Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pada manusia fungsi penghidu memiliki peranan penting. Gangguan

penghidu dapat menyebabkan seseorang tidak dapat mendeteksi kebocoran

gas, tidak dapat membedakan makanan basi, mempengaruhi selera makan,

mempengaruhi psikis, dan kualitas hidup seseorang.

Insiden gangguan penghidu di Amerika Serikat diperkirakan sebesar

1,4% dari penduduk.2 Di Austria, Switzerland, dan Jerman sekitar 80.000

penduduk pertahun berobat ke bagian THT dengan keluhan gangguan

penghidu.4 Penyebab tersering gangguan penghidu adalah trauma kepala,

penyakit sinonasal dan infeksi saluran nafas atas.

Penyebab gangguan penghidu dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu

gangguan transpor odoran, gangguan sensoris, dan gangguan saraf. Gangguan

transpor disebabkan pengurangan odoran yang sampai ke epitelium

olfaktorius, misalnya pada inflamasi kronik dihidung. Gangguan sensoris

disebabkan kerusakan langsung pada neuroepitelium olfaktorius, misalnya

pada infeksi saluran nafas atas, atau polusi udara toksik. Sedangkan gangguan

saraf disebabkan kerusakan pada bulbus olfaktorius dan jalur sentral

olfaktorius, misalnya pada penyakit neurodegeneratif, atau tumor intracranial.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Medis

1. Definisi

Hiposmia adalah penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau,

dimana indra penghidu mengalami gangguan yang tidak dapat mendeteksi

bau yang ada sehingga indra penghidu tidak dapat berfungsi secara normal

(Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014).

2. Etiologi

Hiposmia dapat disebabkan oleh proses-proses patologis di sepanjang

jalur olfaktorius. Kelainan ini dianggap serupa dengan gangguan

pendengaran yaitu berupa defek konduktif atau sensorineural. Pada defek

konduktif (transport) terjadi gangguan transmisi stimulus bau menuju

neuroepitel olfaktorius. Pada defek sensorineural prosesnya melibatkan

struktur saraf yang lebih sentral. Secara keseluruhan, penyebab defisit

pembauan yang utama adalah penyakit pada rongga hidung dan/atau sinus,

sebelum terjadinya infeksi saluran nafas atas karena virus; dan trauma

kepala (Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014)

1) Defek konduktif

a) Proses inflamasi/peradangan dapat mengakibatkan gangguan

pembauan. Kelainannya meliputi rhinitis (radang hidung) dari

berbagai macam tipe, termasuk rhinitis alergika, akut, atau toksik

(misalnya pada pemakaian kokain). Penyakit sinus kronik

2
menyebabkan penyakit mukosa yang progresif dan seringkali

diikuti dengan penurunan fungsi pembauan meski telah dilakukan

intervensi medis, alergis dan pembedahan secara agresif.

b) Adanya massa/tumor dapat menyumbat rongga hidung sehingga

menghalangi aliran odorant ke epitel olfaktorius. Kelainannya

meliputi polip nasal (paling sering), inverting papilloma, dan

keganasan.

c) Abnormalitas developmental (misalnya ensefalokel, kista dermoid)

juga dapat menyebabkan obstruksi.

d) Pasien pasca laringektomi atau trakheotomi dapat menderita

hiposmia karena berkurang atau tidak adanya aliran udara yang

melalui hidung. Pasien anak dengan trakheotomi dan dipasang

kanula pada usia yang sangat muda dan dalam jangka waktu yang

lama kadang tetap menderita gangguan pembauan meski telah

dilakukan dekanulasi, hal ini terjadi karena tidak adanya stimulasi

sistem olfaktorius pada usia yang dini.

2) Defek sentral/sensorineural

a) Proses infeksi/inflamasi menyebabkan defek sentral dan gangguan

pada transmisi sinyal. Kelainannya meliputi infeksi virus (yang

merusak neuroepitel), sarkoidosis (mempengaruhi stuktur saraf),

Wegener granulomatosis, dan sklerosis multipel.

3
b) Penyebab kongenital menyebabkan hilangnya struktur saraf.

Kallman syndrome ditandai oleh anosmia akibat kegagalan

ontogenesis struktur olfakorius dan hipogonadisme

hipogonadotropik. Salahsatu penelitian juga menemukan bahwa

pada Kallman syndrome tidak terbentuk VNO.

c) Gangguan endokrin (hipotiroidisme, hipoadrenalisme, DM)

berpengaruh pada fungsi pembauan.

d) Trauma kepala, operasi otak, atau perdarahan subarakhnoid dapat

menyebabkan regangan, kerusakan atau terpotongnya fila

olfaktoria yang halus dan mengakibatkananosmia.

e) Disfungsi pembauan juga dapat disebabkan oleh toksisitas dari

obat-obatan sistemik atau inhalasi (aminoglikosida, formaldehid).

Banyak obat-obatan dan senyawa yang dapat mengubah

sensitivitas bau, diantaranya alkohol, nikotin, bahan terlarut

organik, dan pengolesan garam zink secara langsung.

f) Defisiensi gizi (vitamin A, thiamin, zink) terbukti dapat

mempengaruhi pembauan.

g) Jumlah serabut pada bulbus olfaktorius berkurang dengan laju 1%

per tahun. Berkurangnya struktur bulbus olfaktorius ini dapat

terjadi sekunder karena berkurangnya sel-sel sensorik pada mukosa

olfaktorius dan penurunan fungsi proses kognitif di susunan saraf

pusat.

4
h) Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (penyakit Parkinson,

Alzheimer disease, proses penuaan normal) dapat menyebabkan

hiposmia. Pada kasus Alzheimer disease, hilangnya fungsi

pembauan kadang merupakan gejala pertama dari proses

penyakitnya. Sejalan dengan proses penuaan, berkurangnya fungsi

pembauan lebih berat daripada fungsi pengecapan, dimana

penurunannya nampak paling menonjol selama usia dekade

ketujuh. Walau dahulu pernah dianggap sebagai defek konduktif

murni akibat adanya edema mukosa dan pembentukan polip,

rhinosinusitis kronik nampaknya juga menyebabkan kerusakan

neuroepitel disertai hilangnya reseptor olfaktorius yang pemanen

melalui upregulated apoptosis.

3. Patofisiologi

Indra penciuman tergolong ke dalam sistem penginderaan kimia

(chemosensation). Proses yang kompleks dari mencium di mulai ketika

molekul–molekul dilepaskan oleh substansi di sekitar kita yang

menstimulasi sel syaraf khusus dihidung, mulut atau tenggorokan. Sel–sel

ini menyalurkan pesan ke otak, dimana bau dan rasa khusus di

identifikasi. Sel – sel olfaktori (saraf penciuman) di stimulasi oleh bau

busuk di sekitar kita. Contoh aroma dari mawar adonan pada roti. Sel–sel

saraf ini ditemukan di sebuah tambahan kecil dari jaringan terletak diatas

hidung bagian dalam, dan mereka terhubung secara langsung ke otak

5
penciuman (olfaktori) terjadi karena adanya molekul-molekul yang

menguap dan masuk kesaluran hidung dan mengenal olfactory membrane.

Manusia memiliki kira–kira 10.000 sel reseptor berbentuk rambut.

Bila molekul udara masuk, maka sel–sel ini mengirimkan impuls saraf.

Pada mekanisme terdapat gangguan atau kerusakan dari sel–sel olfaktorus

menyebabkan reseptor dapat mengirimkan impuls menuju susunan saraf

pusat. Ataupun terdapat kerusakan dari sarafnya sehingga tidak dapat

mendistribusikan impuls reseptor menuju efektor, ataupun terdapat

kerusakan dari saraf pusat di otak sehingga tidak dapat menterjemahkan

informasi impuls yang masuk.

4. Klasifikasi

Kemampuan penghidu normal didefinisikan sebagai normosmia.

Gangguan penghidu dapat berupa (Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014) .:

a) Anosmia yaitu hilangnya kemampuan menghidu.

b) Agnosia yaitu tidak bisa menghidu satu macam odoran.

c) Parsial anosmia yaitu ketidak mampuan menghidu beberapa

odoran tertentu.

d) Hiposmia yaitu penurunan kemampuan menghidu baik berupa

sensitifitas ataupun kualitas penghidu.

e) Disosmia yaitu persepsi bau yang salah, termasuk parosmia dan

phantosmia. Parosmia yaitu perubahan kualitas sensasi

penciuman, sedangkan phantosmia yaitu sensasi bau tanpa adanya

stimulus odoran/ halusinasi odoran.

6
f) Presbiosmia yaitu gangguan penghidu karena umur tua.

5. Manifestasi

Pasien-pasien hiposmia biasanya mengeluhkan hilangnya kemampuan

merasa meskipun ambang rasanya mungkin berada pada kisaran normal.

Pada kenyataannya, mereka mengeluhkan hilangnya deteksi rasa, yang

sebagian besar merupakan fungsi dari penciuman (Huriyati, Efy., Nelvia,

Tuti. 2014).

Gejala pada awal penyakit tidak memiliki gambaran klinis yang jelas,

tanda-tanda pertama berkembang secara bertahap. Awalnya pasien tidak

merasakan bau dan aroma samar, selanjutnya kondisi memburuk.

Biasanya, setelah eliminasi penyakit yang mendasari, pasien secara

bertahap mendapatkan kembali indra penciumannya yang normal

(Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014).

Melemahnya indera penciuman timbul berdasarkan gejala dan

penyakit lain, seperti tidak adanya dan kehilangan pernapasan hidung,

pilek, radang sinus dan sakit kepala di daerah tulang frontal (Huriyati,

Efy., Nelvia, Tuti. 2014).

Gejala hiposmia seringkali sekunder, yaitu, pelanggaran yang lebih

serius muncul kedepan (Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014).

6. Komplikasi

Tidak adanya perawatan menyebabkan perkembangan kekurangan bau

- anosmia. Anosmia jauh lebih sulit diobati dan tidak sembuh total.

7
Hyposmia sendiri tidak menimbulkan komplikasi apapun. Komplikasi

disebabkan oleh kondisi patologis primer, seperti rinitis, sinusitis,

sinusitis, yang berubah menjadi penyakit kronis dan menyebabkan

anosmia (Tangkelangi, Anita R., Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward

K.Mengko,. 2016) .

7. Pemeriksaan Penunjang

CT scan atau MRI kepala dibutuhkan untuk menyingkirkan neoplasma

pada fossa kranii anterior, fraktur fossa kranii anterior yang tak diduga

sebelumnya, sinusitis paranasalis, dan neoplasma pada rongga hidung dan

sinus paranasalis. Kelainan tulang paling bagus dilihat melalui CT,

sedangkan MRI bermanfaat untuk mengevaluasi bulbus olfaktorius,

ventrikel, dan jaringan-jaringan lunak lainnya di otak. CT koronal paling

baik untuk memeriksa anatomi dan penyakit pada lempeng kribiformis,

fossa kranii anterior, dan sinus (Tangkelangi, Anita R.,

Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward K.Mengko,. 2016) .

Walau tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium

standar namun dapat dilakukan pemeriksaan alergi, DM, fungsi tiroid,

fungsi ginjal dan hepar, fungsi endokrin, dan defisiensi gizi berdasarkan

hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Telah dikembangkan teknik-teknik

untuk biopsi neuroepitelium olfaktorius. Namun, karena degenerasi

neuroepitelium olfaktorius yang luas dan interkalasi epitel pernapasan

pada daerah penciuman orang dewasa tanpa disfungsi penciuman yang

jelas, material biopsi harus diinterpretasikan dengan hati-hati

8
(Tangkelangi, Anita R., Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward K.Mengko,.

2016).

8. Penatalaksanaan

Hiposmia yang hilang timbul dan bervariasi derajatnya dapat

disebabkan oleh rhinitis vasomotor, rhinitis alergi atau sinusitis. Keluhan

ini dapat hilang bila penyebabnya diobati. Pada polip nasi, tumor hidung

rhinitis kronis spesifik (rhinitis atrofi, sifilis, lepra, skleroma, tuberkulosis)

terjadi hiposmia akibat dari sumbatan, yang akan hilang bila penyakitnya

diobati.

Rinitis medikamentosa akibat dari pemakaian obat tetes hidung

menyebabkan hiposmia atau anosmia yang akan sembuh bila pemakaian

obat-obatan penyebabnya dihentikan. Tumor n.olfaktorius bentuknya

mirip polip nasi. Diagnosis pasti berdasarkan pemeriksaaan histologi dan

diterapi dengan pembedahan.

Faktor usia lanjut dapat menyebabkan berkurang atau hilangnya daya

penghidu, terutamanya tidak mampu menghidu zat yang berbentuk gas.

Kelainan ini tidak dapat diobati.

Tumor intrakranial yang menekan n.olfaktorius mula-mula akan

menaikkan ambang penghidu dan mungkin akan menimbulkan masa

kelelahan penghidu yang makin lama makin memanjang. Osteomata atau

meningiomata di dasar tengkorak atau sinus paranasalis dapat

menimbulkan anosmia unilateral. Tumor lobus frontal selain

9
menyebabkan gangguan penghidu sering juga disertai dengan gejala lain,

yaitu gangguan penglihatan, sakit kepala dan kadang-kadang kejang lokal.

Epilepsi lobus temporal dapat didahului oleh aura penghidu.

Seringkali halusinasi bau yang timbul adalah bau busuk atau bau sesuatu

yang terbakar, jarang yang bau wangi. Gejala ini tidak menetap.

Kelainan psikologik seperti rendah diri mungkin menyebabkan merasa

bau badan atau bau napas sendiri. Pasien setelah diperiksa, bila ternyata

tidak ada kelainan perlu diyakinkan dan dihilangkan gangguan

psikologiknya. Kelainan psikiatrik seperti depresi, skizofrenia atau

demensia senilis dapat menimbulkan halusinasi bau. Kasus demikian perlu

dirujuk ke seorang psikiater.3,6 Kadang-kadang ada keluhan hilangnya

penghidu pada pasien hysteria atau berpura-pura (malingering)

pascaoperasi hidung atau trauma. Bila diperiksa biasanya pasien

mengatakan tidak dapat mendeteksi ammonia (Tangkelangi, Anita R.,

Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward K.Mengko,. 2016) .

Terapi

1) Hiposmia Konduktif

Terapi bagi pasien-pasien dengan kurang penciuman hantaran

akibat rinitis alergi, rinitis dan sinusitis bakterial, polip, neoplasma,

dan kelainan-kelainan struktural pada rongga hidung dapat

dilakukan secara rasional dan dengan kemungkinan perbaikan

yang tinggi. Terapi berikut ini seringkali efektif dalam

10
memulihkan sensasi terhadap bau yaitu pengelolaan alergi, terapi

antibiotik, terapi glukokortikoid sistemik dan topikal dan operasi

untuk polip nasal, deviasi septum nasal, dan sinusitis hiperplastik

kronik.

2) Hiposmia Sensorineural

Tidak ada terapi dengan kemanjuran yang telah terbukti bagi

kurang penciuman sensorineural. Untungnya, penyembuhan

spontan sering terjadi. Sebagian dokter menganjurkan terapi zink

dan vitamin. Defisiensi zink yang mencolok tidak diragukan lagi

dapat menyebabkan kehilangan dan gangguan sensasi bau, namun

bukan merupakan masalah klinis kecuali di daerah-daerah

geografik yang sangat kekurangan. Terapi vitamin sebagian besar

dalam bentuk vitamin A. Degenerasi epitel akibat defisiensi

vitamin A dapat menyebabkan anosmia, namun defisiensi vitamin

A bukanlah masalah klinis yang sering ditemukan di negara-negara

barat. Pajanan pada rokok dan bahan-bahan kimia beracun di udara

yang lain dapat menyebabkan metaplasia epitel penciuman.

Penyembuhan spontan dapat terjadi bila faktor pencetusnya

dihilangkan; karenanya, konseling pasien sangat membantu pada

kasus-kasus ini.

9. Prognosis

Prognosis hiposmia sebagian besar bergantung pada etiologinya.

Hiposmia akibat sumbatan yang disebabkan oleh polip, neoplasma,

11
pembengkakan mukosa, atau deviasi septum dapat disembuhkan. Bila

sumbatan tadi dihilangkan, kemampuan penciuman semestinya kembali.

Sebagian besar pasien yang kehilangan indra penciumannya selama

menderita infeksi saluran napas bagian atas sembuh sempurna

kemampuan penciumannya; namun, sebagian kecil pasien tak pernah

sembuh setelah gejala-gejala ISPA lainnya membaik. Karena alasan-

alasan yang belum jelas, pasien-pasien ini sebagian besar adalah wanita

pada dekade keempat, kelima, dan keenam kehidupannya. Prognosis

penyembuhannya biasanya buruk. Kemampuan dan ambang pengenalan

bau secara progresif turun seiring bertambahnya usia. Trauma kepala di

daerah frontal paling sering menyebabkan hiposmia, meskipun anosmia

total lima kali lebih sering terjadi pada benturan terhadap oksipital.

Penyembuhan fungsi penciuman setelah cedera kepala traumatik hanyalah

10% dan kualitas kemampuan penciuman setelah perbaikan biasanya

buruk. Pajanan terhadap racun-racun seperti rokok dapat menyebabkan

metaplasia epitel penciuman. Penyembuhan dapat terjadi dengan

penghilangan bahan penyebabnya (Tangkelangi, Anita R.,

Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward K.Mengko,. 2016).

12
Pathway

Patologik laringektomi Trauma pd hidung Toksisitas dari


(influenza, rhinitis) dan kelainan obat/bahan kimia
kongenital pda
Sekresi mucus yang Aliran udara ke hidung Iritasi sal. Nafas atas
berlebihan hidung ↓ dan bawah
Rusak/hilangnya
Obstruksi sal. nafas Berlangsung lama struktur saraf hidung Berlangsung lama
dan terus-menerus

Perubahan sensivitas
pada bau
HIPOSMIA

Anosmia

Gangguan/kerusaka Kehilangan Rinore Lendir jatuh ke


n sel-sel olfaktorus kemampuan merasa tenggorokan

Kegagalan reseptor Anoreksia Obstruksi sal. nafas Mengorok,


mengirim impuls ke kesulitan tidur
saraf pusat

Intake nutrisi Dx. Bersihan Kebutuhan istirahat


Otak tdk dapat menurun Jalan Nafas Tidak tidur berkurang
menerjemahkan Efektif
informasi yg masuk Dx. Defisit nutrisi Dx. Gangguan
pola tidur
Dx. Perubahan 13
persepsi sensori
penciuman
B. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian

a. Subjek

Kategori Pertanyaan untuk Rasional


riwayat kesehatan
Data - Berapa umur Salah satu faktor yang berpengaruh
Demografi klien ? terhadap fungsi penghidung adalah
usia. Ada banyak teori yang
menyebabkan penyebab gangguan
penghidung pada orang tua,
diantaranya terjadi perubahan anatomi
pengurangan area
olfaktorius,pengurangan jumlah sel
mitral pada bubus
olfaktorius,penurunan aktivasi dari
kortex olfaktorius. Gangguan
penghidung pada usia lebih dari 80
tahun sebesar 65%. Penelitian ain
mendapatkan gangguan penghidung
pada usia lebih dari 50 tahun sebesar
24%. Doty menyatakan terdapatnya
penurunan penghidung yang
signifikan pada usia lebih dari 65
tahun.
https://www.scribd.com/doc/782232
23/hiposmia
- Apa jenis Gangguan penghidung sering
kelamin klien ? ditemukan pada jenis kelamin

14
perempuan dibandingkan laki-laki.
Pada penelitin Rouby ditemukan
gangguang penghidung hiposmia
ditemukan pada 61% wanita dan 39%
laki-laki. Dalam konsumsi obat-obatan
pada perempuan dan laki-laki
memiliki perbedaan dan berpengaruh
terhadap fungsi penghidung seperti
obat kanker, antihistamin,anti
mikroba, anti tiroid dan lain-lain.
https://www.scribd.com/doc/ganggu
anfungsipenghidundanpemeriksaan
ya.file
- Pendidikan Prevelensi pada pendidikan
klien ? berpengaruh dalam hal hiposmia itu
sendiri.
depkes,2013.
- Pekerjaan klien Trauma di tempat perkerjaan/industri
? merupakan salah satu faktor
pendukung dari sisi pekerjaan dari
hiposmia
www.https.sss155_slide_trauma_mu
ka_dan_hidung.pdf
- Tempat tinggal Faktor lain yang bisa meninggkatkan
klien ? resiko seorang mengalami hiposmia
yaitu faktor lingkungan.
www.alodokter.com

Apa Keluhan utama Biasanya klien datang dengan keluhan

15
Riwayat klien ? kehilangan sensasi penciuman
Kesehatan
http://journal.NASKAHPUBLIKAS
I.hiposmia.document.file
Riwayat Kesehatan Biasanya saat di lakukan pengkajian
Sekarang klien merasakan buntu pada hidung
dan nyeri kronis pada hidung,
kehilangan sensasi penciuman
.
http://journal.NASKAHPUBLIKAS
I.hiposmia.document.file
Riwayat kesehtan Biasnya penyakit bukan merupakan
kelurga penyakit keturunan, dan bisa juga ada
anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama seperti yang di
alami klien.
http://journal.NASKAHPUBLIKAS
I.hiposmia.document.file
Riwayat kesehatan Klien memiliki riwayat penyakit
dahulu sinusitis,rhinitis alergi serta riwayat
penyakit THT.klien pernah menderita
penyakit akut dan perdarahan hidung
atau trauma.
http://journal.NASKAHPUBLIKAS
I.hiposmia.document.file

16
b. Objek

Kategori Temuan pada pengkajian fisik Temuan abnormal

Sistem Hiposmia reseptor terjadi

persepsi karena terganggunya reseptor

penciuman yang berada di

superior nasal concha.

Reseptor ini ada di

permukaan, sehingga
Berdasarkan teori struktural, teori
bereaksi cepat saat terkena
revolusioner dan teori fungsional,
bau dari lingkungan. Dalam
maka fungsi fisiologis hidung dan
kasus kerusakan selaput
sinus paranasal adalah : 1) fungsi
lendir dari concha hidung,
respirasi untuk mengatur kondisi
udara tidak dapat sepenuhnya
udara (air conditioning), penyaring
menghubungi reseptor.
udara, humidifikasi, penyeimbang
(https://id.iliveok.com/health)
dalam pertukaran tekanan dan

mekanisme imunologik lokal ; 2)

fungsi penghidu, karena terdapanya

mukosa olfaktorius (penciuman) dan

reservoir udara untuk menampung

stimulus penghidu ; 3) fungsi fonetik

yang berguna untuk resonansi suara,

17
membantu proses berbicara dan

mencegah hantaran suara sendiri

melalui konduksi tulang ; 4) fungsi

statistik dan mekanik untuk

meringankan beban kepala, proteksi

terhadap trauma dan pelindung panas;

5) refleks nasal

(Syaffa,2011)

c. Pemeriksaan Lab

No. Tes Definisi/Nilai normal Kelainan yang ditentukan


1 Tes Sniffin Tes Sniffin Sticks adalah Skor TDI <15 dikategorikan
Sticks tes untuk menilai anesmia, 16-29
kemosensoris dari dikategorikan hiposmia dan
penghidung dengan alat >30 dikategorikan
yang berupa pena. Untuk normosmia. Tes ini
menganalisa fungsi menggambarkan tingkat dari
penghidung seseorang gangguan penghidung, tapi
digunakan skor TDI 1-48 tidak menerangkan letak
anatomi dari kelainan yang
terjadi.
2 Tes Odor Pemeriksaan dilakukan Hasil akhir ditentukan dngan
Stick dengan mengoleskan skor OSIT-J
identification odoran pada kertas parafin
test for dengan diameter 2 cm,
japanese untuk tiap odoran diberi 4

18
(OSIT-J) pilihan jawaban
3 Tes UPSIT Tes ini berkembang di Kandungan 10-50A odoran.
(University of America, pada tes ini Hasilnya pemeriksaan akan
Pennsylvania terdapat buku yang dibagi oleh 6 kategori yaitu
Smell masin-masing memiliki 10 normosmia, mikrosmia
Identification) odoran ringan,berat dan sedang,
anosmia serta hiposmia
4 Tes The Tes ini dapat mendeteksi Ambang peghidung
Connectitut ambang penghidung, didapatkan bila jawaban
Chemosensory identifikasi odoran dan betul 5 kali berturut-turut
Clinical untuk evaluasi nerfus tanpa kesalahan. Nilai
Research trigeminal. Ambang ambang dan identifikasi
Center penghidung menggunakan dikalkulasikn dan dinilai
(CCCRC) laarutan butanol 4% dan sesuai skor CCRC
diencerkan dengan aqua
steril dengan
perbandungan 1:3,
sehingga didapatkan 8
pengenceran. Tes dimulai
dari pengenceran terkecil,
dan untuk meghindari bias
asien disuru menentukan
mana yang berisi odoran
tanpa perlu
mengidentifikasinya.

19
2. Diagnosa

1) Kebersihan Jalan Napas (D.0001)

Kategori : Fisiologis
Subkategori : Respirasi
2) Gangguan Persepsi Sensori

3) Defisit Nutrisi (D.0019)

Kategori : Fisiologis
Subkategori : Nutrisi Dan Cairan
4) Gangguan Pola Tidur (D.0055)

Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Aktivitas/istirahat

20
3. Intervensi

NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak 1. Status pernapasan: Menejemen jalan nafas
efektif (D.0001) Kepatenan jalan nafas Observasi :
Kategori : fisiologis 2. Respon alergi: Sistemik 1. Monitor status pernapasan 1. Untuk
Subkategori : respirasi dan oksigenasi, sebagai mengetahui
DEFINISI : Setelah di lakukan tindakan mestinya apakah tidak ada
ketidakmampuan keperawatan selama ....x 24jam masalah dalam
membersikan sekret atau diharapkan defisit nutrisi teratasi status
obstruksi jalan nafas untuk dengan kriteria hasil : pernapasan dan
mempertahankan jalan nafas 1. Klien mampu oksigenasi
tetap paten mengendalikan frekuensi
pernafasan Mandiri :
Penyebab : 2. Klien mampu untuk 1. Posisikan untuk meringankan 1. Agar klien tidak
Fisiologis mengeluarkan sekret sesak nafas mengalami
1. Spasme jalan nafas 3. Klien tidak akan mengeluh kesulitan pada
2. Hipersekresi jalan dispnea saat istirahat saat bernafas
nafas 4. Klien mampu mengendalikn

21
3. Disfungsi edema laring 2. Buang sekret dengan 2. Agar pasien
Neuromuskuler memotivasi pasien untuk tidak mengalami
4. Benda asing dalam melakukan batuk atau gangguan pada
jalan nafas penyedot lendir saat menarik
5. Sekresi yang tertahan nafas
6. Hiperplasia dinding
jalan nafas 3. Buka jalan nafas dengan 3. Untuk
7. Proses infeksi teknik chin lift atau jaw melancarkan
8. Respon alergi thrust,sebagaimana mestinya teknik
Situasional : pernapasan
1. Merokok aktif
2. Merokok pasif Health ducation :
3. Terpajan polutan 1. Ajarkan pasien bagaimana 1. Agar pasien bisa
menggunakan inhaler sesuai lebih
Gejala dan tanda mayor : resep, sebagaimana mestinya mengontrol
Subjektif : inhaler sesuai
 (Tidak Tersedia) dengan resep
Objektif : yang di tentukan
 Sputu berlebih

22
 Mengi, whezzing
dan/atau ronkhi Monitor pernapasan :
kering Observasi :
1. Monitor sekresi pernafasan 1. Agar lebih
Gejala dan tanda minor : pasien mengetahui
Subjektif : seberapa banyak
 Dispnea sekresi
Objektif : pernapasan
 Gelisah pasien

 Bunyi nafas menurun 2. Monitor keluhan sesak nafas 2. Untuk

 Frekuensi nafas pasien, termasuk kegiatan memastikan

berkurang yang meningkatkan atau sejauh mana

 Pola nafas berubah memperburuk sesak nafas keluhan sesak

Kondisi klinis terkait : tersebut nafas pasien

 Infeksi saluran nafas


Mandiri :
1. Berikan bantuan terapi napas 1. Agar pasien
jika diperlukan (misalnya, tidak kesulitan
nebulizer) pada saat

23
bernafas

2. Auskultasi suara nafas, catat 2. Untuk


area dimana terjadi penurunan mengetahui
atau tidak adanya ventlasi dan apakah terjadi
keberadaan suara nafas penurunan
tambahan terkait suara
nafas tambahan
3. Auskultasi suara nafas setelah 3. Agar tidak
tindakan, untuk dicatat kesulitan ketika
akan melakukan
auskultasi suara
nafas

2 Defisit nutrisi (D.0019) 1. Status Nutrisi Menejemen Gangguan Makan


Kategori : fisiologis 2. Napsu makan Observasi :
Subkategori : Nutrisi dan 3. Status nutrisi : Energi 1. Observasi selama dan setelah 1. Agar bisa
cairan Setelah di lakukan tindakan pemberian makan/makanan mengetahui
Definisi : asupan nutrisi keperawatan selama ....x 24jam ringan untuk meyakinkan adanya

24
tidak cukup untuk diharapkan defisit nutrisi teratasi bahwa intake/asupan intake/asupan
memenuhi kebutuhan dengan kriteria hasil : makanan yang cukup tercapai dengan baik
metabolisme dan dipertahankan
Penyebab :  Klien dapat melakukan 2. Monitor perilaku klien yang 2. Untuk
1. Ketidakmampuan asupan makanan dengan berhubungan dengan pola memastikan apa
menelan makanan baik makan penambahan dan pengaruh berat
2. Ketidakmampuan  Klien dapat menunjukkan kehilangan berat badan badan klien
mencerna makanan asupan cairan dengan terhadap pola
3. Ketidakmampuan baik makannya
mengabsorbsi  Klien mampu Mandiri :
nutrien menunnjukan adanya 1. Dorong klien untuk 1. Agar lebih
energi memonitor sendiri asupan mengerti tentang
Gejala dan Tanda Mayor:  Klien mampu makann harian dan asupan makanan
Subjektif : menunjukkan menimbang berat badan yang akan di
 (tidak Tersedia) hasrat/keinginan untuk secara tepat terima

makan 2. Beri tanggung jawab terkait 2. Agar bisa


Objektif :  Klien mampu dengan pilihan – pilihan mengetahui jenis
 (tidak tersedia) menunjukkan intake makanan dan aktivitas fisik makanan yang di

nutrisi dengan baik dengan klien dengan cara konsumsi terkait

25
Kien dapat memberikan yang tepat dengan aktivitas
Gejalaa dan Tanda minor: daya tahan yang adekuat fisik yang di
Subjektif : jalankan
 (tidak tersedia)
Objektif : 3. Berikan dukungan dan arahan 3. Untuk menjaga
 (tidak tersedia) jika diperlukan apabila ada hal
yang tidak
Kondisi klinis terkait : diinginkan
 infeksi terjadi

Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan tim 1. Agar lebih
kesehatan lain untuk memperkuat
mengembangkan rencana dalam
perawatan dengan melibatkan mengembamgka
klien dan orang-orang n rencana
terdekatnya dengan tepat keperawatan
yang akan di
lakukan

26
2. Rundingkan dengan ahli gizi 2. Untuk bisa
daam menentukan asupan memastikan
kalori harian yang diperlukan bahwa asupan
untuk mempertankan berat kalori yang di
badan yang sudah di tentukan terima bisa
mempertahanka
n berat badan
yang sudah di
tentukan

Health Education :
1. Ajarkan dandukung konsep 1. Agar lebih
nutrisi yang baik dengan klien mengetahui
(dan orang terdekat klien konsep nutrisi
dengan tepat) dengan baik

27
Menejemen Nutrisi Observasi :
1. Monitor kalori dan asupan
makanan 1. Agar bisa
mengetahui jenis
kalori dan
asupan makanan
yang akan di
konsumsi
Mandiri :
1. Ciptakan lingkungan yg 1. Agar lebih
optimal pada saat hygenis dalam
mengonsumsi makanan mengonsumsi
(misalnya, bersih, makanan
berventilasi, santai dan bebas
dari baau yang menyengat)

2. Dorong untuk [melakukan] 2. Untuk lebih


bagaimana cara menyiapkan menjaga

28
makanan [dengan] aman dan kebersihan
teknik-teknik pengawetan terkait dengan
makanan pengawaten
makanan yang di
lakukan

Health Education :
1. Anjurkan keluarga untuk 1. Agar keluarga bisa
membawa makanan favorit dengan mudah
pasien sementara [pasien] dalam memberikan
berada dirumah sakit atau perawatan sesuai
fasilitas perawatan yang yang di inginkan
sesuai
3 Gangguan Pola Tidur NOC : Peningkatan tidur
(D.0055) Tidur Observasi Observasi
Kategori : Fisiologis 1. Tentukan pola tidur atau aktivitas 1. Untuk mengetahui
Sub Kategori : pasien kemudahan dalam
Tujuan:
Aktivitas/istirahat tidur.

29
Setelah dilakukan tindakan
Definisi : keperawatan selama ….x24jam
Mandiri
Gangguan kualitas dan diharapkan Gangguan pola tidur Mandiri
kuantitas waktu tifur akibat dapat teratasi. 1. Monitor pola tidur pasien, dan
1. Untuk
faktor eksternal catat kondisi fisik (misalnya,
Kriteria Hasil : mengidentifikasi
Apnea tidur, sumbatan jalan
penyebab aktual
Gejala dan Tanda Mayor 1. Pola tidur tidak terganggu nafas, nyeri/ketidaknyamanan,
dari gangguan tidur
Subjektif 2. Kualitas tidur dan frekuensi buang air kecil)
1. Mengeluh tidak puas 3. Apnea Tidur dan/ atau psikologis (misalnya,
tidur Klien tidak mengorok ketakutan atau kecemasan)
2. Mengeluh pola tidur keadaan yang mengganggu tidur
berubah 2. Anjurkan pasien untuk
3. Mengeluh istirahat memantau pola tidur 2. Mengetahui
tidak cukup bagaimana
pasien dapat
memantau pola
tidur
Heatlh Education
Health Education
1. Agar pasien
1. Ajarkan pasien dan orang

30
terdekat mengenai faktor yang maupun orang
berkonstribusi terjadinya terdekat mampu
gangguan pola tidur (misalnya, mengetahui faktor
fisiologis, psikologis, pola hidup, yang berkonstribusi
perubahan shift kerja yyang terhadap gangguan
sering, perubahan zona waktu pola tidur
yang cepat, jam kerja yang
panjang dan berlebihan, dan
faktor lingkungan lainnya
Kolaborasi
Kolaborasi
1. Memberikan
1. Diskusikan dengaan keluarga tindakan yang
mengenai tehnik untuk tepat dalam hal
meningkatkan tidur peningkatan
tidur.
2. Untuk dapat
2. Sesuaikan dengan dokter mengetahui
mengenai jadwal pemberian obat pemberian obat
untuk mendukung tidur/siklus terhadap siklus

31
bangun pasien tidur/bangun
pasien

32
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Hiposmia adalah penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau,

dimana indra penghidu mengalami gangguan yang tidak dapat mendeteksi bau

yang ada sehingga indra penghidu tidak dapat berfungsi secara normal.

Gangguan penghidu dapat menyebabkan seseorang tidak dapat

mendeteksi kebocoran gas, tidak dapat membedakan makanan basi,

mempengaruhi selera makan, mempengaruhi psikis, dan kualitas hidup

seseorang.

Insiden gangguan penghidu di Amerika Serikat diperkirakan sebesar

1,4% dari penduduk.2 Di Austria, Switzerland, dan Jerman sekitar 80.000

penduduk pertahun berobat ke bagian THT dengan keluhan gangguan

penghidu.4 Penyebab tersering gangguan penghidu adalah trauma kepala,

penyakit sinonasal dan infeksi saluran nafas atas.

33
DAFTAR PUSTAKA

Huriyati, Efy., Nelvia, Tuti. 2014. Gangguan Fungsi Penghidu dan

Pemeriksaannya. Jurnal Kesehatan Andalas. Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas. Vol 3. http://jurnal.fk.unand.ac.id . 22 Oktober

2018

Tangkelangi, Anita R., Ronaldy,E.C,.Tumbel, Steward K.Mengko,. 2016.

Jurnal e-Clinic (eCI) Universitas Sam Ratulangi. Vol 4.

http://ejournal.unsrat.ac.id . 22 Oktober 2018

Rambe, Andrina Y.M., Delfitri Munir, Yuritna Haryono. 2006. Epistaksis.


Diambil dari http://repository.usu.ac.pdf. Pada tanggal 26 November
2016

Britsh, 2015. Journal Hospital Medicine on


March18,2015.https://www.uea.ac.uk>document.23 Oktober

http://www. E-jornal Hiposmia.unhas.documents.file.2015. 23 Oktober

34