Anda di halaman 1dari 25

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PROMKES)

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan


Promosi Kesehatan adalah suatu proses membantu individu dan masyarakat meningkatkan
kemampuan dan ketrampilannya guna mengontrol berbagai faktor yang berpengaruh pada
kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya (WHO).
Hubley ( 2002 ) mengatakan bahwa pemberdayaan kesehatan ( health empowerment), sadar
kesehatan ( health literacy ) dan promosi kesehatan (health promotion) diletakkan dalam
kerangka pendekatan yang komprehensif.
Sehubungan dengan implementasi konsep pemberdayaan masyarakat, maka konsep promosi
kesehatan berkembang menjadi 2 dimensi,yaitu :
1. Bersifat konvensional

Masih diletakkan/diutamakan pada upaya pencegahan penyakit melalui pengelolaan gaya hidup
atau pengendalian vektor
2. Bersifat radikal

Promosi kesehatan dilakukan melalui upaya pemberdayaan dan advokasi, sehingga


pendekatan promkes bukan hanya pendekatan dari atas kebawah, namun dari bawah ke atas
( bottom up ).
Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk
memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.
Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi.
Suatu usaha hanya berhasil dinilai sebagai "pemberdayaan masyarakat" apabila kelompok
komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai
subyek. Disini subyek merupakan motor penggerak, dan bukan penerima manfaat atau obyek
saja.
Secara lugas dapat diartikan sebagai suatu proses yang membangun manusia atau masyarakat
melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan
pengorganisasian masyarakat.
Dari definisi tersebut terlihat ada 3 tujuan utama dalam pemberdayaan masyarakat yaitu
mengembangkan kemampuan masyarakat, mengubah perilaku masyarakat, dan mengorganisir
diri masyarakat. Kemampuan masyarakat yang dapat dikembangkan tentunya banyak sekali
seperti kemampuan untuk berusaha, kemampuan untuk mencari informasi, kemampuan untuk
mengelola kegiatan, kemampuan dalam pertanian dan masih banyak lagi sesuai dengan
kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Perilaku masyarakat yang perlu
diubah tentunya perilaku yang merugikan masyarakat atau yang menghambat peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Contoh yang kita temui dimasyarakat seperti, anak tidak boleh
sekolah, ibu hamil tidak boleh makan telor, yang membicarakan rencana pembangunan desa
hanya kaum laki-laki saja, dan masih banyak lagi yang dapat kita temui dimasyarakat.
Pengorganisasian masyarakat dapat dijelaskan sebagai suatu upaya masyarakat untuk saling
mengatur dalam mengelola kegiatan atau program yang mereka kembangkan. Disini masyarakat
dapat membentuk panitia kerja, melakukan pembagian tugas, saling mengawasi, merencanakan
kegiatan, dan lain-lain. Lembaga-lembaga adat yang sudah ada sebaiknya perlu dilibatkan karena
lembaga inilah yang sudah mapan, tinggal meningkatkan kemampuannya saja.

Langkah-langkah dalam pemberdayaan masyarakat :


1. Merancang keseluruhan program, termasuk kerangka waktu kegiatan, ukuran program, serta
memberikan perhatian pada kelompok marginal.
2. Menetapkan tujuan
3. Memilih strategi pemberdayaan
4. Implementasi strategi dan manajemen.
5. Evaluasi program.

Dalam pemberdayaan diperlukan pengorganisasian masyarakat,Rothman (1987)


mengkategorikan pengorganisasian masyarakat menjadi 3 yaitu :
1. Locality development

2. Social planning

3. Social action
Pemberdayaan masyarakat diharapkan masyarakat harus berperan aktif/berpartisipasi dalm setiap
kegiatan.Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan ,maka partisipasi harus
ditumbuhkan.Terdapat 5 cara menumbuhkan partisipasi,yaitu :
1. Terapi pendidikan

2. Strategi perubahan prilaku

3. Penambahan staf

4. Kooptasi

5. Strategi kekuatan masyarakat.

Partisipasi dapat terwujud dengan syarat :


1. Adanya saling percaya antar anggota masyarakat

2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif

3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat

4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.

Program-program pembangunan kesehatan dikelompokkan dalam pokok-pokok program yang


pelaksanaannya dilakukan secara terpadu dengan pembangunan sektor lain yang memerlukan
dukungan dan peran serta masyarakat. Disusun 7 Program pembangunan kesehatan yaitu
(DepKes RI, 1999) :

Ø Program perilaku dan pemberdayaan masyarakat

Ø Program lingkungan sehat

Ø Program upaya kesehatan

Ø Program pengembangan sumber daya kesehatan

Ø Program pengawasan obat, makanan dan obat berbahaya

Ø Program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan

Ø Program pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.

Strategi Utama

Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya yang bersifat non instruktif guna meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan
dan melakukan penyelesaian masalah dengan memanfaatkan potensi masyarakat setempat tanpa
bergantung pada bantuan dan luar.

Pola pemberdayaan masyarakat yang dibutuhkan bukan kegiatan yang sifatnya top-down
intervention yang tidak menjunjung tinggi aspirasi dan potensi masyarakat untuk melakukan
kegiatan swadaya, akan tetapi yang paling dibutuhkan masyarakat lapisan bawah terutama yang
tinggal di desa adalah pola pemberdayaan yang sifatnya bottom-up intervention yang menghargai
dan mengakui bahwa masyarakat lapisan bawah memiliki potensi untuk memenuhi
kebutuhannya, memecahkan permasalahannya, serta mampu melakukan usaha-usaha produktif
dengan prinsip swadaya dan kebersamaan.

Pola pendekatan yang paling efektif untuk memberdayakan masyarakat adalah the inner
resources approach. Pola ini menekankan pentingnya merangsang masyarakat untuk mampu
mengidentifikasi keinginan maupun kebutuhannya dan bekerja secara kooperatif dengan
pemerintah dan badan lain untuk mencapai kepuasan bagi mereka. Pola ini mendidik masyarakat
menjadi concern akan pemenuhan dan pemecahan masalah yang dihadapi dengan menggunakan
potensi yang mereka miliki.
A. Perubahan Paradigma Pembangunan

Pemberdayaan masyarakat adalah sebagai subjek sekaligus objek dari sistem kesehatan. dalam
dimensi kesehatan, pemberdayaan merupakan proses yang dilakukan oleh masyarakat (dengan
atau tampa campur tangan pihak luar) untuk memperbaiki kondisi lingkungan, sanitasi dan aspek
lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh dalam kesehatan masyarakat.

Program pemberdayaan yang akan mempengaruhi kualitas hidup adalah pemberdayaan


masyarakat miskin. Faktor ini akan mampu memutuskan ketinggalan rakyat baik dari segi
pendidikan, ekonomi maupun kesehatan. Fektor lain yang akan menjamin penguatan daya tawar
dan akses guna mendukung masyarakat untuk memperolah dan memamfaatkan input sumber
daya yang dapat meningkatkan kegiatan ekonomi adalah melakukan penguatan lembaga dan
organisasi masyarakat.

Pembangunan merupakan proses perubahan menuju peningkatan taraf hidup dan kesejahteaan
masyarakat. Seberapa jauh proses pembangunan tersebut telah mampu menghasilkan
perubahan-perubahan yang membawa dampak pada peningkatan taraf hidup dan kesejahtraan
masyarakat, diukur dengan indikator-indikator yang umum bersifat ekonomi.

Rendahnya tingkat perubahan kondisi kehidupan masyarakat melalui kebijakan pemerataan


melahirkan paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia. Implementasinya
tercerminpada pogram-pogram yang secara lansung ditujukan kepada masyarakat lapisan bawah
seperti pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (pangan, sandang, papan, kesehatan,
pandidikan) maupun pogram penanggulangan kemiskinan.

Kebijakn paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia implementasinya cukup


berhasil, namun secara proses terlihat lambat akibat masih adanya intervensi kekuasaan
pemerintahan dalam menetapkan prioritas pogram yang diperuntukkan bagi kepentinagn
masyarakat dan menguatnya dominasi kekuasaan pemerintah dalam pengololaan paradigma
pemberdayaan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendekatan Dalam Pemberdayaan Msyarakat

Daya merupakan kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sedangkan


berdaya berarti berkekuatan, bertenaga, berkemampuan memiliki akal, cara untuk mengatasi
sesuatau. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan suatu usaha untuk memberikan kekuatan,
tenaga, kemampuan, mempunytai akal/atau cara mengatasi masalah dalam kehidupan
masyarakat. Upaya pemberdayaan masyarakat berarti mamampukan dan memandirikan
masyarakat dalam kebijakan pembangunan nasional harus berwujud dalam tiga aspek kebijakan
utama Yaitu :
1. menetapkan suasana untuk iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi yang dimiliki
masyarakat, baik sumber daya alam maupun sistem nilai tradisonal dalam menata kehidupan
masyarakat.
2. Memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat, baik potensi lokal yang telah memberdaya
dalam menata kehidupan masyarakat melalui pemberian masukan berupa bantuan dana,
pembagunan prasarana dan sarana baik fisik (jalan, irigasi, listrik) maupun sosial (pendidikan,
kesehatan) serta pengembangan lembaga pendanaan, penelitian dan pemasaran didaerah.
3. Melindungi melalui pemihakan kepada masyarakat yang lemah untuk mencegah persiangan
yang tidak seimbang dan bukan berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi.

B. Konsep dan Ruang lingkup Pemaberdayaan Masyarakat


1. Power dan Empowerment

Konsep impowerment itu sendiri merupakan sebuah konsep yang masih terlalu umum dan
kadang-kadang hannya menyentuh “cabang” atau “daun” namun tidak menyentuh “akar”
permasalahan, baik yang bersifat mendasar maupun yang akan terjadi dalam proses. Kita harus
menempatkan konsep pemberdayaan itu tidak hannya indivudual, tertapi juga secara kolektif
(individual self empowerment maupun collektive self empowerment), dan sesuatu itu harus
menjadi bagian dari aktualisasi dan koaktualisasi eksistensi manusia dan kemanusiaan. Dengan
demikian, konsep empowerment pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan
yang adil dan beradap manjadikan semakin imfektif secara struktural, baik didalam kehidupan
keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional, maupun dalam bidang politik, ekonomi
dan sebagainya.

2. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan adalah terjamahan dari empowerment. Menurut Mernam Webster Oxford
English Dictionary, kata empower mengandung dua pengertian yaitu :
1. to give power atau to memberikan kekuasaan, mengalihkan atau mendelegasikan otoritas dari
pihak lain.
2. to give ability to atau enable atau usaha untuk emmberikan kemampuan.
3. usaha untuk emmberikan kemampuan.

Hulme dan Tunner (1990) berpendapat bahwa pemberdayaan mendorong terjadinya suatu
proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang pinggiran yang tidak berdaya untuk
memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal dan nasional. Oleh karena
itu, pemberdayaan sifatnya individual sekaligus kolektif. Pemberdayaan juga merupakan suatu
proses yang menyangkut hubungan-hubungan kekuasaan/kekuatan yang berubah antara
individu, kelompok dan lembaga-lembaga sosial.

Menurut definisinya, pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai upaya peningkatan


kemampuan masyarakat (miskin) untuk berpartisipasi, bernegosiasi, memengaruhi dan
mengendalikan kelembangaan masyarakat secara bertanggung-gugat demi perbaikan
kehidupannya. Pemberdayaan dapat juga diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya
(empowermnet) atau kekuatan (strength) kepada masyarakat. Keberdayaan masyarakat adalah
unsur-unsur yang memungkinkan masyarakat mampu bertahan (survive) dan (dalam pengertian
yang dinamis) maupun mengembangkan diri untuk mencapai tujuan-tujuannya. Oleh karena itu,
memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk (terus-menerus) meningkatkan harkat dan
mertabat lapisan masyarakat “bawah” tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan
dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan masyarakat adalah meningkatkan
kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat.
Dalam dimensi kesehatan, pemberdayaan merupakan proses yang dilakukan oleh masyarakat
(dengan atau tampa campur tangan pihak luar) untuk memperbaiki kondisi lingkungan, sanitasi
dan aspek lainnya yang secara lasung maupun tidak lansung berpengaruh dalm kesehatan
masyarakat.

3. Aspek Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat sebagaimana telah tersirat dalam definisi yang diberikan, ditinjau
dari lingkup dan objek pemberdayaan mencakup beberapa aspek yaitu :
a. peningkatan kepemilikan aset (sumber daya fisik dan finansial) serta kemanpuan (secara
individu dan kerlopok) untuk memamfaatkan aset tersebut demi perbaikan kehidupan mereka;
b. Hubunagan antara individu dan kelompoknya, kaitannya dengan pemikan aset, dan
kemampuan mamamfaatkannya;
c. Pemberdayaan dan reformasi kelembagaan;
d. Pengemabangan jejaring dan kemitraan kerja, baik di tingkat lokal, regional maupun global.

4. Unsur-unsur Pemberdayaan Masyarakat


Upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan sedikitnya empat unsur pokok yaitu :
a. Aksesibilitas imformasi, karena imformasi merupakan kekuasaan baru kengitannya dengan
peluang, layanan, penegakan hukum, efektifitas negosiasi, dan akuntabilitas;
b. Keterlibatan dan partisipasi, yang menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka
terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan;
c. Akuntabilitas, kaitannya dengan pertanggungjawaban publik atas segala kegiatan yang
dilakukan dengan mengatas namakan rakyat;
d. Kapasitas organisasi lokal, kengiatannya dengan kemampuan bekerja sama, mengorganisasi
warga masyarakat, serta memobilitasi sumber daya untuk memcahkan masalah-masalah yang
mereka hadapi.

Untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan masyarakat terdapat tiga jalur kegitan yang harus
dilaksanakan yaitu :
1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang.
Titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap masnusia dan masyarakatnya memiliki potensi
(daya) yang dapat dikembangkan;
2. pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memberikan
motivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta upaya untuk
mengembangkannya;
3. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering).

5. Strategi Pemberdayaan Masyarakat


Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, bisa dilakukan beberapa strategi yaitu :
1. melakukan penguatan lembaga dan organisasi masyarakat guna mendukung peningkatan
posisi tawar dan akses masyarakat untuk memperoleh dan memamfaatnya imput sumber daya
yang dapat meningkatakan kegiatan ekonomi;
2. mengembangkan kapasitas masyarakat melalui bantuan peningkatan keterampilan dan
pengetahuan, penyediaan prasarana dan serana seperti, modal, imformasi pasar dan tehnologi,
sehingga dapat memperluas kerja dan memberikan pendapatan yang layak, khususnya bagi
keluarga dan kelompok masyarakat yang miskin;
3. mengembangkan sistem pelindungan sosial terutama bagi masyarakat yang terkena musibah
bencana alam dan masyarakat yang terkena dampak krisis ekonomi;
4. Menguragi berbagai bentuk pengaturan yang mehambat masyarakat untuk mambangun
lembaga dan organisasi guna penyaluran pendapat, melakukan interaksi sosial untuk
membangun kesepakatan antara kelompok masyarakat dan dengan organisasi sosial politik;
5. Membuka ruang gerak yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melibat dan berpartisipasi
dalam proses pengambilan keputusan publik melalui pengembangan forum lintas yang dibangun
dan dimiliki masyarakat setempat;
6. mengembangkan potensi masyarakat untuk membangun lembaga dan organisasi
keswadayaan masyarakat di tingkat lokal dan memperkuat solidaritas dan ketahanan sosial
masyarakat dalam memecahkan berbagi masalah kemasyarakatan dan khususnya untuk
membantu masyarakat miskin dan rentan sosial.
6. Program Pemberdayaan Masyarakat
Untuk mendukung amanat GBHN 1999-2006, program-program pembangunan yang akan
dilaksanakan untuk meningkatakn pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut ‘

a. Program Penguatan Organisasi Masyarakat


Tujuan program adalah meningkatkan kapasitas organisasi sosial dan ekonomi masyarakat yang
dibentuk oleh masyarakat setempat sebagai wadah bagi pengemabangan interaksi sosial,
pengololaan poternsi masyarakat setempat dan sumber daya dati pemerintah. Serta wadah
partisipasi dalam pengambilan keputusan publik.sasaran yang ingin dicapai adalah
berkembangnya organisasi sosial dan ekonomi masyarakat setempat yang dapat maningkatkan
ekonomi, sosial dan politik.

b. Pragram Pemaberdayaan Masyarakat Miskin

Program ini merupakan bagian yang tidak terpoisahkan dari program penanggulangan
kemiskinan. Tujuan poram ini adalah meningkatakan kemampuan dan keberdayaan keluarga dan
kelompok masyarakat miskin melalui penyediaan kebutuhan dasar dan pelayanan umum berupa
sarana dan prasaran sosial ekonomi pendidikan, kesehatan, perumahan, dan perdiayaan sumber
daya produksi, miningkatkan kegiatan usaha kecil, menengah, dan imformal dipedesaan dan
perkotaan, mengembangkan sistem pelindungan sosial bagi keluarga dan kelompok masyarakat
yang rentang sosial dan tidak mampu mangatasi dan akibat goncangan ekonomi, terkena sakit
atau cacat, korban kejahatan dan berusia lanjut dan berpotensi menjadi miskin. Sasaran yang
dicapai dari program ini adalah berkurangnya jumlah penduduk miskin dan kelompok
masyarakat yang miskin dan berpotensi menjadi miskin.
Kegitan pokok yang dilakukan adalah :

a. Peningakatan kemampuan pemerinatah daerah untuk mambantu pengembangan jaringan


kerja keswadayaan;
b. Pelngembangan kapasitas lembaga-lembaga keswadayaan;
c. Pengemabangan forum komunikasi antar tokoh penggerak kegiatan keswadayaan;
d. Pengembangan kemitraan lintas pelaku dalam kegiatan keswadayaan;
e. Penghapusan berbagai aturan yang mehambat pengembangan lembaga dan organisasi
kewasdayaan masyarakat.
7. Pengorganisasian Pemberdayaan Masyarakat

Secara garis besar pengorganisasian dilakukan secara berikut :

a. Pemberdayaan Masyarakat harus berupa gerak masyarakat

artinya masyarkat harus manjadi subjek dan bukan objek semata dari usaha kesehatan. Mereka
harus dididik dan dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan dasar dalam usaha-usaha
kesehatan serta dilibatkan secara aktif sejak perencanaan dalam usaha-usaha tersebut. Tokoh
dan wakil masyarakat yang dilibatkan misalnya benar-benar yang mencerminkan aspirasi
masyarakat yang sebenarnya. Membutuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan
kesehatan mereka, dan mendorong mereka untuk berperan aktif untuk mengatasi masalah-
masalah tersebut seperti membentuk organisasi-organisasi kesehatan (LSM, seperti masyarakata
anti rokok, anti narkoba), turut membiayai usaha kesehatan, ikut akses atau JPKM), ikut dalam
politik kesehatan (memilih partai yang peduli kesehatan) dan sebagainya.

b. Menekankan peran pemerintah lebih sebagai regulator dan fasilitator


Peran pemerintah yang dominan selama ini dalam usaha kesehatan telah menjadi penghambat
munculnya inisiatif dan krayatif di masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan
gerakan masyarakat yang sesungguhnya. Peran dominan harus lebih diberikan kepada
masyarakat melalui misalnya sektro swasta, LSM, maupun organisasi masyarakat lainnya.
Pemerintah harsu menyedikan dana sebagai seed kapital (modal awal) bagi LSM dalam usaha-
usaha promotif dan preventif mereka. Usaha-usaha seperti ini memang harus dibantu dana
memang merupakan usaha publik yang sulit mempunyai nilai komersial, namun kemandirian
harus terus diusahakan.
c. Membutuhkan wirausahawan sosial atau sosial entrepreneur dalam bidang kesehatan
promotif dan preventif

usaha-usaha kesehatan khususnya dalam mengubah prilaku harus lebih bersifat pendekatan dari
bawah (buttom up appoach) berdasarkan kebutuhan dan kondisi sosial budaya masyarakat
setempat, untuk itu, dibutuhkan orang-orang yang sosial yang dapat mengembangkan dan
menjalankan usaha-usaah pemantapan perilaku sehat bertumpu pada masyarakat. Biasanya
orang-orang ini akan menjalankan kegitanb dengan mendirikan LSM dalam bidang kesehatan
tertentu pada wilayah tertentu pula.

d. Membutuhkan kemandirian dalam usaha kesehatan

secara bertahap pemerintah harus mengurangi alokasi dana pada usaha-usaha kesehatan yang
sudah mulai dapat dibiayari sendiri oleh masyarakat seperti pelayanan kesehatan, apalagi kuratif,
kecuali bagi masyarakat kurang mampu. Alokasi dana harus lebih diberukan dan ditingkatkan
pada kegiatan-kegiatan promotif-preventif, seraya mendorong keterlibatan masyarakat,
swasta/LSM menuju kemandirian.

C. Peran Serta Masyarakat


1. Wujud Peran Serta Masyarakat
Dari pengamatan pada masyarakat selama ini ada beberapa wujud peran serta masyarakat
dalam pembangunan kesehatan pada khususnya dan pemabangunan nasional pada umumnya.
Bentuk-bentuk tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sumber Daya Manusia
setiap insan dapat berpartisipasi aktif dalam pembanguanan masyarakat. Wujud insan yang
menunjukkan peran serta masyarakat dibidang kesehatan antara lain sebagai berikut.
1) Pemimpin masyarakat yang berwawsan kesehatan
2) Tokoh masyarakat yang berwawasan kesehatan, baik tokoh agama, politisi, cendikiawan,
artis/seniman, budayaan, pelawak dan lain-lain.
3) Kader Kesehatan, yang sekarang banyak sekali ragamnya misalnya : kader Posyandu, kader
lansia, kader kesehatan lingkungan, kader kesehatan gigi, kader KB, dokter kecil, saka bakti
husada, santri husada, taruna husada, dan lain-lain.
b. Institusi/lembaga/organisasi masyarakat
bentuk lain peran serta masyarakat adalah semua jenis institusi, lembaga atau kelompok
kegiatan masyarakat yang mempunyai aktifitas dibidang kesehatan. Beberapa contohnya adalah
sebagai berikut.

1) Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM). Yaitu segala bentuk kegiatan
kesehatan yang bersifat dari, oleh dan untuk masyarakat, seperti :
• Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
• Pos Obat Desa (POD)
• Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
• Pos kesehatan di Pondok Pasantren (Pokestren)
• Pemberantasan Penyakit Menular dengan Pendekatan PKMD (P2M-PKMD)
• Penyehatan Lingkungan Pemungkiman dengan Pendekatan PKMD (PLp-PKMD) sering disebut
dengan desa pencontohan kesehatan lingkungan (DPKL).
• Suka Bakti Husada (SBH)
• Taman Obat Keluarga (TOGA)
• Bina Keluarga Balita (BKB)
• Pondok Bersalin Desa (Polindes)
• Pos Pembinaan Terpadu lanjut usia (Posbindu Lansia/Posyandu Usila)
• Pemantau dan Stimulasi Perkembangan Balita (PSPB)
• Keluarga Mandiri
• Upaya Kesehatan Mesjid
2) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai kegiatan dibidang kesehatan. Banyak
sekali LSM yang berkiprah dibidang kesehatan, aktifitas mereka beragam sesuai dengan
peminatannya.
3) Organisasi Swasta yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, ruamh
bersalin, balai kesehatan Ibu dan anak, balai pengobatan, dokter praktik, klinik 24 jam, dan
seabaginya.

c. Dana
Wujud lain partisipasi masyarakat adalah dalam bentuk pembiayaan kesehatan seperti dana
sehat, asuransi kesehatan, jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat, dan berbagai bentuk
asuransi dibidang kesehatan. Secara umum jenis-jenis partisipasi pemberdayaan kesehatan
masyarakat adalah sebagai berikut;
1) Berbagai bentuk dana sehat seperti dana sehat pola PKMD (Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa), dana sehat pola UKS< (Upaya Kesehatana Sekolah), dana sehat pondok
pasantren, dana sehat pola KUD (Koperasi Unit Desa), dana sehat yang dikembangkan oleh LSM,
dan dana sehat organisasi/kelompok lainnya (Supir angkot, tukang becak dan lain-lain);
2) Asuransi kesehatan oleh PT Asuransi Kesehatan Indonesia, dengan sasaran para pengawai
negeri sipil, pensiunan, dan sebagaian karyawan swasta atau pengawai pabrik;
3) Jaminan sosial tenaga kerja (termasuk pemiliharaan kesehatan) khusunya bagi para pekerja
Perusahaan swasta;
4) Asuransi kesehatn swasta atau badan penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan
Masyarakat (Bapel JPKM0), seperti asuransi kesehatan yang dikelola PT tugu mandiri, PT Bintang
Jasa, dan lain-lain.
d. Wujud Lain
Masih ada bentuk peran serta masyarakat selain di atas, antara lain :
1) Jasa Tenaga
2) Jasa Pelayanan
3) Subsidi silang
2. Lingkup Peran Serta Masyarakat
Ruang lingkup peran serta masyarakat (PSM) menjadi sangat luas bahkan tidak terbatas. Namun
demikian, untuk memudahkan dalam pembinaan, lingkup PSM dapat dikelompokkan menjadi

• Upaya Kesehatana Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh masyarakat
umum.
• Upaya Kesehatan Tradisional (UKESTRA)
• Upaya Kesehatan Kerja (UKK)
• Upaya Kesehatan Dasar Swasta (UKDS)
• Kemitaraan LSM dan dunia usaha.
• Dan sehat/jaminan pemeliharaan kesehatan Masyarakat (JPKM)
• Peran wanita pembangunan kesehatan
• Peran generasi muda dalam pembangunan keseahatan
• Kader kesehatan.

3. prinsip Penggerakan Peran Serta Masyarakat


Kesehatan merupakan kebutuahn setiap orang. Oleh karena itu kesehatan seharusnya tercermin
dalam kegiatan setiap insan. Peran serta masyarakat dibidang kesehatan di arahkan melalui tiga
macam utama, sebagai berikut.
a. Kepemimpinan
b. Pengorganisasian
c. Pendanaan

Dengan demikian, tujuan akhir yang hendak dicapai dalam peningkatan peran serta masyarakat
di bidang kesehatan adalah sebagai berikut.
a. Setiap pemimpin kelompok masyarakat baik formal maupun imformal mempunyai wawasan
kesuma (kesehatan untuk semua).
b. Setiap kelompok masyarakat baik ditingkat kewilayahan maupun organisasi, mempunyai
bentuk UKBM yang merupakan wujud partisipasi mereka dalam menanggulangi masalah
kesehatan yang mereka hadapi, dengan kualitas yang baik.
c. Setiap kelompok masyarakat mengembangkan dana sehat menggunakn pola yang sesuai
dengan karakteristik masyarakat setempat, dengan kualitas yang memadai. Dana sehat pola
PKMD untuk masyarakat perdesaan, dana sehat pola KUD untuk masyarakat anggota KUD, dana
sehat pada UKS untuk para murid sekolah dan lain-lain

4. Manajemen Pembinaan Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat di bidang kesehatan mempunyai kekhususan seabagai berikut
a. Meskipun kesehatan berdampingan dengan kedoktoran, implementasi program kesehatan
masyarakatnya berbeda jauh dengan dunia kedokteran. Keseahtan masyarakat sangat erat
kaitannya dengan aspek sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.
b. Bidang gerak serta masyarakat amat luas dan sangat bervariasi sehingga tidak mungkin
menerapkan suatu harusan yang sifatnya mutlak.

Petugas kesehatan yang mengguluti program penyeluhan kesehatan masyarakat/peran serta


masyarakat mempunyai peran ganda karena mengembang dua fungsi yang tidak dipisahkan
seabagi berikut.
a. Sebagai pembina peran serta masyarakat
sebagai petugas kesehatan yang mengetahui bahwa keseahatn masyarakat itu amat ditentukan
oleh partisipasi mereka

D. Upaya Pemberdayaan Bersumber Daya masyarakat ( UKBM )


1. Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu )
Posyandu merupakan jenis UKM yang paling memasyarakatkan dewasa ini. Posyandu yang
meliputi lima program prioritas yaitu: KB, KIA, Imunisasi,dan penanggulangan Diare.terbukti
mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi . sebagai salah satu
tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat level
bawah , sebaiknya posyandu digiatkan kembali seperti pada masa orde baru karena terbukti
ampuh mendeteksikan permasalahan gizi dan kesehatan di berbagai daerah.permasalahan gizi
buruk anak balita, kekurangan gizi, busung lapar dan masalah kesehatan lainnya menyangkut
kesehatan ibu dan anak akan mudah dihindari jika posyandu kembali diprogramkan secara
menyeluruh .
Kegiatan posyandu lebih di kenal dengan sistem lima meja yang, meliputi :
1. Meja 1 : Pendaftaran
2. Meja 2 : Penimbangan
3. Meja 3 : Pengisian Kartu Menuju Sehat
4. Meja 4 : Penyuluhan Kesehatan pembarian oralit Vitamin A ,dan tablet besi
5. Meja 5 : Pelayanan kesehatan yang meliputi imunisasi, pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan,serta pelayanan keluarga berencana.
Untuk meja 1 sampai 4 dilaksanakan oleh petugas kesehatan. Sejak dicanangkan pada tahun
1984, penumbuhan jumlah posyandu sebagai berikut :

Pertumbuhan Jumlah Posyandu


Tahun Jumlah
1990
1991
1992
1993
2003 244.382
251.815
242.255
233.061
245.154

Bila diperhitungkan bahwa tiap posyandu rata-ratamempunyai lima orang kader,


Jumlah kader, maka jumlah kader aktif posyandu 5 x 245.154 = 1.255.770 orang kader .
2. Pondok Bersalin Desa ( Polindes )
Pondok bersalin desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan
ibu dan anak . UKBM ini dimaksudkan untuk menutupi empat kesenjangan dalam KIA ,yaitu
kesenjangan geografis ,kesejangan informasi, kesenjangan ekonomi dan kesenjangan sosial
budaya.
Keberadaan bidan ditiap desa diharapkan mampu mengatasi kesenjangan geografis, sementara
kontak setiap saat dengan dengan penduduk setempat diharapkan mampu mengurangi
kesenjangan informasi. Polindes dioperasionalkan melalui kerja sama antara bidan dengan dukun
bayi , sehingga tidak menimbulkan kesenjangan sosial budaya,sememtara tarif pemeriksaan
ibu ,anak dan melahirkan yang ditentukaN dalam musyawarah LKMD diharapkan mampu
mengurangi kesenjangan ekonomi.

3. Pos Obat Desa ( POD )


Pos obat desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan sederhana.
Kegiatan ini dapat dipandang sebagai perluasan kuratif sederhana, melengkapi kegiatan
preventif dan promotif yang telah di laksanakan di posyandu.
Dalam implementasinya POD dikembangkan melalui beberapa pola di sesuaikan dengan stuasi
dan kondisi setempat .
Beberapa pengembangan POD itu antara lain :
POD murni, tidak terkait dengan UKBM lainnya.
• POD yang di integrasikan dengan Dana Sehat ;
• POD yang merupakan bentuk peningkatan posyandu:
• POD yang dikaitkan dengan pokdes/ polindes ;
• Pos Obat Pondok Pesantren ( POP ) yang dikembangkan di beberapa pondok pesantren ;
• Dan sebagainya .
POD jumlahnya belum memadai sehingga bila ingin digunakan di unit –unit desa , maka
seluruh ,diluar kota yang jauh dari sarana kesehatan sebaiknya mengembangkan Pos Obat Desa
masing – masing.

4. Dana Sehat
Dana telah dikembangkan pada 27 provinsi meliputi 209 kabupaten/kota. Dalam
implementasinya juga berkembang beberapa pola dana sehat, antara lain sebagai berikut.
a. Dana sehat pola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dilaksanakan pada 34 kabupaten dan telah
mencakup 12.366 sekolahan.
b. Dana sehat pola pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) dilaksanakan pada 96
kabupaten.
c. Dana sehat pola pondok Pesantren, dilaksanakan pasa 39 kabupaten/kota.
d. Dana sehat pola koperasi Unit Desa (KUD), dilaksanakan pada lebih dari 23 kabupaten,
terutama pada KUD yang sudah tergolong mandiri.
e. Dana sehat yang dikembangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dilaksanakan pada 11
kabupaten/ kota.
f. Dana sehat organisasi/kelompok lainnya (seperti tukang becak, sopir angkutan kota dan lain-
lain), telah dilaksanakan pada 10 kabupaten/kota..

Seharusnya dana sehat merupakan bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan bagi anggota
masyarakat yang belum dijangkau oleh asuransi kesehatan seperti askes, jamsostek, dan asuransi
kesehatan swasta lainnya. Dana sehat berpotensi sebagai wahana memandirikan
masyarakat,yang pada giliranya mampu melestarikan kegiatan UKMB setempat. Oleh karena itu,
dana sehat harus dikembangkan keseluruh wilayah.kelompok sehingga semua penduduk terliput
oleh dana sehat atau bentuk JPKM lainnya.

5. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)


Di tanah air kita ini terdapat 2.950 lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun sampai sekarang
yang tercatat mempunyai kegiatan di bidang kesehatan hanya 105 organisasi LSM. Ditinjau dari
segi kesehatan, LSM ini dapat digolongkan manjadi LSM yang belum mempunyai kegiatannya
bidang kesehatan atau LSM yang aktivitasnya seluruhnya kesehatan dan LSM khusus antara lain,
organisasi profesi kesehatan, organisasi swadaya internasional.

Dalam hal ini kebijaksanaan yang ditempuh adalah sebagai berikut :


a. meningkatkan peran serta masyarakat termasuk swasta pada semua tingkatan:
b. membina kepemimpinan yang berorientasi kesehatan dalam setiap organisasi
kemasyarakatan.
c. Memberi kemampuan, kekuatan dan kesempatan yang lebih besar kepada organisasi
kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan dengan kemapuan sendiri.
d. Meningkatkan kepedulian LSM terhadap upaya pemerataan pelayanan kesehatan.
e. Masih merupakan tugas berat untuk melibatkan semua LSM untuk berkiprah dalam bidang
kesehatan.

6. Upaya Kesehatan Tradisional


Tanaman obat keluarga (TOGA) adalah sebidang tanah dihalaman atau ladang yang
dimanfaatkan untuk menanam yang berkhasiat sebagai obat. Dikaitkan dengan peran serta
masyarakat, TOGA merupakan wujud partisipasi mereka dalam bidang peningkatan kesehatan
dan pengobatan sederhana dengan memanfaatkan obat tradisinal. Fungsi utama dari TOGA
adalah menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan antara lain untuk menjaga dan
meningkatan kesehatan dan mengobati gejala (keluhan) dari beberapa penyakit yang ringan.
Selain itu, TOGA juga berfungsi ganda mengingat dapat digunakan untuk memperbaiki gizi
masyarakat, upaya pelestarikan alam dan memperindah tanam dan pemandangan.

7. Upaya Kesehatan Kerja


Upaya kesehatan kerja menjadi semakin penting pada industrilisasi sekarang ini. Pertumbuhan
industri yang pesat membuat tenaga kerja formal semakin banyak, yang biasanya tetap diiringi
oleh meraknya tenaga tenaga kerja imformal. Salah satu wujud upaya kesehatan kerja adalah
dibentuknya Pos Upaya kesehatan kerja (Pos UKK) di sektor informal dan pelaksanaan
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di sektor formal.

Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) untuk operasional OKMD di lingkungan pekerja merupakan
wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja yang terencana, teratur dan
berkesinambungan yang di selenggarakan oleh masyarakat pekerja atau kelompok pekerja yang
memiliki jenis kegiatan usaha yang sama dan bertujuan untuk maningkatkan produktivitas kerja.
Dengan demikian, implamentasi selalu mencakup tiga pilar PKMD, yaitu adanya kerjasama lintas
sektor, adanya pelayanan dasar kesehatan kerja, dan adanya peran serta masyarakat. Jumlah Pos
Upaya Kesehatan Kerja ( Pos UKK) sampai dengan tahun 2003 tercatat sebanyak 9.139 UKK
(Profil Kesehatan 2003)

8. Upaya Kesehatan Dasar Swasta


Upaya kesehatan dasar swasta dapat dikelompokkan menjadi :
a. kelompok pelayanan swasta dasar di bidang medik, meliputi Balai Kesehatan Ibu dan anak
(BKIA), Balai pengobatan (BP) Swasta dan Rumah bersalin (RB):
b. kelompok berdampak kesehatan, meliputi salon kecantikan, pusat kebugaran, dan sebagainya:
c. kelompok tradisional, meliputi tabib, sinshe, panti pijat, dukun patah tulang, yang pembinaan
teknisnya dilakukan oleh upaya kesehatan tradisional (Ukestra)

9. Kemintraan LSM dan Dunia Usaha


Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan organisasi non pemerintah ( Nom
Governmental organization/ NGO) yang sebenarnya mempunyai bebeerapa potensi yang bisa
digunakan untuk meningkatkan derajat kesehatam masyarakat, antara lain dalam hal community
development, pemberi pelayanan kesehatan, pelatihan untuk berbagai macam bidang, dan
penghimpunan dana masyarakat untuk kesehatan.

Untuk meningkatkan fungsi LSM, forum komunikasi ditingkatkan menjadi jejaring LSM yang
ternyata berkembang beberapa peminatan. Ada beberapa kelompok peminatan kesehatan, yaitu
:

a. Pembangunan Kesehatan Fungsi Masyarakat Desa (PKMD) /Primary health Care (PHC)
b. Keluarga berencana /Kesehatan Ibu dan Anak (KB/KIA)
c. Penyakit Menular Seksual (PMS/AIDS)
d. Kesehatan anak, ramaja, dan generasi muda
e. Kesehatan wanita
f. Pengobatan tradisional
g. Kesehatan kerja
h. Kesehatan lingkungan/air bersih
i. Penyakit menular
j. Klinik/ balai pengobatan

10. Kader Kesehatan


Kader di indonesia merupakan sosok insan yang menarik perhatian khalayak. Kesederhanaannya
dan asalnya yang dari masyarakat setempat, telah membuat kader begitu dekat dengan
masyarakat membuat alih pengetahuan dan olah keterampilan dari kader kepada tetangganya
demikian mudah. Kedekatanya dengan petugas puskesmas telah membuat mereka menjadi
penghubung yang andal antara petugas kesehatan dengan masyarakat. Profil kader yang paling
dikenal adalah kader posyandu. Melejitnya jumlah dan peran posyandu dalam keberhasilan
program keluarga berencana dan kesehatan. Telah turut mengangkat kepopelaran kader
posyandu di Indonesia. Peran PKK (Pembinaaan Kesejahteraan Keluarga) dalam kader ini sangat
besar, karena kampir seluruhnya kader posyandu atau kader PKK adalah wanita. Tim Penggerak
PKK dari mulai tingkat pusat, provinsi, kabupaten / kota, kecamatan dan desa/kelurahan, selalu
berupaya melakukan penggerakan dan pembinaan intensif terhadap kader PKK yang menjadi
tulang punggung kegiatan posyandu.

11. Bentuk UKBM Yang Lain


Bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang lain adalah sebagai berikut :
a. Suatu karya bhakti Hasuda (SBH) merupakan bentuk partisipasi generasi muda khususnya
pramuka dalam bidang kesehatan.
b. Upaya Kesehatan Gizi Masyarakat Desa (UKGMD), merupaka wujud peran serat masyarakat
dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.
c. Pemberantasan Penyakit Menular melalui pendekatan pembangunan kesehatan masyarakat
desa(P2M-PKMD) merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam penangulangan penyakit
menular yang banyk di derita penduduk setempat.
d. Desa percontohan kesehatan lingkungan (DPKL), merupakan wujud peran serta masyarakat
dalam program menyediakan air bersih dan perbaikan lingkungan pemukiman. Melalui kegiatan
ini diharapkan cukupan penyediaan air bersih dan rumah sehat menjadi semakin tinggi.
e. Pos kesehatan pondok pesantren (Poskestren), merupakan wujud partisipasi masyarkat
pondok pesantren dalam bidang kesehatan. Biasanya dalam poskestren ini muncul kegiatan,
antara lain pos obat pondok pesantren (POP), santri hasada ( kader kesehatan di kalangan
santri), pusat informasi kesehatan di pondok pesantren, dan upaya kesehatan lingkungan di
sekitar pesantren.
f. Karang Werda, merupakan wujud peran serta masyarakat dalam upayakesehatan usia lanjut,
misalnya pos pembina terpadu lansia (posbindu lansia atau posyandu usila).
g. Dan masih banyak lagi bentuk UKBM yang lain.
E . Tantangan/ Permasalah
Permasalah yang muncul dalam pelaksanaan program pemberdayaan dan peran serta
masyarakat dalam bidang kesehatan adalah :
1. Pemberdayaan masyarakat atau peran serta masyarakat secara individu.
2. Pemberdayaaan masyarakat atau peran serta masyarakat dalam hal perdana.
3. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang penyelenggaraan posyandu.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Pemberdayaan masyarakat adalah sebagai subjek sekaligus objek dari sistem kesehatan. dalam
dimensi kesehatan, pemberdayaan merupakan proses yang dilakukan oleh masyarakat (dengan
atau tampa campur tangan pihak luar) untuk memperbaiki kondisi lingkungan, sanitasi dan aspek
lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh dalam kesehatan masyarakat.

Program pemberdayaan yang akan mempengaruhi kualitas hidup adalah pemberdayaan


masyarakat miskin. Faktor ini akan mampu memutuskan ketinggalan rakyat baik dari segi
pendidikan, ekonomi maupun kesehatan. Fektor lain yang akan menjamin penguatan daya tawar
dan akses guna mendukung masyarakat untuk memperolah dan memamfaatkan input sumber
daya yang dapat meningkatkan kegiatan ekonomi adalah melakukan penguatan lembaga dan
organisasi masyarakat.

Revitalisasi Puskesmas untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui strategi


pengorganisasian komunitas dilakukan untuk memberdayakan masyarakat dalam hal
penyelesaian masalah kesehatan di aras komunitas basis. Selain itu juga mendorong potensi
masyarakat di aras komunitas basis agar dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan dengan
penekanan pencegahan penyakit melalui keswadayaan yang berkelanjutan dan kontekstual
dengan kebutuhan lokal.

Ditulis oleh : Saiful Ady


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Teuku Umar

Daftar Pustaka

AKK..DR.Dr.AzrulAzwar M.P.H 1996.Pengantar Administrasi Kesehatan.Bina rupa Aksara: Jakarta

. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat


Sesuai dengan pokok-pokok pengertian tentang penyuluhan yang telah dikemukakan di atas,
Margono Slamet (2000) menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat, merupakan ungkapan
lain dari tujuan penyuluhan pemba-ngunan, yaitu untuk mengembangkan sasaran menjadi
sumber daya manusia yang mampu meningkatkan kualitas hidup-nya secara mandiri, tidak
tergantung pada “belas kasih” pihak lain. Dengan penyuluhan pembangunan, masyarakat sasaran
mendapatkan alternatif dan mampu serta memiliki kebebasan untuk memilih alternatif yang
terbaik bagi dirinya.
Penyuluhan sebagai proses pemberdayaan, akan menghasilkan masyarakat yang dinamis dan
progresif secara berkelanjutan, sebab didasari oleh adanya motivasi intrinsik dan ekstrinsik
dalam diri mereka.

Penyuluhan pembangunan sebagai proses pember-dayaan masyarakat, memiliki tujuan utama


yang tidak terbatas pada terciptanya “better-farming, better business, dan better living, tetapi
untuk memfasilitasi masyarakat (sasaran) untuk mengadopsi strategi produksi dan pemasaran
agar memper-cepat terjadinya perubahan-perubahan kondisi sosial, politik dan ekonomi sehingga
mereka dapat (dalam jangka panjang) meningkatkan taraf hidup pribadi dan masyarakatnya
(SDC, 1995).
Sedang tugas penyuluhan tidak lagi terbatas untuk mengubah perilaku masyarakat-bawah
sebagai sasaran-utamanya, tetapi untuk meningkatkan interaksi antar aktor-aktor (stakeholders)
agar mereka mampu mengoptimalkan aksesibilitasnya dengan informasi agar mereka mampu
meningkatkan situasi sosial dan ekonominya

Penyuluhan sebagai proses pemberdayaan masyara-kat, merupakan proses pemandirian


masyarakat. Pemandirian bukanlah menggurui, dan juga bukan bersifat karitatip, mela-inkan
mensyaratkan adanya peran-serta secara aktif dari semua pihak yang akan menerima manfaat,
terutama dari kalangan kelompok sasaran itu sendiri.
Mandiri bukan berarti “berdiri di atas kaki sendiri” atau menolak bantuan dari luar. Mandiri tetap
membuka diri dari “bantuan”`pihak luar yang benar-benar diyakini akan membe-rikan manfaat.
Sebaliknya, mandiri harus berani menolak intervensi pihak luar yang (akan) merugikan atau
menuntut korbanan lebih besar dibanding manfaat yang (akan) diterima.

B. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat

Istilah pemberdayaan masyarakat sebagai terjemahan dari “empowerment” mulai ramai


digunakan dalam bahasa sehari-hari di Indonesia bersama-sama dengan istilah “pengen- tasan
kemiskinan” (poverty alleviation) sejak digulirkannya Program Inpres No. 5/1993 yang
kemudian lebih dikenal sebagai Inpres Desa Terting-gal (IDT). Sejak itu, istillah pemberdayaan
dan pengentasan-kemiskinan merupakan “sau-dara kembar” yang selalu menjadi topik dan kata-
kunci dari upaya pembangunan.
Hal itu, tidak hanya berlaku di Indonesia, bahkan World Bank dalam Bulletinnya Vol. 11
No.4/Vol. 2 No. 1 October-Desember 2001 telah menetapkan pemberdayaan sebagai salah satu
ujung-tombak dari Strategi Trisula (three-pronged strategy) untuk memerangi kemiskinan yang
dilaksanakan sejak memasuki dasarwarsa 90-an, yang terdiri dari: penggalakan peluang
(promoting opportunity) fasilitasi pem-berdayaan (facilitating empowerment) dan peningkatan
kea-manan (enhancing security).
Menurut definisinya, oleh Mas’oed (1990), pember-dayaan diartikan sebagai upaya untuk
memberikan daya (empowerment) atau kekuatan (strengthening) kepada masya-rakat.
Sehubungan dengan pengertian ini, Sumodiningrat (1997) mengartikan keberdayaan masyarakat
sebagai kemam-puan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun
keberdayaan masyarakat yang bersangkutan.
Masyarakat dengan keberdayaan yang tinggi, adalah masya-rakat yang sebagian besar
anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat, dan memiliki nilai-nilai intrinsik yang juga
menjadi sumber keberdayaan, seperti sifat-sifat kekeluargaan, kegotong-royongan, dan (khusus
bagi bangsa Indonesia) adalah keragaman atau kebhinekaan.

Keberdayaan masyarakat, adalah unsur-unsur yang memungkinkan masyarakat mampu bertahan


(survive) dan (dalam pengertian yang dinamis) mampu mengembangkan diri untuk mencapai
tujuan-tujuannya. Karena itu, memberdaya-kan masyarakat merupakan upaya untuk (terus
menerus) me-ningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat “bawah” yang tidak mampu
melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.
Dengan kata lain, memberdayakan masyarakat adalah mening-katkan kemampuan dan
meningkatkan kemandirian masyara-kat. Sejalan dengan itu, pemberdayaan dapat diartikan
sebagai upaya peningkatan kemampuan masyarakat (miskin) untuk berpartisipasi, bernegosiasi,
mempengaruhi dan mengendali-kan kelembagaan masyarakatnya secara bertanggung-gugat
(accountable) demi perbaikan kehidupannya

Empowerment atau pemberdayaan secara singkat dapat diartikan sebagai upaya untuk
memberiikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat (miskin) untuk mampu
dan berani bersuara (voice) serta kemampuan dan keberanian untuk memilih (choice).
Karena itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan
skala/upgrade utilitas dari obyek yang diberdayakan. Dasar pemikiran suatu obyek atau target
group perlu diberdayakan karena obyek tersebut mem-punyai keterbatasan, ketidakberdayaan,
keterbelakangan dan kebodohan dari berbagai aspek. Oleh karenanya guna meng-upayakan
kesetaraan serta untuk mengurangi kesenjangan diperlukan upaya merevitalisasi untuk
mengoptimalkan utilitas melalui penambahan nilai. Penambahan nilai ini dapat mencakup pada
ruang bidang aspek sosial, ekonomi, kese-hatan, politik dan budaya.

Tentang hal ini, World Bank (2001) memberikan beberapa alternatif dalam fasilitasi
pemberdayaan (facilitating empowerment) yang dapt diilakukan pemerinrah, melalui:

1) Basis politik dan hukum yang transparan, serta membe-rikan ruang gerak bagoi demokratisasi
dan mekanisme partisipatip dalam pengambilan keputusan, dan pemantau-an implementasi
kegiatan.
2) Peningkatan pertumbuhan dan pemerataan administrasi publik yang bertanggung-guugat
(accountability) dan responsif terhadap penggunanya.
3) Menggerakkan desentralisasi dan pengembangan-masya-rakat yang memberikan kesempatan
kepada “kelompok miskin” untuk melaku-kan kontrol terhadap semua bentuk layanan yang
dilaksanakan.
Desentralisasi itu sendiri harus mampu bekerjasaman dengan mekanisme lain untuk
menggerakkan partisipasi masyarakat serta pemantauan lembaga-pemerintah oleh setiap warga-
negara.
4) Menggerakkan kesetaraan gender, baik dalam kegiatan ekonomi maupun dalam kelembagaan
politik.
5) Memerangi hambatan-sosial (social barrier), terutama yang me-nyangkut bias-bias etnis,
rasial, dan gender dalam penegakan hukum,
6) Mendukung modal-sosial yang dimiliki kelompok-miskin, terutama dukungan terciptanya
jejaring agar mereka keluar dari kemiskin-annya.
Dalam hubungan ini, lemabaga pemerintah perlu meningkatkan aksesibbilitas kelompok miskin
terhadaop: organisasi-perantara, pasar global, dan lembaga-lembaga publik.

Bentuk, jenis dan cara pemberdayaan masyarakat atau penguatan masyarakat (strengthening
community) sangat beragam, yang hanya berwujud jika ada kemauan untuk mengubah struktur
masyarakat (Adam Malik dalam Alfian, 1980).
Karena itu, usaha untuk mengentaskan masyarakat dari lem-bah kemiskinan secara hakiki sama
sulitnya dengan usaha memberdayakan mereka. Tugas itu bukanlah pekerjaan mudah yang
bersifat instant (segera dapat dilihat hasilnya).

Pengalaman menunjukkan, upaya-upaya pengentasan kemiskinan seringkali menghadapi


kendala-kendala yang sangat besar, yang berupa:
1) Usaha-usaha untuk menghambat usaha-usaha untuk membela orang-kecil atau orang miskin,
yaitu:
a) lemahnya komitmen (khususnya) aparat pemerintah untuk memihak dan membela orang
miskin.
b) rendahnya kepedulian untuk memperhatikan orang miskin
c) ketidak-mampuan memahami (kehidupan) orang miskin, terutama yang terkait dengan persepi
dan asumsi-asumsi tentang “karakteristik” orang-miskin.

2) Kendala yang ada di (lingkungan) orang-miskin, yaitu:


a) kendala fisik alamiah, yang menyangkut kondisi sum-berdaya-alam tempat mereka (orang
miskin) tinggal, seperti: kesuburan lahan, rawan bencana-alam, dll.
b) Kendala struktural yang bersumber (terutama) pada struktur sosial dalam masyarakatnya; dan
kendala-kultural yang (seolah-olah) menyerah terhadap nasib (Alfian, 1980).
c) Kendala sistemik dari kemiskinan, yaitu berlang-sungnya suatu pola-pola (pengontrolan)
tertentu terha-dap sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang berlaku dalam masyarakat,
yang disadari atau tidak, justru tidak selalu menguntungkan pihak-pihak yang telah berada pada
posisi diuntungkan, seperti:
- kebijakan swa-sembada pangan (beras)
- kebijakan “pangan murah”
- prioritas pembangunan perkotaan
- dll.

C. Aspek-aspek Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan masyarakat sebagaimana telah tersirat dalam definisi yang diberikan, ditinjau dari
lingkup dan obyek pemberdayaan mencakup beberapa aspek, yaitu:
1) Peningkatan kepemilikan aset (sumberdaya fisik dan finan sial) serta kemampuan (secara
individual dan kelompok) untuk memanfaatkan aset tersebut demi perbaikan kehi-dupan mereka.
2) Hubungan antar individu dan kelompoknya, kaitannya dengan pemilikan aset dan kemampuan
memanfaatkannya.
3) Pemberdayaan dan reformasi kelembagaan.
4) Pengembangan jejaring dan kemitraan-kerja, baik di tingkat lokal, regional, maupun global

D. Unsur-unsur Pemberdayaan Masyarakat

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhati-kan sedikitnya 4 (empat) unsur pokok ,


yaitu:

1) Aksesibilitas informasi, karena informasi merupakan kekuasaan baru kaitannya dengan :


peluang, layanan, penegakan hukum, efektivitas negosiasi, dan akuntabilitas.
2) Keterlibatan atau partisipasi, yang menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka
terlibat dalam kese-luruhan proses pembangunan.
3) Akuntabilitas, kaitannya dengan pertanggungjawaban publik atas segala kegiatan yang
dilakukan dengan meng-atas-namakan rakyat.
4) Kapasitas organisasi lokal, kaitannya dengan kemampuan bekerja-sama, mengorganisir warga
masyarakat, serta memobilisasi sumberdaya untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka
hadapi.

E. Syarat Tercapainya Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan masya-rakat terdapat tiga jalur kegiatan yang harus
dilaksanakan, yaitu :
1) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang.
Titik-tolaknya adalah, pengenalan bahwa setiap manusia dan masya-rakatnya memiliki potensi
(daya) yang dapat dikembang-kan.
2) Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memberikan
motivasi, dan membang-kitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk
mengembangkannya.
3) Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering).

Dalam rangka ini, diperlukan langkah-langkah lebih positif dan nyata, penyediaan berbagai
masukan (input), serta pembu-kaan akses kepada berbagai peluang yang akan membuat
masyarakat menjadi makin dalam berdaya memanfaatkan peluang.

Memberdayakan mengandung pula arti melindungi, sehinggan dalam proses pemberdayaan


harus dicegah yang lemah agar tidak bertambah lemah.
Karena itu, diperlukan strategi pembangunan yang memberi-kan perhatian lebih banyak (dengan
mempersiapkan) lapisan masyarakat yang masih tertinggal dan hidup di luar atau di pinggiran
jalur kehidupan modern. Srtrategi ini perlu lebih dikembangkan yang intinya adalah bagaimana
rakyat lapisan bawah (grassroots) harus dibantu agar lebih berdaya, sehingga tidak hanya dapat
meningkatkan kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dengan memanfaatkan potensi
yang dimiliki, tetapi juga sekaligus meningkatkan kemampuan ekonomi nasional
(Sumodiningrat, 1995)
Upaya pemberdayaan masyarakat perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada
masyarakat. Dalam hubungan ini, pemerintah daerah harus mengambil peranan lebih besar
karena mereka yang paling mengetahui mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan
masyarakatnya.

F. Penguatan Kapasitas Masyarakat


Penguatan kapasitas adalah proses peningkatan kemampuan indiividu, kelompok, organisasi dan
kelembagaan yang lain untuk memahami dan melaksanakan pembangunan dalam arti luas secara
berkelanjutan.
Dalam pengertian tersebut, terkandung pemahaman bahwa:

1) Yang dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan (indiividu, kelompok, organisasi, dan
kelembagaan yang lain) untuk menunjukkan/memerankan fungsinya secara efektif, efisien, dan
berkelanjutan.
2) Kapasitas bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan proses yang berkelanjutan.
3) Pengembangan kapasitas sumberdaya manusia merupakan pusat pengembangan kapasitas.
4) Yang dimaksud dengan kelembagaan, tidak terbatas dalam arti sempit (kelompok,
perkumpulan atau organisasi), tetapi juga dalam arti luas, menyangkut perilaku, nilai-nilai, dll.

Penguatan kapasitas untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat tersebut, mencakup penguatan


kapasitas setiap individu (warga masyarakat), kapasitas kelembagaan (organi-sasi dan nilai-nilai
perilaku), dan kapasitas jejaring (net-working) dengan lembaga lain dan interaksi dengan sistem
yang lebih luas.

Sejalan dengan pemahaman tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat, strategi


pembangunan yang memberikan per-hatian lebih banyak (dengan mempersiapkan) lapisan
masya-rakat yang masih tertinggal dan hidup di luar atau di pinggiran jalur kehidupan modern.
Strategi ini perlu lebih dikembang-kan yang intinya adalah bagaimana rakyat lapisan bawah
(grassroots) harus dibantu agar lebih berdaya, sehingga tidak hanya dapat meningkatkan
kapasitas produksi dan kemam-puan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki,
tetapi juga sekaligus meningkatkan kemampuan ekonomi nasional.

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada
masyarakat. Dalam hubungan ini, pemerintah daerah harus mengambil peranan lebih besar
karena mereka yang paling mengetahui mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan
masyarakatnya.

G. Obyek Pemberdayaan Masyarakat

Obyek atau target sasaran pemberdayaan dapat diarah-kan pada manusia (human) dan
wilayah/kawasan tertentu.
Pemberdayaan yang diarahkan pada manusia dimaksudkan untuk menaikkan martabatnya
sebagai mahluk sosial yang berbudaya dan meningkatkan derajat kesehatannya agar mereka
dapat hidup secara lebih produktif. Upaya ini dilaku-kan melalui serangkaian program penguatan
kapasitas.
Dalam kerangka perencanaan, penentuan kelom-pok sasar-an pemberdayaan masyarakat dapat
dilakukan dengan pendekatan umum (universal) dan pendekatan khusus (ideal).
Dalam pendekatan universal, pemberdayaan diberikan kepada semua masyarakat. Keuntungan
dari penedekatan ini mudah untuk diterapkan, namun kejelekan pende-katan ini adalah adanya
disparitas atau kesenjangan pemahaman yang cukup tinggi. Sedangkan pendekatan ideal,
menekankan bahwa pola pemberdayaan yang sesuai dengan klasifikasi strata masyarakat. Syarat
yang harus dipenuhi adalah kelengkapan indikator dan kejelasan mengenai kriteria materi
pemberdayaan.

H. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat


Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program
pemberdayaan masyarakat mencakup :

1) Jumlah warga yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan yang dilaksanakan.
2) Frekuensi kehadiran tiap-tiap warga pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan.
3) Tingkat kemudahan penyelenggaraan program untuk memperoleh pertimbangan atau
persetujuan warga atas ide baru yang dikemukakan.
4) Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh masyarakat yang ditujukan untuk kelanaran
pelaksanaan program pengendalian.
5) Jumlah dana yang dapat digali dari masyarakat untuk menunjang pelaksanaan program
kegiatan.
6) Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian masalah.
7) Meningkat kapasitas skala partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
8) Berkurangnya masyarakat yang menderita sakit malaria.
9) Meningkatnya kepedulian dan respon terhadap perlunya peningkatan kehidupan kesehatan.
10) Meningkatnya kemandirian kesehatan masyarakat.

I. Strategi Pemberdayaan Masyarakat


Strategi pemberdayaan pada dasarnya mempunyai tiga arah. Pertama, pemihakan dan
pemberdayaan masyarkat. Kedua, pemantapan otonomi dan pendelegasian wewenang dalam
pengelolaan pembangunan yang mengembangkan peran serta masyarakat. Ketiga, modernisasi
melalui penajaman arah perubahan struktur sosial ekonomi (termasuk didalamnya kesehatan),
budaya dan politik yang bersumber pada pertisipasi masyarakat.

Dengan demikian pengendalian faktor resiko penyakit malaria dilaksanakan dengan strategi
sebagai berikut :

1) Menyusun instrumen faktor resiko dari penyakit malaria dari aspek lingkungan, perilaku
pelayanan kesehatan dan kependudukan yang saling terkait dengan peran individu, keluarga dan
masyarakat sekitarnya dan telah diujicoba. Dalam kegiatan ini bahan informasi adalah hasil
penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, referensi yang ada, hasil temuan
programer dari audit penyakit tersebut.
2) Membangun pemahaman, komitmen dan kerjasama tim tingkat kabupaten dan kecamatan
dalam penerapan pendekatan keluarga untuk mendorong kemandirian individu, keluarga dan
masyarakat melakukan pengendalian faktor resiko berbasis keluarga dari penyakit malaria.
3) Menerapkan pendekatan keluarga untuk pengendalian faktor resiko berbasis keluarga dari
penyakit malaria, diselenggarakan Puskesmas bersama lintas sektor kecamatan, LSM, tokoh
masyarakat dalam rangka kemandirian individu, keluarga dan masyarakat dalam mengendalikan
faktor resiko tersebut.
4) Mempersiapkan sistem informasi dan survailance penyakit yang akan diatasi, manfaatkan
pencatatan dan pelaporan yang ada, melengkapi hasil pemantauan pengendalian faktor resiko
yang ditanggulangi. Mengembangkan sistem analisis, intervensi, monitoring dan evaluasi
pemberda-yaan individu, keluarga dan masyarakat.