Anda di halaman 1dari 6

BAB 14 HARGA POKOK PENJUALAN DAN BEBAN OPERASIONAL

HARGA POKOK PENJUALAN

Beban pokok usaha harga pokok penjualan (HPP) diakui menggunakan pendekatan
kualitas, yaitu mengaitkan beban secara langsung dengan penghasilan. Oleh karena itu,
HPP di akui pada saat persediaa itu di jual.

HPP di pengaruhi oleh sistem pencatatan dan penelitian persediaan. Menurut


Weygandt, Kimmel dan Kieso (2011:202-203) ada dua sistem yang di kenal dengan
pencatatan persediaan, yaitu :

1. Sistem periodik
Dalam sistem periodik, persediaan dan HPP tidak dapat diketahui sewaktu-waktu.
Persediaan di hitung dengan melakukan perhitungan fisik (stock opname) pada setiap
akhir periode. Hasil perhitungan tersebut di pakai untuk menghitung HPP.
2. Sistem perpetual
Sistem perpetual menyajikan informasi mengenai persediaan dan HPP setiap saat tanpa
melakukan perhitungan fisik (stock opname).

METODE MASUK-PERTAMA DAN KELUAR-PERTAMA (FIFO)


Metode masuk-pertama dan keluar-pertama (first in first out-FIFO) ini berasumsi
bahwa persediaan yang pertama kali dijual adalah persediaan yang pertama kali dibeli.
Dengan demikian, biaya atas persediaan yang di bebankan sebagai HPP berasal dari
persediaan yang dibeli pertama kali.

METODE RATA-RATA (AVERAGE-COST)


Dalam metode ini, HPP di tentukan dari biaya rata-rata per unit untuk masing-masing
persediaan setiap kali pembelian dilakukan. Menurut pasal 10 ayat (6) UU PPh, penilaian
pemakaian persediaan untuk menghitung HPP menurut pajak hanya boleh dilakukan

1
dengan metode FIFO dan metode average. pemilihan metode tersebut harus dilakukan
secara taat asas. WP tidak diperkenakan menggunakan metode penilaian mana yang lebih
rendah antara harga perolehan dengan harga pasar.

BEBAN OPERASIONAL
Beban yang boleh dikurangkan
Dalam akuntansi komersial, semua biaya termasuk kerugian (losses) dapat
dikurangkan dalam menghitung penghasilan neto (net income). Untuk tujuan perpajakan,
tidak semua biaya dapat dikurangkan. Selama suatu biaya dapat di buktikan/dikeluarkan
sebagai biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan.
Sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat (1) UU PPh, beban yang dapat di kurangkan
(deductible expenses) adalah biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan, termasuk berikut ini.
a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha.
b. Penyusutan atau pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 tahun, sepanjang harta yang disusutkan/diamortisasi tersebut di gunakan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan.
d. Kerugian karna penjualan atau pengalihan harta yang di miliki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang di miliki untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan.
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia
g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat di tagih.
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ditetapkan dengan
PP 93 Tahun 2010.
j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia
yang ketentuannya diatur dengan PP 93 Tahun 2010.

2
k. Biaya pembangunan infrastruktur social yang ketentuanya diatur dengan PP 93 Tahun
2010.
l. Sumbang fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan PP 93 Tahun 2010.
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan PP 93
Tahun 2010.

Penghasilan bruto selain dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan, menagih, dann
memelihara penghasilan (ayat 1), juga boleh dikurangi dengan kerugian perusahaan yang
dikompesasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai
dengan 5 tahun (ayat 2). Sedangkan untuk WP orang pribadi dalam negeri diberikan
pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) (ayat 3).

Selain itu, beban-beban berikut ini juga merupakan beban yang dapat dikurangkan
(deductible expenses) yaitu :

1) Pembentukan dana cadangan.

2) Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam
bentuk natura dan kenikmatan, seperti penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai, penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan didaerah tertentu.

3) Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan yang antara pemberi dan penerimanya
memiliki hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan.

4) Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat (zakat yang diterima oleh badan amil atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah) dan sumbangan
keagamaan (sumbangan keagamaan yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk
oleh pemerintah) yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

5) Biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjaannya.

3
6) Biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaran sedan atau sejenis, termasuk juga
pengeluaran rutin untuk pembelian atau pemakaian bahan bakar, yang dimiliki dan
dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya.

7) Bunga pinjaman dapat dibebankan sebagian apabila rata-rata tertimbang pinjaman per
bulan>rata-rata tertimbang deposito atau tabungan per bulan.

8) Pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan sesuai dengan Pasal 9 ayat (8) UU PPN
sepanjang dapat dibuktikan bahwa pajak masukan tersebut telah benar-benar dibayar dan
berkenaan dengan pengeluaran yang berhubungan dengan kegiatan mendapatkan, menagih
dan memelihara.

BEBAN YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PAJAK

Berbeda dengan akuntansi komersial, untuk tujuan penghitungan PhKP tidak semua
biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Pasal 9 ayat
(1) UU PPh menyebutkan jenis-jenis biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan
bruto adalah sebagai berikut:

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk
dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian
sisa hasil usaha koperasi.

b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu atau anggota.

c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan (PMK-81/PMK.03/2009), kecuali:

 Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, SGU dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan
perusahaan anjak piutang;
 Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk
oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
 Cadangan penjamin untuk Lembaga Penjamin Simpanan;

4
 Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
 Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
 Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri
untuk usaha pengolahan limbah industri.

d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa yang dibayar oleh WP orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi
kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi WP yang bersangkutan.

e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam
bentuk natura atau kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai.

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada
pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan
yang dilakukan.

g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU PPh, kecuali sumbangan dalam pasal 6 ayat
(1) huruf i, huruf j, huruf k, huruf l, dan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang disahkan oleh pemerintah.

h. Pajak Penghasilan. PPh tidak boleh dikurangkan sebagai biaya karena bukan merupakan
biaya untuk memperoleh atau menagih penghasilan.

i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi WP atau orang yang
menjadi tanggungannya.

j. Gajih yang dibayarkan kepada anggota persekutuan , firma, atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham.

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda
yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.

5
6