Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN NASIONAL

DISUSUN OLEH
RIZKI ANANDA
PO.71.31.1.16.028

DOSEN PEMBIMBING
MARDIANA,SE,M.Kes

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
PROGRAM STUDI D-IV GIZI
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan pada Allah Yang Mahakuasa. Karena izin-Nya
tugas perkulihan tentang “Mewujudkan Kemandirian Pangan Nasional” ini dapat diselesaikan.
Penulisan tugas ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pangan Gizi.
Pada penulisan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Meskipun
mempunyai kelemahan penulis berharap tugas ini bermanaat bagi pembaca sebagai
salah satu sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan tentang Ekonomi Pangan Gizi.

Palembang, 2018

Penulis
Daftar Isi

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2


BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
A. LATAR BELAKANG .................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 6
C. Tujuan ............................................................................................................................. 6
D. Manfaat ........................................................................................................................... 6
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 7
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 15
a. KESIMPULAN ............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 17
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2000
jumlah penduduk Indonesia sekitar 205,1 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2010 jumlah
penduduk Indonesia sebanyak 237,7 juta jiwa, atau mengalami pertumbuhan sekitar 15,85%.
Jika pertumbuhan penduduk Indonesia diasumsikan mengalami peningkatan sekitar 1,5%
pertahun maka pada tahun 2013 diperkirakan jumlah penduduk indonesia sekitar 248,5 juta
jiwa.
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk

No. Tahun Jumlah penduduk (ribu)

1 1980 147.490
2 1990 179.379
3 2000 205.133
4 2010 237.641
Sumber: Boklet November 2013

Pertumbuhan penduduk yang tergolong cepat ini, jika tidak diimbangi dengan
peningkatan produksi pangan maka akan menjadi ancaman yang serius bagi keberlangsungan
kehidupan di Indonesia. Penduduk yang berjumlah sekitar 248,5 juta jiwa ini tentu saja setiap
hari membutuhkan makan untuk dapat melangsungkan kehidupannya. Pertumbuhan penduduk
juga mengakibatkan meningkatnya permintaan pangan. Apabila produksi pangan dalam negeri
tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, sudah barang tentu Indonesia
membutuhkan suplay pangan dari negara lain.
Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh terhadap lahan pertanian, semakin banyak
jumlah penduduk maka semakin banyak pula membutuhkan lahan untuk tempat tinggal
maupun untuk aktifitas lainnya. Dengan demikian pertumbuhan penduduk akan menyebabkan
berkurangnya lahan pertanian. Malthus dalam teori kependudukannya, mengungkapkan dua
postulatnya, pertama bahwa bahan pangan dibutuhkan untuk hidup manusia, dan kedua
kebutuhan seksual antar jenis kelamin akan tetap sifatnya sepanjang masa.1 Dengan demikian

1
Doddy S. Singgih, “Pangan, Penduduk dan Teknologi Pertanian: Sebuah Perdebatan Teoritis,”Masyarakat,
kebudayaan dan Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001
pertumbuhan jumlah penduduk akan terus terjadi, kebutuhan pangan juga akan terus
berlangsung sedangkan lahan pertanian akan semakin berkurang.
Sektor pertanian memiliki peran yang sangat strategis dalam sebuah negara. Hal ini
karena dari sektor pertanianlah kebutuhan paling pokok manusia dapat dipenuhi.. Selain itu
sektor pertanian juga memiliki peran dalam menyerap tenaga kerja, serta menjadi salah satu
penopang Produk Domestik Bruto. Hal ini sebagai mana terlihat dalam tabel 1.2 dan tabel 1.3.
Dalam penyerapan tenaga kerja, pada tahun 2012 sektor pertanian menyerap sekitar 36,5% dari
total angkatan kerja. Meski demikian ternyata dari tahun ketahun presentase sektor pertanian
dalam menyerap tenaga kerja mengalami penurunan. Sedangkan dalam Broduk Domestik
Bruto, pada tahun 2013 sektor pertanian menyumbang sekitar 14,43% dari total PDB. Dalam
menyumbang angka PDB peran Pertanian juga mengalami penurunan dari tahun ketahun.
Tabel 1.2 Penduduk > 15 tahun yang bekerja

Tahun (Juta orang)


No Lapangan Pekerjaan Utama
2010 2011 2012
1 Pertanian 42,83 42,48 41,2
2 Industri 13,05 13,7 14,21
3 Kontruksi 4,84 5,59 6,1
4 Perdagangan 22,21 23,24 24,02
5 Angkutan, pergudangan & komunikasi 5,82 5,58 5,2
6 Keuangan 1,64 2,06 2,78
7 Jasa Kemasyarakatan 15,62 17,02 17,37
8 Lainnya 1,4 1,61 1,92
Total 107,41 111,28 112,8
Sumber Data: Data Strategis 2012 yang diolah

Tabel 1.3 Struktur PDB menurut Lapangan Usaha Tahun 2011-2013

Tahun (%)
No Lapangan Usaha
2011 2012 2013
Pertanian, Peternakan, Kehutanan &
1 Perikanan 14,71 14,5 14,43
2 Pertambangan dan penggalian 11,82 11,7 11,24
3 Industri Pengolahan 24,35 23,97 23,69
4 Listrik, Gas & Air Bersih 0,75 0,76 0,77
5 Kontruksi 10,16 10,26 9,99
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 13,8 13,96 14,33
7 Pengengkutan & Komunikasi 6,62 6,67 7,01
8 Keuangan, Real Estat & jasa Perusahaan 7,21 7,27 7,52
9 Jasa-jasa 10,58 10,81 11,02
Sumber data: Berita Resmi Statistik Februari 2014
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah, antara lain
1. Apa yang dimaksud dengan kemandirian pangan?
2. Bagaimana tujuan dari pembangunan kemandirian pangan?
3. Bagaimana strategi dalam upaya pembangunan kemandirian pangan?
4. Aspek-aspek apa saja yang berkaitan dengan permasalahan dan tantangan yang
dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan?
5. Bagaimana program dalam upaya kemandirian pangan?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang diperoleh dari rumusan masalah tersebut adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari kemandirian pangan
2. Untuk mengetahui tujuan dari kemandirian pangan
3. Untuk mengetahui strategi dalam upaya pembangunan ketahanan pangan
4. Untuk mengetahui aspek-aspek yang berkaitan dengan permasalahan dan tantangan
yang dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan
5. Untuk mengetahui program dalam upaya kemandirian pangan.

D. Manfaat
Manfaat yang dapat kita petik dari makalah ini adalah kita dapat mengetahui tentang
kemandirian pangan yang ada di Indonesia sehingga dengan adanya ketahanan pangan ini,
masyarakat dapat lebih memahami hal-hal apa yang perlu di perhatikan dalam ketahanan
pangan mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan menjelaskan bahwa pangan
merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian
dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan dan pemenuhan
konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat
nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah NKRI
sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal. Didalam
UU tersebut juga dijelaskan bahwa negara dengan jumlah penduduk yang besar dan di sisi lain
memiliki sumber daya alam dan sumber pangan yang beragam, Indonesia mampu memenuhi
kebutuhan pangannya secara berdaulat dan mandiri.
Menurut UU No. 18 Tahun 2012 pasal 1, pangan adalah segala sesuatu yang berasal
dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan,
dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan
bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan
makanan atau minuman. Kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri
menentukan kebijakan pangan yang menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan yang
memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi
sumber daya lokal. Kemandirian pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam
memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin
pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai tingkat perseorangan dengan memanfaatkan
potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan
perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara
berkelanjutan.
Beberapa prinsip yang terkait dengan ketahanan pangan menurut Sumardjo (dalam
Purwaningsih) adalah sebagai berikut: 2
a. Rumah tangga sebagai unit perhatian terpenting pemenuhan kebutuhan pangan
nasional maupun komunitas dan individu.
b. Kewajiban negara untuk menjamin hak atas pangan setiap warganya yang
terhimpun dalam satuan masyarakat terkecil untuk mendapatkan pangan bagi
keberlangsungan hidup.
c. Ketersediaan pangan mencakup aspek ketercukupan jumlah pangan dan terjamin
mutunya.
d. Produksi pangan yang sangat menentukan jumlah pangan sebagai kegiatan atau
proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas
kembali dan atau mengubah bentuk pangan.
e. Mutu pangan yang nilainya ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan,
kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan dan minuman.
f. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah
pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat
menggangu, merugikan, dan membahayakan keadaan manusia.
g. Kemerataan pangan merupakan dimensi panting keadilan pangan bagi masyarakat
yang ukurannya sangat ditentukan oleh derajat kemampuan negara dalam menjamin
hak pangan warga negara melalui sistem distribusi produksi pangan yang
dikembangkannya. Prinsip kemerataan pangan mengamanatkan sistem pangan
nasional harus mampu menjamin hak pangan bagi setiap rumah tangga tanpa
terkecuali.
h. Keterjangkauan pangan mempresentasikan kesamaan derajat keleluasaan akses dan
kontrol yang dimiliki oleh setiap rumah tangga dalam memenuhi hak pangan
mereka. Prinsip ini merupakan salah satu dimensi keadilan pangan yang penting
untuk diperhatikan.
Dengan demikian dalam konsep ketahanan pangan hal-hal yang harus diperhatikan
adalah kewajiban negara untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan setiap individu baik
dari segi kuantitas maupun kualitasnya (standar kebutuhan gizi) aman, terjangkau pada setiap
kondisi, waktu, serta merata di seluruh wilayah di negara ini.
1. Permasalahan Ketahanan Pangan di Indonesia
Jika dicermati konsep ketahanan pangan dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 diatas tidak
mengharuskan ketersediaan pangan dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri. Hal ini
berbeda dengan konsep kemandirian pangan, yang mana dijelaskan bahwa Negara mampu
menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai pada perseorangan melalui
produksi dalam negeri. Oleh karena itu dengan konsep ketahanan pangan yang seperti itu, maka
pemerintah dengan mudah melakukan kebijakan impor pangan.
Masalah ketahahan pangan juga berhubungan erat dengan subsidi pemerintah, impor
dari negara lain, serta perdagangan bebas. Dengan tingginya subsidi yang diberikan pemerintah
pada sektor pertanian akan berdampak pada peningkatan produksi pertanian. Hal ini akan
memungkinkan terjadinya kemandirian pangan. Dengan kemandirian pangan maka
kesejahteraan petani akan meningkat. Subsidi yang besar serta perlindungan pasar domestik
dengan bea masuk yang tinggi diberikan oleh negara-negara maju (Eropa, Amerika, &
Jepang).3 Semakin tinggi subsidi yang diberikan pemerintah maka harga jualnya akan semakin
murah. Sedangkan pada negara-negara miskin dan berkembang yang terlilit utang dengan IMF
mau tidak mau harus mengurangi subsidi sampai dibawah 10%. Dengan demikian harga
pangan pada negara miskin dan berkembang relatif lebih mahal.
Perdagangan bebas merupakan salah satu produk globalisasi. Perdagangan bebas
bertujuan untuk menghapuskan hambatan dan penurunan tarif perdagangan dalam
perdagangan antar-bangsa.4 Dengan adanya perdagangan bebas ini maka negara-negara maju
(yang memberikan subsidi tinggi) bebas menjual hasil produksi pertaniannya kepada negara
miskin dan berkembang. Akibat dari minim atau dihapuskannya subsidi bagi negara miskin
dan berkembang adalah persaingan yang terjadi antara produk domestik dengan produk impor
tidak seimbang. Sehingga lagi-lagi para petani domestik yang menjadi korban. Salah satu
contoh negara yang menjadi korban adalah Haiti. Negara ini mampu memproduksi beras dan
pernah mencapai swasembada beras. Namun kini 60% bahan pertanian merupakan hasil dari
impor.5
Kasus serupa sebenarnya juga terjadi di Indonesia. Pada tahun 1980an Pemerintah telah
mensubsidi input produksi, terutama pupuk dan pestisida, dengan mengeluarkan APBN yang
cukup besar. Kebijakan ini berdampak sangat besar pada peningkatan produksi dan hasilnya
pada tahun 1985 Indonesa mencapai swasembada beras.6 Namun setelah Indonesia terlilit
utang pada IMF, maka lambat laun subsidi dalam negeri mulai dikurangi. Pada tahun 2009
pemerintah juga mengkalim bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan. Namun
realitanya, Indonesia mengimpor 250.473,1 ton beras. Bisa jadi claim tersebut hanya
merupakan sebuah bahasa politik menjelang pemilu, pernyataan ini berdasarkan data impor
beras pada tabel dibawah ini. Pada tahun 2009 Indonesia masih mengimpor beras meskipun
nilainya lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Tabel 1.4 Data Impor Beras Indonesia
Impor
No. Tahun
Berat Bersih (ton) Nilai (Ribu US$)
1 2008 289.689,4 124.142,8
2 2009 250.473,1 108.153,3
3 2010 687.581,5 360.785,0
4 2011 2.750.476,2 1.513.163,5
5 2012 1.810.443,2 945.623,2
6 2013* 1.267.740,3 124.367,7
Sumber Data: Boklet November 2013

Persoalan ketahanan pangan seperti yang diterangkan dalam undang-undang diatas


mencakup ketersediaan pangan dalam jumlah maupun mutu, aman, bergizi, merata serta
terjangkau bagi seluruh rumah tangga (individu). Kesemua cakupan tersebut apabila tidak
tercapai maka akan mengakibatkan kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, bahkan kematian.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wiko Saputra dkk (2012) dapat disimpulkan
bahwa pangan merupakan salah satu bagian terpenting dan menjadi penyebab munculnya
permasalahan gizi.7 Hal ini karena mayoritas kebutuhan gizi disuplay oleh makanan.
Kasus kemiskinan di Indonesia bahkan seluruh dunia sampai saat ini masih merupakan
musuh bersama. Berdasarkan tabel jumlah penduduk miskin di bawah ini, mayoritas penduduk
miskin berada diwilayah pedesaan, yang notabene bekerja pada sektor pertanian. Pada tahun
2008 penduduk miskin di desa mencapai 63,5% dari keseluruhan penduduk miskin. Sedangkan
pada tahun 2012 penduduk miskin di daerah pedesaan sekitar 63,4% dari keseluruhan
penduduk miskin. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam perjalanan era globalisasi masyarakat
dipedesaan khususnya petani masih menjadi sarang kemiskinan.
Tabel 1.5 Data Jumlah Penduduk Miskin
Penduduk Miskin (juta
No. Tahun jiwa)
Kota Desa Total
1 2008 12,77 22,19 34,96
2 2009 11,91 20,62 32,53
3 2010 11,10 19,93 31,02
4 2011 11,05 18,97 30,02
5 2012 10,65 18,48 29,13
Sumber data: Data Strategis 2012

Secara umum kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: pertama kelompok
miskin kronis dan miskin transisi.8 Kelompok pertama cenderung sulit disembuhkan atau
mudah kambuh, yaitu orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bekerja sehingga tidak
memiliki pendapatan (orang cacat), atau orang yang memiliki pekerjaan tetapi dengan
pendapatan yang sangat rendah (buruh tani, buruh informal). Kelompok yang kedua adalah
yang terjadi dalam sementara waktu, misalnya karena PHK, Krisis ekonomi, Inflasi tinggi, dll.
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa kerawanan pangan akan menyebabkan
kemiskinan, kelaparan, gizi buruk bahkan kematian. Kasus gizi buruk di Indonesia masih
banyak terjadi, tidak hanya melanda pelosok pedesaan tetapi juga diwilayah perkotaan.
Beberapa kasus gizi buruk di Indonesia pada tahun 2013 misalnya seperti di Bekasi mencapai
114 balita,9 di Bima jumlah balita penderita gizi buruk mencapai 5.227 orang atau sekitar 30%
dari total jumlah balita.10 Pada tahun 2014 kasus gizi buruk tetap terjadi, salah satu contohnya
adalah di Cianjur jumlah penyandang gizi buruk mencapai 346 balita.11 Bahkan pada tahun
2013 kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat sekitar 8 juta anak Indonesia
kekurangan gizi.12
Masalah kerawanan pangan dan gizi buruk pada umumnyadisebabkan karena
masyarakat tidak mampu mengakses pangan, bukan karena ketersediaan pangan.13
Kemampuan mengakses pangan berhubungan dengan pendapatan atau kemampuan daya beli
masyarakat, tidak sedikit kasus kekurangan gizi ini menyebabkan kematian, seperti yang
dialami oleh Siti Desi Damarwulan balita usia 4 tahun penderita gizi buruk di Serang
Banten.14Sungguh Ironis, ketiadaan biaya untuk berobat menyebabkan bayi tersebut meninggal
dunia. Seolah pemerintah setempat menutup mata dengan kasus tersebut, sehingga tidak
memberikan tindakan untuk menyelamatkan bayi tersebut.
Menurut penulis beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia belum mencapai
ketahanan, kemandirian dan swasembada pangan, diantaranya adalah:
- Pertumbuhan penduduk yang tinggi
- Konversi lahan pertanian besar-besaran untuk tempat tinggal, industri maupun
pembangunan infrastruktur
- Kurangnya keberpihakan pemerintah pada sektor pertanian
- Persaingan tidak seimbang dalam pasar bebas
- Masyarakat petani menjadi masyarakat urban
- Belum ada teknologi canggih pendukung sektor pertanian
Seperti diuraikan dalam teori Malthus diatas bahwa, bahwa kebutuhan seksual antar
lawan jenis akan terus terjadi sedangkan kebutuhan pangan juga akan terus berlangsung. Oleh
karena itu pertumbuhan penduduk yang tinggi secara otomatis akan berpengaruh kepada
peningkatan permintaan akan pangan, sedangkan luas lahan pertanian akan semakin berkurang.
Selain karena bertambahnya jumlah populasi manusia, penyempitan lahan pertanian juga
dipengaruhi oleh konversi lahan untuk dunia industri serta pembangunan infrastruktur.
Berkurangnya lahan pertanian ini secara otomatis juga berpengaruh pada berkurangnya hasil
pertanian.
Kondisi diatas juga diperparah dengan kebijakan pemerintah yang belum berpihak
kepada para petani. Kurangnya subsidi yang diberikan pemerintah pada sektor pertanian
(pangan) serta dampak dari perdagangan bebas benar-benar telah menciderai perekonomian
petani. Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa akibat dari ketimpangan subsidi yang
diberikan negara maju dengan negara miskin-berkembang menyebabkan persaingan pasar
yang sangat tidak seimbang. Hal inilah yang membuat dilema para petani, mereka dituntut
untuk menjual produk pertanian dengan harga murah agar stabilitas ekonomi terjaga. Namun
disis lain kebijakan pemerintah kurang berpihak kepada mereka. Dengan kondisi yang seperti
ini maka banyak masyarakat pedesaan (petani) yang beramai-ramai mencari kehidupan di kota-
kota besar atau beralih pada sektor lain. Sehingga lagi-lagi produksi pertanian semakin defisit
untuk mencukupi kebutuhan domestik.
Berdasarkan konsep ketahanan pangan diatas maka indikator utama dari tercapainya
ketahanan pangan menurut penulis adalah kesehatan masyarakat yang terjaga. Kesehatan
masyarakat dapat terjaga jika masyarakat mampu mencukupi kebutuhan gizi bagi tubuhnya.
Kesehatan mengindikasikan bahwa makanan atau minuman yang dikonsumsi aman, dan
kualitas serta kuantitasnya tercukupi. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa hingga saat ini
Indonesia belum berhasil mencapai ketahanan pangan. hal ini berdasarkan data diatas bahwa
masih banyak ditemui kasus gizi buruk.
Berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mencapai ketahanan
pangan. Pada tahun 2014 ini pemerintah dalam APBN mengganggarkan Rp. 18,8 Trilliun untuk
subsidi pangan. Salah satu bentuknya adalah melalui distribusi beras miskin (raskin) bagi
masyarakat yang dinilai kurang mampu. Meski demikian, lagi-lagi kebijakan pemerintah ini
belum dapat berjalan seperti yang diharapkan. Pada praktiknya dilapangan banyak dijumpai
beras tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Misalnya seperti kasus di Garut Jawa Barat
masyarakat mengeluhkan raskin yang diterima berkutu, bau dan warnanya kumal.15 Kasus
serupa juga terjadi di Balikpapan, masyarakat juga mengeluhkan raskin bau dan berkutu.16
Kasus lain terjadi di Sampang Madura, ditemukan beras miskin bercampur dengan kerikil serta
berwarna kuning. 17 Menurut salah satu tim peneliti Pusat Telaah & Informasi Regional dari
jumlah 3,1 juta ton kebutuhan raskin, minimal 2,5 juta ton dipenuhi oleh impor.18 Dengan
demikian pada kenyataannya kualitas beras miskin yang mayoritas diimpor oleh pemerintah
kualitas gizinya sangat jauh dari standar.

Tabel 1.6 Subsidi Pertanian

Alokasi
No 2008 2013 2014
Subsidi
1 Pangan Rp. 12,1 T Rp. 21, 5 T Rp. 18,8 T
2 Pupuk Rp. 15,2 T Rp. 17,9 T Rp. 21,0 T
3 Benih Rp. 0,985 T Rp. 1,5 T Rp. 1,6 T
Sumber : Nota Keuangan 2014
BAB III
PENUTUP

a. KESIMPULAN

Berdasarkan permasalahan ketahanan pangan yang terjadi di Indonesia, maka cara yang
terbaik untuk mencapai ketahanan pangan menurut penulis adalah dengan kemandirian pangan.
sebagaimana yang tertulis didalam Undang-undang No. 18 Tahun 2012, bahwa dengan
memiliki sumber daya alam dan sumber pangan yang beragam , Indonesia mampu memenuhi
kebutuhan pangannya secara berdaulat dan mandiri. Mandiri adalah kemampuan negara dalam
memproduksi pangan yang beraneka ragam dengan memanfaatkan sumber daya alam yang
ada, sehingga kebutuhan pangan dalam negeri dapat terpenuhi baik kualitas maupun
kuantitasnya sampai pada tingkat perseorangan.
Dalam upaya pencapaian ketahanan pangan ini kebijakan pangan yang dikeluarkan oleh
pemerintah sangat berperan besar. Subsidi terhadap sektor pertanian perlu ditingkatkan,
regulasi terkait dengan kemudahan akses modal bagi para petani, pembangunan infrastruktur
pendukung pertanian, serta kebijakan pendukung lainnya. Dengan adanya subsidi yang tinggi
maka petani mampu menghasilkan output dengan biaya murah, harga jual murah tanpa
mengurangi tingkat keuntungan petani. Dengan demikian produk domestik mampu bersaing
dalam pasar bebas. Ketika petani mampu memproduksi hasil pertanian dengan kualitas diatas
standar serta dengan harga yang cenderung lebih murah maka ada kemungkinan pasar domestik
akan dukuasai oleh petani dalam negeri bahkan mampu bersaing pada perdagangan
internasional. Kondisi ini akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang tinggi.
Dengan adanya kemampuan petani lokal mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri
maka stabilitas harga pangan dapat terjaga. Kita dapat belajar dari goncangan krisis pangan
pada tahun 2007-2008. Krisis tersebut terjadi akibat dari produksi domestik yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu contoh adalah produksi kedelai dalam negeri
pada waktu itu tidak mampu memenuhi kebutuhan domestik, serta kenaikan harga kedelai
internasional mengakibatkan kelangkaan tahu dan tempe yang sempat membuat masyarakat
kelabakan. Hal ini mengindikasikan bahwa ketahanan pangan tanpa kemandirian pangan
hanya akan menyebabkan suatu negara bergantung dengan negara lain, dengan kata lain
kedaulatan suatu negara berada dibawah kendali negara lain.
Impor merupakan cara instan yang biasanya dipilih pemerintah untuk mencukupi
kebutuhan dalam negeri. Misalnya ketika terjadi kelangkaan beras, maka harga beras
cenderung akan naik. Cara yang ditempuh pemerintah adalah dengan mengimpor beras dari
negara lain, hal ini akan menyebabkan penurunan harga. Ketika untuk memproduksi beras
petani membutuhkan biaya tinggi, sedangkan harga beras dipasaran cenderung lebuh murah
maka hal ini mengakibatkan kerugian bagi petani.
Kemandirian pangan juga sangat berdampak pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat Indonesia. Kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pangan domestik akan
menyebabkan stabilitas harga pangan. standar kualitas pangan juga dapat ditentukan oleh
negara. Dengan demikian pangan akan mudah terjangkau oleh masyarakat dengan kualitas dan
kuantitas yang dibutuhkan. Peningkatan produksi pertanian ini tentu saja juga meningkatkan
pendapatan bagi para petani. Dengan demikian angka kemiskinan dalam negeri dapat ditekan.
Ketika seluruh masyarakat dapat dengan mudah mengakses pangan yang bergizi, aman serta
kuantitasnya mencukupi maka kasus gizi buruk akan dapat ditekan.
Mewujudkan ketahanan pangan tidak semudah membalik telapak tangan. Seluruh
lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat perlu bersinergi, Serta memerlukan proses yang
cukup panjang. Ketika satu periode pemerintahan berakhir, maka pemerintahan berikutnya
harus berkomitmen untuk meneruskan program kebijakan pemerintah sebelumnya. Dengan
adanya program yang sustainable maka ketahanan pangan akan terwujud
DAFTAR PUSTAKA

 Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, November 2013


Badan Pusat Statistika
 Data Strategis 2012, Badan Pusat Statistika
 Undang-undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan
 Berita Resmi Statistik No. 16/02/Th.XVII, 5 Februari 2014
 Doddy S. Singgih, Pangan, Penduduk dan Teknologi Pertanian: Sebuah Perdebatan
Teoritis,” Masyarakat, kebudayaan dan Politik, Tahun VIV, Nomor 4, Oktober 2001
 Purwaningsih, Ketahanan pangan: SituasiPermasalahan, Kabijakan dan
Pemberdayaan Masyarakat, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No.1, Juni 2008
 Nainggolan, Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban, Jakarta: Kompas, 2006
 Baswir, Refrisond, Bahaya Neoliberalisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
 http://id.wikipedia.org
 Adnyana, Made Oka, Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban, Jakarta: Kompas,
2006
 Saputra, dkk, Faktor Demografi dan Resiko Gizi Buruk dan Gizi Kurang, Makara,
Kesehatan Vol. 16, No. 2, Desember 2012:95-101
 Puspoyo, Widjanarko, Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban, Jakarta: Kompas
2006
 www. Tempo.co.id
 www.pikiran-rakyat.com
 www.liputan6.com
 www.viva.co.id
 www.newsbalikpapan.com