sungai kecil, tetapi mempunyai sifat yang berbahaya yaitu banjir yang tiba-tiba
(flash fload) dan perbedaan debit rata-rata musim kering dan debit rata-rata musim
basah yang sangat besar.

Pada sungai yang mudah terkikis, jika krib yang dipancang terlalu panjang
akan lebih mudah mengalami kerusakan. Maka pada keadaan sungai yang demikian,
lebih baik dibangun krib yang lebih pendek telebih dahulu kemudian diperpanjang
setelah terdapat pengendapan yang cukup antara krib-krib tersebut. Panjang krib (Lb)
ditentukan dari perencanaan tata letak sungainya, pada umumnya kurang dari 1/3
lebar sungai.

Menurut studi yang dilakukan Akikusa dkk, bahwa lebar sungai (B) diukur
tepat pada tempat pemasangan krib dan diambil rata-ratanya. Akikusa dkk mengambil
pendekatan praktis bahwa panjang krib dapat diambil kurang dari 20% dari lebar
sungai.
Jarak Antara Krib

a. Tiap krib dapat melindungi suatu panjang tertentu tebing sungai.


Faktor-faktor yang menentukan jarak antara dua krib adalah panjang
krib, disamping itu yang menentukan jarak antar krib yaitu :

•Jenis tebing sungai yang akan di bangun krib. Pada sisi cembung
(convex ) dari belokan, jarak krib adalah lebih besar dari jarak pada
sisi cekung (concave ). Pada bagian lurus antara 2 belokan, jaraknya
adalah diantara jarak pada sisi cembung dan cekung.

Umumnya pada sisi cembung belokan, jaraknya diambil 2 - 2,5


kali panjang krib, sedangkan pada sisi cekung jarak itu diambil sama
dengan panjang krib.
Pada ruas sungai yang lurus, Ls =1,5*Lb
Pada tikungan luar dari belokan sungai, Ls = Lb
•Lebar sungai : Pada sungai-sungai yang mempunyai kira-kira
debit banjir yang sama, jarak krib pada sungai yang lebar harus
lebih besar dari jarak pada sungai yang kurang lebar.

•Jenis krib : Jarak tergantung juga pada jenis krib baik yang
kedap air (impermeable). Jarak pada jenis yang kedap air adalah
lebih besar dari jarak yang tidak kedap air.

b. Pada pengendalian suatu sungai yang agak lurus, umpamanya


melindungi tebing tebing yang mulai rusak oleh banjir, jarak dapat
diambil kira-kira 3-4 kali panjang krib. Pada belokan-belokan sungai
yang berdebit kecil dengan debit banjirnya tidak terlalu besar.

Schroder menganjurkan jarak pemasangan sebagai berikut : Misalnya


adalah lebar muka air sungai pada debit rata-rata, maka pada sisi
cekung belokan diambil jarak sama dengan b, pada sisi cembung
belokan diambil jarak 1.5*b - 2*b, sedang pada peralihannya diambil
jarak 0.5*b - 0.75 b.
b. Rumus empiris untuk menentukan jarak antara krib digunakan rumus
sebagai berikut :

dimana : Ls = Jarak antar krib ( m )


 = Parameter empiris (0.60)
n = Koefisien kekasaran manning
R = Jari - jari hidrolis (m)
g = Percepatan gravitasi ( 9.8 m/dt2 )
Jarak Antara Krib

d. Rumus lain untuk menentukan jarak krib :

Ls = 2*Lb sampai dengan 5*Lb

dimana : Ls = Jarak antar krib (m)


Lb = Panjang krib (m)
Jarak Antara Krib

e. Menurut penelitian terhadap sungai Tone di Jepang, Tominaga


menyatakan bahwa :

Untuk bagian cekung tikungan sungai dipergunakan Ls/Lb = 1.4 - 1.8.

Untuk bagian lurus sungai dipergunakan Ls/Lb = 1.7 - 2.6

Untuk bagian cembung tikungan sungai dipergunakan Ls/Lb = 2.8 - 3.6.


Tinggi Krib

Data tinggi muka air, baik data muka air rendah maupun banjir adalah sangat penting
untuk penentuan tinggi krib. Pada sungai-sungai yang dipergunakan untuk navigasi
yang mempunyai muka air rendahnya tidak begitu besar perbedaannya dengan muka
air banjir, maka dimungkinkan untuk menentukan tinggi rata-rata muka air antara
beberapa bulan dan mercu krib diambil kira-kira sama dengan muka air yang masih
menjamin pelayaran dengan aman.

Pada sungai-sungai yang mempunyai perbedaan antara muka air rendah


(debit yang kecil ) dengan muka air banjir ( debit dalam musim banjir ) yang besar
maka akan sulit untuk menentukan tinggi muka air rata-ratanya.

Pekerjaan-pekerjaan pengendalian yang terutama ditujukan untuk


melindungi tebing-tebing sungai perlu mempelajari suatu potongan melintang sungai
pada suatu bagian sungai yang cukup stabil juga untuk menentukan alur terdalam
dari aliran. Kemudian menentukan perkiraan tinggi muka air banjir terutama banjir
tahunan yang perlu dicegah, karena bisa merusak tebing-tebing sungai, untuk
kebutuhan ini maka tinggi krib dapat diambil sama dengan tinggi banjir-banjir biasa
pada tahun tersebut.
Jarak Antara Krib

Tinggi Krib ( T ) ditentukan oleh muka air rendah, tinggi muka air banjir, dan
pemanfaatan sungainya :

Sungai - sungai dimana perbedaan muka air dalam musim penghujan dan
musim kemarau tidak terlalu besar, T = tinggi muka air rata-rata.

Pada sungai-sungai dengan perbedaan yang besar antara muka air banjir dan
muka air rendahnya, T = tinggi muka air banjir tahunan.

Pada sungai-sungai yang dimanfaatkan untuk pelayaran, T = tinggi muka air


yang aman untuk pelayaran atau sama dengan tinggi bantaran sungainya.

Akikusa dkk menyatakan bahwa tinggi krib bervariasi dari 60 cm


sampai dengan 5 m. Hubungan antara tinggi krib di atas dasar sungai (hg)
dengan kedalaman air (h) pada lokasi krib dipasang, menyatakan perbandingan
relatifnya berkisar antara 0,1 - 0,4.

Krib yang tingginya lebih dari kedalaman air relatif sangat tidak dianjurkan,
karena jika pada waktu banjir air akan melimpas di atas mercu krib yang
menyebabkan pengikisan, sehingga hal ini sangat membahayakan bagi
konstruksi krib.