Anda di halaman 1dari 4

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 2

Tanggal 8 Februari 2015 pun tiba. Setelah 1 minggu persiapan berlalu, kami semua akhirnya berkumpul di
bandara terkemuka di Jakarta pada pagi hari sekitar pukul 7. Kami bersepuluh bertemu di tempat yg telah
dijanjikan bersama.

Victor : “Nah… Sepertinya kita semua sudah lengkap bersepuluh kan ?”

Laras : “Sudah kok. Keberangkatan kita pukul 8 nanti kan sesuai di tiket yang diberikan oleh kampus ?”

Aldi : “Ho oh.. 1 jam lagi.. Sekarang gini deh, kita bahas2 dulu yuk tentang perjalanan kita nih?”

Amelia : “Okay.”

Gue : “Loh itu cewe berempat lainnya kok ga ikut nimbrung ?” (Sambil lirik ke para cewe lain)

Kelihatannya Nadya si cewe berambut lurus sebahu dan Monica cewe blaster indo jepang yang putih dan
cantik serta lumayan sexy sedang sibuk bermain HP, sedangkan Angela dan Feby sibuk mencari jajanan
ringan di stand makanan yg ada di bandara.

Danu : “Ya uda biarin aja mreka, nah gini, kita kan berangkat jam 8, kemungkinan akan tiba di bandara
Riau sekitaran pukul 10, perjalanan dari JKT ke RIAU lebih kurang 2 jam. Nantinya kita akan langsung
dijemput oleh travel yang disediakan kampus dan butuh perjalanan 10 jam utk sampai ke lokasi.”

Laras : “Eh… itu artinya kita tiba di lokasi sekitaran jam 10 malam, ngitung-ngitung kita kan pasti break
makan dan istirahat? Gak salah tuh !”

Amelia : “Iya juga ya. Uda malam banget tuh, mau nyari siapa kita di sana ? Astaga !”

Gue : (Sambil natap ke Victor) “Oi cuii, kalo nyampe nya jam 10 malam, di desa terpencil yang kita gak
tau apa2, bagusnya gimana tuh ?”

Victor : (natap balik dengan tatapan kebingungan) “Entahlah bro. Jalanin aja. Gue jg masih bingung, nanti
kita Tanya sama supir travel yg nganterin kita aja deh.”

Di sela-sela kami berdiskusi, tiba-tiba Angela dan Feby datang menghampiri kami membawa kan
minuman kaleng.

Angela : (Ngasihin minuman ke Victor) “Ko, ini minuman kaleng, masih sejam lagi nanti kehausan.”

Victor : (Sedikit kaget dan natap ke Angela) “Eh iya iya, makasih loh Angela.”

Danu : (Sambil godain Victor dengan berbisik) “Broo.. Cantik juga nih Angela, Sesama non, putih bersih,
lumayan tinggi, sexy juga, baik lagi. Matanya bulat gede manis banget loh senyumannya. Hehehe

Victor : (Sambil mendorong si Danu) “Ssttt.. Jangan keras-keras… Malu gue tau !”

Feby : (Nyodorin minuman ke kami-kami lainnya) “Ini buat yang lainnya.”

Semua : “Oh thanks ya.”

Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 8. Pengumuman dari bandara agar para penumpang segera
memasuki pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sesampai di dalam pesawat, kami
melihat barisan tempat duduk adalah berjumlah 3 kursi untuk setiap deretnya yang artinya harus ada salah
satu dari kami yg duduk terpisah. Karena yang cewe jumlahnya 6 orang, tentunya kursinya sudah pas
untuk 3 – 3. Sementara karena kami cowo jumlahnya ber-4, artinya harus ada 1 orang yang duduk terpisah
sendiri. Kami pun memutuskan untuk melakukan pengundian cabut kertas, 1 kertas diberikan warna
merah dan 3 kertas warna putih, bagi yang mendapatkan warna merah, berarti dia harus duduk terpisah.

Danu : “Sene sene seneee… kumpul dulu, nih kita ngundi aja biar adil, pastinya yang duduk sendiri bakal
bosan wakakak.”
Gue : “Oh gue jagonya cabut undian nech. Ga mgkn sial !”

Victor : “Hahahaha. Elo mah biasanya sering sial klo nyabut gini Don!”

Aldi : “Yuk..”

Sesaat setelah nyabut ~

Victor : “Gue putih cui.. Wakakkaa, gw mah emang selalu hoki klo undian gini.”

Gue : “ANJIR !!!” GUE KOK DAPAT MERAH !”

Victor : “Wkakakakak, Nasib loe lah tu!”

Akhirnya tempat duduk telah diputuskan, gue terpaksa duduk dibarisan depan sendiri, di belakang gue ada
Victor, Danu dan Aldi, di belakang mereka ada Laras, Nadya dan Amelia, di belakang mereka lagi ada
Angela, Monica dan Feby.
Setelah 2 jam penuh kebosanan di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di bandara Riau yang mungkin
sangat baru bagi kami. Kami semua belum pernah pergi ke Riau, sesampai di bandara kami segera muter-
muter untuk nyari supir travel yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sambilan kami menelepon, kami
pun mencari kesana-sini agar lebih menghemat waktu. Tidak lama kemudian, kami bertemu dengan supir
travel yang disediakan oleh kampus. Ternyata supirnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira
usianya sudah mendekati 40an ke atas dan bergolongan darah Jawa yang dapat kami ketahui dari gaya
bicaranya yang lembut dan sopan.
Kami pun mengikuti Bapak tersebut ke mobilnya dan setelah ketemu mobilnya.

Victor : (Lihat ke mobil dan bisik ke gw) “Tuh lihat mobilnya, tipe agak panjang, dan sepertinya posisi
duduknya di depan hanya bisa 2 orang buat supir dan 1 orang kita, terus belakangnya bakal 3-3-3.
Wakakka artinya 1 orang dari kita yg cowo harus jadi tumbal duduk depan lagi selama 10 jam
wakwakwka.”

Gue : “Hahahaha… Diem lu… Ga usah liat2 ke gw napa.. Ga bakal sial lagi gw klo soal ngundi-ngundi”

Danu : “Hehehe.. Yuk kita undi lagi seperti tadi !”

Pengundian pun berlangsung kembali ~

Aldi : “Gue putih lagi nih, artinya duduk bareng-bareng biar ga bosan hehe!”

Gue : “Ahhh BIADAB !!! KOK GUE MERAH LAGI !”

Danu dan Victor : (Ngakak terbahak-bahak) “Wkakakakaka SURAM KALI KAU BRO~! WKAKAKA”

Para cewe yang melihat Danu dan Victor tertawa begitu keras sampai kebingungan dan salah satu dari
mereka pun menghampiri ~

Amelia : (Sambil ngampirin ke gw yang tampangnya lagi menyedihkan) “Kalian ngapain sih? Kok
ketawa-ketawa lepas gitu?” (Sambil senyum-senyum)

Gue : (Garuk-garuk kepala) “Eh gapapa gapapa. Hehehe”

Victor : (Bisikin ke Amelia) “Diaa suram muluh klo ambil undian hahahaha”

Gue : (Narik si Victor) “Oiii dieemmm lu berisik…”

Setelah selesai menentukan pilihan, akhirnya Gue mesti duduk di depan bersama si Bapak supir, di
belakang gua ada Laras, Nadya dan Amelia dan di belakangnya lagi ada Angela, Monica dan Feby dan
yang paling belakang barulah diisi oleh Danu, Aldi dan Victor. Ahh asal gue liat ke belakang, mereka
pasti cengengesan dan ngeledekin gua.. Mereka asik ngobrol-ngobrol, sementara gue ngantuk duduk di
depan sendiri. Mau ngobrol ke belakang, isinya cewe yang bisa dibilang masih gue masih canggung.
Kami start jalan dari mobil sekitaran pukul 11 siang, selama diperjalanan ya gue kebanyakan ngelihat
pemandangan di jalan dan sekali-kali ngobrol ama cewe-cewe di belakang gue. Sementara temen gue yg
cowo lainnya sibuk main game or entah bahas apalah yang keliatannya seru, tapi gue ga bisa nyambung.

Ga lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 6 sore. Artinya kami sudah 7 jam di perjalanan dan
sekarang kami sedang break karena pak supirnya ingin istirahat dan sholat sebentar sambilan cari makan
malam. Kami pun berhenti di masjid yang berukuran sedang dan kelihatannya jumlah pemukiman
penduduk di sini sudah mulai jarang, tidak sepadat seperti sebelumnya.

Kami pun memutuskan untuk cuci muka dan makan di salah satu warung makan yang berada di pinggiran
jalan. Warung ini kelihatan lumayan, tempatnya yang luas dan bangunannya yang terbuat dari kayu-kayu
menambah nuansa kehidupan dengan alam bebas sesuai kesenangan hatiku, namun sayangnya yang
membuat kami gelisah yaitu ga ada seorangpun yang makan di tempat ini, hanya kami

bersepuluh termasuk si pak Supir. Tapi biarlah, makan beginian toh ga bikin mati kok ~ hehehe

Danu : (Mendekati si pak supir) “Oh ia Pak, kami mau nanya nih Pak, ini kan sudah pukul 6 sore, berarti
klo kita jalan terus masih sekitaran 3 sampai 4 jam lagi kan? Entar nyampai di desanya uda mau tengah
malam. Apa masih ada orang di desa tuh?”

Pak Supir : (Sedikit terdiam) “Emm sepertinya ga ada orang lagi dik. Kita nginep di sini dulu ampe tengah
malam, ampe warung ini mau tutup, terus nanti kita baru berangkat pelan2 biar kita nyampainya subuh.”

Gue, Victor dan Aldi sedikit kaget mendengar perkataan si pak Supir.

Pak Supir : “Oh iya, nanti pas subuh berangkat, saya juga tidak bisa bawa cepat, soalnya jalan menuju ke
desa kalian ini termasuk jalan yang sangat jarang dilewati orang, bisa dibilang jalannya agak susah, sepi
dan gelap.”

Gue : “Sepi dan gelap, Pak ?!”

Pak Supir : “Iya dik. Namanya juga desa terpencil. Memang sangat jarang dilalui orang-orang.
Masyarakatnya juga saya dengar sangat primitif, kurang begitu terbuka dengan lingkungan luar. Terus
sepanjang perjalanan nanti juga kebanyakan hutan-hutan dan semak-semak. Sangat minim jumlah
pemukiman warga. Jadinya jalannya agak gelap.”

Gue : (Sambil nelan ludah, glekk dan bisik ke Victor) “Ini benar-benar suram neh.”

Victor : (Balas bisik ke gue) “Yoo mau gimana lagi. Suram sih suram, tapi seru keknya kan, kayak di
game-game, hidup di village gitu, indah ~ wakakka” (Sambil nenangin diri)

Pak Supir : “Oh iya, kalian tolong kasi tau ke yang cewe-cewe ya, tapi ga usah jelasin terlalu panjang
lebar, bilang aja kita istirahat dulu dan berangkatnya pas tengah malam biar nyampainya subuh. Okay ?”

Kami semua : “Ehhhmm.. Baik pak.”

Setelah makan malam selesai, kami berempat pun langsung memberitahu para cewe tentang informasi
yang disampaikan oleh pak Supir. Si Victor langsung mendekati Amelia, si gadis cantik berkulit putih
dengan rambut hitam lurus yang lumayan panjang. Sementara gue menghampiri Monica, cewe blasteran
yang putih dan cantik dengan rambut lurus panjang yang berwarna kecoklatan dan Angela, si cewe putih
cantik berambut hitam lurus panjang dengan poni Dora.

Kalau Danu dan Aldi sudah pasti langsung menghampiri Laras, Nadya dan Feby.
Sebelumnya kami berempat para cowo sih sudah jelasin hal ini, sambilan ngabdi di desa, sambilan PDKT.
Jadi kami kasih ruang gerak buat masing-masing kami melakukan pengenalan diri lebih dalam.. Hehehe,
bisa di bilang sambil nyelam minum air deh ~ KKN KELAR, SKRIPSI KELAR, GEBETAN DAPET ~
Moga-Moga Sichhh ~

Tak lama setelah kami menginfokan hal ini kepada para cewe, tampaknya mereka menjadi sedikit cemas
dan terdiam. Ya wajar saja, mereka pasti berpikiran yang macam-macam seperti kami. Para cowo aja
cemas apalagi para cewe, mengingat jalanan yang gelap, suasana yang sepi dan pemukiman penduduk
yang begitu jarang. Jalan yang agak susah dilalui, kiri kanan lebih banyak hutan dan semak-semak. Wah
bisa dibayangkan bagaikan di negeri antah berantah ini ~

Jam pun menunjukkan pukul 12 malam, warung makan akan segera tutup, kami pun membangunkan
beberapa orang dari kami yang sudah tertidur pulas karena kecapekan di mobil, tampaknya si Pak Supir
juga baru saja bangun dan ia pergi cuci muka untuk siap-siap berangkat lagi.
Wahhhh… Langit yang masih begitu gelap, suasana yang begitu sunyi senyap, sekeliling yang dapat
kulihat hanyalah hutan dengan pohon yang menjulang cukup tinggi, sebagian lagi tampak tebing-tebing
dan udara tengah malam yang begitu dingin membuat bulu kudukku merinding ~
Pemukiman warga yang nyaris tidak terlihat dari sini, hanya warung makan di pinggiran jalan ini saja
yang bercahaya. Baiklah, pak Supir pun sudah siap cuci muka dan masuk ke dalam mobil, perjalanan
menuju desa terpencil pun akan dilanjutkan lagi ~