Anda di halaman 1dari 16

1.

Pertumbuhan dan Perkembangan Maksila


 Pre – Natal
Maksila juga berkembang dari pusat osifikasi di maxillary process yang terapat
di branchial arch pertama. Proses osifikasi dari maksila sama dengan proses osifikasi
mandibula. Dalam pertumbuhan maksila lebih lanjut, terdapat kartilago sekunder (secondary
cartilage) yang berpengaruh besar yaitu zygomatic/malar cartilage. Kartilago ini muncul
pada saat perkembangan tulang zygomatic dan dalam waktu yang singkat dapat berkontribusi
dalam perkembangan maksila.

 Post – Natal
Pertumbuhan maksila dipengaruhi oleh pertumbuhan otak, pertumbuhan tulang
cranial, dan nasalseptal guidance, yang memberikan pengaruh signifikan terhadap
pergerakan maju mundur maksila dari lahir hingga umur 7 tahun. Setelah umur 7 tahun
hingga dewasa pengaruh-pengaruh tersebut berkurang secara dramatis seiring pertumbuhan
sutural dan pertumbuhan permukaan intramembranosa mengambil alih.

Pertumbuhan dan Perkembangan Mandibula


 Pre – Natal
Pertumbuhan mandibula biasanya
didahului dengan pertumbuhan kartilago Meckel.
Tulang kartilago dari branchial arch pertama yaitu
kartilago Meckel membentuk rahang bawah. Di saat
minggu ke-6 masa kehamilan, perkembangan tulang
kartilago ini meluas sebagai batang hyaline cartilage,
dilapisi oleh kapsul fibroselular, dari tempat
perkembangan telinga (otic capsule) hingga midline
dimana mandibula bersatu. Saraf mandibular terbagi menjadi lingual dan cabang alveolar
inferior. Cabang alveolar inferior dibagi lagi menjadi dua, yaitu incisor dan mental branches.
Di minggu ke-6, bagian lateral kartilago Meckel mengalami kondensasi dari
mesenkim di sudut yang dibentuk oleh divisi dari saraf alveolar inferior, incisor, dan mental
branches. Pada 7 minggu osifikasi intramembranosa dimulai dalam kondensasi ini,
membentuk tulang pertama dari mandibula. Dari pusat osifikasi ini, formasi tulang menyebar
cepat secara anterior menuju ke midline dan secara posterior menuju titik dimana saraf
mandibula dibagi menjadi lingual dan cabang alveolar inferior. Perkembangan formasi
tulang ini terjadi di sepanjang bagian lateral dari kartilago Meckel, membentuk sebuah
palung yang terdiri dari plate lateral dan medial yang bersatukan diantara incisor.
Lalu perkembangan tulang ini berlangsung hingga menuju midline. Dua pusat
osifikasi yang tersisa dipisahkan oleh mandibular symphysis sampai bayi akan lahir.
Perpanjangan kartilago Meckel yang mengarah ke belakang, nantinya akan menjadi foramen
mandibular. Hasil perkembangan osifikasi secara posterior menuju mesenkim dari branchial
arch pertama akan membentuk Ramus mandibula. Titik perbedaan kedua perkembangan
diatas ditandai oleh lingula pada mandibula dewasa. Kartilago Meckel akan menjadi malleus
di telinga dalam dan sphenomalleolar ligament.
Pertumbuhan mandibula lebih lanjut dipengaruhi oleh tiga kartilago sekunder
(secondary cartilage), yaitu:
a. Kartilago Kondilar (condylar cartilage)
Kartilago kondilar muncul pada saat minggu ke-12 masa perkembangan dan
secara cepat membentuk cone yang berperan besar dalam perkembangan ramus. Kartilago
ini dapat berkembang menjadi tulang sejati melalui osifikasi endokondral. Tidak semua
kartilago kondilar mengalami osifikasi, akibatnya ada sisa kartilago yang bertahan hingga
20 tahun. Sisa kartilago kondilar ini berguna untuk mekanisme pertumbuhan mandibula.

b. Kartilago Koronoid (coronoid cartilage)


Kartilago koronoid muncul saat bulan ke-4 dari masa perkembangan. Kartilago
Koronoid ini ukurannya melebihi batas anterior dari koronoid process. Kartilago ini
bersifat sementara dan akan hilang sebelum lahir.

c. Kartilago Symphyseal
Kartilago ini muncul di jaringan ikat diantara ujung Meckel's cartilage tetapi
sepenuhnya “berdiri” sendiri (tidak bergantung pada Meckel's cartilage). Mereka akan
hilang setelah setahun pertama kelahiran.

 Post – Natal
Pertumbuhan mandibula terjadi oleh proses remodeling tulang (proses
regenerasi yang terjadi secara terus-menerus dengan mengganti tulang lama dengan tulang
yang baru.) Bagian kanan dan kiri mandibula pada bayi yang baru lahir masih terpisah,
kemudian menyatu pada midline mental symphisis selama tahun pertama. Lokasi utama
pertumbuhan post-natal mandibula adalah :

 Endochondral apposition pada tulang rawan condylar


 Intramembraneous apposition pada aspek posterior

Pada saat lahir, mandibular condylers tumbuh lebih secara horizontal sehinggan
condylar tumbuh memanjang Sedangkan, pada anak-anak, pertumbuhan lebih secara vertical
sehingga pertumbuhan condylar meninggi. Pertumbuhan mandibula berlangsung hingga
akhir masa remaja, sekitar umur 20 tahun.

Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi


Odontogenesis atau morfogenesis gigi dimulai pada 6 minggu infra uterin.
Proses ini dipicu oleh sel-sel cranial neural crest (cnc) yang bermigrasi pada waktu
pembentukan maksilla dan mandibula. Ada interaksi 2 populasi sel yang berbeda yaitu
ektoderm dan mesoderm, dan membentuk dental lamina. Prosesnya meliputi : sitodiferensiasi;
histodiferensiasi; morfodiferensiasi; sintesis dan sekresi komponen matriks ekstrasel misalnya
kolagen; mineralisasi, kalsifikasi, osifikasi; organogenesis (pembentukan spesifik bentuk gigi);
dan erupsi.
Proses enamelogenesis meliputi tahap-tahap sebagai berikut : bud stage sebagai
inisiasi, cap stage dan bell stage. Proses pembentukan gigi secara individual, tidak dibentuk
bersamaan dan sesuai dengan urutan erupsi gigi. Instruksi bermula dari sel-sel ektomesenkhimal
(em) yang akan menginduksi sel-sel tertentu ektoderm untuk membentuk ameloblas (sintesis
dan sekresi matriks protein email). Selain itu terjadi pula diferensiasi ektomesenkhim untuk
membentuk odontoblast. Hal ini juga tergantung pada epitel rongga mulut, jadi ada proses
timbal balik.
Adanya peran interaksi pada morfologi gigi dibuktikan secara laboratories,
bahwa epitel insisivus ektomesenkhimal akan membentuk insisivus apabila ektoderm molar
interaksi dengan ektomesenkhimal insisivus akan membentuk insisivus. Ektoderm insisivus
interaksi dengan ektomesenkhimal molar akan membentuk molar, sehingga bentuk gigi
ditentukan oleh cnc (derivat ektomesenkhimal). Kerusakan cnc dan kegagalan bermigrasi akan
menyebabkan anodonsia.

Proses Amelogenesis
Ektoderm akan membentuk email gigi Rahang Atas dan Rahang Bawah dan
disebut sebagai epitel odontogenik. Pada lapisan ini juga terjadi proliferasi dan memadat,
membentuk dental lamina, yang dipisahkan oleh matriks intersel dengan ektomesenkhimal.
Ektomesenkhimal merupakan jaringan ikat embrional, mengalami proliferasi dan memadat.
Terdiri dari sel-sel spindle sp stelat dengan substansi dasar bersifat gelatin. Fase-fase
pembentukan organ email yaitu :

 Bud stage terjadi proliferasi lebih banyak daripada diferensiasi.


 Cap stage terjadi proliferasi, diferensiasi
 Bell stage terjadi morfodiferensiasi.

Pada fase bell stage, sel-sel epitel


email luar berbentuk kuboid; sel-sel epitel
ektomesenkhimal berbentuk kolumner yang akan
berfifferensiasi menjadi ameloblas. Nantinya email
pada daerah tonjol lebih cepat dibentuk daripada
daerah servikal. Antara sel-sel epitel email luar dan
epitel email dalam terdapat stelate retikulum untuk
memproduksi matriks ekstrasel yang bersifat
hidrofilik. Pada fase ini aktivitas sel stratum
intermedium bertambah dengan adanya enzim alkalin
fosfatase dan calsium ATP ase yang berperan dalam mekanisme kalsifikasi. Bakal gigi akan
terlepas dari epitel mulut dan bentuk mahkota sudah jelas tetapi belum ada matriks kalsifikasi.
Perubahan intrasel preameloblas membentuk ameloblas ditanoai sebagai
berikut : bentuk sel kolumner pendek menjadi panjang; sitoplasma terpolarisasi, dan inti sel ke
arah basal; retikulum endoplasma kasar, apparatus Golgi, mitokhondria ke arah apikal;
sitoplasma mengandung sitoskeleton : mikrotubulus, mikroelemen, serabut kontraktil untuk
sekresi sel. Pembentukan ameloblas dan odontoblast hampir bersamaan. Kekhasan ameloblas,
sitoplasma bagian apikal (pros. Thome's), letak dekat dentino enamel junction tidak ada
perpanjangannya. Ameloblas mensekresi protein untuk kalsifikasi sehingga terbentuk prisma
dan arah pergerakan ameloblas berlawanan dengan odontoblast.

Kalsifikasi Enamel
Pada kalsifikasi email terjadi sekretori ameloblas; sel stratum intermedium :
mengambil dan melepaskan ion Ca; stelat reticulum terdesak ameloblas; Amelogenesis selesai,
ameloblas kontak dengan epithel email luar, kehilangan serabut Thoines (karena
sitodiferensasi).

Struktur Enamel
Struktur email terdiri dari matriks organik dan anorganik. Matriks organik yang
merupakan protein email terdiri dari Enamelin dan Amelogenin yang mempunyai afinitas besar
terhadap hidroksi apatit. Pada matriks anorganik : Ca fosfat dalam bentuk hidroksiapatit
Ca10(PO4)6(OH)2, berbentuk kristal besar, datar, heksagonal. Pada dentino enamel junction
kandungan sodium magnesium dan karbonat lebih banyak, sedangkan pada permukaan sodium,
magnesium, carbonat lebih sedikit, kandungan fluoride, timah, zink lebih banyak sehingga
lapisan luar lebih keras. Struktur email terdapat gradiasi kekerasan yang menunjukkan bagian
dalam lebih banyak mengandung air dan lebih larut terhadap asam.
Elemen lain pada struktur email yaitu aluminium, barium, strontium, titanium.
Bagian terkeras berupa hidroksi apatit sekitar 95%-99%, pada dentin sekitar 70% dan tulang
sekitar 45%. Ameloblas berjalan dari dentino enamel junction yang areanya lebih sempit ke
arah permukaan yang areanya lebih lugs. Pada daerah cekung (fissure) menunjukkan sel-sel
ameloblas menjadi tertekan; kalsifikasi kurang baik dan sisa-sisa makanan sukar dibersihkan
sehingga mullah terkena karies, perlu fissure sealant.

Prisma Enamel
Prisma email berjalan dari dentino enamel junction ke permukaan luar dan
tegak lurus pada permukaan luar. Bentuk berkelok pada daerah tonjol sesuai dengan dentino
enamel junction. Aprismatik pada daerah dekat dentino enamel junction dan juga pada
permukaan luar karena tidak ada prosesus Tomes pada amelogenesis. Ukuran panjang
tergantung lokasi, daerah tonjol lebih panjang daripada servikal. Lebar rata-rata 4um, bagian
permukaan lebih lebar daripada dentin enamel junction. Pada potongan melintang, bentuk
seperti lubang kunci dengan bagian kepala kunci arah ke atas yaitu bagian oklusal dan insisal.
Bagian ekor kunci arah ke servikal.
Antar lubang kurci tersusun rapi, ekor terkunci antara 2 kepala. Bagian kepala
dibentuk oleh satu ameloblas, bagian ekor oleh tiga ameloblas yang berdekatan. Pada tonjol
atau tepi insisal : prisma dapat berpilin (gnarled email). Mudah patah kalau tidak didukung
dentin, hal ini harus diperhatikan pada saat
melakukan preparasi. Antar prisma terdapat
selubung prisma berukuran 0,1-0,2 μm. Pada
selubung prisma terdapat matriks email lebih
banyak dan hidroksi apatit hampir tidak ada. Pada
prisma email terdapat hidroksi apatit lebih banyak
dan matriks sedikit. Selubung prisma terlihat
disekeliling bagian kepala dan hampir hilang pada
bagian ekor prisma.
Ukuran kristal hidroksiapatit lebih
besar kira-kira 4 kali daripada kristal pada dentin dan tulang. Arah kristal menunjukkan aksis
panjang sejajar dengan bagian kepala dan tegak lurus pada bagian ekor. Perubahan orientasi
dimuiai pada bagian leher dari bentuk lubang kunci. Pertumbuhan email menunjukkan aposisi,
ada face istirahat seteleh dibentuk, tidak ada remodeling dan tidak ada perubahan bentuk.
Pembentukan email yang tidak sempurna secara mikroskopis menunjukkan :
a) garis melintang pada prisma sebagai gambaran gelap dan terang, hal ini dapat dibandingkan
dengan garis imbrication dari Von Ebner pada dentin, kemungkinan ada perbedaan kalsifikasi
antara siang-malam; b) garis Retzius, incremental lines pada waktu pembentukan ada stress,
atau adanya penyakit, atau proses kelahiran. Pada dentin sebagai garis Owen, terlihat adanya
kalsifikasi irregular; c) neonatal lines, garis-garis ini tergantung pada keadaan intra uterin. Pada
desidui ditunjukkan adanya garis hitam sesudah lahir lebih banyak dibandingkan sebelum lahir.

Perubahan Karena Umur


Perubahan karena umur menunjukkan adanya kehilangan jaringan karena
pemakaian, akibat respons terhadap atrisi pada permukaaan oklusal. Penurunan permeabilitas
karena a) email sesudah dibentuk, ada kemampuan biofisik dengan membran semipermeabel;
b) Ukuran kristal hidroksi apatit tambah besar, diikuti penurunan air (cairan mengisi kanal-
kanal pada jaringan muda yang semipermeabel). Email mature ditunjukkan sifat
fisikokimiawinya dapat berubah karena interaksi dengan lingkungan, misal : saliva, topikal
aplikasi fluor sehingga kandungan fluoride lebih banyak dan akibat faktor makanan sehingga
pada umur tua karies tidak aktif. Perubahan warna gigi menjadi lebih gelap ada perubahan pada
email dan dentin.

Proses Dentinogenesis
Pada pembentukan dentin bagian tonjol lebih awal dibentuk. Terjadi sintesis,
sekresi matriks organik ekstrasei (kolagen tipe I, III) dengan protein non kolagen. Matriks
terjadi mineralisasi. Odontoblast bergerak menjauh, ada perpanjangan prosesus, berupa kanal
tubules dentinalis. Lapisan yang belum terkalsifikasi antara odontoblast dan lapisan
terkalsifikasi yaitu predentin, dentoid.

Dentin
Pembentukan, struktur, sifat fisik, biokimiawi dentin menyerupai tulang yaitu
a) Pertumbuhannya secara aposisi; b) Dimensi hidroksiapatit; c) Ada prosesus pada sistem
kanalikuli; d) Organiks matriks yaitu kolagen; e) Ada
ketidaksamaan yaitu pada dentin avaskuler. Ada saling
ketergantungan dari dentin dengan pulpa, sehingga
diistilahkan dengan dentin-pulpa kompleks karena
pulpa mempertahankan dentin dan dentin melindungi
pulpa. Matriks organik berupa Kolagen tipe I pada
dentino enamel junction dan orientasinya ireguler
substansi dasar yang amorf, terdiri dari
glikosaminoglikans; Protein non kolagen merupakan
bagian terbesar yaitu a) Asam karboksiglutamat yang
kaya protein, mempunyai afinitas besar terhadap
kalsium; b) Kalsium pengikat protein; c) Protein
pembentuk tulang, d)Glikoprotein lain yaitu fibronektin, dentinonektin; d) Kalsium ATP-ase,
alkalin fosfatase dan e) Kolagenase.
Odontoblast terdiri dari sel-sel stelat pada ektomesenchimal papilla dentinalis;
berfungsi untuk mempertahankan dan memperbaiki dentin; bentuk sel kolumner panjang,
bagian basal dekat pulps berupa bagian apikal terdiri dari sitoplasma besar dan panjang
(prosesus adontoblastik) dan memanjang dari badan sel ke dentin yang terkalsifikasi; prosesus
berada dalam kanal tubulus dentinalis. Model sekresi seperti ameloblast, sel-sel asinar glandula
parotis. Dentinogenesis terdiri dari 2 fase yaitu fase organik dan fase anorganik. Fase organik
terdiri dari sintesis dan sekresi kolagen, substansi dasar, komponen non kolagen. Fase anorganik
terdiri dari matriks dan garam-garam Ca fosfat.
Aktivitas odontoblast berupa pengambilan dan penyimpanan ion Ca (dalam
mitochondria); memproduksi ikatan ion Ca-glikoprotein; memproduksi membran yang ada
hubungan alkalin fosfatase, menaikkan konsentrasi ion fosfat; memproduksi membran yang ada
hubungan Ca ATP-ase sebagai transport ion Ca. Secara mikroskopis pada dentin yang sudah
dibentuk dapat dijumpai garis yang disebut Incremental lines, sebagai akibat pembentukan
dentin secara aposisi sehingga terbentuk garis regular/ireguler. Terdiri dari 2 macam yaitu Garis
mayor berupa contour Owen dan Garis minor berupa von Ebner dan imbrication line. Tubulus
dentinalis berjalan dari pulpa sampai dentino enamel junction. Beberapa ada yang melewati
dentino enamel junction yang disebut enamel spindle. Bagian mahkota berbentuk S dan bagian
akar lurus.
Dekat pulpa lebih berdesakan (4-5 kali) daripada dentin enamel junction.
Tubulus dentinalis terdiri dari : prosesus odontoblasttik, serabut syaraf tanpa myelin, sirkulasi
cairan ekstrasel, fibril kolagen, kristal hidroksiapatit. Bersifat permeabel, sehingga bisa
didapatkan mikroorganisme dan produknya, debries dari degenerasi sel dan materi bahan
tambalan gigi. Bagian intertubuler yaitu antara tubulus-tubulus sifat kalsifikasi lebih kecil. Pada
peritubuler terjadi kalsifikasi lebih banyak. Pada bagian dentino enamel junction ada cabang
pendek 2-3, sifat lebih sensitif, dan pada permukaan beberapa prosesus odontoblast kontak
dengan ameloblas. Tubulus dentinalis bagian akar kadang-kadang berupa cabang pada sisi
tubulus yang saling berhubungan. Diameter berkurang karena deposisi dari dalam tubulus.
Diameter pada dentino enamel junction sekitar 2 gm, pada dekat pulpa 3-4 μm.
Dentin primer adalah dentin yang dibentuk sebelum gigi sempurna (pada bagian
mahkota dan akar). Dentin sekunder adalah dentin yang dibentuk setelah gigi terbentuk
sempurna, hal ini karena gigi berfungsi (oklusi), pertumbuhannya lambat dan continue, pada
daerah sirkumpulpa menyempit dan kadang-kadang terbentuk sepanjang tubulus dentinalis, dan
kalsifikasi lebih baik daripada dentin primer. Reaktif, reparatif, atau disebut juga tersier dentin,
pembentukannya relatif cepat di region tertentu. Pada daerah dimana tubulus dentinalis terbuka
akibat karies maupun preparasi, temperature tinggi dan terdapat agen kimiawi. Yang berperan
dalam pembentukan dentin ini adalah sel-sel mesenkhimal yang tidak berdifferensiasi. Pada
dentin ini tidak ada tubulus dentinalis, akibat preparasi dengan temperature tinggi tubulus,
dentinalis kehilangan prosesus dalam odontoblast sehingga berisi udara kemudian terbentuk
dead tract.
Sklerotik atau transparan dentin terbentuk karena umur tua dengan prosesus dan
tubulus dentinalis terjadi kalsifikasi. Terjadi pada dentin perifer dan akar gigi. Dapat juga terjadi
pada dekat karies, adanya dekalsifikasi lokal sehingga ada mineral bebas, yang kemudian terjadi
remineralisasi. Sensasi pada dentin terjadi karena adanya komunikasi antar odontoblast dari
mikrotubulus dan mikrofilamen sehingga terjadi transfer rasa sakit. Teori lain menyatakan
serabut syaraf berjalan dekat set odontoblast, kemudian myelin hilang (tinggal akson, didukung
set Schwann) sehingga sel Schwann hilang, akhiran bebas pada set odontoblast kemudian
masuk ke tubulus.
Akhiran syaraf tidak penetrasi ke sepanjang ketebalan dentin, kadang-kadang
tidak ke semua tubulus dentinalis. Pendapat lain bahwa pada peritubuler space terdapat cairan
ekstraseluter (kandungan potassium tinggi yang peka terhadap rangsangan), merupakan
"minisirkulasi"' bergerak pada tubulus dentinalis, dengan mekanisme hidrodinamik, hal ini yang
menyebabkan terjadinya sensitivitas. Dapat disimpulkan bahwa timbulnya sensasi sakit karena
kombinasi dari mekanisme tersebut.

Pembentukan Akar Gigi


Pada saat mahkota terbentuk disertai dimulainya pembentukan akar gigi, hal ini
menunjukkan dimulainya erupsi gigi. Prosesnya : epitel email luar bertemu dengan epitel email
dalam kemudian terjadi proliferasi membnetuk struktur bilaminer kemudian terbentuk epitel
selubung akar Hertwig. Teijadi pertumbuhan ke bawah yang memisahkan papilla dan folikel
gigi. E.e.d tidak berdiferensiasi menjadi ameloblas dan berfungsi membentuk inductor
pembentuk odontoblast. Setelah akar terbentuk, selubung Hertwig mengalami fragmentasi dan
degenarasi. Kalau ada sisa epitel tersebut maka akan terbentuk sisa epitel Malaszes yang terlibat
dalam pembentukan kista.

Erupsi Gigi
A. Erupsi Gigi Primary Teeth / Deciduous Teeth / Temporary Teeth / Gigi Susu
 Bererupsi pertama kali, dapat digantikan dengan gigi permanen
 Berjumlah 20, 10 pada maksila dan 10 pada mandibula
 Terdiri dari 2I, 1C, 2M pada tiap kuadran
 Dimulai saat bayi berusia 6 bulan yang ditandai dengan munculnya gigi di1 rahang bawah
dan berakhir dengan erupsi gigi dm2 pada usia 2 tahun
 Durasi: 0-6 tahun

B. Erupsi Gigi Permanent Teeth / Succedenious Teeth / Secondary Teeth / Gigi Tetap
 Berjumlah 32, 16 pada maksila dan 16 pada mandibular
 Terdiri dari 2I, 1C, 2P, 3M pada tiap kuadran
 Dimulai pada usia 6 tahun yang ditandai dengan erupsinya M1 rahang bawah. Pada masa
ini I1 rahang bawah juga sudah bererupsi.
 Pada usia 7-8 tahun, I1 rahang atas dan I2 rahang bawah mulai erupsi.
 Pada usia 8-9 tahun, I2 rahang atas erupsi.
 Pada usia 10-12 tahun, periode gigi bercampur (mixed dentition period) akan selesai
 Pada rahang bawah, C erupsi lebih dahulu daripada P1dan P2
 Pada rahang atas, P1 erupsi lebih dahulu daripada C, dan P2 erupsi hampir bersamaan
dengan C
 Erupsi M2 berdekatan dengan erupsi P2, tetapi ada kemungkinan M2 erupsi lebih dahulu
daripada P2
 Erupsi gigi terakhir adalah M3 (18-25 tahun)
 Durasi: 6-25 tahun

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Tulang Rahang


A. Genetika
Genetik merupakan faktor yang penting dalam menentukan ukuran dan bentuk rahang gigi.
Arya (1973), dan Hue (1991) menunjukkan bahwa faktor genetik berperan pada dimensi
lebar, panjang, dan keliling lengkung rahang (Budiarjo, 2003). Variasi pada bentuk dan
ukuran akhir dari kepala bias dikelompokan dalam dua kategori yang luas, variasi ras, dan
variasi individual.

B. Variasi Keturunan / Ras


Keturunan atau ras merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam perkembangan
dental dalam setiap individu. Menurut Sassouni dan Ricketts, kelompok ras yang berbeda
akan menampilkan pola kraniofasial yang berbeda pula (Febriana, 1997). Pada ras yang
berbeda pertumbuhan pada masing-masing ras juga akan berbeda, begitu juga dengan waktu
maturasi, pembentukan tulang, klasifikasi gigi dan waktu erupsi gigi (Mokhtar, 2002).
C. Nutrien
Pengambilan nutrisi atau energi yang kurang dapat mempengaruhi pertumbuhan sehingga
membatasi potensi pertumbuhan seseorang (Palmer, 2003). Malnutrisi dapat mempengaruhi
ukuran tubuh seseorang, sehingga terjadi perbandingan bagian yang berbeda-beda dan
kualitas jaringan yang berbeda-beda dan kualitas jaringan yang berbeda-beda sehingga
seperti kulitas gigi dan tulang. Selama anak dalam kandungan, ibu harus memperoleh cukup
kalsium, fosfor vit A, C, D untuk menjamin kebutuhan fetus akan zat-zat tersebut. Zat-zat
ini dengan pengawasan fungsi hormon yang seimbang merupakan faktor yang penting bagi
pertumbuhan tulang.

D. Lingkungan

 Kebiasaan Oral
Kebiasaan oral yang mempengaruhi perkembangan tulang rahang antara lain menghisap
ibu jari atau jari-jari tangan, menghisap dot, bernafas melalui mulut, dan penjuluran lidah.
Peran kebiasaan oral terhadap perubahan dan karakteristik lengkung rahang tergantung
dari frekuensi, intensitas dan lama durasi (Budiarjo, 2003). Hasil penelitian Aznar (2006)
dan peneliti lain, menunjukkan kebiasaan hisap jari untuk jangka waktu yang panjang
akan menyebabkan penambahan jarak antara molar mandibula. Aznar juga menunjukkan
bahwa kebiasaan menghisap mainan akan menyebabkan pengurangan lengkung gigi
maksila terutama di bagian kaninus dan kebiasaan bernafas melalui mulut menyebabkan
pengurangan ukuran pada rahang atas dan bawah. Aktivitas kebiasaan buruk ini berkaitan
dengan otot-otot rongga mulut.

 Fisik
Perubahan dalam kebiasaan diet seperti tekstur makanan yang lebih halus menyebabkan
penggunaan otot dan gigi berkurang. Akibat dari pengurangan pengunyahan akan
menyebabkan terjadinya perubahan pada perkembangan fasial sehingga maksila menjadi
lebih sempit (Lindsten, 2002).

 Otot-otot rongga mulut


Otot pengunyahan yang kuat meningkatkan mekanisme pengunyahan rahang dan ini
memicu pertumbuhan sutura dan aposisi tulang yang mengekibatkan peningkatan
petumbuhan rahang (Foster, 1997). Hal ini didukung oleh penelitian Kiliaridis (2003)
dimana terdapat hubungan antara ukuran otot pengunyahan dengan lebar kraniofasial.
Dalam penelitian tersebut didapati bahwa perempuan yang otot masseternya lebih tebal
memiliki lengkung rahang yang lebih lebar dari pada perempuan yang otot masseternya
lebih tipis (Kiliaridis S, 2003).

E. Jenis Kelamin
Penelitian menunjukkan bahwa ukuran lengkung rahang laki-laki lebih besar dari perempuan
dalam arah transversal. Lavele menyatakan bahwa perbedaan ukuran lengkung gigi rahang
bawah antara laki-laki dan perempuan disebabkan adanya faktor kekuatan fungsional,
kebiasaaan makan, sikap tubuh dan trauma dimana lebih berpengaruh pada laki-laki daripada
perempuan (Desy F, 2007).

3. Anatomi Mandibula

Anatomi TMJ

Anatomi Gigi
Anatomi Rahang Atas

Variasi Normal Rahang

 Torus Palatinus

 Torus Mandibula

Radioanatomi Gigi

1. Enamel
2. Dentin
3. Kamar pulpa
4. Saluran akar
5. Funnel shape
Radioanatomi Jaringan Penyangga Gigi
a. Periodontal Ligament
Gambaran radiografisnya yaitu terlihat garis radiolucent tipis memanjang mengelilingi akar
gigi dengan tebal yang sama. Berada diantara akar gigi dan lamina dura

b. Lamina Dura
Lamina dura merupakan tulang kortikal yang membatasi soket gigi. Terlihat garis radiopaque
tipis mengelilingi akar gigi dan ruang periodontal dengan tebal yang sama tanpa putus dan
berhubungan dengan korteks tulang pada puncak tulang interdental.

c. Tulang Interdental
Tulang interdental merupakan tulang rahang yang berada diantara gigi geligi. Puncaknya
disebut “alveolar crest”. Tulang ini terdiri dari: tulang spongiosa yang diliputi oleh tulang
kortikal tipis, kelanjutan dari lamina dura. Pada daerah anterior berbentuk segitiga meruncing
dan pada daerah posterior berbentuk mendatar.
d. Tulang Alveolar

Tulang Spongiosa
Trabekula tulang berupa garis-garis radiopaque tipis silang menyilang seperti jala-jala halus.
Diantara trabekula tulang terdapat ruang sumsum tulang (ruang intermedullary). Secara
radiografik berupa rongga radiolucent diantara trabekula tulang dengan ukuran yang
bervariasi

Tulang Kortikal
Tulang kortikal merupakan bagian tulang yang terpadat. Gambaran radiografik berupa garis
radiopaque tebal.

4. Pergerakan TMJ
Hal yang unik dari TMJ adalah sendi kanan dan kiri digabungkan dengan
mandibula yang sangat kuat. Suatu sendi dengan begitu tidak dapat bergerak pada suatu isolasi
(Sendiri), sehingga harus ada pergerakan kompensasi dari pergerakan sendi lainnya.
Contohnya,jikakita ingin mengerakan madnibula kearah satu sisi saja sehingga puncak gigi
posterior dapat menggiling makanan ketika mengunyah, kita akan menggeser kondil dari sendi
lawannya kedepan dnegan menggunakan otot pterygoid lateral ketika menahan sendi lainnya
kebelakang dengan serat otot horizontal temporalis. Rasakan dikedua sisi sendi ketika terjadi
pergerakan mandibula ke arah kiri. Maka akan terasa sendi bagian kanan akan bergerak kedepan
dan disaat yang bersamaan sendi bagian kiri bergerak kearah belakang untuk mengkompensasi
gerakan sendi kanan.
Kedua pergerakan TMJ harus bergerak secara bersamaan karena keduanya
tidak dapat berlaku secara independen. Tetapi meskipun begitu, bukan berarti pergerakan kedua
sendi harus sama persis. Setiap TMJ dapat berotasi dalam 1 axis melalui kepala kondil dan dapat
bergeser kedepan dari fossa mandibula kearah articular eminence. Rotasi sendiri memproduksi
sedikit pembukaan mulut secara perlahan. Setelah mandibula sedikit turun dalam beberapa
millimeter, akan terasa pergerakan kedepan ketika mulut membuka semakin besar. Hal ini
memungkinkan untuk menggerakan TMJ kedepan (protrusi) tanpa rotasi tetapi gigi gigi harus
sedikit terpisah kalau tidak puncak gigi akan mengganggu pergerakan rahang. Pada aslinya,
pergerakan sliding (pergeseran) dan rotasi terjadi saat yang bersamaan. Pergeseran arah yang
berlawanan akan menarik rahang kebelakang dan berotasi kea rah yang berlawanan, kemudian
menutup rahang. Berikut adalah pergerakan yang dapat terjadi dalam TMJ:

a. Rotasi kepala kondil dalam fossa mandibular


b. Sliding/ pergeseran kondil sepanjang articular eminence

Kedua gerakan dikombinasikan dalam berbagai cara untuk menghasilkan


pergerakan fungsional yaitu elevasi, depresi, protrusi , retraksi dan pergerakan deviasi lateral
mandibula. Pergerakan fungsional tersebut kemudian akan dikombinasikan untuk membentuk
pergerakan kompleks dalam insisi (incision) dan dan mastikasi (mastication). Penting untuk
disadari bahwa otot otot mastikasi jarang sekali secara sempurna berelaksasi, kecuali dalam
keadaan tidur lelap atau tidak sadar.
Otot tersebut menjaga aktivitas dalam level rendah (muscle tone) untuk
melawan gravitasi dalam menjaga agar mulut tetap tertutup tanpa harus gigi mandibula dan gigi
maxilla saling berkontak satu sama lain. Posisi ini disebut mandibula rest position (posisi
istirahat mandibula). Rasakan ruang diantara gigi bagian atas dan bawah dengan cara
menggerakan lidah kearah gigi. Celah sebesar 2-3mm diantara keduanya disebut interocclusal/
freeway space.

Pergerakan Mandibula Saat Insisi


Pada gerakan ini, mandibula harus didepresikan secukupnya terlebih dahulu
agar makanan dapat masuk dan berprotrusi kedepan sehingga gigi insisivus dapat berkontak
ujung dengan ujung ketika mulut menutup. Otot pterygoid lateral pada keduasisi memulai
gerakan sliding dari mandibula, kemudian dilanjutkan dengan gerak otot suprahyoid untuk
menghasilkan depresi dari mandibula sebesar jarak yang diinginkan, dimana gerak suprahyoid
dari tulang hyoid yang ditetapkan oleh otot otot infrahyoid. Otot lateral pterygoid terus
memprotrusikan mandibula ehingga ujung incisal dari gigi insisivus bawah dipossisikan
dibawah sesuai dengan permukaan insisivus gigi atas.
Setelah itu, mandibula kemudian dielevasikan, otot pterygoid medial memulai
elevasi dan otot temporalis dan masseter setelah itu dengan cepat aktif. Gigi insisivus memtong
makanan hingga keduanya saling bertemu ujung dengan ujung. Mandibula kemudian ditarik
kebelakang (retraksi) sehingga ujung dari gigi insisvus bawah bergeser keatas melewati
permukaan palatal dari insisivus atas untuk menyelesaikan proses insisi dengan merobek atau
mengoyak bagian tersebut. Setelah itu, lidah memindahkan makanan menuju gigi posterior dari
sisi satu ke sisi lainnya.

Kontrol Saraf Mastikasi


Mastikasi biasanya terjadi secara otomatis dengan sedikit kesadaran. Kita
seketika menjadi sangat sadar akan apa yang kita lakukan ketika kita mengigit lidah atau pipi
kita. Pengaturan control saraf sangat jelas dibutuhkan untuk menjalankan gerakan rahang yang
kompleks dan cepat yaitu Pada saat gigi berkontak sangat dekat dan otot elevasi dapat
menghasilkan gaya yang sangat kuat. Ketika kita memeprtimbangkan bahwa pada saat gerakan
mastikasi, kita harus mengkoordinasikan gerakan rahang dengan gerakan lidah pipi dan bibir
untuk menggantikan makanan yang terdorong keluar pada setiap fase dibelakang di arkus
dental.
Dengan Aktivitas kompleks lainnya, otak secara konstan menerima informasi
mengenai status dari otot dan sendi yang berpartisipasi, juga posisi mandibula dalam ruang dan
level kekuatan yang dikeluarkan pada iggi dan jaringan pendukung disekitarnya untuk
menjalankan control rahang. Informasi dari banyak sekali poros otot pada otot mastikasi dan
otot otot yang terkait sepertinya berakhir pada nucleus mesensepalik trigeminal, terlepas dengan
saraf cranial yang mensupplai otot. Reseptor saraf terdapat dalam jumlah yang besar di kapsul
dan ligament dari TMJ. Banyak sekali Ujung saraf yang tidak dikapsulkan yang mungkin
menyediakan informasi mengenai presepsi posisi mandibula. Akhiran yang berada didalam
kapsul memiliki ambang tinggi, dengan cepat reseptor yang beradaptasi dapat merespon
gerakan sendi.
Informasi sensori dari berbagai tipe reseptor dilepaskan ke nucleus
mesencephalic trigeminal melalui cabang auricotemporal dan masseteric dari saraf trigeminal
divisi mandibula. Saraf akhiran bebas merupakan tipe saraf yang paling banyak ada didalam
kapsul dan dipercaya sebagai reseptor rasa sakit. Neuron nociceptive mengirim infromasi ke
nucleus spinal trigeminal apabila mulut terbuka sebesar suatu jarakt sebelum terbuka penuh,
gerakan sama dapat dihasilakn sangat akurat meskipun setelah 1 atau 2 menit tertunda. Ketika
mekanisme proprioceptive pada TMJ diganggu dengan adanya injeksi anestesi local pada
rongga sendi secara sadar, posisi sendi tidak dapat lagi dihasilkan dengan akurat. Kesalahan
atau error akan terjadi apabila input proprioceptive dari otot pterygoid lateral juga dhambat
dalam proses yang sama, mengindikasikan bahwa pengetahuan posisi rahang dari informasi
proprioreceptive dihasilkan dari TMJ dan otot, khususnya pterygoid lateral, sangat krusial untuk
melancarkan pergerakan rahang.
Jaringan periodontal juga berisi banyak sekali reseptor yang merespon gaya
mekanis yang terdapat pada gigi. Terdapat beberapa tipe reseptor berbeda dengan respon
fisiologis berbeda pula. Banyak reseptor yang terspesialisasi untuk merespon secara maksimal
terhadap gaya yang bekerja pada 1 arah tertentu, sehingga mereka juga memiliki sensivitas arah
sedangkan lainnya merespon kecepatan merespon. Proses sensoris dari reseptor tersebut
kemudian di piindahkan ke batang otak di saraf trigeminal maxilla dan manidbula, kemudian
berakhir di nucleus mesencephalic. Reseptor reseptor tersebut mungkin penting dalam
mengatur gaya kontraksi otot saat mengunyah dan juga memainkan peranan penting dalam
reflex rahang.
Proses rangkaian mastikasi sangat cepat dan beraturan ketika sudah dimulai.
Hal ini berarti mastikasi mirip dengan siklus lainnya dan aktivitas semisomatik seperti berjalan
dalam hal ini melibatkan pusat pola generator . (central pattern generator). Saat ini, sudah
dipastikan bahwa central pattern generator dalam batang otakyang dihasilkan dari informasi
dari area cerebral termasuk korteks motoris atau akhiran saraf pada mulut dan jaringan
disekitarnya. Penelitian terakhir mengatakan bahwa insula memerkan peranan penting dalam
control dan koordinasi aktivitas oral seperti mentransportasikan makanan dalam mulut,
menelan, dan mastikasi.
Hal ini memungkinkan pusat ini mengkontrol mekanisme makan
sepenuhnya. Mekanisme batang otak mungkin dilibatkan dalam memulai dan menjaga proses
mastikasi dan area kortikal kemudian mempermudah setiap siklus sehingga jarak, kecepatan
dan gaya otot dapat disamakan sesuai dengan makanan yang berbeda dengan menginputkan
informasi mengenai teksture makanan dari rasa, aroma dan pengalaman sebelumnya terhadap
makanan tertentu.