Anda di halaman 1dari 24

PERCOBAAN I

APUSAN DARAH KATAK (Bufo melanostictus) DAN


CICAK (Cosymbotus platyurus)

A. Tujuan
Mahasiswa dapat mengamati jenis-jenis sel darah dan fungsinya pada katak
(Bufo melanostictus) dan cicak (Cosymbotus platyurus).

B. Dasar Teori
(ketikan buku Isnaeni)
Pada semua hewan multisel, cairan tubuh dapat dibedakan menjai dua,
yaitu intrasel dan cairan ekstrasel. Kira-kira 70% dari seluruh bagian tubuh
hewan berupa air, sekitar 45% diantaranya terdapat di dalam sel (intrasel), dan
25% sisanya terdapat di luar sel (ekstrasel). Cairan ekstrasel dapat ditemukan
diberbagai tempat dan masing-masing disebut dengan ama yang berbeda. Ada
4 cairan ekstrasel yaiu caira jaringan (airan ekstrasel), limfe, darah,dan
hemolimfe. Hewan invertebrata yang tiak mempunyai sistem sirkulasi
mempunyai cairan jaringan atau cairan limfe yang mengeliling sel-sel
tubuhnya (Isnaeni, 2006: hal. 169).
Pada hewan tertentu yang memiliki sistem sirkulasi tertutup, darah dan
cairan jaringan merupakan dua macam cairan yang terpisah secara jelas. Darah
tersusun atas cairan plasma dan sel darah. Sementara, cairan jaringan, yang
disebut juga cainran interstitiel, dibentruk dengan menyaring plasma yang
menyaring plasma yang kemudian akan berdifusi melalui dinding kapiler
menuju ruang antarsel, menurut gradien tekanan hidrostatik. Filtrat tersebut
bukan koloid karena hanya mengandung 0,85% protein (sebagai pembanding,
darah manusia mengandung 7% protein). Filtrat/cairan yang keluar dari kapiler
tersebut akan dikembalikan lagi ke sistem sirkulassi melalui sistem pembuluh
khusus, yaitu pembuluh limfe (Isnaeni, 2006: hal.169 dan 170).
Pada vertebrata tingkat tinggi, pembuluh limfe dimulai sebagai saluran
buntu dengan ujung terbuka. Pembuluh life berfungsi mengangkut kelebihan
cairan yang tertimbun dilingkungan ekstasel dan mengembalikan kesirkulasi
darah. Pada invertebrata dan ikan (selain teleostei) tidak ditemukan adanya
pembuluh limfe. Cairan eksrtasel pada semua hewan mengandung sel jenis
tertentu yang mengapung bebas dan mengembara melalui ruang-ruang
antarjaringan. Secara fungsional, sel tersebut berkaitan erat dengan transfor
gas dan pertahanan tubuh hewan dalam melawan mikroorganisme, serta
berbagai zat asing yang memasuki tubuh (Isnaeni, 2006: hal. 170).
Menurut Isnaeni (2006: hal 173 dan 174), darah tersusun atas plasma dan
sel darah. Plasma darah mengandung sekitar 90% air dan berbagai zat
terlarut/tersuspensi didalamnya. Zat tersuspensi tersebut mencakup berbagai
jenis bahan berikut
1. Protein plasma, yaitu albumin, globulin, dan fibrinogen
2. Sari makanan, yaitu glukosa, monosakarda, asam amino, dan lipid
3. Bahan untuk dibuang dari tubuh, antara lainurea dan senyawa nitrogen
4. Berbagai ion, misalnya natrium, kalium, klor, fosfat, kalsium, sulfat dan
senyawa bikarbonat
5. Bahan lain yang biasanya terdapat dalam darah, misalnya hormon, gas
respiratori, vitamin, dan enzim.
Plasma merupakan cairan kmponen penyusun darah yang memiliki
komposisi sangat berbeda dari cairanintrasel. Plasma mengandung sejumlah
protein yang berperan sangat penting untuk menghasilkan tekanan osmotik
plasma. Tekanan osmotik plasma yang ditimbulkan oleh protein disebut
tekanan osmotik koloid. Plasma darah mengandung protein dalam konsentrasi
relatif rendah, antara 1,0 mg/ml ( pada Echinodermata, beberapa Moluska, dan
Annelida) hingga 100-150 mg/ml ( pada cephalapoda besar yang memiliki
banyak hemosianin pada hemolimfenya). pada burung dan mamalia, kadar
protein plasma berkisar antara 30-75 mg/ml (Isnaeini, 2006: hal 175).
Volume plasma pada hewan yang memiliki sistem sirkulasi tertutup
tergantung pada keseimbangan antara laju filtrasi cairan/plasma dari
kapilermenuju ruang jaringan dan laju reaborsin filtrasi tersebut. Ada dua
macam kekuatan yang bekerja dalam proses pertukaran cairan tersebut yaitu
tekanan darah (tekanan hidrostatik) dan tekanan osmotik kloid. Tekanan
hidrostatik yang ditimbulkan oleh arah mengendalikan kekuatan untuk filtrasi,
sedangkan tekanan osmotik plasma bekerja untuk reabsorbsi ( yang arah nya
berlawanan dengan arah filtrasi). jadi, protein dalam plasma merupakan bahan
yang penting untuk menentukan besarnya tekanan osmotik dan plasma
(Isnaeni, 2006: hal. 176).
Kekuatan osmotik juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh
pada hewan invertebrata, yang mempunyai sistem sirkulasi terbuka. Protein
plasma pada hewan vertebrata tingkat tinggi dapat dikelompokan menjadi 3,
yaitu fibrinogen, globulin, dan albumin. Fibrinogen bertanggung jawab dalam
proses pembekuan darah. Globulin bertanggung jawab berbagai fungsi,
terutama yang berkaitan dengan reaksi kekebalan (immun) dan tranpor molekul
tertentuseperti hormon, vitamin, dan zat besi. Sementara, albumin bertanggung
jawab mempertahankan volume plasma (Isnaeini, 2006: hal 176).
(ketikan buku Pearce)
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler
adalah cairan yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsur-unsur padat,
yaitu sel darah. Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu
perdua belas berat badan atau kira-kira 5 liter. Sekitar 55 persennya adalah
cairan, sedangkan 45 persennya sisanya terdiri atas sel darah. Angka ini
dinyatakan dalam nilai hematocrit atau volume sel darah yang dipadatkan yang
berkisar antara 40 sampai 47. Diwaktu sehat volume darah adalah konstan dan
sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan
dalam jaringan (Pearce, 2006: 133)
1. Menurut, Pearce (2006: 133) Susunan darah
Serum darah atau plasma terdiri atas:
Air : 91.0 %
Protein : 8,0 % (Albumin, globulin, protrombin, dan
fibrinogen)
Mineral : 0,9 % (Natrium khlorida, natrium bikarbonat, garam dari
kalsium, fosfat, magnesium dan besi dan seterusnya).
Sisanya diisi oleh sejumlah bahan organik, yaitu: glukose , lemak, urea,
asam urat, kreatinin, kholesterol dan asam amino.
Plasma juga berisi :
Ga – oksigen dan karbon dioksida,
Hormon – hormon,
Enzim, dan
Antigen.
2. Menurut, Pearce (2006: 133) Sel darah terdiri atas tiga jenis :
a. Sel darah merah atau Eritrosit
Berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisanya, sehingga
dilihat dari samping nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak
belakang. Dalam setiap millimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah.
Kalau dilihat satu persatu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah
besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas
pembungkus luar atau storoma, berisi massa hemoglobin (Pearce, 2006: 133-
134).
Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya memerlukan
protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino. Mereka juga
memerlukan penggantinya diperlukan diit seimbang yang berisi zat besi.
Wanita memrlukan lebih banyak zat besi karena beberapa di antaranya di
buang sewaktu menstruasi. Sewaktu hamil diperlukan zat besi dalam jumlah
yang lebih banyak lagi untuk perkembangan janin dan pembuatan susu (Pearce,
2006: 134).
Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang
pendek, pipih dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa
dan dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sterum (Pearce, 2006: 134).
Perkembangan sel darah merah dalam sumsum tulang melalui berbagai
tahap mula-mula besar dan berisi nukleus tetapi tidak ada hemoglobin;
kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya dan baru
diedarkan ke dalam sirkulasi darah (Pearce, 2006: 134).
Rata-rata panjang hidup darah merah kira-kira 115 hari. Sel menjadi
usang, dan dihancurkan dalam Sistema retikulo-endotelial, terutama dalam
limpa dan hati. Globin dari hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk
digunakan sebagai protein dalam jaringan-jaringan dan zat besi dalam hem
dalam hemoglobin dikeluarkan untuk digunakan dalam pembentukan sel drah
merah lagi. Sisa hem dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin (pigmen
kuning) dan biliverdin yaitu berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada
perubahan warna hemoglobin yang rusak pada luka memar (Pearce, 2006:134).
Bila terjadi perdarahan maka sel merah dengan hemoglobinnya sebagai
pembawa oksigen, hilang. Pada perdarahan sedang, sel-sel itu diganti dalam
waktu beberapa minggu berikutnya. Tetapi bila kadar hemoglobin turun sampai
40% atau di bawahnya, maka diperlukan transfusi darah (Pearce, 2006: 134).
Hemoglobin ialah protein yang kaya akan zat besi. Ia memiliki afinitas
(daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk
oksihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalaui fungsi ini maka
oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Pearce, 2006: 134).
Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah kira-kira 15 gram setiap 100
ml darah, dan jumlah ini biasanya di sebut ” 10 %” (Pearce, 2006: 134).
Dalam berbagai bentuk anemi jumlah hemoglobin dalam darah berkurang.
Dalam beberapa bentuk anemi parah, kadar itu bisa dibawah 30% atau 5 g
setiap 100 ml. Karena hemoglobin mengandung besi yang diperlukanuntuk
bergabung dengan oksigen, maka dapat dimengerti bahwa pasien semacam itu
memperlihatkan gejala kekurangan oksigen seperti napas pendek. Ini sering
merupakan salah satu gejala pertama anemia kekurangan zat besi (Pearce,
2006: 135).
Golongan darah, kalau darah dari golongan yang bertentangan
ditranfusikan akan mengakibatkan bahan dalam plasma yang bernama
agglutinim menggumpal dan juga terjadi hemolisis (memecahnya) sel darah
merah (Pearce, 2006: 135).
Penentuan golongan darah dan tes tentang kecocokannya dilakukan
sebelum pemberian tranfusi darah untuk meyakini keamanannya. System ABO
menurut Landsteiner didasarkan atas adanya anggulutinin dalam darah.
Menurut Pearce (2006: 135) penyelidikan pada rakyat inggris ada empat
golongan utama yang ditemukan adalah:
Golongan AB ada pada 3.0%
Golongan A ada pada 42.0%
Golongan B ada pada 8.5%
Golongan O ada pada 46.55%
Selain itu terdapat pula pembagian lebih lanjut dari Landsteiner, dan factor
Rh atau factor dalam darah, yang penting untuk diketahui pada bayi yang baru
lahir kalau terjadi ketidakcocokan antara darah bayi dengan ibunya (Pearce,
2006: 135).

Menurut, Pearce ( 2006: 135 ) donor darah dipandang dari donor darah:
Golongan AB dapat memberi darah pada AB
Golongan A kepada A dan B
Golongan B kepada B dan AB
Golongan O donor umum untuk semua golongan.
Resipien menurut, Pearce (2006: 135)
Golongan AB adalah resipien umum
Golongan A kepada A dan AB
Golongan B kepada B dan AB
Golongan O dari O
Sebaiknya tranfusi dilakukan dengan golongan darah yang sama, dan
hanya dalam keadaan terpaksa dapat diberikan darah dari donor universal
(Pearce, 2006: 135).
b. Sel darah putih
Rupanya bening dan tidak berwarna, bentunya lebih besar dari sel darah
merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Dalam setiap millimeter kubik darah
terdapat 6.000 sampai 10.000 ( rata-rata 8.000 ) sel darah putih. Granulosit atau
sel polimorfonuklear merupakan hampir 75 % dari seluruh jumlah sel darah
putuh. Mereka terbentuk dalam sumsum merah tulang (Pearce, 2006: 135).
Sel ini berisi sebuah nukleus yang terbelah banyak dan protoplasmanya
berbulir. Karena itu disebut sel berbulir atau granulosit. Kekurangan granulosit
disebut granulositopenia. Tidak adanya granulosit disebut agranulositosis ,yang
dapat timbul setalah makan obat tertentu, termasuk juga beberapa antibiotika.
Oleh karena itu apabila makan obat obat tersebut , pemeriksaan darah
sebaiknya sering dilakukan untuk mengetahui keadaan ini seawal mungkin
(Pearce, 2006: 136).
Pewarnaan. Bila setetes darah diletakkan diatas kaca objek dan
ditambahkan dua macam pewarna untuk menghitung jenis sel sel darah,maka
sel darah putih ini dikenal menurut sifatnya dalam pewarnaan . Sel netrofil
paling banyak dijumpai . sel golongan ini mewarnai dirinya dengan pewarna
netral, atau campuran warna asam dan basa, dan tampak berwarna
ungu(Pearce, 2006: 136).
Sel eosinofil. Sel golongan ini hanya sedikit di jumpai .sel ini menyerap
pewarna yang bersifat asam (eosin) dan kelihatan merah (Pearce, 2006: 136).
Sel basofil menyerap pewarna basa dan menjadi biru (Pearce, 2006: 136).
Limfosit membentuk 25 persen seluruh jumlah sel darah putih (lihat
halaman 138) sel ini dibentuk di dalam kelenjar limfe dan juga dalam sum sum
tulang. Sel ini non-granuler dan tidak memiliki kemampuan bergerak seperti
amuba. Sel ini dibagi lagi dalam limfosit kecil danbesara. Selain itu, ada
sejumlah kecil sel sel yang berukuran lebih besar (kira kira sebanyak 5 persen)
yang disebut monosit. Sel ini mampu mengadakan gerakan amuboid dan
mempunyai sifat fagosit (pemakan) (Pearce, 2006: 136).
Fungsi sel darah putih. Granulosit dan monotosit mempunyai peranan
penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. Dengan
kemampuan sebagai fagosit (fago-saya makan). Mereka memakan bakteri
bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah. Melalui mikroskop adakalanya
dapat di jumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertela oleh sebutir granlusit .
pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. Dengan kekuatan
gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di dalam dan dapat keluar
pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh sebagian tubuh (Pearce, 2006:
136).
Menurut Pearce ( 2006: 136-137 ) Dengan cara ini ia dapat : Mengepung
daerah yang terkena infeksi atau cedera. Menangkap organisme yang hidup dan
menghancurkannya. Menyingkirkan bahan lain seperti kotoran kotoran,
serpihan kayu, benang jahitan (catgut) dan sebagainya, dengan cara yang sama,
dan sebagai tambahan granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein,
yang memungkinkan merusak jaringan hidup, menghancurkan dan
membuangnya. Dengan cara ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang
dan penyembuhan dimungkinkan.
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat
dihentikan sama sekali. Bila kegiatannya tidak dapat berhasil dengan
sempuran, maka dapat terbentuk nanah. Nanah berisi “ jenazah” dari kawan
dan lawan – fagosit yang terbunuh dalam perjuangannya melawan kuman yang
menyerbu masuk, disebut sel nanah. Demikian nuga terdapat kuman yang mati
dalam nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar jaringan yang telah
mencair. Sambil pertarungan berlangsung, sel darah putih dapat mengalahkan
organisme penyerbu itu , maka semua bekas kerusakan , bakteri bakteri baik
yang hidup maupun yang mati, sel nanah dan jaringan yang melelh, akan
disingkirkan oleh grnulosit yang sehat yang bekerja sebagai fagosit (Pearce,
2006: 137).
Mengenai fungsi limfosit sedikit yang diketahui.mereka tidak memiliki
gerakan amuboid, terapung apung didalam aliran darah dan juga terdapat
dalam jaringan limfe dari semua bagian badan. Mereka tidak memakan bakteri
, tetapi di duga mereka membentuk antibodi (badan penangkis) penting yang
melindungi tubuh terhadap infeksi khronik dan mempertahankan tingkat
kekebalannya (imunitas) tertentu terhadap infeksi (Pearce, 2006: 137).
Leukoditosis ialah istilah untuk menunjukan penambahan jumlah
keseluruhan sel putih dalam darah, yaitu kalau penambahan melampaui 10.000
butir per milimeter kubik (Pearce, 2006: 137).
Leukopenia berarti kekurangan jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau
kurang (Pearce, 2006: 137).
Limfositosis- pertambahan jumlah limfosit (Pearce, 2006: 137).
Agranulositosis- suatu penurunan jumlah granulosit atau sel
polimorfonuklear secara meyolok(Pearce, 2006: 137).
c. Trombosit
trambosit adalah sel kecil kira kira sepertiga ukuran sel darah merah.
Terdapat 300.000 trombosit dalam setiap milimeter kubik darah. Peranannya
penting dalam penggumpalan darah (Pearce, 2006: 137).
Menurut, Pearce (2006: 138) Ringkasan jumlah sel darah dalam setiap
milimeter kubik darah.
Jumlah darah normal atau jumlah sel setiap milimeter kubik darah adalah
kira kira:
Sel darah merah 4.500.000 sampai 5.500.000 rata rata 5.000.000
Sel darah putih 6.000 sampai 10.000 rata rata 8.000
Dengan susunan berikut:
Granulosit:
Rata rata
Persen persen
Sel netrofil........................................................................60 sampai 70 66
Sel eosinofil....................................................................... 1 sampai 4 3
1
Sel basofil.......................................................................... /2 sampai 30 1
Limfosit ( besar dan kecil)................................................20 sampai 30 25
Monosit...............................................................................4 sampai 8 5
Jumlah 100
Trombosit 250.000 sampai 500.000 rata rata 350.000
Plasma darah adalah cairan berwarna kuning yang dalam reaksi bersifat
sedikit alkali. Komposis plasma dan daftar bahan yang memuat terdapat pada
halaman 133.
Fungsi . plasma bekerja sebagai medium ( perantara) untuk meyaluran
makanan, mineral,leaamak,glukose, dan asam amino ke jaringan. Juga
merupakan medium untuk mengangkat bahan buangan:urea, asam urat, dan
sebagian dan karbondioksida (Pearce, 2006: 138)
Menurut, Pearce (2006: 138) Protein plasma . albumin, dalam keadaan
norma terdapat 3 sampai 5 g albumin dalam setiap 100 ml darah. Fungsinya
ada tiga :
1) Bertanggung jaawb atas tekanan osmotik yang mempertahankan volume
darah,
2) Banyak zat khusus yang beredar dalam gabungan dengan albumin,dan
3) Menyediakan protein untuk jaringan.
Globulin, dalam keadaan normal ada 2 sampai 3 globulin dalam setiap 100
ml darah. Globulin memiliki jauh lebih banyak macam susunan dari albumin
dan sesungguhnya membentuk jumlah besar protein yang berbeda beda.
Dibandingkan dengan albumin maka penyediaan tekanan osmotik globulin
kurang protein, tetapi dibidang lain ia lebih penting misalnya semua antibodi
(zat penolak) yang melindungi tubuh adalah globulin.
Fibrinogen penting untuk koagulasi (penggumpalan) darah (Pearce 2006:
137).
Menurut, Pearce (2006: 138) Reaksi plasma darah. Darah selalu bersifat
alkalik: kadar alkalinya tergantung dari konsentrasi ion-hidrogen dan ini
dinyatakan dengan PH darah.
pH sebesar 7 berarti -larutan netral
pH dari 7 samapi 1 - larutan asam
Darah selalu mengandung sedikit alkali, pH darah 7,35 - 7,45. angka ini
tetap dipertahankan. Sedikit saja berubah, baik ke arah asam atau ke arah basa,
dapat mempengaruhi khidupan. Maka itu, usaha mempertahankan tingkat alkali
yang konstan dalam darah adalah sangat penting dan ini dikendalikan oleh
faktor-faktor berikut: pngeluaran karbon dioksida (yaitu gas asam) melalui
paru-paru dan ekskresi bahan asam melalui urine. Kemampuan untuk
mempertahankan sifat alkali darah tergantung kepada natrium bikarbonat
dalam plasma darah. Zat ini bekerja sebagai apa yang disebut buffer dan
menghindarkan penurunan kebasaan darah aibat asam-asam hasil metabolisme
(Pearce, 2006: hal 139).
Pembekuan darah
Bila darah ditumpahkan maka cepat ia menjadi lekat dan segera megendap
sebagai zat kental berwarna merah. Jeli atau gumpalan itu mengkerut dan
keluarlah cairan bening berwarna kuning jerami. Cairan ini disebut serum
(Pearce, 2006: hal 139).
Bila darah yang tumpah diperiksa menggunakan mikroskop akan tampak
benang-benag fibrin yang tak dapat larut. Benang-benang ini terbentuk dan
fibrinogen dalam plasma oleh kerja trombin. Benang-benagn ini menjerat sel
darah dan bersamasama dengannya membentuk gumpalan. Bila darah yang
tumpah dikumpulkan dalam tabung reaksi, maka gumpakan itu akan terapung-
apung dalam serum (Pearce, 2006: hal 139).
Penggumpalan darah adalah proses yang majemuk dan berbagai faktor
diperlukan untuk melaksanakan itu. Sebagaimana telah diterangkan, trombin
adalah alat dalam mengubah fibrinogen menjadi benang fibrin. Trombin tidak
ada dalam darah normal yang masih dalam pembuluh. Tetapi yang ada adalah
zat pendahulunya, protrombin, yang kemudian diubah menjadi zat aktif
trombin oleh kerja trombokinase. Trombokinase atau tromboplastin adalah zat
penggerak yang dilepaskan ke darah di tempat yang luka. Diduga terutama
tromboplastin terbentuk karena terjadinya kerusakan pada trombosit, yang
selama ada garam kalsium dalam darah, akan mengubah protrombin menjadi
trombin sehingga terjadi pengumpalan darah (Pearce, 2006: hal 139).
Untuk menghasilkan penggumpalan maka diperlukan empat faktor:
1. dalam kalsium yang dalam keadaan normal ada dalam darah.
2. Sel yang terluka yang membebaskan trombokinase
3. Trombin yang terbentuk dari protrombin bila ada trombokinase
4. Fibrin yang terbentuk dari fibrinogen di samping trombin.
(Pearce, 2006: hal 139).
Proses penggumpalan dapat dinyatakan dalam rumus:
Protrombin + kalsium + trombokinase = trombin
Trombin + fibrinogen = fibrin
Fibrin + sel darah = penggumpalan
Protrombin dibuat di dalam hati. Vitamin K diperlukan untuk
menghasilkan protrombin.

Penggumpalan (koagulasi) darah dipercepat oleh panas yang sedikit lebih


tinggi dari suhu badan dan kontak dengan bahan kasar, seperti pinggiran yang
kasar dari pembuluh darah yang rusak, atau dengan pembalut. Dan dapat juga
diperlambat karena dingin dan disimpan di dalam tabung berlapis lilin di
sebelah dalamnya, sebab darah memerlukan kontak dengan permukaan yang
dapat menjdi basah oleh air sebelum dapat bergumpal sedangkan paraffin tidak
memiliki permukaan yang dapat basah oleh air sebelum dapat bergumpal. Dan
jika ditambah kalsium sitrat atau natrium sitrat yang menyingkirkan garam
kalsium yang dalam keadaan normal ada (Pearce, 2006: hal 140).

Ringkasan fungsi darah


1. bekerja sebagai sistem transpor dari tubuh, mengantarkan semua bahan
kimia, oksigen dan za makanan yang diperlukan untuk tubuh supaya
fungsi normalnya dapat dijalankan, dan menyingkirkan karbon dioksida
dan hasil buangan lain.
2. 2. seldarah merah mengantarkan oksigen ke jaringan dan
menyingkirkan sebagian dari karbon diksida.
3. 3. sel darah putih menyediakan banyak bahan pelindung dan karena
pergerakan fagositosis dari beberapa sel maka melindungi tubuh terhadap
serangan bakteri.
4. 4. plasma membagi protein yang diperlukan untuk pembentukan
jaringan, menyegarkan cairan jaringan karena melalui cairan ini semuasel
tubuh meneriman makanannya. Dan merupakan kendaraan untuk
mengangkut bahan buangan ke berbagai organ ekskretorik untuk dibuang .
5. 5. hormon dan enzim diantarkan dari organ ke organ dengan
perantaraan darah.
(Pearce, 2006: hal 140).
Semua jaringan memerlukan persediaan yang memadai yang tergantung
kepada tekanan darah arteri normal yang dipertahankan. Dalam sikap rebahan,
tekanan darah dalam tubuh adalah merata. Tetapi dalam sikap duduk atau
berdiri , darah yang ke otak harus dipompa ke atas (Pearce, 2006: hal 140).
Khususnya otak memerlukan persediaan darah yang mencukupi dan
teratur. Bila otak tidak menerima darah yang mencukupi selama lebih dari 3
sampai 4 menit, maka akan terjadi perubahan-perubahan yang akan dapat pulih
kembali dan beberapa sel otak akan mati. Demikian lah pada waktu jantung
berhenti karena sesuatu sebab, perlu diberikan pertolongan yang segera agar
jantung bergerak kembalikembali. Juga dalam keadaan pingsan bias, seperti
yang disebabka oleh tegangan emosioniil atau fisik, turunnya tekanan darah
mengurangi persediaan darah pada otak. Maka penting utuk meredndahkan
kepala pasien, taau kalau duduk, menekankan bagian kepala ke depan antara
lututnya, atau lebih baik lagi merebahkan ke lantai (Pearce, 2006: hal 140).
Tekanan darah
Tekanan darah arterial adalah kekuatan tekanan darah ke dindingpembuluh
darah yang menampungnya. Tekanan ini berubah-ubah pada setiap tahap siklus
jantung. Selama sistole ventrikuler, pada saat ventrikel kiri memaksa darah
masuk aorta, tekanan darah naik sampai puncak, yang sdisebut tekana diastolik
(Pearce, 2006: hal 141).
Tekanan darah sistolik dihasilkan oleh otot jantung yang mendorong sisi
ventrikel masuk ke dalam arteri yang telah tergang. Selama diastole arteri
masih tetap menggembung karena tahapan perifeeri dari arteriole-arteriole
menghalangi semua darah mengalir ke dalam jaringn. Demikianlah maka
tekanan darah sebagian tergantung keepada kekuatan dn volume darah yang
dipompa oleh jantun, dan sebagian lagi kepada kontraksi otot dalam dinding
arteriole. Kontraksi ini dipertahankan oleh dsaraf vasokonstriktor, dan ini
dikendalikan oleh puasta vasomotorik dalam medula oblongata (Pearce, 2006:
hal 141).
Pusat vasomotorik mengatur tahanan oriferi untuk mempertahanan agar
tekanan darah relatif konstan. Tekanan darha mengalami sediit perubahan
bersamaan dengan perubhan-perubahan gerakan yang fisiologik, seperti
sewaktu latihan jasmani, waktu adanya perubahan mental karena kecemasan
dan emosi, sewaktu tidur dan sewaktu makan . karena itu sebaiknyatekanan
darah diukur selalu wsewaktu orangnya tenang, istirahat dan sebaiknya dalam
sikap rebahan (Pearce, 2006: hal 141).
Mengukur tekanan darah arterial menggunakan alat yang disebut
sfignomanometer. Lengan atas dibalut dengan selembar kantong karet yang
dapat digembungkan, yang terbungkus dalam sebuah manset dan yang
digandengkan dengan sebuah pompa dan manometer. Dengan memompa maka
tekanan dalam kantong kkaret cepat naik sampai 200 mmHg yang cukup untuk
mencepit sama sekali arteri brakhial, sehingga tak ada darah yang dapat lewat
dn denyut nadi pergelangan menghilang, kemudian tekanan diturunkan sampai
suatu tititik dimana denyut dapat dirasakan atau, lebih tept, bila dengan
menggunakan stetoskop denyut arteri brakhialis pada lekukan siku dengan
jelasdapat didengar. Pada titik ini tekanan yang tampak pada kolom air raksa
dalam manometer dianggap tekanan sistolik. Kemudian tekana diatas arteri
brakhialis perlahan-lahan dikurangi sampai bunyi jantung atau pukulan denyut
arteri dengan jelas dapat didengar atau dirasakan. Dan titik di mana bunyi
mulai menghilang umumnya dianggap tekana diastolik (Pearce, 2006: hal 141 -
142).
Perbedaan tekanan sistolik dan diastolik disebut dengan tekanan nadi dan
normalnya berkisar antara 30 sampai 50 mmHg. Batas rendah tekanan sistole
pada orang dewasa diperkirakan 105 mmHg dan batas teratas adalah 150
mmHg. Pada wanita tekanan darahnya adalah 5 sampai 10 mmHg lebih rendah
daripada pria (Pearce, 2006: hal 142).
(ketikan buku Ganong)
Trombosit
Trombosit adalah jasad kecil bergranula dengan diameter 2-4µm. Jumlahnya
sekitar 300.000/µL darah dan pada keadaan normal mempunyai waktu paruh
sekitar 4 hari. Megakariosit yaitu sel raksasa didalam sumsum tulang, membentuk
trombosit dengan cara mengeluarkan sedikit sitoplasma ke dalam sirkulasi.
Sekitar 60-75% trombosit yang telah dilepas dari sumsum tulang berada di dalam
peredaran darah, sedangkan sisanya sebagian besar terdapat di dalam limpah.
Trombosit mempunyai cincin mikrotubulus di sekeliling tepinya serta invaginasi
(lekukan) membran yang luas dilengkapi dengan sistem saluaran kompleks yang
berhubungan dengan cairan ekstraseluler. Apabila hitung trombosit rendah,
pembentukan bekuan tidak memadai dan konsentriksi pembuluh yang teluka tidak
kuat. Sindroma klinik yang ditimbulkannya (purpura tombositopeni) ditandai
engan mudahnya timbul memar dan pendarahan subkutaneus yang multiple
(Ganong, 2003: hal. 510-511).

Sel Darah Merah


Sel darah merah atau eritrosit membawa hemoglobin ke dalam sirkulasi.
Sel ini berbentuk lempengan bikonkafe dan dibentuk di sumsum tulang. Pada
mamalia, sel ini kehilangan intinya sebelum memasuki peredaran darah. Pada
manusia, sel ini berada di dalam sirkulasi selama lebih kurang 120 hari. Hitungan
rata-rata normal seldarah merah adalah 5,4 juta/µL pada pria dan 4,8 juta/µL pada
wanita. Sitiap sel darah merah manusia memiliki diameter sekitar 7,5 µm dan
tebal 2 µm serta siap sel mengandung tepat 29 pg hemoglobin. Dengan demikian
didapatkan sekitar 3x1013 sel darah merah dan seitar 900 g hemoglobin didalam
peredaran darah seorang peria dewsa (Ganong, 2003: hal. 511).
Sel darah merah seperti sel-sel lain mengkerut di dalam larutan yang
memiliki tekanan osmotic lebih besar daripada tekanan osmotic plasma normal.
Dalam larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah, sel darah merah
membengkak, menjadi berbentuk bulat dan tidak berbentuk cakram lagi,
kemudian sel ini akan kehilangan hemoglobin (hemolisi). Hemoglobin dari sel
darah merah akang mengalami hemolisis larut didalam plasma, sehingga
membuatnya berwarna merah (Ganong, 2003: hal. 511).

Hemoglobin
Pigmen merah yang membawa oksigen dalam sel darah merah hewan vertebrata
adalah hemoglobin, suatu protein yang mempunyai berat molekul 64.450.
hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4
subunit. Setiap supunit mngandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan
suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivate porfirim yang mengandung besi.
Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul
hemoglobin. Hemoglobin mengikat O2 menempel pada Fe2+ dalam heme. Afinitas
hemoglobin terhadap O2 di pengaruhi oleh pH, suhu, dan konsentrasi 2,3-
difosfogliserat (2,3-DPG) dalam sel darah merah.2,3-DPG dan H+ berkompetisi
dengan O2 untuk berikatan dengan hemoglobin tanpa oksigen (hemoglobin
terdeoksi), sehinga menurunkan afinitas hemoglobin terhadap O2 dengan
menggeser posisi 4 rantai peptide(struktur kuartener). Kandungan hemoglobin
normal rata-rata dalam darah adalah 16 g/dL pada pria dan 14 g/dL pada wanita,
dan semuanya berada dalam sel darah merah (Ganong, 2003: hal. 513).

Plasma
Plasma adalah bagian cairan dari darah, merupakan suatu larutan yang luar biasa,
mengandung banyak sekali ion, molekuler anorganik, dan molekul organic yang
sedang diangkut ke berbagai bagian tubuh atau membantu transport zat-zat lain.
Protein plasma terdiri dari fraksi-fraksi albumin, globulin, dan fibrinogen
(Ganong, 2003: hal. 518).
Sirkulasi Cairan tubuh

Sistem sirkulasi adalah sistem transport yang menghantarkan O2 dan berbagai zat
yang diabsorbsi dari traktus gastrointestinal menuju ke jaringan, serta
mengembalikan CO2ke paru dan hasil metabolisme lain menuju ke ginjal. Sistem
sirkulasi juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh dan mendistribusi
hormonserta berbagai zat lain yang mengatur fungsi sel. Darah yang merupakan
pembawa berbagai zat tersebut, dipompakan oleh jantung melalui sistem
pembuluh darah yang tertutup. Pada mamalia, mekanisme pompa tesebut
sebenarnya terdiri atas 2 sistem pompa yang dirangkaikan secara seri antara
satudengan yang lainnya. Dari ventrikel kiri, darah dipompa melalui, arteri dan
arteriola menuju ke kapiler tempat terjadinya sumbangan dengan cairan
interstisiel. Dari kapiler, darah dikembalikan melalui venula dan vena ke dalam
atrium kanan. Sirkulasi darah yang demikian merupakan sirkulasi utama
(sistematik). Dari atrium kanan, darah mengalir ke ventrikel kanan,yang akan
memompa darah melalui pembuluh darah paru sirkulasi kecil (pulmonal) kembali
ke atrium kiri, kemudian ke ventrikel kiri. Di dalam kapiler pulnomal,darah
mendapat keseimbangan dengan O2 dan CO2 di dalam udara alveoli. Sebagian
cairan jaringan akan memasuki suatu sistem pembuluh tertutup lain, sistem
limfatik, yang akan mengirimkan cairan limfe melalui duktus torasikus dan duktus
limfatikus dekstra ke dalam sistem vena (sirkulasi limfatik) (Ganong, 2003: hal.
495).
Unsur-unsur dari sel darah putih,darah merah dan trombosit tersuspensi di dalam
plasma. Volume darah total yang beredar pada keadaan normal sekitar 8% dari
berat badan 15600 ml, pada pria 70 kg sekitar 55% dari volume tersebut adalah
plasma. Pada orang dewasa, sel darah merah sebagian besar sel darah putih serta
trombosit di bentuk didalam sumsum tulang. Pada janin, sel darah juga di bentuk
di dalam hati dan limpa, sedangkan pada orang dewasa hematopoiesis
ekstrameduler yang demikian dapat terjadi pada penyakit yang disertai kerusakan
atau fibrosis sumsum tulang. Sumsum tulang seluler yang aktif disebut sumsum
merah; sumsum tulang inaktif yang diinfiltrasi dengan lemak disebut sumsum
kuning. Sumsum tulang mengandung sel induk multipoten umum (sel induk
pluripoten) yang akan berdiferensiasi menjadi salah satu jenis sel induk khusus
(sel progenitor) (Ganong, 2003: hal. 495).
Pada keadaan normal terdapat 4.000-11.000 sel darah putih per mikroliter darah
manusia. Dari jumlah tersebut, jenis terbanyak adalah granulosit (leukosit
polimerfonuklear, PMN).). Sebagian besar sel tersebut mengandung granula
netrofilik (netrofil), sedangkan sebagian kecil mengandung granula yang dapat
diwarnai dengan zat asam (eosinofil), dan sebagian lagi mengandung granula
basofilik (basofil). Semua sel granulosit memiliki granula sitoplasmik
mengandung substansi biologik aktif, yang berperan dalam reaksi peradangan
dan alergi. Tahap berikutnya, sel-sel ini menyusup di antara sel endotelium,
menembus dinding kapiler melalui proses yang disebut diapedesis. Peningkatan
aktivitas motorik menyebabkan segera dicernanya bakteri melalui endositosis
(fagositosis). Melalui eksositosis, granula netrofil menuangkan kandungannya ke
dalam vakuola fagosit yang berisi bakteri dan sampai taraf tertentu, juga ke dalam
ruang interstisial (degranulasi) (Ganong, 2003: hal. 496-497).
Limfosit merupakan unsur kunci pada proses kekebalan. Pasca kelahiran,
beberapa limfosit dibentuk di sumsum tulang, tetapi bagian terbesar dibentuk di
dalam kelenjar limfe, timus, dan limpa dari sel prekursor yang berasal dari
sumsum tulang. Sitokin adalah molekul menyerupai hormon yang umumnya
bekerja secara parakrin dalam mengatur respon imun. Sitokin tidak saja
disekresikan oleh limfosit dan makrofag tetapi juga oleh sel endotel, nerort, sel
gilia, dan jenis sel lain (Ganong, 2003: hal. 500-501).
Kemampuan membunuh sel oleh baik kekebalan alam maupun imun didapat
sebagian di perantarai oleh suatu sistem enzim plasma disebut sistem komplemen.
Sel-sel yang berperan dalam kekebalan alamiah mencakup netrofil, makrofag dan
sel pembunuh alamiah, limfosit besar yang bukan sel T tetapi sitotoksik. Sel-sel
ini menampakkan efeknya melalui sistem komplemen atau sistem lain, dan sel
yang diserangnya sebagian besar mati akibat lisis osmotic atau apoptosis
(kematian sel terprogram). Sitokinnya juga mengaktifkan sel-sel untuk imun di
dapat. Kunci menuju kekebalan didapat adalah kemampuan limfosit untuk
membentuk antibodi yang spesifik terhadap satu dari jutaan agen asing yang
mungkin menyusup ke dalam tubuh. Antigen yang merangsang pembentukan
antibodi umumnya berupa protein dan polipeptida, tetapi asam nukleat dan
berbagai lipid dalam bentuk nucleoprotein dan lipoprotein juga dapat merangsang
pembentukan antibodi. Kekebalan didapat terdiri dari dua komponen yaitu
kekebalan humoral dan kekebalan seluler. Kekebalan humoral dijalankan oleh
antibodi imunoglobulin pada fraksi globulin protein plasma didalam sirkulasi.
Imunoglobulin dihasilkan oleh limfosit B, dan akan mengaktifkan sistem
komplemen, untuk selanjutnya menyerang dan menetralisasi antigen. Kekebalan
humoral merupakan pertahanan utama terhadap infeksi bakteri. Kekebalan seluler
di jalankan oleh limfosit T. unsur ini berperan pada reaksi alergi lambat serta
reaksi penolakan jaringan transplan asing. Sel penampil antigen mencakup sel-sel
khusus yang disebut sel dendritik di kelenjar limfe dan limpa, serta sel dendrtik
langerhans di kulit. Setiap makrofag dan sel B juga dapat berfungsi sebagai sel
penampil antigen (Ganong, 2003: hal. 501,504-505).
(ketikan pdf)
Kelenjar yang terdapat pada kulit amfibi menghasilkan senyawa peptida dengan
aktivitas biologis yang luas. Diperkirakan kurang lebih 100.000 peptida yang
berbeda dihasilkan dari kelenjar pada berbagai kulit katak. Senyawa peptida yang
dihasilkan dari sekresi kulit katak ini kemungkinan antara 10-20 peptida yang
berbeda baik dalam ukuran, susunannya (sequences), muatan, hidrofobisitas
(hydrophobicity), struktur tridimensinya dan aktivitasnya (Aditya Krishar Karim.
2012: 15).
Salah satu contoh katak pohon L. Infrafrenata Gunther, atau dikenal sebagai
White lipped tree frog, merupakan katak pohon yang umum dijumpai di indonesia
ataupun di papua, jenis ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 14 cm, dan
tersebar luas di Jayapura dan beberapa wilayah lainya di Papua. Warna tubuh
katak ini hijau terang atau coklat dipermukaan bagian punggung, terdapat garis
putih yang jelas di bagian bibir sampai di bagian bahu, dan juga ada garis putih di
kaki bagian belakang. Permukaan ventral berwarna putih dan bagian samping
tubuhnya biasanya tidak halus dan terdapat granular (Aditya Krishar Karim. 2012:
16).
Jenis-jenis katak banyak yang terancam punah padahal sampai sekarang belum
atau hanya sedikit jenis katak yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia atau
Pemerintahan Daerah Papua. Padahal katak adalah kelompok hewan yang sangat
peka terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perusakan hutan, atau pun
perubahan iklim (Aditya Krishar Karim. 2012: 19).
Katak diketahui memiliki banyak manfaat bagi kepentingan manusia misalnya
sebagai sumber utama protein hewani, salah satu komoditi penting yang diekspor
ke berbagai negara maju. Selain itu katak dapat digunakan dalam pembelajaran
dan penelitian, bioindikator kesehatan lingkungan dan biokontrol hayati terhadap
hama serangga dan sekresi kulit dari beberapa jenis kini juga dikembangkan
sebagai obat antitumor, antikanker, antimikroba dan lain-lain (Aditya Krishar
Karim. 2012: 19).
Sebagian besar orang mengenali katak dan kodok sebagai amfibi, namun
sebenarnya amfibi terbagi dalam 3 Ordo, yaitu Caudata (salamander), Anura
(katak dan kodok) dan Gymnophiona (amfibi tak berkaki). Amfibi adalah
vertebrata yang memiliki dua fase kehidupan pada dua lingkungan yang berbeda.
Ketika menetas hidup di air dan bernafas dengan insang, kemudian saat dewasa
hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Reptil merupakan vertebrata yang
bersisik, fertilisasi internal, telur bercangkang, dan kulit tertutup sisik. Kulit yang
ditutupi sisik akan meminimalkan kehilangan cairan tubuh, sehingga reptil dapat
bertahan di lingkungan darat yang kering. Secara umum habibat amfibi dan reptil
terbagi menjadi 5 yakni terrestrial, arboreal, akuatik, semi akuatik, dan fossorial.
Reptil dan amfibi menghuni hampir seluruh permukaan bumi, kecuali di antartika
(yudha. 2015: 9).
Kelompok hewan reptil dan amfibi lebih dikenal dengan herpetofauna. Kelompok
hewan ini perlu dipelajari, karena manfaatnya bagi lingkungan dan manusia.
Mitologi, budaya, seni dan sastra memandang kelompok hewan tersebut sebagai
karakter menarik bahkan sering dijumpai dalam iklan komersial. Amfibi dan reptil
juga sering dimanfaatkan sebagai makanan dan sumber senyawa obat. Selain itu,
sebagian besar juga dimanfaatkan sebagai hewan coba dalam penelitian. Hal ini
dikarenakan amfibi dan reptil merupakan organisme model yang sangat berguna
bagi banyak studi lapangan perilaku, ekologi dan pengajaran. Amfibi dan reptil
merupakan komponen utama dalam ekosistem dan sering digunakan sebagai
indikator status suatu kerusakan lingkungan. Reptil memiliki peran penting dalam
kehidupan manusia dan lingkungan, sebagai objek pertanian dan peternakan, dan
dalam bidang pengobatan dijadikan suplemen (yudha. 2015: 9).
C. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Dissecting set 1 set
b. Papan bedah 1 buah
c. Jarum pentul 6 buah
d. Kaca objek 2 buah
e. Botol flakon 1 buah
f. Pipet tetes 1 buah
g. Gelas beker 1 buah
h. Killing bottle 1 buah

2. Bahan
a. Kodok (Bufo melanotictus)
b. Cicak (Cosymbotus platyurus)
c. Etanol
d. Giemsa
e. Wright
f. Aquades
g. Kapas

D. Prosedur Kerja
1. Pembiusan bahan yakni kodok (Bufo melanotictus) dan cicak (Cosymbotus
platyurus).
2. Pembedahan bahan yakni kodok (Bufo melanotictus) dan cicak
(Cosymbotus platyurus).
3. Pengambilan darah dari bagian jantung kodok (Bufo melanotictus) dan
cicak (Cosymbotus platyurus), kemudian darah diteteskan pada kaca objek
pertama.
4. Kaca objek kedua diletakkan di muka darah dengan sudut kurang lebih 45°.
5. Darah diapus secara cepat dan setipis mungkin.
6. Apusan darah ditetesi Wright selama 2 menit secara merata, kemudian
dialiri air yang mengalir lalu ditiriskan.
7. Apusan darah ditetesi Giemsa secara merata selama kurang lebih satu
menit. Lalu dialiri air yang mengalir lalu ditiriskan.
8. Setelah apusan darah kering, apusan diamati dengan menggunakan
mikroskop.