Anda di halaman 1dari 348

Teknik Audio Video KK A

MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI A

PROFESIONAL
GAMBAR TEKNIK
Penulis:
Drs. Widiharso, M.T.
Penyunting:
Drs. Asmuniv, M. T

PEDAGOGIK
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Penulis:
Drs. Hari Amanto, M.Pd.
Perevis:
Dr. Agung Suprihatin, S.Pd, M.Si
Penyunting:
Drs. Gunawan, M.Si.

Copyright@2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik danTenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika,
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikandan Kebudayaan.
Teknik Audio Video KK A

Kata Sambutan

Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting


sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang
kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat
menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter prima. Hal tersebut
menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian Pemerintah
maupun Pemerintah Daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama
menyangkut kompetensi guru.
Pengembangan profesionalitas guru melalui Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dalam
upaya peningkatan kompetensi guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan
kompetensi guru telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk
kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015. Peta profil hasil
UKG menunjukkan kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan pedagogik dan profesional. Peta kompetensi guru
tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak
lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG
pada tahun 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun 2017 ini dengan Program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar
utama bagi peserta didik. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
bagi Guru dilaksanakan melalui tiga moda, yaitu: 1) Moda Tatap Muka, 2) Moda
Daring Murni (online), dan 3) Moda Daring Kombinasi (kombinasi antara tatap
muka dengan daring).
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (LP3TK KPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan
Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | iii


dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi
guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan
tersebut adalah modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi
Guru moda tatap muka dan moda daring untuk semua mata pelajaran dan
kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan memberikan sumbangan yang sangat besar dalam
peningkatan kualitas kompetensi guru.
Mari kita sukseskan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya.

Jakarta, Mei 2017

iv | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Kata Pengantar

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan rahmat dan karunianya sehingga Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan
Elektronika (PPPPTK BOE) Malang dapat menyelesaikan revisi modul ini dengan
baik. Revisi modul ini merupakan penyempurnaan dari modul Guru Pembelajar
yang telah disusun pada tahun 2016. Fokus revisi terletak pada pengintegrasian
Penguatan Pendidikan Karakter dan pengembangan soal.

Modul ini disusun sebagai bahan ajar program Peningkatan Keprofesian


Berkelanjutan yang diselenggarakan baik oleh PPPPTK/LPPKS/LPPPTK
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan maupun oleh instansi terkait lainnya.

Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya yang ditempuh


untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui peningkatan kompetensi
khususnya kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Melalui modul ini
diharapkan kempetensi guru dapat ditingkatkan baik melalui kegiatan
Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan moda Tatap Muka, Daring (Dalam
Jaringan), maupun Daring Kombinasi.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya


kepada semua pihak yang telah membantu sehingga modul ini dapat
diselesaikan dan kami mohon masukan, saran, dan kritik dari para pembaca
demi penyempurnaan modul ini dimasa mendatang. Selanjutnya kepada para
pembaca kami ucapkan selamat belajar, semoga mendapatkan hasil yang
maksimal. Amin.

Malang, Juli 2017


Kepala PPPPTK BOE Malang,

Dr. Sumarno
NIP 195909131985031001

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | v


MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI A

PROFESIONAL
GAMBAR TEKNIK

Penulis:
Drs. Widiharso, M.T.
Penelaah:
Drs. Asmuniv, M. T

Copyright@2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik danTenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika,
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikandan Kebudayaan.
Teknik Audio Video KK A

Daftar Isi

Kata Sambutan.................................................................................................. iii


Kata Pengantar .................................................................................................. v
Daftar Isi ............................................................................................................ ix
Daftar Gambar .................................................................................................. xii
Daftar Tabel .................................................................................................... xvii
Daftar Lampiran ............................................................................................ xviii
Pendahuluan ...................................................................................................... 1
A. Latar belakang .............................................................................................. 1
B. Tujuan Pembelajaran .................................................................................... 4
C. Peta Kompetensi .......................................................................................... 5
D. Ruang Lingkup.............................................................................................. 5
E. Saran Cara Penggunaan Modul .................................................................... 6
Kegiatan Pembelajaran 1 Standar Gambar dan Simbol berdasarkan ISO ... 13
A. Tujuan......................................................................................................... 13
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................... 13
C. Uraian Materi .............................................................................................. 13
D. Aktifitas Pembelajaran ................................................................................ 49
E. Latihan/Tugas ............................................................................................. 49
F. Lembar Kerja .............................................................................................. 56
G. TES FORMATIF ......................................................................................... 57
H. Rangkuman ................................................................................................ 58
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................. 58
J. Kunci Jawaban ........................................................................................... 60
Kegiatan Pembelajaran 2 Teknik dan Prinsip Penggunaan Alat Gambar
Manual .............................................................................................................. 73
A. Tujuan......................................................................................................... 73
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................... 73
C. Uraian Materi .............................................................................................. 73
D. Aktifitas Pembelajaran ................................................................................ 91
E. Latihan/Tugas ............................................................................................. 92

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | ix


Daftar Isi

F. TES FORMATIF.......................................................................................... 92
G. Rangkuman ................................................................................................ 93
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................. 93
I. Kunci Jawaban ........................................................................................... 95
Kegiatan Pembelajaran 3 Gambar Proyeksi................................................... 97
A. Tujuan......................................................................................................... 97
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ............................................................... 97
C. Uraian Materi .............................................................................................. 97
D. Aktifitas Pembelajaran .............................................................................. 105
E. Latihan/Tugas ........................................................................................... 105
F. Tes Formatif.............................................................................................. 107
G. Rangkuman .............................................................................................. 107
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................................ 110
I. Kunci Jawaban ......................................................................................... 112
Kegiatan Pembelajaran 4 Geometri Gambar Teknik.................................... 115
A. Tujuan....................................................................................................... 115
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................. 115
C. Uraian Materi ............................................................................................ 116
D. Aktifitas Pembelajaran .............................................................................. 134
E. Latihan / Tugas ......................................................................................... 135
F. TES FORMATIF........................................................................................ 138
G. Rangkuman .............................................................................................. 138
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................................ 139
I. Kunci Jawaban ......................................................................................... 142
Kegiatan pembelajaran 5 Gambar proyeksi isometri dan ortogonal .......... 145
A. Tujuan....................................................................................................... 145
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................. 145
C. Uraian Materi ............................................................................................ 146
D. Aktifitas Pembelajaran .............................................................................. 168
E. Latihan/Tugas ........................................................................................... 169
F. TES FORMATIF........................................................................................ 172
G. Rangkuman .............................................................................................. 173
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................................ 174
I. Kunci Jawaban ......................................................................................... 176

x | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Belajar 6 Membuat Gambar Sketsa .............................................. 179


A. Tujuan....................................................................................................... 179
B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................. 179
C. Uraian Materi ............................................................................................ 179
D. Aktifitas Pembelajaran .............................................................................. 199
E. Latihan dan Tugas .................................................................................... 200
F. Rangkuman .............................................................................................. 201
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................................ 202
H. Lembar Kerja : Membuat gambar sketsa objek di sekitar Sekolah ............ 204
I. Tes Formatif.............................................................................................. 205
J. Kunci Jawaban ......................................................................................... 205
Penutup .......................................................................................................... 207
A. Kesimpulan ............................................................................................... 207
B. Tindak Lanjut ............................................................................................ 208
C. Evaluasi .................................................................................................... 208
D. Kunci Jawaban ......................................................................................... 209
Glosarium ....................................................................................................... 217
Daftar Pustaka ............................................................................................... 221
Lampiran ........................................................................................................ 223

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xi


Daftar Isi

Daftar Gambar

Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka .............................................. 7


Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In................................. 8
Gambar 1. 1 Pillow ............................................................................................ 14
Gambar 1. 2. Menentukan ukuran kertas A0 ...................................................... 20
Gambar 1. 3. Ukuran kertas A0 dan turunannya ................................................ 21
Gambar 1. 4. Jenis-Jenis Garis. ........................................................................ 24
Gambar 1. 5. Jarak Antar Garis-Garis. ............................................................... 25
Gambar 1. 6. Garis Sejajar yang Saling Berpotongan ........................................ 25
Gambar 1. 7. Garis yang Memotong pada Sebuah Titik ..................................... 26
Gambar 1. 8. Gambar Garis Gores dan Garis Bertitik ........................................ 26
Gambar 1. 9. Garis yang Berimpit ...................................................................... 29
Gambar 1. 10. Huruf dan angka tegak ............................................................... 29
Gambar 1. 11. Huruf dan angka miring .............................................................. 30
Gambar 1. 12. Jarak antar garis ........................................................................ 32
Gambar 1. 13. Jenis huruf technic bolt ............................................................... 34
Gambar 1. 14. ISOCT SHX miring ..................................................................... 35
Gambar 1. 15. ISOTEUR miring ........................................................................ 35
Gambar 1. 16. Kepala gambar (etiket) ............................................................... 37
Gambar 1. 17. Diagram Blok Mixer 2 Kanal ....................................................... 39
Gambar 1. 18. Diagram rangkaian penguat kelas D .......................................... 39
Gambar 1. 19. Chart Tabel ................................................................................ 40
Gambar 1. 20. Urutan waktu chart dan tabel ...................................................... 40
Gambar 2. 1. Busur Derajat ............................................................................... 74
Gambar 2. 2. Mengukur Sudut Dengan Busur Derajat ....................................... 75
Gambar 2. 3. Kertas Gambar ............................................................................ 76
Gambar 2. 4. Pensil Batang ............................................................................... 76
Gambar 2. 5. Pensil Mekanik ............................................................................. 77
Gambar 2. 6. Kekerasan Pensil Batang dan Hasil Tulisan ................................ 78
Gambar 2. 7. Cara Penggunaan Pensil Batang ................................................. 79
Gambar 2. 8. Penggaris T .................................................................................. 80

xii | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 9. Posisi penempatan penggaris T pada meja gambar ..................... 80


Gambar 2. 10. Penggaris Siku ........................................................................... 81
Gambar 2. 11. Penggunaan penggaris siku dan T ............................................. 81
Gambar 2. 12. Bagian-bagian Jangka................................................................ 82
Gambar 2. 13. Penggunaan Jangka .................................................................. 82
Gambar 2. 14. Konstruksi Jangka ...................................................................... 82
Gambar 2. 15. Penggunaan Jangka dengan Tinta ............................................. 83
Gambar 2. 16. Jangka Orleon ............................................................................ 84
Gambar 2. 17. Mal huruf dan angka................................................................... 85
Gambar 2. 18. Mal lengkung .............................................................................. 85
Gambar 2. 19. Mal lingkaran .............................................................................. 86
Gambar 2. 20. Mal bentuk ................................................................................. 86
Gambar 2. 21. Mal ellips .................................................................................... 87
Gambar 2. 22. Rapido ....................................................................................... 87
Gambar 2. 23. Bagian-bagian rapido ................................................................. 88
Gambar 2. 24. Meja gambar dengan mesin gambar tipe Kereta ........................ 89
Gambar 2. 25. Mesin gambar ............................................................................ 90
Gambar 2. 26. Handle mesin gambar tipe Pita .................................................. 91
Gambar 3. 1. Jenis-jenis proyeksi ...................................................................... 98
Gambar 3. 2. Proyeksi pictorial .......................................................................... 99
Gambar 3. 3. Proyeksi aksonometri ................................................................... 99
Gambar 3. 4. Perbandingan beberapa jenis proyeksi pictorial ......................... 100
Gambar 3. 5. Proyeksi isometric ...................................................................... 101
Gambar 3. 6. Proyeksi dimetri.......................................................................... 101
Gambar 3. 7. Proyeksi trimetric........................................................................ 101
Gambar 3. 8. Proyeksi miring........................................................................... 102
Gambar 3. 9. Proyeksi perspektif ..................................................................... 102
Gambar 3. 10. Proyeksi orthogonal.................................................................. 103
Gambar 3. 11. Proyeksi Eropa ......................................................................... 104
Gambar 3. 12. Proyeksi Amerika ..................................................................... 104
Gambar 4. 1. Membuat garis tegak lurus ......................................................... 117
Gambar 4. 2. Menggambar garis miring cara pertama ..................................... 117
Gambar 4. 3. Menggambar garis miring cara kedua ........................................ 117
Gambar 4. 4. Membuat garis lengkung dengan jangka .................................... 118

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xiii


Daftar Isi

Gambar 4. 5. Membuat garis lengkung dengan mal ......................................... 119


Gambar 4. 6. Membagi garis sama panjang .................................................... 120
Gambar 4. 7. Membagi garis sama panjang .................................................... 120
Gambar 4. 8. Menggabung beberapa garis...................................................... 121
Gambar 4. 9. Menggabung garis lurus dan lengkung ....................................... 121
Gambar 4. 10. Memindahkan sudut ................................................................. 122
Gambar 4. 11. Membagi sudut sama besar ..................................................... 122
Gambar 4. 12. Membagi sudut siku-siku menjadi tiga sama besar................... 123
Gambar 4. 13. Menggambar segitiga cara pertama ......................................... 124
Gambar 4. 14. Menggambar segitiga cara kedua ............................................ 124
Gambar 4. 15. Menggambar segitiga cara ketiga............................................. 125
Gambar 4. 16. Menggambar Bujur Sangkar ..................................................... 126
Gambar 4. 17. Segi lima beraturan .................................................................. 126
Gambar 4. 18. Segi enam beraturan ................................................................ 127
Gambar 4. 19. Segi tujuh beraturan ................................................................. 128
Gambar 4. 20. Segi delapan beraturan ............................................................ 128
Gambar 4. 21. Segi sembilan beraturan .......................................................... 129
Gambar 4. 22. Segi sepuluh beraturan ............................................................ 130
Gambar 4. 23. Menggambar lingkaran ............................................................. 131
Gambar 4. 24. Membagi keliling lingkaran sama besar .................................... 132
Gambar 4. 25. Menggambar garis singgung lingkaran ..................................... 132
Gambar 4. 26. Menggambar Elips ................................................................... 133
Gambar 4. 27. Menggambar Bulat Telur ......................................................... 134
Gambar 5. 1. Proyeksi isometri ........................................................................ 146
Gambar 5. 2a. sudut pada proyeksi isometric .................................................. 147
Gambar 5. 2b. Gambar 5.2b. Ciri proyeksi isometric ………………………………….147
Gambar 5. 3. Proyeksi isometri dengan kedudukan normal ............................. 148
Gambar 5. 4. Isometri kedudukan terbalik (cara 1) .......................................... 148
Gambar 5. 5. Isometri kedudukan terbalik (cara 2) .......................................... 149
Gambar 5. 6. Proyeksi isometri kedudukan horizontal (cara 1) ........................ 149
Gambar 5. 7. Proyeksi isometri kedudukan horizontal (cara 2) ........................ 149
Gambar 5. 8. Proyeksi ortogonal dari sebuah titik ............................................ 150
Gambar 5. 9. Proyeksi ortogonal dari sebuah garis ......................................... 150
Gambar 5. 10. Proyeksi ortogonal dari sebuah bidang..................................... 151

xiv | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 5. 11. Proyeksi ortogonal dari sebuah benda ..................................... 151


Gambar 5. 12. Jenis-jenis pandangan ............................................................. 152
Gambar 5. 13. Bidang-bidang proyeksi ............................................................ 152
Gambar 5. 14. Penempatan pandangan pada proyeksi Amerika ..................... 153
Gambar 5. 15. Pandangan sebuah bentuk...................................................... 153
Gambar 5. 16. Gambar proyeksi Amerika dari gambar sebelumnya ................ 154
Gambar 5. 17. Titik di kuadran I ....................................................................... 154
Gambar 5. 18. Bukaan proyeksi titik ................................................................ 155
Gambar 5. 19. Proyeksi titik dengan bukaan bidang ........................................ 155
Gambar 5. 20. Penempatan pandangan proyeksi Eropa.................................. 156
Gambar 5. 21. Pandangan tanpa garis bantu .................................................. 156
Gambar 5. 22. Kubus di kuadran I ................................................................... 156
Gambar 5. 23. Simbol proyeksi Eropa (a) dan Amerika (b) .............................. 157
Gambar 5. 24. Standar ukuran panah .............................................................. 157
Gambar 5. 25. Penunjukan ukuran .................................................................. 158
Gambar 5. 26. Penempatan pandangan proyeksi Eropa.................................. 158
Gambar 5. 27. Penempatan pandangan proyeksi Amerika .............................. 159
Gambar 5. 28. Gambar proyeksi dengan satu pandangan ............................... 159
Gambar 5. 29. Pandangan poros bujursangkar ............................................... 160
Gambar 5. 30. Proyeksi piktorial poros bulat.................................................... 160
Gambar 5. 31. Proyeksi piktorial poros bujursangkar ....................................... 160
Gambar 5. 32. Pandangan atas dan depan sebuah poros ............................... 161
Gambar 5. 33. Proyeksi piktorial 3 buah poros ................................................ 161
Gambar 5. 34. Pemilihan 2 pandangan utama ................................................. 161
Gambar 5. 35. Dua pandangan yang belum maksimum .................................. 162
Gambar 5. 36. Benda dengan tiga pandangan ................................................ 162
Gambar 5. 37. Proyeksi piktorial dari 3 pandangan .......................................... 162
Gambar 5. 38. Mengubah proyeksi dimetri ke proyeksi Amerika...................... 163
Gambar 5. 39. Mengubah proyeksi isometri ke proyeksi Amerika .................... 164
Gambar 5. 40. Mengubah proyeksi miring ke proyeksi Eropa .......................... 165
Gambar 5. 41. Mengubah proyeksi dimetri ke proyeksi Eropa ......................... 166
Gambar 5. 42. Mengubah proyeksi isometri ke proyeksi Eropa ....................... 167
Gambar 6. 1. Menggambar garis lurus mendatar ............................................. 180
Gambar 6. 2. Membuat garis lurus tegak ......................................................... 181

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xv


Daftar Isi

Gambar 6. 3a. Langkah 1 ............................................................................... 181


Gambar 6.3b Langkah 2 ……………………………………………………………..162
Gambar 6.3c Langkah 3 ……………………………………………………………..163
Gambar 6.3d Langkah 4 ……………………………………………………………..163
Gambar 6.3e Langkah 5 ……………………………………………………………..163
Gambar 6. 4. Langkah 1 sketsa elips ............................................................... 183
Gambar 6. 5. Langkah 2 sketsa elips .............................................................. 183
Gambar 6. 6. Langkah 3 sketsa elips ............................................................... 183
Gambar 6. 7. Langkah 4 sketsa elips ............................................................... 183
Gambar 6. 8. Urutan membuat gambar elips perspektif isometric .................... 184
Gambar 6. 9. Contoh sketsa proyeksi orthogonal ............................................. 184
Gambar 6. 10. Sketsa perspektif ..................................................................... 185
Gambar 6. 11. Mensketsa pada kertas bergaris ............................................... 185
Gambar 6. 12. Sketsa perspektif isometri ......................................................... 185
Gambar 6. 13. Sketsa klem C dalam bentuk prespektif isometri ...................... 186
Gambar 6. 14. Sketsa perspektif dengan titik lenyap ........................................ 186
Gambar 6. 15. Sketsa perspektif dengan satu titik lenyap di luar ruang gambar186
Gambar 6. 16. Sketsa perspektif dengan dua titik lenyap ................................ 187
Gambar 6. 17. Sketsa perspektif dengan dua titik lenyap di luar ruang gambar187
Gambar 6. 18. toleransi bentuk ........................................................................ 188
Gambar 6. 19. toleransi Posisi ......................................................................... 189
Gambar 6. 20. Bidang sebagai Patokan ........................................................... 189
Gambar 6. 21. garis tengah (sumbu) ................................................................ 189
Gambar 6. 22. ketepatan ukuran ...................................................................... 190
Gambar 6. 23. penerapan dari angka dalam kotak ........................................... 190
Gambar 6. 24. Bagian yang ditoleransi............................................................. 191
Gambar 6. 25 ................................................................................................... 191
Gambar 6. 26. contoh kasus ........................................................................... 192
Gambar 6. 27. istilah toleransi .......................................................................... 194
Gambar 6. 28a. Sistem suaian dengan berbasis poros (es=0) ........................ 196
Gambar 6. 28b. Sistem suaian dengan berbasis poros (es=0) ........................ 196
Gambar 6. 29. toleransi bilateral dan toleransi unilateral .................................. 197
Gambar 6. 30. toleransi bilateral dan toleransi unilateral .................................. 199

xvi | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Daftar Tabel

Tabel 1 Peta Kompetensi ....................................................................... 5


Tabel 2 Daftar Lembar Kerja Modul ..................................................... 10
Tabel 1. 1. Standar ukuran kertas .......................................................... 22
Tabel 1. 2. Lebar Garis Menurut Standar CAD ....................................... 22
Tabel 1. 3. Jenis-jenis garis dan penggunaannya (ISO R. 128) .............. 26
Tabel 1. 4. Perbandingan standar huruf dan angka ................................ 30
Tabel 1. 5. Penerapan huruf dan angka standar ..................................... 33
Tabel 1. 6. Skala pada gambar teknik .................................................... 37
Tabel 1. 7. Simbol Gambar standart Internasional .................................. 41
Tabel 2. 1. Kekerasan pensil .................................................................. 78
Tabel 2. 2. Jenis-jenis mesin gambar ..................................................... 90
Tabel 6. 1. Lambang toleransi Geometri ............................................... 193
Tabel 6. 2. Suaian (limite and fite) menggunakan basis lubang ............ 196

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xvii


Daftar Isi

Daftar Lampiran

Lampiran 1. International System of Units (SI)—Metric Units


193
Lampiran 2 Simbol komponen Listrik dan Elektronika Standard Amerika
194
Lampiran 3 Skema Regulator Power Supply dengan Zener
195

xviii | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Pendahuluan

A. Latar belakang

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru sebagai salah


satu strategi pembinaan guru dan tenaga kependidikan diharapkan dapat
menjamin guru dan tenaga kependidikan mampu secara terus menerus
memelihara, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru akan mengurangi kesenjangan antara
kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan
profesional yang dipersyaratkan.
Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru baik secara mandiri maupun kelompok.
Khusus untuk Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru
dalam bentuk diklat dilakukan oleh lembaga pelatihan sesuai dengan jenis
kegiatan dan kebutuhan guru. Penyelenggaraan diklat Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK
KPTK atau penyedia layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut
memerlukan modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat. Modul
merupakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh
peserta diklat berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi
yang disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai tingkatan
kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Modul diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru ini
merupakan substansi materi pelatihan yang dikemas dalam suatu unit program
pembelajaran yang terencana guna membantu pencapaian peningkatan
kompetensi yang didesain dalam bentuk printed materials (bahan tercetak).
Modul Diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru ini
berbeda dengan handout, buku teks, atau bahan tertulis lainnya yang sering
digunakan dalam kegiatan pelatihan guru, seperti diktat, makalah, atau ringkasan
materi/bahan sajian pelatihan. Modul Diklat Program Pengembangan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 1


Pendahuluan

Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru pada intinya merupakan model bahan


belajar (learning material) yang menuntut peserta pelatihan untuk belajar lebih
mandiri dan aktif.
Guru perlu meningkatkan kompetensi profesionalismenya terkait dengan disiplin
ilmu elektronika, khususnya pada topik penerapan rangkaian elektronika para
guru harus terus dimantapkan, ditingkatkan, dan dikembangkan. Pemantapan
tersebut tidak hanya terkait pengetahuan konseptual dan prosedural tetapi juga
pemantapan kemampuan guru dalam menyelesaikan proses pembelajaran
penerapan rangkaian elektronika di dalam kelas dan masalah dunia nyata atau
kehidupan sehari-hari dengan tidak meninggalkan penguatan pendidikan
karakter (PPK). Hal itu tertuang dalam Permendiknas No 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kompetensi Guru pada Kompetensi Profesional pada pasal 1 ayat (1)
menyatakan bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik
dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional.

Lebih lanjut, dalam salah satu butir Nawacita Presiden Joko Widodo adalah
memperkuat pendidikan karakter bangsa dengan melakukan Gerakan Nasional
Revolusi Mental (GNRM) yang akan diterapkan di seluruh sendi kehidupan
berbangsa dan bernegara, termasuk di dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu,
Pendidikan karakter perlu digaungkan dan diperkuat menjadi gerakan nasional
pendidikan karakter bangsa melalui program nasional Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) dalam lembaga pendidikan, melalui harmonisasi olah hati (etik),
olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan
dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan
masyarakat yang merupakan bagian dari GNRM. Bagian-bagian itu tidak boleh
dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.

Implementasi PPK dalam modul ini lebih ditekankan pada aktivitas pembelajaran
yang berupa pemaduan di dalam kelas berupa penambahan dan pengintensifan
kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Dalam
rangka mendukung kebijakan gerakan PPK, modul ini mengintegrasikan lima
nilai utama karakter bangsa, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong,
dan integritas. Kelima nilai utama tersebut terintegrasi pada kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang ada pada modul. Adapun sub nilai religius antara lain: cinta
damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh

2 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan,
antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak,
mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih. Sedangkan sub nilai
nasionalis meliputi: apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya
bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga
lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan
agama. Sub nilai mandiri antara lain: etos kerja (kerja keras), tangguh tahan
banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar
sepanjang hayat. Sub nilai gotong royong antara lain: menghargai, kerja sama,
inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat,
tolongmenolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap
kerelawanan. Terakhir, sub nilai integritas meliputi: kejujuran, cinta pada
kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab,
keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang
disabilitas).
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka modul ini ditulis dalam rangka
memfasilitasi para guru SMK paket keahlian teknik elektronika audio video untuk
menjadi guru pembelajar sepanjang hayat dan dapat meningkatkan kompetensi
profesionalnya secara berkelanjutan dalam mengkaji materi penerapan
rangkaian elektronika. Dalam modul ini akan dibahas penerapan rangkaian
elektronika disertai contoh aplikasinya dengan mengimplementasikan PPK dalam
aktivitas pembelajaran. Berbagai konsep, prinsip, dan prosedur serta aktivitas
belajar dan latihan ditulis sebagai bentuk pembinaan bagi para guru dan tenaga
kependidikan. Pembinaan ini penting dilakukan untuk mengurangi kesenjangan
antara kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan
profesional yang disyaratkan. Untuk itu, sudah seharusnya para guru
berkesadaran untuk melakukan upaya dalam meningkatkan keprofesionalannya
secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Setelah mempelajari modul ini, guru diharapkan dapat meningkatkan kompetensi
pedagogik dan professional secara mandiri. Selain itu, guru juga diharapkan
mampu menguatkan karakter para peserta didik melalui tindakan dan tutur
katanya selama proses pembelajaran berdampingan dengan pengembangan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 3


Pendahuluan

intelektualnya. Pada dasarnya pendidikan di Indonesia bertujuan untuk


mengembangkan potensi-potensi intelektual dan karakter peserta didik.

B. Tujuan Pembelajaran

Modul program Guru Pembelajar ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta


dengan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dipersyaratkan pada
kegiatan pembelajaran. Sikap, pengetahuan dan keterampilan tersebut
merupakan kompetensi-kompetensi profesional yang mengacu pada Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia. Sehingga setelah mengikuti pembelajaran ini
peserta diharapkan memiliki kompetensi yang meningkat dibanding sebelumnya,
khususnya terkait hal-hal sebagai berikut:
1. menguraikan gambar simbol berdasarkan standar ISO,
2. mengidentifikasi peralatan gambar sesuai jenis dan fungsinya,
3. memeriksa hukum-hukum gambar geometris, proyeksi, potongan sesuai
standar
4. memeriksa ukuran dan toleransi gambar sesuai standar,
5. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard
gambar,
6. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan peralatan
gambar,
7. merancang proyek gambar sesuai standar,
8. mewujudkan rancangan gambar proyek sesuai standar.

4 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

C. Peta Kompetensi

Tabel 1 Peta Kompetensi


Standar Kompetensi Guru
Kompetensi Indikator Esensial/ Indikator
No Kompetensi Kompetensi Guru
Utama Pencapaian Kompetensi (IPK)
Inti Guru Paket Keahlian
1.1.1. Menganalisis gambar
simbol berdasarkan standar ISO
dan penggunaan peralatan
standar gambar
1.1.2. Mengevaluasi hukum-
Menguasai
hukum gambar geometris,
materi, struktur,
Menganalisis gambar proyeksi, potongan, serta ukuran
konsep dan pola
simbol berdasarkan dan toleransi gambar
pikir keilmuan
Profesional standar ISO dan 1.1.3. Mengevaluasi
yang
penggunaan peralatan penggunaan standard dan alat
mendukung
standar gambar gambar
mata pelajaran
1.1.4. Mengkreasi gambar
yang diampu
potongan, konstruksi, dan
gambar kerja serta sketsa
Mengkreasi gambar potongan,
konstruksi, dan gambar kerja
serta sketsa

D. Ruang Lingkup

Modul GAMBAR TEKNIK merupakan modul praktikum yang berisi standarisasi


gambar teknik, jenis-jenis peralatan yang dipergunakan dalam gambar teknik,
Dalam modul ini terdapat 6 (enam) kegiatan belajar yang masing-masing
memberikan kompetensi di bidang standarisasi gambar teknik, yang berisi
berbagai standar yang harus diketahui oleh peserta diklat dalam menggambar
teknik, peralatan gambar teknik yang berisi berbagai peralatan yang digunakan
dalam menggambar teknik. Ke enam kegiatan belajar yang dimaksudkan
meliputi:

1. kegiatan pembelajaran 1 bertujuan untuk memfasilitasi peserta


mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 5


Pendahuluan

dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang standar Gambar


dan Simbol berdasarkan ISO,
2. kegiatan pembelajaran 2 bertujuan untuk memfasilitasi peserta
mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang teknik dan Prinsip
Penggunaan Alat Gambar Manual,
3. kegiatan pembelajaran 3 bertujuan untuk memfasilitasi peserta
mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang mengenal
proyeksi,
4. kegiatan pembelajaran 4 bertujuan untuk memfasilitasi peserta
mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang geometri gambar
teknik,
5. kegiatan pembelajaran 4 bertujuan untuk memfasilitasi peserta
mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang gambar Proyeksi
Isometri dan Ortogonal
6. kegiatan pembelajaran 4 bertujuan untuk memfasilitasi peserta
mampu menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran tentang gambar sketsa

E. Saran Cara Penggunaan Modul

Secara umum, cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran


disesuaikan dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Modul ini dapat
digunakan dalam kegiatan pembelajaran guru, baik untuk moda tatap muka
dengan model tatap muka penuh maupun model tatap muka In-On-In. Alur model
pembelajaran secara umum dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

6 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka

1. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka In-On-In


Kegiatan diklat tatap muka dengan model In-On-In adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru yang menggunakan tiga kegiatan utama, yaitu
In Service Learning 1 (In-1), On the Job Learning (On), dan In Service
Learning 2 (In-2). Secara umum, kegiatan pembelajarannya tergambar pada
alur berikut ini.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 7


Pendahuluan

Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In


Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model In-On-In dapat dijelaskan
sebagai berikut:

a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan disampaikan bertepatan pada saat pelaksanaan
In service learning 1 fasilitator memberi kesempatan kepada peserta diklat
untuk mempelajari:
• latar belakang yang memuat gambaran materi
• tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
• kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul
• ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
• langkah-langkah penggunaan modul.

b. In Service Learning 1 (IN-1)


• Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi A. Gambar
Teknik, fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai peserta
untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai dengan

8 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta dapat


mempelajari materi secara individual maupun berkelompok dan dapat
mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan
dipandu oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode yang secara
langsung berinteraksi di kelas pelatihan, baik itu dengan menggunakan
metode berfikir reflektif, diskusi, brainstorming, simulasi, maupun studi
kasus yang kesemuanya dapat melalui Lembar Kerja yang telah
disusun sesuai dengan kegiatan pada IN1.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mempersiapkan rencana pembelajaran
pada on the job learning.

c. On the Job Learning (ON)


• Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi A.
Gambar Teknik, guru sebagai peserta akan mempelajari materi yang
telah diuraikan pada in service learning 1 (IN1). Guru sebagai peserta
dapat membuka dan mempelajari kembali materi sebagai bahan dalam
mengerjakan tugas-tugas yang ditagihkan kepada peserta.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran di
sekolah maupun di kelompok kerja berbasis pada rencana yang telah
disusun pada IN1 dan sesuai dengan rambu-rambu atau instruksi yang
tertera pada modul. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode praktik,
eksperimen, sosialisasi, implementasi, peer discussion yang secara
langsung di dilakukan di sekolah maupun kelompok kerja melalui
tagihan berupa Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan
kegiatan pada ON.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 9


Pendahuluan

Pada aktivitas pembelajaran materi pada ON, peserta secara aktif


menggali informasi, mengumpulkan dan mengolah data dengan
melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tagihan pada on the job
learning.

d. In Service Learning 2 (IN-2)


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi produk-produk tagihan
ON yang akan di konfirmasi oleh fasilitator dan dibahas bersama.

e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

2. Lembar Kerja
Modul pembinaan karir guru kelompok komptetansi A. Gambar Teknik terdiri
dari beberapa kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat aktivitas-
aktivitas pembelajaran sebagai pendalaman dan penguatan pemahaman
materi yang dipelajari.
Modul ini mempersiapkan lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan oleh
peserta, lembar kerja tersebut dapat terlihat pada table berikut.
Tabel 2 Daftar Lembar Kerja Modul
No Kode LK Nama LK Keterangan
1. LK.01. Lengkapilah nama komponen TM, IN1
dan keterangan pada tabel
sesuai Gambar standart
Internasional
2. LK.02. Menggambar Rangkaian TM, IN1
Regulator Power Supply

Keterangan.

TM : Digunakan pada Tatap Muka Penuh


IN1 : Digunakan pada In service learning 1

10 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

ON : Digunakan pada on the job learning

Untuk membantu peserta diklat dalam menguasai modul secara optimal, maka
hendaklah melakukan evaluasi secara mandiri dan jujur serta mencocokkan
dengan kuncinya apabila sudah selesai. Apabila nilai latihan mencapai lebih dari
75%, maka peserta diklat dapat melanjutkan ke kegiatan pembelajaran
berikutnya. Apabila nilai latihan belum mencapai 75%, maka pelajari kembali
materinya dengan penuh semangat dan tidak mudah putus asa. Jika masih
menemui kesulitan diskusikan dengan teman sejawat. Setelah itu, peserta diklat
kerjakan kembali latihannya secara mandiri.
Selamat belajar, semoga kesuksesan selalu menyertai Anda.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 11


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Pembelajaran 1
Standar Gambar dan Simbol berdasarkan ISO

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi Standar Gambar dan Simbol


berdasarkan ISO ini, peserta diharapkan dapat:
1. mengetahui macam – macam kertas gambar dan cara menentukan
ukurannya,
2. mengetahui macam – macam huruf dan angka sesuai standar ISO,
3. mengetahui macam – macam symbol listrik sesuai standar ISO,
4. mengetahui macam – macam symbol elektronika sesuai standar ISO,
5. mampu menerapkan penunjukan ukuran pada gambar teknik.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. membuat ukuran macam-macam kertas gambar dan cara menentukan


ukurannya.
2. membuat gambar macam – macam huruf dan angka sesuai standar
ISO.
3. membuat gambar macam – macam symbol listrik sesuai standar
ISO,
4. membuat macam – macam symbol elektronika sesuai standar ISO,
5. mengimplementasikan ukuran pada gambar teknik pada kertas
gambar.

C. Uraian Materi

Gambar teknik dijadikan sarana untuk mengkomunikasikan desain teknik. Terkait


dengantujuan ini maka gambar teknik haruslah mempunyai metoda yang mudah
dikenal, mudah dipelajari, dan haruslah dimengerti oleh semua orang, secara
internasional. Sehingga dalam menggambar diperlukan adanya standar yang

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 13


Kegiatan Pembelajaran 1

diacu, dan standarnya haruslah merupakan standar internasional, standard yang


dimaksud adalah standard organisasi internasional atau ISO, karena gambar
yang dimaksud oleh seorang pembuat gambar disuatu negara harus dipahami
dengan sama oleh orang lain yang berada dibelahan bumi lain, itulah artinya
standar.

TC10 merupakan bagian dari struktur organisasi ISO yang membidangi


pengaturan tentang gambar teknik, pada bagian ini standard atau tata cara
menggambar diatur dan ditentukan. Pengaturan dimulai dari dasar-dasar
umum untuk gambar teknik, pengaturan huruf-huruf ISO (ISO 3098), ukuran
dan tata letak kertas gambar (ISO 5455), penentuan toleransi geometric
(ISO/R 1661) sampai dengan contoh-contoh praktis dari penunjukkan pada
gambar (ISO/R 1661).

Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari pengirim ke


penerima. Penyampaian informasi tidak hanya dapat dilakukan secara lisan
tetapi juga bisa melalui gambar. Komunikasi secara lisan memiliki
keterbatasan dalam menjelaskan sebuah bentuk. Walaupun pemberi
informasi memiliki kemampuan menjelaskan yang baik namun penerima
informasi belum tentu memiliki gambaran yang sama. Oleh karena itu,
media gambar dapat dijadikan salah satu sarana penyampaian informasi.

Gambar 1. 1 Pillow
Coba anda jelaskan bentuk di atas secara rinci kepada salah seorang
teman dan tugaskan dia untuk membuat gambar sketsanya berdasarkan
penjelasan anda.

14 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Apakah gambar sketsa yang dibuat oleh teman anda mendekati bentuk dan
ukuran objek sebenarnya? Kesimpulannya, bahasa lisan sangat terbatas
dalam menjelaskan ukuran, bentuk dan fungsi secara rinci sesuai dengan
aslinya.
Penyampaian ide, pemikiran atau rencana dari suatu konstruksi kerja
kepada orang lain disebut dengan gambar teknik. Bila benda kerja yang
diinformasikan dalam bentuk sederhana maka ide atau konstruksi benda
tersebut akan mudah difahami namun bagimana bila konstruksinya ternyata
rumit?
Untuk memudahkan hal tersebut dibutuhkan suatu standar (ketetapan)
sehingga setiap orang yang membuat atau membaca gambar teknik memiliki
persepsi yang sama. Aturan gambar dibuat atas persetujuan bersama antar
orang-orang yang bersangkutan. Peraturan tersebut dijadikan acuan di lingkup
mana orang bekerja.

Standar yang digunakan dalam perusahaan disebut dengan standarisasi


perusahaan/industri, untuk lingkup negara disebut dengan standarisasi
nasional dan untuk kerjasama antar industri secara internasional disebut
dengan standarisasi internasional.

Standarisasi gambar teknik berfungsi sebagai berikut:


1) memberikan kepastian sesuai dan tidak sesuai kepada pembuat dan
pembaca gambar dalam menggunakan aturan-aturan gambar menurut
standar.
2) menyeragamkan penafsiran terhadap cara-cara penunjukkan dan
penggunaan simbol-simbol yang dinyatakan dalam gambar sesuai
dengan penafsiran standar.
3) memudahkan komunikasi teknis antar perancang/pembuat gambar
dengan pengguna gambar.
4) memudahkan kerjasama antara perusahaan-perusahaan dalam
memproduksi benda-benda teknik dalam jumlah banyak yang harus
diselesaikan dalam waktu yang serempak.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 15


Kegiatan Pembelajaran 1

5) memperlancar produksi dan pemasaran suku cadang alat-alat industri.

Standarisasi dalam gambar teknik yang telah ditetapkan di beberapa


negara industri maju adalah:
1) JIS (Japanese Industrial Standards) merupakan standar industrI di
negara Jepang.
2) NNI (The Netherlands Standardization Institute), merupakan
standarisasi di negara Belanda.
3) DIN (Deutsches Institut für Normung), standarisasi di negara Jerman.
4) ANSI (American National Standard Institute), standarisasi di negara
Amerika.
Di Indonesia juga terdapat standar. Dahulu namanya Standar Industri
Indonesia (SII). Sejak terbit peraturan pemerintah Nomor 15 Tahun 1991
tentang Standar Nasional Indonesia, maka nama SII diganti dengan SNI
(Standar Nasional Indonesia). SNI dikelola oleh Dewan Standarisasi
Nasional (DSN) yang sekarang berkedudukan di Jakarta.
Dengan meningkatnya kerjasama di tingkat internasional, maka perusahaan/
industri diharuskan untuk menggunakan standar yang bersifat internasional.
Untuk itu dibentuk badan standar industri yang diberi nama International
Organization for Standardization (ISO). ISO merupakan badan non pemerintah
yang didirikan pada tanggal 14 Oktober 1946. Tujuan dibentuknya ISO
adalah untuk menyatukan pengertian teknik antar bangsa. Bidang kerja ISO
yang menangani standar gambar teknik disebut ISO/TC 10 (gambar teknik),
yang bertugas menstandarkan gambar-gambar teknik agar dapat diterima di
dunia internasional sebagai bahasa teknik.
Karena Indonesia merupakan salah satu anggota ISO, maka gambar teknik
yang dibuat sebagai salah satu media penyampaian informasi juga telah
mengikuti standar gambar yang ditetapkan ISO. Sebagai contoh, di dalam
dunia industri pembuatan etiket gambar yang sesuai dengan ISO adalah,
kepala gambar ditempatkan dalam ruang gambar di sudut kanan bawah.
Keterangan yang dicantumkan dalam kepala gambar harus merupakan
keterangan yang secara umum menunjukkan isi gambar, yang meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1) nomor gambar,

16 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2) judul/nama gambar,
3) nama instansi/perusahaan,
4) skala,
5) nama yang menggambar, yang memeriksa dan yang mengesahkan
atau menyetujui,
6) cara proyeksi yang digunakan,
7) keterangan lainnya sesuai keperluan.

1. Fungsi Gambar Teknik

Gambar teknik merupakan alat untuk menyatakan ide atau gagasan ahli teknik.
Oleh karena itu gambar teknik sering juga disebut sebagai /bahasa teknik/ atau
bahasa bagi kalangan ahli-ahli teknik. Sebagai suatu bahasa, gambar teknik
harus dapat meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan obyektif.
Dalam hal bahasa, dikenal adanya aturan-aturan berbahasa yang disebut tata
bahasa. Dalam gambar teknik pun ada aturan-aturan menggambar yang disebut
standar gambar. Dengan demikian standar gambar dapat juga disebut sebagai
tata bahasa teknik yang akan mengatur cara penyampaian keterangan-
keterangan melalui gambar agar dapat dijadikan sebagai alat komunikasi seperti
halnya bahasa lisan atau bahasa tulis.
Keterangan-keterangan dalam gambar yang tidak dapat dinyatakan dengan
bahasa lisan harus diwakili oleh lambang-lambang. Karena itu, kualitas
keterangan yang dapat diberikan dalam gambar tergantung dari
keterampilan juru gambar (drafter). Sebagai juru gambar sangat penting untuk
memberikan gambar yang tepat dan mempertimbangkan kemampuan
pembacanya. Untuk pembaca, yang terpenting adalah mengumpulkan
keterangan sebanyak yang dapat dibacanya dengan teliti.
Gambar teknik memiliki 3 fungsi, yaitu: sarana penyampaian informasi,
sarana penyimpanan informasi dan sebagai konsep.

a. Sarana Penyampaian Informasi

Gambar teknik mempunyai fungsi meneruskan informasi dari juru gambar


kepada orang-orang yang bersangkutan yang membutuhkan gambar tersebut,
seperti: perencana proses, operator, pemeriksa, perakit dan sebagainya. Orang-

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 17


Kegiatan Pembelajaran 1

orang yang dimaksudkan bukan saja orang-orang dalam satu Industri, tetapi
juga orang-orang di Industri lain yang merupakan pihak sub kontrak
(rekanan) ataupun orang-orang luar yang berhubungan dengan rancangan
tersebut.

b. Sarana Penyimpanan Data

Sarana penyimpanan data dalam bentuk Informasi Gambar yang berupa data
teknis yang sangat penting untuk perencanaan yang akan datang. Untuk
membuat satu unit alat (misalnya mesin) memerlukan beratus-ratus bahkan
beribu-ribu gambar yang harus dibuat. Karena itu gambar harus diberi
nomor (kodifikasi nomor urut). Nomor urut dibuat untuk memudahkan dalam
mencari data/informasi saat merakit atau mereparasi suatu suku cadang.
Selain diberi nomor, gambar perlu juga disimpan dan diawetkan sebagai
informasi untuk rencana-rencana baru. Penyimpanan gambar ini dapat
dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1) Disimpan dengan dibendel dengan cara gambar dikumpulkan,


gambar yang mempunyai ukuran besar dilipat sesuai dengan aturan
melipat gambar, diurut sesuai dengan pengelompokannya
kemudian dibendel dalam satu file.
2) Untuk menghemat tempat, gambar difoto dengan skala
diperkecil dan klisenya disimpan pada kartu berlubang untuk
memudahkan mencari gambar yang diperlukan.
3) Saat ini gambar dapat dibuat dengan komputer, maka penyimpanan
gambar pun dapat disimpan dalam media CD atau hard disk.
c. Konsep

Dalam perencanaan, konsep abstrak yang melintas dalam pikiran


diwujudkan dalam bentuk gambar melalui proses. Awalnya konsep (ide)
dianalisa lalu diwujudkan dalam bentuk gambar untuk kemudian diteliti dan
dievaluasi.
Proses ini diulang-ulang sehingga didapatkan gambar yang sempurna.
Dengan demikian gambar tidak hanya melukiskan gambar, tetapi berfungsi
juga sebagai peningkat daya pikir untuk perencana. Oleh karena itu seorang

18 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

lulusan teknik tanpa kemampuan menggambar akan memiliki kekurangan


dalam cara menyampaikan atau menerangkan sebuah ide.

2. Sifat Gambar Teknik

Sifat-sifat gambar dilihat dari tujuan pembuatannya dapat diuraikan sebagai


berikut:
a. Gambar Internasional

Pada awalnya standar gambar hanya berlaku di sebuah perusahaan.


Antar perusahaan memiliki standar yang berbeda. Seiring dengan
meluasnya perdagangan dan hubungan antar negara maka dibutuhkan
standar yang sama secara internasional. Pada akhirnya aturan dan
simbol-simbol diseragamkan untuk memperoleh kesamaan persepsi
secara internasional terhadap sebuah gambar.
b. Gambar Popular

Pesatnya perkembangan teknologi menyebabkan penggunaan gambar


teknik semakin meningkat. Untuk itu, penetapan standar berfungsi
mempopulerkan gambar teknik di semua kalangan. Hubungan yang erat
antara bidang-bidang industri seperti pemesinan, perkapalan, arsitektur,
teknik sipil menyebabkan tidak mungkin menyelesaikan suatu proyek
hanya oleh satu bidang teknik saja. Untuk itu telah menjadi suatu
keharusan untuk menyediakan keterangan-keterangan gambar yang
dapat dimengerti oleh semua bidang-bidang di atas. Setiap bidang
mencoba untuk menyatukan dan mengidentifikasi standar-standar
gambar yang ada.
c. Gambar Sederhana

Penghematan tenaga dalam menggambar sangat penting. Bukan


hanya untuk mempersingkat waktu tetapi juga untuk meningkatkan
mutu perencanaan dan penghematan biaya.
d. Gambar Modern

Bersama pesatnya kemajuan teknologi, standar gambar juga dipaksa


untuk mengikutinya melalui cara-cara modern yang telah
dikembangkan, seperti: pembuatan film mikro, berbagai macam mesin

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 19


Kegiatan Pembelajaran 1

gambar otomatis dan menggambar dengan bantuan komputer ( CAD


Computer Aided Design).

3. Standar Ukuran Kertas Gambar

Kertas gambar mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sebagai ukuran


pokok dari kertas gambar, diambil ukuran A0 yang mempunyai luas 1 m 2
atau 1.000.000 mm2. Perbandingan lebar dan panjangnya sama dengan
perbandingan sisi bujursangkar dengan diagonalnya. Jika bujursangkar
mempunyai sisi = x maka diagonalnya . Selanjutnya x dipakai sebagai
lebar kertas gambar dan y sebagai panjang kertas gambar, perhatikan
gambar Gambar 1.2. dibawah ini.

Gambar 1. 2. Menentukan ukuran kertas A0


Karena ukuran kertas gambar A0 mempunyai luas x.y = 1.000.000 mm 2,
dengan , maka = 1.000.000 mm2 sehingga diperoleh lebar 841 mm
(dibulatkan) dan panjang = 1189 mm.

Untuk mendapatkan ukuran kertas gambar lainnya adalah dengan cara


membagi dua panjangnya, sehingga ukuran:
a. A1 adalah ½ dari A0.
b. A2 adalah ½ dari A1.
c. A3 adalah ½ dari A2.
d. A4 adalah ½ dari A3.

Gambar 1.3. disebaliknya lembar ini menjelaskan turunan dari ukuran kertas Ao

20 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 1. 3. Ukuran kertas A0 dan turunannya


Sesuai dengan standar ISO dan NNI (Nederland Normalisatie Instituet)
selanjutnya kertas gambar diberi garis tepi sesuai dengan ukurannya. Ukuran
batas tepi bawah, tepi atas dan tepi kanan (diwakili kolom C) ditunjukkan pada
tabel 1.1 di bawah ditetapkan sedangkan tepi kiri untuk setiap ukuran kertas
gambar ditetapkan 20 mm.

Penetapan jarak ini dimaksudkan untuk memberikan jarak ketika kertas


gambar dibundel tidak akan mengganggu gambarnya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 21


Kegiatan Pembelajaran 1

Tabel 1. 1. Standar ukuran kertas


Ukuran Ukuran garis tepi
Ukuran
Lebar Panjang Kiri Kanan

A0 841 mm 1189 mm 20 mm 10mm

A1 594 mm 841 mm 20 mm 10mm

A2 420 mm 594 mm 20 mm 10mm

A3 297 mm 420 mm 20 mm 10mm

A4 210 mm 297 mm 20 mm 10mm

A5 148 mm 210 mm 20 mm 10mm

4. Jenis – Jenis Garis


Selain pembakuan ukuran kertas gambar, jenis garis pada gambar
teknik juga dibakukan. Terdapat sedikit perbedaan jenis dan fungsi garis pada
bidang keteknikan.
a. Standarisasi Garis Gambar

Lebar garis ialah 10 % tinggi tulisan. Bila anda menggambar dengan tinta
cina atau komputer, lebar garis ini dapat diberikan sebelumnya, misalnya:
tinggi tulisan 5mm, lebar garis 0,5 mm. Pada penggambaran dengan
pensil, lebar garis diperkirakan dari penglihatan, sedangkan lebar atau
tebal garis dengan tinta atau CAD ditampilkan pada Tabel 1.2.

Tabel 1. 2. Lebar Garis Menurut Standar CAD

Nama garis Penggunaan Tebal garis dengan


CAD

1. Garis penuh Garis batas (kontur) untuk


1,0
tembok, plafon, dinding dan
sebagainya yang
berhubungan dengan
pekerjaan tukang kayu

22 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2. Garis penuh Garis batas (kontur) bidang


0,5
potongan bagian potongan
dalam skala 1: 1 dan 1: 10

3. Garis penuh Pandangan dan garis batas


0,35
(kontur) dalam skala 1: 10
dan 1: 20.

4. Garis penuh Sisi yang terlihat, garis


0,25
pembatas pada semua garis
ukuran

5. Garis penuh Garis ukuran


0,25

6. Garis tangan Arsir, sambungan lem 0,25


bebas

7. Garis-titik- As potongan 0,5


garis

8. Garis-titik- Sumbuh tengah pada 0,35


garis pengeboran, garis tengah
sumbu simetri, titik putar,
ukuran pasak

9. Garis putus Garis yang tidak terlihat pada


0,35
perlengkapan, sambungan-
sambungan, sisi, garis kontur

10. Garis-titik- Sisi yang terletak didepan 0,35


titik garis atau diatas bidang potong,
garis batas untuk bagian
yang
berbatasan

Dalam gambar teknik dipergunakan beberapa jenis garis, yang masing-masing


mempunyai arti dan penggunaannya sendiri. Oleh karena itupenggunaannya

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 23


Kegiatan Pembelajaran 1

harus sesuai dengan maksud dan tujuannya. Ada lima jenis garis gambar masing
masing dipaparkan berikut ini:
a) Garis Gambar: Untuk membuat batas dari bentuk suatu benda dalam
gambar.
b) Garis Bayangan: Berupa garis putus-putus dengan ketebalan garis
1/2 tebal garis biasa. Garis ini digunakan untuk membuat batas
sesuatu benda yang tidak tampak langsung oleh mata.
c) Garis Hati: Berupa garis ― strip, titik, strip, titik ― dengan ketebalan
garis 1/2 garis biasa. Garis ini misalnya digunakan untuk
menunjukkan sumbu suatu benda yang digambar.
d) Garis Ukuran: Berupa garis tipis dengan ketebalan 1 / 2 dari tebal
garis biasa. Garis ini digunakan untuk menunjukkan ukuran suatu
benda atau ruang. Garis ukuran terdiri dari garis petunjuk batas
ukuran dan garis petunjuk ukuran. Garis petunjuk batas ukuran dibuat
terpisah dari garis batas benda, dengan demikian maka tidak
mengacaukan pembaca gambar. Sedang garis petunjuk ukuran
dibuat dengan ujung pangkalnya diberi anak tanda panah tepat pada
garis petunjuk batas ukuran.
e) Garis Potong: Garis ini berupa garis ―strip,titik,titik,strip‖ dengan
ketebalan 1/2 tebal garis biasa. Semua gambar teknik yang
dikehendaki dengan pemotongan, batas potongan harus digaris
dengan garis potong ini.

Gambar 1. 4. Jenis-Jenis Garis.

Jenis garis menurut tebalnya ada tiga macam, yaitu: garis tebal, garis sedang
dan garis tipis. Ketiga jenis tebal garis ini menurut standar ISO memiliki
perbandingan !: 0,7 ; 0,5. Tebal garis dipilih sesuai besar kecilnya gambar, dan
dipilih dari deretan tebal berikut: 0, 18; 0, 25; 0,35; 0, 5; 0, 7; 1; 1 4; dan 2 mm.

24 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Karena kesukaran-kesukaran yang ada pada cara reproduksi tertentu, tebal 0, 18


sebaiknya jangan dipakai. Pada umumnya tebal garis adalah 0, 5 atau 0, 7. Jarak
minimum antara garis-garis (jarak antara garis tengah garis) sejajar termasuk
arsir, tidak boleh kurang dari tiga kali tebal garis yang paling tebal dari gambar
1.5. Dianjurkan agar ruang antara garis tidak kurang dari 0, 7 mm.

Gambar 1. 5. Jarak Antar Garis-Garis.

Pada garis sejajar yang berpotongan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.6.
pada halaman sebaliknya, jaraknya dianjurkan paling sedikit empat kali tebal
garis.

Gambar 1. 6. Garis Sejajar yang Saling Berpotongan

Bila beberapa garis berpusat pada sebuah titik, garis-garisnya tidak digambar
berpotongan pada titik pusatnya, tetapi berhenti pada titik dimana jarak antara
garis kurang lebih sama dengan tiga kali tebal garisnya (Gambar 1.7.)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 25


Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 7. Garis yang Memotong pada Sebuah Titik

Garis gores dan garis bertitik yang berpotongan, atau bertemu, harus
diperlihatkan dengan jelas titik pertemuannya atau titik perpotongannya, seperti
pada Gambar 1.8. dibawah ini.

Gambar 1. 8. Gambar Garis Gores dan Garis Bertitik

Panjang garis gores dan jarak antaranya pada satu gambar harus sama. Panjang
ruang antara harus cukup pendek dan jangan terlalu panjang.
b. Penggunaan Garis

Penggunaan gari-garis ini disamping yang telah diuraikan diatas,


Tabel berikut memperlihatkan contoh-contoh penggunaan garis
menurut standar ISO.
Tabel 1. 3. Jenis-jenis garis dan penggunaannya (ISO R. 128)

Jenis Garis Keterangan Penggunaan

A Tebal kontinyu A1. Garis garis nyata


(gambar)

A2. Garis garis tepi

26 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

B Tipis kontinyu B1. Garis garis berpotongan


(lurus atau khayal (imajiner)
lengkung)
B2. Garis garis ukur

B3. Garis garis


proyeksi/bantu

B4. Garis garis penunjuk

B5. Garis garis arsir

B6. Garis garis nyata dari


penampang yang diputar
ditempat

B7. Garis sumbu pendek

C Tipis kontinyu C1 Garis garis batas dari


bebas potongan sebagian atau
bagian yang dipotong, bila
batasnya bukan garis
bergores tipis

Tipis kontinyu D1 sama dengan C1


D
dengan sig sig

E Garis gores E1. Garis nyata terhalang


tebal
E2. Garis tepi terhalang

F Garis gores tipis F1. Garis nyata terhalang

F2. Garis tepi terhalang

G Garis bergores G1. Garis sumbu


tipis
G2. Garis simetri

G3. Lintasan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 27


Kegiatan Pembelajaran 1

H Garis bergores H1. Garis (bidang) potong


tipis yang
dipertebal pada
ujung ujungnya
dan pada
perobahan arah

J Garis bergores J1. Penunjukan permukaan


tebal yang harus mendapat
penanganan khusus

K Garis bergores K1. Bagian yang


ganda tipis berdampingan

K2. Batas batas kedudukan


benda yang bergerak

K3. Garis system (pada baja


profil).

K4. Bentuk semula sebelum


dibentuk

K5. Bagian benda yang


berada didepan bidang
potong

c. Garis-garis yang berimpit

Bila dua garis atau lebih yang berbeda-beda jenisnya berimpit, maka
penggambarannya harus dilaksanakan sesuai dengan prioritas
seperti berikut (Gambar 1.9).
a) Garis gambar (garis tebal kontinyu, jenis A)
b) Garis tidak tampak (garis gores sedang, jenis D)
c) Garis potong (garis bertitik, yang dipertebal ujung-ujungnya dan
tempat-tempat perubahan arah, jenis F)
d) Garis-garis sumbu (garis bertitik, jenis E)

28 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

e) Garis bantu, garis ukur dan garis arsir

Gambar 1. 9. Garis yang Berimpit


5. Standar Huruf dan Angka
Huruf dan angka yang dipakai pada gambar teknik, yang dianjurkan oleh
ISO 3098/11974 harus mudah dibaca dan dapat ditulis miring 75 o atau
tegak. Contoh atau gambaran dari huruf dan angka yang dipakai pada
gambar teknik adalah sebagai berikut gambar 1.10 dan gambar 1.11.
a. Penulisan Huruf dan Angka Tegak

Gambar 1. 10. Huruf dan angka tegak

b. Penulisan Huruf dan Angka Miring (75o)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 29


Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 11. Huruf dan angka miring


c. Ukuran Huruf Standar

Perbandingan tinggi dan lebar huruf diambil dari perbandingan


ukuran kertas yang distandarkan, yaitu :
Ketentuan – ketentuan ukuran huruf yang dianjurkan dapat dilihat
pada tabel 1.4 berikut dan pada gambar 1.12.

Tabel 1. 4. Perbandingan standar huruf dan angka

30 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Keterangan tabel:
1) Tinggi huruf kecil; tinggi huruf kecil disini adalah tinggi
huruf kecil diantara huruf yang dipakai, tinggi huruf kecil ini
tanpa tangkai dan kaki (huruf b, k, l = bertangkai dan j, g =
berkaki).
2) Tinggi huruf kecil untuk tipe A = (10/14).h dan untuk tipe
B = (7/10).h
3) Jarak antar huruf; jarak antar huruf disini adalah jarak antara
huruf yang satu dan lainnya dalam satu kata. Untuk tipe A
(2/14).h dan untuk tipe B (2/10).h.
4) Jarak antar garis; jarak antar garis disini adalah jarak
antara batas bawah huruf besar di atas dan batas atas huruf
besar di bawah.
5) Jarak antar kata; bila dalam suatu kalimat ada dua kata
yang disambung (misalnya baja nikel) maka jarak antara
kata baja dan nikel tersebut dianjurkan sebagai berikut:
untuk penggunaan tipe huruf A jaraknya 6/14.h dan untuk tipe
huruf B jaraknya 6/10.h.
6) Tebal huruf yaitu tebal pena yang digunakan untuk membuat
huruf. Ukuran pena tersebut harus disesuaikan dengan
tinggi huruf dan tipe huruf yang digunakan. Tebal huruf yang
dianjurkan untuk tipe A adalah 1/14.h dan untuk tipe B yaitu
1/10.h.
Contoh 1:
Jika huruf mempunyai tinggi h = 14 mm, berapa lebar
hurufnya (x = lebar huruf)?
Jawab:

dengan h = 14mm, maka

Jadi lebar hurufnya adalah 9,899 mm atau dibulatkan 10 mm.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 31


Kegiatan Pembelajaran 1

Contoh 2:
Berapakah tinggi huruf kecil untuk huruf tipe A dan B bila
tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a) Tinggi huruf kecil untuk tipe A adalah (10/14).h, dengan h =
14 mm, maka (10/14).14 = 10 mm.
b) Tinggi huruf kecil untuk tipe B adalah (7/10).h, dengan h =
14 mm, maka (7/10).14 = 9,8 mm dibulatkan 10 mm.
Contoh 3:
Berapakah jarak antar garis untuk huruf tipe A dan B bila
tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a) Jarak antar garis untuk tipe A adalah (20/14).h, dengan h =
14 mm, maka (20/14).14 = 20 mm.
b) Jarak antar garis untuk tipe B adalah (14/10).h, dengan h =
14 mm, maka (14/10).14 = 19,6 mm dibulatkan 20 mm.

Gambar 1. 12. Jarak antar garis

Contoh 4:
Berapakah jarak antar kata untuk huruf tipe A dan B bila
tinggi huruf besarnya 14 mm?
Jawab:
a) Jika menggunakan huruf standar tipe A dengan tinggi
14 mm maka jarak antar katanya adalah (6/14).14 = 6 mm
b) Bila menggunakan tipe B dengan tinggi huruf 14 mm
maka jarak antar katanya adalah (6/10).14 = 8,4 mm.

32 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Contoh 5:
Berapakah tebal huruf untuk tipe A dan Bila tinggi huruf
yang digunakan tingginya 7 mm?
Jawab:
Jika kita menggunakan tinggi huruf h = 7 mm, maka:
a) Untuk huruf tipe A, tebal hurufnya adalah (1/14) x 7 = 0,5
mm.
b) Untuk huruf tipe B, tebal hurufnya adalah (1/10) x 7 = 0,7
mm.
Tabel 1.5. dibawah ini menunjukkan penerapan huruf dan
angka standard.

Tabel 1. 5. Penerapan huruf dan angka standar

d. Jenis Huruf

Jenis huruf yang dapat digunakan dalam gambar teknik antara


lain : ISOCT SHX tegak atau miring, Technic bolt TT dan ISOTEUR
miring. Huruf yang dimaksudkan dicontohkan pada gambar 1.13.,
gambar 1.14., dan gambar 1.15.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 33


Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 13. Jenis huruf technic bolt

34 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 1. 14. ISOCT SHX miring

Gambar 1. 15. ISOTEUR miring

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 35


Kegiatan Pembelajaran 1

6. Tata Letak (lay out)


a. Kepala Gambar (etiket)
Setiap gambar kerja yang dibuat, selalu ada etiketnya. Etiket
dibuat di sisi kanan bawah kertas gambar. Pada etiket (kepala
gambar) ini kita dapat mencantumkan:
1) nama yang membuat gambar
2) judul gambar
3) nama instansi, departemen atau sekolah
4) tanggal menggambar atau selesainya gambar
5) tanggal diperiksanya gambar dan nama pemeriksa
6) ukuran kertas gambar yang dipakai
7) skala gambar
8) jenis proyeksi
9) satuan ukuran yang digunakan
10) berbagai data yang diperlukan untuk kelengkapan gambar.
Beberapa contoh etiket beserta ukurannya dapat dilihat pada
gambar 1.16. berikut:

36 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 1. 16. Kepala gambar (etiket)


Sumber: https://gurupujaz.wordpress.com/2016/01/22/kepala-
gambar-etiket-gambar/
b. Skala

Skala merupakan perbandingan ukuran antar objek pada gambar


dengan ukuran benda sebenarnya. Skala dikelompokkan menjadi:
skala sebenarnya, skala diperbesar dan skala diperkecil.
Bilangan skala yang direkomendasikan untuk digunakan pada
gambar teknik adalah: 1, 2, 5 dan 10.
Tabel 1. 6. Skala pada gambar teknik

Ketentuan penunjukan skala pada gambar teknik adalah:


1) Penggunaan tanda skala terdiri dari kata ―SKALA‖ diikuti oleh
rasio.
2) Kata ―SKALA‖ dapat dihilangkan selama tidak terjadi
kesalahpahaman.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 37


Kegiatan Pembelajaran 1

3) Skala yang digunakan dicantumkan pada etiket.


4) Jika menggunakan lebih dari satu skala pada satu
gambar, hanya skala utama saja yang ditunjukkan pada
etiket. Skala lainnya ditetapkan berdekatan dengan gambar
bagian atau huruf yang menunjukkan detail gambar.

7. DIAGRAM, CHART, DAN TABEL


Diagram merupakan cara untuk menerangkan sesuatu yang
berupa gambar atau grafik dan berisi keterangan mengenai hal-hal tertentu
tersebut. Diagram berfungsi untuk mempermudah pemerincian data, terutama
data dalam bentuk angka. Dalam setiap presentasi data, diagram sangat
berguna untuk meringkas dan memperpendek informasi yang hendak disajikan.
Ada dua ketentuan dalam bab ini ialah :
a. Blok diagram.
Diagram ini adalah diagram yang paling sederhana untuk dimengerti
tentang prinsip bekerjanya. Dalam diagram ini instalasi atau equipmen
dihubungkan bersama dengan gambar simbol-simbol, kotak atau gambar
tanpa memperlihatkan titik sambung. Gambar 1.17. memberikan contoh
diagram blok dari mixer 2 kanal, setiap blok dalam gambar menunjukkan
fungsi dari sub sitem mixer

38 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 1. 17. Diagram Blok Mixer 2 Kanal

b. Diagram Rangkaian
Diagram ini menerangkan rangkaian /hubungan dari suatu peralatan
secara terperinci. Hal ini ditunjukkan dengan simbol suatu instalasi tentang
hubungan kelistrikan atau sambungan yang berhubungan dengan cara
kerjanya. Gambar 1.18. memberikan contoh diagram rangkaian dari
penguat kelas D.

Gambar 1. 18. Diagram rangkaian penguat kelas D


c. Menjelaskan chart atau tabel.
Chart atau tabel diperlukan untuk menjelaskan diagram dan
memberikan keterangan -keterangan tambahan.
Terdapat dua contoh, yaitu :
(1) Chart urutan dan tabel.
Memberikan keberhasilan kerja dalam perintah khusus. Lihat gambar 1.19

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 39


Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 19. Chart Tabel


(2) Urutan waktu chart dan tabel.
Menjelaskan hubungan kerja dengan waktu . Lihat gambar 1.20.
menunjukkan bentuk pulsa pada input, output dan clock, yang berupa
diagram waktu.

Gambar 1. 20. Urutan waktu chart dan tabel

8. Simbol-Simbol Listrik dan Elektronika


Terdapat 4 standar yang berbeda-beda yang menerangkan grafik simbol menurut
standard negaranya, yaitu German, Inggris, Amerika/Kanada dan simbol
Internasional, sehingga didapat suatu perbandingan antara ke-empat standar
simbol tersebut. Pada buku teknik terutama buku Teknik Elektronika dan Listrik,
sering ditemui penggunaan simbol yang berbeda-beda, dan yang diterangkan
pada lembaran berikut adalah yang sering digunakan baik pada peralatan
industri maupun instalasi. Walaupun demikian dalam menggambar atau
membuat diagram dianjurkan menggunakan simbol Internasional, sebagai mana
yang telah digariskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

40 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Simbol-simbol yang dikemukakan berikut dibawah ini adalah symbol standard


Internasional yang masih dipakai saat ini, yang menjelaskan Simbol , Nama
komponen dan keterangannya secara detail ditunjukkan pada Tabel 1.7.

Tabel 1. 7. Simbol Gambar standart Internasional

SIMBOL NAMA KOMPONEN KETERANGAN

Simbol Sambungan

Kabel/ Wire Listrik Kabel penghubung (konduktor)

Koneksi kabel Terhubung

Kabel tidak koneksi Terputus (tidak terhubung)

Simbol Saklar (Switch) dan Simbol Relay

Toggle Switch SPST Terputus dalam kondisi open

Toggle Switch SPDT Memilih dua terminal koneksi

Saklar Push-Button
Terhubung ketika ditekan
(NO)
Saklar Push-Button
Terputus ketika ditekan
(NC)

DIP Switch Multiswitch(Saklar banyak)

Relay SPST
Koneksi (Open dan Close)
digerakan oleh elektromagnetik.
Relay SPDT

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 41


Kegiatan Pembelajaran 1

Koneksi dengan pemasangan


Jumper
jumper

Solder Bridge Koneksi dengan cara disolder

Simbol Ground

Referensi 0 sebuah sumber


Earth Ground
listrik
Ground yang dihubungkan pada
Chassis Ground
body sebuah rangkaian listrik
Common/ Digital
Ground

Simbol Resistor

Resistor Resistor berfungsi untuk


menahan arus yang mengalir
Resistor dalam rangkaian listrik

Potensio Meter Menahan arus dalam rangkaian


listrik tetapi nilai resistansi dari 3
Potensio Meter titik terminal dapat diatur

Variable Resistor Menahan arus dalam rangkaian


listrik tetapi nilai resistansi dari 2
Variable Resistor titik terminal dapat diatur

Simbol Condensator (Kapasitor)

Condensator Bipolar Berfungsi untuk menyimpan arus

42 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

listrik sementara waktu


Condensator Nonpolar

Condensator Bipolar Electrolytic Condensator (ELCO)

Kapasitor berpolar Electrolytic Condensator (ELCO)

Condensator yang nilai


Kapasitor Variable
kapasitansinya dapat diatur

Simbol Kumparan (Induktor)

Induktor, lilitan, Dapat menghasilkan medan


kumparan, spul, coil magnet ketika dialiri arus listrik
Induktor dengan inti Kumparan dengan inti besi
besi seperi pada trafo
Lilitan yang nilai induktansinya
Variable Induktor
dapat diatur

Simbol Power Supply

Menghasilkan tegangan searah


Sumber tegangan DC
tetap (konstan)

Sumber Arus Menghasilkan sumber arus tetap

Sumber teganga bolak-balik


Sumber tegangan AC seperti dari PLN (Perusahaan
Listrik Negara)
Penghasil tegangan listrik bolah-
Generator balik seperti pembangkit listrik di
PLN (Perusahaan Listrik Negara)
Menghasilkan tegangan searah
Battery
tetap

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 43


Kegiatan Pembelajaran 1

Battery lebih dari satu Menghasilkan tegagan searah


Cell tetap
Sumber tegangan yang Sumber tegangan yang berasal
dapat diatur dari rangkaian listrik lain
Sumber arus yang Sumber arus yang berasal dari
dapat diatur rangkaian listrik lain

Simbol Meter (Alat Ukur)

Mengukur tegangan listrik


Volt Meter
dengan satuan Volt
Mengukur arus listrik dengan
Ampere Meter
satuan Ampere
Mengukur resistansi dengan
Ohm Meter
satuan Ohm
Mengukur daya listrik dengan
Watt Metter
satuan Watt

Simbol Lampu

Lampu

Akan menghasilkan cahaya ketika


Lampu
dialiri arus listrik

Lampu

Simbol Dioda

Berfungsi sebagai penyearah


Dioda yang dapat mengalirkan arus
listrik satu arah (forward bias)

44 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Penyetabil Tegangan DC
Dioda Zener
(Searah)
Dioda dengan drop tegangan
Dioda Schottky rendah, biasanya terdapat dalam
IC logika

Dioda Varactor Gabungan Dioda dan Kapasitor

Dioda Tunnel Dioda Tunnel

Akan menghasilkan cahaya


LED (Light Emitting
ketika dialiri arus listrik DC satu
Diode)
arah
Menhasilkan arus listrik ketika
Photo Dioda
mendapat cahaya

Simbol Transistor

Arus listrik akan mengalir (EC)


Transitor Bipolar NPN
ketika basis (B) diberi positif
Arus listrik akan mengalir (CE)
Transistor Bipolar PNP
ketika basis (B) diberi negatif
Gabungan dari dua transistor
Transitor Darlington Bipolar untuk meningkatkan
penguatan

Transistor JFET-N Field Effect Transistor kanal N

Transistor JFET-P Field Effect Transistor kanal P

Transistor NMOS Transistor MOSFET kanal N

Transistor PMOS Transistor MOSFET kanal P

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 45


Kegiatan Pembelajaran 1

Simbol Komponen Lain

Motor Motor Listrik

Trafo, Transformer, Penurun dan penaik tegangan


Transformator AC (Bolak Balik)

Bel Listrik Berbunyi ketika dialiri arus listrik

Penghasil suara buzz saat dialiri


Buzzer
arus listrik

Fuse, Sikring
Pengaman. Akan putus ketika
melebihi kapasitas arus
Fuse, Sikring

Bus

Terdiri dari banyak jalur data


Bus
atau jalur address

Bus

Sebagi isolasi antar dua


Opto Coupler rangkaian yang berbeda.
Dihubungkan oleh cahaya
Mengubah signal listrik menjadi
Speaker
suara
Mengubah signal suara menjadi
Mic, Microphone
arus listrik
Op-Amp, Operational
Penguat signal input
Amplifier

Schmitt Trigger Dapat mengurangi noise

Mengubah signal analog menjadi


ADC, Analog to Digital
data digital

46 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Mengubah data digital


DAC, Digital to Analog
menjadi signal analog

Crystal, Ocsilator Penghasil pulsa

Simbol Antenna

Antenna
Pemancar dan penerima signa
radio
Antenna

Dipole Antenna Gabungan dari simple Antenna

Simbol Gerbang Logika (Digital)

Output akan merupakan


NOT Gate
kebalikan input
Output akan 0 jika salah satu
AND Gate
input 0
Output akan 1 jika salah satu
NAND Gate
input 0
Output akan 1 jika salah satu
OR Gate
input 1
Output akan0 jika salah satu
NOR Gate
input 1

EX-OR Gate Output akan 0 jika input sama

Dapat berfungsi sebagai


D-Flip-Flop
penyimpad data

Multiplexer 2 to 1 Menyeleksi salah satu data input

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 47


Kegiatan Pembelajaran 1

yang akan dikirim ke output


Multiplexer 4 to 1

Menyeleksi data input untuk


D-Multiplexer 1 to 4
dikirim ke salah satu output

48 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya mengidentifikasi


standarisasi dalam gambar teknik yang telah ditetapkan di
beberapa negara industri maju, dan standard gambar maupun
symbol berdasarkan ISO.
2. Peserta perlu sekali mengidentifikasi bidang kerja ISO yang
menangani standar gambar teknik disebut ISO/TC 10 (gambar
teknik), yang bertugas menstandarkan gambar-gambar teknik
agar dapat diterima di dunia internasional sebagai bahasa teknik.
3. Untuk menambah wawasan dan informasi anda, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang standard ISO yang
menangani standar gambar teknik .
4. Amati lingkungan laboratorium anda, apakah jumlah fasilitas
peralatan dan bahan gambar teknik sudah standar ISO? Jika belum
standar, peluang apa saja yang bisa anda lakukan untuk
menerapkannya sesuai standar?

E. Latihan/Tugas

1. Lengkapilah nama komponen dan keterangan pada tabel sesuai


Gambar standart Internasional dibawah ini?

SIMBOL NAMA KOMPONEN KETERANGAN

Simbol dari

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 49


Kegiatan Pembelajaran 1

Simbol Saklar (Switch) dan Simbol Relay

Simbol Ground

Simbol Resistor

50 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Simbol Condensator (Kapasitor)

Simbol Kumparan (Induktor)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 51


Kegiatan Pembelajaran 1

Simbol Power Supply

Simbol Meter (Alat Ukur)

52 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Simbol Lampu

Lampu

Simbol Dioda

Simbol Transistor

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 53


Kegiatan Pembelajaran 1

Simbol Komponen Lain

54 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Simbol Antenna

Simbol Gerbang Logika (Digital)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 55


Kegiatan Pembelajaran 1

F. Lembar Kerja

Alat dan bahan:

1) Pensil .................................................... 1 buah


2) Penggaris ............................................... 1 set
3) Jangka ................................................... 1 set
4) Penghapus ............................................. 1 buah
5) Sablon elips (lengkung), huruf dan angka 1 set
6) Kertas gambar ukuran A4 ........................ 1 lembar

Kesehatan dan Keselamatan Kerja:

1) Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar!


2) Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar!
3) Gunakanlah peralatan gambar dengan hati-hati!

Langkah Kerja :

1. Siapkanlah alat dan bahan yang akan digunakan!

56 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2. Rekatkanlah kertas gambar dengan isolasi sudut kertas gambar!


3. Buatlah garis tepi!
4. Buatlah sudut keterangan gambar (stucklyst)!
5. Buatlah gambar chasis alarm tanda bahaya yang dilihat dari atas
(tampak atas), seperti gambar berikut dengan ketentuan:
6. Buatlah gambar disesuaikan ukuran kertas A4
7. Gunakan pensil B1 dalam menggambar rangkaian.
8. Rencanakan tata letak (lay out) pembuatan gambar!
9. Tentukanlah skala pembesaran yang dipilih, sesuaikan dengan
ukuran kertas!
10. Setelah selesai bersihkan alat gambar dan kembalikan ke tempatnya!

Kumpulkanlah hasil latihan jika sudah selesai!

Gambar Rangkaian Regulator Power Supply

G. TES FORMATIF

1) Mengapa huruf dan angka pada gambar teknik perlu standar?

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 57


Kegiatan Pembelajaran 1

2) Ada berapa macam bentuk skala yang ada, beserta contoh


penerapannya?

H. Rangkuman

Kertas gambar yang dipergunakan mempunyai ukuran-ukuran yang


telah dinormalisir. Ukuran yang paling banyak dipergunakan adalah
dari seri A (A0, A1, A2, A3, A4 dan A5).

I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Kertas gambar yang dipergunakan
mempunyai ukuran-ukuran yang
telah dinormalisir
2. Standard symbol listrik dan
elektronika
3. Standard Diagram chart dan Tabel
4. Standard huruf

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum
sesuai standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini
sendiri atau berkelompok?
 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.

58 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

N Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk


o: diri anda)

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
d. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

e. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?


…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

f. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria


SMART

Spesifik

Dapat diukur

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 59


Kegiatan Pembelajaran 1

Dapat dicapai

Relevan

Rentang/Ketepatan
Waktu

Guru setelah menyelesaikan latihan dalam modul ini diharapkan mempelajari


kembali bagian-bagian yang belum dikuasai dari modul ini untuk dipahami secara
mendalam sebagai bekal dalam melaksanakan tugas keprofesian guru dan untuk
bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan uji kompetensi guru dengan ketuntasan
minimal materi 80%.

Setelah mentuntaskan modul ini maka selanjutnya guru berkewajiban mengikuti


uji kompetensi. Dalam hal uji kompetensi, jika hasil tidak dapat mencapai batas
nilai minimal ketuntasan yang ditetapkan, maka peserta uji kompetensi wajib
mengikuti diklat sesuai dengan grade perolehan nilai yang dicapai.

J. Kunci Jawaban
Nama Komponen dan keterangan Gambar standart Internasional

SIMBOL NAMA KOMPONEN KETERANGAN

Simbol Sambungan

Kabel/ Wire Listrik Kabel penghubung (konduktor)

Koneksi kabel Terhubung

Kabel tidak koneksi Terputus (tidak terhubung)

Simbol Saklar (Switch) dan Simbol Relay

Toggle Switch SPST Terputus dalam kondisi open

60 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Toggle Switch SPDT Memilih dua terminal koneksi

Saklar Push-Button
Terhubung ketika ditekan
(NO)
Saklar Push-Button
Terputus ketika ditekan
(NC)

DIP Switch Multiswitch(Saklar banyak)

Relay SPST
Koneksi (Open dan Close)
digerakan oleh elektromagnetik.
Relay SPDT

Koneksi dengan pemasangan


Jumper
jumper

Solder Bridge Koneksi dengan cara disolder

Simbol Ground

Referensi 0 sebuah sumber


Earth Ground
listrik
Ground yang dihubungkan pada
Chassis Ground
body sebuah rangkaian listrik
Common/ Digital
Ground

Simbol Resistor

Resistor Resistor berfungsi untuk


menahan arus yang mengalir
Resistor dalam rangkaian listrik

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 61


Kegiatan Pembelajaran 1

Potensio Meter Menahan arus dalam rangkaian


listrik tetapi nilai resistansi dari 3
Potensio Meter titik terminal dapat diatur

Variable Resistor Menahan arus dalam rangkaian


listrik tetapi nilai resistansi dari 2
Variable Resistor titik terminal dapat diatur

Simbol Condensator (Kapasitor)

Condensator Bipolar
Berfungsi untuk menyimpan arus
listrik sementara waktu
Condensator Nonpolar

Condensator Bipolar Electrolytic Condensator (ELCO)

Kapasitor berpolar Electrolytic Condensator (ELCO)

Condensator yang nilai


Kapasitor Variable
kapasitansinya dapat diatur

Simbol Kumparan (Induktor)

Induktor, lilitan, Dapat menghasilkan medan


kumparan, spul, coil magnet ketika dialiri arus listrik
Induktor dengan inti Kumparan dengan inti besi
besi seperi pada trafo
Lilitan yang nilai induktansinya
Variable Induktor
dapat diatur

Simbol Power Supply

62 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Menghasilkan tegangan searah


Sumber tegangan DC
tetap (konstan)

Sumber Arus Menghasilkan sumber arus tetap

Sumber teganga bolak-balik


Sumber tegangan AC seperti dari PLN (Perusahaan
Listrik Negara)
Penghasil tegangan listrik bolah-
Generator balik seperti pembangkit listrik di
PLN (Perusahaan Listrik Negara)
Menghasilkan tegangan searah
Battery
tetap
Battery lebih dari satu Menghasilkan tegagan searah
Cell tetap
Sumber tegangan yang Sumber tegangan yang berasal
dapat diatur dari rangkaian listrik lain
Sumber arus yang Sumber arus yang berasal dari
dapat diatur rangkaian listrik lain

Simbol Meter (Alat Ukur)

Mengukur tegangan listrik


Volt Meter
dengan satuan Volt
Mengukur arus listrik dengan
Ampere Meter
satuan Ampere
Mengukur resistansi dengan
Ohm Meter
satuan Ohm
Mengukur daya listrik dengan
Watt Metter
satuan Watt

Simbol Lampu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 63


Kegiatan Pembelajaran 1

Lampu

Akan menghasilkan cahaya ketika


Lampu
dialiri arus listrik

Lampu

Simbol Dioda

Berfungsi sebagai penyearah


Dioda yang dapat mengalirkan arus
listrik satu arah (forward bias)
Penyetabil Tegangan DC
Dioda Zener
(Searah)
Dioda dengan drop tegangan
Dioda Schottky rendah, biasanya terdapat dalam
IC logika

Dioda Varactor Gabungan Dioda dan Kapasitor

Dioda Tunnel Dioda Tunnel

Akan menghasilkan cahaya


LED (Light Emitting
ketika dialiri arus listrik DC satu
Diode)
arah
Menhasilkan arus listrik ketika
Photo Dioda
mendapat cahaya

Simbol Transistor

Arus listrik akan mengalir (EC)


Transitor Bipolar NPN
ketika basis (B) diberi positif

64 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Arus listrik akan mengalir (CE)


Transistor Bipolar PNP
ketika basis (B) diberi negatif
Gabungan dari dua transistor
Transitor Darlington Bipolar untuk meningkatkan
penguatan

Transistor JFET-N Field Effect Transistor kanal N

Transistor JFET-P Field Effect Transistor kanal P

Transistor NMOS Transistor MOSFET kanal N

Transistor PMOS Transistor MOSFET kanal P

Simbol Komponen Lain

Motor Motor Listrik

Trafo, Transformer, Penurun dan penaik tegangan


Transformator AC (Bolak Balik)

Bel Listrik Berbunyi ketika dialiri arus listrik

Penghasil suara buzz saat dialiri


Buzzer
arus listrik

Fuse, Sikring
Pengaman. Akan putus ketika
melebihi kapasitas arus
Fuse, Sikring

Bus
Terdiri dari banyak jalur data
atau jalur address
Bus

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 65


Kegiatan Pembelajaran 1

Bus

Sebagi isolasi antar dua


Opto Coupler rangkaian yang berbeda.
Dihubungkan oleh cahaya
Mengubah signal listrik menjadi
Speaker
suara
Mengubah signal suara menjadi
Mic, Microphone
arus listrik
Op-Amp, Operational
Penguat signal input
Amplifier

Schmitt Trigger Dapat mengurangi noise

Mengubah signal analog menjadi


ADC, Analog to Digital
data digital
Mengubah data digital
DAC, Digital to Analog
menjadi signal analog

Crystal, Ocsilator Penghasil pulsa

Simbol Antenna

Antenna
Pemancar dan penerima signa
radio
Antenna

Dipole Antenna Gabungan dari simple Antenna

66 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Simbol Gerbang Logika (Digital)

Output akan merupakan


NOT Gate
kebalikan input
Output akan 0 jika salah satu
AND Gate
input 0
Output akan 1 jika salah satu
NAND Gate
input 0
Output akan 1 jika salah satu
OR Gate
input 1
Output akan0 jika salah satu
NOR Gate
input 1

EX-OR Gate Output akan 0 jika input sama

Dapat berfungsi sebagai


D-Flip-Flop
penyimpad data

Multiplexer 2 to 1
Menyeleksi salah satu data input
yang akan dikirim ke output
Multiplexer 4 to 1

Menyeleksi data input untuk


D-Multiplexer 1 to 4
dikirim ke salah satu output

Kunci jawaban formatif 1


1) Huruf dan angka pada gambar teknik perlu standar karena
mempunyai tujuan menjelaskan maksud pelaksanaan dalam
kegiatan teknik, atau menuntun suatu kegiatan keteknikan pada
umumnya. Karena itu mengandung suatu petunjuk yang
berfungsi penting dalam kegiatan penyelesaian keteknikan
2) Ada 3 macam bentuk skala yang ada yaitu :
 Skala pembesaran, contohnya menggambarkan bentuk
sturktur atom yang pembersannya sampai 1.000.000 : 1

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 67


Kegiatan Pembelajaran 1

 Skala penuh, contohnya menggambar bentuk speaker


dengan ukuran 1 : 1
 Skala pengecilan, contohnya menggambar jaringan
instalasi listrik dalam rumah beserta bentuk ruangannya
dengan skala 1 : 100

68 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Pembelajaran 2
Teknik dan Prinsip Penggunaan Alat Gambar
Manual

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi Teknik dan Prinsip Penggunaan Alat


Gambar Manual ini, peserta diharapkan dapat;
1. Mengetahui peralatan gambar teknik dan fungsinya.
2. Mampu mengoperasikan peralatan gambar teknik manual.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Menemukan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan peralatan


gambar teknik dan fungsinya
2. Mengoperasikan peralatan gambar teknik manual secara benar dan dapat
menemukan prosedur penggunanya

C. Uraian Materi

Alam semesta adalah ciptaan Tuhan yang sangat besar dan bekerja dengan
teratur. Aneka bentuk alam seperti: gunung, laut, lembah, sungai dihuni oleh
berbagai jenis tumbuhan, hewan dan manusia terbentang dengan indah
beraneka warna. Bangunan, kendaraan dan berbagai produk teknologi
merupakan hasil karya manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan terus mendorong
para peneliti untuk terus menemukan berbagai hal baru yang bermanfaat
bagi manusia untuk kemudian diproduksi secara masal. Semua karya
manusia berawal dari sebuah ide. Bagaimana Wright bersaudara
mewujudkan mimpinya agar manusia bisa terbang dengan merancang
pesawat terbang yang terinspirasi dari burung.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 73


Kegiatan Pembelajaran 2

Cornelius Van Drebbel membuat kapal selam agar bisa menjelajahi dasar
samudera dan masih banyak karya luar biasa yang dulunya sebatas ide namun
kini sudah menjadi kenyataan. Dalam perjalanannya, para penemu menjadikan
gambar sebagai salah satu media untuk mewujudkan berbagai ide menjadi
sebuah produk nyata. Kini, gambar masih menjadi media yang efektif dalam
menuangkan ide untuk diproses menjadi sebuah produk. Berbagai jenis
bangunan seperti: rumah, pabrik, jembatan, rumah kaca didesain melalui media
gambar sebelum dibuat, begitu pula dengan aneka alat transportasi seperti:
sepeda motor, mobil, kereta, pesawat dan lain – lain.
Sebelum adanya komputer, perancangan sebuah produk dikerjakan secara
manual, namun sampai saat ini menggambar secara manual masih tetap
diajarkan sebagai pembekalan awal bagi para siswa. Dengan menguasai
menggambar secara manual, diharapkan siswa dapat menggambar dimana
pun tanpa harus terkendala dengan fasilitas, peralatan gambar yang
dimaksudkan adalah sebagai berikut di bawah ini:

1. Busur Derajat

Busur derajat digunakan untuk membagi sebuah sudut menjadi sama besar.
Busur derajat pada umumnya terbuat dari plastik atau mika bening serta
dilengkapi dengan garis-garis pembagi mulai dari sudut 0o sampai dengan
180o namun ada pula yang dimulai dari sudut 0o sampai dengan 360o, seperti
yang ditunjukkan gambar 2.1. dibawah ini.

Gambar 2. 1. Busur Derajat


Untuk mengukur besar sudut menggunakan busur derajat, perhatikan
langkah-langkah berikut:
a. tempatkan pusat busur derajat pada titik sudut yang akan diukur.
b. tempatkan salah satu kaki sudutnya pada 0°.

74 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c. bacalah angka pada busur derajat yang dilalui oleh kaki sudut yang lain.
Angka inilah yang merupakan besar sudut itu.

Gambar 2. 2. Mengukur Sudut Dengan Busur Derajat

2. Kertas Gambar

Kertas yang biasa digunakan untuk membuat gambar teknik adalah kertas
gambar berwarna putih yang permukaannya tidak kasar seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.3. Apabila kertas gambar kasar akan sulit menarik
garis lurus dengan tinta. Jenis kertas gambar yang biasa digunakan pada
gambar teknik terdiri atas tiga jenis, yaitu:
a. kertas bagan, yaitu kertas gambar putih tebal yang mempunyai
garis-garis horizontal dan vertikal dengan jarak 10 x 10 mm. Kertas bagan
ini berfungsi untuk membuat gambar sementara yang dihasilkan dari hasil
pengukuran dengan skala yang bukan sebenarnya,
b. kertas putih tebal, yaitu kertas gambar biasa yang sering digunakan
untuk membuat gambar dengan skala dan ukuran yang sebenarnya,
c. kertas kalkir, yaitu kertas transparan yang biasa digunakan untuk
membuat gambar dengan tinta.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 75


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 3. Kertas Gambar

3. Pensil Gambar

Pensil adalah alat gambar yang paling sering dipakai untuk latihan gambar teknik
dasar. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil. Pada gambar
Gambar 2.4. dibawah ini memberikan contoh berbagai macam contoh pensil
gambar.
a. Pensil Gambar berdasarkan Bentuk
1) Pensil Batang
Pada pensil ini, antara isi dan batangnya menyatu. Untuk
menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Habisnya
isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil.

Gambar 2. 4. Pensil Batang


Sumber: http://idc-artstudios.yn.lt/open?judul=Macam%20-
%20Macam%20Pensil%20Untuk%20Menggambar&id=tools

76 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2) Pensil Mekanik
Pensil mekanik, antara batang dan isi pensil terpisah. Jika isi
pensil habis dapat diisi ulang. Batang pensil tetap tidak bisa
habis. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter
mata pensil, misalnya: 0,3 mm, 0,5 mm dan 1,0 mm. Gambar 2.5.
dibawah ini contoh dari pensil mekanik yang diproduksi oleh Staedtler
dengan ukuran 0,5.

Gambar 2. 5. Pensil Mekanik


Sumber:http://id.aliexpress.com/store/product/Metal-pen-staedtler-
925-85-mechanical-pencil-0-3-0-5-0-7/812900_752330237.html

b. Pensil Gambar berdasarkan Kekerasan


Pensil gambar yang diproduksi pabrik mempunyai tingkat
kekerasan yang berbeda-beda. Tingkat kekerasan tersebut
dilambangkan dengan huruf yang merupakan singkatan dari
Bahasa Inggris seperti: F untuk Firm, H untuk Hard dan B untuk
Black. Tingkat kekerasan pensil memberikan perbedaan pada
tebal dan tipis garis yang dihasilkan. Tingkat kekerasan pensil
yang ada di pasaran dapat dilihat pada tabel 2.1. berikut:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 77


Kegiatan Pembelajaran 2

Tabel 2. 1. Kekerasan pensil

KERAS SEDANG LUNAK

4H 3H 2B

Makin Lunak

Makin Lunak
Makin Keras
5H 2H 3B

6H H 4B

7H F 5B

8H HB 6B

9H B 7B

Untuk belajar gambar dianjurkan menggunakan pensil dengan


tingkat kekerasan H dan 2H dimana H digunakan untuk menggambar
garis yang tipis dan 2H untuk menebalkan garis. Gambar 2.6.
dibawah ini menunjukkan berbagai tingkat kekerasan dari pensil
gambar dan contoh hasil coretan pensilnya.

Gambar 2. 6. Kekerasan Pensil Batang dan Hasil Tulisan

78 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Sumber: http://www.jetpens.com/Staedtler-Mars-Lumograph-Graphite-
Pencil-2B/pd/10209
Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke
ujung, maka kedudukan pensil batang sewaktu menarik garis harus
dimiringkan 60° dan selama menarik garis, pensil diputar dengan
telunjuk dan ibu jari.

Gambar 2. 7. Cara Penggunaan Pensil Batang


Untuk membuat garis menggunakan pensil mekanik, posisi pensil
harus tegak lurus, supaya garis yang dihasilkan mempunyai
ketebalan yang sama. Hal yang perlu diingat adalah jangan
memanjangkan isi pensil terlalu panjang karena isi pensil akan
mudah patah atau putus. Gambar 2.7. menunjukkan cara yang benar
menggunakan pensil batang dalam menggaris.

4. Penggaris T

Penggaris T terdiri dari dua bagian, bagian mistar panjang dan bagian
kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut
90° antara kepala dan mistarnya. Gambar 2.8. dibawah ini menunjukkan gambar
penggaris T, bagian bawah adalah kepala dan yang panjang adalah mistarnya,
dan Gambar 2.9. adalah cara menggunakan mistar tersebut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 79


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 8. Penggaris T
Cara menggunakan penggaris T pada saat menggambar dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.

Gambar 2. 9. Posisi penempatan penggaris T pada meja gambar


5. Penggaris Siku

Penggaris siku terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45°, 90°, 45°
dan satu buah penggaris bersudut 30°, 90° dan 60°. Sepasang penggaris
segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar, sudut-sudut
istimewa dan garis yang saling tegak lurus. Gambar 2.10. dibawah ini
menunjukkan penggaris siku, bagian atas bersudut 45°, 90°, 45° dan bagian
bawah bersudut 30°, 90° dan 60°. , sedangkan gambar 2.11. adalah cara
menggunakan penggaris siku tersebut.

80 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 10. Penggaris Siku

Gambar 2. 11. Penggunaan penggaris siku dan T


6. Jangka Gambar
Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran
dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar
sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk
menggambar garis.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 81


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 12. Bagian-bagian Jangka

Gambar 2. 13. Penggunaan Jangka

Gambar 2. 14. Konstruksi Jangka


Dari konstruksi jangka gambar 2.12. dan gambar 2.14. halaman
sebelumnya, bagian kepala jangka harus dikartel supaya pada saat

82 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

jangka diputar tidak sukar dan licin. Bagian dari kaki jangka harus
terjepit tetapi tetap masih bisa digerakkan (lihat gambar 2.13.). Jarum
jangka yang terletak pada bagian ujung jangka mempunyai dua ujung
yang tajam dimana pada bagian ujung yang satu mempunyai titik yang
kecil dan rata (lihat gambar 2.15.)
Untuk mencegah kerusakan kertas gambar pada saat membuat
lingkaran sebaiknya menggunakan ujung jangka yang kecil.

Gambar 2. 15. Penggunaan Jangka dengan Tinta


Berdasarkan penggunaannya jangka terbagi atas:
a) Jangka besar, digunakan untuk menggambar lingkaran dengan
diameter 100 sampai 200 mm.
b) Jangka menengah, digunakan untuk menggambar lingkaran
dengan diameter 20 sampai 100 mm.
c) Jangka kecil, digunakan untuk menggambar lingkaran dengan
diameter 5 sampai 30 mm.

Untuk membuat lingkaran dengan diameter 500 mm dapat digunakan


penyambung atau jangka batang sedangkan untuk membuat lingkaran
dengan jari-jari yang kecil dapat digunakan jangka orleon (lihat gambar
2.16.) dan jangka pegas. Perbedaannya dengan jangka biasa adalah
besar kecilnya lingkaran yang akan dibuat dengan jangka orleon dibuat
dengan menyetel sekrup setelan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 83


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 16. Jangka Orleon

7. Mal Gambar
Mal digunakan untuk memudahkan dan mengefisienkan waktu dalam
pengerjaan gambar dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil, ellips, segi enam
dan garis-garis lengkung lainnya. Mal yang beredar saat ini banyak terbuat
dari plastik dan mika bening yang ukurannya dibuat berdasarkan standar.
Jenis-jenis mal tersebut antara lain:
a. Mal Huruf dan Angka
Mal huruf dan angka (Gambar 2.17.) adalah sebuah alat gambar yang
digunakan untuk menggambar huruf dan angka, agar diperoleh tulisan
yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO.

84 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 17. Mal huruf dan angka


b. Mal Lengkung
Mal lengkung (Gambar 2.18.) berfungsi untuk melukiskan garis-garis
lengkung istimewa yang tidak bisa dilukiskan oleh jangka dan alat lainnya,
seperti garis lengkung diagram dan grafik.

Gambar 2. 18. Mal lengkung


c. Mal Lingkaran
Untuk membuat lingkaran-lingkaran kecil selain menggunakan
jangka orleon dan jangka pegas, juga dapat dilakukan dengan
mal lingkaran. Lingkaran kecil yang dapat dibuat dengan
menggunakan mal lingkaran mulai dari diameter 1 mm sampai
dengan 36 mm. Setiap lingkaran yang ada pada mal lingkaran
sudah terdapat empat garis sumbu mal lingkaran dengan garis
sumbu gambar yang telah dibuat pada kertas tersebut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 85


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 19. Mal lingkaran

d. Mal Bentuk
Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu
dengan cepat digunakan mal bentuk.

Gambar 2. 20. Mal bentuk


e. Mal Ellips

Mal ellips (Gambar 2.21) digunakan untuk membuat bentuk ellips-


ellips kecil. Sama dengan mal lingkaran, mal ellips juga
dilengkapi dengan empat garis sumbu.

86 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 21. Mal ellips


8. Rapido
Rapido adalah alat gambar dengan tinta untuk menggambar pada
kertas kalkir. Rapido memiliki bermacam-macam ukuran (yang
menunjukkan ketebalan garis yang dihasilkan) mulai dari 0,1 mm sampai
dengan 2,0 mm. Untuk memudahkan pemilihan pen, maka tiap ukuran
ditandai dengan warna tertentu. Salah satu bentuk rapido dapat dilihat
pada gambar 2.22. berikut.

Gambar 2. 22. Rapido

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 87


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 23. Bagian-bagian rapido


Agar tahan lama, rapido harus dirawat dengan cara membersihkannya
secara rutin bagian-bagian rapido (Gambar 2.23). Untuk membersihkan
pen rapido dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
 lepaskan pena dari tangkai/rumahnya dengan menggunakan
kunci pena yang tersedia.
 semprotkan air ke arah pena.
 ketuk-ketukan secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan tinta di
dalam pen tersebut dan semprot kembali dengan air sampai bersih.

9. Papan dan Meja Gambar


Papan dan meja gambar (Gambar 2.24) harus mempunyai permukaan
yang rata, lurus dan licin agar penggaris T dapat digeser. Ukuran
papan gambar yang memadai untuk gambar teknik adalah panjang 1265
mm, lebar 915 dan tebal 30mm. Meja gambar juga dirancang dengan
ukuran sesuai dengan ukuran kertas, seperti ukuran kertas A0 dan
A1. Bahan papan gambar terbuat dari urat kayu yang halus dan tidak
terlalu keras maupun terlalu lunak. Jenis kayu yang sering digunakan
adalah jenis kayu pohon cemara, linde dan pelupir.

88 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 24. Meja gambar dengan mesin gambar tipe Kereta


Untuk menghindari papan gambar bengkok atau lengkung akibat
perubahan cuaca, maka pada bagian bawah papan gambar dilengkapi
dengan dua buah kaki yang miring. Kaki papan gambar juga
berfungsi sebagai tempat kedudukan papan gambar. Permukaan papan
gambar harus rata akan tetapi akan lebih baik jika permukaan papan
gambar dilapisi dengan kertas gambar putih tebal lalu dilapisi kembali
dengan plastik bening yang cukup tebal pula. Mesin gambar adalah alat
yang dapat menggantikan fungsi alat-alat gambar lainnya seperti busur
lingkaran, penggaris T, segitiga dan ukuran. Meskipun mesin gambar
sudah dilengkapi dengan dua buah mistar gambar (Gambar 2.25.)
yang saling tegak lurus dan dapat bergerak bebas pada saat menggambar,
mistar gambar tersebut tetap dijaga kondisi dalam posisi tegak lurus
(Gambar 2.26.)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 89


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2. 25. Mesin gambar

Tabel 2. 2. Jenis-jenis mesin gambar

Keterangan:
J = Jenis
L = Jenis Besar
S = Jenis Kecil
Pada tabel di atas, A0 dan A1 menunjukkan ukuran kertas gambar
terbesar yang dapat digunakan pada papan gambar mesin tersebut.
Daerah kerja merupakan luasan panjang dikali lebar kertas gambar yang
digunakan. Untuk mengatur tinggi rendahnya mesin gambar dapat
dilakukan dengan menginjak pedal yang berada pada bagian bawah
meja gambar. Agar mendapatkan posisi miring dari mesin gambar,
dapat dilakukan dengan menarik handle yang berada di belakang papan
gambar.

90 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 2. 26. Handle mesin gambar tipe Pita

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, Peserta hendaknya mengidentifikasi


dan mengamati cara menggunakan peralatan dalam gambar teknik
yang telah ditetapkan di beberapa negara industri maju, dan
standard gambar maupun symbol berdasarkan ISO.
2. Untuk menambah wawasan dan informasi Peserta, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang peralatan gambar teknik
diantaranya Jenis dan ukuran kertas, Macam dan jenis pensil serta
mal gambar dan Mesin gambar yang digunakan untuk menggambar
standar gambar teknik .
4. Amati lingkungan laboratorium anda, apakah jumlah fasilitas
peralatan yang digunakan dalam menggambar sudah memadahi dan
sudah standar ISO? Jika belum standar, peluang apa saja yang bisa
anda lakukan untuk menerapkannya sesuai standar?

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 91


Kegiatan Pembelajaran 2

E. Latihan/Tugas

Tugas 1
Carilah berbagai macam model-model baru peralatan gambar teknik yang
ada dipasaran.

Tugas 2
a) Buat kelompok yang masing-masing berjumlah 5 orang.
b) Diskusikan beberapa pertanyaan tugas 2 yang diberikan.
c) Gunakan referensi tambahan bila pertanyaan atau tugas tidak
dapat Anda simpulkan jawabannya dari kegiatan pembelajaran.
d) Presentasikan dan simpulkan hasil diskusi kelompok Anda.
Pertanyaan Tugas 2
a) Saat ini, proses pembuatan gambar teknik telah menggunakan
media komputer. Apakah kelebihan dan kekurangan menggambar
secara manual dibanding menggunakan komputer?
b) Bila saat menggambar Anda tidak memiliki busur derajat, alat
apa sajakah yang dapat digunakan untuk membuat berbagai
sudut dengan besar tertentu?
c) Jelaskan teknik penggunaan: busur derajat, penggaris siku dan
T, jangka, mal serta mesin gambar!

F. TES FORMATIF

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan teratur, ringkas dan jelas.


1. Mengapa dalam menggambar teknik diperlukan berbagai macam
jenis pensil yang ada ?
2. Untuk keperluan yang sama, apa keuntungan penggunaan mesin
gambar dibanding dengan alat yang lain ?
3. Mengapa pembuatan gambar lingkaran untuk teknik elektro dan
elektronika lebih efektif menggunakan sablon / mal lingkaran dari
pada jangka

92 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

G. Rangkuman

 Kertas gambar yang dipergunakan mempunyai ukuran-ukuran yang


telah dinormalisir. Ukuran yang paling banyak dipergunakan adalah
dari seri A (A0, A1, A2, A3, A4 dan A5).
 Untuk menggambar dengan pensil, digunakan pensil mekanik
dengan isian. Ada beberapa tingkat kekerasan yang penggunaannya
didasarkan atas permukaan dan jenis kertas gambar. Jenis isian
pensil gambar terdapat dari 9H ( sangat keras ) sampai 8B ( sangat
lunak ).
 Dalam menggunakan jangka tergantung besar kecilnya lingkaran
yang akan digambar
 Mesin gambar dalam menggunakannya dapat menghasilkan gambar
yang presisi dan dapat menggantikan berbagai peralatan gambar
yang ada.

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Mengetahui peralatan gambar teknik dan
fungsinya.
2 Mampu mengoperasikan peralatan gambar
teknik manual.

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai
standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri
atau berkelompok?

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 93


Kegiatan Pembelajaran 2

 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.

No: Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria
SMART

Spesifik

94 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Dapat diukur

Dapat dicapai

Relevan

Rentang/Ketepatan
Waktu

I. Kunci Jawaban

1. Dalam menggambar teknik diperlukan berbagai macam jenis pensil


yang ada yang disesuaikan dengan jenis kertas yang dipakai.
2. Keuntungan menggunakan mesin gambar daripada alat konvensional
lainnya adalah mesin gambar merupakan alat yang multifungsi, yaitu
dapat digunakan sebagai busur derajat, penggaris-T, dan mistar
segitiga
3. Pembuatan bentuk lingkaran untuk gambar teknik elektro dan
elektronika lebih efektif menggunakan jangka karena ukuran bentuk
lingkarannya relatif kecil sehingga lebih mudah digambar dengan
sablon (mal).

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 95


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Pembelajaran 3
Gambar Proyeksi

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi mengenal proyeksi ini, peserta


diharapkan dapat;
1. mendiskripsikan proyeksi pictorial,
2. mendiskripsikan proyeksi orthogonal,
3. mendiskripsikan ketentuan proyeksi isometrik, dimetrik dan miring,
4. mendiskripsikan ketentuan proyeksi Eropa (kuadran I),
5. mendiskripsikan i ketentuan proyeksi Amerika (kuadran III),
6. mendiskripsikan cara membaca gambar pandangan.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. menggambar proyeksi pictorial,


2. menggambar proyeksi orthogonal,
3. membuat ketentuan proyeksi isometrik, dimetrik dan miring,
4. menggambar dengan ketentuan proyeksi Eropa (kuadran I),
5. menggambar dengan ketentuan proyeksi Amerika (kuadran III),
6. dapat membaca gambar pandangan.

C. Uraian Materi

Mengenal Proyeksi
Untuk bisa membaca gambar, maka hal yang dibutuhkan adalah dapat
menangkap dan memahami informasi yang terdapat pada gambar tersebut.
Untuk bisa memahami informasi dari sebuah gambar, antara designer

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 97


Kegiatan Pembelajaran 3

(perancang gambar), drafter (juru gambar) dan operator (pengguna gambar)


harus mempunyai konsep yang sama sehingga informasi gambar yang
dimaksudkan tidak terjadi salah pengertian di antara ketiga orang tersebut.
Untuk itu designer, drafter dan operator harus memahami, simbol, ukuran
dan skala gambar yang telah distandarkan. Cara yang lain dapat dilakukan
untuk bisa membaca gambar adalah dengan memahami jenis proyeksi dari
gambar tersebut.

Proyeksi adalah gambar dari benda nyata atau khayalan, yang dilukiskan
menurut garis-garis pandangan pengamat pada suatu bidang datar/ bidang
gambar. Proyeksi juga berfungsi untuk menyatakan wujud benda dalam
bentuk gambar yang diperlukan. Proyeksi dikelompokkan atas 2 klasifikasi
yaitu proyeksi piktorial dan proyeksi orthogonal, seperti yang terlihat pada
Gambar 3.1. Jenis-jenis proyeksi

Gambar 3. 1. Jenis-jenis proyeksi


1. Proyeksi Piktorial
Proyeksi piktorial adalah cara menampilkan gambar benda yang mendekati
bentuk dan ukuran sebenarnya secara tiga dimensi (Gambar 3.2.), dengan

98 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

pandangan tunggal. Gambar piktorial disebut juga gambar ilustrasi, tetapi


tidak semua gambar ilustrasi termasuk gambar piktorial. Dari contoh berikut
dapat dibedakan gambar ilustrasi teknik jenis piktorial dan yang bukan
piktorial.

Gambar 3. 2. Proyeksi pictorial


a. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi aksonometri merupakan salah satu jenis proyeksi
piktorial. Proyeksi ini merupakan proyeksi gambar dimana
bidang-bidang atau tepi benda dimiringkan terhadap bidang
proyeksi, maka tiga muka dari benda tersebut akan terlihat
serentak dan memberikan gambaran bentuk benda seperti
sebenarnya. Perhatikan gambar 3.3. dan gambar 3.4 dibawah ini

Gambar 3. 3. Proyeksi aksonometri

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 99


Kegiatan Pembelajaran 3

a. Proyeksi Isometris b. Proyeksi miring

c. Proyeksi dimetris d. Perspektif


Gambar 3. 4. Perbandingan beberapa jenis proyeksi pictorial
b. Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri seperti yang ditunjukkan Gambar 3.5 menyajikan
benda dengan tepat, karena panjang garis pada sumbu-sumbunya
menggambarkan panjang sebenarnya. Cara menggambarnya
sangat sederhana karena tidak ada ukuran-ukuran benda yang
mengalami skala perpendekan. Gambar menampilkan kedudukan
sumbu-sumbu isometri, yang dapat dipilih sesuai dengan tujuan
dan hasil yang akan memberikan kesan gambar paling jelas.

100 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 3. 5. Proyeksi isometric


c. Proyeksi Dimetri
Proyeksi dimetri seperti yang ditunjukkan Gambar 3.6 merupakan
penyempurnaan dari gambar isometri, dimana garis-garis yang
tumpang-tindih yang terdapat pada gambar isometri, pada gambar
dimetri tidak kelihatan lagi.

Gambar 3. 6. Proyeksi dimetri


d. Proyeksi Trimetri
Proyeksi trimetri merupakan proyeksi yang berpatokan kepada
besarnya sudut antara sumbu-sumbu (x,y,z) dan panjang garis
sumbu-sumbu tersebut. Sudut proyeksi trimetri adalah 20o untuk
alfa dan 30 o untuk beta atau 10 o untuk alfa dan 20 o untuk beta.

Gambar 3. 7. Proyeksi trimetric


e. Proyeksi Miring (Oblique)
Proyeksi miring merupakan proyeksi gambar dimana garis-garis
proyeksi tidak tegak lurus bidang proyeksi, tetapi membentuk
sudut sembarang (miring). Permukaan depan dari benda pada
proyeksi ditempatkan dengan bidang kerja proyeksi sehingga bentuk
permukaan depan tergambar seperti sebenarnya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 101


Kegiatan Pembelajaran 3

Gambar 3. 8. Proyeksi miring


Jika kedalaman benda sama dengan panjang sebenarnya
disebut proyeksi miring cavalier, sedangkan untuk panjang
kedalaman yang diperpendek disebut dengan proyeksi miring
cabinet. Gambar oblique biasanya dimulai dengan 3 basis sumbu
yaitu 0o, 45o dan 90o.

f. Proyeksi Perspektif
Proyeksi perspektif merupakan proyeksi piktorial yang terbaik
kesan visualnya, tetapi cara penggambarannya sangat sulit dan
rumit, apalagi untuk menggambar bagian-bagian yang rumit dan
kecil. Pada proyeksi perspektif garis-garis pandangan (garis
proyeksi) di pusatkan pada satu atau beberapa titik. Titik tersebut
dianggap sebagai mata pengamat.

Bayangan yang terbentuk pada bidang proyeksi disebut dengan


gambar perspektif.

Gambar 3. 9. Proyeksi perspektif

102 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2. Proyeksi Ortogonal
Proyeksi ortogonal seperti yang ditunjukkan Gambar 3.10 adalah gambar
proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap
proyektornya. Proyektor adalah garis-garis yang memproyeksikan benda
terhadap bidang proyeksi.

Gambar 3. 10. Proyeksi orthogonal

a. Proyeksi Eropa
Proyeksi Eropa termasuk kedalam jenis proyeksi ortogonal,
disebut juga proyeksi sudut pertama atau proyeksi kwadran I.
Proyeksi Eropa merupakan proyeksi yang letaknya terbalik
dengan arah pandangnya. Coba kita perhatikan kembali gambar
dibawah ini, dengan model yang sama kita proyeksikan gambar
tersebut kedalam proyeksi Eropa.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 103


Kegiatan Pembelajaran 3

Gambar 3. 11. Proyeksi Eropa

b. Proyeksi Amerika
Proyeksi Amerika disebut juga proyeksi sudut ketiga atau
proyeksi kwadran III, , perbedaan istilah ini tergantung dari
masing-masing pengarang yang menjadi refernsi. Proyekasi
Amerika merupakan proyeksi yang letak bidangnya sama dengan
arah pandangannya.

Coba perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 3. 12. Proyeksi Amerika

104 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Proyeksi Eropa dan Amerika akan dibahas lebih rinci pada


kegiatan pembelajaran berikutnya.

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, Anda hendaknya mengidentifikasi


proses menggambar proyeksi pictorial, menggambar proyeksi
orthogonal, mengetahui ketentuan proyeksi isometrik, dimetrik dan
miring, menggambar dengan ketentuan proyeksi Eropa (kuadran I).
dan menggambar dengan ketentuan proyeksi Amerika (kuadran III).
Serta dapat membaca gambar pandangan.
2. Perhatikan urutan urutan yang dilakukan dalam menggambar , karena
masing2 mempunyai urutan yang berbeda.
3. Untuk menambah wawasan dan informasi anda, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang menggambar proyeksi
pictorial, menggambar proyeksi orthogonal, mengetahui ketentuan
proyeksi isometrik, dimetrik dan miring, menggambar dengan
ketentuan proyeksi Eropa (kuadran I). dan menggambar dengan
ketentuan proyeksi Amerika (kuadran III). Serta dapat membaca
gambar pandangan
4. Amati lingkungan laboratorium gambar sekolah anda, apakah jumlah
fasilitas peralatan dan bahan serta perlengkapan gambar sudah
standar? Jika belum standar, peluang apa saja yang bisa anda
lakukan untuk menerapkannya sesuai standar?

E. Latihan/Tugas

Tugas
Buatlah kelompok yang masing-masing berjumlah 5 orang, lalu diskusikan
dan kerjakan beberapa soal berikut:
1. Buatlah huruf dan angka standar berikut dengan tinggi 5, 7 dan
10 mm pada kertas A3. Gunakan aturan jarak untuk tipe A atau
B dan beri etiket (kepala gambar).

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 105


Kegiatan Pembelajaran 3

2. Buat gambar berikut pada kertas A3. Perhatikan jenis garis,


ketebalan dan peralatan yang diperlukan dalam pembuatannya.
Beri etiket (kepala gambar) dan garis pembatas sesuai dengan
ketentuan.

106 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

3. Buat gambar berikut dengan skala 2: 1 pada kertas A4 dalam


bentuk proyeksi isometri, dimetri dan miring. Lengkapi dengan
etiket (kepala gambar) untuk setiap soal.

a)

b)

F. Tes Formatif

1. Mengapa dalam gambar teknik digunakan cara proyeksi ?


2. Berapa jenis pandangan yang digunakan pada gambar teknik dan
bagaimana pemilihannya ?
3. Mengapa proyeksi ortogonal lebih banyak digunakan daripada
proyeksi piktorial ?
4. Apa perbedaan antara proyeksi kuadran I (Eropa) dengan
proyeksi kuadran III (Amerika) ?

G. Rangkuman

 Proyeksi merupakan cara penggambaran suatu benda, titik,


garis, bidang, benda ataupun pandangan suatu benda terhadap
suatu bidang gambar.
 Proyeksi piktorial/pandangan tunggal adalah cara penyajian suatu
gambar tiga dimensi terhadap bidang dua dimensi.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 107


Kegiatan Pembelajaran 3

 Proyeksi ortogonal merupakan cara pemproyeksian yang bidang


proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya.
 Pada gambar isometri panjang garis pada sumbu-sumbu isometri
menggambarkan panjang yang sebenarnya. Gambar isometri dapat
menyajikan benda dengan tepat dan memerlukan waktu yang lebih
singkat dibandingkan dengan cara proyeksi yang lain.
Ciri pada sumbu
o Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis
mendatar.
o Sudut antara sumbu satu dengan sumbu lainnya 120°.
Ciri pada ukurannya
o Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan
panjang benda yang digambarnya.
 Proyeksi dimetri yaitu proyeksi pada gambar dimana skala
perpendekan dari dua sisi dan dua sudut dengan garis horizontal
sama. Pada proyeksi dimetri terdapat beberapa ciri dan ketentuan
yang perlu diketahui, ciri dan ketentuan tersebut antara lain:
Ciri pada sumbu
o Pada sumbu x mempunyai sudut 10°, sedangkan pada sumbu
y mempunyai sudut 40°.
Ketentuan ukuran
o Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1, dan
skala pada sumbu y = 1 : 2, sedangkan pada sumbu z = 1 :
1
 Proyeksi dimetri yaitu proyeksi pada gambar dimana skala
perpendekan dari dua sisi dan dua sudut dengan garis horizontal
sama. Pada proyeksi dimetri terdapat beberapa ciri dan ketentuan
yang perlu diketahui, ciri dan ketentuan tersebut antara lain:
o Ciri pada sumbu
Pada sumbu x mempunyai sudut 10°, sedangkan pada sumbu
y mempunyai sudut 40°.
o Ketentuan ukuran

108 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1, dan


skala pada sumbu y = 1 : 2, sedangkan pada sumbu z = 1 :
1
 Gambar perspektif yaitu bayangan yang terbentuk dari benda
yang jika antara benda dan titik penglihatan tetap diletakkan
sebuah bidang vertikal atau bidang gambar. Gambar perspektif
adalah gambar yang serupa dengan gambar benda yang dilihat
dengan mata biasa dan banyak dipergunakan dalam bidang
arsitektur. Ada tiga macam gambar perspektif, seperti perspektif
satu titik (perspektif sejajar), perspektif dua titik (perspektif
sudut), dan perspektif tiga titik (perspektif miring).
 Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang
proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya.
Berbagai macam proyeksi ortogonal antara lain:
o Proyeksi ortogonal dari sebuah titik
o Proyeksi ortogonal dari sebuah garis
o Proyeksi ortogonal dari sebuah bidang
o Proyeksi ortogonal dari sebuah benda
 Proyeksi Eropa dan Amerika merupakan proyeksi yang digunakan
untuk memproyeksikan pandangan dari sebuah gambar tiga dimensi
terhadap bidang dua dimensi.
o Proyeksi Eropa disebut juga proyeksi sudut pertama, juga
ada yang menyebutkan proyeksi kuadran I.
o Proyeksi Amerika dikatakan juga proyeksi sudut ketiga dan juga
ada yang menyebutkan proyeksi kuadran III.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 109


Kegiatan Pembelajaran 3

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di
bawah ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Menggambar proyeksi piktorial.

2 Menggambar proyeksi ortogonal.

3 Mengetahui ketentuan proyeksi


isometrik, dimetrik dan miring.
4 Menggambar dengan ketentuan
proyeksi Eropa (kuadran I).
5 Menggambar dengan ketentuan
proyeksi Amerika (kuadran III).
6. Dapat membaca gambar
pandangan

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai
standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri
atau berkelompok?
 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.
No: Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

110 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria
SMART

Spesifik

Dapat diukur

Dapat dicapai

Relevan

Rentang/Ketepatan
Waktu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 111


Kegiatan Pembelajaran 3

I. Kunci Jawaban

1. Mengapa dalam gambar teknik digunakan cara proyeksi ?


Proyeksi merupakan cara penggambaran suatu benda, titik,
garis, bidang, benda ataupun pandangan suatu benda terhadap
suatu bidang gambar. Proyeksi piktorial/pandangan tunggal adalah
cara penyajian suatu gambar tiga dimensi terhadap bidang dua
dimensi. Sedangkan proyeksi ortogonal merupakan cara
pemproyeksian yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak
lurus terhadap proyektornya.
2. Berapa jenis pandangan yang digunakan pada gambar teknik
dan bagaimana pemilihannya ?
Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh
bidang – bidang depan, bidang vertikal dan bidang horizontal.
Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan sebutan kuadran.
1) Ruang di atas bidang H, didepan bidang D dan disamping kanan
bidang V disebut kuadran I.
2) Ruang yang berada diatas bidang H, didepan bidang D dan
disebelah kiri bidang V disebut kuadran II.
3) Ruang disebelah kiri bidang V, dibawah bidang H dan didepan
bidang D disebut kuadran III.
4) Ruang yang berada dibawah bidang H, didepan bidang D dan
disebelah kanan bidang V disebut kuadran IV.
3. Mengapa proyeksi ortogonal lebih banyak digunakan daripada
proyeksi piktorial ?
Proyeksi piktorial adalah cara menampilkan gambar benda yang
mendekati bentuk dan ukuran sebenarnya secara tiga dimensi,
dengan pandangan tunggal. Sedangkan Proyeksi orthogonal
……………………..
4. Apa perbedaan antara proyeksi kuadran I (Eropa) dengan
proyeksi kuadran III (Amerika) ?
Proyekasi Amerika merupakan proyeksi yang letak bidangnya
sama dengan arah pandangannya sedangkan Proyeksi Eropa

112 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

merupakan proyeksi yang letaknya terbalik dengan arah


pandangnya

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 113


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Pembelajaran 4
Geometri Gambar Teknik

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi geometri gambar teknik ini, peserta


diharapkan dapat;
1. mendeskripsikan cara menggambar garis dan sudut istimewa,
2. mendeskripsikan cara menggambar segi banyak,
3. mendeskripsikan cara menggambar lingkaran,
4. mendeskripsikan cara menggambar elips,
5. mendeskripsikan cara menggambar silinder,
6. mendeskripsikan cara menggambar parabola,
7. mendeskripsikan cara menggambar hiperbola. Mengetahui ketentuan
proyeksi isometrik, dimetrik dan miring.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Dapat menggambar garis dan sudut istimewa.


2. Dapat menggambar segi banyak.
3. Dapat menggambar lingkaran.
4. Dapat menggambar elips.
5. Dapat menggambar silinder.
6. Dapat menggambar parabola.
7. Dapat menggambar hiperbola.
8. Membuat ketentuan proyeksi isometrik, dimetrik dan miring .

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 115


Kegiatan Pembelajaran 4

C. Uraian Materi

Geometri Gambar Teknik


Dalam menggambar teknik secara manual, seorang juru gambar harus
memiliki kemampuan dalam menggunakan peralatan gambar secara optimal.
Ada bentuk-bentuk geometri yang bisa digambar langsung menggunakan
penggaris, jangka dan mal namun ada juga yang tidak. Alat-alat tersebut
memiliki keterbatasan ukuran sehingga tidak semua bentuk geometri dapat
digambar secara langsung.
Misalnya, bagaimana Anda dapat menggambar elips sedangkan anda tidak
memiliki mal elips. Bagaimana membuat segi banyak tanpa menggunakan
bantuan busur derajat, dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Oleh karena itu, pada kegiatan pembelajaran ini akan mempelajari beberapa
teknik dasar dalam menggambar bentuk geometri tertentu dengan
menggunakan pensil, penggaris dan jangka.
1. Garis dan Sudut
a. Menggambar Garis Tegak Lurus
1) Letakkan sisi miring segitiga 45o - 45o sedemikian hingga
berimpit dengan garis 1 yang diketahui dan bagian bawah
ditahan oleh segitiga yang lain.
2) Putarlah segitiga 45o - 45o sebesar 90o ( lihat anak panah
B ) maka sisi miringnya akan tegak lurus garis l. Geser
segitiganya (lihat anak panah b) bila perlu.
3) Tarik garis m.

116 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Cara 1 cara 2
Gambar 4. 1. Membuat garis tegak lurus

b. Menggambar Garis Miring

Gambar 4. 2. Menggambar garis miring cara pertama

Gambar 4. 3. Menggambar garis miring cara kedua


c. Menggambar Garis Sejajar
Untuk membuat garis sejajar, sebuah penggaris segitiga yang
dijadikan acuan tidak boleh bergerak. Letakkan penggaris
segitiga kedua sesuai dengan arah garis yang dikehendaki lalu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 117


Kegiatan Pembelajaran 4

tarik garis. Selanjutnya geser segitiga kedua sesuai dengan jarak


yang dikehendaki lalu tarik garis dan seterusnya.
d. Menggambar Garis Lengkung
Untuk membuat garis lengkung menggunakan jangka tentukan
dahulu jari-jari lingkaran atau pusat putaran lingkaran. Misalnya
jari-jari lingkaran pusat M1 lebih besar dari jari-jari lingkaran pusat
M2.
1) Buat garis sumbu sebagai pusat putaran lengkungan M1
dan M2 sesuai besar jari-jarinya.
2) Buat setengah lingkaran dengan jangka dari pusat M1,
kemudian dilanjutkan membuat setengah lingkaran dengan
jangka pada pusat M2, maka terbentuklah garis lengkung yang
berhubungan.

Gambar 4. 4. Membuat garis lengkung dengan jangka

Untuk membuat garis lengkung dengan mal lengkung


harus memperhatikan titik mana yang akan dihubungkan
agar kelengkungan tidak kelihatan janggal atau tak sesuai.
Usahakan penarikan garis melalui 3 titik penghubung
sedapat mungkin, bila terpaksa menghubungkan hanya
dengan 2 titik harus dilihat kebenaran lengkungannya.

118 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Tentukan titik sembarang A, B, C, D dan E:


1) Carilah mal lengkung yang sesuai dengan dengan
lengkungan 3 titik A, B dan C.
2) Cari lagi mal lengkung yang sesuai dengan lengkungan
C, D dan E.
3) Karena garis lengkung untuk A, B, C, D dan E tidak
selaras maka lengkung C, D dan E dibatalkan.
4) Gunakan mal lengkung untuk titik C dan D saja,
pastikan lengkungnya menyambung atau jadi satu.
5) Buat lengkung dari titik D dan E untuk menyambung
lengkung berikutnya cari mal yang sesuai.

Gambar 4. 5. Membuat garis lengkung dengan mal


e. Membagi Garis menjadi Dua Bagian Sama Panjang
1) Buat dua busur lingkaran dengan A dan B sebagai pusat,
jari-jari R sembarang. kedua busur saling berpotongan di a dan
b
2) Tarik garis ab yang memotong AB di C maka AC = CB

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 119


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4. 6. Membagi garis sama panjang


f. Membagi Garis Menjadi Beberapa Bagian Sama Panjang
1) Tarik garis sembarang dari A
2) Ukuran pada garis a-x bagian yang sama panjang (misal
dibagi delapan)dengan memakai jangka Aa = ab = bc = cd = de
= ef = fg = gh.
3) Hubungkan titik h dengan B.
4) Tariklah dari titik-titik: g, f, e, d, c, b, a, garis sejajar dengan
garis hB. Garis-garis ini akan memotong AB di titik-titik
yang membaginya dalam 8 bagian yang sama panjang.

Gambar 4. 7. Membagi garis sama panjang

g. Menggabungkan Garis
Untuk menggabungkan garis lurus dengan garis lurus yang perlu
anda perhatikan adalah tidak boleh ada kelebihan garis yang
memotong atau menyilang.
1) Tarik garis dari titik A ke titik B, kemudian dilanjutkan dari
titik B menuju ke titik C dan seterusnya dari titik C ke titik D
sehingga garis ABCD bergabung.

120 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

2) Jangan menggabungkan garis yang tidak sejalan karena


hasilnya akan kurang baik. Misalnya: dari A ke B, dari D ke C
atau dari B ke C.

Gambar 4. 8. Menggabung beberapa garis

Untuk menggabungkan antara garis lengkung dan garis lurus


sebaiknya dimulai dari pembuatan garis lengkung dahulu.
a) Buat garis lengkung setengah lingkaran dari titk pusat M1
dari titik A ke titik B.
b) Tarik garis lurus dari titik B ke titik C dan seterusnya.
c) Buat setengah lingkaran pusat M2 dari titik C ke titik D.
d) Jangan membuat garis yang tidak berurutan, karena
hasilnya akan kurang baik. Misalnya dibuat setengah
lingkaran besar pusat M1 dari titik A ke titik B, kemudian
setengah Lingkaran pusat M2 dari titik D ke titik C, dan
seterusnya membuat garis dari titik B ke titik C.

Gambar 4. 9. Menggabung garis lurus dan lengkung


h. Memindahkan Sudut
1) Buat busur lingkaran dengan A sebagian pusat dengan
jari-jari sembarang (R) yang memotong kaki-kaki sudut AB dan
AC di n dan m.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 121


Kegiatan Pembelajaran 4

2) Buat pula busur lingkaran dari A1 dengan jari-jari R1


(R=R1) yang memotong kaki sudut A1 C1 di m1.
3) Buat busur lingkaran dari titik m dengan jari-jari r = nm.
4) Buat pula busur lingkaran dengan jari-jari r1 = r dari titik
di m1, busur ini memotong busur yang pertama ( jari-jari R1) di
titik n.
5) Tarik garis A1 n1 yang merupakan kaki sudut A1 B1, maka
sudut B1 A1 C1 = sudut BAC.

Sudut asal Sudut pindahan


Gambar 4. 10. Memindahkan sudut
i. Membagi Sudut Sama Besar
1) Lingkarkan sebuah busur lingkaran dengan titik A sebagai
pusat dengan jari-jari sembarang R yang memotong kaki sudut
AB dan AC di titik-titik P dan Q.
2) Buat busur dengan P dan Q sebagai pusat busur
lingkaran dengan jari-jari sebarang R2 dan R3 dimana R2 =
R3. Kedua busur lingkaran tersebut berpotongan di T.
3) Tarik garis AT maka BAT = TAC.

Gambar 4. 11. Membagi sudut sama besar


j. Membagi Sudut Siku-Siku menjadi Tiga

122 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

1) Buat sebuah busur lingkaran dengan titik A sebagai pusat


dengan jari-jari sembarang (R). Busur, lingkaran ini memotong
kaki AB di P dan kaki AC di O.
2) Buat busur lingkaran dengan jari-jari R dan dengan titik pusat P
dan O. Kedua busur lingkaran ini memotong busur yang
pertama di titik R dan S.
3) Tarik garis AR dan AS, maka BAR = RAS = SAC.

Gambar 4. 12. Membagi sudut siku-siku menjadi tiga sama besar


2. Segitiga
Untuk dapat menggambar segitiga maka minimal harus ditentukan 3
informasi agar segitiga dapat dibuat sesuai yang dikehendaki. Unsur-unsur
yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam menggambar segitiga
bila antara lain:
a. Sisi – Sudut – Sisi
1) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
2) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran urutan 2,
3, 4 terus 5 pada titik A.
3) Ukurkan panjang garis ukuran 6 ke garis sudut yang telah
dibentuk pada titik C.
4) Segitiga ABC sudah tergambar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 123


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4. 13. Menggambar segitiga cara pertama

b. Sudut – Sisi – Sudut


1) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
2) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran
urutan 2, 3 pada titik A dan urutan 4, 5 pada titik B.
3) Pertemuan garis pembentuk kedua sudut memotong titik C.
4) Segitiga ABC sudah tergambar.

Gambar 4. 14. Menggambar segitiga cara kedua

c. Sisi – sisi – sisi

124 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Segitiga ini merupakan segitiga sama sisi karena ketiga sisinya


sama panjang.
1) Tentukan atau ukur salah satu sisinya misalnya AB.
2) Ukurlah urutan 1 dari titik A sepanjang garis AB.
3) Ukurkan kembali urutan 2 dari titik B sepanjang AB.
4) Segitiga ABC sama kaki tergambar.

Gambar 4. 15. Menggambar segitiga cara ketiga


3. Bujur Sangkar
a. Tentukan lingkaran dengan titik pusat M.
b. Tarik garis tengahnya memotong titik A dan B.
c. Lingkarkan jari-jari dari titik A dan B sama panjang.
d. Hubungkan perpotongan lingkaran dari titik A dan B,
sehingga memotong lingkaran yang ditentukan pada titik C dan
D.
e. Titik A, B, C dan D dihubungkan membentuk segi empat
beraturan atau bujur sangkar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 125


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4. 16. Menggambar Bujur Sangkar

4. Segi n Beraturan
a. Segi Lima Beraturan
1) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
2) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A
dan titik B.
3) Buat busur yang sama dari titik A dan titik B, perpotongan
busur tersebut ditarik garis memotong lingkaran di titik C
dan D serta melalui titik M.
4) Buat busur yang sama pada titik M dan titik B,
perpotongan busur tersebut ditarik garis hingga memotong di
titik E.
5) Hubungkan garis dari titik E dan titik D.
6) Lingkarkan dari titk E sepanjang ED ke arah MA hingga
memotong di titik F. Garis DF merupakan sisi dari segi lima
beraturan.
7) Seterusnya lingkarkan sisi tersebut pada keliling lingkaran
akan membentuk segi lima beraturan.

Gambar 4. 17. Segi lima beraturan

126 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

b. Menggambar Segi Enam Beraturan


1) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
2) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A
dan titik B.
3) Buat busur yang sama dari titik A dan titik B sepanjang
AM = BM memotong lingkaran.
4) Hubungkan titik potong yang terdapat pada lingkaran
tersebut, sehingga tergambarlah segi enam beraturan.

Gambar 4. 18. Segi enam beraturan


c. Mengambar Segi Tujuh Beraturan
1) Buat lingkaran dengan pusat M.
2) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A
dan titik B.
3) Buat busur yang sama dari titik B sepanjang BM
memotong lingkaran dititik C dan D.
4) Hubungkan titk potong C dan D memotong BM dititik E,
maka CE merupakan sisi dari segi tujuh beraturan.
5) Lingkarkan sisi CE pada keliling lingkaran sehingga
tergambarlah segi tujuh beraturan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 127


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4. 19. Segi tujuh beraturan

d. Menggambar Segi Delapan Beraturan


1) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
2) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A
dan titik B.
3) Buat busur yang sama dari titik A dan titik B dan tarik
perpotongan busur sehingga memotong lingkaran di titik C dan
D dan melalui titik M.
4) Bagilah busur AD dan BD sama besar, kemudian tarik
garis hingga memotong lingkaran.
5) Hubungkan 8 titik potong pada lingkaran tersebut,
sehingga tergambarlah segi delapan beraturan.

Gambar 4. 20. Segi delapan beraturan

128 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

e. Menggambar Segi Sembilan Beraturan


1) Buat lingkaran.
2) Tarik garis tengah AB dan bagilah AB menjadi 9 bagian
sama panjang.
3) Tarik garis CD tegak lurus garis AB ditengah-tengah AB.
4) Perpanjang garis AB dan CD berturut-turut denagn BE dan DF
= 1/9 AB.
5) Hubungkan DF hingga memotong lingkaran, maka garis
dari titik potong lingkaran ke titik 3 merupakan sisi segi 9
beraturan dan ukurkanlah pada keliling lingkaran.

Gambar 4. 21. Segi sembilan beraturan

f. Menggambar Segi Sepuluh Beraturan


1) Buat lingkaran dengan pusat M.
2) Tarik garis tengah melalui titk M arah mendatar sehingga
memotong lingkaran.
3) Buat garis tengah melalui titik M arah tegak sehingga
memotong lingkaran.
4) Buat busur yang sama dari titik M dan titik Q,
perpotongan busur tersebut ditarik memotong garis MQ di titik
L dan D.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 129


Kegiatan Pembelajaran 4

5) Lingkarkan dari titk L sepanjang LD kearah MP hingga


memotong di titik F.
6) Garis DF merupakan sisi dari segi lima beraturan,
sedangkan MF merupakan sisi segi sepuluh.
7) Lingkarkan sisi tersebut pada keliling lingkaran hingga
membentuk segi lima beraturan dan juga segi sepuluh
beraturan.

Gambar 4. 22. Segi sepuluh beraturan


g. Lingkaran
1) Membuat Lingkaran
a) Tentukan panjang jari-jari.
b) Buat garis AB sesuai dengan jari-jari lingkaran yang
ditentukan.
c) Buat lingkaran dari titik A sepanjang AB dengan
jangka, maka lingkaran sudah dibuat dengan jari-jari
AB.

130 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 4. 23. Menggambar lingkaran

2) Membagi Keliling Lingkaran Sama Besar


Membagi keliling lingkaran sama saja dengan membagi
busur lingkarannya. Untuk menentukan panjang lingkaran
sama besar kita gunakan rumus yaitu 360o dibagi jumlah
pembagian keliling yang diinginkan.
Contoh kita menginginkan 8 bagian dari busur lingkaran, maka
360o: 8 = 45o. Berarti kita harus membuat sudut luar sebesar
45o atau membagi lingkaran menjadi 8 bagian atau dapat
dikatakan membuat segi 8 beraturan terlebih dahulu.
Ingat buatlah sudut yang dapat dibuat dengan bantuan
jangka. Contoh keliling lingkaran yang dibagi menjadi delapan
sama besar.
a) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
b) Tarik garis tengah lingkaran memotong titk A dan B.
c) Buat busur dari titik A dan titik B sama panjang.
d) Tarik perpotongan kedua busur hingga memotong
lingkaran di titik C dan D.
e) Buat busur dari titik A dan C sama panjang dan juga
busur dari titik B dan titik C sama panjang.
f) Perpotongan kedua busur dihubungkan ke titik M
memotong lingkaran di titik E dan G.
g) Lanjutkan hingga memotong lingkaran berikut di titik F
dan H.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 131


Kegiatan Pembelajaran 4

h) Keliling lingkaran sudah dibagi 8 sama besar yaitu:


AE, EC, CG, GB, BF, FD, DH dan HA.

Gambar 4. 24. Membagi keliling lingkaran sama besar

3) Menggambar Garis Singgung Lingkaran


a) Tentukan titik P dan lingkaran yang berpusat di titik M.
b) Tarik dari titik M ke P dan tentukan titik N di tengah-
tengah antara garis MP. Caranya buat busur yang sama
dari titik M dan dari titik P hingga perpotongan busur
kalau ditarik garis akan memotong garis MP di titik N.
c) Buat lingkaran dengan titik N sebagai pusat dengan jari-
jari NP atau NM. Lingkaran tersebut memotong lingkaran
pertama di titik R1 dan R2.
d) Garis PR1 dan PR2 merupakan garis singgung lingkaran.

Gambar 4. 25. Menggambar garis singgung lingkaran

132 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

h. Elips
Menggambar Elips
1) Bagilah sumbu AB dalam 4 bagian sama panjang, maka
diperoleh titik M1, M2 dan M3.
2) Buatlah lingkaran 1, 2 dan 3 dengan jari-jari ¼ panjang
sumbu AB dengan titik pusat lingkaran M1, M2 dan M3.
Ketiga lingkaran tersebut saling berpotongan di titik C, D, E
dan F.
3) Tarik garis M1C, M1E dan M3D, M3F yang memotong
keliling lingkaran di titik G, H, I dan J.
4) Garis M2C dan M3D berpotongan di titik N1, sedangkan M1E
dan M3F berpotongan di titik N2.
5) Titik N1 dan N2 sebagai pusat dari busur lingkaran GH dan IJ.

Gambar 4. 26. Menggambar Elips

i. Menggambar Bulat Telur


1) Tentukan lebar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 133


Kegiatan Pembelajaran 4

2) Buatlah CD tegak lurus garis AB dan buatlah lingkaran ditengah


AB.
3) Buatlah garis melalui CB dan DB.
4) Buatlah busur lingkaran jari-jari Cd = AB dari titik C dan
D hingga memotong di titik E dan F .
5) Seterusnya buat busur lingkaran dari titik B jari-jari BE =
BF, maka tergambarlah bulat telur.

Gambar 4. 27. Menggambar Bulat Telur

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya mengidentifikasi


proses menggambar garis dan sudut istimewa, menggambar segi
banyak, menggambar lingkaran, menggambar elips, menggambar
silinder, menggambar parabola dan menggambar hiperbola.
2. Perhatikan urutan urutan yang dilakukan dalam menggambar ,
karena masing2 mempunyai urutan yang berbeda.
3. Untuk menambah wawasan dan informasi anda, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang menggambar garis dan
sudut istimewa, menggambar segi banyak, menggambar lingkaran,
menggambar elips, menggambar silinder, menggambar parabola dan
menggambar hiperbola ini, dan ambilah beberapa contoh gambar
untuk ditiru, ambillah contoh yang mudah dan yang relativ sulit

134 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

4. Amati lingkungan laboratorium gambar sekolah anda, apakah jumlah


fasilitas peralatan dan bahan serta perlengkapan gambar sudah
standar? Jika belum standar, peluang apa saja yang bisa anda
lakukan untuk menerapkannya sesuai standar?

E. Latihan / Tugas

Gambarlah bentuk-bentuk geometri di bawah ini dengan menggunakan


metode yang telah diajarkan pada kertas A3 dengan skala 1:1.
Gambar 1

Gambar 2

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 135


Kegiatan Pembelajaran 4

136 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 3

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 137


Kegiatan Pembelajaran 4

F. TES FORMATIF

1. Jelaskan cara membagi garis menjadi beberapa bagian sama panjang


dengan bahasa Anda masing-masing !
2. Menggambar segitiga dapat dilakukan melalui 3 metode. Jelaskan
masing-masing metode tersebut !
3. Jelaskan cara membuat segi banyak. Berikan gambar ilustrasi bila
dianggap perlu !
4. Agar dapat menggambar silinder, terlebih dahulu Anda harus
memahami cara menggambar elips. Jelaskan pendapat Anda mengenai
hal ini !
5. Menurut Anda, apa perbedaan mendasar dalam cara menggambar
parabola dan hiperbola ?

G. Rangkuman

Dalam menggambar teknik secara manual, seorang juru gambar


harus memiliki kemampuan dalam menggunakan peralatan gambar secara
optimal. Ada bentuk-bentuk geometri yang bisa digambar langsung
menggunakan penggaris, jangka dan mal namun ada juga yang tidak. Alat-
alat tersebut memiliki keterbatasan ukuran sehingga tidak semua bentuk
geometri dapat digambar secara langsung.

Pada kegiatan pembelajaran ini Anda akan mempelajari beberapa teknik dasar
dalam menggambar bentuk geometri tertentu dengan menggunakan pensil,
penggaris dan jangka.

Geometri yang dimaksudkan diatas adalah penjelasan dan informasi bagaimana


caranya membuat dan menggambar :
 menggambar garis dan sudut istimewa.
 menggambar segi banyak.
 menggambar lingkaran.
 menggambar elips.
 menggambar silinder.

138 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

 menggambar parabola.
 menggambar hiperbola.

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Dapat menggambar garis dan
sudut istimewa.
2 Dapat menggambar segi banyak.

3 Dapat menggambar lingkaran

4 Dapat menggambar elips.

5 Dapat menggambar silinder

6. Dapat menggambar parabola.


7 Dapat menggambar hiperbola.
8 Dapat menggambar hiperbola.
9 Dapat menggambar hiperbola.

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai
standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri
atau berkelompok?
 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.
No: Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 139


Kegiatan Pembelajaran 4

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

d. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?


…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria
SMART

Spesifik

Dapat diukur

Dapat dicapai

Relevan

140 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Rentang/Ketepatan
Waktu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 141


Kegiatan Pembelajaran 4

I. Kunci Jawaban

1. Jelaskan cara membagi garis menjadi beberapa bagian sama


panjang dengan bahasa Anda masing-masing !
 Tarik garis sembarang dari A
 Ukuran pada garis a-x bagian yang sama panjang (misal
dibagi delapan)dengan memakai jangka Aa = ab = bc = cd = de
= ef = fg = gh.
 Hubungkan titik h dengan B.
 Tariklah dari titik-titik: g, f, e, d, c, b, a, garis sejajar dengan garis
hB. Garis-garis ini akan memotong AB di titik-titik yang
membaginya dalam 8 bagian yang sama panjang.

Gambar Membagi garis sama panjang

2. Menggambar segitiga dapat dilakukan melalui 3 metode.


Jelaskan masing-masing metode tersebut !
Untuk dapat menggambar segitiga maka minimal harus
ditentukan 3 informasi agar segitiga dapat dibuat sesuai yang
dikehendaki. Unsur-unsur yang dapat dipakai sebagai pedoman
dalam menggambar segitiga yaitu:
Sisi – Sudut – Sisi
a) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
b) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran urutan 2, 3,
4 terus 5 pada titik A.
c) Ukurkan panjang garis ukuran 6 ke garis sudut yang telah
dibentuk pada titik C.
d) Segitiga ABC sudah tergambar

142 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Sudut – Sisi – Sudut


a) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
b) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran urutan
2, 3 pada titik A dan urutan 4, 5 pada titik B.
c) Pertemuan garis pembentuk kedua sudut memotong titik C.
d) Segitiga ABC sudah tergambar.
Sisi – sisi – sisi Segitiga ini merupakan segitiga sama sisi karena
ketiga sisinya sama panjang.
a) Tentukan atau ukur salah satu sisinya misalnya AB.
b) Ukurlah urutan 1 dari titik A sepanjang garis AB.
c) Ukurkan kembali urutan 2 dari titik B sepanjang AB.
d) Segitiga ABC sama kaki tergambar.
3. Jelaskan cara membuat segi banyak. Berikan gambar ilustrasi bila
dianggap perlu !
Menggambar Segi Delapan Beraturan
a) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
b) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A dan
titik B.
c) Buat busur yang sama dari titik A dan titik B dan tarik perpotongan
busur sehingga memotong lingkaran di titik C dan D dan melalui
titik M.
d) Bagilah busur AD dan BD sama besar, kemudian tarik garis
hingga memotong lingkaran.
e) Hubungkan 8 titik potong pada lingkaran tersebut, sehingga
tergambarlah segi delapan beraturan.
4. Agar dapat menggambar silinder, terlebih dahulu Anda harus
memahami cara menggambar elips. Jelaskan pendapat Anda
mengenai hal ini !
Untuk dapat melakukan hal atau pekerjaan yang complex diperlukan
kemampuan untuk dapat melakukan hal hal yang mendukung dalam
arti dasar2nya, demikian juga kalau ingin menggambar silinder anda
diharuskan dapat menggambar tentang elips. Karena pada dasarnya

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 143


Kegiatan Pembelajaran 4

silinder adalah gambar 2 buah elips yang digabungkan menjadi satu,


seperti nmpak pada gambar dibawah ini.

5. Menurut Anda, apa perbedaan mendasar dalam cara


menggambar parabola dan hiperbola ?

144 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Dari gambar diatas proses menggambar Parabola dan Hiperbola, Parabola lebih
simple dan mudah dikerjakan dari pada menggambar Hiperbola

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 145


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan pembelajaran 5
Gambar proyeksi isometri dan ortogonal

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi Gambar Proyeksi Isometri dan


Ortogonal ini, peserta diharapkan dapat;
1. Menginterpretasikan perbedaan proyeksi isometri dan ortogonal.
2. Menginterpretasikan proyeksi Eropa (kuadran I) dan Amerika (kuadran III).
3. Menginterpretasikan cara menentukan jenis dan jumlah pandangan utama.
4. Menginterpretasikan cara mengubah proyeksi isometri ke proyeksi
Eropa dan Amerika.
5. Menginterpretasikan cara mengubah proyeksi Eropa dan Amerika ke
proyeksi isometri.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Dapat menggambar pada proyeksi isometri dan ortogonal.


2. Dapat menggambar proyeksi Eropa (kuadran I) dan Amerika (kuadran III).
3. Dapat menggambar cara menentukan jenis dan jumlah pandangan utama.
4. Dapat menggambar cara mengubah proyeksi isometri ke proyeksi
Eropa dan Amerika.
5. Dapat mengubah gambar proyeksi Eropa dan Amerika ke proyeksi
isometri.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 145


Kegiatan Pembelajaran 5

C. Uraian Materi

Gambar Proyeksi Isometri dan Ortogonal

Gambar 5. 1. Proyeksi isometri


Para ahli teknik dihadapkan pada tugas untuk merekam dan mengukur
berbagai objek tiga dimensi untuk dituangkan pada permukaan selembar
kertas gambar. Oleh karena itu gambar kerja ataupun sketsa rancangan
harus mudah untuk difahami.
Berbagai metoda proyeksi untuk menguraikan bentuk telah diulas pada
pokok bahasan sebelumnya. Proyeksi perspektif tidak pernah dipakai
sebagai gambar kerja. Hal ini dikarenakan jenis proyeksi ini tidak dapat
menunjukkan ukuran secara tepat. Untuk objek yang rumit, metode proyeksi
ini pun cukup sulit untuk diterapkan.
Para ahli teknik biasanya hanya menggunakannya sebagai sketsa
pendahuluan. Pada kenyataannya, gambar kerja standar dibuat dengan
proyeksi ortogonal. Dengan pemilihan pandangan yang tepat diharapkan
pembaca gambar dapat membayangkan bentuk tiga dimensi beserta ukuran
yang sesuai dengan maksud juru gambar.

146 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

1. Proyeksi Isometri
Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi
isometri atau bukan perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan
syarat – syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut.
Adapun ciri – ciri gambar dengan proyeksi isometri adalah sebagai berikut:
a. Ciri Proyeksi Isometri
1) Ciri pada Sumbu
 Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30o
terhadap garis mendatar.
 Sudut antara sumbu satu dan sumbu lainnya 120o.
2) Ciri pada Ukuran
Panjang gambar pada masing -masing sumbu sama
dengan panjang benda yang digambarnya.

Gambar 5. 2a. sudut pada proyeksi isometric

Gambar 5.2b. Ciri proyeksi isometric


b. Penyajian Proyeksi Isometri
Penyajian gambar dengan proyeksi isometri dapat dilakukan
dengan kedudukan normal, terbalik atau horizontal.
1) Proyeksi isometri dengan kedudukan normal mempunyai
sumbu dengan sudut – sudut seperti tampak pada gambar 5.3

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 147


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar 5. 3. Proyeksi isometri dengan kedudukan normal


2) Proyeksi Isometri dengan Kedudukan Terbalik
Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu:
 Memutar gambar dengan sudut 1800 ke kanan dari
kedudukan normal, sesuai dengan kedudukan
sumbunya (gambar 5.4.).
 Mengubah kedudukan benda yang digambar dengan
tujuan untuk memperlihatkan bagian bawah benda
tersebut (gambar 5.5.).

Gambar 5. 4. Isometri kedudukan terbalik (cara 1)

148 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 5. 5. Isometri kedudukan terbalik (cara 2)


3) Proyeksi Isometri dengan Kedudukan Horizontal
 Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggambar
kedudukan proyeksi isometri terbalik, yaitu dengan
memutar sumbu utama 180o dari sumbu normal,
maka untuk kedudukan horizontalnya 270o ke kanan dari
kedudukan sumbu normalnya.

Gambar 5. 6. Proyeksi isometri kedudukan horizontal (cara 1)


 Mengubah kedudukan benda, yaitu untuk
memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak
terlihat) sebagaimana ditunjukkan pada gambar 5.7.

Gambar 5. 7. Proyeksi isometri kedudukan horizontal (cara 2)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 149


Kegiatan Pembelajaran 5

2. Proyeksi Ortogonal
Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang proyeksinya
mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya. Garis – garis yang
memproyeksikan benda terhadap bidang proyeksi disebut proyektor. Selain
tegak lurus terhadap bidang proyeksi, garis – garis proyektornya juga sejajar
satu sama lain. Perhatikan gambar 5.8, gambar 5.9, dan gambar 5.10, masing-
masing adalah proyeksi orthogonal dari sebuah titik, garis dan bidang.

Gambar 5. 8. Proyeksi ortogonal dari sebuah titik

Gambar 5. 9. Proyeksi ortogonal dari sebuah garis

150 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 5. 10. Proyeksi ortogonal dari sebuah bidang

Gambar 5. 11. Proyeksi ortogonal dari sebuah benda

3. Macam – Macam Pandangan


Untuk memberikan informasi lengkap suatu benda tiga dimensi dengan
gambar proyeksi ortogonal, biasanya memerlukan lebih dari satu bidang
proyeksi.
a) Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di depan benda disebut
pandangan depan.
b) Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di atas benda disebut
pandangan atas.
c) Gambar proyeksi pada bidang proyeksi di sebelah kanan benda
disebut pandangan samping kanan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 151


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar 5. 12. Jenis-jenis pandangan

4. Bidang – Bidang Proyeksi


Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh bidang –
bidang depan, bidang vertikal dan bidang horizontal. Ruang yang dibatasi
tersebut dikenal dengan sebutan kuadran.

Gambar 5. 13. Bidang-bidang proyeksi


a) Ruang di atas bidang H, didepan bidang D dan disamping kanan
bidang V disebut kuadran I.
b) Ruang yang berada diatas bidang H, didepan bidang D dan disebelah
kiri bidang V disebut kuadran II.
c) Ruang disebelah kiri bidang V, dibawah bidang H dan didepan bidang
D disebut kuadran III.
d) Ruang yang berada dibawah bidang H, didepan bidang D dan
disebelah kanan bidang V disebut kuadran IV.

152 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

5. Proyeksi Amerika (Proyeksi kuadran III)


Bidang – bidang H, V dan D untuk proyeksi di kuadran III (proyeksi
Amerika) yang telah dibuka adalah sebagai berikut.

Gambar 5. 14. Penempatan pandangan pada proyeksi Amerika


a) Pada bidang H ditempatkan pandangan atas.
b) Pada bidang D ditempatkan pandangan depan.
c) Pada bidang V ditempatkan pandangan samping kanan.

Gambar 5. 15. Pandangan sebuah bentuk

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 153


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar 5. 16. Gambar proyeksi Amerika dari gambar sebelumnya

6. Proyeksi Eropa (Proyeksi kuadran I)


Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal, di depan bidang D
(depan) dan disebelah kanan bidang V (vertikal), maka benda tersebut
berada di kuadran I. Jika benda yang di kuadran I kita proyeksikan
terhadap bidang – bidang H, V dan D, maka akan didapat gambar atau
proyeksi dan proyeksi ini disebut proyeksi kuadran I yang dikenal juga
dengan nama proyeksi Eropa.

Gambar 5. 17. Titik di kuadran I


Keterangan:
A = titik di kuadran I.
AD = proyeksi titik A di bidang D (depan).
AV = proyeksi titik A di bidang V (vertikal).
AH = proyeksi titik A di bidang H (horizontal).

154 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Bila ketiga bidang yang saling tegak lurus tersebut dibuka, maka sumbu x
dan y sebagai sumbu putarnya dan sumbu z merupakan sumbu yang dibuka
atau dipisah, seperti gambar berikut:

Gambar 5. 18. Bukaan proyeksi titik

Selanjutnya batas – batas bidang dihilangkan maka menjadi bentuk di


bawah ini.

Gambar 5. 19. Proyeksi titik dengan bukaan bidang


Bila penempatan benda di kuadran I tidak teratur, maka untuk
menempatkan sumbu dapat disederhanakan sesuai dengan ruang yang
tersedia. Penyederhanaan dapat dilakukan seperti gambar berikut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 155


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar 5. 20. Penempatan pandangan proyeksi Eropa


Untuk tampilan gambar berikutnya, garis sumbu dan garis bantu tidak
diperlukan lagi (dihilangkan). Jadi, yang tampak hanya pandangan saja.
Pada proyeksi kuadran I (proyeksi Eropa), penempatan pandangan samping
kanan berada di sebelah kiri pandangan depannya, sedangkan pandangan
atas berada di bawah pandangan depannya.

Gambar 5. 21. Pandangan tanpa garis bantu

Gambar 5. 22. Kubus di kuadran I


7. Simbol Proyeksi dan Anak Panah

156 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

a) Simbol Proyeksi
Untuk membedakan gambar atau proyeksi di kuadran I dan
gambar atau proyeksi di kuadran III, perlu diberi lambang
proyeksi. Dalam standar ISO, telah ditetapkan bahwa kedua cara
proyeksi boleh dipergunakan.
Untuk keseragaman ISO, gambar sebaiknya digambar menurut
proyeksi sudut pertama (kuadran I atau kita kenal sebagai
proyeksi Eropa).
Dalam satu buah gambar, tidak diperkenankan menggunakan
kedua proyeksi secara bersamaan. Simbol proyeksi ditempatkan
di sisi kanan bawah kertas gambar berupa sebuah kerucut
terpancung.

Gambar 5. 23. Simbol proyeksi Eropa (a) dan Amerika (b)


b) Anak panah
Anak panah digunakan untuk menunjukkan batas ukuran dan
posisi atau arah pemotongan, sedangkan angka ukuran ditempatkan
di atas garis ukur.

Gambar 5. 24. Standar ukuran panah

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 157


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar 5. 25. Penunjukan ukuran

8. Penentuan Pandangan
Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping dari
pandangan depannya, terlebih dahulu kita harus menetapkan sistem
proyeksi apa yang kita pakai; apakah proyeksi di kuadran I (Eropa) atau
proyeksi di kuadran III (Amerika)?
Setelah menetapkan sistem proyeksi yang akan dipakai, barulah kita dapat
menetapkan pandangan dari objek yang kita gambar tersebut.
a) Menempatkan pandangan depan, atas dan samping kanan
menurut proyeksi kuadran I (Eropa).

Gambar 5. 26. Penempatan pandangan proyeksi Eropa

b) Menentukan pandangan depan atas dan samping kanan menurut


proyeksi kuadran III (Amerika).

158 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 5. 27. Penempatan pandangan proyeksi Amerika


9. Penetapan Jumlah dan Jenis Pandangan
a) Jumlah pandangan
Dalam satu objek atau gambar tidak semuanya harus digambar.
Misalnya, untuk benda – benda bubutan sederhana, dengan satu
pandangan saja yang dilengkapi dengan simbol (lingkaran)
sudah cukup untuk memberikan informasi yang jelas.

Gambar 5. 28. Gambar proyeksi dengan satu pandangan


b) Jenis Pandangan
Gambar kerja yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah
gambar dalam bentuk pandangan - pandangan. Sebagai bahan
pandangan utamanya ialah pandangan depan, pandangan
samping dan pandangan atas. Dalam gambar kerja, tidak
selamanya ketiga pandangan harus ditampilkan, ini tergantung
pada rumit atau sederhananya bentuk benda. Hal terpenting,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 159


Kegiatan Pembelajaran 5

gambar pandangan – pandangan ini harus memberikan informasi


yang jelas.

Gambar 5. 29. Pandangan poros bujursangkar


Kedua gambar di atas, walaupun hanya terdiri atas satu pandangan
saja, dapat membedakan bentuk bendanya, yaitu dengan adanya
simbol atau lambang untuk bentuk lingkaran dan untuk bentuk bujur
sangkar. Bentuk gambar piktorialnya adalah sebagai berikut:

Gambar 5. 30. Proyeksi piktorial poros bulat

Gambar 5. 31. Proyeksi piktorial poros bujursangkar

160 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c) Pemilihan Pandangan Utama


Untuk memberikan informasi bentuk gambar, seharusnya kita
pilih pandangan yang dapat mewakili bentuk benda.

Gambar 5. 32. Pandangan atas dan depan sebuah poros


Pandangan atau gambar di atas belum dapat memberikan
informasi yang jelas. Oleh karena itu, dalam memilih pandangan
yang disajikan harus dapat mewakili bentuk benda.

Gambar 5. 33. Proyeksi piktorial 3 buah poros


Dari gambar piktorial di atas, yang dapat memberikan informasi
bentuk secara tepat dalam bentuk gambar pandangan adalah
pandangan depan dengan pandangan sampingnya.

Gambar 5. 34. Pemilihan 2 pandangan utama

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 161


Kegiatan Pembelajaran 5

Sebaliknya, dua pandangan atas dan samping dari gambar di bawah


ini belum tentu dapat memberikan informasi yang maksimum.

Gambar 5. 35. Dua pandangan yang belum maksimum


Dua pandangan pada gambar di atas belum cukup memberikan
informasi bentuk secara cepat dan tepat. Oleh karena itu,
diperlukan satu pandangan lagi untuk kejelasan gambar tersebut,
yaitu pandangan atas.

Gambar 5. 36. Benda dengan tiga pandangan


Setelah dilengkapi dengan pandangan atasnya, barulah kita
mendapatkan informasi bentuk yang lengkap dari gambar 5.36
berupa penambahan gambar pandangannya (gambar 5.37) dan
gambar piktorialnya (gambar 5.38).

Gambar 5. 37. Proyeksi piktorial dari 3 pandangan


10. Menggambar Berbagai Pandangan

162 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

a) Menggambar Pandangan dari Bentuk Proyeksi Dimetri ke


Proyeksi Amerika.

Gambar 5. 38. Mengubah proyeksi dimetri ke proyeksi Amerika


Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Buat empat buah kuadran sebagai tempat menggambar
hasil proyeksi.
2) Buat garis diagonal 45o miring ke kanan di kuadran I.
3) Buat gambar pandangan atas di kuadran II.
4) Buat garis bantu (garis berpanah) untuk memproyeksikan
setiap garis dan bentuk di kuadran II ke arah kuadran III.
Gambar proyeksi yang diperoleh merupakan pandangan
depan.
5) Buat garis bantu untuk memproyeksikan setiap garis dan
bentuk di kuadran II (pandangan atas) melalui garis diagonal
45o di kuadran I menuju kuadran IV. Gambar proyeksi yang
diperoleh merupakan pandangan samping kanan.
Keterangan:
a) Langkah 3 dan 4 boleh dibalik. Biasanya yang
dijadikan acuan awal adalah pandangan depan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 163


Kegiatan Pembelajaran 5

b) Garis proyeksi tidak harus diberi tanda panah. Hal ini


dilakukan agar siswa mudah memahami setiap tahapan.
c) Setelah pandangan lengkap diperoleh, garis proyeksi
dan garis kuadran boleh dihapus. Bila siswa sudah
memahami caranya dengan benar dua garis ini tidak
perlu dibuat lagi pada awal penggambaran. Cukup
dibayangkan dalam imajinasi dan dibuat gambar
sketsanya.
b) Menggambar Pandangan dari Proyeksi Isometri ke Gambar
Proyeksi Amerika.

Gambar 5. 39. Mengubah proyeksi isometri ke proyeksi Amerika


Langkah pengerjaannya sama dengan cara mengubah proyeksi
dimetri ke proyeksi Amerika karena yang membedakan hanya
jenis proyeksi awal benda saja sedangkan hasil akhirnya sama.

c) Menggambar Pandangan dari Proyeksi Miring ke Gambar


Proyeksi Eropa.

164 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 5. 40. Mengubah proyeksi miring ke proyeksi Eropa


Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Buat empat buah kuadran sebagai tempat menggambar
hasil proyeksi.
2) Buat garis diagonal 45o miring ke kanan di kuadran III.
3) Buat gambar pandangan atas di kuadran IV.
4) Buat garis bantu untuk memproyeksikan setiap garis dan
bentuk di kuadran IV ke arah kuadran I. Gambar proyeksi
yang diperoleh merupakan pandangan depan.
5) Buat garis bantu untuk memproyeksikan setiap garis dan
bentuk di kuadran I (pandangan atas) melalui garis diagonal
45o di kuadran III menuju kuadran II. Gambar proyeksi yang
diperoleh merupakan pandangan samping kanan.

Keterangan:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 165


Kegiatan Pembelajaran 5

 Langkah 3 dan 4 boleh dibalik. Biasanya yang


dijadikan acuan awal adalah pandangan depan.
 Pada contoh ini garis kuadran dan proyeksi sudah
dihilangkan sehingga yang tampak adalah hasil akhirnya
saja.
d) Menggambar Pandangan dari Proyeksi Dimetri ke Proyeksi
Eropa.
Langkah pengerjaannya sama dengan cara mengubah proyeksi
miring ke proyeksi Eropa karena yang membedakan hanya jenis
proyeksi awal benda saja sedangkan hasil akhirnya sama.

Gambar 5. 41. Mengubah proyeksi dimetri ke proyeksi Eropa

166 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

e) Menggambar Pandangan dari Proyeksi Isometri ke Gambar


Proyeksi Eropa

Langkah pengerjaanya sama


dengan cara mengubah
proyeksi sebelumnya ke
proyeksi Eropa karena yang
membedakan hanya jenis
proyeksi awal benda saja,
sedangkan hasil akhirnya sama

Gambar 5. 42. Mengubah proyeksi isometri ke proyeksi Eropa

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 167


Kegiatan Pembelajaran 5

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya mengidentifikasi


perbedaan proyeksi isometri dan orthogonal.
2. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya mengidentifikasi
perbedaan proyeksi Eropa (kuadran I) dan Amerika (kuadran III).
3. Selama proses pembelajaran peserta hendaknya mengidentifikasi
cara menentukan jenis dan jumlah pandangan utama.
4. Selama proses pembelajaran peserta hendaknya mengidentifikasi
cara mengubah proyeksi isometri ke proyeksi Eropa dan
Amerika.
5. Selama proses pembelajaran peserta hendaknya mengidentifikasi
cara mengubah proyeksi Eropa dan Amerika ke proyeksi
isometri.
6. Perhatikan urutan urutan yang dilakukan dalam menggambar atau
merubah pandangan, karena masing2 mempunyai urutan yang
berbeda.
7. Untuk menambah wawasan dan informasi anda, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang proyeksi ini, dan ambilah
beberapa contoh gambar untuk ditiru, ambillah contoh yang mudah
dan yang relative sulit
8. Amati lingkungan laboratorium gambar sekolah anda, apakah jumlah
fasilitas peralatan dan bahan serta perlengkapan gambar sudah
standar? Jika belum standar, peluang apa saja yang bisa anda
lakukan untuk menerapkannya sesuai standar?

168 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

E. Latihan/Tugas

1. Membedakan dan melengkapi gambar proyeksi.


a. Tentukan jenis proyeksi di setiap gambar (1-4), apakah
termasuk proyeksi kuadran I (Eropa) atau kuadran III (Amerika)!
b. Lengkapi garis-garis gambar pandangan pada objek di
bawah ini sehingga menunjukkan gambar proyeksi yang benar!

2. Melengkapi pandangan proyeksi orthogonal


Lengkapi pandangan yang kurang dari gambar proyeksi ortogonal di
bawah ini pada kertas A4 dengan skala 1:1. Lengkapi dengan
etiket (kepala gambar) untuk setiap soal.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 169


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar ke 1

Gambar ke 2

Gambar ke 3

170 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

3. Lengkapi gambar proyeksi isometri untuk objek berikut pada


kertas A4 dengan skala 1:1. Lengkapi dengan etiket (kepala
gambar) untuk setiap soal.
Gambar ke 1

Gambar ke 2

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 171


Kegiatan Pembelajaran 5

Gambar ke 3

F. TES FORMATIF

1. Jelaskan ciri – ciri gambar yang menggunakan proyeksi isometri!


2. Jelaskan teknik penyajian gambar proyeksi isometri!
3. Jelaskan perbedaan proyeksi isometric dengan proyeksi ortogonal!
4. Jelaskan perbedaan proyeksi kuadran I dengan proyeksi kuadran III!
5. Jelaskan metode penentuan jenis dan jumlah pandangan pada
gambar kerja!
6. Jelaskan metode mengubah gambar dengan proyeksi isometri
menjadi gambar dengan proyeksi ortogonal!
7. Buatlah gambar proyeksi kuadran I dan proyeksi kuadran III
untuk benda berikut!

172 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

G. Rangkuman

 Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk


proyeksi isometri atau bukan perlu kiranya kita mengetahui terlebih
dahulu ciri dan syarat – syarat untuk membuat gambar
dengan proyeksi tersebut
 Ciri Proyeksi Isometri : Ciri pada Sumbu Sumbu x dan sumbu y
mempunyai sudut 30o terhadap garis mendatar dan Sudut antara
sumbu satu dan sumbu lainnya 120o. dan Ciri pada Ukuran Panjang
gambar pada masing – masing sumbu sama dengan panjang benda
yang digambarnya.
 Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang
proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya.
Garis – garis yang memproyeksikan benda terhadap bidang
proyeksi disebut proyektor. Selain tegak lurus terhadap bidang
proyeksi, garis – garis proyektornya juga sejajar satu sama lain.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 173


Kegiatan Pembelajaran 5

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di
bawah ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Memahami perbedaan proyeksi
isometri dan ortogonal.
2. Memahami proyeksi Eropa
(kuadran I) dan Amerika (kuadran
III).
3. Memahami cara menentukan jenis
dan jumlah pandangan utama.

4. Memahami cara mengubah


proyeksi isometri ke proyeksi
Eropa dan Amerika
5. Memahami cara mengubah
proyeksi Eropa dan Amerika ke
proyeksi isometri

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai
standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini
sendiri atau berkelompok?
 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.
No: Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

174 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium


anda yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria
SMART

Spesifik

Dapat diukur

Dapat dicapai

Relevan

Rentang/Ketepatan
Waktu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 175


Kegiatan Pembelajaran 5

I. Kunci Jawaban

1. Ciri – ciri gambar yang menggunakan proyeksi isometri!


a). Ciri pada Sumbu
 Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30o
terhadap garis mendatar.
 Sudut antara sumbu satu dan sumbu lainnya 120o.
b). Ciri pada Ukuran
Panjang gambar pada masing -masing sumbu sama dengan
panjang benda yang digambarnya
2. Jelaskan teknik penyajian gambar proyeksi isometri!
Penyajian gambar dengan proyeksi isometri dapat dilakukan
dengan kedudukan normal, terbalik atau horizontal.
3. Jelaskan perbedaan proyeksi isometric dengan proyeksi
ortogonal!
o Pada gambar isometri panjang garis pada sumbu-sumbu isometri
menggambarkan panjang yang sebenarnya. Karena itu
penggambarannya sangat sederhana, dan banyak dipakai
untuk membuat gambar satu pandangan. Gambar isometri
dapat menyajikan benda dengan tepat dan memerlukan waktu
yang lebih singkat dibandingkan dengan cara proyeksi yang lain.
Ciri pada sumbu
- Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis
mendatar.
- Sudut antara sumbu satu dengan sumbu lainnya 120°.
Ciri pada ukurannya
Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan
panjang benda yang digambarnya.
o Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang
proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap
proyektornya. Garis – garis yang memproyeksikan benda
terhadap bidang proyeksi disebut proyektor. Selain tegak

176 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

lurus terhadap bidang proyeksi, garis – garis proyektornya


juga sejajar satu sama lain
4. Jelaskan perbedaan proyeksi kuadran I dengan proyeksi
kuadran III!
Bila suatu benda diletakkan di atas bidang horizontal, di depan
bidang D (depan) dan disebelah kanan bidang V (vertikal), maka
benda tersebut berada di kuadran I. Jika benda yang di kuadran
I kita proyeksikan terhadap bidang – bidang H, V dan D, maka
akan didapat gambar atau proyeksi dan proyeksi ini disebut
proyeksi kuadran I yang dikenal juga dengan nama proyeksi
Eropa.
5. Jelaskan metode penentuan jenis dan jumlah pandangan
pada gambar kerja!
Untuk menempatkan pandangan atas atau pandangan samping
dari pandangan depannya, terlebih dahulu kita harus menetapkan
sistem proyeksi apa yang kita pakai; apakah proyeksi di kuadran
I (Eropa) atau proyeksi di kuadran III (Amerika)?
Setelah menetapkan sistem proyeksi yang akan dipakai, barulah kita
dapat menetapkan pandangan dari objek yang kita gambar tersebut.
Jumlah pandangan dalam satu objek atau gambar tidak semuanya
harus digambar. Misalnya, untuk benda – benda bubutan
sederhana, dengan satu pandangan saja yang dilengkapi dengan
simbol (lingkaran) sudah cukup untuk memberikan informasi yang
jelas.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 177


Teknik Audio Video KK A

Kegiatan Belajar 6
Membuat Gambar Sketsa

A. Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi Gambar sketsa ini, peserta diharapkan


dapat;
1. membuat gambar sketsa pandangan yang yang diinterprestasikan
kembali ke dalam bentuk proyeksi isometric,
2. membaca gambar sketsa.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. gambar sketsa pandangan yang yang diinterprestasikan kembali ke


dalam bentuk proyeksi isometric,
2. membaca gambar sketsa.

C. Uraian Materi

Gambar skesta merupakan gambar ide awal untuk mengekspresikan


gagasan tertentu kedalam gambar desain. Merangkum aspek-aspek desain
gambar awal yang memerlukan olahan lebih lanjut. Gambar sketsa merupakan
sarana komunikasi awal untuk perancang (yang menggambar) maupun
orang lain. Menggambar sketsa pada dasarnya adalah menarik garis dengan
tangan bebas, tanpa dibantu mistar atau penggaris. Dengan demikian kualitas
garis harus diperhatikan sesuai dengan karakter dan jenis gambar yang
akan disajikan.
Kualitas garis yang dibuat oleh pensil akan ditentukan oleh tingkat
kehitaman (ketebalan) garis dan lebar garis. Pada gambar sketsa, semua
garis harus dimulai dan diakhiri dengan tegas dan harus mempunyai kaitan
yang logis dengan garis lainnya dari awal sampai akhir. Bila dua garis

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 179


Kegiatan Pembelajaran 6

membentuk sudut atau perpotongan, kedua ujungnya harus bertemu, tidak


boleh kurang atau lebih.
Dalam menggambar sketsa teknik anda akan belajar menggambar dengan
arah pandang isometri. Biasanya gambar dengan pandangan secara
isometri dilihat pada posisi miring sehingga arah pandangan bisa terlihat
dari beberapa pandangan yang meliputi: pandangan depan, pandangan atas
dan pandangan samping.
1. Menarik Garis Lurus Mendatar
Membuat garis lurus mendatar dengan baik seperti yang dihasilkan dengan
bantuan mistar cukup sulit. Sampai saat ini tidak ada standar yang baku
173 bagaimana cara yang paling baik untuk menarik garis secara free
hand namun cara berikut dapat diikuti.
a. Atur posisi kertas gambar.
b. Tentukan perkiraan titik awal dan titik akhir.
c. Tarik garis tipis sebagai percobaan; penglihatan tertuju ke titik akhir.
d. Dari garis percobaan tadi bisa ditaksir garis jadinya (tipis); arah
penglihatan tertuju pada titik akhir.
e. Tebalkan garis tadi; arah penglihatan tertuju pada ujung pensil.

Gambar 6. 1. Menggambar garis lurus mendatar


2. Menarik Garis Lurus Tegak
Untuk menarik garis tegak caranya sama dengan garis lurus mendatar, arah
tariknya garis ditunjukkan oleh anak panah atau posisi kertas diputar 900,
sehingga posisinya sama dengan garis mendatar atau menarik garis dari

180 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

kiri atas ke kanan bawah dengan gerakan seperti untuk garis lurus
mendatar.

Gambar 6. 2. Membuat garis lurus tegak


3. Membuat Lingkaran (Garis Lengkung)
Ada dua cara untuk membuat lingkaran (garis lengkung), yaitu:
a. Cara Pertama
1) Buat garis-garis yang melewati pusat lingkaran, sudut yang
terbentuk kira-kira sama (garis tipis), lihat gambar 5.3a ;
2) Ukur jari-jari lingkaran dengan bantuan secarik kertas yang
diberi tanda, lihat gambar 5.3b ;
3) Buat segi delapan (garis tipis), lihat gambar 5.3c ;
4) Buat garis lengkung yang menyinggung sisi segi delapan (garis
tipis), lihat gambar 5.3d ;
5) Tebalkan garis lengkung tadi, arah penglihatan pada ujung
pensil.

Gambar 6. 3a. Langkah 1 Gambar 6.3b Langkah 2

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 181


Kegiatan Pembelajaran 6

Gambar 6.3c Langkah 3 Gambar 6.3d Langkah 4

Gambar 6.3.e Langkah 5

b. Cara Kedua

1) Pegang dua buah pensil dengan posisi seperti


diperlihatkan pada 130 ujung pensil yang kanan
berfungsi sebagai jarum jangka.
2) Putar kertas berlawanan arah dengan jarum jam,
hasil lingkaran yang terjadi diperlihatkan oleh gambar
131.

4. Membuat Elips
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagi garis OA dan OB menjadi beberapa bagian yang sama (lihat
gambar 5.6a).
2. Buat garis-garis tipis melalui titik-titik hasil pembagi yang tadi
seperti ditunjukkan pada gambar 5.6b.
3. Melalui titik perpotongan garis tadi, buatlah lengkungan elips
seperti diperlihatkan pada Gambar 5.6c.
4. Ulangi cara seperti tadi pada bagian lain sehingga bentuknya
seperti ditunjukan pada Gambar 5.6d.

182 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 6. 4. Langkah 1 sketsa elips

Gambar 6. 5. Langkah 2 sketsa elips

Gambar 6. 6. Langkah 3 sketsa elips

Gambar 6. 7. Langkah 4 sketsa elips


Untuk membuat gambar elips pada perspektif isometri (bentuk silinder),
ditunjukkan pada gambar 136.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 183


Kegiatan Pembelajaran 6

Gambar 6. 8. Urutan membuat gambar elips perspektif isometric


5. Mensketsa Proyeksi Ortogonal
Mensketsa proyeksi ortogonal pada dasarnya merupakan gabungan garis
lurus dan garis lengkung (lingkaran),lihat gambar 137.

Gambar 6. 9. Contoh sketsa proyeksi orthogonal

6. Mensketsa dengan Efektif


Sudut-sudut pada efektif dibuat dengan cara perkiraan, misalnya pada
proyeksi isometri, sudut 30o dibuat dengan cara mengira-ngira garis tegak
lurus diperkirakan dibagi tiga. Gambar 138 memperlihatkan sketsa sebuah
kubus yang digambar dengan cara perspektif.

Perspektif isometri Perspektif dimetri Perspektif miring

184 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 6. 10. Sketsa perspektif

7. Mensketsa pada Kertas Bergaris (Millimeter Blok)


Kertas bergaris sangat membantu pada pembuatan gambar sketsa,
kekurangannya gambar menjadi kurang jelas (lihat gambar 139).

Gambar 6. 11. Mensketsa pada kertas bergaris

8. Sketsa Benda Teknik dalam Proyeksi Miring


1. Sketsa Proyeksi Isometri
Gambar 140 dan 141 memperlihatkan sebuah benda teknik
yang digambar dalam bentuk gambar perspektif isometri.
Bagian yang dihitamkan dimaksudkan supaya penampilan
gambar lebih menarik,cahaya dianggap dari sebelah kiri.

Gambar 6. 12. Sketsa perspektif isometri

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 185


Kegiatan Pembelajaran 6

Gambar 6. 13. Sketsa klem C dalam bentuk prespektif isometri


2. Persfektif dengan Satu Titik Lenyap
Persfektif ini biasanya lebih menarik karena mirip dengan hasil
gambar foto (lihat gambar 142). Supaya bagian yang
menuju titik lenyap tidak terlalu kecil, titik lenyap dianggap
berada di luar kertas gambar (seperti ditunjukkan oleh gambar
143).

Gambar 6. 14. Sketsa perspektif dengan titik lenyap

Gambar 6. 15. Sketsa perspektif dengan satu titik lenyap di luar ruang
gambar

186 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

3. Perspektif dengan Dua Titik Lenyap


Gambar 144, sketsa persfektif dengan dua titik lenyap,
bentuknya diperbaiki dengan cara menganggap kedua titik
lenyap berada di luar kertas gambar (lihat gambar 145).

Gambar 6. 16. Sketsa perspektif dengan dua titik lenyap

Gambar 6. 17. Sketsa perspektif dengan dua titik lenyap di luar ruang
gambar

9. Toleransi dalam Gambar Teknik


a. Toleransi Geometri (Geometric Tolerance)
Selain toleransi linier, kadang-kadang diperlukan untuk
mencantumkan toleransi geometri (bentuk dan posisi), untuk
membuat komponen yang mampu tukar seperti komponen mesin
otomotif, sehingga komponen tersebut dapat dibuat pada tempat
yang berbeda dengan peralatan yang berbeda pula. Toleransi

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 187


Kegiatan Pembelajaran 6

geometri hanya dicantumkan apabila benar-benar diperlukan setelah


melalui pertimbangan yang matang.

Toleransi bentuk adalah penyimpangan bentuk benda kerja yang


diizinkan apabila dibandingkan dengan bentuk yang dianggap ideal,
diperlihatkan oleh gambar 6.18 berikut ini.

Gambar 6. 18. toleransi bentuk


Toleransi posisi adalah penyimpangan posisi yang diizinkan terhadap
posisi yang digunakan sebagai patokan (datum feature). Pada
gambar 6.19 dibawah ini menunjukkan contoh besaran angka
toleransi yang diijinkan.

188 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 6. 19. toleransi Posisi


Pada contoh di atas, alas dari balok digunakan sebagai patokan
sedangkan sisi tegak merupakan bidang yang ditoleransi. Penyajian
pada gambar kerja lambang untuk menunjukkan suatu patokan
digambarkan dengan segi tiga sama kaki yang dihitamkan,
disambung dengan garis tipis yang berakhir pada kotak, di dalam
kotak terdapat huruf patokan yang dibuat dengan huruf kapital. Huruf-
huruf yang menyerupai angka harus dihindarkan, misalnya huruf O
untuk patokan, gambar 6.20 berikut ini menunjukkan bahwa bidang
sebagai patokan, cara penggambarannya ialah segi tiga patokan
tidak segaris dengan garis ukur.

Gambar 6. 20. Bidang sebagai Patokan


Untuk menunjukkan bahwa garis tengah (sumbu) sebagai patokan
maka cara menggambarnya ialah dengan mencantumkan segi tiga
patokan segaris dengan garis ukur, seperti diperlihatkan oleh gambar
6.21 berikut ini.

Gambar 6. 21. garis tengah (sumbu)


Segi tiga patokan dicantumkan pada garis tengah dari beberapa
lubang untuk menunjukkan bahwa garis tengah tersebut sebagai
patokan, diperlihatkan oleh gambar 6.22 berikut ini.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 189


Kegiatan Pembelajaran 6

Gambar 6. 22. ketepatan ukuran

Angka dalam kotak menunjukkan bahwa secara teoritis ukuran harus


tepat. Penerapan dari angka dalam kotak diperlihatkan oleh gambar
6.23 berikut ini, pengertiannya ialah secara praktik Penitik (Senter)
boleh bergeser asal jangan lebih dari ±0,02 mm, untuk mudahnya
ukuran 10 akan berada antara 9,99 mm10,01 mm dan ukuran 11
akan berada antara 10,99 mm-11,01 mm.

Gambar 6. 23. penerapan dari angka dalam kotak


Pada Gambar 6.24 dijelaskan bagian yang Ditoleransi: Perbedaan
antara bagian yang ditoleransi dengan patokan terletak pada ujung
garis penunjuknya, bagian yang ditoleransi ditunjukkan dengan anak
panah , berakhir pada hal-hal berikut:
 Garis benda atau perpanjangannya apabila yang ditoleransi
adalah bidang.
 Garis ukur apabila yang ditoleransi adalah sumbu.
 Garis sumbu apabila yang ditoleransi adalah sumbu dari
beberapa lubang/bagian (seperti pada patokan).

190 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Gambar 6. 24. Bagian yang ditoleransi


Contoh Penggunaan:
Pada gambar berikut ini kedua garis penunjuk diakhiri dengan anak
panah, hal ini menunjukkan bahwa operator diberi keleluasaan untuk
menentukan bidang patokan dan bidang yang ditoleransi (memilih
salah satu) seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.25. dibawah ini.

Gambar 6. 25

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 191


Kegiatan Pembelajaran 6

Untuk kasus seperti gambar 6.26 berikut, sebagai patokan adalah


bidang yang ditempeli oleh segi tiga patokan (sebelah kiri)

Gambar 6. 26. contoh kasus

192 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Tabel 6. 1. Lambang toleransi Geometri

b. Toleransi Linier (Linier Tolerances)


Sampai saat ini, untuk membuat suatu benda kerja, sulit sekali
untuk mencapai ukuran dengan tepat, hal ini disebabkan
antara lain oleh :
1) Kesalahan melihat alat ukur
2) Kondisi alat/mesin
3) Terjadi perubahan suhu pada waktu
penyayatan/pengerjaan benda kerja.
Berdasarkan paparan tersebut, setiap ukuran dasar harus
diberi dua penyimpangan izin yaitu penyimpangan atas dan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 193


Kegiatan Pembelajaran 6

penyimpangan bawah. Perbedaan antara penyimpangan atas


dan penyimpangan bawah adalah toleransi. Tujuan penting
toleransi ini adalah agar benda kerja dapat diproduksi secara
massal pada tempat yang berbeda dan tetap dapat memenuhi
fungsinya, terutama fungsi mampu tukar, seperti pada suku
cadang mesin otomotif yang diperdagangkan.

c. Istilah dalam Toleransi


Pengertian istilah dalam lingkup toleransi dapat dilihat pada
gambar 6.27 dan paparan berikut ini.

Gambar 6. 27. istilah toleransi

 Ud=ukuran dasar (nominal), ukuran yang dibaca tanpa


penyimpangan.
 Pa = Penyimpangan atas (upper allowance), penyimpangan
terbesar yang diizinkan.
 Pb = penyimpangan bawah (lower allowance) penyimpangan
terkecil yang diizinkan.
 Umaks = ukuran maksimum izin, penjumlahan antara ukuran
dasar dengan penyimpangan atas.
 Umin = ukuran minimum izin, penjumlahan antara ukuran
dasar dengan penyimpangan bawah.
 TL = toleransi lubang; TP = toleransi poros : perbedaan antara
penyimpangan atas dengan penyimpangan bawah atau
perbedaan antara ukuran maksimum dengan ukuran minimum
izin.

194 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

 GN =garis nol, ke atas daerah positif dan kebawah daerah


negatif.
 US = ukuran sesungguhnya, ukuran dari hasil pengukuran
benda kerja setelah diproduksi, terletak diantara ukuran
minimum izin sampai dengan ukuran maksimum izin.
 UD =Ukuran dasar adalah ukuran/dimensi benda yang
dituliskan dalam bilangan bulat. Daerah toleransi adalah daerah
antara harga batas atas dan harga batas bawah.
Penyimpangan adalah jarak antara ukuran dasar dan ukuran
sebenarnya.

d. Suaian
Apabila dua buah komponen akan dirakit maka hubungan yang
terjadi yang ditimbulkan oleh karena adanya perbedaan ukuran
sebelum mereka disatukan, disebut dengan suaian (fit). Suaian
ada tiga kategori, yaitu:
 Suaian Longgar (Clearance Fit): selalu menghasilkan
kelonggaran, daerah toleransi lubang selalu terletak di
atas daerah toleransi poros.
 Suaian paksa (Interference Fit): suaian yang akan
menghasilkan kerapatan, daerah toleransi lubang selalu
terletak di bawah toleransi poros.
 Suaian pas (Transition Fit): suaian yang dapat
menghasilkan kelonggaran ataupun kerapatan, daerah
toleransi lubang dan daerah toleransi poros saling
menutupi.

Tiga jenis suaian tersebut dijelaskan pada Gambar 6.28a dan


Gambar 6.28b. Untuk mengurangi banyaknya kombinasi yang
mungkin dapat dipilih maka ISO telah menetapkan dua buah
sistem suaian yang dapat dipilih, yaitu:
1) sistem suaian berbasis poros (shaft basic system),
2) sistem suaian berbasis lubang (hole basic system).

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 195


Kegiatan Pembelajaran 6

Apabila sistem suaian berbasis poros yang dipakai maka


penyimpangan atas toleransi poros selalu berharga nol (es = 0).
Sebaliknya, untuk sistem suaian berbasis lubang maka
penyimpangan bawah toleransi lubang yang bersangkutan
selalu bernilai nol (EI = 0).

Gambar 6. 28a. Sistem suaian dengan berbasis poros (es=0)

Gambar 6.28b Sistem suaian dengan berbasis poros (es=0)

Beberapa suaian yang terjadi di luar suaian tersebut diatas bisa


terjadi terutama didaerah suaian paksa dan longgar yang mungkin
masih terjadi beberapa pasangan dari longgar (loose running) sampai
paksa (force) . Beberapa contoh suaian menggunakan basis lubang
yang terjadi dapat dilihat pada tabel 6.1
Tabel 6. 2. Suaian (limite and fite) menggunakan basis lubang

196 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

e. Cara Penulisan Toleransi Ukuran/Dimensi


Ukuran toleransi untuk poros menggunakan huruf kecil (a-z)
sedangkan ukuran toleransi untuk lubang menggunakan huruf kapital
(A-Z). Toleransi dituliskan di gambar kerja dengan cara tertentu
sesuai dengan standar yang diikuti (ASME atau ISO). Toleransi bisa
dituliskan dengan beberapa cara:
 Ditulis menggunakan ukuran dasar dan penyimpangan yang
diizinkan.
 Menggunakan ukuran dasar dan simbol huruf dan angka sesuai
dengan standar ISO, misalnya : 45H7, 45h7, 30H7/k6.

Gambar 6. 29. toleransi bilateral dan toleransi unilateral


 Toleransi yang ditetapkan bisa dua macam toleransi
(Gambar 6.29), yaitu toleransi bilateral dan toleransi
unilateral. Kedua cara penulisan toleransi tersebut yaitu a
dan b sampai saat ini masih diterapkan. Akan tetapi cara
b lebih komunikatif karena memperlancar komunikasi
sebab dibakukan secara internasional.
 Mempermudah perancangan (design) karena dikaitkan
dengan fungsi.
 Mempermudah perencanaan proses kualitas.
Pada penulisan toleransi ada dua hal yang harus ditetapkan yaitu
Posisi daerah toleransi terhadap garis nol ditetapkan sebagai suatu
fungsi ukuran dasar. Penyimpangan ini dinyatakan dengan simbol

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 197


Kegiatan Pembelajaran 6

satu huruf (untuk beberapa hal bisa dua huruf). Huruf kapital untuk
lubang dan huruf kecil untuk poros. Toleransi, harganya/besarnya
ditetapkan sebagai suatu fungsi ukuran dasar. Simbol yang dipakai
untuk menyatakan besarnya toleransi adalah suatu angka (sering
disebut angka kualitas). Contoh: 45 g7 artinya suatu poros dengan
ukuran dasar 45 mm posisi daerah toleransi (penyimpangan)
mengikuti aturan kode g serta besar/harga toleransinya menuruti
aturan kode angka 7. Catatan: Kode g7 ini mempunyai makna lebih
jauh, yaitu: Jika lubang pasangannya dirancang menuruti sistem
suaian berbasis lubang (mis: 45H6) akan terjadi suaian longgar. Bisa
diputar/digeser tetapi tidak bisa dengan kecepatan putaran tinggi.

Poros tersebut cukup dibubut tetapi perlu dilakukan secara


seksama(Jika terpaksa perlu digerinda. Dimensinya perlu dikontrol
dengan komparator sebab untuk ukuran dasar 45 mm dengan
kualitas 7 toleransinya hanya 25 m. Apabila komponen dirakit,
penulisan suatu suaian dilakukan dengan menyatakan ukuran
dasarnya yang kemudian diikuti dengan penulisan symbol toleransi
dari masing masing komponen yang bersangkutan. Simbol lubang
dituliskan terlebih dahulu:45 H8/g7 atau 45 H8–g7 atau 45H8/g7
Artinya untuk ukuran dasar 45 mm, lubang dengan penyimpangan H
berkualitas toleransi 8, berpasangan dengan poros dengan
penyimpangan berkualitas toleransi 7.

Untuk simbol huruf (simbol penyimpangan) digunakan semua huruf


abjad kecuali I, l, o, q dan w (I, L, O, Q, dan W), huruf ini menyatakan
penyimpangan minimum absolut terhadap garis nol. Hal tersebut
dapat dilihat di Gambar 6.30. Besarnya penyimpangan dapat dilihat
pada tabel di Lampiran.
a. Huruf a sampai h (A sampai H) menunjukkan minimum material
condition (smallest shaft largest hole).
b. Huruf Js menunjukkan toleransi yang pada prinsipnya adalah
simetris terhadap garis nol.

198 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c. Huruf k sampai z (K sampai Z) menunjukkan maximum material


condition (largest shaft small-est hole).

Gambar 6. 30. toleransi bilateral dan toleransi unilateral

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Selama proses pembelajaran, Anda hendaknya mengidentifikasi


proses penggambaran sketsa dari yang paling sederhana membuat
garis lurus mendatar sampai yang tingkat kerumitannya tinggi. .
2. Perhatikan urutan urutan yang dilakukan dalam menggambar ,
karena masing2 mempunyai urutan yang berbeda.
3. Untuk menambah wawasan dan informasi anda, akses salah satu
publikasi di website yang berkaitan tentang Gambar sketsa ini, dan
ambilah beberapa contoh gambar untuk ditiru, ambillah contoh yang
mudah dan yang relative sulit
4. Amati lingkungan laboratorium gambar sekolah anda, apakah jumlah
fasilitas peralatan dan bahan serta perlengkapan gambar sudah
standar? Jika belum standar, peluang apa saja yang bisa anda
lakukan untuk menerapkannya sesuai standar?

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 199


Kegiatan Pembelajaran 6

E. Latihan dan Tugas

1. Buatlah gambar sketsa proyeksi ortogonal dari masing-


masing objek berikut:

200 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

F. Rangkuman

 Gambar sketsa merupakan sarana komunikasi awal untuk


perancang (yang menggambar) maupun orang lain. Menggambar
sketsa pada dasarnya adalah menarik garis dengan tangan bebas,
tanpa dibantu mistar atau penggaris. Dengan demikian kualitas garis
harus diperhatikan sesuai dengan karakter dan jenis gambar yang
akan disajikan.
 Kualitas garis yang dibuat oleh pensil akan ditentukan oleh
tingkat kehitaman (ketebalan) garis dan lebar garis.
 Pada gambar sketsa, semua garis harus dimulai dan diakhiri
dengan tegas dan harus mempunyai kaitan yang logis dengan
garis lainnya dari awal sampai akhir.
 Bila dua garis membentuk sudut atau perpotongan, kedua
ujungnya harus bertemu, tidak boleh kurang atau lebih.
 Dalam menggambar sketsa teknik anda akan belajar
menggambar dengan arah pandang isometri. Biasanya gambar
dengan pandangan secara isometri dilihat pada posisi miring
sehingga arah pandangan bisa terlihat dari beberapa pandangan
yang meliputi: pandangan depan, pandangan atas dan
pandangan samping.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 201


Kegiatan Pembelajaran 6

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Membuat gambar sketsa
pandangan yang yang
diinterprestasikan kembali ke
dalam bentuk proyeksi isometri.
2. Menarik Garis Lurus Mendatar.
3. Menarik Garis Lurus tegak.
4. Membuat Lingkaran (Garis
Lengkung)
5. Membuat elips
6. Mensketsa Proyeksi Ortogonal
7. Mensketsa dengan Efektif
8. Mensketsa pada Kertas Bergaris
9. Sketsa Benda Teknik dalam
Proyeksi Miring5.

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai
standar di lingkungan laboratorium kerja anda.
b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri
atau berkelompok?
 sendiri
 berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain
dalam tabel di bawah.
No: Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

202 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria
SMART

Spesifik

Dapat diukur

Dapat dicapai

Relevan

Rentang/Ketepatan
Waktu

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 203


Kegiatan Pembelajaran 6

H. Lembar Kerja : Membuat gambar sketsa objek di sekitar


Sekolah

Alat dan Bahan


1) Meja gambar 1 buah.
2) Kertas gambar A3 1 lembar.
3) Pensil 1 buah.
4) Penghapus 1 buah.
5) Mistar lurus 40 cm 1 buah.
6) Mistar siku 1 set.
7) Jangka.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1) Jagalah kebersihan lingkungan kerja.
2) Perhatikan ventilasi dan penerangan ruang kerja.
3) Gunakan pakaian praktikum.

Langkah Kerja
1) Pelajari instruksi kerja dengan seksama, jika ada yang kurang
jelas tanyakan kepada Instruktur pengampu.
2) Buatlah sketsa sebuah objek teknik di sekitar anda (dapat
berupa alat, bangunan atau kendaraan). Sketsa dapat
menggunakan proyeksi isometri, ortogonal atau perspektif.
Sesuaikan nilai skala dengan kondisi yang paling memungkinkan
dan sesuai standar.
3) Berilah ukuran pada gambar kerja dengan merata dan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
4) Konsultasikan gambar yang telah dibuat dan arsipkan untuk
keperluan penilaian.
5) Kembalikan semua peralatan yang telah digunakan pada tempat.
6) Buat laporan mengenai kegiatan praktik yang telah dilaksanakan
dan diserahkan maksimal 1 minggu setelah praktikum.

204 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

I. Tes Formatif

1. Jelaskan fungsi dari gambar sketsa !


2. Jelaskan teknik membuat garis lurus mendatar (horizontal) !
3. Jelaskan teknik membuat garis lurus tegak (vertikal) !
4. Jelaskan teknik membuat garis lengkung dan lingkaran !
5. Jelaskan teknik menggambar sketsa proyeksi perspektif dengan titik
hilang
6. di luar bidang gambar !
7. Jelaskan cara membuat gambar sketsa yang efektif !

J. Kunci Jawaban

1. Fungsi dari gambar sketsa memberikan gambar ide awal untuk


mengekspresikan gagasan tertentu kedalam gambar desain.
Merangkum aspek-aspek desain gambar awal yang memerlukan
olahan lebih lanjut. Gambar sketsa merupakan sarana komunikasi
awal untuk perancang (yang menggambar) maupun orang lain
2. Cara yang paling baik untuk menarik garis secara free hand
namun cara berikut dapat diikuti.
1) Atur posisi kertas gambar.
2) Tentukan perkiraan titik awal dan titik akhir.
3) Tarik garis tipis sebagai percobaan; penglihatan tertuju ke titik
akhir.
4) Dari garis percobaan tadi bisa ditaksir garis jadinya (tipis);
arah
penglihatan tertuju pada titik akhir.
5) Tebalkan garis tadi; arah penglihatan tertuju pada ujung pensil.
3. Untuk menarik garis tegak caranya sama dengan garis lurus
mendatar, arah tariknya garis ditunjukkan oleh anak panah atau
posisi kertas diputar 900, sehingga posisinya sama dengan garis
mendatar atau menarik garis dari kiri atas ke kanan bawah
dengan gerakan seperti untuk garis lurus mendatar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 205


Kegiatan Pembelajaran 6

4. Ada dua cara untuk membuat lingkaran (garis lengkung), yaitu:


1) Cara Pertama
a) Buat garis-garis yang melewati pusat lingkaran, sudut yang
terbentuk kira-kira sama (garis tipis), lihat gambar 5.3a ;
b) Ukur jari-jari lingkaran dengan bantuan secarik kertas yang
diberi tanda, lihat gambar 5.3b ;
c) Buat segi delapan (garis tipis), lihat gambar 5.3c ;
d) Buat garis lengkung yang menyinggung sisi segi delapan (garis
tipis),lihat gambar 5.3d ;
e) Tebalkan garis lengkung tadi, arah penglihatan pada ujung
pensil.
2) Cara Kedua
a) Pegang dua buah pensil dengan posisi seperti
diperlihatkan pada 130 ujung pensil yang kanan berfungsi
sebagai jarum jangka.
b) Putar kertas berlawanan arah dengan jarum jam, hasil
lingkaran yang terjadi diperlihatkan oleh gambar 131.

5. Teknik menggambar sketsa proyeksi perspektif dengan titik hilang di


luar bidang gambar !
6. Sudut-sudut pada efektif dibuat dengan cara perkiraan, misalnya
pada proyeksi isometri, sudut 30o dibuat dengan cara mengira-ngira
garis tegak lurus diperkirakan dibagi tiga. Gambar 138
memperlihatkan sketsa sebuah kubus yang digambar dengan cara
perspektif.

206 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Penutup

Kami berharap buku ini bisa diterima dan dapat memberikan manfaat bagi
para pembaca sekaligus menjadi sebuah amal kebaikan bagi penyusun.
Modul ini merupakan pembelajaran Gambar Teknik bagi guru SMK yang
merupakan panduan untuk mencapai nilai UKG yang disarankan.
Sebagai edisi pertama, Modul ini sangat terbuka untuk terus diberi
perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu, kami mengundang para pembaca
memberikan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan
pada edisi berikutnya.

A. Kesimpulan

Setelah menyelesaikan tahab demi tahap dalam mengikuti pembelajaran Modul


PKB grade 1 Gambar Teknik ini peserta dapat:
1. menginterpretasikan standar Gambar menurut ISO dan
mengimplementasikannya,
2. Menginterpretasikan standar peralatan Gambar menurut ISO dan
mengimplementasikannya,
3. Menginterpretasikan proyeksi Gambar isometric dan Ortogonal dan
mengimplementasikannya,

Kemampuan ini merupakan bagian dari pengembangan keprofesian


berkelanjutan sehingga para guru dapat mengembangkan keilmuan yang
diampunya secara kreatif di lingkup pendidikan kejuruan yang akan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 207


Penutup

B. Tindak Lanjut

1. Peserta dimohon membuat rencana pengembangan dan


implementasi di lingkungan laboratorium Gambar anda
berkaitan dengan topik pembelajaran yang sudah anda pelajari.
2. Peserta dimohon bisa menggambarkan suatu situasi atau isu di
dalam bengkel/laboratorium anda yang mungkin dapat anda
ubah atau
3. Peserta dimohon menguraikan bagaimana rencana tindak
lanjut anda memenuhi kriteria SMART (Spesifik, Dapat diukur,
Dapat dicapai, Relevan, Rentang/Ketepatan Waktu).

C. Evaluasi

1. Mengapa huruf dan angka pada gambar teknik perlu standar?


2. Ada berapa macam bentuk skala yang ada, beserta contoh
penerapannya?
3. Mengapa dalam menggambar teknik diperlukan berbagai
macam jenis pensil yang ada ?
4. Untuk keperluan yang sama, apa keuntungan penggunaan
mesin gambar dibanding dengan alat yang lain ?
5. Mengapa pembuatan gambar lingkaran untuk teknik elektro dan
elektronika lebih efektif menggunakan sablon / mal lingkaran
dari pada jangka
6. Mengapa dalam gambar teknik digunakan cara proyeksi ?
7. Berapa jenis pandangan yang digunakan pada gambar
teknik dan bagaimana pemilihannya ?
8. Mengapa proyeksi ortogonal lebih banyak digunakan
daripada proyeksi piktorial ?
9. Apa perbedaan antara proyeksi kuadran I (Eropa) dengan
proyeksi kuadran III (Amerika) ?

208 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

10. Jelaskan cara membagi garis menjadi beberapa bagian


sama panjang dengan bahasa Anda masing-masing !
11. Menggambar segitiga dapat dilakukan melalui 3 metode.
Jelaskan masing-masing metode tersebut !
12. Jelaskan cara membuat segi banyak. Berikan gambar ilustrasi
bila dianggap perlu !
13. Agar dapat menggambar silinder, terlebih dahulu Anda
harus memahami cara menggambar elips. Jelaskan pendapat
Anda mengenai hal ini !
14. Menurut Anda, apa perbedaan mendasar dalam cara
menggambar parabola dan hiperbola ?
15. Jelaskan ciri – ciri gambar yang menggunakan proyeksi
isometri!
16. Jelaskan teknik penyajian gambar proyeksi isometri!

D. Kunci Jawaban

1. Huruf dan angka pada gambar teknik perlu standar karena


mempunyai tujuan menjelaskan maksud pelaksanaan dalam
kegiatan teknik, atau menuntun suatu kegiatan keteknikan pada
umumnya. Karena itu mengandung suatu petunjuk yang
berfungsi penting dalam kegiatan penyelesaian keteknikan
2. Ada 3 macam bentuk skala yang ada yaitu :
 Skala pembesaran, contohnya menggambarkan bentuk
sturktur atom yang pembersannya sampai 1.000.000 : 1
 Skala penuh, contohnya menggambar bentuk speaker
dengan ukuran 1 : 1
 Skala pengecilan, contohnya menggambar jaringan
instalasi listrik dalam rumah beserta bentuk ruangannya
dengan skala 1 : 100

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 209


Penutup

3. Dalam menggambar teknik diperlukan berbagai macam jenis


pensil yang ada yang disesuaikan dengan jenis kertas yang
dipakai.
4. Keuntungan menggunakan mesin gambar daripada alat
konvensional lainnya adalah mesin gambar merupakan alat
yang multifungsi, yaitu dapat digunakan sebagai busur derajat,
penggaris-T, dan mistar segitiga
5. Pembuatan bentuk lingkaran untuk gambar teknik elektro dan
elektronika lebih efektif menggunakan jangka karena ukuran
bentuk lingkarannya relatif kecil sehingga lebih mudah
digambar dengan sablon (mal).
6. Proyeksi merupakan cara penggambaran suatu benda, titik,
garis, bidang, benda ataupun pandangan suatu benda
terhadap suatu bidang gambar. Proyeksi
piktorial/pandangan tunggal adalah cara penyajian suatu
gambar tiga dimensi terhadap bidang dua dimensi.
Sedangkan proyeksi ortogonal merupakan cara pemproyeksian
yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus
terhadap proyektornya.
7. Suatu ruang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi
oleh bidang – bidang depan, bidang vertikal dan bidang
horizontal. Ruang yang dibatasi tersebut dikenal dengan
sebutan kuadran.
a) Ruang di atas bidang H, didepan bidang D dan disamping kanan
bidang V disebut kuadran I.
b) Ruang yang berada diatas bidang H, didepan bidang D dan
disebelah kiri bidang V disebut kuadran II.
c) Ruang disebelah kiri bidang V, dibawah bidang H dan didepan
bidang D disebut kuadran III.
d) Ruang yang berada dibawah bidang H, didepan bidang D dan
disebelah kanan bidang V disebut kuadran IV.

210 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

8. Proyeksi piktorial adalah cara menampilkan gambar benda yang


mendekati bentuk dan ukuran sebenarnya secara tiga dimensi,
dengan pandangan tunggal. Sedangkan Proyeksi orthogonal …
9. Proyekasi Amerika merupakan proyeksi yang letak bidangnya
sama dengan arah pandangannya sedangkan Proyeksi Eropa
merupakan proyeksi yang letaknya terbalik dengan arah
pandangnya

10. Jelaskan cara membagi garis menjadi beberapa bagian sama


panjang dengan bahasa Anda masing-masing !
 Tarik garis sembarang dari A
 Ukuran pada garis a-x bagian yang sama panjang (misal
dibagi delapan)dengan memakai jangka Aa = ab = bc = cd = de
= ef = fg = gh.
 Hubungkan titik h dengan B.
 Tariklah dari titik-titik: g, f, e, d, c, b, a, garis sejajar dengan garis
hB. Garis-garis ini akan memotong AB di titik-titik yang
membaginya dalam 8 bagian yang sama panjang.

Gambar Membagi garis sama panjang

11. Menggambar segitiga dapat dilakukan melalui 3 metode.


Jelaskan masing-masing metode tersebut !
Untuk dapat menggambar segitiga maka minimal harus
ditentukan 3 informasi agar segitiga dapat dibuat sesuai yang
dikehendaki. Unsur-unsur yang dapat dipakai sebagai pedoman
dalam menggambar segitiga yaitu:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 211


Penutup

Sisi – Sudut – Sisi


a) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
b) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran urutan 2, 3,
4 terus 5 pada titik A.
c) Ukurkan panjang garis ukuran 6 ke garis sudut yang telah
dibentuk pada titik C.
d) Segitiga ABC sudah tergambar
Sudut – Sisi – Sudut
a) Buat garis AB, dengan mengukur garis pengukuran 1 dengan
jangka.
b) Pindahkan sudut yang ditentukan dengan pengukuran urutan
2, 3 pada titik A dan urutan 4, 5 pada titik B.
c) Pertemuan garis pembentuk kedua sudut memotong titik C.
d) Segitiga ABC sudah tergambar.
Sisi – sisi – sisi Segitiga ini merupakan segitiga sama sisi karena
ketiga sisinya sama panjang.
a) Tentukan atau ukur salah satu sisinya misalnya AB.
b) Ukurlah urutan 1 dari titik A sepanjang garis AB.
c) Ukurkan kembali urutan 2 dari titik B sepanjang AB.
d) Segitiga ABC sama kaki tergambar.

12. Jelaskan cara membuat segi banyak. Berikan gambar ilustrasi bila
dianggap perlu !
Menggambar Segi Delapan Beraturan
a) Tentukan lingkaran dengan pusat M.
b) Tarik garis tengah melalui titk M memotong lingkaran di titik A dan
titik B.
c) Buat busur yang sama dari titik A dan titik B dan tarik perpotongan
busur sehingga memotong lingkaran di titik C dan D dan melalui
titik M.
d) Bagilah busur AD dan BD sama besar, kemudian tarik garis
hingga memotong lingkaran.

212 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

e) Hubungkan 8 titik potong pada lingkaran tersebut, sehingga


tergambarlah segi delapan beraturan.
13. Agar dapat menggambar silinder, terlebih dahulu Anda harus
memahami cara menggambar elips. Jelaskan pendapat Anda
mengenai hal ini !
Untuk dapat melakukan hal atau pekerjaan yang complex diperlukan
kemampuan untuk dapat melakukan hal hal yang mendukung dalam
arti dasar2nya, demikian juga kalau ingin menggambar silinder anda
diharuskan dapat menggambar tentang elips. Karena pada dasarnya
silinder adalah gambar 2 buah elips
yang digabungkan menjadi satu, seperti nmpak pada gambar
dibawah ini.

14. Menurut Anda, apa perbedaan mendasar dalam cara


menggambar parabola dan hiperbola ?

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 213


Penutup

Dari gambar diatas proses menggambar Parabola dan Hiperbola,


Parabola lebih simple dan mudah dikerjakan dari pada menggambar
Hiperbola

15. Ciri – ciri gambar yang menggunakan proyeksi isometri!


a). Ciri pada Sumbu
 Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30o
terhadap garis mendatar.
 Sudut antara sumbu satu dan sumbu lainnya 120o.

214 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

b). Ciri pada Ukuran


Panjang gambar pada masing -masing sumbu sama dengan
panjang benda yang digambarnya
16. Jelaskan teknik penyajian gambar proyeksi isometri!
Penyajian gambar dengan proyeksi isometri dapat dilakukan
dengan kedudukan normal, terbalik atau horizontal.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 215


Teknik Audio Video KK A

Glosarium

 DIN : Singkatan dari Deutsches Institut für Normung yang


berkedudukan di Jerman. Merupakan lembaga nasional Jerman
yang bertugas menetapkan standarisasi.

 Elips : Konstruksi geometris yang mempunyai sumbu.

 Etiket : Kepala gambar yang dibuat di sisi kanan bawah kertas


gambar dan berisi berbagi Informasi penting mengenai benda
kerja.

 Gambar bentangan : Gambar permukaan benda bila dibuka atau


dibentangkan.

 Gambar proyeksi ortogonal : Gambar dalam bidang datar, yang


menyajikan benda dalam tampak depan, tampak samping atau
tampak atas.

 Gambar teknik : Gambar yang dijadikan media komunikasi para


ahli teknik dalam merancang dan membuat sebuah produk.

 Garis : Deretan titik-titik yang saling berhubungan.

 Garis singgung : Garis yang menyentuh suatu titik pada keliling


bulatan.

 ISO : Singkatan dari International Standardization for


Organization yang berkedudukan di Swiss yang mengatur dan
mengawasi standar, ukuran, manajemen dan kualitas produk
seluruh anggotanya di seluruh dunia.

 JIS : Singkatan dari Japanese Industrial Standards, yaitu


standar industri Jepang yang digunakan di negaranya dan
kelompoknya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 217


Glosarium

 NEN : Singkatan dari The Netherlands Standardization Institute.


Lembaga standar yang dipunyai Belanda dan berkedudukan di
negara Belanda.

 Prisma : Bentuk geometris yang mempunyai bentuk sama


sepanjang bendanya.

 Proyeksi Amerika : Proyeksi yang letak bidangnya sama dengan


arah pandangannya, disebut juga proyeksi kuadran III.

 Proyeksi aksonometri : Proyeksi gambar dimana bidang-bidang


atau tepi benda dimiringkan terhadap bidang proyeksi.

 Proyeksi dimetri : Merupakan penyempurnaan dari gambar


isometri, dimana garis-garis yang tumpang-tindih yang terdapat
pada gambar isometri tidak kelihatan lagi pada gambar dimetri.

 Proyeksi Eropa : Proyeksi yang letaknya terbalik dengan arah


pandangnya, disebut juga proyeksi kuadran I.

 Proyeksi miring : Proyeksi gambar dimana garis-garis proyeksi


tidak tegak lurus bidang proyeksi, tetapi membentuk sudut
sembarang (miring).

 Proyeksi perspektif : Proyeksi dimana garis-garis pandangan


(garis proyeksi) dipusatkan pada satu atau beberapa titik.

 Proyeksi piktorial : Cara menampilkan gambar benda yang


mendekati bentuk dan ukuran sebenarnya secara tiga dimensi,
dengan pandangan tunggal.

 Proyeksi trimetri : Proyeksi trimetri merupakan proyeksi yang


berpatokan kepada besarnya sudut antara sumbu-sumbu (x,y,z)
dan panjang garis sumbu-sumbu tersebut.

218 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

 SII : Singkatan dari Standar Industri Indonesia, berkedudukan di


Indonesia dan digunakan untuk standarisasi ukuran, manajemen
dan ketentuan ketentuan lainnya.

 Simetris : Sama kedua belah bagiannya.

 Skala gambar : Perbandingan ukuran pada gambar dengan


ukuran benda sesungguhnya.

 Sketsa : Gambar rancangan; rengrengan; denah; bagan.

 Standarisasi : Penyesuaian bentuk, ukuran dan kualitas dengan


pedoman yang telah ditetapkan.

 Sudut : Bangun yang dibuat oleh dua garis yang berpotongan di


sekitar titik potongnya.
 Tirus : Sebuah bentuk dimana semakin ke ujung makin kecil.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 219


Teknik Audio Video KK A

Daftar Pustaka

1. Suwardi, 2007, Sistem Menejemen Pembelajaran : Menciptakan Guru yang


Kreatif, Temprina Media Grafika.

2. Molenda, Michael dkk. 2006 Instructional Media And Technology For


Teaching And Learning. New York: Practice-Hall Inc

3. Anwari. 1997. Menggambar Teknik Mesin. Jakarta. Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

4. Eka Jogaswara. 1995. Menggambar Teknik Mesin Tingkat I dan II.


Bandung. Armico. handimuradi.wordpress.com/2012/08/11/proyeksi-
amerika-eropa/

5. http://belajarserbaneka.blogspot.com/2013/01/menggambar-parabola.html

6. http://suryaputra2009.wordpress.com/2012/01/30/penunjukkan-ukuran/

7. http://www.beaudaniels-illustration.com/technical-drawing-site-2/sketch.html

8. Luzadder, Warren J. (1983), Fundamentals of Engineering Drawing,


dalam

9. Menggambar Teknik, Hendarsin, H, Penerbit Erlangga

10. Politeknik Mekanik Swiss ITB. 1982. Menggambar Teknik. Bandung. Institut
Teknologi Bandung.

11. Simmons, Colin H. (2004), Manual of Engineering Drawing to British and


International

12. Standards, Maguire, Denis E, Elsevier Newnes, Oxford.

13. Sularso, Kiyokatsu Suga. 1979. Elemen Mesin. Jakarta. PT. Pradnya
Paramita.

14. www.me.umn.edu/courses/me2011/handouts/drawing/blanco-tutorial.html

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 221


Teknik Audio Video KK A

Lampiran

Lampiran1
International System of Units (SI)—Metric Units

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 223


Lampiran

Lampiran 2
Simbol komponen Listrik dan Elektronika Standard Amerika

224 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK A

Lampiran 3
Skema Regulator Power Supply dengan Zener

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 225


Sampul Dalam Pedagogik
MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN(SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
DAN PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI A

PEDAGOGIK:
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Penulis:
Drs. Hari Amanto, M.Pd
Perevis:
Dr. Agung Suprihatin, S.Pd, M.Si
Penyunting:
Drs. Gunawan, M.Si.

Desain Grafis dan Ilustrasi:


Tim Desain Grafis

Copyright © 2017
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan
Pedagogik KK A

Daftar Isi

Hal
Daftar Isi ............................................................................................................ iii
Daftar Gambar .................................................................................................... v
Pendahuluan ...................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................... 2
C. Peta Kompetensi .................................................................................... 3
D. Ruang Lingkup ....................................................................................... 3
E. Cara Penggunaan Modul........................................................................ 4
Kegiatan Pembelajaran 1 Karakteristik Peserta Didik ................................... 11
A. Tujuan .................................................................................................. 11
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ........................................................ 11
C. Uraian Materi........................................................................................ 11
D. Aktivitas Pembelajaran ......................................................................... 22
E. Latihan/Tugas/Kasus............................................................................ 23
F. Rangkuman .......................................................................................... 25
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................ 26
Kegiatan Pembelajaran 2 Potensi Peserta Didik ........................................... 27
A. Tujuan .................................................................................................. 27
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ........................................................ 27
C. Uraian Materi........................................................................................ 27
D. Aktivitas Pembelajaran ......................................................................... 41
E. Latihan/Tugas/Kasus............................................................................ 46
F. Rangkuman .......................................................................................... 48
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................ 48
Kegiatan Pembelajaran 3 Bekal Ajar Awal Peserta Didik .............................. 51
A. Tujuan .................................................................................................. 51
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ........................................................ 51
C. Uraian Materi........................................................................................ 51
D. Aktivitas Pembelajaran ......................................................................... 59

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | iii


E. Latihan/Tugas/Kasus ............................................................................ 60
F. Rangkuman .......................................................................................... 62
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................ 63
Kegiatan Pembelajaran 4 Kesulitan Belajar Peserta Didik............................ 65
A. Tujuan .................................................................................................. 65
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ........................................................ 65
C. Uraian Materi ........................................................................................ 65
D. Aktivitas Pembelajaran ......................................................................... 74
E. Latihan/Tugas/Kasus ............................................................................ 75
F. Rangkuman .......................................................................................... 77
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................ 78
Kunci Jawaban Soal Latihan/Tugas/Kasus .................................................... 79
A. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 1 ..................................................... 79
B. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 2 ..................................................... 79
C. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 3 ..................................................... 79
D. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 4 ..................................................... 80
Evaluasi ............................................................................................................ 81
A. Soal Evaluasi ....................................................................................... 81
B. Kunci Jawaban Evaluasi....................................................................... 85
Penutup ............................................................................................................ 87
A. Kesimpulan .......................................................................................... 87
B. Tindak Lanjut ........................................................................................ 89
Daftar Pustaka.................................................................................................. 91
Glosarium ......................................................................................................... 95

iv | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK A

Daftar Gambar

Gambar 1. Alur Model Pembelajaran Tatap Muka…………………………… 4

Gambar 2. Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh…………………………… 5

Gambar 3. Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In………………… 7

Gambar 4. Model Karakteristik Peserta Didik……………………………………….. 13

Gambar 5. Contoh Format Peta Konsep……………………………………… 56

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | v


vi | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
Pedagogik A

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Manusia dilahirkan dengan fitrahnya masing-masing, yang berbeda satu sama


lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa peserta didik sebagai seorang manusia juga
tidak sama secara individual, baik karakteristiknya, potensi yang dimiliki,
pengalaman yang telah dilalui sebagai gambaran bekal ajar awalnya serta
kemungkinan kesulitan belajar yang akan dialaminya selama menempuh
pembelajaran di kelas.

Sebagai seorang pendidik, sangat perlu memahami perkembangan peserta didik.


Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik,
perkembangan sosio emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual.
Perkembangan fisik dan perkembangan sosio emosional mempunyai kontribusi
yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau
perkembangan kognitif siswa.

Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di atas, sangat diperlukan


oleh pendidik untuk merancang pembelajaran kondusif yang akan dilaksanakan.
Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi
belajar peserta didik sehingga diharapkan dapat meningkatkan proses dan hasil
pembelajaran sesuai tujuan yang ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa komponen, salah satunya


terdapat pendidik dan peserta didik serta tujuan yang ingin di capai pada proses
pembelajaran tertentu. Untuk menjalankan proses pembelajaran yang optimal
pendidik harus menganalisis potensi peserta didiknya terlebih dahulu yang
meliputi karakteristik umum, karakteristik akademik, maupun karakteristik uniknya
yang dapat mempengaruhi kemampuan, intelektual, dan proses belajarnya.

Modul ini membahas karakteristik aspek fisik, intelektual, sosial-emosional,


moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya, potensi peserta didik, bekal
ajar awal peserta didik dan kesulitan belajar peserta didik secara terintegrasi

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 1


Pendahuluan

dengan materi penguatan pendidikan karakter pada nilai-nilai utama nasionalis,


mandiri, dan integritas.

B. Tujuan

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat :

a. Menjelaskan karakteristik aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral,


spiritual, dan latar belakang sosial-budaya dengan mengintegrasikan nilai-
nilai utama penguatan karakter yakni sikap menghargai keberagaman dan
perbedaan serta integritas.

b. Mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu


dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan karakter yakni
menghargai potensi yang dimiliki setiap individu, suka bekerja keras, dan
integritas.

c. Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran yang


diampu dan memanfaatkannya dalam penyusunan program pembelajaran
dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan karakter yakni
menghargai perbedaan individu, gemar membaca, dan integritas.

d. Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang


diampu dan mengelompokkannya dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama
penguatan karakter yakni bekerja keras, mandiri, dan integritas.

2 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

C. Peta Kompetensi

BIDANG KEAHLIAN : PEDAGOGIK


POSISI MODUL

KODE UNIT
NAMA UNIT KOMPETENSI
KOMPETENSI
PED0100000-00 Perkembangan Peserta Didik
PED0200000-00 Teori Belajar dan Prinsip Pembelajaran yang Mendidik
PED0300000-00 Pengembangan Kurikulum
PED0400000-00 Pembelajaran Yang Mendidik
PED0500000-00 Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Pembelajaran
PED0600000-00 Pengembangan Potensi Peserta Didik
PED0700000-00 Komunikasi Efektif
PED0800000-00 Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran
PED0900000-00 Pemanfaataan Hasil Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran
PED0100000-00 Tindakan Reflektif untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran.

D. Ruang Lingkup

1. Materi Pokok 1. Karakteristik peserta didik


a. Pengertian karakteristik peserta didik
b. Pentingnya memahami karakteristik peserta didik
c. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan aspek fisik
d. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan aspek intelektual
e. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan aspek sosial-emosional
f. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan aspek moral-spiritual
g. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan latar belakang sosial
budaya
2. Materi Pokok 2. Potensi peserta didik
a. Pengertian dan macam potensi peserta didik
b. Faktor-faktor yang memengaruhi potensi peserta didik
c. Identifikasi potensi peserta didik berdasarkan bakat dan minat

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 3


Pendahuluan

3. Materi Pokok 3. Bekal ajar awal peserta didik


a. Konsep bekal ajar awal peserta didik
b. Identifikasi bekal ajar awal peserta didik
c. Pemanfaatan hasil identifikasi bekal ajar awal
4. Materi Pokok 4. Kesulitan belajar peserta didik
a. Faktor yang memengaruhi kesulitan belajar
b. Jenis-jenis kesulitan belajar
c. Upaya mengatasi kesulitan belajar

E. Cara Penggunaan Modul

Secara umum, cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran


disesuaikan dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Modul ini dapat
digunakan dalam kegiatan pembelajaran guru, baik untuk moda tatap muka
dengan model tatap muka penuh maupun model tatap muka In-On-In. Alur model
pembelajaran secara umum dapat dilihat pada bagan di bawah.

Gambar 1. Alur Model Pembelajaran Tatap Muka

4 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

E. 1. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka Penuh


Kegiatan pembelajaran diklat tatap muka penuh adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru melalui model tatap muka penuh yang
dilaksanakan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan ditjen. GTK maupun
lembaga diklat lainnya. Kegiatan tatap muka penuh ini dilaksanakan secara
terstruktur pada suatu waktu yang dipandu oleh fasilitator.

Tatap muka penuh dilaksanakan menggunakan alur pembelajaran yang dapat


dilihat pada alur di bawah.

Gambar 2. Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model tatap muka penuh dapat
dijelaskan sebagai berikut.

a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada peserta
diklat untuk mempelajari :
 latar belakang yang memuat gambaran materi
 tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
 kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.
 ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 5


Pendahuluan

 langkah-langkah penggunaan modul

b. Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi A
(Perkembangan Peserta Didik), fasilitator memberi kesempatan kepada guru
sebagai peserta untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat
sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta
dapat mempelajari materi secara individual maupun berkelompok dan dapat
mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.

c. Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu oleh
fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan
menggunakan pendekatan yang secara langsung berinteraksi di kelas
pelatihan bersama fasilitator dan peserta lainnya, baik itu dengan
menggunakan diskusi tentang materi, malaksanakan praktik, dan latihan
kasus.

Lembar kerja pada pembelajaran tatap muka penuh adalah bagaimana


menerapkan pemahaman materi-materi yang berada pada kajian materi.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini juga peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data sampai pada peserta dapat
membuat kesimpulan kegiatan pembelajaran.

d. Presentasi dan Konfirmasi


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan
fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dan dibahas bersama.

e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

6 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

E. 2. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka In-On-In


Kegiatan diklat tatap muka dengan model In-On-In adalan kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru yang menggunakan tiga kegiatan utama, yaitu In
Service Learning 1 (In-1), on the job learning (On), dan In Service Learning 2 (In-
2). Secara umum, kegiatan pembelajaran diklat tatap muka In-On-In tergambar
pada alur berikut ini.

Gambar 3. Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model In-On-In dapat dijelaskan


sebagai berikut.
a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan disampaikan bertepatan pada saat pelaksanaan
In service learning 1, fasilitator memberi kesempatan kepada peserta diklat
untuk mempelajari :
 latar belakang yang memuat gambaran materi
 tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 7


Pendahuluan

 kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.


 ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
 langkah-langkah penggunaan modul

b. In Service Learning 1 (IN-1)


 Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi A
(Perkembangan Peserta Didik), fasilitator memberi kesempatan kepada guru
sebagai peserta untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat
sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta
dapat mempelajari materi secara individual maupun berkelompok dan dapat
mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.

 Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu oleh
fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan
menggunakan pendekatan/metode yang secara langsung berinteraksi di
kelas pelatihan, baik itu dengan menggunakan metode berfikir reflektif,
diskusi, brainstorming, simulasi, maupun studi kasus yang kesemuanya
dapat melalui Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan kegiatan pada
IN1.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mempersiapkan rencana pembelajaran pada
on the job learning.

c. On the Job Learning (ON)


 Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi A
(Perkembangan Peserta Didik), guru sebagai peserta akan mempelajari
materi yang telah diuraikan pada in service learning 1 (IN1). Guru sebagai
peserta dapat membuka dan mempelajari kembali materi sebagai bahan
dalam mengerjaka tugas-tugas yang ditagihkan kepada peserta.

8 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

 Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah
maupun di kelompok kerja berbasis pada rencana yang telah disusun pada
IN1 dan sesuai dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul.
Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan menggunakan
pendekatan/metode praktik, eksperimen, sosialisasi, implementasi, peer
discussion yang secara langsung dilakukan di sekolah maupun kelompok
kerja melalui tagihan berupa Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan
kegiatan pada ON.
Pada aktivitas pembelajaran materi pada ON, peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data dengan melakukan pekerjaan
dan menyelesaikan tagihan pada on the job learning.

d. In Service Learning 2 (IN-2)


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi produk-produk tagihan ON
yang akan di konfirmasi oleh fasilitator dan dibahas bersama.

e. Refleksi
pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

E. 3. Lembar Kerja
Modul pengembangan keprofesian berkelanjutan kelompok kompetensi A
(Perkembangan Peserta Didik), terdiri dari beberapa kegiatan pembelajaran yang
didalamnya terdapat aktivitas-aktivitas pembelajaran sebagai pendalaman dan
penguatan pemahaman materi yang dipelajari.

Modul ini memiliki beberapa lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan oleh
peserta, lembar kerja tersebut dapat terlihat pada tabel berikut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 9


Pendahuluan

Tabel 1. Daftar Lembar Kerja Modul


No Kode Nama LK Keterangan
LK
1. LK.1a. Menyusun Peta Konsep Uraian Materi KP 1 TM, IN1
2. LK.1b. Presentasi dan Perbaikan Peta Konsep KP 1 TM, ON
3. LK.2.a. Menyusun Peta Konsep Uraian Materi KP 2 TM, IN 1
4. LK.2.b. Presentasi dan Perbaikan Peta Konsep KP 2 TM, ON
5. LK 2.c. Skala Nominasi Guru Dimensi Indikator TM, ON
Kreativitas, Intelektual, dan Motivasi
6. LK 2.d. Identifikasi Potensi Peserta Didik TM, ON
7. LK.3.a. Menyusun Peta Konsep Uraian Materi KP 3 TM, IN 1
8. LK.3.b. Presentasi dan Perbaikan Peta Konsep KP 3 TM, ON
9. LK 3.c. Identifikasi Bekal Ajar Awal Peserta Didik TM, ON
10. LK.4.a. Menyusun Peta Konsep Uraian Materi KP 4 TM, IN 1
11. LK.4.b. Presentasi dan Perbaikan Peta Konsep KP 4 TM, ON
12. LKL 4.c. Identifikasi Kesulitan Belajar Peserta Didik TM, ON
Keterangan.
TM : Digunakan pada Tatap Muka Penuh
IN1 : Digunakan pada In service learning 1
ON : Digunakan pada on the job learning

10 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Kegiatan Pembelajaran 1
Karakteristik Peserta Didik

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan peserta dapat


menjelaskan karakteristik peserta didiknya berkaitan dengan aspek fisik,
intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual dan latar belakang sosial budaya
dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan karakter yakni sikap
menghargai keberagaman dan perbedaan serta integritas.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi pada kegiatan pembelajaran 1 ini meliputi:


1. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik dijelaskan
sesuai dengan perkembangan usia.
2. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek intelektual
dikelompokkan sesuai dengan kondisi yang ada.
3. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek sosial-emosional
dijelaskan sesuai dengan budaya lingkungan dan perkembangan kematangan
kejiwaan.
4. Karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek moral-spiritual
dijelaskan sesuai norma yang berlaku dan ajaran agama yang dianut.
5. Karakteristik peserta didik berkaitan dengan latar belakang sosial budaya
diidentifikasi persamaan dan perbedaannya.

C. Uraian Materi

1. Pengertian Karakteristik Peserta Didik


Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu komponen yang
menempati posisi sentral. Peserta didik menjadi pokok persoalan dan tumpuan
perhatian dalam semua proses transformasi yang dikenal dengan sebutan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 11


Kegiatan Pembelajaran 1

pendidikan. Sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan, peserta didik


sering disebut sebagai bahan mentah.

Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada
dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut
fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah mengalami tumbuh
kembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten
menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya.

Peserta didik memiliki potensi–potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia
merupakan insan yang unik. Potensi–potensi khas yang dimilikinya perlu
dikembangkan serta direalisasikan sehingga mencapai tahapan perkembangan
yang optimal. Oleh karena itu setiap pendidik harus menekankan dan
memberikan teladan yang baik terkait sikap menghargai setiap perbedaan dan
keberagaman potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik. Selain itu,
peserta didik memiliki kecenderungan untuk melepaskan diri dari
kebergantungan pada pihak lain.

Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani
(Greek), yaitu charassein yang berarti to engrave (Ryan and Bohlin, 1999: 5).
Kata to engrave bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau
menggoreskan (Echols dan Shadily, 1987: 214).

Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona.


Menurutnya karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations
in a morally good way.” Selanjutnya Lickona menambahkan, “Character so
conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral
behavior” (Lickona, 1991: 51). Menurut Lickona, karakter mulia (good character)
meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat)
terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Dengan kata
lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap
(attitides), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan
(skills).

12 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Menurut Moh. Uzer Usman (1989) Karakteristik mengacu kepada karakter dan
gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga
tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah diperhatikan.

Sudirman (1990) menyebutkan bahwa karakteristik peserta didik adalah


keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik
sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan
pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

Menurut Hamzah. B. Uno (2007) karakteristik peserta didik adalah aspek-aspek


atau kualitas perseorangan peserta didik yang terdiri dari minat, sikap, motivasi
belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.

Secara Umum karakteristik peserta didik adalah pola/gaya hidup individu secara
umum (yang dipengaruhi oleh usia, gender, latar belakang) yang telah dibawa
sejak lahir dan dari lingkungan sosialnya untuk menentukan kualitas hidupnya.

Piuas Partanto dalam Dahlan (1994), mengemukakan bahwa karakteristik


berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan
yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap.

tersenyum Senang
ekspresinya
cemberut
Suka

tertawa menangis
Tidak menentu
sedih

bahagia
ceria

Gambar 4. Model Karakteristik Peserta Didik

2. Pentingnya Memahami Karakteristik Peserta Didik


Pada penerapan Kurikulum 2013, kita semua memahami bahwa pola
pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Pendekatan pembelajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 13


Kegiatan Pembelajaran 1

yang berpusat pada peserta didik ini memberikan makna bahwa peserta didik
memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang akan dipelajari dan gaya belajarnya
(learning style) untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Oleh sebab itu
seorang pendidik harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam
proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai oleh seluruh
peserta didik.

Seorang pendidik memiliki peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan
membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti
yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas dalam
menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu pendidik juga harus
memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik juga
bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada
pasiennya sesuai dengan diagnosisnya. Pendidik juga dapat berperan sebagai
seorang ulama. Dalam hal ini pendidik membimbing dan menuntun batin atau
kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi peserta didik dengan pendekatan
agama yang hasilnya diharapkan akan lebih baik.

Mengenal dan memahami karakteristik peserta didik dapat dilakukan dengan


cara memperhatikan dan menganalisis tutur kata (cara bicara), sikap dan
perilaku atau perbuatan peserta didik secara individual, karena dari tiga aspek di
atas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu
seorang pendidik harus secara seksama melakukan komunikasi dan interaksi
dengan peserta didiknya dalam setiap aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan.

3. Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Aspek Fisik


Peserta didik pada jenjang pendidikan menengah umumnya tergolong remaja.
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan
merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini
meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri
kelamin utama (primer) dan ciri kelamin kedua (skunder)

14 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Istilah pertumbuhan biasa digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan


ukuran fisik yang secara kuantitatif semakin lama semakin besar atau tinggi. Dan
istilah perkembangan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan dalam
aspek psikologis dan sosial dimana aspek ini meliputi aspek-aspek intelek,
emosi, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral serta sikap.

Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan


salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Fisik atau tubuh manusia
merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua
organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan). Berkaitan dengan
perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1997) mengemukakan
bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:
a) Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan
motorik;
b) Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan
emosi;
c) Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku
baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif
dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;
d) Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi


perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf,
organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan
perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya
(seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta
perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung,
penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta


didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab
itu Anda sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta
didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di
dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi,
maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 15


Kegiatan Pembelajaran 1

kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan
kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan
lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

4. Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Aspek Intelektual


Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun
dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Kemampuan kognitif sangat
diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan
kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan
peserta didik. Peserta didik merupakan subjek yang berkaitan langsung dengan
proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan
keberhasilan peserta didik dalam belajar.

Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk
menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi,
pikiran, ingatan dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang
memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa
depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu
mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan,
menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2005).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang


cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada anak
merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan
melakukan penalaran dan pemecahan masalah termasuk dalam proses
psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan
memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik
juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik
perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa
perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-
masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai
dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

16 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Binet dan Simon mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk


mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan
bila tindakan tersebut dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri
atau melakukan autocriticsm. Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal
dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan
seseorang. Intelegensi dipandang sebagai sesuatu yang fungsional sehingga
memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan
individu berdasar suatu kriteria tertentu.

Istilah kemampuan dan kecerdasan luar biasa sering dipadankan dengan istilah
gifted atau berbakat. Meskipun hingga saat ini belum ada satu definisi tunggal
yang mencakup seluruh pengertian anak berbakat. Sebutan lain bagi anak gifted
ini misalnya genius, bright, dan talented.

Berkaitan dengan perkembangan intelektual, usia remaja sudah mulai mampu


berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan
sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi
pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir
lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti,
dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu
tujuan di masa depan.

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum


sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir
egosentrisme (ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang
lain). Salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah
personal fable (berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki
karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari
sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya).

5. Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Aspek Sosial-Emosional


Selain berdasarkan aspek fisik dan intelektual, karakteristik peserta didik yang
penting diketahui oleh pendidik adalah berdasarkan aspek sosial-emosional.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 17


Kegiatan Pembelajaran 1

Sosial-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Aspek sosial peserta didik
berkaitan dengan hubungan antara individu dengan orang-orang di sekitarnya.
Sehingga perkembangan sosial peserta didik juga berkaitan dengan lingkungan
sekitarnya. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam
hubungan atau interaksi sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk
menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama.

Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku


individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi
dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan
senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan
mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas
belajar. Emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah,
individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga
kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak
menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan
hal mutlak dalam emosi. Menurut Goleman (2000) emosi merujuk pada suatu
perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah
dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap
rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira
mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat
tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Emosi
berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi
merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi
dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat
mengganggu perilaku intensional manusia. Goleman (2000) mengemukakan
beberapa macam emosi yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus
asa

18 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,


waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
bakti, hormat, kemesraan, kasih
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal

Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perubahan fisik individu penting diketahui
pendidik. Berikut adalah pengaruh emosi yang umum:
a. Memperkuat semangat bila merasa senang atas suatu keberhasilan.
b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kekecewaan karena suatu
kegagalan.
c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar apabila individu dalam
keadaan gugup.
d. Terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.

Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan


(pembiasan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam
mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan
dalam lingkungan keluarga yang suasana emosionalnya stabil, maka
perkembangan emosi anak cenderung stabil. Akan tetapi apabila kebiasaan
orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil dan kurang kontrol
misalnya melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah mengeluh,
kecewa atau pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi
anak cenderung kurang stabil. Oleh karena itu untuk memperoleh perkembangan
emosi yang stabil pada peserta didik, dituntut peran serta dari orang tua secara
aktif dan positif.

6. Karakteristik peserta didik berdasarkan aspek moral-spiritual


Kecerdasan spiritual menurut Zohar dan Marshall (2005) adalah kecerdasan
tertinggi (the ultimate intelligence) yang dimiliki manusia. Berdasarkan data-data

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 19


Kegiatan Pembelajaran 1

ilmiah yang telah dikemukakan Zohar, semakin memberikan keyakinan pada kita
bahwa potensi kecerdasan spiritual naluri ber-Tuhan memang sudah terpatri
dalam diri manusia sejak lahir. Anak-anak dilahirkan dengan kecerdasan spiritual
yang tinggi. Namun perlakuan yang tidak tepat dari orang tua, sekolah dan
lingkungan seringkali merusak apa yang mereka miliki, padahal potensi spiritual
quotient (SQ) yang terpelihara akan mengoptimalkan intelligence quotient (IQ)
dan emotional quotient (EQ). Di sinilah letak urgensi dari pendidikan. Pendidikan
dalam prosesnya dituntut mampu untuk mengembangkan dan memelihara
potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Kunci dari kecerdasan spiritual adalah
mengetahui nilai dan tujuan terdalam diri kita.

1) Kesadaran diri Menurut Zohar dan Marshall


Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang kita yakini dan mengetahui nilai
dan hal apa yang sungguh-sungguh memotivasi kita. Kesadaran diri
merupakan kesadaran akan tujuan hidup kita yang paling dalam. Tanpa
kesadaran diri yang dalam manusia akan menjadi sosok yang super dan
terbatasi ego, dikendalikan oleh perilaku, emosi liar dan motivasi terendahnya.
Tanpa kesadaran diri kita akan buta dan tidak sensitif terhadap kehidupan
batin kita dan mudah terganggu oleh aktivitas-aktivitas dan tujuan kehidupan
sehari-hari sehingga kita akan melakukan kesalahan besar dalam kehidupan
kita sendiri dan kehidupan orang lain. Tanpa adanya kesadaran diri kita akan
berusaha untuk meninggalkan konsekuensi-konsekuensi hidup yang tidak kita
inginkan.

2) Aplikasi konsep kecerdasan spiritual menurut Zohar dan Marshall dalam


pendidikan
a) Melalui jalan tugas, penerapan jalan ini dalam keluarga, yakni anak dilatih
untuk melakukan tugas-tugas hariannya dengan dorongan motivasi dari
dalam. Artinya, anak melakukan setiap aktivitasnya dengan perasaan
senang, bukan karena terpaksa atau karena adanya tekanan dari orang
tua. Biasanya anak akan melakukan tugas-tugasnya dengan penuh
semangat apabila dia tahu manfaat baginya. Untuk itu orang tua perlu
memberi motivasi, membuka wawasan sehingga setiap tindakan anak
tersebut secara bertahap dimotivasi dari dalam. Anak perlu diberi waktu

20 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

menggunakan kebebasan kepribadiannya, melakukan aktivitas-aktivitas


favoritnya, misalnya membaca, menari, bermain musik, memancing.
Permainan ini membuat anak-anak produktif dan mengembangkan
kekayaan kecerdasan dalam diri mereka. Kebebasan berfikir yang efektif
dan positif akan berkembang pada diri anak yang merencanakan, melalui
dan menentukan sendiri arah permainannya. Berhubungan dengan hal itu,
sifat-sifat orang tua yang sangat mengekang atau mengendalikan anak
secara posesif akan menghambat perkembangan SQ anak.
b) Melalui jalan pengasuhan, yaitu orang tua yang penuh kasih sayang,
saling pengertian, cinta dan penghargaan. Anak tidak perlu dimanjakan
karena akan melahirkan sifat mementingkan diri sendiri dan mengabaikan
kebutuhan orang lain. Orang tua perlu menciptakan keluarga yang penuh
kasih sayang dan saling memaafkan, belajar bisa mendengar dan
menerima dengan baik diri kita lebih-lebih orang lain. Orang tua perlu
membuka diri, mengambil resiko mengungkapkan dirinya pada putra-
putrinya. Dengan cara demikian orang tua memberi model dan pengalaman
hidup bagi anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan spiritual (SQ)-
Nya.

7. Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Latar Belakang Sosial-


Budaya
Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau
kemasyarakatan, sementara budaya adalah segala hal yang dibuat oleh
manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa,
dan karsa.

Unsur-unsur sosial budaya meliputi bahasa, kesenian, sistem religi, sistem


kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Bahasa meliputi bahasa lisan maupun
tulisan. Kesenian antara lain tediri dari seni patung, seni relief, seni lukis/gambar,
seni rias, seni vokal, seni instrumen, seni kesusastraan dan seni drama. Sistem
religi terdiri dari sistem kepercayaan kesusastraan suci, sistem upacara
keagamaan, kelompok keagamaan, ilmu gaib, serta sistem nilai dan pandangan
hidup. Sistem kemasyarakatan terdiri dari sistem kekerabatan, sistem kesatuan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 21


Kegiatan Pembelajaran 1

hidup setempat, asosiasi dan perkumpulan-perkumpulan dan sistem kenegaraan.


Sistem ekonomi antara lain berkaitan dengan mata pencaharian, seperti berburu
dan meramu, perikanan, bercocok tanam, peternakan, perdagangan. Unsur
budaya lainnya adalah sistem pengetahuan, antara lain berkaitan dengan
pengetahuan tentang alam sekitar, pengetahuan tentang tubuh manusia, dan
pengetahuan tentang ruang, waktu dan bilangan. Teknologi dan peralatan yang
terdiri dari alat-alat produktif, alat-alat distribusi dan transport, wadah-wadah atau
tempat untuk menaruh makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat
berlindung dan perumahan serta senjata juga merupakan unsur budaya.

Setiap peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi


oleh nilai-nilai sosial budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga,
sekolah dan masyarakat sekitar. Nilai-nilai sosial budaya tersebut pasti
memberikan pengaruh terhadap pola, minat dan motivasi belajar seorang peserta
didik. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang pendidik untuk mengenal dan
memahami perbedaan latar belakang sosial budaya dari peserta didik pada mata
pelajaran yang diampunya dalam rangka memberikan layanan pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.

Implementasi pemahaman pendidik terhadap karakteristik setiap peserta didik,


sangat penting disertai dengan integritas yang tinggi dalam rangka menyusun
rancangan pembelajaran terbaik untuk mengakomodasi setiap karakter yang
dimiliki peserta didik pada mata pelajaran yang diampunya.

D. Aktivitas Pembelajaran

Secara mandiri ataupun berkelompok (sesuai petunjuk fasilitator), pelajari


seluruh kegiatan pembelajaran 1 dengan seksama, mulai dari tujuan
pembelajaran sampai dengan rangkuman dan umpan balik. Selanjutnya silakan
Saudara mengerjakan setiap lembar kerja (LK) yang ada sesuai dengan
ketentuan yang ada pada saran penggunaan modul.

22 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

LK 1.a. MEYUSUN PETA KONSEP URAIAN MATERI KP 1

1. Bacalah uraian materi dengan seksama, kemudian buatlah peta


konsep materi yang Saudara baca tersebut secara mandiri untuk
memperdalam pemahaman Saudara mengenai konsep Karakteristik
peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-
emosional, moral-spiritual dan latar belakang sosial budaya.
2. Susunlah peta konsep sekreatif mungkin untuk mempermudah
penguasaan materi pada Kegiatan Pembelajaran.

LK 1.b. PRESENTASI DAN PERBAIKAN PETA KONSEP KP 1

1. Presentasikan peta konsep materi yang telah Saudara buat ( LK 1.a)


pada kelompok belajar guru (MGMP) dengan memperhatikan dan
mengimplementasikan kaidah-kaidah presentasi dan bekerja dalam
kelompok (menghargai pendapat orang lain, menjalankan hasil
kesepakatan).

2. Catatlah semua masukan perbaikan dari semua partisipan.

3. Lakukan perbaikan pada peta konsep yang telah Saudara buat


berdasarkan masukan yang ada dengan penuh integritas.

E. Latihan/Tugas/Kasus

Jawablah soal-soal latihan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang
Saudara anggap benar!
1. Secara umum karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai…
A. pola/gaya hidup individu secara umum (yang dipengaruhi oleh usia,
gender, latar belakang) yang telah dibawa sejak lahir dan tidak terkait
dengan lingkungan sosialnya untuk menentukan kualitas hidupnya.
B. pola/gaya hidup individu secara umum (yang tidak dipengaruhi oleh
usia, gender, latar belakang) yang telah dibawa sejak lahir dan dari
lingkungan sosialnya untuk menentukan kualitas hidupnya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 23


Kegiatan Pembelajaran 1

C. pola/gaya hidup individu secara umum (yang dipengaruhi oleh usia,


gender, latar belakang) yang bersal dari interaksi dengan lingkungan
sosialnya untuk menentukan kualitas hidupnya.
D. pola/gaya hidup individu secara umum (yang dipengaruhi oleh usia,
gender, latar belakang) yang telah dibawa sejak lahir dan dari
lingkungan sosialnya untuk menentukan kualitas hidupnya.

2. Dari berbagai pengertian karakteristik peserta didik yang dikemukakan oleh


para ahli, secara umum karakter mengacu kepada…
A. serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi
(motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
B. seperangkat pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan ketrampilan
(skills), harapan (expectations), dan cita-cita (ambitions).
C. serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan cita-cita
(ambitions), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
D. serangkaian pengetahuan (cognitives), harapan (expectations), dan
motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan
(skills).

3. Peserta didik pada jenjang pendidikan menengah umumnya tergolong


remaja. Pernyataan tersebut menunjukkan karakteristik peserta didik dari
aspek….
A. intelektual
B. fisik
C. moral-spiritual
D. sosial-budaya

4. Adanya kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang sering dipadankan


dengan istilah gifted atau berbakat merupakan karakteristik peserta didik dari
aspek….
A. moral-spiritual
B. fisik
C. intelektual
D. sosial-budaya

24 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

5. Pernyataan berikut yang menunjukkan pengaruh emosi umum adalah….


A. terganggu penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
B. terganggu penyesuaian sosial apabila individu dalam keadaan gugup.
C. terganggu penyesuaian sosial apabila individu mengalami kegagalan.
D. terganggu penyesuaian sosial atas suatu keberhasilan.

F. Rangkuman

Dalam pengelolaan proses pembelajaran guru harus memiliki kemampuan


mendesain program, menguasai materi pelajaran, mampu menciptakan kondisi
kelas yang kondusif, terampil memanfaatkan media dan memilih sumber,
memahami cara atau metode yang digunakan sesuai kebutuhan dari karakteristik
anak.

Karakteristik peserta didik mempunyai peranan yang penting dalam menentukan


program dan strategi pembelajaran. Adapun karakteristik yang mendukung
pembelajaran adalah aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral-spiritual,
dan latar belakang sosial-budaya dan untuk memperjelas karakteristik peserta
didik.

Berdasarkan pembahasan dapat kami simpulkan bahwa memahami karakteristik


umum peserta didik sangatlah penting bagi pendidik yang mengajar dengan
beragam karakateristik peserta didik. Pendidik akan dapat mengetahui
bagaimana mengatasi karakteristik peserta didik pada usianya, menangani
adanya perbedaan gender pada peserta didik serta perbedaan latar belakang
peserta didik budaya, etnik, ras, kelas sosial sehingga guru dapat
menyelenggarakan pendidikan secara optimal.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 25


Kegiatan Pembelajaran 1

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban latihan soal/tugas/kasus Saudara dengan kunci jawaban


yang ada di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 1 dengan menjumlahkan jumlah skor.

Arti tingkat penguasaanyang diperoleh adalah :

Baik sekali = 90 –100 %

Baik = 80 –89 %

Cukup = 70 –79 %

Kurang = 0 –69 %

Bila tingkat penguasan mencapai 80 % ke atas, silahkan melanjutkan ke kegiatan


pembelajaran berikutnya. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80 %
harus mengulangi belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai.

26 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Kegiatan Pembelajaran 2
Potensi Peserta Didik

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan peserta dapat


memahami dan mengidentifikasi potensi peserta didik terkait mata pelajaran
yang diampu sesuai bakat dan minat dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama
penguatan karakter yakni menghargai potensi yang dimiliki setiap individu, suka
bekerja keras, dan integritas.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi pada Kegiatan Pembelajaran 2 ini mencakup:


1. Macam-macam potensi peserta didik dijelaskan dengan benar.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi potensi peserta didik dijelaskan dengan
benar.
3. Potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu diidentifikasi sesuai
faktor yang mempengaruhinya.

C. Uraian Materi

1. Pengertian dan Macam Potensi Peserta Didik

M. Ngalim Purwanto (1990) menyatakan potensi adalah “seluruh kemungkinan-


kemungkinan atau kesanggupan-kesanggupan yang terdapat pada seorang individu
dan selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan)”.

Potensi adalah kemampuan yang dimiliki setiap pribadi (individu) yang mempunyai
kemungkinan untuk dikembangkan sehingga dapat berprestasi. Setiap manusia pasti
memiliki potensi dan bisa mengembangkan dirinya untuk menjadi yang lebih baik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 27


Kegiatan Pembelajaran 2

Kemampuan yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat pokok.


Berdasarkan kemampuan itu, manusia akan berkembang dan akan membuka
kesempatan luas baginya untuk memperkaya diri dan mencapai taraf perkembangan
yang lebih tinggi dengan meningkatkan potensi sesuai dengan bidangnya.

Potensi juga dapat didefinisikan sebagai kesanggupan, daya, kemampuan untuk


lebih berkembang. Potensi peserta didik adalah kapasitas atau kemampuan dan
karakteristik/sifat individu yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang
memiliki kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi
lain yang terdapat dalam diri peserta didik. Berbagai pengertian ini menegaskan
bahwa setiap peserta didik memiliki kesanggupan, daya, dan mampu berkembang.
Artinya, tidak boleh ada vonis kepada peserta didik tertentu bahwa ia tidak sanggup,
berdaya, dan tidak mampu berkembang. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual,
kepribadian, minat, dan potensi moraldan keagamaan.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh
dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan oleh tenaga medis, observasi perilaku,
wawancara, dan pengisian angket akan menunjang kelancaran peserta didik
melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam
belajar. Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi
kesehatan peserta didik juga baik.

Potensi intelektual atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan
logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisis, dan
lain lain. Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu adalah faktor
internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan dan faktor eksternal, misalnya
sarana dan daya dukung penunjang. Kedua faktor ini sangat memberikan pengaruh
pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor
internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan kekuatan daya
juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar.

Potensi kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu organisasi dinamis dari sistem
psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara
yang unik. Aspek-aspek sikap kepribadian diantaranya mencakup karakter,
temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas, dan sosiabilitas. Berdasarkan
pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga
menghasilkan motif. Sikap terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan
pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

28 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu
campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau
kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima
pembelajaran. Bakat menurut didefinisikan sebagai kemampuan umum yang
dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi
keberhasilan individu mencapai sesuatu. Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat
adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan
atau pelatihan.

Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan,
sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan
dengan konsep ketuhanan yang dianutnya. Moral dan keagamaan individu
memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya.
Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan
saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi
peserta didik.

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Potensi Peserta Didik


Seperti disampaikan sebelumnya bahwa potensi yang dimiliki oleh setiap individu
termasuk peserta didik berbeda-beda karena pengaruh dari berbagai faktor, baik
internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi fisik dan psikologis. Faktor
eksternal meliputi lingkungan sosial masyarakat, lingkungan sosial keluarga,
lingkungan sekolah dan perbedaan ras, suku, budaya, kelas sosial peserta didik.

a. Faktor Internal
Yaitu faktor yang ada dalam diri peserta didik itu sendiri yang meliputi
pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang berperan mengembangkan
dirinya sendiri.
1) Fisik
Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity)
dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan; karakteristik
bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 29


Kegiatan Pembelajaran 2

menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut


merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-
masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan
lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture merupakan
istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik
individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat
perkembangan. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor
biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan
dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

2) Psikologis
Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi,
dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir peserta didik memberikan
pengaruh pada hal memecahkan masalah dan juga berbahasa. Hal lain yang
berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik antara lain: kecerdasan siswa,
motivasi, minat, sikap, dan bakat.
a) Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik
dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan
melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya
berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang
lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan
organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu
sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh
aktivitas manusia. Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling
penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar
siswa. Semakin tinggi tingkat inteligensi seorang individu, semakin besar
peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar.Sebaliknya,
semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit individu itu
mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari
orang lain, seperti guru, orangtua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor
psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka
pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh
setiap calon guru atau guru profesional, sehingga mereka dapat

30 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

memahami tingkat kecerdasan siswanya. Pemahaman tentang tingkat


kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-
pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau
psikiater.Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat
kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata-rata, atau mungkin
lemah mental.Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan
hal yang sangat berharga untuk memprediksi kemampuan belajar
seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan
membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan
kepada siswa.

b) Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan
belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan
belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di
dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga
perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai
pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan
arah perilaku seseorang. Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi
dua, yairu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu
dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang
siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk
membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya,
tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses belajar,
motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi
intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar
(ekstrinsik).
1) Motivasi Intrinsik
Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi intrinsik meliputi: a)
Dorongan ingin tahu b) Sifat positif dan kreatif c) Keinginan mencapai
prestasi d) Kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang
berguna bagi dirinya

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 31


Kegiatan Pembelajaran 2

2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi
memberi pengaruh terhadap kemauan belajar.

c) Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.Menurut Reber
(Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi
disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya,
seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan
dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar. Karena
jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak
bersemangat atau bahkan tidak mau belajar.

Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik
lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi
pelajaran yang akan dipelajarinya. Untuk membangkitkan minat belajar
siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan.antara lain, pertama,
dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak
membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang
membebaskan siswa untuk mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan
seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga
siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat
mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi.Dalam hal ini,
alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa
sesuai dengan minatnya.

d) Sikap dalam proses belajar


Sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap
adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk
mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek,
orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah,
2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang
atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan

32 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

sekitarnya.Untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam


belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan
bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas, seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi
siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru
yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk
menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga
membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak
menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajari
bermanfaat bagi diri siswa.

e) Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat.
Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial
yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang
akan datang (Syah, 2003).Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)
mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang
siswa untuk belajar.

Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorangyang menjadi salah


satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila
bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka
bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kernungkinan besar
ia akan berhasil. Pada dasarnya, setiap orang mempunyai bakat atau
potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya
masing-masing.Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya
pendidikan dan latihan. Individu yang telah memiliki bakat tertentu, akan
lebih mudah menyerap segala informasi yang berhubung-an dengan bakat
yang dimilikinya. Misalnya, siswa yang berbakat di bidang bahasa akan
lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasanya sendiri.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 33


Kegiatan Pembelajaran 2

b. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal atau faktor dari luar diri peserta didik meliputi:
1) Lingkungan Sosial Masyarakat
Lingkungan sosial individu adalah lingkungan dimana seorang individu
berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan.
Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses
belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang positif pada
perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh,
dan tidak mendukung secara positif seperti; banyaknya pengangguran, dan
anak terlantar akan memberikan pengaruh negatif pada aktifitas dan potensi
peserta didik.

2) Lingkungan Sosial keluarga


Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga
dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti
kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota
keluarga yang harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan
potensi peserta didik.

3) Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat
memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik
dan harmonis diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar.
Memberikan motivasi yang positif , dan kesempatan pada peserta didik untuk
belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian
potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari
peserta didik.

4) Perbedaan ras, suku, budaya, kelas sosial peserta didik


Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan
potensinya tanpa memandang perbedaan baik ras, suku, budaya maupun
kelas sosial peserta didik. Memahami perbedaan karakteristik peserta didik
adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang
perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas
yang mendukung aktifitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik

34 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras, dan etnik
akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai dan keyakinan yang
kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses
pengembangan potensi peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap
positif terhadap perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam
bukunya Learning to Teach (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan
dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh peserta didik di Amerika dipaksa
untuk dihapuskan, maka kecenderungan prestasi akademik siswa tidak
mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi emosional yang negatif
pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan kondisi
emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman karakteristik
mereka.

3. Identifikasi Potensi Peserta Didik Berdasarkan Bakat dan Minat


Potensi berupa kemampuan intelektual, bakat, dan minat merupakan modal yang
dimiliki setiap individu untuk dapat mencapai apa yang diinginkannya. Karena
faktor itu pula seseorang menjadi dirinya sendiri. Bakat yang merupakan suatu
kemampuan lebih yang ada pada diri manusia akan membuat manusia tersebut
menjadi apa yang diinginkan dengan melatih bakat tersebut. Bakat didefinisikan
sebagai kemampuan alamiah atau bawaan untuk memperoleh pengetahuan atau
keterampilan yang relative bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum)
atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talenta. Bakat
memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan
tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan atau motivasi
agar bakat itu dapat terwujud.

Bakat yang dimiliki seseorang tidak sama antara satu dengan lainnya. Ada orang
yang berbakat pada ilmu alam, tetapi tidak berbakat pada ilmu sosial, ada yang
berbakat di bidang olahraga, tetapi tidak berbakat di kesenian, ada yang
berbakat di bidang kesenian, tetapi tidak berbakat di keterampilan. Bakat yang
dimiliki seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 35


Kegiatan Pembelajaran 2

Adapun minat yang merupakan sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh


seseorang. Minat adalah suatu proses yang tetap untuk memperhatikan dan
menfokuskan diri pada sesuatu yang diminatinya dengan perasaan senang dan
rasa puas ( Hilgar & Slameto ; 1988 ; 59). Minat adalah suatu perangkat mental
yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka,
rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu
pikiran tertentu. (Maprare dan Slameto; 1988; 62). Jadi, dapat disimpulkan minat
ialah suatu proses pengembangan dalam mencampurkan seluruh kemampuan
yang ada untuk mengarahkan individu kepada suatu kegiatan yang diminatinya.

Ketiga potensi di atas ada pada setiap individu dan merupakan pemberian atau
bawaan dari lahirnya. Permasalahnnya sekarang adalah, apakah kita telah
melakukan hal-hal yang menopang intelektual, bakat, dan minat kita untuk
berkembang optimal atau belum. Untuk mengidentifikasi potensi peserta didik
dapat dikenali dari ciri-ciri (indikator) keberbakatan peserta didik dan
kecenderungan minat jabatan.

a. Indikator Keberbakatan Peserta Didik


Bakat peserta didik dapat mengarah pada kemampuan numerik, mekanik,
berpikir abstrak, relasi ruang (spasial), dan berpikir verbal. Minat seseorang
secara vokasional dapat berupa minat profesional, minat komersial, dan minat
kegiatan fisik. Minat profesional mencakup minat-minat keilmuan dan sosial.
Minat komersial adalah minat yang mengarah pada kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan bisnis. Minat fisik mencakup minat mekanik, minat kegiatan
luar, dan minat navigasi (kedirgantaraan/ penerbangan).

Bakat dan minat berpengaruh pada prestasi mata pelajaran tertentu. Dalam satu
kelas, bakat dan minat peserta didik yang satu berbeda dengan bakat dan minat
peserta didik yang lainnya. Namun setiap peserta didik diharapkan dapat
menguasai semua materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Dengan
bakat dan minat masing-masing, prestasi peserta didik pada mata pelajaran
tertentu akan berbeda dengan prestasi belajar peserta didik yang lain pada mata
pelajaran yang sama. Selain itu, prestasi peserta didik pada mata pelajaran yang
satu bisa berbeda dengan prestasinya pada pelajaran yang lain.

36 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Ada tiga kelompok ciri keberbakatan, yaitu: (1) kemampuan umum yang
tergolong di atas rata-rata (above average ability), (2) kreativitas (creativity)
tergolong tinggi, (3) komitmen terhadap tugas (task commitment) tergolong tinggi.

Lebih lanjut Yaumil (1991) menjelaskan bahwa: (1) Kemampuan umum di atas
rata-rata merujuk pada kenyataan antara lain bahwa peserta didik berbakat
memiliki perbendaharaan kata-kata yang lebih banyak dan lebih maju
dibandingkan peserta didik biasa; cepat menangkap hubungan sebab akibat;
cepat memahami prinsip dasar dari suatu konsep; seorang pengamat yang tekun
dan waspada; mengingat dengan tepat serta memiliki informasi aktual; selalu
bertanya-tanya; cepat sampai pada kesimpulan yang tepat mengenai kejadian,
fakta, orang atau benda. (2) Ciri-ciri kreativitas antara lain: menunjukkan rasa
ingin tahu yang luar biasa; menciptakan berbagai ragam dan jumlah gagasan
guna memecahkan persoalan; sering mengajukan tanggapan yang unik dan
pintar; tidak terhambat mengemukakan pendapat; berani mengambil resiko; suka
mencoba; peka terhadap keindahan dan segi-segi estetika dari lingkungannya.
(3) komitmen terhadap tugas sering dikaitkan dengan motivasi instrinsik untuk
berprestasi, ciri-cirinya mudah terbenam dan benar-benar terlibat dalam suatu
tugas; sangat tangguh dan ulet menyelesaikan masalah; bosan menghadapi
tugas rutin; mendambakan dan mengejar hasil sempurna; lebih suka bekerja
secara mandiri; sangat terikat pada nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk;
bertanggung jawab, berdisiplin; sulit mengubah pendapat yang telah diyakininya.

Munandar (1992) mengungkapkan ciri-ciri (indikator) peserta didik berbakat


sebagai berikut :
1) Indikator Intelektual/belajar
Berikut adalah indikator-indikator intelektual bagi seorang peserta didik.
a. mudah menangkap pelajaran
b. mudah mengingat kembali
c. memiliki perbendaharaan kata yang luas
d. penalaran tajam (berpikir logis, kritis, memahami hubungan sebab akibat)
e. daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan)
f. menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik
g. senang dan sering membaca

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 37


Kegiatan Pembelajaran 2

h. mampu mengungkapkan pikiran, perasaan atau pendapat secara


lisan/tertulis dengan lancar dan jelas
i. mampu mengamati secara cermat
j. senang mempelajari kamus, peta dan ensiklopedi
k. cepat memecahkan soal
l. cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan
m. cepat menemukan asas dalam suatu uraian
n. mampu membaca pada usia lebih muda
o. daya abstraksi cukup tinggi
p. selalu sibuk menangani berbagai hal

2) Indikator kreativitas
Indikator-indikator kreativitas peserta didik meliputi hal-hal berikut ini.
a. memiliki rasa ingin tahu yang besar
b. sering mengajukan pertanyaan yang berbobot
c. memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah
d. mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu
e. mempunyai/menghargai rasa keindahan
f. mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah
terpengaruh orang lain
g. memiliki rasa humor tinggi
h. mempunyai daya imajinasi yang kuat
i. mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang
berbeda dari orang lain (orisinil)
j. dapat bekerja sendiri
k. senang mencoba hal-hal baru
l. mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan
elaborasi)

3) Indikator motivasi
Motivasi peserta didik ditandai dengan indikator-indikator seperti berikut ini.
a. tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang
lama, tidak berhenti sebelum selesai)
b. ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)

38 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

c. tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi


d. ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan
e. selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan
prestasinya)
f. menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa”
(misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan dan sebagainya)
g. senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-
tugas rutin dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (kalau sudah
yakin akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut)
h. mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan
kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian)
i. senang mencari dan memecahkan soal-soal

b. Kecenderungan Minat Jabatan peserta didik


Kecenderungan minat jabatan peserta didik dapat dikenali dari tipe
kepribadiannya. Holland (1985) mengidentifikasikan tipe kepribadian seseorang
berikut ciri-cirinya. Dari identifikasi kepribadian peserta didik menunjukkan bahwa
tidak semua jabatan cocok untuk semua orang. Setiap tipe kepribadian tertentu
mempunyai kecenderungan terhadap minat jabatan tertentu pula. Berikut
disajikan kecenderungan tipe kepribadian dan ciri-cirinya.
1) Realistik (realistic), yaitu kecenderungan untuk bersikap apa adanya atau
realistik. Ciri-ciri kecenderungan ini adalah : rapi, terus terang, keras kepala,
tidak suka berkhayal, tidak suka kerja keras.
2) Penyelidik (investigative), yaitu kecenderungan sebagai penyelidik. Ciri-ciri
kecenderungan ini meliputi : analitis, hati-hati, kritis, suka yang rumit, rasa
ingin tahu besar.
3) Seni (artistic), yaitu kecenderungan suka terhadap seni. Ciri-ciri
kecenderungan ini adalah: tidak teratur, emosi, idealis, imajinatif, terbuka.
4) Sosial (social), yaitu kecenderungan suka terhadap kegiatan-kegiatan yang
bersifat sosial. Ciri-cirinya : melakukan kerjasama, sabar, bersahabat, rendah
hati, menolong, dan hangat.
5) Suka usaha (enterprising), yaitu kecenderungan menyukai bidang usaha. Ciri-
cirinya : ambisius, energik, optimis, percaya diri, dan suka bicara.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 39


Kegiatan Pembelajaran 2

6) Tidak mau berubah (conventional), yaitu kecenderungan untuk


mempertahankan hal-hal yang sudah ada, enggan terhadap perubahan. Ciri-
cirinya : hati-hati, bertahan, kaku, tertutup, patuh konsisten.

c. Proses Identifikasi Pontensi Peserta Didik


Potensi peserta didik dapat dideteksi dari keberbakatan intelektual pada peserta
didik. Ada dua cara pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi anak
berbakat, yaitu dengan menggunakan data objektif dan data subjektif. Identifikasi
melalui penggunaan data objektif diperoleh melalui antara lain :
1. skor tes inteligensi individual
2. skor tes inteligensi kelompok
3. skor tes akademik
4. skor tes kreativitas

Sedangkan identifikasi melalui penggunaan data subjektif diperoleh dari :


1. ceklist perilaku (LK 2.d)
2. nominasi oleh guru (LK 2.c)
3. nominasi oleh orang tua
4. nominasi oleh teman sebaya dan
5. nominasi oleh diri sendiri

Untuk melakukan identifikasi dengan menggunakan data objektif seperti tes


inteligensi individual, tes inteligensi kelompok dan tes kreativitas, pihak sekolah
dapat menghubungi Fakultas Psikologi yang ada di kota masing-masing maupun
Kantor Konsultan Psikologi. Sedangkan untuk memperoleh skor tes akademik,
sekolah dapat melakukannya sendiri. Biasanya prestasi akademik yang dilihat
dari anak berbakat intelektual adalah dalam mata pelajaran : Bahasa Indonesia,
bahasa Inggris, Matematika, Pengetahuan Sosial, Sains (Fisika, Biologi, dan
Kimia). Untuk pengumpulan informasi melalui data subjektif, sekolah dapat
mengembangkan sendiri dengan mengacu pada konsepsi dan ciri (indikator)
keberbakatan yang terkait.

Laporan hasil penjaringan potensi peserta didik (LK 2.e) dapat dimanfaatkan
sebagai masukan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling,
terutama dalam program pelayanan bimbingan belajar dan bimbingan karir.

40 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Program bimbingan belajar terutama diberikan kepada peserta didik yang


mempunyai prestasi dibawah rata-rata agar dapat memperoleh prestasi yang
lebih tinggi. Program bimbingan karir diberikan kepada semua peserta didik
dalam rangka mempersiapkan mereka untuk melanjutkan studi dan menyiapkan
karirnya.

D. Aktivitas Pembelajaran

Secara mandiri ataupun berkelompok (sesuai petunjuk fasilitator), pelajari


seluruh kegiatan pembelajaran 2 dengan seksama, mulai dari tujuan
pembelajaran sampai dengan rangkuman dan umpan balik. Selanjutnya silakan
Saudara mengerjakan setiap lembar kerja (LK) yang ada sesuai dengan
ketentuan yang ada pada saran penggunaan modul.

LK 2.a. MEYUSUN PETA KONSEP URAIAN MATERI KP 2

1. Bacalah uraian materi dengan seksama, kemudian buatlah peta konsep


materi yang Saudara baca tersebut secara mandiri untuk memperdalam
pemahaman Saudara mengenai macam-macam potensi peserta didik
sampai dengan indikator untuk identifikasi potensi tersebut .
2. Susunlah peta konsep sekreatif mungkin untuk mempermudah
penguasaan materi pada Kegiatan Pembelajaran 2.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 41


Kegiatan Pembelajaran 2

LK 2.b. PRESENTASI DAN PERBAIKAN PETA KONSEP KP 2

1. Presentasikan peta konsep materi yang telah Saudara buat ( LK 2.b)


pada kelompok belajar guru (MGMP) dengan memperhatikan dan
mengimplementasikan kaidah-kaidah presentasi dan bekerja dalam
kelompok (menghargai pendapat orang lain, menjalankan hasil
kesepakatan).

2. Catatlah semua masukan perbaikan dari semua partisipan.

3. Lakukan perbaikan pada peta konsep yang telah Saudara buat


berdasarkan masukan yang ada dengan penuh integritas.

LK 2.c. SKALA NOMINASI GURU DIMENSI INDIKATOR KREATIVITAS,


INTELEKTUAL DAN MOTIVASI
A. Petunjuk
1. Pilihlah beberapa siswa di kelas Saudara yang dianggap paling berbakat
intelektual.
2. Berikan penilaian saudara pada beberapa siswa tersebut, terhadap dimensi
indikator kreativitas dibawah ini.
3. Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda cek (V) pada kolom Skor yang
sesuai dengan kondisi siswa tersebut menurut pengamatan saudara pada
dirinya.
4. Setiap kolom pada kolom skor memiliki skor nilai sebagai berikut :
 Kolom 1, skor nilai 1, artinya indikator tersebut tidak pernah terlihat pada
siswa
 Kolom 2, skor nilai 2, artinya indikator tersebut kadang-kadang terlihat pada
diri siswa
 Kolom 3, skor nilai 3, artinya indikator tersebut sering terlihat pada diri
siswa
 Kolom 4, skor nilai 4, artinya indikator tersebut selalu terlihat pada diri
siswa.

42 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

5. Lakukan skoring dan penjumlahan nilai untuk masing-masing dimensi


indikator. Dan hitunglah jumlah nilai total keempat dimensi indikator secara
keseluruhan.

B. Dimensi Indikator Kreativitas


Skor
No Indikator Kreativitas
1 2 3 4 Jumlah
1. memiliki rasa ingin tahu yang besar
2. sering mengajukan pertanyaan yang
berbobot
3. memberikan banyak gagasan dan
usul terhadap suatu masalah
4. mampu menyatakan pendapat secara
spontan dan tidak malu-malu
5. mempunyai/menghargai rasa
keindahan
6. mempunyai pendapat sendiri dan
dapat mengungkapkannya, tidak
mudah terpengaruh orang lain
7. memiliki rasa humor tinggi
8. mempunyai daya imajinasi yang kuat
9. mampu mengajukan pemikiran,
gagasan pemecahan masalah yang
berbeda dari orang lain (orisinil)
10. dapat bekerja sendiri
11. senang mencoba hal-hal baru
12. mampu mengembangkan atau
merinci suatu gagasan (kemampuan
elaborasi)
Jumlah Skor

Jumlah Skor :
Jumlah skor dapat dihitung dari banyaknya yang memilih setiap kolom dikalikan
dengan nilai skor pada masing-masing kolom, jadi jumlah skor dari tabel diatas
adalah :
Kolom 1 =2x1 = 2
Kolom 2 =4x2 = 8
Kolom 3 = 4 x 3 = 12
Kolom 4 =2x4 = 8
----------------------
Jumlah = 30

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 43


Kegiatan Pembelajaran 2

Setelah didapatkan skor dimensi kreativitas di atas, hal yang sama dilakukan
terhadap dimensi belajar dan dimensi motivasi. Selanjutnya ketiga skor tersebut
dijumlahkan. Hal ini dilakukan untuk setiap siswa yang dinilai oleh guru
mempunyai potensi keberbakatan intelektual. Sebaiknya guru yang mengajar
mata pelajaran matematika, bahasa, sains, dan pengetahuan sosial memberikan
skala nominasi pada setiap siswa. Akhirnya skor total masing-masing guru pada
siswa tersebut dijumlahkan dan angka yang diperoleh merupakan skor nominasi
guru untuk siswa yang bersangkutan.

C. Dimensi Indikator Belajar/Intelektual


Skor
No Indikator Belajar
1 2 3 4 Jumlah
1. mudah menangkap pelajaran
2. mudah mengingat kembali
3. memiliki perbendaharaan kata yang
luas
4. penalaran tajam (berpikir logis, kritis,
memahami hubungan sebab akibat)
5. daya konsentrasi baik (perhatian tidak
mudah teralihkan)
6. menguasai banyak bahan tentang
macam-macam topik
7. senang dan sering membaca
8. mampu mengungkapkan pikiran,
perasaan atau pendapat secara
lisan/tertulis dengan lancar dan jelas
9. mampu mengamati secara cermat
10. senang mempelajari kamus, peta dan
ensiklopedi
11. cepat memecahkan soal
12. cepat menemukan kekeliruan atau
kesalahan
13. cepat menemukan asas dalam suatu
uraian
14. mampu membaca pada usia lebih
muda
15. daya abstraksi cukup tinggi
16. selalu sibuk menangani berbagai hal
Jumlah Skor

44 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

D. Dimensi Indikator Motivasi


Skor
No Indikator Motivasi
1 2 3 4 Jumlah
1. tekun menghadapi tugas (dapat
bekerja terus menerus dalam waktu
yang lama, tidak berhenti sebelum
selesai)

2. ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas


putus asa)
3. tidak memerlukan dorongan dari luar
untuk berprestasi
4. ingin mendalami bahan/bidang
pengetahuan yang diberikan
5. selalu berusaha berprestasi sebaik
mungkin (tidak cepat puas dengan
prestasinya)
6. menunjukkan minat terhadap macam-
macam masalah “orang dewasa”
(misalnya terhadap pembangunan,
korupsi, keadilan dan sebagainya)
7. senang dan rajin belajar, penuh
semangat, cepat bosan dengan
tugas-tugas rutin dapat
mempertahankan pendapat-
pendapatnya (kalau sudah yakin akan
sesuatu, tidak mudah melepaskan hal
yang diyakini tersebut)
8. mengejar tujuan-tujuan jangka
panjang (dapat menunda pemuasan
kebutuhan sesaat yang ingin dicapai
kemudian)
9. senang mencari dan memecahkan
soal-soal
Jumlah Skor

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 45


Kegiatan Pembelajaran 2

LK 2.d. IDENTIFIKASI POTENSI PESERTA DIDIK

N0 Kegiatan yang dilakukan Ya Tidak

1. Suka berhitung

2. Suka main catur

3. Senang bermain teka-teki

4. Senang membaca berbagai artikel

5. Suka menulis

6. Suka membuat puisi

7. Mudah mengingat nama

8. Senang mendengarkan radio, kaset

9. Senang melihat pertunjukan seni

10. Senang berimajinasi

11. Senang kegiatan diluar

12. Suka olahraga

13. Senang berorganisasi

14. Suka merenung atau menyendiri

15. Suka pada lingkungan alam

E. Latihan/Tugas/Kasus

Jawablah soal-soal latihan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang
Saudara anggap benar!
1. Kemampuan yang dimiliki setiap pribadi (individu) yang mempunyai
kemungkinan untuk dikembangkan sehingga dapat berprestasi dikena
sebagai.…
A. motivasi
B. minat
C. bakat
D. potensi

46 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

2. Kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan


pada masa yang akan datang merupakan definisi dari….
A. potesi
B. minat
C. bakat
D. cita-cita

3. Bakat dan minat berpengaruh pada prestasi mata pelajaran tertentu. Ada tiga
kelompok ciri keberbakatan, yaitu: ….
A. kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata, kreativitas tergolong
tinggi, dan komitmen terhadap tugas tergolong tinggi
B. kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata, kemandirian tergolong
tinggi, dan komitmen terhadap tugas tergolong tinggi
C. kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata, kreativitas tergolong
tinggi, dan pengabdian terhadap tugas tergolong tinggi
D. kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata, kemandirian tergolong
tinggi, dan pengabdian terhadap tugas tergolong tinggi

4. Penyataan berikut yang merupakan indikator dimensi intelektual dari potensi


seorang peserta didik adalah….
A. mudah menangkap pelajaran, mudah mengingat kembali, memiliki
perbendahaan kata yang luas
B. mudah menangkap pelajaran, mudah mengingat kembali, senang mencari
dan memecahkan soal-soal
C. mudah menangkap pelajaran, mudah mengingat kembali, ulet menghadapi
kesulitan
D. mudah menangkap pelajaran, tekun menghadapi tugas, memiliki
perbendahaan kata yang luas

5. Penyataan berikut yang merupakan indikator dimensi kreativitas dari potensi


seorang peserta didik adalah….
A. ulet menghadapi kesulitan dan tekun menghadapi tugas
B. memiliki rasa ingin tahu besar dan rasa humor yang tinggi.
C. cepat memecahkan soal dan penalaran yang tajam.
D. memiliki rasa ingin tahu tinggi dan penalaran yang tajam.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 47


Kegiatan Pembelajaran 2

F. Rangkuman

Sebagai seorang pendidik tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja,
akan tetapi mendidik, mengajar, dan juga melatih. Hal ini sangatl tepat apabila
dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik.
Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana
melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu
sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, diantaranya
dengan kesan pertama pendidik itu berada di lingkungan kelas.

Setiap peserta didik memiliki potensi. Potensi peserta didik yang dimaksud
adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan atau menunjang potensi lain.
Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral
dan religius.

Faktor-faktor yang memengaruhi potensi peserta didik berasal dari aspek internal
dan eksternal. Selain itu, aspek fisik, psikologis dan lingkungan sosial budaya
juga berperan penting. Pendidik harus mampu mengidentikasi dengan cermat
keberagaman karakteristik peserta didik agar proses dan hasil belajar dari
peserta didik menjadi maksimal. Secara umum potensi peserta didik dapat
diidentifikasi berdasarkan bakat dan minatnya.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban latihan soal/tugas/kasus Saudara dengan kunci jawaban


yang ada di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 1 dengan menjumlahkan jumlah skor.

Arti tingkat penguasaanyang diperoleh adalah :

Baik sekali = 90 –100 %

Baik = 80 –89 %

Cukup = 70 –79 %

Kurang = 0 –69 %

48 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Bila tingkat penguasan mencapai 80 % ke atas, silahkan melanjutkan ke kegiatan


pembelajaran berikutnya. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80 %
harus mengulangi belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 49


Kegiatan Pembelajaran 2

50 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Kegiatan Pembelajaran 3
Bekal Ajar Awal Peserta Didik

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 3 ini diharapkan peserta dapat


mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu
dan memanfaatkannya dalam penyusunan program pembelajaran dengan
mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan karakter yakni menghargai
perbedaan individu, gemar membaca, dan integritas.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi Kegiatan Pembelajaran 3 ini mencakup:


1. Bekal ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu diidentifikasi.
2. Hasil identifikasi bekal ajar awal peserta didik dimanfaatkan untuk
penyusunan program pembelajaran.

C. Uraian Materi

1. Konsep Bekal Ajar Awal Peserta Didik


Sebagaimana dijelaskan pada kegiatan pembelajaran sebelumnya bahwa setiap
peserta didik memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Hal ini dapat
membawa dampak pada perbedaan hasil pengembangan potensi yang dimiliki
dan berlanjut pada perbedaan kesiapan peserta didik dalam mengikuti
pembelajaran. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang pendidik untuk
mengetahui kesiapan masing-masing peserta didiknya dalam mengikuti
pembelajaran yang diampunya. Identifikasi kondisi awal peserta didik pada saat
akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru
dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana
menata pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 51


Kegiatan Pembelajaran 3

yang efektif dan sesuai dengan karakteristik individu peserta didik sehingga
pembelajaran akan lebih bermakna.

Kegiatan mengidentifikasi peserta didik dalam pengembangan pembelajaran


merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal ini
dilakukan untuk menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran atas dasar
keadaan peserta didik yang akan dihadapi. Dengan demikian, identifikasi
kemampuan awal peserta didik bertujuan untuk menentukan apa yang harus
diajarkan dan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Kegiatan identifikasi di sini bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi
peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran.

Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry
behavior), yakni kemampuan yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia
memperoleh kemampuan akhir tertentu yang baru. Kemampuan awal
menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik saat ini untuk
menuju ke status mendatang yang diinginkan sesuai tujuan pembelajaran agar
tercapai oleh peserta didik. Dengan identifikasi kemampuan awal ini dapat
ditentukan dari mana pembelajaran harus dimulai. Sikap awal peserta didik
merupakan salah satu variabel didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas
perseorangan peserta didik. Aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi
belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir yang telah dimiliki peserta didik.

Pengalaman belajar merupakan proses yang dinamis dan kompleks dalam


keseharian hidup manusia, sehingga terus ditingkatkan secara skala waktu dan
kualitas maupun kuantitas. Beberapa hal yang harus ditelaah dan diteliti terlebih
dahulu adalah tentang keadaan dasar atau sikap dasar atau kemampuan yang
telah ada sebelum adanya proses belajar. Hal ini bertujuan agar para pendidik
mampu mengukur pencapaian tujuan belajar yang dilakukan dilihat dari segi
proses dan hasil. Dalam proses identifikasi ini, ada beberapa hal yang patut
diperhatikan sebagai suatu perhatian yang lebih khusus diantaranya : Faktor-
faktor akademis, Faktor-faktor sosial, dan Kondisi belajar.

Sikap awal peserta didik menurut Goleman, Daniel (2000) dikelompokkan ke


dalam delapan kelas yaitu :

52 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

a) Belajar isyarat (signal learning). Yaitu belajar dimana tidak semua reaksi
sepontan manusia menimbulkan respon dalam konteks inilah signal learning
terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada
muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian
diturunkan.
b) Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat
terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan
(reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya
yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran
tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru memberI
pertanyaan kemudian peserta didik menjawab.
c) Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat
gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak
dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari
awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
d) Belajar asosiasi verbal (verbal Association). Tipe ini merupakan belajar
menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang
atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat.
Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bantuan
alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
e) Belajar membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang
berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu
seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata
atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi
masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan
sebuah bentuk (kubus) peserta didik menerka ada yang bilang berbentuk
kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
f) Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklasifikasikan stimulus, atau
menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu
konsep. (konsep: satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu
memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami
prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam topik
mekanika teknik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 53


Kegiatan Pembelajaran 3

g) Belajar dalil (rule learning). Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk
menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa
konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat.
Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada peserta didik
yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban peserta didik,
dalam hal itu hukuman diberikan supaya peserta didik tidak mengulangi
kesalahannya.
h) Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe
belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah,
sehingga terbentuk kaidah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya
yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada peserta
didik untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari
masalah tersebut.

2. Identifikasi Bekal Ajar Awal Peserta Didik


Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan sebagai berikut:
a. Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan
kemampuan awal peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran
tertentu
b. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecenderungan peserrta
didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu
yang akan diikuti mereka.
c. Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang
perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Dalam mengenal dan mengetahui sikap awal dan karakteristik peserta didik
biasanya diterapkan dalam beberapa cara, yaitu:
a. Secara langsung dengan menggunakan metode-metode tertentu dengan
melakukan pengambilan data yang ada dilapangan, baik melalui
pengumpulan data, observasi dan sebagainya.
b. Secara tidak langsung melalui orang-orang terdekat dari peserta didik yang
bersangkutan.
c. Dan juga bisa dilakukan melalui lingkungan peserta didik yang bersangkutan.

54 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Ada beberapa strategi/cara yang dapat dilakukan pendidik untuk mengetahui


kemampuan awal peserta didik secara langsung, misalnya:
1. Asesmen Kemampuan Awal Siswa Berbasis Kinerja/Asesmen pengetahuan
awal siswa.
Cara paling reliabel dalam melakukan asesmen ini adalah dengan
memberikan sebuah tugas, dapat berupa kuis, atau bentuk lain, yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang akan diberikan, yang dalam
pengerjaan tugas tsb akan memerlukan penggunaan pengetahuan awal yang
telah mereka miliki sebelum mengikuti pembelajaran anda. Tentunya, saat
merancang kuis atau tugas tersebut, terlebih dahulu guru mengidentifikasi
pengetahuan prasyarat atau keterampilan prasyarat apa yang diperlukan
untuk pembelajaran yang akan dilakukan.
2. Asesmen Kemampuan Awal Mandiri (Self Assessment)/Asesmen
pengetahuan awal mandiri.
Untuk melakukan cara yang kedua ini, guru dapat membuat sebuah angket
singkat untuk evaluasi mandiri (evaluasi diri) setiap peserta didik yang akan
mengikuti pembelajaran. Cara ini sebenarnya relatif mudah dilakukan, karena
angket yang dibuat sederhana saja. Berikut contoh angket untuk asesmen
kemampuan awal mandiri:

Contoh : Bahasan tentang Fotosintesis


Pertanyaan: Seberapa luas pengetahuanmu tentang fotosintesis
Skor Pernyataan
1 Saya belum pernah mendengar istilah itu.
2 Saya tahu pada organisme apa fotosintesis terjadi dan apa tujuannya.
3 Saya tahu pada organisme apa fotosintesis terjadi, tujuannya, reaksi
kimianya, bahkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
4 Saya pernah melakukan percobaan mengenai fotosisntesis dan
memahami dengan baik pada organisme apa fotosintesis terjadi,
tujuannya, reaksi kimianya, bahkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
3. Peta Konsep/Concept map
Penggunaan peta konsep untuk mengecek pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran adalah dengan menuliskan
sebuah kata kunci utama tentang topik yang akan dipelajari saat itu di

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 55


Kegiatan Pembelajaran 3

tengah-tengah papan tulis. Misalnya "Fotosintesis". Berikutnya guru meminta


siswa menyebutkan atau menuliskan konsep-konsep yang relevan
(berhubungan) dengan konsep fotosintesis dan membuat hubungan antara
konsep fotosintesis dengan konsep yang disebut (ditulisnya) tadi. Seberapa
pengetahuan awal yang dimiliki siswa dapat terlihat sewaktu mereka
bersama-sama membuat peta konsep di papan tulis. Cara lain misalnya
dengan memberikan sebuah peta konsep yang hanya berisi konsep utama,
sementara itu siswa harus mengisi kotak-kotak kosong yang telah
disediakan pada peta konsep itu dengan konsep yang relevan. Seberapa
banyak kotak kosong pada peta konsep yang tidak lengkap itu dapat diisi
oleh siswa, adalah indikasi seberapa pengetahuan awal yang mereka miliki.

Gambar 5. Contoh Format Peta Konsep

Langkah lebih lengkap yang dapat dilakukan sebagai latihan dalam menganalisis
sikap dan karakteristik peserta didik, sebagai berikut :
a) Kumpulkanlah data sikap awal peserta didik dari sampel. Di samping data dari
orang-orang yang dekat dengan sasaran, diperlukan pula data dari sampel
sasaran itu sendiri dengan bentuk self-report. Ikutilah langkah-langkah
sebagai berikut:
 Tulislah kembali perilaku khusus yang telah berhasil Anda buat dalam
analisis intruksional;

56 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

 Atas dasar perilaku khusus tersebut, buatlah skala penilaian dalam bentuk
skala Likert (sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak
setuju);
 Berilah pengantar cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak
secukupnya;
 Berikan skala penilaian tersebut kepada sejumlah orang yang dapat
mewakili populasi sasaran. Jumlahnya juga tergantung dari besarnya
populasi sasaran. Yang paling penting diperhatikan adalah orang-orang
tersebut memang memiliki ciri seperti populasi sasaran, sehingga dapat
dipandang sebagai sampel yang representative;
 Kumpulkan hasil isian tersebut

b) Kumpulkanlah data sikap awal peserta didik dengan mengikuti langkah-


langkah sebagai berikut:
 Buatlah daftar pertanyaan atau kuisioner tentang sikap awal peserta didik,
dengan mengambil poin-poin materi yang akan diajarkan secara
keseluruhan atau secara parsial memilih salah satu bahasan yang akan
diajarkan.
 Berikanlah kuisioner tersebut kepada sejumlah sampel yang dapat
mewakili populasi sasaran;
 Kumpulkan hasilnya.

c) Analisislah hasil pengumpulan data untuk menentukan sikap awal yang telah
dikuasai. Kelompokkan sikap yang mendapat nilai cukup dan di atasnya.
Pisahkan dari sikap yang masih sedang, kurang atau buruk.
d) Buatlah garis batas antara kedua kelompok perilaku tersebut pada bagan
hasil analisis instruksional untuk menunjukkan dua hal sebagai berikut:
 Sikap yang ada di bawah garis batas adalah perilaku yang telah dikuasai
oleh populasi sasaran sampai tingkat cukup dan baik. Sikap ini tidak akan
diajarkan kembali kepada peserta didik;
 Sikap yang ada di atas garis batas adalah sikap yang belum dikuasai oleh
populasi sasaran atau baru dikuasai sampai tingkat sedang, kurang, dan
buruk. Sikap-sikap tersebut akan diajarkan kepada peserta didik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 57


Kegiatan Pembelajaran 3

e) Susunlah urutan sikap yang ada di atas garis batas untuk dijadikan pedoman
dalam menentukan urutan materi pelajaran.

3. Pemanfaatan Hasil Identifikasi Bekal Ajar Awal


Pada tahap selanjutnya, data tentang sikap peserta didik digunakan dalam
menyusun program pembelajaran dan strategi pembelajaran. Pemilihan Strategi
dan Metode Pembelajaran didasarkan pada pengetahuan, keterampilan dan
sikap awal peserta didik dapat membantu guru dalam menentukan strategi atau
metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya
dengan pengetahuan, keteraampilan, sikap dan keunikan individu, jenis belajar
dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke


dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun,
2003) mengemukakan unsur-unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan
sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi
pemakai lulusan yang memerlukannya.
2) Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang
paling efektif untuk mencapai sasaran.
3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan
dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran
(standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement)
usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1) Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan
profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang
dipandang paling efektif.
3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode
dan teknik pembelajaran.

58 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

4) Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau


kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

D. Aktivitas Pembelajaran

Secara mandiri ataupun berkelompok (sesuai petunjuk fasilitator), pelajari


seluruh kegiatan pembelajaran 3 dengan seksama, mulai dari tujuan
pembelajaran sampai dengan rangkuman dan umpan balik. Selanjutnya silakan
Saudara mengerjakan setiap lembar kerja (LK) yang ada sesuai dengan
ketentuan yang ada pada saran penggunaan modul.

LK 3.a. MEYUSUN PETA KONSEP URAIAN MATERI KP 3

1. Bacalah uraian materi dengan seksama, kemudian buatlah peta konsep


materi yang Saudara baca tersebut secara mandiri untuk memperdalam
pemahaman Saudara mengenai konsep bekal ajar awal peserta didik,
identifikasinya, dan pemanfaatannya dalam penyusunan program
pembelajran .
2. Susunlah peta konsep sekreatif mungkin untuk mempermudah
penguasaan materi pada Kegiatan Pembelajaran 3.

LK 3.b. PRESENTASI DAN PERBAIKAN PETA KONSEP KP 3

1. Presentasikan peta konsep materi yang telah Saudara buat (LK 3.a)
pada kelompok belajar guru (MGMP) dengan memperhatikan dan
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 59
mengimplementasikan kaidah-kaidah presentasi dan bekerja dalam
kelompok (menghargai pendapat orang lain, menjalankan hasil
kesepakatan).
Kegiatan Pembelajaran 3

LK 3.c. IDENTIFIKASI BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK

Lakukan identifikasi bekal pengetahuan awal peserta didik pada mata pelajaran
yang Saudara ampu dalam topik tertentu lalu gunakan hasilnya untuk menyusun
strategi pembelajaran yang paling tepat untuk menyampaikan topik tersebut
dengan langkah-langkah seperti berikut ini.
1. Pilihlah salah satu topik pembelajaran mata pelajaran yang Saudara ampu.
2. Siapkan peta konsep kosong untuk diisi oleh peserta didik.
3. Mintalah para peserta didik mengisi peta konsep yang telah Saudara sediakan
dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
4. Kumpulkan hasil isian peserta didik, lalu lakukan pengelompokan terkait bekal
pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik.
5. Susunlah strategi pembelajaran yang Saudara anggap paling tepat untuk
menyampaikan topik tersebut sesuai dengan hasil identifikasi yang telah
dilakukan.

E. Latihan/Tugas/Kasus

Jawablah soal-soal latihan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang
Saudara anggap benar!
1. Kegiatan mengidentifikasi peserta didik dalam pengembangan pembelajaran
merupakan pendekatan dengan ciri….
A. menerima peserta didik apa adanya
B. menyeleksi peserta didik yang memenuhi syarat

60 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

C. menetapkan persyaratan peserta didik


D. mengelompokkan materi bagi peserta didik.

2. Bekal ajar awal peserta didik atau dapat pula diartikan kemampuan awal
(entry behavior), adalah .….
A. kemampuan yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh
kemampuan akhir tertentu yang baru
B. kemampuan yang akan diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh
kemampuan akhir tertentu yang baru
C. kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah dia mengikuti proses
pembelajaran di jenjang pendidikan tertentu
D. kemampuan yang mungkin diperoleh peserta didik setelah dia berinteraksi
dengan lingkungan yang baru

3. Sikap awal peserta didik menurut Goleman dikelompokkan ke dalam delapan


kelas. Pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-
proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya termasuk pada kelompok ….
A. belajar isyarat (signal learning)
B. belajar membedakan (discrimination)
C. belajar merantaikan (chaining)
D. belajar dalil (rule learning)

4. Belajar konsep (concept learning) menurut Goleman adalah belajar


mengklasifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam
kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. Berikut ini yang
merupakan contoh dari belajar konsep adalah .….
A. Seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada peserta didik
untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari
masalah tersebut
B. Seorang guru memberikan hukuman kepada peserta didik yang tidak
mengerjakan tugas supaya peserta didik tidak mengulangi kesalahannya
C. Seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran
tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya
D. Seorang guru memberikan penjelasan sebuah prosedur dalam suatu
praktik atau juga teori kemudian siswa mempraktikannya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 61


Kegiatan Pembelajaran 3

5. Ada beberapa strategi/cara yang dapat dilakukan pendidik untuk mengetahui


kemampuan awal peserta didik secara langsung. Pemberian kuis kepada
peserta didik merupakan cara identifikasi yang dikenal dengan nama….
A. Asesmen Kemampuan Awal Mandiri
B. Asesmen Kemampuan Awal Berbasis Kinerja
C. Asesmen Kemampuan Awal dengan Peta Konsep
D. Asesmen kemampuan Awal Formatif.

F. Rangkuman

Kegiatan menganalisis pengetahuan awal dalam pengembangan pembelajaran


merupakan pendekatan menerima peserta didik apa adanya dan menyusun
sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut. Karena itu,
kegiatan menganalisis pengetahuan awal peserya didik merupakan proses untuk
mengetahui pengetahuan yang dikuasai peserta didik sebelum mengikuti proses
pembelajaran, bukan untuk menentukan kemampuan pra-syarat dalam rangka
menyeleksi pesera didik sebelum mengikuti proses pembelajaran. Konsekuensi
digunakannya cara ini adalah titik mulai suatu kegiatan belajar tergantung
kepada perilaku awal peserta didik. Karakteristik peserta didik merupakan salah
satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefenisikan sebagai aspek-
aspek atau kualitas peserta didik. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, minat,
sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan kemampuan awal
(hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik peserta didik akan amat
berpengaruh dalam pemilihan setrategi pengelolaan, yang berkaitan dengan
bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi
pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan
instruksional khusus atau TIK. Kegiatan ini memberi manfaat:

a. Untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk


dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran;

62 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

b. Hasil kegiatan mengidentifikasi sikap,pengetahuan dan keterampilan awal


peserta didik akan merupakan salah satu dasar dalam mengembangkan
strategi dan sistem instruksional yang sesuai untuk peserta didik.
Cara melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a. Dilakukan di waktu awal sebelum menyusun instruksional pengajaran;
b. Teknik yang digunakan dapat dengan tes, interview, observasi, dan kuisioner;
c. Dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran atau orang-orang yang dianggap
paham dengan kemampuan peserta didik.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban latihan soal/tugas/kasus Saudara dengan kunci jawaban


yang ada di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 1 dengan menjumlahkan jumlah skor.

Arti tingkat penguasaanyang diperoleh adalah :

Baik sekali = 90 –100 %

Baik = 80 –89 %

Cukup = 70 –79 %

Kurang = 0 –69 %

Bila tingkat penguasan mencapai 80 % ke atas, silahkan melanjutkan ke kegiatan


pembelajaran berikutnya. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80 %
harus mengulangi belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 63


Kegiatan Pembelajaran 3

64 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Kegiatan Pembelajaran 4
Kesulitan Belajar Peserta Didik

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 4 ini diharapkan peserta dapat


mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang
diampu dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan karakter yakni
bekerja keras, mandiri, dan integritas.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian Kompetensi pada kegiatan pembelajaran 4 ini mencakup:


1. Kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu
diidentifikasi sesuai faktor yang mempengaruhinya.
2. Kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu
dikelompokkan sesuai tingkat dan jenis kesulitan belajarnya.

C. Uraian Materi

1. Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar


a. Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education
(USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan
belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis
dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.

Di samping defenisi tersebut, terdapat definisi lain yang dikemukakan oleh The
National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman
(2003 : 07) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan
yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 65


Kegiatan Pembelajaran 4

kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau


kemampuan dalam bidang studi matematika.

Menurut Hamalik (1983) kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan


dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan
tersebut tidak bisa diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi
penghambat tujuan pembelajaran. Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh
faktor intelegensi yang rendah, akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor non
intelegensi. Oleh karena itu, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan
belajar. Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta
didik berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang
berkemampuan tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan
belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik untuk mencapai
hasil belajar yang memuaskan.

b. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar


Penyebab kesulitan belajar peserta didik dapat berasal dari faktor internal
(fisiologis, psikologis, dan kecerdasan) maupun eksternal (sosial dan non sosial).
1) Faktor Internal
a) Faktor fisiologi
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar peserta didik ini
berkaitan dengan kurang berfungsinya otak, susunan syaraf ataupun
bagian-bagian tubuh lain. Para guru harus menyadari bahwa hal yang
paling berperan pada waktu belajar adalah kesiapan otak dan sistem syaraf
dalam menerima, memproses, menyimpan, maupun memunculkan kembali
informasi yang sudah disimpan. Kalau ada bagian yang tidak beres pada
bagian tertentu dari otak seorang peserta didik, maka dengan sendirinya
peserta didik tersebut akan mengalami kesulitan belajar.

b) Faktor Psikologis
Faktor–faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat
mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama
mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi , minat,
sikap dan bakat.

66 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

c) Kecerdasan/Inteligensia Peserta Didik


Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik
dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan
hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh
lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak
merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena
fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari
hampir seluruh aktivitas manusia.

2) Faktor Eksternal (sosial dan non sosial)


Yang termasuk lingkungan sosial adalah pergaulan peserta didik dengan orang
lain di sekitarnya, sikap dan perilaku orang di sekitar peserta didik dan
sebagainya. Lingkungan sosial yang banyak mempengaruhi kegiatan belajar
ialah orang tua dan keluarga peserta didik itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik
pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak
baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
a) Lingkungan sekolah
Seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi
proses belajar seorang peserta didik. Hubungan harmonis antara ketiganya
dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik di sekolah.
Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau
administrasi dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk belajar.

b) Lingkungan masyarakat.
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal peserta didik akan
memengaruhi belajar peserta didik. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak
pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar
peserta didik, paling tidak peserta didik kesulitan ketika memerlukan teman
belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum
dimilkinya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 67


Kegiatan Pembelajaran 4

c) Lingkungan keluarga.
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga,
sifat-sifat orang tua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga,
semuannya dapat memberikan dampak negatif terhadap aktivitas belajar
peserta didik. Hubungan antara anggota keluarga, orang tua, anak, kakak,
atau adik yang harmonis akan membantu peserta didik melakukan aktivitas
belajar dengan baik.

c. Ciri-ciri Kesulitan Belajar


Ada beberapa ciri tingkah laku yang merupakan manifestasi dari gejala kesulitan
belajar, antara lain:
 Menunjukkan hasil belajar yang rendah (di bawah rata-rata nilai yang dicapai
oleh kelompok kelas).
 Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Mungkin
murid selalu berusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah.
 Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan
waktu yang tersedia.
 Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh,
menentang, berpura-pura, dusta, dsb.
 Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang
terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menggangu di dalam dan di
luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengasingkan diri, tersisih, tidak
mau bekerja sama, dsb.
 Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah
tersinggung, pemarah, tidak gembira dalam menghadapi situasi tertentu,
misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau
menyesal dsb.

Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik,


diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan peserta
didik mana yang mengalami kesulitan dalam belajar dan yang tidak.

68 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

2. Jenis-jenis kesulitan belajar


Ada tiga jenis kesulitan belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan
seorang peserta didik, yaitu sebagai berikut.
a. Kesulitan belajar akademis
Kesulitan belajar akademis meliputi:
1) Kesulitan membaca
Kesulitan membaca merupakan suatu diagnosis yang ditandai oleh adanya
kesulitan berat dalam mengerti bahan bacaan. Anak yang mengalami
gangguan membaca akan kesulitan dalam mengenal kata, mengucapkan, dan
memahami apa yang dibaca.
Ada dua macam gangguan dalam membaca, yaitu:
(a) Aphasia, disebabkan karena anak kehilangan kemampuan membacanya.
(b) Disleksia, disebabkan karena gangguan fungsi saraf (neurologisnya
rusak).
Faktor yang menyebabkan kesulitan membaca, yaitu:
(a) Psikologis (gagap), anak merasa malu jika ditertawakan teman-temannya.
(b) Hambatan didaktik-metodik, anak mengenal bunyi huruf tetapi mereka
kesulitan membacanya apabila huruf itu dirangkai menjadi kata.
2) Kesulitan menulis
Gangguan menulis merupakan gangguan pada kemampuan menulis anak,
yaitu kemampuan di bawah rata-rata anak seusianya. Gangguan ini tidak
sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pendidikan yang telah dijalaninya. Hal
tersebut menimbulkan masalah pada akademik anak dan berbagai area
kehidupan anak. Kesulitan menulis disebabkan kerena kemampuan
psikomotor yang kurang terlatih. Anak yang memiliki kesulitan menulis sulit
dalam membuat tulisan dan mengekspresikan diri melalui tulisan.
Macam-macam kesulitan menulis yaitu:
(a) Disgraphia, merupakan kesulitan menulis yang disebabkan gangguan
saraf.
(b) Hyperkenesis, kesulitan menulis yang memiliki gerakan yang berlebih dan
tidak normal. Misalnya, menghentak-hentakkan kaki atau bergoyang-
goyang terus ketika menulis.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 69


Kegiatan Pembelajaran 4

3) Kesulitan berhitung Kesulitan berhitung merupakan gangguan matematik yang


memiliki kesulitan dalam kemampuan aritmatik. Kesulitan ini tidak disertai
dengan adanya gangguan penglihatan, pendengaran, fisik, atau emosi.
Kesulitan berhitung disebut ”discalculia”. Anak akan mengalami kesulitan
dalam memikirkan atau mengingat informasi yang melibatkan angka-angka.

b. Gangguan Simbolik dan Non-simbolik


Gangguan simbolik adalah ketidakmampuan anak untuk dapat memahami suatu
objek sekalipun ia tidak memiliki kelainan pada organ tubuhnya. Ciri-cirinya
antara lain adalah :
1) Siswa mampu mendengar tapi tidak mengerti apa yang didengar.
2) Mampu mengaitkan obyek yang dilihat, namun mengalami gangguan
pengamatan (visual reseptive).
3) Mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia).
Gangguan non-simbolik merupakan ketidakmampuan anak untuk memahami isi
pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang
telah dipelajarinya. Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat
berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula peserta didik yang karena
proses kelahiran atau musibah mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak
mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu
yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat
gigi, menulis, membaca disebut learning disability. Anak yang mengalami
kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai
kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut
underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan tidak mampu
menyelesaikan pekerjaannyadengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama
dibandingkan rata-rataanak seusianya disebut slow learner.

c. Gangguan Sosial Emosional


Terdapat berbagai gangguan sosial emosional yang merupakan salah satu
kelompok kesulitan belajar bagi peserta didik. Permasalahan atau gangguan
sosial emosional dalam belajar antara lain:

70 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

1) Hiperaktif
Anak hiperaktif cenderung tidak bisa diam. Ia cenderung bergerak terus
menerus, kadang suka berlarian, melompatlompat, bahkan teriak-teriak di
kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol, karena ia melakukan aktivitas sesuai
kemauannya sendiri.
2) Distractibility Child
Anak distractibility seringkali mengalihkan perhatiannya ke berbagai objek lain
di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian
pada kegiatankegiatan yang berlangsung di kelas. Anak ini juga cepat bosan.
3) Poor Self Concept
Anak yang poor self concept cenderung pendiam, pasif, dan mudah
tersinggung. Mereka tidak berani bertanya atau menjawab karena merasa
tidak mampu dan cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri.
4) Impulsif
Anak yang impulsif cepat sekali bereaksi terhadap sesuatu di sekitarnya,
tetapi hal tersebut justru mencerminkan ketidakmampuannya. Misalnya, setiap
guru memberi pertanyaan, anak ini cepat bereaksi untuk cepat menjawab.
Anak ini seperti ingin menunjukkan bahwa ia pandai. Padahal cara
menjawabnya justru mencerminkan ketidakmampuannya.
5) Distructive Behavior
Anak ini memiliki perilaku yang agresif. Sikap agresif yang negatif dalam
bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak
yang bermasalah (trouble maker). Anak ini cepat tersinggung dan
bertempramen tinggi, sehingga menjadi agresif.
6) Disruptive Behavior
Anak ini sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada
mengejek, anak ini cenderung menentang guru.
7) Dependency Child
Pada awalnya anak ini seperti sangat bergantung pada orangtuanya, dan
sering merasa takut serta tidak mampu memberanikan diri untuk melakukan
sesuatu sendiri. Hal ini terjadi karena sikap orangtua yang terlalu over protektif
atau sangat melindungi.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 71


Kegiatan Pembelajaran 4

8) Withdrawal
Anak yang withdrawal yaitu anak yang suka menarik diri dan pemalu.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mengakibatkan anak merasa
bahwa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat atau mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan karena dirinya merasa tidak mampu.
9) Learning Disability
Anak ini tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak
normal yang sebayanya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap
isi pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.
10) Learning Disorder
Anak ini mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun saraf. Anak
seperti ini cenderung sulit belajar secara normal, sehingga membutuhkan
penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus.
11) Underachiever
Anak ini mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun potensi
akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat
rendah.
12) Overachiever
Anak ini mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Ia merespon
dengan cepat. Anak ini tidak bisa menerima kegagalan dan tidak mudah
menerima kritikan dari siapapun termasuk dari gurunya.
13) Slowlearner
Anak ini sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang
lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.
14) Social Interception
Anak ini kurang peka dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Anak ini
kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-
teman yang ada di kelas.

3. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar


Upaya yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik dalam mengatasi kesulitan
belajar peserta didiknya berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab
kesulitan belajar, antara lain:

72 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

a) Pengaturan Tempat duduk siswa


Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya
mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat
tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua
informasi belajar yang diucapkan oleh guru.
b) Pemberian bahan pelajaran
Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah
dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan
keluarga lainnya.
c) Program remedial
Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal,
perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program
remedial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah
mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-
tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya.
d) Penggunaan media dan alat peraga
Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar dapat membantu siswa
yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Dimungkinkan
kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga
sulit dipahami siswa.
e) Penciptaan suasana belajar yang menyenangkan
Suasana belajar menyenangkan Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah
menciptakan suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan
menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam
menerima materi pelajaran.
f) Bekerja sama dengan orang tua dalam memotivasi
Motivasi orang tua di rumah Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu
mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua
sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak
mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua
perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan
dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang
cukup.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 73


Kegiatan Pembelajaran 4

D. Aktivitas Pembelajaran

Secara mandiri ataupun berkelompok (sesuai petunjuk fasilitator), pelajari


seluruh kegiatan pembelajaran 4 dengan seksama, mulai dari tujuan
pembelajaran sampai dengan rangkuman dan umpan balik. Selanjutnya silakan
Saudara mengerjakan setiap lembar kerja (LK) yang ada sesuai dengan
ketentuan yang ada pada saran penggunaan modul.

LK 4.a. MEYUSUN PETA KONSEP URAIAN MATERI KP 4

1. Bacalah uraian materi dengan seksama, kemudian buatlah peta konsep


materi yang Saudara baca tersebut secara mandiri untuk memperdalam
pemahaman Saudara mengenai konsep bekal ajar awal peserta didik,
identifikasinya, dan pemanfaatannya dalam penyusunan program
pembelajran .
2. Susunlah peta konsep sekreatif mungkin untuk mempermudah
penguasaan materi pada Kegiatan Pembelajaran 4.

LK 4.b. PRESENTASI DAN PERBAIKAN PETA KONSEP KP 4

1. Presentasikan peta konsep materi yang telah Saudara buat (LK 4.a)
pada kelompok belajar guru (MGMP) dengan memperhatikan dan
mengimplementasikan kaidah-kaidah presentasi dan bekerja dalam
kelompok (menghargai pendapat orang lain, menjalankan hasil
kesepakatan).

2. Catatlah semua masukan perbaikan dari semua partisipan.

3. Lakukan perbaikan pada peta konsep yang telah Saudara buat


berdasarkan masukan yang ada dengan penuh integritas.

74 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

LK 4.c. IDENTIFIKASI KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK

Untuk mengidentifikasi kemungkinan kesulitan belajar peserta didik pada mata


pelajaran yang Saudara ampu, lakukan langkah-langkah sederhana berikut ini:

1. Lakukan observasi keseharian peserta didik pada saat mengikuti pelajaran.


Adakah kejangggalan perilaku diantara mereka misalnya selalu/sering
mengedip-kedipkan mata atau menggosok-gosok mata pada saat mengamati
sesuatu termasuk tulisan; atau mencoba mengarahkan pendengaran ke arah
suara orang yang sedang berbicara dengan suara normal. Jika ada, hal itu
merupakan salah satu tanda kemungkinan yang bersangkutan mengalami
kesulitan belajar.

2. Lakukan juga kajian terhadap nilai hasil belajar peserta didik, berdasarkan
data yang tersebut, adakah kemungkinan peserta didik yang mengalami
kesulitan belajar.

3. Catatlah hasil pengamatan maupun kajian data tadi secara lengkap,


selanjutnya rancanglah program/kegiatan untuk mengatasi kesulitan belajar
peserta didik yang teridentifikasi tadi.

4. Buat laporan secara sederhana mengenai kegiatan ini.

E. Latihan/Tugas/Kasus

Jawablah soal-soal latihan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang
Saudara anggap benar!
1. Kesulitan belajar peserta didik yang berkaitan dengan kurang berfungsinya
otak, susunan syaraf ataupun bagian-bagian tubuh lain merupakan kesulitan
belajar yang disebabkan oleh faktor.….
A. psikologi
B. inteligensi
C. fisiologi
D. sosial

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 75


Kegiatan Pembelajaran 4

2. Ada tiga jenis kesulitan belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan
seorang peserta didik. Berikut ini yang merupakan bentuk kesulitan akademis
dalam belajar adalah .….
A. Kesulitan membaca, berhitung, dan memahami suatu objek
B. Kesulitan membaca, menulis, dan berhitung
C. Kesulitan membaca, menulis, dan memahami suatu objek
D. Kesulitan menulis, berhitung, dan memahami suatu objek

3. Disgraphia, merupakan kesulitan menulis yang disebabkan oleh ….


A. gerakan berlebih
B. gangguan saraf
C. gerakan tidak nornal
D. gangguan lingkungan

4. Jenis kesulitan belajar di mana peserta didik tidak memiliki kemampuan


mental yang setara dengan anak-anak normal yang sebayanya dikenal
dengan istilah.….
A. Learning Disability
B. Learning Disorder
C. Distructive Behavior
D. Disruptive Behavior
5. Pada suatu kegiatan pembelajaran Bu Nita menayangkan sebuah video untuk
memperjelas konsep proses fotosintesis, salah seorang siswa terlihat
mengernyitkan dahinya, lalu mengedip-kedipkan matanya sebagai penanda
ketidakjelasan pandangannya dan mencoba mengarahkan pendengarannya
ke arah sumber suara video. Setelah melakukan konfirmasi ke teman guru
yang lain, diketahui bahwa perilaku tersebut sering ditunjukkan oleh peserta
didik tersebut pada kegiatan pembelajaran serupa. Berikut adalah jenis upaya
yang tepat dilakukan oleh guru untuk mengatasi kesulitan beajar siswa
tersebut ….
A. Melaksanakan program remedial bagi peserta didik
B. Bekerja sama dengan orang tua untuk memotivasi siswa
C. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
D. Melakukan pengaturan tempat duduk yang lebih sesuai

76 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

F. Rangkuman

Kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses
psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran
atau tulisan.

Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar itu biasa dikenal dengan sebutan
prestasi rendah/kurang (under achiever). Peserta didik ini tergolong memiliki IQ
tinggi tetapi prestasi belajarnya rendah (di bawah rata-rata kelas).

Dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar ialah suatu keadaan dimana peserta
didik tidak dapat menyerap pelajaran dengan sebagaimana mestinya.

Dalam pembelajaran remedial diperlukan untuk menyebuhkan atau membuat


baik materi dari pelajaran yang dikiranya sulit untuk dipahami, maka siswa harus
mengulang materi tersebut untuk membuat siswa tersebut paham dengam
materinya. Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu
siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan
agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Terdapat 6 fungsi dalam
pembelajaran remedial yaitu fungsi korektif, fungsi emahaman, fungsi
penyesuaian, fungsi pengayaan, fungsi akselerasi, fungsi terapeutik.

Dalam pembelajaran pengayaan yaitu suatu kegiatan yang diberikan kepada


siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara
optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya, kegiatan pengayaan
dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar
yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang
optimal. Terdapat 3 faktor dalam pembelajaran pengayaan yaitu faktor siswa,
faktor manfaat edukatif, faktor waktu.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial yaitu Analisis


hasil diagnosis, Identifikasi penyebab kesulitan, Penyusunan rencana dan
Pelaksanaan kegiatan. Sedangkan langkah-langkah untuk pelaksanaan
pembelajaran pengayaan yaitu Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar dan
Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 77


Kegiatan Pembelajaran 4

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban latihan soal/tugas/kasus Saudara dengan kunci jawaban


yang ada di bagian akhir modul ini. Ukurlah tingkat penguasaan materi kegiatan
belajar 1 dengan menjumlahkan jumlah skor.

Arti tingkat penguasaanyang diperoleh adalah :

Baik sekali = 90 –100 %

Baik = 80 –89 %

Cukup = 70 –79 %

Kurang = 0 –69 %

Bila tingkat penguasan mencapai 80 % ke atas, silahkan melanjutkan ke kegiatan


pembelajaran berikutnya. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80 %
harus mengulangi belajar terutama pada bagian yang belum dikuasai.

78 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Kunci Jawaban Soal Latihan/Tugas/Kasus

A. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 1

NO KUNCI JAWABAN
1 D
2 A
3 B
4 C
5 A

B. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 2

NO KUNCI JAWABAN
1 D
2 C
3 D
4 A
5 B

C. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 3

NO KUNCI JAWABAN
1 A
2 A
3 C
4 D
5 B

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 79


Kunci Jawaban Soal/Latihan/Tugas/Kasus

D. Kunci Jawaban Latihan/Tugas KP 4

NO KUNCI JAWABAN
1 C
2 B
3 B
4 A
5 D

80 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Evaluasi

A. Soal Evaluasi

Petunjuk:
1. Bacalah dengan seksama soal berikut ini
2. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang paling benar

Soal :
1. Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah ….
A. individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan jiwa
B. individu yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan
pembelajaran
C. individu yang sedang dalam proses perencanaan pendidikan dan
pengajaran
D. individu yang sedang berada dalam proses pendidikan dan perkembangan

2. Perubahan–perubahan yang terjadi pada aspek fisik peserta didik meliputi ….


A. perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri
kelamin utama (primer) dan ciri kelamin kedua (skunder)
B. perubahan metabolisme tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-
ciri kelamin utama (primer) dan ciri kelamin kedua (skunder)
C. perubahan struktur tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ukuran
kelamin utama (primer) dan ciri kelamin kedua (skunder)
D. perubahan reaksi tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ukuran
kelamin utama (primer) dan ciri kelamin kedua (skunder)

3. Secara umum karakteristik peserta didik adalah ….


A. gaya hidup individu secara umum yang dipengaruhi oleh lingkungan, dan,
latar belakang yang telah dibawa sejak lahir dan dari orang tua untuk
menantukan kualitas hidupnya

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 81


Evaluasi

B. gaya hidup individu secara umum yang dipengaruhi oleh usia, gender,
dan latar belakang yang telah dibawa sejak lahir dan dari lingkungan
sosialnya untuk menantukan kualitas hidupnya
C. gaya hidup kelompok secara umum yang dipengaruhi oleh gender, dan
latar belakang yang telah dibawa sejak lahir dan dari lingkungan
sosialnya untuk menantukan kualitas hidupnya
D. gaya hidup individu secara umum yang dipengaruhi oleh usia, dan
gender, yang telah dibawa sejak lahir dan dari lingkungan keluarga
untuk menantukan kualitas hidupnya

4. Potensi peserta didik adalah ….


A. kapasitas atau kompetensi dan karakteristik individu yang berhubungan
dengan sumber daya alam yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan
atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri
peserta didik
B. kapasitas dan keterampilan serta karakteristik individu yang berhubungan
dengan sumber daya alam yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan
atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri
peserta didikindividu yang sedang dalam proses perencanaan pendidikan
dan pengajaran
C. kapasitas atau kemampuan dan karakteristik individu yang berhubungan
dengan sumber daya manusia yang memiliki kemungkinan dikembangkan
dan atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri
peserta didik
D. kapasitas atau kemampuan dan karakteristik individu yang berhubungan
dengan sumber daya alam yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan
atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri
peserta didik

5. Kemampuan yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan dan


ditingkatkan apabila dilatih dengan baik. Kemampuan yang terlatih ini akan
menjadi suatu kecakapan, keahlian, dan ketrampilan dalam bidang tertentu
adalah ….
A. potensi manusia

82 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

B. potensi anak
C. potensi kelompok
D. potensi diri

6. Menurut Newman dan Logan terdapat empat (4) unsur strategi dari setiap
usaha, yaitu output and target, basic way, steps dan criteria and standard.
Jika usaha tersebut kita terapkan dalam pendidikan maka unsur pertama
adalah sepadan dengan….
A. mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang
dipandang paling efektif
B. mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur,
metode dan teknik pembelajaran
C. menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni
perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik
D. menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau
kriteria dan ukuran baku keberhasilan

7. Langkah-Langkah identifikasi Pengetahuan Awal adalah ……..


A. melakukan observasi, tabulasi karakteristik, dan pembuatan daftar strategi
karakteristik peserta didik
B. melakukan pengamatan, tabulasi karakteristik, dan pembuatan daftar
strategi karakteristik peserta didik
C. melakukan dokumentasi, tabulasi karakteristik, dan pembuatan daftar
strategi karakteristik peserta didik
D. melakukan simulasi, tabulasi karakteristik, dan pembuatan daftar strategi
karakteristik peserta didik

8. Sikap awal peserta didik menurut Gagne dikelompokkan ke dalam delapan


kelas yaitu :
A. belajar langsung, belajar stimulus, belajar merantaikan, belajar asosiasi
verbal, belajar membedakan, belajar konsep, belajar dalil, dan belajar
memecahkan masalah
B. belajar demonstrasi, belajar stimulus, belajar merantaikan, belajar asosiasi
verbal, belajar membedakan, belajar konsep, belajar dalil, dan belajar
memecahkan masalah

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 83


Evaluasi

C. belajar membedakan, belajar stimulus, belajar merantaikan, belajar


asosiasi verbal, belajar membedakan, belajar konsep, belajar dalil, dan
belajar memecahkan masalah
D. belajar isyarat, belajar stimulus, belajar merantaikan, belajar asosiasi
verbal, belajar membedakan, belajar konsep, belajar dalil, dan belajar
memecahkan masalah

9. Apa yang dimaksudkan dengan kesulitan belajar …..


A. suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat menyerap pelajaran
dengan sebagaimana mestinya
B. suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat menyerap pengetahuan
dengan sebagaimana mestinya
C. suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat menyerap keterampilan
dengan sebagaimana mestinya
D. suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat menyerap pengetahuan
dan keterampilan dengan sebagaimana mestinya

10. Aspek yang mempengaruhi kesulitan belajar peserta didik adalah ……..
A. aspek keturunan, psikologis, aspek sosial dan non sosial
B. aspek lingkungan, gender, aspek sosial dan non sosial
C. aspek fisiologis, psikologis, aspek sosial dan non sosial
D. aspek gender, psikologis, aspek sosial dan non sosial

84 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

B. Kunci Jawaban Evaluasi

NO Kunci Jawaban
1 B
2 A
3 B
4 C
5 D
6 C
7 A
8 D
9 A
10 C

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 85


Evaluasi

86 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Penutup

A. Kesimpulan

Kegiatan pembelajaran modul ini memberikan informasi tentang pemahaman


karakteristik peserta didik, identifikasi potensi peserta didik, identifikasi bekal
awal peserta didik dan identifikasi kesulitan belajar peserta ddidik. Dalam modul
ini memberikan informasi kepada guru harus memiliki kemampuan mendesain
program, menguasai materi pelajaran, mampu menciptakan kondisi kelas yang
kondusif, terampil memanfaatkan media dan memilih sumber, memahami cara
atau metode yang digunakan sesuai kebutuhan dari karakteristik anak.

Kegiatan menganalisis pengetahuan awal dalam pengembangan pembelajaran


merupakan pendekatan menerima peserta didik apa adanya dan menyusun
sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut. Karena itu,
kegiatan menganalisis pengetahuan awal peserya didik merupakan proses untuk
mengetahui pengetahuan yang dikuasai peserta didik sebelum mengikuti proses
pembelajaran, bukan untuk menentukan kemampuan pra-syarat dalam rangka
menyeleksi pesera didik sebelum mengikuti proses pembelajaran. Konsekuensi
digunakannya cara ini adalah titik mulai suatu kegiatan belajar tergantung
kepada perilaku awal peserta didik. Karakteristik peserta didik akan amat
berpengaruh dalam pemilihan setrategi pengelolaan, yang berkaitan dengan
bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi
pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan
instruksional, kegiatan ini memberi manfaat:
a. Untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk
dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran;
b. Hasil kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa akan
merupa-kan salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional
yang sesuai untuk siswa.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 87


Penutup

Cara melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai berikut:


a. Dilakukan di waktu awal sebelum menyusun instruksional pengajaran;
b. Teknik yang digunakan dapat dengan tes, interview, observasi, dan kuisioner;
c. Dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran atau orang-orang yang dianggap
paham dengan kemampuan peserta didik

Faktor- faktor yang mempengaruhi proses belajar terdiri atas faktor internal dan
eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini
meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal yang
memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor
lingkungan sosial dan factor lingkungan nonsosial.

Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi


fisik individu. Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang
dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama
mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta didik , motivasi, minat,
sikap dan bakat.

Faktor-faktor eksternal yang meliputi lingkungan social diantaranya faktor


sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sedangkan faktor eksternal lingkungan non-
sosial diantaranya lingkungan alamiah, instrumental, dan mata pelajaran.

Peranan guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain


sebagai nara sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi
para peserta didik yang ada dalam suatu kelompok belajar.

Pada hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran merupakan proses


komunikasi, maka pembelajaran seyogyanya tidak atraktif melainkan harus
demokrasi. Peserta didik harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi
pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif
dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat
memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan
kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan
peserta didik. Semua wawasan dan implementasi terkait materi dalam modul ini

88 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

diarahkan pada pengintegrasian nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter


antara lain nasionalis, mandiri, dan integritas.

B. Tindak Lanjut

Setelah Saudara mempelajari dan menguasai keseluruhan materi dalam modul


ini yang ditandai dengan pencapaian/ketuntasan indikator pencapaian
kompetensi yang harus dikuasai, Saudara diminta tetap mengembangkan diri
dengan menambah referensi dari sumber-sumber lain yang relevan. Selain itu
guna lebih memantapkan penguasaan terhadap modul, maka impelementasi isi
materi modul dalam pelaksanaan proses pembelajaran sangat dianjurkan.

Begitu pula dengan penerapan nilai-nilai penguatan pendidikan karakter juga


harus dipertegas dalam proses pembelajaran yang dirancang. Nilai-nilai utama
yang relevan yakni nasionalis, mandiri, dan integritas. Nilai utama nasionalis,
antara lain yang berkaitan dengan sub nilai menghargai perbedaan karakteristik
peserta didik. Nilai utama mandiri antara lain berkaitan dengan sub nilai bekerja
keras. Nilai utama integritas antara lain berkaitan dengan upaya mewujudkan
data hasil identifikasi potensi peserta didik yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 89


Penutup

90 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Daftar Pustaka

Abdurrahman. 2003. Desain Instruksional. Solo: Tiga Serangkai.


Abin Cyamudin Maknum. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta:Pedoman Ilmu
Jaya.
Azhar Arsyad. 2003. Media Pembelajaran, Edisi 1, Cetakan 4, Jakarta: Penerbit
PT. Raja Grafindo Persada.
Anisah. 2011. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Citra Aditya.
Bachri, Syaiful. 2000. Mengembangkan Bakat dan Kreaktifitas Peserta Didik.
Jakarta: PT.Gramedia.
Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta, CV Rineka Cipta.
Bobbi Deporter & Hernacky, Mike. 2004. Quantum Learning, Jakarta: Kaifa.
Clark,B.1998. Educational Psychology. New York.
Dadang. 2010. Mengembangkan Bakat dan Kreaktifitas Peserta Didik.
Jakarta:PT.Gramedia.
Dahlan. 1994. Identifikasi Perilaku dan karakteristik Siswa. Jakarta:
PT.Gramedia.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Diagnostik Potensi Peserta
Didik. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
DePorter, dkk. 2000. Quantum teaching: Mempraktikkan quantum learning di
ruang-ruang kelas. PT. Mizan Pustaka: Bandung.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.
Doni Koesoema A. .2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global Cet. I. Jakarta: Grasindo.
Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1987. Kamus Inggris Indonesia. Cet. XV.
Jakarta: Gramedia.
Eveline Siregar. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Fudyatanto. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung:Bumi Aksara.
Goleman, Daniel. 2000. Working With Emotional Intelligence (terjemahan).
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 91


Daftar Pustaka

Gunarso. 1988. Identifikasi Prilaku Siswa.Jakarta:PT.Gramedia.


Gordon Dryden & Jeannette Vos. 1999. Revolusi belajar: The learning revolution.
Bandung: Kafia.
Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta:
Erlangga.
Hurlock, E. B. 1997. Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.
dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jim Barret & Geoff Williams. 2000. Tes Bakat Anda. Cetakan IV, Terjemahan
Oleh Tito Ananta Darwis, Rasyid. Jakarta : Penerbit gaya Media
Pratama.
Kevin Ryan & Karen E. Bohlin. 1999. Building Character in Schools: Practical
Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass.
Konsultan Ahli : Indri Savitri, Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat LPTUI
,Psikolog,Salemba, Jakarta
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character: How Our School Can Teach
Respect and Responsibility. New York, Toronto, London, Sydney,
Aucland: Bantam books.
Lukmanul Hakim, 2010. Perencanaan Pembelajaran, Bandung, CV Wacana
Prima.
Mahmud. 1990. Teori Pembelajaran. Jogyakarta:Mirza Media Pustaka.
Muhibbin syah. 2003. Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafinda Persada.
Monks. 1988. Social Psychology. New York: Randowm House.
Nashar, 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal Dalam Kegiatan
Pembelajaran. Jakarta. Delia Press
Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya.
Richard I. Arends. 2008. Learning To Teach. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rustandi,T. 1998. Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Seifert, K.L. dan Hoffnung, R.J. 1994. Child and Adolescent Development.
Boston: Houghton Mifflin Company.
Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. 2003. Teknologi Pengajaran, Cetakan
keempat, Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo.
Syaodih, Nana, S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

92 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Slameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Bina


Aksara.
Sobur. 2003. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta
Syah. 2003. Analisis Pembelajaran dan Indentifikasi Perilaku serta karakteristik
Siswa. Jakarta: PT.Gramedia.
Suryabrata. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Cv. Rajawali.
Sunarto. 2010. Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Grasindo
Sudirman. 1990. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan
Penerbitan Fak.Psikologi Yogyakarta.
Universitas Negeri Jakarta. 2004. Modul Psikologi Perkembangan.
Uno, H. 2007. Analisis Kontek dan Karakteristik Siswa. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Usman, U. 1989. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Utami. 2003. Kesulitan belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Warkitri. 1990. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT.Gramedia.
Wardani. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru
Yusuf. 2004. Mengembangkan Bakat dan Minat. Jakarta : PT.Gramedia.
Zohar dan Marshal. 2005. Spiritual Capital. Bandung:PT. Mizan Pustaka.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 93


Daftar Pustaka

94 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Glosarium

Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon
atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun
dari luar dirinya

Faktor Fisik adalah dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikan


sarana dan prasarana yang ada jangan sampai menimbulkan gangguan pada
peserta didik. Misalnya: tempat didik yang kurang sesuai, ruangan yang gelap
dan terlalu sempit yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan

Faktor Psikososial adalah perkembangan emosi peserta didik sengat erat


kaitannya dengan faktor-faktor: perubahan jasmani, perubahan dalam
hubungannya dengan orang tua, perubahan dalam hubungannya dalam teman-
teman, perubahan pandangan luar (dunia luar) dan perubahan dalam
hubungannya dengan sekolah

Faktor Sosial-Kulture adalah faktor problem yang dialaminya peserta didik,


yang berakibat mereka melepaskan diri dari orang tua dan mengarahkan
perhatiannya pada lingkuan di luar keluarganya untuk bergabung dengan teman
sekebudayaannya, guru dan sebagainya. Lingkungan teman memegang peranan
dalam kehidupan remaja.

Faktor akademis adalah jumlah siswa yang dihadapi di dalam kelas, rasio guru
dan peserta didik menentukan kesuksesan belajar. Di samping itu, indeks
prestasi, tingkat inteligensi siswa juga tidak kalah penting.

Faktor Sosial adalah hubungan kedekatan sesama siswa dan keadaan ekonomi
peserta didik itu sendiri mempengaruhi pribadi siswa tersebut

Inomasi adalah mengembangkan konsep atau barang yang sudah ada menjadi
ditambah sesua asesoris

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 95


Glosarium

Intelligensi adalah kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan,


kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut dilaksanakan,
dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticsm

Karakteristik peserta didik adalah orang yang menerima pengaruh dari


seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan

Kreaktifitas adalah menenukan susesuatu dari yang belum ada menjadi ada

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk membuat


kebaikan, kebenaran, keindahan dan kasih sesama dalam hidup kita..

Kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshall adalah


kecerdasan tertinggi. Kunci dari kecerdasan spiritual adalah mengetahui nilai dan
tujuan terdalam diri kita.

Karakteristik peserta didik menurut Binet Simon adalah memperoleh informasi


yang lengkap dan akurat berkenaan dengan keterampilan awal peserta didik
sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu, menyeleksi tuntutan, bakat,
minat, keterampilan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan
pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka,
menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang
perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Keterampilan awal (Entry Behavior) adalah keterampilan yang telah diperoleh


peserta didik sebelum dia memperoleh keterampilan terminal tertentu yang baru

Pengertian menganalisiis pengetahuan Awal peserta didik adalah Kegiatan


menganalisis pengetahuan awal dalam pengembangan pembelajaran
merupakan pendekatan menerima peserta didik apa adanya dan menyusun
sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut

Peserta didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena
sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran .

Psikologi merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat besar manfaatnya bagi
kehidupan manusia

96 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik A

Pengayaan adalah kegiatan tambahan yang dieberikan kepada peserta didik


yang telah mencapai ketentuan dalam belajar yang diamaksudkan untuk
menambah wawasan atau memeperluas pengetahuannya dalam materi
pelajaran yang telah dipelajarinya

Remediasi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk membetulkan kekeliruan


yang dilakukan siswa. Kalau dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran, kegiatan
remediasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk
memperbaiki kegiatan pembelajaran yang kurang berhasil.

Sikap awal adalah sikap yang dimiliki oleh peserta didik siswa sebelum dia
memperoleh keterampilan terminal tertentu yang baru

Strategi Pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk


menyampaikan materi pembelajaran didasarkan pada pengetahuan,
keterampilan dan sikap awal peserta didik

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 97


Pedagogik A

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 99