Anda di halaman 1dari 4

Nama : Muhammad Vary Pramadezta

Kelas : Beta 2015


NIM : 04011381520107

Learning Issues

SINTESIS DARAH
Zat besi dari makanan akan diabsorbsi di usus halus melalui transpor aktif. Zat besi
kemudian akan diikat dan dibawa dalam aliran darah oleh protein transferrin. Zat besi akan diambil
oleh sumsum tulang untuk membuat gugus heme yang diperlukan bagi perkembangan SDM. Bila
jumlah Fe berlebih, hati akan menyimpannya dalam bentuk ferritinin dan turunannya. Sintesis Hb
dimulai dalam proeritroblas dan berlanjut dalam stadium retikulosit pada sintesis SDM.
1) Mula-mula suksinil-KoA (dari siklus Krebs) berikatan dengan glisin yang akan ber-
kondensasi membentuk asam δ-aminolevulinat (δ-ALA) dengan katalis enzim δ-ALA
sintase dan memerlukan piridoksal fosfat. Dalam reaksi ini, glisin mengalami dekar-
boksilasi.
2) Selanjutnya, dengan dikatalisis oleh δ –ALA dehidratase, 2 molekul δ-ALA menyatu un-
tuk membentuk pirol porfobilinogen.
3) Kemudian 4 cincin pirol akan berkondensasi membentuk sebuah rantai linear dan
mengandung gugus asetil (A) dan propionil (P).
4) Gugus asetil mengalami dekarboksilasi untuk membentuk gugus metil.
5) Kemudian dua rantai sisi propionil yang pertama mengalami dekarboksilasi dan tero-
ksidasi ke gugus vinil, membentuk protoporfirinogen.
6) Jembatan metilen kemudian mengalami oksidasi untuk membentuk protoporfirin IX.
7) Lalu, besi (Fe2+) digabungkan ke dalam protoporfirin IX dalam reaksi yang dikatalisis
oleh ferokelatase (heme sintase) membentuk heme.
8) Setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang (globin), yang disin-
tesis oleh ribosom, membentuk rantai hemoglobin (α atau β). Empat rantai ini kemudian
berikatan longgar satu sama lain membentuk molekul hemoglobin yang lengkap.
HB MALAY
Hb Malay adalah salah satu hemoglobinopati pada rantai beta globin, yakni karena adanya
mutasi pada kodon ke 19 yang mengubah asam amino asparagine menjadi serin (A->G).
Hemoglobinopati adalah kelainan genetic yang menyebabkan struktur abnormal dari rantai
globin. Ini bisa disebabkan oleh subsitusi asam amino, delesi, hibridisasi abnormal diantara dua
rantai, atau elongasi abnormal pada rantai globin. Keabnormalan ini dapat menyebabkan efek fisiol-
ogis, tapi hemoglobinopati parah juga diiringi dengan hemolysis.
Thalasemia adalah kelainan genetic yang menyebabkan penurunan atau tidak diproduksinya
sama sekali salah satu jenis rantai globin. Ini menyebabkan produksi rantai globin yang tidak seim-
bang dan jumlah sel darah merah yang berkurang.
Istilah hemoglobinopati dan thalassemia tidaklah sama. Beberapa hemoglobinopati termasuk
thalassemia yangmana bentuk hemoglobin yang abnormal (hemoglobinopati) mungkin juga di-
produksi kurang (thalassemia). Juga, beberapa hemoglobinopati dan thalassemia termasuk anemia
hemolitik.

Epidemiologi

Talasemia β memiliki distribusi sama dengan Talasemia α. Dengan kekecualian di beberapa


negara, frekuensinya rendah di Afrika, tinggi di Mediterania dan bervariasi di Timur Tengah, India
dan Asia Tenggara. HbE yang merupakan varian Talasemia sangat banyak dijumpai di India, Burma
dan beberapa negara Asia Tenggara. Adanya interaksi HbE dan Talasemia β menyebabkan Talasemia
HbE sangat tinggi di wilayah ini. Tingginya frekuensi Talasemia mempengaruhi kekebalan HbE ini
terhadap malaria plasmodium falsiparum yang berat. Hal ini membuktikan penyakit ini disebabkan
oleh mutasi baru dan penyebarannya dipengaruhi oleh seleksi lokal oleh malaria. Kenyataan bahwa
mutasi tersebut berbeda di setiap populasi, menunjukkan seleksi ini baru terjadi dalam beberapa ribu
tahun.

Etiologi

Talasemia khususnya Hb Malay (ά 2β219 (B1) A >G (Asn->Ser) bukan penyakit menular
melainkan penyakit yang diturunkan secara genetik dan resesif. Penyakit ini diturunkan melalui gen
yang disebut sebagai gen globin beta yang terletak pada kromosom 11 kodon 19. Beta-thalassemia
intermedia disebabkan oleh senyawa heterozigot Hb Malay (beta codon 19 AAC-->AGC, Asn--
>Ser).

Hb Malay terhadap Thalasemia Beta

Lebih 150 mutasi telah diketahui tentang Talasemia β, sebagian besar disebabkan perubahan
pada satu basa, delesi atau insersi 1-2 basa pada bagian yang sangat berpengaruh. Hal ini bisa terjadi
pada intron, ekson ataupun diluar gen pengode. Satu substitusi disebut mutasi non sense menyebab-
kan perubahan satu basa pada ekson yang mengode kodon stop pada mRNA. Hal ini menyebabkan
terminasi sintesis rantai globin menjadi lebih pendek dan tidak tahan lama.

Satu mutasi lain yang disebut frameshift menyebabkan 1-2 basa tidak dibaca sehingga
menghasilkan kodon stop baru. Mutasi pada intron, ekson atau perbatasannya, mengganggu pelepa-
san ekson dari prekursor mRNA. Misalnya satu substitusi pada GT atau AG pada intronekson junc-
tion mengganggu pemisahan, beberapa mutasi pada bagian ini menyebabkan penurunan produksi β
globin.

Mutasi pada sekuen ekson menjadi menyerupai intron-ekson junction mengaktivasi terjadinya
pemisahan. Misalnya sekuen yang menyerupai IVS-1 dan kodon 24-27 pada ekson 1 gen globin β,
mutasi pada kodon 19 (A-G), 26 (G-A) dan 27 (G-T) menyebabkan penurunan jumlah mRNA karena
splicing abnormal dan substitusi asam amino pada mRNA normal yang diterjemahkan menjadi pro-
tein. Hemoglobin abnormal yang dihasilkan adalah hemoglobin Malay, E dan Knossos yang mem-
berikan fenotip Talasemia β minor. Substitusi satu basa juga terjadi pada bagian kosong gen globin
β. Bila mengenai bagian promoter, menurunkan jumlah transkripsi gen globin β dan menyebabkan
Talasemia β minor. Mutasi pada bagian akhir (3’) mempengaruhi prosesing mRNA dan menyebabkan
Talasemia β mayor.

Talasemia-β dibagi dalam 4 kelompok :


1. Talassemia-β (silent carrier)
Merupakan penderita talasemia dengan variasi mutasi β yang heterogen, dimana hanya terjadi
sedikit gangguan produksi rantai-β, sehingga hampir tidak ditemukan kelainan hematologis.
2. Talasemia-β minor (trait)
Keadaan ini biasanya tanpa gejala, ditandai dengan gambaran darah mikrositik hipokrom (MCV
dan MCH rendah) dan anemia ringan (hemoglobin 10-15 g/dl). Kadar Hb A2 yang tinggi (>3,5%)
memastikan diagnosis
3. Talasemia intermedia
Kasus talasemia dengan derajat keparahan sedang (hemoglobin 7,0-10,0 g/dl). Penderita talase-
mia-β intermedia secara klinis dapat berupa asimptomatik, namun kadang-kadang memerlukan
transfusi darah yang umumnya tidak bertujuan untuk mempertahankan hidup.
4. Talasemia-β mayor
Keadaan ini rata-rata terjadi pada 1 dari 4 anak bila kedua orang tuanya merupakan pembawa
sifat talasemia-β. Tidak ada rantai β atau sedikit rantai β yang disintesis. Rantai α yang berlebih
berpresipitasi dalam eritroblas dan eritrosit matur, menyebabkan eritropoesis inefektif dan he-
molisis berat.

Daftar Pustaka

Abidin, S. B. Z. 2011. Hemoglobin. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bit-


stream/123456789/21400/4/Chapter%20II.pdf pada 31 Mei 2016.

Suthat Fucharoen. 2011. "Haemoglobinopathies in Southeast Asia". http://www.ncbi.nlm.nih. gov


pmc/articles/PMC3237250/, diakses pada 31 Mei 2016