Anda di halaman 1dari 11

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Penyusunan Basis Data Assay


Basis data Assay dan data informasi geologi adalah data – data dasar di dalam
proses permodelan dan estimasi sumberdaya bijih. Prosedur awal setelah data
tersebut dimasukkan adalah komposit data tetapi di dalam penelitian ini tidak
dilakukan karena hasil dari data asli sudah memberikan nilai yang sangat teliti.
Semua informasi untuk proses permodelan dan estimasi tersebut tertuang di dalam
basis data Assay ini, sehingga di dalam proses penyusunan data tersebut menjadi teliti
dan benar serta selalu memperhatikan validasinya.
Telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa basis data assay ini terdiri dari
data collar, data survey, data assay dan data lithologi. Data collar menggambarkan
penyebaran / distribusi titik bor pada titik koordinat terhadap posisi x, y dan z. Data
survey memuat informasi bearing/dip direction, dip, dan deviasi lubang
bor/trench/stope sampling namun di dalam penelitian ini data survey tidak digunakan
karena pemboran untuk eksplorasi nikel adalah pemboran tegak. Kemudian data
assay berisi informasi kedalaman penembusan lubang bor terhadap zona bijih (from
to) beserta nilai kadar Ni, Co, Fe, MgO, SiO2 dan CaO dari setiap interval kedalaman
bor tersebut dan memuat informasi rock type yang membedakan jenis batuan
(ore/waste) dari tiap penembusan bor inti atau tiap interval sampling. Biasanya data
litologi ini didapatkan dari analisis core logging dan data assay kadar. Data tersebut
diklasifikasikan ke dalam nilai kadar yang membawa unsur bijih nikel dari setiap
interval kedalaman bor dan diidentifikasikan sebagai horizon nikel laterit. Penentuan
horizon tersebut dilakukan berdasarkan kadar batas yang ditentukan oleh PT. Antam
Tbk.

77
5.2 Verifikasi dan Validasi Data
Verifikasi data merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Kesalahan
minor pada satu nilai individual dapat memberikan effect terhadap penghalusan
korelasi, analisis statistik parameter, ataupun geostatistik. Verifikasi data dilakukan
sebelum dan sesudah model dibuat, namun sebelum dilakukan perhitungan
sumberdaya. Sumber kesalahan yang biasanya terjadi adalah :
 Data topografi yang tidak sesuai dengan kondisi aktual di lapangan
Hal ini disebabkan oleh teknik surveying yang kurang baik atau grid
pemetaan yang kurang mewakili. Topografi merupakan salah satu faktor utama
yang sangat penting di dalam permodelan, terutama untuk nikel laterit. Data
topografi dari sumber data memberikan interval kontur setiap 10 meter dari range
0 – 150 meter di atas permukaan laut. Dalam hal ini merupakan masalah dalam
input Studio 3 Datamine yaitu dalam simulasi permodelan akan memberikan hasil
yang tidak smooth antara hasil collar/drillhole dengan kondisi topografi. Elevasi
yang divisualisasikan dalam Datamine merupakan bentuk hubungan garis yang
disebut string dan dihubungkan dalam bentuk segitiga/triangle yang disebut
wireframe. Oleh karena itu dengan data topografi interval kontur 10 meter kurang
mewakili terhadap jarak spasi antar bor 25 meter yang memberikan hasil nilai
error yang sangat besar. Nantinya berujung pada kondisi yang tidak sesuai antara
elevasi topografi dengan elevasi collar. Mengingat keterbatasan data yang
diberikan, maka digunakan data topografi yang direcontouring dengan interval 2
meter dari acuan titik collar yang dijadikan sebagai titik elevasi survey. Hal ini
dilakukan untuk memperkecil kesalahan/error dari data topografi dengan data
collar/bor yang telah disebutkan sebelumnya. Walaupun topografi yang dibuat
hanya sebatas titik collar/bor, di dalam perencanaan tambang/pit limitnya
topografi yang digunakan hanya sebatas daerah permodelan. Batas daerah
topografi yang digunakan adalah batas toleransi setengah jarak titik bor terluar
dari daerah penelitian.

78
Hasil recontouring dengan interval 2 meter dalam Studio 3 Datamine seperti pada
gambar 5.1 berikut.

500 E

550 E

600 E

650 E

700 E

750 E

800 E

850 E

900 E

950 E

1000 E

1050 E

1100 E

1150 E

1200 E
1800 N 1800 N

1700 N 1700 N

1600 N 1600 N

1500 N 1500 N

1400 N 1400 N

1300 N 1300 N

1200 N 1200 N

1100 N 1100 N

1000 N 1000 N
1:4500
0 50 100 150 200 250

900 N 900 N
1000 E

1050 E

1100 E

1150 E

1200 E
500 E

550 E

600 E

650 E

700 E

750 E

800 E

850 E

900 E

950 E

Gambar 5.1 Rekonturing Topografi Blok GB Pulau Gee dengan Interval 2 m dengan
Studio 3 Datamine

 Ketidaksesuaian antara koordinat collar drillhole, outcrop dan topografi


Verifikasi mengenai informasi koordinat yang digunakan dalam UTM atau
dalam koordinat lokal sangat penting untuk diketahui. Pada kasus ini koordinat
yang digunakan adalah koordinat lokal yaitu dalam mE dan mN. Kemudian
Benchmark juga harus diperhatikan yaitu nilai batas koordinatnya Xmin, Xmax
dan Ymin, Ymax Alat pengukuran elevasi yang digunakan juga harus diketahui
dengan pasti apakah digunakan DGPS (Differential Global Positioning System)
atau Teodolite (To) atau Total Station (TS).

79
 Ketidaktelitian pencatatan collar
Kejadian yang sering terjadi adalah kekeliruan meletakkan posisi nilai x dan y
dalam merekam data. Kemudian dilihat ada atau tidak terdapatnya selisih collar
dengan topografi minimum dan maximum dan nilai toleransinya. Namun didalam
blok penelitian ini tidak terdapat kesalahan tersebut.
Data dapat digunakan ke dalam proses permodelan dan estimasi jika data
tersebut telah dikatakan valid berdasarkan faktor – faktor di atas. Apabila belum
valid, langkah koreksi terhadap data tersebut harus terus dilakukan sampai data
tersebut valid. Penyebab - penyebab data menjadi tidak valid harus selalu dianalisis.

5.3 Model Blok Badan Bijih


Permodelan dan estimasi sumberdaya blok GB pulau Gee dilakukan dalam
dua tahap utama yaitu pertama permodelan badan bijih nikel kemudian dilanjutkan ke
tahap estimasi sumberdaya dengan menggunakan metode inverse distance power.
Dalam proses permodelan badan bijih, dilakukan korelasi – korelasi dari
setiap section/penampang bor yang memiliki zona yang sama. Korelasi – korelasi
tersebut dilakukan secara 3 dimensi kemudian dihubungkan dengan
wireframe/kerangka bijih. Korelasi dan wireframe tersebut disesuaikan dengan
kondisi topografi sehingga model yang dihasilkan menjadi smooth atau tidak saling
overlap. Kemudian terdapat beberapa daerah yang langsung ke horizon saprolit.
Kemungkinan pada daerah ini terjadi proses geologi seperti erosi atau proses alam
lainnya.
Sebelum estimasi sumberdaya ditentukan, yang harus dilakukan adalah
menentukan model blok. Dari setiap model blok tersebut dilakukan estimasi kadar
berdasarkan metode yang telah disebutkan. Acuan awal kadar tersebut adalah dari
setiap interval titik bor dan selanjutnya untuk model blok yang lebih jauh dimasukkan
variabel kadar dari setiap model blok terdekat dengan bor yang sudah diestimasi.

80
Untuk ukuran model blok yang digunakan adalah berdasarkan unit
penambangan terkecil yaitu ½ dari spasi lubang bor untuk x dan y dan 2 m untuk z
sehingga ukuran blok yang digunakan 12,5 x 12,5 x 2 meter. Ukuran ini di ambil
berdasarkan konvensi yang telah diuji berdasarkan SMU yang disebut dengan Small
Mining Unit. Seharusnya blok – blok tersebut disesuaikan dengan alat penambangan
yang tersedia oleh perusahaan atau kontraktor. Tetapi dalam penelitian ini diambil
berdasarkan kemampuan alat penambangan terkecil yang digunakan dalam
penambangan nikel laterit.
Model blok yang dibuat bukan model berbentuk bola atau berbentuk lainnya
dikarenakan model berbentuk blok mendekati bentuk geometri endapan yang
sebenarnya dan dari blok tersebut tersebar secara merata pada setiap sisi suatu zona
atau inventarisasi mineral dan lebih mempermudah didalam melakukan proses
estimasi kadar. Sedangkan untuk tinggi dari model blok seringkali dibuat sesuai
dengan tinggi jenjang yang akan dipakai dalam penambangan. Lokasi dari blok
sendiri tergantung pada banyak faktor, misalnya elevasi batas atas blok dibuat
berdasarkan batas antara zona ore dengan overburden, kontak antara zona
mineralisasi, dan lain sebagainya.

81
5.4 Analisis Statistik Desktriptif
5.4.1 Analisis Statistik Univarian
Dari hasil statistik blok utara dan blok selatan daerah penelitian memiliki hasil
yang hampir mirip yaitu meliputi parameter nilai penyebaran kadar Ni, Fe dan MgO,
sesuai dengan hasil statistik yang berbanding terbalik antara kadar Ni terhadap kadar
Fe dan hampir berbanding lurus kadar Ni terhadap MgO. Dari hasil statistik tersebut
dapat dijelaskan karakteristik endapan nikel laterit berdasarkan fase pembentukan dan
kandungan nilai logamnya. Pada awal pembentukan pada fase pelapukan logam Mg
lapuk dan larut pada proses leaching sedangkan Fe tertinggal membentuk koloid
silikat. Kemudian terjadi pengkayaan pada zona saprolit sehingga pada zona limonit
memiliki kandungan Fe yang tinggi dan Ni rendah dan zona saprolit yang memiliki
kandungan nilai kadar Ni yang tinggi dan Fe rendah (larut dan supergen).

5.4.2 Analisis Statistik Bivarian


Metode statistik bivarian digunakan untuk menganalisis 2 (dua) kelompok data
yang berbeda tetapi terletak pada lokasi yang sama, dimana dalam kasus ini
kelompok data yang dianalisis yaitu data kadar Ni dan data kadar Fe serta data kadar
MgO yang terdapat pada lokasi yang sama yaitu pada masing-masing blok
pemodelan. Adapun metode statistik bivarian yang umum digunakan yaitu diagram
pencar atau scatter plot. Seperti pada gambar 5.2 berikut.

82
3

Gambar 5.2 Korelasi Kadar Ni dan Fe Blok Selatan

Tanda panah di atas menunjukkan zonasi nikel laterit secara vertikal. Tanda
panah 1 menunjukkan proses pengkayaan unsur Ni dan meningkat secara bertahap.
Sedangkan untuk unsur Fe terjadi sedikit kenaikan. Tanda panah kedua menunjukkan
kadar Fe meningkat dari ± 10 % menjadi ± 28 %. Tanda panah ketiga menunjukkan
kadar Fe meningkat lagi menjadi ± 35 %. Sedangkan nilai kadar Ni semakin menurun
mendekati nilai ± 1,8 % menjadi 1,4 %. Kemudian terus menerus kadar Fe semakin
meningkat mendekati ± 50%. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi zona peralihan
dari zona saprolit ke zona limonit. Dan kadar Ni semakin kecil mendekati nilai 1 %
yang merupakan karakteristik zona top soil.

83
1

Gambar 5.3 Korelasi Kadar Ni dan MgO Blok Selatan


Tanda panah diatas juga menunjukkan proses zonasi nikel laterit secara
vertikal. Tanda panah 1 menunjukkan bahwa unsur MgO pada awal pelapukan naik
kepermukaan berkisar ± 33 % sementara kadar nilai Ni ikut terlapukkan yang berasal
dari protholit dan belum menunjukkan kenaikan dengan kata lain kadar Ni belum
terkayakan. Setelah proses leaching terjadi, unsur Ni dan MgO larut dan terjadi
pengkayaan pada zona saprolit sehingga terlihat kadar Ni yang semakin naik yang
ditunjukkan tanda panah 2. Mulai kadar berkisar ± 1,2 % unsur Ni semakin naik
secara bertahap sampai bernilai ± 2,5 %. Seiring unsur Ni semakin naik, terjadi
kenaikan juga pada unsur MgO sampai ± 32 %. Kemudian MgO semakin larut
kebawah sampai pada zona bedrock dikarenakan sifat kelarutan MgO lebih tinggi
dibandingkan unsur Ni sehingga pada korelasi diatas dapat terlihat juga bahwa nilai
MgO semakin menyebar sampai zona paling bawah. Seperti yang telah dibahas pada
analisis statistik unvarian bahwa nilai kadar Ni dan MgO berbanding lurus.

84
5.5 Klasifikasi Hasil Estimasi Mineral
Hasil estimasi mineral nikel pada penelitian ini diklasifikasikan ke dalam
sumberdaya terukur dan juga dapat dikatakan sebagai sumberdaya ekonomis dengan
memasukkan unsur nilai Cut Off Grade yang tersusun dalam beberapa skenario.
Secara umum jika suatu sumberdaya sudah terlibat unsur nilai Cut Off Grade bisa di
katakan sebagai klasifikasi cadangan. Tetapi di dalam hal ini penulis mengambil
beberapa pertimbangan antara lain :
- Pengertian Cut Off Grade adalah kadar rata – rata mínimum dari suatu nilai
bijih yang masih bernilai ekonomis dan dapat ditambang. Hal ini dapat
diindikasikan bahwa pengertian tersebut lebih mengacu kepada jumlah rata –
rata dari nilai ekonomis suatu bijih pada saat produksi dari penambangan,
dengan kata lain bijih yang masih memiliki nilai kadar dibawah COG jika
digabungkan dengan kadar bijih bernilai tinggi diatas dari nilai COG akan
menghasilkan nilai kadar yang lebih sedikit atau sama dengan nilai COG.
Tentunya juga melibatkan dan mempertimbangkan ongkos produksi dan
ongkos operasi penambangan.
- Jika dalam suatu sumberdaya dengan menginputkan nilai COG dalam
perangkat lunak Studio 3 Datamine, nilai COG tersebut diambil dari nilai
kadar minimum COG dari satu blok bukan dari kadar rata – rata beberapa
blok, dengan kata lain penaksiran jumlah nilai kadar diatas dari nilai COG
hanya ditaksir secara 2 dimensi. Sehingga jika akan dilanjutkan ke tahap
klasifikasi cadangan harus ditentukan terlebih dahulu perencanaan Pit
Design/Pit Limit secara 3 dimensi.
Secara lebih spesifik, klasifikasi sumberdaya yang digunakan pada penaksiran bijih
nikel pada Blok GB Pulau Gee bisa didasarkan pada klasifikasi yang sesuai dengan
standar pelaporan sumberdaya dan cadangan di dunia seperti yang disebutkan pada
bab III. Yaitu :

85
1. Sumberdaya tereka (inferred resources), yaitu pada area-area yang telah
dilakukan pemboran/sampling dengan spasi yang lebih besar dari 50 m atau
pada badan bijih yang sulit dilakukan interpretasi antar section. sumberdaya
mineral yang dimana tonase, kadar dan kandungan mineral dapat diestimasi
dengan tingkat keyakinan rendah. Pada tahapan ini dilakukan asumsi dari
fakta-fakta geologi yang ada dan tidak ada verifikasi dari informasi geologi
dan/atau kemenerusan kadar. Informasi-informasinya didapat dari lokasi
outcrop, paritan, test-pit, lubang bor dimana informasi yang didapat tebatas
dan kualitasnya tidak pasti dan masih diragukan.
2. Sumberdaya terindikasi (indicated resources), yaitu apabila
pemboran/sampling dilakukan dengan jarak spasi 25 – 50 m dan pada badan
bijih yang cukup tebal / strukturnya cukup jelas. sumberdaya mineral dimana
tonase, density, bentuk, karakteristik fisik, kadar dan kandungan mineral
dapat diestimasi dengan range dari reasonable sampai confidence. Estimasi
didasarkan pada informasi eksplorasi, sampling, dan hasil pengujian yang
terkumpul melalui teknik-teknik tertentu yang teruji dari lokasi pengambilan
sample misalnya singkapan, trench (paritan), sumur uji (test pit), lubang bor.
Lokasi yang diteliti terlalu luas dibandingan Informasi-informasi yang
dikumpulkan sehingga tidak cukup untuk digunakan mengkonfirmasi geologi
dan/atau kemenerusan kadar tetapi cukup untuk melakukan asumsi
kemenerusannya.
3. Sumberdaya terukur (measured resources), yaitu apabila pemboran dilakukan
pada jarak spasi 12.5 – 25 m. Sumberdaya mineral dimana tonase,
kerapatan, bentuk, karakteristik fisik, kadar dan kandungan mineral dapat
diestimasi dengan tingkat keyakinan yang tinggi. Estimasi didasarkan pada
informasi detail yang didapat dari kegiatan eksplorasi, sampling, dan data-
data yang dikumpulkan dari lokasi-lokasi singkapan, trench (paritan), sumur
uji (test pit), lubang bukaan dan lubang bor dan telah teruji dengan

86
menggunakan teknik tertentu. Antar luas lokasi penelitian dengan data-data
yang dikumpulkan mempunyai relasi yang kuat sehingga cukup untuk
mengkonfirmasi kemenerusan geologi dan/atau kadar.
Berdasarkan pertimbangan dan klasifikasi di atas, penelitian ini tergolong
kepada sumberdaya terukur dan dikatakan sumberdaya yang ekonomis dengan
melibatkan unsur nilai Cut Off Grade.

87