Anda di halaman 1dari 6

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

DINAS KESEHATAN
PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DEPOK 3
Kompleks Kolombo 50A, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta
Kode Pos : 55281 Telp. 512595

KERANGKA ACUAN KEGIATAN


PENDAMPINGAN KELUARGA ORANG DENGAN GANGGUAN
JIWA PUSKESMAS DEPOK III TAHUN 2018

A. Pendahuluan
Kesehatan jiwa di dunia saat ini masih menjadi salah satu masalah
kesehatan yang signifikan, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016),
terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena biopolar, 47,5
orang terkena dimensia, serta 21 juta orang terkena skizofrenia. Dengan berbagai
keanekaragaman seperti faktor biologis, psikologis, dan sosial, maka jumlah kasus
gangguan jiwa terus meningkat yang dapat berdampak pada pertambahan beban
negara dan produktivitas manusia dalam jangka panjang (Kemenkes, 2016).
Gangguan jiwa dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu gangguan jiwa berat
dan gangguan jiwa ringan. Yosep (2007) menyatakan bahwa, paling tidak satu
dari empat penduduk di dunia menderita gangguan jiwa, sedangkan saat ini
diperkirakan ada 450 juta penduduk dunia mengalami gangguan jiwa. Menurut
World Health Organizatiaon (WHO) (2016), Indonesia menduduki peringkat ke-4
dengan penduduk terbanyak di dunia. Dan penderita gangguan jiwa di Iondonesia
yaitu sekitar 26 juta penduduk, mulai dari gangguan jiwa ringan hingga berat.
Prelevensi gangguan jiwa di Jawa Tengah mencapai 3,3 % dari seluruh populasi
yang ada. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan 2 Provinsi Jawa Tengah
tercatat ada 1.091 kasus yang mengalami gangguan jiwa (Balitbangkes, 2008).
Menurut kementerian sosial pada tahun 2008, dari sekitar 650 penduduk
Indonesia yang mengalami gangguan jiwa berat, sekitar 30 ribu dipasung. Hasil
Riskesdas tahun 2011, bila dilihat menurut provinsi, prevelensi gangguan jiwa
berat paling tinggi ternyata terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
yang menunjukkan sekitar 3 dari setiap 1.000 orang penduduk DIY mengalami
gangguan jiwa berat. Hasil Riskesdas tahun 2011 juga menunjukkan, prevelensi
gangguan jiwa berat atau dalam istilah medis disebut psikosis atau skizofrenia di
daerah pedesaan ternyata lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Di daerah

1
pedesaan, proporsi rumah tangga dengan minimal salah satu anggota rumah
tangga mengalami gangguan jiwa berat dan pernah dipasung mencapai 18,2
persen. Sementara di daerah perkotaan, proporsinya hanya mencapai 10,7
persen (Depkes RI, 2011). Pemasungan dilakukan dengan alasan agar tidak
membahayakan orang lain dan tidak menimbulkan aib dalam keluarga. Padahal
menurut undang-undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa,
pemerintah Indonesia sudah mencanangkan bebas pemasungan karena pasung
adalah tindakan yang melanggar hukum. Menteri Dalam Negeri 11 November
1977 juga memerintahkan kepada kepala daerah agar tidak memasung penderita
gangguan jiwa. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan “Menuju Indonesia Bebas
Pasung 2017”.
Melakukan pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa memang
bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi orang tersebut adalah suami, istri, anak
atau orangtua. Berbagai reaksi muncul pada keluarga ODGJ seperti rasa marah,
bingung, cemas, merasa bersalah, putus asa dan lain-lain. Reaksi ini merupakan
reaksi alamiah yang wajar dialami oleh keluarga ODGJ sebagai dampak dari
proses pendampingan ODGJ. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah reaksi
perasaan yang muncul seperti diatas tidak serta merta dapat diungkapkan kepada
ODGJ karena dapat menghambat proses penyembuhannya. Semakin banyak
pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki keluarga akan membantu untuk
mengatasi permasalahan psikologis yang dialami keluarga. Pendampingan
keluarga ODGJ dirasa penting bagi peningkatan pengetahuan, ketrampilan serta
sebagai fasilitas bagi keluarga untuk mencurahkan perasaannya yang selama ini
dipendam sendiri.

B. Latar Belakang
Peran dan keterlibatan keluarga dalam proses penyembuhan dan
perawatan pasien gangguan jiwa sagat penting, karena peran keluarga sangat
mendukung dalam proses pemulihan penderita gangguan jiwa. Keluarga dapat
mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap, perilaku anggota keluarga. Disamping itu
keluarga juga mempunyai fungsi dasar memberikan kasih sayang, rasa aman,
rasa memiliki dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat. Apabila
terdapat gangguan jiwa pada salah satu anggota keluarga maka dapat
menyebabkan gangguan jiwa pada anggota keluarga, karena keluarga merupakan
suatu sistem yang saling berkaitan (Nasir & Muhih, 2011).
Caregiver memiliki peran sebagai emotional support, merawat pasien
(memandikan, memakaikan baju, memberi makan, mmempersiapkan obat), 7

2
mengatur keuangan, membuat keputusan tentang perawatan dan berkomunikasi
dengan pelayanan kesehatan formal (Kung, et.al, 2003). Safarino (2014)
mengungkapkan, caregiver terbanyak pada skizofrenia adalah orang tua (68,6%),
orang dengan profesi caregiver bukan keluarga pasien (17,4%), pasangan (7,4%),
anak (4,1%), dan saudara kandung (2,5%).
Adanya stigma rasa malu, penyalahan lingkungan serta persepsi negatif
keluarga menimbulkan sikap dan perilaku yang menimbulkan ekspresi emosi pada
keluarga. Emosi yang tinggi pada umumnya dimiliki oleh keluarga yang memiliki
anggota keluarga gangguan jiwa, hal ini disebabkan keluarga memiliki persepsi
negatif dan perasaan terbebani oleh keberadaan anggota keluarga yang
menderita gangguan jiwa. Dengan perasaan malu dan terbebani tersebut
biasanya keluarga akan meunjukkan emosi yang berlebih terhadap pasien,
sehingga timbul perlakuan dan perkataan kasar pada pasien. Hal ini tentu akan
menimbulkan stress yang berlebih pada pasien gangguan jiwa, sehingga tanda
dan gejala akan muncul kembali dan kemudian disebut sebagai kekambuhan atau
relaps.
Pendampingan keluarga OGDJ merupakan rangkaian kegiatan dalam
rangka memberikan fasilitas bagi keluarga sebagai caregiver untuk meningkatkan
pengetahuan serta ketrampilannya dalam melakukan pendampingan terhadap
ODGJ. Beberapa rangkaian kegiatan dalam pendampingan ODGJ ini diantaranya
adalah pengetahuan tentang Skizofrenia, tanda-tanda, faktor penyebab,
pengawasan minum dan komunikasi efektif dengan ODGJ. Kegiatan yang lain
adalah family gathering, serta konseling kelompok
Pendampingan keluarga ODGJ merupakan bagian yang integral, yang tidak
dapat dipisahkan dan harus ada dan dilaksanakan, dari program kesehatan jiwa.
Pelaksanaan pendampingan dilakukan oleh perawat jiwa bersama Psikolog.
Kerangka acuan ini dimaksudkan agar petugas kesehatan mampu melaksanakan
pendampingan keluarga ODGJ dengan teknik dan metode yang benar

C. Tata Nilai Puskesmas


Puskesmas memiliki tata nilai yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan UKM.
Tata Nilai tersebut adalah :
1. Profesional: Bahwa dalam melaksanakan tugas/ kewajiban harus dilandasi
dengan standar pelayanan profesi yang berlaku, kompetensi, menegakkan
integritas, nilai etika dan responsif dalam melaksanakan profesi
2. Transparansi: Bahwa proses pengambilan keputusan harus dapat diketahui
oleh berbagai pihak yang berkepentingan

3
3. Disiplin dan tanggung jawab: Bahwa dalam melaksanakan tugas/kewajiban
harus dilandasi oleh sikap disiplin yang tinggi terhadap norma dan standar
profesi serta aturan-aturan yang berlaku tanpa merasa diawasi, namun
tumbuh dari rasa tanggung jawab pribadi
4. Kerjasama: Bahwa kegiatan-kegiatan suatu organisasi harus dilaksanakan
secara terpadu dengan berbagai pihak guna mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan oleh organisasi tersebut secara bersama-sama.

D. Tujuan
1. Tujuan Umum : Meningkatkan peran keluarga dalam upaya pendampingan
ODGJ pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Depok III
2. Tujuan Khusus :
a. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keluarga tentang
pelaksanaan upaya pendampingan keluarga ODGJ.
b. Meningkatkan peran Puskesmas sebagai promotor, advokator,
motivator, pembina dan pelatih dalam perubahan perilaku keluarga
menuju perilaku yang sehat guna mendampingi ODGJ.
c. Menggalang kemitraan dengan lintas sektor dan swasta untuk
mendukung upaya penggerakan dalam perubahan perilaku keluarga
dalam upaya pendampingan ODGJ.

E. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan


1. Petugas membuat rencana pendampingan keluarga ODGJ yang
meliputi sasaran peserta, lokasi dan target sesuai dengan kebutuhan
program.
2. Petugas melakukan koordinasi dengan narasumber untuk dapat
memberikan materi sesuai dengan kompetensi masing-masing.
3. Petugas menyusun rangkaian materi yang akan diberikan dalam satu
tahun, yaitu : manajemen emosi, komunikasi efektif, pendampingan
minum obat, ketrampilan penanganan ketika gaduh gelisah, melatih
ketrampilan sosial pada ODGJ dan kesadaran minum obat dan kontrol
rutin bagi ODGJ.
4. Petugas melakukan konseling kelompok serta relaksasi dalam setiap
pertemuan bagi keluarga ODGJ.

4
F. Cara Melakukan Kegiatan
1. Petugas melaporkan rencana kegiatan pendampingan keluarga ODGJ
kepada Kepala Puskesmas
2. Petugas mempersiapkan kegiatan pra pendampingan yang meliputi
membuat undangan dan daftar hadir, dan mempersiapkan materi
pendampingan.
3. Pada hari yang telah ditentukan, petugas melaksanakan kegiatan
pendampingan berupa konseling kelompok, materi inti dan relaksasi.
4. Petugas membuat laporan / notulen pertemuan

G. Sasaran
1. Keluarga ODGJ, yaitu pasangan, orangtua, saudara kandung atau saudara
serumah.

H. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


2018

NO Kegiatan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des

1. Persiapan x
2. Pelaksanaan 1x 1x 1x
pendampingan
keluarga
ODGJ
3. Tindak Lanjut x

I. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan


Tujuan pendampingan adalah untuk mengetahui tingkat penyerapan dan
penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan oleh petugas
kepada keluarga dalam merawat ODGJ seperti ketrampilan berkomunikasi,
manajemen emosi serta pemberian obat. Evaluasi dapat dilakukan dengan
pertanyaan terbuka ataupun tertulis bila memungkinkan. Evaluasi dilakukan
setelah selesai pendampingan kesehatan dilakukan.

J. Pencatatan pelaporan dan evaluasi kegiatan


Pencatatan dilakukan setiap kali melakukan kegiatan pelatihan meIiputi
bukti daftar hadir, undangan dan notulen. Evaluasi kegiatan keseluruhan
dapat dilakukan setiap semester (6 bulan) meliputi hasil pelaksanaan,
kendala dan masalah yang ditemukan.

5
K. Pembiayaan
Anggaran Biaya pelaksanaan kegiatan oleh BOK Puskesmas Depok III
tahun 2018

Mengetahui, Sleman, 02 Januari 2018


Kepala UPT Pusat Kesehatan Penanggungjawab Program
Masyarakat Depok

Toto Suharto,SKM,M.Kes Jatu Anggraeni, S.Psi., M.Psi.,


NIP.19680512 198903 1 015 Psikolog