Anda di halaman 1dari 44

1

Menurut data dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan
RI tahun 2013, prevalensi pengalaman karies nasional adalah 72,3% dan karies aktif
sebesar 53,2%. Survei Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) tahun 2016 juga menunjukkan
bahwa presentase karies gigi sulung pada anak usia 6 tahun di 25 provinsi sebesar 74,44%.
Banyak juga peneliti dan akademisi melakukan penelitian epidemiologi oral untuk menilai
secara spasial penyakit karies dan periodontal serta berbagai intervensi yang memberikan
dampak pada kuailtas hidup berdasarkan faktor-faktor demografi individu atau populasi.
Terbukti bahwa penyakit gigi dan mulut merupakan akibat dari interaksi multifaktor yang
saling berkaitan dan memengaruhi status kesehatan gigi dan mulut serta kuaitas hidup
masyarakat. Oleh karena itu, dengan memelajari penyebaran penyakit gigi dan mulut
berdasarkan tempat dan waktu menjadi kunci untuk mengetahui besarnya masalah kesehatan
gigi dan mulut di masyarakat yang dihadapi. Status kesehatan gigi dan mulut dapat dinilai
untuk kemudian dibandingkan berdasarkan wilayah, negara, dan global.
Pengukuran kualitas hidup dengan status kesehatan gigi dan mulut menunjukkan bahwa
lubang gigi terutama yang menghasilkan rasa nyeri bisa membuat anak kesulitan mengunyah
makanan, akibatnya mengganggu asupan gizi, daya tahan tubuh, kualitas kecerdasan, serta
emosional anak. Sakit gigi mungkin terlihat sepele, tak begitu menyeramkan dibandingkan
kanker atau penyakit tidak menular lainnya.

2
1. Definisi epidemiologi dan epidemiologi oral
2. Faktor penyebab penyebaran penyakit gigi dan mulut pada suatu populasi (segitiga
epidemiologi)
3. Standardisasi dan cara pengukuran hubungan kualitas hidup dengan status kesehatan gigi
dan mulut (instrumen oral health-related quality of life anak dan dewasa)
4. Macam-macam desain studi pada epidemiologi oral
5. Macam-macam pengukuran pada epidemiologi oral
6. Indeks status kesehatan gigi dan mulut

3
1. DEFINISI EPIDEMIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI ORAL
Dibuat oleh Benita Novitasari
Sumber: Chattopadhyay, A., 2011. Oral Health Epidemiologi Principles & Practice. Massachusets:
Jones and Bartlett Publishers.

Etimologi Epidemiologi:
Epi = Pada
Demos = Penduduk
Logos = Ilmu
“Ilmu pada Penduduk”

Definisi Epidemiologi (Last 2001)


Epidemiologi merupakan studi distribusi dan determinan status kesehatan atau sebuah kejadian
pada populasi tertentu, dan aplikasi studi ini adalah untuk mengkontrol masalah kesehatan

Definisi Epidemiologi Oral (Chattopadhyay, 2011)


Epidemiologi oral merupakan studi distribusi dan determinan status kesehatan oral atau kejadian
pada populasi tertentu, dan aplikasi studi ini adalah untuk mengkontrol masalah kesehatan oral.

Tujuan Epidemiologi:
- Mencari etiologi penyakit
- Menentukan perluasan penyakit
- Menilai intervensi terapeutik dan kebijakan
- Mempelajari progesifitas penyakit
- Mengidentifikasi faktor modifikasi yang dapat berpengaruh pada terjadi suatu penyakit
sehingga berguna sebagai landasan yang kuat dalam menyusun suatu kebijakan kesehatan
yang lebih baik

2. FAKTOR PENYEBAB PENYEBARAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT


PADA SUATU POPULASI (SEGITIGA EPIDEMIOLOGI)
Dibuat Oleh Clarita A.
Sumber:
1. Mason J. Concepts In Dental Public Health. 2nd ed. Sabatini P, editor. Philadelphia, USA:

4
Lippincott Williams & Wilkins; 2010. 370 p.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Understanding the Epidemiologic Triangle
through?Infectious Disease. 2015;13. Available from:
https://www.cdc.gov/bam/teachers/documents/epi_1_triangle.pdf
3. Dicker RC, Coronado F, Koo D, Parrish RG. Principles of Epidemiology in Public Health
Practice. 3rd ed. Atlanta, Georgia: U.S. Department of Health and Human Services, Centers
for Disease Control and Prevention (CDC); 2012. 511 p.
4. Shi L, Singh DA. Delivering Health Care in America: A Systems Approach. 5th ed.
Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning; 2012.

Dalam epidemiologi, terdapat tiga faktor utama yang dipertimbangkan/dilihat untuk menilai
perkembangan dari suatu penyakit: (i) Agent, (ii) Host, (iii) Environment. Agent (agen) adalah
penyebab dari suatu penyakit, memiliki makna “what/apa”; host adalah individu yang menjadi
target dari agen, berhubungan dengan tingkat kerentanan suatu individu terhadap suatu penyakit,
memiliki makna “who/siapa”; environmental factors adalah faktor-faktor eksternal/lingkungan
yang akan mempengaruhi keterpaparan/penularan penyakit, dan secara tidak langsung juga
dapat mempengaruhi kerentanan individu, faktor ini memiliki makna “where/dimana”. Ketiga faktor
ini sering disebut sebagai “segitiga epidemiologi”.

*Faktor keempat (time/waktu) juga merupakan komponen dari setiap proses penyakit.

Agent (agen) - “what/apa”


Agen adalah penyebab penyakitnya. Ketika mempelajari epidemiologi penyakit yang paling
menular, agen itu adalah mikroba — organisme yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata
telanjang. Mikroba penyebab penyakit adalah bakteri, virus, fungi, dan protozoa (sejenis parasit).
Mereka adalah apa yang kebanyakan orang sebut "kuman".

5
Saat ini, epidemiologi telah diterapkan pada kondisi noninfeksi, sehingga konsep agen dalam
model ini telah diperluas untuk memasukkan penyebab kimia dan fisik dari suatu penyakit. Ini
termasuk kontaminan kimia, seperti kontaminasi l-tryptophan yang bertanggung jawab untuk
eosinophiliamyalgia syndrome, dan kekuatan fisik seperti kekuatan mekanik berulang yang terkait
dengan carpal tunnel syndrome.

Host - “who/siapa”
Host adalah organisme, biasanya manusia atau hewan, yang terpapar dan menyimpan penyakit.
Host adalah faktor intrinsik yang mempengaruhi paparan, kerentanan, atau respons individu
terhadap agen penyebab. Usia, ras, jenis kelamin, status sosial ekonomi, perilaku (merokok,
penyalahgunaan narkoba, gaya hidup, praktik seksual dan kontrasepsi, kebiasaan makan),
komposisi genetik, status gizi dan imunologi, struktur anatomi, keberadaan penyakit atau obat-
obatan, dan susunan psikologis adalah beberapa faktor host yang mempengaruhi kerentanan dan
respons seseorang untuk terpapar agen.
Host dapat menjadi organisme sakit, serta membawa hewan (termasuk serangga dan cacing) yang
mungkin atau mungkin tidak disertai sakit. Meskipun host mungkin tahu atau mungkin tidak tahu
bahwa ia memiliki penyakit atau memiliki tanda-tanda penyakit, namun tetap saja penyakit ini
“tinggal” dalam host. Orang yang berbeda mungkin memiliki reaksi berbeda terhadap agen yang
sama.

Environment - “where/dimana”
Lingkungan adalah kondisi eksternal dari host yang menyebabkan atau memberikan kesempatan
terjadinya penularan penyakit. Beberapa penyakit hidup paling baik di air kotor. Yang lainnya
bertahan hidup dalam darah manusia. Yang lainnya, seperti E. coli, berkembang dalam suhu
hangat tetapi terbunuh oleh panas tinggi. Faktor lingkungan lainnya termasuk musim dalam setahun
(contohnya: di AS, puncak musim flu adalah antara November dan Maret), geologi, dan lingkungan
fisik (misalnya: panti jompo, rumah sakit); faktor biologis seperti serangga yang mengirim agen;
dan faktor sosioekonomi seperti crowding (kesesakan, kepadatan penduduk), sanitasi, dan
ketersediaan layanan kesehatan.

Time (waktu)
Di tengah-tengah segitiga terdapat waktu. Kebanyakan penyakit menular memiliki masa inkubasi
(waktu antara saat inang terinfeksi dan ketika gejala penyakit muncul). Atau, waktu dapat
menggambarkan durasi penyakit atau berapa lama waktu seseorang sakit sebelum kematian atau
pemulihan terjadi.

6
Waktu juga menggambarkan periode dari infeksi ke ambang epidemi (penyakit yang timbul
sebagai kasus baru pada suatu populasi tertentu manusia, dalam suatu periode waktu tertentu,
dengan laju yang melampaui laju "ekspektasi" (dugaan), yang didasarkan pada pengalaman
mutakhir) untuk suatu populasi.

Segitiga epidemiologi adalah dasar (basic and fundamental) bagi seluruh prinsip epidemiologi.
Segitiga epidemiologi adalah model yang dikembangkan para ilmuwan untuk mempelajari
masalah-masalah kesehatan. Model ini dapat membantu memahami penyakit menular dan
bagaimana mereka menyebar. Agent-host-environmental factors saling terkait dalam berbagai
cara yang rumit untuk menghasilkan penyakit pada manusia. Keseimbangan dan interaksi mereka
berbeda untuk penyakit yang berbeda. Ketika kita mencari hubungan kausal, kita harus melihat
ketiga komponen dan menganalisis interaksi mereka untuk menemukan langkah-langkah
pencegahan dan pengendalian yang praktis dan efektif. Misi/tujuan seorang ahli epidemiologi
adalah memutus setidaknya salah satu sisi segitiga, sehingga akan mengganggu/merusak
hubungan antara ketiga faktor tersebut (host-agent-environment), dan menghentikan kelanjutan
penyebaran penyakit.
Berikut adalah contoh segitiga epidemiologi untuk karies gigi:

3. STANDARDISASI DAN CARA PENGUKURAN HUBUNGAN KUALITAS


HIDUP DENGAN STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT (INSTRUMEN
ORAL HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE ANAK DAN DEWASA)
Dibuat oleh Claudia A.
Sumber:

7
1. Sischo, L., & Broder, H. L. (2011). Oral Health-related Quality of Life: What, Why, How,
and Future Implications. Journal of Dental Research, 90(11), 1264–1270.
http://doi.org/10.1177/0022034511399918
2. Shamrany M. Al. Oral health-related quality of life: a broader perspective. Eastern
Mediterranean Health Journal [Internet]. 2006;12(6): 894-899. Available from:
http://applications.emro.who.int/emhj/1206/12_6_2006_894_901.pdf?ua=1
3. Allen, P.F. Health Qual Life Outcomes (2003) 1: 40. https://doi.org/10.1186/1477-7525-1-
40
4. Deepan Kumar, C. V., Mohamed, S., Janakiram, C., & Joseph, J. (2015). Validation of
dental impact on daily living questionnaire among tribal population of India.
Contemporary Clinical Dentistry, 6(Suppl 1), S235–S241. http://doi.org/10.4103/0976-
237X.166841
5. Bettie, N. F., Ramachandiran, H., Anand, V., Sathiamurthy, A., & Sekaran, P. (2015). Tools
for evaluating oral health and quality of life. Journal of Pharmacy & Bioallied Sciences,
7(Suppl 2), S414–S419. http://doi.org/10.4103/0975-7406.163473
6. Gilchrist, F., Rodd, H., Deery, C., & Marshman, Z. (2014). Assessment of the quality of
measures of child oral health-related quality of life. BMC Oral Health, 14, 40.
http://doi.org/10.1186/1472-6831-14-40

Penyakit dapat mengganggu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menyebabkan
penurunan pada kualitas hidup secara general. Oleh karena itu diciptakan oral health-related
quality of life (OHRQoL) untuk mengobservasi dan meriset mengenai dampak dari penyakit mulut
pada berbagai aspek dalam kehidupan.
Konsep OHRQoL signifikan pada 3 bagian yaitu praktek klinis kedokteran gigi, riset, dan
edukasi:
1. OHRQoL berperan dalam praktek klinis dimana klinisi tidak merawat gigi dan gusi tapi
merawat seorang manusia. Selain itu, OH yang baik dari pengecekan secara teratur
dimotivasi oleh OHRQoL.
2. Riset yang berhasil dapat berkontribusi pada kualitas hidup pasien. (meningkatkan
perawatan oral dan akses perawatan)
3. OHRQoL dapat mengedukasi individu mengenai kesehatan oral mereka. Masyarakat
mengerti bagaimana penyakit mulut dapat mempengaruhi kualitas hidup

8
- Secara individual, kualitas hidup (quality of life) merupakan persepsi individu mengenai posisi
mereka dalam kehidupan dalam berbudaya dan sistem nilai dimana mereka hidup dan
berhubungan dengan tujuan, ekspektasi, standar, dan masalah yang dihadapi
- Kualitas hidup dijadikan parameter pasien dalam menilai perawatan kesehatan secara fisik
dan mental serta kesehatan rongga mulut.
- Kesehatan rongga mulut mencerminkan kenyamanan masyarakat ketika makan, tidur dan
berinteraksi sosial, kepercayaan diri, dan kepuasan terhadap kesehatan rongga mulut
- Secara teoritis terdapat model yang diadaptasi dari Wilson dan Cleary (1995) dalam
OHRQoL yang menyatukan faktor biologis, sosial, psikologis, dan kebudayaan
- Gambaran model tersebut menghubungkan status kesehatan/penilaian klinis (tipe dan
keluasan penyakit), status fungsional (berbicara, tampilan wajah dan rongga mulut), status
psikologis, faktor lingkungan (sosial-budaya, edukasi, struktur keluarga, dan kemampuan
untuk memperhatikan kesehatan rongga mulut)

9
Instrumen yang digunakan untuk menilai dampak penyakit rongga mulut
terhadap kualitas hidup yaitu:

Instrumen untuk Menilai Oral


Health-Related Quality of Life
OHRQoL berkaitan dengan fisik, sosial,
dan psikologis. Instrumen digunakan
untuk menilai kualitas hidup pasien untuk
menilai fungsional, emosional, dan
dampak sosial karena adanya
abnormalitas rongga mulut

10
Untuk Dewasa

Sosial Impacts of Dental Disease (SIDD)


- Hubungan status kesehatan dental dengan sosial.
- Indikator klinis dinilai melalui derajat dampak sosial dan psikologis yang disebabkan
penyakit dental.
- Pengukuran ini dilakukan dengan wawancara berdasarkan 5 kategori, yaitu:
1. keterbatasan makan
2. keterbatasan komunikasi
3. rasa sakit
4. tidak nyaman
5. ketidakpuasan estetik.
- Seluruh kategori diukur dari 0-5, kecuali ketidaknyamanan dari 0-4
- Kekurangan: dapat mengevaluasi dampak tetapi tidak keparahan.

Geriatric (General) Oral Health Assesment Index (GOHAI)


- Penilaian masalah fungsional pasien
- Evaluasi keefektifan dari perawatan dental yang dilihat dari hubungan psikososial dan
penyakit oral.
- Patient-centered
- Terdiri dari 3 dimensi
1. fungsi fisik: makan, berbicara, dan menelan
2. fungsi psikososial: kecemasan/peduli akan kesehatan rongga mulut, ketidakpuasan akan
tampilan, tidak percaya diri terhadap kesehatan rongga mulut, dan menghindar dari
kontak sosial karena masalah rongga mulut
3. rasa sakit/tidak nyaman: penggunaan medikasi untuk menghilangkan rasa sakit atau
ketidaknyamanan dari mulut
- Terdiri dari 12 pernyataan
Cth: seberapa sering anda mengalami ketidaknyamanan makan di depan orang karena
masalah gigi/gigi palsu? Lalu direspon dengan angka 0=tidak pernah, 1=jarang, 2=
kadang, 3=sering, 4=sangat sering, 5=selalu
- Kegunaan:
 Menentukan status sosio-ekonomi pasien
 Evaluasi keefektifan perawatan dental
 Dapat digunakan untuk generasi muda

11
Dental Impact Profile (DIP)
- Pengukuran bersifat kohort
- Pentingnya gigi bagi individu/ populasi dan dampak pada kualitas hidup.
- Pemberian 25 pertanyaan dengan susunan acak dan 3 pilihan (dampak baik, buruk, tidak
ada dampak)
- Kegunaan:
 Memperkenalkan konsep gigi dan gigi palsu berdampak positif dan negatif. Indikator
gigi penting bagi individu atau populasi
 Membantu pasien menghargai dan evaluasi gigi geligi
 Sederhana dan singkat
 Evaluasi ras dan etnik yang berpengaruh untuk pasien

Dental Impact on Daily Living (DIDL)


- Pengukuran sosial-dental yang menilai 5 dimensi kualitas hidup yaitu:
1. Kenyamanan
2. Berhubungan dengan keluhan gusi berdarah dan lainnya
3. Penampilan
4. Rasa sakit
5. Keterbatasan aktivitas dan makan.
- Instrumen ini dapat mencakup spektrum luas dalam kehidupan dan dibandingkan dengan
status OH
- DIDL dapat membedakan efek subjektif untuk status sosial dan jenis kelamin yang berbeda
- Tujuan:menilai masalah dental subjektif dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari
- DIDL terdiri dari 36 pertanyaan dengan 5 skala di atas, diberi kode +1=efek positif, 0=efek
tidak dipertimbangkan, -1= efek negatif.

Oral Health Impact Profile (OHIP)


- Memberikan pengukuran komprehensif atas kesadaran diri dari disfungsi, ketidaknyamanan,
dan kecacatan yang berhubungan dengan kondisi mulut.
- Awalnya OHIP terdiri dari 49 pertanyaan dan dikelompokkan menjadi 7 domain/dimensi.
Lalu dikembangkan OHIP-14 sebagai bentuk sederhana dari OHIP-49.
- OHIP-14 terdiri dari 14 hal yang menjabarkan 7 dimensi yaitu:
1. Keterbatasan fungsi
2. Nyeri fisik
3. Ketidaknyamanan psikis
12
4. Ketidakmampuan fisik
5. Ketidakmampuan psikis
6. Ketidakmampuan sosial
7. Cacat

Dinilai menggunakan skala Likert yaitu 0=tidak pernah, 1=jarang, 2=kadang-kadang,


3=berulang, 4=selalu.
- Diukur dari jumlah nilai ordinal dari 14 item (2 item untuk setiap dimensi x 7 dimensi)
- Skor yang lebih tinggi menunjukkan kualitas yang merupakan dampak akibat kelainan pada
gigi dan mulut yang nantinya akan mempengaruhi kualitas hidup dan psikologis.
- Kegunaan:
 Evaluasi kesehatan oral lebih baik
 Alat ukur hasil perawatan
 Sebagai kuesioner yang sering digunakan

Untuk Anak-Anak

Child Perception Questionnaire (CPQ) 11-14


- Untuk anak-anak berumur 11-14 tahun yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak kondisi
rongga mulut dan orofasial pada anak dalam penilaian fungsional, emosional, dan sosial.
- Terdiri dari 37 item yang terbagi menjadi 4 subskala yaitu gejala rongga mulut (6),
keterbatasan fungsional (9), emosional (9), dan sosial (13).
- Nilai yang diberikan yaitu 0=tidak pernah, 1=sekali/dua kali, 2=kadang-kadang, 3=sering,
4=setiap hari/hampir tiap hari.

Pertanyaan juga meliputi kesehatan rongga mulut anak secara menyeluruh dengan nilai 0 (sangat
baik) – 4 (buruk) dan berapa besar kondisi rongga mulutnya mempengaruhi kualitas hidupnya
dengan nilai 0 (tidak sama sekali) – 4 (sangat sering)

Child Perception Questionnaire (CPQ) 8-10


- Untuk anak-anak usia 8-10 tahun.
- Terdiri dari 29 pertanyaan yang terbagi menjadi informasi demografi (2), pertanyaan
global (2), dan 25 sisanya terbagi menjadi 4 sub:
1. gejala oral

13
2. keterbatasan fungsional
3. emosional
4. sosial

Kuesioner ini dinilai dalam periode 4 minggu.


- Rentang nilai yang diberikan sama dengan CPQ 11-14. Nilai maksimal berjumlah 100. Untuk
pertanyaan global rentang nilai berkisar 0=sangat baik, 1=baik, 2=cukup baik, 3=buruk

Child Oral Impacts on Daily Perfomances


- Melihat dampak rongga mulut pada anak dengan pertanyaan yang disesuaikan dan
mengganti urutan dari pertanyaan. Skala yang digunakan yaitu 0-3 pada komputer.
- Indeks skor dinilai berdasarkan 8 aktivitas sehari-hari.

The Child Oral Health Impact Profile (COHIP)


- Mengandung 34 pertanyaan yang dibagi menjadi 5 sub yaitu:
1. kesehatan rongga mulut
2. fungsional
3. sosial-emosional
4. tampilan sekolah
5. self-image.
- Untuk anak berumur 8-15 tahun dengan pertanyaan positif dan negatif

The Early Childhood Oral Health Impact Scale (ECOHIS)


- Untuk anak presekolah dengan berisi 13 pertanyaan yang bergantung pada penilaian
parental.
- Pada 13 pertanyaan tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) bagian dampak pada anak, yang dibagi menjadi 4 sub:
1. gejala anak (1)
2. fungsi anak (4)
3. psikologi anak (2)
4. self-image dan interaksi sosial (2)
2) dampak pada keluarga, dibagi menjadi:
1. kesulitan parental (2)
2. fungsi keluarga (2)

14
Setiap pertanyaan dinilai dengan 0=tidak pernah, 1=sangat jarang, 2=kadang. 3=sering,
4=sangat sering, 5=tidak tahu

5. MACAM-MACAM DESAIN STUDI PADA EPIDEMIOLOGI ORAL


Dibuat oleh Cynthia P.

Dalam epidemiologi, terdapat 2 kelompok besar desain studi epidemiologi yaitu kelompok
desain observasional dan eksperimental.

Studi Deskriptif
Menerangkan gambaran umum dari peristiwa terjadinya suatu penyakit pada populasi dan
merupakan langkah awal untuk investigasi epidemiologi. Studi dengan desain deskriptif biasa
dipakai sebagai status kesehatan dalam data statistil kesehatan. Data menggambarkan status
kesehatan dalam periode waktu tertentu.

Studi Analitik
Menganalisis hubungan status kesehatan dengan variabel lainnya.
Studi analitik pada epidemiologi lebih sering ditemukan, namun data deskriptif sangat diperlukan
dalam pengembangan studi epidemiologi suatu penyakit.

Desain Studi Observasional


Dalam desain studi observasional, data telah diperoleh dan peneliti hanya menghitung dan
mengolah data tanpa adanya intervensi.

15
Studi ekologi → bertujuan untuk menemukan hipotesis. Memiliki unit analisis berupa kelompok.
Mencari korelasi suatu penyakit atau mortalitas dengan faktor determinan. Studi ekologi juga
dapat digunakan dalam melihat perbandingan pada tempat dan waktu yang berbeda. Studi
dengan desain ekologi mudah untuk dilakukan, namun lebih sulit dalam menginterpretasikannya
dikarenakan penjabaran hipotesis atau data yang diterima harus dapat dianalisa dengan teliti
terlebih dahulu, tidak dapat secara langsung dilihat. Disebut juga sebagai studi korelasi.

Contoh: pada tabel 3.3 terdapat grafik yang menggambarkan kejadian kematian selama
peristiwa gelombang panas di paris 2003. Dapat disimpulkan bahwa kejadian kematian memiliki
korelasi dengan peningkatan suhu selama gelombang panas. Walaupun faktor lain seperti
peningkatan polusi udara juga memiliki peran yang besar dalam peristiwa ini. Diketahui korban
lebih banyak meninggal secara mendadak dikarenakan oleh penyakit jantung dan paru-paru.

Studi cross-sectional → mengukur prevalensi suatu kejadian penyakit, sehingga disebut juga
sebagai studi prevalensi. Pengukuran terhadap paparan dan efek dilakukan pada waktu yang
sama. Sulit menilai hubungan yang terdapat pada data studi cross-sectional. Studi cross-sectional
relatif lebih murah dan mudah untuk dilakukan. Pada kejadian luar biasa, cross-sectional dipakai
untuk mengukur tingkat paparan dan menjadi langkah awal dalam menginvestigasi penyebab.
Data cross-sectional juga dapat digunakan untuk mengetahui pelayanan kesehatan yang paling
diperlukan pada suatu kelompok atau populasi dan berguna dalam melihat tren yang ada bila
studi cross-sectional dilakukan berkala. Agar mendapatkan data yang valid diperlukan kuisioner
yang baik, tingkat respon yang baik, dan juga besar sampel yang mencukupi.

16
Studi case-control → memberikan informasi tentang penyabab suatu penyakit, khususnya
penyakit yang jarang terjadi. Terdiri dari atas subjek dengan penyakit dan tanpa penyakit,
sebagai kelompok case dan control. Peneliti melihat secara retrospektif dengan melihat kejadian
penyakit pada pasien saat ini dan paparan terhadap pasien sebelum pasien menderita. Tidak
dapat menggambarkan nilai insidensi penyakit.

Kelompok case : harus dapat menggambarkan keadaan seluruh kasus pada suatu kelompok.
Dipilih karena subjek menderita penyakit tersebut, bukan terpapar kontaminan atau tidak.
Sebaiknya dilakukan pada subjek yang baru menderita penyakit tersebut, karena tidak
terpengaruh oleh reaksi penyembuhan.

Paparan: hal yang sangat berpengaruh adalah awal mula paparan dan durasi paparan yang
diterima oleh subjek. Dihitung semenjak terjadinya perkembangan dari penyakit pada subjek.

Odds ratio: hubungan paparan dan penyakit digambarkan melalui nilai OR yang didapat. OR
didapat dengan memandingkan nilai odds pada kelompok case dan control dengan rumus:
Exposed Not OR = AD/BC
Exposed OR > 1 = memiliki hubungan
Case A B OR = 1 = tidak memiliki hubungan
Control C D OR < 1 = terdapat efek protektif

17
Studi Cohort → disebut juga dengan studi follow-up atau insiden. Meliputi sekelompok subjek
sehat dan dibagi menjadi subgrup menurut paparan. Studi bertujuan untuk melihat
perkembangan penyakit pada subjek yang terpapar dan tidak terpapar. Bersifat prospektif
karena pengumpulan data diambil setelah subjek menderita penyakit. Sangat baik dalam
menggambarkan penyebab dan faktor risiko terhadap suatu penyakit. Namun sangat
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang banyak.

18
Desain Studi Eksperimental
Pada desain studi eksperimental, peneliti melakukan eksperimen atau intervensi pada faktor
determinan dari suatu penyakit. Pada desain studi eksperimental terdapat beberapa jenis:

Randomized controlled trials


Desain studi yang digunakan untuk mengetahui efek dari sebuh intervensi yang dilakukan. Subjek
dibagi menjadi 2 kelompok yaitu terintervensi dan tidak sebagai kontrol, lalu dilakukan
pembandingan outcomes dari kedua kelompok.

Field trials
Pada desain studi ini, dilibatkan subjek yang sehat namun diduga memiliki risiko. Data diambil
langsung di lapangan sehingga subjek bisa jadi sangat banyak. Dapat dilakukan untuk
mengevaluasi intervensi yang sudah dilakukan sebelumnya.

Community trials
Dilakukan pada sebuah
komunitas dan cocok untuk
penyakit yang berkaitan
dengan kondisi sosialekonomi
penderita.

19
Tabel 3.1 tipe studi epidemiologi

6. MACAM-MACAM PENGUKURAN PADA EPIDEMIOLOGI ORAL


Dibuat oleh Daniel S.

Populasi Berisiko (Population at Risk)


Populasi berisiko adalah jumlah orang yang diikutkan dalam penelitian. Idealnya, seseorang
yang rentan terhadap penyakit lah yang akan diteliti.

Ukuran Frekuensi Penyakit


Kuantifikasi kejadian suatu penyakit dengan menghitung individu yang terinfeksi, sakit
(morbiditas), atau meninggal (mortalitas) pada suatu populasi.

Kesepakatan umum dalam interpretasi UFP :


Bila angka 0,6 – 0,8 → ”biasanya”
Bila angka 0,2 – 0,5 → “kadang-kadang”
Bila angka 0,01 – 0,2 → ”jarang”

UFP biasanya diukur dengan rate atau proporsi. Jenis UFP umumnya adalah insidensi, prevalensi,
dan mortalitas:

20
Insidensi
- Digunakan untuk estimasi probabilitas/risiko terkena penyakit selama satu periode waktu
tertentu.
- Angka insidens meningkat = probabilitas terkena penyakit juga meningkat

Insidensi kumulatif
- Probabilitas seseorang terkena penyakit pada periode waktu tertentu.
- Untuk mengetahui masalah kesehatan dan risiko yang mungkin dihadapi

Attack rate (AR)


- Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan suatu saat dibandingkan jumlah
penduduk yang mungkin terkena penyakit pada saat yang sama
- Untuk mengetahui derajat penyerangan suatu penyakit pada populasi

21
Contoh:
Pada waktu terjadinya wabah morbili di kelurahan Y pada tahun 1987, terdapat 18 anak yang
menderita morbili. Jumlah anak yang berisiko di kelurahan tersebut adalah 2000 anak.
Berapakah attack rate pada kasus tersebut ?

Attack rate = 18/2000 = 0,009 = 9/1000

Densitas Insidens (Hazard rate, incidence density rate, person time incidence)
Untuk mengukur kecepatan terjadinya suatu kasus baru dalam populasi.

Prevalensi
- Jumlah kasus yang ada (lama dan baru) dalam populasi, pada satu periode waktu tertentu.

22
- Interpretasinya adalah probabilitas seorang individu menjadi kasus (atau jadi sakit), pada
periode waktu tertentu
- Faktor penentu:
 Tingkat keparahan penyakit, apabila perkembangan penyakit terjadi pada waktu
singkat maka prevalensi menurun
 Lama waktu/durasi suatu penyakit, apabila durasi terjadinya penyakit lebih lama maka
prevalensi akan tinggi
 Jumlah kasus baru, besarnya perkembangan suatu penyakit menjadikan prevalensi
semakin meningkat

Macam-macam prevalensi ialah:

Prevalensi titik
Probabilitas seorang individu menjadi kasus (atau jadi sakit) pada suatu titik waktu

Ciri-ciri:
- Tidak memiliki dimensi
- Nilai antara 0-1

23
Prevalensi periode
Disebut juga:
- Prevalens tahunan (annual of prevalence)
- Prevalens selama hidup (lifetime of prevalence)

Perbedaan Insidensi dan Prevalensi

24
Mortalitas

Contoh: Jika ada 25 kasus kematian karena kanker paru dalam 1 tahun pada populasi dengan
jumlah penduduk 30.000, berapakah maka mortality rate untuk populasi tersebut?

Mortality rate = 25/30.000 = 0,00083 = 83 kematian per 100.000 penduduk

25
7. INDEKS STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT
Dibuat oleh Daniel Steven

Pengukuran Penyakit Dental


Decayed, missing, filled (DMF)
Indeks decay missing filled (DMF) digunakan untuk mengetahui status kesehatan gigi pada
perhitungan gigi permanen

Berikut ketentuan utama pada penggunaan status DMF:


- Perhitungan status DMF tidak mengikut sertakan gigi M3
- DMF dibagi menjadi 2: decay, missing, filled teeth (DMFT) dan decay, missing, filled surface
(DMFS)

26
- Perhitungan DMF tidak mengikutsertakan kriteria berikut:
 ekstraksi ortodontik
 injury loss

Nilai DMFT pada dewasa berkisar antara 0-28, sedangkan untuk DMFS ialah antara 0-128.

Perhitungan DMFS melihat peraturan berikut: gigi posterior dewasa berjumlah 16 buah dan
masing-masing memiliki 5 permukaan sedangkan gigi anterior 12 buah dengan masing-masing 4
permukaan

Cara menghitung rata-rata DMF pada komunitas:


(status DMF individual secara keseluruhan) / (jumlah populasi pada komunitas)

Sedangkan untuk perhitungan pada gigi sulung digunakan sebagai berikut:


Decayed and filled primary (df)
Karena sulit untuk menentukan apakah gigi sulung hilang karena karies atau karena eksfoliasi
alami, gigi yang hilang sering tidak dimasukkan ke dalam indeks ini. Indeks df biasanya
digunakan pada anak-anak yang mulai mengalami eksfoliasi gigi sulung (usia > 5 tahun).

Terdapat pula indeks def yakni decayed, indicated for extraction, and filled untuk karies pada
gigi sulung. Indeks def akan selalu memiliki nilai yang sama dengan indeks df karena indeks df
mengkombinasikan gigi decayed dan indicated for extraction ke dalam kategori yang sama.
Kebanyakan program surveillance kesehatan oral melaporkan skor dft atau dfs dibandingkan
skor deft atau defs.

Indeks dmf digunakan pada anak berusia < 5 tahun untuk menghitung dmft dan dmfs anak.
Perhitungan dmft/dmfs digunakan untuk anak balita sedangkan dft/dfs digunakan pada anak
dengan periode gigi campur.

27
Root caries index (RCI)
- Perhitungan ini tidak memasukan kehilangan akar gigi seperti pada karies koronal
- Kekurangnan metode ini adalah kurang dapat memprediksi keparahan pada permukaan
atau perkembangakn kerusakan karies di dalam akar
- Apabila hasil perhitungan > 12%, mengindikasikan resesi

Significant Caries Index (SiC)


Indeks yang digunakan untuk mengukur kelompok yang mempunyai karies lebih tinggi dalam
suatu populasi. Cara menghitung significant caries index (SiC) :
1. Individu dikelompokkan berdasarkan nilai DMFT
2. Pilih 1/3 populasi dengan nilai karies tertinggi
3. Rata-rata dari DMFT pada subgroup tersebut dihitung dan merupakan nilai dari SiC

Pengukuran status periodontal


Community Periodontal Index (CPI)

3 aspek yang dihitung adalah:


1. Gingival bleeding
2. Kalkulus
3. Poket periodontal

- Tidak menghitung loss of attachment secara klinis


- CPI sebelumnya dikenal sebagai Community Periodontal
Index of Treatment Needs (CPITN)
- Hanya digunakan untuk mengukur status periodontal dan
tidak dapat digunakan untuk memperhitungkan
perkembangan perawatan periodontal

28
Perhitungan CPI:
Dengan menggunakn probe 0,5 mm ball tip dan black band 3,5-5,5mm dengan cincin kedalaman
8,5-11,5mm
➔ Dewasa (20 tahun ke atas): diperika 10 gigi indeks yaitu 17, 16, 11, 26, 27, 36, 35, 31, 46,
47
➔ Usia <20 tahun: diperiksa 6 gigi indeks diealuasi dengan 16, 11, 26, 36, 31, 46

Gingival Index (GI)


Probe periodontal dimasukkan pada kedalaman 2-3 mm dan gigi ditelusuri dengan posisi probe
sejajar sumbu gigi

Scoring Loss of Attachment

29
Pengukuran oral hygiene indices
Oral Hygiene Index (OHI) (Greene and Vermilion 1960)
OHI terkomposisi dari indeks debri dan kalkulus. Setiap indeks yang terdaftar merupakan
komposisi dari 12 determinasi yang merepresentasi jumlah debris serta kalkulus yang ditemukan
pada permukaan bukal dan lingual dari setiap 3 segmen pada lengkung rahang, segmen ini
adalah:
1. Distal dari kuspid kanan
2. Distal dari kuspid kiri
3. Mesial antara bikuspid kanan dan kiri

Setiap segmen dilihat secara seksama akan adanya debri ataupun kalkulus, hanya 1 gigi yang
diambil dari setiap segmen untuk menghitung indeks individual dan memiliki tingkat debri atau
kalkulus tertinggi.

Kriteria penilain adalah sebagai berikut:

30
Contoh kasus:

31
Oral Hygiene Index- Simplified (OHI-S) (Greene and Vermillion, 1964)
Perbedaan utama antara OHIS dan OHI adalah jumlah gigi yang
dianalisa yakni OHI-S menilai setengah dari jumlah keseluruhan
OHI. Kriteria penilaian yang digunakan sama dengan penilaian
OHI.
6 permukaan terpilih:
Aspek posterior → umumnya gigi M1(16, 26) dipilih dengan gigi
yang sama pada kontralateralnya
Aspek anterior → I1 (11, 31) apaabila tidak ada maka (21, 41)

Cara menghitung:

32
33
Plaque Index (Pl) Silness-Löe Index
Indeks ini digunakan dalam pengukuran dikhususkan untuk mengetahui jumlah plak melalui debri
halus dan deposit mineral pada gigi berikut:
* Gigi hilang tidak dapat disubsitusi
Setiap permukaan dari gigi tersebut (bukal, lingual,
mesial, dan distal) diberi kriteria penilaian 0-3 lalu
dibagi empat.

34
Quigely Hein Index (modified)/Quigley Hein Index (Modified by Turesky et al,
1970)
Kriteria perhitungan plak ini memiliki angka 0-5
untuk mengetahui keseluruhan indeks di dalam mulut.
Gigi yang dipilih sebagai indeks merupakan gigi
yang tidak pernah direstorasi.

35
Plaque Control Record
Menghitung permukaan gigi menjadi 4 sisi yakni:
1. Mesial
2. Distal
3. Bukal
4. Lingual
Setelah pasien berkumur, Bismark brown solution, Diaplac, atau warna yang ditujukan diberikan
kepada gigi yang diindikasikan. Pada dentogingival junction diperiksa apakah ada akumulasi
plak. Jika ada, pada catatan diberikan warna merah.

36
Dental fluorosis
Dean’s Fluorosis Index

Tooth Surface Index of Fluorosis (TSIF)

37
1. Di bawah ini yang bukan merupakan tujuan dari epidemiologi adalah:
A. Mencari etiologi penyakit
B. Menentukan persebaran penyakit
C. Merupakan tahap awal pencegahan penyakit
D. Mempelajari progresifitas penyakit
E. Menilai keberhasilan intervensi terapeutik atau kebijakan kesehatan

Jawaban: C. Merupakan tahap awal pencegahan penyakit


Pembahasan:
Tujuan dari epidemiologi antara lain:
− Mencari etiologi penyakit
− Menentukan penyebaran penyakit
− Mempelajari progresifitas penyakit
− Menilai intervensi terapeutik dan kebijakan kesehatan
− Mengidentifikasi faktor modifikasi yang dapat berpengaruh pada terjadinya suatu penyakit
sehingga berguna sebagai landasan yang kuat dalam menyusun hipotesis atau suatu
kebijakan kesehatan yang lebih baik

2. Siswa A seringkali mengonsumsi aneka makanan manis yang tersedia di kantin sekolah. Ketika
dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi sekolah, siswa A memiliki 5 gigi yang berlubang. Dari
sudut pandang segitiga epidemiologi, setting sekolah yang tidak menyediakan makanan ramah
gigi dikategorikan dalam faktor...
A. Host
B. Agent
C. Environment
D. Place
E. People

Jawaban: C. Environment

38
Pembahasan:
Segitiga epidemiologi merupakan konsep berbagai permasalahan
kesehatan termasuk faktor terjadinya suatu penyakit. Segitiga
epidemiologi terdiri dari:

Host: individu yang terkena penyakit atau menjadi faktor risiko untuk
terjadinya suatu penyakit (faktor intrinsik)

Agent: mikroorganisme infeksius/patogen yang menyebabkan penyakit

Environment: faktor lingkungan yang memengaruhi terjadinya penyakit (faktor ekstrinsik)

Time: waktu/periode inkubasi penyakit, durasi penyakit, angka harapan hidup host atau patogen

Sekolah merupakan tempat yang dapat dikategorikan sebagai faktor ekstrinsik terjadinya suatu
penyakit. Pada segitiga epidemiologi, environment termasuk ke dalam faktor ekstrinsik. Jadi,
jawabannya adalah lingkungan

Sementara, time, place, dan people adalah variabel epidemiologi yang dikaji/analisis pada
epidemiologi deskriptif.

3. Seorang peneliti ingin melihat apakah dilakukannya perawatan dental dan adanya abnormalitas
anatomi jantung merupakan faktor risiko terjadinya penyakit infective endocarditis. Desain
penelitian analitik digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan desain yang tepat adalah...
A. Cross-sectional
B. Deskriptif
C. Randomized Control Trial
D. Case-control studies
E. Field Trial

Jawaban: D. Case-control studies


Pembahasan:
Jawabannya case-control studies karena penelitian ini jika ditelaah akan dicari faktor risikonya.
Alurnya bisa maju (prospektif) atau mundur (retrospektif). Kalau maju berarti cohort studies, kalau
mundur case-control studies.

39
Berhubungan dengan timbulnya suatu penyakit yaitu infeksi endokarditis, maka desain penelitian
yang diambil adalah case-control studies. Kalau cohort agak tidak etis untuk penelitian sekarang
dan biasanya ada kata kunci "follow-up".

- Cross-sectional dilakukan pada satu waktu yang sama, tanpa follow-up, dan biasanya untuk
mengukur prevalensi penyakit.
- Cohort dilakukan untuk mencari informasi mengenai penyebab penyakit dan pengukuran
langsung terhadap risiko perkembangan penyakit serta bisa untuk menginvestigasi efek
kronis. Ciri-cirinya ialah membutuhkan follow-up dan memaparkan suatu penyakit pada suatu
kelompok.
- Case control dilakukan dengan membandingkan 2 kelompok (terpapar dan tidak terpapar)
lalu ditelusuri faktor risiko/penyebab terjadinya penyakit.
- Studi deskriptif hanya menggambarkan jumlah dan distribusi penyakit.
- Randomized Control Trial merupakan studi ekperimental yang melibatkan proses pemberian
perlakuan kepada subjek secara acak. Umumnya dilakukan untuk intervensi secara individu
seperti percobaan obat baru, efektivitas vaksin, atau prosedur medis.
- Field Trial adalah studi eksperimen yang dilakukan di lapangan dengan individu-individu
yang belum sakit sebagai subjek. Peneliti menentukan alokasi faktor penelitian kepada
kelompok studi.

4. Indikator yang menunjukkan probabilitas populasi sakit dalam kurun waktu tertentu dan dapat
digunakan dalam studi penyakit kronis adalah...
A. Insidensi
B. Prevalensi
C. Morbidity
D. Proporsi
E. Rate

Jawaban: B. Prevalensi
Pembahasan:
Insidensi → kasus baru yang muncul dalam kurun waktu tertentu pada suatu populasi.
Morbiditas → indikator untuk mengukur derajat kesehatan penduduk.
Rate → perbandingan jumlah suatu kejadian terhadap jumlah populasi yang memiliki faktor risiko
dalam kurun waktu tertentu.

40
5. Indeks yang tepat digunakan untuk melihat kondisi mulut akibat adanya karies mencapai pulpa
yang tidak ditangani adalah...
A. DMF-T
B. DMF-S
C. PUFA
D. SiC
E. ICDAS

Jawaban: C. PUFA
Pembahasan:
DMF-T → digunakan untuk mengukur tingkat karies per gigi dan tingkat perkembangan karies
pada individu maupun populasi
DMF-S → digunakan untuk mengukur tingkat keparahan karies dental
PUFA → digunakan untuk menilai keparahan karies gigi yang tidak ditangani dengan
baik/sudah sakit (pulpitis, ulser, fistula, abses)
SiC → digunakan untuk mengukur kelompok yang mempunyai karies lebih tinggi dalam suatu
populasi (1/3 dari populasi nilai DMFTnya tinggi)
ICDAS → digunakan untuk mendeteksi karies pada permukaan koronal gigi

6. Seorang dokter gigi ingin mengevaluasi keberhasilan chairside kontrol plak edukasinya kepada
pasien di kliniknya. Dokter gigi tersebut ingin membandingkan kebersihan mulut pasien sebelum
dan 6 bulan sesudah chairside education dan kontrol plak dilakukan. Apakah pengukuran yang
tepat digunakan?
A. ICDAS
B. OHIS
C. CPI
D. PBI
E. Gingival Index

Jawaban: B. OHIS
Pembahasan:
ICDAS → digunakan untuk mendeteksi karies pada permukaan koronal gigi
OHIS → untuk mengevaluasi efektivitas menyikat gigi, mengevaluasi tingkat kesehatan oral
individu, dan digunakan pada studi epidemiologi penyakit periodontal
CPI → untuk melakukan survei dan evaluasi status periodontal (bleeding, calculus, pocket)

41
PBI → untuk mengevaluasi kondisi gingiva seseorang berdasarkan kecenderungan perdarahan
gingiva
Gingival Index → untuk menilai keparahan inflamasi gingiva

7. Hal-hal atau variabel yang terkait dengan kemungkinan terjadinya suatu penyakit tertentu
dikenal dengan istilah...
A. Faktor kausal
B. Faktor risiko
C. Faktor determinan
D. Faktor modifiable
E. Faktor necessity

Jawaban: B. Faktor risiko


Pembahasan:
Faktor kausal: → faktor yang menyebabkan penyakit/berkaitan dengan hasil
Faktor determinan → faktor yang melatarbelakangi timbulnya penyakit (contoh: sosioekonomi,
kultural lingkungan)
Faktor modifiable → faktor yang dapat diubah (contoh: merokok)

8. Kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh faktor diet, kebersihan, merokok, penggunaan
alkohol, stres, dan trauma. Faktor-faktor ini juga merupakan faktor risiko sejumlah penyakit kronis
lainnya. Pendekatan kolaboratif untuk mengatasi faktor-faktor risiko ini dianggap lebih rasional
daripada yang spesifik penyakit. Karena satu pendekatan preventif dapat efektif untuk
beberapa penyakit. Pendekatan ini dikenal dengan...
A. Konsep Bloom
B. Mandala of Health
C. Common Risk Factor Approach
D. Social Determinants of Health
E. Pendekatan kesehatan holistik

Jawaban: C. Common Risk Factor Approach


Pembahasan:
Common risk factor approach → metode yang digunakan untuk membuat program promosi
kesehatan lintas disiplin dengan berbagai faktor risiko yang umum untuk beberapa penyakit

42
Konsep Bloom → mengusulkan 4 elemen yang berkontribusi dalam kesehatan "force fields" yaitu,
lingkungan, gaya hidup, genetik, dan pelayanan kesehatan.

Mandala of Health → model dari ekologi manusia di mana setiap komponennya memiliki potensi
yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Faktor yang memengaruhi ada human biology,
personal behaviors, pyscho-socio-economy environment, physical dan environment.

9. DMFT sebesar 2,9 untuk anak-anak di negara F sudah sesuai dengan target World Health
Organization, yakni dmft sebesar 3 untuk kelompok umur tersebut. Angka dmft ini tidak dapat
menggambarkan progresifitas karies yang pada kenyataannya terdapat lebih dari 50% karies
tersebut telah berlanjut menjadi infeksi odontogenik. Dmft tidak dapat menggambarkan
keparahan infeksi odontogenik yang terjadi. Indeks apa yang sebaiknya digunakan dalam kasus
di atas?
A. Insidensi
B. Prevalensi
C. PUFA
D. DMFT
E. SiC

Jawaban: C. PUFA
Pembahasan:
Sama seperti no.5
Insidensi → kasus baru yang muncul dalam kurun waktu tertentu pada suatu populasi.
Morbiditas → indikator untuk mengukur derajat kesehatan penduduk.
Rate → perbandingan jumlah suatu kejadian terhadap jumlah populasi yang memiliki faktor risiko
dalam kurun waktu tertentu.

10. Konstruksi multidimensi yang mencakup evaluasi subjektif terhadap kesehatan mulut individu,
kesejahteraan, fungsional, kesejahteraan emosional, harapan, dan kepuasan dengan perawatan,
dan rasa diri adalah pengertian dari...
A. Oral Health Quality of Life
B. Health related quality of life
C. Perception of health
D. Purpose of prevention
E. Causal of disease

43
Jawaban: A. Oral Health Quality of Life
Pembahasan:
Health related quality of life (HRQoL) → kesehatan fisik dan mental individu atau kelompok yang
dirasakan dari waktu ke waktu.
Perception of health → penilaian subjektif oleh individu yang terpengaruhi terhadap status
kesehatannya

44