Anda di halaman 1dari 21

ISLAM, ARAB, DAN QURAISY

PERAN DALAM PEMBENTUKAN SEJARAH PERADABAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mempelajari sejarah peradaban Islam kurang lengkap jika tidak disertakan
mempelajari sejarah kehidupan manusia di Jazirah Arab (Semenanjung Arab) sebelum
datangnya Islam. Karena Islam pertama muncul di Arab dan kitabnya berbahasa Arab (Suku
Quraisy). Kendati sangat minim didapatkan informasi tentang sejarah kehidupan manusia di
daerah tersebut dalam kurun waktu antara 400-571 an Masehi. Dengan kata lain, penulis
bisa katakan dalam sejarah peradaban dunia, sejarah di jazirah Arab khususnya sebelum
datangnya Islam ‘dianggap’ tidak ada, atau lebih tepatnya dihilangkan dari peta sejarah
peradaban dunia.
Ketika Nabi Muhammad SAW lahir (570 M). mekah adalah kota yang sangat
penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab. Baik karena tradisinya maupun
karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan yaman
diselatan dan siria di utara.dengan adanya kabah ditengah kota. Mekkah menjadi pusat
keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Didalamnya terdapat 360
berhala. Mengelilingi berhala utama (Hubal). Mekkah kelihatan makmur dan kuat. Agama
dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab
dengan luas satu juta mil persegi.
Biasanya dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum
Islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada jazirah Arab. Padahal bangsa Arab juga
mendiami daerah-daerah disekitar jazirah. Jazirah Arab memang merupakan kediaman
mayoritas bangsa Arab kala itu.
Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus menerus. Pada sisi yang
lain meskipun masyarakat badui mempunyai pemimpin namun merreka hanya tunduk
kepada syeikh atau amir (ketua kabilah) itu dalam hal yang berkaitan dengan peperangan,

1
pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Diluar itu, syeikh atau amir tidak
kuasa mengatur anggota kabilahnya.

B. Rumusan Masalah
Terkait dengan latar belakang di atas, maka pada makalah ini dapat dirumuskan
beberapa masalah yang berusaha penulis bahas, antara lain:
1. Bagaimana peran Islam dalam pembentukan sejarah peradaban Islam?
2. Bagaimana peran bangsa Arab dalam pembentukan sejarah peradaban Islam?
3. Bagaimaan peran suku Quraisy dalam pembentukan sejarah peradaban Islam?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Peradaban Islam


Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-Islamiyah. Kata
Arab ini sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Kebudayaan Islam.
“Kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di
Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “kebudayaan”
(Arab, al-Tsasaqafah; Inggris, culture). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang,
kedua istilah itu dibedakan. Kedubayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat
mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan
teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan
dalam seni, sastra, religi (agama), dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik,
ekonomi, dan teknologi.1
Landasan “peradaban Islam” adalah “kebudayaan Islam” terutama wujud idealnya,
sementara landasan “kebudayaan Islam” adalah agama. Jadi, dalam Islam, tidak seperti
masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi), agama bukanlah kebudayaan tetapi
dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa
manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Tuhan. Kebudayaan mencakup peradaban
akan tetapi peradaban tidak mencakup kebudayaan.2
Dari pengertian peradaban di atas, pemakalah akan berusaha membahas tentang
peran Islam, Arab, dan Quraisy dalam pembentukan sejarah peradaban Islam.

B. Masyarakat Arab Pra-Islam


Islam, sebagaimana yang kita tahu, lahir di Arab, persisnya di Makkah. Oleh karena
itu, jika kita ingin memahami Makkah dari sudut pandang materialism historia, dirasa perlu
megkaji latar belakang sosiologinya. Beserta factor-faktor lainnya seperti geografi, sejarah,
politik dan ekonomi. Makkah adalah kota penting yang berada di sekeliling gurun pasir
Arab yang luas yang disebut dengan “al-Rab al-Khali” (tempat yang sunyi). Tepatnya,

1
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Pesada, 1993), hlm. 1.
2
Badri Yatim, Ibid., hlm. 3.

3
Makkah terletak di sebalah barat laut gurun ini, dekat dengan pantai barat. “Al-Rab al-
Khali” hampir tidak pernah didatangi orang dan sangat sunyi.3
Sejarah bangsa Arab penduduk gurun pasir hampir tidak dikenal orang. Yang dapat
kita ketahui dari sejarah mereka hanyalah yang dimulai dari kira-kira seratus lima puluh
tahun sebelum Islam. Adapun yang sebelum itu tidaklah diketahui. Yang demikian
disebakan karena bangsa Arab penduduk padang pasir itu terdiri atas berbagai macam suku
bangsa yang selalu melakukan peperangan. Peperangan itu pada awal mulanya ditimbulkan
oleh keinginan memelihara hidup, karena hanya siapa yang kuat sajalah yang berhak
memiliki tempat-tempat yang berair dan padang-padang rumput tempat mengembalakan
binatang ternak. Adapun si lemah, dia hanya berhak mati atau jadi budak.4
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang.
Karena itu, bahan-bahan sejarah Arab pra-Islam sangat langkah didapatkan di dunia Arab
dan dalam bahasa Arab. Sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun
menjelang lahirnya agama Islam. Pengetahuan ini diperoleh melalui syair-syair yang beredar
dikalangan para perawi syair. Dengan begitulah sejarah dan sifat masyarakat Badui Arab
dapat diketahui, antara lain, bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar dalam
menghadapi kekerasan alam, dan juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.5

1. Asal usul bangsa Arab


Jazirah dalam bahasa Arab berarti pulau. Jadi “Jazirah Arab” berarti “Pulau Arab.”
Oleh bangsa Arab Tanah mereka disebut jazirah, kendatipun hanya dari tiga jurusan saja
dibatasi oleh laut. Sebahagian ahli sejarah menamai tanah Arab itu “Shibhul Jazirah” yang
dalam bahasa Indonesia berarti “Semenanjung.” Jazirah Arab itu berbentuk empat persegi
panjang yang sisinya tiada sejajar. Di sebelah barat berbatas dengan Laut Merah, disebelah
selatan berbatasan dengan Lautan Hindia, di sebelah timur berbatasan dengan Laut Arab dan
di sebelah utara berbatasan dengan Gurun Irak dan Gurun Syam (Gurun Syiria). Panjangnya
1000 Km lebih dan lebarnya kira-kira 1000 Km.6

3
Asghar Ali Engineer, Asal Usul dan Perkembangan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1999), hlm. 17.
4
A. Syalaby, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2003). Hlm. 27.
5
Badri Yatim, Op. cit., hlm. 11.
6
A. Syalaby, Op. cit., Hlm. 28-29.

4
Bangsa arab terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh Jazirah Arabia.
Mereka kebanyakan mendiami wilayah pinggir Jazirah, dan sedikit yang tinggal di
pedalaman. Pada masa dahulu tanah Arab itu dapat dibagi tiga bagian. Para ahli geografi
membagi Jazirah Arabia sebagai berikut:
a. Arabia Petrix atau Petraea, yaitu daerah-daerah yang terletak di sebelah barat daya
gurun Syria. Dengan petra sebagai pusatnya.
b. Arabia Deserta atau gurun Syiria, yang kemudian dipakai untuk menyebut seluruh
Jazirah Arab karena tanahnya tidak subur.
c. Arabia Felix, wilayah yang terkenal dengan sebutan wilayah hijau (Grand Land)
atau wilayah yang berbahagia (Happy Land), yaitu negeri Yaman yang memiliki
kebudayaan maju dengan kerajaan Saba’ dan Ma’in.
Bangsa arab itu dibagi menjadi dua, yakni Qahtan dan Adnan. Qahtan semula berdiam
di Yaman, namun setelah hancurnya bendungan Ma’rib sekitar tahun 120 SM (Sebelum
Masehi), mereka beriimigrasi ke utara dan mendirikan kerajaan Hirah dan Gassan.
Sedangkan Adnan adalah keturunan Ismail ibn Ibrahim yang banyak mendiami Arabia dan
Hijaz.7

2. Kerajaan-Kerajaan Arab
Bangsa Arab menjadi bangsa yang makmur, tepatnya di wilayah Yaman tanahnya
yang subur. Hujan pun sering turun disana. Anak negerinya membuat waduk-waduk dan
bendungan air, agar dengan adanya waduk-waduk dan bendungan air itu, air hujan dapat
dipergunakan dengan baik. Karena ada kesetabilan dan kehidupan yang makmur tersebut,
maka terlahirlah kerajaan-kerajaan di Yaman yang mempunyai mahkota dan istana yang
besar-besar. Bila lahir seorang raja yang kuat, tunduklah seluruh masyarakat negeri Yaman
kepadanya.8
Lalu, bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan, diantaranya ialah Saba’, Ma’in
dan Qutban serta Himyah, semuanya terletak di wiliyah Yaman. Di utara Jazirah berdiri
kerajaan Hirah (Manadirah) dan Gassan (Gassasinah). Hijaz menunjukkan wilayah yang
tetap merdeka sejak dahulu karena miskin daerahnya, namun terdapat tempat suci, yakni

7
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 5.
8
A. Syalaby, Op. cit., Hlm. 33-34

5
Makkah yang di dalamnya berdiri Ka’bah sebagai pusat beribadah sejak dahulu sampai
sekarang. Di samping ada sumur Zamzam yang ada sejak Nabi Ismail AS. Di kawasan itu
juga terdapat Yasrib yang merupakan daerah subur sejak dahulu. Menurut Ali Mufrodi ada
beberapa Kerajaan Arabia yang berdaulat, di antaranya sebagai berikut:
a. Kerajaan Makyan, kerajaan ini terletak di selatan Arabia, yaitu di daerah Yaman.
b. Kerajaan Saba, kerajaan ini juga berdiri di daerah tanah Yaman, yang pada waktu
kerajaan Saba ini menggantikan kerajaan Makyan. Kerajaan Saba sangat maju
dan terkenal dalam sejarah, terutama terkenal dengan bendungan raksasanya
“Saddul Maarib”, sebagai bendungan raksasa pertama di dunia.
c. Kerajaan Himyar, kerajaan ini terletak antara Saba dan Laut Merah, yang meliputi
daerah-daerah yang bernama Qitban sehingga kerajaan ini kadang-kadang
dinamakan juga Kerajaan Qitban.
d. Kerajaan Hirah, beberapa kabilah Arab yang tinggal dekat dengan perbatasan
Kerajaan Romawi dan Persia mengenyam kemerdekaannya yang penuh. Mereka
mendirikan kerajaan-kerajaan dan mereka menganut politik bersahabat dengan
kerajaan besar tetangganya (Persia dan Romawi).
e. Kerajaan Ghasan, kerajaan ini terletak di daerah Syam. Kerajaan ini sangat rapat
hubungannya dengan Kerajaan Romawi Timur, sehingga satu waktu menjadi
wilayah dari Kerajaan Romawi.
f. Negeri Hijaz, Hijaz mempertahankan kemerdekaannya sejak lama, juga kerajaan
Romawi dan Persia tidak dapat menjajah Hijaz.9

3. Agama Bangsa Arab


Penduduk arab menganut agama yang bermacam-macam, antara lain yang terkenal
adalah penyembahan terhadap berhala atau paganisme. Penyembahan berhala itu pada
mulanya ialah ketika orang-orang Arab itu pergi keluar kota Makkah, mereka selalu
membawa batu dan menyembahnya dimana mereka berada. Lama-lama dibuatlah patung
yang disembah dan mereka keliling mengitarinya (tawaf). Kemudian mereka memindahkan
patung-patung mereka disekitar Ka’bah yang jumlahnya sekitar 360 patung. Di samping itu
ad patung-patung besar yang ada di luar Makkah. Yang terkenal ialah Manah/Manata di

9
Ali Mufrodi, Op. cit., hlm. 7.

6
dekat Yasrib atau Madinah, al-Latta di Taif. Menurut riwayat yang tersebut terakhir adalah
yang tertua, dan al-Uzza di Hijaz. Hubal ialah patung yang terbesar yang terbuat dari batu
akik yang berbentuk manusia yang diletakkan di dalam Ka’bah. Mereka percaya bahwa
pada dasarnya menyembah berhala hanya sebagai media saja, dan pada dasarnya
menyembah Tuhan,10 sebagaimana diterangkan di dalam alquran, ”Kami tidak meyembah
kepada mereka, tetapi hanya agar mereka mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat-
dekatnya”. (Q.S. az-Zumar: 3)
Arab ketika itu hampir tenggelam dalam kepercayaan jahiliyah. Sisa-sisa penganut
agama Ibrahim (Agama Hanif) sangat langkah dan tidak kedengaran lagi suaranya. Virus
kepercayaan jahiliyah begitu dahsyat sehingga merambah hampir ke semua lapisan
masyarakat. Informasi tentang kepercayaan mereka dapat kita lihat di dalam alquran,
diantaranya:
a) Orang Arab Musyrikin menyembah Tuhan-tuhan yang mereka yakini sebagai
perantara yang dapat memberikan syafaat kepada mereka untuk mereka kepada
Allah. Mereka tahu siapa Allah, tetapi mereka meminta syafaat kepada Tuhan-tuhan
palsu.
b) Taklid mereka sangat kuat dengan apa yang dilihat dari orang tua dan nenek moyang
mereka. Taklid ini mengakibatkan sulitnya menembus dinding kepercayaan jahiliyah
yang ada.
c) Kerusakan dalam bidang akidah berimplikasi kepada rusaknya ibadah., tingkah laku,
syiar dan syariat yang mereka lakukan.
d) Masuknya unsur berhala dalam ritual haji. Mereka meletakkan patung-patung di
sekitar Ka’bah. Mereka tawaf di sekitarnya dan kadang-kadang tanpa menggunakan
sehelai kain pun.
e) Persepsi mereka tentang Allah sempit dan picik. Mereka bergeser dari kebenaran
tentang “Asma dan Sifat Allah”, lalu memasukkan unsur-unsur yang tidak layak
dialamatkan kepada Allah.
f) Menambah dan mengurangi ajaran ibadah sesuai dengan hawa nafsu dan kehendak
mereka. Mereka tidak wukuf sebagaimana orang lain wukuf. Mereka berpandangan
umrah di bulan haji adalah perbuatan dosa besar. Di antara tambahan ibadah yang

10
Ali Mufrodi, Op. Cit., Hlm. 8-9.

7
yang mereka lakukan di Masjidilharam adalah sembahyang dengan siulan dan
tepukan tangan.
g) Bidang akhlak dan budaya yang ada pada mereka antara lain: bangga dengan garis
keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan meminta pertolongan bintang,
berteriak-teriak dalam menghadapi kematian dan praktik perdukunan juga marak
dikalangan mereka.11

4. Keadaan Politik
Gambaran dunia politik pada masa sebelum Islam terbukti bahwa dunia berada
dalam keadaan gelap dan parah dengan takhayul yang merusak kehidupan spiritual manusia.
Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan moralnya, dan penindasan telah
12
melumpuhkan mayoritas penduduknya. Masyarakat terbagi dalam dua kelas, tuan dan
budak. Atau pemimpin dan rakyat jelata. Rakyat selalu menjadi mangsa para pemimpinnya.
Mereka tak ubah seperti mesin yang siap memproduksi kekayaan buat pemimpinnnya,
sedangkan mereka sendiri tak mendapatkan apa-apa. Rakyat terombang-ambing dalam
kesesatan, diliputi kedzaliman, kehinaan, dan penyiksaan. Mereka tidak bisa berbuat apa-
apa.13
Bangsa Arab terkenal dengan suku Badui, penduduk padang pasir yang tidak
memiliki tempat tinggal tetap dan selalu berpindah-pindah untuk mencari sumber air di
oase-oase bagi ternak mereka. Orang-orang Nomad yang disebut dengan suku badui adalah
proletariat14 internal negara Islam. Orang-orang Arab mukmin yang tinggal di kota-kota
menganggap diri mereka lebih inggi daripada kaum badui. Bahkan alquran menampakkan
keraguan keislaman mereka.15 Alquran berbunyi, “Orang-orang Arab Badui itu, lebih
sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum
yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana. Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang memandang apa yang
dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagi suatu kerugian, dan Dia menanti-nanti marabahaya

11
Wahyu Ilaihi, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Putra Grafika, 2007). Hlm. 42.
12
Samsul Nizar, Sejarah Penddikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007). Hlm. 2.
13
Wahyu Ilaihi, Op. Cit., Hlm. 43.
14
Lapisan sosial yang paling rendah, sehingga mereka mempunyai keterbatasan dalam segi perekonomian dan
dunia pendidikan mereka.
15
Asghar Ali Engineer, Op. Cit., hlm. 276.

8
menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. dan Allah Maha mendengar lagi
Maha mengetahui.” (Q.S. At-Taubah: 97-98).16
Sudah sejak dulu mereka hidup bebas dan tidak pernah tinggal dan hidup menetap di
suatu tempat. Oleh karena itu, bagi mereka berbagai bentuk institusi seperti pemerintahan
atau pemungutan pajak tidak mempunyai arti. Bahkan mereka menentang penerapan
berbagai institusi semacam itu. Namun demikian, karena mereka bergabung dengan pasukan
Muslim lainnya dalam perang yang bisa memberi mereka banyak rampasan perang, maka
dalam batas tertentu, mereka bisa tunduk dengan komando pusat.17

5. Keadaan Ekonomi dan Sosial


Pada saat itu pertanian terdapat di pinggiran jazirah Arab, seperti Yaman, Syam, dan
sebagian daerah oase yang tersebar di jazirah Arab. Mayoritas masyarakat Badui hidup dari
mengembala unta dan kambing. Kehidupan mereka berpindah-pindah dari suatu tempat ke
tempat yang lain. 18
Sedangkan perdagangan adalah pendapatan primadona masyarakat Makkah dan
Quraisy, sebagaimana yang digambarkan dalam surah Quraisy.19 Perdagangan ini tidak
cukup aman karena banyaknya penyamun yang selalu mengintai ekspedisi dagang. 20
Kemudian perdagangan ini melahirkan kelas orang-orang kaya yang berfoya-foya. Di
satu sisi terdapat orang-orang miskin yang terbuang. Banyak orang-orang kaya saat itu
berhenti dari mendengarkan dakwah Nabi lantaran mereka tidak mau duduk satu majelis

16
Depag, Al-Qur’an dan Terjemah. (Jakarta: Penerbit Wali, 2010). Hlm. 202.
17
Asghar Ali Engineer, Op. Cit., hlm. 276.
18
Wahyu Ilaihi, Op. Cit., Hlm. 45.
19
Dalam surah tersebut disebutkan tentang aktivitas perdagangan internasional mereka pada musim dingin dan
panas.
20
Wahyu Ilaihi, Ibid., Hlm. 45.

9
dengan hamba sahaya dan fakir miskin.21 Sementara itu ekonomi ribawi adalah landasan
ekonomi mereka. 22

6. Watak Positif Bangsa Arab


Tidak kita pungkiri bahwa orang-orang jahiliyah memiliki sifat-sifat negatif dan hal-
hal yang tidak diterima akal dan ditolak oleh nurani. Tetapi di sisi lain, ad hal-hal yang
positif yang nantinya dijadikan Nabi sebagai modal dasar untuk mencetak generasi terbaik
yang lahir di muka bumi ini. Di antara sifat-sifat itu adalah: 23
a) Dermawan.
b) Keberanian dan kepahlawanan.
c) Kesabaran (kemampuan memikul derita hidup di padang pasir dan medan perang).
d) Kesetiaan dan kejujuran (dalam ikatan hubungan darah dan jujur dalam melunasi
janji pada teman).
e) Ketulusan dan berkata benar.

7. Watak Negatif bangsa Arab


Dalam hal lainnya, orang-orang jahiliyah tidak hanya memiliki sifat-sifat yang positif
saja, akan tetapi, mereka juga mempunya sifat-sifat yang negatif. Di antaranya adalah:24
a) Sulit bersatu.
b) Gemar berperang.
c) Kejam.
d) Pembalas dendam.
e) Angkuh dan sombong.
f) Pemabuk dan pejudi.

21
Kisah tersebut terkisahkan pada Surah al-An’am: 52. “dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung
jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap
perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang
zalim). Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin
oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan
duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah
ayat ini.”
22
Wahyu Ilaihi, Ibid., Hlm. 46.
23
Wahyu Ilaihi, Ibid., Hlm. 46.
24
Wahyu Ilaihi, Ibid., Hlm. 47.

10
C. Kota Makkah dan Arti Pentingnya
Makkah merupakan pusat keagamaan dan perdagangan yang penting. Hal ini terutama
karena ia menjadi jalur perdagangan internasional. Karena kedudukannya yang strategis
inilah sehingga Abrahah, raja Absyinia dari Yaman selatan, bermaksud menjadikan San’a
sebagai pusat perdagangan, menggantikan Makkah. Namun demikian, maksud ini tidak
kesampaian, Makkah terletak di sepanjang pegunungan yang tandus, berbatu-batu dan tidak
ada lapisan tanah. Karena tanahnya yang tandus sehingga tidak memungkinkan adanya
pertanian. Dengan demikian penduduk Makkah terpaksa mendapatkan bahan makanan dari
tempat lain melalui perdagangan.25
Ketika Nabi Muhammad SAW, lahir (570 M), Makkah adalah sebuah kota yang
sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya
maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan
Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Ka’bah
menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya
terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama (Hubal). Makkah kelihatan makmur dan
kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat
jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.26
Orang-orang yang mengurus Ka’bah sesudah Nabi Ismail adalah kabilah Jurhum,
tetapi ternyata mereka bertindak semena-mena dan berlaku aniaya terhadap orang-orang
yang memasuki kota Makkah. Kabilah Khuza’ah sepakat mengusir mereka dari Baitullah.
Setelah itu kepengurusan Ka’bah dipegang oleh orang-orang Khuza’ah selama beberapa
masa. Kemudian jabatan ini direbut oleh kabilah Quraisy pada masa Qushay ibnu Kilab, dan
berkat Qushay akhirnya amanlah negeri tempat tinggal mereka itu.27
Semenjak itu, kabilah Quraisy menjadi kabilah yang mendominasi di masyarakat
Arab. Ada sepuluh jabatan tinggi yang dibagikan kepada kabilah-kabilah asal suku Quraisy,
yaitu:
1. Hijabah adalah sebagai penjaga kunci-kunci Ka’bah.
2. Siqayah adalah sebagai pengawas mata air Zamzam untuk dipergunakan oleh para
peziarah.

25
Asghar Ali Engineer, Op. Cit., hlm. 43-44.
26
Badri Yatim, Ibid., hlm. 9.
27
Muhammad Al-Khudhari, Nurul Yaqiin, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 19.

11
3. Diyat adalah sebagai kekuasaan hakim sipil dan criminal.
4. Sifarah adalah sebagai kuasa usaha Negara atau duta.
5. Liwa’ adalah sebagai jabatan ketentaraan.
6. Rifadah adalah sebagai pengurus pajak bagi orang miskin.
7. Nadwah adalah sebagai jabatan ketua dewan.
8. Khaimmah adalah sebagai pengurus balai musyawarah.
9. Khazinah adalah sebagai jabatan administrasi keuangan, dan
10. Azlam adalah sebagai penjaga panah peramal untuk mengetahui pendapat dewa-dewa.
Dalam pada itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa anggota yang tertua mempunyai
pengaruh paling besar dan memakai gelar rais.28

D. Suku Quraisy
Nabi Muhammad merupakan keturunan Quraisy, yaitu suatu suku yang berkembang
dari Kinanah Ibn Khuzaimah. Ada dua pandangan terkait dengan pemilikan gelar Quraisy
ini yaitu Nadr Ibn Kinanah dan Fihr Ibn Malik Ibn Nadr. Suku Quraisy dapat dikatakan
sebagai suku yang terhormat dan terkuat diantara kabilah-kabilah yang ada di Jazirah Arab
bagian tengah yang pernah mempertahankan Ka’bah dari serbuan tentara Hunyar dari
Yaman. 29
Selain itu mereka terkenal sebagai pedagang ulung yang menguasai jalur perniagaan
ke seluruh penjuru Hijaz dengan Mesir, Yaman, Siria, Irak dan Persia, dan menguasai
perdagangan lokal, karena peran Ka’bah sebagai pusat pertemuan kabilah-kabilah Arab. Hal
ini disebabkan semenjak Qushai merebut Mekah dan menguasainya dari bani Khuza’ah
secara otomatis otoritas agama dan politik berada di tangan Quraisy. Pengembalian
pengelolaan Ka’bah ke tangan suku Quraisy ini memberikan pengaruh luas bagi perannya
dalam penguasaan seluruh aspek termasuk di dalamnya adalah perdagangan dan politik.30

28
Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 14.
29
Tahia al-Ismail, Tarikh Nabi Muhammad, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996). Hlm. 96.
30
Tahia al-Ismail, Ibid., Hlm. 96.

12
Suku Quraisy umumnya terbagi menjadi beberapa sub-klan utama, yang kemudian
terbagi lagi menjadi sub-klan, antara lain:
a) Bani 'Abdud-Dâr — sub-klan dari Quraisy
b) Bani 'Abdul-Manâf — sub-klan dari Quraisy
c) Bani Naufal — sub-klan dari Bani 'Abdul-Manâf
d) Bani Muththalib — sub-klan dari Bani 'Abdul-Manâf
e) Bani Hâsyim — sub-klan dari Bani 'Abdul-Manâf, klan dari Muhammad danAli.
f) Bani Abbasiyah — turunan dari Bani Hâsyim
g) Bani 'Abdus-Syams — sub-klan dari Bani 'Abdul-Manâf,
h) Bani Umayyah — sub-klan dari Bani 'Abdus-Syams, klan dari Abu Sufyan,Utsman
bin Affan dan Muawiyah
i) Bani Makhzum — sub-klan dari Quraisy, klan dari Khalid bin Walid, Walid bin
Mughirah
j) Bani Zuhrah — sub-klan dari Quraisy, klan dari Sa'ad bin Abi Waqqas
k) Bani Taim atau Bani Tamim — sub-klan dari Quraisy, klan dari Abu Bakar
l) Bani 'Adi — sub-klan dari Quraisy, klan dari Umar bin Khattab
m) Bani Asad — sub-klan dari Quraisy, klan dari Abdullah bin Zubair danKhadijah.31

E. Islam sebagai Sistem Kemasyarakatan dan Sosial Politik


Islam bukanlah sekedar sebuah agama di masyarakat Arab. Islam merupakan bentuk
peradaban yang akan selalu mengikuti perkembangan zaman. Islam juga membawa
perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Arab. Jika awalnya mereka
dikenal sebagai bangsa jahiliyah yang jauh dari peradaban dan tertinggal dari bangsa-bangsa
lain di dunia, maka ketika Islam turun di Arab membawa pencerahan dan peradaban yang
nantinya dikenal di seluruh dunia.32
Bukanlah hal yang mudah untuk merubah tatanan masyarakat yang sudah mendarah
daging di dunia Arab saat itu. Dimana penghormatan kepada nenek moyang yang berlebihan
dan penyembahan terhadap berhala-berhala yang dianggapnya sebagai pengganti Tuhan.

31
Wikipedia, Suku Quraisy, online, http://id.wikipedia.org/wiki/Suku Quraisy, diakses 20 Februari 2018.
32
Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam. (Surabaya: Pustaka
Islamika, 2003). Hlm. 30.

13
Serta perbedaan yang sangat mendasar dalam strata kehidupan masyarakatnya dan
kebiasaan hidup bermewah-mewah yang akhirnya menimbulkan penyakit sosial.33
Hal pertama yang dilakukan Islam untuk menghilangkan penyakit sosial tersebut
adalah menekankan kesatuan, yaitu menghilangkan sekat-sekat kesukuan. Kedua,
menekankan persamaan derajat di antara para umatnya tanpa memandang status sosial atau
asal-usul suku. Kaum budak juga memiliki derajat yang sama dengan umat Islam lainnya. 34
Dalam ajaran Islam, kesempurnaan seseorang selaku individu akan memberikan
dampak yang sangat besar pada berbagai aspek kehidupan sosial karena individu merupakan
anggota pokok dalam struktur masyarakat. Tidak ada dinding pemisah antara kualitas
kehidupan individu dan kualitas kelompok masyarakatnya, dan pada realitasnya Islam
menempatkan keseimbangan di antara kemaslahatan keduanya. Dalam membangun
keseimbangan itulah, Islam telah menawarkan aturan-aturan yang jelas bagi manusia, antara
hak dan kewajibannya selaku makhluk individu serta hak dan kewajibannya selaku makhluk
sosial.35
Sejalan dengan kenyataan seperti itu, etika sosial Islam yang tercakup dalam nilai-
nilai syariah bahkan, dalam berbagai sejarah kemasyarakatan di dunia Islam telah terbukti
dikontribusikan dalam rangka menjalin mekanisme kehidupan sosial secara integral. Dan,
ternyata konsep “amar ma’ruf nahi munkar” yang tertuang dalam konsep kemasyarakatan
ideal (khair al-ummah) yang dijelaskan Al-Qur’an (Q.S. Ali-Imran: 104,110) itu bukan
sekedar konsep sederhana, tetapi terbukti secara filosofis dan historis, ia telah menjadi
“mesin penggerak” yang cukup kompleks dalam menciptakan dinamika peradaban umat
manusia.36
Dan sejak kehadirannya di Makkah, Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw telah
membawa arus transformasi yang sangat radikal dan komprehensif, terutama bagi
perubahan kehidupan individual dan sosial. Ia telah merombak total perilaku keseharian
dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang berakar kuat pada tradisi yang sudah turun temurun;
yang menyangkut ketuhanan, standar-standar penilaian, cara pandang seseorang terhadap
tata kehidupan, alam, dan penempatan posisi manusia itu sendiri. Begitupun dalam struktur

33
Taufiqurrahman, Ibid., Hlm. 30.
34
Taufiqurrahman, Ibid., Hlm. 31.
35
Wahyu Ilaihi, Op. cit,. Hlm. 43.
36
Munir Amin Samsul, Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: Amzah, 2010). Hlm. 24.

14
kemasyarakatan, Islam telah memberikan format yang sangat tegas dalam pembentukannya
sehingga sebagian struktur sosial yang telah ada atau bahkan hampir seluruhnya tergeser
secara sosiologis.37
Dari sudut pandang keimanan dan aqidah (teologis), Islam merepresentasikan suatu
lompatan dari penghambaan sesuatu yang nyata, seperti patung-patung, binatang yang dapat
dilihat dan diraba menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tidak dapat
digambarkan atau dipadankan dengan sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Inilah lompatan
besar dalam sejarah manusia, dari akal primitif yang hanya bisa bersentuhan dengan materi-
materi nyata menuju akal berperadaban tinggi yang mampu menyerap konsep keberadaan
dan kebenaran keesaan Tuhan (tauhid), yaitu ketika seluruh totalitas dan potensi
kemanusiaan; akal, perasaan dan pengalaman menjadi aktif dalam menemukan dan
membenarkan keberadaan-Nya. Tuhan menjadi ada di mana-mana yang meliputi dan
mengawasi seluruh totalitas alam semesta raya, termasuk di dalamnya perbuatan manusia.38
Perkembangan peradaban Islam di Makkah kurang begitu menunjukkan peningkatan
yang signifikan, apalagi dalam bidang sosial politik. Peradaban Islam di bidang sosial
politik semakin berkembang ketika Islam telah sampai di Madinah. Nabi Muhammad
mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala
Negara. Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan
kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis sebagai kepala negara.39
Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam di
Madinah, sebagai berikut:
1. Mendirikan masjid, tujuannya untuk mempersatukan umat Islam dalam satu majelis,
sehingga di majelis ini umat Islam bisa bersama-sama melaksanakan shalat jama’ah
secara teratur, mengadili perkara-perkara dan bermusyawarah.
2. Mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin.
3. Membuat perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan
muslimin.

37
Munir Amin Samsul, Ibid., Hlm. 24.
38
Munir Amin Samsul, Ibid., Hlm. 25.
39
Wahyu Ilaihi, Op. cit,. Hlm. 45.

15
Di bidang ekomoni dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang
kemasyarakatan, diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau
manusia, dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan.40

F. Peran Bangsa Arab dalam Pembentukan Sejarah Peradaban Islam


Setelah mengetahui karakteristik bangsa Arab, kita akan mencoba untuk menggali
lebih jauh tentang peran bangsa Arab dalam pembentukan sejarah peradaban Islam. Bahwa
sejarah peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari bangsa Arab. Meski demikian kita tidak
dapat mengatakan bahwa peradaban Arab adalah peradaban Islam atau pun sebaliknya.
Karena selain peradaban Arab bersifat lokal yaitu hanya di kawasan Arab saja sedang
peradaban Islam bersifat global juga karena dalam peradaban Islam terdapat campur tangan
Allah.41
Telah kita ketahui bahwa dari segi bahasa merupakan titik awal dari muculnya suatu
peradaban Islam. Bahasa Arab yang akhirnya dijadikan bahasa Al-Qur’an merupakan faktor
terpenting dalam peradaban Islam. Ketinggian bahasa, keindahan, halus susunannya, kaya
kata-katanya, paling lengkap kaedahnya dan paling tinggi sastranya merupakan pilihan yang
tepat dijadikan bahasa kitab suci Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad
saw. Melalui bahasa Arab inilah Al-Qu’ran dapat diterima oleh semua kalangan. Karena
ketinggian bahasa Arab menjadikan Al-Qur’an mudah dipahami dan dipelajari.42 Hal
tersebut seperti yang terdapat di dalam surat al-Zukhruf ayat 3: “Sesungguhnya Kami
menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)”.43 Ayat di atas
menegaskan betapa bahasa Arab merupakan bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun.
Dari beberapa hal-hal di ataslah yang akhirnya menjadi titik permulaan terbentuk
peradaban Islam. Sehingga lahirnya suatu nilai-nilai peradaban Islam yang tidak bisa
dipisahkan dari kekhasannya. Selanjutnya Islam mengapresiasi suatu peradaban Arab yang
sudah terbentuk pada zamannya.

40
Hashem Fuad, Sirah Muhammad Rasulullah-Kurun Mekah. (Jakarta: Tama Publisher, 2005). Hlm. 36.
41
Badri Yatim, Historiografi Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997). Hlm. 42.
42
Badri Yatim, Ibid., Hlm. 43.
43
Depag, Al-Qur’an dan Terjemah. (Jakarta: Penerbit Wali, 2010). Hlm. 489.

16
G. Peran Suku Quraisy dalam Pembentukan Sejarah Peradaban Islam
Peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan suku Quraisy. Hal tersebut
dikarenakan Nabi sendiri sebagai peletak dasar-dasar peradaban Islam juga berasal dari suku
Quraisy. Namun karena beliau keturunan Bani Hasyim, suku yang kurang berpengaruh di
Makkah sehingga banyak hambatan-hambatan yang beliau terima selama mengembangkan
Islam di Makkah.
Ada beberapa faktor mengapa kaum kafir Quraisy menentang dakwah Nabi, antara
lain:
1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira
bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani
Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan.
2. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal
ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.
3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan
pembalasan di akhirat.
4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa Arab.
5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.44

Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah
dakwah Nabi Muhammad saw, namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu
maupun tindakan-tindakan kekerasan secara fisik. Puncak dari segala cara itu adalah dengan
diberlakukannya pemboikotan terhadap Bani Hasyim yang merupakan tempat Nabi
Muhammad saw berlindung. Pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun, dan
merupakan tindakan yang paling melemahkan umat Islam pada saat itu. Pemboikotan ini
baru berhenti setelah kaum Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan merupakan
tindakan yang sangat keterlaluan. 45
Kekejaman dengan penganiayaan dan penyiksaan berat yang dilancarkan kaum
Quraisy terhadap pengikut Nabi tidak mampu merenggut keimanan mereka. Namun ketika
dilihatnya kaum Quraisy semakin meningkatkan tekanan pada pengikut Nabi, akhirnya Nabi

44
Badri Yatim. Ibid., Hlm. 20-21.
45
Badri Yatim. Ibid., Hlm. 21.

17
memutuskan untuk mengungsikan mereka berhijrah ke Habsy, karena Negus, raja Habsyi
adalah seorang yang adil dan bijaksana, sedang Quraisy tidak mempunyai pengaruh besar di
sana.46
Kegagalan kaum Quraisy yang kesekian kali itu, menambah geram dan kebencian
terhadap kaum muslim, sebaliknya bagi kaum muslim telah mempertebal keimanan mereka
akan kebenaran agama Islam. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik, sehingga
sebagian kaum Quraisy yang dulunya sangat memusuhi Islam, satu per satu mereka
mengakui ajaran Nabi. Seperti Hamzah Ibn Abd Muthalib bergabung pada tahun 615 M,
kemudian Umar Ibn Khattab. Dengan masuknya kedua orang tokoh besar ini semakin
memperkuat barisan Islam, bahkan menambah keberanian mereka menyatakan sikapnya di
depan umum.47
Pada tahun kesepuluh kenabian, Allah mengisra’ dan memikrajkan Nabi untuk
menghibur beliau yang ditimpa duka baik karena penyiksaan kaum Quraisy maupun karena
ditinggalkan kedua orang yang dicintai dan menjadi pelindungnya, yaitu Khadijah istrinya
dan Abu Thalib pamannya. Berita tentang isra’ mi’raj ini menggemparkan masyarakat
Makkah. Bagi orang kafir, ia dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi.
Sedangkan, bagi orang yang beriman, ia merupakan ujian keimanan.48
Setelah peristiwa Isra’Mi’raj, suatu perkembangan kemajuan dakwah Islam muncul.
Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka
yang terdiri dari suku ‘Aus dan Khazraj, masuk Islam dalam dua gelombang. Pertama pada
tahun kesepuluh kenabian, beberapa orang dari suku Khazraj baiat kepada Nabi. Kedua,
pada tahun keduabelas kenabian, terdiri dari sepuluh orang suku Kharaj dan dua orang suku
‘Aus serta seorang wanita menemui Nabi di Aqabah. Pada musim haji berikutnya yang
datang dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta
pada nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela nabi dari segala
ancaraman. Nabi pun menerima usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian
‘Aqabah kedua’.49

46
Badri Yatim. Ibid., Hlm. 22.
47
A. Syalabi. Op. cit., Hlm. 83.
48
A. Syalabi.. Ibid., Hlm. 83.
49
Badri Yatim. Op. cit., Hlm. 24.

18
Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara nabi dan orang-
orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum Muslimin. Hal ini
membuat Nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Meskipun
demikian ada alasan lain yang menyebabkan mereka hijrah. Salah satunya adalah alasan
berdangang, di mana umumnya orang Makkah berdagang karena sebagian mereka yang
berada di Absinia menjalani hidup dengan berdagang. Itulah yang menjadi alasan lain yang
digunakan Nabi Muhammad untuk mengajak mereka behijrah.50
Adapun penduduk Yatsrib, setelah mengetahui bahwa Rasulullah telah berangkat
menuju negeri mereka, mereka menunggu-nunggu kedatangan beliau. Mereka tiada
mengetahui bahwa Rasulullah singgah ke gua lebih dahulu. Karena menurut waktu yang
terbiasa terpakai dalam perjalanan dari Makkah ke Yatsrib Rasulullah belum juga sampai,
maka kaum muslimin di Yatsrib mulai gelisah dan khawatir. Mereka naik-naik ke tempat
yang tertinggi di sekitar kota Yatsrib itu, supaya dapat melihat kendaraan Rasulullah.51
Tidak berapa lama kemudian Rasulullah pun tiba, lalu disambut oleh kaum muslimin
Yatsrib dengan perasaan rindu dan kasih sayang yang amat mesra. Mereka melagukan
sebuah nasyid yang terkenal:52
ِ ‫ِمنْ ْ ثَنِيَا‬
ْ‫تْ ْال َودَاع‬ ۞ َ ْ ْ‫َطلَ َعْ ْالبَدر‬
ْ‫علَْي َنا‬
ْ‫َما َدعَى ِ هّلِلِْ دَاع‬ ۞ ‫َب ْالشُّكرْعَلينَْا‬
َْ ‫َوج‬
‫ِجئتَ ْ ِباْلَمرْالم َطاع‬ ۞ ‫اَ ُّيهَاْ ال َمبعوثْ ْ ِْفينَا‬
Artinya :
Telah timbullah bulan purnama, dari Tsaniyatil Wada’I. Kami wajib bersykur, selama
ada orang yang menyeru kepada Allah. Wahai orang yang diutus kepada kami, engkah
telah membawa sesuatu yang harus kami ta’ati.

50
Badri Yatim. Ibid., Hlm. 24.
51
A. Syalabi. Op. cit., Hlm. 99.
52
A. Syalabi. Op. cit., Hlm. 99.

19
BAB III
KESIMPULAN

Secara sosiologis, bangsa Arab sebelum Islam merupakan bangsa yang hidup
secara kesukuan. Mereka hidup berpindah-pindah. Hal ini disebabkan kondisi geografis
yang tidak mendukung, seperti model tanah yang tandus, berbatu, padang pasir luas serta
beriklim panas dan jarang turun hujan. Dalam keadaan semacam ini, wajar jika mereka
memiliki watak keras, suka berperang, merampok, berjudi, berzina, sehingga terkesan jauh
dari nilai-nilai moral-kemanusiaan. Demikian ini seakan-akan menjadi tradisi masyarakat
Arab sebelum Islam. Keadaan semacam inilah yang meniscayakan zaman tersebut disebut
zaman jahiliyyah.
Dunia politik Arab pra Islam lebih didominasi oleh model kesukuan. Dari dominasi
model kesukuan ini, terbentuknya Negara kesatuan serta adanya tatanan politik yang benar
agaknya sedikit terhalangi.
Sementara jika ditinjau dari sisi keagamaan, mayoritas bangsa Arab sebelum Islam
menganut kepercayaan yang menyembah berhala atau patung atau benda-benda lain yang
dianggap mempunyai kekuatan ghaib, seperti batu, pohon kayu, binatang dan sebagainya.
Oleh karena itu, dikalangan mereka terdapat beberapa nama tuhan yang disembah seperti
Uzza, Mana, Lata dan Hubal.

20
DAFTAR PUSTAKA

Al-Khudhari Muhammad, Nurul Yaqiin, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007).

Ali Engineer Asghar, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, Terjemahan Imam Baehaqi
dari The Origin and Development of Islam. (Yogyakarta: Insist bekerja sama
dengan Pustaka Pelajar, 1999).

Depag, Al-Qur’an dan Terjemah. (Jakarta: Penerbit Wali, 2010).

Hashem Fuad, Sirah Muhammad Rasulullah-Kurun Mekah. (Jakarta: Tama Publisher,


2005).

Mufrodi Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. (Jakarta: Logos, 1997).

Munir Amin Samsul, Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: Amzah, 2010).

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007).

Syalaby. A, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2003).

Tahia al-Ismail, Tarikh Nabi Muhammad, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996).

Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban


Islam. (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003).

Wahyu Ilaihi, Pengantar Sejarah Dakwah, (Jakarta: Putra Grafika, 2007).

Wikipedia, Suku Quraisy, online, http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Quraisy, diakses 18


Oktober 2011.

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. (Jakarta: Rajawali Pers,
2010).

Yatim Badri, Historiografi Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).

21