Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS

CUTANEUS LARVA MIGRANS

Moderator :
dr. Lilik Norawati, SpKK

Disusun Oleh :
Putri Rachmawati
FK Yarsi – 1102013234

Dipresentasikan tanggal :
19 Juli 2018

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN KULIT DAN


KELAMIN RSPAD GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI JAKARTA
PERIODE 2 JULI - 4 AGUSTUS 2018
BAB I
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. ZP
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Rajawali Selatan
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal pemeriksaan : 17 Juli 2018

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 17 Juli 2018.
A. Keluhan Utama
Garis kemerahan berkelok kelok disertai gatal pada paha kiri
B. Keluhan Tambahan
Tidak ada
C. Riwayat Perjalanan Penyakit
Pasien datang ke poliklinik kulit RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan garis
kemerahan berkelok kelok disertai gatal pada paha kiri sejak 4 hari SMRS. Pasien
mengatakan garis kemerahan yang berkelok-kelok dirasakan seperti menjalar di
bawah kulit. Keluhan gatal juga dirasakan terutama pada malam hari dan berkurang
pada siang hari.
Pada 7 hari sebelumnya, garis tersebut berupa bintik merah disertai panas dan gatal.
Gatal dirasakan terutama pada malam hari. Pada pagi harinya bintik berubah
menjadi garis kemerahan yang berkelok-kelok. Pasien belum berobat sebelumnya.
Pasien memelihara dan sering bermain dengan kucing di rumahnya serta selalu
membersihkan kotoran kucing dengan menggunakan celana pendek. Pasien
terkadang tidak menggunakan alas kaki saat berkebun.

2
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada.
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada yang mengalami keluhan serupa.

III. Pemeriksaan Fisik


a. Status Generalis
Pemeriksaan pada tanggal 17 Juli 2018.
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Gizi : BB/(TB)2 = 45 kg/(1,51 m)2 = 19,73 kg/m2 (normal)
Tanda – tanda vital:
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : Afebris
RR : 20 x/menit
Kepala : Normocephal
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-/-)
Telinga : Normotia, sekret (-/-)
Faring : Hiperemis (-)
Tonsil : T1-T1, hiperemis (-)
Thorax : Suara napas vesikular +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Bising usus (+)
Ekstremitas : Akral hangat
KGB : Tidak teraba membesar

b. Status dermatologikus
a) Lokasi: Femoralis Sinistra
b) Efloresensi: Makula eritematosa linier serpiginosa dengan ukuran 5 cm x 0,3 cm.

3
Gambar 1. Status dermatologis pada regio femoralis sinistra dengan
efloresensi makula eritematosa linier serpiginosa dengan ukuran 5 cm x 0,3 cm.

Gambar 2. Status dermatologis pada regio femoralis sinistra dengan efloresensi


makula eritematosa linier serpiginosa dengan ukuran 5 cm x 0,3 cm.

4
Gambar 3. Status dermatologis pada regio femoralis sinistra dengan efloresensi
makula eritematosa linier serpiginosa dengan ukuran 5 cm x 0,3 cm.

IV. Pemeriksaan Penunjang


Tidak ada

V. Resume
Pasien Tn. ZP, 60 tahun, datang ke RS dengan keluhan garis kemerahan berkelok
kelok disertai gatal pada paha kiri sejak 4 hari SMRS. Terdapat garis kemerahan
yang berkelok-kelok dirasakan seperti menjalar di bawah kulit disertai dengan
keluhan gatal terutama pada malam hari. Awalnya timbul bintik kemerahan sejak 7
hari yang lalu disertai gatal dan panas. Pasien memelihara dan sering bermain
dengan kucing di rumahnya serta selalu membersihkan kotoran kucing dengan
menggunakan celana pendek. Pasien terkadang tidak menggunakan alas kaki saat
berkebun. Pada status dermatologis pada regio femoralis sinistra didapatkan
eflorosensi makula eritematosa linier serpiginosa dengan ukuran 5 cm x 0,3 cm.

VI. Diagnosis Kerja


Cutaneus Larva Migrans

VII. Diagnosis Banding


Tidak ada

5
VIII. Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
a. Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak
dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing.
b. Menggunakan alas kaki saat berkebun.

Medikamentosa
Albendazole 400 mg (1x1)

IX. Prognosis
Quo Ad Vitam : Ad Bonam
Quo Ad Functionam : Ad Bonam
Quo Ad Sanationam : Ad Bonam

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
CUTANEUS LARVA MIGRANS

II.1 Definisi
Istilah ini digunakan pada kelainan kulit yang merupakan peradangan
berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh
invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing.1
Pada beberapa sumber lain menyebutan dengan nama Creeping eruption,
creeping verminous dermatitis, sandworm eruption, plumbers’s itch, duck hunter’s
itch. Semua nama ini lebih ditunjukan ada gejala yang timbul (gatal dan creeping
dermatitis) yang dapat juga disebabkan oleh beberapa jenis parasit yang lain.4

II.2 Epidemiologi
Cutaneus larva migrans (CLM) terdistribusi secara luas dan hampir dapat
ditemukan di wilayah tropik dan subtropik, terutama bagian tenggara Amerika
Serikat, Caribia, Africa, Amerika tengah dan selatan, India dan Asia tenggara.
Beberapa aktivitas dapat meningkatkan resiko infeksi, terutama yang berhubungan
dengan tanah yang terkontaminasi dengan kotoran hewan, seperti bermain di
lapangan dan berjalan tanpa alas kaki. Selain itu pekerja yang yang dalam
kesehariannya terutama pekerja di bidang pertanian yang tidak menggunakan
sepatu memiliki resiko yang lebih besar terkena CLM.4
Selain itu, juga dilaporkan kasus juga terjadi pada daerah timur tengah.
Dimana tempat yang panas dan kelembapan yang cukup merupakan tempat yang
baik persebaran infeksi cacing ini.5

II.3 Etiopatogenesis
Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang
anjing dan kucing., yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum.5 Di
Asia Timur umumnya disebabkan oleh gnatostoma babi dan kucing. Pada beberapa
kasus ditemukan Enchinococcus, Strongyloides sterconalis, Dermatobia maxiales,
dan Lucilia caesar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva dari beberapa jenis
7
lalat, misalnya Castrophilus (the horse bot fly) dan cattle fly. Biasanya larva ini
merupakan stadium ketiga siklus hidupnya. Nematoda hidup pada hospes, ovum
terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang
mampu mengadakan penetrasi ke kulit. Larva ini tinggal di kulit berjalan-jalan
tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal, setelah beberapa jam atau hari akan timbul
gejala di kulit.1

II.4 Manifestasi Klinis


Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula
akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear
atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, serta panjang 15-20 cm
dan berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritomatosa ini menunjukkan
bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari.1

Gambar 5. Cutaneus Larva Migrans3

Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-


kelok, polisiklik, serpinginosa, menimbul, dan membentuk terowongan (burrow),
mencapai panjang beberapa sentimeter. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam
hari. Selain itu juga dapat menimbulkan lesi vesikular dan bula.2

8
Gambar 6. Cutaneus Larva Migrans dengan lesi vesikular dan bula.3

Tempat predileksi adalah di tungkai, telapak kaki, pinggang panggul, pundak,


plantar, tangan, anus, bokong, dan paha, juga bagian tubuh di mana saja yang sering
berkontak dengan tempat larva berada. Satu lesi yang muncul juga dapat
berhubungan beberapa saluran tempat masuknya cacing tersebut.3,4

II.5 Diagnosis
Berdasarkan bentuk khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang
lurus atau berkelok-kelok, menimbul, dan terdapat papul atau vesikel di atasnya.
Dapat terjadi apabila adanya riwayat pajanan (misalnya berjalan tanpa alas kaki).
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan biopsi.
Biopsi kadang-kadang dilakukan untuk mengidentifikasi larva dalam epidermis.5

II.6 Diagnosis Banding


Dengan melihat adanya terwongan harus dibedakan dengan scabies, pada
scabies terowongan yang terbentuk tidak akan sepanjang seperti penyakit ini. Bila
melihat bentuk yang polisiklik sering dikacaukan dengan dermatofitosis. Pada
permulaan lesi berupa papul, karena itu sering diduga insects bite. Bila invasi larva
yang multipel timbul serentak, papul-papul lesi dini sering menyerupai herpes
zoster stadium permulaan.1

9
II.7 Tatalaksana
Non Medikamentosa
Secara umum dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik
terutama yang terkait dengan feses. Pemakaian sepatu pada area dimana banyak
terdapat penyakit cacing tambang. Memperhatikan kebersihan dan menghindari
kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing
tambang.4

Medikamentosa
Sejak tahun 1993 telah diketahui bahwa antihelmintes berspektrum luas,
misalnya tiabendazol (mintezol), ternyata efektif. Dosisnya 25-50 mg/kgBB/hari,
sehari 2 kali, diberikan berturut turut selama 2-5 hari. Dosis maksimum 3 gram
sehari, jika belum sembuh dapat diulangi setelah beberapa hari. Obat ini sukar
didapat. Efek sampingnya mual, muntah dan pusing. Sekarang albendazole dan
ivermectin di luar negeri merupakan lini pertama. Di luar negeri terapi dengan
ivermectin per oral (200 ug/kg) dosis tunggal dan diulang setelah 1-2 minggu,
memberi kesembuhan 94-100%. Pengobatan dengan albendazol 400 mg sebagai
dosis tunggal, diberikan 3 hari berturut-turut sangat efektif.1
Pilihan lain yang aman dan cukup efektif adalah tiabendazole topikal dan
albendazole topikal dioleskan dua kali sehari selama 10 hari. Cara terapi lain
dengan cryotherapy/freezing menggunakan nitrogen liquid dan ethyl chloride sudah
tidak dianjurkan. Cara tersebut dinilai tidak efektif dan sulit karena lokasi larva
tidak diketahui pasti, larva berada beberapa sentimeter di luar lesi yang terlihat dan
bila terlalu lama digunakan dapat merusak jaringan sekitar.3

II.8 Prognosis
Prognosis pasien dengan CLM sangat baik. Pada dasarnya merupakan suatu
self limiting disease. Manusia merupakan end-host bagi parasit ini dan lesi akan
bertahap hilang dalam 4-8 minggu namun dalam beberapa kasus juga dapat selama
1 tahun.3 CLM tidak mengancam kehidupan, umumnya sembuh dengan terapi
antihelmintes albendazol atau tiabendazol.1

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Aisah S. Creeping Eruption. Dalam: Menaldi SLSW, Bramono K, Indriatmi


W, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2017.hal.141-142.
2. Piggot C, Friedlander SF, Tom W. Dalam: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest
BA, Paller AS, Leffell DJ, Klaus W, editor. Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine Eighth edition. New York : Mc Graw Hill Medical; 2008
hal.2011-2029.
3. Neseema, Kapadia. Borhany, Tesneem. Forooqui, Maria. 2013. Use of Liquid
Nitrogen and Albendazole in Succesfully treating Cutaneous Larva Migrans.
Journal of the Collage of Physicians and Surgeons Pakistas 2013, 23(5) : 319-
321. Viewed 17 July 2018, from
https://www.jcpsp.pk/archive/2013/May2013/03.pdf
4. Supplee SJ, Gupta S, Alweis R. Creeping eruptions: Cutaneous larva migrans.
J Comm Hospital Intern Med Perspectives. 2013, 11(3):218-233. Viewed 17
July 2018, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3879512/
5. Sutanto I, Ismid S, Sjarifuddin P, Sungkar S. 2013. Buku Ajar Parasitologi
Kedokteran Edisi Keempat. Depok: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hal. 12-15.

11