Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. KEPATUHAN
1. Pengertian Kepatuhan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pranoto, 2007), patuh

adalah suka menurut perintah, taat pada perintah, sedangkan kepatuhan

adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin.


Sedangkan menurut Ali (1999) dalam Slamet (2007), kepatuhan

berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat.Patuh adalah

suka menurut perintah, taat pada perintah atau aturan.Sedangkan

kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin.


Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap

intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang

ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan

dengan dokter (Stanley, 2007).Kepatuhan adalah merupakan suatu

perubahan perilaku dari perilaku yang tidak mentaati peraturan ke perilaku

yang mentaati peraturan (Green dalam Notoatmodjo, 2003).


Kepatuhan petugas profesional (perawat) adalah sejauh mana

perilaku seorang perawat sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan

pimpinan perawat ataupun pihak rumah sakit (Niven, 2002).


2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Menurut (Niven, 2002) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
kepatuhan adalah :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

11
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Tingginya pendidikan seorang perawat

dapat meningkatkan kepatuhan dalam melaksanakan kewajibannya,

sepanjang bahwa pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang

aktif.
b. Modifikasi Faktor Lingkungan dan Sosial
Hal ini berarti membangun dukungan sosial dari pimpinan rumah sakit,

kepala perawat, perawat itu sendiri dan teman-teman

sejawat.Lingkungan berpengaruh besar pada pelaksanaan prosedur

asuhan keperawatan yang telah ditetapkan. Lingkungan yang harmonis

dan positif akan membawa dampak yang positif pula pada kinerja

perawat, kebalikannya lingkungan negatif akan membawa dampak

buruk pada proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan.


c. Perubahan Model Prosedur
Program pelaksanan prosedur asuhan keperawatan dapat dibuat

sesederhana mungkin dan perawat terlihat aktif dalam mengaplikasikan

prosedur tersebut.Keteraturan perawat melakukan asuhan keperawatan

sesuai standarprosedur dipengaruhi oleh kebiasaan perawat menerapkan

sesuai denganketentuan yang ada.


d. Meningkatkan Interaksi Profesional Kesehatan
Meningkatkan interaksi profesional kesehatan antara sesama perawat

(khususnya antara kepala ruangan dengan perawat pelaksana) adalah

suatu halpenting untuk memberikan umpan balik pada perawat. Suatu

penjelasan tetang prosedur tetap dan bagaimana cara menerapkannya

dapat meningkatkan kepatuhan. Semakin baik pelayanan yang

diberikan tenaga kesehatan, maka semakin mempercepat proses

penyembuhan penyakit klien.

12
e. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, dari

pengalaman dan penelitianterbukti bahwa perilaku yang didasari oleh

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari

oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). Faktor-faktoryang

mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang adalah

pendidikan,pekerjaan dan usia (Mubarak, 2006).


Menurut Notoadmojo (2003) tingkat pengetahuan manusia dibagi

menjadi6 tingkat.Pertama yaitu tahu (know), diartikan sebagai

pengingat suatu materiyang telah dipelajari sebelum terhadap sesuatu

yang spesifik dari seluruh yangdipelajari atau rangsangan yang telah

diterima.Setelah tahu, kemudian sesorang akan memahami

(compherension). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan

untuk menjelaskan secara benar, dipelajari pada situasi dan kondisi

yang sebenarnya. Aplikasi juga merupakan penggunaan hukum-hukum,

rumus, metode, prinsip dan dalam konteks atas situasi lain. Kemudian,

materi atau objek yang telah diplikasikan selanjutnya diartikan untuk

dijabarkan ke dalam komponen-komponen, tetapi dalam struktur

organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain (Analysis).


Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,

dapat menjabarkan, membedakan, mensyahkan dan

mengelompokkan.Orang yang telah paham objek-objek atau materi

harus dapat menjelaskan, dengan menyebutkan contoh, menyimpulkan,

13
meramalkan dari terhadap objek yang dipelajari.Selanjutnya, apa yang

telah dipahami akan diaplikasikan (Aplication).


Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telahdipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

Aplikasi juga merupakan penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip dan dalam konteks atau situasi lain. Kemudian, materi atau

objek yang telah diplikasikan selanjutnya diartikan untuk dijabarkan ke

dalam komponen-komponen, tetapi dalam struktur organisasi dan

masih ada kaitannya satu sama lain (Analysis). Kemampuan analisis ini

dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, dapat menjabarkan,

membedakan, mensyahkan dan mengelompokkan.Materi atau objek

yang telah dianalisis, digabungkan untuk menyusun formulasi-

formulasi yang ada (Syntesis).Kemudian dinilai berdasarkan

suatukriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang

ada (Evaluasi).

f. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan aksi atau respon seseorang yang masih tertutup

MenurutNotoadmodjo (2007), sikap manusia terhadap suatu

rangsangan adalah perasaan setuju (favorablere) ataupun perasaan tidak

setuju (non favorable) terhadap rangsangan tersebut.Selain itu Allport

(1935 dalam Notoadmodjo, 2003) menjelaskan bahwa sikap

mempunyai 3 (tiga) komponen pokok yaitu: kepercayaan (keyakinan)

yang merupakan ide dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan

emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek dan

kecenderungan untuk bertindak.

14
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap

yang utuh (totalattitude).Dalam penentuan sikap yang utuh ini,

pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan

penting.
Seperti halnya dengan pengetahuan, Notoadmodjo (2007)

menyebutkanbahwa sikap terdiri dari berbagai tingkatan.Pertama

adalah subjek mau danmemperhatikan stimulus yang diberikan objek

(receiving).Kemudian merespon(memberikan) jawaban apabila ditanya

serta mengerjakan dan menyelesaikantugas yang diberikan

(responding). Selanjutnya, subjek akan menunjukan sikapmenghargai

(valuating) yaitu dengan mengajak orang lain untuk mengerjakan

ataumendiskusikan suatu masalah, lalu bertanggung jawab atas segala

sesuatu yangtelah dipilihnya dengan segala resiko (responsible).


Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap secara psikologi ada dua

yaitu:faktor instriksik dan faktor ekstrinsik. Yang termasuk faktor

instrinsik diantaranyaintelegensi, bakat, minat, dan kepribadian,

sedangkan yang termasuk didalamekstrinsik antara lain yang datang

dari lingkungan individu itu sendiri. Maka sikapseseorang terhadap

rangsangan sangat tergantung pada berbagai situasi dankondisi

lingkungan dimana orang itu berada.Dan sikap juga terukir

melaluipengalaman seseorang, dengan motivasi yang ada pada

dirinya.Sikap merupakanreaksi yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu rangsangan(Notoadmodjo, 2007).


g. Usia
Usia adalah umur yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai

saat akan berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan

15
dan kekuatanseseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

Dari segi kepercayaanmasyarakat yang lebih dewasa akan lebih

dipercaya daripada orang yang belumcukup tinggi tingkat

kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan

kematangan jiwanya. Semakin dewasa seseorang, maka cara berfikir

semakinmatang dan teratur melakukan suatu tindakan (Notoatmodjo,

2007).
3. Faktor Penentu Derajat Ketidakpatuhan
Niven (2002) mengungkapkan derajat ketidak patuhan ditentukan oleh

kompleksitas prosedur pengobatan, derajat perubahan gaya

hidup/lingkungankerja yang dibutuhkan, lamanya waktu dimana perawat

mematuhi prosedur tersebut, apakah prosedur tersebut berpotensi

menyelamatkan hidup, dan keparahan penyakit yang dipersepsikan sendiri

oleh pasien bukan petugaskesehatan.


4. Stretegi untuk Meningkatkan Kepatuhan
Menurut Smet (1994), berbagai strategi telah dicoba untuk meningkatkan
kepatuhan, diantaranya adalah:
a. Dukungan Profesional Kesehatan
Dukungan profesional kesehatan sangat diperlukan untk

meningkatkankepatuhan, contoh yang paling sederhana dalam hal

dukungan tersebut adalah dengan adanya tehnik

komunikasi.Komunikasi memegang peranan pentingkarena komunikasi

yang baik diberikan oleh profesional kesehatan, isalnya antarakepala

perawatan dengan bawahannya.


b. Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah pasien dan keluarga.Pasien

dankeluarga yang percaya pada tindakan dan perilaku yang dilakukan

oleh perawatdapat menunjang peningkatan kesehatan pasien, sehingga

16
perawat dapat bekerjadengan percaya diri dan ketidak patuhan dapat

dikurangi.
c. Perilaku Sehat
Modifikasi perilaku sehat sangat diperlukan, misalnya kepatuhan

perawatuntuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh

pasien ataupunmelakukan tindakan asuhan keperawatan.

d. Pemberian Informasi
Pemberian informasi yang jelas tentang pentingnya pemberian

asuhankeperawatan berdasarkan prosedur yang ada membantu

meningkatkan kepatuhanperawat, hal ini dapat dilakukan dengan

memberikan pelatihan-pelatihankesehatan yang diadakan oleh pihak

rumah sakit ataupun instansi kesehatan lain.

B. LAMA KERJA
1. Pengertian Lama Kerja
Lama bekerja adalah lama waktu untuk melakukan suatu kegiatan

atau lama waktu seseorang sudah bekerja (Tim penyusun KBBI, 2010).
Lama bekerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja

itu bekerja di suatu tempat. (Handoko, 2007). Masa kerja adalah rentang

waktu yang telah ditempuh oleh seorang perawat dalam melaksanakan

tugasnya, selama waktu itulah banyak pengalamam dan pelajaran yang

dijumpai sehingga sudah mengerti apa keinginan dan para pasien kepada

seorang perawat.
Lama kerja adalah jangka waktu yang telah dilalui seseorang sejak

menekuni pekerjaan. Lama kerja dapat menggambarkan pengalaman

seseorang dalam menguasai bidang tugasnya. Pada umumnya, petugas

dengan pengalaman kerja yang banyak tidak memerlukan bimbingan

dibandingkan dengan petugas yang pengalaman kerjanya sedikit. Menurut

17
Ranupendoyo dan Saud (2005), semakin lama seseorang bekerja pada

suatu organisasi maka akan semakin berpengalaman orang tersebut

sehingga kecakapan kerjanya semakin baik.Dengan demikian semakin

lama masa kerja seoarang perawat, semakin luas pula pengetahuan

perawat tersebut.
Dari uraian diatas di buat definisi operasional masa kerja perawat

dalam perawatan luka adalah lama perawat bertugas dirumah sakit

tersebut, masa kerja perawat dinyatakan dalam tahun.


2. Faktor-faktor Lama Kerja
Menurut Handoko (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi lama bekerja

diantaranya.
a. Tingkat kepuasankerja
b. Stress lingkungankerja
c. PengembanganKarir
d. Kompensasi Hasilkerja
3. Batasan Usia Produktif Bekerja
Teori tahapan perkembangan karir yang dikemukakan oleh Donald

dan Super menyatakan bahwa perkembangan karir seseorang telah dimulai

sejak pertengahan masa remaja, dimana seseorang mulai menentukan jenis

pekerjaan yang cocok untuk dirinya menurut kenyataan yang dihadapi saat

itu, proses pendidikan yang dijalaninya, hal-hal yang disukainya secara

pribadi, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. (Gibson,2009)

Lama kerja menurut Handoko (2007) dikategorikan menjadi dua

meliputi :

a. Lama kerja kategori baru ≤ 3tahun

b. Lama kerja kategori lama > 3tahun

Donald dan super (Gibson, 2009) membagi tahap perkembangan

karir secara umum kedalam 6 tahapan, yaitu:

18
a. Tahap Kristalisasi (14 - 18tahun)

Pada tahap inilah sebuah keputusan tentang karir yang akan dijalani

ditetapkan bedasarkan hal – hal yang disukai oleh individu,

kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

b. Tahap Spesifikasi (18 – 21tahun)

Pada tahap ini individu mulai menjajaki tingkat pendidikan dan

pengalaman yang dibutuhkan untuk dapat mencapai pilihan karir

yang diingikanya.

c. Tahap Implementasi (22-25 tahun)

Pada tahap ini individu mulai mencoba – coba merasakan bekerja

dalam arti yang sesungguhnya menurut pilihanya.

d. Tahap Stabilisasi (26-35 Tahun)

Pada tahap ini individu berada dalam jenjang dimana pekerjaan

merupakan bagian dari kehidupan yang berjalan dengan

menyenangkan.

e. Tahap Konsolidasi (36-40 tahun)

Pada tahap ini individu mulai dapat dikatakan melakukan rangkaian

kompromi dalam rangkaian yang dilakukanya seperti berkomromi

dengan kenaikan jabatan.

f. Tahap Persiapan Menuju Pensiun (55tahun)

Pada tahap ini individu tidak lagi dapat dikatakan sebagai seseorang

yang produktif dalam arti yang sesungguhnya, karena ia cenderung

lebih terfokus pada masa pengsiun yang akan dihadapinya.

19
C. TEORI PERAWATAN LUKA
1. Pengertian Luka
Luka adalah kerusakan hubungan antar jaringan-jaringan pada

kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Agung,

2005). Selain itu, menurut Koiner dan Taylan (2001), Luka adalah

terganggunya integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya

yang terjadi secara tiba-tiba atau disengaja, tertutup atau terbuka, bersih

atau terkontaminasi, superficial atau dalam.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengertian luka

seperti Klasifikasi Luka yang diklasifikasikan dalam beberapa bagian

antara lain : Tindakan terhadap Luka yaitu Luka disengaja dan Luka

tidak disengaja; Integritas Luka dibagi atas Luka tertutup dan Luka

terbuka; berdasarkan Mekanisme Luka dibagi atas Luka insisi (Incised

wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Luka bersih

(aseptik) secara umum tertutup oleh sutura setelah seluruh pembuluh

darah yang luka diikat (Ligasi).Luka memar (ContusionWound), terjadi

akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan olehcedera

pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.Luka lecet

(AbradedWound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain

yang biasanya denganbenda yang tidak tajam. Luka tusuk (Punctured

Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang

masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.Luka gores

(Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca

atau oleh kawat. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang

20
menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk

diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan

melebar. Luka Bakar adalah kerusakan jaringan kulit yang disebabkan

oleh sesuatu yang panas (bersifat membakar) yang menimbulkan panas

berlebihan (Ismail, 2008)


Faktor yang mempengaruhi luka yaitu: berdasarkan usia

menyatakan bahwa anak dan dewasa penyembuhan lebih cepat daripada

orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan

fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah;

berdasarkan nutrisi menyatakan penyembuhan menempatkan

penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya

protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe,

Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status

nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk

meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply

darah jaringan adipose tidak adekuat, berdasarkan infeksi menyatakan

infeksi luka menghambat penyembuhan (Ismail, 2008)


Kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka.Adanya

sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki

sedikit pembuluh darah) mengakibatkan gangguan sirkualsi dan

oksigenisasi pada jaringan.Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan

luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah

infeksi, dan lama untuk sembuh.Aliran darah dapat terganggu pada

orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh

darah perifer, hipertensi atau diabetes mellitus.

21
Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia

atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume

darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunkan

ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka; Hematoma

(bekuan darah), merupakan hal yang sering terjadi, sehingga darah pada

luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi.

Tetapi jika terdapat bekuan yang besar, hal tersebut memerlukan waktu

untuk dapat diabsorbsi oleh tubuh, sehingga menghambat proses

penyembuhan luka; berdasarkan faktor benda asing bahwa benda asing

seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya

suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari

serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah putih), yang

membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah

(Ismail, 2008)
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan

suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran

darah.Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat.

Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada

pembuluh darah itu sendiri; Diabetes dengan Hambatan terhadap

sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi

tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi

penurunan protein-kalori tubuh; Keadaan luka menyatakan bahwa

keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas

penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.Beberapa

22
diantaranya adalah penggunaan obat anti inflamasi (seperti steroid dan

aspirin), dimana heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi

penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat

seseorang rentan terhadap infeksi luka seperti steroid akan menurunkan

mekanisme peradangan normal dan tubuh terhadap cedera,

antikoagulan dapat mengakibatkan perdarahan, antibiotik dapat efektif

diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab

kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan

tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular (Ismail,

2008).
2. Proses Penyembuhan Luka

Menurut Sotani (2009), dalam proses penyembuhan luka dapat

diklasifikasikan menjadi penyembuhan primer dimana luka diusahakan

bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan dan penyembuhan sekunder

dimana penyembuhan luka tanpa ada bantuan dari luar (mengandalkan

antibodi)

Gambar 2.1 Proses Penyembuhan Luka

a. Proses Inflamasi

Pembuluh darah terputus, menyebabkan pendarahan dan tubuh

berusaha ntuk menghentikannya (sejak terjadi luka sampai hari ke –

lima) dengan karakteristik dari proses ini adalah: hari ke 0-5, respon

23
segera setelah terjadi injuri pembekuan darah untuk mencegah

kehilangan darah, dan memiliki ciri-ciri tumor, rubor, dolor, color,

functio laesa. Selanjutnya dalam fase awal terjadi haemostasis, pada

fase akhir terjadi fagositosis dan lama fase ini bisa singkat jika tidak

terjadi infeksi

b. Proses Proliferasi

Terjadi proliferasi fibroplast (menautkan tepi luka) dengan

karakteristik dari proses ini adalah: terjadi pada hari 3 – 14, disebut

juga dengan fase granulasi adanya pembentukan jaringan granulasi

pada luka-luka nampak merah segar, mengkilat, jaringan granulasi

terdiri dari kombinasi: fibroblasts, sel inflamasi, pembuluh darah

yang baru, fibronectin and hyularonic acid. Epitelisasi terjadi pada

24 jam pertama ditandai dengan penebalan lapisan epidermis pada

tepian luka dan secara umum pada luka insisi, epitelisasi terjadi pada

48 jam pertama

c. Proses Maturasi

Proses ini berlangsung dari beberapa minggu sampai dengan 2 tahun

dengan terbentuknya kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka

serta peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength), dilanjutkan

terbentuk jaringan parut (scar tissue) 50-80% sama kuatnya dengan

jaringan sebelumnya serta terdapat pengurangan secara bertahap

pada aktivitas selular dan vaskularisasi jaringan yang mengalami

perbaikan.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

24
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan

dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang

terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya

terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka,

namun dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik

(Intena ,2004:13).

a. Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat

berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status

nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi,

dan penyakit penyerta (hipertensi, DM, Arthereosclerosis).


b. Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang

dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi :

pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma

jaringan (InETNA,2004:13).
4. Komplikasi Penyembuhan Luka

Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi

yang berbeda-beda.Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka

yang tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi,

tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan

adanya infeksi.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma,

nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar

dan juga infeksi luka (InETNA,2004:6).

5. Perawatan Luka

25
Perawatan luka adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk

merawat luka agar dapat mencegah terjadinya trauma (in juri) pada kulit

membran mukosa atau jaringan lain, fraktur, luka operasi yang dapat

merusak permukaan kulit. Serangkaian kegiatan itu meliputi

pembersihan luka, memasang balutan, mengganti balutan, pengisian

(packing) luka, memfiksasi balutan, tindakan pemberian rasa nyaman

yang meliputi membersihkan kulit dan daerah drainase, irigasi,

pembuangan drainase, pemasangan perban (Briant, 2007).


6. Penatalaksanaan/Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan

yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan

luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan

jahitan.
a. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan

eksplorasi).
b. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakankulit. Untuk

melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan

atau larutan antiseptik seperti:


1) Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2

menit).
2) Halogen dan senyawanya
3) Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat, berspektrum

luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam


4) Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine), merupakan

kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone yang tidak

merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil

karena tidak menguap.

26
5) Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya untuk

antiseptik borok.
6) Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa

biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna,

mudah larut dalam air, tidak merangsang kulit dam mukosa, dan

baunya tidak menusuk hidung.


7) Oksidansia
a) Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan funngisida

agak lemah berdasarkan sifat oksidator.


b) Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk

mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh

kuman anaerob.
c) Logam berat dan garamnya
(1) Merkuri klorida (sublimat), berkhasiat menghambat

pertumbuhan bakteri dan jamur.


(2) Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%.

Sifatnya bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya

luka dengan cara merangsang timbulnya kerak (korts)


(3) Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi

3%).
(4) Derivat fenol
(5) Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai

antiseptik wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi

dan luka bakar.


(6) Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci

tangan.
(7) Basa ammonium kuartener, disebut juga etakridin

(rivanol), merupakan turunan aridin dan berupa serbuk

berwarna kuning dam konsentrasi 0,1%. Kegunaannya

27
sebagai antiseptik borok bernanah, kompres dan irigasi

luka terinfeksi (Mansjoer, 2000:390).


Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu

diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian

luka. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan menghambat

pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan

meningkatkan biaya perawatan. Pemelihan cairan dalam pencucian

luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka. Selain larutan

antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka lain

yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. Normal saline

atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan yang

bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap

liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 g dengan

osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan

Cl- 154 mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO Indonesia,2000:18).


c. Pembersihan Luka

Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan,

memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka;

menghindari terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan

debris (InETNA, 2004:16).

Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka

yaitu :

1) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk

membuang jaringan mati dan benda asing.


2) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
3) Berikan antiseptik

28
4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian

anastesi local
5) Bila perlu lakukan penutupan luka (Mansjoer,2000: 398;400)
d. Penjahitan luka

Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur

kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang

terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya

dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam.

e. Penutupan Luka

Adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka

sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.

f. Pembalutan

Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung

pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung

terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik

bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek

penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang

menyebabkan hematom.

g. Pemberian Antibiotik

Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada

luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.

h. Pengangkatan Jahitan

Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu

pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi,

29
jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya

infeksi (Mansjoer,2000:398 ; Walton, 1990:44)

D. STANDART PROSEDUR OPERASIONAL


1. Pengertian
Suatu standar / pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan

menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar

operasional prosedur merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan

yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry

dan Potter (2005).


2. Tujuan
Tujuan SOP antara lain (SOP Rumah Sakit Dr. Kariadi, 2011) :
a. Petugas / pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas /

pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.


b. Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam

organisasi.
c. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari

petugas/pegawai terkait.
d. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek

atau kesalahan administrasi lainnya.


e. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan

inefisiensi
3. Fungsi SPO
Fungsi SPO antara lain (SPO Rumah Sakit Dr. Kariadi, 2011) :
a. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
c. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
d. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam

bekerja.
4. Kapan SPO diperlukan
a. SPO harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan
b. SPO digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah

dilakukan dengan baik atau tidak

30
c. Uji SPO sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan

langkah kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.


5. Keuntungan adanya SPO
a. SPO yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat

komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan

secara konsisten.
b. Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu

apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan


c. SPO juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa

digunakan untuk mengukur kinerja pegawai.

E. KERANGKA TEORI

Faktor Internal :
Pengetahuan
Sikap
Kemampuan
Motivasi

Kepatuhan Menjalankan
Lama Kerja 31
SPO Perawatan Luka
Faktor Eksternal
Karakteristik organisasi
Karakteristik kelompok
Karakteristik pekerjaan
Karakteristik
Gambar 2.2 Kerangka Teori lingkungan

Notoadmojo (2007), KBBI (2010)

F. KERANGKA KONSEP
Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka teori maka disusun kerangka

konsep sebagai berikut :


Variabel Independent Variabel Dependent

Lama Masa Kerja Kepatuhan SPO Perawatan


Luka
Tabel 2.2 kerangka konsep

E. HIPOTESIS PENELITIAN
Ada hubungan antara lama masa kerja dengan kepatuhan perawatan luka

sesuai standar prosedur operasional

32
DAFTAR PUSTAKA BAB II

33