100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
630 tayangan5 halaman

Jawaban Soal

Dokumen tersebut membahas tentang beberapa indikator penting dalam mengukur kinerja rumah sakit seperti BOR (Bed Occupancy Ratio), AVLOS (Average Length of Stay), TOI (Turn Over Interval), BTO (Bed Turn Over), NDR (Net Death Rate), dan GDR (Gross Death Rate) beserta rumus dan batasan nilai ideal masing-masing indikator. Juga dibahas tentang definisi lama dirawat atau lama rawat pasien selama rawat inap.

Diunggah oleh

Tokek Luffy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
630 tayangan5 halaman

Jawaban Soal

Dokumen tersebut membahas tentang beberapa indikator penting dalam mengukur kinerja rumah sakit seperti BOR (Bed Occupancy Ratio), AVLOS (Average Length of Stay), TOI (Turn Over Interval), BTO (Bed Turn Over), NDR (Net Death Rate), dan GDR (Gross Death Rate) beserta rumus dan batasan nilai ideal masing-masing indikator. Juga dibahas tentang definisi lama dirawat atau lama rawat pasien selama rawat inap.

Diunggah oleh

Tokek Luffy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JAWABAN SOAL

1. Sistem Penjajaran

Dokumen rekam medis yang disimpan didalam rak penyimpanan tidak ditumpuk melainkan
disusun, berdiri sejajar satu dengan yang lain. Menurut Shofari (1998) ada tiga sistem
penomoran dalam rekam medis yaitu:

Sistem Nomor Langsung (Straight Numerical Filing)

Sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan menjajarkan folder dokumen rekam
medis berdasarkan urutan nomor rekam medis dari awal.

01
11
98

Angka ke-1 Angka ke-2 Angka ke-3

Contoh :

Seksi 01 Seksi 02 Seksi 03

01-11-98 02-08-75 03-89-55

01-11-99 02-08-76 03-89-56

Kelebihan Sistem Nomor Langsung yaitu:

 Mudah melatih petugas-petugas yang harus melaksanakan pekerjaan penyimpanan.


 Mudah dalam pencarian dokumen rekam medis dalam jumlah banyak dengan nomor
berurutan.

Kekurangan Sistem Nomor Langsung yaitu:

 Petugas harus memperhatikan seluruh angka nomor sehingga mudah terjadi kekeliruan
menyimpan.
 Terjadinya konsentrasi pada rak penyimpanan untuk nomor besar yaitu rekam medis dengan
nomor terbaru.
 Pengawasan kerapian penyimpanan sangat sulit dilakukan, karena petugas tidak terbagi
menurut nomor.
1. Sistem Angka Tengah (Middle Digit Filing)

Sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan menjajarkan folder dokumen rekam
medis berdasarkan urutan nomor rekam medis pada dua angka kelompok tengah.

25
17
78

Angka ke-2 Angka ke-1 Angka ke-3

Contoh :

Seksi 17 Seksi 70 Seksi 99

25-17-78 80-70-99 11-99-85

25-17-79 81-70-00 11-99-86


Kelebihan Sistem Angka Tengah yaitu:

 Mudah mengambil 100 dokumen rekam medis yang nomornya berurutan.


 Penggantian sistem nomor langsung ke angka tengah lebih mudah dari pada ke sistem angka
akhir.
 Petugas mudah di serahi tanggung jawab sejumlah rak.

Kelemahan Sistem Angka Tengah yaitu:

 Latihan dan bimbingan petugas lebih lama.


 Sistem ini tidak dapat digunakan apabila nomor sudah melebihi 6 digit.
 Terjadi rak-rak lowong pada beberapa seksi apabila dilakukan pencabutan dokumen non aktif.
1. Sistem Angka Akhir (Terminal Digit Filing)

Sistem penyimpanan dokumen rekam medis dengan menjajarkan folder dokumen rekam
medis berdasarkan urutan nomor rekam medis pada dua angka kelompok akhir.

23
01
42

Angka ke-3 Angka ke-2 Angka ke-1

Contoh :

Seksi 42 Seksi 89 Seksi 99

23-01-42 98-60-89 98-24-99

24-01-42 99-60-89 99-24-99

Kelebihan Sistem Angka Akhir yaitu:

 Tersebar secara merata


 Petugas dapat diserahi tanggung jawab untuk sejumlah section tertentu.
 Rekam medis non aktif dapat diambil dari rak penyimpanan.
 Jumlah rekam medis untuk setiap section terkontrol dan bisa dihindarkan timbulnya rak-rak
kosong.
 Membantu memudahkan perencanaan peralatan penyimpanan (jumlah rak).
 Kekeliruan menyimpan (misfile) dapat di cegah.

Kekurangan dari sistem ini yaitu latihan dan bimbingan bagi petugas penyimpanan dalam hal
system angka akhir mungkin lebih

2. Sistem penomoran

Sistem penomoran rekam medis sangat berperan penting dalam memudahkan pencarian berkas
atau dokumen rekam medis apabila pasien kemudian datang kembali berobat di sarana-sarana
pelayanan kesehatan serta untuk kesinambungan informasi, dengan menggunakan sistem
penomoran maka informasi-informasi dapat secara berurut dan meminimalkan informasi yang
hilang. Pemberian nomor kepada pasien saat pasien berkunjung pertama kali dan digunakan
seteruskan di tempat pelayanan kesehatan.

Menurut Shofari (1998) ada tiga sistem pemberian nomor pasien (Administrasion Numbering
System) yaitu:

1. Pemberian Nomor Cara Seri (Serial Numbering System)

Merupakan suatu sistem penomoran dimana setiap pasien yang berkunjung di puskesmas atau
sarana pelayanan kesehatan akan mendapatkan nomor baru.
Keuntungan dengan menggunakan sistem ini :

 Petugas rekam medis lebih mudah dalam memberikan nomor kepada pasien.
 Petugas rekam medis lebih cepat dalam memberi pelayanan kepada pasien.

Kerugian dengan menggunakan sistem ini :

 Membutuhkan waktu lama dalam pencarian Dokumen Rekam Medis lama, karena satu
pasien dapat memperoleh lebih dari satu nomor.
 Informasi pelayanan klinik menjadi tidak berkesinambungan.

1. Pemberian Nomor Secara Unit (Unit Numbering System)

Suatu sistem penomoran dimana sistem ini memberikan satu nomor kepada pasien rawat jalan,
rawat inap dan gawat darurat. Setiap pasien yang berkunjung mendapatkan satu nomor pada saat
pertama kali pasien datang ke Puskesmas dan digunakan selamanya pada kunjungan berikutnya.

Sistem Penomoran Unit dibagi menjadi dua, yaitu :

 Social Security Numbering

Social Security Numbering yaitu penomoran yang berhubungan dengan lingkungannya dan
hanya di Amerika Serikat dan efektif pada veteran administration hospital. Keuntungannya
adalah dapat dibedakan dengan pasien lainnya.

 Family Numbering

Family Numbering yaitu penomoran yang berhubungan dengan keluarga (satu nomor untuk satu
keluarga). Biasanya dilaksanakan di puskesmas. Terdiri dari sepasang digit tambahan yang
ditempatkan pada setiap keluarga. Keuntungan dari sistem ini adalah semua informasi pada satu
keluarga terkumpul.

Keuntungan dengan menggunakan sistem Family Numbering yaitu :

1. Informasi klinis dapat berkesinambungan karena semua data dan informasi mengenai
pasien dan pelayanan berada dalam satu folder.
2. Setiap pasien hanya mempunyai satu kartu berobat yang digunakan oleh seluruh keluarga
pada sarana pelayanan Puskesmas.

Kerugian dengan menggunakan sistem ini yaitu pelayanan pasien kunjungan ulang memerlukan
waktu yang cukup lama.

1. Pemberian Nomor Cara Seri Unit ( Serial Unit Numbering Sistem)

Pemberian nomor dengan cara ini menggabungkan sistem seri dan unit. Dimana setiap pasien
datang berkunjung ke Puskesmas diberikan nomor baru tetapi dokumen Rekam Medis terdahulu
digabungkan dan disimpan jadi satu di bawah nomor yang baru.

Kekurangan dengan menggunakan sistem ini :

 Petugas menjadi lebih sibuk setelah selesai pelayanan dan informasi yang diberikan
kepada pasien tidak berkesinambungan.

Kelebihan menggunakan sistem ini :

 Pelayanan menjadi lebih cepat karena tidak memilih antara pasien baru atau pasien lama,
semua pasien yang datang dianggap pasien baru.
 Tidak perlu mencari Dokumen Rekam Medis.
No 4

BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)


BOR menurut Huffman (1994) adalah the ratio of patient service days to inpatient bed
count days in a period under consideration•. Sedangkan menurut Depkes RI (2005),
BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini
memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.
Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Rumus :
BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam
satu periode)) X 100%
AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)AVLOS
menurut Huffman (1994) adalah the average hospitalization stay of inpatient discharged
during the period under consideration•. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-
rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat
efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara
umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus :
AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati
dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat
efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran
1-3 hari.
Rumus :
TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar (hidup
+ mati)
BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah …the net effect of changed in occupancy rate and
length of stay•. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat
tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.
Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus :
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
NDR (Net Death Rate)
NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk
tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di
rumah sakit.
Rumus :
NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000
permil
GDR (Gross Death Rate)
GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000
penderita keluar.Rumus :
GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000
permil
Barber johnson

Batasan nilai efisien


BOR – 75%-85%
TOI – 1-3 hari
AvLOS – 3-12 hari
BTO >30

LAMA DIRAWAT/LAMA RAWAT


Lama dirawat atau kadang disebut lama rawat adalah istilah yang menunjukkan berapa hari
seorang pasien dirawat pada satu episode rawat inap.

Satuan untuk lama dirawat menggunakan hari. Cara menghitungnya yaitu dengan menghitung
selisih antara tanggal pulang (tanggal keluar rumah sakit, baik hidup maupun mati) dengan
tanggal masuk rawat inap setiap pasien. Khusus pasien yang masuk dan keluar pada hari yang
sama maka lama dirawat dihitung sebagai 1 hari.

Total lama dirawat menunjukkan total lama dirawat dari seluruh pasien yang dihitung dalam
periode tertentu yang dipilih.

Rerata lama dirawat dikenal dengan istilah AvLOS / ALOS (average Length of Stay) yang
merupakan satu parameter dalam penghitungan efisiensi penggunaan tempat tidur (TT).

HARI PERAWATAN
Hari Perawatan menunjukkan banyaknya beban merawat pasien dalam suatu periode. Dalam kata
lain merupakan jumlah pasien yang dirawat pada suatu periode. Hari perawatan menggunakan
satuan hari pasien.

Hari perawatan dihitung dengan cara mengambil data dalam Formulir Sensus Harian Rawat Inap
(SHRI). Sensus harian rawat inap adalah kegiatan pencacahan atau penghitungan pasien rawat
inap yang dilakukan setiap hari pada suatu ruang rawat inap. Sensus harian berisi tentang mutasi
keluar masuk pasien selama 24 jam mulai dari pukul 00.00 s/d 24.00. Tujuannya adalah untuk
mengetahui memperoleh informasi semua pasien yang masuk dan keluar rumah sakit selama 24
jam (Depkes RI, 1994).

Data yang diambil untuk menghitung hari perawatan dari sensus harian rawat inap adalah jumlah
pasien sisa yang masih dirawat pada saat dilakukan penghitungan SHRI, dan data jumlah pasien
yang masuk dan keluar pada hari yang sama meskipun saat dilakukan sensus, pasien tersebut
sudah tidak ada.

KESIMPULAN
Lama dirawat dihitung dari selisih tanggal keluar dengan tanggal masuk, sedangkan hari
perawatan merupakan jumlah pasien yang dirawat dalam suatu periode (periode
hari/bulan/tahun).

Barber johnson

BOR : Bed Occupacion Rate (Angka rata-rata tempat tidur terisi dalam satu tahun) Tempat tidur
yang dimaksud adalah tempat tidur di ruang rawat inap.
Angka BOR ideal berkisar antara 75% - 85%
P = O X 100/A
AvLOS : Average Length of Stay (Angka rata-rata lamanya seorang pasien dirawat) Angka
AvLos ideal : 3 - 12 hari
L = O X 365/D
TOI : Turn Over Interval (Angka rata-rata sebuah tempat tidur tidak terisi) TOI ideal : 1 - 3 hari
T = (A-O) X 365/D
BTO : Bed Turn Over (Tingkat penggunaan sebuah tempat tidur dalam satu tahun)
BTO ideal : lebih dari 30 kali
B = D/A
Keterangan :
O = rata-rata tempat tidur terisi dalam 1 tahun
D = Jumlah pasien yang keluar dalam 1 tahun
A = Jumlah tempat tidur
Cara mendapatkan nilai O :
Lakukan sensus harian dulu kemudian akan mendapatkan angka lama dirawat per hari.
lama dirawat = pasien awal+pasien masuk+pasien pindahan-pasien dipindahkan-pasien keluar
hidup-pasien keluar mati
jumlahkan lama dirawat tersebut selama satu tahun.
O = total lama dirawat/365
Cara mendapatkan nilai D :
D = pasien dipindahkan+pasien keluar hidup+pasien keluar mati

Anda mungkin juga menyukai