Anda di halaman 1dari 2

John Robert Maatitaa – A131.15.

0149

Analisis Kasus Pelanggaran Kode Etik Notaris


Kasus

Notaris Feny Sulifadarti dituding melanggar etika profesi notaris oleh majelis hakim
Pengadilan Tipikor. Tidak hanya berperan ganda, Fenny juga menggelapkan sejumlah data
tanah dalam akta jual beli. Majelis Hakim Pengadilan Tipikor menuding notaris proyek
pengadaan tanah Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Feny Sulifadarti melanggar
etika profesi notaris. Tuduhan itu ditenggarai karena Fenny berperan ganda dalam proses
penjualan tanah tersebut. Fenny mengaku berperan sebagai kuasa penjual dan pembuat akta
jual beli tanah. Notaris boleh menjadi kuasa penjual dengan syarat akta jual beli itu dibuat
oleh notaris lain. Untuk menghindari hal itu, makanya saudara Feny Sulifadarti membuat
surat kuasa dibawah tangan. Menanggapi tudingan itu, Fenny menyatakan bahwa itu adalah
kemauan dari pemberi kuasa. Menurutnya, pemilik tanah, Komarudin dan Lasiman, meminta
dirinya untuk menjual tanah mereka dengan harga sama dengan Indrawan Lubis. Lasiman
membantah pernyataan Fenny. Sebelumnya, dalam kesaksiannya, Lasiman membeberkan
bahwa Fenny yang menawarkan jasa untuk menjadi kuasa penjual. Hal senada juga
diutarakan oleh Komarudin. Fenny yang menawarkan. Komarudin mengaku awam soal
penjualan tanah, karena itu ia menerima tawaran Fenny. Mendengar hal itu, Fenny
bersikukuh dialah yang benar. Tidak hanya itu, Fenny juga mengaku menerima uang
penjualan tanah dari pihak Bapeten. Anehnya, uang sebesar Rp19 miliar, tidak langsung
diberikan kepada pemilik tanah. Fenny langsung memotong uang tersebut dengan dalih untuk
membayar pajak-pajak dan fee buat dirinya. Fenny menerangkan fee yang dia terima selaku
kuasa penjual notaris sebesar Rp312 juta. Uang itu digelontorkan untuk biaya pembuatan akta
jual beli plus pengurusan izin lokasi. Namun, ia tidak merinci besarnya biaya pengurusan.
Sementara itu untuk biaya pajak, Fenny menerangkan biaya pajak yang dikenakan terdiri dari
pajak penjual, pembeli dan pajak waris. Semua sudah saya laporkan kepada pemilik tanah,
terangnya. Namun, setelah dikonfrontir dengan Komarudin dan Lasiman, keduanya
membantah hal itu. Keduanya menerangkan Fenny tidak pernah menunjukan bukti
pembayaran pajak kepada mereka. Komarudin dan Lasiman mengaku mereka
menandatangani kuitansi kosong. Terkait dengan penandatanganan akta jual beli, Fenny
selaku notaris tidak pernah mempertemukan pihak penjual dan pembeli untuk
menandatangani akta. Menurut Hakim Mansyurdin , sebagai pejabat umum pembuat akta
harusnya Fenny bertindak profesional. Jangan jadi makelar tanah.

Analisis Kasus

Berdasarkan kasus diatas telah dapat dibuktikan bahwa Notaris tersebut melakukan
pelanggaran, tidak hanya terhadap UU Jabatan Notaris tetapi juga Kode Etik Notaris. Etika
Kepribadian Notaris menyebutkan bahwa Notaris wajib:

a. memiliki moral, akhlak serta kepribadian yang baik;


b. menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat Jabatan Notari;
c. bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab.

Dengan menjadi kuasa penjual Notaris Feny Sulifadarti tersebut sudah bertindak tidak
menghormati dan tidak menjunjung tinggi harkat dan martabat Jabatan Notaris, serta tidak
bertindak jujur, dan tidak penuh rasa tanggang jawab. Hal itu terlihat jelas karena pada
kenyataannya bahwa seyogyanya seorang Notaris tidak boleh menjadi kuasa penjual, tetapi ia
mengingkari hal tersebut dengan cara membuat Surat Kuasa dari penjual kepada dirinya
selaku kuasa penjual secara di bawah tangan. Selain itu, sikap tidak jujur Notaris tersebut
juga terlihat dalam hal ia memberikan kuitansi kosong untuk ditanda tangani oleh penjual.

Sanksi yang Dapat Dijatuhkan Terhadap Notaris yang Melakukan Pekerjaan Lain

Terhadap Notaris Feny Sulifadarti, tindakan pertama yang dilakukan adalah melaporkan
Notaris tersebut kepada MPD dimana ia berkedudukan. Melalui laporan tersebut maka MPD
mengambil tindakan yaitu menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan
pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran pelaksanaan Jabatan Notaris, kemudian
membuat dan menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud kepada Majelis Pengawas
Wilayah.

Setelah laporan tersebut diterima oleh MPW maka MPW menyelenggarakan sidang untuk
memeriksa dan mengambil keputusan atas laporan masyarakat yang disampaikan melalui
Majelis Pengawas Wilayah; memanggil Notaris yang bersangkutan untuk dilakukan
pemeriksaan atas laporan tersebut. Kemudian MPW dapat memberikan sanksi berupa teguran
lisan atau tertulis, mengusulkan pemberian saksi terhadap Notaris kepada Majelis Pengawas
Pusat berupa:

a. pemberhentian sementara 3 (tiga) bulan sampai 6 (enam) bulan;


b. pemberhentian dengan tidak hormat.

Setelah laporan tersebut diteruskan kepada MPP maka MPP mengusulkan pemberian sanksi
berupa pemberhentian dengan tidak hormat kepada Menteri. Sanksi pemberhentian dengan
tidak hormat adalah sanksi yang terberat yang kenakan terhadap Notaris yang melakukan
pelanggaran Kode Etik dan UU Jabatan Notaris.