Anda di halaman 1dari 112

PT.

PRIMA BERKAT MINERAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Sektor Energi dan


Sumber Daya Mineral khususnya larangan ekspor Raw Material, hal ini
mendorong kepada perusahaan tambang baik yang diusahakan sendiri
ataupun dalam bentuk apiliasi dari beberapa perusahaan membangun
Smelter guna mengatasi persoalan tersebut agar kegiatan disektor
pertambangan mineral logam khususnya, dapat tetap bisa berjalan
dengan normal. Dengan tumbuhnya smelter di Indonesia mendorong
meningkatnya permintaan akan bahan galian batuan (Batu Gamping) yang
berfungsi sebagai bahan imbuh untuk proses peleburan dan pemurnian
baja. Dalam peleburan dan pemurnian besi atau logam lainnya, batu
gamping/ dolomit berfungsi sebagai imbuh pada tanur tinggi. Proses
peleburan unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan bahan pengimbuh
berupa terak cair (seng) yang mengapung di atas lelehan besi, sehingga
mudah dipisahkan. Disamping itu, CaO dalam batu gamping harus
berkadar tinggi, sarang dan keras. Hal itu diperlukan untuk mengikat gas-
gas seperti SO2 dan H2S.

Untuk mendukung kegiatan dari beberapa smelter yang sudah


mulai beroperasi termasuk yang ada di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah
dan daerah sekitar menjadi prospek dan peluang yang mencoba dijawab
oleh PT. Prima Berkat Mineral dalam rangka menyiapkan kebutuhan akan
batu gamping bagi industri tersebut.

Studi kelayakan 1
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

PT. Prima Berkat Mineral merupakan Perusahaan Swasta Nasional yang


berada di Kabupaten Morowali berencana akan melakukan penambangan
batu gamping yang ada di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah.
PT. Prima Berkat Mineral saat ini telah memegang Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi
Tengah Nomor : 540/368/IUP-E/DPMPTSP/2018 Tentang Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi Batuan Tertanggal 16 Mei 2018 dengan masa
berlaku 3 tahun sejak tanggal ditetapkan, atas nama PT. Prima Berkat
Mineral dengan luas area IUP Eksplorasi 187,41. PT. Prima Berkat Mineral
mempunyai kewajiban untuk melakukan pekerjaan eksplorasi di wilayah
konsesi IUP Eksplorasi tersebut.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk ikut berpartisipasi dalam


melakukan produksi Batu Gamping antara lain:

a. Potensi yang cukup besar yang dimiliki oleh PT. Prima Berkat Mineral
secara khusus dari hasil kegiatan eksplorasi dan potensi yang dimiliki
Kabupaten Morowali pada umumnya.
b. Meningkatnya kebutuhan pasar khususnya untuk industri smelter
c. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (Pajak Mineral Bukan Logam
dan Batuan).
d. Meningkatkan kontribusi dalam pengembangan masyarakat sekitar
(peningkatan jumlah tenaga kerja serta pengembangan masyarakat di
daerah sekitar tambang).
e. Efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam:
 Melalui penggunaan fasilitas infrastruktur dan sumberdaya
manusia yang ada.
 Efisiensi dan pengembangan secara ekonomis dalam
penggabungan dengan rencana penambangan yang telah ada di
area Kabupaten Morowali.

Studi kelayakan 2
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Kabupaten Morowali mempunyai prospek yang cukup cerah dalam bidang


pertambangan Batu Gamping, karena di daerah ini ditemukan potensi
Batu Gamping yang cukup banyak dan bila potensi tersebut bisa
dikembangkan dan dikelola dengan baik, maka Kabupaten Morowali akan
mendapatkan sumber PAD yang cukup besar dan bisa mensejahterakan
masyarakat sekitar baik langsung maupun tidak langsung yang
berhubungan dengan aktivitas pertambangan tersebut.

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, maka PT. Prima Berkat Mineral


mencoba untuk turut serta dalam pemenuhan kebutuhan Batu Gamping di
Indonesia pada umumnya dan khususnya kebutuhan batu gamping bagi
industri semlter yang ada di Sulawesi Tengah. Wilayah rencana
penambangan yang akan dilakukan terletak di Desa Sambalagi Kecamatan
Bungku Selatan Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Pemilihan
daerah rencana pertambangan tersebut dipilih karena di wilayah tersebut
banyak terdapat cadangan Batu Gamping dan dekat dengan rencana
pasar.

Selanjutnya Pemrakarsa perlu melakukan Studi Kelayakan (Feasibility


Study) untuk melihat lebih secara terperinci apakah usaha penambangan
yang akan dilakukan oleh PT. Prima Berkat Mineral layak dilakukan atau
tidak.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Dalam usaha untuk turut serta memenuhi permintaan Batu


Gamping dalam dan luar negeri, PT. Prima Berkat Mineral bermaksud
melakukan eksploitasi Batu Gamping dengan Tujuan adalah untuk menilai
ke-ekonomian, nilai tambah, dan layak atau tidaknya rencana kegiatan
penambangan Batu Gamping, baik dipandang dari aspek kualitas dan

Studi kelayakan 3
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

kuantitas, metode penambangan, peralatan yang digunakan, penimbunan,


transportasi, fasilitas pengolahan, pemasaran, lingkungan dan K3, tenaga
kerja, sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan maupun biaya
investasi.

Hasil studi kelayakan dapat digunakan sebagai acuan dan pertimbangan


untuk menyusun program-program dan prioritas kegiatan yang akan
dilakukan oleh pihak perusahaan. Juga dapat dijadikan sebagai panduan
dan pedoman bagi Pemerintah mengawasi kegiatan penambangan
PT. Prima Berkat Mineral.

1.3. RUANG LINGKUP DAN METODE STUDI

Kajian kelayakan yang dilakukan akan meliputi berbagai aspek yang


berkaitan dengan usaha peningkatan produksi Batu Gamping pada wilayah
penambangan yang akan beroperasi. Adapun studi ini antara lain terdiri
dari hal-hal sebagai berikut :

1.3.1. Penilaian dan Pengkajian Data (Sekunder) yang Tersedia

PT. Prima Berkat Mineral telah memiliki data berupa data laporan
kegiatan eksplorasi pendahuluan dan data penunjang lainnya. Data
tersebut akan digunakan sebagai data dasar dan acuan utama
untuk melaksanakan kajian yang mencakup aspek:

a. Kondisi geologi, topografi, kondisi daerah lokasi, keadaan


lingkungan, sarana transportasi dan tenaga kerja;
b. Cara atau metode penyelidikan dan peralatan yang digunakan;
dan
c. Kondisi potensi Batu Gamping yang meliputi kedudukan dan
penyebarannya, kuantitas dan kualitasnya.

Studi kelayakan 4
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

1.3.2. Pengkajian Data yang Diperoleh dari Lapangan

Dalam rangka penambangan Batu Gamping ini, maka diperlukan


data tambahan untuk mendukung teknis penambangan. Adapun
data tambahan tersebut adalah data pengamatan lapangan secara
langsung dan data yang berkaitan dengan geologi teknik.

Dari data sekunder yang telah tersedia dan tambahan data


lapangan beserta data geoteknik dan hidrogeologi, maka lingkup
kajian akan meliputi:

a. Aspek penambangan yang mencakup desain tambang, metode,


dan tahapan penambangan, penimbunan Batu Gamping, jumlah
dan jenis peralatan yang diperlukan, rencana dan jadwal
produksi;
b. Aspek pengangkutan dan penimbunan Batu Gamping atau
tanah buangan yang meliputi jarak angkut, kondisi jalan, serta
lokasi dan kapasitas tempat penimbunan;
c. Aspek pengolahan Batu Gamping, kapasitas pengolahan,
jumlah dan jenis peralatan yang digunakan, pengangkutan
lewat darat dan laut untuk tujuan pemasaran, dan kondisi
dermaga/pelabuhan untuk sarana pemuatan Batu Gamping;
d. Aspek lingkungan yang mencakup dampak lingkungan,
pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat dan pasca
penambangan, dan keselamatan kerja;
e. Aspek pemasaran Batu Gamping yang mencakup prospek
pemasaran, jenis, jumlah dan harga pasar; dan
f. Aspek ekonomi yang mencakup jumlah investasi, modal kerja dan
analisis kelayakan.

Studi kelayakan 5
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

1.3.3. Deskripsi Kegiatan

Dari uraian tersebut di atas, maka kegiatan pekerjaan kajian akan


berbagai kondisi kegiatan penambangan yang akan dilakukan
PT. Prima Berkat Mineral adalah sebagai berikut :

 Geologi Tambang, yaitu kajian yang bertujuan mengevaluasi


data geologi yang tersedia, baik yang lama maupun yang baru
termasuk data pemetaan dan sampling sehingga dapat
digunakan untuk desain tambang.
Lingkup Pekerjaan
a. Kajian topografi/morfologi
b. Stratigrafi dan Struktur geologi
c. Pemetaan penyebaran kualitas Batu Gamping
d. Pemetaan ketebalan lapisan penutup di daerah tambang
terbuka
e. Kondisi panel penambangan
f. Cadangan Batu Gamping

 Hidrologi dan Hidrogeologi, yaitu untuk menganalisis


pengaruh air tanah terhadap tambang, mempelajari fluktuasi
muka air tanah dan mempelajari karakteristik aquifer. Data ini
dipergunakan sebagai masukan untuk lanjutan perancangan
sistem pengaliran tambang.
Lingkup Pekerjaan
a. Analisis data hidrologi dan hidrogeologi
b. Perancangan sistem pengaliran tambang yang sesuai dengan
strategi dan sistem penambangan yang direncanakan.

Studi kelayakan 6
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

 Analisis Kualitas Batu Gamping, yaitu untuk menentukan


kualitas lapisan Batu Gamping yang potensial. Data ini sangat
berguna untuk mengantisipasi permintaan pihak konsumen.
 Perencanaan Tambang, yaitu perencanaan tambang terbuka
bertujuan untuk melakukan penambangan Batu Gamping di
batas elevasi yang masih menguntungkan.
Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi geometri lereng
b. Penentuan batas tambang baik ke arah lateral maupun
vertikal
c. Perencanaan jadwal produksi dan peralatan
d. Perencanaan penambangan

 Transportasi yaitu untuk mengevaluasi pengangkutan tanah


buangan (overburden) ke waste dump area (WDA) dan stockpile
(crushing plant) beserta pengangkutan Batu Gamping.
Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi kelayakan teknis jalur pengangkutan
b. Jadwal waktu pengangkutan
c. Evaluasi daya tampung dan daya angkut dump truck
d. Kajian finansial dan ekonomi setiap alternatif
e. Penentuan dan rancangan alternatif terpilih

 Pengolahan Batu Gamping, yaitu untuk mengevaluasi tingkat


kemampuan memproses ROM (Batu Gamping) menjadi produk
siap jual.

Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi kapasitas crushing plant (CP)
b. Jumlah CP yang diperlukan

Studi kelayakan 7
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

c. Kapasitas stockpile di CP dan stockpile siap jual di tujuan


akhir atau pelabuhan

 Kelayakan Ekonomi, yaitu untuk menilai kelayakan cadangan


Batu Gamping di wilayah IUP PT. Prima Berkat Mineral secara
ekonomi.
Lingkup Pekerjaan
a. Perencanaan organisasi dan tenaga kerja
b. Analisis pasar Batu Gamping
c. Analisis ekonomi
d. Analisis finansial
e. Analisis ekonomi pasca penambangan dan reklamasi.

1.3.4. Metode Studi

Metode studi yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai


berikut:

a. Penggunaan data primer, Pengamatan dan pengukuran


lapangan
 Morfologi lapangan dan singkapan Batu Gamping
 Jalur transportasi dan lain-lain
 Percontohan Batu Gamping
b. Penggunaan data sekunder
 Curah hujan
 Data peralatan tambang
 Data geologi dan eksplorasi
c. Asumsi
 Bunga bank
 Ekskalasi pendapatan dan biaya
 Data peralatan tambang

Studi kelayakan 8
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

DATA EKSPLORASI
1. Peta topografi dan geologi
2. Kajian Potensi Batu Gamping
3. Analisa sampel
4. Kualitas Batu Gamping

INFRASTRUKTUR TAMBANG
RENCANA PENAMBANGAN
1. Pengangkutan dan
1. Mineable STRUKTUR ORGANISASI
Penimbunan (Jalan angkut,
2. Target prouksi DAN
barge loader dan ship loader)
3. Peralatan Penambangan
2. Kantor, bengkel, gudang, base SUMBERDAYA MANUSIA
4. Layout tambang
camp dll.

LINGKUNGAN DAN PENGOLAHAN BATU PENGEMBANGAN


MASYARAKAT,
KESEHATAN DAN GAMPING
PASCA TAMBANG,
KESELAMATAN KERJA 1. Spesifikasi feeding
PENGGUNAAN PRODUK
TAMBANG 2. Spesifikasi product LOKAL
3. Target produksi

PEMASARAN

tidak layak
KAJIAN STOP
KELAYAKAN

layak

EKSPLOITASI

Gambar 1.1. Bagan Alir Metode Studi

1.4. TIM PENYUSUN DAN PELAKSANA KEGIATAN


Penyusunan dokumen studi kelayakan rencana Penambangan Batu
Gamping oleh PT. Prima Berkat Mineral dibantu oleh Tim ahli yang

Studi kelayakan 9
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

berpengalaman dalam Bidang Pertambangan, Geologi dan yang terkait


dalam penyusunan dokumen tersebut.
Adapun pelaksana kegiatan rencana penambangan Batu Gamping
adalah :

Nama Perusahaan : PT. PRIMA BERKAT MINERAL


Alamat Perusahaan : Gedung SCT Senayan Lantai 4 Unit 31 dan
34 Jl. Asia Afrika Pintu IX, Kel Gelora, Kec.
Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Penanggung Jawab : FERDINAN N. ISKANDAR
Jabatan : Direktur Utama
Lokasi Kegaiatan : Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku
Selatan, Kabupaten Morowali, Provinsi
Sulawesi Tengah
Bidang Usaha : Penambangan Batu Gamping

1.5. JADWAL WAKTU STUDI

Studi kelayakan PT. Prima Berkat Mineral dalam rangka rencana


eksploitasi/penambangan Batu Gamping di Desa Sambalagi Kecamatan
Bungku Selatan Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah ini
dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan, dengan jadwal pelaksanaan
pekerjaan seperti tertera pada Tabel di bawah.

Studi kelayakan 10
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 1.1 : Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Waktu Kerja (Minggu)

No. Uraian Kegiatan Bulan Ke-1 Bulan Ke-2

1 2 3 4 1 2 3 4

1. Persiapan, Studi Literatur dan Kerangka Studi


Kelayakan

2. Pengambilan Data dan Evaluasi Data Eksplorasi

3. Diskusi Tim Penyusun

4. Studi Analisis Ekonomi dan Investasi

5. Pengolahan Data, Pembahasan, Diskusi dan


Penyusunan Laporan

Studi kelayakan 11
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB II
KEADAAN UMUM

2.1. LOKASI DAN LUAS WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN

PT. Prima Berkat Mineral sebagai pemegang Izin Usaha


Pertambangan Eksplorasi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi
Tengah Nomor : 540/368/IUP-E/DPMPTSP/2018 Tentang Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi Batuan PT. Prima Berkat Mineral Tertanggal 16
Mei 2018 dengan luas area IUP Eksplorasi 187.41 hektar, secara rinci
terletak pada peta lokasi dan koordinat :

Tabel 2.1 Koordinat IUP PT. Prima Berkat Mineral

Garis Bujur Garis Lintang


No
(Bujur Timur (BT) (Lintang Selatan (LS)
º ' " º ' "
1 122 18 57.5 3 6 45.4
2 122 19 42.6 3 6 45.4
3 122 19 42.6 3 7 24
4 122 20 8.1 3 7 24
5 122 20 8.1 3 7 11.9
6 122 21 8.9 3 7 11.9
7 122 21 8.9 3 7 20.2
8 122 21 16 3 7 20.2
9 122 21 16 3 7 24.1
10 122 21 31.7 3 7 24.1
11 122 21 31.7 3 7 29.9
12 122 21 35.1 3 7 29.9
13 122 21 35.1 3 7 35
14 122 21 38.9 3 7 35
15 122 21 38.9 3 7 38.6
16 122 21 45.9 3 7 38.6

Studi kelayakan 12
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

17 122 21 45.9 3 7 51
18 122 19 48.8 3 7 51
19 122 19 48.8 3 7 47.3
20 122 20 21.9 3 7 47.3
21 122 20 21.9 3 7 41.3
22 122 20 39.7 3 7 41.3
23 122 20 39.7 3 7 36.4
24 122 20 44.1 3 7 36.4
25 122 20 44.1 3 7 16.1
26 122 20 10.4 3 7 16.1
27 122 20 10.4 3 7 27.1
28 122 19 42.8 3 7 27.1
29 122 19 42.8 3 7 33
30 122 19 32.7 3 7 33
31 122 19 32.7 3 7 51
32 122 18 57.5 3 7 51
Sumber : IUP Eksplorasi PT. Prima Berkat Mineral, 2018

Gambar 2.1 Peta Lokasi IUP PT. Prima Berkat Mineral

Studi kelayakan 13
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

2.2. KESAMPAIAN DAERAH DAN SARANA PERHUBUNGAN

Wilayah IUP Eksplorasi PT. Prima Berkat Mineral memiliki luas Luas
187.41 Ha. Secara administratif, lokasi IUP PT. Prima Berkat Mineral
terletak di Desa Sambalagi Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten
Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah.

Kesampaian wilayah dari Kota Palu (Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah)


menuju Kota Bungku (Ibukota Kabupaten Morowali) dapat ditempuh
menggunakan kendaraan roda dua, empat dan lebih dalam waktu ± 12
jam dengan kondisi jalan melewati jalan trans sulawesi sebagian beraspal
baik dan sebagian masih dalam tahap perbaikan. Perjalanan dari Bungku
menuju lokasi IUP PT. Prima Berkat Mineral ditempuh menggunakan
kendaraan roda dua, empat dan lebih dengan waktu 2,5 jam dengan
kondisi sebagian jalan beraspal dan sebagian jalan desa yang belum
beraspal. Jalan ini dapat dilalui apabila musin kemarau namun apabila
musim hujan lokasi IUP dapat ditempuh menggunakan kapal ukuran kecil
dengan kapasitas atau dapat pula menggunakan perahu mesin istilah lokal
“katinting” dengan waktu tempuh 1.5 jam dari pelabuhan di desa Lahuafu.

2.3. KEADAAN LINGKUNGAN

2.3.1. Penduduk

Kabupaten Morowali Utara sebagai salah satu kabupaten


muda di Sulawesi Tengah. Kabupaten Morowali terbentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013. Luas wilayah
sebesar 14,73 persen dari luas wilayah Sulawesi Tengah.
Kabupaten Morowali terletak pada pesisir pantai diperariran Teluk
Tolo, serta kawasan lainnya yang terletak di kawasan dataran,
lembah dan lereng pegunungan. Kabupaten Morowali terdiri dari

Studi kelayakan 14
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

10 Kecamatan yang terdiri dari 3 Kelurahan dan 122 Desa.


Sebagaian besar desa/kelurahan di Kabupaten Morowali merupakan
desa/kelurahan bukan pesisir pantai yang jumlahnya mencapai 97
desa/kelurahan dan desa/kelurahan pesisir pantai sebanyak 28
desa/kelurahan. Topografi desa/kelurahan bukan pesisir terdiri dari
lembah 14 desa dan lereng 28 desa dan dataran 55 desa.
Persebaran penduduk di Kabupaten Morowali masih didominasi oleh
beberapa daerah konsentrasi penduduk. Jumlah penduduk
Morowali tahun 2014 yakni 114.982 jiwa dengan luas wilayah
sekitar 10.018,12 km² hanya ditempati penduduk sebanyak 11
orang pada tahun 2014.

2.3.2. Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk yang ada di Desa Sambalagi


Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi
Tengah bermacam-macam, namun banyak yang mengolah ladang
atau kebun yang mereka miliki, nelayan. Sebagian lagi ada yang
menjadi PNS, wiraswasta, atau pekerjaan sektor industri yang
tentunya juga mampu menopang hidup keluarga.

2.3.3. Keadaan Flora dan Fauna

Biota darat, meliputi semua organisme yang menghuni daratan


pada permukaan tanah dan dalam tanah baik yang bersifat
immobil meliputi semua vegetasi maupun yang bersifat mobil
meliputi semua fauna yang ada. Pada mulanya hutan alam yang
terdapat di kaki pegunungan gamping dengan keanekaragaman
vegetasi.

Namun kemudian setelah masyarakat mengeksploitasi hasil-hasil


hutan baik yang berwujud kayu maupun nir kayu, maka terjadilah

Studi kelayakan 15
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

degenerasi terhadap hutan alam tersebut dari waktu ke waktu.


Akibat dari degenerasi ini, maka semakin hari semakin bertambah
jumlah spesies yang langka dalam hutan alam tersebut. Apalagi,
semakin hari hutan alam yang bersifat primer semakin tipis, maka
masalah kelangkaan jenis flora dan fauna semakin menjadi
persoalan yang serius. PT. Prima Berkat Mineral merencanakan
kegiatan penambangan Batu Gamping pada areal yang telah
ditentukan di Desa Sambalagi Kecamatan Bungku Selatan
Kabupaten Morowali sesuai dengan perizinan yang dimilikinya.

Berikut ini akan disajikan hasil pengamatan terhadap berbagai jenis


flora dan fauna di areal studi.

a. Flora
Lokasi kegiatan terdiri dari ekosistem hutan/perkebunan, yakni :
Ekosistem hutan diatas tanah dan berbukitan pada wilayah
daratan rendah.

Tabel 2.2 Jenis Vegetasi Hutan, Belukar dan Semak di lokasi

No Nama Indonesia/Daerah Nama Ilmiah Keterangan


1 Ketapang Cassia alata
2 Lamtoro Leuceana glauca
3 Kayu turi Sesbania grandiflora
4 Kayu langsat Kleinhovia hospital
5 Bambu Bambusa sp
6 Rumput – rumputan Setaria sp
7 Cempedak hutan Digitaria sp
8 Laban Vitex pubescens
9 Rumput lari – lari Spinifex litoralis
10 Kayu Rau Lantana camara
11 Bance Lannea grandis
12 Kayu api-api Avicenia sp
13 Lingkobon Eucalyptus degluptu
14 Pakis Senoteyon
Sumber : Dokumen AMDAL PT. Prima Berkat Mineral

Studi kelayakan 16
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 2.2. Vegetasi Sekitar Wilayah IUP

b. Fauna Darat

Fauna darat merupakan bagian dari komponen suatu ekosistem


yang mampu membentuk suatu komunitas tersendiri karena
kemampuan mobilitas dan daya adaptasinya. Keberadaan fauna
sangat terganggu dengan keberadaan flora, karena flora
tersebut merupakan habitat, sumber makanan untuk herbifora
dan tempat mencari makanan khususnya dari golongan carnivore
sesuai dengan rantai makanan yang ada dalam ekosistem
tersebut. Berdasarkan hasil survey lapangan, jenis satwa yang
dijumpai untuk jenis mamalia yaitu babi hutan, musang, bajing,
dan untuk jenis burung (aves) seperti camar (larus sp), serta
untuk jenis reptilian seperti biayak (Veranus salvatus) dan kadal

Studi kelayakan 17
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

(Mabouya multifasciata) dan ular, secara umum tidak terdapat


jenis fauna langka dan dilindungi, meskipun berdasarkan
informasi masyarakat, sering melintas burung rangkok yang
tergolong jenis burung dilindungi. Hal ini perlu pengamatan yang
lebih teliti, apakah burung tersebutmenjadikan kawasan tersebut
menjadi habitatnya atau hanya merupakan daerah edar dan
perlintasan.

Tabel 2.3 Kelompok Mamalia di Lokasi kegiatan

No Nama Fauna Nama Ilmiah Keterangan

1 Babi hutan Zus vilatus

2 Tupai Callosciurus prevostii

3 Kalong Reusettus sp

4 Kelelawar Myotis sp

5 Musang Paradoxurus hemaproditus

6 Ular Cervus timorensis


Sumber : Dokumen AMDAL PT. Prima Berkat Mineral

2.3.4. Iklim
a. Type Iklim

Kecamatan Bungku Selatan khususnya Desa Sambalagi seperti


halnya daerah - daerah di Indonesia merupakan daerah hujan
tropis yang ditandai dengan adanya pergantian dua musim
yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau
biasanya tiba antara bulan Agustus sampai dengan bulan
Desember pada saat angin bertiup dari arah barat laut.
Sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Januari sampai
bulan Juli dan ini diakibatkan oleh adanya angin yang bertiup

Studi kelayakan 18
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

dari tenggara. Pada musim kemarau sering kali juga turun


hujan, walaupun tidak lebih dari saat musim hujan.

b. Kualitas Udara dan Kebisingan

Kualitas udara diwilayah study secara umum masih bersih dan


belum tercemar dengan kosentrasi debu di pemukiman
penduduk tergolong rendah (63 sampai 80 ug/m3).

Tingkat kebisingan dilokasi relatif masih rendah 38 sampai 49


dBA serta tertinggi 42 sampai 53 dBA karena belum adanya
kegiatan fisik yang menimbulkan kebisingan tinngi. Baku mutu
lingkungan berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 41
tahun 1999 SO2. NO2 dan debu. Keputusan Menteri Negara LH
Kep-50/MENLH/II/1996 (NH3 dan H2S) serta keputusan
Menteri Negara LH No Kep-48/MENLH/11/1996 (Kebisingan).

c. Temperatur dan Kelembaban Udara

Data iklim yang meliputi temperature kelembaban udara,


kecepatan dan arah angin untuk wilayah Desa Sambalagi
sekitarnya diketahui bahwa dari hasil pengamatan di lapangan
menunjukan suhu udara terendah 20,44o Celcius dan suhu
udara maksimun 30,1o Celcius dengan rata rata 26,8o Celcius
sementara untuk kelembaban antara 73% sampai dengan 90%
yang terjadi pada lokasi terbuka.

2.3.5 Sosial Ekonomi

Mayoritas penduduk dari kedua kelurahan yang termasuk wilayah


studi beragama Islam. Desa Sambalagi Kecamatan Bungku Selatan
Kabupaten Morowali mempunyai beberapa stu buah Masjid sebagai
tempat beribadah.

Studi kelayakan 19
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Selain itu ada kegiatan ibu-ibu yang secara rutin mengadakan


pertemuan dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar
warga. Sehubungan dengan agama Islam yang banyak dipeluk
oleh masyarakat maka banyak diantara adat-istiadat yang
bernafaskan Islam, misalnya: Upacara kelahiran, sunatan,
perkawinan, kematian, "nunggu rumah", membuka lahan untuk
huma/tegalan, dan lain-lain.

Lembaga kemasyarakatan atau pranata sosial merupakan tatanan


sosial dalam kehidupan masyarakat yang didalamnya
terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan
dengan batas-batas perangkat unsur-unsur yang menunjuk pada
satu keteraturan perilaku sehingga dapat memberikan bentuk
sebagai masyarakat.

Pranata sosial yang ada di desa sekitar wilayah IUP terdiri dari
lembaga formal dan non formal. Lembaga formal yang ada adalah
lembaga yang sudah diatur pemerintah untuk membantu
kelancaran pembangunan kelurahan. Lembaga tersebut adalah
BPRD, BPD dan, PKK. Kegiatan lembaga formal ini dipimpin oleh
seorang Kepala Desa yang dibantu oleh aparat pendukungnya.

2.4. MORFOLOGI

a. Morfologi Perbukitan Bergelombang Terjal


Morphology bergelombang Terjal terletak pada IUP PT. Prima
Berkat Mineral dan memanjang dari Barat ke Timur, dengan
slope 35º - 65º di susun oleh batuan sedimen terdiri dari batu
gamping dan meta limestone.

Studi kelayakan 20
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 2.3 Morfologi Bergelombang Terjal

b. Morphology Perbukitan Sedang

Morphology bergelombang Sedang terletak di bagian Timur


daerah penelitian dengan memiliki pungungan memanjang dari
arah Utara – Selatan, dengan slope 10º - 25º di susun oleh
batuan sedimen.

Gambar 2.4 Morfologi Bergelombang Sedang

Studi kelayakan 21
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

2.5. HIDROLOGI

Kajian hidrologi bertujuan untuk menganalisis karakteristik curah


hujan di wilayah IUP. Hasil analisis hidrologi tersebut merupakan
masukan untuk perancangan sistem penyaliran/ penirisan tambang.

Air limpasan (surface run off) adalah bagian dari curah hujan yang
mengalir di atas permukaan tanah menuju ke sungai, danau
maupun laut (Asdak, 1995).

Aliran tersebut terjadi karena air hujan yang mencapai


permukaan tanah tidak terinfiltrasi akibat intensitas hujan melampaui
kapasitas infiltrasi atau faktor lain, seperti kemiringan lereng, bentuk dan
kekompakan permukaan tanah serta vegetasi (Arsyad, 1989). Disamping
itu, air hujan yang telah masuk kedalam tanah kemudian keluar lagi
ke permukaan tanah dan mengalir ke bagian yang lebih rendah (Sri
Harto, 1985).

Dari pengamatan Tim Eksplorasi dapat disimpulkan bahwa pola pengaliran


sungai di wilayah IUP umumnya pola mengalir kesemua arah (dendritik)
dan pola dengan kemiringan relatif landai (anastomotif). Lokasi
penyelidikan merupakan daerah perbukitan yang sebahagian besar
merupakan perbukitan yang terjal, sehingga arus trasportasi relatif
bergerak cepat.

Perkiraan besar v olume air y ang masuk ke dalam pit yang


direncan ak an bergantung pada luas catchment area yang berhubungan
langsung dengan pit serta besar curah hujan. Berdasarkan pengamatan di
lapangan dan analisis dari peta topografi yang ada, secara umum air
permukaan yang akan masuk ke dalam pit kemungkinan tidak terlalu
besar dibandingkan dengan input dari air tanah. Namun demikian
tetap perlu diperhatikan curah hujan dan luas catchment lokasi IUP.

Studi kelayakan 22
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB III
GEOLOGI DAN
KEADAAN BATUAN

3.1 GEOLOGI

3.1.1. Geologi Regional

Berdasarkan peta geologi regional skala 1 : 250.000, yang di


publikasikan oleh Geological Reseach and Development Center
dari bandung, batuan didaerah penelitian terdapat batuan sedimen
dan batuan ultramafik yang terdiri dari dunit, harzburgit, lherzolite,
serpentine, diabas dan gabro yang berumur Kapur ( skala waktu
geologi ).

Kompleks ofiolit tersebut memanjang dari utara Pegunungan


Balantak ke arah tenggara Pegunungan Verbeek, tersusun oleh
dunit, harzburgit, lerzolit, serpentinit, werlit, gabro dan diabas,
basal dan diorit (Simandjuntak, 1991). Sekuen ini tersingkap
dengan baik di bagian utara , sedangkan dibagian tengah dan
selatan, komplek ofiolit ini umumnya tidak lengkap lagi dan telah
terombakkan/ terdeformasi.

Studi kelayakan 23
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 3.1 Peta Geologi Regional Lembar Bungku

Sesar besar disekitar daerah ini menyebabkan relief topografi sampai


600 m dpl dan sampai sekarang aktif tererosi. Sejarah tektonik dan
geomorfik di kompleks ini sangat penting untuk pembentukan mineral
yang bernilai ekonomis. Matano fault yang membuat topographic
liniament yang cukup kuat adalah sesar mendatar sinistral aktif
yang termasuk strike slip fault dan menggeser Matano limestone
dan batuan lainnya sejauh 18 km kearah barat pada sisi Utara. Danau
Matano yang mempunyai kedalaman sekitar 600 m diperkirakan
adalah graben yang terbentuk akibat efek zona dilatasi dari sesar
tersebut. Danau Towuti pada sisi selatan dari sesar diperkirakan
merupakan pergeseran dari lembah Tambalako akibat pergerakan
sesar Matano. Pergerakan sesar ini memblok aliran air ke arah utara
sepanjang lembah dan membentuk danau Towuti dan aliran airnya
beralih ke barat menuju sungai Larona. Danau-danau yang terbentuk
akibat dari “damming effect” dari sesar ini merupakan bendungan
alami yang menahan laju erosi dan membantu mempertahankan

Studi kelayakan 24
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

deposit nikel laterit yang terbentuk di daerah Soroako dan sekitar


kompleks danau.

Gambar 3.2 Peta Struktur Geologi Regional

T A MBAL AK O VAL L E Y AX G U LF O F T O LO
IS

G ULF
OF
D I S P L A C ED T E RT I A RY
EX T E NT I O N O F

3.1.2. Litologi

Di wilayah IUP, bahan galian batu gamping berada pada formasi


Salodik dan Formasi batuan Pandua. formasi batuan ini sebagian
telah mengalami pelapukan dan menjadi tanah dan endapan
alluvial. Beberapa litologi yang dijumpai di lokasi potensi batu
gamping pada IUP PT. Prima Berkat Mineral :

1. Soil
Soil yang dijumpai adalah hasil pelapukan rendah sampai
sedang yang berasal dari batuan Sedimen ( b a t u Gamping).
Endapan soil tersebar di bagian Timur lokasi IUP dan berada
pada lapisan teratas menutupi potensi batu gamping.

Studi kelayakan 25
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 3.3 Pelapukan Brown Soil

2. Batu Gamping

Batu Gamping (limestone) merupakan salah satu jenis batuan


sedimen yang mendominasi wilayah IUP selain kelompok
batuan alluvial dan sebagian kecil batuan batuan ultra basa.
Batu gamping ini tersingkap membentuk perbukitan dan
pegunungan terjal. Batu gamping yang dijumpai pada lokasi
IUP ini merupakan batuan sedimen klastik sehingga
memperlihatkan butiran – butiran dan secara umum memiliki
kekerasan yang cukup tinggi. Batu gamping yang dijumpai
memperlihatkan kenampakan berwarna abu-abu, putih keabu-
abuan sampai putih kecoklatan. Pada lapisan atas singkapan
batu gamping sebagian terdapat soil yang menjadi lapisan top
soil.

Studi kelayakan 26
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 3.4 Bongkahan Batu Gamping

3. Bedrock

Batuan dasar yang ditemukan pada wilayah potensi IUP adalah

batu gamping yang merupakan batuan sedimen klastik dengan

kenampakan berwana putih keabu-abuan sampai putih

kecoklatan. Selain itu terdapat pula dijumpai batuan beku ultra

mafic yang dijumpai pada bagian barat wilayah IUP.

Studi kelayakan 27
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 3.5 Peta Geologi Sekitar IUP PT. Prima Berkat Mineral

3.2 KEADAAN BATUAN

3.2.1. Estimasi Sumber Daya dan Cadangan

PT. Prima Berkat Mineral akan melakukan kegiatan penambangan


dengan komoditas batuan (Batu Gamping). Sebagai parameter
untuk mengetahui dan merencanakan kegiatan penambangan yang
akan dilaksanakan, langkah awal yang harus dilakukan adalah
mengetahui jumlah sumber daya di wilayah IUP. Dalam
Perhitungan Sumber Daya Bahan galian PT. Prima Berkat Mineral
dibagi menjadi 2 tahapan yaitu :

Studi kelayakan 28
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

1. Tahapan perhitungan Luas


Dalam tahapan perhitungan Luas digunakan metode Polygon
dengan bantuan perangkat lunak/software Arcgis.
2. Tahapan Perhitungan Volume
Dalam tahapan perhitungan Volume ini ada dua metode yang
digunakan yaitu Metode Kontur menurut B.C. Craft dan M.F.
Hawkins (1959) serta Metode Buttom Surface menggunakan
Software Minescpae.

3.2.2. Metode Perhitungan

Dalam perhitungan dengan metode kontur, jumlah cadangan akan


dihitung berdasarkan ketinggian masing-masing elevasi. Pada
perhitungan metode kontur ini ketelitian perhitungan dipengaruhi
oleh interval kontur. Untuk mengetahui jumlah sumber daya /
cadangan pada setiap elevasi yaitu mengalikan luas sebaran
bahan galian pada setiap elevasi dengan jarak antar kontur
sebagai ketebalan pada setiap elevasi. Sedangkan sumber daya
keseluruhan diperoleh dari total sumber daya setiap elevasi.

Dengan menggunakan software Minescape Sumber


daya/cadangan di hitung dengan pendekatan teori Box Cut
dimana Topografi permukaan di gunakan sebagai Surface (Roof)
dan Elevasi terendah diwilayah IUP yang merupakan daerah
prospek di gunakan sebagai Buttom (Floor). Dengan bantuan
software maka data surface dan Buttom dapat gunakan untuk
menghitung secara tiga dimensi. Data perhitungan tersebut
kemudian dibuat Level By Level dengan Interval 10 m. Total data
perhitungan Volume dari Level terendah sampai level tertinggi
merupakan Data Sumberdaya yang selanjutnya dapat digunakan

Studi kelayakan 29
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

untuk menghitung Cadangan sesuai pertimbangan Teknis,


Ekonomi dan Teknologi yang memungkinkan untuk dilaksanakan.

Berdasarkan jenis bahan galian yang akan dikelola, karakter lokasi


dan sebaran bahan galian yang ada setelah dilakukan analisis
metode perhitungan cadangan yang sesuai, maka untuk
perhitungan cadangan batu gamping yang merupakan material
penyusun perbukitan Desa Sambalagi, akan digunakan
perhitungan metode Buttom Surface dengan bantuan software
Mienscape.

Gambar 3.6 Pola Perhitungan Sumber Daya 3D


Menggunakan Software Minescape 4.118

Studi kelayakan 30
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 3.7 Penampang Sumberdaya

3.2.3. Sumberdaya dan Cadangan

Sumber daya adalah bagian dari endapan bahan galian

dalam bentuk dan kualitas tertentu serta mempunyai prospek

yang beralasan yang memungkinkan untuk ditambang secara

ekonomis . Lokasi, kualitas, dan kuantitas karakteristik geologi dan

kemenerusan dari lapisan endapan telah diketahui. Menurut

tingkat keyakinan geologi sumber daya terbagi atas 3 kategori

yaitu :

1. Sumber daya tereka diperoleh dari hasil perhitungan setelah

dilakukan interpretasi peta topografi dan peta geologi regional

dengan ketebalan lapisan batu gamping 460 meter maka

Studi kelayakan 31
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

diperoleh nilai sumber daya tereka sebesar 431,043,000 m3

dengan luas penyebaran 187.41 Ha.

2. Sumber daya tertunjuk diperoleh dari data hasil survey geologi

permukaan. Dari kegiatan geologi permukaan diperoleh data

sebaran batu gamping seluas 132.25 Ha dan ketebalan 240

meter maka diperoleh nilai sumber daya terunjuk sebesar

145,585,000 m3.

3. Sumber daya terukur diperoleh dari data hasil kegiatan

sampling dan tes pit pada area yang masuk dalam kategori

Area Penggunaan Lain (APL) seluas 63.3 Ha dengan

ketebalan lapisan 240 meter. Berdasarkan kegiatan tespit

diperoleh ketebalan rata-rata Overburden 2 meter dengan

volume 1,266,000 m3 maka diperoleh nilai sumber daya

terukur sebesar 27,219,000 m3.

Tabel 3.1 Rekapitulasi Sumber Daya


PT. Prima Berkat Mineral
SUMBER DAYA
TEREKA TERUNJUK TERUKUR
VOLUME LUAS VOLUME LUAS VOLUME LUAS
(m³) (Ha) (m³) (Ha) (m³) (Ha)
431,043,000 187.41 145,585,000 132.35 27,219,000 63.30

Dengan mempertimbangkan efektifitas kerja alat, keselamatan


operasi penambangan, kestabilan lereng dan kestabilan
lingkungan pasca penambangan, Maka tidak semua luasan IUP

Studi kelayakan 32
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

yang dihitung sumber dayanya dapat dijadikan sebagai cadangan


terbukti yang layak tambang (mineable reserve).

Dalam perhitungan cadangan terkira dilakukan kajian terkait


dampak lingkungan dan keamanan lereng maka diperoleh luas
area yang dapat dimasukkan dalam kategori cadangan terkira
yaitu 28.13 hektar dengan nilai cadangan terkira 4,219,500 m3.

Selanjutnya salam perencanaan tambang akan dilakukan


pengamanan lereng akhir penambangan dengan membuat bench
/ jenjang, sehingga material / sumber daya pada perencanaan
jenjang tersebut harus tinggalkan. Disamping itu pula karena IUP
PT. Prima Berkat Mineral berbatasan dengan laut sehingga elevasi
penambangan dimulai dari elavasi 60 meter dari permukaan laut
hingga ke puncak bukit, volume overburden yang harus
dipindahkan, dalam wilayah IUP terdapat aliran sungai yang harus
diamankan (harus ada sempadan) dan tidak boleh ditambang.
Dengan memperhitungkan beberapa hal tersebut dilakukan
perhitungan cadangan terbukti (cadangan terbukti karena
walaupun hanya dilakukan test pit namun karakter batu gamping
yang homogen dan hampir merata) diperoleh sebesar
3,676,054 m3.

Jumlah cadangan terbukti PT. Prima Berkat Mineral ini yang akan
dijadikan acuan untuk analisis perhitungan keekonomian bahan
galian.

Studi kelayakan 33
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 3.2 Estimasi Cadangan


PT. Prima Berkat Mineral

CADANGAN
TERKIRA TERBUKTI
VOLUME LUAS VOLUME LUAS
(m³) (Ha) (m³) (Ha)
4,219,500 28.13 3,676,054 28.13

Gambar 3.8 Penampang Cadangan


PT. Prima Berkat Mineral

Studi kelayakan 34
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB IV
RENCANA PENAMBANGAN

4.1 SISTEM/METODE DAN TATA CARA PENAMBANGAN


4.1.1 Pemilihan Metode Penambangan

Dalam melakukan penambangan batu gamping di lokasi IUP


PT. Prima Berkat Mineral, sistem penambangan yang akan
digunakan adalah sistem penambangan terbuka dengan metode
quarry. Quarry adalah sistem tambang terbuka yang diterapkan
untuk menambang endapan-endapan bahan galian industri atau
mineral industri, antara lain: penambangan batu gamping,
marmer, granit, andesit dan sebagainya. Quarry dapat
menghasilkan material atau hasil tambang dalam bentuk
loose/broken materials ataupun dalam bentuk dimensional
stones. Quarry pada dasarnya sama dengan open pit, namun
yang membedakannya adalah material yang ditambang. Open pit
pada dasarnya merupakan tambang terbuka yang menambang
mineral logam. Sedangkan quarry pada dasarnya merupakan
sistem penambangan terbuka yang menambang mineral non
logam atau batuan. Produk yang dihasilkan pada metode quarry
pada umumnya merupakan bahan galian batuan non logam
(Barton, 1968).

Mengingat material penyusun daerah prospek adalah material


yang tidak begitu keras dan juga terdiri dari material keras, maka
pada sistem penambangan ini akan dilakukan pengambilan
material dengan metode menggali, memuat dan mengangkut

Studi kelayakan 35
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

material untuk material yang tidak begitu keras sedangkan untuk


material yang keras pembongkaran digunakan dengan metode
peledakan, pemuatan dan pengangkutan dari lokasi penambangan
ke stockfile pengolahan. Untuk memisahkan material dari
singkapannya dapat menggunakan alat excavator dan kalaupun
ada material yang agak sulit untuk dipisahkan dengan cara
menggali menggunakan bucket excavator, maka akan digunakan
peledakan (blasting) agar material tersebut dapat dipisahkan
menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga memungkinkan dapat
diangkut kedalam alat angkut dumptruck dan dapat diolah dengan
alat stone crusher.

Metode penggalian akan dilakukan dengan cara membuat jenjang


(bench) dan jika dilihat dari perbukitan yang akan ditambang
sebagian termasuk perbukitan terjal, maka penambangan akan
dilakukan dengan membuat beberapa jenjang. Dalam pembuatan
jenjang ini dengan pertimbangan keselamatan operasional
penambangan, perusahaan akan berpedoman peraturan
keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana tertuang pada
Kepmen Pertambangan dan Energi Nomor 1827 K/30/MEM/2018.

Studi kelayakan 36
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.1. Diagram Alir Rencana Penambangan


PT. Prima Berkat Mineral

TAHAP PERSIAPAN

TAHAP PERSIAPAN DAN


PENYIAPAN SARANA

TAHAP PERSIAPAN PENAMBANGAN


PEMBERSIHAN LAHAN

TAHAP PENAMBANGAN PENGANGKUTAN


(Blasting)

PENIMBUNAN
PENIMBUNAN TANAH PENUTUP
(Stock Yard)

PEMUATAN & PENGANGKUTAN

Pemilihan sistem penambangan tambang terbuka dengan metode


penambangan Quarry dipilih berdasarkan pertimbangan faktor-
faktor teknis yang mencakup kondisi penyebaran material, jumlah
cadangan dan jarak pengangkutan dari lokasi pengolahan. Metode
ini memiliki kelebihan dalam fleksibilitas dan selektivitas dalam
penambangan, antara lain seperti:

1) Biaya investasi awal yang lebih kecil;


2) Perolehan (recovery) cadangan batuan yang maksimal;
3) Tingkat produksi per hari yang lebih besar;
4) Penanganan peralatan tambang yang lebih mudah; dan
5) Keselamatan tambang dan karyawan dapat lebih baik.

Studi kelayakan 37
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Teknik penambangan pada metode quarry yang akan diterapkan


adalah dengan melakukan penggalian batuan pada batas-batas
penambangan (pit limit) dari level atas sampai pada batas
cadangan layak tambang.

Penggalian ini dikerjakan dengan membuat beberapa bench dan


diharapkan dengan teknik penambangan ini semua cadangan
batuan dapat ditambang dengan baik atau memaksimalkan
recovery penambangan.

4.1.2 Pemilihan Lokasi Dimulainya Penambangan

Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan operasional dan


kemudahan akses pengangkutan ke lokasi pengolahan batuan dan
stockfile pelabuhan, maka tahapan kegiatan penambangan
PT. Prima Berkat Mineral dengan rangkaian tata cara penambangan
akan dimulai pada bagian dekat dengan lokasi pengolahan dengan
tetap mempertimbangkan jarak aman dari fasilitas penunjang
kegiatan pertambangan. Kemajuan tambang yang akan
direncanakan yaitu mengarah ke arah barat dari lokasi pengolahan
dengan kemajuan berdasarkan elevasi yang tinggi ke elevasi yang
rendah.

4.1.3 Lokasi dan Luas Daerah Tambang

Dengan memperhatikan batasan-batasan dalam desain tambang


seperti di atas, maka dalam desain tambang PT. Prima Berkat
Mineral selama umur IUP yaitu selama 5 tahun akan
mengalokasikan area terganggu pada bukaan tambang (termasuk
areal untuk fasilitas penunjang dan infrastruktur, serta areal
penyangga/buffer zone), yang terdiri :

Studi kelayakan 38
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 4.1 Rencana Pembukaan Lahan Untuk Kegiatan Penambangan

PT. Prima Berkat Mineral

No Bukaan Ha
1 Tahun ke-1 0.33
2 Tahun Ke-2 0.98
3 Tahun ke-3 0.52
4 Tahun ke-4 0.34
5 Tahun ke-5 0.16
Jumlah 2.33

Tabel 4.2 Rencana Sarana dan Prasarana Penunjang Penambangan


PT. Prima Berkat Mineral

luas (Ha)
No INFRASTRUKTUR Di Dalam
Di Luar IUP Jumlah
IUP
2.18 (1813
1 Jalan Tambang 0.90 (749 m) 3.07
m)
2 Stockpile + Crusher 2.5 2.5
3 Jetty 0.5 0.5
4 Sedimen Pond 0.21 0.21 0.41
5 Workshop 0.15 0.15
6 Basecamp 0.1 0.1
7 Soil Bank 1 1
8 Gudang Handak 0.1 0.1
Total Bukaan 2.46 5.38 7.83

4.2 TAHAP KEGIATAN PENAMBANGAN

4.2.1 Tahap Persiapan Penambangan

Tahap persiapan penambangan batuan yang akan dilakukan oleh


PT. Prima Berkat Mineral dimaksudkan untuk mempersiapkan
sarana dan prasarana yang diperlukan guna dapat menunjang
kelancaran kegiatan penambangan yaitu meliputi :

Studi kelayakan 39
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

a. Pembebasan lahan dan ganti rugi tanam tumbuh yang


dilakukan pada seluruh area penambangan, prasarana
pengolahan dan prasarana penunjangnya. Pembebasan lahan
dilakukan berdasarkan kesepakatan dan musyawarah antara
penduduk setempat dengan perusahaan, disaksikan oleh
aparat pemerintah setempat.
Adapun besar biaya pembebasan lahan sebagaimana yang
telah disepakati bersama dengan pemilik lahan adalah sebesar
Rp. 50.000.000/Ha dengan total lahan yang akan dibebaskan
pada tahap awal kegiatan penambangan adalah 10.16 Ha,
sehingga total biaya untuk pembebasan lahan adalah sebesar
Rp. 507,500,000,-
b. Proses Konstruksi, yaitu pembangunan fasilitas pendukung
dalam operasi penambangan seperti fasilitas pengolahan,
kantor, mess dan prasarana umum lainnya. Bengkel kendaraan
operasional maupun kendaraan alat berat, gudang, bangunan
tangki bahan bakar minyak serta bangunan pembangkit listrik
dibangun dalam satu areal. Biaya yang dialokasikan untuk
konstruksi ini adalah sebesar 1.500.000.000,-
c. Tempat penimbunan material hasil penambangan /Stockpile
Lokasi stockpile direncanakan akan dibangun dekat dengan
lokasi pengolahan. Kapasitas maksimal stockpile sebesar ±
40.000 m3.
d. Prasarana transportasi
Prasarana transportasi yang dimaksud adalah Jalan Tambang,
yaitu jalan yang menghubungkan lokasi tambang/pit dengan
stockpile pengolahan. Luas lokasi yang direncanakan untuk
jalan tambang sekitar 1,643 m dan jalan yang menghubungkan

Studi kelayakan 40
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

area pengolahan menuju jetty sekitar 919 m dengan lebar


maksimal 12 meter.
Dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalan tambang
dengan memanfaatkan material yang ada disekitar lokasi
tambang adalah Rp. 1,300,000,000,-.
e. Pembangunan Stone Crusher
Dalam rangka memenuhi spesifikasi produk batu gamping yang
diinginkan pasar, maka diperlukan adanya Stone Crusher
mengingat batu gamping hasil penambangan masih
memerlukan pengolahan dalam hal pengecilan ukuran sesuai
yang diinginkan konsumen. Adapun dana yang dialokasikan
untuk pengadaan dan pembangunan 1 unit stone crusher
adalah sebesar Rp. 6.000.000.000,-.

Gambar 4.1 Peta Rencana Infrastruktur Penambangan

Studi kelayakan 41
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

4.2.2 Tahap Penambangan

Tahap operasi penambangan batu gamping akan mencakup


beberapa kegiatan antara lain :

a. Tahap Pembersihan Lokasi Tambang (land clearing)


Land clearing adalah kegiatan pembersihan lahan
penambangan yang dilakukan dengan membersihkan lahan
dari tumbuhan dan pepohonan. Pada proses land clearing
menggunakan alat bulldozer.

b. Pemindahan tanah penutup


Pada wilayah IUP PT. Prima Berkat Mineral beberapa lokasi
potensi batu gamping ditemukan tanah penutup yang
kedalaman bervariasi sehingga di perkirakan rata-rata 2 meter.
Tanah penutup ini terdiri dari tanah pucuk (top soil) yang
merupakan tanah humus dan soil (overburden) yang berada di
bawah top soil.

Top soil banyak mengandung bahan-bahan organik hasil


pelapukan sangat diperlukan untuk reklamasi lahan bekas
penambangan. Agar tanah pucuk tidak banyak hilang,
penanganan top soil harus dilakukan dengan cara-cara yang
benar. Tanah pucuk ini nantinya akan disebarkan pada lapisan
teratas dari disposal, sesuai dengan elevasi yang sudah
direncanakan sebelum dilakukan revegetasi.

Pengambilan top soil dimulai setelah kegiatan pembersihan


lahan (land clearing) selesai. Pengupasan dilakukan setebal
0,10 meter – 1 meter (tergantung ketebalan top soil di lokasi
yang sedang dikerjakan) didorong dengan alat bulldozer ke
tempat penumpukan dan setelah itu dimuat oleh excavator dan

Studi kelayakan 42
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

diangkut dump truck ketempat penyimpanan top soil


sementara.

Tempat penumpukan sementara dipilih di daerah yang


berdekatan dengan lokasi penimbunan material (soil disposal) /
overburden dan daerahnya terletak pada daerah yang aman
dan tidak terganggu serta tidak begitu jauh dari lokasi quarry.

Overburden adalah tanah/batuan penutup tanpa nilai ekonomis


atau nilai ekonomisnya kecil yang menutupi cadangan bahan
galian.

Di lokasi IUP PT. Prima Berkat Mineral ditemukan overburden


yang tidak terlalu banyak bahkan sebagian lokasi tidak memiliki
overburden.

Penggalian dan pemuatan material overburden dilakukan


dengan menggunakan alat gali muat (excavator) dan dibantu
oleh bulldozer. Untuk mengangkut lapisan penutup ke lokasi
penimbunan, baik ke lokasi penimbunan di luar tambang.

Untuk tujuan keselamatan kerja, jalan angkut yang


dipersiapkan untuk dump truck tipe ini mempunyai batasan-
batasan sebagai berikut :
a. Lebar jalan adalah 2 x lebar dump truck terbesar
b. Lebar jalan pada belokan adalah 12 Meter
c. Kemiringan jalan maximum adalah 10 %
d. Kecepatan maximum dump truck yang diijinkan adalah 40
km/jam

Studi kelayakan 43
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

c. Pembongkaran, Pemuatan dan Pengangkutan Batu


Gamping

Karakteristik batu gamping yang ada pada lokasi iup dengan


tingkat kekerasan 1,7 – 2,0 sehingga metode yang efektif
diterapkan dalam memenuhi target produksi perusahaan adalah
dengan sistem peledakan.
Berikut tahapan kegiatan penambangan dengan sistem
pemboran dan peledakan dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemboran
Pemboran adalah suatu kegiatan pemboran yang dilakukan
dengan tujuan pembuatan pola untuk kegiatan peledakan
yang menunjukkan jumlah lubang bor, kedalaman, dan arah
lubang bor. Pemboran merupakan suatu rangkaian preparasi
(persiapan) sebelum melakukan kegiatan peledakan berupa
kegiatan pemboran atau melubangi suatu material (yang
ingindiledakkan) dengan memperhatikan geometri lubang
pemboran, sebagai wadah dalam pengisian bahan peledak
untuk diledakkan.

b. Geometri Pemboran
Geometri pemboran meliputi beberapa hal :
 Diameter lubang ledak, daimeter lubang tembak yang
terlalu kecil menyebabkan faktor energi yang dihasilkan
akan berkurang sehingga tidak cukup besar untuk
membongkar batuan yang akan diledakkan, sedang jika
diameter lubang tembak terlalu besar makalu lubang
tembak tidak cukup untuk menghasilkan fragmentasi
yang baik, terutama pada batuan yang banyak terdapat
kekar dengan jarak kerapatan tinggi.

Studi kelayakan 44
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

 Arah lubang ledak, terdapat dua macam arah lubang


ledak, yaitu arah tegak dan arah miring. Pada tinggi
jenjang yang sama, kedalaman lubang ledak miring lebih
besar dari pemboran tegak selain itu pemboran miring
penempatan posisi awal lebih sulit karena harus
menyelesaikan dengan kemiringan lubang ledak yang
direncanakan.
 Kedalaman lubang ledak, penentuan kedalaman lubang
ledak lebih besar dari tinggi jenjang. Kelebihan
kedalaman lubang bor (subdrilling) dimaksudkan untuk
memperoleh jenjang yang rata.

c. Pola Pemboran
Pola pemboran adalah suatu pola dalam pemboran untuk
menempatkan lubang-lubang ledak secara sistematis untuk
diisi oleh bahan peledak. Pada umumnya, pola pemboran
untuk kegiatan peledakan pada tambang terbuka dibagi
menjadi dua jenis, yakni pola persegi dan pola zig-zag.
a. Pola Bujur Sangkar
Pola pemboran bujur sangkar adalah pola pemboran
dengan penempatan lubang-lubang bor antara baris satu
dengan baris berikutnya sejajar dan membentuk segi
empat. Pola pemboran bujur sangkar terbagi menjadi
dua jenis berdasarkan kedudukan jarak spacing dan
burden-nya, yaitu :
1. Pola bujur sangkar square, bilamana kedudukan
lubang bor satu dan yang memiliki jarak spacing dan
burden yang sama.
2. Pola bujur sangkar rectangular, bilamana jarak
burden dan spacing tidak sama.

Studi kelayakan 45
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Keuntungan pola pemboran persegi yakni :


 Lebih mudah dalam menentukan titik yang akan
dibor, karena ukuran spasi dan burdennya sama
sehingga penempatan alat bor tidak
membutuhkan waktu yang lama.
 Pengaturan waktu tunda peledakan pada pola
bujur sangkar adalah V delay, sehingga hasil
peledakan terkumpul pada suatu tempat
tertentu.

Kerugian pola pemboran persegi diantaranya adalah :


 Volume batuan yang terkena pengaruh ledak
lebih besar sehingga kemungkinan pada hasil
peledakan ditemukan bongkah (boulder).
 Semakin banyak jumlah lubang ledak, maka
semakin banyak waktu delay (waktu tunda).

b. Pola Stanggered (Zig-Zag)


Pola pemboran stanggered merupakan pola pemboran
dimana setiap lobang ditempatkan diantara dua lobang
row sebelumnya. Pola stanggered merupakan pola
yang sangat baik dalam hal distribusi bahan peledak.
Pola pemboran stanggered terbagi menjadi dua jenis
berdasarkan kedudukan jarak spacing dan burden-nya,
yakni :
 Pola stanggered square, bilamana kedudukan
lubang bor satu dan yang memiliki jarak spacing
dan burden yang sama.
 Pola stanggered rectangular, bilamana jarak burden
dan spacing tidak sama.

Studi kelayakan 46
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Keuntungan dari pemboran stanggered adalah :


 Dapat memberikan keseimbangan tekanan yang
baik sehingga batuan yang tidak terkena pengaruh
ledakan kecil.
 Delay yang digunakan tidak terlalu banyak karena
dalam satu baris atau row lubang ledak diberi
nomor delay yang sama.
 Kesulitan dalam penempatan titik bor, karena titik
bor yang dibuat tidak sejajar dengan baris yang
berlainan.
 Hasil peledakan akan menyebar karena
peledakannya serentak pada garis yang sama tapi
pada baris yang berlainan diledakkan secara tunda.

Dari kedua pola pemboran tersebut, yang lebih cocok


diterapkan adalah pola pemboran selang seling untuk
mendapatkan fragmen hasil ledakan sesuai dengan
permintaan pasar.
Gambar 4.2 Pola Pemboran

Studi kelayakan 47
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

c. Arah pemboran
Arah pemboran merupakan arah lubang pemboran yang
dibentuk berupa derajat kemiringan lubang pemboran atau
kedudukan lubang pemboran terhadap permukaan. Arah
pemboran terbagi menjadi dua jenis yaitu yaitu pemboran
tegak dan pemboran miring.
1. Pemboran tegak
Pemboran tegak merupakan arah pemboran yang posisi
lubang bor tegak ± 900. Pemboran tegak
mengakibatkan lantai jenjang menerima kekuatan
terbesar berupa gelombang tekanan. Gelombang
tekanan tersebut dapat terdistribusikan pada bidang
bebas maupun menerus pada bagian bawah lantai
jenjang.

Keuntungan arah pemboran tegak diantaranya adalah :


 Pemboran yang dilakukan lebih mudah dan akurat.
 Untuk tinggi jenjang sama lubang ledak akan lebih
pendek jika dibandingkan dengan lubang ledak miring.
 Waktu pemboran yang relatif lebih cepat.

Adapun kekurangan arah pemboran tegak diantaranya


adalah :
 Kemungkinan akan timbul tonjolan (toe) pada lantai
jenjang.
 Kemungkinan timbulnya retakan kebelakang jenjang
(back break) dan getaran tanah lebih besar.
 Lebih banyak menghasilkan bongkahan pada daerah
stemming.

Studi kelayakan 48
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

2. Pemboran miring
Arah pemboran miring merupakan kedudukan dari arah
pemboran lubang ledak yang memiliki derajat kemiringan
tertentu yang disesuaikan dengan perhitungan
sebelumnya untuk keperluan peledakan.

Keuntungan arah pemboran miring adalah :


 Fragmentasi dari hasil tumpukan peledakan yang
dihasilkan lebih baik, karena ukuran burden sepanjang
lubang yang dihasilkan relatif seragam.
 Dinding dan lantai jenjang yang dihasilkan relatif rata.
 Memperkecil subdrilling sehingga cekungan akibat
pemecahan dapat dikurangi.
 Mengurangi terjadinya back break, sehingga
permukaan jenjang lebih rata dan memperkecil
kemungkinan terjadinya longsor.
 Memperkecil terjadinya tonjolan (toe)

Kekurangan arah pemboran miring diantaranya adalah :


 Sudut deviasi akan semakin besar terbentuk seiring
bertambahnya kedalaman lubang pemboran.
 Kesulitan dalam pengisian bahan peledak.
 Kesulitan dalam penempatan sudut kemiringan yang
sama antara lubang ledak.
 Dibutuhkan banyak ketelitian dalam pembuatan
lubang ledak, sehingga membutuhkan pengawasan
yang ketat.
 Waktu pemboran lubang yang relatif lama.
 Kemungkinan terjadinya lemparan batuan hasil
ledakan lebih besar.

Studi kelayakan 49
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.3 Arah Pemboran

d. Geometri Peledakan
Setelah pekerjaan pemboran selesai, faktor yang sangat
mentukan juga adalah geometri peledakan. Penyediaan
lubang tembak yang tepat untuk pembongkaran dengan
biaya relatif rendah, karakteristik massa batuan dan
kemampuan pembuatan lubang tembak harus diidentifikasi.
Sedangkan kondisi yang akan mempengaruhi terhadap desai
peledakan yang akan dibuat adalah pola pemboran.

Adapun geometri peledakan terdiri dari :


 Burden (B)
Burden adalah Jarak terdekat antara lubang bor dengan
bidang bebas. Burden merupakan variabel yang sangat
penting dan krisis dalam mendesain peledakan, dengan
jenis bahan peledak yang dipakai dan batuan yang
dihadapi terdapat jarak yang maksimum agar peledakan
sukses. Secara garis besar jarak burden biasanya terletak
antara 20 sampai 35 (kb) dikalikan diameter (d).

Studi kelayakan 50
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.4 Fragmen Hasil Ledakan dari Variasi Burden

 Spacing (S)
Spacing adalah jarak antara lubang bor dalam satu baris.
Spacing merupakan fungsi dari burden dan dihitung
setelah burden ditetapkan terlebih dahulu. Secara teoritis
spacing terletak antara 1 sampai 1,8 (ksp), dikalikan
panjang burden, atau untuk mendapatkan hasil yang
optimum adalah 1,15 dikalikan burden (B).
 Sub-Drilling
Tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah lantai
bench. Sub-drilling dibuat untuk menghindari adanya
tonjolan pada lantai bench setelah peledakan, karena
dibagian ini tempat yang paling sukar diledakkan. Oleh
karena itu energi yang ditimbulkan akan bekerja secara
maksimum. Normalnya jarak sub-drilling dihitung antara
0,3 sampai dengan 0,5 (kj) dikalikan burden (B).
 Stemming
Batuan atau material tanah, sebagai penutup pada lubang
bor di atas isian bahan peledak. Stemming berfungsi
untuk menambah gas ledakan. Ukuran stemming ini

Studi kelayakan 51
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

dibuat antara 20 sampai dengan 30 (kst) dikalikan


diameter lubang.
Gambar 4.5 Geometri Peledakan

 Powder Factor (PF)


Powder factor (PF) menunjukkan jumlah bahan peledak
(kg) yang dipakai untuk memperoleh satu satuan volume
atau berat fragmentasi peledakan, jadi satuannya biasa
kg/m3 atau kg/ton. Pemanfaatan powder factor cenderung
mengarah pada nilai ekonomis suatu proses peledakan
karena berkaitan dengan harga bahan peledak yang
digunakan dan perolehan fragmentasi peledakan yang
akan dijual.
 Tinggi jenjang (H)
Tinggi jenjang (H) dan Burden (B) sangat erat
hubungannya untuk keberhasilan peledakan dan ratio H/B

Studi kelayakan 52
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

(yang dinamakan stifness ratio) yang bervariasi


memberikan respon berbeda terhadap fragmentasi,
airblast, flayrock, dan getaran tanah.
 Lubang Ledak
Lubang ledak ditentukan secara sederhana dengan
menerapkan “aturan Lima (Rule of Five)” yaitu ketinggian
jenjang (dalam feet) “lima” kali diameter lubang ledaknya
(dalam inci).

Salah satu cara merancang geometri peledakan dengan


“coba-coba” atau trial and error atau rule of thumb yang
akan diberikan adalah dari ICI Explosives. Tinggi jenjang (H)
dan diameter lubang ledak (d) merupakan pertimbangan
pertama yang disarankan. Jadi cara ini menitikberatkan
pada alat yang tersedia atau yang akan dimiliki, kondisi
batuan setempat, peraturan tentang batas maksimum
ketinggian jenjang yang diijinkan pemerintah, serta produksi
yang dikehendaki. Selanjutnya untuk menghitung parameter
lainnya sebagai berikut :
1. Tinggi jenjang (H) : secara empiris H = dod – 140d
2. Burden (B) antara baris ; B= 25d – 40d
3. Spasi antar lubang ledak sepanjang baris
(S); S = 1B – 1,5B
4. Subgrade (J) ; J = 8d – 12d
5. Stemming (T); T = 20d – 30d
6. Powder Factor (PF);

Studi kelayakan 53
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

e. Peralatan Peledakan
Peralatan Peledakan Adalah semua bahan atau alat-alat yang
dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian dalam
operasional peledakan, antara lain :
1 Mesin Bor dan Kompresor
Sumber energi penghasil gaya adalah udara bertekanan
tinggi (Pneumatic) yang dihasilkan dari kompresor dan
sekaligus sebagai tenaga penggerak unit alat bor untuk
berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Konsumsi
udara yang diperlukan tergantung pada ukuran mesin
bor, makin besar ukuran mesin akan diperlukan
konsumsi udara yang besar pula.

Gambar 4.6 Mesin Bor (Crawler Drill) dan Kompresor

2) Batang Bor dan Mata Bor


Batang bor Extension Drill Steels menghubungkan DHT
Hummer atau Shank Adaptor dengan Extension Rods.
Selain itu batang bor jenis Extension Drill Steels dapat

Studi kelayakan 54
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

dipakai untuk mendapatkan kedalaman pemboran yang


diinginkan. Panjang batang bor di PT. Prima Berkat
Mineral adalah tiga meter.

Gambar 4.7 Batang bor Extension Drill Steel

3) Mata bor (Drill Bit)


Mata bor akan meneruskan energi putaran dan tekanan
dari batang bor ke batuan.

Gambar 4.8 Mata Bor

Studi kelayakan 55
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

4) Mobil Mixer/Manufacturing Unit (MMU)


Mobil Mixer/Manufacturing Unit adalah alat yang
digunakan untuk pengisian lubang ledak secara mekanis
(Gambar 4). MMU umumnya terdiri dari tiga kompartemen
yang bermuatan butiran Ammonium Nitrate (AN), bahan
bakar (solar), dan emulsi.

Gambar 4.9 Pencampuran Bahan Peledak di MMU

Bisa juga dipilih alat pencampur ANFO yang sifatnya tidak


mobile, yaitu Mixer yang dapat ditempatkan dalam
gudang pencampuran ANFO, yang biayanya bisa lebih
murah dibandingkan dengan Mobil Mixer/Manufacturing
Unit.

Studi kelayakan 56
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.10 Mixer ANFO

5) Blasting Machine (BM)


Alat pemicu pada peledakan listrik dinamakan blasting
machine (BM) atau exploder merupakan sumber energi
penghantar arus listrik menuju detonator. Cara kerja BM
pada umumnya didasarkan atas penyimpanan atau
pengumpulan arus pada sejenis kapasitor dan arus
tersebut dilepaskan seketika pada saat yang dikehendaki.

Gambar 4.11 Blasting Machine

Studi kelayakan 57
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

6) Basting Ohmmeter
Blasting ohmmeter alat yang berfungsi untuk mengukur
tahanan kawat listrik pada peledakan listrik dengan
Blasting Machine

Gambar 4.12 Blasting Ohmmeter

7) Lead Wire
Lead wire yaitu kabel utama yang berfungsi untuk
menghubungkan antara rangkaian.

Gambar 4.13 Lead Wire

Studi kelayakan 58
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

8) Tongkat
Tongkat adalah alat yang berfungsi untuk memadatkan
material stemming biasanya terbuat dari kayu.

Gambar 4.14 Ilustrasi Pemadatan Stemming


Menggunakan Tongkat

9) Alat Pengaman Peledakan


Peralatan pengamanan yang biasa digunakan dalam
operasi peledakan diantaranya adalah radio komunikasi
Portable atau Handy-Talk (HT) untuk pengawasan
keamanan lokasi sekitar peledakan, sirine, serta bendera
merah sebagai tanda area yang akan diledakkan.

Adapun alokasi dana yang diinvestasikan untuk peralatan


peledakan adalah diuraikan dalam tabel berikut :

Studi kelayakan 59
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Perlengkapan peledakan adalah semua bahan atau


alat-alat yang hanya dapat digunakan untuk satu kali
peledakan, antara lain :

1) Detonator Biasa (Plain Detonator)


Merupakan Detonator yang menjadi pemicu awal proses
peledakan. Ukuran tabung Detonator biasa adalah
diameter 6,40 mm dan panjang 42 mm dengan
kandungan isian dasar adalah PETN atau TNT (Tri Nitro
Toluene). Detonator ini selalu digunakan dengan
dikombinasikan dengan sumbu api atau Safety Fuse.

Gambar 4.15 Plain Detonator

2) Bahan Peledak
Bahan peledak yang digunakan untuk pengisian lubang
tembak adalah jenis emulsi/Dabex dengan perbandingan
70% Matrix dan 30% Ammonium Nitrate Fuel Oil (ANFO).
Sedangkan primer menggunakan Booster 400 gram, satu
kilogram Dynamite Daya Gel atau dengan menggunakan
keduanya.

Studi kelayakan 60
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.16 Produk Amonium Nitrat

3) Detonator Nonel (In-Hole Delay)


Detonator Nonel telah dirancang untuk mengatasi
kelemahan yang ada pada Detonator listrik dan cocok
untuk daerah dengan intensitas petir tinggi. Detonator
Nonel diterima oleh konsumen lengkap dengan sumbu
signalnya yang dimana merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan, Detonator ini memiliki panjang 18
meter dan waktu Delay 500 ms.

Gambar 4.17 Detonator Nonel

Studi kelayakan 61
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

4) Sumbu Api (Safety Fuse)


Sumbu api adalah alat berupa sumbu yang fungsinya
merambatkan api dengan kecepatan tetap . Perambatan
api tersebut dapat menyalakan ramuan pembakar
(Ignition Mixture) di dalam Detonator biasa, sehingga
dapat meledakkan isian primer dan isian dasarnya.

Gambar 4.18 Sumbu Api (Safety Fuse)

5) Sumbu Ledak (Detonating Cord)


Sumbu ledak adalah sumbu yang pada bagian intinya
terdapat bahan peledak PETN, dengan kecepatan detonasi
21.000 ft per detik. Memiliki ketahanan terhadap air yang
baik, ringan dan Fleksible, serta memiliki kuat tarik yang
baik. Sumbu ledak lebih dikenal dengan sebutan Cordtex.

Studi kelayakan 62
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.19 Sumbu ledak Cordtex

6) Booster (Pentolite Cast Booster)


Merupakan bahan peledak dengan daya ledak paling
tinggi diantara semua jenis handak yang dipakai di dunia
pertambangan saat ini. Merupakan pencampuran proses
pelelehan dari TNT (Tri Nitro Toluena) dengan PETN
(Penta Erytrithol Tetra Nitrate).

Gambar 4.20 Booster (Pentolite Cast Booster)

7) Dynamite Dayagel Dahana Magnum


Merupakan bahan peledak istimewa yang memiliki
kekuatan tinggi dan beremulsi sensitif yang kuat, namun

Studi kelayakan 63
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

demikian memiliki sensitivitas yang rendah terhadap


impak mekanik. Dayagel Magnum merupakan bahan
peledak kuat yang tahan terhadap air. Dayagel Magnum
dikemas dalam Cartridge dari bahan Nylon Film yang
apabila diperlukan dapat dipotong.

Gambar 4.21 Dayagel Dahana Magnum

8) Relay Connector (Surface Delay)


Relay Connector merupakan perlengkapan peledakan yang
digunakan untuk waktu tunda di atas permukaan, baik
antar baris maupun antar lubang bor. Waktu tunda
tersebut memiliki tujuan untuk meminimalisir terjadinya
getaran tanah (Ground Vibration), mengurangi suara dari
ledakan (Noise), serta untuk mengarahkan lemparan
fragmentasi batuan hasil peledakan sesuai yang
ditentukan dan menghindari terjadinya Fly Rock yang
memiliki dampak terhadap lingkungan dan keamanan.
Beberapa jenis Relay Connector yang umum digunakan
diantaranya adalah Relay Connector MS-17, Relay
Connector MS-42, Relay Connector MS-67.

Studi kelayakan 64
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.22 Relay Connector MS-17

Gambar 4.23 Relay Connector MS-42

Gambar 4.24 Relay Connector MS-67

Sesuai dengan analisa keteknikan metode yang cocok

diterapkan dalam penambangan batu gamping tersebut

Studi kelayakan 65
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

adalah dengan sistem peledakan jenjang dengan pola

pemboran zig zag dan konfigurasi peralatan yang telah

dipilih untuk operasi penggalian dan pemuatan Batu

Gamping, dilakukan dengan menggunakan excavator dan

pengangkutan oleh dump truck dari daerah penambangan

menuju ke lokasi penimbunan Batu Gamping (Raw

Stockpile), yang lokasinya menyatu dengan Unit

Pengolahan Batu Gamping (Stone Crusher).

Tumpukan Batu Gamping di raw stockpile ini selanjutnya

akan menjadi umpan/masukan pada proses pengolahan

Batu Gamping di unit pengolahan Batu Gamping (Stone

Crusher) tersebut.

4.3. RENCANA PRODUKSI

Dalam perhitungan cadangan layak tambang akan dilakukan

pengamanan lereng akhir penambangan dengan membuat bench /

jenjang, sehingga material / sumber daya pada perencanaan jenjang

tersebut harus tinggalkan. Disamping itu pula karena IUP PT. Prima

Berkat Mineral berbatasan dengan laut sehingga elevasi penambangan

dimulai dari elavasi 60 meter dari permukaan laut hingga ke puncak bukit.

Oleh sebab itu berdasarkan hasil perhitungan, jumlah cadangan layak


tambang PT. Prima Berkat Mineral yang nantinya akan dijadikan acuan
untuk analisis perhitungan keekonomian bahan galian yaitu sebesar

Studi kelayakan 66
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

3,676,054 M3 dengan dengan target produksi 25.000 M3/bulan atau


sekitar 300.000 M3/tahun.

Untuk memenuhi target produksi dari PT. Prima Berkat Mineral, sesuai
dengan sifat fisik dan mekanik sumber daya atau cadangan batu gamping
yang ada pada lokasi IUP tersebut dipilih metode penambangan dengan
sistem peledakan jenjang dengan pola pengeboran selang-seling
(Staggered Pattern). adapun analisis kebutuhan bahan peledak untuk
memenuhi target produksi sebesar 25.000 M3/bulan atau 300.000
M3/tahun dapat diuraikan sebagai berikut :

Formula peledakan :

 Burden = 3 meter

 Spacing = 4 meter

 Depth = 6 meter

 Panjang kolom isian = 4 meter

 Diameter lubang ledak = 3 inchi

 Jumlah isian handak = 3,9 kg/meter

 Jumlah lubang ledak = 12 lubang/hari

 Jumlah ANFO = 3.9 Kg/meter x 4 meter/lubang


x 12 lubang/hari

= 187 Kg/hari

= 5,616 Kg/Bulan

= 67,392 Kg/Tahun

Studi kelayakan 67
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

 Dynamit = 0,5 Kg/lubang x 12 lubang/hari x


30 hari/Bulan
= 180 Kg/bulan

= 2,160 Kg/Tahun

 Nonel =

1. Inhole Delay 6 meter = 1 Pcs x 12 lubang x 30 hari =


360 Pcs/bulan

= 4,320Pcs/Tahun

2. Surface Delay 6 mter = 1 Pcs x 12 lubang x 30 hari =


360 Pcs/bulan

= 4,320 Pcs/Tahun

Dengan formula tersebut diatas yang dipakai maka target produksi


25.000 Bcm/bulan atau 833.333 Bcm/hari dapat dicapai, dengan
asumsi semua berjalan normal sesuai dengan perencanaan.

Cara perhitungan Volume Produksi Peledakan adalah :


V = B x S x D x total hole
= 3 meter x 4 meter x 6 meter x 12 lubang/hari
= 864 Bcm/hari
= 25,920Bcm/bulan (ada selisih sekitar 920 Bcm/Bulan)
=311,040 Bcm/Tahun (ada selisih sekitar 11,040 Bcm/Tahun)

Selisih produksi dari target yang direncanakan dapat menjadi


inventory untuk menutupi produksi yang tidak mencapai target demi
mengamankan permintaan pasar.

Sedangkan analisis biaya peledakan dapat diuraikan sebagai


berikut :

Studi kelayakan 68
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 4.2. Kebutuhan Investasi Bahan Peledak

Harga/Unit
No. Uraian Jumlah Nilai (Rp.)
/Rol/Kg
1 ANFO 7,600 67,392 512,179,200
2 Dynamit 50,000 2,160 108,000,000
3 Nonel Inhole Delay 6 m 70,000 4,320 302,400,000
4 Nonel Surfece Delay 6 m 70,000 4,320 302,400,000
5 Detonator listrik 70,000 288 20,160,000
6 Led wire 700,000 36 25,200,000
Total Kebutuhan Investasi Handak (Rp.) = 1,270,339,200

4.3.1. Kuantitas

PT. Prima Berkat Mineral merencanakan akan beroperasi dengan

tingkat produksi Batu Gamping sebesar 300.000 M3/tahun atau

25.000 M3/bulan. Berdasarkan rencana produksi tersebut, maka

kegiatan penambangan di daerah PT. Prima Berkat Mineral akan

berlangsung sekitar 6 tahun dari total estimasi cadangan kawasan

APL sebesar 3,676,054 M3. Kondisi ini akan bisa berubah

tergantung dengan perkembangan permintaan pasar akan batu

gamping dan ketersediaan modal bagi perusahaan (memungkinkan

untuk diajukan revisi dokumen studi kelayakan).

4.3.2. Kualitas Batu Gamping

Keberadaan dan penyebaran kualitas batu gamping hampir merata

dari semua potensi yang ada berdasarkan hasil lab yang telah

dilakukan terhadap uji sampel keterwakilan dari setiap bukit

gamping yang ada dalam wilayah IUP PT. Prima Berkat Mineral.

Studi kelayakan 69
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Dari hasil uji tersebut memenuhi standar pasar khususnya ke

PT. Sulawesi Mining Investment yang sudah menandatangani MOU

jual beli produk batu gamping dari PT. Prima Berkat Mineral,

termasuk mempersiapkan pasar untuk beberapa smelter yang ada

di dalam negeri (hasil lab kualitas batu gamping terlampir).

4.4. PERALATAN

Untuk menentukan jenis peralatan yang digunakan, maka perlu


dikaji terlebih dahulu jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan dalam
operasi penambangan tersebut. Dengan gambaran jenis kegiatan yang
jelas, maka penentuan spesifikasi peralatan yang akan digunakan lebih
mudah dilakukan. Hasil dari pemilihan jenis peralatan yang akan
digunakan dalam operasi penambangan Batu Gamping PT. Prima Berkat
Mineral dapat dilihat pada tabel 4.3.

Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jenis peralatan utama


penambangan yang mutlak dipergunakan adalah excavator, dump truck
dan bulldozer.

A. Excavator

Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut alat gali muat.
Pada operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-
tugas sebagai berikut:
1. Melakukan penggalian, pemuatan dan pemindahan serta
pencurahan material lemah seperti humus atau ‘top soil‘ pada
lokasi penimbunan atau langsung ke atas alat angkut.
2. Melakukan penggalian, pemuatan dan pencurahan lapisan
tanah penutup (overburden), dan mengumpulkannya pada
suatu lokasi dekat tambang atau langsung memuat ke atas alat
angkut.

Studi kelayakan 70
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

3. Melakukan pemuatan blok hasil penambangan yang langsung


memuat ke atas alat angkut.
4. Melakukan perintisan dan pembuatan saluran-saluran air di
tambang, untuk sistem drainase tambang.
5. Melakukan perintisan dan pembuatan kolam air di tambang
(pond) dalam rangka pengelolaan dan pemantauan lingkungan
tambang.
6. Melakukan perintisan jalan tambang.

Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas


didukung oleh :
 Kemampuan daya gali yang besar;
 Kemampuan memotong untuk permukaan yang relatif sempit
dengan memanfaatkan kuku bucketnya; dan
 Kemampuan melakukan manuver pada medan yang sempit dan
sulit dengan memanfaatkan kemampuan ‘track‘ yang
dimilikinya.

Jenis atau tipe Excavator yang akan digunakan untuk pemuatan


tanah penutup (overburden) dan Batu Gamping di tambang adalah
Komatsu PC 200 dan PC 300.

B. Dump Truck

Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut truk jungkit.


Pada operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-
tugas:
1. Melakukan pengangkutan hasil penggalian material penutup
(overburden) dari tambang ke lokasi penimbunan tanah
penutup (dumping area); dan
2. Melakukan pengangkutan Batu Gamping hasil tambang dari

Studi kelayakan 71
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

tambang ke stockpile Batu Gamping.


Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas
didukung oleh:
 Kemampuan muat yang besar dari baknya
 Kemampuan mobilitas yang cepat untuk jarak angkut yang
jauh
 Kemampuan untuk melakukan dumping dari baknya
 Kemampuan untuk melakukan manuver pada medan yang
sempit dan sulit

Jenis atau tipe dump truck yang akan digunakan untuk


pengangkutan tanah atas (top soil) dan Batu Gamping di tambang
adalah Mitsubishi Fuso/atau sejenisnya.

C. Bulldozer

Alat ini fungsi utamanya adalah alat gali, dorong dan gusur, pada
operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas
sebagai berikut:
1. Melakukan pembabatan semak dan perdu serta
mengumpulkannya ke suatu lokasi tertentu;
2. Melakukan penggusuran jenis tanaman pohon-pohonan;
3. Melakukan pengupasan tanah atas atau humus (stripping) dan
mengumpulkannya dekat lokasi tambang;
4. Melakukan pembersihan lapisan tanah penutup (overburden)
dan mengumpulkanya pada suatu lokasi dekat tambang
5. Melakukan perintisan dalam pembuatan lantai kerja dan jalan
angkut tambang; dan
6. Mengatur bentuk geometri lereng tambang.

Studi kelayakan 72
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 4.3 Rencana Peralatan Penambangan


PT. Prima Berkat Mineral

AKTIFITAS MODEL KAPASITAS JUMLAH


Penggalian dan Pengangkutan tanah penutup dan Batu Gamping
Alat Gali Muat Komatsu PC 300 1,8 m3 1
Alat Angkut DT Fuso FN 527MS 15 m3 4
Alat Bantu D 85 SS 2,5 m3 1
Alat Bantu
Excavator Komatsu PC200 0,9 m3 1
Perawatan Jalan dan Penunjang
Truck Hino Ranger 130 HD
Water truck 5.000 lt 1
PS
Fuel truck Truck PS 125 5.000 lt 1
Diesel genset 10 Kw 1
50 Kw 1
Lighting 500 w 2
LV (Land
Mitsubishi Triton 4WD 2
Vehicle)
Pekerjaan Di Stockpile
Wheel Loader Komatsu WA 380 3,8 m3 1

4.5. JADWAL RENCANA PRODUKSI DAN UMUR TAMBANG

4.5.1. Jadwal Rencana Produksi

Untuk memenuhi target produksi batu gamping yang telah


direncanakan oleh PT. Prima Berkat Mineral, akan dimulai dengan
pembuatan fasilitas-fasilitas penunjang yaitu: prasarana
perkantoran, gudang, bengkel dan tangki bahan bakar, gudang
handak, jetty, stone crusher, stockpile dan jalan tambang. Setelah
itu ada, selanjutnya dilakukan kegiatan penambangan batu
gamping dengan sistem peledakan dengan target produksi 25.000
M3/bulan atau sekitar 300.000 M3/tahun untuk memenuhi target
penjualan yang telah direncanakan. Target ini bisa berubah seiring
dengan perkembangan permintaan pasar akan batu gamping yang

Studi kelayakan 73
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

masuk kualifikasi batu gamping PT. Prima Berkat Mineral dan


ketersediaan dana untuk operasional penambangan.

4.5.2. Umur Tambang

Pada rencana 5 tahun pertama perusahaan akan menargetkan


produksi ditahun pertama yang dimulai pada bulan Oktober yaitu
sebesar 25.000 m3/bulan atau 75.000 m3/tahun. Pada tahun kedua
hingga kelima ditargetkan akan memproduksi batuan sebesar
300.000/tahun dengan berbagai ukuran tergantung permintaan
pasar. Berikut dapat dilihat tingkat produksi yang direncanakan
berdasarkan umur IUP :

Tabel 4.1 : Rencana Produksi PT. Prima Berkat Mineral

No Bukaan Ha Produksi
1 Tahun ke-1 0.33 75,000
2 Tahun Ke-2 0.98 300,000
3 Tahun ke-3 0.52 300,000
4 Tahun ke-4 0.34 300,000
5 Tahun ke-5 0.16 300,000
Jumlah 2.33 1,275,000

Rencana produksi sebesar 25.000 m3/bulan dapat mengalami


peningkatan apabila suatu saat permintaan konsumen melebihi
target produksi tersebut. Sehingga akan dilakukan perubahan
target produksi yang disertai revisi dokumen study kelayakan dan
dokumen lainnya.
Dengan cadangan yang ada pada kawasan APL sebesar 3,676,054
m3 dan produksi perbulan sebesar 25.000 m3 dan lima tahun
kedepan dapat meningkat sampai 40,000 m3/Bulan mengikuti

Studi kelayakan 74
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

permintaan pasar maka diperoleh umur tambang 10 tahun. Namun


perhitungan kelayakan rencana penambangan PT. Prima Berkat
Mineral akan disesuaikan dengan umur IUP yaitu selama 5 tahun.

Untuk melihat arah kemajuan tambang dapat dilihat pada gambar


4.25 sampai gambar 4.30.

Gambar 4.1 : Peta Bukaan Tambang selama 5 tahun

Studi kelayakan 75
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.2 : Peta Kemajuan Tambang Tahun 1

Gambar 4.3 : Peta Kemajuan Tambang Tahun 2

Studi kelayakan 76
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.4 : Peta Kemajuan Tambang Tahun 3

Gambar 4.5 : Peta Kemajuan Tambang Tahun 4

Studi kelayakan 77
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 4.6 : Peta Kemajuan Tambang Tahun 5

4.6 RENCANA PENANGANAN BATUAN YANG BELUM


TERPASARKAN

Produk yang dipasarkan oleh PT. Prima Berkat Mineral adalah


produk yang telah melalui proses pengolahan pada stone crusher dan juga
yang tidak mengalami proses pengolahan (tergantung permintaan
konsumen). Pada dasarnya produk yang dihasilkan akan dikumpulkan
pada stockpile hasil pengolahan yang telah disiapkan. Adapun produk
yang belum dapat dipasarkan akan disimpan dan ditangani dengan baik
pada lokasi stockpile.

Studi kelayakan 78
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

4.7 RENCANA PEMANFAATAN BAHAN GALIAN DAN MINERAL


IKUTAN

Sesuai dengan permintaan pembeli yang akan menggunakan /


memanfaatkan bahan galian batuan, maka PT. Prima Berkat Mineral
hanya akan menambang dan menjual bahan galian batuan saja. PT. Prima
Berkat Mineral tidak merencanakan akan memanfaatkan bahan galian
atau mineral ikutan yang terdapat pada penambangan.

4.8 RENCANA PENANGANAN SISA CADANGAN YANG BELUM


TERTAMBANG

PT. Prima Berkat Mineral saat ini merencanakan penambangan


menggunakan sistem tambang terbuka / Quarry dengan target akan
mengambil material sesuai rencana target produksi. Dengan data
cadangan yng jauh lebih besar dibanding rencana produksi batuan selama
5 tahun maka terdapat cadangan sisa yang belum ditambang. Sisa
cadangan yang belum ditambang akan dijaga dan didata untuk dilaporkan
kepada pemerintah.

4.9 RENCANA PENUTUPAN TAMBANG


a. Pemutusan Hubungan Kerja
Pada saat berakhirnya kegiatan penambangan batuan oleh
PT. Prima Berkat Mineral, maka akan dilakukan pemutusan
hubungan kerja, dimana kegiatan ini akan dilakukan sesuai
peraturan yang berlaku yang telah ditetapkan oleh Kementrian
dan/atau Dinas Tenaga Kerja setempat. Direncanakan
sebelum dilakukannya pemutusan hubungan kerja tersebut,
PT. Prima Berkat Mineral akan melakukan pelatihan
ketrampilan kepada tenaga kerja yang akan di PHK. Untuk itu,

Studi kelayakan 79
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

PT. Prima Berkat Mineral merencanakan akan bekerja sama


dengan instansi terkait seperti BLK (Balai Latihan Kerja) pada
Dinas Tenaga Kerja setempat, untuk melaksanakan kegiatan
Pendidikan dan Latihan. Dengan kegiatan tersebut diharapkan
tenaga kerja yang di PHK dapat mandiri ataupun mampu
bekerja di tempat lain dengan pengetahuan tambahan yang
diperolehnya.

b. Pembongkaran Fasilitas
Pada saat berakhirnya kegiatan operasi penambangan batuan,
maka akan dilakukan pembongkaran terhadap beberapa
fasilitas-fasilitas yang sebelumnya digunakan, seperti :

1) Pembongkaran bangunan fasilitas tambang, kemudian


dilakukan regrading dan penebaran top soil untuk
direvegetasi.
2) Pembongkaran fasilitas penunjang seperti stockpile dan
unit pengolahan, bengkel, serta sedimen pond dan
disposal area yang selanjutnya akan dilakukan penataan
lahan dan penebaran top soil untuk direvegetasi.

Sesuai kesepakatan dengan pemangku kepentingan, beberapa


fasilitas yang tidak dibongkar namun akan diserahkan kepada
pemerintah setempat untuk dipergunakan apabila kegiatan
pertambangan telah berakhir yaitu kantor, mess karyawan,
tempat parkir, stockpile dan jalan tambang.

c. Reklamasi dan Revegetasi


Kegiatan reklamasi dan revegetasi akan dilakukan pada tahap
pasca tambang, yaitu pada bekas bukaan tambang dan pada
lahan-lahan bekas bangunan atau fasilitas penunjang yang
telah dibongkar. Sebelum dilakukan revegetasi, terlebih

Studi kelayakan 80
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

dahulu di sebarkan top soil. Kegiatan reklamasi dan revegetasi


pada tahap pasca tambang ini akan dilakukan sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Perihal kegiatan reklamasi dan pasca
tambang yang akan dilakukan oleh PT. Prima Berkat Mineral
secara lebih rinci akan dituangkan dalam dokumen Rencana
Rekalamsi (RR) dan Rencana Penutupan/Pasca Tambang
(RPT) yang akan dibuat secara tersendiri oleh PT. Prima
Berkat Mineral.

d. Konservasi
Pada saat berakhirnya kegiatan penambangan Batuan oleh
PT. Prima Berkat Mineral, diperkirakan masih terdapat areal
bekas tambang yang belum digali atau belum ditambang. Hal
tersebut akan dilaporkan dalam rangka konservasi bahan
galian.

Pengelolaan areal pasca tambang juga direncanakan akan


dikaji secara cermat dan teliti serta disesuaikan dengan
perencanaan makro dari Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Morowali. Untuk itu perlu dilakukan langkah
koordinasi antara PT. Prima Berkat Mineral dengan pihak-
pihak terkait. Adapun sasaran akhir dari kegiatan konservasi
daerah bekas penambangan adalah untuk merubah daerah
bekas penambangan menjadi wilayah baru yang disesuaikann
dengan peruntukannya

Pengelolaan pasca tambang ini direncanakan, dilakukan


dengan mengacu kepada Permen ESDM Nomor 7 Tahun 2014
tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Studi kelayakan 81
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB V
RENCANA PENGOLAHAN
BATU GAMPING

5.1. STUDI PENGOLAHAN

Batu Gamping dari hasil penambangan akan menghasilkan fragmen


yang berbeda-beda sehingga untuk hasil penggalian yang tidak memenuhi
standar ukuran yang diinginkan konsumen atau pasar akan dilakukan
peremukan lebih lanjut dengan mesin pemecah batu (stone crusher).
Boulder hasil penambangan yang memerlukan proses pengolahan lebih
lanjut yaitu dengan mereduksi ukuran (size reduction) sehingga mencapai
ukuran yang diinginkan. Proses pengolahan batu gamping tersebut
memberikan peluang hasil produksi PT. Prima Berkat Mineral untuk
semakin diterima pasar.

Proses pengolahan Batu Gamping yang direncanakan PT. Prima Berkat


Mineral adalah meliputi :

- Proses pengumpanan ( feeding )


- Proses penghancuran/pemecahan Batu Gamping
- Proses klasifikasi ukuran fraksi Batu Gamping
- Proses penanganan pemindahan Batu Gamping antar lokasi

Kapasitas hasil pengolahan dilakukan berdasarkan data rencana hasil


penambangan PT. Prima Berkat Mineral. Berdasarkan tingkat kapasitas
produksi hasil penambangan dan pengolahan sebesar 25.000 M3/bulan,
maka kapasitas proses pengolahan Batu Gamping disetting kurang lebih
sama dengan target produksi tambang setelah memperhitungkan recovery

Studi kelayakan 82
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

pengolahan. PT. Prima Berkat Mineral dalam proses pengolahan Batu


Gamping hanya melakukan pengecilan ukuran karena penjualan Batu
Gamping dilakukan sesuai spesifikasi Batu Gamping yang ada termasuk
size dari produk akhir kegiatan pengolahan.

5.2. TATACARA PENGOLAHAN BATU GAMPING

Pengolahan Batu Gamping bertujuan untuk memecahkan fraksi


Batu Gamping menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai dengan yang
diinginkan. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan beberapa
tahapan.

5.2.1. Tahapan Pengolahan

Untuk menggambarkan lebih mudah prosedur pengolahan Batu Gamping


yang dilakukan PT. Prima Berkat Mineral, maka digunakan model diagram
alir. Dalam diagram alir tersebut digambarkan urutan-urutan proses
pengolahan Batu Gamping yang berlangsung. Tahapan proses pengolahan
Batu Gamping dapat digambarkan sebagai berikut :

A. Proses Pengumpanan (Feeding)


Umpan (feed) untuk proses pengolahan Batu Gamping yang
direncanakan adalah Batu Gamping langsung dari produk kegiatan
penambangan (ROM) atau yang telah tersedia di stockpile. Dengan
menggunakan wheel loader Batu Gamping ditumpahkan ke hopper.
Oleh feeder, Batu Gamping didistribusikan ke alat peremuk. Fraksi
Batu Gamping sebagai umpan direncanakan berukuran maksimum
400 mm. Apabila dalam kondisi tertentu ada yang berukuran lebih
dari 400 mm. maka terlebih dahulu harus diremukkan secara manual

Studi kelayakan 83
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

dengan menggunakan breaker sampai memiliki ukuran maksimum


400 mm.

B. Proses Peremukan (Crusher)


Mereduksi ukuran Batu Gamping dari maksimum 400 mm menjadi
ukuran yang memenuhi persyaratan pasar yaitu 6 - 10 Cm.

C. Proses Penyaringan
Penyaringan/pengayakan dengan umpan Batu Gamping hasil
peremukkan kedua. Pengayakan dilakukan dengan menggunakan
alat vibrating screen yang mempunyai ukuran 6 - 10 Cm. Batu
Gamping yang lolos dari pengayakan (undersize) akan menjadi
produk Batu Gamping dan diangkut ke stockpile produk dengan belt
conveyor. Diagram alir proses pengolahan Batu Gamping PT. Prima
Berkat Mineral dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Studi kelayakan 84
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

5.2.2. Bagan Alir

Batu Gamping Stockpile

Boulder

Open Setting

8 Cm

6-10 Cm

Stockpile

Gambar 5.1. Diagram Alir Proses Pengolahan Batu Gamping

Studi kelayakan 85
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

5.2.3. Recovery Pengolahan

Pada umumnya recovery pengolahan Batu Gamping sebesar 85 - 90% dari


jumlah umpan ROM Batu Gamping yang masuk ke hopper, karena dalam
proses pengolahan harus memperhitungkan faktor kehilangan akibat dari
pengolahan tersebut.

5.2.4. Lokasi Pengolahan Batu Gamping

Lokasi pengolahan Batu Gamping berada di dalam wilayah konsesi.


dengan alasan pemilihan lokasi pengolahan Batu Gamping adalah :
- Lokasi strategis dan memudahkan dalam akses dari semua lokasi
yang akan ditambang.
- Topografi yang digunakan relatif datar dan memiliki luas area yang
cukup.
- Memiliki daya dukung tanah yang cukup besar yang memungkinkan
untuk pembangunan Stone Crusher (SC) dan penimbunan stockpile.
- Dekat dengan area Jetty

5.3. PERALATAN PENGOLAHAN

5.3.1. Peralatan Unit Stone Crusher

Peralatan unit crusher selain roll crusher, vibrating screen dan hopper juga
dilengkapi oleh ban berjalan (belt conveyor) untuk memindahkan Batu
Gamping ke tumpukan produk yang dihasilkan.

5.3.2. Peralatan Muat dan Angkut

Batu Gamping dari tambang (quarry) hasil penggalian selanjutnya dimuat


dan diangkut ke stockpile areal crusher untuk selanjutnya dapat

Studi kelayakan 86
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

ditumpahkan ke atas hopper dari Stone Crusher. Sedangkan hasil


pengolahan batu gamping tersebut, produk langsung ditampung di
stockpile hasil pengolahan.

Dari perhitungan target produksi kapasitas alat muat dan alat angkut serta
jarak angkut rata-rata di lokasi Stone Crusher maka dapat dilihat jumlah
alat muat dan alat angkut yang diperlukan (lihat Tabel 5.1.).

Berdasarkan Tabel 5.1., dapat dilihat bahwa peralatan-peralatan yang


digunakan tidak berubah tipe dan kapasitasnya, akan tetapi jumlahnya
berubah-ubah sesuai dengan target produksi Batu Gamping yang
direncanakan.

Studi kelayakan 87
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Tabel 5.1. Peralatan Reduksi Ukuran Batu Gamping Pada Unit Pengolahan PT. Prima Berkat Mineral

Spesifikasi

Feed
No Nama Alat Tipe Feeding Out feeding Motor Unit
opening Kapasitas Dimensi (pxlxt)
granularity Granularity Power
Size (t/j) (mm)
(mm) (mm) (KW)
(mm)

1 Hopper RG-36-70 360x700 1515x1255x1730 18.5 1

Vibrating
2 Grizzly ZSW-490×96 4900 x 96 500 120-240 4900×960 15 1
Feeder

Transfer
Break-Day 70-120 20 x 650 5.5 1
3 Conveyor

1000 x
4 Crusher PE1000x1200 <300 <80 230-380 3435x3182x3028 132 1
1200

Vibrating
5 Screen Deck 2YZS1548 60-80 30-200 4800x1500 1
I

Stacking
6 Break-Day 45-100 100 x 500 5.5 1
Conveyor

Studi kelayakan 88
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Wheel Buck Cap.


7 Komatsu WA 380 1
Loader 4,2 m3

8 Excavator Komatsu PC 200 0,9 m3 1

Studi kelayakan 89
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB VI
PENGANGKUTAN
DAN PENIMBUNAN

6.1. Tata Cara


6.1.1. Pengangkutan

Jalan angkut batu gamping adalah ruas jalan yang dipergunakan


mengangkut Batu Gamping dari tambang menuju ke lokasi pengolahan
Batu Gamping (stock pile) yaitu ± 1,643 m yang terjauh pada
perencanaan 5 tahun.

Konstruksi jalan angkut Batu Gamping direncanakan untuk mampu


menerima beban total (alat angkut dan muatan) sekitar 30 ton. Kecepatan
angkut direncanakan antara 30-45 km/jam, kelandaian memanjang
direncanakan maksimum 10%, sedangkan kelandaian melintang
direncanakan 2%. Kondisi perlapisan jalan yang direncanakan ada 3
model, untuk masing-masing kondisi jalan sebagai berikut:
1. Kondisi jalan dengan sub base Tanah Lunak
2. Kondisi jalan dengan sub base Tanah Keras
3. Kondisi jalan dengan sub base Tanah Lempung

Geometri jalan angkut Batu Gamping dibuat berdasarkan speksifikasi dari


dump truck, adalah:
1. Lebar jalan 12m – 14m untuk digunakan 2 arah;
2. Lebar drainase masing-masing 1m;
3. Tinggi bench masing-masing 1 m;
4. Konstruksi jalan menggunakan model nomor 3; dan
5. Belokan dibuat setengah lingkaran dengan lebar jalan 20 m.

Studi kelayakan 90
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gambar 6.1 Konstruksi Jalan Tambang dan Drainase

1m Kemiringan Jalan 3%

1m 12 m 1m

Gambar 6.2 Belokan Jalan Tambang

1m 12 m 1m

Pengangkutan Batu Gamping dilakukan sampai ke jetty (tongkang)


PT. Prima Berkat Mineral. Pengangkutan Batu Gamping dilakukan dari
quarry ke stockpile pengolahan dan dari pengolahan akan diangkut ke
jetty dan tongkang.

Studi kelayakan 91
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

6.1.2. Penimbunan

A. Stockpile Batu Gamping ROM


Stockpile di sekitar areal quarry digunakan untuk menampung
sementara Batu Gamping hasil operasi penambangan, sebelum
Batu Gamping tersebut diangkut ke stockpile yang ada dilokasi
pengolahan.

Stockpile dia areal pengolahan dibuat pada area seluas 40 m x


40 m dengan tinggi tumpukan Batu Gamping sekitar 8 meter
dan sudut kemiringan Batu Gamping diperkirakan sebesar 35
derajat. Kapasitas tampung sekitar 150.000 – 20.000 m3 Batu
Gamping.

Gambar 6.3 Stockpile Hasil Penambangan Batu Gamping


di Area Pengolahan

B. Stockpile Batu Gamping Produk


Stockpile ini berada tidak jauh dari stockpile hasil penambangan
dan dipergunakan untuk menampung sementara Batu Gamping
hasil produksi pengolahan sebelum dilakukan penjualan. Kedua
Stockpile di atas, pada bagian dasarnya dilapisi Batu Gamping
setebal 0,2 meter, untuk menghindari terjadinya pengotoran
oleh material lain pada Batu Gamping di stockpile.

Studi kelayakan 92
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Stockpile Batu Gamping produk dibuat bersebelahan dengan


crushing plant pada area seluas 60 m x 60 m dengan tinggi
tumpukan Batu Gamping sekitar 8 meter dan sudut kemiringan
Batu Gamping diperkirakan sebesar 35 derajat. Kapasitas
tampung sekitar 20.000 – 25.000 m3 Batu Gamping.

Gambar 6.4 Stockpile Product di Area Dekat Stone


rusher

6.2. P
e
ralatan

Proses pengangkutan dan penimbunan Batu Gamping dari


stockpile quarry akan menggunakan beberapa jenis peralatan. Proses
pemuatan menggunakan excavator komatsu PC 300 kapasitas 1,8 m3,
pengangkutan Batu Gamping dari quarry ke stockpile areal crusher
menggunakan dump truck berkapasitas 15 - 17 m3 dan perataan
penimbunan Batu Gamping di stockpile menggunakan Whell Loader 2,5
m3.

Studi kelayakan 93
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

BAB VII
RENCANA PENGELOLAAN
LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA
PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL),
KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA (K3)

7.1. Dampak Lingkungan

7.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

7.3. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

7.4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) Karyawan

Penciptaan lingkungan kerja yang baik akan sangat berpengaruh dalam


pemberian motivasi dan pencapaian prestasi dari karyawaan. Beberapa
masalah yang sering ditemukan berkaitan dengan keselamatan dan
kesehatan pekerjaan adalah;
a. Tindakan tidak aman, misalnya;
- tidak menggunakan alat pelindung diri,
- menggunakan peralatan secara tidak benar,
- tidak terlatih,
- tidak serius,
- peralatan rusak, dll

Studi kelayakan 94
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

b. Kondisi tidak aman


- penerangan kurang,
- ventilasi buruk,
- kebisingan,
- pengaman mesin tidak standar,
- peringatan dini tidak ada/rusak, dll

Tindakan dan atau kondisi tidak aman ini secara langsung akan
mempengaruhi kemampuan pekerjaan dan menyebabkan kecelakaan yang
pada akhirnya akan sangat mempengaruhi produksi.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja karyawan adalah hal penting bagi


perusahaan, karena erat bersangkutan dengan peningkatan produksi dan
produktifitas perusahaan. Keselamatan kerja dapat membantu
peningkatan produksi dan produktifitas atas dasar :
1) Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, kecelakaan-
kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat
dikurangi atau ditekan sekecil-kecilnya sehingga pembiayaan yang
tidak perlu dapat dihindari
2) Tingkat keselamatan kerja yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan
dan penggunaan peralatan kerja dan mesin yang produktif dan
efisien dan bertalian dengan tingkat produksi dan produktifitas yang
tinggi
3) Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan
kondisi-kondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja
4) Praktek keselamatan kerja tidak dapat dipisah-pisahkan dari
keterampilan, keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur
esensial bagi kelangsungan proses produksi
5) Keselamatan kerja yang dilakukan sebaik-baiknya dengan partisipasi
perusahaan dan karyawan akan membawa iklim kenyamanan dan
ketenangan kerja, sehingga sangat membantu bagi hubungan

Studi kelayakan 95
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

perusahaan dan karyawan yang merupakan landasan kuat bagi


terciptanya kelancaran produksi.

7.4.1 Organisasi penanganan K-3

Organisasi K-3 pada perusahaan mempunyai wadah dalam K-3


struktural dan K-3 fungsional.

K-3 Struktural

Puncak dari K-3 struktural adalah Kepala Teknik Tambang yang


sekaligus dijabat oleh Direktur Teknik/Produksi perusahaan dan
membawahi Kepala Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja ini akan mempunyai
tugas:

- Mengumpulkan data dan mencatat rincian dari setiap


kecelakaan atau kejadian berbahaya serta menganalisanya;
- Mengumpulkan data mengenai daerah atau kegiatan yang
sangat berpotensi bahaya untuk mendapat pengawasan
yang lebih ketat serta menyarankan tata kerja yang aman
untuk bekerja pada kegiatan tersebut;
- Memberikan penerapan dan petunjuk Keselamatan dan
Kesehatan Kerja terhadap pekerja;
- Melakukan atau mengkoordinir pertemuan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, ceramah, publikasi dan lain-lain;
- Menyusun statistik kecelakaan;
- Melakukan evaluasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

K-3 Fungsional

Wadah K-3 Fungsional ini adalah yang biasa disebut Komite

Studi kelayakan 96
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Keselamatan Kerja, yaitu tempat berkumpulnya orang yang


dengan sukarela atau atas penunjukan dari bagian kerjanya untuk
ikut menangani keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu
untuk melakukan penanganan K-3 di dalam perusahaan perlu
dibentuk sebuah Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(Komite K-3), yang di dalamnya duduk wakil-wakil dari setiap unit
kerja yang ada di perusahaan. Komite K-3 ini bekerjasama
dengan Kepala Bagian Keselamatan Kesehatan Kerja Tambang
yang berada di bawah Kepala Teknik Tambang.

Adapun tugas pokok Komite Keselamatan dan Kesehatan antara


lain :

- Menjamin bahwa kebiasaan Keselamatan dan Kesehatan


Kerja harus selalu dipatuhi oleh seluruh karyawan.
- Melakukan pengkajian secara menyeluruh setiap kejadian
kecelakaan kerja dan membuat saran-saran perbaikan.
- Membina kesadaran kerja yang aman dan selamat di
kalangan karyawan.
- Menjadi panutan dalam hal Keselamatan dan Kesehatan
Kerja bagi para karyawan.

7.4.2. Peralatan dan Perlengkapan Manual K3

Untuk dapat melakukan penanganan K3, maka pada unit kerja


yang ada di perusahaan dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan Keselamatan dan Kesehataan Kerja serta manual
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Peralatan dan perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja,


seperti: peralatan pemadam kebakaran, baju kerja standar,
perlengkapan berupa rambu-rambu peringatan pada lokasi-

Studi kelayakan 97
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

lokasi yang perlu diwaspadai, persimpangan jalan, tikungan


jalan, kondisi jalan naik dan jalan turun, area operasi alat-alat
berat, dan lain-lain perlu dipasang, untuk meningkatkan
keselamatan serta agar setiap karyawan senantiasa berhati-hati
pada saat melaksanakan pekerjaan terutama pada lokasi-lokasi
tersebut.

Pada jalur-jalur pelayaran tongkang sepanjang sungai sampai


dengan lokasi pengapalan di laut, perlu dipasang rambu-rambu
navigasi, untuk membatasi lokasi-lokasi yang dangkal yang
tidak boleh dipakai, sebagai jalur pelayaran, juga sangat
mendukung dalam pelaksanaan K-3.

Selain rambu-rambu peringatan di atas, juga dapat dipakai


sapaan atau himbauan, ajakan kepada karyawan untuk
senantiasa menyadari pentingnya Keselamatan dan Keselamatan
Kerja, sapaan, himbauan atau ajakan itu berupa tulisan-tulisan
dengan tema K-3 di atas spanduk atau poster, yang dipasang
pada lokasi-lokasi yang strategis di sekitar kantor.

Manual Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah buku pedoman


tentang standar penanganan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
pada perusahaan. Buku pedoman ini dibuat untuk 2
kepentingan, yaitu : buku pedoman K-3 untuk level manajemen
dan buku pedoman K-3 untuk seluruh karyawan.

Beberapa peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang


akan disediakan, adalah;

a. alat pelindung diri


- safety helmet,
- safety shoes,

Studi kelayakan 98
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

- sarung tangan (glove),


- kacamata pengaman (goggle), dll
b. alat pantau
- pengukur cahaya,
- pengukur debu,
- pengukur kebisingan, dll
c. alat penyelamat
- alat pemadam api,
- alat pemutus arus listrik, dll

7.4.3. Langkah-langkah Penanganan K-3

Beberapa langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh perusahaan


yang diusulkan dalam rangka Keselamatan dan Kesehatan Kerja :

1. Meningkatkan mutu lingkungan kerja sesuai dengan


standar operasi yang ditetapkan.
2. Menjaga lingkungan kerja.
3. Menanam pohon dan membuat taman lebih semarak di
lingkungan kerja.
4. Memasang alat dan pengaman kebakaran pada lokasi –
lokasi tertentu.
5. Melakukan pelatihan dalam bidang kesehatan, kebersihan
dan keamanan kerja.
6. Menetapkan bulan tertentu sebagai bulan kualitas
lingkungan kerja.
7. Melakukan patroli rutin mengawasi kondisi lingkungan kerja
dan ligkungan hidup.
8. Membuat komite K-3
9. Menyediakan alat peredam suara.

Studi kelayakan 99
PT. PRIMA BERKAT MINERAL

10. Memasang alat penangkap dan pembuang debu.


11. Melengkapi pekerjaan dengan peraturan pengamatan
kerja.
12. Menyediakan fasilitas kesehatan.
13. Mengasuransikan karyawan.
14. Memasang rambu-rambu peringatan daerah berbahaya.
15. Memberikan informasi mengenai apa saja yang
membahayakan pekerja.
16. Mengingatkan karyawan untuk memasang alat pengaman
sebelum memulai kegiatan (helm, sepatu).

Ketertiban karyawan dalam program K-3 perusahaan dapat


ditempuh melalui :

1. Melibatkan karyawan dalam program K-3.


2. Menerima saran karyawan tentang pembuatan jalan bagi
pejalan kaki di halaman.
3. Menerima saran karyawan untuk mengadakan kampanye
kebersihan dan kesehatan lingkungan.
4. Membentuk gugus dan kendali mutu dan mengadakan
pertemuan rutin harian untuk membicarakan masalah
harian dan perusahaan sesuai dengan bidangnya.
5. Menerima saran karyawan untuk mengadakan pertemuan
bulanan.
6. Membentuk komite dalam setiap departemen.
7. Menyarankan ada kotak saran.
8. Menerima saran karyawan untuk mengadakan checklist
atas kualitas lingkungan kerja.
9. Menerima saran karyawan untuk menilai kinerja unit-unit
kerja.

Studi kelayakan 100


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

10. Menerima saran karyawan untuk meningkatkan


keselamatan dan keamanan lingkungan kerja dan
lingkungan perusahaan.
11. Menerima saran karyawan untuk memperbaiki manual K-3,
dalam hal pelatihannya, penggunaan alat-alat, mengaudit
penyebab kecelakaan kerja, dan analisis keamanan tempat
kerja.

Sasaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah :


a. Mencegah, mengurangi kematian , cacat tetap dan luka
ringan.
b. Mencegah timbulnya penyakit yang diakibatkan oleh
dampak kegiatan penambangan dan pengolahan marmer.
c. Mengamankan asset perusahaan termasuk bangunan,
mesin, pesawat, bahan dan alat kerjanya.
d. Meningkatkan produktivitas.
e. Mencegah pemborosan modal dan efisiensi biaya produksi.
f. Menciptakan tenaga kerja yang berdaya guna dan efisien.
g. Menjamin tempat kerja yang sehat dan aman.

Pedoman untuk melaksanakan untuk melaksanakan keselamatan


dan kesehatan kerja di Indonesia sudah ada ketentuan yaitu
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Sistem
manajemen K3 adalah bagian sistem manajemen yang meliputi
organisasi, perencanaan, tanggung jawab pelaksanaan, prosedur
kerja dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan,
penerapan, pencapaian, pengkajian, pemeliharaan, kebijakan
dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja agar terciptanya lingkungan kerja yang aman dan

Studi kelayakan 101


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

produktif. Keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan


dibawah komando langsung Kepala Teknik Tambang (KTT).

Sistem manajemen K3 di industri pertambangan mineral dan


batubara tercermin secara tidak langsung dalam Kepmen
Pertambangan dan Energi No. 1827.K/26/MEM/2018. Sesuai
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) yang
kemudian dikembangkan menjadi sistem manajemen
keselamatan pertambangan (SMKP) berdasarkan Permen Energi
dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 38 Tahun 2014. Adapun
elemen-elemen yang ada dalam SMKP antara lain : kebijakan,
perencanaan, organisasi dan personil, implementasi, evaluasi dan
tindak lanjut, dokumentasi dan tinjauan manajemen.

7.5. Reklamasi Lahan Bekas Tambang

PT. Prima Berkat Mineral merencanakan periode pelaksanaan reklamasi


lahan penambangan secara paralel dengan periode penambangannya,
bersamaan dengan kemajuan tahap penambangan yaitu penimbunan
kembali lahan bekas penambangan dengan tanah penutup (proses
rehabilitasi lahan), yang diikuti dengan program revegetasi atau
penanaman kembali lahan-lahan yang telah direklamasi dengan berbagai
jenis vegetasi lokal sebagaimana kondisi awal sebelum penambangan atau
jenis lain yang terpilih sesuai dengan peruntukan akhir pasca tambang.

7.6. Community Development

Studi kelayakan 102


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

PT. Prima Berkat Mineral untuk program Community Development atau


pengembangan masyarakat dimana program-program perusahaan
tersebut pada pengembangan masyarakat ditujukan bagi kepentingan
masyarakat dilingkungan terdekat, dimana akan terjadi interaksi secara
langsung antara perusahaan dengan penduduk setempat. Dalam hal ini
program kegiatan pengembangan masyarakat pada umumnya terintegrasi
dengan kegiatan pengembangan atau pembangunan daerah.

Sasaran program pengembangan masyarakat bagi suatu perusahaan tidak


saja bertujuan untuk menekan timbulnya komplik dengan masyarakat
sekitar, tetapi juga untuk menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap
masyarakat sekitarnya. Namun demikian program pengembangan
masyarakat juga harus dianggap sebagai salah satu aspek penting untuk
menunjang produktivitas perusahaan. Oleh karena itu program
Community Development harus dirancang secara baik dengan visi jauh
kedepan.

Perencanaan biaya dalam pelaksanaan program Community Develoment


tersebut adalah untuk pembangunan fasilitas sebesar Rp.40.000.000 pada
tahun-1, dan untuk tahun selanjutnya dianggarkan biaya perawatan dan
perbaikan sebesar Rp. 40.000.000,-/Tahun untuk selama penambangan
berlangsung. Biaya tersebut terdiri dari biaya pemberdayaan masyarakat
dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan rincian
program sebagai berikut :

BAB VIII

Studi kelayakan 103


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

ORGANISASI DAN
TENAGA KERJA

8.1. Bagan Organisasi

Operasi penambangan Batu Gamping PT. Prima Berkat Mineral


mempunyai tujuan mengelola Batu Gamping dengan target produksi yang
telah ditetapkan. Dalam mengelola bahan galian ini tentunya perusahaan
harus memperhitungkan karakteristik dan batasan-batasan sumberdaya
yang dimiliki yangmeliputi konsi geologi, sumberdaya dan cadangan,
sistem penambangan, finansial dan yang tak kalah penting adalah tenaga
kerja atau sumberdaya manusia yang dimiliki. Dalam melakukan aktivitas
penambangan, tenaga kerja yang dimiliki harus sesuai dengan
kemampuan dan keterampilan untuk melakukan kegiatan sesuai
bidangnya.

Untuk mencapai tujuan penambangan batu gamping sesuai yang


diharapkan, maka dibutuhkan suatu organisasi atau struktur untuk
menanganinya. Bentuk organisasi yang direncanakan untuk melaksanakan
menajemen operasi penambangan ini adalah organisasi garis dan staf
(Line and Staf Organization) dengan pertimbangan :

1. Terdapat spesialisasi tenaga kerha yang beraneka ragam yang dapat


dipergunakan secara maksimal
2. Dalam melaksanakan kegiatan, masing-masing unit dapat
merencanakan program dengan tetap mempertimbangkan
kemampuan dan informasi dari staf.
3. Pengarahan yang diberikan oleh staf dapat dijadikan pedoman bagi
pelaksana.
4. Staf mempunyai pengaruh yang besar dalam pelaksanaan pekerjaan.

Studi kelayakan 104


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Penerapan sistem / cara organisasi dalam pengelolaan Batu Gamping,


maka PT. Prima Berkat Mineral akan dapat merasakan beberapa manfaat,
seperti :

1. Adanya pembagian tugas yang jelas antara unit-unit yang


melaksanakan tugas pokok dan penunjang
2. Keputusan yang telah diambil biasanya telah dipertimbangkan secara
matang oleh segenap unit yang ada diorganisasi, termasuk staf.
3. Adanya kemampuan dan bakat yang berbeda-beda dari unit organisasi
yang memungkinkan dikembangkannya spesialisasi keahlian.
4. Adanya ahli-ahli dan profesional yang akan menghasilkan mutu
pekerjaan lebih baik.
5. Disiplin para anggota organisasi tinggi, karena tugas yang
dilaksanakan oleh unit organisasi sesuai dengan bidang keahlian,
pendidikan dan pengalaman.

Direktur

Manager Site /
Manager HRD
KTT

Kabag. Kabag. Sarana


Kabag. Kabag. Kabag. Kabag. Koordinator
Lingkungan & & Prasarana Kabag. Humas
Produksi Pengolahan Personalia Keuangan Keamanan
K-3 Tambang

Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf

Gambar 8.1. Struktur Organisasi Penambangan


PT. Prima Berkat Mineral

8.2. Jumlah dan Kriteria Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang direncanakan akan terserap perusahaan pada


penambangan ini sebagian besar diambil dari Desa-Desa sekitar areal

Studi kelayakan 105


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

penambangan yang disesuaikan dengan bidang keahlian/keterampilan


yang dimiliki. Rencana kerja yang akan diterapkan adalah pembagian
waktu kerja 1 Shift (8 jam) dengan waktu kerja 6 hari kerja perminggu,
tenaga kerja yang akan dipekerjakan sebelumnya akan didik dan dilatih
pada perusahaan atau lembaga training yang ada.

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk rencana kegiatan


penambangan sebagai berikut :

Tabel 8.1 Rencana Tenaga Kerja dan Penggajian

Jumlah Satuan Upah


No. Uraian Jabatan / Pekerjaan Upah / Tahun
(Orang) / Orang/bulan
1 Direktur 1 Rp 40,000,000 Rp 480,000,000
2 Manager Site / KTT 1 Rp 20,000,000 Rp 240,000,000
3 Manager HRD 1 Rp 10,000,000 Rp 120,000,000
4 Kabag. Produksi 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
5 Kabag. Pengolahan 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
6 Kabag. Lingkungan & K-3 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
7 Kabag. Sarana & Prasarana Tambang 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
8 Kabag. Personalia 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
9 Kabag. Humas 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
10 Kabag. Keuangan 1 Rp 6,000,000 Rp 72,000,000
11 Koordinator Keamanan 1 Rp 4,000,000 Rp 48,000,000
12 Staf Administrasi 3 Rp 4,000,000 Rp 144,000,000
13 Ekspedisi 1 Rp 4,000,000 Rp 48,000,000
14 Inventory 1 Rp 3,000,000 Rp 36,000,000
15 Kpl Mekanik 1 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
16 Asisten Mekanik 3 Rp 4,000,000 Rp 144,000,000
17 Listrik 1 Rp 3,000,000 Rp 36,000,000
18 Operator alat berat 4 Rp 3,000,000 Rp 144,000,000
19 Driver 8 Rp 3,000,000 Rp 288,000,000
20 Mandor 2 Rp 3,000,000 Rp 72,000,000
21 Helper 4 Rp 2,500,000 Rp 120,000,000
22 Shipment 2 Rp 3,000,000 Rp 72,000,000
23 Tukang Masak 2 Rp 3,000,000 Rp 72,000,000
24 Security 4 Rp 2,500,000 Rp 120,000,000
Jumlah 47 Rp 2,748,000,000

Tabel 8.2 Komponen-komponen dalam Perhitungan Standar


gaji dan Upah Karyawan

Studi kelayakan 106


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

No. Komponen Uraian

1 Gaji Pokok Jumlah gaji yang diterima oleh karyawan tetap setiap bulannya tergantung
pada posisinya dalam struktur organisasi
2 Tunjangan Adalah penerimaan yang diterima oleh karyawan / pegawai tetap di luar gaji
pokok yang bila secara lengkap terdiri dari :
- Tunjangan Kehidupan
- Tunjangan Keselamatan
- Tunjangan Hari Libur
- Tunjangan Cuti Liburan
- Tunjangan Kesehatan
- Tunjangan Hari Raya
- Tunjangan Akhir Tahun
3 Pajak dan Asuransi Tambahan komposisi penerimaan karyawan tetap yang diberikan untuk
pembayaran :
- Pajak penghasilan / pendapatan
- Asuransi Tenaga Kerja
- Asuransi Kesehatan
- Pakaian seragam (kelengkapan bekerja)

Setiap gaji dan upah diberlakukan untuk kualifikasi atau level dalam
kelompok karyawan tetap atau tidak tetap suatu perusahaan. Komponen
komponen yang diperhitungkan dalam gaji dan upah seorang karyawan
tetap perusahaan seperti diuraikan pada tabel 8.2 diatas.

Penerimaan gaji seorang karyawan merupakan penjumlahan gaji pokok,


tunjangan, pajak dan asuransi. Tenaga kerja yang direncanakan akan
terserap perusahaan pada penambangan ini sebagian besar diambil dari
Desa-Desa sekitar areal penambangan yang disesuaikan dengan bidang
keahlian/keterampilan. Rencana kerja yang akan diterapkan adalah
pembagian waktu kerja (Shift) dengan waktu kerja 6 hari kerja
perminggu, tenaga kerja yang akan dipekerjakan sebelumnya akan didik
dan dilatih pada perusahaan atau lembaga training yang ada.

Waktu kerja per tahun, berdasarkan 6 hari kerja per minggu :

Studi kelayakan 107


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Total hari per bulan

= 30 hari
Dikurangi : Hari Minggu, Hari Libur, hari libur karena hujan = 4 hari
Maintenance = 4 hari
Hari kerja efektif per bulan = 22 hari
Jadi hari kerja efektif per tahun = 22 hari/bulan x 12 bulan = 264 hari.

Para pegawai akan bekerja 6 hari kerja seminggu dengan waktu 1 shift
selama 8 jam, untuk menjamin para pegawai bekerja tidak melebihi batas
maksimun jam kerja yang diizinkan (pembagian shift disesuaikan dengan
volume pekerjaan).

BAB IX

Studi kelayakan 108


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

PEMASARAN

9.1. Organisasi

Dalam industri pengolahan tambang batu gamping untuk


kebutuhan Smelter hanya memerlukan proses pengolahan dalam bentuk
pengecilan ukuran dengan menggunakan Stone Crusher. Pada saat ini
batu gamping hasil penambangan sudah banyak dilirik khususnya bagi
industri Smelter dimana sebelum adanya smelter batu gamping ini kurang
mendapat tempat di pasar lokal maupun daerah sekitar karena
kebanyakan hanya dipakai untuk bahan bangunan yang pasarnya masih
sangat terbatas.

Mengingat potensi batu gamping di Indonesia hampir semua menyebar


diseluruh wilayah sehingga ini bisa menjadi sumber pendapatan bagi
setiap daerah seiring dengan bertambahnya permintaan pasar khususnya
Industri Smelter. Batu gamping hasil penambangan menjadi prospek
tersendiri sejak berlakunya kebiajakan pemerintah dalam hal pelarangan
ekspor Raw Material dan medorong tumbuhnya beberapa industri
peleburan baja (Smelter) di Indonesia. PT. Prima Berkat Mineral
memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba melakukan Eksploitasi batu
gamping yang ada di Desa Sambalagi Kecamatan Bungku Selatan
Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah untuk memasok kebutuhan
batu gamping bagi Smelter yang ada di Sulawesi Tengah khususnya dan
daerah sekitar Sulawesi Tengah bagian Morowali dan Sulawesi Tenggara
bagian Konawe ataupun daerah lain seperti Maluku.

PT. Prima Berkat Mineral rencana akan memasarkan hasil penambangan


batu gamping dengan melihat kondisi dan situasi supply dan demand Batu

Studi kelayakan 109


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Gamping terutama kepada pasar yang sudah bersepakat dalam bentuk


MOU.

9.2. Prospek Pemasaran


Dalam Usaha penambangan bahan galian industri, pemasaran
merupakan masalah yang lebih sulit dari pada penambangannya.
Permasalahan yang dihadapi oleh sebagian pelaku usaha bahan galian
dalam menjual hasil tambangnya tanpa melalui proses pengolahan (dalam
bentuk raw material).

Mengantisipasi hal itu maka PT. Prima Berkat Mineral melalui MOU dengan
pihak konsumen yang menginginkan produk batu gamping hasil
penambangan dengan size tertentu, hal ini dilakukan dengan mencoba
membangun stone crusher. Batu gamping hasil penambangan dari quarry
selanjutnya akan direduksi ukurannya melalui proses pengolahan dengan
menggunakan alat stone crusher dan setelah melalui tahap itu batu
gamping akan dipisahkan dan siap dipasarkan. Potensi pasar yang dijajaki
oleh PT. Prima Berkat Mineral adalah Industri Smelter PT. Sulawesi Mining
Investmen (SMI) di Daerah Morowali, PT. COR I di Kabupaten Morowali
Utara Provinsi Sulawesi Tengah dan PT. Virtue Dragon Di Kabupaten
Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Selain dari itu peluang pasar lainnya
masih sangat terbuka peluang mengingat potensi dan kualitas batu
gamping dari PT. Prima Berkat Mineral sangat memenuhi kriteria bagi
industri smelter.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa meningkatkan produk


bahan galian industri diperlukan proses pengolahan yang pada akhirnya
dapat meningkatkan fungsi bahan galian tersebut sehingga pangsa
pasarannyapun menjadi lebih luas. Hasil produk tambang yang bersaing

Studi kelayakan 110


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

kualitasnya dan managemen pemasaran yang tepat akan menciptakan


peluang pasar yang lebih banyak yang akhirnya akan meningkatkan
pendapatan bagi kegiatan penambangan batu gamping termasuk
PT. Prima Berkat Mineral.

Studi kelayakan 111


PT. PRIMA BERKAT MINERAL

Studi kelayakan 112