Anda di halaman 1dari 17

Dalam Buku besar Toko Bina Lestari padatanggal31 Desember 1994 terdapat rekening-rekening

sebagai berikut :
· Piutang Dagang Rp 16.500.000,00
· Cadangan kerugian Piutang (K) Rp 200.000,00
· Penjualan Rp 47.500.000,00
· Retur Penjualan Rp 1.500.000,00
· Potongan Penjualan` Rp 400.000,00

Buatlah jurnal penyesuaian untuk mencatat transaksi piutang tak Tertagih jika :
a. Besarnya kerugian piutang tak tertagih ditentukan
1. 2% dari jumlah penjualan
2. 2% dari jumlah penjualan bersih
b. Cadangan Kerugian piutang ditetapakan
1. Ditambah 5% dari saldo piutang
2. Dinaikan sampai 5% dari saldo piutang

Jawab :
a. Kerugaian piutang tak tertagih
1. 2% x pejualan
2% x Rp. 47.500.000,00 = Rp. 950.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp. 950.000,00
Cadangan kerugian Piutang Rp. 950.000,00

2. 2% x (penjualan – retur penjualan)


2% x (Rp. 47.500.000,00 - Rp 1.500.000,00) = Rp. 920.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp. 920.000,00
Cadangan kerugian Piutang Rp. 920.000,00

b. Cadangan Kerugian piutang


1. 5% x piutang dagang
5% x Rp 16.500.000,00 = Rp 825.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp 825.000,00

Cadangan kerugian Piutang Rp 825.000,00

2. (5% x piutang dagang) – Cadangan kerugian piutang dagang


(5% x Rp 16.500.000,00) – Rp 200.000,00 = Rp 625.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp 625.000,00
Cadangan kerugian Piutang Rp 625.000,00
Soal 2
Dalam Neraca Saldo Toko belawan
pada tanggal 31 Desember 1994
terdapat antara lain rekening-
rekening :
· Piutang Dagang Rp 25.000.000,00
· Cadangan kerugian Piutang (D) Rp 300.000,00
· Penjualan Rp 65.500.000,00
· Retur Penjualan Rp 1.400.000,00
· Potongan Penjualan` Rp 600.000,00
· Beban Piutang tak Tertagih Rp 700.000,00

Buat jurnal penyesuain untuk mencatat taksiran piutang tak tertagih jika :
a. Besarnya kerugian piutang ditetapkan
1. 2% dari penjualan bersih
2. 2% dari penjualan kredit
b. Cadangan Kerugian piutang ditetapkan :
1. Ditambah 4% dari saldo piutang
2. Dinaikan menjadi 4% dari saldo piutang

Jawab :
a. Kerugaian piutang tak tertagih
1. 2% x (pejualan – retur penjualan – potongan penjualan)
2% x (Rp. 62.500.000,00 – Rp 2.000.000,00) = Rp. 1.210.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp. 1.210.000,00
Cadangan kerugian Piutang Rp. 1.210.000,00

2. 2% x 80%% X penjualan
2% x80% X Rp. 62.500.000,00 = Rp. 1.000.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp. 1.000.000,00
Cadangan kerugian Piutang Rp. 1.000.000,00

b. Cadangan Kerugian piutang


1. 5% x piutang dagang
5% x Rp 25.000.000,00 = Rp 1.000.000,00
Kerugaian piutang tak tertagih Rp 1.000.000,00

Cadangan kerugian Piutang Rp 1.000.000,00


2. (5% x piutang dagang) + Cadangan kerugian piutang dagang

(5% x Rp 25.000.000,00) + Rp 300.000,00 = Rp1.300.000,00

Kerugaian piutang tak tertagih Rp1.300.000,00

Cadangan kerugian Piutang Rp1.300.000,00

Menurut Budi Prijanto, SE., MMSI, ada 3 cara menaksir besarnya cadangan
penghapusan piutang yaitu :

Ø Menggunakan analisis umur piutang (aging Schedule)

PT. Liesti pada tanggal 31 Desember 2011 mempunyai data tentang piutang
sbb :

Nama Debitur Tanggal Pelunasan Jumlah Piutang Umur Piutang


A 5 April 2010 Rp 2.000.000 Belum Jatuh tempo
B 5 April 2011 Rp 1.900.000 26 hari
C 25 April 2011 Rp 2.500.000 75 hari

Ø Taksiran dari saldo akhir piutang di Neraca

Contoh : Dari data piutang PT. Liesti diatas bahwa piutang debitur A sebesar
Rp 2 juta, ditaksir 5% tak tertagih, maka cadangan kerugian piutang adalah
sebesar 5% x Rp 2 juta = Rp 100.000
Ø Taksiran dari jumlah penjualan kredit selama satu periode.

Contoh : PT. Liesti menjual barang selama satu tahun sebesar Rp


100.000.000, terdiri dari penjualan tunai Rp 40.000.000 dan sisanya kredit.
Misalnya cadangan piutang ditetapkan 2% maka cadangan kerugian
piutangnya adalah = 2% x (Rp 100juta – 40juta) = Rp 1.200.000

Pengakuan dan pencatatan kerugian piutang

1. Metode Langsung (Direct Write Off), kerugian piutang diakui dan


dicatat ketika debitur sudah tidak mungkin lagi membayar utangnya.

Misal Debitur A tidak bisa membayar utangnya sebesar Rp 2juta maka


jurnalnya adalah :

Kerugian Piutang Rp 2 juta

Piutang Debitur A Rp 2 juta

Apabila Debitur A menyatakan membayar kembali utangnya maka :


Ø Apabila pernyataan itu disampaikan dalam tahun yang sama dengan
dilakukannya penghapusn piutang maka dilakukan jurnal pembatalan (di-
revers). Tinggal membalik jurnal diatas.

Ø Apabila pernyataan disampaikan dalam tahun sesudahnya dilakukan


penghapusan piutang maka, jurnalnya

Piutang Debitur A Rp 2 juta

Laba Piutang tak tertagih Rp 2 juta

2. Metode Cadangan (Allowance for Uncollectible Method), menentukan


kerugian putang pada tanggal laporan keuangan dengan memperkirakan
jumlah tertentu yang tidak bisa ditagih.

3. Misal Debitur A mencadangkan kerugian piutang sebesar Rp 2juta maka


jurnalnya

Jurnalnya adalah :

Ø Pada Waktu ditentukannya cadangan kerugian piutang :

Kerugian Piutang Rp 2juta


Cadangan kerugian piutang Rp 2juta

Ø Apabila timbul piutang tak tertagih

Cadangan Kerugian Piutang Rp 2 juta

Piutang Rp 2juta

Ø Apabila piutang debitur telah dihapus membayar kembali

Piutang Debitur A Rp 2 juta

Cadangan kerugian piutang Rp 2juta

Bagi perusahaan yang senang melakukan spekulasi, maka piutangyang belum


jatuh tempo atau belum dibayar oleh penerima jasa atau pembeli produk
perusahaan, maka biasanya perusaan melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Menjaminkan piutang (assignment)

2. Menjual piutang (factoring)


3. Menggadaikan piutang (pledging)

Kita bahas satu demi satu penjelasan diatas.

a. Menjaminkan Piutang (Assignment)

Perlu kita pahami istilah – istilah dalam hal ini. Kalau belum mengetahui arti
bahasa secara umum bisa dilihat di kamus akuntansi.

Bagi perusahaan yang melakukan penjaminan piutang dinamakan Assignment


sedangkan Penjamin piutang dinamakan assignor misalnya bank.

Dalam hal ini perusahaan akan menjaminkan piutang kepada bank yang
bertugas sebagai penjamin dan perusahaan (assignment) akan mengangsur
kepada assignor apabila piutang sudah tertagih, meliputi pokok pinjaman, biaya
pinjaman, dan biaya bungan.

Piutang yang sudah dijaminkan akan mengurangi jumlah aktiva lancar (modal
kerja) didalam Neraca. Piutang yang dijaminkan harus dicantumkan secara
jelas untuk menunjukkan terbatasnya penguasaan perusaan atas piutang
tersebut.

Contoh :

Pada tanggal 5 April 2011 PT. LIES menjaminkan piutang sebesar Rp 5.000.000
dengan memperoleh pinjaman bank “EMAK” sebesar Rp 4.000.000 bungan 10%
per tahun dari saldo akhir tahun utang berjalan, beban biaya Rp 300.000.

Jurnal :

5 April Kas Rp 3.700.000*

Biaya Pinjaman Rp 300.000

Utang atas jaminan piutang Rp 4.000.000

· (4.000.000 – 300.000)

(jurnal pada saat menerima dana dari bank atas menjaminkan


piutang)
Piutang dijaminkan Rp 5.000.000

Piutang Rp 5.000.000

(jurnal mengakui piutang dijaminkan dengan mengurangi piutang


pada Neraca)

Pada tanggal 5 Mei 2011, piutang dibayar ke perusahaan sebesar Rp 1.000.000


dan perusahaan membayarkannya ke bank ditambah bunga.

Jurnalnya :

5 Mei Kas Rp 1.000.000

Piutang dijaminkan Rp 1.000.000

(jurnal pada saat menerima pembayaran piutang dari buyer)

5 Mei Utang atas jaminan piutang Rp 1.000.000

Biaya Bunga Rp 33.333,33


Kas Rp 1.033.333,33

(jurnal ketika perusahaan membayarkan dana yang sudah tertagih kepad bank
dengan disertai bunga bank yang sudah disepakati)

· Biaya bunga = 4.000.000 x (10%/12) = Rp 33.333,33

Ingat bahwa bunga didasarkan pada saldo piutang akhir yang


dijaminkan ke bank.

Penyajian dalam neraca adalah :

Aktiva Lancar :

Piutang Rp xxxx

Piutang dijaminkan Rp 5.000.000

Piutang atas jaminan Rp 4.000.000

Rp 1.000.000 +
Rp xxx.xxx

Apabila utang atas jaminan dilunasi sebelum debitur melunasi piutangnya maka
akun piutang yang dijaminkan dibatalkan.

Piutang Rp xxxx

Piutang dijaminkan Rp xxxx

b. Penjualan Piutang (Factoring)

Apabila perusahaan menjual piutang untuk mendapatkan dana, maka hak tagih
berpindah tangan kepada kreditor sebagai penerima jaminan piutang dari
perusahaan.

Dalam hal ini piutang yang diakui sebesar piutang bersih yang sudah dikurangi
dengan potongan dan cadangan retur atas barang yang rusak maupun yang
dikembalikan karena tidak sesuai dengan pesanan dan cadangan penghapusan
piutang (tidak tertagihnya piutang). Dalam hal ini pembeli piutang erusahaan
akan membayar sebagian saja. Dan rekening piutang didalam neraca dihapus.

Contoh :
Pada tanggal 5 April 2011 PT. LIES menjual piutang sebesar Rp 5.000.000
kepada bank “EMAK” , dan bank EMAK membayar sebesar Rp 4.000.000 discont
5%, sedangkan Rp 1.000.000 (5juta-4juta) ditentukan sebagai cadangan
kemungkinan retur dan penghapusan piutang).

Jurnalnya :

5 April 2011 Kas (4 juta – 200.000) Rp 3.800.000

Biaya Penjualan Piutang (4 juta x 5%) Rp 200.000

Piutang pada bank EMAK Rp 1.000.000

Piutang
Rp 5.000.000

(jurnal pada saat menerima dana dari Bank Emak disertai biaya-biaya yang
timbul).

Apabila timbul pengembalian barang oleh debitur sebesar Rp 200.000 dan


penghapusan piutang karena tidak tertagih Rp 100.000 maka jurnalnya adalah :

Retur Penjualan Rp 200.000


Cadangan kerugian piutang Rp 100.000

Piutang pada bank EMAK Rp 300.000

Apabila seluruh piutang yang ditagih oleh bank EMAK sudah lunas maka sisanya
menjadi hak perusahaan.

(Rp 5.000.000 – (200.000 + 100.000 + 4.000.000) = Rp 700.000

Jurnalnya adalah :

Piutang/kas Rp 700.000

Piutang pada bank EMAK Rp 700.000

c. Menggadaikan Piutang (Pledging)

Untuk penggadaian piutang (pledging), piutang tetap dicantumkan sebagai


aktiva lancar seluruhnya hanya diberi catatan masalah penggadaiannya. Pada
prinsipnya sama seperti piutang usaha (utang biasa, utang bank dsb)
Metode #1. Cadangan Kerugian Piutang

Untuk mengetahui jenis-jenis dan cara menghitung cadangan kerugian piutang, anda bisa
membaca di artikel “cara menentukan dan menghitung cadangan kerugian piutang”.

Untuk kali ini lebih menekankan pada cara pencatatanya dalam akuntansi. Dalam
metode setiap akhir periode ditentukan taksiran jumlah kerugian piutang.

Taksiran kerugian piutang ini di catat ke rekening Kerugian Piutang sisi debet dan
Cadangan Kerugian Piutang di sisi kredit.

Kerugian Piutang Rp. xxx


Cadangan Kerugian Piutang Rp. xxx

Cadangan kerugian piutang yang jelas-jelas tidak dapat ditagih karena debiturnya
meninggal, bangkrut, atau sebab-sebab lain harus dihapuskan dari rekening piutang.

Penghapusan piutang ini merupakan suatu kerugian, pencatatannya tidak dibebankan ke


rekening Kerugian Piutang tetapi dibebankan ke rekening Cadangan Kerugian Piutang.
Karena kerugian piutangnya sudah diakui pada akhir periode sebelumnya.

Misalnya terjadi penghapusan piutang seorang debitur Rp 150.000 maka jurnalnya


sebagai berikut :

Cadangan Kerugian Piutang Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000

Kadang-kadang piutang yang sudah dihapus dilunasi kembali. Penerimaan piutang yang
sudah dihapuskan akan dikreditkan ke rekening Cadangan Kerugian Piutang sebagai
berikut :

Kas Rp. xxx


Cadangan Kerugian Piutang Rp. xxx

Bila pelunasan piutang yang sudah dihapus tidak langsung diterima, maka pada saat
dietahui bahwa piutang akan dilunasi dibuat jurnal untuk mencatat kembali piutang yang
sudah dihapus sebagai berikut :
Piutang Rp. xxx
Cadangan kerugian piutang Rp. xxx

Penerimaan uangnya dijurnal sebagai berikut

Kas Rp xxx
Piutang Rp xxx

Agar lebih jelas, mari kita kaji contoh transaksi dibawah ini:

Pada tanggal 31 Desember 2014 dihitung taksiran kerugian piutang sebesar Rp 10.000.
Pada tanggal 15 April 2015 pelanggan Pak Agus yang piutangnya sebesar Rp 150.000
bangkrut dan menyatakan tidak dapat melunasi utangnya. Tetapi pada tanggal 1 Juli 2015
Pak Agus datang dan menyatakan akan melunasi utangnya pada tanggal 1 Agustus 2015.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi di atas


sebagai berikut :

Tanggal 31 Desember 2014: Taksiran kerugian piutang Rp. 10.000

Kerugian Piutang Rp. 10.000


Cadangan Kerugian Piutang Rp. 10.000

Tanggal 15 April 2015 : Menghapus piutang Pak Agus sebesar Rp. 150.000

Cadangan kerugian Piutang Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000

Tanggal 1 Juli 2015 : Pernyataan dari Pak Agus akan melunasi hutangnya.

Piutang Rp. 150.000


Cadangan Kerugian Piutang Rp. 150.000

Tanggal 1 Agustus 2015: Penerimaan uang dari piutang yang sudah dihapus

Kas Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000
Bila Pak Agus melunasi hutangnya pada tahun 2016, atau setelah periode tutup buku
maka penerimaan piutang itu akan dikreditkan ke rekening Penerimaan Piutang Yang
Sudah dihapus.

Dan pencatatan jurnal dibuat sebagai berikut :

Tanggal 1 Juli 2015: Pak menyatakan akan melunasi hutangnya.

Piutang Rp. 150.000


Cadangan Kerugian Piutang Rp. 150.000

Tanggal 15 Januari 2016: Penerimaan uang dari piutang yang sudah dihapus.

Kas Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000

Metode #2. Penghapusan Piutang

Metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan-perusahaan kecil atau perusahaan-


perusahaan yang tidak dapat menaksir kerugian piutang dengan baik.

Pada akhir periode tidak ada taksiran kerugian piutang yang dibebankan, tetapi kerugian
piutang baru diakui pada waktu diketahui ada piutang yang tidak dapat ditagih, maka
piutang tersebut dihapuskan dan dibebankan pada rekening Kerugian Piutang.

Penerimaan dari piutang yang sudah dihapus akan dikreditkan ke rekening Kerugian
Piutang bila buku-buku belum ditutup. Tetapi bila penerimaan piutang yang sudah
dihapus itu terjadi sesudah buku-buku ditutup maka akan dikreditkan ke rekening
Penerimaan Piutang yang Sudah dihapus.

Penggunaan metode penghapusan langsung tidak dapat menunjukkan jumlah piutang


yang diharapkan akan ditagih dalam neraca, karena neraca hanya menunjukkan jumlah
piutang bruto.

Untuk pencatatannya, yuk kita ikuti langkah-langkahnya berikut


ini:
Masih berdasarkan pada contoh transaksi pada metode cadangan kerugian piutang.

Tanggal 31 Desember 2014: Taksiran kerugian piutang Rp. 10.000

Tidak ada jurnal.

Tanggal 15 April 2015 : Menghapus piutang Pak Agus sebesar Rp. 150.000

Kerugian Piutang Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000

Tanggal 1 Juli 2015 : Pernyataan dari Pak Agus akan melunasi hutangnya

Piutang Rp. 150.000


Kerugian Piutang Rp. 150.000

Tanggal 1 Agustus 2015: Penerimaan uang dari piutang yang sudah dihapus

Kas Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000

Bila Pak Agus melunasi hutangnya pada tahun 2016, atau setelah periode tutup buku
maka penerimaan piutang itu akan dikreditkan ke rekening Penerimaan

Piutang Yang Sudah dihapus. Dan pencatatan jurnal dibuat sebagai berikut :

Tanggal 1 Juli 2015 : Pak Agus menyatakan akan melunasi hutangnya.

Piutang Rp. 150.000


Penerimaan Piutang yang sudah dihapus Rp. 150.000

Tanggal 15 Januari 2016:Penerimaan uang dari piutang yang sudah dihapus.

Kas Rp. 150.000


Piutang Rp. 150.000