Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan


meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami
pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi,
menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi. Sedangkan tahap
penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan, tahap
pemulihan serta perawatan pasca anestesi. 1,2
Pada Operasi TURP dari segi anesthesiology dapat dikerjakan secara anestesi
umum dan anestesi lokal tertentu. Masing-masing pendekatan memiliki keuntungan dan
kekurangan tertentu. Pada berbagai Negara maju telah menjadi sebuah kesepakatan
bahwa dalam tindakan operative TURP yang digunakan adalah anestesi local yaitu
anestesi spinal. Inggris melakukan tindakan anestesi spinal pada 75% kasus TURP,
Karena secara teoritis hal ini meliki keuntungan seperti pendeteksian dini pada sindroma
TURP. Keputusan akan pemberian anestesi sangatlah bergantung dari keadaan pasien dan
pendekatan anesthesiologist dan urologist.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

II.1. IDENTITAS
Nama : Tn. IS
Umur : 75 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
BB : 66 Kg
Agama : Islam
Alamat : Sungai Kambang, Kota Jambi
Tanggal masuk : 7 Agustus 2018

II.2. ANAMNESIS dan PEMERIKSAAN FISIK


Riwayat Penyakit
A. Keluhan Utama : Buang air kecil tidak lampias sejak ± 2 tahun
B. Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluh BAK tidak lampias sejak 2 tahun
belakangan ini. Selama BAK, pasien juga merasa perlu untuk mengedan kuat
dan pancaran kemihnya tersendat- sendat. Selama 2 tahun ini pasien sudah
berobat ke dokter urologi dan didiagnosa sebagai hipertropi prostat. Selama 2
tahun ini pasien menerima pengobatan medikamentosa, namun karena tidak
kunjung ada perbaikan keluhan, maka pasien disarankan untuk operasi.
C. Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat hipertensi : -
 Riwayat Asma :-
 Riwayat DM :-
 Riwayat Batuk Lama :-
 Riwayat Operasi :-
 Riwayat Alergi Obat :-
 Riwayat Penyakit Lain :-
D. Riwayat kebiasaan :-

2
E. Pemeriksaan Fisik :
1. Tanda Vital
 Kesadaran : Compos mentis
 Suhu : 36,70C
 Tekanan Darah: 130/70 mmHg
 RR : 18 kali/menit
 Nadi : 70 kali/menit
2. Kepala : Normochepal
a. Mata : CA (-/-), SI (-/-), RC (+/+), nistagmus
b. THT : Tidak ada kelainan
c. Leher : Pembesaran KGB (-)
3. Thorax
 Inspeksi : simetris, sikatriks (-), massa (-)
 Palpasi : krepitasi (-), nyeri tekan (-)
 Perkusi : sonor kiri dan kanan
 Auskultasi :
 Cor : BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-)
 Pulmo : Vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
4. Abdomen :
 Inspeksi : simetris, sikatriks (-)
 Palpasi : nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : bising usus (+) normal
5. Genitalia : Tidak diperiksa
6. Ekstremitas : akral hangat (+), edema (-)

II.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium tanggal : 06 Agustus 2018
Darah lengkap
Hb : 12,4 gr/dl
3
Lekosit : 6.200 /ml
Hematokrit : 37,7 %
Eritrosit : 4,04 juta/ mm³
Trombosit : 233.000/ mm³
SGOT : 20 u/l
SGPT : 16 u/l
Ureum : 32,9 mg/dl
Kreatinin : 1,2 mg/dl

Pemeriksaan rontgen thoraks : Kesan Kardiomegali

II.4. PRA ANESTESI


 Penentuan Status Fisik ASA: 1 / 2 / 3 / 4 / 5 / E karena adanya gambaran
kardiomegali pada foto thoraks pasien
 Mallampati: grade 1
 Persiapan Pra Anestesi:
- Pasien telah diberikan Informed Consent
- Rawat inap bila setuju operasi
- Pro TURP
- Persiapan operasi :
- a. Puasa 6 jam pre op
- b. Surat persetujuan tindakan operasi
- c. Persiapkan PRC 1 kolf
- d. Lanjutkan terapi Sp.PD

4
II.5. LAPORAN ANESTESI PASIEN
a) Diagnosis pra-bedah : Benign Prostat Hipertrofi
b) Diagnosis post-bedah : Benign Prostat Hipertrofi
c) Jenis pembedahan : Trans Urethral Resection-Prostat
d) Jenis anestesi : Anestesi Spinal
Premedikasi anestesi : Ranitidin 50 mg, Ondansentron 4 mg
Induksi : Bupivacaine 20 mg
Adjuvant : Morphin 0.1 mg, Clonidin 45 mcg
Pemeliharaan anestesi : O2

Posisi : Lithotomi
Infus : Ringer Laktat
Status fisik : ASA II
Induksi mulai : 09.00 WIB
Operasi mulai : 09.15 WIB
Operasi selesai : 09.45 WIB
Berat badan pasien : 66 Kg
Durasi operasi : 30 menit
Pasien puasa : 7 jam
Terapi cairan
 Maintenance = 2 cc/KgBB/jam
= 2 cc x 66 Kg/jam
= 132 cc/jam

 Pengganti puasa = puasa x maintenance


= 7 jam x 132 cc/jam
= 924 cc

 Stress operasi = 6 cc/KgBB/jam


= 6 cc x 66 Kg/jam
= 396 cc/jam

5
Jadwal pemberian cairan (lama operasi 1 jam)
Jam I = ½ PP + SO + M
= 462 + 396 + 132
= 990 cc
Jam II = ¼ PP + SO + M
= 231 + 396 + 132
= 759 cc

6
e) Monitoring
Jam (WIB) Nadi (x/menit) RR (x/menit) TD (mmHg) KET

09.00 66 21 124/78 Induksi

09.15 71 20 112/65 Mulai


Operasi

09.30 73 20 99/51

09.45 72 20 100/50 Akhiran


Operasi

7
f) Ruang Pemulihan
1. Masuk Jam : 10.00 WIB
2. Keadaan Umum : Kesadaran: CM, GCS: 15
3. Tanda vital : TD : 92/58 mmHg
Nadi : 67 x/menit
RR : 20 x/menit
4. Pernafasan : Baik
5. Scoring Alderate:
Aktifitas :2
Pernafasan :2
Warna Kulit :2
Sirkulasi :2
Kesadaran :2
Jumlah : 10

Instruksi Post Operasi:


 Monitoring tanda vital, kesadaran, dan perdarahan
 Tirah baring dengan bantal 1 x 24 jam
 Boleh makan dan minum secara bertahap bila tidak mual
 Terapi sesuai dokter urologi

8
BAB III
PEMBAHASAN

Pemeriksaan pra anestesi


Kunjungan pra anestesia dilakukan kurang dari 24 jam sebelum operasi,
hal ini benar dilakukan karena perkenalan dengan penderita dan keluarga sangat
penting untuk memberi penjelasan mengenai masalah pembedahan dan anestesi
yang dilakukan. Pada kunjungan tersebut dilakukan penilaian tentang keadaan
pasien secara umum, keadaan fisik dan mental penderita.1 Dimana didapatkan
keadaan pasien secara umum baik.
Untuk menilai kebugaran seseorang sesuai The American Society of
Anesthesiologists (ASA) yaitu:1,2
Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia
Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atas sedang, tanpa
pembatasan aktivitas.
Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas
rutin terbatas.
Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat
melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupannya setiap saat.
Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam
Berdasarkan The American Society of Anesthesiologists (ASA), pasien Tn.
IS merupakan ASA II, yaitu terdapat penyakit sistemik ringan atau sedang yaitu
terdapatnya masalah pada sistem kardiovaskular pasien dimana dari gambaran
rontgen thoraks ditemukan adanya kardiomegali.

9
Pemilihan Jenis Anestesi
Pasien ini direncanakan untuk dilakukan operasi TURP. TURP merupakan
sebuah operasi reseksi kelenjar prostat yang dilakukan transurethral dengan
menggunakan cairan irigan(pembilas) yang dimaksudkan menghilangkan
hipertrofi prostat yang menekan uretra.3
Pada operasi TURP, kita membutuhkan efek analgesi setinggi T10. Oleh
karena itu maka jenis anestesi yang dipilih adalah anestesi spinal. Anestesi spinal
diindikasikan untuk pembedahan daerah tubuh yang dipersarafi cabang T4 ke
bawah (daerah papila mammae ke bawah). Anestesi spinal ini digunakan pada
hampir semua operasi abdomen bagian bawah, bedah obstetri, bedah urologi,
rektum-perineum, dan ekstremitas bawah.1
Adapun beberapa keuntungan spinal anestesi dibandingkan general
anestesi yaitu jumlah perdarahan yang lebih sedikit, angka kejadian thrombosis
vena dalam lebih kecil, menghindari efek samping general anestesi seperti mual,
tenggorokan kering, gangguan kesadaran, dan sebagainya, serta kontrol nyeri
yang lebih baik.4

Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum anastesi dilakukan,
dengan tujuan melancarkan anastesia.2 Tujuan Premedikasi sangat beragaman,
diantaranya :1
- Mengurangi kecemasan dan ketakutan
- Memperlancar induksi dan anesthesia
- Mengurangi sekresi ludah dan broncus
- Meminimalkan jumlah obat anesthetic
- Mengurangi mual dan muntah pada pasca bedah
- Menciptakan amnesia
- Mengurangi isi cairan lambung
- Mengurangi reflek yang membahayakan

10
Pada pasien ini diberikan obat-obat premedikasi yaitu Ranitidine 50 mg
(golongan antagonis reseptor H2 Histamin) tujuannya yaitu untuk mencegah
pneumonitis asam yang disebabkan oleh cairan lambung yang bersifat asam
dengan PH 2,5. Untuk meminimalkan kejadian tersebut dipilihlah antagonis
reseptor H2 Histamin.1 Pada pasien ini juga diberikan ondansetron 4mg (golongan
antiemetik) dan untuk mengurangi mual dan muntah pasca pembedahan.
Mekanisme kerja obat ini adalah mengantagonisasi reseptor 5HT-2 yang terdapat
pada Chemoreseptor Trigger Zone di area postrema otak dan pada aferen vagal
saluran cerna, Ondancentron juga mempercepat pengosongan lambung, mual dan
muntah pasca pembedahan. Obat-obatan lainnya yang biasa dipakai sebagai anti
emetik adalah dexamethasone (4 mg I.V), droperidol (0.625 mg I.V),
diphenhydramine (25 mg I.V) yang dapat diberikan tunggal ataupun kombinasi.5
Dalam pemberian obat premedikasi pada pasien ini terdapat kesalahan
waktu pemberian obat. Obat premedikasi seharusnya diberikan di ruangan rawat
1-2 jam sebelum dilakukan induksi, namun pada pasien diberikan sekitar 15 menit
sebelum induksi spinal.

Induksi Anestesi
Anestesi spinal mulai dilakukan, posisi pasien duduk tegak dengan kepala
menunduk hingga prossesus spinosus mudah teraba. Dicari perpotongan garis
yang menghubungkan kedua crista illiaca dengan tulang punggung yaitu antara
vertebra lumbal 3-4, lalu ditentukan tempat tusukan pada garis tengah. Kemudian
disterilkan tempat tusukan dengan alkohol dan betadin. Jarum spinal nomor 27
ditusukkan dengan arah median, barbutase positif dengan keluarnya LCS (jernih)
kemudian dipasang spuit yang berisi obat anestesi dan dimasukkan secara
perlahan-lahan.1
Induksi menggunakan Bupivacaine HCL hiperbarik 20 mg dan
dikombinasikan dengan klonidin 45 μg serta morphin 0,1 mg. Bupivacain
merupakan anestesi lokal golongan amida. Obat anestesi regional bekerja dengan
menghilangkan rasa sakit atau sensasi pada daerah tertentu dari tubuh. Cara

11
kerjanya yaitu memblok proses konduksi syaraf perifer jaringan tubuh, bersifat
reversibel. MulaI kerja lambat dibanding lidokain, tetapi lama kerja 8 jam.

Tabel 1. Dosis Obat Anestesi Lokal pada Anestesi Spinal6

Klonidin merupakan suatu agonis adrenoseptor α2 diketahui dapat


menstimulasi reseptor adrenergik α2 presinaps dan menghambat pengeluaran
norepinefrin di sentral maupun perifer. Stimulasi reseptor α2 di pusat vasomotor
medulla oblongata mengakibatkan klonidin memiliki efek antihipertensi.
Penambahan klonidin dapat pula menambah durasi anestesi epidural atau
intratekal yang menggunakan obat anestesi lokal.
Opioid biasa ditambahkan pada anestesi regional. Golongan opioid dapat
memperpanjang durasi anestesi tanpa secara nyata menambah blokade saraf
motorik dan simpatis, serta menjaga efek analgesia post operasi.6 Jenis opioid
yang digunakan pada pasien adalah morphin karena efek kerja obat yang bertahan
lebih lama.
Tabel 2. Dosis dan Efek Obat Opioid Intrathecal

12
Permasalah pada pasien ini terdapat pada dosis anestesi bupivacain yang
terlalu besar. Berdasarkan tabel diatas, pada bedah perut bagian bawah, dosis yang
dianjurkan adalah sebesar 5-10 mg, sedangkan dosis yang diberikan 2 kali lipat
dari dosis anjuran yakni 20 mg.

Monitoring Intraoperatif
Pada pasien dengan anestesi spinal, maka perlu dilakukan monitoring
tekanan darah serta nadi setiap 15 menit sekali untuk mengetahui penurunan
tekanan darah yang bermakna. Hipotensi terjadi bila terjadi penurunan tekanan
darah sebesar 20-30% atau sistole kurang dari 100 mmHg. Hipotensi dan
bradikardi merupakan salah satu efek dari pemberian obat anestesi spinal, karena
penurunan kerja dari syaraf simpatis. Untuk mencegah hipotensi yang terjadi,
dapat dilakukan pemberian cairan kristaloid secara cepat 10-15 ml/kgBB dalam
10 menit segera setelah penyuntikan spinal. Namun bila dengan cairan infus
masih terjadi hipotensi, maka dapat diberikan vasopresor berupa efedrin dengan
dosis 10 mg intravena yang dapat diulang tiap 3-4 menit sampai tekanan darah
yang dikehendaki. Sebaiknya penurunan tidak lebih dari 10-15 mmHg dari
tekanan darah awal. 2 Efedrin bekerja pada reseptor α dan β, termasuk α1, α2, β1
dan β2, baik bekerja langsung maupun tidak langsung, efek tidak langsung yaitu
dengan merangsang pelepasan noradrenalin.
Pada pasien ini, untuk mencegah hipotensi, maka perlu dilakukan
pemberian cairan kritaloid secara cepat sebanyak 660-990 ml dalam 10 menit
segera setelah penyuntikan spinal. Namun faktanya dalam 15 menit pertama,
cairan yang masuk hanya berjumlah 500 ml. Akibatnya terjadi penurunan tekanan
darah sistolik sebesar 9,6 % dalam 15 menit pertama. Kemudian dalam 15 menit
kedua menurun lagi sampai sebesar 20 % dari tekanan darah sistolik awal.
Kemudian pasien diberikan injeksi efedrin sebanyak 10 mg. Setelah pemberian
efedrin, ternyata tidak ada perubahan tekanan darah, dan sampai operasi selesai,
ternyata pemberian efedrin tidak diulang. Seharusnya pemberian efedrin diulang
tiap 3-4 menit sampai tekanan darah yang dikehendaki tercapai, yakni
penurunannya tidak lebih dari 10-15 mmHg dari tekanan darah awal.

13
Terapi cairan
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh
dalam batas-batas fisiologis dengan pemberian cairan kristaloid maupun koloid
secara intravena. Pembedahan dengan anestesia memerlukan puasa sebelum dan
sesudah pembedahan. Terapi cairan parenteral diperlukan untuk mengganti defisit
cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin
saat pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi dan mengganti cairan yang
pindah ke ruang ketiga. 1
Cairan pemeliharaan/pengganti karena puasa diberikan dalam waktu 3
jam, jam I 50% dan jam II, III maing-masing 25%.1
Pasien ini selama operasi telah diberikan cairan infus RL sebanyak 1000
ml (2 kolf) sebagai cairan fisiologis untuk mengganti cairan dan elektrolit yang
hilang karena pasien sudah tidak makan dan minum ± 7 jam.

 Kebutuhan cairan pasien ini


Diketahui :
o Berat badan : 66 kg
o Lama puasa : 7 jam
o Lama anestesi : 1 jam 15 menit
o Stress operasi : Sedang

 Maintenance = 2 cc/KgBB/jam
= 2 cc x 66 Kg/jam
= 132 cc/jam

 Pengganti puasa = puasa x maintenance


= 7 jam x 132 cc/jam
= 924 cc

14
 Stress operasi = 6 cc/KgBB/jam
= 6 cc x 66 Kg/jam
= 396 cc/jam

Jadwal pemberian cairan (lama operasi 1 jam)


Jam I = ½ PP + SO + M
= 462 + 396 + 132
= 990 cc
Jam II = ¼ PP + SO + M
= 231 + 396 + 132
= 759 cc
Karena pada pasien ini operasi tidak sampai memakan waktu 1 jam, maka
pemberian 1000 ml kristaloid selama operasi sudah mencukupi kebutuhan cairan
pasien.

15
BAB IV
KESIMPULAN

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang
melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi
pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat
mengantisipasinya.
Dalam kasus ini selama operasi berlangsung, tidak ada hambatan yang berarti
baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. Selama di ruang pemulihan juga
tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius.
Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan
baik meskipun ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, dan Dachlan MR, Eds. Petunjuk Praktis Anestesiologi.
Edisi Ke-2. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 2009.
2. Dahlan MR, Soenarto RF. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta : Departemen
Anestesiologi dan Intensif Care FKUI; 2009.
3. Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi edisi ketiga. Sagung seto
4. Medscape. Regional Anesthesia for Postoperative Pain Control. 2015.
http://emedicine.medscape.com/article/1268467-overview#a1
5. Medscape. Perioperative Medication Management. 2015.
http://emedicine.medscape.com/article/284801-overview#showall
6. Medscape. Subarachnoid Spinal Block. 2015
http://emedicine.medscape.com/article/284801-overview#showall

17