Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asidi-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam dan
basa. Secara sederhana, asam merupakan larutan yang memiliki pH diatas 7
sedangkan basa merupakan larutan yang memiliki pH kurang dari 7. Apabila
kedua larutan tersebut memiliki kekuatan yang sama, maka bila dicampurkan
dengan volume yang sama, akan didapat larutan yang memiliki pH netral. Titrasi
merupakan salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi dari larutan standar
sekunder, yaitu larutan yang dimana konsentrasinya didapat dengan cara
pembakuan. Yang dibantu dengan larutan standar sekunder atau larutan yang
konsentrasinya dapat diketehui secara langsung dari hasil penimbangan, yang
ditambahkan indikator pH sebagai penentu tingkat keasaman suatu larutan.
Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam
kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi,
kedokteran dan pertanian. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut
asidimetri-alkalimetri (Bassett, 1994).
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan praktikum analisis
alkalimetri.
B. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui konsentrasi HCl dan NaOH
2. Untuk mengetahui kadar asam asetat dalam cuka
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Analisa titrimetri atau analisa volumetri adalah analisis kuantitatif dengan


mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah
diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan
standar tersebut berlangsung secara kuantitatif. Analisis volumetri atau titrimetri
berdasarkan pada reaksi

aA + tT → Produk
Dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T, untuk
menghasilkan produk yang sifat pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut salah satu
larutan ( larutan standar ) konsentrasi dan pH-nya telah diketahui. Saat ekuivalen mol
titran sama dengan mol analitnya begitu pula mol ekuivalennya juga berlaku sama,
dengan demikian secara stoikiometri dapat ditentukan konsentrasi larutan kedua.
Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan
sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan (Bassett, 1994).
Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa
persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan, diantaranya:
a. Reaksi itu sebaiknya diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu dan tidak
adanya reaksi sampingan
b. Reaksi itu sebaiknya diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekuivalensi.
Dengan kata lain konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat
besar . Maka dari itu dapat terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit
(atau titran) pada titik ekuivalensi.
c. Diharapkan tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekuivalen
tercapai. Dan diharapkan pula beberapa indikator atau metode instrumental agar
dapat menghentikan penambahan titran
d. Reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan hanya beberapa
menit (Day, 1998).
Alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Larutan
analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau
sebaliknya. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit
asam atau basa. Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa, maka reaksi antara
analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut :
 Jika HA merupakan asam yang akan ditentukan dan BOH sebagai basa, maka
reksinya adalah: HA + OH→A- + H2O (analit asam, titran basa)
 Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka
reaksinya adalah: BOH + H3O+ → B+ + 2H2O (analit basa, titran asam) (Day,
1998).
Prinsip titrasi asam basa, titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa
sebagai titer maupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran
ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya
secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut titik
ekuivalen. Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan
pH larutan selama titrasi, yang terpenting adalah perubahan pH pada saat dan di
sekitar titik ekuivalen karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator
agar kesalahan titrasi sekecil-kecilnya. Larutan asam bila direaksikan dengan larutan
basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan
terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat
zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya
jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi
netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekuivalen
dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekuivalen reaksi. Titik ekuivalen
adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol
basa. Untuk menentukan titik ekuivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan
indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan
dalam menentukan titik ekuivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan
hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekuivalen. Salah satu kegunaan
reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak
diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Bila titrasi
menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi asidimetri-alkalimetri.
Analisis alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam
yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar dan titrasi
asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas)
dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hidrogen dan ion
hidroksida untuk membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut.
Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, yaitu:
a. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh
kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen.
b. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses
titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen tercapai,
pada saat inilah titrasi kita hentikan (Harjadi, 1990).
Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan
air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor
proton (asam ) dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan
kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan
menggunakan baku asam. Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini
digunakan indikator., indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk
asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk
warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang
lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu. Untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan sama atau basa diperlukan larutan standar/baku (Syukri, 1999).
Larutan baku/arutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui.
Larutan baku biasanya berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan buret, yang
sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan yang akan
ditentukan konsentrasinya atau kadarnya, diukur volumenya dengan menggunakan
pipet volumetri dan ditempatkan di Erlenmeyer. Larutan standar terbagi menjadi
(Syukri, 1999)
a. Larutan Standar Primer
Larutan titran haruslah diketahui komposisi dan konsentrasinya.
Idealnya kita harus memulai dengan larutan standar primer. Larutan standar
primer dibuat dengan melarutkan zat dengan kemurnian yang tinggi
(standar primer) yang diketahui dengan tepat beratnya dalam suatu larutan
yang diketahui dengan tepat volumnya. Apabila titran tidak cukup murni,
maka perlu distandardisasi dengan standar primer. suatu zat standar primer harus
memenuhi persyaratan, yaitu sebagai berikut:
1. Zat harus mudah diperoleh, mudah dimurnikan dan juga mudah dikeringkan
(sebaiknya pada suhu 1100C ± 1200C).
2. Zat harus tidak berubah dalam udara selama penimbangan. Kondisi-kondisi ini
mengisyaratkan bahwa zat tidak boleh higroskopis, tidak pula dioksidasi
udara atau dipengaruhi karbon dioksida. Standar ini juga harus dijaga agar
komposisinya tidak berubah saat penyimpanan.
3. Zat harus dapat diuji terhadap zat pengotor dengan uji-uji kualitatif atau uji-uji
lain yang kepekaannya diketahui (jumlah total zat-zat pengotor, umumnya
tidak boleh melebihi 0, 01-0, 02).
4. Zat harus mempunyai ekuivalen yang tinggi, sehingga sesatan penimbangan
dapat diabaikan.
6. Reaksi dengan larutan standar itu harus soikiometri dan praktis sekejap.
Sesatan titrasi harus dapat diabaikan atau mudah ditetapkan dengan cermat
dengan eksperimen (Charles, 1991).
b. Larutan Standar Sekunder
Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh
dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer (Charles, 1991).
c. Larutan Standar Tersier
Larutan standar tersier adalah larutan yang konseentrasinya diperoleh dengan
cara menitrasi dengan larutan standar sekunder yang terlebih dahulu telah
distandarisasi dengan larutan standar primer (Charles, 1991).
Indikator asam-basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH
lingkungannya berubah. Setiap indikator asam-basa mempunyai trayeknya sendiri,
demikian pula warna asam dan warna basanya. Diantara indikator ada yang
mempunyai satu macam warna, misalnya fenolftalein yang berwarna merah dalam
keadaan basa tetapi tidak berwarna bila keadaannya asam. Indikator satu warna
menunjukkan warna yang sama, juga dalam trayeknya, akan tetapi intensitas warna
tersebut berbeda sesuai dengan pHnya. Untuk fenolftalein, warnanya tampak semakin
tua bila pH semakin tinggi (mendekati 9,6) dan makin muda bila semakin kecil
(mendekati 8,0). Letak trayek fenolftalein diantara 8,0 sampai 9,6 sehingga pada pH
dibawah 8,0 larutan tak berwarna dan diatas 9,6 warna merah tidak berubah
intensitasnya. (Harjadi, 1990)
Beberapa indikator asam-basa yang penting
Warna
Nama Indikator Trayek pH
Asam Basa
1. Asam pikrat 0,1 – 0,8 Tidak berwarna Kuning
2. Biru timol 1,2 – 2,8 Merah Kuning
3. 2,6-Dinitrofenol 2,0 – 4,0 Tidak berwarna Kuning
4. Kuning metiil 2,9 – 4,0 Merah Kuning
5. Jingga metal 3,1 – 4,4 Merah Jingga
6. Hijau bromkresol 3,8 – 5,4 Merah Biru
7. Merah metal 4,2 – 6,3 Merah Kuning
8. Lakmus 4,5 – 8,3 Merah Biru
9. Purpur bromkresol 5,2 – 6,8 Kuning Purpur
10. Biru bromtimol 6,0 – 7,6 Kuning Biru
11. Merah fenol 6,4 – 8,0 Kuning Merah
12. p--Naftolftalein 7,0 – 9,0 Kuning Biru
13. Purpur kresol 7,4 – 9,6 Kuning Biru
14. Fenolftalein 8,0 – 9,6 Tidak berwarna Merah
15. Timolftalein 9,3 – 10,5 Tidak berwarna Biru
16. Kuning alizarin R 10,1 – 12,0 Kuning Violet
17. 1,3,5-
12,0 – 14,0 Tidak berwarna Jingga
Trinitrobenzen
Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan. Indikator
berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pada titrasi asam basa dikenal istilah
ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada proses titrasi ketika
asam dan basa tepay habis bereaksi. Untuk mengetahui titik ekuivalen digunakan
indikator. Saat perubahan warna terjadi, saat itu disebut titik akhir titrasi (Sukmariah,
1990).
Indikator Campuran
Untuk titrasi-titrasi tertentu kadang-kadang dipakai indikator campuran,
yakni campuran antara 2 buah indikator atau campuran sebuah indikator dengan suatu
zat warna biasa (bukan indikator pH, jadi tidak dapat berubah warna sekalipun pH
berubah). Indikator campuran tidak berubah warna seperti indikator biasa, tetapi pada
pH tertentu warnanya hilang dalam arti menjadi hitam yang dala prakteknya kelihatan
sebagai kelabu. Warna ini tampak jelas berbeda dari warna pada pH sedikit diatas
maupun dibawahnya, sehingga sangat mempermudah menentukan apakah larutan
sudah mencapai pH tersebut. Bila pH itu bertepatan dengan pH Titik Ekuivalen suatu
titrasi, maka titik akhir titrasi dapat ditentukan dengan mudah dan dengan ketelitian
yang besar. Indikator campuran terutama diperlukan apabila indikator biasa
menunjukkan perbedaan warna asam dan warna basa yang kurang jelas, sehingga
perubahan warna juga sama sekali tidak jelas. Warna pada pH tertentu itu hilang
karena pada pH tersebut warna kedua zat warna yang dicampur komplementer satu
sama lain. Jadi sinar putih akan diserap sebagian spektrumnya oleh zat warna yang
satu, tinggal zat warna itu sendiri, tetapi karena warna ini komplementer dengan
warna zat warna yang lain, maka sisa ini diserap dengan perkataan lain sinar habis
diserap, atau menjadi gelap, hitam, kelabu (Sukmariah, 1990).
Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan
air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor
proton (asam ) dengan penerima proton (basa). Alkalimetri merupakan penetapan
kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan
menggunakan baku asam. Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini
digunakan indikator., indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk
asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk
warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang
lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu. Untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan sama atau basa diperlukan larutan standar/baku (Sukmariah, 1990).
Untuk larutan baku alkali, umumnya digunakan natrium hidroksida, kalium
hidroksida dan barium hidroksida. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon
dioksida dari udara, oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat.
Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang (Sukmariah, 1990).
BAB III
METODE KERJA
A. Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Kamis/20 April 2017
Waktu : 15.00- 18.00 Wita
Tempat : Laboratorium Kimia DIII Analis Kesehatan STIKes Mega
Rezky Makassar
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan adalah gelas ukur, labu ukur, buret, penyangga
buret, pipet tetes, erlenmeyer, gelas kimia, corong, batang pengaduk, neraca
analitik, botol semprot.
2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah indikator PP, larutan NaOH 0,1 N, cuka,
dan asam asetat.
C. Prosedur Kerja
1. Pembuatan NaOH 0,1 N
𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝐵𝐸 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑁𝑎𝑂𝐻 (𝑚𝐿)
gr NaOH =
1000

𝑔
0,1 𝑁 𝑥 40 ⁄𝑒𝑘 𝑥 1000 𝑚𝐿
=
1000

= 4 gram
a. Ditimbang 4 gram NaOH dengan menggunakan neraca analitik.
b. Dilarutkan dalam aquades 100 mL.
c. Dimasukkan kedalam labu ukur sampai tanda batas, kemudian
dihomogenkan.
2. Pembuatan Asam Oksalat
𝑁 𝑎.𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑥 𝐵𝐸 𝑎.𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑥 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑥 𝑎.𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡
gr asam oksalat =
1000
𝑔
0,1 𝑁 𝑥 63,035 ⁄𝑒𝑘 𝑥 250 𝑚𝐿
=
1000
= 1,57 gram
a. Dimbang 1,57 asam oksalat dengan menggunakan neraca analitik
b. Dilarutkan dalam aqudes 250 mL
c. Dimasukkan kedalam labu ukur sampai tanda batas, kemudian
dihomogenkan
3. Pembuatan Cuka
g cuka = g gelas kimia cuka- g gelas kimia kosong
= 142,646- 130,374
= 12,272 gram
= 12,272 gram x 1000
= 12272 mg
a. Ditimbang gelas kimia kosong dengan mengguanakan neraca analitik dan
dicatat hasil yang didapatkan .
b. Dimasukkan 5 mL cuka kedalam gelas kimia kosong, lalu ditimbang
kembali dan dicatat hasil yang didapat.
c. Kemudian hasil penimbangan gelas kimia yang berisi cuka 5 mL dikurang
gelas kimia kosong dan didapat hasil 12,727.
d. Ditimbang cuka 12,727 gram menggunakan neraca analitik.
e. Dilarutkan kedalam aquades 100 mL.
f. Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL dan diisi sampai tanda batas,
kemudian dihomogenkan.
4. Standarisasi NaOH 0,1 N
a. Diisi larutan NaOH 0,1 N kedalam buret sampai tanda batas 10 mL.
b. Dipipet 25 mL larutan asam oksalat kedalam Erlenmeyer.
c. Ditambahkan 4 tetes indikator PP.
d. Kemudian dititrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna dari
bening sampai berubah menjadi merah muda.
e. Dicatat volume akhir pada buret dan jumlah NaOH yng dipakai.
5. Standarisasi Asam Asetat dalam cuka
a. Diisi larutan NaOH 0,1 N kedalam buret sampai tanda batas 50 mL.
b. Dipipet 25 mL larutan asam cuka kedalam erlenmeyer.
c. Kemudian ditambahkan 4 tetes indikatori PP.
d. Lalu dititrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna dari bening
ke warna merah jingga.
e. Dicata volume akhir pada buret dan jumlah NaOH yang dipakai.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Hasil Pengamatan


1. Penentuan konsentrasi NaOH
No VH2C2O4.2H2O VNaOH Indikator Perubahan warna
1 25 mL 18,5 mL PP Merah Muda
2 25 mL 18,6 mL PP Merah Muda
Rata-rata 25 mL 18,55 mL PP Merah Muda

2. Penentuan kadar asam asetat dalam cuka


No Volume Cuka V NaOH Indikator Perubahan warna
1 25 mL 15,3 mL PP Merah Jingga
2 25 mL 15, 6 mL PP Merah Jingga
Rata-rata 25 mL 15,45 mL PP Merah jingga

B. Reaksi
1. Penetuan Konsentrasi NaOH
(COOH)2 . 2H2O + 2NaOH Na2C2O4 + 4H2O
2. Penuntuan Kadar asam dalam asam cuka
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

C. Perhitungan
1. Pembakuan NaOH
a. Normalitas H2C2O4
𝑔
BE asam oksalat = 63,035 ⁄𝑒𝑘
𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡
N H2C2O4 . 2H2O =
𝐵𝐸 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑜𝑘𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑥 𝑉.𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 (𝐿)

15,7 𝑔
= 𝑔
60,035 ⁄𝑒𝑘 𝑥 0,25 𝐿

1,57 𝑔
=
15
= 0,1 N
2. Penentuan normalitas NaOH
V1.N1 = V2N2
25 mL . 0,1 N = 19,65 mL . N2
2,5 mL = 19,65 mL . N2
2,5 𝑚𝐿
N1 =
18,55 𝑚𝐿

= 0,1 N
3. Penentuan kadar asam asetat dalam cuka
𝑔
BE asam asetat = 60,0052 ⁄𝑒𝑘
𝑁 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝐵𝐸 𝑎.𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡 𝑥 𝐹𝑃
CH3COOH = x 100%
𝑚𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝑒𝑞⁄
0,1 𝑁 𝑚𝐿 𝑥 15,45 𝑚𝐿 𝑥 60,0052 𝑥 4
= x 100%
12.272
= 3,021%
D. Pembahasan
Analisis alkalimetri adalah suatu analisis untuk mengetahui kadar asam
suatu larutan dengan menggunakan larutan standar/baku basa.
Pada praktikum analisis alkalimetri yang pertama-tama dilakukan adalah
pembuatan larutan NaOH 0,1 N dengan pengenceran, 4 gram NaOH dilarutkan
dalam 1000 mL aquades. Kemudian dibuat larutan asam oksalat dengan cara
ditimbang 1,57 gram asam oksalat kemudian dilarutkan dalam 250 mL aquades
lalu dihomogenkan. Selanjutnya dibuat larutan cuka dengan cara ditimbang gelas
kimia kosong lalu dicatat hasilnya, kemudian ditambahkan cuka 5 mL lalu
ditimbang kembali dicatat hasilnya. Setelah itu hasil penimbangan gelas kimia
berisis 5 mL cuka dikurang berat gelas kimia kosong sehingga didapat hasil yaitu
12,271 gram cuka. Selanjutnya ditimbang 12,271 gram cuka kemudian dilarutkan
dalam larutan aquades 100 mL lalu dihomogenkan.
Setelah pembuatan bahan selesai selanjutnya dilakukan proses titrasi.
Titrasi merupakan teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk
menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penetuannya
menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara
pasti. Dipraktikum analisis alkalimetri ini dilakukan standarisasi NaOH dengan
asam oksalat, dalam percobaan ini larutan NaOH berfungsi sebagai larutan
standar sekunder atau titran yang ditempatkan diburet, kemudian larutan asetat
berfungsi sebagai larutan standar primer ataupun sebagai analit sehingga
ditempatkan di erlemeyer. Selanjutnya pada larutan asam asetat ditambahkan
indikator PP yang berfungsi untuk menunjukkan tercapainya titik akhir titrasi
atau titik ekuivalen yang ditandai dengan perubahan warna dari bening menjadi
merah muda. Selanjutnya dilakukan titrasi antara NaOH dan asam asetat hingga
mencapai titik ekuivalen, sehingga diperoleh volume NaOH yang digunakan
pada percobaan pertama 18,6 mL kemudian pada percobaan kedua 18,5 mL
NaOH sehingga volume rata-ratanya adalah 18,55 mL dan dari hasil yang
diperoleh ini maka konsentrasi NaOH sebesar 0,1 N.
Selanjunya dilakukan percobaan penetapan kadar asam asetat dalam cuka
dengan cara metode titrasi dimana dalam percobaan ini larutan NaOH berperan
sebagai larutan baku sehingga ditempatkan diburet. Sedangkan larutan cuka
berfungsi sebagai larutan baku primer. Kemudian pada larutan cuka
ditambahkan 4 tetes indikator PP yang berfungsi untuk menandai titik akhir
titrasi atau telah mencapa titik ekuivalen yang ditandai dengan perubahan
warna. Pada larutan dari tidak berwarna menjadi merah jingga. Setelah
dilakukan titrasi didapat bahwa pada percoban pertama volume NaOH yang
digunakan adalah 15,3 mL dan pada percobaan kedua 15.6 mL sehingga rata-
rata volume NaOH yang digunakan adalah 15,45 mL, berdasarkan dari data ini
maka diperolah kadar asam asetat dalam cuka adalah 3,021 %.
Pada percobaan ini dilakukan duplo atau proses titrasi tersebut dilakukan
dua kali yang bertujuan agar diketahui hasil titrasi yang diperoleh relatif dekat
dengan hasil pengukuran volume yang dibutuhkan untuk mencapai titik
ekuivalennya serta ketepatan volume yang digunakan dalam proses tirasi.
Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada saat praktikum adalah
konsentrasi larutan standar yang tidak sesuai atau tepat dengan yang
dibutuhkan, serta kesalahan dalam mengamati perubahan warna yang terjadi
pada saat mencapai titik ekuivalen, dan terkontaminasinya atau tercampurnya
larutan bahan yang digunakan dan kurangnya ketelitian dalam pengerjaannya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari praktikum alkalimetri ini praktikum dapat disimpulkan bahwa pada
standarisasi NaOH volume rata-rata NaOH yang digunakan adalah 18,55 mL,
sehingga konsentrasi NaOH yang didapat adalah 0,134 N, kemudian pada
percobaan penentuan asam asetat dalam cuka, volume rata-rata NaOH adalah
sebanyak 15,45 mL dengan berdasarkan seluruh data yang ada kadar asam asetat
dalam cuka adalah 3,021%.

B. Saran
Pada praktikum kali ini sebaiknya menggunakan alat pelindung diri yang baik
dan benar agar tidak terjadi kontaminasi pada larutan-larutan yang dipakai saat
melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Bassett. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analytic Kuantitatif Anorganik. Kedokteran.
EGC. Jakarta.
Charles W. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.

Day, R.A. dan S. Keman. 1998. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi dua. Binarupa Aksara. Jakarta.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung. ITB.