Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Ruang Isolasi

Ruang Isolasi adalah dilakukan terhadap penderita penyakit menular, isolasi menggambarkan
pemisahan penderita atau pemisahan orang atau binatang yang terinfeksi selama masa
inkubasi dengan kondisi tertentu untuk mencegah atau mengurangi terjadinya penularan baik
langsung maupun tidak langsung dari orang atau binatang yang rentan.Sebaliknya, karantina
adalah tindakan yang dilakukan untuk membatasi ruang gerak orang yang sehat yang di duga
telah kontak dengan penderita penyakit menular tertentu.

CDC telah merekomendasikan suatu “Universal Precaution atau Kewaspadaan Umum” yang
harus diberlakukan untuk semua penderita baik yang dirawat maupun yang tidak dirawat di
Rumah Sakit terlepas dari apakah penyakit yang diderita penularanya melalui darah atau
tidak.

Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa darah dan cairan tubuh dari penderita (sekresi tubuh
biasanya mengandung darah, sperma, cairan vagina, jaringan, Liquor Cerebrospinalis, cairan
synovia, pleura, peritoneum, pericardial dan amnion) dapat mengandung Virus HIV,
Hepatitis B dan bibit penyakit lainnya yang ditularkan melalui darah.

Tujuan Isolasi

Tujuan dari pada di lakukannya “Kewaspadaan Umum” ini adalah agar para petugas
kesehatan yang merawat pasien terhindar dari penyakit-penyakit yang di tularkan melalui
darah yang dapat menulari mereka melalui tertusuk jarum karena tidak sengaja, lesi kulit, lesi
selaput lendir.

Alat-alat yang dipakai untuk melindungi diri antara lain pemakaian sarung tangan, Lab jas,
masker, kaca mata atau kaca penutup mata. Ruangan khusus diperlukan jika hygiene
penderita jelek. Limbah Rumah Sakit diawasi oleh pihak yang berwenang.

Macam-Macam Isolasi

1. Isolasi ketat
Kategori ini dirancang untuk mencegah transmisi dari bibit penyakit yang sangat virulen yang
dapat ditularkan baik melalui udara maupun melalui kontak langsung. Cirinya adalah selain
disediakan ruang perawatan khusus bagi penderita juga bagi mereka yang keluar masuk
ruangan diwajibkan memakai masker, lab jas, sarung tangan. Ventilasi ruangan tersebut juga
dijaga dengan tekanan negatif dalam ruangan.

2. Isolasi kontak

Diperlukan untuk penyakit-penyakit yang kurang menular atau infeksi yang kurang serius,
untuk penyakit-penyakityang terutama ditularkan secara langsung sebagai tambahan terhadap
hal pokok yang dibutuhkan, diperlukan kamar tersendiri, namun penderita dengan penyakit
yang sama boleh dirawat dalam satu kamar, masker diperlukan bagi mereka yang kontak
secara langsung dengan penderita, lab jas diperlukan jika kemungkinan terjadi kontak dengan
tanah atau kotoran dan sarung tangan diperlukan jika menyentuh bahan-bahan yang infeksius.

3. Isolasi pernafasan;

Dimaksudkan untuk mencegah penularan jarak dekat melalui udara, diperlukan ruangan
bersih untuk merawat penderita, namun mereka yang menderita penyakit yang sama boleh
dirawat dalam ruangan yang sama. Sebagai tambahan terhadap hal-hal pokok yang
diperlukan, pemakaian masker dianjurkan bagi mereka yang kontak dengan penderita, lab jas
dan sarung tangan tidak diperlukan.

4. Isolasi terhadap Tuberculosis (Isolasi BTA)

Ditujukan bagi penderita TBC paru dengan BTA positif atau gambaran radiologisnya
menunjukkan TBC aktif. Spesifikasi kamar yang diperlukan adalah kamar khusus dengan
ventilasi khusus dan pintu tertutup. Sebagai tambahan terhadap hal-hal pokok yang
dibutuhkan masker khusus tipe respirasi dibutuhkan bagi mereka yang masuk ke ruangan
perawatan, lab jas diperlukan untuk mencegah kontaminasi pada pakaian dan sarung tangan
atidak diperlukan.

5. Kehati-hatian terhadap penyakit Enterie

Untuk penyakit-penyakit infeksi yang ditularkan langsung atau tidak langsung melalui tinja.
Sebagai tambahan terhadap hal-hal pokok yang diperlukan, perlu disediakan ruangan khusus
bagi penderita yang hygiene perorangannya rendah. Masker tidak diperlukan jika ada
kecenderungan terjadi soiling dan sarung tangan diperlukan jika menyentuh bahan-bahan
yang terkontaminasi

Prinsip Isolasi

Ruang Perawatan isolasi terdiri dari :

a) Ruang ganti umum


b) Ruang bersih dalam
c) Stase perawat
d) Ruang rawat pasien
e) Ruang dekontaminasi
f) Kamar mandi petugas

Prinsip kewaspadaan airborne harus diterapkan di setiap ruang perawatan isolasi yaitu:

a) Ruang rawat harus dipantau agar tetap dalam tekanan negatif dibanding tekanan di
koridor.
b) Pergantian sirkulasi udara 6-12 kali perjam
c) Udara harus dibuang keluar, atau diresirkulasi dengan menggunakan filter HEPA
(High-Efficiency Particulate Air)
d) Setiap pasien harus dirawat di ruang rawat tersendiri. Pada saat petugas atau orang
lain berada di ruang rawat, pasien harus memakai masker bedah (surgical mask) atau
masker N95 (bila mungkin). Ganti masker setiap 4-6 jam dan buang di tempat sampah
infeksius. Pasien tidak boleh membuang ludah atau dahak di lantai gunakan
penampung dahak/ludah tertutup sekali pakai (disposable).
Prosedur Perawatan di Ruang Isolasi

1. Persiapan sarana

Baju operasi yang bersih, rapi (tidak robek) dan sesuai ukuran badan. Sepatu bot
karet yang bersih, rapih (tidak robek) dan sesuai ukuran kaki. Sepasang sarung tangan
DTT (Desinfeksi Tingkat Tinggi) atau steril ukuran pergelangan dan sepasang sarung
bersih ukuran lengan yang sesuai dengan ukuran tangan. Sebuah gaun luar dan apron
DTT dan penutup kepala yang bersih. Masker N95 dan kaca mata pelindung Lemari
berkunci tempat menyimpan pakaian dan barang – barang pribadi.

2. Langkah awal saat masuk ke ruang perawatan isolasi

Lakukan hal sebagai berikut:

a) Lepaskan cincin, jam atau gelang


b) Lepaskan pakaian luar
c) Kenakan baju operasi sebagai lapisan pertama pakaian
d) Lipat pakaian luar dan simpan dengan perhiasan dan barang–barang pribadi lainnya di
dalam lemari berkunci yang telah disediakan.

3. Mencuci tangan

4. Kenakan sepasang sarung tangan sebatas pergelangan tangan

5. Kenakan gaun luar/jas operasi

6. Kenakan sepasang sarung tangan sebatas lengan

7. Kenakan masker

8. Kenakan masker bedah

9. Kenakan celemek plastik/apron

10. Kenakan penutup kepala

11. Kenakan alat pelindung mata (goggles/kacamata)


12. Kenakan sepatu boot karet