Informed Consent
2.1.1. Pengertian
Informed concent berasal dari dua kata, yaitu informed (telah mendapat
penjelasan/keterangan/informasi) dan concent (memberikan
persetujuan/mengizinkan. Informed concent adalah suatu persetujuan yang
diberikan setelah mendapatkan informasi.
Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan
kepada pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara
lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien
tersebut.
2.1.2. Indikasi Informed Consent
Biasa nya dipakai pada saat akan diadakannya tindakan medis kepada
pasien sebagai persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga
terdekatmya.
Diagnosa yang telah ditegakkan.
Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
Resiko-resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan
kedokteran tersebut.
Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif
cara pengobatan yang lain.
Resiko-resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan
persetujuan tindakan kedokteran :
Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut.
Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.
Informed consent dikatakan sah jika memenuhi minimal 3 unsur :
Keterbukaan informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan (dokter, bidan,
perawat dll).
Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan.
Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan
persetujuan tindakan kedokteran adalah :
Dalam keadaan gawat darurat ( emergensi ), dimana dokter harus segera
bertindak untuk menyelamatkan jiwa.
Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi
situasi dirinya.
2.1.3.Tujuan Informed Consent
Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang
sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar
pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya.
Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan
bersifat negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada
setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko.
2.1.4. Fungsi Informed Consent
Penghormatan harkat dan martabat pasien selaku manusia.
Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Untuk mendorong petugas kesehatan melakukan kehati-hatian dalam
mengobati pasien.
Menghindari penipuan dan misleading oleh bidan.
Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional.
Mendorong keterlibatan publik dalam kebidanan dan kesehatan.
Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kebidanan dan
kesehatan.
Urgensi dan penerapan informed consent :
Kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi.
Kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai
tehnologi baru yang sepenuhnya belum dipahami efeksampingnya
Kasus-kasus yang memakai terapi obat yang memungkinkan banyak efek
sampingnya, seperti terapi dengan sinar laser dll.
Kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien.
Kasus-kasus disamping mengobati, dokter juga melakukan riset dan
eksperimen dengan objek pasien.
Aspek-aspek hukum informed consent :
Aspek hukum perdata tentang tanpa ada persetujuan dari penguna jasa
kesehatan, pasal 1365 KUHPer.
Aspek hukum pidana tentang informed consent mutlak harus dipenuhi,
tindakan invasive (missal : pembedahan, tindakan radiologi invasive), pasal
351 KUHP.
Pasal 89 KUH Pidana, tentang pemberian obat bius.
Pasal 351 KUH Pidana, tentang penganiayaan sekalipun sebagai dokter,
kecuali :
o Perlukaan bedah yang disetujui.
o Tindakan bedah medikyang disetujui.
o Tindakan bedah medik dilakukan dengan standar prosedur medik.
2.1.5. Contoh Informed Consent
SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : (L/P)
Umur/TglLahir :
Alamat :
Telp :
Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya
sendiri/*orangtua/*suami/*istri/*anak/*wali dari :
Nama : (L/P)
Umur/Tgl Lahir :
Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan Tindakan Medis
berupa………………………………………………………………….
Dari penjelasan yang diberikan, telah saya mengerti segala hal yang berhubungan
dengan penyakit tersebut, serta tindakan medis yang akan dilakukan dan
kemungkinan pasca tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.
Sorong, 2014
Dokter/Pelaksana Yang membuat pernyataan
Ttd Ttd
(……………………) (………………………….)
*Coret yang tidak perlu
2.2. Informed Choice
2.2.1. Pengertian
Informed Choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan
tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya, pilihan (choice) harus dibedakan
dari persetujuan (concent). Persetujuan penting dari sudut pandang bidan, karena itu
berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur
yang dilakukan oleh bidan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting dari sudut
pandang wanita (pasien) sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan.
2.2.2. Tujuan Informed Choice
Tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya. Peran bidan
tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga
menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan dan keinginannya terpenuhi. Hal
ini sejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993,
bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan
mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari pilihannya.
2.2.3. Rekomendasi
Bidan harus terusmeningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam
berbagai aspek agar dapat membuat keputusan klinis dan secara teoritis agar
dapat memberikan pelayanan yang aman dan dapat memuaskan kliennya.
Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk yang
dapat dimengerti oleh wanita dengan menggunakan media laternatif dan
penerjemah, kalau perlu dalam bentuk tatap muka secara langsung.
Bidan dan petugas kesehatan lainnya perlu belajar untuk membantu wanita
melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab
untuk keputusan yang mereka ambil sendiri.
Dengan berfokus pada asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan
fakta, diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin.
Tidak perlu takut akan konflik tapi menganggapnya sebagai suatu
kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang
objektif, bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan suatu tekanan positif.
2.2.4. Bentuk Pilihan (Choice) Pada Asuhan Kebidanan
Ada beberapa jenis pelayanan kebidanan yang dapat dipilih oleh pasien
antara lain :
Gaya, bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan
laboratorium/screaning antenatal.
Tempat bersalin (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS) dan kelas perawatan
di RS.
Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan.
Pendampingan waktu bersalin.
Clisma dan cukur daerah pubis.
Metode monitor denyut jantung janin.
Percepatan persalinan.
Diet selama proses persalinan.
Mobilisasi selama proses persalinan..
Pemakaian obat pengurang rasa sakit.
Pemecahan ketuban secara rutin.
Posisi ketika bersalin.
Episiotomi.
Penolong persalinan.
Keterlibatan suami waktu bersalin, misalnya pemotongan tali pusat.
Cara memberikan minuman bayi.
Metode pengontrolan kesuburan.
2.2.5. Perbedaan Pilihan (Choice) Dengan Persetujuan (Consent)
Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan, karena
berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua
prosedur yang akan dilakukan bidan.
Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa
asuhan kebidanan, yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang
sesungguhnya dan merupakan aspek otonomi pribadi menentukan pilihannya
sendiri.
Choice berarti ada alternatif lain, ada lebih dari satu pilihan dan klien
mengerti perbedaannya sehinggga dia dapat menentukan mana yang disukai
atau sesuai dengan kebutuhannya.