Anda di halaman 1dari 20

PENGUJIAN SONDIR

ASTM D 3441-86
SNI 2827: 2008

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Hari / tanggal :Senin/ 9 Februari 2015
Tempat : Laboratorium Mekanika Tanah UMSU

TUJUAN
1. Untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat pada
setiap kedalaman lapisan tanah dengan alat sondir
2. Untuk menentukan letak kedalaman tanah keras berupa perlawanan konus
(qc) dan perlawanan geser (fs)

TEORI
Percobaan ini digunakan untuk menentukan daya dukung ujung (end
bearing) dan perlawanan keliling (friction / adhesion resistance) dari tanah untuk
perencanaan pondasi dan struktur geoteknik. Selain itu percobaan ini sangat praktis
untuk mengetahui dengan cepat letak kedalaman lapisan tanah keras,bahkan dengan
mengevaluasi nilai rasio gesekan (friction ratio), dapat pula dilakukan deskripsi
jenis lapisan tanah. Pada penggunaan friction sleeve atau adhesion jacket type
(bikonus), nilai konus dan hambatan lekat keduanya dapat diukur. Hasil
penyelidikan ini dinyatakan dalam bentuk grafis, nilai konus digambarkan dalam
kg/cm2 dan hambatan lekat (skin friction) digambarkan sebagai jumlah untuk
kedalamanyang bersangkutan per cm keliling, yaitu dalam kg/cm.
Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus
yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas. Hambatan lekat adalah perlawanan
geser tanah terhadap selubung bikonus dalam gaya persatuan panjang.
TEORI TAMBAHAN
Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan
bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut kita dapat membaca atau
mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui
bahwa dari berbagai lapisan tanah memiliki kekuatan yang berbeda.

Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir yang biasa digunakan
adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang pemakaiannya ditekan secara
langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk konus ( kerucit ) dihubungkan pada suatu
rangkaian stang dalam casing luar dengan bantuan suatu rangka dari besi dan dongkrak
yang dijangkarkan ke dalam tanah.

Ada dua macam ujung penetrometer, yaitu :

a. Standard Type ( mantel conus )

Pada jenis ini yang diukur adalah perlawanan pada ujung ( konus ), hal ini dilakukan hanya
dengan menekan stang dalam yang segera menekan konus tersebut ke bawah sedangkan
seluruh casing luar tetap di luar. Gaya yang dibutuhkan untuk menekan konus tersebut ke
bawah diukur dengan suatu alat pengukur. Alat pengukur yang akan diletakkan pada
kekuatan rangka didongkrak. Setelah dilakukan pengukuran,konus,stang dalam,dan casing
luar dimajukan sampai pada kedalaman berikutnya dimana pengukuran selanjutnya
dilakukan hanya dengan menekan stang dalamnya saja.

b. Friction Sleeve ( Adhesion Jacket Type / Bikonus )

Pada jenis ini dapat diukur secara sekaligus nilai konus dan hambatan lekatnya. Hal ini
dilakukan dengan penekanan stang dalam seperti biasa. Pembacaan nilai konus dan
hambatan lekat dilakukan setiap 20 cm. Dengan alat sondir yang mungkin hanya mencapai
pada kedalaman 30 cm atau lebih, bila tanah yang diselidiki adalah lunak. Alat ini sangat
cocok di Indonesia, karena disini banyak dijumpai lapisan lempung yang dalam dengan
kekuatan rendah sehingga tidak sulit menembusnya. Dan perlu diketahui bahwa nilai konus
yang diperoleh tidak boleh disamakan dengan daya dukung tanah tersebut.
ALAT DAN BAHAN
1. Konus
Konus yang digunakan harus memenuhi persyaratan
a. Ujung konus bersudut 60 ̊ ± 5 ̊
b. Ukuran diameter konus adalah 35.7 mm ± 0.4 mm atau luas proyeksi
konus = 10 𝑐𝑚2
c. Bagian runcing ujung konus berjari-jari kurang dari 3 mm. Konus
ganda harus terbuat dari baja dengan tipe dan kekerasan yang cocok
untuk menahan abrasi dari tanah
2. Selimut ( bidang ) geser
Selimut ( bidang ) geser yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
a. Ukuran diameter luas selimut geser adalah 35.7 mm ditambah
dengan 0 mm s.d 0.5 mm
b. Proyeksi ujung alat ukur penetrasi tidak boleh melebihi diameter
selimut geser
c. Luas permukaan selimut geser adalah 150 𝑐𝑚2 ± 3 𝑐𝑚2
d. Sambungan-sambungan harus didesain aman terhadap masuknya
tanah
e. Selimut geser pipa harus mempunyai kekerasan sebesar 0.5 µ m AA
± 50 %
3. Pipa dorong
Batang – batang yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
a. Pipa terbuat dari bahan baja dengan panjang 1.00 m
b. Pipa harus menerus sampai konus ganda agar penampang pipa tidak
tertekuk jika disondir / didorong

A.Keadaan tertekan B.Keadaan terbentang


c. Ukuran diameter luar pipa tidak boleh lebih besar daripada diameter
dasar konus ganda untuk jarak minimum 0.3 m diatas puncak
selimut geser
d. Setiap pipa sondir harus mempunyai diameter dalam yang tepat
e. Pipa-pipa tersambung satu dengan yang lainya dengan penyekrupan,
sehingga terbentuk rangkaian pipa kaku yang lurus
f. Pipa bagian dalam harus dilumasi untuk mencegah korosi

4. Batang dalam
Batang-batang dalam yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut
a. Batang dalam terbuat dari bahan baja dan terletak di dalam pipa
dorong
b. Batang-batang dalam harus mempunyai diameter luar yang konstan
c. Panjang batang-batang dalam sama dengan panjang pipa-pipa
dorong dengan perbedaan kira-kira 0.1 mm
d. Batang dalam mempunyai penampang melintang yang dapat
menyalurkan perlawanan konus tanpa mengalami tekuk atau
kerusakan lain
e. Jarak ruangan antara batang dalam dan pipa dorong harus berkisar
antara 0.5 mm dan 1.0 mm
f. Pipa dorong dan batang dalam harus dilumasi dengan minyak
pelumas untuk mencegah korosi
g. Pipa dorong dan batang dalam harus bersih dari butiran-butiran
untuk mencegah gesekan antara batang dalam dan pipa dorong

5. Mesin pembeban hidrolik


Mesin pembeban yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut ( lihat Gambar 2 dan Gambar 3 )
a. Rangka mesin pembeban harus dijepit oleh dua buah batang penjepit
yang diletakkan pada masing-masing jangkar helikoidar agar tidak
bergerak pada waktu pengujian
b. Rangka mesin pembeban berfungsi sebagai dudukan system penekan
hidrolik yang dapat digerakkan naik/turun
c. System penekan hidrolik terdiri atas engkol pemutar, rantai, roda
gigi, gerigi dorong dan penekan hidrolik yang berfungsi untuk
mendorong/menarik batang dalam dan pipa dorong
d. Pada penekan hidrolik terpasang dua buah manometer yang
digunakan untuk membaca tekanan hidrolik yang terjadi pada waktu
penekanan batang dalam, pipa dorong dank onus ( tunggal atau
ganda ). Untuk pembacaan tekanan rendah disarankan menggunakan
manometer berkapasitas 0 Mpa s.d 2 Mpa dengan ketelitian 0.05
Mpa. Untuk pembacaan tekanan menengah digunakan manometer
berkapasitas 0 MPa s.d 5 Mpa dengan ketelitian 0.05 MPa dan untuk
pembacaan tekanan tinggi digunakan manometer berkapasitas 0
MPa s.d 25 MPa dengan ketelitian 0.1 MPa.
Keterangan:

1. Jangkar helikoidal

2.Pipa dorong,batang
tekan

3.Gerigi dorong

4.Roda gigi

5.Penahan hidraulik

6.Rangka pembeban

7.Batang penjepit

8.Engkol

9.Rantai

Keterangan :

1. Piston hidraulik, terletak didalam silinder hidraulik


2. Batang dalam yang menonjol diujung kepala pipa
pendorong
3. Kepala pipa dorong
4. Pipa dorong teratas
5. Kunci piston untuk memeriksa oli
6. Kunci pengatur dengan penampang berada
didalam
7. Potongan kepala pipa dorong
8. Tampak atas kunci pengatur
9. Penekan hidrolik, kedudukan menekan pipa
dorong
10. Penekan hidrolik, kedudukan mencabut pipa
dorong
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. PENGUJIAN
1. Batasan peralatan dan perlengkapan
Persyaratan yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Ketelitian peralatan ukur dengan koreksi sekitar 5%
b. Deviasi standar paa alat penetrasi secara mekanik :
a) Untuk perlawanan konus ( qc ) adalah 10%
b) Untuk perlawanan geser (𝑓𝑠 ) adalah 20%
c. Alat ukur harus dapat mengukur perlawanan penetrasi di permukaan dengan
dilengkapi alat yang sesuai, seperti mesin pembeban hidrolik
d. Alat perlengkapan mesin pembeban harus mempunyai kekakuan yang
memadai, dan diletakkan diatas dudukan yang kokoh serta tidak berubah
arah pada waktu pengujian
e. Pada alat sondir ringan ( < 200 kg ) biasanya tidak dapat tembus untuk 2 m
s.d 3 m sehingga datanya tidak bermanfaat
f. Pada alat sondir berat ( > 200 kg ) digunakan system angker, namun di
daerah tanah lunak tidak dapat digunakan kecuali dengan pemberian beban
menggunakan karung-karung pasir.

2. Kalibrasi
a. Semua alat ukur harus dikalibrasi minimum 1 kali dalam 3 tahun dan pada
saat diperlukan, sesuai denngan persyaratan kalibrasi yang berlaku.

B. CARA PENGUJIAN
1. Persiapan pengujian
Lakukan persiapan pengujian sondir di lapangan denga tahapan sebagai berikut :
a. Membersihkan tanah tempat percobaan dari rumput, kayu dan material lain
yang mengganggu lalu datarkan
b. Menyiapkan lubang untuk penusukan konus pertama kalinya, biasatnay digali
dengan linggis sedalam sekitar 5 cm
c. Memasukkan 4 buah angker kedalam tanah pada kedudukan yang tepat sesuai
dengan letak rangka pembeban, letakkan mesin sondir dan atur kedudukannya
pada pelat penahan sedemikian rupa sehingga vertical terhadap tanah
d. Menyetel rangka pembeban, sehingga kedudukan rangka berdiri vertical
e. Mengisikan oli SAE 10 ke tabung minyak hidrolik pada mesin sondir samapi
penuh, sehingga bebsa dari gelembung udara baut penutup tangki minyak
hidrolik harus diberi lapisan pengendap
f. Bikonus dipasang pada ujung pipa sondir, kemudian dihubungkan dengan
mesin sondir
g. Memasang manometer 0 MPa s.d 2 MPa dan manometer 0 MPa s.d 5 MPa
untuk penyondiran tanah lembek, atau pasang manometer 0 MPa s.d 5 MPa dan
manometer 0 MPa s.d 25 MPa untuk penyondiran tanah keras
h. Memeriksa system hidrolik dengan menekan piston hidrolik menggunakan
kunci piston dan jika kurang tambahkan oli serta cegah terjadinya gelembung
udara dalam system
i. Menempatkan rangka pembeban, sehingga penekan hidrolik berada tepat di
atasnya
j. Memasang balok-balok penjepit pada jangkar dan kencangkan dengan memutar
baut pengencang, sehingga rangka pembeban berdiri kokoh dan terikat kuat
pada permukaan tanah. Apabila tetap bergerak pada waktu pengujian,
tambahkan beban mati di atas balok-balok penjepit
k. Menyambung konus ganda dengan batang dalam dan pipa dorong serta kepala
pipa dorong, dalam kedudukan ini batang dalam selalu menonjol keluar sekitar
8 cm di atas kepala pipa dorong. Jika ternyata pipa kurang panjang, bias
ditambah dengan potongan besi berdiameter sama dengan batang dalam
l. Melakukan penetrasi sondir dengan memutar engkol pemutar sampai
kedalaman 20 cm dan titik nol sondir harus di ikat terhadap suatu titik tetap.
Karenanya terhadap pipa sondir terlebih dahulu ditandai setiap 20 cm
m. Dari titik tetap, engkol diputar secara konstan, pada saat ujung konus turun ke
dalam tanah kira-kira 4 cm ( diperkirakan dengan melihat batang dalam pipa
sondir kira-kira 4 cm ) lakukan pembacaan manometer. Mencatat sebagai
pembacaan penetrasi konus ( qc )
n. Penekanan selanjutnya akan menggerakan konus beserta selubung sedalam 8
cm, bacalah manometer sebagai hasil dari jumlah perlawanan ( qt ) yaitu
perlawanan penetrasi konus ( qc ) dan hambatan lekat (qf)
o. Menurunkan pipa sampai kedalaman berikutnya sesuai dengan yang telah
ditandai pada pipa sondir ( biasanya dilakukan setiap kedalaman 20 cm).
Melakukan pembacaan manometer seperti prosedur sebelumnya
p. Percobaan dihentikan sampai ditemukannya lapisan tanah keras (tekanan
manometer tiga kali berturut-turut melebihi 150 kg/𝑐𝑚2 . Atau kedalaman
maksimum 30 m

2. Pembacaan hasil pengujian


Melakukan pembacaan hasil pengujian penetrasi konus sebagai berikut :
a. Membaca nilai perlawanan konus pada penekan batang dalam sedalam kira-
kira 4 cm pertama ( kedudukan 2, lihat gambar 4 ) dan catat pada formulir
(Lampiran C) pada kolom Cw
b. Membaca juga nilai perlawanan geser dan nilai perlawanan konus pada penekan
batang sedalam kira-kira 4 cm yang ke-dua ( kedudukan 3, lihat Gambar 4 ) dan
catat pada formulir (Lampiran C) pada kolom Tw
Gambar 4 kedudukan pergerakan konus pada waktu pengujian sondir

Perhitungan
1. Perlawanan konus (qc)
Nilai perlawanan konus (qc) dengan ujung konus saja yang terdorong, dihitung
dengan menggunakan persamaan :
Pkonus = Ppiston …………………………….. 1
qc x Ac = Cw x Api
qc = Cw x Api/Ac …………………………….. 2
Api = 𝜋. (𝐷𝑝𝑖)2 /4 ……………………………... 3
Ac = 𝜋. (𝐷𝑐)2/4 ……………………………... 4

2. Perlawanan geser
Nilai perlawanan geser local diperoleh bila ujung konus dan bidang geser terdorong
bersamaan dan dihitung dengan menggunakan persamaan :
Pkonus + Pgeser = Ppiston ………………………….. 5
(qc x Ac) + (fs x As) = Tw x Api
(Cw x Api) + (fs x As)= Tw x Api
fs = Kw x Api / As ………………………….. 6
As = π Ds L s ………………………….. 7
Kw = (Tw – Cw) ………………………….. 8

3. Angka banding geser (Rf)


Angka banding geser diperoleh dari hasil perbandingan antara nilai perlawanan
geser local (fs) dengan perlawanan konus (qs) dan dihitung dengan menggunakan
persamaan Rf = (fs / qs) x 100 …………………………… 9

4. Geseran total (Ts)


Nilai geseran total (Tf) diperoleh dengan menjumlahkan nilai perlawanan geser
local (fs) yang dikalikan dengan interval pembacaan dan dihitung dengan
menggunakan persamaan :
Tf = (fs x interval pembacaan) …………………………… 10
Dengan:
Cw : pembacaan manometer untuk nilai perlawanan konus (kPa)
Tw : pembacaan manometer untuk nilai perlawanan konus dan geser (kPa)
Kw : selisih dengan (kPa)
Pkonus : gaya pada ujung konus (kN)
Ppiston : gaya pada piston (kN)
qc : perlawanan konus (kPa)
fs : perlawanan geser local (kPa)
Rf : angka banding geser (%)
Tf : geseran total (kPa)
Api : luas penampang piston (𝑐𝑚2 )
Dpi : diameter piston (cm)
Ac : luas penampang konus (𝑐𝑚2 )
Dc = Ds : diameter konus sama dengan diameter selimut geser (cm)
As : luas selimut geser (cm)
Ls : panjang selimut geser (cm)

Pengolahan Data
1. Hambatan lekat (qf) dihitung dengan rumus :
A
qf = ( qt - qc) B
dimana:
qf = hambatan lekat (kg/cm)
qc = bacaan perlawananpenetrasi konus (bacaan kesatu)(kg/𝑐𝑚2 )
qt = bacaan manometer nilai perlawanan total (bacaan kedua) )(kg/𝑐𝑚2 )
A = tahap pembacaan (20 cm)
B = factor alat, atau
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑗𝑎𝑐𝑘𝑒𝑡
= 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑇𝑜𝑟𝑎𝑘 = 14.5
2. Jumlah hambatan lekat
Jqf = kumulatif dari hambatan lekat
Jqf = ∑𝑞𝑓
3. Buat grafik
 Perlawanan penetrasi konus (qc) terhadap kedalaman
 Jumlah hambatan lekat (Jqf) terhadap kedalaman

ANALISA DATA

1. Kedalaman 0,20 m
Dik : Cw = 4 kg/cm2
Tw = 5kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 1 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 8kg/cm2
Tsf = Komulatif = 8 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,1 kg/cm2

2. Kedalaman 0,40 m
Dik : Cw = 18 kg/cm2
Tw = 25kg/cm2
Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 7 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 36kg/cm2
Tsf = Komulatif = 44 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,7 kg/cm2

3. Kedalaman 0,60 m
Dik : Cw = 12 kg/cm2
Tw = 25kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 13 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 24kg/cm2
Tsf = Komulatif = 68 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1,3 kg/cm2

4. Kedalaman 0,80 m
Dik : Cw = 11 kg/cm2
Tw = 21kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 10 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 22kg/cm2
Tsf = Komulatif = 90 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1 kg/cm2

5. Kedalaman 1 m
Dik : Cw = 10 kg/cm2
Tw = 15kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 20kg/cm2
Tsf = Komulatif = 110 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

6. Kedalaman 1,2 m
Dik : Cw = 9 kg/cm2
Tw = 14kg/cm2
Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 18kg/cm2
Tsf = Komulatif = 128 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

7. Kedalaman 1,4 m
Dik : Cw = 12 kg/cm2
Tw = 13kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 1Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 24kg/cm2
Tsf = Komulatif = 152 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,1 kg/cm2

8. Kedalaman 1,6 m
Dik : Cw = 24 kg/cm2
Tw = 25kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 1 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 48kg/cm2
Tsf = Komulatif = 200 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,1 kg/cm2

9. Kedalaman 1,8 m
Dik : Cw = 52 kg/cm2
Tw = 56 kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 4 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 104kg/cm2
Tsf = Komulatif = 304 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,4 kg/cm2

10. Kedalaman 2 m
Dik : Cw = 23 kg/cm2
Tw = 24kg/cm2
Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 1 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 46kg/cm2
Tsf = Komulatif = 350 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,1 kg/cm2

11. Kedalaman 2,2 m


Dik : Cw = 30 kg/cm2
Tw = 46kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 16 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 60kg/cm2
Tsf = Komulatif = 410 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1,6 kg/cm2

12. Kedalaman 2,4 m


Dik : Cw = 33 kg/cm2
Tw = 35 kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 2 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 66 kg/cm2
Tsf = Komulatif = 476 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,2 kg/cm2

13. Kedalaman 2,6 m


Dik : Cw = 10 kg/cm2
Tw = 60kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 50 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 20kg/cm2
Tsf = Komulatif = 496 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 5 kg/cm2

14. Kedalaman 2,8 m


Dik : Cw = 30 kg/cm2
Tw = 40kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 10 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 60kg/cm2
Tsf = Komulatif = 556 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1 kg/cm2

15. Kedalaman 3 m
Dik : Cw = 20 kg/cm2
Tw = 30kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 10 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 40kg/cm2
Tsf = Komulatif = 596 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1 kg/cm2

16. Kedalaman 3,2 m


Dik : Cw = 20 kg/cm2
Tw = 50 kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 30 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 40kg/cm2
Tsf = Komulatif = 636 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 3 kg/cm2

17. Kedalaman 3,4 m


Dik : Cw = 30 kg/cm2
Tw = 40kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 10 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 60kg/cm2
Tsf = Komulatif = 696 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 1 kg/cm2

18. Kedalaman 3,6 m


Dik : Cw = 105 kg/cm2
Tw = 110 kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 210kg/cm2
Tsf = Komulatif = 906 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

19. Kedalaman 3,8 m


Dik : Cw = 10 kg/cm2
Tw = 15kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 20kg/cm2
Tsf = Komulatif = 1166 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

20. Kedalaman 4 m
Dik : Cw = 35 kg/cm2
Tw = 40kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 70kg/cm2
Tsf = Komulatif = 1236 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

21. Kedalaman 4,2 m


Dik : Cw = 25 kg/cm2
Tw = 30kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 50kg/cm2
Tsf = Komulatif = 1286 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2
22. Kedalaman 4,4 m
Dik : Cw = 80 kg/cm2
Tw = 120 kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 40 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 160kg/cm2
Tsf = Komulatif = 1446 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 4 kg/cm2

23. Kedalaman 4,6 m


Dik : Cw = 180 kg/cm2
Tw = 185kg/cm2

Penyelesaian :

Sf(1) = Tw – Cw = 5 Kg/cm2
Sf(2) = Cw x 20/10 = 360kg/cm2
Tsf = Komulatif = 1806 kg.cm2
Lsf = Sf(1) / 10 = 0,5 kg/cm2

GAMBAR ALAT
2 engkol pemutar untuk mengunci pada
masing-masing jangkar helikoidal agar tidak
bergerak pada waktu pengujian
* konus
* Bikonus

Engkol pemutar


Mesin Sondir

Pipa dorong dan batang dalam


2 buah manometer
Untuk membaca tekanan
batang dalam

2 jangkar helikoidal agar tidak


bergerak pada waktu pengujian
KESIMPULAN

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui perlawanan tanah terhadap


tekanan ujung konus, percobaan ini dilakukan hingga kedalaman 4,60 meter yang
dimulai perduapuluh cm (0,20 m). dan kemudian setelah data selesai selanjutnya
membuat grafiknya.

SARAN

Sebaiknya perlu ketelitian dalam pembacaan manometer agar tidak terjadi


kesalahan atau kelalaian dalam pembacaan manometer.
MULAI

1. Persiapan sebelum pengujian 2. Prosedur pengujian (penekanan pipa dorong)


a. Siapkan lubang sedalam 65 cm untuk
a. Dirikan batang dalam dan pipa dorong
penusukan pertama
dibawah penekan hidrolik pada
b. Masukkan 4 buah angker kedalam
tanah sesuai letak rangka pembeban kedudukan yang tepat
c. Setel rangka pembeban, sehingga b. Dorong/tarik kunci pengatur pada
pembeban berdiri vertical kedudukan siap tekan,sehingga penekan
d. Pasang manometer untuk tanah lunak hidrolik hanya akan menekan pipa
0 s.d 2 MPa dan 0 s.d 5 MPa atau dorong
untuk tanah keras 0 s.d 5 MPa dan 0 c. Putar engkol searah jarum jam
s.d 20 MPa
(kecepatan 10 s.d 20 mm/s) sehingga
e. Periksa system hidrolik dengan
gigi penekan dan penekan hidrolik
menekan piston hidrolik
menggunakan kunci piston dan bila bergerak turun dan menekan pipa luar
kurang tambahkan oli serta cegah sampai mencapai kedalaman 20 cm
terjadinya gelembung udara dalam sesuai interval pengujian
system d. Pada tiap interval 20 cm lakukan
f. Tempatkan rangka pembeban penekanan batang dalam dengan
sehingga penekan hidrolik berada di menarik kunci pengatur, sehingga
tasnya
penekan hidrolik menekan batang dalam
g. Pasang balok-balok penjepit pada
saja (kedudukan 1, Gambar 4)
jangkar dan kencangkan dengan
memutar baut pengencang
h. Sambungkan konus ganda dengan 3. Prosedur pengujian (penekanan batang dalam)
batang dalam dan batang dorong
a. Baca perlawanankonus pada penekan batang
serta kepala pipa dorong
dalam sedalam kira-kira 4 cm pertama
(kedudukan 2 gambar 4) dan catat pada
formulir pada kolom Cw
b. Baca jumlah perlawanan geser dan perlawanan
konus pada penekan batang sedalam ± 4 cm
yang ke-dua(kedudukan 3 gambar 4)dan catat
pada formulir pada kolom Tw

4. Lanjutkan pengujian pada kedalaman


20 cm berikutnya Apakah
qc < kapasitas
alat ?

5. Perhitungan data pembuatan


grafik
a. Perhitungan formulir 1
b. Pembuatan grafik hasil uji
sondir

SELESAI

Beri Nilai