Anda di halaman 1dari 6

KELOMPOK 1

Kasus : “Laporan Keuangan Ganda Bank Lippo”


- Ria Komariah 0115101095
- Ana Diana Rizky 0115101177
- Ani Birul Walidaini 0115101353
- Nurwulan Oktaviana 0115101510

1. Analisis Terjadinya Fraud


 Apa yang terjadi pada Bank Lippo?
Munculnya laporan keuangan ganda pada Bank Lippo. Hal ini terlihat dari perbedaan
antara isi laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Bank Lippo dengan laporan
keuangan yang dilaporkan kepada Bursa Efek Jakarta.

 Kapan terjadinya kasus pada Bank Lippo?


Pada tanggal 28 November 2002 Bank Lippo mempublikasikan laporan keuangannya
untuk periode per 30 September 2002. Pada publikasi tersebut, tercatat bahwa total
aktiva yang dimiliki oleh Bank Lippo per 30 September 2002 sebanyak Rp. 24 Triliun
dengan laba bersih sebanyak Rp. 98 Milyar. Selain itu pada publikasi tersebut, pihak
manajemen Bank Lippo juga menyatakan bahwa laporan keuangan tersebut telah di
audit dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Namun, permasalahan dan keanehan
muncul ketika adanya perbedaan isi laporan keuangan Bank Lippo untuk periode per
30 September 2002 yang dilaporkan Bank Lippo kepada Bursa Efek Jakarta pada
tanggal 27 Desember 2002 dengan laporan keuangan yang sebelumnya telah
dipublikasikan sendiri oleh pihak Bank Lippo.

 Kenapa dapat terjadi kasus pada Bank Lippo?


Banyak perusahaan yang melakukan manipulasi laporan keuangan, terutama
memanipulasi untuk meningkatkan akun-akun tertentu ditujukan agar perusahaan
tersebut terlihat memiliki kinerja yang baik dihadapan pihak eksternal yang nyatanya
tidak begitu. Hal tersebut dapat berdampak terhadap peningkatan harga saham
ataupun untuk memikat hati pihak eskternal).

 Bagaimana dapat terjadi kasus pada Bank Lippo?


Kasus PT. Bank Lippo Tbk ini berawal dari laporan keuangan Triwulan III
tahun 2002 yang dikeluarkan tanggal 30 September 2002 oleh PT. Bank Lippo Tbk,
yaitu terjadi perbedaan informasi atas Laporan Keuangan yang disampaikan ke public
melalui iklan di sebuah surat kabar nasional pada tanggal 28 November 2002 dengan
Laporan Keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Dalam laporan tersebut dimuat adanya pernyataan manajemen PT. Bank Lippo Tbk
bahwa Laporan Keuangan tersebut disusun berdasarkan Laporan Keuangan
Konsolidasi yang telah diaudit oleh KAP Prasetio, Sarwoko, Sandjaja (penanggung
jawab Drs. Ruchjat Kosasih) dengan Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian.

1
Penyajian laporan tersebut dibuat dalam bentuk komparasi per 30 September
2002 (audited) dan per 30 september 2001 (unaudited). Dicantumkan, Nilai Agunan
Yang Diambil Alih (“AYDA”) per 30 September 2002 sebesar Rp. 2,393 triliun, total
aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 24,185 triliun, Laba tahun berjalan per 30
September 2002 sebesar Rp. 98,77 miliar, dan Rasio Kewajiban Modal Minimum
Yang Tersedia (CAR) sebesar 24,77%.
Pada Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002, tanggal
yang sama yang disampaikan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 27 Desember
2002, ternyata disampaikan laporan yang berbeda. Laporan itu mencantumkan
Pernyataan manajemen PT. Bank Lippo Tbk bahwa Laporan Keuangan yang
disampaikan adalah Laporan Keuangan “audited” yang tidak disertai dengan laporan
auditor independen yang berisi opini Akuntan Publik.
Penyajian laporan juga dilakukan dalam bentuk komparasi per 30 September
2002 (audited) dan 30 September 2001 (unaudited). Dicantumkan Nilai Agunan Yang
Diambil Alih Bersih (“AYDA”) per 30 September 2002 sebesar Rp. 1,42 triliun, total
aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 22,8 triliun, Rugi bersih per 30 September
2002 sebesar Rp. 1,273 triliun, dan Rasio Kecukupan Modal Minimum (CAR) sebesar
4,23%.
Dapat dilihat, bahwa pada tanggal yang sama ditemukan perbedaan.
Perbedaan tersebut baik dalam jumlah AYDA, total aktiva, CAR, bahkan kondisi
untung rugi. Atas hal tersebut, Pada tanggal 6 Januari 2003, Akuntan Publik KAP
Prasetio, Sarwoko & Sandjaja menyampaikan Laporan Keuangan PT. Bank Lippo
Tbk per 30 September 2002 kepada manajemen PT. Bank Lippo.
Dalam laporan tersebut dikemukakan bahwa Laporan Auditor independen yang berisi
opini Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih dari KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja
dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. Laporan Auditor independen tersebut
tertanggal 20 November 2002, kecuali untuk catatan 40a tertanggal 22 November
2002 dan catatan 40c tertanggal 16 Desember 2002.
Penyajian dalam bentuk komparasi per 30 September 2002, 31 Desember
2001 dan 31 Desember 2000. Total aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 22,8
triliun, Nilai Agunan Yang Diambil Alih Bersih (AYDA) per 30 September 2002
sebesar Rp. 1,42 triliun, Rugi bersih per 30 September 2002 sebesar Rp. 1,273 triliun,
Rasio Kecukupan Modal sebesar Rp. 4,23%.

Saham
Pada periode yang sama sejumlah broker melakukan transaksi jual dalam
jumlah sangat besar. Ironisnya, pada 14 Februari broker yang sama berbalik
melakukan transaksi beli dalam volume signifikan. Praktik semacam itu menguatkan
dugaan memang terjadi manipulasi laporan keuangan serta insider trading.Dengan
tujuan, manajemen (khususnya pemilik lama) bisa masuk dan menguasai saham
mayoritas bank itu.
Banyak yang menduga skenario yang mereka inginkan adalah pihak
manajemen ingin menawar saham terbatas (rights issue). Lewat cara itu pemegang
saham mayoritas saat ini, yaitu pemerintah, mau tidak mau harus mengeluarkan
banyak uang. Karena jika tidak dilakukan, kepemilikan sahamnya terdilusi. Ringkas
kata, pemilik lama menginginkan pemerintah merekapitalisasi tahap kedua terhadap
bank itu.

2
Bank Lippo Menyokong Dana Kampanye Bill Clinton
Hubungan erat antara grup Lippo dengan Partai Demokrat AS bermula dari tahun
1976 James Riady, anak Mochtar Riady si bos Lippo, berangkat ke New York untuk
bekerja di Irving Trust Banking Company di tahun 1975. Tak lama, James Riady
pindah ke Little Rock, Arkansas (kota kelahiran Bill Clinton) di tahun 1976.
Di Arkansas, James Riady bersama Jack Steven mendirikan Worthen Bank dengan
modal awal US$ 20 juta. Jack Steven, yang disebut-sebut sebagai Godfathernya
Arkansas ini adalah rekan dekat Mochtar Riady. Melalui Jack Steven inilah, James
Riady bisa kenalan dengan Jimmy Carter, Bill Clinton dan sebagainya.
Pada tahun 1984, James Riady ditunjuk Jack Steven menjadi Direktur Utama
Worthen Bank.James Riady pun lalu menunjuk Hillary Clinton sebagai pengacara
Worthen Bank. Disinilah hubungan James Riady dengan pasutri Clinton merapat
Pada tahun 1990an, Bill Clinton menyatakan kepada James Riady kalau ia
berencana maju ke pemilu presiden AS. James Riady pun memberitakan kabar
tersebut kepada ayahnya, Mochtar Riady.Mochtar Riady pun langsung
memerintahkan James Riady partisipasi aktif dalam kampanye Bill Clinton. Tak cuma
James Riady, seluruh anggota dan jaringan yang dimiliki Lippo Group pun
dikerahkan untuk membantu kampanye Bill Clinton
Bentuk sokongan James Riady dan Ted Sioeng pada Bill Clinton – Al Gore
adalah pengumpulan dana kampanye. Fokus dari tim pengumpulan dana kampanye
Clinton – Al Gore yang ditangani James Riady dan Ted Sioeng adalah dari
pengusaha-pengusaha Asia. jumlahnya dana yang dikumpulkan James Riady – Ted
Sioeng untuk Clinton – Al Gore mencapai US$ 7,5 juta.
Secara pribadi dan perusahaan, keluarga Riady dan Lippo Group mendapat
jaringan dan keleluasaan berbisnis di AS . Indonesia pun mendapat ‘Keringanan bea
impor’ ke AS pada masa Bill Clinton. Karena para pengusaha Tionghoa di Indonesia
ikut menyetor dana ke Clinton, maka mereka melobi kemudahan perdagangan, Tak
cuma Indonesia, RRC pun ikutan memperoleh kemudahan impor produk-produk RRC
ke AS semasa Clinton.
Hasil kerja #LippoGate inilah yang menjadi salah satu pemicu kenapa para
pengusaha Tionghoa Indonesia mulai eksodus ke pasar global.Sejak tahun 1994, satu
per satu para pengusaha besar memindahkan markas besar usahanya ke luar
negeri.Indonesia hanya menjadi tempat beroperasinya alat-alat produksi, tapi hasil,
uang dan keuntungannya semua dibawa ke Singapura dan Hong Kong.Dampak
migrasi dana-dana para pengusaha ini bagi Indonesia??Rupiah mengalami pelemahan
berturut-turut dan menjadi salah satu pemicu krisis moneter Asia.
Ketika skandal sumbangan Lippo Grup utk kampanye Clinton tsb terbongkar,
Partai Demokrat terpaksa kembalikan hampir US$ 500 ribu. Sementara itu, Muchtar
dan James Riady /Lippo Grup dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS atas
pelanggaran UU dana kampanye AS karena terbukti melanggar hukum terkait
pemberian sumbangan dana kampanye Capres PD, Bill Clinton. Keluarga Riady
/Lippo Grup dihukum membayar denda US$ 8.6 juta atau Rp. 86 milyar atas
pelanggaran tersebut.
Pelanggaran Hukum Oleh Bank Lippo
Dari kronologi kasus yang telah di uraikan di bab sebelumnya atas kasus laporan
keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 september 2002 yang disampaikan ke publik
per 28 november 2002, Bank Lippo telah melakukan pelanggaran pasal 93 Undang-
undang Pasar Modal.

3
Yang dimana dalam pasal 93 Undang–undang Pasar Modal menyebutkan
bahwa setiap pihak dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau
memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga
mempengaruhi harga efek di Bursa Efek apabila pada saat pernyataan di buat atau
keterangan diberikan:
a. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa
pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan;
atau
b. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran
material dan pernyataan atau keterangan tersebut
Unsur-unsur dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Tindakan tersebut mempengaruhi harga efek di bursa efek
b. Setiap pihak dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau memberikan
keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan
c. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa
pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan
atau tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material pernyataan atau
keterangan tersebut.
Di dalam kasus PT. Lippo Bank Tbk tersebut mengandung 3 (tiga) unsur dari pasal 93
Undang-Undang Pasar Modal.
Pertama, tindakan tersebut mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek.
Dari fakta menunjukan bahwa tindakan PT. Bank Lippo Tbk dengan memberikan
informasi yang menyesatkan pada laporan keuangan per 30 September 2002 telah
menimbulkan ketidakpastian di masyarakat sehingga mempengaruhi harga Efek
di Bursa.Saham PT. Lippo Bank Tbk pun mengalami fluktuasi yang tajam disebabkan
oleh missleading information tersebut.
Terlihat bahwa akibat laporan keuangan yang diterbitkan tersebut menggerakkan
harga. Bahkan, tidak semata-mata berdampak pada saham PT Bank Lippo, tbk
semata, tetapi juga bursa efek secara keseluruhan.
Kedua, setiap Pihak dilarang dengan cara apapun, membuat pernyataan atau
memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan. Dalam
kasus tersebut ditemukan fakta sebagai berikut bahwa dalam Laporan Keuangan per
30 September 2002 yang diiklankan di media massa pada tanggal 28 November 2002,
Manajemen PT. Bank Lippo Tbk menyatakan bahwa Laporan Keuangan tersebut
disusun berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit oleh KAP
Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian.
Akan tetapi, Hasil pemeriksaan Bapepam menunjukan bahwa laporan keuangan PT.
Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 yang diiklankan pada tanggal 28 November
2002 adalah laporan keuangan yang tidak diaudit meskipun angka-angkanya sama
seperti yang tercantum dalam Laporan Auditor Independen. Hal ini menunjukan
bahwa pernyataan atau keterangan yang diberikan oleh pihak manajemen PT. Bank
Lippo Tbk dalam laporan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan.
Ketiga, pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui
bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau
menyesatkan atau tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari
pernyataan atau keterangan tersebut.
Pencantuman kata “audited” pada Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30
September 2002 membawa implikasi pada perhitungan akun-akun didalamnya yang
terlihat baik namun sesungguhnya bukan keadaan yang sebenarnya. Laporan

4
keuangan yang disampaikan ke publik tanggal 28 November 2002 mencatat total
aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 24,185 triliun, laba tahun berjalan sebesar
Rp. 98,77 miliar dan CAR sebesar 24,77%.
Sekilas dengan membaca laporan ini, Investor melihat bahwa kinerja perusahaan
berjalan dengan bagus. Dengan demikian keputusan-keputusan yang diambil investor
akan menguntungkan perusahaan misalnya Investor melakukan pembelian saham
Lippo secara besar-besaran.
Hal ini tentunya merugikan Investor sebab dengan dasar informasi yang salah
maka keputusan yang diambilnya juga tidak tepat. Keadaan yang sebenarnya adalah
sebagaimana Laporan Keuangan per 30 September yang disampaikan ke BEJ tanggal
27 Desember 2002 yang sudah diaudit oleh KAP Prasetyo, Sarwoko dan Sandjaja
dimana total aktiva per 30 September 2002 sebesar Rp. 22,8 triliun, rugi bersih
sebesar Rp. 1,273 triliun dan CAR sebesar 4,23%.
 Dimana tempat terjadinya kasus Bank Lippo?
PT. Bank Lippo Tbk
 Siapa pelaku terjadinya kasus Bank Lippo?
Pihak Manajemen Bank Lippo

2. Analisis Peran Audit Internal terkait Fraud


Perilaku kecurangan dalam penyajian laporan keuangan penting menjadi perhatian agar
tindakan ini dapat dideteksi dan dihilangkan. Sehingga laporan keuangan akan dapat
dipercaya oleh pihak pemegang kepentingan dan masyarakat. Selain itu, pihak auditor akan
dapat meningkatkan kualitas auditnya dan mendapat kepercayaan dari pihak
yang berkepentingan dan masyarakat.
auditor harus bisa mencegah dan mendeteksi lebih dini agar tidak terjadi fraud. Untuk
mengetahui adanya fraud, biasanya ditunjukkan oleh timbulnya gejala-gejala (symptoms)
berupa red flag (fraud indicators), misalnya perilaku tidak etis manajemen. Red flag ini
biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan (fraud) yang terjadi.

Dalam kasus ini, auditor telah mengetahui adanya gejala-gejala ketidak beresan dalam
laporan keuangan dan pengendalian internnya di PT Bank Lippo yaitu dengan membuat tiga
laporan keuangan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi harga efek dibursa efek.

Hasil penelitian membuktikan serta mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa


perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi dapat diturunkan
dengan meningkatkan kefektifan pengendalian internal, ketaatan aturan akuntansi, moralitas
manajemen, serta menghilangkan asimetri informasi. Hasil penelitian tersebut juga
menunjukkan bahwa dalam upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan
kecenderungan kecurangan akuntansi memerlukan usaha yang menyeluruh, tidak secara
partial. Menurut Wilopo, upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan
kecenderungan kecurangan akuntansi, antara lain:

 Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.


 Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.
 Pelaksanaan good governance.
 Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan
mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.

5
Permasalahan yang dikaitkan pada kasus PT Bank Lippo adalah pelanggaran etika yang
dilakukan oleh pihak manajemen dan pihak lainnya dengan pengendalian internal yang
kurang efektif, terbukti dengan memberikan informasi yang menyatakan opini tidak benar
terhadap laporan keuangannya. Seharusnya, Pihak manajemen dapat mengefektifkan
pengendalian internal, melakukan pengawasan dan pengendalian, melaksanakan good
governance, serta memperbaiki moral dari pengelola perusahaan sehingga mereka dapat
menjalankan perusahaan lebih baik lagi dan pastinya tidak merugikan pihak internal maupun
pihak eksternalnya.

3. Analisis Pengendalian Internal sehingga Fraud Terjadi


Pengendalian di bank lippo kurang terkendali atau kurang kuat sehingga
menyebabkan manipulasi data, lemahnya pengendalian internal dalam memilih
manajemen. Dan seorang audit internal yang komitmen dalam memeriksa laporan
keuangn yang salah.
penyebab utama munculnya kasus ini dikarenakan lemahnya implementasi Good
Corporate Governance (GCG) pada manajemen Bank Lippo. Jika implementasi GCG
Bank Lippo terlaksana.
Dalam pelaksanaannya, GCG dilaksanakan dengan 5 prinsip utama, antara lain
akuntanbilitas, transparansi, responbility, indepedensi, dan keadilan. Berkaitan dengan
kasus yang melanda Bank Lippo ini, terlihat bahwa perusahaan ini telah melanggar 2
prinsip dari GCG tersebut, yaitu transparansi dan responsibility. Prinsip transparansi
menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya perusahaan harus menyampaikan setiap
informasi dengan jelas, akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan tentunya tidak
menyesatkan. Informasi yang dimaksud termasuk informasi yang terdapat pada laporan
keuangan di sebuah perusahaan. Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip responsibility
ialah suatu organisasi dalam pelaksanaan setiap kegiatan/operasional harus sesuai dengan
aturan yang berlaku.
Jika pengendalian kuat maka tidak akan ada manipulasi data laporan keungan ,
dengan pemilihan manajemen yang tegas dan komitmen dalam pekerjaan nya dan
menjalankan tugas dengan independen manipulasi ini tidak akan terjadi karena didalam
kasus bank lippo ini terjadi atas gerakkan manajemen yang ingin memanipulasi data agar
para investor dapat mensutikan dana kepada bank lippo.