Nama : Anindya Putri Permatasari
NIM : I4D11207
Anatomi mandibula
Gambar 1.1 mandibula tampak dari depan
Gambar 1.2 mandibula tampak dari belakang
1
2
Gambar 1.3 sebagian mandibula tampak dari dalam
Gambar 1.4 persarafan mandibula
3
Teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior (IANB)
Teknik ini diperkenalkan oleh Jorgensen dan Hayden pada 1967 untuk
anastesi mandibular. Teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior terdiri dari dua
metode, yaitu direct dan indirect. Teknik anastesi indirect disebut juga teknik fisher.
Teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior (IANB) indirect
Teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior (IANB) menjadi salah satu
yang paling umum digunakan untuk anastesi mandibular. Tujuan anastesi ini adalah
untuk deposit anastesi lokal di ruang pterigomandibular. Ruang anatomi ini
berbatasan posterior dengan kelenjar parotis, lateral oleh ramus mandibular, medial
dan inferior oleh otot pterigoideus medial, superior oleh otot pterigoideus lateral, dan
anterior oleh otot businator.
Metode anastesi indirect ini sering disebut metode fisher. Teknik IANB
indirect dilakukan dari sisi kontralateral, melibatkan penyisipan jarum menggunakan
landmark anatomi sederhana untuk menunjukkan ketinggian dari jarum suntik di sisi
kontralateral. Efek dari anastesi dengan metode ini adalah dapat merusak otot
pterigoid medialis atau tersuntiknya larutan anastesi kedealam otot ini. Hal ini dapat
menyebabkan trismus pada tindakan yang biasanya menimbulkan hematoma. Pada
teknik indirect, jarum diarahkan dari sisi kontralateral dan jarum suntik digerakkan
kearah tengah-tengah pembukaan mulut, sehingga memungkinkan jarum dapat
menembus posisi untuk semakin lebih dalam melalui jaringan lunak.
Proses ini dilanjutkan sampai tepat kedalaman jarum 20-25 mm. perlu
diketahui bahwa tingkat kerusakan jaringan pada teknik ini lebih banyak
4
dibandingkan dengan teknik direct karena pergerakan sebagian jaringan dimasukkan
dengan cara diayunkan ke garis tengah.
Area teranastesi pada teknik ini adalah:
1. Gigi geligi area mandibular yang dianastesi sampai ke midline
2. Mandibula, bagian ramus inferior
3. Mukoperiosteum bukal, selaput foramen mentalis (nervus mentalis)
4. Dua pertiga anterior lidah dan rongga mulut (nervus lingualis)
5. Jaringan lunak dan periosteum (nervus lingualis)
6. External oblique ridge
7. Internal oblique ridge
Gambar 1.2 area anastesi nervus alveolaris inferior
Indikasi teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior (IANB) adalah:
5
1. Untuk prosedur pencabutan beberapa gigi posterior rahang bawah dalam satu
regio
2. Untuk prosedur pembedahan yang melibatkan jaringan lunak bagian bukal
anterior sampai molar satu serta jaringan lunak bagian lingual
Kontraindikasi teknik anastesi blok nervus alveolaris inferior (IANB) adalah:
1. Infeksi atau peradangan akut pada daerah injeksi
2. Pasien yang memiliki kecenderungan menggigit bibir atau lidah mereka, misalnya
orang yang memiliki gangguan fisik dan mental
Keuntungan anastesi dengan teknik blok nervus alveolaris inferior adalah
daerah yang teranastesi sangat luas. Kerugian anastesi dengan teknik ini adalah
tingkat anastesi yang tidak memadai (sekitar 31-81 %), landmark intraoral yang tidak
konsisten, tingkat aspirasi positif (10-15%, tertinggi dari semua injeksi inntraoral) ,
banyak pasien yang memiliki trauma jaringan lunak pada lidah dan bibir, dan daerah
persarafan di daerah anterior rendah.
Prosedur anastesi blok nervus alveolaris inferior:
1. Pasien didudukkan dengan posisi semisupine atau setengah telentang.
2. Intruksikan pasien untuk membuka mulut selebar mungkin agar mendapatkan
akses yang jelas ke mulut pasien. Posisi diatur sedemikian rupa agar ketika
membuka mulut, oklusal dari mandibula pasien sejajar dengan lantai.
3. Posisi operator berada pada arah jam 8 dan menghadap pasien untuk rahang
kanan mandibula, sedangkan untuk rahang kiri mandibula posisi operator
6
berada pada arah jam 10 dan menghadap ke pasien.
4. Pasien didudukkan dengan posisi semisupine atau setengah telentang.
5. Intruksikan pasien untuk membuka mulut selebar mungkin agar mendapatkan
akses yang jelas ke mulut pasien. Posisi diatur sedemikian rupa agar ketika
membuka mulut, oklusal dari mandibula pasien sejajar dengan lantai.
6. Posisi operator berada pada arah jam 8 dan menghadap pasien untuk rahang
kanan mandibula, sedangkan untuk rahang kiri mandibula posisi operator
berada pada arah jam 10 dan menghadap ke pasien.
7. Spuit digeser kesisi yang akan dianestesi, sejajar dengan bidang oklusal dan
jarum ditusukkan sedalam 5 mm, lakukan aspirasi bila negatif keluarkan
anestetikum sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis (Posisi II).
8. Spuit digeser ke arah posisi I tapi tidak penuh sampai sekitar region kaninus
lalu jarum ditusukkan sambil menyelusuri tulang sedalam kira-kira 10-15 mm.
Aspirasi dan bila negatif keluarkan anestetikum sebanyak 1 ml untuk
menganestesi N. Alveolaris inferior (Posisi III). Setelah selesai spuit ditarik
kembali.
Metode ini sering juga dimodifikasi dengan penambahan anestesi untuk
nervus bukalis setelah kita melakukan posisi III, pada waktu menarik kembali
spuit sebelum jarum lepas dari mukosa tepat setelah melewati linea oblique
interna ,jarum digeser kelateral ke daerah trigonom retromolar, aspirasi dan bila
negatif keluarkan anestetik sebanyak 0,5 ml untuk menganestesi nervus bukalis
7
dan kemudian spuit ditarik keluar.
Tanda dan gejala yang dapat diketahui dengan memeriksa keadaan bibir
bagian bawah lidah dari regio yang dianestesi. Jika terjadi pati rasa pada daerah
maka dapat dijadikan indikator bahwa nervus lingualis dan nervus mentalis
yang merupakan cabang dari nervus inferior alveolar sudah dianestesi dengan
baik. Keberhasilan dari anestesi lokal blok mandibula metode langsung juga
dapat dilihat secara objektif pada pasien apabila selama perawatan pasien tersebut
tidak mengeluhkan rasa sakit.
Kegagalan anestesi pada teknik blok nervus alveolaris inferior, yaitu:
1. Jumlah anestetikum yang tidak adekuat saat penyuntikan
2. Variasi anatomi tiap individu sehingga prosedur anestesi lokal blok nervus
alveolaris inefrior tidak menganestesi saraf yang dituju.
3. Bentuk mandibula yang berbeda tiap individu menyebabkan letak foramen
mandibula tempat keluarnya nervus alveolaris inferior.
Untuk mengatasi kegagalan diperlukan beberapa pertimbangan sebelum
melakukan tindakan anestesi. Selain teknik dan keterampila yang baus dari operator,
pemilihan bahan anestetikum juga dapat mempengaruhi keberhasilan. Bahan
anestetikum golongan lidokain ditambah dengan adrenalin merupakan gold
standart untuk tindakan anestesi lokal.
8
DAFTAR PUSTAKA
1. Malamed SF. Handbook of local anesthesia 6th ed. Los Angeles: Mosby; 2013,
pg.21-28.
2. Balaji SM. Textbook of oral & maxillofacial surgery. New Delhi: 2009, pg.166-
177.
3. Sobotta J. Atlas and text-book of human anatomy. Philadelphia: 1906, pg.72-73.