Anda di halaman 1dari 68

PERADABAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

Disusun Oleh
M khuzaifah

Semester/Unit : 1/2
Jurusan/Prodi : Dakwah/BKI

Dosen Pembimbing : Yusmami, MA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


ZAWIYAH COTKALA LANGSA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umat islam merupakan mayoritas penduduk Asia Tenggara, khususnya di negara Indonesia,
Malaysia, Thailand selatan, dan Brunei. Proses konversi massal masyarakat dunia melayu ke
dalam islam berlangsung secara damai. Konversi ke dalam Islam merupakan proses panjang, yang
masih terus berlangsung sampai sekarang. Di Asia Tenggara, Islam merupakan kekuatan sosial
yang patut diperhitungkan, karena hampir seluruh negara yang yang ada di Asia Tenggara
penduduknya baik mayoritas ataupun minoritas memeluk agama Islam. Misalnya Islam menjadi
agama resmi Negara Federasi Malaysia, kerajaan Brunei Darussalam, negara Indonesia
(penduduknya mayoritas atau sekitar 90% beragama Islam), Burma (sebagian kecil penduduknya
beragama Islam) dan seperti negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Asia tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islam.
Termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur India sampai lautan Cina
dan mencangkup Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Sejarah masuknya islam di asia tenggara sampai saat ini merupakan polemik panjang yang
menimbulkan pro dan kontra antara sejarawan agamawan, arkeolog dan intelektual. Namun yang
menjadi referensi umum masuknya islam di Asia tenggara adalah melalui proses perdagangan
internasional yang berpusat diselat malaka melalui para pedagang muslim Persia dan Arab.
Namun proses masuknya islam di negara-negara bagian Asia Tenggara tidak sepenuhnya
sama. Semuanya memiliki karakteristik masing-masing budaya yang sama sekali berbeda. Ada
juga Negara yang sudah menggunakan tradisi islam ala Persia dan Islam ala Arab. Oleh karena itu
muncullah beberapa hal yang melatarbelakangi proses berkembangnya Islam di Asia Tenggara
yang sangat penting untuk ita ketahui. Islam berkembang di Asia Tenggara melalui beberapa
proses saluran, diantaranya saluran perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni, dan
politik.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan beberapa
permasalahan, diantaranya ialah :
1. Kapan mulai masuk dan berkembangnya agama Islam di Asia Tenggara?
2. Bagaimana proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Asia Tenggara?
3. Bagaimana pengaruh islam di asia tenggara?
4. Negara apa saja yang mempunyai peradaban Islam di Asia Tenggara?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui teori tentang kedatangan Islam di Asia Tenggara, berbagai saluran yang digunakan
dalam penyebaran Islam, dan pengaruh Islam dalam kebudayaan.
2. Mengetahui proses berkembangnya agama Islam di Asia Tenggara.
3. Mengetahui pengaruh Islam di Asia Tenggara.
4. Mengetahui negara-negara Islam di Asia Tenggara.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebaran Islam di Asia Tenggara


Sejak abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan
internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh, Asia Tenggara dan
Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari
Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan
berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya
(abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749).
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah turut
serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China.Pada masa pemerintahan
Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari Dinasti Tang, telah dating empat orang Muslim dari jazirah
Arabia. Yang pertama, bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua menetap dikota Chow,
yang ketiga dan keempat bermukim di Coang Chow. Orang Muslim pertama, Sa’ad bin Abi
Waqqas, adalah seorang muballigh dan sahabat Nabi Muhammad SAW dalam sejarah Islam di
China. Ia bukan saja mendirikan masjid di Canto, yang disebut masjid Wa-Zhin-Zi (masjid
kenangan atas nabi).

B. Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Asia Tenggara


Masuknya agama Islam kedalam negri Melayu ini nampaknya mempunyai keistimewaan
sendiri, yaitu dengan jalan damai dan berangsur. Jarang sekali dngan kekerasan dan diterima
dengan sukarela oleh penduduk meskipun tidak dengan sekaligus.
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para
sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan

melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka
dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya
didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab,
India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi
Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan
mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang
dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar
pesisir.
Penetrasi Islam di Asia Tenggara dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu:
 Tahap pertama dimulai dengan kedatangan Islam yang kemudian diikuti dengan kemerosotandan
akhirnya keruntuhan Kerajaan Majapahit pada sekitar abad 14-15.
 Tahap ke dua adalah sejak datangnya dan kemudian mapannya kekuasaan kolonialisme Barat
sampai awal abad ke 19.
 Tahap ketiga adalah pada permulaan abad 20 terjadi “liberalisasi” sebagai kebijakan pemerintah
kolonial.
Proses Islamisasi dan intensifikasi ke-Islaman banyak dipengaruhi oleh situasi dan faktor-
faktor local yang menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di
kawasan Asia Tenggara yang berakibat perbedaan pandangan, penghaytan, dan pengamalan Islam
oleh penganutnya. Islamisasi dan intensifikasi merupakan proses konversi kepada Islam dan
peningkatan kesadaran serta upaya untuk memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan
doktrin-doktrin yang sebenarnya, yang bersih dari bid’ah dan percampuran dengan unsure-unsur
non Islam lainnya. Proses ini disebut sebagai kembali kepada Al-Quran dan Hadits.
Pembentukan kebudayaan dan tatanan politik Islam di dunia dapat berkembang karena
adanya tasawwuf. Proses internasionalisasi Islam tasawwuf tidaklah berjalan sendiri, karena
diperlukan adanya keterikatan tasawwuf kepada shari’ah secara sufistik.

1. Teori Masuknya Islam ke Asia Tenggara


Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke kawasan Asia Tenggara, sepertiTeori
kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Arab, cina dan india.
a. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Arab
Dikemukakan oleh John Crawford. Menurutnya Islam datang dari Arab melalui
pedagang. Buktinya catatan China mengatakan orang Arab dan Persia telah mempunyai pusat
perniagaan di Canton sejak tahun 300 M. Pedagang Arab yang ke China singgah di pelabuhan Asia
Tenggara tepatnya di Selat Malaka karena posisinya yang strategis, dalam jalur perdagangan.
Kemudian Pedagang Arab ini tinggal beberapa bulan di Asia Tenggara dan ada yang menetap serta
membina perkampungan Arab. Perkampungan ini juga menjadi tempat untuk berdagang. Ada juga
pedagang Arab yang Menikah dengan wanita tempatan dan menyebarkan Islam. Karena sebagian
besar pedagang menggunakan jalur laut sebagai sarana transportasi maka pada Masa menunggu
angin muson/musim digunakan oleh pedagang Arab untuk mengembangkan Islam.
Adapun beberapa bukti dari teori ini yaitu :
 Kampung Arab di Sumatera Utara yaitu di Ta Shih.
 Persamaan penulisan dan kesusasteraan Asia Tenggara dan Arab.
 Budaya dan musik pengaruh dari arab seperti dabus dan tarian Zapin.
 Karya-karya yang menceritakan pengislaman raja tempatan oleh syeikh dari Tanah Arab
contohnya hikayat Raja-raja samudra Pasai mengatakan Raja Malik diislamkan oleh ahli sufi dari
Arab yaitu Syeikh Ismail.
b. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari Cina
Dikemukakan oleh E.G Eredia dan S.Q. Fatimi. Menurut Eredia, Canton pernah menjadi
pusat Perdagangan bagi para pedagang Arab hingga pedagang Cina memeluk Islam.Pedagang
China Islam ini kemudiannya berdagang di Asia tenggara disamping menyebarkan Islam.
Sedangkan menurut Fatimi, pedagang Cina Canton pernah berpindah beramai-ramai ke Asia
Tenggara.
Adapun Bukti kedatangan Islam dari China ini yaitu :
 Pada Batu Bersurat Terengganu, batu nisan yang mempunyai ayat al-Quran di Pekan, Pahang.
 Wujud persamaan antara seni Bangunan Cina dengan seni Bangunan masjid di Kelantan, Melaka
dan Jawa yaitu seperti bumbung pagoda, ciri khas atap genteng dari China.
c. Teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari India/Gujarat
Dikemukakan oleh S.Hurgronje, Menurutnya Islam datang dari Gujarat/India dan pantai
Koromandel di semenanjung India. Hubungan dagang Asia Tenggara dengan India telah terwujud
sejak lama, hal ini memberikan peluang bagi pedagang Islam India untuk menyebarkan Islam.
Adapun beberapa bukti dari teori ini yaitu :
 Terdapat batu marmar pada batu nisan mempunyai cirri buatan India, contohnya di batu nisan Raja
Malik Pasai.
 Unsur budaya India amat banyak kita jumpai di Negara-negara Asia Tenggara

2. Saluran dan Cara-cara Islamisasi Islam di Asia Tenggara


Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya
dilakukan secara damai[1]. Apabila situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan
kelemahan disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka islam dijadikan alat
politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka
berhubungan dengan pedagang-pedagang Muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasai
pelayaran dan perdagangan.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam[2],
yaitu :
a. Saluran Perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu
lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagangpedagang Muslim (Arab,
Persia dan India) turut ambil bagiandalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara
dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena
para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik
kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar
sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang
Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai Bupati
Majapahit yang ditempatka di pesisi Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya
faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena faktor hubungan ekonomi drengan
pedagang-rpedrarrgarng Muslim. Perkembangan selanjutnya mereka kemudian mengambil alih
perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya[3].
b. Saluran Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baikdaripada
kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteribangsawan, tertarik untuk
menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawinkan mereka diislamkan terlebih dahulu.
Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-
kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita
Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih
dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan
anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau bangsawan itu
kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat
atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri
Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan Raden Patah (Raja
pertama Demak) dan lain-lain.
c. Saluran Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu saluran yang penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf
termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia yang
meninggalkan bukti-buktimyang jelas pada tulisantulisan antara abad ke-13 dan ke-18. Hal itu
bertalian langsung dengan penyebaran Islam di Indonesia.Dalam hal ini para ahli tasawuf
hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan
hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian
untuk menyembuhkan penyakit dan lain-lain. Jalur tasawuf, yaitu proses islamisasi dengan
mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai budaya bahkan ajaran agama yang ada
yaitu agama Hindu ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dikodifikasikan
dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima[4].
d. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon
ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar adari
pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu
mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta
Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Kleuaran pesantrenini banyak yang diundang ke Maluku
untukmengajarkan Agama Islam[5].
e. Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melalui seni seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari,
musik dan seni sastra. Misalnya pada seni bangunan ini telihat pada masjid kuno Demak, Sendang
Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, masjid Agung Banten, Baiturrahman di
Aceh, Ternate dan sebagainya.[6] Contoh lain dalam seni adalah dengan pertunjukan
wayang, yang digemari oleh masyarakat. Melalui cerita-cerita wayang itu disisipkan ajaran
agama Islam. Seni gamelan juga dapat mengundang masyarakat untuk melihat
pertunjukan tersebut. Selanjutnya diadakan dakwah keagamaan Islam. Kesenian-kesenian
lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni
bangunan dan seni ukir.
f. Saluran Politik
Pengaruh kekuasan raja sangat berperan besar dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja
memeluk agama Islam, maka rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Rakyat memiliki
kepatuhan yang sangat tinggi dan raja sebagai panutan bahkan menjadi tauladan bagi rakyatnya.
Misalnya di Sulawesi Selatan dan Maluku, kebanyakan rakyatnya masuk Islam setelah rajanya
memeluk agama Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam
di daerah ini. Seperti halnya di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam
setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu
tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia
Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan
non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan
Islam itu masuk Islam[7].
C. Pengaruh Islam di Asia Tenggara

1. Pemerintahan dan pentadbiran

 Sultan menjadi ketua negara, mufti menjadi penasihat sultan. Wujud juga pegawai seperti kadi, khatib,
bilal.
 Gelaran sultan meletakkan raja setaraf dengan kerajaan Islam yang lain.
 Dalam Hukum Kanun Melaka – raja digelar Khalifatul Mukminin (pemimpim orang mukmin), perkataan
ini tercatat dalam wang syiling kerajaan melayu.
 Gelaran Zillulah fil’Alam (bayangan Allah di dalam alam) turut digunakan oleh raja Melaka.
 Islam menjadi agama rasmi – kerajaan Melaka, Aceh.
 Contoh sultan yang berpegang teguh kepada Islam – Sultan Malik (Samudera Pasai), Sultan Iskandar Thani
(Acheh).
 Nama nama Islam digunakan seperti Acheh Darus Salam (negeri), Sultan Mahmud Syah beerti sultan
terpuji.
 Undang – undang syariah yang diperkenalkan seperti kes jenayah, harta pusaka. Ia termaktub dalam
Hukum Kanun Melaka di Melaka dan Kanun Mahkota Alam di Belanda.
 Semangat jihad menentang penjajah telah diterapkan – contohnya di Acheh menetang Portugis, di Jawa
menentang Portugis dan Belanda.
2. Sistem pendidikan
 Sebelum Islam pendidikan hanya untuk bangsawan.
 Dalam Islam pendidikan wajib kepada semua orang Islam.
 Kesannya wujud institusi formal seperti pondok, istana, pesantren, madrasah dan surau.
 Pusat pendidikan terawal di Perlak disebut dayah atau pondik, contohnya Dayah Bukit Ce Breek, Perlak.
 Samudera-Pasai menjadi pusat penterjemahan karya agama.
 Di Acheh – sistem pendidikan lebih sistematik, terdapat peringkat rendah (rangkang), menengah
(muenasah) dan tinggi atau univesiti (Jamiah Bait al-Rahman). Pelajarnya meliputi pelajar luar Acheh. Di
Acheh wanita digalakkan belajar di dayah dan memegang jawatan pentadbiran.
3. Bahasa dan kesusteraan
 Tulisan jawi berasal darpadatulisan Arab (al-Quran) yang diubahsuai dengan perkataan Melayu.
 Tulisan ini menjadi tulisan rasmi menggantikan tulisan Palava Dewanagari (tulisan zaman Hindu Buddha).
 Istilah Arab digunakan dalam tulisan jawi bahasa Melayu seperti sultan, syuur, masjid, alam.
 Bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu – seperti cerita panji, sastera pengaruh Arab, sastera seperti syair,
guridam.
4. Cara hidup
 Sebelum Islam – cara hidup Anismisme, Hindu dan Buddha.
 Kedatangan Islam maka cara hidup Islam diasimilasikan seperti bertudung dan bersongkok.
 Islam dijadikan ‘ad – din ‘ iaitu cara hidup lengkap dan menyeluruh.
 Kedatangan Islam turut mengubah sistem sosial seperti konsep persaudaraan, persamaan, tolong –
menolong dan gotong – royong.
5. Kesenian
 Kesenian Islam contohnya seni khat, seni bina, seni ukir.
 Seni khat ada pada batu nisan ( tulisan ayat al – Quran ), ukiran kayu, bilah mata keris, batu bersurat (
Terengganu ).
 Makam di Pasai mempunyai pengaruh Parsi ( syair Parsi ).
 Terdapat juga seni khat yang bertatahkan emas, perak.
 Unsur seni kaligrafi turut mengambil contoh huruf Arab, ayat al – Quran dan tulisan jawi.
 Pengaruh seni bina Islam boleh juga dilihat pada bentuk masjid, kubah, mimbar, mihrab dan menara azan
seperti masjid Ubaidiyah Kuala Kangsar.
6. Ekonomi
 Baitulmal diperkenalkan di Acheh oleh Sultan Iskandar Muda yang berfungsi sebagai perbendaharaan
negara (hasilnya diperoleh daripada zakat dan sedekah).
 Islam menggalakkan umatnya mencari rezeki halal dan melarang mengemis.
 Berdagang ekonomi yang halal digalakkan.
 Perkara dilarang seperti riba, penindasan.

D. Kerajaan Islam di Asia Tenggara

1. Kerajaan Samudra Pasai


Agama Islam yang semakin berkembang, mampu mendirikan kerajaan Islam di
Samudera pasai pada tahun 1292 M dibawah seorang raja Al-Malikus Saleh. Bukti adanya
kerajaan ini ialah ditemukannya makam-makam Raja-raja Samudra Pasai di dekat sebuah
kampung yang terletak di tepi sebuah sungai yang bernama Pase, yang bermuara ke teluk Lho’
Seumawe. Makam-makam tersebut di nisannya berukirkan tulisan Arab huruf Riq’ah, yang tertua
diantaranya ialah bertarikh Hijrah 629, bersetuju dengan tahun 1292 Masehi[8]. Jelaslah tertulis
nama raja pertama itu, yaitu Al-Malikus Saleh.
Kerajaan Islam Samudera Pasai ada pengaruh dari kekerajaan Mamalik di Mesir. Persamaan
nama dan gelar yang dipakai tidak jauh berbeda dengan gelar yang dipakai di Masir. Gelar Al-
Malikus Saleh adalah gelar yang dipakai oleh pembangun Kerajaan Mamalik yang pertama di
Mesir yaitu ‘Al-Malikus Saleh Ayub.
Kerajaan Pasai mengalami perkembangan pesat dimasa pemerintahan Al-Malikuz Zahir II
tahun 1326-1348 M. Al-Malikuz Zahir mendalami ilmu agama. Ia banyak melakukan kegiatan-
kegiatan untuk memajukan agama. Keterangan yang diberikan Ibnu Batutah[9] dalam kisah
perjalanannya tentang Sultan Al-Malikuz Zahir itu sangatlah penting didalam menyusun sejarah.
Ibnu Batutah menceritakan bahwasannya sultan itu sangatlah teguh memegang agama dan baginda
bermazhab Syafi’i. Selain itu sultan pun rupanya mempunyai armada kapal dagang yang bersar.
2. Kerajaan Malaka (803-917 H/1400-1511M)
Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Sebutan ini diberikan mengingat
peranannya sebagai jalan lalulintas bagi pedagang-pedagang asing yang berhak masuk dan keluar
pelabuahan-pelabuhan Indonesia. Letak geografis Malaka sangat menguntungkan, yang menjadi
jalan silang antara AsiaTimur dan asia Barat. Dengan letak geografis yang demikian membuat
Malaka menjadi kerajaan yang berpengaruh atas daerahnya[10].
Awalnya wilayah ini diperintah oleh para pemimpin-pemimpin hindu, hingga akhirnya
Pangeran Iskandar Syah memeluk Islam, lalu diikuti oleh rakyatnya. Setelah itu Malaka menjadi
pusat dakwah Islam, disamping juga sebagai pusat perdagangan penting. Iskandar Syah wafat pada
tahun 828 H/1424 M[11].
Malaka kemudian berkembang menjadi kekaisaran yang memiliki wilayah yang luas,
mencangkup semenanjung Melayu seluruhnya dan sebagian besar sumatera. Bendera islam juga
dibawa keluar Malaka, lalu tersebar di kepulauan-kepulauan Asia Selatan dan Timur. Kesultanan
Malaka mempunyai pengaruh di daerah Sumatera dan sekitarnya, dengan mempengaruhi daerah-
daerah tersebut untuk masuk Islam seperti: Rokan Kampar, India Giri dan Siak. Kesultanan Malak
ajuga merupakan pusat perdagangan.
Kerajaan Malaka menjalin hubungan baik dengan Jawa, mengingat bahwa Malaka
memerlukan bahan-bahan pangan dari Jawa. Di mana hal ini untuk memenuhi
kebutuhan kerajaannya sendiri. Persediaan dalam bidang pangan dan rempah-rempah harus selalu
cukup untuk melayani semua pedagang-pedagang. Begitu pula pedangan-pedagang Jawa juga
membawa rempah-rempah dari Maluku ke Malaka. Selain dengan Jawa, Malaka juga menjalin
hubungan dengan Pasai. Pedagang-pedangan Pasai membawa lada ke pasaran Malaka. Dengan
kedatangan pedagang Jawa dan Pasai, maka perdagangan di Malaka menjadi ramai dan lebih
berarti bagi para pedagang Cina. Selain dalam bidang ekonomi, Malaka juga maju dalam bidang
keagamaan. Banyak alim ulama datang dan ikut mengembangkan agama Islam di kota ini.
Penguasa Malaka dengan sendirinya sangat besar hati. Meskipun penguasa belum memeluk
agama Islam namun pada abad ke-15 mereka telah mengizinkan agama Islam berkembang di
Malaka. Penganut-penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa bahkan penguasa membuatkan
bangunan masjid[12].
Diantara sultan-sultan Malaka yang terkenal adalah Muhammad Syah, Manshur Syah, dan
Mahmud Syah. Malaka jatuh ke tangan penjajah Protugis setelah ditemukannya jalur Ro’su ar-
Roja’us Salih pada tahun 917/1511 M[13].
3. Kerajaan Aceh (920-1322 H/1514-1904 M)
Pada abad ke-16, Aceh mulai memegang peranan penting dibagin utara pulau Sumatra, pada
tahun 1521 kerajaan Samudra Pasai ditaklukan oleh portugis yang menduduki selama tiga tahun.
Pada tahun 1524 M dianeksasi oleh kerajaan Aceh yang kemudian kerajaan Pasai berada di bawah
kekuasaan Aceh. Dari Pasai dan Aceh Islam kemudian memancar ke seluruh peloksok nusantara
yang terjangkau oleh juru dakwahnya[14].
Kerajaan ini terletak disebelah utara Sumatera[15], wilayah ini memiliki posisi yang sangat
penting karena dua hal, yaitu karena penyebaran Islam dan perlawanan terhadap penjajah. Raja
pertamanya adalah Ali Mughit Syah ( 920-935 H / 1514-1520 M). Kebesaran kerajaan
Aceh ketika diperintah oleh Alauddin Riayat Syah. Kekuasaannya sampai ke wilayah Barus. Dua
putra Alauddin Riayat Syah kemudian diangkat menjadi Sultan Aru dan sultan Parlaman dengan
nama resmi Sultan Ghori dan Sultan Mughal. Aceh menjalin hubungan yang baik dengan Turki,
hal ini terbukti di mana ketika Aceh mengahadapi balatentara Portugis Aceh meminta bantuan
Turki tersebut. Dalam membangun aggkatan perangnya yang baik hal ini pun berkat bantuan
Turki[16].
Masa kesultanan Iskandar Muda (1016-1047 H / 1607-1637 M) merupakan masa paling
gemilang bagi Aceh, dimana kekuasaannya meluas dan terjadi penyebaran Islam hampir di seluruh
Sumatera. Dia juga berhasil mengalahkan orang-orang Protugis.
Kemudian kondisi negeri mulai mengalami penurunan disebabkan oleh banyaknya
peperangan dan krisis ekonomi . juga beralihnya kekuasaan ketangan ratu-ratu dalam beberapa
masa. Juga karena peperangan yang terus menerus melawan Barat, yang menyebabkan penderitaan
yang sangat berat bagi Aceh. Namun akhirnya dia berhasil keluar dari ujian dan rintangan ini.
Akhirnya negeri ini jatuh ketangan Belanda pada tahun 1322H/1904M[17].
4. Kerajaan Demak (Jawa) (918-920 H / 1512-1552 M)
Di Jawa Islam disebarkan oleh para wali songo (wali sembilan)[18], para wali menjadikan
Demak sebagai pusat penyebaran Islam dan sekaligus menjadikannya sebagai kerajaan Islam.
Demak merupakan salah satu kerajaan yang bercorak Islam yang berkembang di pantai utara Pulau
Jawa, kerajaan ini hanya berumur pendek, namun para rajanya merupakan pahlawan-pahlawan
mujahid terbaik. Raja pertama mereka adalah Raden Fatah, yang berhasil menjadikan negerinya
sebagai sebuah negara independen pada masanya. Setelah itu anaknya Patih Yunus berkuasa, dia
berhasil mengadakan perluasan wilayah kerajaan. Dia menghilangkan kerajaan Majapahit yang
beragama Hindu, yang pada saat itu sebagian wilayahnya menjalin kerja sama dengan orang-orang
Protugis.
Setelah wafatnya patih Yunus pada tahun 938 H / 1531 M[19], memerintahlah raja paling
terkenal dari kerajaanini yaitu Raden Trenggono. Dia adalah seorang mujahid besar yang diantara
hasil usahanya yang terkenal adalah masuknya islam ke daerah Jawa Barat. Dia wafat pada tahun
953 H / 1546 M.
5. Kerajaan Banten (960-1096 H/1552-1684 M)
Banten merupakan kerajaan Islam yang mulai berkembang pada abad ke-16, setelah
pedagang-pedagang India, Arab, persia, mulai menghindarai Malaka yang sejak tahun 1511 telah
dikuasai Portugis. Dilihat dari geografinya, Banten merupakan pelabuhan yang penting dan
ekonominya mempunyai letak yang strategis dalam penguasa Selat Sunda, yang menjadi urat nadi
dalam pelayaran dan perdagangan melalui lautan Indonesia dibagian selatan dan barat Sumatera.
Kepentingannya sangat dirasakan terutama waktu selat Malaka dibawah pengawasan politik
Portugis di Malaka[20].
Kerajan ini terpisah dari kerajaan Demak. Mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan
Hasanuddin, yang merupakan raja pertamanya (960-978 H / 1552-1580 M). Melalui kekuasaan
anaknya, Sultan Yusuf ( 978-988 H / 1575-1580 M), penyebaran Islam di Jawa semakin
bertambah. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan yang penting[21].
Raja Banten yang paling terkemuka adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masanya
pemerintah mencapai puncak kebesaran dan kemuliaannya. Karena itulah, orang-orang Belanda
memutuskan usaha mereka dalam menghadapi kerajaan ini, hingga berhasil mengalahkan Banten
pada tahun 1096 H / 1684 M.
6. Kerajaan Mataram Islam
Pada tahun 1583 M kerajaan ini diperintah oleh seorang muslim yang bernama Sinopati[22].
Dia berorientasi untuk menyebarkan Islam di seluruh Jawa, juga berhasrat membentuk sebuah
kerajaan yang bersatu.
Raja Mataram yang paling terkemuka adalah Sultan Agung, cucu sang pendiri Mataram.
Masa kekuasaannya berlangsung antara tahun 1022-1056 H / 1613-1646 M. Dia berhasil
memperluas kekuasaannya ke banyak negeri, menyebarkan islam di Jawa Tengah serta
Memantapkan kedudukannya di wilayah ini. Setelah kematian Sultan, timbullah pertikaian di
dalam pemerintahan, yang akhirnya memungkinkan belanda mengalahkan mereka.
7. Kerajaan Gowa (Makassar) (1078 H / 1667 M hingga abad ke-13 H / 19 M)
Kerajaan ini berada di kepulauan Sulawesi yang dahulu merupakan kota pelabuhan yang
penting. Kerajaan Gowa mengadakan ekspansi ke Bone tahun 1611, namun ekspansi itu
menimbulkan permusuhan antara Goa dan Bone[23]. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Gowa
berhasil, hal ini merupakan tradisi yang mengharuskan seorang raja untuk menyampaikan hal baik
kepada yang lain. Oleh karena itu kerajaan gowa menyampaikan “pesan Islam” kepada kerajaan-
kerajaan lain seperti Luwu yang lebih tua, Wajo, Sopeng, dan Bone. Raja Luwu segera menerima
“pesan Islam” it. Sementara itu tiga kerajaan: wajo, Soppeng, dan Bone yang terkait dalam aliansi
Tallumpoeco (tiga kerajaan) dalam perebutan hegemoni dengan gowa-Tallo, Islam kemudian
melalui peperangan. Wajo menerima Islam tanggal 10 Mei 1610 dan Bone tanggal 23 November
1611. Raja Bone yang pertama masuk Islam adalah yang dikenal Sultan Adam[24].
Akhirnya kerajaan ini terlibat peperangan melawan Belanda[25] selama hampir kurang lebih
50 tahun, dengan dipimpin oleh rajanya Sultan Hasanuddin. Dia berhasil membukukan
kemenangan besar atas mereka serta berhasi menggabungkan sejumlah kepulauan ke dalam
kerajaannya. Pada kesempatan yang lain Belanda sebenarnya gagal meraih kemenangan. Namun
setelah melalui fitnah yang diembuskan diantara raja dan pengikut-pengikutnya, akhirnya belanda
berhasil mengalahkan kerajaan ini.

E. Negara-Negara Islam di Asia Tenggara

1. Perkembangan Islam di Indonesia


Islam di Indonesia mulai berembang mulai abad ke 1-5 H/7-8 M, cikal bakal kekuasaan islam
telah dirintis pada priode abad ini, tetapi semuanya tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya
yang berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan MajaPahit di Jawa
Timur[26]. Pada priode ini para pedagang dan mubaligh muslim hanya berbentuk komunitas-
komunitas islam.
Islam tersebar di wilayah indonesia pada pertengahan abad ke 8 H/ 14 setelah berdirinya
beberapa kerajaan Islam. Salah satunya adalah kerajaan Malaka yang memiliki peranan besar
dalam penyebaran Islam di Indonesia. Setelah itu para dai menyebarkannya ke seluruh pulau-pulau
Indonesia dan giat menyebarkannya sehingga Islam tersebar merata. Pada abad ke-10 H/ 16 M
Indonesia jatuh ke dalam penjajahan Protugis. Kemudian dikuasai Belanda pada tahun 1230
H/1814 M.
Ilmuwan Belanda lainnya, Muquette, menyimpulkan bahwa asal-usul Islam di Nusantara
adalah Gujarat di pesisir selatan India. Dia mendasrkan kesimpulannya setelah
mempertimbangkan gaya batu nisan yang ditemukan di Pasai, Sumatera Utara, khususnya yang
bertanggal 17 Dzuhijjah 831 H / 27 September 1428 M, yang identik dengan batu nisan yang
ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (1419 M) di Gresik, Jawa timur. Dia menyatakan
lebih lanjut bahwa corak batu nisan yang ada di Pasai dan Gresik sama dengan yang ditemukan di
Cambay, Gujarat. Dia berspekulasi bahwa dari penemuanpenemuan itu, batu nisan Gujarat tidak
hanya diproduksi untuk pasar lokal, tetapi juga untuk pasar luar negeri termasuk Sematera dan
Jawa. Oleh karena itu, berdasarkan logika linier, Moquette menyimpulkan bahwa karena
mengambil batu nisan dari Gujarat, orangorang Melayu-Indonesia jugamengambil Islam dari
wilayah tersebut. Dengan logika linier yang lemah itu tidak heran kalau kesimpulan Muquette
ditentang oleh Fatimi yang berpendapat bahwa salah jika mengaitkan seluruh batu nisan yang ada
di Pasai, termasuk batu nisan Malik Al-Shalih, dengan Cambay. Menurut penelitiannya sendiri,
gaya batu nisan Malik Al-Shalih sangat berbeda dengan corak batu nisan Gujarat
dan prototype Indonesianya. Fatimi berpendapat bahwa pada kenyataannya bentuk batu nisan
itu sama dengan yang ada di Bengal. Oleh karena itu, sama dengan logika linier Moquette, Fatimi
ironisnya menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor dari Bengl. Ini menjadi alasan
utamanya untuk menyimpulkan lebih lanjut bahwa asal-asul Islam di Kepulauan Melayu-
Indonesia adalah daerah Bengal (kini, Bangladesh).
Agaknya teori Fatimi sangat terlambat untuk menolak teori Moquette karena ada sejumlah
pakar lain yang telah mengambil alih kesimpulan Moquette. Yang menonjol diantara mereka
adalah Kern, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrieke dan Hall. Namun, sebagian diantara mereka
memberikan tambahan argumentasi untuk mendukung Moquette. Ahli sastra Melayu, William
Winstedt, misalnya menunjukkan batu nisan yang sama di Bruas, tempat sebuah kerajaan melayu
Kuno di Perlak, Semenanjung Malaya. Dia menyatakan bahwa semua batu nisan di Barus, Pasai
dan Gresik diimpor dari Gujarat, maka Islam pasti pula dibawa dari sana. Dia juga menulis bahwa
sejarah melayu mencatat adanya kebiasaan lama di daerah Melayu tertentu untuk mengimpor batu
nisan dari India.
Sosiolog asal Belanda, Schrieke, mendukung teori itu dengan menekankan perananpenting
yang dimainkan oleh para pedagang Muslim Gujarat dalam perdagangan di Nusantara dan
sumbangan mereka terhadap penyebaran Islam. Namun, sebagian ahli lain memandang teori yang
menyatakan asal-usul Islam di Nusantara adalah Gujarat tidak terlampau kuat. Marison, misalnya
berpendapat bahwa beberapa batu nisan di bagian tertentu Nusantara mungkin berasal dari Gujarat,
tetapi tidak selalu berarti bahwa Islam juga dibawa dari sana ke kawasan ini. Marison membantah
teori tersebut dengan menunjukkan kenyataan bahwa selama masa Islamisasi Samudera Pasai,
yang penguasa Muslim pertamanya meninggal pada 698 H / 1298 M.
Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu yang menunjukkan sikap bermusuhan terhadap
orang-orang Muslim. Baru pada tahun 699 H / 1298 M wilayah Cambay dikuasai oleh kaum
Muslim. Jika Gujarat merupakan pusat para juru dakwah Islam dalam melakukan perjalanan menju
kepulauan Melayu-Indonesia, maka Islam pasti telah tegak dan tumbuh subur di Gujarat sebelum
kematian Malik al-Shalih, persisnya, sebelum 698H /1297 M. Morrison lebih jauh
mencatat,bahwa meskipun kaum Muslim menyerang Gujarat beberapa kali pada 415 H / 1024 M,
574 H / 1178 M dan 695 H / 1197 M, para raja Hindu mampu mempertahankan kekuasaan disana
sampai 698 H / 1297 M. Kesimpulannya, Morison mengemukakan teorinya bahwa Islam
diperkenalkan dikepulauan Melayu-Indonesia oleh parajuru dakwah Muslim
dariCoromandelpadaakhirabad ke-13.
Penting dicatat bahwa menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat
asal kedatangan Islam, melainkan juga dari wilayah Arab. Dalam pandangannya, padagang Arab
juga membawa Islam ketika mereka menguasai perdagangan Barat-Timur semenjak awal abad
ke-7 dan ke-8. Meskipun tidak ada catatan sejarah ihwal penyebaran Islam oleh mereka, adalah
patut diduga bahwa dalam satu hal atau lainnya mereka terlibat dalam penyebaran Islam kepada
kaum pribumi. Argemen ini tampaknya lebih masuk akal jika orang mempertimbangkan,
misalnya, fakta yang disebutrkan sebuah sumber di Cina bahwa menjelang perempatan ketiga
abad ke-7 seorang Arab pernah menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir Barat
Sumatera. Beberapa orang Arab ini melakukan kawin campur dengan penduduk pribumi
sehingga kemudian membentuk nucleus sebuah komunitas Muslim yangpara anggotanya,
ungkap Arnold telah memeluk Islam.
Menurut Hikayat raja-raja Pasai yang ditulis setelah 1350 (Hill, 1960:58-60), seseorang
bernama Syaikh Ismail datang dengan perahu dari Makkah lewat Malabar menuju Pasai, tempat
dia menonversi Merah silau, penguasa daerah tersebut ke dalam Islam. Merah Silau kemudian
menggunakan gelar Malik Al-Shaleh, meninggal Dunia 1297 M. Kira-kira satu abad kemudian,
sekitar 1414 M, menurut sejarah Melayu (yang dikompilasi setelah 1500), penguasa Malaka juga
diislamkan oleh Sayyid Abd Al-Aziz, seorang Arab berasal dari Jeddah. Sang penguasa,
Parameswara menggunakan nama dan gelar Sultan Muhammad Syah tidak lama
setelahmasukIslam (Djajadining,1982:12).
Ada empat hal utama yang ingin disampaikan historiografi tradisional lokal semacam ini.
Pertama, Islam di Nusantara dibawa langsung dari tanah Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh
para guru atau Juru Dakwah ‘profesional”. Ketiga, orang-orang yang pertama kali masuk Islam
adalah para penguasa. Keempat, sebagian besar para juru dakwah “professional” datang di
Nusantar pada abad ke-12 dan ke-13. Orang-orang Muslim dari luar memang telah ada di
Nusantara sejak abad pertama Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Arnorld dan ditegaskan
oleh kalangan ahli Melayu-Indonesia, tetapi jelas bahwa hanya setelah abad ke-12 pengaruh Islam
dikepulauan Melayu menjadi lebih jelas dan kuat. Oleh karena itu, Islamisasi tampaknya
baru mengalami percepatan khususnya selama abad ke-12sampaiabad ke-16
2. Perkembangan Islam di negara Malaysia
Islam masuk ke wilayah ini lewat jalan pedagang-pedagang Arab. Disebutkan bahwa mereka
samai ke Malaka pada tahun 675 H / 1276 M. Raja Malaka masuk Islam melalui tangan mereka,
dan mengganti namanya menjadi Muhammad Syah, lalu diikuti oleh rakyatnya. Malaka
merupakan kerajaan islam pertama di sana.
Islam sampai ke Malaysia belakangan dari sampainya Islam di Indonesia yang sudah terlebih
dahulu pada abad ke tujuh[27]. Berdasarkan keterangan ini, maka asal usul masuknya Islam ke
Malaysia berdasar pada yang dikemukakan Azyumardi Azra bahwa Islam datang dari India, yakni
Gujarat dan Malabar.
Sebelum Islam datang wilayah Asia Tenggara, Malaysia adalah berada di jalur perdagangan
dunia yang Menghubungkan kawasan-kawasan di Arab dan Indiadengan Wilayah China, dan
dijadikan tempat persinggahan sekaligus pusat perdagangan yang amat penting. Maka tidak heran
jika wilayah ini juga menjadi pusat bertemunya berbagai keyakinan dan agama (a cross-roads of
religion) yang berinteraksi secara kompleks lengkap[28].
Pada abad ke-10 H / 16 M, Protugis menginvansi Malaysia, kemudian diikuti oleh orang-
orang Belanda ( 1051-1210 H / 1641-1795 M). Lalu Malaysia tunduk kepada penjajahan Inggris
pada tahun 1230 H / 1814 M. Orang-orang Jepang sempat menguasai negeri ini selama Perang
Dunia II. Kemudian wilayah ini kembali kepada Inggris setelah perang usai. Malaysia kemudian
mengumumkan kemerdekaannya pada tahun 1377 H / 1957M dan mendirikan Federasi Malaysia
yang terdiri dari 11 provinsi. Sabah dan Serawak serta Singapura tergabung ke dalam wilayah ini.
Kemudian Malaysia mengumumkan negeri itu sebagai Monarki Konstitusional pada tahun 1383
H / 1962 M[29].
Azyumardi Azra menyatakan bahwa tempat asal datangnya islam ke Asia Tenggara
termasuk di Malaysia, setidaknya ada tiga teori. Pertama teori yang menyatakan bahwa Islam
datang langsung dari Arab (Hadramaut). Kedua, islam datang dari india, yakni Gujarat dan
Malabar. Ketiga Islam datang dari Benggali (Banglades).
Pola pertama Islam masuk ke Nusantara termasuk Malaysia melalui jalur perdagangan dan
ekonomi yang melibatkan orang dari berbgai etnik dan ras yang berbeda-beda bertemu dan
berinteraksi, serta bertukar pikiran tentang masalah perdagangan, politik, sosial, dan keagamaan.
Seiring itu pola kedua mulai menyebar melalui pihak penguasa dimana istana sebagai pusat
kekuasaan berperan dibidang politik dan penataan kehidupan sosial, dengan dukungan ulama yang
terlibat langsung dalam biroksasi pemerintahan, hukum Islam dirumuskan dan diterapkan, kitab
sejarah ditulis sebagai landasan legitimasi bagi penguasa muslim.
Memasuki abad ke-20, bertepatan dengan masa pemerintahan Inggris, urusan-urusan agama
dan adat Melayu lokal di Malaysia di bawah koordinasi sultan-sultan dan hal itu diatur melalui
sebuah departemen , sebuah dewan ataupun kantor sultan. Setelah tahun 1984, setiap negara bagian
dalam federasi Malaysia telah membentuk sebuah departemen urusan agama. Orang-orang muslim
di Malaysia juga tunduk pada hukum Islam yang ditetapkan sebagai hukum status pribadi, dan
tunduk pada yurisdiksi pengadilan agama (mahkamah syariah) yang diketua hakim agama.
Bersamaan dengan itu, juga ilmu pengetahuan semakin mengalami perkembangan dengan
didirikannya perguruan tinggi Islam dan dibentuk fakultas dan jurusan agama[30]. Perguruan
tinggi kebanggaan Malaysia adalah Universitas Malaya yang kini kita kenal Universitas
Kebangsaan Malaysia.
Memasuki masa pasca kemerdekaan, jelas sekali bahwa pola perkembangan Islam tetap
dipengaruhi oleh pihak penguasa (top down). Sebab, penguasa atau pemerintah Malaysia
menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Warisan undang-undang Malaka yang berisi
tentang hukum Islam yang berdasarkan konsep Qur’aniy berlaku di Malaysia. Malaysia
merupakan negara yang multi etnis, terdiri atas orang Melayu, Cina, India, dan Pakistan. Mayoritas
penduduknya beragama Islam, dan bahkan Islam merupakan agama resmi negara. Namun agama-
agama lain dapat diamalkan dengan aman di Malaysia.
Dengan adanya perhatian pemerintahan terhadap Islam dan konstitusi negara yang banyak
menguntungkan kepentingan umat Islam dan dengan adanya lembaga-lembaga dan organisasi
Islam, pendidikan-pendidikan Islam serta kegiatan-kegiatan dakwah Islam, maka perkembangan
Islam di Malaysia memiliki prospek yang sangat cerah.
3. Perkembangan Islam di Negara Thailand
Di Muangthai (Thailand) terdapat sekitar 2,2 juta kaum muslimin atau 4% dari penduduk
umumnya. Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak menganut Islam yaitu di
propinsi bagian selatan tepatnya di kota Satun, Narathiwat, Patani dan Yala. Pekerjaan kaum
muslimin Muangthai cukup beragam, namun yang paling dominan adalah petani, pedagang kecil,
buruh pabrik, dan pegawai pemerintahan. Agama Islam di Muangthai merupakan minoritas yang
paling kuat di daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi salah satu pusat penyebaran
Islam di Asia Tenggara dan menghasilkan ulama besar seperti Daud bin Abdillah bin Idrisal-
Fatani.
Umat Islam memiliki sejarah yang panjang dalam kerajaan thailand. Hubungan mereka
dengan masyarakat Thailand serta peran mereka dalam negara dapat ditelusuri kezaman
kerajaan ayyuthaya. Kedatangan Islam di negri Mughtai telah terasa pada masa kerajaan Sukhathai
diabad ke-13, yang merupakan buah dari hubungan dagang yang dibagun oleh para saudagar
muslim. Hal ini bermula dari dua orang bersaudara dari persia yaitu Syeikh Ahmad dan
Muhammad syaid yang juga disebut Khaek Chao Sen (satu cabang mazhab syiah), menetap di
kerajaan tersebut yang terus melakukan perdagangan sekaligus menyebarkan agama Islam.
Sebelum berdirinya kerajaan Ayyuthaya sebagai pengganti kerajaan Shukhotai setelah yang
terakhir ini runtuh pada abad ke-14, Islam telah memiliki kekuatan politik yang sangat besar.
Perdagangan merupakan perintis proses islamisasi dan perkembangan politik kerajaan-kerajaan
martim diwilayah kepulauan di abad ke-15, 16, dan 17. Perdagangan juga pulalah yang merupakan
faktor dominan yang mendekatkan Islam dengan kerajaan Ayyuthaya.
Sekelompok Islam lainnya, yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini sekarang tinggal
di empat provinsi bagian selatan, yaitu Pattani, Yala, Naratiluat, dan Satul. Juga termasuk bagian
dari provinsi Shongkala. Seluruh provinsi ini dahulunya masuk wilayah kerajaan Pattani pada abad
ke-12, sebelum kerajaan Sukhotaiberdiri. Daerah ini merupakan wilayah muda di negara Thailand,
baik secara politik maupun administratif. Pencaplakan yang dilakukan oleh kerajaan Thailand
telah melahirkan masalah utama mengenai minoritas muslim di Thailand. Orang-orang muslim
yang berasal dari pattani yang dibawa ke Bangkok oleh tentara Thailand sebagai tawanan perang
pada awal masa perang pertama dan kedua. Dan orang-orang ini lah kemudian menjadi bagian
utama dari masyarakat Islam di Thailand Tengah dan sebagian dari mereka tetap memelihara
budaya dan bahasa mereka[31].
Secara historis kelompok masyarakat muslim telah ada sejak awal berdirinya negara
Thailand dan memiliki peran penting dalam masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya Mughtai
ikenal secara luas sebagai negara yang mengalami perkembangan yang sangat cepat dibidang
ekonomi sosial, budaya. Sementara itu, komunitas muslim merupakan komunitas minoritas yang
secara umum dianggap salah satu yang paling konservatif dan tradisional dari masyarakat Thai
sehubungan dengan lingkungan yang sedang mengalami perubahan. Unyuk itu relegio kultural
merupakan identitas yang paling penting dalam jaringan hubungan umat Islam dan Budha di
Thailand. Karena perkembangan dan dinamisasi masyarakat muslim Thailand banyak diwarnai
oleh masalah tersebut.
4. Perkembangan Islam di Negara Filipina
Hampir semua silsilah bermula pada masa raja sipad (Bahasa Sansekerta: Raja Shiripaduka).
Pada masa pemerintahan di pulau Jolo, datanglah seorang muslim bernama Tuanku Masha’ika kee
suatu tempat yang disebut Maimbuang (bagian selatan pulau Jolo). Sebuah batu nisan atas nama
Maqhealhe ditemukan di Badatto, tidak jauh dari Jolo pulau Sulu. Penemuan batu nisan inilah
yang dijadikan salah satu bukti Arkeologis masuk dan berkembangnya Islam di Filipina, pada
waktu itu masyarakat pulau Jolo masih mengatut Animisme dan Dinamisme.
Masuknya agama Islam di pulau Mindanao adalah di dalam abad kelima belas juga. Yang
mula-mula membawanya ialah ‘Syarif’ Kebungsuan yang datang dari negeri Johor. Kapten
Thomas Forst, yang menulis ceritanya dalam tahun 1775 M. Mengakui bahwa orang Arab yang
mula-mula masuk pulau Mindanao 300 tahun yang lalu, adalah keturunan-keturunan syarif dari
Mekah[32].
Dalam catitan sejarah pulau Sulu (Filipina) memeluk islam, yang datang ke sana ialah Sayid
Abdul Aziz yang dahulu telah mengislamkan Sultan Muhammad Syah di Melaka (permaisura itu
juga). Kemudian itu datanglah penyair Islam yang kedua, orang Arab juga, namanya Abu Bakar.
Dia datang kesana sudah melalui Palembang dan Brunei. Sesudah dia barulah datang seorang
bangsawan dari Minangkabau, bernama Rajo Bagindo.
Para peneliti sejarah menyebutkan bahwa Islam masuk ke wilayah Filipina melalui jalan
Sumatra dan Melayu, ini dimulai Sekitar Tahun 270 H / 883 M[33].
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tulisan mengenai masuk dan berkembangnya kebudayaan Islam di Asia
Tenggara, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Islam masuk ke Asia Tenggara melalui
jalur perdagangan yang di bawa oleh para pedagang muslim Arab, India maupun dari Cina.
Islam masuk ke Asia tenggara mulai dari abad ke 1 H/ 7 M yang dibawa oleh pedagang-
pedagang muslim yang berlayar ke Asia Tenggara, yang pertama kali berlabuh di pesisir pulau
Sumatra tepatnya di Pesisir Pasai (Aceh). Islam kemudian berkembang menjdi kerajaan kerajaan
islam pada abad ke 8 H / 14 M. Diantara kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara yang memiliki
peranan besar dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara ialah kerajaan Samudra Pasai,
kerajaan Malaka, kerajaan Aceh Darussalam, kerajaan Demak, kerajaan Banten, kerajaan Mataram
Islam, kerajaan Gowa (Gowa-Tallo), serta kerajaan semenanjung melayu. Islamisasi di Asia
Tenggara dengan cara damai dan berangsur, melaui beberapa saluran Islamisasi, diantaranya
saluran perdagangan, saluran perkawinan, saluran tasauf, saluran pendidikan, saluran kesenian,
dan saluran politik. Islam mudah diterima dalam masyarakat Asia tenggara karena islam memiliki
keistimewaan diantaranya adalah Konsep Tuhan yang esa, keadilan hak individu dan masyarakat,
kehidupan yang harmoni, menyinggung akhlak mulia, berfikir secara rasional, memandang derajat
sesama makhluk tanpa perbedaan derajat, serta tidak bersifat memaksa. Kedatangan islam
membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun politik di
kawasan Asia Tenggara.
B. Saran
Berdasarkan pemaparan kesimpulan diatas, penulis memberikan beberapa uraian saran
untuk dijadikan bahan pertimbangan, diantaranya ialah
1. Untuk mengetahui asal-muasal agama Islam di Asia tenggara maka perlu diketahui sejarah dan
bukti-bukti dari peradaban isam.
2. Untuk melestarikan sejarah Islam, maka perlu sekali diketahui dan dipelajari dan mencari
informasi tentang sejarah peradaban islam.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, Ahmad. (2013). Sejarah Islam Sezak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Jakarta: Akbar
Media.
Hamka, Prof.Dr. (2006). Sejarah Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd.
Yatim, Badri. (2008). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Tjandrasasmita, Uka, (Ed.). (1984). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Supriyadi, Dedi. (2008). Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Zuhairini. (1986). Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: Proyek Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi
Agama, Direjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Hasbullah. (2001). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Thohir, Ajid. (2002). Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Ilaihi, Wahyu, dan Hefni, Harjani. (2007). Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.

[1] Dr. Badri Yatim, M.A,sejarah peradaban Islam dirasah Islamiyah II,(Jakarta:PT RajaGrafindo
Persada,2008),hlm. 200.
[2] Ibid., hlm. 201
[3] Ibid., hlm. 201.
[4] Kedatangan ahli tasawuf di Indonesia diperkirakan terutama sejak abad ke-13 yaitu masa
perkembangan dan persebaran ahli-ahli tasawuf dariPersia dan India. Perkembangan tasawuf yang
paling nyata adalah di Sumatra dan Jawa yaitu abad ke-16 dan ke-17. (Uka Tjandrasasmita (Ed.),
Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), hlm. 218)
[5] Dr. Badri Yatim, M.A, op.cit., hlm. 203.
[6] Uka Tjandrasasmita (Ed.), op.cit., hlm. 205.
[7] Dr. Badri Yatim, M.A, op.cit., hlm. 203-204.
[8] Prof. Dr. Hamka, op.cit., hlm. 703.
[9] Ibid, hlm.704.
[10] Daerah yang berada di bawah kekuasaan Malaka kebanyakan terletak di Sumatera diantaranya:
Kampar, Minangkabau, Siak, dan kepulauan Riau-Lingga. (Uka Tjandrasasmita (Ed.), op.cit., hlm. 18).
[11] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam sejak zaman Nabi Adam hingga abad xx, (Cet, XI; Jakarta: AKBAR
MEDIA, 2013), hlm. 337.
[12] Uka Tjandrasasmita (Ed.), op.cit., hlm. 19.
[13] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 337.
[14] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 195.
[15] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 449.
[16] Badri Yatim, op.cit., hlm. 209.
[17] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 449.
[18] Di Jawa berdasarkan cerita tradisional dan babad-babad, yang mendapat gelar wali dianggap sebagai
pembawa dan penyebar Islam di daerah-daerah pesisir. Tidaklah semua wali yang tergolong Wali sango
atau wali sembilan berasal dari negeri luar. Bahkan sebagian besar dari wali sango menurut cerita dalam
babad-babad berasal dari Jawa sendiri. (Uka Tjandrasasmita (ED.),op.cit., hlm. 197.)
[19] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 450.
[20] Uka Tjandrasasmita (Ed.), op.cit., hlm. 9.
[21] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 450.
[22] Ibid., hlm. 451.
[23] Ada dua kemungkinan mengapa Kerajaan Goa-Tallo mengadakan ekspansi diantaranya :1)
kemungkinan diakibatkan oleh dorongan agama Islam yang baru masuk. 2) kemungkinan karena
kekayaan yang diperoleh dari perdagangan yang ramai di pelabuhannya yang merupakan pelabuhan
transit. (Uka Tjandrasasmita (Ed.), op.cit., hlm. 31.
[24] Dr. Badri Yatim, op.cit., hlm. 224.
[25] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 451.
[26] Dr. Badri Yatim, op.cit,. hlm. 194.
[27] Zuhairini, Sejarah pendidikan Islam (Cet. II; Jakarta: Proyek Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi
Agama, Direjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986), hlm. 133.
[28] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, (Cet, IV; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 17
[29] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 507.
[30] Ajid Thohir, Perkembangn Pradaban Islam di Kawasan Dunia Islam, (Cet. I; Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 268-269.
[31] Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, “Pengantar Sejarah Dakwah” (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2007), hlm. 161-164.
[32] Prof. Dr. Hamka, op.cit., hlm. 678.
[33] Ahmad Al-Usairy, op.cit., hlm. 337.
Makalah Islam di Asia Tenggara
BAB I
PENDAHULUAN
Di Asia Tenggara, Islam merupakan kekuatan sosial yang patut diperhitungkan,karena
hampir seluruh negara yang ada di Asia Tenggara penduduknya, baik mayoritas ataupun minoritas
memeluk agama Islam. Misalnya, Islam menjadi agama resmi Negara federasi Malaysia, Kerajaan
Brunei Darussalam, negara Indonesia (penduduknya mayoritas atau sekitar 90% beragama Islam),
Burma (sebagian kecil penduduknya beragama Islam), Republik Filipina, Kerajaan Muangthai,
Kampuchea, dan Republik Singapura[1].
Dari segi jumlah, hampir terdapat 300 juta orang di seluruh Asia Tenggara yang mengaku
sebagai Muslim. Berdasar kenyataan ini, Asia Tenggara merupakan satu-satunya wilayah Islam
yang terbentang dari Afrika Barat Daya hingga Asia Selatan, yang mempunyai penduduk Muslim
terbesar. Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama
lslamnya.Termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur lndia sampai
lautan Cina dan mencakup lndonesia, Malaysia dan Filipina.
Sebagai seorang muslim yang tinggal di kawasan ASEAN hendaklah kita mengetahui
tentang sejarah masuknya Islamdi kawasan ASEAN. Akan tetapi ,kami tidak dapat menulis semua
sejarah itu disini, karenaitu dari negara di ASEAn,kami hanya akan membahas 4 saja yaitu
masuknya Islam di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Muangthai. adapun untuk brunei dan
Singapura tidak jauh beda dengan di Malaysia.

BAB II
PERADABAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

A. Sejarah Masuknya Islam di Asean


Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang. Hal ini
berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklukan Arab dan
Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga
Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya
didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab,
India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi
Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan
mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang
dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar
pesisir. Berikut tentang sejarah masuknya Islam di negara negara ASEAN.

B. Perkembangan Islam di Indonesia


a) Awal Masuknya Islam di Indonesia
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti Hindu dan
Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan di beberapa wilayah kepulauan
Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan
Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra
dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik,
karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia
(tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam
Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.
Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “ masuknya
Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada
abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain menyebutkan bahwa
Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan
Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan
langsung dari Madinah.
b) Cara Masuknya Islam di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan.Adapun cara
masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
1. Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang
dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan
kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke
Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan
rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama
Islam.
2. Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan,
sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan
pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang
bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak,
seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3. Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam
pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh
pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan
kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri
Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga
ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan
kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4. Kekuasaan politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para
Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi
pelindung perkembangan Islam. Begitu juga para Sultan di seluruh Nusantara melakukan
komunikasi dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini
menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
c) Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah Nusantara
1. Di Sumatra
Wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatra dan
daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing-masing kedua daerah tersebut
berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai.
Menurut keterangan Prof. Ali Hasmy dalam makalah pada seminar “Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Aceh”[2] yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam
yang pertama adalah kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah
kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malik Al-
Saleh (memerintah dari tahun 1261 s.d 1297 M). Sultan Malik Al-Saleh sendiri semula bernama
Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak kemudian masuk Islam berkat pertemuannya
dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-Saleh.
Kerajaan Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi bisa
dihalau. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu. Baru pada tahun 1521
di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524 M Pasai
dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai berada di
bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam (sekarang dikenal
dengan kabupaten Aceh Besar).
Munculnya kerajaan baru di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir
bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan
Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan besar.
Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatannya ke
Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Iskandar Muda
Mahkota Alam ( 1607 - 1636).
2. Di Jawa
Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama
Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah
Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai tahun 675 M.
sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga)
menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah
selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab
saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak
lain sudah begitu pesat.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Songo,
yaitu:
a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)
d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
f. Sunan Drajat.
g. Syarif Hidayatullah
h. Sunan Kudus
i. Sunan Muria
Diparuh awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan
damai dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al
Fatah atau Raden Patah. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa dan perbawa
sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at Islam “Salokantara” dan “Jugul
Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan syari’at Islam. Dihadapan
peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah
Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para Ulama atau
Wali. Para Ulama itu berperan sebagai tim kabinet atau merangkap sebagai dewan penasehat
Sultan.
Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474 M. oleh Raden Rahmat (Sunan
Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim, Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah
Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan
Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung di
dalamnya. Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping wali-wali
tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan Sunan Ampel hanya saja,
sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini memang memiliki peran dan karya
yang menonjol dalam dakwahnya.
3. Di Sulawesi
Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke
pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan
ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi. Menurut
catatan company dagang Portugis pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah
ditemui pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya
dakwah terus berlanjut dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga menyentuh
raja-raja di kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di
semenanjung barat daya pulau Sulawesi
Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan
Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk Ri
Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng
Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alaudin Al
Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.
4. Di Kalimantan
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melalui tiga jalur. Jalur
pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para muballig dan
komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir barat Kalimantan.
Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah
ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak
Muballig ke negeri ini. Para da’i tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan
misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al
Banjari.
Jalur ketiga para da’i datang dari Sulawesi (Makasar) terutama da’i yang terkenal saat itu
adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.
5. Di Maluku
Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi
daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa,
Malaka atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di
kepulauan ini.
Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh
para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para da’i yang dididik oleh para
Wali Sanga di Jawa).Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut
H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal
Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku.
Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu
Ternate dan Tidor
 Peranan Umat Islam dalam Mengusir Penjajah.
Ketika kaum penjajah datang, Islam sudah mengakar dalam hati bangsa Indonesia, bahkan
saat itu sudah berdiri beberapa kerajaan Islam, seperti Samudra Pasai, Perlak, Demak dan lain-
lain. Jauh sebelum mereka datang, umat Islam Indonesia sudah memiliki identitas bendera dan
warnanya adalah merah putih. Ini terinspirasi oleh bendera Rasulullah saw. yang juga berwarna
merah dan putih. Rasulullah saw pernah bersabda :” Allah telah menundukkan pada dunia, timur
dan barat. Aku diberi pula warna yang sangat indah, yakni Al-Ahmar dan Al-Abyadl, merah dan
putih “. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Tidak akan bangsa ini mempunyai bahasa Indonesia
kecuali ketika ulama menjadikan bahasa ini bahasa pasar, lalu menjadi bahasa ilmu dan menjadi
bahasa jurnalistik.
Beberapa ajaran Islam seperti jihad, membela yang tertindas, mencintai tanah air dan
membasmi kezaliman adalah faktor terpenting dalam membangkitkan semangat melawan
penjajah. Bisa dikatakan bahwa hampir semua tokoh pergerakan, termasuk yang berlabel
nasionalis radikal sekalipun sebenarnya terinspirasi dari ruh ajaran Islam. Sebagai bukti misalnya
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) tadinya berasal dari Sarekat Islam (SI); Soekarno
sendiri pernah jadi guru Muhammadiyah dan pernah nyantri dibawah bimbingan Tjokroaminoto
bersama S.M Kartosuwiryo yang kelak dicap sebagai pemberontak DI/TII; RA Kartini juga
sebenarnya bukanlah seorang yang hanya memperjuangkan emansipasi wanita. Ia seorang pejuang
Islam yang sedang dalam perjalanan menuju Islam yang kaaffah. Ketika sedang mencetuskan ide-
idenya, ia sedang beralih dari kegelapan (jahiliyah) kepada cahaya terang (Islam) atau minaz-
zulumati ilannur (habis gelap terbitlah terang). Patimura seorang pahlawan yang diklaim sebagai
seorang Nasrani sebenarnya dia adalah seorang Islam yang taat. Tulisan tentang Thomas
Mattulessy hanyalah omong kosong. Tokoh Thomas Mattulessy yang ada adalah Kapten Ahmad
Lussy atau Mat Lussy, seorang muslim yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan
penjajah. Demikian pula Sisingamangaraja XII menurut fakta sejarah adalah seorang muslim.

C. Sejarah Masuknya Islam Di Filipina


Islam di asia menurut Dr. Hamid mempunyai 3 bentuk penyebaran. Pertama, penyebaran
Islam melahirkan mayoritas penduduk. Kedua, kelompok minoritas Islam. Ketiga, kelompok
negera negara Islam tertindas.
“Dalam bukunya yang berjudul Islam Sebagai Kekuatan International, Dr.
Hamid mencantumkan bahwa Islam di Philipina merukan salah satu kelompok minoritas diantara
negara negara yang lain. Dari statsitk demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah
44. 300.000 jiwa. Sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan prosentase 5,3%
dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.”[3]
Hal itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri philipina. Bahkan
lebih dari itu, bukan hanya penjajahan saja, akan tetapi konflik internal yang masih berlanjut
sampai saat ini.
Sejarah masuknya Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu
dan Mindanao pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum
dan Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau
(Sumatra Barat). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di
kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan
Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban
Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan
peraturan hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj
dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi
seorang Datuk yang berkuasa di propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu,
Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya.
Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-
pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja. Menurut ahli sejarah kata Manila (ibukota Filipina
sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman). Pendapat ini bisa jadi benar,
mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sub-kontinen.
 Masa Kolonial Spanyol
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk
pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik “ekspedisi ilmiah” Ferdinand de Magellans.
Ketika kolonial Spanyol menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti,
tidak demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah
selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani dan pantang menyerah. Tentara kolonial
Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu
(kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M). Menghabiskan lebih dari 375 tahun masa
kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslimin. walaupun demikian, kaum
Muslimin tidak pernah dapat ditundukan secara total. Selama masa kolonial, Spanyol menerapkan
politik devide and rule (pecah belah dan kuasai) serta mision-sacre (misi suci Kristenisasi)
terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan terhadap hal-hal
yang buruk) sebagai “Moor” (Moro). Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan
huramentados (tukang bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang
mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut. Tahun 1578 M terjadi perang besar yang melibatkan
orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah Utara yang telah dikristenkan dilibatkan dalam
ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian di adu domba dan disuruh berperang melawan orang-
orang Islam di selatan. Sehingga terjadilah peperangan antar orang Filipina sendiri dengan
mengatasnamakan “misi suci”.
D. Sejarah Islam di Malaysia
1. Masuknya Islam di Malaysia
Pengakuan Islam di bagian dunia telah menjadi fakta sejak CE 674 (empat puluh dua tahun
setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW ketika penguasa Umayyah Muawiyah berkuasa di
Damaskus. Dua ratus tahun kemudian pada tahun 878 Masehi Islam dianut oleh orang-orang di
sepanjang pantai Semenanjung Malaysia termasuk pelabuhan Kelang yang terkenal pusat
perdagangan. Sebelum kedatangan Islam, orang Melayu pribumi memeluk agama kuno dengan
berbagai bentuk keyakinan dengan beberapa milik penduduk Hindu / Budha agama. Hidup ini
terstruktur dan diatur dengan cara-cara yang menunjukkan pengaruh lebih dari satu agama. Hal ini
dapat dilihat tidak hanya dalam pola-pola budaya malay tetapi juga bagian dari 'kekuatan' struktur
pejabat negara dan pangeran.
Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah I, sebagai
pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari Kampar ke Johor
(Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai Sultan Johor yang pertama dan
negeri Johor makin bertambah ramai dengan datangnya para pedagang dan pendatang.
Pada tingkat politik, penguasa kerajaan dan kepala negara di sebagian besar masyarakat di
dunia malaysia memeluk agama Islam. Orang-orang terkesan dan tertarik oleh ketentuan dalam
Alquran dan Hadis bahwa manusia harus digolongkan atas dasar kesetaraan interpersonal.
2. Penyebaran Islam
Setelah pengenalan awal Islam, agama ini disebarkan oleh para sarjana Muslim lokal atau
ulama 'dari satu kabupaten yang lain. Praktik normal mereka adalah untuk membuka pusat
pelatihan agama disebut "pondok" atau pondok dari ruang tidur kecil yang dibangun bagi para
siswa.
Selain memberi kuliah di rumah-rumah, rumah doa, atau masjid, mereka juga melakukan
tugas-tugas seperti bekerja di ladang padi, berkebun dan craftwork dan pekerjaan lain sesuai
dengan kemampuan masing-masing individu. Peran ulama ini 'tidak hanya itu seorang guru tetapi
juga bahwa dari penasihat bagi keluarga dan masyarakat desa. Peran yang mereka mainkan cukup
luas dengan alasan salah satu keahlian dan kemampuan mereka di lebih dari satu bidang kegiatan
manusia. Setelah lulus, murid-murid akan kembali ke tanah air mereka, sering di beberapa sudut
terpencil negara, membentuk sebuah mata rantai antara satu ulama 'dan lainnya.
Islam di Malay Archipelago pada umumnya dan Malaysia khususnya mengikuti Madhab
Syafi'i (aliran pemikiran). Namun, ada banyak umat Islam di Malaysia yang tidak mengikuti
sekolah tertentu. Di Perlis, konstitusi negara menentukan bahwa Perlis mengikuti Al-Qur'an dan
Sunnah dan tidak Madhab tertentu. Banyak umat Islam di Perlis karenanya tidak mengikuti
Madhab, seperti halnya dengan para pengikut dan anggota Organisasi Muhammadiyah di
Indonesia.
Namun ada, sejumlah umat Islam yang merasa bahwa sekolah-sekolah pondok tidak bisa
menghadapi tantangan lembaga pendidikan kolonial. Dalam rangka untuk mengatasi masalah,
Madrasatul Mashoor Al-Islamiyah didirikan di Pulau Pinang pada tahun 1916 dengan
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Madrasah mengajarkan Fiqh serta mata
pelajaran sekuler.
Sampai sekarang perkembangan agama Islam di Malaysia makin bertambah maju dan
pesat, dengan bukti banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan
jamaah haji yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan Islam di Malaysia,
tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya bahwa Islam merupakan
agama resmi negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992.
kelantan adalah negara bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia
(PAS) yang berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS dipimpin oleh
Nik Mat Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.

E. Islam di Muangthai
1. Latar Belakang Muangthai
Di Muangthai terdapat sekitar 2,2 juta kaum muslimin atau 4 % dari penduduk umumnya.
Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak menganut Islam yaitu di propinsi bagian
selatan tepatnya di kota Satun, Narathiwat, Patani dan Yala. Pekerjaan kaum muslimin Muangthai
cukup beragam, namun yang paling dominan adalah petani, pedagang kecil, buruh pabrik, dan
pegawai pemerintahan. Agama Islam di Muangthaimerupakan minoritas yang paling kuat di
daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Asia
Tenggara dan menghasilkan ulama besar seperti Daud bin Abdillah bin Idris al-Fatani.
2. Masyarakat
Masyarakat Melayu sangat terisolasi dari masyarakat Muangthai pada umumnya
dan karakteristik sosial budayanya cenderung untuk mengisolasikan. Istilah masyarakat Muslim
hampir sinonim dengan masyarakat pedesaan. Daerah-daerah perkotaan secara dominan
merupakan daerah Muangthai Budhis, yang berhubungan dengan birokrasi negara dan para
pedagang serta pemilik tokoh Cina. Hanya ada dua alasan bagi orang Muslim pedesaan Melayu
untuk berhubungan dengan orang Muslim bukan melayu di daerah perkotaan. Oleh karena itu,
usaha-usaha kecil di desa dimiliki oleh orang-orang Muslim Melayu sendiri. Dan untuk
berhubungan atau berurusan dengan pemerintahan harus memakai cara penghubung atau
perantara, maka kesempatan diadakannya hubungan antar pribadi antara mayoritas Melayu
Muslim dan non Muslim di daerah itu sangat terbatas. Para pejabat pemerintah tidak mempunyai
banyak kesempatan untuk mengetahui dari sifat sebenarnya terhadap masalah-masalah yang
dihadapi oleh penduduk desa. Penduduk desa menyerahkan persoalan dagangnya dengan para
saudagar Cina dipemilik toko di desa. Lingkungan sosialnya cenderung kecil dan mereka tidak
merasa perlumemperluas jaringan sosialnya.
3. Penyebaran Islam di daerah Patani
Pada dasarnya yang menyebabkan tetap kuatnya kesetiaan rakyat dan rasa keterikatan
kultural mereka dengan Patani adalah peran historisnya sebagai pusat Islam di Asia Tenggara.
Bahkan kerabat-kerabat raja dan kaum bangsawan tetap merupakan symbol kemerdekaan Patani
selama banyak dasawarsa, setelah negeri itu secara formal dimasukkan ke dalam kerajaan
Muangthai dalam tahun 1901. Pada tahun 1613 Patani masuk Islam sebelum Malaka, secara
tradisional dikenal sebagai “ Darussalam” (tempat damai) pertama di kawasan itu. Sejalan dengan
tradisi antara agama dan system pemerintahan di Asia Tenggara. Di kalangan pemegang
kekuasaan untuk menerima“idiologi yang memberi legitimasi” sebelum rakyat sendiri
memeluknya. Maka Islam dianut oleh keluarga para raja.
Penyebaran Islam di Muangthai melalui perdagangan, di sana Islam tidak
berhasil mendesak pengaruh Budha secara kultural maupun politik. Karena Islam pada saat
itu masih sedikit. Kaum muslimin yang menjadi mayoritas menghadapi masalah, namun tak lama
kemudian Muslim minoritas bisa berperan penting dalam kehidupan nasional mereka. Karena
kemajuan yang telah dicapai di bidang pendidikan. Dan pendidikan inilahfaktor terpenting bagi
kemajuan kaum muslimin, contohnya berhasilnya Surin Pitsuan dengan nama Muslim Abdul
Halim bin Ismail, beliau mendapat gelar kesarjanaan tertinggi di bidang ilmu politik, beliau juga
seorang intelektual Muslim berhaluan modernis dan moderat. Surin Pitsuan berfikir bahwa selama
ini sistem negara Muangthai berdasarkan budhisme terbukti dalam keanggotaannya dalam
parlemen.
4. Perkembangan Keagamaan dan Peradaban di Muangthai
Islam di Muangthai adalah agama minoritas hanya 4 %, selain itu masyarakat Muangthai
menganut agama Budha dan Hindu. Orang Melayu Muslim merupakan golongan minoritas
terbesar ke-dua di Muangthai, sesudah golongan Cina. Mereka tergolong Muslim Sunni dari
madzab Syafi’I yang merupakan madzab paling besar dikalangan umat Islam di
Muangthai. Ikatan-ikatan budayanya telah membantu memupuk suatu perasaan
keterasingan dikalangan mereka terhadap lembaga-lembaga sosial, budaya, dan politik
Muangthai.. DanPerkembangan Islam di Muangthai telah banyak membawa peradaban-
peradaban,misalnya :
1) Di Bangkok terdaftar sekitar 2000 bangunan masjid yang sangat megah dan indah.
2) Golongan Tradisional dan golongan ortodoks telah menerbitkan majalah Islam “Rabittah”.
3) Golongam modernis berhasil menerbitkan jurnal “Al Jihad”.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak terlepas dari peranan kaum pedagang Muslim.
Hingga kontrol ekonomi pun di monopoli oleh mereka. Disamping itu pengaruh ajaran Islam
sendiripun telah mempengaruhiberbagai aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam
mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap.
Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.Namun dari masyarakat yang
telah di-Islamkan dengan sedikit muatan lokal. Islamisasi dari kawasan Asia Tenggara ini
membawa persamaan di bidang pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum
bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Bahasa Melayu
secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi
media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh
wilayah itu.Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah,
segera bermunculan.
B. Kritik dan saran
Mengingat bahwa Islam masuk ke ASEAN secara damai, maka hendaklah kita menjaga
suasanan itu seterusnya. Agar Isalm tidak dicap sebagai agama yang anarkis seperti yang banyak
di isukan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA
Http://hbis.wordpress.com/2007/12/11/perkembangan-islam-di-dunia/diakses tanggal 21 febuari 2010
http://www.voa-islam.com/news/se-asia/2009/07/09/175/sejarah-asia-tenggara (3awal-mula-
masuknya-peradaban-islam/ diakses tanggal 1 maret 2010
http://cintailmoe.wordpress.com/2008/04/07 / sejarah-islam-di-filipina / diakses tanggal 1 maret 2010
M.Abdul Karim, Sejarah Peradaban Pemikiran Islam,Yogyakarta:Pustaka Book Publisher,2007
M.A.Shaban, Islamic History, London:Cambridge University Press,1971
Makalah Studi Islam
Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkatrahmat dan
hidayahnya akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul ‘Sejarah Masuknya
Islam ke Nusantara’

Berdasarkan sumber-sumber yang kami dapat dari luar maupun dari dalam, walaupun masih
banyak kekurangan. Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai sejarah
masuknya islam ke Indonesia, juga memberikan penjelasan yang jelas mengenai proses masuknya
islam ke Indonesia serta menjelaskan islam pada masa yang akan datang.

Diharapkan bahwa makalah ini membantu pembaca untuk memahami dengan lebih baik tentang sejarah
masuknya islam ke indonesia. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, disebabkan karena
terbatasnya kemampuan kami, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami perlukan dari
pembaca terutama dari Bapak Dosen Bimbingan kami. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 5 Desember 2012


Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………...................i
Daftar Isi…………………………………........………………...……….…………………….....….......ii
BAB I
1.1 Latar Belakang................................................................................................................................................................1
1.2 Tujuan...............................................................................................................................................................................1

BAB I I
2.1 Asal mula Masuknya Islam di Nusantara............................................................................2
2.2 Teori masuk penyebaran islam.............................................................................................5
2.3 Sumber-sumber berita masuknya agama dan kebudayaan islam di Indonesia...................5
2.4 Cara Masuknya Islam ke Indonesia....................................................................................6
2.5 Perkembangan Masuknya Islam di Beberapa Wilayah Indonesia......................................7
2.6 Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia ..........................................................11
2.7 Manfaat dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia...................................................11
2.8 Peradaban Islam di Masa Depan........................................................................................12
BAB III
Kesimpulan ..............................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar
yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan
perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.
Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi
titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan
menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang
berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para
pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M
sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra;
Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka
tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya
menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan
dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke
seluruh wilayah Indonesia.

1.2 Tujuan
Makalah ini mempunyai tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai proses
perkembangan islam di Indonesia bagi para pembaca. Disamping itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan
informasi kepada para pembaca bahwa kami menjelaskan sejarah perkembangan islam dan perkembangan pada
masa yang akan datangnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asal-usul masuknya Islam di Nusantara


Risalah Islam dilanjutkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di Jazirah Arab pada abad ke-7
masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah swt. Setelah kematian
Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang hingga Samudra Atlantik dan Asia Tengah di
Timur.
Namun, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, Abbasiyyah,
Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal, India,dan Kesultanan Melaka
telah menjadi kerajaaan yang besar di dunia. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan
sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutama pada Zaman Emas Islam. Karena banyak
kerajaan Islam yang menjadikan dirinya sekolah.
Di abad ke-18 dan 19 masehi, banyak daerah Islam jatuh ke tangan Eropa. Setelah Perang
Dunia I, Kerajaan Ottoman, yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang. Jazirah Arab sebelum
kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati oleh jalur sutera. Kebanyakkan
Bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut agama Kristen
dan Yahudi. Mekah adalah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana terdapat berhala-
berhala mereka dan Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali serta Ka’bah yang didirikan
Nabi Ibrahim beserta Ismail.
Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 masehi. Ia
merupakan seorang anak yatim sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia. Muhammad
akhirnya dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan
menjalani kehidupan yang bahagia. Namun, ketika Nabi Muhammad saw. berusia 40 tahun,
beliau didatangi Malaikat Jibril Sesudah beberapa waktu Muhammad mengajar ajaran Islam
secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya, yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-
Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk Islam)” dan seterusnya secara terbuka kepada
seluruh penduduk Mekah.
Pada tahun 622 masehi, Nabi Muhammad saw dan pengikutnya hijrah ke Madinah.
Peristiwa lain yang terjadi setelah hijrah adalah pembuatan kalender Hijirah. Penduduk Mekah
dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw dengan hasil yang baik walaupun
ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan
berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab
di bawah penguasaan Islam.
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll.
Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria,
Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik
(Maulana Malik Ibrahim) (Sumber: wikipedia)

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya
Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk
memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan
waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan
dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam.
Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli
hasil bumi dari negeri ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-
besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali
menerima agama Islam. Bahkan di Aceh kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni
kerajaan Samudra Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya
di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula
berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun
746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan
tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa
komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama
Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman
Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan
makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi
Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk
Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk
Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah
memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan
bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para
penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan
para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan
oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti
Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan
bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol.
Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut
kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya
sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-
pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari
pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin
banyak. Yang sebagian besar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh
Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.
Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai
daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama
di abad ke 17 dan 18 M. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh
perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum
kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di
Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut
berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan
ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-
ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan
akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab
dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan
nusantara, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai nusantara. Apalagi
mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru
mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka
menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-
kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur
pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin
kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda
Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang
pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran
besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu
Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi
orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah
sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum
muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya
kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada
mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah
dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti
gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal
ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun
banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah
yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil
ditumpas dengan taktik yang licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang
gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam
di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Samudra Pasai, Banten, Sunda
Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon
(Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh
(Teuku Umar).(Sumber : ummah.com).

2.2 Teori Masuk dan Penyebaran Islam


Menurut para ahli sejarah, masuk dan penyebaran islam di indonesia terdapat tiga teori,
yaitu teori Gujarat, teori Saudi, dan teori China. Yaitu :
1. Menurut teori Gujarat. Islam masuk wilayah Indonesia dari anak benua India seperti Gujarat,
Bengali, dan Malabar. Menurut Snouck Hurgronje, Islam masuk dari daerah Doccon di India,
berdasarkan fenomena sosial bahwa ajaran tasawuf yang dipraktikkan oleh orang-orang muslim
di India bagian selatan mirip dengan ajaran islam di Indonesia. Termasuk munculnya syi’ah di
daerah Sumatera atau Jawa, dugaan itu juga muncul dari dearah India. Sebab saat itu kerajaan
islam Deccon (salah satu kerjaan di India) telah memiliki hubungan baik dengan Iran negeri
pusat penyebaran paham Syi’ah.
2. Menurut teori saudi. Pendapat yang menyatakan bahwa islamisasi di Indonesia terjadi pada
tahun 1111 atau abad ke 12 M. Pada saat itu orang-orang Aceh dari Sumatera bagian barat laut
memeluk islam atas ajakan seorang kebangsaan Arab asli. Kemudian setelah masuk Islam
mereka mendakwahkan islam khususnya di daerah tersebut.
3. Menurut teori China. Teori yang menyatakan bahwa masuknya islam di Indonesia langsung dari
Mekah atau Madinah. Menurut teori ini bahwa islam masuk ke Indonesia sekitar abad 7 atau 8
M. Atau abad ke 2 H, yaitu pada masa Khulafaur Rosyidin. Ekspedisi islam ke Indonesia dibawa
langsung oleh para pedagang dari Arab sejak awal abad hijriyah atau abad ke 7 M. Menurut
sumber literatur Cina pada awal abad ke 2 hijrah telah muncul perkampungan-perkampungan
muslim Arab dipesisir pantai Sumatera. Diperkampungan ini orang-orang muslim Arab
bermukim dan menikah dengan penduduk setempat serta membentuk komunitas-komunitas
muslim. Teori ini adalah yang paling kuat dan diterima para sejarahwan masa kini.

2.3 Sumber-sumber berita masuknya agama dan kebudayaan islam di Indonesia

 Sumber-sumber luar negeri


Berita Arab : para pedagang arab telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan sriwijaya (abad ke 7 M)
yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk selat
malaka pada masa itu.
Berita Eropa : berita ini datangnya dari Marco polo. Ketika suatu saat dia ditugaskan untuk mengantarkan
puterinya yang di persembahkan kepada kaisar romawi.
Berita India: berita ini menyebutkan bahwa para pedagang india dari Gujarat mempunyai peranan penting
dalam penyebaran agama dan kebudayaan islam di indonesia.
Berita China: berita ini berhasil di ketahui melalui catatan dari ma-huan, seorang penulis yang mengikuti
perjalanan laksamana cheng-ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira tahun
1400 telah ada saudagar-saudagar islam yang bertempat tinggal di pantai utara pulau jawa.
 Sumber dalam negri

1. Penemuan sebuah batu di leran (dekat Gresik).batu bersurat itu memuat keterangan tentang
meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Makmur
2. Makam sultan Malikul Shaleh di Sumatra Utara yang meninggal pada bulan ramadha tahun 676
H atau tahun 1297 M.
3. Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M.

Ajaran-ajaran Islam diantaranya yaitu:


1. Islam mengajarkan toleransi terhadap sesama manusia,saling menghormati dan
tolong menolong.
2. Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali
takwanya.
3. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih
dan Penyayang dan mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan,merusak, dan
saling mendengki.
4. Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak
menyekutukannya serta senantiasa setiap saat berbuat baik terhadap sesama manusia
tanpa pilih kasih.

2.4 Cara Masuknya Islam ke Indonesia

Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam


berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan
para ulama. Karenamemang para ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat
256 yaitu

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah: 256).

Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
1.Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang
dengan orang Arab.Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan
kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke
Nusantara (Indonesia).Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan
rohani yaitu dengan menyiarkan Islam.Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama
Islam.

2.Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan,
sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga
dengan pengembangan kesenian wayang.Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang
yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan
gamelannya.Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia
khususnya jawa sampai sekarang.Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-
anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.

3.Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam
pengembangan Islam di Indonesia.Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh
pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut.Datuk Ribandang yang mengislamkan
kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri.Santri-santri
Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate,
hingga ke Nusa Tenggara.Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam
memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.

4.Kekuasaan Politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para
Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi
pelindung perkembangan Islam.Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-
Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di
Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong
menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara.Keadaan ini menjadi cikal bakal
tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.

2.5 Perkembangan Masuknya Islam di Beberapa Wilayah Indonesia

Perkembangan Islam di Indonesia berlangsung di beberapa tempat, yaitu Sumatera,


Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maliku, Irian Jaya, dan Nusa Tenggara.

a.Perkembangan Islam di Sumatera.


Pada pertengahan abad ke-13, di Sumatera telah berdiri kerajaan Islam Samudera Pasai
yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini terletak di pesisir timur laut
aceh yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Lhouksumawe. Samudera Pasai adalah
sebuah kerajaan maritim, samudera pasai telah mengadakan hubungan dengan Sultan Delhi di
India pada pelayaran kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat studi agama Islam dan tempat
berkumpulnya para ulama dari berbagai negara Islam.

b.Perkembangan Islam di Jawa


Perkembangan di Jawa tidak bisa dipisahkan dari peranan wali, jumlah wali yang
terkenal sampai sekarang adalah sembilan, yang dalam bahasa dikenal dengan sebutan WALI
SONGO. Para wali yang termasuk dalam wali songo adalah sebagai berikut :
a. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Maulana malik ibrahim juga dikenal dengan panggilan Maulana Maghribi atau syekh
Magribi, karena berasal dari wilayah Maghribi, Afrika Utara. Kedatangannya dianggap sebagai
permulaan masuknya Islam di Jawa. Maulana Malik Ibrahim menerapkan metode dakwah yang
tepat untuk menarik simpati masyarakat terhadap Islam.

b. Sunan Ampel (Raden Rahmat)


Pada awal penyiaran Islam di pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan masyarakat
menganut keyakinan Islam yang murni. Ia tidak setuju dengan kebiasaan masyarakat Jawa,
seperti kenduri, selamatan dan sesaji. Hal itu terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga,
dalam ocehannya menarik umat Hindhu dan Budha mengusulkan agar adat istiadat Jawa itulah
yang diberi warna Islam

c. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Dalam menyebarkan agama Islam, ia selalu menyesuaikan diri dengan kebudayaan


masyarakat yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Sunan Bonang memusatkan
kegiatan dakwahnya di Tuban. Dalam aktifitasnnya ia mengganti nama dewa dengan nama-nama
malaikat.

d. Sunan Giri (Raden Paku atau ‘Ainul Yaqin)

Sunan Giri memulai aktifitas dakwahnya didaerah Giri dan sekitarnya dengan mendirikan
pesantren yang santrinya kebanyakan berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Sunan
Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis.

e. Sunan Drajat (Raden Kasim)


Sunan Drajat juga tidak ketinggalan untuk menciptakan tembang jawa yang sampai saat
ini masih digemari masyarakat, yaitu tembang pangkur. Hal yang paling menonjol dalam dakwah
sunan drajat ialah perhatiannya yang serius pada masalah-masalah sosial, ia selalu menekan
bahwa memberi pertolongan kepada masyarakat umum.

f. Sunan Kalijaga (Raden Said)

Ketika para wali memutuskan untuk menggunakan pendekatan kultural termasuk


pemanfaatan wayang dan gamelan sebagai media dakwah, orang yang paling berjasa dalam hal
ini adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengarang aneka cerita wayang bernafaskan Islam
terutama mengenai etika.
g. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Sunan Kudus mengajarkan agama Islam didaerah Kudus dan sekitarnya, ia mempunyai
keahlian khusus dalam ilmu fiqih, urul fiqih, tauhid, hadits, tafsir dan logika. Oleh karena itu ia
mendapat julukan waliyyul ‘ilmi. Sunan Kudus juga melaksanakan dakwah dengan pendekatan
kultural.

h. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria memusatkan kegiatan dakwahnya di Gunung Muria yang terletak 18 km


sebelah utara kota Kudus. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan agama islam adalah
dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa.

i. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan gunung Jati lahir di Mekkah pada tahun 1448. ia mengembangkan ajaran islam di
cirebon, majalengka, kuningan, kawali, sunda kelapa dan banten sebagai dasar bagi
perkembanganislam di Banten.

c. Perkembangan Islam di Sulawesi

Masuknya islam di Sulawesi tidak terlepas dari peranan Sunan Giri di Gresik. Hal itu
karena Sunan Giri menyelenggarakan pesantren yang banyak didatangi oleh santri dari luar
Jawa, seperti ternate dan hiu. Pada abad ke-16 di sulsel telah berdiri kerajaan hindhu gowa dan
tallo. Penduduknya banyak yang memeluk agama islam karena hubungannya dengan kesultanan
Ternate.

d. Perkembangan Islam di Kalimantan

Pada abad ke-16, islam mulai memasuki kerajaan Sukadana. Dibagian selatan
Kalimantan berdiri kerajaan islam banjar pada sekitar tahun 1526. Panngeran Suriansyah
merupakan tokoh yang amat penting dalam sejarah islam di Kalimantan. Dalam usaha
mengembangkan islam/ Syekh muhamad arsyad al-Banjari mendirikan pondok pesantren untuk
menampung santri yang datang dari berbagai pelosok Kalimantan. Pada masa berikutnya muncul
seorang pahlawan Kalimatan yang sangat berjasa dalam mengembangkan islam. Ia adalah Sultan
Amirudin Khalifatul Mukminin atau yang lebih dikenal nama pangeran Antasari.

e. Perkembangan Islam di Maluku dan Irian

Jaya Penyebaran islam di Maluku tidak lepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang
berasal dari Ternate dan Hitu. Di Maluku ada 4 kerajaan bersaudara yang berasal dari keturunan
yang sama yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Raja Tidore masuk islam dan mengganti
nama menjadi Sultan Jamalludin.

Demikian juga raja Jailolo, ia masuk isalm dan mengganti nama menjadi Sultan
Hassanudin. Peran kesultanan Ternate dalam penyebaran islam baru dimulai pada masa Sultan
Zaenal Abidin. Ia juga berhasil mengambangkan islam ke Maluku dan Irian Jaya bahkan sampai
ke Filipina.

2.6 Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia

Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki warna atau ciri yang
khas dan memiliki karakter tersendiri dalam penyebarannya, kita dapat mengambil hikmah,
diantaranya sebagai berikut :
1. Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian.
2. Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan
dan pekerja keras.
3. Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskipun Islam
tetap memiliki batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar
dalam Islam.
2.7 Manfaat dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Banyak manfaat yang dapat kita ambil untuk dilestarikan diantaranya sebagai berikut :
1. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan pengajaran Islam di
bumi Nusantara turut memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas suatu
kepercayaan yang sudah ada di Nusantara ini.
2. Hasil karaya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan sumber
pengetahuan.
3. Kita dapat meneladani Wali Songo
4. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
5. Mampu membangaun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk atau arsitektur
hingga kee seluruh pelosok Nusantara.
6. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs peninggalan para ulama, baik
berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya.
7. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh islam untuk mempraktikan tingkah laku yang penuh
keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.
8. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan persenjataan yang tidak
sebanding.

2.8 Peradaban Islam di Masa Depan


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam Al-qur’an :

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama
yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak
menyukai.” (QS At-Taubah : 33)
Janji telah diberikan oleh Allah Swt melalui firman-Nya itu, bahwa Islam dengan
kearifan dan kebijaksanaannya itu mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit
yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi Salallahu Alaihi wa Salam ,
masa Khulafaur-Rasyidin dan pada masa khalifah-khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal
kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terealisasi saat itu hanyalah sebagian kecil dari janji di
atas, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul Salallahu Alaihi wa Salam melalui sabdanya yang
artinya:
“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Latta dan Al-‘Uzza telah disembah. Lalu
Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa takkala Allah menurunkan firman-
Nya “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama
yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak
menyukai, hal itu telah sempurna (realisasinya).”Belau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada
saat yang ditentukan oleh Allah.” [Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam-Imam
yang lain]
Dari hadits diatas tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-
mata atas izin pertolongan dari Allah Swt, dengan catatan harus tetap kita perjuangkan.
Perjuangan dapat dilakukan dengan cara berjihad. Namun maksud jihad disini bukanlah
peperangan atau pembunuhan massal pada kaum non muslim. Tapi melainkan dengan cara
meningkatkan mutu pendidikan yang canggih namun tidak keluar dari nilai-nilai ajaran islam.
Sudah menjadi pemahaman bahwa kemenangan yang diraih dunia Barat dari umat Islam
ketika sedang dalam keadaan lemah dan kondisi yang rapuh seperti saat ini, bukanlah disebabkan
oleh kekuatan mereka semata, bukan pula karena kelemahan umat Islam. Tetapi semua itu
disebabkan buruknya pola berpikir dan rendahnya tingkat pengetahuan umat Islam tentang
Dienul Islam itu sendiri.Masa depan dunia Islam tergantung pada tindakan yang diambil umat
Islam sekarang ini. Jika umat Islam telah terlalu jauh dan berpaling dari agama mereka maka
mereka akan jatuh pada musibah ketertindasan dan keterjajahan.
Oleh karena itu umat Islam harus menyadari bahwa hanya dengan kembali kepada Islam, umat
Islam akan dapat meraih kembali kemuliaan, lepas dari segala bentuk penjajahan yang selama ini
membelenggu. Tiada lain jalan yang ditempuh selain kembali kepada Islam sesuai pemahaman
para Shahabat dan Salafussholih. Mengikuti apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan
Khulafaur Rasyidin dalam melaksanakan syariat Islam baik dalam kehidupan individu,
bermasyarakat dan bernegara.
Seperti yang telah Allah SWT umpamakan dalam surat Ibrahim 14: ayat 24-26 yaitu ;
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu
memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan
kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari
permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim [14]: 24-26).
Allah telah menjanjikan kejayaan Islam di masa yang akan datang cepat atau lambat,
pilihan umat Islam saat ini adalah apakah ikut turut andil ataukah tidak? Jika ikut turut andil
menuju kejayaan dan kebangkitan peradaban Islam maka akan menjadi golongan orang-orang
yang beruntung, mendapatkan pahala yang amat besar. Namun sebaliknya, jika hanya diam,
duduk manis menonton, mengikuti arus dunia, individualis, acuh tak acuh terhadap kondisi umat,
dan enggan berjuang di JalanNya karena lebih mencintai dunia dari pada cinta kepada Allah dan
Rasul maka tunggulah keputusan Allah.
Maka dari itu untuk mewujudkan kemenangan peradaban islam di masa depan yaitu
dengan mengerahkan segala bentuk upaya memaksimalkan potensi yang dimiliki. Di antara
potensi yang dimiliki umat yaitu berupa masjid dan kaum intelektual. Tanpa menafikkan potensi
lain, masjid dan kaum intelektual berperan besar di dalam upaya mewujudkan kemenangan
peradaban islam di masa depan. Inilah yang dicontohkan para ulama, mereka memaksimalkan
potensi dalam membangun peradaban Islam yang jaya.

BAB III

KESIMPULAN

 Proses penyebaran islam di nusantara termasuk Indonesia dilakukandengan cara perdagangan,


perkawinan, pendidikan, dan melalui seni dan budaya.3.
 Manfaat dari mempelajari sejarah perkembangan islam di nusantara, salah satunya yaitu mampu
membangun masjid sebagai tempat ibadah dari berbagai bentuk, dan dapat meneladani Wali
Sanga.

Adapun hikmah dari mempelajari sejarah perkembangan islam ini yaitu Islam membawa ajaran
yang berisi kedamaian, selain itu penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang
memiliki ketangguhan dan pekerja keras.

DAFTAR PUSTAKA

 Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta: PT. Bulan Bintang,
1990.
 Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994.

. Pakistan
Islam masuk ke India-Pakistan pada masa Bani Umayyah. Dengan melalui perjalanan yang panjang
pada tahun 1862 M menjadi negara Islam.
Pada awal abad XX, Sayid Ahmad Khan ( seorang kominis ), mencetuskan gagasan bahwa Muslim
dan Hindu membentuk bangsa yang berbeda dan terpisah di India, atas dasar agama dan budaya.
Tulisan Ahmad Khan ini mengilhami Muhammad Ali Jinnah memimpin Liga Musliam pada
pembentukan Pakistan.
Pakistan mejadi negara Republik Islam. Negeri ini termasuk negara produktif ilmuwan dan
budayawan muslim yang terkenal seperti Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman dan lain sebagainya.
2. India
Islam masuk ke India pada masa Khulafaur Rosyidin, ketia Kholifah Umar bin Khottob memerintah,
Ia telah mengirimkan pasukan ke Persia dan berhasil menaklukkan Persia babian selatan.
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah Islam di India berkembangn pesat. Para da’i yang berhasil
menyebarkan Islam di India antara lain :
a. Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Pada masa pemerintahannya Beliau mengirimkan pasukan ke India
yang dipimpin oleh Maglab bin Abi Sufiah.
b. Hajja bin Yusuf as Saqofi, orang yang dipercaya Abdul Malik bin Marwan.
c. Subaktakir dari Ghozna’
d. Muhammad Ghori, raja muslim di Ghori yang moderat.
Puncak kejayaan Islam di India pada masa Kerajaan Islam Mughal yang dipimpin Babur Akbar
kemudian dilanjutkan oleh putranya Humayun. Pada masa kejayaan Islam di India datanglah Inggris
menjajah India, Kerajaan Mughal runtuh dan India menjadi jajahan Inggris.
3. Rusia
Islam masuk di Rusia pada masa Bai Umayyah. Di kota Bukhora pernah lahir seorang ulama besar
ahli hadis yaitu Imam Bukhori yang menulis kitab hadis Shoheh Bukhori. Islam di Rusia mengalami
kejayaan ketika Dinasti Samanid berkuasa. Akan tetapi ketika Jengis Khan menggempur Asia
Tengah banyak penduduk muslim yang dibunuh, masjid dan sekolah-sekolah dibakar.
Di Rusia saat ini telah memiliki Direktorat Utusan Islam di Departemen Luar Negeri Urusan Asia.
Dengan adanya lembaga ini hak-hak dan kewajiban-kewajiban umat muslim dilindungi negara. Di
negeri ini terdapat hampir 400 masjid dan 190 madrasah sebagai pusat syiar dan pendalaman
Islam. Studi Isalam dan bahasa arab kini menjadi bagian kurikulum Islam di Rusia.
4 Afganistan
Islam masuk ke Afganistan pada masa Kholifah Umar bin Khottab. Pada masa Kholifah Usman bin
Affan Islam telah memasuki Kabul, setelah melalui perjalanan pajang umat Islam berhasil
memprokamirkan Afganistan.
Di Negeri ini umat Islam selalu berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, akan tetapi
perjuangan umat Islam selalau mendapat tekanan dari Uni Soviet. Pada masa pengaruh Uni Soviet
dapat dilenyapkan, para pemimpin gerakanm mujahidin dapat berkuasa di Afganistan. Pada masa
kejayaan umat Islam, Afganistan teerkenal sebagai gudang ilmu dan berhasil melahirkan Sejumlah
ilmuwan muslim.
5. Republik Rakyat Cina
Islam masuk ke Cina pada masa daulah Bani Abasiyah, kedatanag Islam di semenanjung Cina
disambut gembira oleh masyarakat. Pada masa Dinasti Ming lahirlah seorang muslim terkenal yaitu
Laksamana Zheng Ho atau Sham Poo Kong (1371).
Pada masa dinasti Manchu yang diprakarsai oleh Kaisar Kong His, Islam berkembang dengan pesat
baik dikalangn terpelajar maupun masyarakat biasa. Kehidupan umat Islam terasa aman dan damai,
bahkan banyak tokoh muslim yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan.
Perkembangan dan kamajuan Islam semakin tampak nyata Setelah RRC merdeka tanggal , 10
Nopember 1911 M , terutama ketika hamcurnya faham komunis di berbagai belahan dunia. Di Cian
terdapat dua masjid khusus wanita yang berada di Peking (Beijing). General Moslem Associatin of
China, adalah salah satu organisasi Islam di Cina, yang bergerak dalam pengembangan dakwah
penembangan Islam.
1. Singapura
Islam masuk Singpura kurang lebih abad ke XVI M. Pada masa Kerajaan Malak dipimpin oleh
Sultan Mansyur Syah, wilayahnya melebar sampai ke Palembang dan Jambi. Dari Jambi melalui
Tanjung Pinang Islam menyebar ke Singapura.
Di Singpura Islam dapat berkembang dengan baik, khuisusnya di bidang pendidikan, seperti
penerbitanbuku-buku agama berbahasa Arab, Madrsah-madrsah banyak didirikan. Islam di
Singapura mendapatkan pengkuan dari pemerintah. Majelis Ulama Singapura (MUIS), mempunyai
otoritas bagi pembangunan kehidupan masyarakat Islam Singapura. MUIS berada di bawah
Kementerian Pembangunan Masyarakat dan ditangani oleh Menteri Lingkungan atau Menteri
Sekitaran. Pada tahun 1990 MUIS bernama Maintenance Religous Harmony Act.
7. Thailand
Islam masuk ke Thailan ( Muangtai ) pada abad ke XV M, melalui kerajaan Acaeh (Pasai), setelah
ditaklikan kerajaan Siam (Thailan). Selain itu Islam masuk melalui Malaka.
Kini banyak umat Islam Tailan yang merantau keluar negeri, seperti Timur Tengah dan Indonesia
untuk mencari ilmu.
8. Bunai Darussalam
Islam masuk ke negeri ini sekitar tahun 977 M melalui jalur Timur Asia Tenggara oleh para
pedagang dari Cina.
Pada waktu pusat penyebaran dan kebudayaan Islam di Malaka jatuh ketangan Portugis, Islam di
Brunai maju pesat. Kemajuan Islam semakin bertambah cepat pada masa dipimpin oleh Sultan
Bolkiah ( Sultan ke 5). Pada tahun 199885 Brunai membentuk Majlis Agama Islam berdasarkan
Undang-undang Agama dan Mahkamah Kadi. Pada waktu itu Islam telah menjadi idiologi negara.
Didirikannya pusat dakwah untuk kepntingan penelitian Agama Islam. Anak cacat dan yatim mejadi
tanggungjawab pemerintah. Saat ini Islam telah menjadi bagian dari negara.

sumber:http://jokosiswanto77.blogspot.com/2010/06/perkembangan-islam-di-dunia.html

Diposkan oleh neng cucu di 23.28


Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter

MAKALAH PERIODESASI SEJARAH ISLAM di ASIA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam adalah agama yang pada saat ini sudah menyebar ke seluruh benua dan Negara yang ada
dipermukaan dunia ini. Karena memang didalam ajaran islam itu sendiri menuntut kepada orang yang
memeluk agama islam untuk menyebarkannya kepada umat-umat yang lainnya yang belum kenal islam,
di dalam islam pun ajaranya mudah dimengerti sesuai rasional dan juga banyak bukti-bukti alam bahwa
agama islam adalah agama yang benar. Maka orang islam yang berakhlak baik memudahkan dalam
penyebaranya agar penduduk sekitar yang non islam mau menerima , mengikuti, dan masuk agama islam.

Salah satu fakta tentang orang yang paling berpenggaruh diseluruh dunia nomor satu adalah nabi
kita rosulullah Muhammad saw. Beliau menyebarkan islam sendirian dimekkah yang saat itu
penduduknya jahiliyah dan kemudian berubah menjadi masyarakat yang berakhlak baik dengan memeluk
agama islam yang dibawa oleh nabi. Dari sinilah sejarah penyebaran islam semakin luas ke seluruh dunia
hingga sampai ke Indonesia, lalu ke jawa timur, menyebar ke lamongan dan sampai ke desa paciran ini.

Seiring berjalanya waktu dari penyebaran islam dimekkah sampai kepenjuru dunia, maka para pakar
sejarah melakukan penelitian dan menceritakan dalam buku seperti apa perjalanan penyebaran islam itu
hingga bisa mencapai kesetiap Negara,
Sebenarnya para ahli sejarah yang telah menggungkapkan seperti apa perjalanan penyebaran islam ada
yang berbeda-beda pendapat, dari masalah penepatan tahun persisnya waktu kejadian tersebut, tapi
pada dasarnya semua saling melengkapi. Karena seiring dengan berkembangya teknologi dizaman
sekarang buku-buku tentang sejarah di refisi dari kekurangan-kekurangannya, sehingga menjadi semakin
lengkap dan benar.

B. Perumusan Masalah

Tujuan dari makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui teori-teori masuknya islam di Asia

2. Mengetahui cara kedatangan dan berkembangnya islam di Asia

3. Dan untuk mengetahui pengaruh islam di Asia

C. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk memberikan pengetahuan kepada para pembaca
terutama tentang proses masuknya islam di Asia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Masuknya Islam ke Asia

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke kawasan Asia, seperti Teori kedatangan Islam ke Asia dari
Arab, cina dan india.

1. Teori kedatangan Islam ke Asia dari Arab.

Dikemukakan oleh John Crawford. Menurutnya Islam datang dari Arab melalui
pedagang. Buktinya catatan China mengatakan orang Arab dan Persia telah mempunyai pusat perniagaan
di Canton sejak tahun 300 M. Pedagang Arab yang ke China singgah di pelabuhan Asia tepatnya di Selat
Malaka karena posisinya yang strategis, dalam jalur perdagangan. Kemudian Pedagang Arab ini tinggal
beberapa bulan di Asia dan ada yang menetap serta membina perkampungan Arab. Perkampungan ini
juga menjadi tempat untuk berdagang. Ada juga pedagang Arab yang Menikah dengan wanita tempatan
dan menyebarkan Islam. Karena sebagian besar pedagang menggunakan jalur laut sebagai sarana
transportasi maka pada Masa menunggu angin muson/musim digunakan oleh pedagang Arab untuk
mengembangkan Islam.

Adapun beberapa bukti dari teori ini yaitu :

a. Kampung Arab di Sumatera Utara yaitu di Ta Shih.

b. Persamaan penulisan dan kesusasteraan Asia dan Arab.

c. Budaya dan musik pengaruh dari arab seperti dabus dan tarian

Zapin.

d. Karya-karya yang menceritakan pengislaman raja tempatan oleh syeikh dari Tanah Arab contohnya
hikayat Raja-raja samudra Pasai mengatakan Raja Malik diislamkan oleh ahli sufi dari Arab yaitu Syeikh
Ismail.

2. Teori kedatangan Islam ke Asia dari Cina.

Dikemukakan oleh E.G Eredia dan S.Q. Fatimi. Menurut Eredia, Canton pernah menjadi pusat
Perdagangan bagi para pedagang Arab hingga pedagang Cina memeluk Islam. Pedagang China Islam ini
kemudiannya berdagang di Asia disamping menyebarkan Islam. Sedangkan menurut Fatimi, pedagang
Cina Canton pernah berpindah beramai-ramai ke Asia.

Adapun Bukti kedatangan Islam dari China ini yaitu :

a. Pada Batu Bersurat Terengganu, batu nisan yang mempunyai ayat al-Quran di Pekan, Pahang.

b. Wujud persamaan antara seni Bangunan Cina dengan seni Bangunan masjid di Kelantan, Melaka dan
Jawa yaitu seperti bumbung pagoda, ciri khas atap genteng dari China.

3. Teori kedatangan Islam ke Asia dari India/Gujarat.

Dikemukakan oleh S.Hurgronje, Menurutnya Islam datang dari Gujarat/India dan pantai Koromandel
di semenanjung India. Hubungan dagang Asia dengan India telah terwujud sejak lama, hal ini memberikan
peluang bagi pedagang Islam India untuk menyebarkan Islam.

Adapun beberapa bukti dari teori ini yaitu :

a. Terdapat batu marmar pada batu nisan mempunyai cirri buatan India, contohnya di batu nisan Raja Malik
Pasai.

b. Unsur budaya India amat banyak kita jumpai di Negara-negara Asia.


Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat beberapa Teori tentang masuknya islam di Indonesia, yaitu :

1. Teori Gujarat

Teori ini merupakan teori tertua yang menjelaskan tentang masuknya Islam di Nusantara.
Dinamakan Teori Gujarat, karena bertolak dari pandangannya yang mengatakan bahwa Islam masuk ke
Nusantara berasal dari Gujarat, pada abad ke-13 M, dan pelakunya adalah pedagang India Muslim.

Bukti-bukti dari teori ini yaitu :

a. bukti batu nisan Sultan pertama Kerajaan Samudera Pasai, yakni Malik al-Shaleh yang wafat pada 1297.
relif nisan tersebut bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat.

b. adanya kenyataan bahwa agama Islam disebarkan melalui jalan dagang antara Indonesia-Cambai
(Gujarat)-Timur Tengah-Eropa.

2. Teori Makkah

Teori ini dicetuskan oleh Hamka, Ia lebih menguatkan teorinya dengan mendasarkan
pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia, kemudian diikuti
oleh orang Persia dan Gujarat. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Makkah sebagai
pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.

Hamka menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam baru masuk pada abad 13, karena kenyataanya
di Nusantara pada abad itu telah berdiri suatu kekuatan politik Islam, maka sudah tentu Islam masuk jauh
sebelumnya yakni abad ke-7 Masehi atau pada abad pertama Hijriyah. Pada 674 M telah terdapat
perkampungan perdagangan Arab Islam di Pantai Barat Sumatera, bersumber dari berita Cina. kemudian
berita Cina ini ditulis kembali oleh T.W. Arnold (1896), J.C. van Leur (1955) dan Hamka (1958). Timbulnya
perkampungan perdagangan Arab Islam ini karena ditunjang oleh kekuatan laut Arab.

Dari keterangan tentang peranan bangsa Arab dalam dunia perniagaan seperti di atas, kemudian
dikuatkan dengan kenyataan sejarah adanya perkampungan Arab Islam di pantai barat Sumatera di abad
ke-7, maka terbukalah kemungkinan peranan bangsa Arab dalam memasukkan Islam ke Nusantara.

3. Teori Persia

Pencetus teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat. Teori ini berpendapat bahwa agama Islam
yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia, singgah ke Gujarat, sedangkan waktunya sekitar abad ke-
13. Teori ini lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat
Islam Indonesia yang dirasakan memiliki persamaan dengan Persia (Morgan, 1963:139-140). Di antaranya
adalah:

a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringayan Syi'ah atas syahidnya Husein.
b. Adanya kesamaan ajaran antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj, sekalipun al-Hallaj telah
meninggal pada 310H / 922M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga
memungkinkan Syeikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.

Dari uraian tentang tiga teori masuknya Islam ke Indonesia di atas, dapat dilihat beberapa perbedaan dan
kesamaannya:

 Teori Gujarat dan Persia mempunyai persamaan pandangan mengenai masuknya agama Islam ke
Nusantara berasal dari Gujarat. Perbedaannya terletak pada teori Gujarat yang melihat ajaran Islam di
Indonesia mempunyai kesamaan ajaran dengan mistik di India. Sedangkan teori Persia memandang
adanya kesamaan dengan ajaran Sufi di Persia. Gujarat dipandangnya sebagai daerah yang dipengaruhi
oleh Persia, dan menjadi tempat singgah ajaran Syi'ah ke Indonesia.

 Dalam hal Gujarat sebagai tempat singgah, teori Persia mempunyai persamaan dengan teori Makkah,
tetapi yang membedakannya adalah teori Makkah memandang Gujarat sebagai tempat singgah
perjalanan perjalanan laut antara Indonesia dengan Timur Tengah, sedangkan ajaran Islam diambilnya
dari Makkah atau dari Mesir.

 Teori Gujarat dan Persia keduanya tidak memandang peranan bangsa Arab dalam perdagangan. Dalam
hal ini keduanya lebih memandang pada peranan orang India Muslim. keduanya meyakini Islam masuk di
Nusantara pada abad ke-13. Sebaliknya teori Makkah lebih meyakini Islam masuk di Nusantara pada abad
ke-7, karena abad ke-13 dianggap sebagai saat-saat perkembangan Islam di Nusantara.

 Dalam melihat sumber negara yang mempengaruhi Islam di Nusantara, teori Makkah lebih berpendirian
pada Makkah dan Mesir dengan mendasarkan tinjauannya pada besarnya pengaruh madzhab Syafi'i di
Indonesia. Sedangkan teori Persia, meskipun mengakui pengaruh madzhab Syafi'i di Indonesia tetapi, bagi
teori ini, hal itu merupakan pengaruh madzhab Syafi'i yang berkembang di Malabar, oleh karena itu teori
ini lebih menunjuk India sebagai negara asal Islam Indonesia.

Walaupun dari analisa perbandingan di atas ketiga teori tersebut lebih menampakkan tajamnya
perbedaan dari pada persamaan, namun ada titik temu yang bisa disimpulkan yakni, bahwa :

1. Islam masuk dan berkembang melalui jalan damai (infiltrasi kultural),

2. Islam tidak mengenal adanya misi sebagaimana yang dijalankan oleh kalangan Kristen dan Katolik.

B. Cara-cara Datang dan Berkembangnya Islam di Asia


Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada beberapa yaitu:

1. Perdagangan

pada taraf permulaan saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan
pada abad ke-7 sampai ke-16 M membuat pedagang-pedagang muslim berdatangan dari berbagai negeri.
Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta
dalam kegiatan perdagangan. Para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau Jawa, mereka
berhasil mendirikan masjid, sehingga jumlah mereka menjadi banyak.

2. Perkawinan

Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak
bangsawan atau anak raja karena mereka kemudian turut mempercepat proses islamisasi.

3. Tasawuf

Tasawuf dan tariqad, bersamaan dengan para pedagang ke Indonesia datang pula ulama, da’i dan
sufi pengembara dan diangkat menjadi penasehat/ pejabat di kerajaan dan kemudian kemudian para sufi
menyebarkan Islam dengan cara membentuk kader mubaliq dam melalui karya-karya tulis

4. Pendidikan

Para pedagang muslim menguasai kekuatan perekonomian dan dijadikan pusat pengembangan
pendidikan dan penyebaran Islam

5. kesenian

Penyebaran Islam dikembangkan dengan melalui seni seperti seni arsitektur dan seni kaligrafi dan
berbagai seni lain yang bercorak Islam.

6. Politik

Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam
terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Kemenangan
kerajaan Islam secara politik banyak menarik penduduk masuk Islam.

C. Tahap-tahap Perkembangan Islam


1. Kehadiran para pedagang Muslim (7 - 12 M)

Fase ini diyakini sebagai fase permulaan dari proses sosialisasi Islam di kawasan Asia, yang dimulai
dengan kontak sosial budaya antara pendatang Muslim dengan penduduk setempat.

Pada fase pertama ini, tidak ditemukan data mengenai masuknya penduduk asli ke dalam Islam. Bukti
yang cukup jelas mengenai hal ini baru diperoleh jauh kemudian, yakni pada permulaan abad ke-13 M / 7
H. Sangat mungkin dalam kurun abad ke 1 sampai 4 H terdapat hubungan perkawinan antara pedagang
Muslim dengan penduduk setempat, hingga menjadikan mereka beralih menjadi Muslim. Tetapi ini baru
pada tahap dugaan.
Walaupun di Leran - Gresik, terdapat sebuah batu nisan bertuliskan Fatimah binti Maimun yang wafat
pada tahun 475 H / 1082 M. Namun dari bentuknya, nisan itu menunjukkan pola gaya hias makam dari
abad ke-16 M seperti yang ditemukan di Campa, yakni berisi tulisan yang berupa do'a-do'a kepada Allah.
2. Terbentuknya kerajaan Islam (13-16M)

Pada fase kedua ini, Islam semakin tersosialisasi dalam masyarakat Nusantara dengan mulai
terbentuknya pusat kekuasaan Islam. Pada akhir abad ke-13 kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan
Islam pertama di Indonesia merebut jalur perdagangan di Selat Malaka yang sebelumnya dikuasai oleh
kerajaan Sriwijaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada permulaan abad ke-14 berdiri kerajaan Malaka di
Semenanjung Malaysia.

Sultan Mansyur Syah (w. 1477 M) adalah sultan keenam Kerajaan Malaka yang membuat Islam sangat
berkembang di Pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaka. Di bagian lain, di Jawa saat itu sudah
memperlihatkan bukti kuatnya peranan kelompok Masyarakat Muslim, terutama di pesisir utara.
3. Pelembagaan Islam

Pada fase ini sosialisasi Islam semakin tak terbendung lagi masuk ke pusat-pusat kekuasaan,
merembes terus sampai hampir ke seluruh wilayah. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari peranan para
penyebar dan pengajar Islam. Mereka menduduki berbagai jabatan dalam struktur birokrasi kerajaan, dan
banyak diantara mereka menikah dengan penduduk pribumi. Dengan kata lain, Islam dikukuhkan di pusat-
pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi,
di samping dengan sosialisasi langsung pada masyarakat bawah. Pengaruh islamisasi yang pada awalnya
hanya berpusat di satu tempat telah jauh meluas ke wilayah-wilayah lain di Asia.

Islam Begitu cepat berkembang dan dapat diterima dengan baik di masyarakat karena Dalam Penyebaran
dan perkembangannya, dengan jalan damai. tidak pernah ada ekspedisi militer ataupun kekerasan untuk
islamisasi ini.

D. Pengaruh Islam di Asia


Islam begitu berpengaruh di kawasan Asia, adapun beberapa pengaruh islam adalah sebagai berikut
:

1. Sistem Pemerintahan

 Wujudnya institusi kesultanan Islam di beberapa Negara.

 Ulama menjadi penasehat bagi Raja/sultan

 Islam sebagai agama resmi dan mayoritas.

 Undang-undang berlandaskan hukum islam

 Wujudnya semangat jihad


2. Sistem Pendidikan

 Pendidikan islam disampaikan kepada semua lapisan masyarakat

 Sekolah, pesantren, madrasah, dan Mesjid sebagai institusi pendidikan dan Basis Islam

3. Cara hidup

 Penggunaan Pakaian yang menutup aurat

 Mengamalkan konseppersaudaraan sesama Islam

 Persamaan taraf sesamamanusia

 Sifat tolong-menolong, hormat menghormati, dan amalan bergotong-royong

4. Bahasa dan Kesusastraan

 Bentuk tulisan arab melayu

 Banyak istilah Arab digunakan dalam bahasa Melayu

 Hasil kesusasteraan Melayu terpengaruh dengan gaya dan tatabahasa Arab

 Bentuk sastera Melayu dipengaruhi, bentuk sastera Islam

5. Kesenian

 Seni pada batu nisan dan ukiran kayu

 Seni bangunan Islam mempengaruhi bentuk masjid, kubah, mimbar, mihrab dan menara azan.

6. Ekonomi

 Terbentuknya Institusi ekonomi Islam seperti baitulmal

 Amalan zakat dan sedekah

 Amalan riba, penindasan dan penipuan dilarang dalam perdagangan


Sedangakan di Indonesia sendiri Ketika Islam datang, sebenarnya kepulauan nusantara
(Indonesia) sudah mempunyai peradaban yang bersumber kebudayaan asli pengaruh dari peradaban
hindu-budha di India. Meskipun demikian Islam cepat menyebar. Hal ini disebbkan Islam yang dibawa oleh
kaum pedagang maupun para Da’i dan ulama masa awal, mereka semua menyiarkan suatu rangkaian
ajaran dan cara serta gaya gaya hidup yang secara kuantitatif lebih maju dari peradaban yang ada. Bukti-
bukti Perkembangan peradaban dan keagamaan di Indonesia adalah :

a. Sebelum Kemerdekaan

Sebelum Indonesia merdeka Islam telah berkembang dan mempunyai peradaban yang
mencerminkan kemuliaan agama Islam, diantaranya adalah:

1. adanya birokrasi keagamaan, dimana kedudukan ulama sebagai penasehat raja, terutama dalam bidang
keagamaan terdapat di kerajaan-kerajaan Islam

2. ulama dan ilmu-ilmu keagamaan, Penyebaran dan pertumbuhan kebudayaan Islam di Indonesia terletak
di pundak para ulama. Ada dua cara yang dilakukan para ulama dalam pengembangan ilmu-ilmu
keagamaan, yaitu: membentuk kader-kader ulama dan menyebarkan karya-karya ke berbagai tempat
yang jauh

3. adanya arsitek bangunan yang menghasilkan seni-seni bangunan yang bercorak Islam seperti masjid,
ukiran, candi dan sebagainya.

b. Setelah Kemerdekaan

1. berdirinya departemen agama

2. berdirinya lembaga-lembaga pendidikan

3. adanya hukum Islam

4. terlaksananya haji

5. berdirinya majelis ulama Indonesia (MUI)


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Islam masuk dan berkembang dengan jalan damai, Beberapa teori masuk tentang masuknya
islam di Asia :

 Teori islam datang ke Asia melalui arab

 Teori islam datang ke Asia melalui cina

 Teori islam datang ke Asia melalui india/gujarat

Saluran-saluran islamisasi yang berkembang yaitu:

 saluran perdagangan

 saluran perkawinan

 saluran tasawuf

 saluran pendidikan

 saluran kesenian

 saluran politik

Kedatangan islam membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan social, ekonomi maupun
politik di kawasan Asia.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan,
baik dari segi isi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis
sangat berharap ada kritikan dan saran yang sifatnya untuk membangun. Terakhir penulis berharap,
semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis begitu juga pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

1. Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

2. A. Hasjmi (ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Al-Maarif, Jakarta, 1981,
p.375.

3. . http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Asia_Tenggara

4. . http://www.yahoo.com/islammalaysia/panduasia/e-01lamd/ep-lan-12.html
5. . http://www.scribd.com/

makalah perkembangan islam di benua asia


HASBIAH DENG FUJI,19 MARET 2013
MAMUJU/SULBAR

(PERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DI BENUA ASIA)


OLEH:KELOMPOK III
HASBIA B.
AYUNI KARTIKA
MANSYUR
IWAN
KUSNADI
KURNIA
NANDA RISKA

{MADRASAH ALIYAH NEGERI MAN MAMUJU}


TAPEL 2012/2013

KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa yang telah
memberikan petunjuk dan kemudahan untuk mengerjakan tugas
makalah ini,materi yang disajikan dalam makalah ini
adalah PERKEMBANGAN ISLAM DI BENUA ASIA.
Dalam pembuatan makalah ini kami dan rekan-rekan tidak mengalami
suatu kendala apapun,kami dan teman-teman mengucapakan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang memberikan pemikiran dalam
penyusan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi si pembaca,dan kami


mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan dari makalah ini.

TERIMA KASIH

MAMUJU,10 februari 2013


DAFTAR ISI
Kata Pengantar..............................................................
Daftar Isi.........................................................................

BAB I
Latar Belakang.........................................................
Rumusan masalah....................................................
Tujuan.......................................................................
BAB II
Pembahasan..............................................................
A.perkembangan Islam di benua Asia......................
BAB III
Penutup........................................................................
Kesimpulan..................................................................
Saran............................................................................
BAB I
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang pada saat ini sudah menyebar ke seluruh benua yaitu termasuk
benua Asea. Karena memang didalam ajaran islam itu sendiri menuntut kepada orang yang
memeluk agama islam untuk menyebarkannya kepada umat-umat yang lainnya yang belum kenal
islam, di dalam islam pun ajaranya mudah dimengerti sesuai rasional dan juga banyak bukti-bukti
alam bahwa agama islam adalah agama yang benar. Maka orang islam yang berakhlak baik
memudahkan dalam penyebaranya agar penduduk sekitar yang non islam mau menerima ,
mengikuti, dan masuk agama islam.
Salah satu fakta tentang orang yang paling berpenggaruh diseluruh dunia nomor satu adalah
nabi kita rosulullah Muhammad saw. Beliau menyebarkan islam sendirian dimekkah yang saat itu
penduduknya jahiliyah dan kemudian berubah menjadi masyarakat yang berakhlak baik dengan
memeluk agama islam yang dibawa oleh nabi. Dari sinilah sejarah penyebaran islam semakin luas
ke seluruh dunia hingga sampai ke Indonesia, lalu ke jawa timur, menyebar ke lamongan dan
sampai ke desa paciran ini.

B.Rumusan Masalah
Adapun masalah yang ingin saya bahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. meneladani perkembangan agama islam di benua Asia.
2. Meneladani Rintangan dan masalah yang di hadapi oleh para pemeluk agama islam dalam mengamalkan ajaran
agama islam di berbagai negara.

C. Tujuan
1. Menambah pengetahuan tentang bagaimana penyebaran islam di Asia Tenggara.
2.Menumbuhkan kesadaran bahwa betapa beratnya penyebaran islam ke seluruh dunia
3.Mendorong orang agar menceritakan kepada yang lain yang belum tau sejarah islam.
4. Memotifasi kalangan umat islam untuk ikut serta menyebarkan ajaran islam ke pelosok yang
belum mengenal islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Perkembangan Islam di Benua Asia
Agama Islam di Asia.Perlu diketahui bahwa Pakistan merupakan Negara yang memisahkan
diri dari India. Pada Abad ke- 13 s/d 15 agama Islam berkembang dengan pesat di India, dengan
bukti adanya kerajaan-kerajaan Islam di India dan bangunan-bangunan tempat ibadah.
Pada waktu kritis Kerajaan Moghul, para pedagang Belanda, Prancis, Inggeris dan Portugis masuk
India. Kemudian pada perkembangan selanjutnya India resmi dijajah Inggeris. Pada tahun 1947,
Inggeris memberi kemerdekaan kepada India dan sekaligus berakhirnya kejayaan Islam di India.
Pada tahun itu juga umat Islam kemudian mendirikan negara baru yang terpisah dari India, yaitu
Pakistan. Arti penting negara ini dalam sejarah dan perkembangan Islam terutama disebabkan dua
hal. Pertama, perjuangan politiknya berlangsung pada waktu yang sama dengan perjuangan orang
Hindu di India. Perjuangan itu bertujuan untuk mendirikan negara tersendiri bagi umat Islam.
Kedua, Pakistan berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat serta
berhasil melahirkan sejumlah lembaga pengkajian Islam dan intelektual muslim berkaliber
international.islam di Pakistan dapat berkembang dengan pesat sehingga Pakistan merupakan
negara dengan penduduk Islam terbesar kedua di dunia. Bahkan hukum Islam telah diperlakukan
di Pakistan. Sayid Qutub, tokoh Ihkwanul Muslim Mesir, pernah mengatakan bahwa kini telah
muncul dua kekuatan besar Islam, yakni Indonesia (Asia Tenggara) dan Pakistan (Asia Selatan).
Kekuatan militer negara Pakistan ini juga diperhitungkan oleh dunia dengan adanya dugaan bahwa
negara Pakistan mempunyai kemampuan persenjataan nuklir. Bahkan, Amerika menilai Pakistan,
sebagai negara ”Bom Islaam” (Islamic Bomb).
Ide tentang pembentukan negara tersendiri bagi Umat Islam, bermula dari Sayid Ahmad
Khan, kemudian dicetuskan oleh Muhammad Iqbal dan akhirnya direlisasi oleh Muhammad Ali
Jinnah. Pada tahun 1947 Inggis menyerahkan kedaulatan kepada dua Dewan konstitusi, yaitu
tanggal 14 Agustus 1947 untuk Pakistan dan tanggal 15 Agustus bagi India. Sejak itulah Pakistan
lahir sebagai negara Islam. Muhammad Ali Jinnah diangkat sebagai gubernur jendral dengan gelar
”Quaidi-Azam” atau pemimpin besar.
Sejak berdirinya negara Pakistan, umat Islam mencoba menerapkan konsep Islam
sebenarnya negara Islam itu. Persoalan itu merupakan bahan polemik yang berkepanjangan di
pemerintahan diajukan oleh Majelis Nasional dengan berpedoman kepada Rancangan Undang-
Undang hasil sidang Liga muslim pada bulan Maret 1940, yaitu harus sesuai dengan Al-Qur’an
dan hadist.

Sistem pemerintahan yang dirumuskan Liga Muslim tahun 1940 itu disahkan menjadi
konstitusi tahun 1956. Dalam konstitusi itu negara bernama”Republik Islam Pakistan”. Konstitusi
ini kemudian ditinjau kembali sehingga lahir konstitusi tahun 1962, yang cara Iantara lain
menghilangkan kata ”Islam” dan sebagai imbalannya mendirikan dua lembaga, yaitu Dewan
Penasihat Ideologi Islam dan Lembaga Penelitian Islam. Hal ini terjadi
2. Agama Islam di India
Sebelum agama Islam lahir di Arab, antara bangsa arab dengan bangsa India sudah
saling mengenal. Dengan bukti adanya peninggalan pedang Arab yang disebut”Saif Muhannad”
artinya pedang yang di tempa secara India. Kemudian adanya perkataan ” Handasah” yang artinya
ilmu ukur yang diambil dari kata ”Hindu”Setelah agama islam lahir yang mengenalkan islam
keIndia adalah Khalifah Umar bin Khattab
1. Pada tahun 16 H (636 M) Khalifah Umar mengirimkan pasukan ke Persia di
bawah pimpinan Saad bin Abi Waqas. Beliau berjuang selama 16 tahun, akhirnya dapat
menguasai seluruh Persi kemudian diperluas ke Khurasan kemudian diteruskan ke India.
2. Pada masa Khalifah Usman, dikirim lah Hakim bin Jabalah ke India, untuk
menjelajahi mengenal negeri India yang luas itu.
3. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, tahun 38 H (659 M) Al Harrits Murrah Al
Abdi ke India untuk mengyelidiki jalan-jalan India, ilmu pengetahuan dan adat istiadat
India.
Masuknya Islam di India dilakukan Khalifah arrasydin dengan cara damai. Tetspi
masuknya Islam ke India dilakukan oleh bani Umayah dengan jalan lain. Pasukan Islam masuk ke
India di mulai pada zaman pemerintahan Umayah yang berpusat di Damaskus.
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa agama Islam masuk ke India pada abad ke-7.
kemudian agama Islam dapat berkembang dengan pesatnya di India, dan pedagang-pedagang
Islam India atau Gujarat yang membawa Islam ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia,
Malaka, Singapura, dan sebagainya.Bukti berkembangnya Islam di India dengan berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam serta peninggalannya.Kerajaan-kerajaan Islam di India.
1.Kerajaan Sabaktakin
Kerajaan ini berdiri di Ghazwah wilayah Afganistan di bawah pimpinan Sabaktakin. Beliau
mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan.
2.Kerajaan Ghazi
Kerajaan Ghazi didirikan oleh Aliudin Hudain bin Husain (555 H / 1186 M), di Furoskoh, lereng
gunung Afganistan. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad Abdul
Muzafar bin husain Al Ghazi. Beliau memberi kemerdekaan orang-orang Hindu dan berbuat baik
terhadap budak-budak.
3.Kerjaan Mameluk
Raja dari budak belian ini menyebarkan agama Islam di India. Beliau mendirikan masjid raya di
Delhi yang diberi nama ”Jami” dan menara yang tinggi dengan nama ”Qhutub Manar” sekarang
menjadi objek wisata
4. Kerajaan keturunan Kilji
Kerajaan ini berdiri setelah menaklukan Kerajaan Mameluk dan sultannya bernama Alaudin dari
Afganistan. Beliau tidak lama memerintah, karena muncul kerajaan baru dari keturunan Taghlak
dari Turki.
5. Kerjaan Taghlak
Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir di India sebelum datangnya bangsa Mongol. Diantara
rajanya ialah Muhammad bin Taghlah dan Firus Syah. Setelah kerajaan Taghlak berdiri, kemudian
berdirilah kerajaan Mongol Islam di India dengan raja-rajanya antara lain: Babur (1504-1530 M),
Humayun (1530-1550 M), Akbar Agung (1556-1605 M), Jikangir (1605-1627 M) dan syah Jihan
(1627-1657 M) yang mecapai puncak kejayaannya. Syah Jihan membangun ”Taj Mahal” di Agra
sebagai penghormatannya kepada permaisurinya yang cantik dan dicintainya. Pembangunan Taj
Mahal menelan waktu selama 22 tahun dengan tenaga 20.000 orang
Jadi, di India pernah menjadi kejayaan Islam. Meskipun begitu, hingga sekarang umat
Islam di India berposisi sebagai minoritas. Sejumlah khasanah Islam dikuasai umat Hindu dan
dijadikan objek wisata. Umat Islam di India sekarang sekitar 100 juta jiwa yang berarti India
negara ketiga terbesar yang berpenduduk muslim, setelah Indonesia dan Pakistan. Umat Islam di
India nasibnya juga sama dengan dinegara-negara lain yang umat uslamnya minoritas, merka
ditekan, ditindas penguasa ataupun umat non muslim (Hindu) yang minoritas. Sebagai contoh,
penghancuran masjid Babri, Ayodhia, India pada bulan desember 1992. di Bombay terjadi
pembunuhan besar-besaran terhadap sekitar 100 ribu jiwa, oleh partai ekstremis hindu yang
berkuasa. Ribuan bangunan bersejarah yang dibangun raja-raja Islam kini menjadi puing yang
mengenaskan, kemudian dijadikan objek wisata oelh umat Hindu.
Perlu diketahui, bahwa di India pernah lahir para pemikir handal seperti, Muhammad Iqbal,
Syah Waliullah, Muhammad Ali Jinnah, Sayyid Ahmad Khan, Abdul Kadir Azad dan Sayi Amer
Ali.
3. Agama Islam Di Rusia
Agama Islam masuk ke Rusia pada waktu Dinasti Yuan yang berkuasa, kemudian bangkitlah
kaum revolusioner muslim untuk menumbangkan dinasti Yuan (1279-1368 M). Setelah dinasti
Yuan lalu diganti dengan dinasti Ming. Di bawah kekuasaan Ming, Islam menduduki jabatan
penting antara lain, kemiliteran, keintelekan, dan administrasi pemerintahan. Bahkan, seorang
muslim yang bernama Sang Yu Chuin menjabat sebagai penasehat agung Kaisar Ming yang
pertama dan bernama Hung Yer.
Tatkala Dinasti Yuan masih berkuasa, Kaisar Barkah Khan memeluk Islam. Dengan
Islamnya Barkah Khan maka suku Dzahabieh (kelompok orang mongol) banyak yang masuk
Islam.
Pada tahun 1313-1340 M, suku Dzahabieh dipimpin oleh Uzbek Khan yang berusaha
mengislamkan seluruh suku Dzahabieh. Kemudian beliau membuat strategi untuk menyebar
luaskan Islam ke seluruh wilayah Rusia. Peninggalan Islam di Rusia antara lain, bangunan-
bangunan tempat beribadah/masjid. Tetapi, keadaan di Rusia sekarang sudah lain karena
pemerintahannya berpaham komunis sehingga benci dan ingin membinasakan Islam dari wilayah
kekuasaan Rusia. Seperti yang dialami muslim Chechnya akhir-akhir ini akibat dari keganasan
tentara komunis Rusia. Chechnya adalah negara kecil di kawsan kaukasus, Rusia yang
berpenduduk 1,5 juta dan mayoritas beragama Islam. Presidennya yang bernama Dzhokar Dudayef
adalah seorang muslim yang taat.
Sejak tanggal 11 Desember 1994, pasukan Rusia melakukan agresi besar-besaran terhadap
Chechnya dan berhasil merebut istana keprisedenan Chechnya, yang merupakan perlawanan dan
kemerdekaan Chechnya. Meskipun rumah-rumah mereka hancur, tetesan darah dan air mata
tumpah di bumi Islam Chechnya, mereka tetap berjuang melanjutkan perjuangan terhadap
komunis dan siap mati untuk agama Islam dan negaranya.

4. Agama Islam di Afganistan


Afganistan adalah negara Republik di Asia Tengah. Pada tahun 1991, Afganistan
berpenduduk 16.922.000 dan 99 % beragama Islam. Bahasa tresminya adalah Pushu, ibukotanya
Kabul dan mata uangnya Afgani.
Agama Islam masuk ke Afganistan, yaiti sejak masuknya Asim bin Umar Affamini pada
masuk Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa Khalifah Usman bin Affan, Islam telah masuk ke
Kabul, dan pada tahun 870 M Islam telah mengakar di seluruh negeri Afganistan. Perkembangan
Islam di Afganistan selanjutnya berjalan dengan pesat, tidak ada hamnbatan-hambnatan, dengan
bukti penduduk Afganistna 99 % beragama Islam.
Agama Islam sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka dan apabila hal
ini terusik, maka mereka akan marah dan terus berjuang untuk mempertahankannya seperti yang
kita lihat dalam perjuangan gerliyawan muslim mujahidin menentang pemerintah yang
prokomunis. Terjadinya perang saudara di Afganistan disebabkan masuknya pengaruh Amerika
dan Uni sofyet (komunis) ke Afganistan.
Pada tahun 1933 muhammad Zahir Syah naik sebagai raja, kemudian Amerika Serikat da
Uni Sofyet berusaha menanamkan pengaruhnya. Tahun 1953, Raja Zahir mengangkat Muhammad
Daud (kader komunis) sebagai perdana menteri. Melihat keadaan seperti ini, umat Islam menilai
bahwa pemerintah Afganistan telah jauh menyimpang dari ajaran Islam. Kemudian umat Islam
mulai bergerak, yaitu dengan munculnya organisasi Perjuangan Gabungan Muslim yang bernama
”Juanan Muslim” kemudian pada tahun 1968 berubah nama menjadi Al-Jamiah Al-Islamiyah di
bawah pimpinan Burhanudin Rabbani.
Uni Sofyet semakin marah melhat perkembangan Islam itu. Kemudian pada tahun 1972 di
bawah pengaruh Uni Sofyet, Muhammad Daud menggantikan Zair. Pada tahun 1978 Daud tewas
dibunuh dan diganti oelh Nur Taraki sebagai Presiden. Pada waktu itu,para ulama mengeluarkan
fatwa untuk mengutuk dan mengafirkan Taraki dan mewajibkan perang jihad untuk
menggulingkannya. Akibatnya timbul perjuangan mujahidin Afganistan. Kemudian pada tahun
1970 Uni Sofyet memasuki Afganistan dengan membawa presiden bonekanya, Babrak Kamal.
Perbuatan itu mendapat kutukan internasional, antara lain Presiden Jimmy Carter yang memboikot
Olimpiade Moskwa, dan banyak penduduk yang mengungsi ke Pakistan. Perjuangan mujahidin
semakin kuat dengan bergabungnya tujuh organisasi menjadi satu dengan nama ”Persatuan
Mujahidin Islam Afganistan” denagn tujuan menegakkan kalimat Allah SWT. Memerdekakan
negara Afganistan dari kekuasaan kafir dan komunis dengan mendirikan pemerintahan Islam di
Afganistan. Sebagai komando tertinggi ialah Abdul Rabbani Rasul Saiyat.
Pada tahun 1987 peperangan memuncak, dengan bantuan senjata dari Amerika dan Inggris,
dan berakhir dengan Uni Sofyet menderita kerugian besar. Akhirnya, pada tahun 1989 Uni Sofyet
menarik seluruh tentaranya dari Afganistan. Pejuang mujahidin terus melawn pemerintah
Najibullah (sejak 1987), karena para ulama mengeluarkan fatwa bahwa rezim tersebut adalah kafir
dan mati dalam peperangan melawan rezim adalah mati syahid. Ulama-ulama terkenal yang lahir
di Afganistan, Ibnu Hibban Al-Basti (ulama Hadis dan Fiqih: 342 H/952 M), Abu Bakar Ahmad
Al-Baihaqi (penulis buku sejarah abad ke-14), dan sebagai penggerak Pan Islamisme (abad 19) di
Afganistan bernama Said Jamaluddin Al Afgani.
5. Agama Islam di RRC
Agama Islam masuk ke Wilayah Cina sekitar abad ke-10, yaitu langsung dari bangsa Arab
dan para saudagar yang datang dari India. Agama Islam masuk ke Cina dengan melalui
perdagangan darat dan laut yang disebut jalan sutera. Adapun pertama kali terjadinya penyebaran
Islam di Cina yaitu pada masa Dinasti Tang.

Melalui pergaulan, perdagangan dan dengan pernikahan pedagang Arab dengan penduduk
asli Cina, kemudian masuk Islamlah mereka. Orang-orang India yang mengembara ke Indonesia,
Malaysia, kadang-kang singgah di Cina. Ketika singgah di cina mereka (orang-orang India)
menyebarkan agama Islam kepada penduduk asli Cina, dan orang-orang yang memeluk Islam
sudah banyak yang bertempat tinggal di Cina.
H. Muhammad You Nusi Maliangjie (68) adalah salah satu pemimpin Islam di cina yang
pernah berkunjung ke Indonesia. Beliau Imam besar Chin Cheen The She (Mesjid Agung) di RRC
Tengah, salah satu delapan masjid terbesar di Cina. Masjid tersebut dibangun 1300 tahun yang lalu
perpaduan khasanah arsitektur Islam dan Cina dan mampu menampung 8000 jamaah.

Menurut you nusi, jumlah umat Islam di Cina sekarang sekitar 20 juta. Agama Islam di Cina
dapat berkembang dengan pesat, meskipun negara itu menganut komunis. Jumlah muslim yang
menunaikan Ibadah Haji tiap tahun selalu meningkat, dan pada tahun 1994 mencapai 2000 orang.
Ada satu kendala yang dirasakan umat Islam dalam pengembangannya, yaitu sistem komunisme
yang membolehkan rakyatnya berproganda anti agama.

6. Agama Islam di Negara-Negara ASEAN


.Agama Islam di Indonesia
Mengenai perkembangan Islam di Indonesia kan dibahas khusus pada bab Perkembangan
Islam di Indonesia. Karena itu, paa pembahasan kali ini, hanya kami tulis secara singkat. Agama
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dibawa oleh pedagang Islam dari Arab, Gujarat dan
Malabar. Cara menyiarkan Islam dengan damai tidak dengan kekerasan atau paksaan. Adapun
daerah-daerah yang mula-mula dimasuki Islam ialah Sumatera bagian Utara, sumatera Barat dan
Jawa Tengah.
Perkembangan Islam di Sumatera dapat pesat setelah kerajaan Sriwijaya mengalami
kemunduran, terutama di Samudera Pasai. Dari Samudera Pasai Islam berkembang ke Malaka,
Minangkabau, Riau, Tapanuli dan lain-lainnya.
Agama Islam masuk ke Jawa pada masa pemerintahan Ratu Sima (674 M) dan Islam dapat
berkembang dengan pesatnya setelah kerajaan Hindu di Majapahit mengalami kemerosotan.
Adapaun yang sanagt berperan dan berjasa menyiarkan agama Islam ke seleruh pelosok Jawa ialah
Wali Songo.
Sedangkan perkembangan agama Islam di Sulawesi tidak sepesat seperti di Sumatera dan
Jawa, karena adanya pertentangan Islam dengan kerajaan yang belum Islam demi kepentingan
politik.
Adapun perkembangan Islam di Kalimantan sangat pesat, sejak Sultan Suryanullah tahun
1550 M. Demak mengirimkan para penghulu untuk mengajar agama Islam kepada masyarakat
Kalimantan. Agama Islam berkembang di Kutai ± tahun 157 M, di Brunei sejak abad Ke-15, di
Kalimantan Barat sejak tahun 1550 M , dan kepada suku Dayak tahun 1677 M. Bersamaan dengan
berkembangnya agama Islam maka berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia antara lain di
Demak, Pajang, Mataram, Banten, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

Agama Islam di Indonesia dapat berkembang dengan baik dan pesat. Hal itu terbukti sekitar
88 % (1985) penduduk menganut agama Islam, kemudian tempat-tempat ibadah banyak dibangun
disetiap kota-kota, desa dan lain sebagainya. Tempat-tempat pengajian, tempat-tempat TPA atau
Taman Pendidikan Al-qur’an hampir di setiap kampung ada. Disamping itu, pada hari raya Idul
Fitri, hari raya Qurban kita dapat menyaksikan orang Islam berduyun-duyun ke lapangan untuk
shalat. Juga dalam pembagian zakat fitrah, penyembelihan hewan kurban dan pelaksanaan ibadah
haji, yang tiap tahun calon jamaah haji Indonesia selalu bertambah dan untuk tahun 1995 calon
haji (yang mendaftar) samapai 240.000 orang sehingga melebihi kuota.
Maraknya jilbab di sekolah-sekolah dan kampus-kampus perguruan tinggi, maraknya
gerakan dakwah kampus, lahirnya organisasi remaja masjid, pesantren-pesantren kilat pada masa
liburan sekolah, lahirnya ICMI, Bank Muamalat, Asuransi Islam dan sebagainya. Semua itu,
menunjukan bahwa agama Islam dapat berkembang baik di Indonesia.

b. Agama Islam di Singapura


Perkembangan Islam di singapura boleh dikatakan tidak ada hambatan, baik dari segi politik
maupun birokratis. Muslim di Singapura ± 15 % dari jumlah penduduk, yaitu ± 476.000 orang
Islam. Sebagai temapt pusat kegiatan Islam ada ± 80 masjid yang ada di sana. Pada tanggal 1 Juli
1968, dibentuklah MUIS (majelis Ulama Islam Singapura) yang mempunyai tanggung jawab atas
aktivitas keagamaan, kesehatan, pendidikan, perekonomian, kemasyarakatan dan kebudayaan
Islam.
.Agama Islam di Thailand
Agama Islam masuk ke Thailand dengan melalui Kerajaan Pasai (Aceh). Ketika Kerajaan
Pasai ditaklukan Thailand, raja Zainal Abidin dan orang-orang Islam banyak yang ditawan. Setelah
mereka membayar tebusan mereka dikeluarkan dari tawanan, dan para tawanan tersebut ada yang
pulang dan ada juga yang menetapa di Thailand, sehingga mereka menyebarkan agama Islam.
Ketika raja Thailand menekan Sultan Muzaffar Syah (1424-1444) dari Malak agar tetap
tuduk kepada Thailand dengan membayar upeti sebanyak 40 tahil emas per tahun ditolaknya,
kemudian Raja Pra Chan Wadi menyerang Malaka, tetapi penyerangan tersebut gagal. Pada masa
pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1444-1477) tentara Thailand di Pahang dapat dibersihkan.
Wakil Raja Thailand yang bernama Dewa Sure dapat ditahan, tetapi beliau diperlakukan dengan
baik. Bahkan, puterinya diambil istri oleh Mansyur Syah untuk menghilangkan permusuhan antara
Thailand dengan Malaka. Pada akhir-akhir ini, muslim Pattani cukup lama mendapat tekanan dan
penindasan dari rezim Bangkok yang memeluk Budha
d. Agama Islam di Filipina
Berdasarkan catatan Kapten Tomas Forst tahun 1775 M, ada orang Arab yang mula-mula
masuk pulau Mindanau (Filiphina) adalah Mubalig yang bernama Kebungsuan pada abad ke-15
M. Sedangkan yang menyebarkan agama Islam di pulau sulu ialah Sayid Abdul Aziz (Sidi Abdul
Aziz) dari Jeddah. Ulama ini juga mengislamkan raja Malaka pertama yang semula beragama
Hindu, yakni Permaisura diganti dengan Muhammad Syah. Kemudian yang disusun dengan
mubalig Abu Bakar yang menyebarkan Islam ke Pulau Sulu, Pulau Luzon dan sebagainya.
Muslim di Filipina adalah minoritas dan nasib mereka sekarang sangat memprihatinkan.
Seperti nasib muslim di Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, di situ umat Islam mendapat
gangguan, tekanan bahkan pembasmian dari pihak-pihak yang memusuhinya. Hingga kini muslim
Moro terus berjuang untuk memperoleh otonomi karena mereka selalu ditindas dan diperlakukan
sebagai warga kelas dua oleh pemerintah Manila. Oleh karena itu, muslim Moro terus berjuang
mempertahankan diri, agama dan identitas sebagai muslim.

. Agama Islam di Malaysia (Malaka)


Sekitar abad ke-14 agama Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh pedagang dari Arab, Persia,
Gujarat dan Malabar. Disamping itu, ada seorang ulama bernama Sidi Abdul Aziz dari Jeddah
yang mengislamkan pejabat pemerintah Malaka dan kemudian terbentuklah kerjaan Islam di
Malaka dengan rajanya yang pertama Sultan Permaisura. Setelah beliau wafat diganti oleh Sultan
Iskandar Syah dan penyiaran Islam bertambah maju, pada masa Sultan Mansyur Syah (1414-1477
M). Sultan suka menyambung tali persahabatan dengan kerajaan lain seperti Syam, Majapahit, dan
Tiongkok.
Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah I, sebagai
pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari Kampar ke Johor
(Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai Sultan Johor yang pertama dan
negeri Johor makin nertambah ramai dengan datangnya para pedagang dan pendatang. Sampai
sekarang perkembangan agama Islam di Malaysia makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti
banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji yang
begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan Islam di Malaysia, tidak ada
hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya bahwa Islam merupakan agama resmi
negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah
negara bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS) yang
berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS dipimpin oleh Nik Mat Nik
Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.
. Agama Islam di Brunei Darussalam
Agama Islam di Brunei dapat berkembang dengan baik tanpa ada hambatan-hambatan. Bahkan,
agama Islam di Brunei merupakan agama resmi negara. Untuk pengembangan agama Islam lebih
lanjut telah didatangkan ulama-ulama dari luar negeri, termasuk dari Indonesia. Masjid-masjid
banyak didirikan. Umat Islam di Brunei menikmati kehidupan yang benar-benar sejahtrera sesuai
dengan namanya Darussalam (negeri yang damai).
Pendapatan perkapita negara ini termasuk tertinggi di dunia. Pendidikan dan perawatan kesehatan
diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Negara Brunei Darussalam merupakan negara
termuda di Asia Tenggara (merdeka tahun 1984 dari Inggris). Penduduk Brunei Darussalam
mayoritas beragama Islam.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan islam di negara-negara yang terdapat
dibenua asea sangatlah tidak mudah, banyak rintangan dan masalah seiring dengan masuk dan
berkembangnya islam di negara tersebut. Umat Islam menghadapi tantangan berat. Kendati
pertumbuhan dan perkembangan umat Islam meningkat, namun tantangan yang mereka hadapi
sangat berat. Penyebabnya adalah munculnya gerakan Islamophobia atau kebencian terhadap
Islam
B. Saran
Dengan melihat perjuangan para tokoh terdahulu dalam menyebarkan agama islam.Sebagai umat
islam kita harus menjunjung tinggi syi’ar agama islam dimanapun dan kapanpun. Tidak pantang
menyerah dan mudah putus asa dalam mengajarkannya.