BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Antibiotik merupakan obat yang penting digunakan dalam pengobatan infeksi
akibat bakteri. Antibiotik dan obat-obat sejenisnya yang disebut agen antimikrobial,
sejak tahun 1940 telah dikenal dapat menurunkan angka penyakit dan kematian akibat
penyakit infeksi. Penggunaan antibiotik yang rasional, merujuk pada ketepatan dosis,
pemilihan antibiotik, dan bentuk sediaan yang seharusnya diberikan kepada pasien.
Arti antibiotik sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh
jamur atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada
hewan dan manusia. Saat ini beberapa jenis antibiotika merupakan senyawa sintetis
(tidak dihasilkan dari mikroorganisme) tetapi juga dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dapat membunuh bakteri
baik berupa senyawa sintetis, atau alami disebut dengan zat anti mikroba. Meskipun
antibiotik mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan antibiotika secara
berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi antibiotika.
Tetrasiklin (tetracycline) pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita
tentang Tetrasiklin yang dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin merupakan
antibiotika yang sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting.
Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin yang
dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens.
Tetrasiklin merupakan kelompok antibiotika yang dihasilkan oleh jamur
Streptomyces aureofaciens atau S. rimosus. Tetrasiklin merupakan derivat dari
senyawa hidronaftalen, dan berwarna kuning (Subronto, 2001). Tetrasiklin
merupakan antibiotika berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram-positif
maupun gram-negatif yang bekerja merintangi sintesa protein (Tan dan Rahardja,
2008).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari efektivitas antibiotik tetrasiklin ;
2. Untuk mengetahui penggunaan dosis antibiotik tetrasiklin yang tepat ;
3. Untuk mengetahui efek samping dari penggunaan antibiotik tetrasiklin.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tetrasiklin
Tetrasiklin, yang ditemukan pada tahun 1940-an, adalah keluarga antibiotik yang
menghambat sintesis protein dengan mencegah perlekatan aminoasil-tRNA ke
akseptor ribosom. Tetrasiklin adalah agen spektrum luas, menunjukkan aktivitas
melawan berbagai bakteri gram positif dan gram negatif, organisme atipikal seperti
klamidia, mikoplasma, rickettsiae, dan parasit protozoa.
Tetrasiklin merupakan kelompok antibiotika yang dihasilkan oleh jamur
Streptomyces aureofaciens atau S. rimosus. Tetrasiklin merupakan derivat dari
senyawa hidronaftalen, dan berwarna kuning (Subronto, 2001). Tetrasiklin
merupakan antibiotika berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram-positif
maupun gram-negatif yang bekerja merintangi sintesa protein (Tan dan Rahardja,
2008).
Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara deklorrinasi
klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga fermentasi. Tetrasiklin
merupakan basa yang sukar larut 5 dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam
HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin
bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga
cepat berkurang potensinya.
2.2 Efektivitas Antibiotik Tetrasiklin
Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat sintesis protein. Hal
ini dilakukan dengan cara mengikat unit ribosoma sel kuman 30 S sehingga t-RNA
tidak menempel pada ribosom yang mengakibatkan tidak terbentuknya amino asetil
RNA. Antibiotik ini dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe dan Mg.
Meskipun tetrasiklin dapat menembus sel mamalia namun pada umumnya tidak
menyebabkan keracunan pada individu yang menerimanya. 8 Ada 2 proses masuknya
antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif; pertama yang disebut difusi pasif
melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transport aktif.
Pada umumnya spektrum golongan tetrasiklin sama (sebab mekanismenya sama),
namun terdapat perbedaan kuantitatif dan aktivitas masing-masing derivat terhadap
kuman tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini.
2.3 Penggunaan Dosis Antibiotik Tetrasiklin
Dosis dari antibiotik tetrasiklin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu penyakit
yang diderita, kekuatan obat yang dianjurkan, jadwal minum obat perharinya, ada
tidaknya riwayat alergi penggunaan obat tetrasiklin, dan penyakit lainnya yang dapat
bereaksi jika mengkonsumsi obat tetrasiklin. Misal pada penyakit pernapasan, dosis
untuk dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari (untuk kebanyakan infeksi).
Pada anak-anak dibawah 12 tahun dosis yang sesuai adalah 2 gram per hari.
2.4 Efek Samping Penggunaan Antibiotik Tertasiklin
Penggunaan antibiotik tetrasiklin harus sesuai dosis karena jika terlalu banyak
konsumsi dapat menyebabkan efek samping. Selain itu, pengkonsumsi antibiotik
harus mengerti apakah ada riwayat alergi dalam mengkonsumsi antibiotik tetrasiklik.
Efek samping yang ditimbulkan dari konsumsi antibiotik tetrasiklin antara lain
perubahan warna gigi secara permanen, ruam kulit, mual, diare, merapuhkan gigi,
perubahan warna pada kuku, dll.
BAB 3. PENUTUP
Adapun kesimpulan yang didapatkan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat sintesis protein.
2. Dosis dari antibiotik tetrasiklin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu penyakit
yang diderita, kekuatan obat yang dianjurkan, jadwal minum obat perharinya, ada
tidaknya riwayat alergi penggunaan obat tetrasiklin, dan penyakit lainnya yang
dapat bereaksi jika mengkonsumsi obat tetrasiklin.
3. Efek samping yang ditimbulkan dari konsumsi antibiotik tetrasiklin antara lain
perubahan warna gigi secara permanen, ruam kulit, mual, diare, merapuhkan
gigi, perubahan warna pada kuku, dll.