Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KASUS FRAUD
“Laporan Keuangan Ganda Bank Lippo, Informasi Yang Menyesatkan”

Dosen Pengampu : Dr. Dien Noviany Rahmatika, MM.,Akt

Disusun Oleh :

1. Indar Satria Legowo (4315500063)


2. Lestari Ayu Handayani (4315500078)
3. Rachel Larasati (4315500134)
4. Tanti Wulandari (4315500169)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2018
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Dasar Teori
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Profil Singkat Bank Lippo
B. Skandal Laporan Keuangan Bank Lippo
C. Penyelesaian Kasus Oleh Pihak Berwenang
D. Analisa dan Solusi Dari Skandal LK Bank Lippo
E. Dampak Kasus Dari Skandal LK Bank lippo
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Dasar Teori
Berbicara mengenai sebuah perusahaan tak lepas dari bidang
akuntansi, karena dalam akuntansi mencakup semua informasi yang
dibutuhkan oleh pihak internal maupun eksternal mengenai keuangan
perusahaan dengan tujuan untuk bahan pertimbangan dalam mengukur kinerja
operasional sebuah perusahaan. Dalam akuntansi terdapat sebuah proses dari
transaksi sampai dengan menjadi sebuah informasi laporan keuangan dalam
hal ini laporan keuangan dibuat oleh seorang akuntan.
Didalam pekerjaan seorang akuntan pasti tidak terlepas dari
kemungkinan kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.
Jika kesalahan yang tidak disengaja biasa disebut dengan kekeliruan (error),
sebaliknya jika kesalahan itu terjadi karena kesengajaan seorang akuntan biasa
disebut dengan kecurangan (fraud). Untuk membuktikan bahwa fenomena
tersebut adalah sebuah kekeliruan atau kecurangan dalam bidang akuntansi
ada yang dikenal dengan auditing.
Auditing merupakan proses penelaahan atau pemeriksaan
sebuah organisasi/perusahaan/Instansi terkait benar atau tidaknya semua
kegiatan yang terjadi dalam organisasi/perusahaan/Instansi terkait. Siklus
auditing berkebalikan dengan siklus akuntan, jika auditing dimulai dari
pemeriksaan Laporan keuangan, Buku besar dan Transaksi sedangkan akuntan
dimulai dari proses transaksi, jurnal, buku besar dan laporan keuangan.
Dengan adanya auditing diharapkan dapat menjadi jalan tengah
untuk bisa menilai antara kekeliruan dengan kecurangan (fraud). Kedua
kesalahan tersebut memiliki perbedaan yang sangat tipis yaitu ada atau
tidaknya unsur kesengajaan. dari keduanya, seorang profesional lebih sulit
mendeteksi adanya kecurangan dibandingkan dengan kekeliruan. Karena
pihak manajemen dapat menyembunyikan kecurangan yang dilakukan
tersebut. Fraud atau kecurangan akhir-akir ini sedang marak di berbagai
kalangan. Fraud menjadi sosok yang sangat mengkhawatirkan baik dunia
bisnis, akademik, politik, hingga pada pemerintahan. Kecurangan ini
dilakukan dengan cara sengaja untuk mendapatkan hasil yang maksimal
dengan cara-cara yang instan. Kecurangan biasanya terjadi karena tekanan
untuk melakukan tindakan penyelewengan untuk memanfaatkan kesempatan
yang ada.
Fraud merupakan konsep legal yang beredar luas, kecurangan
menggambarkan setiap upaya penipuan yang di sengaja, yang di maksudkan
untuk mengambil aset atau hak orang atau pihak lain. fraud adalah penipuan
yang disengaja, umumnya diartikan sebagai kebohongan, penjiplakan,
pencurian dan kecurangan ini dapat dilakukan oleh kreditor, investor,
pemasok, pelanggan, banker, penjamin asuransi atau pihak pemerintah. Hal
ini dilakukan tidak hanya pihak internal saja melainkan tidak menutup
kemungkinan pihak eksternal pun dapat melakukannya selagi pelaku
organisasi tersebut mmemiliki kecerdasan. Sejalan dengan ini Albrecht, et al
(2009) menyatakan bahwa secara umum fraud dapat didefinisikan sebagai
satu istilah umum dan mencakup semua cara yang dapat dirancang oleh
kecerdasan manusia, yang melalui perorangan, guna memperoleh keuntungan
dari orang lain dengan menyajikan yang dimanipulasi atau penyajian yang
salah.
Dari uraian materi di atas, makalah ini dibuat untuk membahas
kasus Fraud yang telah di lakukan oleh Bank Lippo yakni terkait dengan
penggandaan Laporan Keuangan pada tahun 2002.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Profil Singkat Bank Lippo ?
2. Bagaimana Skandal Laporan Keuangan Bank Lippo ?
3. Bagaimana Penyelesaian Kasus yang dilakukan Oleh Pihak Berwenang ?
4. Bagaimana Analisa dan Solusi Dari Skandal LK Bank Lippo ?
5. Bagaimana Dampak Kasus Dari Skandal LK Bank lippo ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Singkat Bank Lippo.


Bank Lippo merupakan Bank yang lahir atas merger dari Bank
Perniagaan Indonesia dan Bank Umum Asia. Bank ini secara resmi beroperasi
atas nama Bank Lippo pada tahun 1948 yang dipimpin oleh Mochtar Riady.
Cikal bakalnya lahirnya Bank ini diawali ketika Mochtar Riady membeli
sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia. Lahirnya Bank ini juga
merupakan cikal bakal terbentuknya Grup Lippo. Akan tetapi pada tahun
2008, nama Bank Lippo secara resmi akan hilang dari perbankan nasional,
dikarenakan Bank ini telah merger dengan Bank Niaga. Akibatnya nama Bank
Lippo akan dihilangkan dan menjadi Bank CIMB Niaga (Detik,
2008; Kompas, 2008). Adanya merger ini diawali ketika Khazanah sebagai
pemiliki mayoritas CIMB Groups Holdings mengakuisisi kepemilikan
mayoritas Bank Lippo pada tanggal 30 September 2005, yang kemudian
seluruh kepemilikan saham ini beralih tangan menjadi milik CIMB Group.
Sebagai bentuk patuhnya CIMB Group pada Single Presence Policy (SSP)
akhirnya secara resmi Bank Lippo di merger dengan Bank Niaga (CIMB
Niaga, 2017).

B. Skandal Laporan Keuangan Bank Lippo.


Pada tanggal 28 November 2002 Bank Lippo
mempublikasikan laporan keuangannya untuk periode per 30 September 2002.
Pada publikasi tersebut, tercatat bahwa total aktiva yang dimiliki oleh Bank
Lippo per 30 September 2002 sebanyak Rp 24 triliun dengan laba bersih
sebanyak Rp 98 miliar. Selain itu pada publikasi tersebut, pihak manajemen
Bank Lippo juga menyatakan bahwa laporan keuangan tersebut telah di audit
dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, permasalahan dan
keanehan muncul ketika adanya perbedaan isi laporan keuangan Bank Lippo
untuk periode per 30 September 2002 yang dilaporkan Bank Lippo kepada
Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 27 Desember 2002 dengan laporan
keuangan yang sebelumnya telah dipublikasikan sendiri oleh pihak Bank
Lippo. Berdasarkan laporan yang terdapat di BEJ, total aktiva yang dimiliki
oleh Bank Lippo berubah menjadi Rp 22,8 triliun (turun Rp 1,2 triliyun).
Selain itu, ternyata Bank Lippo harusnya mencatat kerugian sebesar Rp 1,3
triliun, yang awalnya berdasarkan publikasi dari pihak Bank Lippo,
perusahaan tersebut tercatat memperoleh laba (Tempo, 2003b). Munculnya
laporan keuangan ganda ini langsung ditanggapi oleh pihak KAP yang
mengaudit LK Bank Lippo yaitu Ernst and Young, Sarwoko dan Sanjaya.
Menurut KAP tersebut, laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Bank
Lippo tanggal 27 November 2002 tersebut merupakan LK yang belum selesai
diaudit oleh KAP tersebut, hanya LK yang dilaporkan ke BEJ yang telah
diaudit (Tempo, 2003b).
Berdasarkan kejadian tersebut, pihak Bank Lippo berdalih,
penyebab adanya perbedaan tersebut dikarenakan terjadinya penurunan nilai
agunan yang diambil alih (AYDA) yang awalnya Rp 2,393 triliun turun
menjadi Rp 1,42 triliun. Penurunan aset ini juga berdampak pada nilai capital
Adequacy Ratio (CAR) yang turun menjadi 4,23% (awalnya 24,77%). Akan
tetapi, alasan yang diberikan oleh pihak Bank Lippo tersebut dibantah oleh
beberapa pihak. Beberapa pihak menduga bahwa Bank Lippo telah melakukan
manipulasi laporan keuangan secara sengaja. Hal ini dibuktikan dengan
melihat aset agunan yang dimiliki Bank Lippo. Agunan yang dijadikan aset
oleh Bank Lippo tersebut ternyata merupakan aset yang berasal dari Grup
Lippo, yaitu PT Bukit Sentul Tbk; PT Lippo Karawaci Tbk; PT Lippo
Securities Tbk; PT Panin Insurance Tbk; PT Lippo Cikarang Tbk; dan PT
Hotel Prapatan (Sumantyo, 2003). Atas kasus ini BEJ, meminta Bank Lippo
untuk mengadakan paparan publik (paling lambat 15 Januari 2003). Paparan
tersebut berisikan pernyataan/penjelasan pihak Bank Lippo terkait adanya
laporan keuangan ganda Bank Lippo Per 30 September 2002 dan menjelaskan
kinerja keuangan perusahaan hingga periode 31 Desember 2002(Tempo,
2003b).

C. Penyelesaian Kasus Oleh Pihak Berwenang.


Bank Lippo telah terbukti melakukan kecurangan dengan
mempublikasikan laporan keuangan yan menyesatkan bagi publik. Atas
perbuatan tersebut, Badan Pengawas Pasar Modal (Bappepam) memutuskan
untuk memberikan peringatan yang keras untuk pihak Bank Lippo dan
memberikan sanksi administratif bagi Bank Lippo tersebut(Tempo, 2003a).
Sanksi Administratifnya yaitu pihak Bank Lippo harus membayarkan denda
ke kas Negara sebesar Rp 2.500.000.000 saja (Tempo, 2003c). Selain itu
Bappepam juga mewajibkan pihak manajemen Bank Lippo untuk
menyerahkan laporan kemajuan (progress report) pada BEJ seminggu sekali
di mulai tanggal 24 Febuari sampai dengan keluarnya laporan keuangan
tahunan auditan tahun 2002.
Bappepam tidak hanya memberikan sanksi kepada pihak Bank
Lippo saja, akan tetapi Bappepam juga memberikan sanksi berupa denda
kepada KAP Ernst and Young, Sarwoko dan Sanjaya selaku KAP yang
bertanggung jawab atas audit Laporan Keuangan Bank Lippo pada periode
tersebut. Pihak KAP tersebut diwajibkan untuk membayar denda ke kas
Negara hanya sebesar Rp 3.500.000 saja (Tempo, 2003c). Pemberian sanksi
kepada KAP ini dikarenakan KAP ini dianggap lalai menjalankan tugasnya
sebagai pihak yang memeriksa laporan keuangan Bank Lippo pada periode
tersebut, sehingga menyebabkan adanya laporan keuangan ganda tersebut
yang berdampak pada penyesatan informasi pada publik.
D. Analisa dan Solusi Dari Skandal LK Bank Lippo
1. Analisis Penyebab
Berdasarkan data yang telah dijelaskan pada ringkasan kasus
di atas, dapat dilihat bahwa pihak Bank Lippo sudah tampak
sekali melakukan tindakan manipulasi laporan keuangan, dapat terlihat
adanya perbedaan isi laporan keuangan yang awalnya mereka
publikasikan secara mandiri dengan laporan keuangan yang di laporkan di
BEJ. Manipulasi yang paling terlihat adalah pihak Bank Lippo dengan
sengaja memanipulasi data aktiva dan labanya, yang mana di keduanya
mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding dengan data yang
sebenarnya.
Pada dasarnya perusahaan yang melakukan tindakan
manipulasi laporan keuangan, terutama memanipulasi untuk
meningkatkan nilai pos tertentu ditujukan agar perusahaan tersebut
“terlihat memiliki kinerja yang baik di hadapan pihak eksternal” padahal
tidak. Dampaknya biasanya pada peningkatan harga saham ataupun untuk
memikat hati pihak eksternal seperti investor untuk menginvestasikan
dananya melalui pembelian saham. Contoh lainnya adalah agar
dimudahkan untuk memperoleh suntikan dana dari pihak kreditur. Tidak
menutupi bahwa tujuan awal atau penyebab pihak manajemen tersebut
melakukan manipulasi tersebut guna untuk memperoleh keuntungan
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terutama untuk memikat para
calon investor untuk segera menanamkan saham pada Bank Lippo,
terlebih lagi pada publikasi laporan keuangan yang dilakukan secara
mandiri oleh Bank Lippo tersebut, menyatakan bahwa laporan keuangan
tersebut telah di audit dan mendapatkan opini WTP (padahal belum di
audit). Dengan diperolehnya opini WTP pada perusahaan tersebut berarti
telah menunjukan bahwa laporan keuangan tersebut telah disusun secara
wajar dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
berlaku, yang artinya laporan keuangan Bank Lippo bebas dari berbagai
praktik ilegal terlebih lagi fraud. Tentunya dengan diperoleh opini WTP
tersebut, turut berperan penting untuk memikat hati para investor untuk
investasi pada Bank Lippo.
Praktik manipulasi yang dilakukan oleh pihak Manajemen
Bank Lippo tersebut, juga telah menunjukan bahwa pihak manajemen
juga turut melakukan tindakan/praktik manajemen laba.
Menurut Herawaty (2008) manajemen laba merupakan tindakan
judgement dalam laporan keuangan yang dapat merubah laporan
keuangan yang akhirnya dapat menyesatkan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan. Contohnya pada kasus ini terlihat
pada laba pe 30 September 2002 yang seharusnya mengalami kerugian
sebesar Rp 1,3 triliun, kemudian diganti oleh pihak manajemen dengan
memperoleh laba bersih sebanyak Rp 98 miliar. Padahal manajemen laba
yang dilakukan tersebut bertujuan negatif yang dapat merugikan banyak
pihak. Praktik manajemen laba ini tentunya terkesan negatif, karena pihak
manajemen Bank Lippo melakukannya untuk menarik banyak investor
agar menanamkan dananya pada Bank Lippo.
Secara keseluruhan, menurut penulis penyebab utama
munculnya kasus ini dikarenakan lemahnya implementasiGood
Corporate Governance (GCG) pada manajemen Bank Lippo. Jika
implementasi GCG Bank Lippo terlaksana dengan baik, maka kasus
manipulasi laporan keuangan yang terjadi pada Bank Lippo ini tidak akan
terjadi/dapat dihindari. Hal ini dikarenakan menurut Guna dan Herawaty
(2010) pada dasarnya tujuan dengan dilaksanaknnya GCG ini bertujuan
untuk membuat berbagai/serangkaian mekanisme yang dapat mencegah
dan membatasi asimetri informasi, termasuk contohnya adalah
manajemen laba.
Dalam pelaksanaannya, GCG dilaksanakan dengan 5 prinsip
utama, antara lain akuntanbilitas, transparansi,responbility, indepedensi,
dan keadilan. Berkaitan dengan kasus yang melanda Bank Lippo ini,
terlihat bahwa perusahaan ini telah melanggar 2 prinsip dari GCG
tersebut, yaitu transparansi dan responsibility. Prinsip transparansi
menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya perusahaan harus
menyampaikan setiap informasi dengan jelas, akurat, dapat
dipertanggungjawabkan, dan tentunya tidak menyesatkan. Informasi yang
dimaksud termasuk informasi yang terdapat pada laporan keuangan di
sebuah perusahaan. Sedangkan yang dimaksud dengan
prinsipresponsibility ialah suatu organisasi dalam pelaksanaan setiap
kegiatan/operasional harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Berkaitan
dengan kasus ini, apabila pihak manajemen Bank Lippo sepakat dan
berkomitmen untuk melaksanakan GCG dengan baik, maka kasus
manipulasi laporan keuangan ini dapat terhindarkan. Hal ini dikarenakan,
dalam pelaksanaanya jika pihak manajemen menjalankan dengan baik
GCG-nya, maka tentunya pihak manajemen akan senantiasa
mengawasi/mengontrol pembuatan Laporan Keuangan agar sesuai dengan
aturan/standarnya (pelaksanaan prinsip transparansi dan responbility).
Sehingga dapat dipastikan salah satu penyebab utama adanya kasus
manipulasi laporan keuangan ini terjadi dikarenakan lemahnya dalam
pelaksanaan GCG pada manajemen Bank Lippo.

2. Analisis Dari Perspektif Hukum


Akhir dari perjalanan kasus yang menimpa Bank Lippo ini
yaitu Bank Lippo terbukti bersalah dikarenakan adanya kasus laporan
keuangan ganda ini. Atas kasus ini, Bappepam selaku lembaga yang
berwenang memutuskan bahwa Bank Lippo hanya akan mendapatkan
sanksi administratif berupa denda sebesar Rp 2.500.000.000.
Menurut penulis, sanksi yang diterima oleh Bank Lippo tidak
tepat. Melihat fakta dari kasus ini, secara jelas bahwa pihak manajemen
Bank Lippo telah terbukti melakukan manipulasi laporan keuangan dan
membuat pernyataan bahwa laporan keungan tersebut telah di audit
(padahal belum), yang berdampak pada penyesatan informasi terhadap
pihak-pihak yang berkepentingan. Atas fakta tersebut, sudah dapat dilihat
bahwa kasus ini telah melanggar Pasal 93 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, yang berarti kasus
ini tergolong sebagai kasus pidana bukan hanya tergolong pelanggaran
administrasi saja. Pasal 93 tersebut berbunyi: Setiap Pihak dilarang,
dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan
keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga
mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek apabila pada saat pernyataan
dibuat atau keterangan diberikan :

 Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui


bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak
benar atau menyesatkan; atau
 Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam
menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan
tersebut.

Dampak dengan pelanggaran Pasal 93 tersebut ialah pihak


yang melakukan tindakan penyesatan informasi tersebut (dalam hal ini
Bank Lippo) seharusnya mendapatkan sanksi pidana berupa kurungan
penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp
15.000.000.000.
E. Dampak Kasus Dari Skandal LK Bank lippo.
Adapun dampak dari kasus ini antara lain :
1. Menambah deret panjang kasus skandal manipulasi laporan keuangan
yang berakibat turunnya kepercayaan publik atas Perusahaan Publik,
terutama atas kinerja akuntan dan auditor yang terlibat.
2. Merugikan investor yang mendapatkan informasi menyesatkan atas
Laporan Keuangan Bank Lippo tersebut (yang dipublikasikan oleh
pihak Bank Lippo di Media Massa), terlebih lagi investor yang telah
membeli saham tersebut. Hal ini dikarenakan setelah mencuatnya
kasus laporan keuangan ganda tersebut, harga saham Bank Lippo
mengalami penurunan yang drastis, dan hal ini tentunya menyebabkan
kerugian bagi investor-investor tersebut.
3. Sanksi yang diberikan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku,
menunjukan masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia.
Tentunya ini berdampak pada kepercayaan publik atas kinerja para
penegak hukum di Negara ini yang masih takut dengan beberapa pihak
yang berkuasa di Negara ini. Diketahui bahwa terdapat pihak yang
dianggap “orang kuat” yang menjadi komisaris di Bank Lippo,
sehingga membuat takutnya para penegak hukum tersebut dalam
menegakan keadilan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan dan Saran


Kasus manipulasi laporan keuangan yang terjadi pada Bank
Lippo ini pada dasarnya dapat dihindarkan untuk tidak terjadi, ketika
pihak manajemen Bank Lippo tersebut telah berkomitmen untuk
menjalankan konsep GCG dengan baik. Selain itu Peran akuntan sebagai
pihak yang menyusun laporan keuangan tersebut tentunya juga akan
sangat membantu dalam pencegahan kasus fraud seperti ini. Peran yang
dimaksud adalah para akuntan tersebut seharusnya dalam pelaksanaan
profesinya harus sesuai dengan kode etik profesinya, sehinga ketika
menemukan adanya pihak tertentu yang ingin melakukan melakukan
praktik fraud seperti pada kasus ini, akuntan yang bertanggung jawab
harusnya dapat menolak untuk tidak melakukan hal tersebut (karena
melanggar kode etik). Dan jika pun akuntan tersebut mendapatkan
tekanan oleh dari pihak tertentu, para akuntan tersebut dapat melakukan
tindakan whistle-blowing dengan melaporkannya kepada pihak direksi
ataupun komisaris perusahaan, bahkan dapat di laporkan kepada pihak
eksternal yang berwenang. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya
berabagi praktikfraud di sebuah organiasasi. Whistle-blowing sendiri jika
didefinisikan ialah tindakan pegawai (atau mantan) untuk
mengungkapkan berbagai tindakan ilegal atau tidak etis kepada pihak
manajemen puncak atau kepada pihak eksternal yang berwenang maupun
kepada publik (Bouville, 2007).
Melalui kasus ini, kita juga dapat dilihat betapa pentingnya
makna dari “laporan auditor” yang dijadikan sebagai lisensi bahwa
sebuah laporan keuangan telah diaudit oleh pihak yang berwenang.
Dampak jika suatu organisasi mengabaikannya adalah dapat dilihat dari
kasus ini, apabila suatu organisasi mengakui telah di audit, akan tetapi
pada kenyataannya tidak, maka hal ini dapat dianggap sebagai kesalahan
serius karena berpotensi untuk menyesatkan publik. Selain itu, kasus ini
juga menunjukan bahwa masih lemahnya penegakan hukum pada Negara
Indonesia. Sekuat apapun bukti yang dikumpulkan, tidak akan
berpengaruh jika pihak yang dijadikan pelaku tersebut memiliki kuasa
untuk membuat hukum berpihak padanya. Maka harapan kedepannya,
Negara ini perlu berbenah diri, terlebih lagi berkaitan dengan penegakan
hukum, guna untuk menegakan keadilan. Dan hal ini akan berdampak
pada kembalinya kepercayaan publik pada penegakan hukum di
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Bouville, M. (2007). Whistle-blowing and Morality. Journal of Business Ethics, 81(3),


579–585.

CIMB Niaga. (2017). Sejarah Perusahaan CIMB Niaga. Diambil 10 Agustus 2017, dari
https://www.cimbniaga.com/in/about-us/index.html

Detik. (2008). Bank Lippo Lenyap, CIMB Niaga Dikibarkan. Diambil 11 Agustus 2017,
dari https://finance.detik.com/moneter/1030154/bank-lippo-lenyap-cimb-niaga-
dikibarkan-

Guna, W. I., & Herawaty, A. (2010). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance,
Independensi Auditor, Kualitas Audit dan Faktor Lainnya Terhadap Manajemen
Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 12(1), 53–68.

Herawaty, V. (2008). Peran Praktek Corporate Governance Sebagai Moderating Variable


dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi
dan Keuangan, 10(2), 97–108.
Kompas. (2008). Lippo Niaga Jadi CIMB Niaga. Diambil 10 Agustus 2017, dari
http://nasional.kompas.com/read/2008/11/03/10152216/lippo.niaga.jadi.cimb.niaga.

Sumantyo, R. (2003). Kasus Bank Lippo dan Degradasi Kepercayaan Publik. Diambil 8
Agustus 2017, dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0302/24/eko1.htm

Tempo. (2003a). Bapepam: Skandal Lippo Adalah Kasus Pidana. Diambil 7 Agustus
2017, dari https://m.tempo.co/read/news/2003/03/11/0565210/bapepam-skandal-
lippo-adalah-kasus-pidana

Tempo. (2003b). Bapepam Periksa Kantor Akuntan Publik Bank Lippo. Diambil 7
Agustus 2017, dari https://m.tempo.co/read/news/2003/02/03/0562286/bapepam-
periksa-kantor-akuntan-publik-bank-lippo

Tempo. (2003c). BEJ Anggap Kasus Laporan Keuangan Bank Lippo Selesai. Diambil 7
Agustus 2017, dari https://bisnis.tempo.co/read/news/2003/03/18/0566701/bej-
anggap-kasus-laporan-keuangan-bank-lippo-selesai

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.


Indonesia.