Anda di halaman 1dari 77

PENGARUH PENAMBAHAN WATERPROOFING INTEGRAL

TERHADAP MUTU BETON

Komunitas Bidang Studi : Rekayasa Konstruksi

SKRIPSI

Karya tulis sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Sarjana dari
Universitas Komputer Indonesia

Oleh
FERNANDO TAMPUBOLON
NIM : 13007800

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
2012
ABSTRAK

Beton adalah campuran antara agregat kasar, agregat halus, semen dan air serta
kadang–kadang ditambahkan zat–zat additive (admixture) sebagai bahan
tambahan. Penambahan zat additive ini bertujuan untuk mendapatkan mutu
beton yang lebih baik lagi. Dan salah satu contoh zat additive yang digunakan
pada penelitian ini yaitu Waterproof Integral. Waterproof Integral merupakan
bahan yang kedap air yang penggunaannya pada struktur beton bertulang
semakin banyak terutama untuk struktur dinding penahan tanah seperti pada
basement.Akan tetapi,penggunaan Waterproof Integral ini menimbulkan
banyak pertanyaan terutama pengaruhnya terhadap kekuatan beton.Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan
Waterproofing Integral terhadap mutu beton, menganalisis hubungan
waterproofing Integral dengan factor air semen ( FAS ) karena waterproofing
sendiri berbentuk cairan, dan kadar penambahan Waterproofing Integral yang
paling efektif. Penelitian ini menggunakan bahan uji berbentuk kubus dengan
ukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm dengan jumlah benda uji sebanyak 60 buah
dengan mutu beton K-175. Perbandingan komposisi campuran pada penelitian
ini adalah 0,6 : 1 : 2.2 : 3.3 dimana 0.6 bagian air : 1 bagian semen : 2.2 agregat
halus : 3.3 bagian agregat kasar dengan alat pembanding yaitu berupa berat dari
ember. Variasi campuran pada penelitian ini antara lain 0 % waterproofing (
Normal), 0.5 % waterproofing dari berat semen, 1% Waterproofing dari berat
semen,1.5% waterproofing dari berat semen, dan 2 % waterproofing dari berat
semen. Dari penelitian ini didapat bahwa Penambahan waterproofing Integral
membawa dampak negative terhadap mutu beton dimana kuat tekan beton hasil
penambahan waterproofing Integral adalah dibawah kuat tekan beton Normal
(tanpa waterproofing). Hal ini diakibatkan oleh FAS,dimana kadar semen
berkurang akibat bertambahnya kadar air yang mempengaruhi semakin
besarnya Nilai Slump dan juga mempegaruhi kekuatan beton.Waterproofing
Integral tidak baik digunakan untuk beton structural.

i
ABSTRACT

Concrete is a mixture of coarse aggregate, fine aggregate, cement and water and
sometimes added additive substances (Admixture) as an additive. The addition of
other additives aimed to obtain a better quality of concrete anymore. And one of the
other additives used in this study is Waterproof Integral. Integral Waterproof is
waterproof material whose use of reinforced concrete structures more and more,
especially for structures such as retaining walls basement.Akan However, the use of
Integral Waterproof raises many questions, especially its impact on power
beton.Adapun purpose of this study was to determine the effect of adding Integral to
the quality of concrete waterproofing, waterproofing Integral to analyze the
relationship between water cement factor (FAS) for liquid waterproofing yourself,
and increase the levels of the most effective integral waterproofing. This study used a
cube-shaped test material with a size of 15 cm x 15 cm x 15 cm with a number of
specimens were 60 pieces with concrete quality K-175. Comparison of the
composition of the mixture in this study was 0.6: 1: 2.2: 3.3 where 0.6 parts water: 1
part cement: 2.2 fine aggregate: 3.3 parts coarse aggregate by means of comparison
in the form of weight of the bucket. Variations in the mixture in this study include 0%
waterproofing (Normal), 0.5% by weight of cement waterproofing, waterproofing 1%
by weight of cement, 1.5% by weight of cement waterproofing, waterproofing and 2%
by weight of cement. From this research found that the addition of Integral
waterproofing negative impact on the quality of the concrete compressive strength of
concrete results in which the addition of Integral waterproofing concrete compressive
strength is below normal (without waterproofing). It is caused by FAS, which is
reduced due to increasing levels of cement water levels affect the amount of value
and also Slump concrete effect.Waterproofing Integral power is not used for
structuralconcrete.

ii
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji serta syukur kepada Tuhan YME, atas segala rahmat
dan karunianya kepada Penulis sehingga selesai penulisan skripsi ini dan semoga
memberika ridho-Nya atas apa yang telah Penulis capai dan jalani dalam studi di
Universitas Komputer Indonesia.

“Pengaruh Penambahan Waterproofing Integral Terhadap Mutu Beton”


merupakan judul yang diambil dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh
gelar sarjana teknik Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer
Universitas Komputer Indonesia.

Penulisan skripsi ini tidak akan terlaksana dan selesai tanpa bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Y. Djoko Setiyarto ST., MT., selaku Pembimbing dalam penulisan skripsi ini
yang telah memberikan bimbingan dan waktunya.

2. Yatna Supriyatna ST., MT., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas
Komputer Indonesia dan Koordinator Skripsi.

3. M. Donie Aulia ST., MT. dan Vitta Pratiwi ST., MT., selaku Dosen di
Jurusan Teknik Sipil Universitas Komputer Indonesia.

4. Prof. Dr. H. Denny Kurniadie, Ir., M.Sc., selaku Dekan Fakultas Teknik dan
Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia

5. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas Komputer


Indonesia.

6. Kedua Orang Tua Saya Yang Selalu Sabar Menyuport baik secara Materi dan
juga Doa

7. Kepada Saudara/Kakak/Lae/ dan Adik adik saya yang selalu mengingatkan


saya untuk Menyelesaikan Tugas Akhir ini.

iii
8. Kepada Teman Satu Jurusan Teknik Sipil Unikom Yang Tidak bisa Saya
Sebutkan Satu per satu Yang Slalu Membantu Saya Dalam Menyelesaikan
Kuliah Saya.

9. Akhir Kata, Semoga TYME Membalas Semua Kebaikan Para Pihak pihak
Yang Tercantum diatas.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Dengan rendah hati Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun
sehingga dapat menciptakan kesempurnaan dalam penulisan skripsi ini atau
penulisan-penulisan karya ilmiah berikutnya.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi Penulis dan para pembacanya.

Bandung, Agustus 2012

Penulis

Fernando Tampubolon
13007800

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK……………………………………………………………………… i

ABSTRACT ……………………………………………………………………. ii

KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. iii

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI ……………………………………… iv

DAFTAR ISI …………………………………………………………………… v

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………… vi

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………… vii

DAFTAR GRAFIK …………………………………………………………….. viii

DAFTAR LAMBANG …………………………………………………………. ix

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………... x

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………. I-1

1.1 Latar Belakang …………………………………………………………... I-1


1.2 Tujuan Penulisan…………………………………………………………. I-2
1.3 Permasalahan…………………………………………………………….. I-2
1.4 Ruang Lingkup …………………………………………………………... I-2
1.5 Metode Penulisan ………………………………………………………… I-2
Bab I Pendahuluan …………………………………………………………….. I-3
Bab II Studi Pustaka …………………………………………………………… I-3
Bab III Metode Analisis ………………………………………………………... I-3
Bab IV Studi Kasus …………………………………………………………….. I-3
Bab V Kesimpulan dan Saran …………………………………………………. I-3

v
BABII ………………………………………………………………………….. II-1
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Beton …………………………………………………………………. II-1
2.2 Kekuatan Beton ……………………………………………………… II-2
2.2.1 Faktor factor yang mempengaruhi kekuatan beton ………. II-3
2.3 Semen Portland ………………………………………………………. II-3
2.4 Agregat ………………………………………………………………. II-4
2.4.1 Agregat Halus ………………………………………………. II-5
2.4.2 Agregat Kasar ………………………………………………. II-5
2.5 Kuat Tekan (fc) ……………………………………………………… II-5
2.6 Faktor Air Semen ……………………………………………………. II-6
2.7 Waterproofing Integral ……………………………………………… II-6
BAB III
METODE ANALISIS ………………………………………………………….. III-1
3.1 Perencanaan Beton ………………………………………………….. III-1
3.1.1 Tahap Persiapan …………………………………………… III-2
3.1.2 Tahap Pengujian Agregat ………………………………….. III-2
3.1.3 Tahap Pembuatan Benda Uji ……………………………… III-2
3.2 Penambahan Waterproofing Integral ………………………………. III-3
3.2.1 Komposisi Campuran ……………………………………… III-3
3.2.2 Cara Pencampuran ………………………………………… III-3
3.3 Pengujian Kuat Tekan Beton ………………………………………. III-4
3.4 Data Hasil …………………………………………………………… III-4
3.5 Pengolahan Data ……………………………………………………. III-4
3.6 Kendala ……………………………………………………………… III-4
3.6.1 Proporsi Air ………………………………………………… III-4
3.6.2 Keseragaman Campuran ………………………………….. III-5
3.6.3 Ketepatan Proporsi ………………………………………… III-6
3.6.4 Slump Test …………………………………………………. III-7

v
3.6.5 Perawatan Benda Uji ………………………………………. III-7
3.6.6 Pengujian Kuat Tekan ……………………………………... III-8
BAB IV
ANALISIS DATA LABORATORIUM ………………………………………. IV-1
DAN DATA HASIL PENGUJIAN
4.1 Analisis Data Laboratorium …………………………………………. IV-1
4.1.1 Agregat Halus ………………………………………………. IV-1
4.1.1.1 Analisis Ayakan Agregat Halus ……………………... IV-1

4.1.1.2 Langkah-Langkah Perencanaan ………………………. IV -3

Campuran Beton (mix design)

menurut SK SNI T-15-1990-03

4.1.1.3 Berat Isi & Rongga Agregat Halus ……………………… IV-8

4.1.1.4 Absorption ……………………………………………….. IV-9

4.1.1.5 Kadar Lumpur …………………………………………… IV-10


4.1.1.6 Penentuan Kadar Zat organic …………………………… IV-11

4.1.2 Agregat Kasar ………………………………………………. IV-13

4.1.2.1 Analisa Ayakan Agregat Kasar …………………………. IV-14

4.1.2.2 Analisis Ayakan ………………………………………… IV-16

4.1.2.3 Berat Isi Dan Rongga Agregat Kasar …………………… IV-17

4.1.2.4 Absorption ………………………………………………. IV-18

4.1.2.5 Kadar Lumpur ………………………………………….. IV-19

4.2 Pembuatan Benda Uji …………………………………………………. IV-22

v
4.2.1 Data Campuran ………………………………………………. IV-22

4.2.1.1 Komposisi Campuran ……………………………………. IV-22

4.2.2 Persiapan Alat dan Bahan ……………………………………. IV-24

4.2.3 Proses Pembuatan Beton ……………………………………… IV-25

4.2.4 Penyimpanan Benda Uji ………………………………………. IV-29


4.2.5 Perawatan Benda Uji …………………………………………. IV-29

4.2.6 Proses Pengujian Kuat Tekan Beton ……………………… IV-30

4.2.6.1 Perhitungan berat jenis beton …………………………. IV-33

4.2.6.2 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton …………………… IV-33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………….. V-1

5.1 Kesimpulan ………………………………………………………….. V-1

5.2 Saran ………………………………………………………………… V-1

v
v
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sebagian besar orang percaya bahwa beton sudah biasa digunakan selama
berabad–abad. Bangsa Romawi dulu memang menggunakan semen yang disebut
pozzolan sejak sebelum masehi. mereka menemukan tambang abu pasir vulkanik
besar di dekat Gunung Vesuvius dan ditempat–tempat lainya di Italia. Ketika
mereka mencampur bahan ini dengan batu-kapur dan air bersama–sama dengan
pasir dan kerikil, bahan tersebut mengeras seperti batu dan digunakan sebagai
bahan bangunan. Orang mungkin akan mengira bahwa mutu beton yang
dihasilkan relatif rendah bila dibandingkan dengan beton yang ada saat ini, tetapi
beberapa struktur beton buatan bangsa Romawi masih tetap berdiri hingga saat ini.
Beton adalah material yang dibentuk dari campuran semen, agregat halus, agregat
kasar, dan air. Material ini telah digunakan sebagai bahan konstruksi sejak lama dan
merupakan material yang paling banyak digunakan sebagai bahan konstruksi karena
berbagai keuntungannya. Nilai kekuatan setara dengan daya tahan beton merupakan
fungsi dari banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding campuran dan mutu
bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur,
dan kondisi perawatan pengerasannya. Nilai kuat tekan beton relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan kuat tariknya, dan beton merupakan bahan bersifat getas.

Seiring dengan modernisasi tata ruang suatu daerah, maka fungsi, kuat tekan, nilai
dan umur ekonomis suatu konstruksi dapat saja cepat berubah.
Pada zaman sekarang ini berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kuat tekan
beton yang tinggi seperti penambahan zat-zat kimia, perawatan yang maksimal
dengan tujuan untuk mendapatkan kuat tekan beton yang tinggi.Hal itu juga yang
membuat Penulis ingin menganalisis penambahan waterproof kedalam adukan
beton.dimana waterproof sendiri berfungsi sebagai pelapis beton yang retak,akan
tetapi waterproof sendiri adalah bahan yang kedap air.

I-1
I-2

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh penambahan Waterproof kedalam adukan beton.


2. Menganalisis hubungan cairan waterproof dengan air,dimana waterproof
sendiri adalah bahan yang kedap air.
3. Menjawab keraguan masyarakat umum tentang keuntungan penggunaan
waterproofing.
4. Kadar penambahan waterproofing yang paling efisien.

1.3. Permasalahan

Dalam penulisan laporan ini penulis mengidentifikasikan masalah yang akan dibahas
dalam laporan ini, yaitu :
1. Apa pengaruh penambahan waterproof terhadap air semen.
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan peningkatan mutu
yang maksimal.
3. Berapa kadar campuran waterproof untuk mendapatkan mutu beton yang
terbaik.

1.4. Ruang Lingkup


Untuk menghindari terjadinya penyimpangan isi dari laporan skripsi ini, maka
penulis membatasi masalah. Hal-hal yang membatasi penulisan skripsi hanya
mengkaji tentang Pengaruh waterproof terhadap kuat tekan beton.

1.5. Metode Penulisan


Adapun metode dan sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
I-3

Bab I Pendahuluan

Menjelaskan kerangka pemikiran yang melandasi seluruh penulisan skripsi ini.Pada


Bab 1 berisikan Latar Belakang Penulisan,Tujuan Penulisan,Permasalahan,Ruang
Lingkup Penelitian,Metode Penulisan, dan Manfaat Penulisan.

Bab II. Studi Pustaka

Menjelaskan sifat dan karakteristik material yang digunakan dalam menganalisis kuat
tekan beton yang disubstitusikan dengan semen,agregat halus, agregat kasar,dan
penambahan cairan waterproof dan langkah perencanaan campuran.

Bab III. Metode Analisis

Menjelaskan prosedur Analisis,Langkah Perencanaan beton,Jumlah sampel,Analisis


kuat tekan beton, dan Hipotesa.

Bab IV. Studi Kasus

Menjelaskan penelitian Hubungan waterproof dengan air, dan hasil penelitian kuat
tekan beton di laboratorium.

Bab V. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan yang dihasilkan nantinya akan bersifat khusus yang hanya pada satu
kasus tertentu saja, yaitu hubungan pencampuran cairan waterproof terhadap air semen
dan pengaruh terhadap kuat tekan beton. dan dapat pula yang bersifat umum yang
berlaku untuk keseluruhan dari isian skripsi ini, dan selain itu juga pada bab ini
akan disajikan saran-saran dari penulis.
I-4

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup,
Permasalahan, Metode Penulisan,

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

BAB III
METODE ANALISIS
- Membuat benda uji
- Penambahan Water proof kedalam
campuran beton
- Melakukan Uji tekan

BAB IV
STUDI KASUS
-Analisis data Laboratorium
- Pembahasan hasil Laboratorium

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Beton
Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk
bangunan gedung,jembatan, jalan, dan lain-lain.Beton merupakan satukesatuan yang
homogen.Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat
kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen Portland atau dengan
semen hidrolik yang lain, kadang- kadang dengan tambahan zat additive yang bersifat
kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan
yang homogen.Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan.Pengerasan terjadi
akibat adanya reaksi kimia antara semen dengan air.
Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan
rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah) dan diisi
oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan pori-pori antara agregat halus diisi
oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau
pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terekat
dengan kuat sehingga terbentuklah satu kesatuan yang padat dan tahan lama.
Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana,hanya sekedar mencampurkan bahan-
bahan dasarnya untuk membentuk campuran yang plastis sebagaimana sering kita
lihat pada pembuatan bangunan sederhana.Tetapi jika ingin membuat beton yang
baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih
tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan
beton segar dan memperoleh beton keras yang baik pula.Beton segar yang baik ialah
beton segar yang dapat diaduk, dapat diangku, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak
ada kecenderungan untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan
air dan semen dari adukan.Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama,
kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil (Tjokrodimulyo, 1996)

II-1
II-2

Beton memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain sebagai berikut


(Tjokrodimulyo, 1996) :

Kelebihan beton :
1. Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat tahan
terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan.
2. Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan.
Cetakan dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis.
3. Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak
maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
4. Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada
tempat-tempat yang posisinya sulit.
5. Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.

Kekurangan beton :
1. Beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik, sehingga mudah retak.
Oleh karena itu perlu diberikan baja tulangan sebagai penahan gaya teriknya.
2. Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan suhu, sehingga
perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mengatasi retakan-retakan akibat
terjadinya perubahan suhu.
3. Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan dengan
pengerjaan yang teliti
4. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti secara
seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi bersifat
daktail, terutama pada struktur tahan gempa.

2.2 Kekuatan Beton


Kekuatan merupakan sifat terpenting dari beton, meskipun demikian dalam
beberapa hal sifat-sifat durabilitas/ketahanan, impermeabilitas/kekedapan, dan
stabilitas volume lebih penting. Kekuatan beton merupakan parameter yang dapat
memberikan gambaran secara umum mengenai kualitas beton itu sendiri, karena
kekuatan berkaitan langsung dengan kondisi struktur dalam pasta semen.
II-3

2.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan beton adalah :


1. Faktor air semen

2. Umur Beton

3. Jenis Semen

4. Jumlah Semen

5. Sifat Agregat

2.3 Semen Portland


Semen Portland ialah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan
klinker yang terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gyps
sebagai bahan tambahan (PUBI-1982).Fungsi semen ialah untuk merekatkan butir-
butir agregat agar terjadi suatu massa yang kompak atau padat, selain itu untuk
mengisi rongga diantara butiran-butiran agregat.
Semen portland dibuat melalui beberapa langkah, sehingga sangat halus dan memiliki
sifat adhesif maupun kohesif. Semen diperoleh dengan membakar karbonat atau batu
gamping) danargillaceous (yang mengandung aluminia) dengan perbandingan
tertentu. Bahan tersebut dicampur dan dibakar dengan suhu 1400º C-1500º C dan
menjadi klinker. Setelah itu didinginkan dan dihaluskan sampai seperti bubuk. Lalu
ditambahkan gips atau kalsium sulfat (CaSO4) kira–kira 2–4 % persen sebagai bahan
pengontrol waktu pengikatan. Bahan tambah lain kadang ditambahkan pula untuk
membentuk semen khusus misalnya kalsium klorida untuk menjadikan
semmen yang cepat mengeras. Semen biasanya dikemas dalam kantong 40 kg /50 kg.
II-4

Tabel 1 Susunan Oksida semen Portland

NO OKSIDA PERSENTASE
1 Kapur ( ) 60 – 65
2 Silika (Si ) 17 – 25
3 Aluminia ( ) 3–8
4 Besi ( 0,5 – 6
5 Magnesia (MgO) 0,5 – 4
6 Sulfur ( ) 1–2
7 Soda/Portash( ) 0,5 - 1

Menurut SII 0031-81 semen portland dibagi menjadi lima jenis, sebagai berikut :
Jenis I : Semen untuk penggunaan umum, tidak memerlukan persyaratan khusus.
Jenis II : Semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi sedang.
Jenis III : Semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi (cepat mengeras).
Jenis IV : Semen untuk beton yang memerlukan panas hidrasi rendah.
Jenis V : Semen untuk beton yang sangat tahan terhadap sulfat

2.4 Agregat
Agregat merupakan butiran mineral alami atau buatan yang berfungsi sebagai bahan
pengisi campuran beton. Agregat menempati 70 % volume beton, sehingga sangat
berpengaruh terhadap sifat ataupun kualitas beton, sehingga pemilihan agregat
merupakan bagian penting dalam pembuatan beton. Menurut Tjokrodomulyo (1992)
agregat umumnya digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Batu, untuk besar butiran lebih dari 40 mm.
2. Kerikil untuk besar butiran antara 5 mm sampai 40 mm.
3. Pasir untuk butiran antara 0,15 mm sampai 5 mm.
Jenis agregat yang digunakan sebagai bahan susun beton adalah agregat halus
dan agregat kasar.
II-5

a. Agregat halus
Agregat halus adalah semua butiran lolos saringan 4,75 mm. Agregat halus
untuk beton dapat berupa pasir alami, hasil pecahan dari batuan secara alami, atau
berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh mesin pemecah batu yang biasa disebut abu
batu. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 %, serta tidak
mengandung zat-zat organik yang dapat merusak beton. Kegunannya adalah untuk
mengisi ruangan antara butir agregat kasar dan memberikan kelecakan.

b. Agregat Kasar
Agregat kasar ialah agregat dengan besar butiran lebih dari 5 mm atau agregat
yang semua butirannya dapat tertahan di ayakan 4,75 mm. Agregat kasar untuk beton
dapat berupa kerikil sebagai hasil dari disintegrasi alami dari batu – batuan atau
berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan manual atau mesin. Agregat kasar
harus terdiri dari butir–butiran yang keras, permukaan yang kasar, dan kekal. Agregat
harus memenuhi syarat kebersihan yaitu, tidak mengandung lumpur lebih dari 1 %,
dan tidak mengandung zat–zat organik yang dapat merusak beton.

2.5 Kuat Tekan (fc)

Kuat tekan beton yang diisyaratkan fc adalah kuat tekan beton yang ditetapkan
oleh perencana struktur (benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm dan tinggi
300 mm), dipakai dalam perencanaan struktur beton, dinyatakan dalam Mega Paskal
atau Mpa (SK SNI-T-15-1991-03).

Nilai kuat tekan beton didapatkan melalui tata cara pengujian standar,
menggunakan mesin uji dengan cara memberikan beban tekan bertingkat dengan
kecepatan peningkatan beban tertentu atas benda uji silinder beton (diameter 150
mm, tinggi 300 mm) sampai hancur. Tata cara pengujian yang umumnya dipakai
adalah standar ASTM (American Sosiety for Testing Material), C39-86. Menurut
Dipohusodo (1994: 7), kuat tekan masing-masing benda uji ditentukan oleh tegangan
tekan tertinggi (fc) yang dicapai benda uji umur 28 hari akibat beban tekan selama
percobaan. Menurut Tjokrodimuljo (1996: 59), faktor-faktor yang sangat
II-6

mempengaruhi kekuatan beton antara lain faktor air semen, umur beton, jenis
semen, jumlah semen, dan sifat agregat.

2.6. Faktor Air Semen


Faktor air semen adalah perbandingan antara berat air yang digunakan dengan
berat semen. Hubungan antara faktor air semen (f.a.s) dengan kuat tekan beton secara
umum dapat ditulis dengan rumus yang diusulkan Duff Abrams, 1919) dalam
Samekto dan Rahmadiyanto, 2000), sebagai berikut:

Fc =

Dengan :

fc : kuat tekan beton pada umur tertentu

x : f.a.s (yang semula dalam proporsi volume

A : berat/volume semen + agregat kasar + agregat halus

B : berat/ volume air

Dari rumus di atas tampak bahwa semakin rendah nilai f.a.s semakin tinggi kuat
tekan betonnya, namun kenyataannya pada suatu nilai f.a.s tertentu semakin rendah
nilai f.a.s kuat tekan betonnya semakin rendah pula.

2.7 Waterproofing Integral


Integral Waterproofing merupakan modifikasi dalam bidang waterproofer.
Aplikasinya
yang langsung ditambahkan kedalam beton dapat mempermudah dan mempersingkat
waktu pelaksanaan proyek. Integral waterproofing :
- Setebal beton = waterproof, menolak air dari segala sisi beton
- Permanen waterproof, tidak perlu diganti setiap 10 atau 15 tahun
II-7

- Beton akan kering dan non absorbtif, kebocoran hanya terjadi jika ada retak,
keropos dan kegagalan disambungan. Bocor akan lebih mudah diperbaiki langsung
ke sumbernya dengan metode injeksi.

2.7.1 Waterproof “Damdex”


Damdex adalah pencampur semen (additive) yang menghasilkan bahan pelapis,
perekat, dan penambal tahan air yang mampu melindungi seluruh bangunan.

Damdex sebagai bahan tambah (additive) dalam campuran pembuatan beton akan:

 Meningkatkan kualitas dan daya tekan beton hingga 12%.


 Mempercepat proses pengerasan beton hingga 50% (mempersingkat pengerjaan
7 –14 hari) sehingga anggaran biaya proyek lebih efisien.
 Membuat tahan air. Tidak menimbulkan laju korosi pada tulangan besi dalam
beton.

Akan tetapi karena waterproof itu sendiri adalah bahan yang kedap air,maka dalam
penelitian ini Penulis akan menganalisis hubungan dan pengaruh waterproof damdex
terhadap air semen dan juga kuat tekan beton.
II-8

Gambar 2 Waterproof merek “Damdex”


BAB III

METODE ANALISIS

3.1 PERENCANAAN BETON

PERSIAPAN

PEMBUATAN BENDA UJI

Pengukuran Berat

Pencampuran Beton 1 :3:5

Pencampuran Waterproofing

BENDA UJI

0% 0.5 % 1.0 1.5 2.0

UJI TEKAN

DATA HASIL UJI

PENGOLAHAN DATA

Gambar 3 Metodologi Pengujian

III-1
III-2

Penjelasan Metodelogi Pengujian

Tahap persiapan

Sebelum melakukan penuangan atau pembuatan beton dilaksanakan, hal-hal berikut


ini harus diperhatikan

a. Semua peralatan untuk pengadukan dan pengankutan beton harus bersih.

b. Untuk memudahkan pembukaan cetakan beton, cetakan dapat dilapisi dengan


bahan kusus, antara lain lapisan minyak atau oli.

Tahap pengujian agregat.

Pemeriksaan mutu agregat dimaksudkan untuk memenuhi bahan-bahan campuran


beton yang memenuhi syarat, sehingga benton yang dihasilkan nantinya sesuai
dengan yang diharapkan.

Tahap pembuatan benda uji

Tahapan ini mulai membuat campuran beton yang di rencanakan yaitu membuat
campuran beton dengan perbandingan 1: 3 : 5, dimana 1 semen, 3 pasir dan 5 kerikil.
Dengan berat jenis masing-masing bahan di tentukan oleh volume ember. Dan jumlah
rencana pembuatan benda uji ada dalam tabel 2 dibawah ini :

Tabel 2 Perkiraan Jumlah Benda uji

Lama Perendaman Jumlah


Penambahan
Benda
Waterproofing
Uji
3 hr 7 hr 21hr 28hr
0% 3 3 3 3 12
0.50% 3 3 3 3 12
1% 3 3 3 3 12
1.50% 3 3 3 3 12
2.00% 3 3 3 3 12
Jumlah Total Benda Uji 60
III-3

Penambahan Waterproofing Integral

Waterproofing Integral adalah Admixture untuk campuran beton dibuat untuk


menutup pori-pori pada beton dengan cairan yang berubah menjadi kristalisasi yang
sangat kuat setelah beton mencapai pengeringan, beton tersebut akan menjadi
waterproof.
Catatan : Mutu beton min K-300.
Tapi pada penelitian ini penulis akan mencoba menganalisa untuk mutu
beton K-175.
Pada penelitian ini Penulis akan menggunakan Waterproofing Integral Merk
”Dumdex”.Karena kegunaan waterproofing ini sangatlah banyak dan waktu yang
Yang dimiliki juga sangatlah terbatas, maka dalam penelitian ini hanya mencoba
menganalisa Penambahan WaterproofingIntegral Untuk pekerjaan Pembuatan beton
struktural yang bersifat anti air (waterproof). Adapun prosedur perancangan beton
yang akan dibuat pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Komposisi Campuran

1 Bagian semen (portland) + 3 bagian kerikil + 5 pasir + air + berat Damdex dari
berat semen. Penambahan Waterproofing antara lain 0.5 %, 1 %, 1.5 %, dan 2 % dari
berat semen tanpa mengurangi berat air.

Cara Pencampuran

1. Campurkan semen, kerikil, pasir, dan air terlebih dahulu sesuai komposisi yang
telah ditentukan, lalu aduk hingga merata.
2. Tuangkan Damdex sesuai takaran kedalam campuran lalu aduk kembali sampai
merata, dan campuran harus segera dipakai.

Catatan : Bila diperlukan, adonan plesteran? Pemasangan bata dapat dicampur air
sesuai kebutuhan untuk mengurangi kecepatan beku.
III-4

Pengujian Kuat Tekan Beton

Untuk mengetahui dari sempel yang ada, maka digunakan suatu alat ukur kuat tekan.
Besarnya kuat tekan benda uji, dapat dilihat dari angka yang tercantum pada alat
ultrasonik pulse velocity. Pengujian beton dilakukan setelah masa perawatan
dilakuakan pada hari ke 3, 7, 14, 28. Beton yang akan d uji berbetuk kubus dengan
ukuran 15x15 cm sebayak 48 (empat puluh delapan) buah.

Data Hasil
Tahap ini adalah mencatat hasil dari pengujian di lab.

Pengolahan Data
Dan tahap yang terakhir pengolahan data tahap ini mengolah dan menghitung hasil
uji.

3.2 KENDALA
3.2.1 Proporsi Air

Pada pembuatan beton air diperlukan dalam proses pengadukan untuk


melarutkan semen sehingga membentuk pasta (bereaksi dengan semen) yang
kemudian mengikat semua agregat dari yang paling besar sampai paling halus dan
menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar dapat mudah dikerjakan dalam
proses pengadukan, penuangan, maupun pemadatan. Pasta semen merupakan hasil
reaksi kimia antara air dan semen maka bukan perbandingan jumlah air terhadap total
berat campuran yang penting, tetapi justru perbandingan air dengan semen atau yang
biasa disebut Faktor Air Semen (FAS). Air yang berlebihan akan menyebabkan
banyaknya gelembung air setelah proses hidrasi selesai, sedangkan air yang terlalu
sedikit akan menyebabkan proses hidrasi tidak tercapai seluruhnya, sehingga akan
mempengaruhi penguatan beton. Karena dalam penelitian ini Penulis menggunakan
waterproofing yang berbentuk cairan (liquid) ,maka akan sangat berpengaruh
terhadap FAS,karena akan menambah berat air.Untuk air yang tidak memenuhi syarat
mutu kekuatan beton pada umur 7 hari/28 hari tidak boleh kurang dari 90% jika
dibandingkan dengan kekuatan beton yang menggunakan air standar/suling.
III-5

Karena air mempunyai peranan penting dalam pencampuran beton, maka air
tidak dapat ditambahkan sembarangan dalam pengadukan mortal, jadi harus diingat
faktor air semennya disesuaikan dengan kebutuhan dalam workability serta mutu
beton yang diinginkan. Dan yang perlu dicatat bahwa jumlah air yang terlalu banyak
dapat menyebabkan kekuatan beton menjadi rendah.

3.2.2 Keseragaman Campuran

Seperti yang telah diketahui bahwa setiap tahap dalam pembuatan beton adalah
penting dan berkaitan satu sama lain Dalam tahap ini menentukan metode komposisi
beton menjadi penting karena setiap komposisi yang kita kurangi atau tambah akan
mempengaruhi kekuatan beton yang kita buat.
Seperti yang telah dikemukakan dalam tahap pertama, beton terdiri atas semen,
agregat, air, bahan tambahan mineral dan kimia. Dalam membuat komposisi ada tata
cara yang baik. Sama halnya dengan tahap-tahap yang lain.
Setelah kita menyelesaikan tahap yang pertama. Muncul pertanyaan seberapa banyak
komposisi atau keseragaman campuran bahan-bahan penyusun agar kuat dan murah.
Bagaimana agar tidak mengalami susut. Dan bagaimana agar mudah diolah.
Beberapa perbandingan yang digunakan biasanya adalah 1:2:3. 1 untuk semen, 2
untuk agregat halus dan 3 untuk agregat kasar. Namun dalam teorinya, beton
memiliki batasan-batasan. Batasan-batasan itu antara lain :

1. Jumlah agregat biasanya mencapai 65%-75% untuk beton biasa. 40%-45%


untuk agregat kasar dan 25%-30% untuk agregat halus.
2. Jumlah semen berkisar 11%-12% dari jumlah berat.
3. Sisanya berupa air dan bahan tambahan berkisar 9%-11%.

Di awal sudah dikemukakan pula, berbeda karakteristik beton maka berbeda pula cara
memperlakukannya termasuk dalam tahap yang kedua ini. Sebagai contoh beton yang
dapat memadat sendiri (SCC). Komposisinya berbeda dengan yang lain karena
membutuhkan nilai keenceran yang tinggi maka agregat kasar dibuat lebih sedikit dan
agregat halus dibuat lebih banyak. Perbandingan antara agregat kasar dan agregat
III-6

halus adalah 35% : 65% atau 40% : 60%. Juga diperlukan bahan tambahan seperti
silika fume yang berbanding terbalik dengan jumlah semen. Diperlukan bahan
tambahan aditif untuk memperdaya beton yang kita buat.
Intinya dalam pembuatan komposisi campuran beton adalah melanjutkan tahap
pertama lalu sesuai dengan karakteristik bahan-bahan, membuat komposisi yang
sesuai pula, yakni :

1. Jika nilai penyerapan agregat tinggi perlu diperhatikan nilai banyaknya air yang
akan ditambahkan.
2. Jika diberikan bahan addmixture maka juga perlu diteliti bagaimana
karakteristik bahan addmixture. Misal untuk superpalstisizer, tidak perlu
membutuhkan banyak air karena karakteristik superpalstisizer dapat
memperencer campuran beton saat pembuatan.
3. Nilai lumpur akan mempengaruhi kekuatan beton.
4. Semakin banyak komposisi agregat halus akan memperencer campuran beton.
Sebaliknya semakin banyak agregat kasar akan semakin sukar diolah.
5. Dan sebagainya.

Lalu apa yang akan dihasilkan pada tahap yang kedua ini akan menentukan apa yang
akan dilakukan pada tahap yang ketiga. Sehingga perlu diteliti secara benar untuk
komposisinya. Jangan ada yang salah. Dan diperiksa ulang beberapa kali. Karena
tidak cukup satu kali dikoreksi. Ingat komposisi yang dibuat akan menghasilkan
beton yang dipakai masyarakat. Sedikit kesalahan akan mempengaruhi kehidupan
masyarakat tersebut.

3.2.3 Ketepatan Proporsi

Proporsi campuran ini telah di tetapkan melalui perancangan beton yaitu


dengan perbandingan campuran 1 : 3 : 5 dimana 1 untuk semen, 3 untuk agregat kasar
(kerikil) dan 5 untuk agregat halus (pasir), hal ini dimaksudkan agar proporsi dari
campuran dapat memenuhi syarat kekuatan serta dapat memenuhi aspek ekonomis.
Langkah ini sangat lah penting karena perbedaan karakteristik sifat bahan penyusun
III-7

tersebut akan menyebabkan variasi dari produk beton yang dihasilkan, untuk
menghalikan beton dengan kekuatan yang maksimum dan bahan yang optimal kita
perlu memperhatitan ketepatan proporsi campuran dalam pembuatan beton.

3.2.4 Slump Test

Kemudah pengerjaan dapat dilihat dari nilai slump yang identuk dengan tingkat
keplastisan beton. Semakin plastis beton, semakin mudah pngerjaannya. Unsure-
unsur yang mempengaruhinya antara lain :
1. Jumlah air pencampur, semakin bayak air semakin mudah untuk
dikerjakan
2. Kandungan semen, jika FAS tetap semakin bayak semen berarti semakin
bayak kebutuhan air sehingga keplastisannyapun akan lebih tinggi
3. Gradasi campuran paris-kerikil, jika memenuhi syarat dan standar akan
lebih mudah dikerjakan
4. bentuk butiran agregat kasar, berbentuk bulat-bulat lebih mudah untuk
dikerjakan
5. butiran maksimum
6. cara pemadatan dan alat pemadat
percobaan slump dilakukan untuk mengetahui tingkat kemudahan pengerjaan.
Percobaan ini dilakukan dengan alat kerucut terpancung, yang diameter atasnya 10
cm dan diameter bawahnya 20 cm dan tinggi 30 cm, dilengkapi dengan kuping untuk
mengangkat beton segar dengan tongkat pemadat diameter 16 mm dan panjang 60
cm. selanjutnya dilakukan percobaan slump untuk meneliti hasil pengadukan dari
hasil pengadukan dari hasil percobaan slump diperoleh nilai slump 170 mm.

3.2.5 Perawatan Benda Uji

Pekerjaan perawatan dimaksudkan untuk menjaga agar beton segar selalu lembab,
sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Kelembaban
permukaan beton itu harus dijaga untuk menjamin proses hidrasi semen (reaksi
semen dengan pasir) dapat berlangsung dengan sempurna. Untuk memperoleh beton
III-8

yang kuat dan tidak timbul retak-retak maka diperlukan proses perawatan beton yang
dilakukan dengan cara menyelimuti permukaan beton dengan karung basah kemudian
disiram setiap dua hari sekali.

3.2.6 Pengujian Kuat Tekan

Dalam pelaksanaan praktikum beton ini, benda uji beton kubus yang telah mencapai
umur 28 hari sejak beton yang telah padat dilepaskan dari cetakan akan dilakukan
pengujian terhadap kuat tekan beton kubus tersebut. Kuat tekan beton merupakan
nilai yang ditunjukkan dengan jalan menekan benda uji beton melalui alat tekan
beton, dimana nilai yang didapatkan melalui alat penguji kuat tekan tersebut
selanjutnya dibagi dengan luas permukaan.
BAB IV

ANALISIS DATA LABORATORIUM DAN


DATA HASIL PENGUJIAN

4.1 ANALISIS DATA LABORATORIUM

4.1.1 Agregat Halus

Pada penelitian ini, yang pertama kali dilakukan di lab adalah pengujian agregat halus
dan agregat kasar, yang mana pada pelaksanaannya meliputi :
1. Analisis ayak agregat halus
2. Penentuan berat isi dan rongga
3. Penentuan berat jenis dan penyerapan air agregat halus
4. Penentuan butir lebih halus
5. Penentuan kekerasan agregat
6. Penentuan kadar zat organik agregat
7. Penentuan kekekalan agregat halus dengan menggunakan Natrium Sulfat atau
Magnesium Sulfat

4.1.1.1 Analisa Ayakan Agregat Halus

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan distribusi besar butir agregat halus dengan
ayakan.

Alat :

Adapun Alat yang digunakan dalam analisa ayakan agregat halus adalah :
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram

IV-1
IV-2

2. Ayakan dengan lobang persegi dan tersusun mulai dari ayakan :


- No 4 (4,75 mm)
- No8(2,36mm)
- No 16 (1,18 mm)
- No 30 (600 mikron)
- No 50 (300 mikron)
- No 100 ( 150 mikron)
- PAN
- Dapur pengering
- Sikat dengan bulu yang lemes.

Bahan :
Adapaun bahan yang digunakan adalah pasir beton.

Prosedur Pengerjaan :

- Menyusun ayakan mulai dari PAN penampungan (paling bawah), diatasnya


berturut-turut ayakan no 100, no 50, no16, no 8,dan no 4.
- Tumpahkan agregat halus pada ayakan paling atas (no 4)
- Mesin digoyang sekitar 10 – 15 menit,bertujuan agar agregat menembus
lobang saringan dan hanya tertinggal maksimum 1%.
- Keluarkan masing – masing ayakan dari susunan ayakan.
- Sikat masing – masing ayakan, untuk menurunkan debu yang masih ada
pada ayakan.
- Menimbang sisa pada masing-masing ayakan dan pan penampung.

Susunan saringan agregat kasar bisa dilihat pada gambar dibawah ini:
IV-3

Ayakan NO 4
Ayakan NO 8
Ayakan NO 16

Ayakan NO 30

Ayakan NO 50
AYAKAN NO 100
PAN

Gambar 4 Susunan Ayakan Agregat Halus

4.1.1.2 Langkah-Langkah Perencanaan Campuran Beton (mix design) menurut SK SNI


T-15-1990-03

Langkah-Langkah Perencanaan Campuran Beton (mix design) menurut SK SNI T-15-1990-03


adalah sebagai berikut :

1. Hitung kuat tekan rata-rata (K) …


ditetapkan = 17,5 kg/
2. Nilai standar deviasi ....
ayat 3.3.1 tabel 1 = 7N/ = 7 Mpa
3. Nilai tambah (Margin)......

Σbm = σbk + m,

dimana m = k x Sd

= 1.64 x 7

= 11.5 N/

4. Kekuatan rata- rata yang ditargetkan

σbm = 17.5+11.5

= 29.0
IV-4

5. Jenis semen (ditetapkan) = Indocement PPC 40 Kg (Type 1)


6. Jenis agregat :

- kasar = Batu Pecah

- halus = Pasir Alami

1. Nilai faktor air semen hitung = 0,66 (grafik 12 SK SNI T-15 1990-03)
2. Nilai slump ditentukan = 70-100 mm
3. Ukuran maksimum kerikil = 20 mm
4. Kadar air bebas = 205 Kg/m3 (tabel 6 SK SNI T-15 1990-03)
5. Kadar semen = Kadar air bebas

f.a.s

=308 Kg/m3

12. Kadar semen = 310 Kg/m3


13. Susunan agregat halus = Zone 2 (grafik 3 s/d 6 SK SNI T-15-1990-30)
14. Persen agregat halus = 40 % (grafik 12 SK SNI T-15-1990-30)
15. Berat jenis agregat gabungan = 2,47Kg/m3
16. Berat jenis beton = 2270 Kg/m3
17. Kadar agregat gabungan = Berat jenis beton – (Kadar semen +

Kadar air bebas)

= 2270 – (205+310)

= 1755 Kg/m3

18. Kadar agregat halus = 40% x 1755

= 702 Kg/m3

19. Kadar agregat kasar =1755 – 702

= 1053 Kg/m3
IV-5

Komposisi campuran :

Kondisi SSD

Air = 205 L

Semen = 310 Kg

Pasir = 702 Kg

Kerikil = 1053Kg

Table 3 Komposisi Campuran

Air Semen Pasir Kerikil

205 310 kg 702 kg 1053 kg

0.6 : 1 : 2.2 :3.3

Perhitungan proporsi untuk pencampuran :

Volume kubus :

V = ( 15 x 15 x 15)

= 3375 cm3

= 0.003 m3

Untuk 60 kubus :

V = (60 x 15 x 15 x 15)

=202500 cm3

= 0.2 m3
IV-6

Proporsi pengadukan campuran untuk benda uji 60 kubus beton :

Air = 0.2 x 205 = 0.41 kg

Semen = 0.2 x 310 = 62 kg

Pasir = 0.2 x 702 = 1404 kg

Kerikil =0.2 x 1053 = 210.6 kg

Pengolahan Data :

Langkah-langkah Percobaan:

1. Disediakan sampel dalam keadaan kering, lalu oven sebanyak 500 gram.
2. Sampel ditimbang : A gram.
3. Ambil satu set saringan beserta tutup alasnya, kemudian letakkan sampel pada
saringan yang teratas / terbatas.
4. Susunan saringan tersebut digetarkan dengan alat penggetar selama 10 – 15 menit.
5. Saringan dibiarkan sebentar sampai debu-debunya turun, lalu berat sampel pada tiap
saringan ditimbang.
6. Berat sampel pada tiap saringan dijumlahkan : W gram.
7. Persentasi kehilangan berat dihitung dengan rumus :
(A – W) / A x 100%
Bila persentase kehilangan < 1%, percobaan dapat diterima.
8. Persentase berat sampel yang tertahan pada setiap saringan dapat dihitung dengan
rumus :
Wtertinggal / Wtotal x 100%

9. Jumlahkan presentase- presentase pada item 8 untuk memperoleh persentase


kumulatif sampel yang tertahan. (Persentase kumulatif tertahan dari suatu saringan
: “Jumlah persentase yang tertahan pada saringan-saringan yang lebih besar di atas
IV-7

saringan tersebut ditambah dengan persentase yang tertahan pada saringan itu
sendiri.”).
10. Dihitung persentase kumulatif dari berat sampel yang lolos saringan : 100%
persentase kumulatif berat sampel yang tertahan.
11. Digambar kurva gradasinya (persentase berat kumulatif sampel yang lolos
saringan terhadap ukuran agregat yang lolos saringan / ukuran saringan).
12. Angka kehalusan (fineness modulus) dapat dihitung dengan menjumlahkan
persentase kumulatif berat sampel yang tertahan pada saringan dengan lubang
yang lebih besar atau sama dengan 2.36 mm kemudian penjumlahan itu dibagi
100.

Analisis Saringan

Tabel 4 Hasil Analisis ayakan agregat halus

Ukuran Berat Berat Persentase Kumulatif Kumulatif


Lubang Tertinggal Tertinggal Keseluruhan Tertinggal Tembus
Ayakan (gr) (%) (%) (%) (%)
NO 8
(2.36mm) 120.9 22.3 22.3 77.7

NO 16
(1.18 114.3 20.9 43.2 56.8
mm)
NO 30
(0.60 91.5 16.8 60 40
mm)
NO 50
(0.30 70.4 12.9 72.9 27.1
mm)
NO 100
(0.15 69.6 12.8 85.7 14.3
mm)
Pan 78.2 14.3 -
Jumlah 544,9 100 284.1

ANGKA KEHALUSAN 2.841


IV-8

Grafik1 Persentase Lolos Ayakan Terhadap Diameter Saringan

Persentase Ayakan Lolos


90
80 2,36; 77,7
70
% Kumulatif Lolos

60
1,18; 56,8
50
40 0,6; 40
30 0,3; 27,1
20
0,15; 14,3
10
0
0 0,3 0,6 0,9 1,2 1,5 1,8 2,1 2,4
Diameter Ayakan

4.1.1.3 Berat Isi & Rongga Agregat Halus

Langkah-langkah :

1. Ambil sempel kering oven


2. Masukan pada gelas ukur 1 L, timbang
3. Gelas dikosongkan (bersih) isi air 1L, timbang
4. Timbang Gelas kosong

Hasil Percobaan:

Acuan : ASTM C 29/C 29 M – 04

Suhu : 25°C
IV-9

Tabel 5 Penentuan Berat Isi & Rongga


Ket PENETAPAN DUPLO HASIL PERCOBAAN
V Volume Silinder (liter) 1
Gg Berat Silinder + Isi Gembur (kg) 1.771
Gp Berat Silinder + Isi Padat (kg) 1.9193
T Berat Silinder (kg) 0.2439
Mg Berat Isi Gembur (kg/ ) 1.527
Mp Berat Isi Padat (kg/ 1.675
S Berat Jenis Dalam Keadaan Oven
W Kerapatan Air (kg/
R (
% Rongga=

4.1.1.4 Absorption

Langkah-langkah:

1. Timbang berat cawan kosong


2. Ambil pasir secara sembarang, timbang
3. Dioven
4. Setelah dioven, timbang

Hasil percobaan:

Acuan :

- ASTM C 128 – 88
- SNI 03 – 1970 – 1990
IV-10

Tabel 6 Penentuan Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus


PENETAPAN DUPLO Hasil Percobaan
A Berat Contoh Kering Oven (gr) 477.9
B Berat Pycnometer + air (gr) 693.0
C Berat contoh kering muka jenuh air (gr) 500
SSD
D Berat Pycnometer + Contoh + Air (gr) 995.9
E Berat Jenis Kering Oven : 2.43
A/ (B+C - D)
F Berat Jenis SSD : 2.55
C/ (B + C – D)
G Berat Jenis Semu : 2.75
A/ ( B + A – D)
H Penyerapan Air : 4.62
( C – A) / A x 100 (%)

4.1.1.5 Kadar Lumpur


Langkah – Langkah Percobaan:

1) Timbang wadah yang telah dioven


2) Tambahkan air hingga penuh
3) Biarkan 30 menit
4) Aduk 15 menit
5) Diamkan 1 menit
6) Kemudian airnnya dibuang
7) Ulangi 2-6 (cuci 5 kali)
8) Setelah terbuang semua kotorannya (bersihin), kemudian dioven lagi
9) Timbang hasil oven
IV-11

Hasil percobaan :

Tabel 7 Bagian Lebih Halus dari 75 µM (NO 200) Dalam Agregat Dengan Ayakan (kadar Lumpur)

SIMBOL URAIAN PENGUJIAN CONTOH

A Berat Contoh Asli (gr) 500


B Berat contoh kering setelah dicuci (gr) 418,7
C Bagian Lebih Halus dari 75µm : 16.3
(A – B) / A x 100% (gr)

4.1.1.6 Penentuan Kadar Zat organik

Merupakan bahan-bahan kandungan organik yang terdapat pada agregat halus. Dapat
diketahui dengan melihat warna NaOH 3% yang telah dicampur air dan contoh agregat
yang akan digunakan.

Langkah – Langkah :

1. Ambil sampel pasir yang sudah dioven.


2. Masukkan kedalam tabung uji dan rendam dengan Natrium sulfat yang sudah
dicampur air.
3. Diamkan sampel selama 24 jam.

Hasil Percobaan:

Acuan :
- ASTM c 40 – 84
- SNI 03 – 1775 – 1990

Suhu : 25°C
IV-12

Tabel 8 Penentuan Kadar Organik Agregat Halus


WARNA HASIL PERCOBAAN SNI 03 – 1775- 1990
Lebih Muda Lebih Muda dari Warna Standar
Younger Than Standart Color

- Konsep Hasil Penelitian Untuk Agregat Halus


KONSEP HASIL PENELITIAN
Concept Test Results

URAIAN PENGUJIAN CONTOH SYARAT-SYRAT


Test Description BENDA NASIONAL INDONESIA
UJI Requirement National Of
Indonesia Standard
SNI 03-1750-1990
1. ANALISIS AYAKAN PASIR
Sieve Analysis

a.Pembagian besar butir yang menembus


Particle Passing 100
4,75 mm (%) 77,7
2,36 mm (%) 56,8
1,18 mm (%) 40,0
0,60 mm (%) 27,1
0,30 mm (%) 14,3
0,15 mm (%)
2,841
b. Angka Kehalusan 1,5 – 3,8 (Agregat Halus)
Fine Modulus (Fine Agregat)
IV-13

2. BOBOT ISI 1,527


a. Isi gembur , (kg/ltr)
Farmly
b. Isi padat , (kg/ltr) 1,675
Losely
3. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN
Spesific gravity and absorption
a. Berat jenis keadaan kering 2,43
Dry Specific Gravity
b. Berat jenis jenuh kering muka 2,55
SSD Specific Grafity
c. Berat jenis nyata 2,75
Apparent Spesific Grafity
d. Penyerapan air pada keadaan jenuh dan 4,62
muka kering ,(%).
4. KADAR LUMPUR 16,3 Maks 5% (Agregat halus)
Mud Content Max 5% ( Fine Agregat)
Bagian lebih halus dari 75 µm (No 2000, %
Part finer than 75 µm
5. ZAT ORGANIK Lebih Muda Lebih Muda dari warna
Organic Substance standar
Dibandingkan dengan warna standar Younger than Standart Color
Compare With Standard Color

4.1.2 Agregat Kasar

Prosedur Analisis agregat kasar sama dengan prosedur Analisis agregat halus seperti
sudah dijabarkan diatas.

Pengujian Agregat Kasar, Meliputi :

1. Analisa ayak agregat kasar


IV-14

2. Penentuan berat isi dan rongga


3. Penentuan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar
4. Penentuan butir lebih halus agregat kasar
5. Penentuan daya aus gesek agregat kasar dengan menggunakan mesin Los Angeles
6. Penentuan kekekalan agregat kasar dengan menggunakan Natrium Sulfat atau
Magnesium Sulfat.

4.1.2.1 Analisa Ayakan Agregat Kasar

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan distribusi besar butir agregat halus dengan
ayakan.

Alat :

Adapun Alat yang digunakan dalam analisa ayakan agregat halus adalah :
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram
2. Ayakan dengan lobang persegi dan tersusun mulai dari ayakan :
- NO 1” ( 25,0 mm ) 500 gram
- NO ¾”( 19,0 mm ) 1000 gram
- NO ½”( 12,5 mm ) 2000 gram
- NO 3/8”( 9,5 mm ) 3000 gram
- NO 4 ( 4,75mm ) 4000 gram
- PAN
3. Dapur pengering
4. Sikat dengan bulu yang lemes.

Bahan:

Adapaun bahan yang digunakan adalah split atau batu pecah.

Prosedur Pengerjaan
- Menyusun ayakan mulai dari PAN penampungan (paling bawah), diatasnya
berturut-turut ayakan no 1”, no ¾”, no1/2”, no 3/8”,dan no 4.
IV-15

- Tumpahkan agregat kasar pada ayakan paling atas (no 1)


- Mesin digoyang sekitar 10 – 15 menit,bertujuan agar agregat menembus lobang
saringan dan hanya tertinggal maksimum 1%.
- Keluarkan masing – masing ayakan dari susunan ayakan.
- Sikat masing – masing ayakan, untuk menurunkan debu yang masih ada pada
ayakan.
- Menimbang sisa pada masing-masing ayakan dan pan penampung.

Susunan saringan agregat kasar bias dilihat pada gambar dibawah ini:

Ayakan NO 1”
Ayakan NO ¾’’
Ayakan NO ½”

Ayakan NO 3/8”

Ayakan NO4
PAN

Gambar 5 Susunan Ayakan Agregat Kasar

Pengolahan Data:

Langkah-langkah Percobaan:

1. Disediakan sampel dalam keadaan kering, lalu oven sebanyak 500 gram.
2. Sampel ditimbang : A gram.
3. Ambil satu set saringan beserta tutup alasnya, kemudian letakkan sampel pada
saringan yang teratas / terbatas.
4. Susunan saringan tersebut digetarkan dengan alat penggetar selama 10 – 15 menit.
5. Saringan dibiarkan sebentar sampai debu-debunya turun, lalu berat sampel pada
tiap saringan ditimbang.
6. Berat sampel pada tiap saringan dijumlahkan : W gram.
7. Persentasi kehilangan berat dihitung dengan rumus :
IV-16

(A – W) / A x 100%
Bila persentase kehilangan < 1%, percobaan dapat diterima.
8. Persentase berat sampel yang tertahan pada setiap saringan dapat dihitung dengan
rumus :
Wtertinggal / Wtotal x 100%

9. Jumlahkan presentase- presentase pada item 8 untuk memperoleh persentase


kumulatif sampel yang tertahan. (Persentase kumulatif tertahan dari suatu saringan
: “Jumlah persentase yang tertahan pada saringan-saringan yang lebih besar di atas
saringan tersebut ditambah dengan persentase yang tertahan pada saringan itu
sendiri.”).
10. Dihitung persentase kumulatif dari berat sampel yang lolos saringan : 100%
persentase kumulatif berat sampel yang tertahan.
11. Digambar kurva gradasinya (persentase berat kumulatif sampel yang lolos
saringan terhadap ukuran agregat yang lolos saringan / ukuran saringan).
12. Angka kehalusan (fineness modulus) dapat dihitung dengan menjumlahkan
persentase kumulatif berat sampel yang tertahan pada saringan dengan lubang
yang lebih besar atau sama dengan 2.36 mm kemudian penjumlahan itu dibagi
100.

4.1.2.2 Analisis Ayakan


Tabel 9Analisis Ayakan Agregat Kasar
Ukuran Berat Berat Persentase Kumulatif Kumulatif
Lubang Tertinggal Tertinggal Keseluruhan Tertinggal Tembus
Ayakan (gr) (%) (%) (%) (%)

25.0 mm 0 0 100
19.0 mm 113.8 2.1 2.1 97.9

12.5 mm 3088.3 57.6 59.7 40.3


9.5 mm 1265 23.6 83.3 16.7
IV-17

NO 4 894.5 16.7 100 14.3


(4.75 mm)
Pan -
Jumlah 5361.6 100.0 685.4
ANGKA KEHALUSAN 6.854

Grafik 2 Persentase Kumulatis Lolos Ayakan Terhadap Diameter Jaringan

Persentase Ayakan Lolos


90
80 2,36; 77,7
70
% Kumulatif Lolos

60
1,18; 56,8
50
40 0,6; 40
30 0,3; 27,1
20
0,15; 14,3
10
0
0 0,3 0,6 0,9 1,2 1,5 1,8 2,1 2,4
Diameter Ayakan

4.1.2.3 Berat Isi Dan Rongga Agregat Kasar

Langkah-langkah

1. Ambil sempel kering oven


2. Masukan pada gelas ukur 1 L, timbang
3. Gelas dikosongkan (bersih) isi air 1L, timbang
4. Timbang Gelas kosong

Hasil Percobaan
IV-18

Acuan : ASTM C 29/C 29 M – 04


Suhu : 25°C
Tabel 10 Penentuan Berat Isi & Rongga Agregat Kasar

4.1.2.4 Absorption

Langkah-langkah:

1. Timbang berat cawan kosong


2. Ambil pasir secara sembarang, timbang
3. Dioven
4. Setelah dioven, timbang

Hasil percobaan

Acuan :
- ASTM C 128 – 88
IV-19

- SNI 03 – 1970 – 1990

Tabel 11 Penentuan Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Kasar

4.1.2.5 Kadar Lumpur

1) Timbang wadah yang telah dioven


2) Tambahkan air hingga penuh
3) Biarkan 30 menit
4) Aduk 15 menit
5) Diamkan 1 menit
IV-20

6) Kemudian airnnya dibuang


7) Ulangi 2-6 (cuci 5 kali)
8) Setelah terbuang semua kotorannya (bersihin), kemudian dioven lagi
9) Timbang hasil oven

Hasil percobaan :

Tabel 12 Bagian Lebih Halus dari 75 µM (NO 200) Dalam Agregat Dengan Ayakan (kadar Lumpur)
SIMBOL URAIAN PENGUJIAN CONTOH

A Berat Contoh Asli (gr) 1000.2


B Berat contoh kering setelah dicuci (gr) 1000.2
C Bagian Lebih Halus dari 75µm : 0.20
(A – B) / A x 100% (gr)

Tabel 13 Hasil Analisis ayakan agregat kasar


KONSEP HASIL PENELITIAN
Concept Test Results

URAIAN PENGUJIAN CONTOH SYARAT-SYRAT


Test Description BENDA NASIONAL INDONESIA
UJI Requirement National Of
Indonesia Standard
SNI 03-1750-1990
3. ANALISIS AYAKAN KERIKIL
Sieve Analysis

a.Pembagian besar butir yang menembus


Particle Passing
100
25,0 mm (%)
97,9
19,0 mm (%)
40,3
12,5 mm (%)
IV-21

9,5 mm (%) 16,7


4,75 mm (%) -

b. Angka Kehalusan 6,854 6,0 – 7,1 (Agregat Kasar)


Fine Modulus (Fine Agregat)

2.BOBOT ISI
a. Isi gembur , (kg/ltr) 1,109
Farmly
b. Isi padat , (kg/ltr) 1,276
Losely

3. BERAT JENIS DAN PENYERAPAN


Spesific gravity and absorption
a. Berat jenis keadaan kering 2,25
Dry Specific Gravity
b. Berat jenis jenuh kering muka 2,40
SSD Specific Grafity
c. Berat jenis nyata
2,65
Apparent Spesific Grafity
d. Penyerapan air pada keadaan jenuh
6,83
dan muka kering ,(%).

4. KADAR LUMPUR 0,20 Maks 1 % (Agregat kasar)


Mud Content Max 5% ( Fine Agregat)
Bagian lebih halus dari 75 µm (No 2000, %
Part finer than 75 µm

5. KEKERASAN
IV-22

Hardness Maksimum 50%


Abrasi dengan pesawat Los Angeles (%) 31,6
Los Angeles Abrassion

4.2 Pembuatan Benda Uji

4.2.1 Data Campuran.

Dalam penelitian ini digunakan campuran pembuatan beton sebagai berikut :

4.2.1.1 Komposisi Campuran


Tabel 14 Komposisi Campuran

Proporsi Semen Air Kerikil Pasir


Campuran (kg) (kg) (kg) (kg)
Tiap Campuran uji 310 205 1053 702
1
Koreksi Air : 1 kg = 1 liter.

1. Komposisi Beton Normal

Proporsi Semen Air Kerikil Pasir


Campuran (kg) (kg) (kg) (kg)
Tiap Campuran uji 14.88 9.84 50.54 33.70
0.048
Nilai Slump = 8 cm
IV-23

2. Komposisi Campuran dengan penambahan 0.5 % Waterproofing dari berat semen

Proporsi Semen Air Kerikil Pasir Waterproofing


Campuran (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)

Tiap 14.88 9.84 50.54 33.70 0.0744


Campuran uji
0.048

Nilai Slump = 11.7 cm

Perhitungan berat waterproofing = 0.5 =0.0744 kg

3. Komposisi Campuran dengan penambahan 1 % Waterproofing dari berat semen

Proporsi Semen Air Kerikil Pasir Waterproofing


Campuran (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
Tiap 14.88 9.84 50.54 33.70 0.1488
Campuran uji
0.048
Nilai Slump = 12.8 cm

Perhitungan berat waterproofing = = 0.1488 kg

4. Komposisi Campuran dengan penambahan 1.5 % Waterproofing dari


berat semen
Proporsi Semen Air Kerikil Pasir Waterproofing
Campuran (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
Tiap 14.88 9.84 50.54 33.70 0.2232
Campuran uji
0.048
Nilai Slump = 15 cm
IV-24

Perhitungan berat waterproofing = = 0.2232 kg

5. Komposisi Campuran dengan penambahan 2 % Waterproofing dari berat semen

Proporsi Semen Air Kerikil Pasir Waterproofing


Campuran (kg) (kg) (kg) (kg) (kg)
Tiap 14.88 9.84 50.54 33.70 0.2976
Campuran uji
0.048
Nilai Slump = 18.3 cm

Perhitungan berat waterproofing = = 0.2976 kg

4.2.2 Persiapan Alat dan Bahan

Alat yang digunakan, antara lain :

- Timbangan
- Ember
- Molen (mesin Pengaduk)
- Sekop
- Batang penumbuk yang terbuat dari baja dengan diameter 16 mm dan panjang
600 mm
- Picnometer kapasitas 500
- Kerucut Abrams
- Bejana berbentuk silinder terbuat dari baja berdiameter 20 cm, panjang 19 cm.
- Sampel berbentuk kubus sebanyak 60 sampel.

Bahan yang digunakan, antara lain :

- Pasir
- Split / batu pecah
- Semen Portland Tipe I
IV-25

- Air
- Damdex.

4.2.3 Proses Pembuatan Beton

Proses pembuatan beton, adalah sebagai berikut :

1. Bahan (pasir, split, semen) disiapkan kemudian ditimbang sesuai dengan


kebutuhan yang diinginkan dan jumlah air disesuaikan dengan jumlah yang
dihitung.
2. Cetakan disiapkan kemudian diolesi oli agar beton tidak melekat pada cetakan
nantinya.
3. Masukkan split/batu pecah kedalam molen diikuti dengan memasukkan pasir dan
aduk. Setelah pengadukan ± 1 menit masukkan semen. Setelah pasir, split, dan
semen tercampur rata, masukkan air dan aduk sampai membentuk adonan atau
adukan yang plastis. Campurkan Waterproofing kedalam adukan sesuai dengan
perhitungan dan aduk kembali sampai waterproofnya tercampur rata dengan
adonan.
4. Setelah adonan cukup plastis lalu mesin molen dimatikan dan dilakukan
pengukuran nilai slump.
5. Setelah nilai slump didapatkan, maka adonan dimasukkan kedalam cetakan.
6. Pada saat pengisian cetakan, lakukan penumbukan tiap pengisian 1/3, 2/3, dan
3/3 (penuh) cetakan sebanyak 25 kali tumbukan dengan menggunakan batang
penumbuk.Setelah itu ratakan permukaan adonan sesuai dengan permukaan
cetakan.Penumbukan ini bertujuan untuk memadatkan adonan sehingga tidak
terdapat lagi pori dalam cetakan.
7. Setelah semua cetakan terisi, biarkan adonan didalam ruangan selama 18 - 24
jam.
IV-26

Gambar 6 Pengadukan di Dalam Mesin Pengaduk (Molen)

Gambar 7 Penimbangan Waterproof


IV-27

Gambar 4 Waterproof setelah Ditimbang

Gambar 8 watter Proffing Setelah Ditimbang

Gambar 9 Pengisian Adonan Kedalam Kerucut Abrams


IV-28

Gambar 10 Pengukuran Nilai Slump

Gambar 11 Pengisian dan Pemadatan kedalam kubus


IV-29

Gambar 12 Sampel Yang Sudah Terisi Semua

4.2.4 Penyimpanan Benda Uji

a. Setelah dibiarkan selama 18 - 24 jam maka cetakan dibuka.


b. Bersihkan benda uji dari kotoran yang mungkin melekat, kemudian beri tanda/ kode
agar tidak tidak keliru dengan benda uji yang lain dan timbang benda uji.
c. Masukkan benda uji kedalam bak perendaman.

4.2.5 Perawatan Benda Uji

Pekerjaan perawatan dimaksudkan untuk menjaga agar beton segar selalu lembab,
sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Kelembaban
permukaan beton itu harus dijaga untuk menjamin proses hidrasi semen ( reaksi semen
dengan agregat) dapat berlangsung dengan sempurna. Untuk memperoleh beton yang
kuat dan tidak timbul retak-retak maka diperlukan proses perawatan beton yang
IV-30

dilakukan dengan cara merendam beton didalam bak perendaman selama 3 hari, 7 hari,
14 hari, dan 28 hari.

Gambar 13 Benda Uji Saat di Bak Perendaman (Curing)

4.2.6 Proses Pengujian Kuat Tekan Beton

Dalam pelaksanaan praktikum beton ini, benda uji beton kubus yang telah mencapai
umur perendaman 3 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28 hari masa perendaman akan dilakukan
pengujian terhadap kuat tekan beton kubus tersebut. Kuat tekan beton merupakan nilai
yang ditunjukkan dengan jalan menekan benda uji beton melalui alat tekan beton,
dimana nilai yang didapatkan melalui alat penguji kuat tekan tersebut selanjutnya
dibagi dengan luas permukaan, seperti dijabarkan pada rumus dibawah ini:

Langkah Percobaan

Alat yang dipakai :


IV-31

- Mesin tekan ELE

- Kaliper

- Penolok ukur

- Timbangan

Bahan :

- Benda uji berumur 3hari, 7 hari, 14 hari, dan 28.

Jalannya pengujian :

1. Setelah benda uji berumur 3, 7, 14, dan 28 hari maka, benda uji di
timbang beratnya, kemudian dites kuat tekannya. Benda uji diletakkan
pada tempat yang telah tersedia pada mesin tekan.

2. Didapat berat dan daya tahan untuk masing-masing benda uji yang
telah dicantumkan pada tabel berikut :

Luas permukaan tekan (F)


F =pxl
= 150 x 150
= 22500 mm²
Kuat tekan beton dapat dihitung dengan rumus :

Dimana : = kuat tekan beton (MPa)


P = daya tahan kubus (N)
F = luas permukaan tekan (mm²)
IV-32

Gambar 14 Pengujian Kuat Tekan Beton

Gambar 15 Benda Uji setelah beban Maksimum


IV-33

4.2.6.1 Perhitungan berat jenis beton

1. Volume kubus beton

V = 150 x 150 x 150


= 33750000 mm³
= 0.003375 m³
2. Berat Jenis Beton dapat dihitung dengan cara :

4.2.6.2 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton

1. Untuk Waktu Perendaman 3 hari

Beton Normal

Penambahan Waterproofing 0.5% x Berat Semen.


IV-34

Penambahan Waterproofing 1% x Berat Semen.

Penambahan Waterproofing 1.5% x Berat Semen.

Penambahan Waterproofing 2% x Berat Semen


IV-35

2. Untuk Perendaman 7 hari

Beton Normal

Penambahan Waterproofing 0.5% x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 1 % x Berat Semen


IV-36

Penambahan Waterproofing 1.5 % x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 2 % x Berat Semen

3. Untuk Perendaman 14 hari

Beton Normal
IV-37

Penambahan Waterproofing 0.5 % x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 1 % x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 1.5 % x Berat Semen


IV-38

Penambahan Waterproofing 2 % x Berat Semen

4. Untuk Perendaman 28 hari

Beton Normal

Penambahan Waterproofing 0.5 % x Berat Semen


IV-39

Penambahan Waterproofing 1 % x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 1.5 % x Berat Semen

Penambahan Waterproofing 2 % x Berat Semen


IV-40

Tabel 15 Rata - Rata Pengujian Terhadap Lama Perendaman

Komposisi LAMA PERENDAMAN


Waterproofing 3 7 14 28
Normal 120 180 224.6 251.3
0.5% 91 123.3 166.3 188.6
1% 83.3 129 149.6 186
1.5 % 79.3 80.3 146 177
2% 80.3 120.6 157.3 181

Grafik 3 Kuat Tekan beton


IV-41

Diagram Kuat Tekan Beton (kg/cm2)

300

250
Kuat Tekan (kg/cm2)

200
K 175 (Normal)
150 K 175 + 0.5 %
K 175 + 1 %
100
K 175 + 1.5 %
K 175 + 2 %
50

0
3 7 14 28
Lama Perendaman (Hari)

Gambar 16 Diagram Kuat Tekan beton

Diagram Kuat Tekan Beton Pada Umur 28 Hari

Uji Tekan

300
250
Uji Tekan (kg/cm2)

200
150
100
50
0
0 0,5 1 1,5 2
% tase Penambahan Waterproofing

Gambar17 Diagram Kuat Tekan Beton Pada Umur 28 Hari


IV-42

Tabel 16 Persentase Penurunan Kuat Tekan Beton dengan Penambahan Waterproofing Integral
terhadap Kuat Tekan Beton Normal. Pada Umur 28 hari.

Komposisi
Kuat Tekan Persentase
WaterProofing
Beton Pada Penurunan
Integral
Umur 28 hari
(%) (%)
0 251.3 kg/cm² -
0.5 188.6 kg/cm² -33.24
1 186 kg/cm² -35.1
1.5 177 kg/cm² -41.97
2 181 kg/cm² -38.83
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Penggunaan Waterproofing Integral mempengaruhi Faktor Air Semen (FAS),


Kadar semen jadi berkurang maka akan mempengaruhi kekuatan beton

2. Penambahan Waterproofing Damdex, menurunkan nilai kuat tekan secara


keseluruhan pada semua usia pengamatan

3. Waterproofing Integral tidak baik digunakan untuk beton structural.

Saran

Untuk Penggunaan Campuran Damdex yang semakin banyak tidak disarankan,


karena akan semakin menurunkan mutu beton karena

V-1
Daftar pustaka

1. Tjokrodimulyo, Kardiyono, 1996, “Teknologi Beton, Nafiri”, Yogyakarta.

2. Y.Djoko Setyarto,ST.,MT, 2012, “Menghitung Volume Semen”, Bandung

3. American Society for Testing and Materials, Annual book of ASTM Standards.

ACI Committee 22.1

4. P.E. Edward G. Nawy, “Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar

5. http://www.ilmusipil.com/pengertian-beton-adalah

6. http://rumahdangriya.blogspot.com/2011/08/tes-slump-seri-cara-membuat-

beton-ix.html

7. http://azwaruddin.blogspot.com/2008/02/slump-test.html

8. http://yogie-civil.blogspot.com/2010/07/air-dalam-pembuatan-beton-normal-0.html

9. http://maconwaterproofing.blogspot.com/

10. http://rumahdangriya.blogspot.com/2011/07/perencanaan-campuran-beton-

atau.html

11. ASTM (American Sosiety for Testing Material), C39-86. “Standar kekuatan

beton”

12. Dipohusodo, 1994: ,”Kuat Tekan Beton”

13. SK SNI-T-15-1991-03) “ Standar Kuat Tekan Beton”

14. PUBI (Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia, 1982)

x
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Fernando Tampubolon

Tempat Tanggal Lahir: Sirait, 21 Juni 1984

Jenis Kelamin : Laki Laki

Warga Negara : Indonesia

Agama : Kristen Protestan

Alamat Rumah : Jl Lintas Balige – Tarutung,Balige – Sumatera Utara

Email : andobalige21@gmail.com

Pendidikan Formal :

Tahun 1990-1996 : SD N 175848 Hutaraja,Samosir – Sumatera Utara

Tahun 1996-1999 : SLTP Khatolik Bakti Mulia, Samosir – Sumatera Utara

Tahun 1999-2001 : SMU Cahaya, Medan – Sumatera Utara

Tahun 2001-2002 : SMU Khatolik Bintang Timur 2 Balige – Sumatera Utara

Tahun 2002-2007 : Universitas Negeri Medan (UNIMED) , Medan

Tahun 2007 – 2012 : Universitas Komputer Indonesia ( UNIKOM ) , Bandung