MAKALAH
KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN ISLAM DI ASIA
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
DISUSUN OLEH KELOMPO 1 :
1. ATIYAH
2. DIKI AUDIKA
3. DINDA PUTRI RAHAYU
4. IRHANA
5. PHILIO MUHAMMAD
6. NATALIA OKTAVIANI M
7. TIAS ARIYANI
KELAS XII IPS 2
SMA NEGERI 1 KANDANGHAR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang pada saat ini sudah menyebar ke seluruh Benua dan Negara
yang ada dipermukaan bumi ini. Karena memang didalam ajaran Islam itu sendiri memberikan
kebebasan kepada orang yang memeluk agama Islam untuk menyebarkannya kepada umat-umat
yang lainnya yang belum kenal Islam, di dalam Islam pun ajaranya mudah dimengerti sesuai
rasional dan juga banyak bukti-bukti alam bahwa agama Islam adalah agama yang benar.
Maka orang Islam yang berakhlak baik memudahkan dalam penyebaranya agar penduduk sekitar
yang non Islam mau menerima, mengikuti, dan masuk agama Islam.
Salah satu fakta tentang orang yang paling berpengaruh diseluruh dunia adalah Nabi kita
Rasulullah Muhammad Shallallahu‘alaihiwasallam. Beliau menyebarkan Islam di Mekkah yang
saat itu penduduknya jahiliyah dan kemudian berubah menjadi masyarakat yang berakhlak baik
dengan memeluk Agama Islam yang dibawa oleh beliau. Dari sinilah sejarah penyebaran Islam
semakin luas ke seluruh dunia hingga sampai ke Benua Asia. Sebagaimana Islam telah menyebar
dari Timur Tengah menuju Asia Tengah dan dari Afghanistan menuju India, maka Islam
menyebar dari berbagai wilayah di India dan Arabia ke semenanjung Malaya dan kepulauan
Indonesia. Islam dikenalkan ke wilayah Asia Tenggara dan berkembang dalam bentuk berbeda
jika dibandingkan dengan bentuknya yang berkembang di Timur Tengah dan anak benua India.
Sementara pada beberapa daerah Islam disebarkan melalui penakhlukan Arab dan Turki, tetapi di
Asia Tenggara Islam disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan Sufi.1[1]
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir
semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para
pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5
sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang
berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir.
Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk
menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.2[2]
1[1] Ira. M. Lapidus, Sejarah sosial Ummat Islam. Bagian kesatu dan dua, ( Yogyakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2000 ), cet. II, hal. 717
2[2] Ira. M. Lapidus, Sejarah…, hal 172
Kemudian seiring berjalanya waktu dari penyebaran Islam di Mekkah sampai ke penjuru
dunia, maka para pakar sejarah melakukan penelitian dan menceritakan dalam buku seperti apa
perjalanan penyebaran Islam itu hingga bisa mencapai ke setiap Negara. Sebenarnya para ahli
sejarah yang telah menggungkapkan seperti apa perjalanan penyebaran Islam ada yang berbeda-
beda pendapat, dari masalah penepatan tahun persisnya waktu kejadian tersebut, tapi pada
dasarnya semua saling melengkapi. Karena seiring dengan berkembangya teknologi di zaman
sekarang, buku-buku tentang sejarah direvisi dari kekurangan-kekurangannya, sehingga menjadi
semakin lengkap dan mudah untuk dipelajari. (Baca juga: Dinasti Bani Umayyah)
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penulis menetapkan batasan masalah dalam makalah ini
dengan pertimbangan luasnya keseluruhan Benua Asia maka agar lebih terfokus dan mudah
dipahami maka penulis membatasi masalah pada Benua Asia Tenggara.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka
penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana letak Geografis Benua Asia ?
2. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Asia ?
3. Bagaimana Teori masuknya Islam di Asia ?
4. Apakah pengaruh peradaban Islam di Asia ?
D. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan pembahasan dan penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui letak geografis Benua Asia
2. Untuk mengetahui Bagaimana sebenarnya sejarah masuknya Islam di Asia
3. Untuk mengetahui apa saja teori masuknya Islam di Asia
4. Untuk menjelaskan Apa sajakah pengaruh peradaban Islam di Asia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Letak Geografis Benua Asia
Benua Asia merupakan Benua besar dan padat penduduk terletak dibagian timur dan
belahan utara. Kemudian secara apabila dilihat dari Benua Asia Tenggara dipilah dalam dua
kelompok, Asia Tenggara Daratan yaitu: Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam. Dan
Asia Tenggara Maritim yaitu: Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura,
Timor Leste.3[3]
Secara geografis, Asia tenggara terletak pada area yang sangat strategis untuk masuknya
peradaban baru, hal ini dikarenakan:
1. Letak Asia Tenggara di tengah perjalanan Timur Barat
2. Dihubungkan dengan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
3. Adanya beberapa bandar seperti: Sriwijaya, Perlak, Pasai, Malaka, Batam, Cirebon, Makasar,
Brunei, dan Pattani.
4. Ada hubungan dengan Lautan Hindi dan Laut China Selatan Angin muson Barat Daya dan
Timur Laut, sehingga mempertemukan para pedagang.4[4]
B. Sejarah Masuknya Islam di Asia
Sejak abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan
internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh, Asia Tenggara dan
Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari
Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan
berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan
Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749). (Baca juga makalah terkait: Dinasti
Mmamalik dan Fatimiyyah)
Masuknya Islam ke berbagai wilayah di Asia termasuk di Asia tenggara tidak berada
dalam satu waktu yang bersamaan tetapi berada dalam satu kesatuan proses sejarah yang
panjang. Kerajaan-kerajaan dan wilayah itupun berada dalam situasi politik dan kondisi sosial
budaya yang berbeda-beda. Ketika sriwijaya mengembangkan kekuasaannya sekitar abad VII
3[3]Ira. M. Lapidus, Sejarah…, hal. 35
4[4] Saifudin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-
Maarif, tth), hal. 88
dan VIII, jalur selat malaka sudah ramai oleh para pedagang Muslim. Data ini diperkuat dengan
berita Cina jaman dinasti T’ang yang dapat memberikan gambaran bahwa ketika itu telah ada
masyarakat Muslim di kanfu (kanton) dan daerah Sumatera. Diperkirakan terjalinnya
perdagangan yang bersifat Internasional ketika itu juga sebagai akibat kegiatan kerajaan Cina
jaman dinasti T’ang di Asia timur dengan kerajaan Islam dibawah Bani Umayyah di bagian
Barat, dan tentunya kerajaan Sriwijaya sendiri di wilayah Asia Tenggara.
Keberadaan pedagang-pedagang di Asia Tenggara ketika itu mungkin belum memberikan
pengaruh pada kerajaan-kerajaan yang ada. Setelah pecahnya pemberontakan petani Cina Selatan
terhadap kaisar Hi-Tsung (878-889 M) yang menyebabkan banyak orang Islam di bunuh maka
mulailah mereka mencari perlindungan ke Kedah. Hal ini berarti orang Islam telah mulai
melakukan politik yang tentunya banyak membawa akibat pada kerajaan di Asia Tenggara dan
Cina. Syed Naguib al-attas mengatakan bahwa sejak abad VII orang Islam telah mendirikan
perkampungan di kanton dengan derajat keagamaan yang tinggi dan menyelenggarakan
pemerintahan perkampungan sendiri di Kedah dan Palembang.5[5]
Menurut catatan sejarah, bangsa yang pertama kali diketahui hidup di Asia Tenggara
adalah orang Dongson di Vietnam. Mereka sudah tinggal di negeri itu sejak 5000 tahun sebelum
Masehi. Disusul kemudian oleh bangsa Thai di Thailand pada 3000 tahun sebelum Masehi.
Sedangkan, bangsa Melayu tercatat mulai mengembangkan kehidupannya di Asia Tenggara pada
2500 tahun sebelum Masehi. Selanjutnya, datanglah kaum pendatang dari China, khususnya
bangsa Yunani dan lembah Yangtse, di wilayah China Selatan, kemudian bangsa India, Arab,
dan Eropa.6[6]
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah
turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China. Pada masa
pemerintahan Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari Dinasti Tang, telah datang empat orang
Muslim dari jazirah Arabia. Yang pertama, bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua
menetap dikota Chow, yang ketiga dan keempat bermukim di Coang Chow. Orang Muslim
pertama, Sa’ad bin Abi Waqqas, adalah seorang muballigh dan sahabat Nabi Muhammad SAW
5[5]Dudung Abdurrahman. Sejarah Peraadaban Islam: dari masa klasik hingga moder,
( Yogyakarta: Jurusan SPI fak. Adab Sunan Kalijaga bekerjasama dengan LESFI YOGYAKARTA, 2003), cet.
ke-1, hal. 375-376.
6[6]Saiful Muzani, Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Pustaka 3
LP3ES Indonesia, 1993), hal. 27
dalam sejarah Islam di China. Ia bukan saja mendirikan masjid di Canto, yang disebut masjid
Wa-Zhin-Zi. Karena itu, sampai sekarang kaum Muslim China membanggakan sejarah
perkembangan Islam di negeri mereka, yang dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi
Muhammad SAW sendiri, sejak abad ke-7 dan sesudahnya. Makin banyak orang Muslim
berdatangan ke negeri China baik sebagai pedagang maupun mubaligh yang secara khusus
melakukan penyebaran Islam.7[7]
Sejak abad ke-7 dan abad selanjutnya Islam telah datang di daerah bagian Timur Asia dan
Asia Tenggara. Sebagaimana dikemukakan diatas Selat Malaka sejak abad tersebut sudah
mempunyai kedudukan penting. Karena itu, para pedagang dan mubaligh Arab dan Persia yang
sampai di China Selatan juga menempuh pelayaran melalui Selat Malaka. 8[8] Kedatangan Islam
di Asia Tenggara dapat dihubungkan dengan pemberitaan dari I-Cing, seorang musafir Budha,
yang mengadakan perjalanan dengan kapal yang di sebutnya kapal Po-Sse di Canton pada tahun
671. Ia kemudian berlayar menuju arah selatan ke Bhoga (di sekitar daerah Palembang di
Sumatera Selatan). Selain pemberitaan tersebut, dalam Hsin-Ting-Shu dari masa Dinasti yang
terdapat laporan yang menceritakan orang Ta-Shih mempunyai niat untuk menyerang kerajaan
Ho-Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674). 9[9] Dari sumber tersebut, ada dua sebutan
yaitu Po-Sse dan Ta-Shih. Menurut beberapa ahli, yang dimaksud dengan Po-Sse adalah Persia
dan yang dimaksud dengan Ta-Shih adalah Arab. Jadi jelaslah bahwa orang Persia dan Arab
sudah hadir di Asia Tenggara sejak abad-7 dengan membawa ajaran Islam.10[10]
Sebelum kedatangan Islam agama-agama Hindu dan Budha adalah kepercayaan utama di
Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan di daratan (semenanjung) Asia Tenggara pada umumnya
memeluk agama Buddha, sedangkan kerajaan-kerajaan di kepulauan Melayu (Nusantara)
umumnya lebih dipengaruhi agama Hindu. Beberapa kerajaan yang berkembang di semenanjung
ini, awalnya bermula di daerah yang sekarang menjadi negara-negara Myanmar, Kamboja dan
Vietnam. Kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara pada umumnya dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu kerajaan-kerajaan agraris dan kerajaan-kerajaan maritim. Kegiatan utama
kerajaan-kerajaan agraris adalah pertanian. Mereka kebanyakan terletak di semenanjung Asia
7[7]Saiful Muzani, Pembangunan…, hal. 29.
8[8]Subaguk, Sejarah Peradan di Asia Tenggara, (Jakarta: Gelora Aksara Pratama, 2000), hal. 32
9[9]Subaguk, Sejarah…, hal. 64
10[10]Subaguk, Sejarah…, hal. 65
Tenggara. Contoh kerajaan agraris adalah Kerajaan Ayutthaya, yang terletak di delta sungai
Chao Phraya (Thailand), dan Kerajaan Khmer yang berada di Tonle Sap. Kerajaan-kerajaan
maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Kerajaan Malaka dan Kerajaan
Sriwijaya adalah contoh dari Kerajaan Maritim.11[11]
Kekuasaan dominan yang pertama kali muncul di kepulauan adalah Sriwijaya di Sumatra.
Dari abad ke-5 Masehi, Palembang sebagai ibukota Sriwijaya menjadi pelabuhan besar dan
berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan (entrepot) pada jalur Rempah-rempah (spice route).
Sriwijaya juga merupakan pusat pengaruh dan pendidikan agama Buddha yang cukup
berpengaruh. Kemajuan teknologi kelautan membuat pengaruh dan kemakmuran Sriwijaya
memudar. Kemajuan tersebut membuat para pedagang Tiongkok dan India untuk dapat secara
langsung mengirimkan barang-barang diantara keduanya.
Pulau Jawa kerap kali didominasi oleh beberapa kerajaan agraris yang saling bersaing
satu sama lain, termasuk diantaranya kerajaan-kerajaan wangsa Syailendra, Mataram Kuno dan
akhirnya Majapahit. Para pedagang Muslim mulai mengunjungi Asia Tenggara pada abad ke-12
Masehi. Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang pertama. Ketika itu, Sriwijaya telah
diambang keruntuhan akibat perselisihan internal. Kesultanan Malaka, yang didirikan oleh salah
seorang pangeran Sriwijaya, berkembang kekuasaannya dalam perlindungan Tiongkok dan
mengambil alih peranan Sriwijaya sebelumnya. Agama Islam kemudian menyebar di sekitar
kepulauan selama abad ke-13 dan abad ke-14 menggantikan agama Hindu, dimana Malaka (yang
para penguasanya telah beragama Islam) berfungsi sebagai pusat penyebarannya di wilayah ini.
Beberapa kesultanan lainnya, seperti kesultanan Brunei di Kalimantan dan kesultanan Sulu di
Filipina secara relatif mengalami sedikit hubungan dengan kerajaan-kerajaan lainnya.12[12]
C. Teori-teori Masuknya Islam di Asia
Untuk lebih memperjelas bagaimana proses masuknya agama Islam di Asia Tenggara ini,
ada 3 teori. Teori kedatangan Islam dari :
1. Teori Semenanjung Arab
Dikemukakan oleh John Crawford disokong Syed Muhamad Naquib l-Attas. Buktinya:
11[11]Andi Faisal Bakti, Islam and Nation Formation in Indonesia. ( Jakarta: Logos, 2000), hal.
143-144
12[12]Andi Faisal Bakti, Islam…, hal. 150
a. Aktivitis perdagangan meneruskan catatan China yang menyataka orang Arab dan Parsi
mempunyai pertempatan di Canton pada 300M.
b. Pedagang Arab dapat menguasai laut dari pelabuhan Iskandariah hingga China. Telah berdagang
di rantau ini terutama setelah kemunculan Islam pada abad 7 M.
c. Pedagang Arab singgah di pelabuhan utama Asia Tenggara sebelum ke China, tempat
menunggu dari angin muson.
d. Menetap beberapa bulan dan mewujudkan perkampungan dan ada urusan jual beli barang
mewah dari China dan India. Perkampungan Islam Ta Shih di Sumatera Utara pada 650 M
menurut catatan China.
e. Perkawinan dengan orang pesisir.
f. Wujud persamaan tulisan kesusasteraan di Asia Tenggara dan Arab.
g. Pengislaman raja-raja melayu oleh syeikh dari Arab seperti dalam Hikayat raja-raja Pasai
keturunan sufi. Berjaya mengislamkan Merah Silu ( Malik al-Salih. ) Raja Pattani Phaya Tu
Nakpa diislamkan Syeikh Said.13[13]
h. Faktor-faktor yang membuat tertarik dengan Islam
1) Tertarik dengan nilai Islam yang murni.
2) Amalan pendakwah Islam mengamalkan nilai Islam yang murni seperti kejujuran pedagang
Islam, menjaga kebersihan.14[14]
i. Catatan tempatan tentang pengislaman Raja-raja Melayu
1) Hikayat Raja-raja Pasai.
2) Hikayat Merong mahawangsa, Raja Kedah diislamkan oleh Syeikh Abdullah al-Yamani
3) Hikayat Aceh, Syekh Abdullah Arif berusaha mengembangkan Islam.
4) Sejarah Kepulauan Sulu, Sharif Hasan dan menyebarkan Islam di Sulu.
2. Teori China
Dikemukakan oleh Emanuel Gadinho antara lain :
a. Khan Fo atau Canton menjadi pusat perdagangan Arab sejak abad 9M
b. Menyebarkan Islam dikalangan peniaga China kemudian sebar ke Asia Tenggara.
c. Menurut Fatimi antara lain dikarenakan: Berpindahahnya pedagang Islam di Canton ke Asia
Tenggara pada 876 M.
13[13] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradapan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,2008), hal. 187
14[14] Ahmad Ibrahim,Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: LP3ES,1989), hal. 45
d. Penemuan batu nisan bertarikh 1028 M di Permatang Pasir, Pulau Tambun, Pekan Pahang
mempunyai ayat al-Quran dan kalimah Arab, bukti Islam telah sampai sbelum abad 13M.
e. Dibawa oleh mubaligh Cina menerusi Laut Cina Selatan ke Phang Rang IndoCina dan Pekan
Pahang.
f. Persamaan seni bina China dan seni bina masjid di Kelantan, Malaka dan Jawa. Di Melaka
bentuk bumbung, atap genting, warna merah dan kuning pada kayu kepala pintu, lantai, dinding,
tangga, dan kolam air.15[15]
3. Teori India
Dari wilayah Gujarat dan Pantai Coromandel. Abad 13M Dikemukan oleh Snouck
Hurgronge:
a. Hubungan Asia Tenggara dan India sudah lama, karena pedagang Islam India sudah tersebar di
Asia Tenggara
b. Gujarat pelabuhan penting pada zaman Alaudin Khinji di India.
c. Batu marmer pada batu nisan Malik al-Salih di pasai mempunyai ciri-ciri India.
D. Cara Penyebaran Islam di Asia
1. Perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan
lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang Muslim
(Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat,
Tenggara dan Timur Benua Asia. Serta hubungan dengan pelabuhan-pelabuhan di Selat Malaka,
Teluk Siam, IndoChina, Kepulauan Rempah seperti Maluku dan Makasar sebagai pusat kegiatan
manusia dari berbagai tempat. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan
karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi
pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah
dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi
orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai
Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan
karena hanya faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena factor hubungan
15[15] Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Islam di Indonesia, (Jakarta: Al-
Maarif, 1989), hal. 102
ekonomi dengan pedagang-pedagang Muslim. Perkembangan selanjutnya mereka kemudian
mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2. Pernikahan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik
daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri bangsawan,
tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin mereka diislamkan terlebih
dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul
kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada
pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk
Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar
Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau
bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara
Raden Rahmat atau Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan
Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.
3. Politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya
memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di
daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi
kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam.
Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu
masuk Islam. Contoh: Mega Iskandar Shah Malaka dengan Raja Malik al Salih Pasai.
4. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf,atau parasufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan
ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam hal yang magis
dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini
masyarakat setempat. Dengan tasawuf bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi
mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu,
sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli tasawuf yang
memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran pra Islam itu adalah
Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik ini
masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke 20 M ini.
5. Saluran pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon
ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka
pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam.
Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan
Giri di Giri. Keluaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama
Islam.
6. Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia
tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya
mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita
Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam.
Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan
sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.16[16]
E. Tahap-Tahap Perkembangan Islam di Asia
1. Kehadiran para pedagang Muslim (7 - 12 M)
Fase ini diyakini sebagai fase permulaan dari proses sosialisasi Islam di kawasan Asia
Tenggara, yang dimulai dengan kontak sosial budaya antara pendatang Muslim dengan
penduduk setempat.
Pada fase pertama ini, tidak ditemukan data mengenai masuknya penduduk asli ke dalam
Islam. Bukti yang cukup jelas mengenai hal ini baru diperoleh jauh kemudian, yakni pada
permulaan abad ke-13 M / 7 H. Sangat mungkin dalam kurun abad ke 1 sampai 4 H terdapat
hubungan perkawinan antara pedagang Muslim dengan penduduk setempat, hingga menjadikan
mereka beralih menjadi Muslim. Tetapi ini baru pada tahap dugaan.
Walaupun di Leran - Gresik, terdapat sebuah batu nisan bertuliskan Fatimah binti
Maimun yang wafat pada tahun 475 H / 1082 M. Namun dari bentuknya, nisan itu menunjukkan
16[16] Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam, , (Jakarta: Grafindo Persada, 2000), hal. 201
pola gaya hias makam dari abad ke-16 M seperti yang ditemukan di Campa, yakni berisi tulisan
yang berupa do'a-do'a kepada Allah.
2. Terbentuknya Kerajaan Islam (13-16M)
Pada fase kedua ini, Islam semakin tersosialisasi dalam masyarakat Nusantara dengan
mulai terbentuknya pusat kekuasaan Islam. Pada akhir abad ke-13 kerajaan Samudera Pasai
sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia merebut jalur perdagangan di Selat Malaka yang
sebelumnya dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada permulaan
abad ke-14 berdiri kerajaan Malaka di Semenanjung Malaysia.
Sultan Mansyur Syah (w. 1477 M) adalah sultan keenam Kerajaan Malaka yang
membuat Islam sangat berkembang di Pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaka.Di
bagian lain, di Jawa saat itu sudah memperlihatkan bukti kuatnya peranan kelompok Masyarakat
Muslim, terutama di pesisir utara.
3. Pelembagaan Islam
Pada fase ini sosialisasi Islam semakin tak terbendung lagi masuk ke pusat-pusat
kekuasaan, merembes terus sampai hampir ke seluruh wilayah.Hal ini tidak bisa dilepaskan dari
peranan para penyebar dan pengajar Islam.Mereka menduduki berbagai jabatan dalam struktur
birokrasi kerajaan, dan banyak diantara mereka menikah dengan penduduk pribumi. Dengan kata
lain, Islam dikukuhkan di pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan,
perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi, di samping dengan sosialisasi langsung pada
masyarakat bawah. Pengaruh Islamisasi yang pada awalnya hanya berpusat di satu tempat telah
jauh meluas ke wilayah-wilayah lain di Asia tenggara.
Islam Begitu cepat berkembang dan dapat diterima dengan baik di masyarakat karena
Dalam Penyebaran dan perkembangannya, dengan jalan damai.tidak pernah ada ekspedisi militer
ataupun kekerasan untuk Islamisasi ini.
F. Perkembangan Islam di Negara-negara Asia
1. Islam di Indonesia
Dalam buku Indonesia karya Mahmud Syakir disebutkan bahwa Indonesia terdiri dari
kumpulan pulau yang jumlahnya terbanyak di dunia (lebih dari 13.600 pulau) dihubungkan
dengan dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Juga dihubungkan oleh
setengah bola dunia utara dan selatan.Luas wilayah ini mencapai 1.919.440 km2, letaknya di
Asia Tenggara.Pulau-pulau terbesar adalah Sumatera, Jawa, Irian, dan Borneo (Kalilmantan).
Dari segi jumlah penduduk, negeri ini menempati urutan keempat terbanyak di dunia,
setelah China, India dan Amerika Serikat tapi urutan pertama pada tingkat dunia Islam.
Mayoritas mereka berasal dari Melayu dan China. Presentase kaum muslim di negeri ini
mencapai 89 %, juga terdapat sedikit Nasrani, Hindu dan Budha.17[17]
Waktu kapan Islam masuk ke Indonesia masih ada perbedaan pendapat, berikut beberapa
teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia,18[18] yaitu :
a. Teori Gujarat
Teori ini merupakan teori tertua yang menjelaskan tentang masuknya Islam di Nusantara.
Dinamakan Teori Gujarat, karena bertolak dari pandangannya yang mengatakan bahwa Islam
masuk ke Nusantara berasal dari Gujarat, pada abad ke-13 M, dan pelakunya adalah pedagang
India Muslim.
Bukti-bukti dari teori ini yaitu:
1) bukti batu nisan Sultan pertama Kerajaan Samudera Pasai, yakni Malik al-Shaleh yang wafat
pada 1297. relif nisan tersebut bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang
terdapat di Gujarat.
2) adanya kenyataan bahwa agama Islam disebarkan melalui jalan dagang antara Indonesia-Cambai
(Gujarat)-Timur Tengah-Eropa.
b. Teori Makkah
Teori ini dicetuskan oleh Hamka, Ia lebih menguatkan teorinya dengan mendasarkan
pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia,
kemudian diikuti oleh orang Persia dan Gujarat. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah
semata, dan Makkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.
Hamka menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam baru masuk pada abad 13,
karena kenyataanya di Nusantara pada abad itu telah berdiri suatu kekuatan politik Islam, maka
sudah tentu Islam masuk jauh sebelumnya yakni abad ke-7 (670 M) atau pada abad pertama
Hijriyah.
17[17] Ahmad al-‘Usairy. Sejarah Islam. ( Jakarta : AKBAR MEDIA, 2012), hal. 508
18[18] Hasjmi.Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia.( Jakarta: P.T. Al-Maarif,
1981), hal. 375
Pendapat ini juga di dukung oleh Drs. Juned Periduri yang berkesimpulan bahwa agama
Islam pertama kali masuk pada abad ke-7. Hal ini didasarkan pada penyelidikan sebuah makam
Syeikh Mukaiddin di Tapanuli yang berangka tahun 48 H (670 M).
Pada 674 M telah terdapat perkampungan perdagangan Arab Islam di Pantai Barat
Sumatera, bersumber dari berita Cina.kemudian berita Cina ini ditulis kembali oleh T.W. Arnold
(1896), J.C. van Leur (1955) dan Hamka (1958). Timbulnya perkampungan perdagangan Arab
Islam ini karena ditunjang oleh kekuatan laut Arab.
Dari keterangan tentang peranan bangsa Arab dalam dunia perniagaan seperti di atas, kemudian
dikuatkan dengan kenyataan sejarah adanya perkampungan Arab Islam di pantai barat Sumatera
di abad ke-7, maka terbukalah kemungkinan peranan bangsa Arab dalam memasukkan Islam ke
Nusantara.
c. Teori Persia
Pencetus teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat. Teori ini berpendapat bahwa
agama Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia, singgah ke Gujarat, sedangkan
waktunya sekitar abad ke-13. Teori ini lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan
yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan memiliki persamaan dengan
Persia. Di antaranya adalah:
1) Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringayan Syi'ah atas syahidnya Husein.
2) Adanya kesamaan ajaran antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj, sekalipun al-
Hallaj telah meninggal pada 310H / 922M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk
puisi, sehingga memungkinkan Syeikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat
mempelajarinya.
Dari uraian tentang tiga teori masuknya Islam ke Indonesia di atas, dapat dilihat beberapa
perbedaan dan kesamaannya:
1) Teori Gujarat dan Persia mempunyai persamaan pandangan mengenai masuknya agama Islam
ke Nusantara berasal dari Gujarat. Perbedaannya terletak pada teori Gujarat yang melihat ajaran
Islam di Indonesia mempunyai kesamaan ajaran dengan mistik di India. Sedangkan teori Persia
memandang adanya kesamaan dengan ajaran Sufi di Persia. Gujarat dipandangnya sebagai
daerah yang dipengaruhi oleh Persia, dan menjadi tempat singgah ajaran Syi'ah ke Indonesia.
2) Dalam hal Gujarat sebagai tempat singgah, teori Persia mempunyai persamaan dengan teori
Makkah, tetapi yang membedakannya adalah teori Makkah memandang Gujarat sebagai tempat
singgah perjalanan perjalanan laut antara Indonesia dengan Timur Tengah, sedangkan ajaran
Islam diambilnya dari Makkah atau dari Mesir.
3) Teori Gujarat dan Persia keduanya tidak memandang peranan bangsa Arab dalam perdagangan.
Dalam hal ini keduanya lebih memandang pada peranan orang India Muslim. keduanya
meyakini Islam masuk di Nusantara pada abad ke-13. Sebaliknya teori Makkah lebih meyakini
Islam masuk di Nusantara pada abad ke-7, karena abad ke-13 dianggap sebagai saat-saat
perkembangan Islam di Nusantara.
4) Dalam melihat sumber negara yang mempengaruhi Islam di Nusantara, teori Makkah lebih
berpendirian pada Makkah dan Mesir dengan mendasarkan tinjauannya pada besarnya pengaruh
madzhab Syafi'i di Indonesia. Sedangkan teori Persia, meskipun mengakui pengaruh madzhab
Syafi'i di Indonesia tetapi, bagi teori ini, hal itu merupakan pengaruh madzhab Syafi'i yang
berkembang di Malabar, oleh karena itu teori ini lebih menunjuk India sebagai negara asal Islam
Indonesia.
Walaupun dari analisa perbandingan di atas ketiga teori tersebut lebih menampakkan
tajamnya perbedaan dari pada persamaan, namun ada titik temu yang bisa disimpulkan yakni,
bahwa :
1) Pertama, Islam masuk dan berkembang melalui jalan damai (infiltrasi kultural),
2) Kedua, Islam tidak mengenal adanya misi sebagaimana yang dijalankan oleh kalangan Kristen
dan Katolik.
3) Para Ulama awal yang menyebarkan Islam di Indonesia adalah Hamzah Fansuri,Syamsuddin Al-
Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, Abdurauf Singkel, Syeikh Muhammad Yusuf Al-Makassari,
Syeikh Abdussamad al-Palimbani, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Muhammad
Nafis al-Banjari, Syeikh Muhammad bin Umar al-Nawawi al-Bantani, Khatib Minangkabau.
2. Islam di Malaysia
Islam merupakan agama resmi negara federasi Malaysia. Hampir 50% dari 13 juta
penduduknya adalah Muslim dan sebagian besar diantaranya adalah orang melayu yang tinggal
di Semenanjung Malaysia. Adapun sisanya terdiri dari kelompok-kelompok etnik yang minoritas
yakni diantaranya Cina yang terdiri sekitar 38% dari penduduk Malaysia dan yang lainnya India
dan Arab. Diantara warga Muslim dan non Muslim dapat hidup rukun tanpa ada permusuhan
sehingga masyarakat di sana tentram dan damai. Perkembangan Islam di Malaysia telah
membawa peradaban-peradaban baru yang diakui Dunia Islam. Sampai saat ini Muslim Malaysia
dikenal sebagai Muslim yang taat ibadahnya, kuat memegang hukum Islam dan juga kehidupan
beragamanya yang damai serta mencerminkan keIslaman agamanya baik di perkampungan
maupun dalam pemerintahan. Mengenai hasil peradaban Islam di Malaysia ini juga tidak kalah
dengan negara-negara Islam yang lain, seperti :
1) Adanya bangunan-bangunan masjid yang megah seperti Masjid Ubaidiyah di Kuala Kancong.
2) Banyaknya bangunan-bangunan sekolah Islam.
3) Berlakunya hukum Islam pada pemerintahan Malaysia (hukum Islam di sana mendapat
kedudukan khusus karena dijadikan hukum negara).
Selain itu juga keputusan yang diambil oleh Perdana Mentri Mahatir Muhammad pada
tahun 1982untuk menjalankan kebijakan penanaman nilai-nilai islami dalam pemerintahan juga
membuat peran islam semakin penting terutama ketika kebijakan tersebut dilaksanakan secara
nyata.
3. Islam di Singapura
Komunitas muslim di Singapura terdiri dari 2 kelompok, yaitu migran dari wilayah
indonesia dan migran dari luar wilayah indonesia (India dan Arab). Studi islam di Singapura
telah lama berkembang. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
muslim. Selanjutnya, disebutkan bahwa etnis melayu merupakan komunitas muslim terbesar di
Singapura. Tapi berdasarkan hasil sensus tahun 1980 yang menyatakan bahwa orang-orang
muslim Singapura tertinggal dari etnis lain dalam bidang sosial ekonomi, maka lembaga-
lembaga muslim memberikan motivasi untuk meningkatkan pendidikan dan berkompetensi
secara profesional. Dari gerakan tersebut muncullah beberapa profesional muslim seperti Maarof
Saleh (Presiden Himpunan Belia Islam), Dr. Muhd. Hussain Muthalib (Direktur Eksekutif MUIS
dan Dosen University of Singapore) dan Ridwan Abdullah (Presiden The Muslem Convert
Assosiation Darul Arqam). Sedangkan dalam bidang pendidikan, pada tahun 1981 ini didirikan
sebuah lembaga yang bergerak pada permasalahan pendidikan anak muslim (MENDAKI) dan
mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat. Keberadaan lembaga ini juga mempercepat
lahirnya karya-karya yang terkait dengan pendidikan bagi kaum minoritasmuslim di Singapura.
4. Islam di Thailand
Islam di Muangthai adalah agama minoritas hanya 4 %, selain itu masyarakat Muangthai
menganut agama Budha dan Hindu. Orang Melayu Muslim merupakan golongan minoritas
terbesar ke-dua di Muangthai, sesudah golongan Cina.Mereka tergolong Muslim Sunni dari
madzab Syafi’I yang merupakan madzab paling besar dikalangan umat Islam di
Muangthai.Ikatan-ikatan budayanya telah membantu memupuk suatu perasaan keterasingan
dikalangan mereka terhadap lembaga-lembaga sosial, budaya, dan politik Muangthai.Sejak
bangsa Muangthai untuk pertama kali menyatakan daerah itu sebagai wilayah yang takluk
kepada kekuasaannya.Pada akhir abad ke-13 orang Melayu Muslim terus-menerus memberontak
terhadap kekuasaan Muangthai.Keinginan mereka adalah untuk menjadi bagian dari Dunia
budaya Melayu Muslim dengan pemerintahan otonom.Akhirnya keinginan yang tak pernah
mengendor itu pudar dalam sejarah, dan ciri-ciri sosial ekonomi dan budaya mereka telah
membuat mereka sadar bahwa mereka hanyalah kelompok kecil yang mempunyai identitas
terpisah dari bagian utama penduduk Negeri Muangthai.Masyarakat Muslim di Muangthai
sebagian besar berlatarbelakang pedesaan. Dan Perkembangan Islam di Muangthai telah banyak
membawa peradaban-peradaban, misalnya :
1) Di Bangkok terdaftar sekitar 2000 bangunan masjid yang sangat megah dan indah.
2) Golongan Tradisional dan golongan ortodoks telah menerbitkan majalah Islam “Rabittah”.
3) Golongam modernis berhasil menerbitkan jurnal “Al Jihad”.
5. Islam di Brunei Darussalam
Brunei Darussalam memperoleh kemerdekaan penuhnya pada tanggal 1 januari 1984.
Penduduk negara ini terdiri dari 65% suku melayu, 25% keturunan cina dan sisanya kelompok
pribumi kalimantan. Beberapa sumber menyatakan bahwa agama islam masuk ke negara ini pada
abad ke-15, dan sejak itu negara ini berubah menjadi kesultanan Islam. Agama resminya juga
Islam dan tradisi keislaman juga dijaga sangat baik sampai sekarang.Dari segi politik situasi di
negara ini terbilang tenang dan stabil karena ukuran negara ini kecil. Dan sebagai agama resmi
negara islam mendapatkan perlindungan dari negara. Dominasi keluarga kerajaan di bidang
pemerintahan dan tidak adanya demokrasi politik memungkinkan pemerintah memberlakukan
kebijakan di bidang agama dan bidang lainnya tanpa banyak kesulitan.
6. Islam di Filiphina
Islam tersebar di wilayah ini pada abad ke-6 H/12 M. Saat itu penjajah Portugis telah
sampai di wilayah ini. Kemudian disusul oleh Belanda dan Inggris yang datang pada tahun
1211H/1796 M. Terjadilah perlawanan dan revolusi di negeri ini sejak tahun 1305 H. Negeri ini
berada dibawah perlindungan Inggris sejak tahun 1367 H/ 1947 M, dan mengumumkan diri
sebagai negara republic yang merdeka pada tahun 1385 H/ 1965 M. Adapun di Filiphina, Islam
tersebar hampir mencapai seluruh kepulauannya, pula telah berdiri pemerintahan Islam. Akan
tetapi, munculah arus pemiliran keagamaan yang dibawa oleh penjajah Spanyol yang amat
dibenci.Pada tahun 928 H/ 1521 M, secara mendadak Spanyol menyerbu kepulauankepulauan
Filipina. Mereka datang denagn membawa seluruh dendam orang-orang salib terhadap kaum
muslimin,. Maka, situasi di Filipina saat itu hamper sama denagn situasi yang dialami oleh Islam
Andalusia. Penjajah Spanyol berada di Filiphina ini hingga tahun 1316 H/ 1898 M. Selama masa
yang hampir mencapai 4 abad, telah terjadi upaya penjauhan ajaran Islam dari generasi kaum
muslim secara berturut-turut lewat jalan peperangan yang menghancurkan kaum muslimin dan
memaksa mereka untuk memeluk agama Nasrani denagn ancaman kekerasan. Sekalipun
demikian, mereka tidak juga mampu mengalahkan pemerintahan-pemerintahn Muslim, sehingga
disana masih tersisa beberapa pemerintahan.
G. Kerajaan Islam di Asia
Penyebaran Islam di wilayah Asia ditandai dengan berdirinya kesultanan Islam di
kawasan tersebut. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di Asia tidak lepas dari kepentingan
perdagangan dan syiar agama yang dibawa oleh para saudagar dan ulama muslim dari Asia
Barat. Adapun Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara.Julukan ini diberikan mengingat
peranannya sebagai jalan lalu lintas antara Asia Timur san Asia Barat bagi para pedagang yang
hendak keluar masuk pelabuhan-pelabuhan di Asia. Berikut ini adalah profil beberapa kesultanan
Islam yang pernah berkuasa di Asia Tenggara.
1. Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13)
Samudera Pasai merupakan kesultanan Islam pertama. di Indonesia.Letak kesultanan ini
di Aceh Utara.Sultan pertama Samudera Pasai adalah Malikush Shaleh.Letak Samudera Pasai
sangat strategis sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Banyak pedagang
muslim dari Arab, Cina dan India datang untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Kesultanan
ini memperoleh sumber pendapatan yang besar dari pajak perdagangan dan pelayaran.Samudera
Pasai ditaklukkan Portugis pada 1521. Sejarah Kesultanan Samudera Pasai dapat diketahui antara
lain dengan ditemukannya uang dirham emas dengan tulisan nama sultan yang memerintah
Samudera Pasai.
2. Kesultanan Malaka (abad ke-15)
Kesultanan ini terletak di Semenanjung Malaka.Islam di Malaka berasal dari Kesultanan
Samudera Pasai.Pendiri Kesultanan Malaka adalah Paramesywara, seorang pangeran dari
Sriwijaya.Paramesywara menikah dengan putri sultan Samudera Pasai dan kemudian masuk
Islam.Kesultanan Malaka mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar
Syah (1445-1459).
Kesultanan ini runtuh ketika Portugis menyerang dan mengalahkan Malaka pada
1511.Peninggalan sejarah Kesultanan Malaka barupa mata uang yang merupakan peninggalan
dari akhir abad ke-15 dan benteng A'Farmosa yang merupakan bukti penaklukkan Malaka oleh
pasukan Portugis.
3. Kesultanan Islam Pattani (abad ke-15).
Kehadiran Islam di Pattani dimulai dengan kedatangan Syekh Said, mubalig dari Pasai,
yang berhasil menyembuhkan raja Pattani bernama Phaya Tu Nakpa yang sedang sakit
parah.Phaya Tu Nakpa (1486-1530) beragama Budha kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan
Ismail Syah.Kesultanan Pattani mengalami kemajuan pesat setelah menjalin hubungan dagang
dengan Kesultanan Malaka.Kesultanan Pattani kemudian menjadi pusat perdagangan dan
pelabuhan, terutama bagi pedagang dari Cina dan India.Kejayaan Pattani berakhir setelah
dikalahkan Kerajaan Siam dari Bangkok. Peninggalan sejarah Pattani berupa nisan kubur yang
disebut Batu Aceh yang melambangkan kedekatan hubungan dengan Samudera Pasai.
4. Kesultanan Brunei Darussalam (abad ke-15).
Kesultanan Brunei Darussalam merupakan kesultanan Islam yang terletak di Pulau
Kalimantan sebelah utara.Islam pertama kali masuk ke Brunei pada 977, dibawa saudagar Cina.
Setelah raja Awang Alak Betatar (1406-1408) masuk Islam, ia mengubah kerajaan itu menjadi
kesultanan. Kata "Darussalam" ditambahkan pada kata "Brunei" pada abad ke-15 untuk
menekankan Islam sebaga agama negara.Kesultanan Brunei Darussalam berkembang menjadi
pusat penyebaran Islam dan perdagangan wilayah Melayu ketika Kesultanan Malaka jatuh ke
tangan Portugis.Kesultanan Brunei Darussalam pernah dikuasai Inggris pada 1888, di masa
kepemimpinan Sultan Hasyim Jalilu Ageramaddin, sultan ke-15, namun dapat meraih
kemerdekaannya dari Inggris 1983.
5. Kesultanan Islam Sulu (abad ke-15).
Kesultanan Sulu merupakan kesultanan Islam yang terletak di Filipina bagian
selatan.Islam masuk dan berkembang di Sulu melalui orang Arab yang melewati jalur
perdagangan Malaka dan Filipina.Pembawa Islam di Sulu adalah Syarif Karim al-Makdum,
orang Arab yang ahli ilmu pengobatan. Abu Bakar, seorang dai dari Arab, menikah dengan putri
dari pangeran Bwansa dan kemudian memerintah di Sulu dengan mengangkat dirinya sebagai
Sultan.
6. Kesultanan Ternate (abad ke-15).
Kesultanan Islam terbesar di Maluku adalah Kesultanan Ternate.Penyebaran Islam di
daerah ini dilakukan oleh para ulama dan pedagang dari Pulau Jawa.Islam menjadi agam
kerajaan setelah Sultan Zainal Abidin memerintah.Kesultanan Ternate menjadi salah satu pusat
penyebaran Islam di kawasan timur Nusantara.Kesultanan Ternate mencapai kejayaannya pada
masa pemerintahan Sultan Babullah.Kesultanan Ternate bersaing dengan Kesultanan Tidore
terutama dalam perdagangan.Kesultanan Ternate berakhir setelah ditaklukkan oleh VOC
(Verenidge Osst-Indische Compagnie) pada 1660. Peninggalan Kesultanan Ternate antara lain
Benteng Portugis dan bekas istana di Ternate (Maluku Utara).
7. Kesultanan Aceh Darussalam (abad ke-16).
Kesultanan Aceh atau Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang terletak di Pulau
Sumatera bagian utara.Kesultanan ini didirikan pada 1541 oleh Sultan Ali Mughayat
Syah.Kesultanan Aceh mengantikan peran Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka
yang jatuh ke tangan Portugis, terutama dalam perdagangan dan pelayaran.Kesultanan ini
mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.Kesultanan Aceh
akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda pada 1912. Peninggalan sejarah
Kesultanan Aceh antara lain Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dan Cakra Donya, yaitu
lonceng hadiah dari kaisar Cina.
8. Kesultanan Demak (abad ke-16).
Kesultanan Demak adalah kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa.Raja Demak pertama
adalah Raden Fatah, bupati Majapahit di Bintoro dan mencapai puncak kejayaan di bawah
kepemimpinan Sultan Trengono.Kesultanan Demak berhasil melebarkan kekuasaannya sampai
ke daerah luar Jawa, seperti Kesultanan Banjar, Kerajaan Kotawaringin, dan Kesultanan Kutai di
Kalimantan.Kesultanan ini mengalami kemunduran di masa Sunan Prawoto karena beberapa
daerah taklukkan Demak memberontak.Peninggalan Kesultanan Demak yang paling terkenal
adalah Masjid Agung Demak. Ciri khas masjid ini adalah bangunannya ditopang empat tiang
atau saka guru yang dibangun empat orang sunan dari sembilan wali (Wali Songo), yaitu Sunan
Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
9. Kesultanan Cirebon (abad ke-16).
Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.Kesultanan
Cirebon didirikan pada 1450 oleh Pangeran Walangsungsang.Tokoh yang paling berperan
menjadikan Cirebon sebagai Kesultanan Islam adalah Syarif Hidayatullah. Sepeninggal
Panembahan Girilaya (1650-1662), Kesultanan Cirebon dibagi menjadi dua oleh kedua anaknya,
menjadi Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Meskipun tidak mempunyai
kekuasaan administratif, Kesultanan Cirebon tetap bartahan sampai saat ini.
10. Kesultanan Banjar (abad ke-16).
Kesultanan Banjar merupakan kesultanan Islam yang terletak di Pulau Kalimantan bagian
selatan.Kesultanan ini pada walnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu yang berubah menjadi
kesultanan Islam.Kesultanan Banjar berdiri pada 1595 dengan penguasa pertama Sultan
Suriansyah.Islam masuk ke wilayah ini tahun 1470, bersamaan dengan melemahnya kerajaan
Maajapahit di Pulau Jawa.Penyebaran Islam secara luas dilakukan Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjari, seorang ulama yang menjadi Mufti Besar Kalimantan.Kesultanan Banjar mengalami
kemunduran dengan terjadinya pergolakan masyarakat yang menentang pengangkatan Pangeran
Tamjidillah (1857-1859) sebagai sultan oleh Belanda.Pada 1859-1905, terjadi perang Banjar
yang dipimpin Pangeran Antasari (1809-1862) melawan Belanda.Akibat dari perang ini, Belanda
menghapuskan Kesultanan Banjar pada 1860.Peninggalan sejarah Kesultanan Banjar dapat
dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin, Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada
masa pemerintahan Sultan Tamjidillah.
11. Kesultanan Banten (abad ke-16).
Kesultanan ini adalah kesultanan terbesar di Jawa Barat.Kesultanan Banten didirikan
Sunan Gunung Jati pada 1524.Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, Islam telah
mengalami perkembangan pesat.Hal ini ditandai dengan berdirinya bangunan masjid dan
pesantren.Kesultanan Banten mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Sultan Ageng
Tirtayasa (1651-1683).
Kesultanan ini mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan
Belanda.Peninggalan Kesultanan Banten berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng
Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.
12. Kesultanan Buton (abad ke-16).
Kesultanan Buton merupakan kerajaan Islam yang terletak di Pulau Buton, Sulawesi
bagian tenggara.Kerajaan Buton menjadi kesultanan setelah Halu Oleo, raja ke-6, memeluk
agama Islam. Penyebaran Islam secara luas dilakukan oleh syekh Abdul Wahid bin Syarif
Sulaiman al-Patani, seorang ulama dari Kesultanan Johor. Peninggalan sejarah Kesultanan Buton
berupa Benteng Kraton dan Batupoaro, yaitu batu tempat berkhalwat (mengasingkan diri) Syekh
Abdul Wahid di akhir keberadaannya di Buton.
13. Kesultanan Goa (abad ke-16).
Kesultanan Goa terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi.Kerajaan Goa berubah
menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16, di masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639).
Pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar (1666-1669)
meawan Belanda.Kesultanan Goa selanjutnya dikuasai oleh Belanda setelah dipaksa menyerah
dan menandatangani Perjanjian Bongaya.Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam
Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar (Sulawesi Selatan).
14. Kesultanan Johor (abad ke-16).
Kesultanan Johor berdiri setelah Kesultanan Malaka dikalahkan oleh Portugis.Sultan
Alauddin Riayat Syah membangun Kesultanan Johor pada sekitar tahun 1530-1536.Masa
kejayaan kesultanan ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Riayat Syah
II.Kesultanan Johor memperkuat dirinya dengan mengadakan sebuah aliansi bersama Kesultanan
Riau sehingga disebut Kesultanan Johor-Riau.Kesultanan Johor-Riau berakhir setelah Raja Haji
wafat dan wilayah tersebut dikuasai oleh Belanda.
15. Kesultanan Kutai (abad ke-16).
Kesultanan Kutai terletak di sekitar Sungai Mahakam, Kalimanta bagian timur.Pada
awalnya, Kutai merupakan kerajaan yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Buddha.Islam
berkembang pada masa kepemimpinan Aji Raja Mahkota (1525-1600).
Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin
Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad
Salehuddin (1780-1850) memerintah.Kesultanan Kutai mengalami kemunduran setelah Aji
Sultan Muhammad Salehuddin meninggal dunia.Peninggalan sejarah Kesultanan Kutai berupa
makam para sultan di Kutai Lama (dekat Anggana).
16. Kesultanan Pajang (abad ke-16).
Kesultanan Pajang merupakan kerjaan Islam pertama di pedalaman Jawa.Kesultanan ini
didirikan oleh Joko Tingkir pada 1546, setelah Trenggono, Sultan Demak, wafat. Joko Tingkir
atau Sultan Adiwijaya membawa pengaruh Islam dari wilayah pesisir ke wilayah pedalaman
Jawa.Kesultanan Pajang hanya bertahan selama 45 tahun karena dihancurkan oleh Kesultanan
Mataram pada 1618.Peninggalan Kesultanan Pajang berupa makam Pangeran Benowo.
17. Kesultanan Mataram (abad ke-16).
Kesultanan Mataram beridiri sejak 1582.Kesultanan ini berawal dari wilayah Kesultanan
Pajang yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya kepada Kiai Ageng Pamanahan.Sultan pertama
Mataram adalah Panembahan Senopati (1582-1601). Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram
tercapai pada masa kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645).Kesultanan Mataram melemah
setelah terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan pihak
Belanda.Kesultanan Mataram selanjutnya terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan
Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalan Kesultanan
Mataram antara lain berupa pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.
18. Kesultanan Palembang (abad ke-16).
Pada awalnya, Kesultanan Palembang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan
Demak.Sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan ini adalah Ki Gendeng Suro (1539-
1572).Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang
menetap di Palembang.Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena
letaknya yang strategis.Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah
berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin.Salatu satu peninggalan Palembang adalah
Masjid Agung Palembang yang didirikan pada masa kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.
19. Kesultanan Bima (abad ke-17).
Kesultanan Bima adalah kerajaan Islam yang terletak di Pulau Sumbawa bagian timur.
Kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan Islam pada 1620 setelah rajanya, La Ka'i, memeluk
agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdul Kahir. Pada masa pemerintahan
Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682), Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam
kedua di timur Nusantara setelah Makassar.Kesultanan Bima berakhir pada 1951, ketika
Muhammad Salahuddin, sultan terakhir, wafat. Peninggalan Kesultanan Bima antara lain berupa
kompleks istana yang dilengkapi dengan pintu lare-lare atau pintu gerbang kesultanan.
20. Kesultanan Siak Sri Indrapura (abad ke-18).
Siak Sri Indrapura adalah sebuah kesultanan Melayu, didirikan (1723) oleh Sultan Abdul
Jalil Rahmat Syah, dan penyebarab Islam di Sumatera Timur.Pusatnya adalah Desa Buantan,
kemudian pindah ke Siak Sir Indrapura (sekitar 90 km ke timur laut Pekanbaru).Wilayah
kekuasaan Siak Sri Indrapura meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko,
Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan
(Kampar); Pekanbaru; dan sekitarnya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri
Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupakan
salah satu objek pariwisata di daerah Riau.
H. Pengaruh Peradaban Islam di Asia
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Asia telah berpegang pada amalan Hindu, Budha
dan roh nenek moyang. Yang terwujud dalam politik, ekonomi, dan sosial. Setelah Islam masuk,
unsur-unsur baru yang diperkenalkan, diantaranya adalah :
1. Pemerintahan
a. Perubahan dalam sistem pemerintahan raja dalam sistem Islam seperti: Sultan sebagai Raja/
ketua negara dan kerajaan.
b. Penasihat Sultan dengan sebutan jawatan khadi, khatib, bilal, pemungut zakat, penyelia baitul
mal, dan penjaga harta wakaf.
c. Memupuk semangat persaudaraan di kalangan umat Islam.
d. Raja Malaka diberi gelaran Khalifahtul Mukminin artinya pemimpin orang mukmin.
e. Islam menjadi agama resmi dalam kerajaan Malaka, Brunei.
f. Penggunaan Konsep Khalifah Allah ialah wakil Allah di bumi. Harus menunaikan amanah, dan
perintah dengan adil serta menerapkan unsur Islam bagi menggantikan konsep dewa raja Hindu.
Contoh : Sultan al-Zahir Samudera Pasai.
g. Undang-undang Syariah diperkenalkan.19[19]
2. Pendidikan
19[19]Badriyatim, Sejarah…, hal. 115
a. Sistem Pendidikan
1) Sebelum Islam pendidikan hanya terbatas kepada golongan bangsawan saja.
2) Selepas Islam tersebar luas kepada seluruh masyarakat. Disebarkan melalui: Istana, Pondok,
Pesantren, Madrasah, dan Surau.
3. Pusat pendidikan awal Islam:
a. Kerajaan Perlak di Sumatera Utara – melalui Dayah atau Pondok
b. Samudra Pasai sebagai pusat terjemahan karya agama dan tempat rujukan kerajaan Islam lain
seperti Malaka.
c. Pendidikan Pondok muncul awal kedatangan dan peluasan Islam di Asia Tenggara. Seperti di
Pattani, Aceh, dan Jawa.
d. Wanita juga digalakkan belajar dan diberi peluang yang sama dengan lelaki baik dalam
pemerintahan.
4. Lembaga Pendidikan
a. Istana: Tempat ulama bicara hukum dengan sultan dan pembesar , juga sampaikan ilmu dan
nasihati sultan.
b. Surau: Tempat belajar al-Quran secara tidak formal dan gurunya ajar tidak tetap.
c. Madrasah: Sistem pendidikan formal.
d. Pondok: Pusat pengajian Islam terutama di Pattani dan Melayu, di Aceh Dayah dan di Jawa
dikenal dengan Pesantren.20[20]
5. Materi ajar
Fikih, Usuludin, Tasawuf, hadis, Tafsir, bahasa pengantar yang digunakan adalah
Melayu dan Arab.21[21]
6. Cara Hidup
20
21Adapun penyebab yang menyebabkan Islam mundur di Asia adalah :
1. Kemandegan Itelektual diantaranya:
a. Euforia kejayaan umat Islam masa lampau.
b. Penyesatan umat yang banyak terjadi sebagai pemenuhan kebutuhan politis para penguasanya.
c. Aadanya perubahan sistem pemerintahan Islam, yaitu dari system kekhalifahan menjadi sistem
kerajaan.
d. Sadar teknologi sebagai sarana keilmuan masih kurang.
2. Keberagaman
3. Penjajahan Barat
Sebelum Islam datang masyarakat dipengaruh oleh animisme, hindu dan buddha setelah
Islam datang berangsur-angsir hilang. Cara berpakaian Islam seperti berkerudung dan
bersongkok. Sifat tolong menolong, hormat menghormati, dan berkerjasama, bersatu padu dan
wujud semangat kerjasama.
7. Kesenian
a. Khat pada batu nisan, sebilah mata keris, dan ukiran kayu. Kreativitas masyarakat
tempatan batu nisan semakin menarik seperti Batu nisan Sultan al-Malik Ibrahim ditulis
dengan ayat al-Quran, selain syair dan makam Naina Hisham al-Din 1420M, pengaruh
seni Arab Parsi.
b. Seni pada masjid, surau, rumah kediaman guna kaligrafi arab. Seperti Masjid Ubudiah
Kuala Kangsar, Masjid Brunei.22[22
22
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peraadaban Islam: dari masa klasik hingga modern. Yogyakarta: Jurusan SPI fak.
Adab Sunan Kalijaga bekerjasama dengan LESFI Yogyakarta. 2003.
Asrofah, Hanun. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Bakti, Andi Faisal. Islam and Nation Formation in Indonesia. Jakarta: Logos, 2000
Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Grafindo Persada, 2000
Hasjmi. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia.Jakarta: P.T. Al-Maarif, 1981
Ibrahim, Ahmad. Islam di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES, 1989
Ibrahim, Muhammad. Sufi, Rusdi. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Islam di Indonesia. Jakarta : Al-
Maarif, 1989
Lapidus, M. Ira. Sejarah sosial Ummat Islam. Bagian kesatu dan dua. Yogyakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
2000. cet. II,
Muzani, Saiful. Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Jakarta : Pustaka 3 LP3ES Indonesia,
1993.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradapan Islam. Bandung : Pustaka Setia, 2008
Subaguk. Sejarah Peradan di Asia Tenggara. Jakarta : Gelora Aksara Pratama, 2000
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2008
Zuhri, Saifudin. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bandung : al-Maarif, tth
[20]Hanun Asrofah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 45
[21] Hanun Asrofah, Sejarah…, hal. 55
[22] Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Islam di Indonesia, (Jakarta:
Al-Maarif, 1989), hal. 130