Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH EKSTRAKSI METALURGI

PROCESSING DAN PELEBURAN TIMAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekstraksi


Metalurgi

OLEH
KELOMPOK 1 :

M. WAHYU AKBAR (03021181419019)

DWI PUTRI SURYANI (03021181419035)

MIFTAHUR RAHMA (03021181419047)

YULIAN FAUZI ALDI (03021281419171)

KELAS A

TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
i
RINGKASAN

PROCESSING DAN PELEBURAN TIMAH, FAKULTAS


TEKNIK,UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Karya tulis berupa makalah, 17 April 2016

M. Wahyu Akbar, Dwi Putri Suryani, Miftahur Rahma, Yulian Fauzi Aldi; Dosen
oleh IR. A. Taufik Arief, MS.

Processing of Tin Mineral in PT TIMAH TBK, Faculty of Engineering, Sriwijaya


University

RINGKASAN
Ekstraksi metalurgi adalah proses pemisahan dari suatu konsentrat yang diambil
dari suatu bijih melalui eksploitasi , dimana dari konsentrat tersebut yang diambil
hanya logamnya saja . dengan perkataan lain ekstraksi metalurgi adalah suatu
proses pengolahan dalam pekerjaan metalurgi untuk mengekstrak (mengeluarkan
atau mendapatkan) suatu logam dari dalam persenyawaannya. Ada banyak mineral
yang dapat diolah karena mempunyai nilai yang ekonomis. Salah satunya adalah
mineral timah.
Mineral timah merupakan sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
simbol Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam
miskin keperakan, dapat ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi dalam
udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy. Mineral timah dapat
digunakan dalam kebutuhan sehari – hari seperti : digunakan untuk membuat kaleng
kemasan, seperti untuk roti, susu, cat, dan buah serta melapisi kaleng yang terbuat
dari besi dari perkaratan, digunakan untuk membuat paduan logam (alloy),
misalnya perunggu (campuran timah, tembaga, dan seng), campuran timah dan
timbal sebagai solder untuk menggabung pipa atau sirkuit listrik, sebagai bahan
amalgam gigi, dapat digunakan dalam lapisan kontainer baja berlapis timah,
sebagai bahan pembungkus umum untuk makanan dan obat-obatan, paduan
niobium-timah digunakan untuk magnet superkonduksi, Timah oksida digunakan
untuk keramik dan sensor gas.
Proses produksi mineral timah melibatkan serangkaian proses yang terbilang rumit
yakni pengolahan mineral ( peningkatan kadar timah/proses fisik dan disebut juga
upgrading ), persiapan material yang akan dilebur, proses peleburan, proses refining
dan proses pencetakan logam timah.

Kata Kunci : Ekstraksi Metalurgi, Mineral Timah, Proses Pengolahan dan


Peleburan mineral timah.
ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang mana atas berkat
rahmat, taufik dan hidayah – NYA jua lah sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas besar mata kuliah Ekstraksi Metalurgi yang berjudul “Processing dan
Peleburan Timah” dengan baik dan tepat waktu.

Ucapan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Prof.Ir.H. Machmud Hasjim, MME; Bapak Ir. A. Taufik


Arief, MS; Ibu Dr.Ir. Restu Juniah, MT; dan Ibu Eva Oktarina Sari,
ST., MT selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekstraksi
Metalurgi Universitas Sriwijaya.
2. Kedua orang tua penulis yang senantiasa selalu mendoakan
penulis.
3. Para pembaca yang senantiasa memberikan masukan berupa kritik
maupun saran yang membangun.
4. Teman – teman Teknik Pertambangan kelas A yang senantiasa
memberikan motivasi kepada penulis.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini, masih banyak terdapat


kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian isi
makalah. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang
membangun dari pembaca, agar kedepannya penulis dapat membuat makalah
maupun bacaan yang lebih baik lagi. Dan semoga tugas ini dapat memberikan
manfaat yang baik untuk pembaca.

Indralaya, Oktober 2017 Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul
Ringkasan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.5 Metode Penulisan
BAB 2 Case Study Analysys Terkait Processing dan
Peleburan/Refining di Indonesia
2.1 Studi Kasus
BAB 3 Tinjauan Pustaka
3.1 Mineral Timah
3.1.1 Pengertian Timah
3.1.2 Sifat – sifat Fisik dan Kimia Timah
3.1.3 Bentuk Timah
3.1.4 Proses Terbentuknya Timah
3.1.5 Mineral Utama dan Mineral Ikutan pada Timah
3.2 Penambangan Timah
3.3 Manfaat Timah
BAB 4 Processing dan Peleburan Timah
4.1 Pengertian Ekstraksi Metalurgi
4.2 Pengolahan Timah
4.2.1 Washing atau Pencucian
4.2.2 Pemisahan Berdasarkan Ukuran atau Screening / Sizing
dan uji kadar
4.2.3 Pemisahan Berdasarkan Berat Jenis
4.2.4 Pengolahan Tailing
4.2.5 Proses Pengeringan
4.2.6 Klasifikasi
4.2.7 Pemisahan Mineral Ikutan
4.3 Pengolahan Pre- Smelting
4.3.1 Preparasi Material
4.3.2 Penimbangan Komposisi
4.4 Peleburan (Smelting)
4.4.1 Peleburan Bijih Timah
4.4.2 Peleburan Slag
4.5 Proses Refining (Pemurnian)
iv
4.5.1 Pemurnian Fe
4.5.2 Pemurnian Cu
4.5.3 Pemurnian Pb
4.5.4 Pemurnian As
4.6 Pencetakan
BAB 5 Penutup
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Daftar Pustaka

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar Timah 3.1 Timah
Gambar 3.2 Cassiterite
Gambar 3.3 Stannite
Gambar 3.4 Penambangan Timah
Gambar 4.1 Alur Tahapan Pengolahan (Processing) Timah
Gambar 4.2 Tempat Pencucian Timah
Gambar 4.3 Alat Jig Yuba
Gambar 4.4 Peleburan Bijih Timah
Gambar 4.4 Pemisahan Timah Cair dan Slag di Foreheart
Gambar 4.5 Pencetakan Timah

vi
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1 Data Sifat Fisik dan KimiaTimah
Tabel 4.1 Kandungan Unsur dalam Sample
Tabel 4.2 Kandungan Unsur dalam Antrasit
Tabel 4.3 Kandungan Unsur dalam Batu Kapur

vii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya alam
termasuk sumber daya mineral logam. Kesadaran akan banyaknya mineral logam
ini mendorong bangsa Indonesia untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam
tersebut secara efisien. Dalam pemanfaatanya, tentu saja menggunakan berbagai
metode dan teknologi sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal dengan hasil
yang optimal dengan keuntungan yang besar, biaya produksi yang seminim
mungkin serta ramah lingkungan. Salah satu sumberdaya alam yang banyak
digunakan adalah timah. Menurut Noer ( 1998 ), kasiterit ( SnO₂ ) adalah mineral
utama pembentuk timah dengan batuan pembawanya adalah granit, sementara
Sujitno ( 2007 ) menjelaskan kegunaan timah antara lain untuk bahan pencampur
pembuatan alat - alat musik ( gong, gamelan, dan lonceng ), bahan pembuat
kemasan kaleng, bahan solder, senjata ( peluru / amunisi ), bahan pelapis anti karat
dan kerajinan cindera mata ( pewter ).
Pengolahan timah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat tidak lepas dari
peran reaksi kimia fisika. Pencucian maupun pemisahan pada timah merupakan
bagian dari proses yang melibatkan reaksi-reaksi kimia fisika. Oleh karena itu,
proses pemurnian timah untuk memperoleh hasil yang ekonomis perlu di kaji dan
dipelajari dari segi kimia fisika.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan timah?

1
2. Bagaimana proses pengolahan timah?
3. Bagaimana proses peleburan timah?

2
1.3 Pembatasan Masalah
Pada penulisan makalah ini, penulis membatasi masalah menjadi :
1. Pengertian timah, sifat fisik dan kimia timah, bentuk timah, proses
pembentukan timah, mineral utama dan mineral ikutan timah, tahapan
penambangan timah dan manfaat timah.
2. Tahapan pengolahan timah.
3. Tahapan peleburan timah

1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan


Adapun tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini,
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian timah, sifat fisik dan kimia timah, bentuk timah,
proses pembentukan timah, mineral utama dan mineral ikutan timah, tahapan
penambangan timah dan manfaat timah.
2. Mengetahui tahapan pengolahan timah.
3. Mengetahui tahapan peleburan timah.

1.5 Metode Penulisan


Adapun metode Metode penulisan pada makalah ini dilakukan dengan cara :
metode kualitatif non interaktif dengan memanfaatkan teknologi yang ada berupa
Google.

3
BAB 2
CASE STUDY ANALYSYS TERKAIT PROCESSING DAN
PELEBURAN / REFINING DI INDONESIA

2.1 Studi Kasus


Salah satu studi kasus yang dapat diangkat terkait processing dan peleburan /
refining di Indonesia adalah mengenai peleburan timah. Dimana Dross dan
Hardhead selama ini tidak bisa dilebur terpisah dari bijih timah, karena dalam
peleburan timah diperlukan senyawa silika sebagai stabilisator keasaman dalam
tanur. Hal ini menyebabkan bijih timah yang dilebur bersama kedua material
tersebut tidak dapat menjadi logam timah berkadar tinggi, karena tingginya
impurities di dalam logam timah cair dardross dan hardhead.
Persediaan dross dan hardhead di Pusat Metalurgi Mentok berlimpah namun
untuk meleburnya secaraterpisah dari bijih timah perlu dilakukan penelitian. Untuk
melebur dross dan hardhead diperlukan perhitungan komposisi sesuai dengan
perbandingan peleburan bijih timah dan perlu dicarikan solusi pengganti bijih timah
yang mengandung senyawa silika. Penambahan pasirsilika dalam kasusini
dimaksudkan untuk mengetahui peranannya dalam peleburan dross dan hardhead,
karena berfungsi untuk menjaga keasaman dan menurunkan titik lebur material.

4
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Mineral Timah


Mineral timah merupakan mineral yang mengandung unsur kimia Sn
(stannum) dengan sifat fisik dan kimia tertentu. Manfaat timah dapat dibuat
sebagai pelapis dalam kaleng kemasan makanan, digunakan dalam
pembuatan bola lampu, sampai pada penggunaan pada alat-alat olah raga.

3.1.1 Pengertian Timah


Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol
Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50 (Gambar 3.1). Unsur ini merupakan
logam miskin keperakan, dapat ditempa (“malleable”), tidak mudah teroksidasi
dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy, dan digunakan
untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah diperoleh terutama dari
mineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida.

Gambar Timah 3.1 Timah


5
Timah adalah logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan yang
rendah, berat jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat konduktivitas panas dan listrik
yang tinggi. Dalam keadaan normal (13 – 1600C), logam ini bersifat mengkilap dan
mudah dibentuk. Timah putih (Sn) adalah unsur kimia dengan simbol Sn (Latin :
stannum) dan nomor atom 50, adalah logam golongan utama di kelompok 14 dari
tabel periodik. Timah menunjukkan kemiripan kimia untuk kedua kelompok 14
elemen tetangga, germanium dan memimpin dan memiliki dua kemungkinan
oksidasi, +2 dan sedikit lebih stabil 4. Timah adalah unsur paling melimpah ke-49
dan memiliki, dengan 10 isotop stabil, jumlah terbesar yang stabil isotop dalam
tabel periodik. Tin diperoleh terutama dari mineral kasiterit , di mana itu terjadi
sebagai timah dioksida.
Mineral ekonomis penghasil timah putih adalah kasiterit (SnO2), meskipun
sebagian kecil dihasilkan juga dari sulfida seperti stanit, silindrit, frankeit,
kanfieldit dan tealit (Carlin, 2008). Mula jadi timah di daerah jalur timah yang
membentang dari Pulau Kundur sampai Pulau Belitung dan sekitarnya diawali
dengan adanya intrusi granit yang berumur ± 222 juta tahun pada Trias Atas.
Magma bersifat asam mengandung gas SnF4, melalui proses pneumatolitik
hidrotermal menerobos dan mengisi celah retakan, dimana terbentuk reaksi:

SnF4 + H2O → SnO2 + HF2 ........(3.1)

3.1.2 Sifat-sifat Fisik dan Kimia Timah


Timah adalah sebuah unsur kimia yang memiliki simbol Sn dan nomor atom
50. Timah dalam bahasa Inggris disebut sebagai Tin. Kata “Tin” diambil dari nama
Dewa bangsa Etruscan “Tinia”. Nama latin dari timah adalah “Stannum” dimana
kata ini berhubungan dengan kata “stagnum” yang dalam bahasa inggris bersinonim
dengan kata “dripping” yang artinya menjadi cair/ basah, penggunaan kata ini
dihubungkan dengan logam timah yang mudah mencair.
Timah biasa terbentuk oleh 9 isotop yang stabil. Ada 18 isotop lainnya yang
diketahui.Timah merupakan logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan

6
yang rendah, dapat ditempa ("malleable"), mempunyai sifat konduktivitas panas
dan listrik yang tinggi, relatif lunak, tahan karat dan memiliki titik leleh yang rendah
dan memilki struktur kristal yang tinggi. Jika struktur ini dipatahkan, terdengar
suara yang sering disebut (tangisan timah) ketika sebatang unsur ini dibengkokkan.
Timah merupakan unsur ke-49 yang paling banyak terdapat di kerak bumi
dimana timah memiliki kandungan 2 ppm jika dibandingkan dengan seng 75 ppm,
tembaga 50 ppm, dan 14 ppm untuk timbal (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Data Sifat Fisik dan KimiaTimah

Sifat Nilai

Nomor atom 50

Konfigurasi electron [Kr] 4d10 5s2 5p2

Titik leleh 231.97°C

Titik didih 2602°C

Jari-jari atom 140 pm

Massa jenis 19,32 gram.cm-3

Struktur kristal Tetragonal

Warna logam Putih Keperakan

Keelektronegatifan (skala Pauling) 1,96

Sumber : Chemistry of Precious Metals

3.1.3 Bentuk timah

Unsur ini memiliki 2 bentuk alotropik pada tekanan normal. Jika dipanaskan,
timah abu-abu (timah alfa) dengan struktur kubus berubah pada 13.2 derajat Celcius
menjadi timah putih (timah beta) yang memiliki struktur tetragonal. Ketika timah
didinginkan sampai suhu 13,2 derajat Celcius, ia pelan-pelan berubah dari putih
menjadi abu-abu. Perubahan ini disebabkan oleh ketidakmurnian (impurities)
seperti aluminium dan seng, dan dapat dicegah dengan menambahkan antimoni atau
bismut. Timah abu-abu memiliki sedikit kegunaan.

7
Timah dapat dipoles sangat licin dan digunakan untuk menyelimuti logam
lain untuk mencegah korosi dan aksi kimia. Lapisan tipis timah pada baja digunakan
untuk membuat makanan tahan lama.Campuran logam timah sangat penting. Solder
lunak, perunggu, logam babbit, logam bel, logam putih, campuran logam bentukan
dan perunggu fosfor adalah beberapa campuran logam yang mengandung timah.
Timah dapat menahan air laut yang telah didistilasi dan air keran, tetapi
mudah terserang oleh asam yang kuat, alkali dan garam asam. Oksigen dalam suatu
solusi dapat mempercepat aksi serangan kimia-kimia tersebut. Jika dipanaskan
dalam udara, timah membentuk Sn2, sedikit asam, dan membentuk stannate salts
dengan oksida. Garam yang paling penting adalah klorida, yang digunakan sebagai
agen reduksi. Garam timah yang disemprotkan pada gelas digunakan untuk
membuat lapisan konduktor listrik. Aplikasi ini telah dipakai untuk kaca mobil yang
tahan beku. Kebanyakan kaca jendela sekarang ini dibuat dengan mengapungkan
gelas cair di dalam timah cair untuk membentuk permukaan datar (proses
Pilkington).
Baru - baru ini, campuran logam kristal timah-niobium menjadi
superkonduktor pada suhu sangat rendah, menjadikannya sebagai bahan konstruksi
magnet superkonduktif yang menjanjikan. Magnet tersebut, yang terbuat oleh
kawat timah-niobium memiliki berat hanya beberapa kilogram tetapi dengan baterai
yang kecil dapat memproduksi medan magnet hampir sama dengan kekuatan 100
ton elektromagnet yang dijalankan dengan sumber listrik yang besar.

3.1.4 Proses Terbentuknya Timah


Cebakan bijih timah merupakan asosiasi mineralisasi Cu, W, Mo, U, Nb, Ag,
Pb, Zn, dan Sn. Busur metalogenik terbentuknya timah 100 - 1000 km. Terdapat
tiga tipe kelompok asosiasi mineralisasi timah putih, yaitu stanniferous pegmatites,
kuarsa-kasiterit dan sulfida-kasiterit (Taylor, 1979). Urat kuarsa-kasiterit,
stockworks dan greisen terbentuk pada batuan beku granitik plutonik, secara
gradual terbentuk stanniferous pegmatites yang ke arah dangkal terbentuk urat
kuarsa-kasiterit dan greisen (Taylor, 1979). Urat berbentuk tabular atau tubuh bijih
berbentuk lembaran mengisi rekahan atau celah (Strong, 1990). Tipe kuarsa-
kasiterit dan greisen merupakan tipe mineralisasi utama yang membentuk sumber

8
daya timah putih pada jalur timah yang menempati Kepulauan Riau hingga Bangka-
Belitung. Jalur ini dapat dikorelasikan dengan “Central Belt” di Malaysia dan
Thailand (Mitchel, 1979). Sumber timah yang terbesar yaitu sebesar 80% berasal
dari endapan timah sekunder (alluvial) yang terdapat di alur-alur sungai, di darat
(termasuk pulau-pulau timah), dan di lepas pantai. Endapan timah sekunder berasal
dari endapan timah primer yang mengalami pelapukan yang kemudian terangkut
oleh aliran air, dan akhirnya terkonsentrasi secara selektif berdasarkan perbedaan
berat jenis dengan bahan lainnya. Endapan alluvial yang berasal dari batuan granit
lapuk dan terangkut oleh air pada umumnya terbentuk lapisan pasir atau kerikil.
Mineral utama yang terkandung pada bijih timah adalah cassiterite (SnO2). Batuan
pembawa mineral ini adalah batuan granit yang berhubungan dengan magma asam
dan menembus lapisan sedimen (intrusi granit). Pada tahap akhir kegiatan intrusi,
terjadi peningkatan konsentrasi elemen di bagian atas, baik dalam bentuk gas
maupun cair, yang akan bergerak melalui pori-pori atau retakan. Karena tekanan
dan temperatur berubah, maka terjadilah proses kristalisasi yang akan membentuk
deposit dan batuan samping.
Timah tidak ditemukan dalam unsur bebasnya dibumi akan tetapi diperoleh
dari senyawaannya. Timah pada saat ini diperoleh dari mineral cassiterite atau
tinstone. Cassiterite merupakan mineral oksida dari timah SnO2, dengan kandungan
timah berkisar 78%. Contoh lain sumber biji timah yang lain dan kurang mendapat
perhatian daripada cassiterite adalah kompleks mineral sulfide yaitu stanite
(Cu2FeSnS4) merupakan mineral kompleks antara tembaga-besi-timah-belerang
dan cylindrite (PbSn4FeSb2S14) merupakan mineral kompleks dari timbale-timah-
besi-antimon-belerang dua contoh mineral ini biasanya ditemukan bergandengan
dengan mineral logam yang lain seperti perak.
Cassiterite banyak ditemukan dalam deposit alluvial/alluvium yaitu tanah
atau sediment yang tidak berkonsolidasi membentuk bongkahan batu dimana dapat
dapat mengendap di dasar laut, sungai, atau danau. Alluvium terdiri dari berbagai
macam mineral seperti pasir, tanah liat, dan batu-batuan kecil. Hampir 80%
produksi timah diperoleh dari alluvial/alluvium atau istilahnya deposit sekunder.
Diperkirakan untuk mendapatkan 1 Kg Cassiterite maka sekitar 7 samapi 8 ton biji
timah/alluvial harus ditambang disebabkan konsentrasi cassiterite sangat rendah.

9
Dibumi timah tersebar tidak merata akan tetapi terdapat dalam satu daerah geografi
dimana sumber penting terdapat di Asia tenggara termasuk china, Myanmar,
Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hasil yang tidak sebegitu banyak diperoleh dari
Peru, Afrika Selatan, UK, dan Zimbabwe.

3.1.5 Mineral Utama dan Mineral Ikutan pada Timah


Mineral utama yang terkandung di dalam bijih timah berupa kasiterit,
sedangkan pirit, kuarsa, zirkon, ilmenit, galena, bismut, arsenik, stibnit, kalkopirit,
xenotim, dan monasit merupakan mineral ikutan. Timah putih dalam bentuk
cebakan dijumpai dalam dua tipe, yaitu cebakan bijih timah primer dan sekunder.
Pada tubuh bijih primer, kandungan kasiterit terdapat pada urat maupun dalam
bentuk tersebar. Proses oksidasi dan pengaruh sirkulasi air yang terjadi pada
cebakan timah primer pada atau dekat permukaan menyebabkan terurainya
penyusun bijih timah primer. Proses tersebut menyebabkan juga terlepas dan
terdispersinya timah putih, baik dalam bentuk mineral kasiterit maupun berupa
unsur Sn. Proses pelapukan, erosi, transportasi dan sedimentasi yang terjadi
terhadap cebakan bijih timah putih pimer menghasilkan cebakan timah sekunder,
yang dapat berada pada tanah residu maupun letakan sebagai endapan koluvial,
kipas aluvial, aluvial sungai maupun aluvial lepas pantai. Tubuh bijih primer yang
berpotensi menghasilkan sumber daya cebakan timah letakan ekonomis adalah
yang mempunyai dimensi sebaran permukaan erosi luas sebagai sumber dispersi.
Cassiterite adalah mineral timah oksida dengan rumus SnO2. Berbentuk
kristal dengan banyak permukaan mengkilap sehingga tampak seperti batu
perhiasan. Kristal tipis Cassiterite tampak translusen. Cassiterite adalah sumber
mineral untuk menghasilkan logam timah yang utama dan biasanya terdapat dialam
di alluvial atau aluvium. Stannite adalah mineral sulfida dari tembaga, besi dan
timah. Rumus kimianya adalah Cu2FeSnS4 dan merupakan salah satu mineral yang
dipakai untuk memproduksi timah.

10
Gambar 3.2 Cassiterite

Stannite mengandung sekitar 28% timah, 13% besi, 30% tembaga, dan 30%
belerang. Stannite berwarna biru hingga abu-abu. Cylindrite merupakan mineral
sulfonat yang mengandung timah, timbal, antimon, dan besi. Rumus mineral ini
adalah Pb2Sn4FeSb2S14.

Gambar 3.3 Stannite

Cylindrite membentuk kristal pinakoidal triklinik dimana biasanya berbentuk


silinder atau tube dimana bentuk nyatanya adalah gulungan dari lembaran kristal

11
ini. Warna cylindrite adalah abu-abu metalik dengan spesifik gravity 5,4. Pertama
kali ditemukan di Bolivia pada tahun 1893.

3.2 Tahapan Penambangan Timah


Penambangan timah putih dilakukan dengan beberapa cara, yaitu semprot,
penggalian dengan menggunakan excavator, atau menggunakan kapal keruk untuk
penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam serta endapan timah lepas
pantai (Gambar 3.4). Kapal keruk dapat beroperasi untuk penambangan cebakan
timah aluvial lepas pantai yang berada pada kedalaman sekitar 15 meter sampai
dengan 50. Penambangan menggunakan cara semprot dilakukan terutama pada
endapan timah aluvial darat dengan sebaran tidak luas dan relatif dangkal.
Penambangan dengan menggunakan shovel/excavator dilakukan untuk menggali
cebakan timah putih tipe residu, yang merupakan tanah lapukan bijih primer,
umumnya berada pada lereng daerah perbukitan. Penambangan oleh masyarakat
umumnya dilakukan dengan cara semprot. Banyak juga penambangan dalam sekala
kecil terdiri dari satu atau dua orang, menggunakan peralatan sangat sederhana
berupa sekop, saringan dan dulang, seperti penambangan oleh masyarakat di lepas
pantai menggunakan sekop dengan panjang sekitar 2,5 meter, dan dilakukan pada
saat air laut surut.

Gambar 3.4 Penambangan Timah


12
3.3 Manfaat Timah
Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa logam timah banyak
dipergunakan untuk solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia
(13%), kuningan dan perunggu (5,5%), industri gelas (2%), dan berbagai macam
aplikasi lain (11%). Akibat dari petumbuhan permintaan, kegunaan baru dari timah
ditemukan. Masalah lingkungan, keselamatan dan kesehatan mempengaruhi
kegunaan timah. Hasil dari riset yang sedang dilakukan di Internatioanal Tin
Research Institude Ltd., lembaga yang dibiayai industri, banyak pasar baru untuk
timah sedang dikembangkan.
Adapun manfaat timah dalam kehidupan sehari-hari yaitu digunakan sebagai
pelapis dalam kaleng kemasan makanan, digunakan dalam pembuatan bola lampu,
sampai pada penggunaan pada alat-alat olah raga. Selain itu, Timah banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pelapis logam, cendera mata, solder, dan lain
sebagainya. Sementara itu, untuk timah abu-abu memiliki sedikit manfaat. Timah
dapat diubah menjadi sedemikian licin dan dimanfaatkan untuk melapisi logam
lain. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya korosi serta aksi kimia. Lapisan
tipis timah yang terdapat pada baja dimanfaatkan untuk memperpanjang umur
makanan.Campuran logam timah sangat penting dalam pembentukan solder lunak,
logam babbit, perunggu, logam bel, serta logam putih. Campuran dari logam
bentukan dan perunggu fosfor ini mengandung timah.
Garam timah yang disemprotkan pada bidang gelas dipergunakan untuk
membuat lapisan konduktor listrik. Aplikasi jenis ini telah dipergunakan untuk jenis
kaca mobil yang tahan terhadap beku. Pada umumnya kaca jendela yang dijumpai
sekarang terbuat dari gelas cair dalam timah cair yang berguna untuk membentuk
permukaan datar atau proses pilkington.
Penemuan terbaru adalah pemanfaatan campuran logam kristal timah–
niobium yang dijadikan superkonduktor pada suhu sangat rendah. Hal ini
mengantarkan timah menjadi bahan konstruksi magnet superkonduktif yang snagat
menjanjikan. Magnet yang terbuat dari kawat magnet-niobium hanya berbobot
beberapa kilogram yang dilengkapi dengan baterai kecil yang menghasilkan medan
magnet dengan kekuatan 100 ton elektromagnet yang dioperasikan dengan sumber
listrik yang besar.

13
BAB 4
PROCESSING DAN PELEBURAN TIMAH

4.1 Pengertian Ekstraksi Metalurgi


Ekstraksi Metalurgi adalah proses pengolahan bahan-bahan alam menjadi
logam unsur yang selanjutnya menjadi logam dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Bahan anorganik alam yang ditemukan di kerak bumi disebut mineral, contohnya
bauksit dan aluminosilikat, sedang mineral yang dapat dijadikan sumber untuk
memproduksi bahan secara komersial disebut bijih. Bijih logam yang paling umum
adalah berupa oksida, sulfida, karbonat, silikat, halida dan sulfat. (Rosenqvist,
1974).
Secara umum tahapan metalurgi melalui tiga tahapan, yaitu:
1. Pemekatan Bijih
Di dalam bijih mengandung batuan tak berharga yang disebut batureja
(ganggue). Pemekatan bijih bertujuan untuk menyingkirkan sebanyak
mungkin batureja. Bijih dihancurkan dan digiling sehingga butiran terlepas
dari batureja. Pemisahan selanjutnya dapat dilakukan dengan cara fisis seperti
pengapungan (flotasi) atau penarikan dengan magnet. Pada proses
pengapungan, bijih yang telah dihancurkan diberi minyak tertentu. Mineral
akan melekat pada buih sehingga terlepas dari batureja atau batureja akan
melekat pada buih.
2. Peleburan
Peleburan (smelting) adalah proses reduksi bijih sehingga menjadi logam
unsur yang dapat digunakan berbagai macam zat seperti karbid, hidrogen,
logam aktif atau dengan cara elektrolisis. Pemilihan zat pereduksi ini
tergantung dari 3 kereaktifan masing-masing zat. Makin aktif logam makin
sukar direduksi, sehingga sehingga diperlukan pereduksi yang lebih kuat.
Logam yang kurang aktif seperti tembaga dan emas dapat direduksi hanya
dengan pemanasan. Logam dengan kereaktifan sedang seperti besi, nikel dan
timah dapat direduksi dengan karbon, sedang logam aktif seperti magnesium
dan aluminium dapat direduksi dengan elektrolisis. Seringkali proses

14
peleburan ditambah dengan fluks, yaitu suatu bahan yang mengikat pengotor
dan membentuk zat yang mudah mencair, yang disebut terak.
3. Pemurnian
Pemurnian (refining) adalah penyesuaian komposisi kotoran dalam logam
kasar. Beberapa cara pemurnian antara lain elektrolisis, destilasi, peleburan.
(Jakson, 1986).
Proses ekstraksi metalurgi timah termasuk kedalam proses pyrometalurgi
artinya tahapan menggunakan suhu yang sangat tinggi yaitu diatas 10000C.

4.2 Pengolahan (Processing) Timah


Timah diolah dari bijih timah yang didapatkan dari batuan atau mineral timah
(kasiterit SnO2). Proses produksi logam timah dari bijinya melibatkan serangkaian
proses yang terbilang rumit yakni pengolahan mineral (peningkatan kadar
timah/proses fisik dan disebut juga upgrading), persiapan material yang akan
dilebur, proses peleburan, proses refining dan proses pencetakan logam timah.
Pemakaian timah biasanya dalam bentuk paduan timah yang dikenal dengan
nama timah putih yakni campuran 80% timah, 11 % antimony dan 9% tembaga
serta terkadang ditambah timbal. Timah putih ini terutama dipakai untuk peralatan
logam pelindung dan pipa dalam industri kimia, industri bahan makanan dan untuk
menyimpan bahan makanan.
Proses pengolahan timah ini bertujuan sesuai dengan namanya yaitu
meningkatkan kadar kandungan timah dimana bijih timah diambil dari dalam laut
atau lepas pantai dengan penambangan atau pengerukan setelah itu dilakukan
pembilasan dengan air atau washing dan kemudian diisap dengan pompa. Bijih
timah hasil dari pengerukan biasanya mengandung 20 – 30 % timah. Setelah
dilakukan proses pengolahan mineral maka kadar kandungan timah menjadi lebih
dari 70 %, sedangkan bijih timah hasil penambangan darat biasanya mengandung
kadar timah yang sudah cukup tinggi >60%. Adapun Proses pengolahan mineral
timah ini meliputi banyak proses, yaitu: washing atau pencucian, pemisahan
berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar, pemisahan berdasarkan

15
berat jenis, pengolahan tailing, proses pengeringan, klasifikasi, pemisahan mineral
ikutan (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Alur Tahapan Pengolahan (Processing) Timah

4.2.1 Washing atau Pencucian


Pencucian timah dilakukan dengan memasukkan bijih timah ke dalam ore bin
yang berkapasitas 25 drum per unit dan mampu melakukan pencucian 15 ton bijh
per jam. Di dalam ore bin itu bijih dicuci dengan menggunakan air tekanan dan
debit yang sesuai dengan umpan (Gambar 4.2).

Gambar 4.2 Tempat Pencucian Timah


16
4.2.2 Pemisahan Berdasarkan Ukuran atau Screening/Sizing dan Uji Kadar
Bijih yang didapatkan dari hasil pencucian pada ore bin lalu dilakukan
pemisahan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat screen, mesh, setelah itu
dilakukan pengujian untuk mengetahui kadar bijih setelah pencucian. Prosedur
penelitian kadar tersebut adalah mengamatinya dengan mikroskop dan menghitung
jumlah butir dimana butir timah dan pengotornya memiliki karakteristik yang
berbeda sehinga dapat diketahui kadar atau jumlah kandungan timah pada bijih.

4.2.3 Pemisahan Berdasarkan Berat Jenis


Proses pemisahan ini menggunakan alat yang disebut jig Harz. Bijih timah
yang mempunyai berat jenis lebih berat akanj mengalir ke bawah yang berarti kadar
timah yang diinginkan sudah tinggi sedangkan sisanya, yang berkadar rendah yang
juga berarti mengandung pengotor atau gangue lainya seperti quarsa , zircon, rutile,
siderit dan sebagainya akan ditampung dan dialirkan ke dalam trapezium Jig Yuba
(Gambar 4.3).

Gambar 4.3 Alat Jig Yuba

4.2.4 Pengolahan tailing


Dahulu tailing timah diolah kembali untuk diambil mineral bernilai yang
mungkin masih tersisa didalam tailing atau buangan. Prosesnya adalah dengan gaya
17
sentrifugal. Namun saat ini proses tersebut sudah tidak lagi digunakan karena tidak
efisien karena kapasitas dari alat pengolah ini adalah 60 kg/jam.

4.2.5 Proses Pengeringan


Proses pengeringan dilakukan didalam rotary dryer. Prinsip kerjanya adalah
dengan memanaskan pipa besi yang ada di tengah – tengah rotary dryer dengan
cara mengalirkan api yang didapat dari pembakaran dengan menggunakan solar.

4.2.6 Klasifikasi
Bijih – bijih timah selanjutnya akan dilakukan proses – proses
pemisahan/klasifikasi lanjutan yakni: klasifikasi berdasarkan ukuran butir dengan
screening; klasifikasi berdasarkan sifat konduktivitasnya dengan High Tension
separator; Klasifikasi berdasarkan sifat kemagnetannya dengan Magnetic
separator; Klasifikasi berdasarkan berat jenis dengan menggunakan alat seperti
shaking table, air table dan multi gravity separator (untuk pengolahan
terak/tailing).

4.2.7 Pemisahan Mineral Ikutan


Mineral ikutan pada bijih timah yang memiliki nilai atau value yang terbilang
tinggi seperti zircon dan thorium (unsur radioaktif ) akan diambil dengan mengolah
kembali bijih timah hasil proses awal pada Amang Plant. Mula – mula bijih diayak
dengan vibrator listrik berkecepatan tinggi dan disaring/screening sehingga akan
terpisah antara mineral halus berupa cassiterite dan mineral kasar yang merupakan
ikutan. Mineral ikutan tersebut kemudian diolah pada air table sehingga menjadi
konsentrat yang selanjutnya dilakukan proses smelting, sedangkan tailingnya
dibuang ke tempat penampungan. Mineral – mineral tersebut lalu dipisahkan
dengan high tension separator – pemisahan berdasarkan sifat konduktor – non
konduktornya atau sifat konduktivitasnya. Mineral konduktor antara lain:
Cassiterite dan Ilmenite. Mineral nonconductor antara lain: Thorium, Zircon dan
Xenotime. Lalu masing – masing dipisahkan kembali berdasarkan kemagnetitanya
dengan magnetic separation sehingga dihasilkan secara terpisah, thorium dan
zircon.

18
4.3 Proses pre-smelting
Setelah dilakukan proses pengolahan mineral dilakukan proses pre-smelting
yaitu proses yang dilakukan sebelum dilakukannya proses peleburan, misalnya
preparasi material, pengontrolan dan penimbangan sehingga untuk proses
pengolahan timah akan efisien.

4.3.1 Preparasi Material


Bahan baku untuk memproduksi logam timah terdiri dari bijih timah, antrasit
dan batu kapur. Sedangkan bahan sirkulasi dalam proses peleburan terdiri dari debu,
dross dan hard head. Bahan baku semuanya didapatkan dari material produksi.
Bijih timah yang berasal dari unit penambangan darat dan penambangan laut
kadar timah dan pengotornya beda. Namun demikian konsentrat timah yangkan
dilebur harus memenuhi syarat yang ditetapkan untuk peleburan dengan kandungan
Sn tinggi. Sebelum dilebur bijih timah diambil sample untuk mengetahui
kandungan unsurnya dimaterial produksi.
Pengambilan sample konsentrat timah dilakukan dengan menggunakan
knight sample dari suatu partai konsentrat, dengan sample timah sebanyak 9,6 kg.
Setelah dilakukan mixing dan splitting hingga didapat sample sebanyak dua bagian
dengan berat masing masing 0,15 kg. Satu disimpan sebagai arsip sedangkan
sisanya dikirim ke laboratorium. Bijih timah yang diterima berdasarkan unsur
pengotornya di bagi atas :
a. Clean Consentrate (konsentrat bersih) yaitu bijih timah yang langsung dapat
dilebur untuk menghasilkan logam yang telah ditentukan, tanpa adanya
proses tambahan dalam pemurnian kecuali pemurnian besi.
b. Blendable Consentrate (konsentrat menengah) yaitu bijih timah yang
sebelum dilebur harus dicampur (blending) terlebih dahulu dengan clean
konsentrat yang mempunyai kadar pengotor tidak sama.High Impuritie.
c. Consentrate (konsentrat yang kadar pengotornya tinggi) yaitu bijih timah di
luar kategori satu dan dua diatas. Biasanya bijih jenis ini digunakan untuk
melebur dross dan hardhead dengan kandungan Pb tinggi dalam bijih timah.
Secara umum bijih timah yang akan dilebur mengandung unsur - unsur
seperti: Sn, Fe, Pb, As, Cu, dan S (Tabel 4.1)

19
Tabel 4.1 Kandungan Unsur dalam Sample

Unsur dalam bijih timah Kadar rata-rata (%)

Sn 72,0

Fe 1,5

Pb 0,02

As 0,012

Cu 0,005

S 0,55

Antrasit yang diperlukan sebagai reduktor harus memenuhi syarat yang telah
ditentukan diantaranya Fixed Carbon, Ash, Total Moisture, Volatile Matter, dan
Sulfur (Tabel 4.2).

Tabel 4.2 Kandungan Unsur dalam Antrasit

Unsur Kadar rata-rata

Fixed Carbon 78 % (min)

Ash 8 % (max)

Total Moisture 7 % (min)

Volatile Matter 5 % (max)

Sulfur 1 % (max)

Batu kapur dalam proses peleburan timah berfungsi sebagai flux atau bahan
pengikat kotoran harus mengandung CaO yang tinggi dengan kandungan unsur
20
lainnya rendah. Kandungan unsur dalam batu kapur yaitu: CaO, CO2, MgO, SiO2,
Fe2O3, S, H2O, P (Tabel 4.3).

Tabel 4.3 Kandungan Unsur dalam Batu Kapur

Unsur Kadar rata-rata


CaO 53 % (min)
CO2 41,6 % (min)
MgO 0,8 % (max)
SiO2 0,8 % (max)
Fe2O3 0,2 % (max)
S 0,5 % (max)
H2O 0,5 % (max)
P 0,5 % (max)

4.3.2 Penimbangan Komposisi


Material peleburan yang ada di gudang produksi ditempatkan dalam bunker
penimbangan selanjutnya akan dimasukkan dalam tanur peleburan. Penimbangan
material dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Penimbangan komposisi untuk peleburan bijih timah
bahan baku utama untuk peleburan tahap I adalah bijih timah ditambah
dengan bahan sirkulasi. Material peleburan ditimbang berdasarkan
komposisi yang ditentukan sehingga proses berjalan baik. Bahan sirkulasi
peleburan dross, hardhead, debu mengandung unsur yang berbeda dengan
bijih timah maka komposisi peleburan disesuaikan dengan jumlah material
lainnya.
b. Penimbangan komposisi untuk peleburan slag I
bahan baku dalam peleburan slag I terdiri dari slag I, antrasit sebagai
reduktor dan batu kapur sebagai flux.
c. Cara penimbangan

21
penimbangan komposisi dilakukan dengan timbangan Electrycally Drive
Batch Scale yang bergerak di rel dengan kapasitas 10 ton. Alat ini
dilengkapi dengan dua buah container untuk menampung curahan material
dari bunker, bahan baku yang telah ditimbang kemudian dimasukkan dalam
hopper tanur pantul tetap dengan crane.
Proses penimbangan dilakukan dari bunker material masing-masing yang
beratnya dapat dipantau dari ruang kontrol. Material dicampur dalam kubel dan
diangkat dengan crane untuk dicurahkan dalam hopper tanur.

4.4 Peleburan (Smelting)


Peleburan adalah pekerjaan metalurgi yang terjadi pada fase suhu tinggi dan
terbentuk fase padatdan cair yang terdiri atas :
A. Pirometalurgi
B. Hidrometalurgi
C. Elektrometalurgi
Fenomena utama yang terjadi pada proses peleburan adalah :
a. Berlangsungnya reaksi kimia yang menghasilkan logam dari senyawa
senyawannya
b. Terbentuknya dua atau lebih fase yang menungkinkan terpisahnya senyawa
logam yang dihasilkan dari senyawa senyawa yang tidak dikehendaki.
Pembentukan fasa - fasa yang diperlukan untuk berlangsungnya pemisahan
fisik antara logam logam dengan unsur pengotornya dapat terjadi dengan sendirinya
atau dengan bantuan penambahan bahan bahan atau reagen - reagen lain.
Peleburan bijh timah dilakukan dalam dua tahap yaitu peleburan bijih timah
dan peleburan slag I.
Tujuan dilakukan peleburan dua tahap adalah :
1. Pada peleburan bijih diharapkan besi dalam logam yang terbentuk tidak
terlalu besar sehingga temperatur operasi relatif rendah dan penggunaan
bahan redukstor dipakai relatif sedikit.
2. Pada peleburan slag I yang mengandung Sn 20-35% diharapkan mampu
menghasilkan hardhead dan slag II dengan kadar Sn dibawah 1%.

22
3. Untuk mendapatkan recovery peleburan yang setinggi tingginya karena
peleburan timah ini memerlukan biaya yang besar, sehingga setiap langkah
kerja harus efektif.

4.4.1 Peleburan Bijih Timah


Pada peleburan bijih timah (Gambar 4.4) dihasilkan logam timah kasar (crude
tin) sedangkan pada peleburan slag I dihasilkan slag II dan hardhead.

Gambar 4.4 Peleburan Bijih Timah

Bijih timah dan bahan sirkulasi seperti debu, dross, hardhead serta antrasit,
batu kapur dalam bunker komposisi ditimbang dengan Electrically Drive Batch
Scale yang bergerak diatas rel, alat ini dilengkapi dengan buah kontainer untuk
menampung material dari bunker.
Selesai penimbangan, material dimasukkan ke dalam hopper, dilakukan
mixing agar material yang akan dilebur menjadi homogen. Material yang telah
homogen tersebut ditempatkan dalam hopper - hopper tanur dengan melalui bukaan
valve material dicharge kedalam tanur. Setiap charge kurang dari 35 dan 20
komposisi. Dalam peleburan bijih timah diperlukan udara kurang dari 6.000 m3/jam
dan temperatur peleburan lebih kurang 1100-1350oC. Udara pembakaran diambil
dari atmosfer menggunakan axial fan refrigerator yang berkapasitas maksimum

23
10.000 m3/jam. Minyak yang dipakai untuk pembakaran dalam tanur adalah minyak
jenis FO (Fuel Oil).
Pada temperatur diatas 700oC gas CO akan lebih stabil daripada gas CO2
sehingga pada temperatur operasi akan diperoleh gas CO. Selain faktor, faktor
isapan yang berperan dalam pembentukan CO. Dengan isapan tekanan dalam tanur
menjadi kecildan jumlah oksigen didalam tanur sangat terbatas, sehingga gas CO2
akan bereaksi dengan antrasit membentuk CO yang akan mereduksi oksida oksida
dalam tanur.
Gas gas yang dihasilkan selama proses peleburan berlangsung dihisap keluar
dari tanur menuju gerbong. Setiap tanur mempunyai dua buah refrigerator yang
bekerja secara bergantian sesua dengan pergantian sparay nozzle. Fuel gas hasil
pembakaran dimanfaatkan untuk pemanasan refrigerator lainnya sampai temperatur
mencapai 400 - 600oC dan tekanan operasi dalam tanur berkisar -0,01 in H2O
sampai dengan -0,02 in H2O.
Empat jam setelah charge dilakukan Tapping yaitu pengeluaran material hasil
peleburan untuk mengeluarkan timah cair. Temperatur pada saat tapping
dipertahankan sekitar 1200oC, setelah itu tiap jam dilakukan rabbling yaitu
pengadukan material dalam tanur merata. Setelah material mencair semua
dilakukan tapping C atau tapping akhir terakhir untuk mengeluarkan timah cair dan
slagnya yang ditampung dalam fore heart. Fore Heart ini dibagi dua bagian yang
dipisahkan oleh weir sekat pemisah, dimana pada bagian bawahnya ada saluran
yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Pemisahan di foreheart
didasarkan pada perbedaan berat jenis antara timah cair dengan slag (Gambar 4.4).

Gambar 4.4 Pemisahan Timah Cair dan Slag di Foreheart


24
Pengeluaran hasil peleburan atau tapping dilakukan apabila reaksi dalam
tanur relatif tidak terjadi lagi dngan cara membuka tapping menggunakan pipa yang
disemprotkan udara bertekanan tinggi. Tapping dilakukan dalam tiga tahap yaitu
Tapping A dan B untuk pengeluaran logam timah dengan slagnya.
Kurasan foreheart, float dan ketel rafinasi mengandung Sn yang sangat tinggi
mencapai 90% dinamakan sebagai wet dross, untuk itu dilakukan peleburan di
flame oven yang prinsipnya sama dengan ditanur tetap hanya temperatur dan bahan
bakar yang digunakan berbeda. Hasil peleburan ini dituang ke ketel rafinasi kembali
sedangkan dry dross dilebur bersama sama dengan bijih timah. Pada peleburan bijih
timah dengan dross material sirkulasi ternyata membutuhkan waktu yang sangat
panjang dibandingan dengan peleburan bijih timah biasa ataupun peleburan slag.

4.4.2 PELEBURAN SLAG


Bahan baku yang dilebur pada peleburan tahap kedua adalah slag I, batu kapur
dan antrasit. Sama halnya dengan peleburan pertama, antrasit yang digunakan untuk
peleburan sebagai bahan konduktor dan batu kapur sebagai flux untuk mengikat
oksida pengotor.
Dalam peleburan bijih maupun dalam peleburan slag, SnO yang terbentuk
tidak seluruhnya tereduksi menjadi logam timah. Tetapi sebagian akan masuk ke
dalam slag cair dan sebagian lagi dalam bentuk debu timah bersama dengan gas lain
dari tanur. Temperatur tanur mula mula 1100oCdan terus dinaikkan hingga
mencapai temperatur operasi antara 1400 - 1500oC kenaikkan temperatur kurang
dari 45oC/jam. Udara yang dipakai untuk embakaran slag I kurang 6000m3/jam atau
sesuai dengan temepratur yang diperlukan. Tekanan bahan bakar 7 kg/m2dan
tekanan dalam tanur berkisar -0,01 in H2O sampai dengan -0,02 in H2O.

4.5 Proses Refining ( Pemurnian )


Ada 3 tahapan pada proses pemurnian, yaitu :
1. Pyrorefining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan panas diatas titik lebur
sehingga material yang akan direfining cair, ditambahkan mineral lain yang
dapat mengikat pengotor atau impurities sehingga logam berharga dalam hal
25
ini timah akan terbebas dari impurities atau hanya memiliki impurities yang
amat sedikit, karena afinitas material yang ditambahkan terhadap pengotor
lebih besar dibanding Sn. Contoh material lain yang ditambahkan untuk
mengikat pengotor: serbuk gergaji untuk mengurangi kadar Fe, Aluminium
untuk untuk mengurangi kadar As sehingga terbentuk AsAl, dan penambahan
sulfur untuk mengurangi kadar Cu dan Ni sehingga terbentuk CuS dan NiS.
Hasil proses refining ini menghasilkan logam timah dengan kadar hingga
99,92% (pada PT.Timah). Analisa kandungan impurities yang tersisa juga
diperlukan guina melihat apakah kadar impurities sesuai keinginan, jika tidak
dapat dilakukan proses refining ulang.
2. Eutectic Refining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan crystallizer dengan bantuan
agar parameter proses tetap konstan sehingga dapat diperoleh kualitas produk
yang stabil. Proses pemurnian ini bertujuan mengurangi kadar Lead atau Pb
yang terdapat pada timah sebagai pengotor /impuritiesnya. Adapun
prinsipnya adalah berhubungan dengan temperatur eutectic Pb- Sn, pada saat
eutectic temperature lead pada solid solution berkisar 2,6% dan aakan
menurun bersamaan dengan kenaikan temperatur, dimana Sn akan meningkat
kadarnya. Prinsip utamnya adalah dengan mempertahankan temperatur yang
mendekati titik solidifikasi timah.
3. Electrolityc Refining
Selain pemurnian terhadap impuritis di pyro refining dan eutectic refining,
pemurnian juga dilakukan di electrolytic refining yang bertujuan untuk
menghasilkan logam timah berkadar 99,99 % Sn atau disebut Fournine.
Pemurnian yang menggunakan prinsip elektrolisis ini terjadi karena adanya
perbedaan tegangan listrik pada kedua elektroda (katoda dan anoda) yang
menimbulkan arus listrik dalam larutan elektrolit barupa aliran ion-ion positif
(kation) bergerak ke arah elektroda negatif (katoda), terjadi reaksi reduksi
yang mengkonsumsi electron. Sedangkan ion negatif (anion) bergerak ke
arah elektroda positif (anoda) terjadi reaksi oksidasi yang melepaskan
electron. Reaksi oksidasi yang terjadi adalah :

26
Anoda : Sn Sn2+ + 2e (oksidasi) .....(4.1)
Katoda : Sn2+ + 2e Sn (reduksi) .....(4.2)
Sn (anoda) Sn (katoda) .....(4.3)

Logam timah dalam bentuk lempengan (katoda) direndam dalam larutan


elektrolit, hasilnya berupa lempengan anoda dengan kadar Sn tinggi
selanjutnya diletak di ketel percetakan. Lempengan katoda sisa dari proses
pemurnian elektrolitik dibentuk dalam lempengan katoda kembali untuk
diproses ulang. Proses pemurnian ini berlangsung lambat karena
menggunakan tegangan dan arus rendah agar unsur Sn yang didapat mencapai
kadar yang diinginkan. Bila tegangan dan arus yang digunakan tidak tepat
maka hasilnya berupa pengotor yang memiliki potensial elektroda berdekatan
dengan Sn seperti Pb dan Co. Prinsip pemisahan unsur Sn dari impuritisnya
sesuai dengan nilai elektroda potensial standar unsur-unsur logam.
Unsur-unsur pengotor dalam logam timah akan terpisah disebabkan adanya
perbedaan potensial elektroda standar. Ketentuan pemisahan unsur-unsur
pengotor dalam logam timah adalah :
a. Unsur yang harga E0 nya lebih kecil dari E0 Sn, seperti Al, Zn, Fe, Ni, In
dan Co akan turut teroksidasi dan akan larut ke dalam larutan elektrolit.
Tetapi tidak tereduksi karena harga E0 lebih kecil dari Sn.
b. Unsur-unsur yang harga E0nya lebih besar daripada E0 Sn, seperti Bi, Sb,
As, dan Cu tidak ikut teroksidasi dan akhirnya berubah menjadi Lumpur.
c. Unsur-unsur yang harga E0 nya hamper sama dengan E0 Sn, seperti Pb akan
teroksidasi dan tereduksi. Untuk mencegah agar Pb tidak ikut mengendap
pada katoda, maka ditambahkan H2SO4.

Pb(s) + H2SO4(l) PbSO4(l) + H2(g) ......(4.4)

Larutan elektrolit yang digunakan dalam proses elektrolisa ini adalah


campuran antara Stannosulfat (SnSO4), asam sulfat (H2SO4), asam
27
fluorosilikat (H2SiF6). Gelatin dan B-nafthol dengan temperature operasi
pada suhu kamar bagan alir electrolytic refining.
Tujuan dari proses pemurnian adalah memurnikan cairan timah yang
dihasilkan dari proses peleburan, sehingga didapat logam timah cair sebagian besar
adalah senyawa kimia dalam bentuk intermetallic compound yang mempunyai titik
lebur di atas temperatur operasi peleburan. Proses Stiring adalah proses pemurnian
timah kasar dengan cara pengadukan dengan menggunakan stirrer karena ada
putaran stirrer, maka permukaan timah cair akan membentuk lekukan (vortex) dan
ditambahakan serbuk gergaji. Pada suhu 400oC serbuk gergaji akan menghasilkan
gas Co2 dan uap H2O yang akan naik ke permukaan timah cair dalam bentuk
gelembung gelembung. Unsur pengotor yang ada dalam timah cair akan kontak
dengan gelembung gelembung gas CO2 dan H2O dengan adanya pengadukan akan
mempercepat terjadinya kontak gelembung gelembung gas dengan pengotor yang
ikut terbawa ke permukan timah cair kotoran yang mengapung selanjutnya di
skimming, material ini disebut sebagai dross.
Proses pemurnian dititikberatkan untuk menurunkan kadar Fe, Cu, Pb, dan
As yang terkandung dalam timah cair.

4.5.1 Pemurnian Fe
Cara untuk menghilangkan besi didasarkan pada sifat besi yang membentuk
persenyawaan dengan timah pada temperaut tinggi. Bila bijih yang dilebur
mengandung besi, maka timah kasar yang dihasilkan akan mengandung besi pula
karena timah dan besi mempunyai sifat kimia yang hampir sama. Persenyawaan
yang terbentuk ada dua macam yaitu : FeSn dengan 32% Fe dan FeSn2 dengan 19%
Fe.
Selanjutnya dari ketel stirring timah cair dipindahkan ke ketel pindah agar
pemurnian lebih sempurna. Timah cair yang sudah memenuhi persyaratan terhadap
unsur unsur pengotornya, dipindahkan ke ketel cetak yang langsung dicetak
menjadi logam timah. Pada temperatur 800oC akan terjadi pengendapan FeSn dan
bila pendinginan dilanjutkan maka pengendapan FeSn yang halus semakin banyak,
sementara timah akan bertambah murni. Pada suhu 400oC akan terbentuk

28
persenyawaan baru, kristal FeSn akan bereaksi dengan cairan timah disekelilingnya
membentuk FeSn2.

4.5.2 Pemurnian Cu
Untuk mengurangi kadar Cu dalam timah cair ditambahakan sulfur (S) selain
dengan Cu sulfur juga bereaksi dengan Fe.
Partikel Cu2S dan FeS akan terngkat ke permukaan cairan logam karena berat
jenisnya rendah dan dipisahkan dari cairan logam timah. Penambahan sulfur
tergatung dari banyaknya pengotor dalam timah cair.

4.5.3 Pemurnian As
Untuk mengurangi kadar As dalam timah kasar perlu ditambahkan dengan
aluminium sehingga terjadi reaksi pembentukan AlAs dengan titik lebur 1700oC.
Antimon akan membentuk AlSb dengan titik lebur 1050-1080o. Kedua kristal
tersbut mudah sekali mengapung karena brat jenisnya lebih kecil dibanding logam
timah. Untuk mempercepat reaksi dilakukan pengadukan dan menaikkan
temperatur hingga 400oC diketel rafinasi. komposisi AlAs dalam dross
dipermukaan logam cair sulit untuk dipisahkan sehingga perlu dilakukan polling
dengan mnghembuskan udara ke dalam logam cair kurang lebih 5 jam. Dengan
adanya polling maka Al yang masih tertinggal teroksidasi menjadi Al2O3.

4.5.4 Pemurnian Pb
Untuk pemurnian Pb dengan memanfaatkan diagram dua fasa PbSn. Pada
temperatur eutetic, dengan perbandingan PbSn lebih kurang 40-60%, maka PbSn
pada kondisi cair, sedangkan Sn dalam bentuk solid. Cara kerja crystallizer
berdasarkan titik lebur Pb 185oC dan Sn 232oC. Paduan logam PbSn dipanaskan
melalui blade pada temperatur dianatara titik lebur kedua logam tersebut.

4.6 Pencetakan
Pencetakan ingot timah (Gambar 4.5) dilakukan secara manual dan otomatis.
Peralatan pencetakan secara manual adalah melting kettle dengan kapasitas 50 ton,

29
pompa cetak and cetakan logam. Proses ini memakan waktu 4 jam /50 ton, dimana
temperatur timah cair adalah 2700C. Sedangkan proses pencetakan otomatis
menggunakan casting machine, pompa cetak, dan melting kettleberkapasitas 50 ton
dengan proses yang memakan waktu hingga 1 jam/60 ton. Langkah – langkah
pencetakan:
1. Timah yang siap dicetak disalurkan menuju cetakan.
2. Ujung pipa penyalur diatur dengan menletakkannya diatas cetakan pertama
pada serinya, aliran timah diatur dengan mengatur klep pada piapa penyalur.
3. Bila cetakan telah penuh maka pipa penyalur digeser ke cetakan berikutnya
dan permukaan timah yang telah dicetak dibersihkan dari drossnya dan segera
dipasang capa pada permukaan timah cair.
4. Kecepatan pencetakan diatur sedemikian rupa sehingga laju pendinginan
akan merata sehingga ingot yang dihasilkan mempunyai kulitas yang bagus
atau sesuai standar.
5. Ingot timah yang telah dingin disusun dan ditimbang.

Gambar 4.5 Pencetakan Timah

30
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
symbol Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan
logam miskin keperakan, dapat ditempa (“malleable”), tidak mudah teroksidasi
dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy, dan digunakan
untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah diperoleh terutama dari
mineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida. Manfaat timah dalam kehidupan
sehari-hari yaitu digunakan sebagai pelapis dalam kaleng kemasan makanan,
digunakan dalam pembuatan bola lampu, sampai pada penggunaan pada alat-alat
olah raga.
Proses pengolahan mineral timah ini meliputi banyak proses, yaitu : Washing
atau Pencucian, Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar,
Pemisahan berdasarkan berat jenis, Pengolahan tailing, Proses Pengeringan,
Klasifikasi timah, Pemisahan Mineral Ikutan. Sedangkan proses ekstraksi
metalurgy timah melalui beberapa tahapan yaitu: Proses pre-smelting, Proses
Peleburan (Smelting), Proses Refining (Pemurnian), dan diakhiri dengan
Pencetakan.

5.2 Saran
Saran jawaban yang dapat diberikan untuk studi kasus yang ada pada bab 2
antara lain:
1. Peleburan dross dan hardhead dapat dilakukan secara terpisah dari bijih
timah dengan penambahan pasir silika pada temperatur 1300oC.
2. Pasir silika dalam percobaan peleburan dross dan hardhead berfungsi untuk
membuat kondisi asam dalam tanur dan menurunkan temperatur titik lebur
slag.

31
3. Slag dominan dengan persenyawaan oksida membentuk sistem CaO-FeO-
SiO2.
4. Kadar Sn dalam slag akan minimal pada keasaman 1,25 – 1,5 yang diperoleh
dari perbandingan jumlah oksigen pada SiO2 dengan oksigen pada FeO dan
CaO.
5. Kadar Sn dalam timah kasar lebih besar dari 97% dan kadar logam Fe dalam
timah kasar 2,35%.
6. Slag yang dihasilkan dari percobaan peleburan dross dan hardhead adalah
96,199% sedangkan Sn yang losses dalam slag 1,76%.
7. Komposisi yang tepat untuk melebur 500 gram dross dan 500 hardhead
adalah 200 gram antrasit, 25 gram silika, 15 batu kapur dengan temperatur
1300oC serta waktu kampanye 10 jam.
8. Reaksi pada peleburan bijih timah merupakan reaksi berkebalikan dan
berulang untuk membentuk logam timah.

32
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Timah. https://id.wikipedia.org/wiki/Timah (diakses pada 16 Oktober


2017 pukul 00:00 wib)

Anonim. Chemistry Of Metals.


https://www.google.co.id/#q=Chemistry+of+Precious+Metals (diakses
pada 16 Oktober 2017 pukul 00:00 wib)

Anonim. Timah. http://www.Timah.com (diakses pada 16 Oktober 2017 pukul


00:00 wib)

Budikopen. 2013. Tahapan Pertambangan Timah.


http://budikopen.blogspot.co.id/2013/10/tahapan-pertambangan-timah-
di-bangka.html (diakses pada 16 Oktober 2017 pukul 00:00 wib)

Libratama. Manfaat Timah. http://libratama.com/manfaat-timah/Herman


(diakses pada 16 Oktober 2017 pukul 00:00 wib)

33