Anda di halaman 1dari 5

analisis sosiologi perubahan sosial budaya

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa orde lama, orde baru sampai
reformasi.
1. Era orde lama
Pasca proklamasi kemerdekaan banyak terjadi perubahan sosial yang ada di dalam

kehidupan masyarakat Indonesia pada khususnya. Dikarenakan sebelum kemerdekaan di

proklamirkan, didalam kehidupan bangsa Indonesia ini telah terjadi diskriminasi rasial

dengan membagi kelas-kelas masyarakat. Yang mana masyarakat di Indonesia sebelum

kemerdekaan di dominasi oleh warga eropa dan jepang, sehingga warga pribumi hanyalah

masyarakat rendahan yang kebanyakan hanya menjadi budak dari bangsawan atau penguasa.

Tetapi setelah 17 agustus 1945 segala bentuk diskriminasi rasial dihapuskan dari bumi bangsa

Indonesia dan semua warga negara Indonesia dinyatakan memiliki hak dan kewajiban yang

sama dalam segala bidang.

Pada era Orde Lama, masa pemerintahan presiden Soekarno antara tahun 1959-1967,
pembangunan dicanangkan oleh MPR Sementara (MPRS) yang menetapkan sedikitnya tiga
ketetapan yang menjadi dasar perencanaan nasional:

 TAP MPRS No.I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik republik Indonesia sebagai


Garis-Garis Besar Haluan Negara
 TAP MPRS No.II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan
Nasional Semesta Berencana 1961-1969,
 Ketetapan MPRS No.IV/MPRS/1963 tentang Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Garis-
Garis Besar Haluan Negara dan Haluan Pembangunan.

Dengan dasar perencanaan tersebut membuka peluang dalam melakukan pembangunan


Indonesia yang diawali dengan babak baru dalam mencipatakan iklim Indonesia yang lebih
kondusip, damai, dan sejahtera. Proses mengrehablitasi dan merekontruksi yang di
amanatkan oleh MPRS ini diutamakan dalam melakukan perubahan perekonomian untuk
mendorong pembangunan nasional yang telah didera oleh kemiskinan dan kerugian pasca
penjajahan Belanda.
Pada tahun 1947 Perencanaan pembangunan di Indonesia diawali dengan lahirnya
“Panitia Pemikir Siasat Ekonomi”. Perencanaan pembangunan 1947 ini masih mengutamakan
bidang ekonomi mengingat urgensi yang ada pada waktu itu (meskipun di dalamnya tidak
mengabaikan sama sekali masalah-masalah nonekonomi khususnya masalah sosial-ekonomi,
masalah perburuhan, aset Hindia Belanda, prasarana dan lain lain yang berkaitan dengan
kesejahteraan sosial). Tanpa perencanaan semacam itu maka cita-cita utama untuk “merubah
ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional” tidak akan dengan sendirinya dapat terwujud.
Apalagi jika tidak diperkuat oleh Undang-Undang yang baku pada masa itu.
Sekitar tahun 1960 sampai 1965 proses sistem perencanaan pembangunan mulai
terendat-sendat dengan kondisi politik yang masih sangat labil telah menyebabkan tidak
cukupnya perhatian diberikan pada upaya pembangunan untuk memperbaiki kesejahtraan
rakyat. Pada masa ini perekonomian Indonesia berada pada titik yang paling suram.
Persediaan beras menipis sementara pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk
mengimpor beras serta memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Harga barang membubung
tinggi, yang tercermin dari laju inflasi yang samapai 650 persen ditahun 1966. keadaan plitik
tidak menentu dan terus menerus bergejolak sehingga proses pembangunan Indonesia
kembali terabaikan sampai akhirnya muncul gerakan pemberontak G-30-S/PKI, dan berakir
dengan tumbangnya kekuasaan presiden Soekarno.

2. Era Orde Baru


Indonesia sebagai Dunia ketiga / negara berkembang juga tidak terlepas dari intervensi
dan dominasi negara pertama / negara maju. Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa idiologi
developmentalisme pada era orda baru betul-betul diadopsi dan dikembangkan melalui
mekanisme kontrol ideologi, sosial dan politik yang canggih. Untuk melindungi ideology
pembangunan tersebut Pemerintah menegakkan berbagai pendekatan. Beberapa peraturan
dan perundangan yang dihasilkan di era orde baru yang memperkuat posisi negara sekaligus
memperlemah posisi politik masyarakat, diantaranya adalah:
 Inpres Nomor 6 Tahun 1970 tentang monoloyalitas bagi pegawai negeri kepada Golkar,
 Keputusan MPR Tahun 1971 tentang Konsep masa mengambang yang membatasi kegiatan
partai politik hanya sampai di aras Kabupaten,
 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1973 tentang fusi Partai yang hanya memperbolehkan
adanya tiga partai politik yaitu: PPP, Golkar dan PDI,
 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang meletakkan
birokrasi pemerintahan yang berada pada aras terbawah dibawah kontrol Departemen Dalam
Negeri sepenuhnya,
 Instruksi Menteri Dalam Negeri No 2 Tahun 1981 yang memasukkan LMD (semula
merupakan organisasi partisipasi masyarakat) kedalam kontrol Departeman Dalam Negeri,
 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Asas Tunggal Pancasila yang memberi
wewenang penuh bagi Departemen Dalam Negeri untuk mengontrol semua organisasi massa.

Masih banyak lagi upaya-upaya untuk memperlemah peran masyarakat seperti:


memperkokoh organisasi militer sampai tingkat Kecamatan dan menempatkan seorang
militer untuk setiap Desa (Babinsa), Menggeser pemilihan lurah yang dilakukan secara
demokratis dan menggantikan dengan penempatan seorang militer sebagai Kepada Desa. Dan
berbagai aturan yang penyeragaman wadah asosiasi sosial dengan penerapan asas tunggal
Pancasila, untuk mempermudah melakukan kontrol, seperti : satu-satunya organisasi buruh
yang boleh berdiri hanya SPSI, Menciptakan KUD sebagai satu-satunya Koperasi yang
diizinkan operasi ditingkat Kecamatan, dan seterusnya. Bahkan dari kebijakan
penyederhanaan Partai berakibat pada pemusatan kekuasaan, sebab Presiden sebagai
mandatris MPR yang merupakan pimpinan birokrasi sekaligus menjadi Pimpinan tertinggi
ABRI adalah Ketua Dewan Pembina Golkar sebagai Partai Pemenang Pemilu yang penuh
rekayasa dan tentu mayoritas di parlemen.
Dengan demikian, di era orde baru ini merupakan era pemberangusan hak–hak sipil dan
politik rakyat. Di Era orde baru ini dilakukan proses-proses depolitisasi dalam berbagai
bidang kehidupan, dan seluruh sumberdaya ekonomi, sosial, politik rakyat dirampas. Dalam
melakukan perubahan semua kekuatan sosial politik yang potensial seperti : Petani, Buruh,
wartawan, intelektual disatukan sedemikian rupa agar mudah dikontrol dan memiliki
pandangan yang sama tentang pembangunan.
3. Era Reformasi
Dalam era ini terjadi perubahan-perubahan yang luar biasa terhadap tatanan yang telah
dibangun di era orde baru. Era reformasi ini merupakan puncak dari keruntuhan era orde
baru, yaitu Pemerintahan yang sentralistik dan dominan. Dalam era ini terjadi penolakan dan
perombakan-perombakan terhadap berbagai kebijakan di era orde baru, diantaranya adalah:
Diterbitkannya undang-undang Pemilu yang memberi kebebasan untuk membentuk partai
politik, masa mengambang yang dihasilkan di era Orde Baru sudah tidak berlaku lagi,
sehingga rakyat dapat menyalurkan aspirasi politiknya secara bebas. Pada Pemilu tahun 1999
terdapat lebih dari 150 partai dan 48 diantaranya bertarung untuk memperebutkan 462 kursi
yang ada di DPR. Pada Pemilu tahun 2004 jumlah partai Politik yang telah berbadan hukum
sebanyak 50 Partai Politik, sedangkan yang memenuhi persaratan untuk menjadi peserta
Pemilu sebanyak 24 partai.
DPR, DPD dan MPR jauh representatif, pada Pemilu 1999 masih ada keterwakilan ABRI,
tetapi pada Pemilu 2004 sudah tidak ada lagi anggota Parlemen yang tidak dipilih oleh
rakyat. Dalam Parlemen dengan bebas dapat membentuk forum-forum, seperti Poros Tengah,
Koalisi Kerakyatan, Koalisi Pembangunan dll. Diratifikasinya Konvensi HAM, Amandemen
terhadap UUD 1945 dan dihapuskannya pendekatan keamanan dalam proses pembangunan
memungkinkan adanya perlindungan hukum dan dihargainya kedaulatan rakyat.
Dari berbagai kebijakan di era reformasi ini telah memberi peluang terhadap kebebasan
individu maupun kelompok masyarakat, telah memberi peluang terhadap perubahan sosial
yang positif dan lebih domokratis. Pada tataran struktur pemerintahan formal nampak adanya
tanda-tanda yang mendukung terwujudnya civil society. Namun keterbukaan dan kebebasan
tersebut tidak dibarengi oleh tanggungjawab, solidaritas, inklusivitas dan kepatuhan kepada
hukum, sehingga perubahan sosial yang terjadi tidak didasarkan pada mekanisme demokrasi
yang benar, namun mengarah pada memunculkan suatu dominansi masyarakat tertentu,
seperti kelompok borjuis, kapitalis atau kelompok-kelompok yang mendasarkan diri pada
ikatan primordial (kedaerahan, suku dan agama), contoh kasus: Sambas, Ambon, dan daerah-
daerah lainnya. Serta berbagai gerakan yang mengatasnamakan reformasi, namun berakhir
pada tindak kekerasan, kerusuhan massal, dan penjarahan. Hal ini disebabkan oleh
melemahnya dominasi negara yang diganti oleh dominasi pasar.
Oleh karena itu, di era paska reformasi ini perlu adanya koreksi terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi dalam membangun masyarakat yang demokratis, melalui penyediaan
arena publik dalam bentuk open haouse, dan berbagai forum serta saluran lainnya sebagai
tempat bertemunya negara dengan rakyat. Forum dan saluran tersebut dapat menampung
aspirasi rakyat, tempat dan media dimana rakyat secara bebasa melakukan pengawasan,
berpartisipasi politik dan meminta pertanggungjawaban. Dengan demikian, kebebasan yang
ada berdasarkan kesepakatan bersama, bukan kebebasan yang bersifat liberal, namun
mempunyai batasan yang tegas, yaitu: batas kepatuhan Kepada hukum dan HAM serta
Kepada batas inklusifitas dan solidaritas.
Adanya pemilihan umum (2004) yang jujur, adil, bebas, dan rahasia, pemilihan Presiden
RI secara langsung, merupakan saluran-saluran partisipasi rakyat secara bebas, independen,
tidak eksklusif bagi agama tertentu, daerah tertentu, suku tertentu, golongan sosial – ekonomi
tertentu atau partai tertentu, namun untuk semua golongan. Hal ini merupakan salah satu
bentuk penciptaan ruang bagi rakyat untuk mengembangkan gagasan-gagasan dan pilihan
mereka sendiri tentang perubahan sosial.

Analisis saya berdasarkan teori perubahan sosial


Berdasarkan pengamatan dan analisis saya, dari ketiga masa pemerintahan Indonesia
secara keseluruhan itu sudah terjadi banyak perubahan khususnya terjadi perubahan sosial
masyarakat, perubahan budaya, perubahan ekonomi, perubahan politik, dan sebagainya. Akan
tetapi kalau dikaji dari segi teoritis berdasarkan teori teori perubahan sosial dalam sosiologi,
perubahan dari ketiga masa pemerintahan tersebut bisa di kaji melalui teori beberapa teori
yang berkaitan dengan perubahan sosial diantarnya :
1. Teori struktural fungsional (Talcott parsons)
2. Tori konflik (karl max)
3. Teori solidaritas sosial (Emile Durkheim)
Pertama, dari sudut pandang teori struktural fungsional jika di hubungkan dengan
kondisi mayarakat pada masa orde baru, orde lama, dan reformasi. perubahan yang terjadi di
masyarakat Indonesia di pengaruhi oleh struktur dan lembaga kemasayarakatan terutama
setiap pergantian pemimpin dalam pemerintahan dari orde lama, orde baru sampai reformasi.
Perubahan lembaga pemerintah yang menyebabkan perubahan pula pada fungsi lembaga
tersebut, dari mulai kebijakan, pelaturan, dan undang-undang. Perubahan tersebut otomatis
berdampak pada masyarakat yang secara struktural berada pada level bawah, berubahnya
kebijakan pada lembaga-lembaga ekonomi, politik, sosial, dan budaya maka kondisi
masyarakatpun akan berubah. Dalam pandangan teori struktural fungsional jika salah satu
sistem atau susbsistem berubah makan akan mempengaruhi perubahan pada sistem lainya,
jadi teori ini menekankan pada ke seimbangan. Jika kebijakan, dan aturan pemerintah
berubah maka akan mempengaruhi seluruh lembaga dan struktur yang ada di masyarakat, jika
semuanya sudah berubah maka mau tidak mau masyarakatpun harus berubah menurut teor
ini, karena kalau tidak berubah sama saja dengan melawan arah dan akan terjadi kekacauan
yang parah atau disfungsi sedangkan teori ini menekankan pada keseimbangan. Terlepas dari
terjadinya keseimbangan menurut teori ini, menurut saya masyarakat ikut atau tidaknya
terhadap perubahan dari sebuah sitem pemerintah tergantung terhadap keuntungan dan
kerugian dari sebuah perubahan sistem tersebut.
Kedua, dari sudut pandang teori konflik karl max jika di hubungkan dengan kondisi
mayarakat pada masa orde baru, orde lama, dan reformasi. Perubahan perubahan yang terjadi
di masyarakat Indonesia terjadi akibat konflik kelas atas dengan kelas bawah atau dalam teori
karl max sering di sebut kelas borjuis dan ploretar. Tidak jauh beda dengan peruhan yang
terjadi di masyarakat Indonesia setiap ganti pemerintahan atau ganti masa. Salah satunya di
akibatkan dari golongan bawah atau rakyat yang merasa di rugikan dan di tindas oleh setiap
kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintahanya sebagai kelas atas, kelas atas yang otoriter
dan mendominsasi keputusan dalam semua bidang kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan
budaya sehingga menyengsarakan rakyat banyak. Contoh nya pada masa pemerintahan
soeharto terjadi domonstarsi besar-besaran oleh mahasiswa sebagai perwakilan kelas bawah
yang ingin meruntuhkan kekuasaan rezim orde baru. Contohnya lagi zaman kekuasaan
seokarno terjadi peristiwa G30SPKI yang berideologi komunis aliran karlmax yang akan
meruntuhkan idologi pancasila yang di anggap tidak sosialis komunis dan lebih condong ke
kapitalis barat ingin diganti semua menjadi ideology komunis oleh kaum pemberontak.
terlepas dari kejam nya PKI yang sangat bertentangan dengan ideology bangsa Indonesia
sehingga menjadi musuh abadi bangsa Indonesia, ada salah satu motif bahwa sebagian
masyarakat merasa dirugikan dengan sistem dan kebijakan pemerintah sebagai kelas atas
sehingga terjadi pemberontakan yang ingin menhapuskan pembedaan kelas dalam
masyarakat.
Ketiga, dari sudut pandang teori solidaritas sosial emile Durkheim, jika di hubungkan
dengan kondisi mayarakat pada masa orde baru, orde lama, dan reformasi. Perubahan yang
terjadi pada masyarakat Indonesia pada setiap masa oral, orba, dan reformasi itu selalu
diiringi oleh perubahan dalam hal solidaritas sosial atau kebersaman, kesetiakawanan dalam
masyarakat. Dari solidaritas mekanik menjadi solodaritas organic. Sebagai contoh
masyarakat pada zaman sebelum proklasi sampai orde lama rasa solidaritasnya sangat tinggi,
sehingga berkat perjuangan dan kerjasama dilandasi atas rasa satu nusa satu bangsa satu
bahasa maka mereka mampu merebut kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa memandang ras,
agama, suku, dan lain lain mereka bersatu padu memperjuangkan bangsa Indonesia. Pada
zaman orde baru masih cukup terlihat juga terbukti dari adanya demonstrasi mahasiswa,
buruh serta ormas ormas lain yang peduli pada kehidupan masyarakat supaya sejahtera
supaya jangan terus menjadi korban pemerintaham orde baru yang tak adil. Masuk kezaman
reformasi nilai-nilai solidaritas mekanik mulai bergeser ke solidaritas organic, masyarakat
sudah cukup mulai melek IPTEK dan modern, namun di sisi lain juga mulai terkikisnya nilai
nilai kebersamaan dalam masyarakat Indonesia menjun masyarakat yang organic,
terspesialiasi bahakan cenderung kebabalasan kearah sifat individualistis.