Anda di halaman 1dari 1

Statement of Purpose

Nama saya Komang Werdhi Sentosa. Saya Saya adalah alumni Fakultas Kedokteran Universitas
Lambung Mangkurat Banjarmasin. Saya tertarik dengan ilmu bedah saraf sejak menjalani
pendidikan profesi kedokteran (koas). Saya merasa awalnya ilmu bedah saraf terlihat rumit,
namun setelah saya mendalami ilmu bedah saraf ternyata sangat menarik dan ilmunya terus
berkembang. Guru-guru saya pun memberikan ilmu mengenai bedah saraf yang terlihat semakin
menarik dan terlihat sederhana untuk memahaminya. Selain itu, banyaknya pasien bedah saraf
yang mengantre untuk mendapatkan pelayanan dan tatalaksana karena banyaknya kasus rujukan
dari daerah-daerah sekitar Provinsi Kalimantan Selatan bahkan Provinsi Kalimantan Tengah
yang mewajibkan mereka untuk ke Banjarmasin karena tidak adanya sumber daya manusia
(Spesialis Bedah Saraf) dan fasilitas yang mendukung pelayanan bedah saraf. Oleh karena itu,
saya memutuskan berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan bedah saraf untuk paling tidak
dapat membantu pemerintah dan masyarakat di daerah untuk dapat menerima pelayanan bedah
saraf.

Sejak lulus menjadi dokter umum pada tahun 2015, saya kemudian mengikuti Program Dokter
Intersip Indonesia (PIDI) selama 1 tahun di RSUD Ratu Zalecha dan Puskesmas Dalam Pagar
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah menjalankan PIDI saya kemudian
bekerja dokter umum di RSUD Dr H Andi Abdurrahman Noor, Batulicin, Kabupaten Tanah
Bumbu Provinsi, Kalimantan Selatan sejak November 2016 hingga sekarang. RSUD tempat saya
bekerja mempunyai jarak ± 300 km atau jarak tempuh 6-7 jam menuju pusat kota Banjarmasin.
Selama saya bekerja sebagai dokter umum di RSUD tersebut, terdapat berbagai macam kasus
yang saya temui. Namun diantara berbagai macam kasus penyakit tersebut kasus-kasus di bidang
bedah saraf lah yang paling saya menjadi perhatian saya, terutama kasus neurotrauma. Adapun
kasus-kasus neurotrauma seperti terutama cedera kepala sangat memerlukan penanganan yang
segera untuk menghindari komplikasi atau gejala sisa yang lebih berat. Dan di tempat saya
bekerja masih belum terdapat spesialis bedah saraf yang dapat menangani kasus-kasus tersebut.
Sehingga pasien perlu dirujuk untuk mendapatkan penanganan yang semestinya. Terkadang
banyak keluarga pasien menolak untuk dirujuk ke RS rujukan karena pertimbangan jarak biaya
dan banyak hal lainnya. Selama saya bekerja, saya juga menulis review tentang neurocritical
care for traumatic brain injury with conservative theraphy in intensive care unit in rural area.
Hal ini saya lakukan karena seringnya keluarga pasien yang menolak rujukan yang dirawat
intensif di ICU yang memilik angka mortalitas yang tinggi Hal ini semakin membulatkan
keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan spesialis bedah saraf nantinya untuk dapat
membantu untuk dapat memberikan pelayanan di bidang saraf di daerah tempat saya sekarang.
Tentu dengan harapan dapat meringankan beban masyarakat sekitar untuk menurunkan atau
menghilangkan angka rujukan pada kasus bedah saraf.

Demikian statement of purpose ini saya tulis besar harapan saya untuk diberi kesempatan untuk
mewujudkannya pada Program Ilmu Bedah Saraf Universitas Airlangga Surabaya.

Batulicin, 4 Juni 2018

Dr. Komang Werdhi Sentosa