Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Asidimetri

I. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar NaOH.

II. Tinjauan Pustaka


Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam
kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang
bersifat basa, ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau
garamnya).
Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi akan melibatkan pengukuran
yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan
saling menetra1kan. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah
salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis
titrimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang
terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu
standar (asidimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion
hidroksida untuk membentuk air (Bassett, 1994).
Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri, di mana zat dibiarkan
bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari
buret dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit)
kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat,
reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar, 1990).
Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting :
asam, basa dan garam. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam
air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya
ion positif. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang
sedang, karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asam lemah berdisosiasi hanya
sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla, 1990).
Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka
terhadap proton yang berlainan. Makin kuat asam, makin lemah basa
konjugatnya. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk titrasi, suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut
sebelum digunakan:

Laporan Praktikum Asidimetri | 1

1. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu.


Tidak boleh ada reaksi samping.
2. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik
ekivalensi. Dengan kata lain, tetapan keseimbangan reaksi harus sangat
besar.
3. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi
tercapai. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara
instrumen

dapat

digunakan

untuk

memberitahu

analisis

kapan

penambahan titran dihentikan.


4. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja)
(Day dan Underwood, 1999).
Larutan standard adalah larutan yang mengandung reagensia dengan bobot di
ketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan. Terdapat dua macam
larutan standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan
standar dalam titrasi memegang peranan yang amat penting, hal ini disebabkan
larutan ini telah diketahui konsentrasi secara pasti (artinya konsentrasi larutan
standar adalah tepat dan akurat). Larutan standar merupakan istilah kimia yang
menunjukkan bahwa suatu larutan telah diketahui konsentrasinya. Terdapat dua
macam larutan standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder.
Larutan standar primer adalah larutan standar yang konsentrasinya diperoleh
dengan cara menimbang.
Syarat senyawa yang dapat dijadikan standar primer:
1. Memiliki kemurnian 100%.
2. Bersifat stabil pada suhu kamar dan stabil pada suhu pemanasan
(pengeringan) disebabkan standar primer biasanya dipanaskan dahulu
sebelum ditimbang.
3. Mudah didapatkan (tersedia diaman-mana).
4. Memiliki berat molekul yang tinggi (MR), hal ini untuk menghindari
kesalahan relative pada saat menimbang. Menimbang dengan berat yang
besar akan lebih mudah dan memiliki kesalahan yang kecil dibandingkan
dengan menimbang sejumlah kecil zat tertentu.
Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh
dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer. NaOH tidak dapat dipakai
untuk standar primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh sebab itu maka
NaOH harus dititrasi dahulu dengan KHP agar dapat dipakai sebagai standar
primer. Begitu juga dengan H2SO4 dan HCl tidak bisa dipakai sebagai standar
primer, supaya menjadi standar sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan
larutan standar primer NaCO3.
Laporan Praktikum Asidimetri | 2

Mempelajari titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil


jurusan kimia dan bidang-bidang yang berhubungan dengannya. Titrasi sampai
sekarang masih banyak dipakai di laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat
dan tidak membutuhkan banyak reagen.
Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang
dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana
penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui
konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan
yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang
menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.
Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui
konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan
standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui
konsentrasinya diletakkan di Erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh
keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran
habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen. Mungkin
kamu bertanya apabila kita menggunakan dua buah larutan yang tidak bewarna
seperti H2SO4 dan NaOH dalam titrasi, bagaimana kita bisa menentukan titik
equivalent?. Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara
yang umum adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna
dengan adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat
langsung menghentikan proses titrasi.
Sebagai contoh titrasi H2SO4 dengan NaOH digunakan indicator
fenolpthalein (pp). Bila semua larutan H2SO4 telah habis bereaksi dengan NaOH
maka adanya penambahan sedikit mungkin NaOH larutan akan berubah warna
menjadi merah mudah. Bila telah terjadi hal yang demikian maka titrasi pun kita
hentikan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna
indicator disebut sebagai titik akhit titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik
equivalent yang berdekatan dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama.
Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus:
V.N titran = V.N analit
Dimana V adalah volume dan N adalah normalitas. Kita tidak menggunakan
molaritas (M) disebabkan dalam keadaan reaksi yang telah berjalan sempurna
(reagen sama-sama habis bereaksi) yang sama adalah mol-equivalen bukan mol.
Mol-equivalen dihasilkan dari perkalian normalitas dengan volume. Tidak semua
zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syaratsyarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode
Laporan Praktikum Asidimetri | 3

titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam peralatan
yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan
teknik titrasi. Cara Melakukan Titrasi Asam Basa:
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke dalam
buret
2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau
erlenmeyer).Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran.
3. Tambahkan indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenoftalien
4. Rangkai alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat tepat
dibawah ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu putih di
bawah wadah titrat
5. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit)
sampai larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan
diperoleh titik akhir titrasi. Hentikan titrasi!!
Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran, maka dapat
menggunakan bahan kimia, yaitu indikator, yang bereaksi terhadap kehadiran
titran yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Perubahan warna ini
bisa saja terjadi persis pada titik ekivalen , tetapi bisa juga tidak. Titik dalam
titrasi dimana indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan
Underwood).
Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara
stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Pada umumnya, titik
ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi.Ketelitian
dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu
senyawa.Untuk

menggetahui

kesempurnaan

berlansungnya

reaksi

maka

digunakan suatu zat yang disebut indicator.


Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas
dalam rentang pH yang sempit. Jenis indikator yang khas adalah asam organik
yang lemah yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. Indikator
yang baik mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya
beberapa tetes larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan
yang sedang diuji. Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir
tidak berpengaruh terhadap pH larutan. Perubahan warna indikator mencerminkan
pengaruh asam dan basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby, 2001).

Laporan Praktikum Asidimetri | 4

III. Cara Kerja


3.1. Pembuatan larutan standar primer

3.2. Pembuatan larutan standar sekunder

3.3. Pembuatan sampel

3.4. Pembakuan

Laporan Praktikum Asidimetri | 5

3.4. Penetapan kadar

IV. Hasil Percobaan dan Pembahasan


4.1. Data Pengamatan
- Standarisasi HCl
I

II

III

Titik Akhir

16,35 mL

13,35 mL

13,75 mL

Titik Awal

3,2 mL

0 mL

0 mL

Selisih

13,15 mL

13,35 mL

13,75 mL

13,41 mL

Rata-rata

Rata-rata

Penetapan Konsentrasi NaOH


I

II

III

Titik Akhir

3,60 mL

6,70 mL

10,25 mL

Titik Awal

0 mL

3,60 mL

6,70 mL

Selisih

3,60 mL

3,10 mL

3,55 mL

3,41 mL

4.2. Perhitungan, dan Persamaan Reaksi


Pembakuan HCl dengan Na2B4O7.10H2O
Dik : - massa Na2B4O7.10H2O = 9,55 gram - BM = 382 g/mol
- Volume larutan

= 250 mL
Laporan Praktikum Asidimetri | 6

Dit : N HCl =.....?


Jawab
Mol Na2B4O7.10H2O = massa / BM
= 9,55 gram / 382 g/mol
= 0,025 mol
M Na2B4O7.10H2O = mol Na2B4O7.10H2O / V
= 0,025 mol / 0.25 L
= 0,1 M
N Na2B4O7.10H2O = M Na2B4O7.10H2O x n
= 0,1 M x 1
= 0,1 N

Na2B4O7.10H2O + 2HCl 4H3BO3 + 2NaCl + 5H2O


2 x N1 x V1 = N2 x V2
2 x (0,1N) x 10 mL = N2 x Vtitrasi/3
2 x (0,1 N) x 10 mL = N2 x 40,25/3 mL
0,002 = N2 x 13,41 mL
N2

= 0,00015 N = 1,5 x 10-4 N

Jadi, Normalitas HCl adalah 1,5 x 10-4 N.


Penentuan kadar NaOH
NaOH + HCl NaCl + H2O
N1 x V1 = N2 x V2
NNaOH x 10 mL = N HCl x Vtitrasi/3
NNaOH x 10 mL = (1,5 x 10-4 N )x 10,25 / 3 mL
NNaOH x 10 mL = 0,00004
N NaOH = 0,0004 N = 4 X 10-4 N
% kadar b/v

= N NaOH x BM x (10/100) 100 %


= (4 X 10-4 N x 40 g/mol x 0,1) 100 %
= (0,0016) 100 %
= 0,16 %

Jadi, kadar NaOH adalah 0,16 %.


Laporan Praktikum Asidimetri | 7

4.3. Pembahasan
Praktikum

dimulai

dengan

mempersiapkan

perlengkapan

keamanan seperti jas lab, masker, dan sarung tangan. Kemudian


dilanjutkan dengan menyiapkan alat serta bahan seperti : Buret, Pipet
tetes, Erlenmeyer 250 ml, Corong kaca, gelas beker, Batang pengaduk,
Gelas ukur 100 ml, Labu ukur 250 ml, Aquadest, Na2B4O7.10H2O, NaOH,
dan HCl.
Pada praktikum asidimetri ini, sampel yang akan ditentukan
konsentrasi atau kadarnya adalah senyawa basa kuat yaitu natrium
hidroksida atau soda kaustik (NaOH). Pada saat pembuatan sample NaOH
masih berbentuk kristal, kemudian NaOH ditumbuk menjadi bubuk hal ini
dilakukan agar NaOH dapat cepat larut dalam aquades. Kemudian setelah
NaOH menjadi bubuk ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik
sampai massanya 0,1 gram, setelah ditimbang kemudian NaOH di larutkan
dengan aquades pada gelas beker sebanyak 100 mL, setelah itu larutan
NaOH dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL.
Larutan HCl yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam
buret (pipa panjang berskala) melalui corong terlebih dahulu, hal ini
bertujuan agar pertumpahan larutan baku dapat lebih diminimalisir dan
jumlah titran yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan
sesudah titrasi. Larutan Na2B4O7.10H2O yang dititrasi dimasukkan
kedalam gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih
dahulu dengan memakai pipet. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai
indicator metil orange.
Pada praktikum kemarin kami menggunkan indicator metil orange
yang akan berubah warna menjadi jingga pada saat telah tercapainya titik
ekivalen, namun pada saat praktikum, perubahan warna yang terjadi
adalah jingga agak kegelapan karena titik ekivalennya telah terlampaui.
Pada saat melakukan titrasi natrium tetraboraks dengan asam
klorida dilakukan selama 3 kali, hal ini di lakukan agar kita dapat nilai
rata-rata yang lebih tepat dan lebih akurat.
Setelah selesai melakukan pembakuan natrium tetraboraks dengan
asam klorida sebanyak 3 kali, kami langsung mentitrasi sample yaitu
NaOH dititrasi dengan HCl. Sama halnya dengan cara pembakuan natrium
tetraboraks dengan HCl, mula-mula kami menuangkan larutan HCl
kedalam buret dengan menggunakan corong kaca, hal ini di lakukan agar

Laporan Praktikum Asidimetri | 8

menghindari larutan HCl tumpah, karena larutan HCl adalah asam kuat
yang berbahaya jika terkena kulit atau anggota tubuh lainnya.
Kemudian Larutan NaOH yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas
kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu yaitu
sebanyak 10 mL dengan memakai pipet. Untuk mengamati titik ekivalen,
dipakai indicator metil red.
Pada praktikum kemarin kami menggunkan indicator metil red
yang akan berubah warna menjadi merah muda pada saat telah tercapainya
titik ekivalen.
Untuk perhitungan kadar dari natrium tetraboraks digunakan rumus :
% (b/v) sampel = N x BM x (10/100) 100%
Sehingga dari hasil perhitungan tersebut, kadar natrium hidroksida
adalah 0,16 % (b/v).
Dan reaksi yang terjadi pada praktikum asidimetri ini adalah :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl 4H3BO3 + 2NaCl + 5H2O
Dan
NaOH + HCl NaCl + H2O
Adapun untuk reaksi antara metil orange dengan HCl yaitu:
HCl + C14H14N3NaO3S H(N3)Na(O3)S + C14H14Cl
Reaksi antara metal merah dengan NaOH yaitu:
NaOH + C15H15N3O2 C15H14N3O2 + H2O + Na
Seperti kita ketahui bahwa metil orange berwarna kuning dalam
larutan basa dan berwarna merah dalam larutan asam. Struktur dalam
larutan basa:

Dalam larutan asam, ion hidrogen (barangkali tidak diharapkan)


menempel pada salah satu nitrogen pada ikatan rangkap dua nitrogennitrogen.

Laporan Praktikum Asidimetri | 9

Muatan positif pada nitrogen terdelokalisasi (menyebar ke seluruh


struktur) khususnya ke bagian molekul sebelah kiri. Umumnya
penggambaran struktur untuk metil orange yang berwarna merah adalah . .
.

Struktur manakah yang lebih terdelokalisasi merah atau kuning?


Mari lihat ke belakang pada bagian spektra serapan untuk melihat apakah
hal tersebut dapat membantu.
Bentuk kuning mempunyai serapan sekitar 440 nm. Ini berada di daerah
biru dari spektrum, dan warna komplementer biru adalah kuning. Ini
seperti yang kita harapkan.
Bentuk merah mempunyai puncak serapan sekitar 520 nm. Ini terdapat
pada ujung daerah sian dari spektrum, dan warna komplementer sian
adalah merah. Sekali lagi sesuai harapan kita.
Perlu diingat bahwa perubahan dari bentuk kuning ke merah menghasilkan
peningkatan panjang gelombang serapan. Peningkatan panjang gelombang
menunjukan kenaikan delokalisasi. Itu artinya bahwa harus ada
delokalisasi yang lebih besar pada bentuk merah daripada bentuk kuning.
Berikut adalah struktur bentuk kuning:

Delokalisasi akan melebar ke seluruh struktur hingga pasangan


elektron bebas di sebelah kiri atom nitrogen. Jika kita menuliskan struktur
yang umum untuk bentuk merah, delokalisasi rusak di bagian tengah
pola selang-seling ikatan tunggal dan rangkap dua hilang.

Laporan Praktikum Asidimetri | 10

Jika kita menggambarkan dua strktur Kekul yang mungkin untuk


benzena, anda akan tahu bahwa struktur benzena sebenarnya tidaklah
seperti itu. Struktur yang sebenarnya adalah diantara keduanya semua
ikatan adalah identik dan berada diantara karakter ikatan tunggal dan
rangkap dua. Hal ini karena adanya delokalisasi pada benzena.

Dua struktur itu disebut sebagai struktur yang diterima, dan


keduanya dapat dipakai untuk menggambarkan struktur yang sebenarnya.
Sebagai contoh, penggambaran ikatan pada sisi kanan atas molekul tidak
benar-benar tunggal atau rangkap dua, tetapi diantara keduanya. Demikian
juga untuk semua ikatan yang ada. Dua struktur yang kita miliki
sebelumnya yang menggambarkan bentuk merah dari metil orange juga
merupakan bentuk yang dapat diterima struktur metil orange dapat
digambarkan dalam dua bentuk. Kita dapat menunjukan struktur
terdelokalisasinya:

Dua bentuk ini merupakan hasil pergerakan elektron dalam struktur, tanda
panah bergelombang dipakai untuk menunjukan bagaimana struktur
tersebut berubah.

Laporan Praktikum Asidimetri | 11

Dalam kenyataannya, elektron tidak bergeser penuh. Hanya dalam


kasus benzena, struktur yang sebenarnya berada diantaranya. Kita dapat
juga memahami bahwa penggambaran bentuk yang dapat diterima tidak
berpengaruh pada geometri struktur. Jenis, panjang dan sudut ikatan tidak
berubah pada struktur sebenarnya. Sebagai contoh, pasangan elektron
bebas pada atom nitrogen yang ditunjukan dalam gambar terakhir
keduanya terlibat delokalisasi. Untuk terjadinya hal ini semua ikatan di
sekitar nitrogen harus berada dalam sisi yang sama dengan pasangan
elektron bebas sehingga dapat terjadi tumpang-tindih dengan orbital atom
tetangga pada sisi-sisinya. Kenyataannya pada masing-masing bentuk
yang dapat diterima satu dari nitrogen ini ditunjukan berlaku seperti pada
amonia seperti terjadi kesalahan pengaturan ikatan dan terlihat jika
delokalisasi dirusak.
Masalahnya

adalah

tidak

mudah

menggambarkan

struktur

delokalisasi yang rumit dengan gambar sederhana. Hal ini cukup sulit
untuk benzena untuk metil oranye ada metode yang memberikan
kemungkinan kekeliruan jika anda tidak menggunakan bentuk yang dapat
diterima.
Akan lebih rumit, Jika kita melakukan hal ini dengan hati-hati akan ada
bentuk lain yang dapat diterima dengan penataan ikatan tunggal dan
rangkap yang berbeda dan dengan posisi muatan positif pada berbagai
tempat di sekitar cincin dan pada atom nitrogen lain.
Struktur yang sebenarnya tak dapat ditunjukan dengan salah satu dari
bentuk-bentuk yang mungkin, tetapi masing-masing memberikan petunjuk
bagaimana terjadinya delokalisasi.
Jika kita mengambil dua bentuk dan menuliskan kemungkinan yang paling
besar, ini menunjukan bahwa ada delokalisasi elektron di seluruh struktur,
tetapi kerapatan elektron yang sedikit agak rendah di sekitar dua nitrogen
menyebabkan muatan positif muncul pada salah satu bentuk yang diterima
atau lainnya.Lalu mengapa bentuk merah lebih terdelokalisasi daripada
bentuk kuning?
Akhirnya, kita menerima penjelasan mengapa delokalisasi lebih
besar pada bentuk merah metil orange dalam larutan asam daripada bentuk
kuning dalam larutan basa.

Laporan Praktikum Asidimetri | 12

Jawaban dapat didasarkan pada fakta bahwa pasangan elektron


bebas terlibat penuh dalam delokalisasi bentuk merah sebagaimana yang
kita gambarkan. Bentuk yang dapat diterima dengan muatan positif pada
nitrogen menunjukan gerakan yang signifikan bahwa pasangan elektron
bebas bergerak ke seluruh molekul. Bukankah hal yang sama juga terjadi
pada pasangan elektron bebas nitrogen yang sama dalam bentuk kuning
metil orange? Secara keseluruhan tidak sama.
Bentuk yang dapat diterima yang kita gambar menghasilkan atom
bermuatan negatif lain pada seluruh struktur. Pemisahan muatan negatif
dan positif secara energetika tidak disukai. Pada bentuk merah, tidak ada
pemisahan muatan yang baru hanya menggeser muatan positif di sekitar
struktur. (Sumber: http://www.chem-is-try.org)
Methyl red biasa digunakan sebagai zat warna monoazo di
laboratorium dan industri tekstil, serta industri-industri lainnya. Struktur
molekul methy red dapat dilihat pada Gambar 2.

Penggunaan methyl red dapat menyebabkan gangguan/iritasi pada


mata dan kulit (Hayes, et.al,, 2004), iritasi pada saluran pencernaan,
faringeal bila terhirup atau tertelan (Badr, Y, et al., 2008), terlebih methyl
red bersifat mutagenik pada kondisi aerobik, mengalami biotransformasi
menjadi asam 2-aminobenzoat dan N-N dimetil-p-fenilen diamin (Vijaya,
P. P, S. Sandhya, 2003).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Rosemal, Haris,
dan Sathasivam, pada tahun 2009 tentang adsorpsi zat warna methyl red
menggunakan serat pseudotesm pada pisang didapatkan hasil panjang
gelombang maksimum zat warna methyl red pada berbagai variasi pH
seperti tercantum pada Tabel 1(Rosemal, Haris,dan Sathasivam, 2009:
1694).

Laporan Praktikum Asidimetri | 13

V. Kesimpulan

Dari percobaan pembakuan larutan HCL dengan natrium tetraboraks kami


mendapatkan normalitas sebesar 1,5 x 10-4 N.

Dari percobaan penetapan kadar natrium hidroksida didapat % kadar b/v


nya sebesar 0,16 % (b/v).

Titik Akhir berwarna jingga pada pembakuan HCL di pengaruhi oleh


reaksi antara natrium tetraboraks dengan titran, sedangkan pada Penetapan
kadar perubahan warna menjadi merah jambu dikarenakan pengaruh
reaksi NaOH dengan titran.

Digunakan titran HCL sebagai pemberi suasana asam, sehingga


menjadikan larutan yang ada dalam erlenmeyer menjadi netral, terjadilah
reaksi netralisasi yaitu :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl 4H3BO3 + 2NaCl + 5H2O
Dan
NaOH + HCl NaCl + H2O

Laporan Praktikum Asidimetri | 14

VI. Daftar Pustaka


http://dwitaariyanti.blogspot.com/2010/07/asidimetri-dan-alkalimetri.html
diakses 26 Desember 2014
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press: Jakarta
Keenan, Charles W., 1980, Ilmu Kimia untuk Universitas, Edisi VI, 422,
Erlangga, Jakarta
Khopkar.1984. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Daintith, J.,1997, Kamus Lengkap Kimia, 7, 17, Erlangga, Jakarta
Day, R.A dan Underwood, A.L. 1998. Anilisa Kimia Kuantitafif.
Erlangga: Jakarta
http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-titrasi/ diakes 26 Desember 2014
http://hikaride.blogspot.com/2013/12/laporan-titrasi-asidimetri.html
diakses 26 Desember 2014
http://www.chem-istry.org/materi_kimia/instrumen_analisis/spektrum_serapan_ultraviolettampak__uv-vis_/spektra_serapan_uv_tampak/ diakses 2 Januari 2015

Cirebon, 17 Desember 2014


Asisten Praktikan

Praktikan

Tania Avianda Gusman M,Sc.

Nurazizah Fitriyani Nahri

Laporan Praktikum Asidimetri | 15