Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Emisi adalah zat, energi atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan
yang masuk atau dimasukkannya ke dalam udara yang mempunyai atau tidak mempunyai
potensi sebagai unsur pencemar. Namun secara umum, emisi dapat di analogikan sebagai
pancaran, misalnya: pancaran sinar, elektron atau ion. Berdasarkan peristiwanya, dapat
terjadi akibat terganggunya suatu sistem yang melampaui suatu batas energi sehingga
terjadi suatu emisi.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Emisi merupakan zat, energy atau
komponen yang dihasilkan oleh kegiatan yang berlebihan, sehingga menimbulkan
terganggunya suatu system. Sebagai contoh adalah Emisi Gas Buang. Lalu apa itu Emisi
Gas Buang?

Emisi gas buang merupakan sisa hasil pembakaran mesin kendaraan baik itu
kendaraan berroda, perahu/kapal dan pesawat terbang yang menggunakan bahan bakar.
Biasanya emisi gas buang ini terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna dari sistem
pembuangan dan pembakaran mesin serta lepasnya partikel-partikel karena kurang
tercukupinya oksigen dalam proses pembakaran tersebut. Emisi Gas Buang merupakan
salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca dan pemanasan global yang terjadi akhir-
akhir ini.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah Emisi Mesin Diesel ini, yaitu:
1. Apa komposisi dari emisi gas buang?
2. Apa efek zat yang terkandung pada gas buang terhadap manusia dan lingkungan?
3. Apa standar emisi?
4. Bagaimana cara mengukur emisi mesin diesel?
5. Bagaimana cara dan teknologi mengurangi emisi mesin diesel?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah Emisi Mesin Diesel ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui komposisi dari emisi gas buang?
2. Untuk mengetahui efek zat yang terkandung pada gas buang terhadap manusia dan
lingkungan?
3. Untuk mengetahui standar emisi?
4. Untuk Mengetahui cara mengukur emisi mesin diesel?
5. Untuk mengetahui cara dan teknologi mengurangi emisi mesin diesel?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Komposisi Emisi Gas Buang Diesel

 Emisi Senyawa Hidrokarbon (HC)


Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas buang
kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan
terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon terbakar
sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran tersebut adalah
karbondioksida (CO2) dan air (H20).Walaupun desain ruang bakar mesin kendaraan
saat ini yang sudah mendekati ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolah-
olah tetap dapat "bersembunyi" dari api saat terjadi proses pembakaran dan
menyebabkan emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi. Hidrokarbon (HC) ,dapat
menyebabkan iritasi mata, pusing, batuk, mengantuk, bercak kulit, perubahan kode
genetik, memicu asma dan kanker paru-paru.

 Emisi Carbon Monoksida (CO)


Gas karbon monoksida (CO) adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung
bereaksi dengan unsur lain. Gas karbon monoksida (CO) merupakan gas yang sangat
sangat sulit dideteksi karena gas CO tidak memiliki bau, rasa dan bentuk. Gas CO
(Karbon Monoksida), dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah, dapat
menimbulkan pusing, gangguan berpikir, penurunan reflek dan gangguan jantung.

 Emisi senyawa NOx


Senyawa NOx adalah ikatan kimia antara unsur nitrogen dan oksigen. Dalam kondisi
normal atmosphere, nitrogen adalah gas inert yang amat stabil yang tidak akan
berikatan dengan unsur lain. Tetapi dalam kondisi suhu tinggi dan tekanan tinggi
dalam ruang bakar, nitrogen akan memecah ikatannya dan berikatan dengan oksigen.

Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan berikatan
dengan oksigen untuk membentuk NO2. Inilah yang amat berbahaya karena
senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat.

Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi


oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Oksida Nitrogen (NO2) dapat
menimbulkan iritasi mata, batuk, meningkatkan kasus asma, menimbulkan infeksi
saluran nafas, memicu kanker paru-paru, serta gangguan jantung dan paru.

 Oksida Belerang (SO2)


Oksida Belerang (SO2) dapat menimbulkan efek iritasi pada saluran nafas sehingga
menimbulkan gejala batuk, sampai sesak nafas dan meningkatkan asma.
 Timah Hitam (Debu Timbal) (Pb)
Dapat meracuni sistem pembentukan darah merah sehingga dapat mengakibatkan
beberapa hal, antara lain, bagi orang dewasa dapat menimbulkan gangguan
pembentukan sel darah merah, anemia, tekanan darah tinggi, mengurangi fungsi
ginjal dan reproduksi pria. Sedangkan bagi anak-anak dapat menimbulkan
penurunan kemampuan otak dan mengurangi kecerdasan.

2.2. Efek Zat Yang Terkandung Pada Gas Buang Terhadap Manusia Da Lingkungan
Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Komposisi dari
kandungan senyawa kimianya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin, alat
pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi dan faktor lain yang semuanya ini membuat
pola emisi menjadi rumit. Jenis bahan bakar pencemar yang dikeluarkan oleh mesin
dengan bahan bakar bensin maupun bahan bakar solar sebenarnya sama saja, hanya
berbeda proporsinya karena perbedaan cara operasi mesin. Secara visual selalu terlihat
asap dari knalpot kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak
terlihat pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin.
Walaupun gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak
berbahaya seperti nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung
juga senyawa lain dengan jumlah yang cukup be sar yang dapat membahayakan gas
buang membahayakan kesehatan maupun lingkungan.
Bahan pencemar yang terutama terdapat didalam gas buang buang kendaraan
bermotor adalah karbon monoksida (CO), berbagai senyawa hindrokarbon, berbagai
oksida nitrogen (NOx) dan sulfur (SOx), dan partikulat debu termasuk timbel (PB).
Bahan bakar tertentu seperti hidrokarbon dan timbel organik, dilepaskan keudara karena
adanya penguapan dari sistem bahan bakar.
Lalu lintas kendaraan bermotor, juga dapat meningkatkan kadar partikular debu
yang berasal dari permukaan jalan, komponen ban dan rem. Setelah berada di udara,
beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor dapat berubah
karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari dan uap air, atau juga
antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain.
Proses reaksi tersebut ada yang berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di
lingkungan jalan raya, dan adapula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi kimia di
atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu rantai reaksi yang panjang dan rumit, dan
menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau lebih lemah dibandingkan
senyawa aslinya.
Sebagai contoh, adanya reaksi di udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO)
yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida
(NO2 ) yang lebih reaktif, dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan
senyawa hidrokarbon yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan
asap awan fotokimi (photochemical smog).
Pembentukan smog ini kadang tidak terjadi di tempat asal sumber (kota), tetapi
dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak pembentukan smog ini tergantung pada kondisi
reaksi dan kecepatan angin. Untuk bahan pencemar yang sifatnya lebih stabil sperti
limbah (Pb), beberapa hidrokarbon-halogen dan hidrokarbon poliaromatik, dapat jatuh ke
tanah bersama air hujan atau mengendap bersama debu, dan mengkontaminasi tanah dan
air.
Senyawa tersebut selanjutnya juga dapat masuk ke dalam rantai makanan yang
pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui sayuran, susu ternak, dan produk
lainnya dari ternak hewan. Karena banyak industri makanan saat ini akan dapat
memberikan dampak yang tidak diinginkan pada masyarakat kota maupun desa.
Emisi gas buang kendaraan bermotor juga cenderung membuat kondisi tanah dan
air menjadi asam. Pengalaman di negara maju membuktikan bahwa kondisi seperti ini
dapat menyebabkan terlepasnya ikatan tanah atau sedimen dengan beberapa
mineral/logam, sehingga logam tersebut dapat mencemari lingkungan.

2.3. Standar Emisi


Standar Emisi Di Eropa
EURO adalah standar emisi gas buang di Eropa dan memang menjadi standarisasi
untuk dunia. Di Eropa standarnya udah sampai EURO 5...... Orang awam kadang
menyangka kalau EURO itu sama dengan kemampuan mesin dan fasilitas di dalam bis.
Regulasi emisi gas buang di eropa untuk kendaraan berat bermesin diesel disebut dengan
istilah Euro I...V, terkadang menggunakan angka numerik Arab (Euro 1...5). Komite
eropa menggunakan numerik Romawi ketika menampilkan standar untuk kendaraan
berat, dan numerik Arab untuk kendaraan ringan. Hal ini disesuaikan dengan
amandemen yang telah mereka buat bahwa untuk kategori kendaran berat mempunyai
bobot lebih dari 3.500 kg yang dilengkapi dengan mesin dengan pembakaran
berkompresi atau pembakaran gas alami ataupun LPG. Euro I diperkenalkan tahun 1992,
dilanjutkan dengan Euro II ditahun 1996 dengan tujuan diaplikasikan untuk kendaran
truck dan bus. Pada tahun 2000 komite eropa memperkenalkan lagi Euro III yang
ditindaklanjuti dengan Euro IV di tahun 2005. Tahun 2008 kembali lagi mereka sebagai
voluntir Euro V dengan pembatasan kadar emisi gas buang ekstra rendah untuk
kendaraan, yang lebih dikenal dengan "emisi ramah lingkungan".
Standar Emisi Di Amerika
Di era GLOBAL WARMING ini banyak perusahaan/industri otomotif yang
berlomba-lomba memproduksi mesin dengan emisi gas buang yang ramah, tentunya
tidak luput dengan standar Emisi Euro.
Ada dua macam standar yang dikeluarkan oleh beberapa badan managemen lingkungan:
EPA (Environmental Protecton Agency) Standard dan ESC (european steady cycle) atau
biasa disebut Euro.
Di Amerika memiliki standar EPA, standar ini biasa dilaksanakan di
industry, Standar euro lebih banyak dipakai di perusahaan otomotif dengan beberapa
tingkatannya, seperti Euro 1, Euro 2 dan seterusnya.
Standar euro mulai diterapkan tahun 1993 dengan beberapa ketentuan dan berdasarkan
klasifikasi kendaraan. Selama ini kita hanya mengukur suatu kendaraan berpolusi atau
tidak dengan mengandalkan indra kita, yaitu melihat dan merasakan, misal kendaraan
berpolusi itu motor 2 tak karena berasap, bus atau truk dengan asap mengepul hitam itu
sudah bisa kita tebak melebihi standar emisi. Memang ada benarnya kalau dilihat secara
visual, bagaimana dengan cara penghitungan pengukuran? Berapakah emisi CO (Carbon
monoxide)? Berapa Emisi HC (Hydrocarbon)? Berapa Emisi CO2 (Carbon dioxide)?
Masuk kategori standar euro yang mana? ini memerlukan suatu tools khusus. Euro atau
European Emission Standards merupakan batas ideal emisi gas buang versi Eropa. Level
terakhirnya kini Euro5.
Standar Emisi Indonesia
Indonesia menetapkan standar emisi gas buang Euro-2 pada tahun 2003, dan masih
menerapkan baku mutu Euro-2 yang diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2005 lalu,
sehingga industri otomotif membutuhkan kepastian informasi mengenai regulasi emisi
yang akan datang, khususnya untuk sepeda motor.?Saat ini peraturan mengenai
kendaraan bermotor di dunia sebagian besar mengacu ke regulasi yang dikeluarkan oleh
UN-ECE (United Nation-Economic Commission for Europe).
Dan kini ada rencana Pemerintah akan menerapkan Euro-3 tahun 2013 mendatang.
Namun seberapa pentingkah penerapan Euro-3 itu di Indonesia? Penerapan Euro 3 akan
memberikan keuntungan bagi semua pihak, baik industri maupun masyarakat konsumen.
Bagi industri otomotif penetapan standar ini akan meningkatkan daya saing dengan
industri di kawasan ASEAN. Sedangkan bagi konsumen, penerapan Euro-3 itu akan
menghemat penggunaan bahan bakar.
Negara2 Uni Eropa sendiri sudah menerapkan standar Euro-3 pada Januari 2006. Standar
Euro-3 juga terdapat pada regulasi?Worldwide Motorcycle Emission Test Cycle
(WMTC) & aturan inilah yang menjadi patokan dari AISI (Asosiasi Industri Sepeda
Motor Indonesia).
Batas ambang batas gas buang standar Euro-3 dapat dilihat sebagai berikut :
Kapasitas mesin di bawah 150 cc :

Kadar CO : 2.0 gram/km

Kadar HC : 0.8 gram/km

Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kapasitas mesin di atas 150 cc :

Kadar CO : 2.0 gram/km

Kadar HC : 0.3 gram/km

Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kecepatan motor di bawah 130 km/h :

Kadar CO : 2.62 gram/km

Kadar HC : 0.75 gram/km

Kadar NOx: 0.17 gram/km

Kecepatan motor di atas 130 km/h :

Kadar CO : 2.62 gram/km

Kadar HC : 0.33 gram/km


Kadar NOx: 0.22 gram/km

2.4. Cara Mengukur Emisi Mesin Diesel

1. FILTER UDARA: Pastikan dalam keadaan bersih atau baru. Bersihkan dengan udara
bertekanan untuk melepas butiran debu halus pada filter udara. Bisa mampir ke bengkel
yang memiliki Air-Compressor.

2. KONDISI BUSI: Periksa seluruh kondisi busi, warna putih kecoklatan pada keramik
kepala busi menandakan mesin dalam kondisi baik. Jika kering kehitaman menandakan
pembakaran terlalu gemuk/rich (terlalu banyak bensin ketimbang udara), untuk lebih
lengkapnya bisa dilihat di sini.
3. KABEL BUSI: Pastikan tidak ada kabel busi yang retak/sobek. Jika ditemukan sobek,
segera ganti baru atau balutkan isolasi setebal mungkin di daerah yang sobek/retak tadi.
Retak/Sobeknya kabel busi membuat terjadinya lompatan listrik ke blok mesin/ground di
dekatnya. dan membuat percik api pada busi menjadi kecil, sehingga ada kemungkinan
terjadi misfire atau bensin tidak terbakar. Ini sangat berpengaruh pada performa mesin,
konsumsi BBM dan juga hasil uji emisi.

4. SUHU KERJA MESIN: Sebelum uji emisi dilakukan, mesin harus dalam kondisi suhu
kerja normal. (umumnya jarum temperatur di dashboard menunjuk pada posisi tengah).
Untuk mobil yang menggunakan Catalytic Converter, usahakan mobil dibawa berjalan
sekurangnya 5 menit sebelum melakukan uji emisi, agar suhu pada Oksigen Sensor dan
Catalytic Converter mencapai panas tertentu dan bekerja sebagaimana mestinya.

5. TIMING PENGAPIAN: Jika mesin dapat diatur timing pengapiannya, usahakan


diposisikan di posisi normal, tidak terlalu maju atau terlalu mundur. Banyak mobil yang
mesinnya tidak dapat dirubah timing pengapiannya, karena sudah terprogram di ECU
(Engine Control Unit).

6. KNALPOT: Pastikan sepanjang saluran knalpot dari mesin hingga ujung pipa keluar
tidak ada kebocoran. Sedikit saja kebocoran, dapat mempengaruhi nilai-nilai hasil uji
emisi, khususnya untuk O2 (oksigen) akan menjadi tinggi. Untuk langkah sementara,
knalpot bisa ditambal sebelum melakukan uji emisi. Bisa baca ini.
7. SALURAN VACUUM/INTAKE: Periksa selang-selang vacuum dan selang Intake
yang seperti belalai, umumnya dari karet/plastik. Sedikit saja kebocoran akan
mempengarui nilai hasil uji emisi. Angka HC (Hydrocarbon) dan O2 akan tinggi
. HC adalah nilai yang akan dilihat oleh Kelulusan Uji Emisi. Jika ada kebocoran, ganti
atau tambal dengan isolasi yang kuat dan tahan panas.

8. KESIAPAN BENGKEL: Lihat daftar bengkel di bawah, tentukan bengkel mana yang
akan dikunjungi, telepon lah terlebih dahulu, untuk memastikan apakah di bengkel
tersebut tersedia sticker dan buku uji emisinya? Sebab banyak bengkel yang belum
mempunyai sticker dan buku tersebut. Pastikan Anda memperoleh keduanya. Jika tidak
tersedia nomor telepon, tanyakan pada layanan ’108′ Telkom.

.
9. BIAYA: Umumnya berkisar antara 50ribu hingga 150ribu, tergantung layanan
bengkel.

2.5. Cara Dan Teknologi Mengurangi Emisi Mesin Diesel


Polusi telah menjadi masalah serius, salah satu penyebabnya penggunaan bahan bakar
fosil yang terus meningkat khususnya oleh sektor transportasi. Pemanfaatan bahan bakar
alternatif bisa mengurangi dampak tersebut. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif
yang sangat potensial, karena memiliki sifat yang mirip dengan Solar. Untuk itu
diperlukan suatu penelitian dengan pendekatan simulasi khususnya pada proses injeksi
bahan bakar, pencampuran dan pembakaran.
Manfaat utama dari biodiesel adalah mengurangi ketergantungan pada energi fosil,
menurunkan polusi udara, dan tentu saja energi ini tersedia di alam serta dapat
diperbaharui. Tujuannya adalah mensubstitusi bahan bakar fosil dan menciptakan energi
hijau yang ramah lingkungan. Adapun keuntungan menggunakan biodiesel adalah tidak
mengandung sulfur dan benzena, menambah pelumasan mesin yang lebih baik daripada
solar, dan mengurangi secara signifikan asap hitam dari gas buang mesin diesel.
1. Teknik dalam mengurangi emisi NOx yakni antara lain:

Penggunaan Bahan Bakar Rendah Nitrogen


Penurunan kadar nitrogen dalam bahan bakar akan secara otomatis mengurangi
pembentukan emisi NOx. Karena tidak mudah untuk mengurangi begitu saja nilai
nitrogen dalam bahan bakar, karenanya alternatif lain adalah penggunaan bahan bakar
metanol yang bebas nitrogen.
Emulsi
Penggunaan air yang dicampurkan dalam bahan bakar saat ini telah banyak dilakukan.
Penggunaan bahan bakar campuran ini dapat mengurangi emisi NOx karena
terjadinya proses ledakan mikro (micro explosion) dalam proses pembakaran.
Ledakan mikro ini terjadi karena perbedaan titik didih antara kedua fluida.
Humidifikasi
Proses humidifikasi adalah dengan menyemprotkan air ke dalam aliran udara masuk
pada motor penggerak. Tujuan dari teknik ini adalah untuk menurunkan suhu udara
yang masuk kedalam ruang bakar yang pada akhirnya temperatur pembakaran dapat
diturunkan. Teknik ini diketahui dapat menurunkan emisi NOx sampai 50%.
Miller System
Teknik ini dilakukan pertama kali oleh pabrik mesin Wartsila-NSD Sulzer yaitu pada
saat proses langkah hisap waktu terbukanya katup hisap diatur sedemikian rupa untuk
lebih lama agar kompresi rasio dapat diturunkan. Dengan teknik ini akan diperoleh
penurunan temperatur udara dan tekanan udara saat proses pembakaran sehingga NOx
dapat diturunkan. Penurunan dengan penggunaan sistem ini mencapai 20%. Sistem ini
semakin populer diterapkan terutama bagi motor penggerak yang menggunakan
turbocharger.
2. Teknik dalam mengurangi emisi SOx yakni antara lain:
De-sulphurisation
De-sulphurisation adalah proses pengolahan kembali produk bahan bakar untuk
mengurangi kandungan sulphurnya. Walau proses ini membutuhkan biaya yang tinggi
namun ada keuntungan yang diperoleh dari proses ini yaitu didapatkannya sulphur
untuk membantu proses industri terkait, misalnya industry detergen, pulp, kulit dan
lain sebagainya. Disamping metode yang diberikan oleh IMO terdapat 3 jenis metode
lain yang sering diterapkan dalam menurunkan emisi NOx, SOx dan Partikulat yaitu:
1. Selective Catalytic Reduction (SCR) untuk mengurangi emisi NOx
Prinsip utama sistem Selective Catalytic Reduction (SCR) adalah penggunaan urea
((NH2)2CO) atau amoniak (NH3). Bahan ini diinjeksikan ke dalam aliran gas
buang, dan NOx akan berubah menjadi N2 dan uap air. Reaksi kimia yang terjadi
seperti tertera di bawah ini:
2NO + 2NH3 + 1/2O2 = 2N2 + 3H2O
6NO2 + 8NH3 = 7N2 + 12H2O
Efisiensi dari sistem SCR ini sangat berarti untuk mengurangi emisi NOx yaitu
sebesar 90-95% dan menghasilkan nitrogen dan uap air yang tidak berbahaya bagi
lingkungan.
2. Seawater Exhaust Gas Scrubber untuk mengurangi emisi SOx
Prinsip utama sistem ini adalah mendinginkan gas buang sampai pada titik embun
dari gas buang tersebut dan mengakibatkan terjadinya kondensasi pada SOx. Saat
terjadinya pendinginan akibat kontak gas buang dengan air laut, dimana air laut
adalah asam natural dengan pH 8.1, terjadi kombinasi kerja yaitu netralisasi dan
pengenceran gas buang. Sistem ini awalnya banyak digunakan sebagai sistem
untuk de-sulphurisasi dalam industri, namun saat ini banyak digunakan untuk
aplikasi penurunan SOx di kapal. Dalam suatu kasus, emisi Sox menurun dari 497
ppm menjadi 48 ppm dengan pH water scrubber menurun dari 8.01 menjadi 2.95,
dari sifat basa menjadi sifat asam.
3. Electrostatics Precipitator (ESP) untuk mengurangi emisi Particulate
Matter (PM)
Prinsip utama sistem ini adalah menangkap atau mengikat debu yang keluar dari
hasil pembakaran dengan memberikan arus listrik tegangan tinggi pada elektroda
bermuatan positif yang terbuat dari pelat tembaga, kuningan ataupun arang
sehingga debu-debu akan termuati oleh muatan negatif akibatnya debu-debu yang
keluar dari hasil pembakaran tertarik atau terikat pada pelat-pelat yang bermuatan
positif dan gas bersih bergerak menuju cerobong asap. Debu-debu yang terikat tadi
kemudian ditampung pada pengumpul elektroda (collecting electrode) dan
kemudian jatuh ke bak penampung (dust hopper). Efisiensi dari sistem ESP ini
sangat berarti untuk mengurangi emisi Partikulat yaitu sebesar 90-99% dan
menghasilkan asap yang tidak berbahaya bagi lingkungan.
Dari semua teknik dan metode yang diberikan belum ada penelitian yang paling
optimal tentang hasil yang dicapai akibat dari penurunan emisi gas buang tersebut,
sehingga sangat perlu kiranya penelitian ini dilakukan. Penelitian ini diawali
dengan melakukan perbandingan dari hasil-hasil penelitian terdahulu kemudian
diidentifikasi dan pengukuran dilakukan terhadap satu alat yang telah dibuat dan
representatif. Data yang diperoleh kemudian diolahmelalui proses perhitungan,
penggambaran, pemodelan, serta simulasi aliran fluida pada alat yang dibuat (baik
kondisi tetap maupun kondisi modifikasi
dengan memvariasikan bentuk dan ukuran alat), menggunakan paket program
ANSYS (CFD FLUENT dan GAMBIT). Hasil running simulasi di ANSYS CFD
FLUENT, berupa distribusi tekanan, kecepatan fluida, diameter kawat, jarak
antara kawat dengan kawat dan jarak sekat antara pelat dengan pelat kemudian
dianalisis untuk menghitung kecepatan aliran dan kandungan yang terdapat dalam
aliran tersebut yang paling optimal sesuai dengan aturan IMO yaitu MARPOL
Annex VI.
Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan rekomendasi bagi galangan atau
para pemilik kapal dalam pemilihan mesin diesel kapal yang tepat dalam mengatasi
masalah pencemaran udara sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas
udara yang lebih bersih.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

2. Saran