Anda di halaman 1dari 8

2.

MATERI PRAKTIKUM 2 :
Persiapan untuk Dekomposisi Awal : Perhitungan Nisbah C/N dan Kadar Air Bahan
Organik

2.1 RUMUSAN KOMPETENSI KHUSUS


Mahasiswa mengerti faktor-faktor yang mempengaruhi proses dekomposisi awal.
2.2 METODE PRAKTIKUM
Mahasiswa menghitung proporsi bahan organik yang digunakan dalam proses
dekomposisi awal sesuai dengan nisbah C/N yang telah ditentukan atau menghitung
nisbah C/N dari proporsi bahan organik yang sudah ditentukan. Mahasiswa juga
menghitung kadar air dari campuran bahan organik yang sudah dihitung. Apabila kadar
air campuran bahan organik kurang dari persyaratan, mahasiswa menghitung berapa
air yang harus ditambahkan sehingga kadar air campuran sesuai persyaratan.
2.3 TEMPAT
Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah Peternakan Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran.
2.4 BAHAN DAN ALAT
Bahan yang digunakan adalah tabel hasil analisis kadar N dan C berbagai bahan
organik yanga meliputi bahan organik asal limbah ternak (sapi perah, sapi potong,
domba, ayam petelur, ayam pedaging, dan kelinci) dan bahan organik lain (jerami padi
dan serbuk gergaji). Alat yang digunakan adalah alat tulis dan alat hitung.
2.5 PROSEDUR PRAKTIKUM
A. Perhitungan Nisbah C/N
Nisbah C/N bahan organik merupakan perbandingan antara karbon dan nitrogen
bahan organik. Nisbah C/N menggambarkan berapa molekul karbon sebagai sumber
energi yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk menguraikan berapa molekul
nitrogen sebagai sumber nutrisi. Contoh : nisbah C/N yang optimal untuk dekomposisi
awal sebesar 30, artinya mikroorganisme memerlukan sebanyak 30 molekul karbon
sebagai sumber energi untuk dapat memetabolisme 1 molekul nitrogen. Nisbah C/N
untuk proses dekomposisi awal berkisar antara 25 – 30. Nisbah C/N di bawah atau di
atas kisaran tersebut akan mengganggu proses dekomposisi awal.
Perhitungan berapa proporsi bahan organik yang digunakan dalam proses
dekomposisi awal memerlukan data hasil analisis kadar C dan N berbagai bahan
organik. Data analisis C dan N beberapa bahan organik disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisis Kandungan C, N dan Air Berbagai Bahan Organik

Bahan Organik Kandungan C Kandungan N Nisbah


Kandungan air
(%) (%) C/N (%)

1. Feses sapi potong 40,08 2,23 15,43 85


2. Feses sapi perah 23,14 1,42 23,00 85
3. Feses domba 29,55 1,44 20,52 70
4. Feses ayam petelur 20,17 1,86 10,84 70
5. Feses ayam pedaging 43,21 2,92 14,80 60
6. Feses kelinci 33,38 1,72 19,41 70
7. Jerami padi kering 37,86 0,86 44,02 15
8. Serbuk gergaji 46,21 0,68 67,00 15

Perhitungan proporsi bahan organik berdasarkan nisbah C/N menggunakan data


hasil analisis kandungan karbon (C) dan nitrogen (N). Data nisbah C/N bahan organik
diperlukan untuk memprediksi apakah campuran 2 bahan organik atau lebih dapat
digunakan untuk campuran yang menghasilkan nisbah C/N sesuai persyaratan. Contoh
: Ketika kita memilih feses sapi potong dan feses kelinci, apakah campuran tersebut
memenuhi nisbah C/N ?. Nisbah C/N yang sesuai persyaratan adalah 30, dengan
demikian dengan melihat data nisbah C/N campuran kedua bahan tersebut dipastikan
tidak akan mencapai 30. Oleh karena itu, ketika kita punya bahan organik misalnya
saja feses sapi potong yang nisbah C/N di bawah 30, untuk memilih bahan organik lain
sebagai campurannya untuk mencapai nisbah C/N sebesar 30 harus memilih bahan
organik yang mempunyai nisbah C/N di atas 30.
Perhitungan proporsi bahan organik yang digunakan dalam proses dekomposisi
awal dengan nisbah C/N yang ditentukan menggunakan persamaan sebagai berikut :

𝐂 (% 𝐂 𝐀 𝐱 ∑ 𝐀 )+ (% 𝐂 𝐁 𝐱 ∑ 𝐁 )+ ………………+ (% 𝐂 𝐙 𝐱 ∑ 𝐙 )
= (% 𝐍 𝐀 𝐱 ∑ 𝐀 )+ (% 𝐍 𝐁 𝐱 ∑ 𝐁 )+ ………………+ (% 𝐍 𝐙 𝐱 ∑ 𝐙 )
𝐍

𝐂
Keterrangan : = 𝐧𝐢𝐬𝐛𝐚𝐡 𝐂/𝐍
𝐍

% C A = kandungan karbon bahan organik A (%)


% C B = kandungan karbon bahan organik B (%)
% C Z = kandungan karbon bahan organik Z (%)
% N A = kandungan nitrogen bahan organik A (%)
% N B = kandungan nitrogen bahan organik B (%)
% N Z = kandungan nitrogen bahan organik Z (%)
∑A = jumlah bahan organik A (Kg)
∑B = jumlah bahan organik B (Kg)
∑Z = jumlah bahan organik Z (Kg)

Contoh perhitungan :
1. Menggunakan 2 bahan organik
Contoh : Berapa jumlah (kg) feses sapi potong (FSPt) dan jerami padi (JP) yang
digunakan untuk proses dekomposisi awal untuk menghasilkan campuran yang
mempunyai nisbah C/N 30.
Jawab :
Dengan menggunakan data hasil analisis C dan N dari feses sapi potong dan
jerami, masukkan ke dalam rumus sebagai berikut :

𝐂 (% 𝐂 𝐀 𝐱 ∑ 𝐀 )+ (% 𝐂 𝐁 𝐱 ∑ 𝐁 )+ ………………+ (% 𝐂 𝐙 𝐱 ∑ 𝐙 )
= (% 𝐍 𝐀 𝐱 ∑ 𝐀 )+ (% 𝐍 𝐁 𝐱 ∑ 𝐁 )+ ………………+ (% 𝐍 𝐙 𝐱 ∑ 𝐙 )
𝐍
𝟑𝟎 (% 𝐂 𝐅𝐒𝐩 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (% 𝐂 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (% 𝐍 𝐅𝐒𝐩 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (% 𝐍 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟒𝟎,𝟎𝟖% 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔% 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (𝟐,𝟐𝟑 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟒𝟎,𝟎𝟖 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (𝟐,𝟐𝟑 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟒𝟎,𝟎𝟖 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 𝐉𝐏 )
= (𝟐,𝟐𝟑 𝐅𝐒𝐏𝐭)+ (𝟎,𝟖𝟔 𝐉𝐏 )
𝟏

𝟑𝟎 (𝟐, 𝟐𝟑 𝐅𝐒𝐏𝐭 + 𝟎, 𝟖𝟔 𝐉𝐏 = 𝟏(𝟒𝟎, 𝟎𝟖 𝐅𝐒𝐏𝐭 + 𝟑𝟕, 𝟖𝟔 𝐉𝐏)


𝟔𝟔, 𝟗 𝐅𝐒𝐏𝐭 + 𝟐𝟓, 𝟖 𝐉𝐏 = 𝟒𝟎, 𝟎𝟖 𝐅𝐒𝐏𝐭 + 𝟑𝟕, 𝟖𝟔 𝐉𝐏
𝟔𝟔, 𝟗 𝐅𝐒𝐏𝐭 − 𝟒𝟎, 𝟎𝟖 𝐅𝐒𝐏𝐭 = 𝟑𝟕, 𝟖𝟔𝐉𝐏 − 𝟐𝟓, 𝟖 𝐉𝐏
𝟐𝟔, 𝟖𝟐 𝐅𝐒𝐏𝐭 = 𝟏𝟐, 𝟎𝟔 𝐉𝐏
Sampai disini terdapat satu persamaan dengan dua variabel, dengan demikian
persamaan tidak dapat diselesaikan. Agar perhitungan dapat diselesaikan,
apabila ada satu persamaan harus ada satu variabel, oleh karena itu salah satu
variabel ditentukan jumlahnya. Misalkan jumlah feses sapi potong ditentukan 1
kg, dengan demikian perhitungan dapat diselesaikan dengan cara sebagai
berikut :
𝟐𝟔, 𝟖𝟐 𝐱 𝟏 = 𝟏𝟐, 𝟎𝟔 𝐉𝐏
𝟐𝟔,𝟖𝟐
𝐉𝐏 = 𝟏𝟐,𝟎𝟔  𝐉𝐏 = 𝟐, 𝟐𝟐

Kesimpulan : Jadi untuk mendapatkan campuran bahan organik pada dekomposisi


awal dengan nisbah C/N 30, sebanyak 1 Kg feses sapi potong dicampur dengan
2,22 Kg jerami padi.

2. Menggunakan 3 bahan organik


Contoh : Berapa jumlah (kg) feses domba (FDb), feses sapi potong dan jerami
padi (JP) yang digunakan untuk proses dekomposisi awal untuk menghasilkan
campuran yang mempunyai nisbah C/N 30.
Jawab :
Dengan menggunakan data hasil analisis C dan N dari ketiga bahan organik
tersebut, terlihat ada dua bahan organik, yaitu feses domba dan feses sapi potong
dengan nisbah C/N di bawah tiga puluh dan satu yang di atas 30 yaitu jerami padi.
Kedua bahan yang mempunyai nisbah C/N di bawah 30 dikelompokkan menjadi
satu kelompok bahan organik campuran (Cp), kemudian ditentukan proporsi antara
feses domba dan feses sapi potong sesuai ketersediannya. Misalkan satu bagian
feses domba dan dua bagian feses sapi potong, setelah itu dihitung kandungan
karbon dan nitrogen campuran tersebut dengan cara sebagai berikut :
- Kandungan karbon campuran feses domba dan feses sapi potong :
∑ 𝐂 𝐅𝐃𝐛+ ∑ 𝐂𝐅𝐒𝐏𝐭
𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐂 𝐂𝐩 (%) = ∑ 𝐅𝐃𝐛+ ∑𝐅 𝐒𝐏𝐭
𝐗 𝟏𝟎𝟎 %

∑ CFDb = Kandungan C FDb X 1


= 29,55 % X 1 = 0,2955 kg
∑ CFSPt = Kandungan C FSPt X 1
= 40,08 % X 2 = 0,8016 kg
𝟎,𝟐𝟗𝟓𝟓+𝟎,𝟖𝟎𝟏𝟔
𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐂 𝐂𝐩 (%) = 𝐗 𝟏𝟎𝟎 %
𝟑

𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐂 𝐂𝐩 (%) = 𝟑𝟔, 𝟓𝟕 %


Jadi kandungan C campuran feses domba dan feses sapi potong 36,57 %.
- Kandungan nitrogen campuran feses domba dan feses sapi potong :
∑ 𝐍 𝐅𝐃𝐛+ ∑ 𝐍𝐅𝐒𝐏𝐭
𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐍 𝐂𝐩 (%) = ∑ 𝐅𝐃𝐛+ ∑𝐅 𝐒𝐏𝐭
𝐗 𝟏𝟎𝟎 %

∑ N FDb = Kandungan N FDb X 1


= 1,44 % X 1 = 0,0144 kg
∑ N FSPt = Kandungan N FSPt X 1
= 2,23 % X 2 = 0,0446 kg
𝟎,𝟎𝟏𝟒𝟒+𝟎,𝟎𝟒𝟒𝟔
𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐂 𝐂𝐩 (%) = 𝐗 𝟏𝟎𝟎 %
𝟑

𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐂 𝐂𝐩 (%) = 𝟏, 𝟗𝟔 %
Jadi kandungan N campuran feses domba dan feses sapi potong 1,96 %.
Setelah diketahui kandungan karbon dan nitrogen campuran feses domba dan
feses sapi potong, maka nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan berikut :
𝟑𝟎 (% 𝐂 𝐅𝐂𝐩 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (% 𝐂 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (% 𝐍 𝐅𝐂𝐩 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (% 𝐍 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟑𝟔,𝟓𝟕% 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔% 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (𝟏,𝟗𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟑𝟔,𝟓𝟕 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (𝟏,𝟗𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐅𝐂𝐩 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝟏
𝟑𝟎 (𝟑𝟔,𝟓𝟕 𝐅𝐂𝐩 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 𝐉𝐏 )
= (𝟏,𝟗𝟔 𝐅𝐂𝐩)+ (𝟎,𝟖𝟔 𝐉𝐏 )
𝟏

𝟑𝟎 (𝟏, 𝟗𝟔 𝐅𝐒𝐏𝐭 + 𝟎, 𝟖𝟔 𝐉𝐏) = 𝟏(𝟑𝟔, 𝟓𝟕 𝐅𝐂𝐩 + 𝟑𝟕, 𝟖𝟔 𝐉𝐏)


𝟓𝟖, 𝟖 𝐅𝐂𝐩 + 𝟐𝟓, 𝟖 𝐉𝐏 = 𝟑𝟔, 𝟓𝟕 𝐅𝐂𝐩 + 𝟑𝟕, 𝟖𝟔 𝐉𝐏
𝟓𝟖, 𝟖 𝐅𝐂𝐩 − 𝟑𝟔, 𝟓𝟕 𝐅𝐂𝐩 = 𝟑𝟕, 𝟖𝟔𝐉𝐏 − 𝟐𝟓, 𝟖 𝐉𝐏
𝟐𝟐, 𝟐𝟑 𝐅𝐂𝐩 = 𝟏𝟐, 𝟎𝟔 𝐉𝐏
Sampai disini terdapat satu persamaan dengan dua variabel, dengan demikian
persamaan tidak dapat diselesaikan. Agar perhitungan dapat diselesaikan, apabila ada
satu persamaan harus ada satu variabel, oleh karena itu salah satu variabel ditentukan
jumlahnya. Misalkan jumlah campuran feses domba dan fesessapi potong ditentukan
1 kg, dengan demikian perhitungan dapat diselesaikan dengan cara sebagai
berikut :
𝟐𝟐, 𝟐𝟑 𝐱 𝟏 = 𝟏𝟐, 𝟎𝟔𝐉𝐏
𝟐𝟐,𝟐𝟑
𝐉𝐏 = 𝟏𝟐,𝟎𝟔  𝐉𝐏 = 𝟏, 𝟖𝟒

Dari hasil perhitungan tersebut, untuk tiap 1 kilogram campuran feses domba
dan kelinci harus dicampurkan dengan 1,84 Kg jerami padi. Sedangkan proporsi
feses domba dan feses sapi potong sudah ditentukan 1 : 2, sehingga jumlah feses
domba = 0,33 x 1 = 0,33 kg dan jumlah feses sapi potong 1 – 0,33 = 0,67 Kg.
Untuk memastikan perhitungan tersebut benar maka hasil tersebut dimasukkan ke
dalam persamaan berikut :
𝐂 (% 𝐂𝐅𝐃𝐛 𝐱 ∑ 𝐅𝐃𝐛 )+ (% 𝐂 𝐅𝐒𝐏𝐭 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (% 𝐂 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
= (% 𝐍𝐅𝐃𝐛 𝐱 ∑ 𝐅𝐃𝐛 )+ (% 𝐍 𝐅𝐒𝐏𝐭 𝐱 ∑ 𝐅𝐒𝐏𝐭 )+ (% 𝐍 𝐉𝐏 𝐱 ∑ 𝐉𝐏 )
𝐍
𝐂 (𝟐𝟗,𝟓𝟓 % 𝐱 𝟎,𝟑𝟑)+ (𝟒𝟎,𝟎𝟖 % 𝐱 𝟎,𝟔𝟕 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 % 𝐱 𝟏,𝟖𝟒 )
= (𝟏,𝟒𝟒 % 𝐱 𝟎,𝟑𝟑 )+ (𝟐,𝟐𝟑 % 𝐱 𝟎,𝟔𝟕 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 𝟏,𝟖𝟒 )
𝐍
𝐂 (𝟐𝟗,𝟓𝟓 % 𝐱 𝟎,𝟑𝟑)+ (𝟒𝟎,𝟎𝟖 % 𝐱 𝟎,𝟔𝟕 )+ (𝟑𝟕,𝟖𝟔 % 𝐱 𝟏,𝟖𝟒 )
= (𝟏,𝟒𝟒 % 𝐱 𝟎,𝟑𝟑 )+ (𝟐,𝟐𝟑 % 𝐱 𝟎,𝟔𝟕 )+ (𝟎,𝟖𝟔 % 𝐱 𝟏,𝟖𝟒 )
𝐍
𝐂 𝟏𝟎𝟔,𝟐𝟔𝟕𝟓
= = 𝟑𝟎, 𝟒
𝐍 𝟑,𝟒𝟗𝟏𝟕

Kesimpulan : Jadi untuk mendapatkan campuran bahan organik pada dekomposisi


awal dengan nisbah C/N 30, sebanyak 0,33 Kg feses sapi domba dicampur
dengan 0,67 feses sapi potong dan 1,84 Kg jerami padi.

3. Menggunakan 4 bahan organik atau lebih


Prinsip perhitungannya sama seperti menggunakan 3 bahan organik, yaitu bahan-
bahan organik yang mempunyai nisbah C/N dibawah persyaratan (kemudian
digolongkan bahan organik sumber N) dikelompokkan menjadi satu kelompok.
Sedangkan bahan-bahan organik yang mempunyai nisbah C/N diatas persyaratan
(kemudian digolongkan bahan organik sumber C) dikelompkkan menjadi kelompok
lain. Selanjutnya dihitung terlebih dahulu kandungan karbon dan nitrogen
campuran bahan organik sumber N serta kandungan karbon dan nitrogen
campuran bahan organik sumber C. Setelah didapat kandungan karbon dan
nitrogen campuran bahan organik tersebut, perhitungan selanjutnya sama seperti
Perhitungan nisbah C/N menggunakan 3 bahan organik.

B. Perhitungan Kandungan Air Campuran Bahan Organik


Air merupakan faktor penting dalam proses dekomposisi awal karena air
merupakan pelarut nutrisi. Kandungan air dalam campuran bahan organik pada
proses dekomposisi awal yang disyaratkan berkisar 40 – 60 % dan optimal 55 %.
Setelah komposisi campuran bahan organik diketahui, maka kandungan airnya
harus dihitung.
Prinsip perhitungan kandungan bahan organik sebagai berikut :

∑ 𝐚𝐢𝐫 𝐀 + ∑ 𝐚𝐢𝐫 𝐁+⋯+ ∑ 𝐚𝐢𝐫 𝐙


Kandungan air (%) = ∑ 𝐭𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐜𝐚𝐦𝐩𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐠𝐚𝐧𝐢𝐤 𝐗 𝟏𝟎𝟎 %

Contoh perhitungan kadar air campuran bahan organik :


Dari perhitungan komposisi bahan organik berdasarkan nisbah C/N diketahui
untuk mencapai nisbah C/N 30, sebanyak 1 Kg feses sapi potong dicampur dengan
2,22 Kg jerami padi. Untuk menghitung jumlah air dari masing-masing bahan
organik, harus diketahui kandungan airnya yang dapat dilihat pada Tabel 1. Dari
Tabel 1, diketahui kandungan air feses sapi potong 85 % dan kandungan air jerami
padi kering 15 %. Dengan demikian dapat dihitung jumlah air dari kedua bahan
organik tersebut.
Jumlah air masing-masing bahan organik sebagai berikut :

𝟖𝟓
∑air feses sapi potong = 𝟏𝟎𝟎 𝐗 𝟏 = 𝟎, 𝟖𝟓 𝐤𝐠

𝟏𝟓
∑air jerami padi = 𝟏𝟎𝟎 𝐗 𝟐, 𝟐𝟐 = 𝟎, 𝟑𝟑 𝐤𝐠
Dengan demikian kandungan air campuran feses sapi potong dan jerami padi
adalah sebagai berikut :

𝟎,𝟖𝟓 + 𝟎,𝟑𝟑
𝐗 𝟏𝟎𝟎 % = 𝟑𝟔, 𝟔𝟓 %
𝟏+𝟐,𝟐𝟐

Jadi kandungan air campuran feses sapi potong dan jerami padi 36,65 %.
Kandungan air tersebut belum memenuhi persyaratan oleh karena itu perlu
penambahan air sampai mencapai 55 % atau 60 %. Cara penambahan air
tersebut menggunakan persamaan :

(∑ 𝐚𝐢𝐫 𝐟𝐞𝐬𝐞𝐬 𝐬𝐚𝐩𝐢 𝐩𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠+ ∑ 𝐚𝐢𝐫 𝐣𝐞𝐫𝐚𝐦𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐢)+ 𝐗 𝟔𝟎


∑ 𝐭𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐜𝐚𝐦𝐩𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐠𝐚𝐧𝐢𝐤 +𝐗
= 𝟏𝟎𝟎

Keterangan : X = jumlah air yang harus ditambahkan


𝟔𝟎
= persentase air yang diharapkan (60 %)
𝟏𝟎𝟎

Penambahan air tersebut adalah sebagai berikut :


(𝟎,𝟖𝟓 + 𝟎,𝟑𝟑)+𝐗 𝟔𝟎
= 𝟏𝟎𝟎
𝟑,𝟐𝟐+𝐗

𝟏𝟎𝟎 (𝟏, 𝟏𝟖 + 𝐗) = 𝟔𝟎(𝟑, 𝟐𝟐 + 𝐗)


𝟏𝟏𝟖 − 𝟏𝟎𝟎𝐗 = 𝟏𝟗𝟑, 𝟐 + 𝟔𝟎𝐗)
𝟏𝟎𝟎𝐗 − 𝟔𝟎𝐗 = 𝟏𝟗𝟑, 𝟐 − 𝟏𝟏𝟖

𝟒𝟎𝐗 = 𝟕𝟓, 𝟐  𝐗 = 𝟏, 𝟖𝟖

Jadi air yang harus ditambahkan pada campuran feses sapi potong dan jerami
padi untuk mencapai kandungan air 60 % sebanyak 1,88 Kg. Pada praktikum
penambahan air ini bisa dengan satuan liter karena massa jenis air 1.