Anda di halaman 1dari 25

TUGAS TERSTRUKTUR

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-3 TAHUN


Ditujukan untuk memenuhi tugas pertumbuhan dan perkembangan anak

Oleh :
Kelompok 6
Kelas B
Lies Ratna Juita G1B013010
Rizky Adrian Noer G1B013042
Chendy Prastika Sari G1B013052
Dinda Syifa Al’adila G1B013081
Yesinta Bella Savitri G1B013087
Afaf Dwi Luthfiyah G1B013099

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan fase-fase
yang sangat kritis dan penting dalam hal tumbuh kembang fisik, mental dan
psikosisal yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-
tahun pertama untuk sebagian besar menentukan masa depan anak sebagai
generasi penerus bangsa. Kelainan atau penyimpangan apapun bila tidak
diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya dan tidak terdeteksi secara
nyata mendapatkan perawatan yang bersifat komprehensif yaitu promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak selanjutnya. Dewasa ini tumbuh kembang anak adalah
salah satu aspek yang diperhatikan serius oleh para pakar, karena hal tersebut
merupakan aspek yang menjelaskan mengenai proses pembentukan individu
secara fisik maupun psikologis pada anak (Sunawari, 2007).
Pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan
jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan peningkatan ukuran dan berat
seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan perkembangan merupakan
perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap
dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi melalui proses
kematangan dan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti
yang berbeda. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan
perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu.
Kedua kondisi tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh
kembang pada setiap anak (Wong, 2009).
Pengukuran pertumbuhan dapat dilakukan dengan penilaian
antropometri (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKUI, 2011) salah
satunya dengan melihat indeks tunggal berat badan/tinggi badan (BB/TB) atau
TB/BB. Indeks TB/BB ini merupakan indikator yang baik untuk menyatakan
status gizi masa anak. Indeks ini dapat menggambarkan proporsi BB relatif
terhadap TB dan menjadi indikator kekurusan atau yang lebih dikenal dengan
wasting. Indeks ini digunakan untuk mengevaluasi dampak gizi dan untuk
memantau perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek. Pengukuran
perkembangan dapat dilakukan dengn menggunakan DDST (Wong, 2008).
Terdapat empat aspek perkembangan anak melingkupi kepribadian/tingkah
laku sosial (personal social), motorik halus (fine motor adaptive), motorik
kasar (gross motor), dan bahasa (language). Metode skrining ini yang sering
digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 0-6 tahun
(Suwariyah, 2013).
Tumbuh kembang pada anak terjadi di sepanjang kehidupan yang
terdiri dari beberapa tahapan, salah satu diantaranya adalah masa toddler.
Masa toddler berada dalam rentang dari masa kanak-kanak mulai berjalan
sendiri sampai mereka berjalan dan berlari dengan mudah, yaitu mendekati
usia 12 sampai 36 bulan. Pada masa ini seorang anak mulai belajar
menentukan arah perkembangan dirinya, suatu fase yang mendasari derajat
kesehatan, perkembangan emosional, derajat pendidikan, kepercayaan diri,
kemampuan bersosialisasi serta kemampuan diri seorang anak di masa
mendatang. Interaksi antara anak dan orang tua dalam proses ini sangat
bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang
tua dapat segera mengenali kelainan proses tumbuh kembang anaknya sedini
mungkin. (Potter & Perry, 2010).
Periode penting dalam proses tumbuh kembang anak adalah masa lima
tahun pertama (Center on the Developing Child Harvard University, 2009),
yang merupakan masa emas kehidupan individu atau disebut dengan the
golden period (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Golden period merupakan
masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap segala bentuk informasi
sangatlah tinggi, karena sekitar 80% otak anak berkembang pada periode
emas tersebut (Ambarwati & Handoko, 2011). Masa ini juga merupakan
jendela kesempatan bagi anak, yang memungkinkan anak untuk mengasah
seluruh aspek perkembangan motorik, penglihatan, kemampuan berpikir,
kemampuan bahasa, perkembangan sosial, serta kecerdasan emosional
(Schiller, 2010). Masa emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak
karena pada masa ini lingkungan memiliki dampak yang besar terhadap
perkembangan anak, khususnya lingkungan yang tidak mendukung seperti
asupan gizi yang tidak adekuat, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang
memadai, serta kurangnya stimulasi, akan berdampak buruk pada
perkembangan anak (Kemenkes RI, 2011). Anak dibawah lima tahun
merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat
namun kelompok ini sering menderita kekurangan gizi (Proverawati, 2009).
Dampak kurang gizi pada anak dapat meningkatkan risiko kematian,
menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi status kesehatan
pada usia remaja dan dewasa (Almatsier, Soetardjo & Soekatri, 2011).
World health organitation (WHO) melaporkan bahwa 5-25% anak-
anak usia prasekolah menderita disfungsi otak minor, termasuk gangguan
perkembangan morik halus (Widati,2012). Sedangkan menurut (Kay-
Lambkin, dkk, 2007) secara global dilaporkan anak yang mengalami
gangguan berupa kecemasan sekitar 9% , mudah emosi 11-15%, gangguan
perilaku 9-15%. Maka dari itu perhatian dari orang tua sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini lah yang mendorong
kelompok kami untuk melakukan observasi terhadap anak usia 2-3 tahun
untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi dan gangguan apa saja yang
terdapat pada anak usia 2-3 tahun.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak usia 2-3 tahun
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak usia 2-3 tahun
b. Mengetahui gangguan perkembangan dan pertumbuhan anak usia 2-3
tahun
c. Mengetahui penanganan gangguan anak usia 2-3 tahun
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tumbuh Kembang Anak
1. Definisi Tumbuh Kembang
Wong (2009) menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan perubahan
kuantitatif yaitu peningkatan jumlah dan ukuran sel yang akan menghasilkan
peningkatan ukuran dan berat seluruh atau sebagian bagian sel sedangkan
perkembangan merupakan perubahan kualitatif yaitu perubahan fungsi tubuh
yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang
paling tinggi melalui proses kematangan dan belajar.
Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda.
Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan
berkaitan dengan pematangan fungsi organ dan individu. Kedua kondisi
tersebut saling berkaitan dan berpengaruh pada tumbuh kembang pada setiap
anak
Pertumbuhan masa prasekolah pada anak yaitu pada pertumbuhan
fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya
adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana
sistem tubuh sudah mencapai kematangan, seperti berjalan, melompat,
dan lain -lain. Sedangkan pada pertumbuhan tinggi badan anak
kenaikannya rata-rata akan mencapai 6,75-7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat,
2009, hlm. 25).
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti. Masa
prasekolah merupakan fase perkembangan individu dapat usia 2-6
tahun, perkembangan pada masa ini merupakan masa perkembangan
yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting (Fikriyanti, 201 3,
hlm.18).
2. Teori-Teori Perkembangan
a. Teori Perkembangan kognitif (Jean Piaget)
Perkembangan kognitif menurut Piaget merupakan perubahan
perubahan yang terkait usia yang terjadi dalam aktifitas mental. Ia juga
menyebutkan bahwa kesuksesan perkembangan kognitif mengikuti
prosses yang urutannya melewati empat fase, yaitu fase sensorimotorik
(0-2 tahun), fase pra-operasional (2-7 tahun), fase operasional (7-11
tahun) dan fase operasional formal (>11 tahun) (Wong, 2008, hlm
118). Dalam teori perkembangan ini anak prasekolah termasuk dalam
fase praoperasional, fase pra-operasional anak belum mampu
mengoperasionalisasikan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam
pikiran anak (Wong, 2008, hlm 119).
b. Teori Perkembangan Psikososial (Erikson)
Menurut Santrock (2011), Teori perkembangan ini dikemukakan oleh
Erikson yang mengemukakan bahwa perkembangan anak selalu
dipengaruhi oleh motivasi sosial dan mencerminkan suatu keinginan
untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan
kepribadian psikososial anak harus melewati beberapa tahap yaitu :
tahap percaya dan tidak percaya (1-3 tahun), tahap kemandirian versus
malu-malu (2-4 tahun), tahap inisiatif versusrasa bersalah (3-6 tahun),
tahap terampil versus minder (6-12 tahun), tahap identidas versus
kebingungan peran (12-18 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam teori
perkembangan psikososial anak prasekolah termasuk dalam tahap
perkembangan inisiatif versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak
mulai mencari pengalaman baru secara aktif. Apabila anak menapat
dukungan dari orang tuanya untuk mengekplorasikan
keingintahuannya maka anak akan mengambil inisiatif untuk suatu
tindakan yang akan dilakukan, tetapi bila dilarang atau dicegah maka
akan tumbuh perasaan bersalah pada diri anak (Wong, 2008, hlm
118).
c. Teori Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Teori perkembangan psikoseksual pertama kali dikemukakan oleh
Sigmun Freud, ia menggunakan istilah psikoseksual untuk menjelaskan
segala kesenangan seksual. Selama masa kanak-kanak bagian-bagian
tubuh tertentu memiliki makna psikologik yang menonjol sebagai
sumber kesenangan baru dan konflik baru yang secara bertahap
bergeser dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada tahap-
tahap perkembangan tertentu. Dalam perkembangan psikoseksual anak
dapat melalui tahapan yaitu: tahap oral (0-1 tahun), tahap anal (1-3
tahun), tahap falik (3-6 tahun), tahap laten (6-12 tahun), dan tahap genital
(>12 tahun) (Wong, 2008, hlm 117). Dalam teori perkembangan
psikoseksual anak prasekolah termasuk dalam tahap phalilc, dalam
tahap ini genital menjadi area tubuh yang menarik dan sensitif anak
mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dan men jadi ingin tahu
tentang perbedaan tersebut (Wong, 2008, hlm 117).
d. Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)
Teori perkembangan moral dikemukakan oleh Kohlberg dengan
memandang tumbuh kembang anak ditinjau dari segi moralitas anak
dalam menghadapi kehidupan, tahapan perkembangan moral yaitu:
tahap prakonvensional (orientasi pada hukum dan kepatuhan), tahap
prakonvensional (orientasi instrumental bijak), tahap konvensional,
tahap pasca konvensional (orientasi kontak sosial) (Wong, 2008, hlm
119). Dalam teori perkembangan moral anak prasekolah termasuk dalam
tahap prakonvensional, dalam tahap perkembangan ini anak terorientasi
secara budaya dengan label baik atau buruk, anak-anak menetapkan
baik atau buruknya suatu tindakan dari konsekuensi tindakan tersebut.
Dalam tahap ini anak tidak memiliki konsep tatanan moral, mereka
menentukan prilaku yang benar terdiri atas sesuatu yang memuaskan
kebutuhan mereka sendiri meskipun terkadang kebutuhan orang lain.
Hal tersebut diinterprestasikan dengan cara yang sangat konkrit tanpa
kesetiaan, rasa terimakasih atau keadilan (Wong, 2008, hlm. 120)
3. Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Santrock (2011), Perkembangan dan pertumbuhan mengikuti
prinsip cephalocaudal dan proximodistal. Prinsip cephalocaudal merupakan
rangkaian dimana pertumbuhan yang tercepat selalu terjadi diatas, yaitu
di kepala. Pertumbuhan fisik dan ukuran secara bertahap bekerja dari
atas kebawah, perkembangan sensorik dan motorik juga berkembang
menurut prinsip ini, contohnya bayi biasanya menggunakan tubuh bagian
atas sebelum meeraka menggunakan tubuh bagian bawahnya. Prinsip
proximodistal (dari dalam keluar) yaitu pertumbuhan dan perkembangan
bergerak dari tubuh bagian dalam keluar. Anak-anak belajar mengembangkan
kemampuan tangan dan kaki bagian atas ( yang lebih dekat dengan
bagian tengah tubuh) baru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan
dengan kemampuan menggunakan telapak tangan dan kaki dan akhirnya jari-
jari tangan dan kaki (Papalia, dkk, 2010, hlm 170).
4. Aspek–Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Aspek Pertumbuhan
Untuk menilai pertumbuhan anak dilakukan pengukuran
antropometri, pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat
badan, tinggi badan (panjang badan), lingkar kepala. Pengukuran berat
badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan
semua jaringan yang ada pada tubuh, pengukuran tinggi badan
digunakan untuk menilai status perbaikan gizi disamping faktor
genetik sedangkan pengukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk
menilai pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak kecil (mikrosefali)
menunjukkan adanya reterdasi mental, apabila otaknya besar (volume
kepala meningkat) terjadi akibat penyumbatan cairan serebrospinal.
b. Ciri Pertumbuhan Anak 2-3 Tahun
1. Berat Badan
Pada umur 2½ tahun berat badan meningkat 4 x berat badan lahir.
Pertambahan berat badan anak umur 1-2 th : 0,2 kg/bln.
2. Tinggi Badan
Berdasarkan data yang dikeluarkan Direktorat Kesehatan Gizi
Depkes RI untuk anak usia 0-5 tahun tanpa dibedakan jenis
kelaminnya, pada usia tertentu harus memiliki tinggi badan ideal
dengan plus minus 2 standar deviasi.
Tabel 2.1 Standar tinggi dan berat badan untuk anak usia 2-3 tahun
Berat (gram) Tinggi (cm)
Umur
Standar 80% standar Standar 80% standar
2 tahun 0 Bulan 12.400 9.900 87.0 69.5
3 Bulan 12.900 10.500 89.5 71.5
6 Bulan 13.500 10.800 92.0 73.5
9 Bulan 14.000 11.200 94.0 75.0
3 tahun 0 bulan 14.500 11.600 96.0 77.0
3 bulan 15.000 12.000 98.0 78.5
6 bulan 13.500 12.400 99.5 79.5
9 bulan 16.000 12.900` 101.5 81.5
Pengukuran tinggi badan pada anak diatas 2 tahun dilakukan dengan
berdiri. Pada tahun kedua peningkatan tinggi badan lebih banyak
dibandingkan berat badan.
3. Lingkar kepala
Pertambahan ukuran lingkar kepala meliputi:
a) Pada tahun ke-2 menjadi 46,9 - 49,5 cm ( + 2,5 cm)
b) Pada tahun ke-3 menjadi 47,7 - 50,8 cm ( + 1,25 cm)
Berat otak sebesar 1/8 berat total bayi paling pesat berkembang pada
usia 2 tahun. Berat otak kecil sebesar 3x berat badan setelah bayi
berusia 2 tahun. Pengukuran lingkar kepala dipakai untuk
mengetahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Pengukuran
dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3
kali pengukuran sebagai standar.
4. Pertumbuhan Gigi
Gigi susu yang berjumlah 20 buah biasanya telah tumbuh seluruhnya
pada umur 2,5 th.
c. Aspek perkembangan
1) Motorik kasar (gross motor) merupakan keterampilan yang
meliputi aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan
berjalan (Santrock, 2011, hlm 210). Perkembangan motorik kasar
pada masa prasekolah, diawali dengan kemampuan untuk berdiri
dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki,
membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009, hlm.25).
2) Motorik halus (fine motor Skills) merupakan keterampilan fisik
yang melibatkan otot kecil dan koordinasi meta dan tangan yang
memerlukan koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman,
2010, hlm. 316). Perkembangan motorik halus mulai memiliki
kemampuan menggoyangkan jari -jari kaki, menggambar dua atau
tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda,
melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26).
3) Bahasa (language) adalah kemampuan untuk memberikan respon
terhadap suara, mengkuti perintah dan dan berbicara spontan.
Pada perkembangan bahasa diawali mampu menyebut hingga
empat gambar, menyebut satu hingga dua warna, menyebutkan
kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata, meniru
berbagai bunyi, mengerti larangan dan sebagainya (Hidayat, 2009,
hlm.26).
4) Prilaku sosial (personal social) adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya. Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah
yaitu dapat berrmain dengan permainan sederhana, mengenali
anggota keluarganya, menangis jika dimarahi, membuat
permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan
peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya
(Hidayat, 2009, hlm.26). Untuk menilai perkembangan anak yang
dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang faktor
kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan,
kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak (Hidayat,
2009, hlm. 38).
d. Tahap Perkembangan Anak 2-3 Tahun
1) Perkembangan Motorik
Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa
kehidupannya, karena tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot
besar mereka sedang tumbuh. Demikian halnya dengan kemampuan
motorik halus anak, sudah mulai meningkat. Dengan demikian masa
ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai kemampuan dan
keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang cukup kuat
dengan seringnya anak mencoba hal-hal baru dan seringnya
pengurangan menyebabkan masa ini menjadi masa yang tepat untuk
mempelajari keterampilan baru. Kemampuan motorik yang dimiliki
anak sbb;
Tabel 2.2 Aspek perkembangan motorik anak usia 2-3 tahun
Usia Motorik Kasar Motorik Halus
24-36 Mulai dapat memanjat dan Melakukan kegiatan dengan satu
bulan melompat lengan, seperti mencorat-coret
(2-3 tahun) dengan alat tulis
Mulai kenal irama dan mulai Menggunakan sendok dan garpu
membuat gerakan-gerakan yang tanpa menumpahkan makanan
berkaitan dengan menari
Melompat dengan 2 kaki Melepas kancing jepret
Berdiri dengan satu kaki selama Membuka halaman buku
beberapa saat berukuran besar satu persatu
Naik turun 4-6 anak tangga Memegang gunting dan mulai
tanpa bantuan dan biasanya memotong kertas
tidak jatuh
Menaiki dan mendorong benda Memakai dan melepas sepatu
keras seperti meja, kursi, dan berperekat/tanpa tali
lain-lain

Bermain dengan bola Melepas celana dan baju


(melempar, menangkap dan sederhana
menggulirkan)
Dapat berjalan jinjit, berjingkat- Memegang pensil/krayon besar
jingkat mengambil objek dari
lantai tanpa terjatuh
Melempar bola dengan kedua Menyikat gigi dan menyisir
tangan di atas kepala rambut sendiri

2) Perkembangan Bicara dan Bahasa


Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-
peluang untuk menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai
penyumbang terbesar untuk lahirnya kemampuan kognitif anak.
Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar membaca adalah berkaitan
dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan ke otak anak,
kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya
kedalam kode huruf-huruf, kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan
dikeluarkan dalam bentuk bicara. Bakat bicara anak karena system
otak diorganisasikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak
memproses sebagai bahasa.
Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya
memahami sesuatu. Biasanya anak mulai berbicara sendiri,kemudian
berkembang menjadi kemampuan untuk bertindak tanpa harus
mengucapkannya. Dalam hal ini anak telah menginternalisasikan
pembicaraan yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri menjadi
pemikiran anak. Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk dapat
lebih berkomunikasi secara sosial.
Tabel 2.3 Aspek perkembangan bicara dan bahasa anak usia 2-3 tahun
Usia Kemampuan Bicara dan Bahasa
24-36 Bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain, meskipun
bulan masih sering membuat kesalahan
(2-3 tahun) Menyebutkan tiga buah angka yang berurutan
Umumnya kalimat terdiri dari 4 sampai 5 kata
Menggunakan kata aku atau saya untuk menunjuk dirinya
Dapat menyebutkan namanya sendiri
Kosa kata berjumlah lebih dari 1000 kata
Memberi jawaban yang relevan jika ditanya
Dapat melakukan 2 sampai 4 kegiatan dengan instruksi yang
berhubungan
Mengerti arti hubungan jika menggunakan kata “kalau……”,
”kemudian……” dan “karena…..”
Mengerti konsep besar dan kecil, panjang dan pendek
Mulai mengerti kata yang menerangkan waktu seperti : “Besok kita
akan ke rumah nenek”

3) Perilaku Sosial dan Kemandirian


Dasar-dasar sosialisasi yang sudah diletakkan pada masa bayi,
maka pada masa ini mulai berkembang. Dalam hal ini hubungan
keluarga, orangtua-anak, antar saudara dan hubungan dengan sanak
keluarga cukup berperan. Pengasuhan pada tahun pertama berpusat
pada perawatan, berubah ke arah kegiatan-kegiatan seperti permainan,
pembicaraan dan pemberian disiplin, akhirnya mengajak anak untuk
menalar terhadap sesuatu. Pada masa ini sebagai masa bermain, anak
mulai melibatkan teman sebayanya, melalui bermain, meski interaksi
yang dibangun dalam permainan bukan bersifat sosial, namun sebagai
kegiatan untuk menyenangkan dan dilaksanakan untuk kegiatan itu
sendiri. Jenis permainan yang dilakukan bisa berbentuk konstruktif,
permainan pura-pura, permainan sensori motorik, permainan sosial
atau melibatkan orang lain, games atau berkompetisi.
Tabel 2.4 Aspek perkembangan perilaku sosial dan kemandirian anak
usia 2-3 tahun
Usia Kemampuan Bersosialisasi Kemampuan Kemandirian
24-36 Dapat mematuhi perintah Makan sendiri tanpa banyak
bulan sederhana bantuan
(2-3 Sudah mulai memperlihatkan Menuangkan air/pasir dari teko
tahun) rasa cemburu/iri terhadap (botol) ke dalam
saudaranya gekas/cangkir/wadah lainnya
Merasa sulit untuk berbagi Mencuci tangan tanpa bantuan
dengan orang lain dan
menunjukkan perasaan bersaing
Mencoba memaksakan Menggunakan toilet sendiri (namun
kehendaknya pada orang lain masih memerlukan bantuan untuk
membersihkan dan memakai baju
kembali)
Ingin mandiri (mengerjakan Bermain dengan anak lain,
segala sesuatunya sendiri) tapi melakukan interaksi
masih mencari peneguhan orang
dewasa
Dapat mematuhi perintah yang Menunggu giliran dan berbagi
rumit dengan dorongan dari orang lain

Minat bermain ditunjukkan Berusaha untuk membantu


dengan cara memperhatikan mengerjakan pekerjaan di rumah
temannya ketika bermain dan seperti menyapu
segera bergabung bila tertarik
Sikap kemandirian semakin jelas Memulai permainan sandiwara
dengan lebih banyak berbuat (drama) & melakukan tingkah laku
untuk diri sendiri tanpa menurut peranannya seperti
memperdulikan apakah mengurus bayi
temannya memperhatikan atau
justru membelakanginya

Dapat bekerja sama dengan Menyisir rambut sendiri


orang dewasa dalam sejumlah
aktivitas sederhana

e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak


Menurut Hidayat (2009) Proses Percepatan dan Perlambatan Tumbuh
kembang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1) Faktor Herediter
Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai
dasar dalam mencapai tumbuh kembang. Yang termasuk faktor
herediter adalah bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa. Faktor ini
dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan alam
pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhaap
rangsangan, umur puberitas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan pranatal,
lingkungan postnatal, dan faktor hormonal. Faktor pranatal
merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai dari konsepsi
sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, posisi janin,
pengunaan obat -obatan , alkohol atau kebiasaan merokok. Faktor
lingkungan pasca lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga. nutrisi,
posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan. Faktor hormonal
yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain.
somatotrofin (growth Hormon) yang berperan alam mempengaruhi
pertumbuhan tinggi badan, dengan menstimulasi terjadinya
poliferasi sel kartigo dan sistem skeletal. Hormon tiroid
menstimulasi metabolisme tubuh, glukokartikoid menstimulasi
pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi
testosteron dan ovarium untuk memproduksi esterogen
selanjutnya hormon tersebut menstimulasi perkembangan seks
baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan
peran hormonnya.

B. Stimulasi, Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak


1. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak 0-6
tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak
perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus
pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh
ibu dan ayah atau yang merupakan orang terdekat anak (Depkes, 2012,
hlm.15).
Perkembangan kemampuan dasar anak mempunyai pola yang
tetap dan berlangsung secara berurutan, dengan demikian stimulasi yang
diberikan kepada anak dalam rangka merangsang pertumbuhan dan
perkembangan anak dapat diberikan orang tua atau keluarga sesuai dengan
pembagian kelompok umur stimulasi (Depkes, 2012, hlm.15).
Tabel 2.5 Kelompok umur stimulasi anak (Depkes, 2012)
Kelompok Umur
No. Priode Tumbuh Kembang
Stimulasi
1. Masa pranatal, janin dalam kandungan Masa prenatal
2. Masa bayi 0-12bulan Umur 0-3 bulan
Umur 3-6 bulan
Umur 6-9 bulan
Umur 9-12 bulan
3. Masa anak balita 12-60 hari Umur 12-15 bulan
Umur 15-18 bulan
Umur 18-24 bulan
Umur 24-36 bulan
Umur 361-48 bulan
Umur 48-60 bulan
4. Masa anak prasekolah 60-72 bulan Umur 60-72 bulan
Kemampuan anak dirangsang dengan stimulasi terarah pada
kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara
dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Stimulasi yang
dilakukan pada kemampuan gerak kasar pada anak misalnya dengan
mendorong anak untuk bermain bola bersama temannya, permainan
menjaga keseimbangan tubuh, belari, melompat dengan satu kaki, diajari
bermain sepeda, dan sebagainya (Depkes, 2012, hlm.37).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan gerak halus pada
anak misalnya menulis namanya, menulis angka-angka, menggambar,
berhitung, berlatih mengingat, membuat sesuatu dari tanah liat atau
lilin, bermain berjualan, belajar mengukur dan lain-lain (Depkes, 2012,
hlm.37).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bicara dan bahasa
pada anak misalnya bermain tebak-tebakan, berlatih mengingat -ingat,
menjawab pertanyaan “mengapa?”, mengenal uang logam, mengamati
atau meneliti keadaan sekitanya dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.38).
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bersosialisasi dan
kemandirian pada anak misalnya mendorong anak untuk berpakaian
sendiri, menyimpan mainan tanpa bantuan, ajak berbicara tentang apa
yang dirasakan, berkomunikasi dengan anak, berteman dan bergaul,
mematuhi peraturan keluarga dan lain-lain (Depkes, 2012, hlm.39).

2. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak


Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan
untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada
balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan
atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan mudah juga
mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan yang tepat terutama
untuk melibatkan ibu dan keluarga (Depkes, 2012, hlm. 40).
Kegiatan stimulasi deteksi dan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang balita yang menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan
dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan
anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat,
lembaga swadaya masyarakat) dan tenaga professional (kesehatan,
pendidikan dan sosial) (Depkes, 2012, hlm.1).
Melalui kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan
pertumbuhan anak seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak
jatuh dalam kondisi gizi buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi
pada anak dapat terdeteksi melalui kegiatan SDIDTK. Selain mencegah
terjadinya penyimpangan pertumbuhan, kegiatan SDIDTK juga
mencegah terjadinya penyimpangan perkembangan dan penyimpangan
mental emosional (Hermawan, 2011).
Menurut Depkes RI (2012) ada 3 jenis kegiatan yang dapat
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan
jaringannya berupa deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, deteksi
penyimpangan perkembangan dan deteksi penyimpangan mental
emosional.
1) Skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining atau pemeriksaan perkembangan anak
menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak
normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining atau pemeriksaan
KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42,
48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Skrining atau pemeriksaan dilakukan
oleh tenaga kesehatan, guru TK dan petugas PAUD terlatih. Alat
atau instrumen yang digunakan adalah formulir KPSP menurut umur,
alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola tenis, bola besar
dan kubus (Depkes, 2012, hlm 52).
Cara penggunaan KPSP yaitu :
a. Pada waktu pemeriksaan atau skrining anak harus dibawa.
b. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun
anak lahir. Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan jadi 1 bulan.
c. setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan
umur anak.
d. KPSP terdiri ada 2 macam pertanyaan, yaitu : pertanyaan yang
dijawab oleh ibu atau pengasuh anak, dan perintah kepada ibu
atau pengasuh anak untuk melaksanakan tugas yang tertulis
pada KPSP (Depkes, 2012, hlm 52).
2) Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan
pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk
meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Jadwal
TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan
dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini dilaksanakan
oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih. Alat
yang diperlukan adalah instrumen TDD menurut umur anak,
gambar binatang (ayam, anjing, kucing) dan manusia, mainan
(boneka, kubus, sendok, cangkir, bola) (Depkes, 2012. hlm. 70).
Cara melakukan TDD :
a. Tanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak
dalam bulan.
b. Pilih daftar pertanaan TDD yang sesuai denga umur anak.
c. Pada anak umur kurang dari 24 bulan semua pertanyaan
dijawab oleh orang tua atau pengasuh anak.
d. Pada anak umur 24 bulan atau lebih, pertanyaan-pertanyaan
berupa perintah melalui orang tua atau pengasuh untuk
dikerjakan oleh anak. Amati kemampuan anak dalam
melakukan perintah orang tua atau pengasuh. (Depkes, 2012.
hlm. 70).
3) Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini
kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan
sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat
menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan
pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini dilakukan
oleh tenaga kesehatan, guru TK, dan petugas terlatih. Alat atau
sarana yang diperlukan yaitu dua buah kursi, poster E atau snelle n chart
(Depkes, 2012, hlm 71).

C. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional Pada Anak Prasekolah


Deteksi Dini Penyimpangan mental Emosional adalah kegiatan atau
Pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental
emosional, autisme gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak,
agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental
emosional terlambat diketahui , maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini
akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Jenis kegiatan yang
dilaksanakan meliputi : Deteksi dini masalah mental emosional pada anak
prasekolah menggunakan Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME),
deteksi dini autis pada anak prasekolah menggunakan ceklist for Autism in
Todlers (CHAT) dan deteksi dini gangguan pemusatan parhatian dan
Hiperaktivitas pada anak pra sekolah menggunakan kuesioner Gangguan
Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (GPPH) (Depkes, 2012, hlm.74).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Karakteristik Objek Pengamat
a. Nama : ZMA
b. Tanggal Lahir : 23 Agustus 2013
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Umur : 2 tahun 3 bulan
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan Perkembangan objek yang telah kami amati yaitu
dilakukan wawancara dengan ibu kandungnya yang menyatakan bahwa
pertumbuhan dan perkembangan adiknya tidak mengalami gangguan.
a. Aspek pertumbuhan objek pengamat
1) Tinggi Badan : 90 cm
2) Berat Badan : 11 kg
b. Aspek perkembangan objek pengamat
Tabel 3.1 Hasil wawancara aspek perkembangan responden
Berbicara dan
Motorik Kasar Motorik Halus Bersosialisasi Kemandirian
Berbahasa
Berjalan meloncat Membentuk lingkaran Mengerti perintah Bermain dengan Menyusun kalimat
diatas kertas dan larangan anak lain, sederhana
sederhana melakukan
Memanjat dan Menunjuk beberapa Bermain bersama interaksi Mampu
melompat anggota tubuh orang lain menyebutkan
menggunakan 1 kaki namanya
Berdiri satu kaki Meniru beberapa Mengenal dan Mampu
tanpa berpegangan pekerjaan rumah tangga mencium anggota mengucapkan kata-
keluarga kata yang dapat
Melempar bola
dimengerti

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan kepada anak usia 2
tahun 3 bulan diperoleh hasil bahwa pertumbuhan secara fisik normal tidak
adanya gangguan terhadap anak. Anak tumbuh dan berkembang sesuai
dengan usianya dan tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan.
Pertumbuhan anak dilihat dari berat badan dan tinggi badannya jika
dibandingkan dengan tabel berat badan dan tinggi ideal menurut Direktorat
Kesehatan Gizi Depkes RI Anak usia 2 tahun 3 bulan memiliki tinggi badan
ideal 89,5 cm. Tetapi anak yang kami teliti memiliki tinggi badan 90 cm. Ini
masih variasi normal dan dengan tinggi badan 90 cm, berat badan normalnya
menjadi 10,8 kg. Perbedaan tinggi badan ini masih dalam batas normal.
Perkembangan anak yang kami teliti sudah bisa menyebutkan
namanya sendiri tanpa bantuan orang lain, dapat menyanyikan beberapa lagu,
sudah bisa menyebutkan tiga buah angka yang berurutan, bahasa yang
dipergunakan dapat dimengerti orang lain meskipun masih sering membuat
kesalahan. Sedangkan, apabila dilihat dari segi perkembangan anak
mengalami gangguan berupa hiperaktivitas karena anak tidak bisa duduk
diam, tidak dapat mengikuti aktifitas dengan tenang, selalu bergerak terus dan
banyak bicara, dapat memulai pembicaraan dengan orang yang baru dia
kenal, bahkan mau diajak pergi dengan orang yang baru saja dikenal, sering
marah ketika sesuatu hal yang dia inginkan tidak bisa didapatkan, jika ada
teman yang mengganggunya, dia berani membalas dengan mengganggu
temannya juga.
Anak pra sekolah umumnya berusia 2-3 tahun, secara fisik anak pra
sekolah memiliki karakteristik sendiri dalam perkembangan fisik, yakni tinggi
dan berat badan dan proporsi bentuk tubuh. Perkembangan motorik adalah
proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya,
perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot
anak, sehingga setiap gerakan sederhana apapun merupakan hasil pola
interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang
dikontrol oleh otak. Perkembang motorik terbagi menjadi dua, yaitu
perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus.
Perkembangan motorik kasar adalah keterampilan yang meliputi aktivitas otot
yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011).
Perkembangan motorik halus adalah keterampilan fisik yang melibatkan otot
kecil dan koordinasi mata dan tangan yang memerlukan koordinasi yang
cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010). Berikut beberapa perkembangan
motorik kasar dan halus pada anak usia pra sekolah :
1. Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan
kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat
dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat,
2009).
2. Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan
jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang,
mampu menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat,
2009).
Sosio-emosional adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perkembangan
adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain dengan permainan
sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika dimarahi, membuat
permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan
kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya (Hidayat, 2009).
Anak usia 3 tahun yang kami amati memiliki kemampuan komunikasi
yang cukup baik terhadap teman-teman sebayanya, suka berbicara dan
bercerita dengan keluarganya kadang juga dengan dirinya sendiri, suka
bernyanyi dan menari-nari saat bernyanyi. Hal tersebut terlihat bahwa peran
orangtua dan keluarga sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan
perkembangan anak.
IV. PENUTUP
A. Simpulan
Simpulan yang kami dapatkan dari hasil studi kasus yaitu :
1. Pertumbuhan masa prasekolah pada anak yaitu pada pertumbuhan
fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya
adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi,
dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan Sedangkan
perkembangan pada masa ini merupakan masa perkembangan yang
pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting.
2. Gangguan tumbuh kembang anak terdiri dari Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH), pada kasus objek yang kami
mengalami gangguan hiperaktivitas.
3. Mendeteksi gangguan tumbuh kembang pada anak dapat dilakukan berupa
deteksi dini pentimpangan pertumbuhan, deteksi perkembangan dan
deteksi penyimpangan mental emosional.

B. Saran
Ibu dan Keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada anak,
memperhatikan proses pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik
serta memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan usianya. Agar tumbuh
kembang anak berjalan dengan optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Lukman. 2013. “Peran Orangtua Sebagai Guru dengan Perkembangan


Perilaku Sosial Pada Anak Usia Prasekolah di TK AL-IKHLAS Desa
Sukoanyar Dusun Toyorono Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto”.
Hospital Majapahit. Vol 5 nomor 1.
Departemen Kesehatan . 2012 . Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011.
Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba
Medika.
______2009. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Jakarta : Heath
Books
Kay-Lambkin, F., Kemp, E.,Stafford, K., & Hazell, T. (207). Mental Health
Promotion and Early Intervention in Early Childhood and Primary School
Settings: A Review1. Journal of Student Wellbeing. (vol 1 No 1). Australia:
Hunter Institute of Mental
Health.http://www.responseability.org/data/assets/pdf_file/0004/4882/Menta
Health PromotI on-and-Early-Intervention-in-Earl y-Childhood-and
Primary-School -Settings-A-Review.pdf.
Musarofah, S. 2011. Analisa pelaksanaan pendekatan sentra untuk mengembangkan
kreatifitas anak usia dini. skripsi. pontianak: Program studi bimbingan
dan konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan UNTAN.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika
Papalia . 2010. Kecerdasan dan Kesehatan Emosi Anak. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Santrock . 2011. Perkembangan Masa Hidup Jilid. 1 edisi kelima. Jakarta: Penerbit
Erlangga
Utami, Sri. 2009. Bermain Lego Meningkatkan Kognitif Anak Usia Prasekolah (4-5
tahun). Ners Jornal Jurnal Ners Vol 3. Surabaya: Program Studi Ilmu
Keperawatan FKp Unair.
Wong, D., L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, M.L., & Schwartz, P. 2008.
Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
______2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. Jakarta: EGC.
Alifiani Hervira dan Yuni M. “Pusat Tumbuh Kembang Anak” Jurnal Tingkat
Sarjana Bidang Seni Rupa dan Desain. Prodi Desain Interior, Fakultas Seni
Rupa dan Desain (FSRD). ITB.
Apriadi, Sandi. 2009. Bagian Ilmu Penyakit Anak Jurnal Fakultas Kedokteran.
Bandung.
Dewi Ratna dan Indarwati. 2011. “Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Orang
Tua Tentang Bahaya Cedera Dan Cara Pencegahannya Dengan Praktik
Pencegahan Cedera Pada Anak Usia Toddler Di Kelurahan Blumbang
Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar”. Jurnal GASTER. Vol. 8,
No. 2 : (750 - 764) 750.
Fristi Widya, dkk. “Perbandingan Tumbuh Kembang Anak Toddler Yang Diasuh
Orang Tua Dengan Diasuh Selain Orang Tua”. Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Riau.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Bayi, Balita dan Anak. Jakarta : Nuha Medika.
Nur Chamidah Atien. 2009. “Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan
Perkembangan Anak”. Jurnal Pendidikan Khusus.Vo. 5.No. 2.
Potter, P. A., & Perry, A.G. 2010. Fundamental of nursing. (buku 1 edisi 7). Jakarta:
EGC.
Suwariyah, P. 2013. Tes perkembangan bayi/anak menggunakan Denver
Developmental Screening Test (DDST). Jakarta: TIM.
Wong, D. L. 2008. Buku ajar keperawatan pediatrik Vol. 1. Jakarta: EGC.
__________. 2009. Buku ajar keperawatan pediatrik Wong edisi 6 volume 1. Jakarta:
EGC.