Anda di halaman 1dari 10

MEWUJUDKAN TAQWA PARIPURNA

Oleh Adv. Frengki Uloli, S.Pd, SH

‫السالم عليكم و رحمةهللا و بركاته‬


x 3 ‫هللا أكبر‬x 3 ‫هللا أكبر‬x 3 ‫هللا أكبر‬
‫ َو‬،ُ‫صدَقَ َو ْعدَه‬ َ ،ُ‫ الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللاُ َو ْحدَه‬.ً‫ص ْيال‬ ِ َ ‫س ْب َحانَ هللاِ بُ ْك َرة ً َو أ‬ ُ ‫و‬،‫ا‬َ ‫و ْال َح ْمد ُهلل َك ِثي ًْر‬،‫ا‬ َ ‫هللاُ أ َ ْكبَ ُر َك ِبي ًْر‬
.ُ ‫ هللاُ أ َ ْكبَر ُ َوهللِ ْال َح ْمد‬.‫ الَإِلَهَ إِالَّ هللاُ ُه َوهللاُ أ َ ْكبَ ُر‬.ُ‫اب َو ْحدَه‬ َ َ‫ع َّز ُج ْندَهُ َوهَزَ َم األ َ ْحز‬ َ َ ‫ َو أ‬،ُ‫ص َر َع ْبدَه‬ َ َ‫ن‬
‫ع ِن‬ ْ
َ ‫ِي أ َم َرنَا ِبالتَّق َوى َو نَ َهانَا‬ َ َّ
ْ ‫ َو الذ‬،َ‫س ُن َع َمال‬ َ ُ ْ
َ ‫ت َوال َحيَاة َ ِل َي ْبل َو ُك ْم أيُّ ُك ْم اَ َح‬ ْ
َ ‫ِي َخلَقَ ال َم ْو‬ ْ ‫ا َ ْل َح ْمدُهللِ الذ‬
ًّ
.‫اتِبَاعِ ْال َه َوى‬
َّ ‫الط ِريْقَ ِل‬
‫ َو‬، َ‫لطا ِل ِبيْن‬ َّ ‫ض َح‬ َ ‫ِي أ َ ْو‬ ْ ‫ الَّذ‬،‫ال َم ِلكُ ْال َح ُّق ْال ُم ِبي ُْن‬،ُ
ْ ‫أ َ ْش َهد ُأ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللاُ َو ْحدَهُ الَ ش َِري َْك لَه‬
. َ‫س َعادَةِ ِل ْل ُمت َّ ِقيْن‬َّ ‫س َه َل َم ْن َه َج ال‬ َ
. َ‫ِق ْال َو ْعدِاأل َ ِميْنَ َواْ ِإل َما ُم ِْلل ُمت َّ ِقيْن‬ ُ ‫ص اد‬ َ ُ‫س ْولُه‬ ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬ َ ‫سيِدَنَا ُم َح َّمدًا‬ َ ‫َوأ َ ْش َهد ُ أ َ َّن‬
. َ‫الديْن‬ِ ‫ان ِإلَى َي ْو ِم‬ َ ‫ َو التَّا ِب ِعيْنَ لَ ُه ْم ِبإ ِ ْح‬، َ‫ص َحا ِب ِه أ َ ْج َم ِعيْن‬
ٍ ‫س‬ ْ َ ‫علَى آ ِل ِه َو أ‬ َ ‫ َو‬،ٍ‫علَى ُم َح َّمد‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ
Allahu Akbar 3x, wa lilLâhil hamd.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Takbir. Tahlil. Tahmid. Tak henti-hentinya meluncur dari setiap lisan kaum beriman. Menggetarkan
dada. Menyentuh jiwa. Bergemuruh di langit. Menghujam ke bumi.
Dengan hati yang khusyuk, tulus dan ikhlas. Semua Muslim. Termasuk kita di sini. Bersimpuh.
Bersujud. Merunduk dan merendahkan diri. Di haribaan Zat Yang Mahasuci. Hanyut dalam
senandung pujian kepada Ilahi. Tenggelam dalam pengagungan kepada Zat Yang Mahatinggi.
Allah Rabbul ‘Izzati.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Ramadhan telah kita tinggalkan. Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa
berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa. Bukan kembali berlumur dosa.
Begitulah seharusnya kita pasca puasa.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Idul Fitri tahun ini sama-sama kita rayakan saat bangsa ini masih dirundung oleh ragam ujian. Elit
politik masih terus disibukkan oleh persaingan dan perselisihan. Tampak nyata hasrat dan nafsu untuk
saling berebut jabatan atau mempertahankan kekuasaan. Ego pribadi. Kehendak golongan.
Kepentingan partai. Tak jarang mendominasi. Saling sikut berebut kursi. Masing-masing siap
mengorbankan apa saja. Bahkan siap mengorbankan siapa saja. Demi jabatan dan kekuasaan.
Padahal jabatan dan kekuasaan sesungguhnya hanyalah amanah yang bisa berujung penyesalan.
Tentu di Hari Pembalasan. Demikian sebagaimana sabda Nabi saw.:

‫ون نَدَا َمةً يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة‬


ُ ‫ست َ ُك‬
َ ‫ارةِ َو‬ ِ ْ ‫علَى‬
َ ‫اإل َم‬ َ ‫إِنَّ ُك ْم‬
ُ ‫ستَ ْح ِر‬
َ َ‫صون‬
Sungguh kalian benar-benar berhasrat terhadap kekuasaan, sementara kekuasaan itu (jika tidak
dijalankan dengan amanah) akan menjadi penyesalan (bagi pemangkunya) pada Hari Kiamat (HR al-
Bukhari).
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.

1 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


Pada saat yang sama, nasib rakyat makin terlupakan. Secara ekonomi kemiskinan masih terjadi.
Angka pengangguran masih tinggi. Harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak. Utang negara terus
membengkak. Juga aneka persoalan ekonomi lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di
tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini. Sebabnya, sebagian besar kekayaan itu telah
dikuasai oleh pihak asing, swasta dan pribadi-pribadi. Mayoritas rakyat, yang notabene Muslim, hanya
bisa gigit jari.
Di sisi lain, secara sosial rakyat makin terpolarisasi. Salah satunya adalah akibat ‘pesta demokrasi’,
yang tahun ini diyakini banyak diwarnai oleh kecurangan di sana-sini. Pesta lima tahunan ini pun
menghasilkan sejumlah tragedi. Seperti kematian ratusan petugas Pemilu. Juga memicu kerusuhan
yang menelan puluhan korban. Akibat peluru tajam dan tindak kekerasan.
Pada saat yang sama, kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh umat masih terus terjadi. Dakwah terus
dipersekusi. Ajarannya, seperti syariah dan khilafah, terus dimonsterisasi. Orang-orang yang ‘hijrah’
pun malah dicurigai.
Di bidang hukum, menegakkan keadilan seperti menegakkan benang basah. Nyata sangat susah.
Sebab hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Kesetaraan di depan hukum seolah menjadi barang
mewah. Hanya milik mereka yang punya ‘trah’ atau harta berlimpah. Bukan milik rakyat golongan
rendah. Sebab mereka ini adalah golongan yang selalu kalah.
AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLah.
Di luar negeri nasib kaum Muslim jauh lebih parah. Suriah masih berdarah-darah. Oleh kekejaman
rejim Nusairiyah yang haus darah. Didukung oleh negara-negara kafir penjajah. Dengan
memanfaatkan ISIS yang secara sepihak mengklaim sebagai Khilafah.
Palestina masih terus dirundung duka. Baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaja. Para wanitanya banyak
diperkosa. Anak-anaknya yang tak berdosa banyak dianiaya. Tanpa satu pun penguasa Arab dan
Muslim yang sudi membela. Kecuali sekadar retorika tanpa makna.
Rohingya tak terkecuali. Kaum Muslim di sana masih terus dipersekusi. Bahkan dibantai secara keji.
Oleh rejim Budha yang tak punya hati. Sebagian lainnya terusir ke berbagai negeri. Tanpa ada yang
peduli sama sekali.
Demikian pula Muslim Uighur. Nasibnya seolah tak pernah mujur. Hingga kini masih tersungkur.
Banyak Muslim yang dibunuh, disiksa dan diisolir. Mereka seperti hidup di sebuah penjara besar. Di
bawah sorotan tajam para sipir. Yang siap menyiksa mereka dengan keji dan barbar.
Yaman pun masih dilanda kekurangan pangan. Banyak anak-anak kelaparan. Banyak pula yang
merasakan hidup tak pernah aman. Sebab sering dilanda konflik dan peperangan.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLah.
Alhasil, kaum Muslim, baik di negeri ini maupun di banyak belahan dunia lain, hingga kini masih saja
dalam keadaan tersingkir. Terpinggirkan. Kalah di semua lini.
Keadaan ini tentu ironis dengan kenyataan, bahwa setiap tahun kaum Muslim merayakan Idul Fitri
dengan sukacita. Sebab, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, Idul Fitri adalah Hari
Kemenangan. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan setan. Menang melawan setiap
kecenderungan dan perilaku menyimpang. Menang dalam menegakkan keadilan. Menang melawan

2 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


setiap kezaliman. Bahkan menang melawan gembong kekufuran. Inilah yang kita saksikan dalam
lintasan sejarah seperti Perang Badar, Fathu Makkah, dlsb. Hari raya yang penuh dengan
kemenangan semacam inilah yang sepantasnya dirayakan. Allah SWT berfirman:

)5( ‫الر ِحي ُم‬ ُ ‫ص ُر َم ْن َيشَا ُء َو ُه َو ْالعَ ِز‬


َّ ‫يز‬ ُ ‫َّللاِ َي ْن‬ ْ َ‫) ِبن‬4( َ‫َو َي ْو َمئِ ٍذ يَ ْف َر ُح ْال ُمؤْ ِمنُون‬
َّ ‫ص ِر‬
Pada hari itu, bergembiralah kaum Mukmin karena meraih pertolongan Allah SWT. Dia menolong
siapa saja yang Dai kehendaki. Dia Mahakuat dan Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4).

AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd.


Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Di sisi lain, sesungguhnya Idul Fitri lebih layak dirayakan oleh Mukmin yang puasanya melahirkan
takwa. Tentu bukan takwa yang pura-pura. Sekadar demi citra. Demi meraih tahta dan kuasa. Namun,
takwa yang bertambah sempurna. Takwa yang makin paripurna. Takwa yang sebenarnya (haqqa
tuqâtih). Sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam QS Ali Imran [3] ayat 102. Dalam
bahasa sebagian ulama dinyatakan:

ُ‫س ْال َج ِد ْيدَ َو لَكِنَ ْال ِع ْيدَ ِل َم ْن ت َ ْق َواهُ َي ِز ْيد‬


َ ‫ْس ْال ِع ْيدُ ِل َم ْن لَ ِب‬
َ ‫لَي‬
Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya
hanyalah untuk orang yang ketakwaannya bertambah.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Salah satu definisi takwa dinyatakan oleh Imam al-Hasan. Kata Imam al-Hasan, sebagaimana dikutip
oleh Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya, kaum yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa takut
terjerumus pada apa saja yang telah Allah SWT haramkan atas mereka dan menunaikan apa saja
yang telah Allah wajibkan kepada mereka.
Al-Quran banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa. Demikian juga al-Hadis. Begitu pun
yang dinyatakan oleh para Sahabat. Juga oleh banyak ulama dari generasi salafush-shalih. Menurut
Imam Ali ra., misalnya, sebagaimana dinukil dalam kitab Dalîl al-Wa’zh ilâ Adillah al-Mawâ’izh (1/546)
danSubul al-Hudâ wa ar-Rasyad (1/421), takwa adalah:

ِ ‫ َو‬،‫عةُ ِب ْالقَ ِل ْي ِل‬


َّ ‫اإل ْس ِت ْعدَاد ُ ِل َي ْو ِم‬
‫الر ِح ْي ِل‬ َ ‫ َو ْال َع َم ُل ِبالت َّ ْن ِز ْي ِل َو ْالقَنَا‬،‫ف ِمنَ ْال َج ِل ْي ِل‬
ُ ‫ا َ ْلخ َْو‬
Takut kepada Allah Yang Mahagung, mengamalkan al-Quran yang diturunkan, puas dengan yang
sedikit, dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kepergian (ke akkirat).
Dengan demikian takwa memiliki empat unsur yaitu: Pertama, Al-Khawf min al-Jalîl, yakni memiliki
rasa takut kepada Allah SWT. Orang yang bertakwa tentu selalu berhati-hati dalam hidupnya karena
takut akan terjatuh pada segala perkara yang haram. Sebab setiap keharaman yang dilakukan pasti
menuai dosa. Setiap dosa bakal mengundang murka dan siksa-Nya. Inilah yang ditakutkan orang
yang bertakwa. Jika pasca puasa rasa takut terhadap murka-Nya ini selalu melekat dalam diri seorang
Muslim maka dia layak bergembira di Hari Raya. Sebab, sebagaimana kata sebagian ulama, “Laysa
al-‘îd li man labisa al-jadîd, innama al-îd li man ittaqa al-wa’îd (Hari Raya bukanlah untuk orang yang
mengenakan sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang takut terhadap
ancaman [murka-Nya]).”
Demikian pula yang Allah SWT tegaskan:

3 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


ً ُ ‫اب َربِ َك َكانَ َم ْحذ‬
‫ورا‬ َ َ ‫عذ‬ َ َ‫َويَ ْر ُجونَ َر ْح َمتَهُ َويَخَافُون‬
َ ‫عذَابَهُ إِ َّن‬
Mereka senantiasa mengharapkan rahmat Allah dan takut terhadap azab-Nya. Sungguh azab Allah itu
adalah sesuatu yang (harus) ditakuti (QS al-Isra’ [17]: 57).

Sayang, hari-hari ini, kita menyaksikan rasa takut terhadap azab Allah SWT seolah hilang pada diri
sebagian kaum Muslim. Buktinya, banyak Muslim yang masih enggan meninggalkan dusta. Gemar
berbuat dosa. Banyak yang tetap melanjutkan perbuatan tercela. Misal, meraih dan mempertahankan
kekuasaan dan jabatan dengan segala cara. Termasuk dengan cara-cara curang dan penuh
rekayasa. Mempolitisasi hukum, mengancam yang bersuara bahkan menghilangkan nyawa bagi yang
berjuang menegakkan kebenaran.
Demikianlah. Seolah-olah puasa sama sekali tak berbekas sedikit pun pada dirinya. Pada akal dan
pikirannya. Pada jiwa dan perasaannya. Dia tak semakin tambah taat. Tak semakin tambah takwa.
Yang ada malah makin jumawa di hadapan Allah Azzawa Jalla. Padahal Allah SWT telah lama
menyeru kita:

ْ ‫ض أ ُ ِعد‬
َ‫َّت ِل ْل ُمتَّقِين‬ ُ ‫س َم َاواتُ َو ْاأل َ ْر‬
َّ ‫ض َها ال‬ َ ‫عوا إِلَى َم ْغ ِف َرةٍ ِم ْن َربِ ُك ْم َو َجنَّ ٍة‬
ُ ‫ع ْر‬ ُ ‫ار‬
ِ ‫س‬َ ‫َو‬
Bersegeralah kalian meraih ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan bagi kaum yang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 133).
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Kedua: Al-‘Amal bi at-Tanzîl, yakni mengamalkan seluruh isi al-Quran yang telah Allah turunkan.
Tentu dengan menerapkan semua hukumnya. Dengan melaksanakan dan menerapkan syariahnya
secara kaffah. Penerapan syariah secara kaffah itu hanya bisa diwujudkan melalui kekuasaan yang
menerapkan sistem pemerintahan Islam. Sistem tersebut oleh para ulama disebut Khilafah ar-
Rasyidah.
Ketiga: Al-Qanâ’ah bi al-qalîl, yakni selalu merasa puas/ridha dengan karunia yang
sedikit. Qanâ’ah akan melahirkan sikap zuhud terhadap dunia. Zuhud terhadap dunia akan melahirkan
sikap wara’, yakni senantiasa berhati-hati terhadap dosa.
Sayang, saat ini kita menyaksikan betapa banyak orang bukan saja tidak qanâ’ah dengan yang
sedikit. Mereka bahkan tidak qanâ’ah dengan yang banyak. Betapa banyak orang-orang kaya terus-
menerus menumpuk harta. Meski dengan cara-cara yang melanggar ketentuan agama. Betapa
banyak pejabat bergaji tinggi, tetapi tetap korupsi. Betapa banyak penguasa yang tak punya prestasi,
tetapi bernafsu untuk terpilih kembali. Mereka berusaha keras mempertahankan kekuasaan dengan
berbagai cara. Tak peduli melanggar norma dan hukum agama.
Keempat: Isti’dâd[an] li yawm ar-rahîl, yakni menyiapkan bekal untuk menghadapi ‘hari penggiringan’,
yakni Hari Kiamat.
Sebagaimana diketahui, kedatangan Hari Kiamat bukanlah sesuatu yang lama. Kedatangannya
sangat dekat. Seperti kedatangan hari esok. Allah SWT berfirman:

َ‫ير ِب َما ت َ ْع َملُون‬ َ َّ ‫ت ِلغَ ٍد َو اتَّقُوا‬


َّ ‫َّللا ِإ َّن‬
ٌ ‫َّللاَ َخ ِب‬ ُ ‫َّللاَ َو ْلتَ ْن‬
ٌ ‫ظ ْر نَ ْف‬
ْ ‫س َما قَدَّ َم‬ َّ ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬

4 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri
memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (Hari Kiamat). Bertakwalah kalian kepada
Allah. Sungguh Allah Mahaawas atas apa saja yang kalian kerjakan (QS al-Hasyr [59]: 18).
Menurut Imam ath-Thabari dan mufassir lainnya, ‘hari esok’ dalam ayat di atas tidak lain adalah Hari
Kiamat. Bekal terbaik untuk menghadapi Hari Kiamat tidak lain adalah takwa.
AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Sungguh bulan Ramadhan adalah musim yang sangat agung untuk membiasakan diri dalam ketaatan
dan berlomba lomba dalam kebaikan. Akan tetapi sekarang Ramadhan telah meninggalkan kita dan ia
akan menjadi saksi di hadapan Allah ta'ala atas segala yang telah kita lakukan di bulan tersebut.
Tidak ada yang tersisa sedikitpun dari bulan Ramadan kecuali catatan amal yang akan diperlihatkan
pada hari kiamat nanti.
Ibarat seorang pedagang yang telah menyelesaikan perniagaannya, dia akan menghitung berapa
keuntungan dan kerugian yang ia dapatkan. Begitu pula dengan kita hari ini, setelah menyelesaikan
rutinitas ibadah puasa kini saatnya bermuhasabah dan merenung apakah amalan kita di bulan puasa
diterima Allah atau tidak.
Ma'asyiral mislimin wal muslimat Rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa diterima atau tidaknya suatu amalan ditandai oleh amal shalih yang berkelanjutan.
Ada sebuah ungkapan yang disampaikan oleh para ulama seperti Ibnu Katsir dalam kitabnya Al
Qur'an Al Azim di tafsir surat al-Lail, diungkapkan juga oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latif Latif Al
Ma'arif,

‫ َو ِإ َّن مِ ْن َجزَ اءِ الس َِّيئ َ ِة الس َِّيئَةَ َب ْع َدهَا‬،‫سنَةَ َب ْع َدهَا‬ ِ ‫ِإ َّن مِ ْن ث َ َوا‬
َ ‫ب ال َح َسنَ ِة ال َح‬
"Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan adanya kebaikan selanjutnya dan diantara balasan
amalan keburukan adanya amalan kejelekan setelahnya"
Sehingga sangat disayangkan jika ada seorang muslim yang meninggalkan amal shalih setelah bulan
Ramadan. Seolah olah mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.
Syaikh Abdul Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafudzahullah menyampaikan dalam Khutbahnya yang
sangat mengharukan:
1. Wahai kalian yang masih mengingat Ramadhan! Engkau mempunyai Tuhan yang disembah
dan ditaati, tapi mengapa kau lupakan setelah Ramadhan?
2. Wahai kalian yang mengingat Ramadhan! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian
sholat lima waktu di masjid masjid, namun mengapa kalian lupa atau pura-pura lupa setelah
bulan Ramadan?
3. Wahai kalian yang mengingat Ramadhan! Sesungguhnya Allah telah mengharamkan
kemaksiatan tapi mengapa itu semua dilupakan setelah bulan Romadhon?
4. Wahai kalian sesungguhnya kalian tahu di depan kalian ada Surga dan Neraka, ada nikmat
atau siksaan. Tapi mengapa engkau lalai dengan itu semua setelah Ramadhon?
5. Wahai kalian yang selalu memenuhi masjid dan membaca al-Quran, apakah kalian akan
menghilang setelah Ramadhan?

5 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


6. Sungguh heran dengan keadaan seorang mukmin yang tidak mengingat Allah kecuali di bulan
Ramadhan. Celakalah dia."
Sungguh kerugian besar jika amal ibadah kita tidak diterima, dosa dosa tidak diampuni tapi ternyata
tahun depan tidak bisa menjumpai bulan puasa lagi. Inilah yang membuat para ulama khawatir.
Kebanyakan mereka selalu mengungkapkan rasa khawatir dan sedih saat berpisah dengan bulan
Ramadhan.
Salah satunya Ibnu Rajab rahimahullah beliau mengatakan,

‫ِي لَهُ فِي ع ُْم ِر ِه ِإلَ ْي ِه ُر ُج ْوع‬ َ ‫ْف الَ ت َجْ ِرى ل ِْل ُمؤْ مِ ِن‬
َ ‫علَى ف َِراقِ ِه ُد ُم ْوع َو ه َُو الَ يَد ِْري ه َْل بَق‬ َ ‫َكي‬
"Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak berlinang kala berpisah dengan bulan
Ramadhan. Sementara dia tidak mengetahui tersisa dari umurnya untuk kembali bertemu
dengannya."
Berkata juga sebagian salaf lainnya,

‫ّللا تَقَبَّل مِ ن ِۡي مِ ۡثقَا َل َح َّب ٍة مِ ۡن خ َۡر َد ٍل لَت َ َم َّن ۡيتُ ال َم ۡوت‬
َ ‫لَ ۡو أ َ ۡعلَ ُم ا َ َّن‬

"Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima amalanku walau seberat biji khordzal (biji yg sangat
kecil seperti biji sawi), pasti aku akan berangan kematian"
Oleh sebab itu Ramadhan kemarin harus bisa memberi perubahan pada diri kita masing-masing ke
arah yang lebih baik. Selalu istiqomah dalam beribadah dan tidak mengerjakan kemaksiatan selepas
bulan Ramadhan.
Sungguh tidak ada yang tahu apakah kita masih bertemu dengan Ramadan Ramadan berikutnya.
Sungguh kita juga tidak tahu apakah masih bisa sujud, ruku, menangis di malam malam bulan
Ramadhan.
Mari di hari kemenangan ini kita buka lembaran baru. Bersiap menghadapi tantangan baru yang akan
hadir kembali. Sebab belenggu-belenggu setan telah terlepas. Membuat para pelaku maksiat kembali
leluasa melancarkan godaan-godaannya. Jadilah muslim yang istiqamah.
Kepada para ibu-ibu sekalian, ketahuilah saat khutbah ied, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah
memberikan nasehat khusus untuk para wanita. Dari sahabat Jabir bin Abdullah -rdhiyallahuanhu-,
diceritakan nabi mendekat ke arah jamaah wanita. Kemudian beliau menasehati dan mengingatkan
wanita seraya bersabda,
َ ‫ص َّد ْقنَ فَإ ِ َّن أ َ ْكث َ َر ُك َّن َح‬
‫طبُ َج َهنَّم‬ َ َ‫ت‬
"Hendaknya kalian (para wanita) bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas bahan bakar
(penghuni) neraka Jahannam"
Mendengar nasihat nabi tersebut, salah seorang wanita berdiri dengan kedua pipinya kehitaman dan
bertanya, "Kenapa Wahai Rasulullah?"
Maka nabi menjawab,
‫شكَاة َ َوت َ ْكفُ ْرنَ ْالعَ ِشيْر‬
َّ ‫ِِلَنَّ ُك َّن ت ُ ْكثِ ْرنَ ال‬
"Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami". [HR. Muslim: 885]

6 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


Untuk itu buat kalian para wanita, janganlah mengingkari kebaikan suami, jangan pula mengeluh
kepada suami, mengeluh tentang keadaan suami. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah
sementara dan penuh dengan kesulitan.
Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda,

ُ ‫فَإِنَّهُ َجنَّت ُ ِك أ َ ْو ن‬
‫َار ِك‬
"Sesungguhnya suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu" (HR. Ahmad)
Apabila engkau mendapati suamimu ridho kepadamu dan melihat engkau sebagai istri yang sabar
serta tabah dalam menjalani kehidupan dalam berkeluarga, maka sesungguhnya engkau sedang
membuka pintu surga lebar lebar.
Allahu akbar 3x, wa lillahilhamd.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Beruntunglah kita yang saat ini menjalankan ibadah Ramadhan hingga penghujungnya masih dapat
melihat kedua orang tua kita, orang yang telah berjuang dengan sepenuh jiwa raga mendidik,
membesarkan dan menjadikan kita orang yang berguna. Tidak sedikit diantara kita yang sejak
menangis pertama kali dibumi Allah, tak sempat melihat wajah ibunya yang berjuang hingga titik
darah dan nafas terakhir demi anaknya lahir kedunia, tidak sedikit pula anak yang tak sempat
merasakan kasih sayang bapaknya karena bapaknya telah lebih dahulu dipanggil Allah sebelum dia
dewasa, jadikanlah perenungan riwayat Al-Qamah, yang tak dapat mengucapkan dua kalimat
syahadat disaat sakarat karena durhaka kepada ibunya;
“Pada suatu ketika, seorang perempuan yang masih sedang menjalani kehamilan ditinggal mati
suaminya. Ketika melahirkan, anaknya diberi nama: Al Qamah. Meski hidupnya sangat susah, sang
ibu merawat anak bayinya dengan penuh kasih sayang disebabkan pemahaman sang ibu bahwa
anak itu harus dirawat baik-baik karena merupakan pemberian amanah dari Allah SWT. Siang malam
sang ibu berharap, bersujud memohon doa kepada Allah SWT, menengadahkan tangannya
memohon doa, terkadang sambil menitikkan air mata dan berharap kepada Tuhan, “Semoga ketika
kelak anakku besar, bisa membalasku kebahagiaan, dan mendapatkan nama yang harum pada
orang-orang disekelilingnya”. Setiap sang ibu berdoa kepada Allah Swt., terbuka tujuh lapis langit,
menembus arsy kursyi dan para malaikat bersujud kepada-Nya dan berkata, “Oh...Tuhanku, tidak
akan bangun dari sujudku jikalau tidak diterima permohonan doa dari hamba-Mu.” Ketika Al Qamah
beranjak besar, nasib baik berpihak kepada dirinya. Al Qamah diberi kekayaan oleh Allah Swt, istri
yang cantik, tapi tidak lagi memperhatikan para kaum miskin. Sedang rekan pergaulannya hanya
terbatas orang-orang terpandang, para golongan kaya, dan pejabat tinggi.
Maka Al Qamah merasa malu menampilkan sang ibu yang dekil ke hadapan rekan-rekan
sepergaulannya. Maka oleh Al Qamah dipindahkan tempat tinggalnya sang ibu ke sebuah rumah
yang berpisah dari rumah Al Qamah pada suatu sudut kampung dengan kondisi rumah seadanya.
Sang ibu diinapkan dirumah sederhana itu seorang diri, meski dapat dengan mudah dijangkau ke
rumah Al Qamah.
Suatu ketika Al Qamah kedatangan tamu ketika itu sang ibu juga sedang bertandang ke rumahnya.
Ketika tamu Al Qamah menanyakan ihwal sang ibu yang sedang lewat didalam rumah, “siapa orang

7 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


tua yang sedang lewat tadi?” Al Qamah menjawab, “ Dia orang yang tinggal dibelakang rumah yang
sering datang meminta-minta”. Jawaban Al Qamah langgsung didengar oleh sang ibu, tetapi sang ibu
tidak berkata apa-apa. Hanya mengurutkan dadanya.
Saat kedua, ada lagi tamu Al Qamah datang bertandang kerumahnya dan ketika itu sang ibu juga
datang bertandang. Tamu itu kembali menanyakan ihwal sang ibu dan jawaban Al Qamah sama
seperti sebelumnya. Dan sang ibu kembali mendengar jawaban Al Qamah yang sangat menyakitkan
hati sang ibu tapi tetap tidak berkata-kata. Hanya sanggup meneteskan air mata, meski dalam hatinya
sangat marah. Sang ibu bertekad bila Al Qamah berlaku sama pada kali ketiga, maka sang ibu tidak
akan diam lagi. Saat ketiga, ada lagi tamu Al Qamah yang bertandang kerumahnya dan kembali sang
tamu menanyakan ihwal ibu yang sedang lewat dihadapannya. Dan jawaban Al Qamah seperti
sebelumnya. Ketika itulah maka spontan sang ibu duduk bersimpuh disamping kursi Al Qamah, sang
anak sambil berkata, “Oh...anakku Al Qamah. Saya tak pernah bermimpi kamu akan memperlakukan
saya, ibu yang melahirkanmu.
Ketika kamu masih kecil, kamu kuberi air susu ibu. Kupaksa diriku untuk menghidupimu, meski
hidupku susah. Meski hari panas terik, atau di kala hujan, keberi makan apa adanya agar kamu bisa
hidup. Kamu selalu kuelus ketika nyamuk menggigitmu, kepeluk ketika suara guruh menggelegar di
langit dan kilat menyambar-nyambar di pagi hari buta. Ketika kamu sakit, saya selalu
menjagamu sampai tidak bisa tidur. Ku gendong dirimu sambil bersenandung ketika kamu menangis.
Kelakuanmu dan perkataanmu, sangat jauh dari harapan ibu. Saya akan pulang, anakku. Jika dirimu
beruntung, masih bisa bertemu, namun jika kamu mendapatkan celaka, saya akan meninggal tanpa
kamu tahu, begitu pun kamu.
Maka pulanglah sang ibu, berjalan pelan-pelan sambil menyesali perbuatan anaknya. Sang
ibu sekali-kali menyeka air mata yang terus bercucuran dan hidungnya yang sesak dan hati pedih
sebab hilang sudah harapan terhadap anak yang dikandungnya.
Akhirnya, ketika kekayaan Al Qamah berangsur mengecil dan dirinya diserang penyakit, para teman
sepergaulannya pun semakin berkurang. Suatu ketika Al Qamah menjelang ajalnya, tapi sangat sulit
nyawa lepas dari tubuhnya meski surat Yasin telah berkali-kali tamat dibacakan. Maka beberapa
sahabat mengadukan perihal Al Qamah ke hadapan Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah
bertanya kepada para pembawa berita itu, “Apakah masih hidup ibunya AL Qamah?” Maka dijawab
oleh pada pembawa berita, “Masih hidup ya... Rasulullah, tetapi sudah lama tidak ketemu karena tidak
mau mengakui ibunya.”
Rasulullah menyuruh para pembawa berita itu untuk mencari sang ibu dari Al Qamah, tetapi sang ibu
enggan bertemu lagi dengan anaknya, Al Qamah. Sang ibu berkata, “Sudah tidak ada ibunya Al
Qamah. Dia sudah tidak mengakui saya sebagai ibunya. Saya tetap peduli pada sakitnya, tapi saya
lebih sakit hati atas perbuatannya dan perkataannya kepada saya.” Kali ketiga sang ibu dijemput oleh
para pembawa berita agar menemui anaknya yang sedang sekarat, Rasulullah berpesan, “Beritahu
ibunya Al Qamah, bila dia tidak datang menemui anaknya yang sedang sekarat dan memaafkannya,
maka dating saja pada saat akan dimasukkan kedalam api membara”.
Demi cinta dan sayang seorang ibu, maka datanglah sang ibu, duduk didekat Rasulullah memandang
anaknya yang akan dimasukkan ke dalam api. Namun apa yang terjadi, baru akan diangkat tubuh Al

8 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


Qamah maka berkatalah sang ibu, “Anakku....anakku....anakku AL Qamah. Saya maafkan dosa-
dosamu kepadaku. Ketika itu pula maka Al Qamah menghembuskan nyawa yang terakhir setelah
sekian lama mengalami sekarat.
Allahu akbar 3x, wa lillahilhamd.
Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT dengan khusu’ penuh pengharapan semoga Allah
mengabulkan segala doa dan permohonan kita sekalian,
‘’Ya Allah saat-saat yang syahdu ini, kami segenap hamba-hamba-Mu, berkumpul, bersimpuh di
tempat yang suci yang penuh rakhmat, menyebut namaMu yang agung, berzikir, bermunajat
kepadaMu dengan takbir, tahmid, dan tahlil.
Duhai Rabb kami hadapkan jiwa raga yang berlumuran dosa bermandikan maksiat dihadapan-Mu,
menyatakan kekalahan kami, kami malu berharap surga-Mu, tapi kamipun tak sanggup akan siksa
neraka-Mu
Ya Allah, bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta
karenaMu dan dalam ketaatan kepadaMu, jangan Engkau biarkan setan musuhMu menggerogoti
persaudaraan kami.
Ya Allah, berilah bimbinganMu untuk pemimpin negeri ini agar dapat berlaku adil dengan syari’atMu di
atas bumi yang tidak sejengkalpun melainkan milikMu, hinakan mereka bila mereka tak menjalankan
amanah-Mu dengan baik, hukum mereka setimpal dengan perbuatan mereka.
Duhai yang Maha Menyelamatkan, Engkau pelindung kami, Engkau pemberi petunjuk orang-orang
bingung, Engkau pemberi kecukupan orang yang kekurangan, Engkau pemberi ketenangan orang
yang gelisah.
Ya Allah, yang sakit Engkau sembuhkan, yang lupa Engkau ingatkan, yang gelisah Engkau
tenteramkan, yang sedih Engkau gembirakan, yang meminta Engkau beri dan kabulkan.
Ya Rabbi, ampuni kami atas kehilafan dan dosa kami kepada anak-anak kami, suami, isteri kami,
belum mampu mendidik dan membahagiakan mereka.
Ya Allah, yang mengetahui segala keburukan aib dan maksiat, ampuni seburuk apapun masa lalu
kami, tutupi seburuk apapun aib-aib kami.
Ya Rabb, karuniakan kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta haram, makanan
haram, perbuatan haram. Izinkan jasad ini pulang kelak, jasad yang bersih.
Ya Allah, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan masa lalu kami.
Ya Allah Tuhan yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah
berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar
pada mereka, Ya Allah. Ampuni sikap tak peduli kami atas mereka, Ya Rabb. Berikan kesempatan
kami berbakti kepada mereka, Ya Allah. Lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka
mengantar kami kepada RidhaMu, Ya Allah. Dan, jika Engkau telah mengambil mereka ke
haribaanMu, maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rakhmatMu, serta pertemukan
kami dengan mereka dalam keabadian nikmat syurga tidak akan nikmat tanpa bersama kedua orang
tua kami.

9 | Mewujudkan Taqwa Paripurna


Ya Rabb, bukakan pintu hati kami agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, hanya
Engkau tahu kapan ajal menjemput kami, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak
kami, jadikan kami menjadi anak yang shaleh yang dapat memuliakan ibu bapak kami.’’

10 | Mewujudkan Taqwa Paripurna